Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Pendekar Baja (08)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:26 am

Pendekar Baja (08)
Oleh Gu Long

Baru sekarang Cu Jit-jit tahu bahwa Tio-lotoa ternyata salah seorang pengagum Tiong-goan-beng-siang, melihat belasan lelaki merubung tiba, lekas Jit-jit jambret bahu Tio-lotoa terus dilemparkan ke arah dua lelaki yang memburu datang lebih dulu.

Sudah tentu kedua orang itu tidak kuat menahannya. Tiga orang terguling mencium tanah, sementara orang lain yang memburu tiba jadi kaget dan merandek, tapi Jit-jit lantas menerjang maju.

Kungfu yang pernah dipelajarinya beraneka ragam dan tiada satu pun yang boleh dikatakan mahir, namun untuk menghadapi lawan keroco ini masih cukup berlebihan, seperti harimau mengamuk di tengah rombongan domba, dalam sekejap belasan lelaki itu telah dihajarnya hingga tunggang langgang.

Sudah beberapa hari ini Cu Jit-jit menanggung penasaran, marah, dan takut, sekarang baru dia berhasil melampiaskan kekesalan hatinya, hingga perut lapar pun terlupakan.

Merasa bukan tandingan Jit-jit, orang-orang itu melawan sambil mundur, sementara Jit-jit menghajar sambil mengejar, sebentar saja mereka sudah dekat di depan pintu gerbang.

“Berhenti!” mendadak seorang membentak. Seorang lelaki berperawakan pendek dan kekar berusia 30-an, berpakaian sutra warna hijau berdiri di ambang pintu sambil menggendong tangan, wajahnya kelihatan kereng dan sedang mengawasi Cu Jit-jit dengan aliasnya berkerut, agaknya heran karena Cu Jit-jit dapat menguasai ilmu silat sebanyak itu ragamnya, tapi sikapnya tetap tenang saja.

Melihat lelaki ini, kawanan lelaki tadi berlari dan sembunyi di belakangnya. Cu Jit-jit masih memburu maju dan hendak menjotos, tiba-tiba dilihatnya lelaki kekar ini mengadangnya sambil menjura dengan tertawa, “Sabar, kungfu nona memang mengagumkan.”

Tabiat Cu Jit-jit memang senang dilayani secara ramah dan pantang dikasari, melihat orang berlaku sopan, maka jotosannya yang sudah melayang segera ditarik kembali.

Lelaki berbaju sutra hijau tertawa, katanya, “Kawanan hamba itu memang tidak bermata hingga lancang terhadap nona, semoga nona suka mengampuni mereka.”

“Ah, tidak apa-apa,” ujar Jit-jit, “sudah kenyang juga kuhajar mereka.”

Lelaki berbaju sutra melengak, katanya pula, “Sifat nona ternyata suka berterus terang.”

“Sifatku ini baik atau jelek?” tanya Jit-jit.

Tidak sedikit orang yang dikenal lelaki ini, tapi gadis sebinal ini belum pernah dihadapinya, sesaat dia melenggong, katanya kemudian, “O, baik … tentu saja baik.”

“Melihat tampangmu ini, tentu kau inilah Tiong-goan-beng-sian Auyang Hi.”

“Betul … entah nona ada petunjuk apa?”

“Kalau kau dijuluki Beng-siang, maka sepantasnya kau meladeni aku dengan baik, makan minum dulu sampai puas, sebab ada urusan penting ingin kuberi tahukan kepadamu.”

“Tamu seperti nona biarpun sengaja kuundang juga belum tentu sudi kemari, cuma hari ini ….”

“Hari ini kenapa? Apakah hari ini kau kehabisan uang dan tidak mampu mentraktir aku?”

“Biar kukatakan terus terang kepada nona, hari ini ada seorang saudagar besar kalangan Kangouw, Leng-jiya, beliau telah meminjam tempatku ini, tamu agung dari berbagai penjuru sudah berdatangan, maka Cayhe tidak berani ….”

Berputar bola mata Cu Jit-jit, katanya dengan tertawa, “Dari mana kau tahu bahwa kedatanganku tidak untuk berdagang. Tolong kau bawa aku masuk.”

Dengan sangsi Auyang Hi pandang dia beberapa kali lagi, meski pakaian si nona tidak keruan, tapi sikapnya agung dan berani, selagi ragu, Cu Jit-jit lantas melangkah masuk rumah orang seperti rumah sendiri.

Keruan Auyang Hi makin bingung dan tidak dapat meraba asal usul si nona, tapi ia pun tidak berani sembrono, terpaksa dengan tertawa getir dia silakan orang masuk.

Cahaya lampu terang benderang di ruang besar, dua baris meja kayu cendana yang panjang penuh diduduki tiga puluhan orang, baik usia, tampang, dan dandanan mereka berbeda, tapi pakaian mereka sama perlente, jelas mereka adalah saudagar besar yang sering berkecimpung di dunia Kangouw. Melihat Auyang Hi datang mengiringi seorang nona cantik, semua mengunjuk rasa heran.

Cu Jit-jit sudah biasa dipandang sedemikian rupa oleh orang banyak, kalau orang mengawasi kepalanya sampai ke kaki, dia tetap tak peduli dan tenang-tenang saja, dia malah melirik ke sana-sini.

Sudah tentu kehadirannya menarik perhatian dan menimbulkan kasak-kusuk, tapi Jit-jit langsung menarik kursi terus berduduk, katanya dengan lantang, “Apakah kalian tidak pernah melihat orang perempuan? Ayolah, bisnis lebih penting, aku kan manusia biasa dan tidak punya tiga mata, kenapa aku dipandang begitu rupa?”

Delapan di antara sepuluh hadirin merah mukanya oleh sindiran Cu Jit-jit, banyak yang menunduk atau melengos.

Sungguh senang, bangga juga geli hati Cu Jit-jit. Dia melarang orang memandang dirinya, matanya justru menjelajah kanan-kiri dengan pandangan tajam.

Di antara sekian orang yang hadir, dia yakin yang benar-benar pedagang hanya tujuh-delapan orang, belasan yang lain adalah jago-jago kosen Bu-lim, dua di antaranya malah lain daripada yang lain. Seorang duduk di depan Jit-jit, bibir merah muka putih, pakaiannya serbasutra, di antara sekian hadirin usianya terhitung yang paling muda, wajahnya juga sangat tampan, secara sembunyi-sembunyi dia melirik Jit-jit, bila Jit-jit balas menatapnya, dengan muka jengah dia lantas melengos.

Cu Jit-jit tertawa di dalam hati, “Kelihatannya pemuda ini anak pingitan yang jarang keluar pintu, lebih pemalu dari gadis ….”

Makin orang pemalu, makin dipandangnya, hingga pemuda itu tidak berani angkat kepalanya, sungguh senang hati Cu Jit-jit.

Seorang lagi kelihatan seperti pelajar tua rudin yang tidak lulus ujian, mukanya kurus, berjenggot kambing yang jarang-jarang, mengenakan jubah panjang yang warnanya sudah luntur, saat mana sedang memejamkan mata seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan, hingga duduk lemas dan tidak mampu bicara lagi.

Di belakangnya berdiri seorang kacung berbaju hijau pula, juga kurus tinggal kulit membungkus tulang, untung bola mata masih berputar kian kemari, kalau tidak, hampir tak kelihatan gairah hidup sedikit pun.

Diam-diam Jit-jit membatin pula, “Pelajar rudin begini juga berani datang untuk urusan dagang? Memangnya akan menjual pensil butut.”

Kasak-kusuk dalam ruang besar sudah sirap, terdengar Auyang Hi berdehem, lalu berseru, “Kini tinggal Leng-jiya dan Keh-siangkong saja, kedatangan Keh-siangkong ke Lokyang kali ini entah membawa barang-barang aneh apa.”

Akhir katanya matanya menatap seorang lelaki gemuk putih, berdandan lucu, usianya jelas tidak muda lagi tapi sengaja berlagak Siangkong (tuan muda), kepalanya pakai ikat kain, jubahnya yang kedodoran bersulam aneka warna, belasan kantong sutra bergantungan di sekeliling pinggangnya, tangan memegang pipa tembakau.

Keh-siangkong memicingkan mata, lalu menoleh ke kanan-kiri, katanya dengan tersenyum, “Akhir-akhir ini aku sudah makin malas, kutahu dengan kedatangan Leng-jiya, pasaran dagang di kota Lokyang pasti ramai, namun aku hanya membawa dua macam barang saja.”

Auyang Hi berkata, “Barang mengutamakan kualitas dan bukan kuantitas. Barang yang dibawa Keh-siangkong kuyakin pasti luar biasa, silakan Keh-siangkong mengeluarkannya supaya hadirin ikut menyaksikan.”

Keh-siangkong berkata, “Ah, janganlah pujian melulu, cuma kawan Kangouw juga sama tahu, barang berharga di bawah lima ribu tahil aku tidak pernah jual-beli.”

Cu Jit-jit berkerut kening, batinnya, “Besar juga mulutnya, dipandang dari dandanan dan sikapnya, bukan mustahil dia ini salah seorang Ngo-toa-ok-kun (lima penjahat) yang merajalela di Kangouw, yaitu Kan-sian Keh-pak-bwe? (pedagang licik Keh si Pembeset Kulit). Jika benar dia adanya, orang yang berjual-beli dengan dia pasti akan mengalami kerugian.”

Tampak Keh-siangkong telah mengeluarkan sebuah kodok-kodokan pualam warna hijau sebesar mangkuk, terutama kedua matanya ternyata terbuat dari sepasang mutiara besar dan bundar, di bawah sinar lampu tampak gemerlap, harganya tentu tidak bernilai.

Keh-siangkong berkata, “Kalian sama ahli, baik-jelek barang ini tentu dapat kalian lihat, maka tidak perlu aku membual, silakan saja kalian menentukan harga sendiri.”

Beruntun dia bersuara dua kali, tapi hadirin tiada yang memberi reaksi.

Cu Jit-jit tertawa geli di dalam hati, pikirnya, “Mungkin orang takut pada yang ahli membeset kulit, maka tiada yang berani memberi penawaran, padahal kodok pualam hijau ini memang berharga sekitar lima-enam ribu tahil.”

Keh-siangkong menoleh kian kemari, satu per satu hadirin ditatapnya, akhirnya pandangannya berhenti pada seorang bertubuh gemuk pendek, katanya dengan tertawa, “Si Yong-kui, kau berdagang batu permata, berapa kau menawar barangku?”

Berdenyut kulit muka Si Yong-kui yang gempal itu, katanya sambil menyengir, “Ah … baiklah, aku menawar tiga ribu tahil.”

Keh-siangkong menarik muka, katanya dengan tertawa dingin, “Tiga ribu tahil, tega kau tawar serendah ini, jangankan badan kodok yang hijau ini, hanya sepasang mata mutiaranya saja … hehe, mutiara sebesar ini pun sukar dicari, besarnya sama, bundar lagi, hehehe, kalau kau punya dua butir yang sama kuberani bayar enam ribu tahil.”

Si Yong-kui menyengir, katanya, “Aku tahu mestika sebesar ini kalau tiga ribu tahil memang terlalu murah, tapi sebelum kuperiksa barang itu secara teliti, terus terang aku tidak berani memberikan tawaran lebih tinggi.”

Beringas sorot mata Keh-siangkong, katanya, “Memangnya sedekat ini tidak kau lihat jelas, barang mestika mana yang boleh sembarang dipegang orang, memangnya kau tidak percaya kepada orang she Keh?”

Kembali bergoyang kulit muka Si Yong-kui, ia menunduk, suaranya juga gelagapan, “Wah, ini … baiklah kutawar enam ribu tahil ….”

Keh-siangkong terkekeh, katanya, “Meski enam ribu belum cukup modal, tapi orang she Keh kalau berdagang biasanya ‘cincay’, demi hubungan yang lebih erat selanjutnya, kali ini biar aku jual murah kepadamu, tapi bayar dulu baru barang diserahkan, ini adalah kebiasaan jual-beli, enam ribu tahil perak, sepeser pun tidak boleh kurang.”

Agaknya Si Yong-kui tidak mengira tawaran semurah ini dapat membeli barang antik yang mahal ini, seketika dia mengunjuk rasa kejut dan girang, orang lain juga mengiri bahwa dia mendapat barang murah, semuanya mengiler.

Jit-jit membatin, “Orang bilang dia tukang beset kulit, tapi dari jual-beli ini, kenyataan bukan saja adil, malah boleh dikatakan dia agak rugi.”

Maklum sebagai putri keluarga hartawan, nilai sesuatu permata cukup dikuasainya dengan baik, nilai mutiara sebesar dan sebundar itu harganya memang pantas enam ribu tahil perak.

Sementara itu Si Yong-kui sudah suruh orangnya mengambil uang dan menimbang bobotnya, setelah uang diserahkan, kodok pualam itu pun diambilnya, tapi hanya dua kali dia mengamati barang itu, seketika wajahnya berubah pucat, serunya dengan suara gemetar, “Kodok pualam ini cacat, demikian pula mutiara ini … hanya sebutir di … dibelah dua, Keh-siangkong, ini … ini ….”

Keh-siangkong menyeringai, katanya, “Apa betul? Aku sendiri juga tidak memerhatikannya waktu membeli, tapi barang sudah dibeli, tidak boleh dikembalikan, kuyakin kau Si Yong-kui juga tahu aturan ini?”

Si Yong-kui melenggong sesaat lamanya, “bluk”, badannya yang gendut duduk lemas di atas kursi, air mukanya sungguh lebih jelek daripada tampang babi.

Keh-siangkong tertawa terkekeh, katanya, “Dan barang kedua yang kubawa untuk kalian adalah … merupakan suatu keajaiban, ya, keajaiban yang selalu kalian impikan, keajaiban yang diciptakan Tuhan untuk kalian, keajaiban yang tanggung belum pernah kalian lihat …. Ini, silakan kalian periksa keajaiban itu berada di sini.”

Meski suaranya tidak enak didengar, tapi dia memang pandai bicara hingga menimbulkan daya pikat yang besar, seluruh hadirin sama menoleh ke arah yang ditudingnya.

Betul juga, hadirin sama menjerit tertahan dan melongo seketika, keajaiban yang dikatakan Keh-siangkong ternyata adalah seorang gadis berbaju putih, berambut panjang hitam legam dan terurai di atas pundak.

Gadis ini berdiri malu-malu, wajahnya putih bersih dan molek, meski pucat karena takut, gayanya ternyata memesona dan menimbulkan rasa belas kasihan. Kedua bola matanya yang bercahaya bening juga memancarkan rasa kaget, takut, dan malu, mirip seekor rusa yang baru tertangkap dari hutan. Tubuhnya semampai, dadanya montok, karena dipandang sekian banyak orang ia kelihatan gemetar.

Melihat hadirin terpesona, tersimpul senyuman licik pada wajah Keh-siangkong, sekali raih dia tarik gadis itu, lalu serunya, “Inilah bidadari dari kahyangan, permaisuri raja, entah kapan kalian mendapat rezeki, barang siapa dapat memberikan tawaran tertinggi, bidadari ini akan menjadi miliknya, bila hatimu kesal, dia bisa bernyanyi menghiburmu, bila kau kesepian dia akan mendampingimu menikmati surga dunia, badannya yang mulus, hangat dan kenyal ini adalah obat untuk melenyapkan kesepian.”

Mendengar komentarnya, hadirin berduduk mematung terkesima. Entah berapa lama kemudian tiba-tiba terdengar seorang berseru lantang, “Kalau dia begitu menggiurkan, kenapa tidak kau pakai sendiri?”

Hadirin memang takut berhadapan dengan Keh-pak-bwe yang suka menggorok pembelinya ini, khawatir dikibuli.

Keh-siangkong terkekeh, katanya, “Kenapa tidak kupakai sendiri? …. Hahaha, terus terang saja, soalnya ‘harimau betina’ di rumah terlalu lihai, kalau tidak, masa aku mau menjualnya?”

Hadirin saling pandang, masih curiga, juga kurang percaya.

Keh-siangkong memancing lagi, “Ayolah, apa lagi yang kalian tunggu?”

Mendadak dia menarik baju si gadis hingga kelihatan bahunya yang putih melebihi pakaiannya, payudaranya yang mengintip tampak mengilat lagi padat.

Keh-siangkong berteriak-teriak, “Gadis seperti ini, apa kalian pernah melihatnya? Bila ada orang berani bilang dia kurang cantik, pasti dia lelaki tolol, lelaki buta.”

Belum habis bicaranya, seorang lelaki bermuka burik segera berdiri, serunya, “Baik, aku tawar seribu … seribu lima ratus tahil ….”

Ternyata tawaran pertama ini mendapat sambutan orang banyak, maka di sana-sini orang lantas berlomba, “Seribu delapan ratus tahil … dua ribu tahil … tiga ribu ….”

Lelang berjalan terus, badan si gadis makin gemetar, matanya yang sayu mulai berkaca-kaca, makin dipandang Jit-jit makin merasa kasihan, dia membatin, “Gadis cantik molek ini, mana tega aku melihat dia terjatuh ke tangan lelaki busuk ini ….”

Entah mengapa mendadak terasa darahnya mendidih, tanpa pikir ia ikut berteriak, “Aku tawar delapan ribu tahil.”

Hadirin melongo, tapi pemuda berbaju sutra di seberang Cu Jit-jit tiba-tiba tersenyum, serunya, “Selaksa tahil!”

Berkilat bola mata Keh-siangkong, wajahnya kegirangan, hadirin tersirap kaget oleh tawaran yang teramat tinggi ini. Cu Jit-jit mengertak gigi, mendadak dia berseru pula, “Dua laksa tahil perak!”

Harga ini terlebih mengejutkan, keruan hadirin menjadi gempar. Gadis itu angkat kepalanya dan menatap Cu Jit-jit dengan heran dan juga senang.

Dengan tertawa Keh-siangkong menatap pemuda berbaju sutra, tanyanya, “Bagaimana Ong-kongcu?”

Pemuda itu tertawa sambil menggeleng kepala.

Keh-siangkong lantas menghadap ke arah Cu Jit-jit, katanya sambil menghormat, “Selamat nona, gadis secantik bidadari ini kini sudah menjadi milik nona, entah di mana uang nona? Hahaha, dua laksa tahil perak sungguh teramat murah!”

Jit-jit jadi melenggong, sahutnya dengan gelagapan, “Uang … uang tidak kubawa, tapi … dua hari ….”

Kontan Keh-siangkong menarik muka, katanya, “Apa nona berkelakar? Tanpa uang mana bisa bicara jual-beli?”

Ruang besar ini seketika penuh suara gelak tertawa, ada yang mencemooh, ada yang berolok.

Merah muka Jit-jit, dari malu dia jadi gusar, baru saja dia hendak menyemprot mereka, tiba-tiba sastrawan tua miskin yang sejak tadi duduk dengan mata terpejam itu membuka matanya dan berkata, “Tidak apa-apa, uang akan kupinjamkan padamu.”

Hadirin melengak kaget, Jit-jit juga terbeliak, kakek ini kelihatan rudin, mana punya uang untuk dipinjamkan padaku segala.

Keh-siangkong menyengir, katanya, “Nona ini tidak dikenal engkau orang tua, mana ….”

Kakek rudin tertawa dingin, “Kau tidak memercayainya, aku justru percaya padanya, soalnya kalian tiada yang kenal siapa dia, aku orang tua sebaliknya mengenalnya dengan jelas.”

“Siapa nona ini?” tanya Keh-siangkong heran.

Kakek rudin berkata, “Kau Keh-pak-bwe hanya mahir menipu uang orang lain, biar kau menipu tiga puluh tahun lagi juga belum dapat membandingi secuil kuku bapaknya. Tidak perlu kubicara banyak, cukup kuberi tahukan padamu, dia she Cu.”

Keh-siangkong terperanjat, serunya, “She Cu, apakah … apakah dia putri mestika keluarga Cu?”

Kakek rudin mendengus sambil memejamkan mata pula, pandangan hadirin serentak beralih kepada Cu Jit-jit semua memandangnya dengan terbelalak.

Sejak dahulu kala uang memang punya daya pikat luar biasa, manusia mana pun tidak terkecuali. Terutama orang berwatak seperti Keh-siangkong, dia lebih tahu betapa hebat daya tarik uang di dunia ini.

Sikapnya yang meremehkan tadi kini berubah tertawa lebar hingga kedua matanya hampir terpejam, katanya, “Baiklah, bila engkau orang tua yang menanggung, apa pula yang perlu kukatakan …. Fifi, sejak kini kau menjadi milik nona Cu ini, lekas ke sana!”

Orang paling terkejut di dalam ruang ini adalah Cu Jit-jit sendiri, sungguh dia tidak mengerti dari mana kakek rudin ini mengenal dirinya. Tidak habis pula herannya manusia semacam Keh-siangkong ternyata menaruh kepercayaan penuh kepada kakek rudin ini. Padahal kakek ini kurus kering, pakaiannya, topinya, harta miliknya dari kepala sampai ke kaki paling-paling cuma berharga satu tahil perak saja.

Gadis baju putih itu lantas menghampiri Jit-jit, sinar matanya tampak terang, lembut dan tetap malu-malu. Segera dia berlutut memberi hormat serta menyapa dengan suara merdu, “Lanli (perempuan kesusahan) Pek Fifi menyampaikan sembah hormat kepada nona Cu.”

Lekas Jit-jit menariknya bangun, sebelum dia bicara didengarnya Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi berseru lantang, “Acara baik masih ada pada babak terakhir, kuyakin hadirin sedang menunggu dan ingin lihat barang dagangan Leng-jiya.”

Hadirin sama mengiakan.

Timbul rasa ingin tahu Cu Jit-jit. “Orang macam apa pula Leng-jiya itu? Orang-orang ini kelihatan sangat segan kepadanya, tentu dia seorang luar biasa.”

Waktu matanya mengerling, tampak puluhan pasang mata hadirin sama menatap ke arah kakek rudin kurus itu. Keruan Jit-jit kaget, “Jadi Leng-jiya adalah kakek ini?”

Waktu dia menoleh, mendadak dilihatnya di belakang pemuda berbaju sutra tahu-tahu berdiri seorang kacung berwajah bersih, kacung ini tengah menatapnya dengan tajam, Jit-jit merasa pernah melihat wajah si kacung, cuma tidak ingat di mana pernah melihatnya.

Sementara itu si kakek rudin telah membuka mata dan batuk dua kali, lalu katanya, “Go-ji, sekali ini apa saja yang kita bawa, satu per satu boleh kau sebutkan supaya hadirin tahu, ingin kulihat berapa pula tawaran yang diajukan mereka.”

Go-ji (anak sengsara), anak yang berperawakan kurus hitam dan berdiri di belakangnya mengiakan dengan suara lemah seperti sudah tidak makan tiga hari, dengan perlahan ia tampil ke depan, lalu serunya, “Lima puluh kuintal Oh-liong-teh.”

Setelah terjadi tawar-menawar yang cukup seru terhadap daun teh terkenal itu, seorang pedagang besar penduduk Lokyang menutupnya dengan harga lima ribu tahil perak.

Go-ji berseru pula, “Tong-hoa-yu lima ratus tong …. Tinta bak seribu potong ….” beruntun dia sebutkan delapan jenis barang dagangan, setiap jenis adalah barang-barang produksi suatu daerah yang jarang ada di pasaran, dalam sekejap barang-barang itu sudah terjual habis dengan harga tinggi.

Cu Jit-jit menyaksikan perak sebungkus demi sebungkus digaruk seluruhnya oleh Leng-jiya, namun barang-barang yang disebutkan tadi satu pun tidak kelihatan, maka dia membatin, “Agaknya Leng-jiya memang seorang pedagang besar sehingga dia mendapat kepercayaan orang sebanyak ini, tapi kenapa dia justru berdandan mirip orang rudin? Ah, mungkin kakek ini seorang kikir.”

Kemudian Go-ji berseru pula, “Bik-kin-hiang-to tersedia lima ratus kuintal.”

Sejak tadi Keh-siangkong kelihatan duduk tenang sambil udut tembakau dengan merem melek, begitu mendengar ‘Bik-kin-hiang-to-bi’ (beras unggul gagang wangi), matanya mendadak bersinar, serunya segera, “Partai itu kuborong seluruhnya!”

“Berapa tawaranmu?” tanya Go-ji.

Keh-siangkong tampak berkerut kening, setelah berpikir dia pura-pura murah hati, katanya, “Selaksa tahil!”

Beras unggul gagang wangi memang jarang ada di pasaran, kalau ada, harga pasaran sekuintal juga cuma dua puluhan tahil saja, bahwa Keh-siangkong berani menutup dengan harga setinggi itu memang sudah terhitung berani.

Tak nyana si pemuda berbaju sutra mendadak berseru dengan tertawa, “Selaksa lima ribu tahil!”

Keh-siangkong tampak melengak, akhirnya dia mengertak gigi dan berteriak, “Selaksa enam ribu.”

Ong-kongcu berseru, “Dua laksa.”

“Hah, dua laksa? …. Ong-kongcu, apa kau bergurau? Sejak dulu kala beras unggul ini tiada harga setinggi itu.”

Ong-kongcu tersenyum, katanya, “Kalau kau tidak berani beli, tiada orang memaksa.”

Air muka Keh-siangkong berubah pucat, menghijau lalu merah padam, giginya bergemertuk, sesaat dia melenggong, akhirnya berteriak lagi, “Baik kubayar dua laksa seribu.”

Harga ini jelas jauh melampaui harga pasaran, bahwa Keh-siangkong yang sering menggaruk uang orang lain secara nakal ini berani membayar setinggi ini, hadirin sama kaget dan heran, di sana-sini mulai terdengar bisik-bisik.

Ong-kongcu mendadak berseru, “Tiga laksa!”

Kali ini Keh-siangkong melompat bangun dari tempat duduknya, teriaknya, “Tiga laksa? Apa kau … kau gila?”

Ong-kongcu menarik muka, jengeknya, “Keh-heng, kalau bicara harap hati-hati.”

Keh-pak-bwe, si Pembeset Kulit yang terkenal nakal ini ternyata jeri terhadap pemuda lemah lembut yang baru keluar kandang macam Ong-kongcu ini, dia tidak berani lagi berkata kotor, dengan lemas dia duduk pula di kursinya, mukanya pucat dan penuh keringat.

Go-ji lantas berkata, “Tiada penawaran lagi, baiklah barang itu akan diserahkan kepada Ong-kongcu!”

“Nanti dulu,” mendadak Keh-siangkong berseru sambil menggebrak meja, teriaknya dengan suara parau, “Kutambah menjadi tiga laksa seribu …. Nah, Ong-kongcu, harga ini sudah memeras keringatku, kumohon kepadamu, jangan … jangan berebut lagi denganku.”

Ong-kongcu tertawa lebar, katanya, “Baiklah, hari ini aku mengalah kepadamu.”

Keh-pak-bwe tampak kegirangan, segera dia keluarkan uang dan menghitung, bahwa dia membayar lima ratus kuintal beras dengan harga setinggi itu, ternyata masih kegirangan, tiada hadirin yang tidak heran, siapa pun tidak mengerti mengapa Keh-pak-bwe hari ini mau berdagang rugi.

Setelah menerima uang dan memberikan tanda terima, Go-ji lantas tertawa seperti mengalami sesuatu kejadian yang amat menyenangkan, demikian pula Ong-kongcu juga tertawa lebar.

“Apa … apa yang membuatmu tertawa?” tanya Keh-pak-bwe.

“Di kota Kayhong ada seorang saudagar yang berani membayar lima laksa tahil untuk lima ratus kuintal beras unggul gagang wangi, maka sekarang kau berani membayar tiga laksa tahil perak untuk jumlah beras yang sama, betul tidak?”

Berubah air muka Keh-pak-bwe, serunya, “Dari … dari mana kau tahu?”

Go-ji tertawa geli, katanya, “Pedagang yang menawar lima laksa tahil untuk membeli beras jenis itu di Kayhong itu sengaja diutus oleh Leng-jiya kita, bila kau bawa beras itu ke Kayhong, tentu orang itu juga sudah pergi. Hahaha … Keh-pak-bwe, siapa nyana sekali tempo kau pun akan mengalami rugi, biasanya kau menipu, hari ini kau tertipu.”

Pucat pasi muka Keh-pak-bwe, katanya, “Tapi, Ong … Ong-kongcu ….”

Go-ji menjelaskan, “Ong-kongcu juga sudah dipesan oleh Leng-jiya untuk memerankan sandiwara ini hingga kau tertipu ….”

Belum habis dia bicara Keh-pak-bwe meraung terus menubruk maju.

Mendadak melotot mata Leng-jiya, jengeknya, “Kau mau apa?”

Melihat sorot mata tajam orang, Keh-pak-bwe seperti kena dicambuk, seketika kuncup nyalinya, lekas dia mundur kembali, sesaat dia melongo, lalu mendekap muka dan menangis tergerung-gerung.

Tak tahan Jit-jit, dia tertawa geli, demikian pula hadirin ikut bertepuk, bahwa Keh-pak-bwe juga kena tipu, siapa pun merasa girang.

Leng-jiya tersenyum, katanya, “Si Yong-kui tadi ditipunya, Go-ji, hitung tiga ribu tahil dan kembalikan kepada juragan Si, bulu kambing tumbuh di atas badan kambing, hendaknya Si-heng jangan sungkan!”

Sudah tentu Si Yong-kui kegirangan, berulang dia ucapkan terima kasih.

Dalam hati Cu Jit-jit juga memuji, baru sekarang dia tahu kakek rudin mirip pengemis, Leng-jisiansing, bukan saja seorang lelaki hebat, ternyata juga bukan orang kikir seperti diduganya semula.

Kini mata Leng-jisiansing terpejam pula, sikap Go-ji kembali lesu seperti tidak punya semangat, lalu katanya perlahan, “Masih ada … delapan ratus ekor kuda pilihan.”

“Delapan ratus kuda pilihan”, sungguh menarik perhatian hadirin, terutama dua kelompok orang yang duduk seberang-menyeberang, kedua kelompok itu sama terbelalak dengan bersemangat.

Kedua kelompok orang ini, masing-masing terdiri dari tiga orang dan dua orang.

Kelompok tiga orang itu adalah lelaki yang bertampang jelek, kulit daging pada mukanya benjol-benjol. Sementara kedua orang yang lain, seorang bermuka kuning seperti disepuh emas, mirip orang berpenyakitan, seorang lagi bermata elang berhidung betet, alisnya tebal, wajahnya bengis, gagah dan kasar, sikapnya kelihatan angkuh, seperti tidak pandang sebelah kepada siapa pun.

Sepintas pandang Cu Jit-jit lantas tahu bahwa kelima orang ini pasti orang-orang gagah dari golongan hitam, tenaga mereka pun pasti besar.

Ketiga lelaki itu serempak berdiri, orang pertama berseru, “Siaute Ciok Bun-hou.”

“Siaute Ciok Bun-pa,” sambung orang kedua.

Orang ketiga berseru juga, “Siaute Ciok Bun-piau.”

Mereka bicara dengan membusung dada, sikapnya garang dan bertolak pinggang, agaknya sengaja mau pamer kekuatan.

Mendengar nama ketiga orang ini, Si Yong-kui dan lain-lain tampak berubah air mukanya.

Auyang Hi lantas bergelak tawa, katanya, “Kaum persilatan siapa yang tidak tahu nama besar Ciok-si-sam-hiong (tiga jago keluarga Ciok) dari Bing-hou-kang, buat apa pula kalian harus memperkenalkan diri.”

Ciok Bun-hou bergelak, katanya, “Betul, mungkin Auyang-heng juga tahu, kehadiran kami ini adalah untuk kedelapan ratus ekor kuda itu, semoga kalian sudi memberi muka kepada kami bersaudara, supaya kami tidak pulang dengan bertangan kosong.”

Ketiga Ciok bersaudara lantas bergelak tertawa, paduan suara tertawa yang keras ini serasa menggetar atap rumah.

Umpama ada pihak lain bermaksud membeli kuda pasti akan kuncup nyalinya dan mundur teratur.

Ciok Bun-hou bertiga menyapu pandang hadirin, sikapnya takabur dan bangga.

Tak terduga lelaki hidung betet tiba-tiba menjengek, “Kurasa kalian memang akan pulang dengan tangan kosong.”

Suaranya tidak keras, tapi setiap hadirin dapat mendengar dengan jelas.

Ciok Bun-hou menarik muka, serunya gusar, “Apa katamu?”

Lelaki berhidung betet berkata pula, “Kedelapan ratus ekor kuda itu, kami bersaudara yang akan membelinya.”

“Berdasar apa kau berani bilang demikian?” teriak Ciok Bun-hou.

Si hidung betet menyeringai, katanya, “Di hadapan Leng-jisiansing, tentunya harus dengan uang untuk membeli kuda, siapa berani main rebut atau merampok?”

“Bera … berapa tawaranmu?” teriak Ciok Bun-hou.

“Berapa tawaranmu, pasti kutambah di atasmu.”

“Sebun Kau,” bentak Ciok Bun-hou, “jangan kira aku tidak mengenalmu. Mengingat kita sesama satu golongan, selalu kami mengalah kepadamu, tapi kau … kau terlalu menghina orang ….”

“Memangnya apa kehendakmu?” tantang Sebun Kau.

Ciok Bun-hou gebrak meja, sebelum dia bicara Ciok Bun-pa lantas menarik tangannya, katanya dengan suara keras dan tegas, “Bing-hou-kang kami dengan seribuan anggota sedang menunggu kedelapan ratus ekor kuda ini untuk membuka usaha baru, bila Sebun-heng suruh kami pulang dengan bertangan kosong, lalu cara bagaimana kami akan memberi pertanggungan jawab.”

“Kalau kalian sedang menunggu kedelapan ratus ekor kuda ini, memangnya Loh-be-ouw kami tidak memerlukan kuda-kuda ini? Kalau pulang bertangan kosong kalian sukar memberi pertanggungan jawab, memangnya kami tidak harus bertanggung jawab juga.”

Ciok Bun-piau mendadak menimbrung, “Jika demikian, biarlah kita mengalah saja.”

Sembari bicara segera dia tarik Bun-hou dan Bun-pa keluar.

Selagi hadirin heran kenapa ketiga saudara ini mendadak mau mengalah, tiba-tiba sinar kemilau berkelebat, tiga golok panjang serempak membacok ke arah Sebun Kau, bacokan keras dan keji, jika Sebun Kau terkena bacokan ini, badannya pasti hancur.

Betapa ganas serangan golok ketiga saudara Ciok ini, ternyata Sebun Kau juga sudah waspada dan siaga, dia tertawa dingin, sekali mengegos dapatlah menghindar.

Yang jadi korban adalah kursi tempat duduk Sebun Kau tadi terbacok hancur lebur. Keruan Si Yong-kui dan lain-lain sama berteriak kaget.

Membara mata Ciok Bun-hou, teriaknya serak, “Bukan kau yang mampus biar aku yang mati, ayo sikat dia.”

Kembali tiga batang golok mereka berputar pula dan hendak menerjang lagi.

Lelaki muka kuning yang tidak bersuara sejak tadi mendadak berdiri, hanya sekali berkelebat tiba-tiba Sebun Kau ditariknya menyingkir sambil membentak, “Berhenti sebentar, dengarkan perkataanku.”

Walau wajahnya kuning seperti orang sakit, tapi gerak-geriknya ternyata gesit dan mengejutkan.

Ciok Bun-hou bertiga terpaksa berhenti, katanya, “Baik, coba kita dengarkan apa yang hendak dikatakan Liong Siang-peng.”

Liong Siang-peng lantas berkata, “Bila kita berkelahi di sini, di samping menimbulkan permusuhan sesama orang Kangouw, rasanya juga tidak enak terhadap Auyang-heng, maka menurut pendapatku, lebih baik ….”

“Bagaimanapun juga kedelapan ratus ekor kuda itu adalah bagian kami,” tukas Ciok Bun-hou lantang.

Liong Siang-peng atau Liong si Sakit Melulu tertawa, katanya, “Kalian ingin mendapatkannya, orang lain juga tidak mau mengalah, bukankah terpaksa harus diselesaikan dengan pertarungan sengit. Tapi kalau masing-masing pihak mau membagi empat ratus ekor kuda, permusuhan kan tidak perlu terjadi.”

Ciok bersaudara saling pandang, Ciok Bun-pa lantas berkata, “Ucapan Liong-lotoa memang beralasan ….”

“Kalau begitu marilah kita saling tepuk tangan sebagai tanda perjanjian,” ucap Liong Siang-peng.

Ciok Bun-hou berpikir sejenak, akhirnya dia menjawab, “Baiklah, empat ratus ekor kuda sementara juga cukup.”

Lalu dia mendahului maju ke depan.

Liong Siang-peng juga menyongsong maju dengan tertawa, masing-masing mengulurkan tangan, mendadak dari tangan kiri Liong Siang-peng menyambar dua titik sinar dingin, berbareng tangan kanan juga menghantam, “blang”, dengan telak dada Ciok Bun-hou digenjotnya, kedua bintik sinar itu pun tepat mengenai leher Bun-pa dan Bun-piau.

Terdengar ketiga bersaudara itu menjerit ngeri, tubuh sempoyongan, mata melotot gusar, lama mereka menatap Liong Siang-peng, teriaknya dengan suara parau, “Kau … kau ….”

Belum lanjut suaranya, Ciok Bun-hou menyemburkan darah hitam, wajah Bun-pa dan Bun-piau juga berubah hitam. Satu per satu mereka roboh tersungkur, tiga orang segar bugar dalam sekejap telah melayang jiwanya menjadi mayat.

Semua hadirin terbelalak kaget, sementara itu dengan tenang Liong Siang-peng berjalan balik ke tempat duduknya, tetap seperti orang penyakitan yang lemah dan acuh tak acuh, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Wajah Auyang Hi tampak gusar tapi entah mengapa akhirnya dia menahan rasa gusarnya.

Semula Cu Jit-jit juga gusar, tapi kejap lain dia berpikir, “Orang lain tidak peduli, buat apa aku usil, memangnya urusanku belum cukup merepotkan?”

Ternyata Go-ji juga bersikap tak acuh, katanya dingin, “Setelah terjadi pembunuhan, apakah jual-beli tetap menggunakan uang?”

Sebun Kau tertawa, serunya, “Tentu saja pakai uang.”

Diturunkan ransel yang digendongnya di atas meja, perlahan dia buka buntelan kain kuning itu, ternyata isinya emas murni.

“Berapa nilainya?” tanya Go-ji.

Sebun Kau tertawa, katanya, “Dua ribu tahil, kukira cukup.”

Tak nyana Ong-kongcu yang pendiam dan pemalu itu mendadak angkat kepala, katanya dengan tersenyum, “Siaute tawar dua ribu seratus tahil!”

Mendengar tawarannya, hadirin kaget, Jit-jit juga berubah air mukanya.

Sebun Kau menyeringai, katanya, “Apakah Siangkong ini tidak berkelakar?”

Ong-kongcu tertawa, “Tiga sosok mayat masih ada di sini, apakah tega orang berkelakar di hadapan mayat?”

Sebun Kau berputar menghadap ke arahnya, selangkah demi selangkah dia menghampirinya, setiap langkahnya makin menimbulkan suasana tegang.

Pandangan semua orang tertuju kepadanya sehingga siapa pun tidak menyadari tahu-tahu Liong Siang-peng sudah melayang ke belakang Ong-kongcu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, perlahan dia angkat telapak tangannya.

Ong-kongcu masih tetap tidak merasakan ancaman bahaya, Sebun Kau menyeringai, “Bila kau mampu menghindar tiga kali pukulanku, kedelapan ratus kuda ditambah emas ini akan menjadi milikmu.”

Pada akhir perkataannya, secepat kilat kedua tangannya menggempur kedua pundak Ong-kongcu.

Pada saat yang sama, dari kedua tangan Liong Siang-peng juga menyambar tujuh bintik sinar dingin, jadi dua orang menggencet dari depan dan belakang, bukan saja jiwa Ong-kongcu terancam, kacung di belakangnya juga sukar terhindar dari malapetaka.

Cu Jit-jit menjerit sambil melompat bangun.

Pada saat itulah mendadak lengan baju Ong-kongcu menggulung ke belakang, di belakang kepalanya seperti bermata, demikian pula lengan bajunya seperti ular sakti, ketujuh bintik sinar dingin itu tergulung semua ke dalam lengan bajunya, sekali kebut lagi ke depan, bintik tajam itu langsung menyambar ke dada Sebun Kau.

Sebun Kau menjerit ngeri, mendekap dada sambil mundur terhuyung. Muka Liong Siang-peng juga berubah pucat, tapi dia tidak gugup, kedua tangan mengkeret ke dalam lengan baju, waktu dikeluarkan lagi setiap tangan sudah memegang sembilan badik, di mana sinar gemerdep segera badik menikam punggung Ong-kongcu.

Betapa keji serangannya, badik itu juga hitam gilap, jelas dilumuri racun jahat, bila Ong-kongcu tergores sedikit saja kulit badannya, jangan harap bisa hidup lagi.

Tapi Ong-kongcu tetap tidak berpaling, hanya sedetik itu, mendadak tubuhnya mengapung ke atas hingga kedua badik menusuk punggung kursi kayu cendana yang berukir. Saking kaget, kuncup nyali Liong Siang-peng, dia tidak berani turun lagi ia putar badan terus kabur.

Ong-kongcu tersenyum, katanya, “Ini pun bawa pulang saja!”

Waktu mengucapkan “ini” dari lengan bajunya melesat setitik sinar dingin, ketika mengatakan “pulang” sinar dingin itu lantas bersarang di punggung Liong Siang-peng. Bila dia selesai berkata, Liong Siang-peng pun menjerit dan terkapar di lantai, kaki tangan berkelojotan, lalu tak bergerak lagi.

Bukan saja tidak pernah menoleh, bahkan Ong-kongcu tetap bersenyum, hanya mulutnya berkata, “Sungguh Am-gi (senjata rahasia) yang jahat, tapi Am-gi itu milik dia sendiri.”

Ternyata dalam lengan bajunya masih menyimpan sebuah Am-gi lawan, padahal jari tangannya saja tidak bekerja, tapi kedua begal besar yang beroperasi di Loh-be-ouw telah disikatnya.

Melihat demonstrasi menangkap Am-gi, lalu balas menyerang pula hanya dengan lengan baju saja, seluruh hadirin sama kagum, tapi sikap Ong-kongcu tetap wajar dan tak acuh, seolah-olah membunuh orang bukan perbuatan jahat, keruan hadirin sama melongo dan tiada yang berani menanggapi perkataannya.

Cu Jit-jit juga terkesiap, pikirnya, “Pemuda yang kelihatan lemah lembut ini ternyata memiliki kungfu yang luar biasa, hatinya kejam dan tindakannya ganas, sungguh mimpi pun orang tidak menyangka ….”

Waktu ia menoleh, tiba-tiba dilihatnya kacung yang berdiri di belakangnya itu juga tengah mengawasinya dengan tersenyum, matanya yang lincah melirik sana-sini, seperti banyak persoalan hendak diberitahukan kepadanya.

Heran dan gusar hati Jit-jit, pikirnya, “Kenapa keparat ini menatapku sedemikian rupa? Mungkinkah dia kenal aku? Wajahnya memang seperti pernah kukenal, tapi kenapa aku tidak ingat di mana pernah bertemu dengan dia?”

Dia duduk termenung, sedang si gadis baju putih, Pek Fifi, dengan lembut berdiri di sampingnya, senyumnya yang menarik sungguh siapa pun akan tergiur.

Tapi bagaimanapun Jit-jit sukar mendapatkan jawaban, pikir punya pikir, akhirnya dia teringat kepada Sim Long. “Di mana Sim Long? Sedang apa dia sekarang? Apakah dia juga sedang merindukan diriku?”

Tiba-tiba didengarnya Auyang Hi berkata di sampingnya dengan tertawa, “Perjamuan makan malam sudah disiapkan, nona Cu ikut hadir?”

Selama dua hari ini, baru sekarang Jit-jit mendengar perkataan ramah terhadap dirinya. Cepat dia menarik napas, dengan tertawa dia mengangguk serta berdiri.

Baru sekarang didapatinya separuh hadirin sudah meninggalkan tempat ini, mayat juga sudah digotong pergi, tanpa terasa merah mukanya, diam-diam dia tanya diri sendiri, “Kenapa setiap merindukan Sim Long aku lantas linglung dan lupa daratan?”

Santapan yang dihidangkan memang hebat, bukan saja banyak jenisnya, juga makanan kelas satu semua. Leng-jisiansing melalap hidangan dengan lahap, apa yang disenangi seperti dituang saja ke dalam perut.

Selama hidup Cu Jit-jit juga belum pernah makan sepuas dan sekenyang ini, entah dari mana datangnya selera, yang terang perutnya memang lapar.

Hanya Ong-kongcu dan dua orang lagi yang jarang menggerakkan sumpitnya, agaknya menonton orang makan saja perut mereka ikut kenyang.

Sambil makan Auyang Hi masih terus mencerocos hingga makanan di mulutnya sering tersembur keluar, di samping minta maaf karena sejak bertemu dia tidak kenal bahwa Cu Jit-jit adalah putri kesayangan keluarga Cu, ia pun sibuk memperkenalkan Cu Jit-jit kepada hadirin lainnya. Jit-jit ogah melayani pembicaraannya, paling hanya mengangguk atau menggeleng dengan tertawa.

Mendadak Auyang Hi berkata, “Ong-kongcu ini juga putra keluarga terhormat di Lokyang, asal nona Cu melihat perusahaan bermerek Ong-som-ki, semua itu adalah milik keluarga Ong-kongcu, bukan saja dia ….”

Mendengar “Ong-som-ki”, hati Jit-jit seketika seperti kena cambuk sekali, darah seketika bergolak hingga apa perkataan Auyang Hi selanjutnya tidak diperhatikan lagi. Waktu dia memandang ke sana, Ong-kongcu dan kacungnya yang cakap itu pun sedang mengawasinya dengan tertawa.

Ong-kongcu tertawa sambil memperkenalkan diri, “Cayhe she Ong, bernama Ling-hoa ….”

Dengan suara gemetar Jit-jit menukas, “Kau … kau … toko peti mati itu ….”

Ong-kongcu tertawa, “Apa maksud nona Cu?”

Wajah Jit-jit yang sudah merah karena menenggak arak seketika pucat, matanya terbeliak menyorotkan rasa kaget dan ngeri, pikirnya, “Ong-som-ki … jangan-jangan Ong Ling-hoa ini pemuda bergajul yang berhati iblis itu …. Ah, betul, kacung itu bukankah gadis berbaju putih itu, pantas aku merasa mengenalnya, dia mengenakan pakaian lelaki hingga aku pangling padanya ….”

Melihat Jit-jit pucat dan menggigil, Auyang Hi kaget dan heran, tanyanya dengan menyengir, “Nona Cu, engkau ….”

Dengan menggigil mendadak Cu Jit-jit melompat berdiri, “blang”, kursi yang didudukinya tergetar roboh, Jit-jit menyurut mundur, serunya gemetar, “Kau … kau ….” mendadak dia putar tubuh terus angkat langkah seribu seperti melihat setan.

Terdengar beberapa orang berteriak-teriak di belakang, “Nona Cu … tunggu … nona Cu!”

Di antaranya terselip juga suara Pek Fifi yang minta dikasihani, “Nona Cu, bawa serta hamba ….”

Mana Jit-jit berani berpaling. Entah sejak kapan di luar turun hujan deras, Jit-jit juga tidak menghiraukan lagi, dia terus lari ke depan tanpa membedakan arah, juga tidak peduli jalan apa. Sorot mata Ong Ling-hoa yang mengandung daya iblis itu seperti mengejar di belakangnya.

Memang benar ada orang mengintil di belakangnya, bila dia berhenti, orang itu segera seperti akan menubruknya.

Lari dan lari terus sampai napas Jit-jit sudah ngos-ngosan, kedua matanya juga sukar terpentang lagi karena diguyur air hujan, dia tahu bila dirinya terus berlari di tengah hujan begini, andaikan tidak mati juga pasti akan jatuh sakit.

Lapat-lapat dilihatnya bayangan beberapa rumah di depan, satu di antaranya ada cahaya yang menyorot keluar, pintunya juga seperti terbuka, Jit-jit tidak peduli lagi, langsung dia menerobos ke dalam, begitu berada di dalam rumah dia lantas rebah di lantai.

Setelah mereda napasnya baru dia sempat perhatikan keadaan setempat, rumah ini ternyata sebuah biara bobrok yang sudah lama tidak terawat, galagasi terdapat di mana-mana, patung pemujaan pun sama roboh.

Tepat di tengah ruang pemujaan ada api unggun yang sedang menyala, yang duduk di tepi api unggun memanaskan badan adalah seorang nyonya berbaju hijau dan sedang mengawasinya dengan heran, waktu dia menoleh, hujan masih tertuang dari langit, mana ada bayangan orang mengejarnya.

Setelah tenangkan diri, Jit-jit membetulkan badan dan menyapa dengan tertawa, “Popo (nenek), bolehkah aku ikut memanaskan badan?”

Sikap nyonya berbaju hijau kelihatan welas asih, tapi hanya mengangguk tanpa bicara.

Rambut Jit-jit semrawut, pakaian basah kuyup dan lengket di badan hingga potongan badannya yang menggiurkan tampak jelas, diam-diam dia bersyukur, “Untung seorang perempuan tua, kalau lelaki bukankah amat memalukan.”

Namun demikian ia pun merasa kupingnya panas, dengan perasaan malu dan tidak tenteram dia membetulkan rambutnya, hingga wajahnya yang molek kelihatan jelas.

Agaknya nyonya berbaju hijau itu pun tidak menyangka gadis yang basah kuyup ini bisa sedemikian cantiknya, sorot matanya yang semula dingin mulai kelihatan ramah, dengan menggeleng kepala dia berkata, “Kasihan, pakaianmu basah kuyup, apa tidak dingin?”

Jit-jit menarik napas, tubuhnya memang lagi menggigil, mendengar perkataan orang seketika dia tambah gemetar, meski sudah berada di pinggir api unggun, pakaian basah yang lengket di badannya terasa sedingin es.

Dengan suara lembut nyonya berbaju hijau berkata, “Di sini tiada orang lelaki, lebih baik kau buka pakaian basahmu, setelah dipanggang kering tentu akan merasa hangat.”

Walau sungkan dan rikuh, tapi rasa dingin yang merasuk tulang tak tertahan lagi, terpaksa Jit-jit mengangguk, perlahan dia mulai membuka baju. Meski di hadapan sesama perempuan, tak urung merah juga muka Jit-jit, cahaya api menambah merah pipinya, menyinari potongan tubuhnya yang aduhai ….

Tiba-tiba Cu Jit-jit bersuara tertahan, pakaian dalamnya tak berani dilepas lagi, padahal pakaian dalam juga basah kuyup hingga hampir tembus pandang, cepat ia berjongkok, dan berharap pakaiannya lekas kering.

Mendadak di luar seperti ada orang berdehem perlahan.

Keruan Cu Jit-jit kaget, badannya mengkeret, serunya dengan gemetar, “Sia … siapa di luar?”

Suara serak tua berkata di luar tembok, “Hujan sangat lebat, orang beragama biar berteduh di emper saja.”

Legalah hati Cu Jit-jit, katanya, “Orang beragama ini memang orang baik, bukan saja tidak mau masuk, jendela pun tidak dilongoknya ….”

Belum habis dia bicara, mendadak terdengar terkekeh tawa, katanya, “Walaupun ada orang baik di luar, tapi ada Siaujin (manusia rendah) di dalam.”

Sungguh tidak kepalang kejut Cu Jit-jit, cepat dia meraih pakaian untuk menutup dada, lalu mendongak ke arah datangnya suara. Tertampak di atas belandar yang penuh debu dan galagasi menongol sebuah kepala, sepasang matanya yang mirip mata kucing sedang menatap Cu Jit-jit.

Malu, gusar, dan kaget Jit-jit, ia mendamprat, “Kau … siapa? Berapa lama kau di … di situ?”

“Sudah cukup lama untuk menonton seluruhnya,” ujar orang itu dengan tertawa.

Wajah Jit-jit menjadi merah, repot dia membetulkan pakaiannya, tarik sini, sana terbuka, tarik sana, sini tersingkap, serbarepot, saking malu sungguh kalau bisa ingin sembunyi ke dalam tanah saja.

Orang itu tergelak, katanya, “Sayang sekali mataku ini masih kurang untung, pakaian nona yang terakhir belum dibuka, wah, sayang ….”

Malu dan gusar, segera Jit-jit mencaci, “Keparat, bajingan kau ….”

Mendingan dia tidak memaki, karena caci makinya, orang itu segera melompat turun, Jit-jit menjerit kaget, tambah gencar caci makinya.

Tampak lelaki ini berpakaian jaket kulit yang sudah lusuh, bagian dadanya terbuka, tangan kiri pegang buli-buli arak, di pinggang terselip sebatang golok pendek tanpa sarung, usianya belum tua, tapi wajahnya penuh berewok, alisnya hitam tebal, matanya mirip mata kucing dan sedang mengamati Cu Jit-jit dari kepala sampai kaki.

Makin garang Jit-jit memaki, makin senang lelaki itu.

Begitu Jit-jit bungkam, lelaki itu lantas berkata dengan cengar-cengir, “Kan tidak kubuka pakaian nona, tapi nona sendiri yang membuka pakaian, tentu juga tidak kurintangi, namun nona justru memakiku begitu rupa, bukankah engkau ini tidak kenal aturan?”

Malu dan gemas Jit-jit bukan main, ingin rasanya dia gampar muka orang, tapi mana dia berani berdiri, terpaksa dia membentak, “Kau … keluar, setelah … setelah aku mengenakan pakaian.”

“Di luar hujan lebat dan dingin, nona tega suruh aku kehujanan di luar. Daripada nona kesepian, bukankah lebih baik kutemani.”

Semula Jit-jit kira si nyonya berbaju hijau pasti seorang tokoh dunia Kangouw, melihat kejadian ini pasti akan membelanya. Siapa tahu nyonya itu malah menyingkir ke pinggir dengan muka pucat ketakutan.

Berputar mata Jit-jit, mendadak dia tertawa dingin, “Tahukah kau siapa aku? Hm, inilah Moli (iblis perempuan) Cu Jit-jit, memangnya boleh dibuat permainan olehmu? Kalau tahu diri lekas kau-lari saja, supaya tidak mati sia-sia di sini.”

Julukan “Moli” sekenanya dia sebut, maksudnya hanya untuk menggertak orang. Semula lelaki itu melenggong, tapi segera tertawa, katanya, “Sebaliknya apa kau tahu siapa aku?”

“Kau siapa? Apa bedanya kau dengan babi, anjing, binatang ….”

“Ketahuilah,” ujar lelaki itu sambil tepuk dada, “Hok-mo-kim-kong (raksasa penakluk iblis) adalah nama besarku, lebih baik kau menurut saja, jangan ….”

Rasa gusar mendadak merangsang Jit-jit, bila dia sudah nekat, umpama telanjang bulat juga berani berdiri, apalagi sekarang dia masih pakai baju dalam, mendadak dia melompat bangun, jengeknya, “Baik, kau ingin lihat, ini, silakan lihat, lihatlah yang jelas … sebentar lagi nona akan mencungkil kedua matamu.”

Mimpi pun lelaki itu tidak menyangka ada perempuan seberani ini, dia benar-benar terkejut, badan yang montok terpampang di depan matanya, entah kenapa ia malah tidak berani memandangnya.

Jit-jit tambah nekat, dia maju selangkah pula, tanpa terasa orang itu menyurut mundur dengan mata terbelalak.

Mendadak seorang mendengus di luar jendela, “Hm, maling cabul, keluar!”

Tampak sesosok bayangan seperti patung berdiri di luar jendela, kepalanya mengenakan caping bambu, dagunya berjenggot, dalam kegelapan tidak terlihat jelas wajahnya, hanya tampak punggungnya menyandang pedang, ronce hiasan pada tangkai pedang tampak bergoyang tertiup angin.

Lelaki tadi kaget, katanya, “Kau suruh siapa keluar?”

“Kecuali kau, siapa lagi?” jengek orang di luar itu.

Lelaki itu tertawa, katanya, “Bagus, jadi aku ini maling cabul!”

Mendadak dia melompat melewati kepala Cu Jit-jit dan melayang keluar pintu.

Jit-jit tidak mengira Ginkang orang ini sedemikian tinggi, terkejut juga hatinya, segera tertampak cahaya pedang berkelebat membendung pintu.

Badan lelaki itu terapung di udara, kedua kakinya menendang beruntun, begitu cahaya pedang terdesak ke samping, lelaki itu melesat keluar di bawah hujan, terdengar gelak tawanya, lalu bentaknya, “Hidung kerbau keroco, memangnya kau ingin berkelahi?”

Bayangan di luar jendela memang seorang Tojin kurus kecil, gerak-geriknya lincah, sinar pedangnya berkelebat lagi menusuk dada lelaki itu.

“Ilmu pedang bagus!” puji lelaki itu sambil angkat buli-buli araknya untuk menangkis, “trang”, buli-buli arak itu ternyata terbuat dari baja, pedang si Tojin tergetar ke samping, hampir terlepas dari cekalannya.

“Tenaga pergelangan hebat,” Tojin itu pun memuji. Dalam jangka ucapan tiga patah kata, sekaligus ia pun menyerang tiga jurus, cepat sekali serangan berantai ini sehingga lelaki itu tidak sempat balas menyerang dengan cara semula.

Melihat kungfu kedua orang ternyata merupakan tokoh kosen tingkat tinggi dunia persilatan, kaget dan heran Cu Jit-jit, sesaat dia jadi melongo.

Untung perempuan berbaju hijau di belakangnya lantas bersuara lirih padanya, “Nona, lekas pakai baju sekarang!”

Merah muka Jit-jit, katanya dengan menunduk, “Ya, terima kasih!”

Cepat dia kenakan bajunya yang masih basah, lalu melongok keluar, tertampak di tengah hujan sinar pedang berkelebat bagai sambaran kilat naik-turun, begitu cepat hingga hujan lebat pun tidak tembus, air muncrat ke mana-mana.

Ilmu pedangnya kelihatan tidak begitu lihai, tapi kecepatannya luar biasa, sinar pedangnya membawa desing angin tajam. Makin dipandang makin heran, ilmu pedang Tojin ini juga tidak di bawah Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi yang termasuk salah satu ketujuh jago kosen ….

Agaknya lelaki itu pun mulai gelisah, “Hidung kerbau, aku tidak ada permusuhan denganmu, apa benar kau ingin mencabut nyawaku?”

“Peduli siapa kau dan apa sebabnya, asalkan bentrok denganku, maka dia harus tahu pedangku selamanya tiada ampun bagi lawan.”

Lelaki itu kaget, katanya, “Orang yang tidak bermusuhan denganmu juga kau bunuh?”

“Dapat mati di bawah pedangku sudah terhitung untung baginya,” Tojin itu menjengek.

Dengan suara keras lelaki itu berteriak, “Sungguh keji ….”

Dalam pembicaraan singkat ini si Tojin telah menyerang belasan kali, lelaki itu terdesak, sedikit lena jaket kulitnya tertebas sobek oleh pedang lawan. Bulu domba pada jaketnya bertebaran di bawah hujan lebat.

Lelaki itu menjadi gugup, pedang si Tojin mendadak menyambar lewat buli-bulinya terus menusuk dada kiri, pada urat nadi yang mematikan. Serangan ini sungguh berbahaya, kejam dan telak.

Tak tertahan Cu Jit-jit berteriak, “Orang ini tidak perlu dihukum mati, ampuni saja jiwanya!”

Sebetulnya tak perlu Jit-jit bersuara, sebab baru separuh dia bicara, mendadak selarik sinar putih berkelebat dari pinggang lelaki ini menyongsong tusukan pedang “Cring”, si Tojin tergetar mundur tiga langkah, mata Cu Jit-jit cukup jeli, dia lihat ujung pedang si Tojin terkutung sebagian.

Lelaki itu tertawa keras, katanya, “Tojin keparat, kau dapat memaksa aku menggunakan golok pusaka di pinggangku, ilmu pedangmu boleh dipasang dalam deretan lima ahli pedang Bu-lim zaman ini.”

Si Tojin melintangkan pedang di depan dada, siap menunggu serangan balasan lawan. Tak tahunya lelaki itu tidak balas menyerang, di tengah gelak tertawanya mendadak ia melompat mengapung tinggi ke atas, gelak tawanya berkumandang di udara, serunya, “Adik manis, lain kali kalau buka baju harus periksa dulu sekitarnya, ingat ya ….” Suara gelak tertawanya semakin jauh dalam sekejap saja lantas lenyap.

Tojin itu masih berdiri tegak di tengah hujan, air hujan menetes dari pinggir capingnya seperti kerai air.

Jit-jit terkesima, serunya kemudian, “Toya ini silakan masuk kemari, biar kuaturkan terima kasih.”

Perlahan Tojin itu membalik badan dan melangkah masuk ke situ. Terasa oleh Jit-jit kehadiran Tojin ini seperti membawa nafsu membunuh. Betapa pun orang adalah penolongnya, meski segan melihat wajah orang, tak dapat dia membuang muka.

Setelah Tojin itu masuk, Jit-jit memberi hormat, “Atas pertolongan Totiang barusan ….”

Mendadak Tojin itu menukas, “Tahukah kau siapa aku dan kenapa kutolongmu?”

Jit-jit melenggong, tak tahu bagaimana harus menjawab.

Berkata pula si Tojin dengan dingin, “Soalnya akan kubawa dirimu, maka tak boleh kau jatuh ke tangan orang lain.”

Kaget Cu Jit-jit, serunya, “Kau … siapa kau?”

Tojin itu mendorong capingnya ke atas hingga tampak jelas mukanya. Di bawah cahaya api yang bergerak-gerak tertampak mukanya kuning dan kurus, di antara mata alisnya tampak mengandung rasa dingin dan culas, siapa lagi dia kalau bukan Toan-hong-cu, kepala biara Hian-toh-koan dari Ceng-sia, satu di antara ketujuh jago kosen Bu-lim masa kini.

Melihat dia, perasaan Jit-jit lantas tenteram, batinnya, “Kiranya Toan-hong-cu, lelaki tadi mengatakan dia patut dijajarkan di antara lima ahli pedang zaman ini, ternyata juga tidak salah tebak. Lalu dari mana datangnya lelaki itu? Kungfunya ternyata mampu menandingi salah satu dari ketujuh jago kosen Bu-lim, kenapa belum pernah kudengar tokoh macam itu di Bu-lim?”

Hati berpikir mulut pun berkata, “Sungguh beruntung dapat bertemu dengan Toan-hong Totiang di sini, tadi Totiang bilang hendak membawa diriku, entah untuk keperluan apa?”

“Karena Hoa Lui-sian itulah, tentunya kau tahu sendiri.”

Diam-diam Jit-jit terkejut, tapi lantas katanya, “Hoa Lui-sian sudah berada di Jin-gi-ceng, apakah Totiang belum tahu?”

“Kalau benar, boleh kau antar aku melihatnya ke sana.”

“Maaf, aku masih ada urusan, mau lihat, boleh kau pergi sendiri.”

Mencorong gusar sinar mata Toan-hong-cu, katanya bengis, “Perempuan bernyali besar, berani kau membual di hadapanku, sudah puluhan tahun kumalang melintang di dunia Kangouw, memangnya mudah kau tipu begini saja?”

“Setiap patah kataku benar, jika urusanku tidak penting, tentu boleh kuantarmu ke sana.”

“Bila berurusan denganku, urusan penting lain harus dikesampingkan dulu.”

Kecuali Sim Long, terhadap siapa pun Jit-jit berani mengumbar adat, seketika matanya mendelik, adat pemberangnya kambuh, serunya gusar, “Aku justru tidak mau pergi, kau mau apa, jangan berlagak, betapa kehebatanmu, pedang pun ditebas kutung orang ….”

Air muka Toan-hong-cu berubah kelam hardiknya beringas, “Mau tidak mau harus pergi!”

Sinar pedang berkelebat, kedua pundak Jit-jit segera terancam.

Jit-jit jadi nekat, “Kau kira aku takut?”

Jit-jit memang tidak takut kepada siapa pun, walau lawan bersenjata pedang, jago kosen kenamaan pula, bila kemarahannya sudah membara, apa pun tidak dihiraukan lagi. Tahu-tahu dia memapak sambaran pedang malah, dengan gerakan menangkap Kim-na-jiu-hoat dari Hoay-yang-pay yang meliputi 72 jurus, maksudnya hendak merebut pedang Toan-hong-cu.

Toan-hong-cu menyeringai, katanya, “Sungguh budak yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, biar kubikin cacat lengan kananmu dulu sebagai hajaran.”

Pengalaman tempur Cu Jit-jit kurang luas, tapi otaknya cerdik, mendengar ancaman orang, dia malah membentak, “Baik, bila kau melukai tempat lain di badanku berarti kau ini binatang!”

Tampak dia bermain secara terbuka, kecuali lengan kanan, bagian lain boleh dikatakan tidak terjaga, pertahanan dipusatkan pada lengan kanannya tok, maka daya serangnya cukup hebat hingga Toan-hong-cu ditandingi sama kuat.

Toan-hong-cu menyeringai, katanya, “Budak busuk dan licin!”

Pedangnya berkelebat, “sret”, ujung pedang menusuk dada kiri Cu Jit-jit.

Dada kiri Cu Jit-jit memang tidak dipertahankan, jika pedang Toan-hong-cu tidak tertebas buntung, tusukan ini tentu sudah melukai kulit dagingnya, namun demikian tetap dia terlambat berkelit, “bret”, baju pundaknya tersobek hingga pundaknya terlihat jelas.

Kejut dan gusar Jit-jit, dia memaki, “Jelek-jelek kau ini seorang tokoh besar, ucapanmu ternyata tidak dapat dipercaya.”

Jit-jit tidak tahu bahwa di hadapan orang banyak Toan-hong-cu pernah meludahi hidangan di atas meja, lalu perbuatan kotor apa pula yang tidak berani dilakukannya?

Sambil menyeringai pedangnya mendadak menyungkit ke atas, serangan keji dan kotor, yaitu Liau-im-sek, yang ditusuk adalah bagian selangkangan.

Sekuatnya Jit-jit menghindar, sungguh tak terpikir olehnya bahwa tokoh seperti Toan-hong-cu juga dapat menyerang seorang gadis dengan cara yang rendah begini, saking malu dan gusarnya, pipi Jit-jit jadi merah, makinya, “Binatang, kau … kau binatang.”

“Biar hari ini kau jatuh di tangan binatang,” dalam beberapa patah katanya itu, beruntun Toan-hong-cu menyerang enam kali.

Kaget, gusar, dan malu Jit-jit, ia terkurung sinar pedang lawan, terdesak hampir tidak mampu balas menyerang, Toan-hong-cu menyeringai, gerak pedangnya tambah berani lagi, mengusap dada, menyontek perut, menyungkit selangkangan, semua gerakan keji dan kotor.

Jit-jit merasa pedih membayangkan dirinya bakal terjatuh ke tangan orang rendah ini. Sekujur badan sudah berkeringat, kaki tangan lemas, rasa takut merangsang benaknya, tidak kepalang rasa sedih hatinya.

Dalam pada itu si nyonya baju hijau agaknya sangat ketakutan, namun tidak lupa dia menambahi kayu kering ke dalam api unggun, asap putih lantas mengepul dan memenuhi ruangan biara.

Desing angin pedang sementara itu telah mengoyak pakaian di depan dada Jit-jit, demikian pula bagian punggungnya, wajah Jit-jit sudah pucat dan takut.

Toan-hong-cu sebaliknya tambah beringas, gerak pedangnya makin gencar, makin gila. Tampangnya yang semula kelihatan dingin, mungkin karena kehidupan puluhan tahun yang mengharuskan dia mengekang nafsu sehingga menjadikan sifatnya yang nyentrik.

Kini nafsu berahinya yang terpendam sekian tahun telah meledak, membuatnya tersiksa dan hampir gila.

Dengan pedang buntung di tangannya dia berusaha menyalurkan nafsu yang terpendam itu, jadi bukan ingin selekasnya menundukkan Cu Jit-jit melainkan membikin nona itu meronta dan merintih, makin Jit-jit ketakutan dan menderita, makin puas hatinya dan terlampias.

Setiap manusia pasti punya nafsu yang membara, cuma cara melampiaskannya yang berbeda.

Untuk melampiaskan nafsunya, Toan-hong-cu ingin menyiksa orang, sehingga orang itu menderita. Setiap kali bergebrak dengan musuh dan melihat musuh kesakitan, meronta dan meratap minta ampun baru dia merasa puas. Oleh karena itu tak peduli siapa musuhnya, betapa pun tangguh lawannya, serangannya pasti ganas.

Menghadapi sorot matanya yang membara bagai binatang kelaparan, wajahnya yang mirip orang kesetanan, Jit-jit jadi gugup, hingga kaki tangan pun terasa lemas, akhirnya dia jadi nekat dan membatin, “Begini Yang Kuasa menghukumku, biarlah aku mati saja.”

Tatkala dia ambil keputusan nekat hendak menerjangkan tubuhnya ke ujung pedang lawan, pada saat itulah dilihatnya air muka Toan-hong-cu mendadak berubah, gerak pedang mendadak mengendur dan berhenti. Hidungnya tampak mengendus-endus seperti mencium sesuatu, lalu menoleh mengawasi si nyonya berbaju hijau, sorot matanya tampak gusar dan ngeri pula, serunya dengan suara serak, “Kau … kau ….” mendadak ia mengentak kaki serta membentak, “Tak nyana hari ini aku terjungkal di sini.”

Belum habis bicara mendadak ia melompat ke atas dan jumpalitan di tengah udara terus melesat pergi, tak tersangka tenaganya seperti putus tengah jalan, “blang”, ia terbanting jatuh menumbuk kosen jendela, caping di kepalanya terpental jatuh, badan pun terguling ke pecomberan, menggelinding dua kali, dengan pedang buntung dia menopang badan dan merangkak bangun, lalu kabur dengan cepat.

Kejut dan heran Jit-jit, sesaat dia melenggong, “Jelas dia sudah menang, kenapa melarikan diri malah dengan cara serunyam itu?”

Waktu dia menoleh, asap putih masih mengepul dari api unggun, nyonya berbaju hijau duduk kaku seperti patung di tengah asap putih yang makin melebar. Wajahnya yang semula kelihatan welas asih kini mengulum senyuman aneh sehingga orang merasa ada semacam kekuatan gaib meliputi dirinya.

Terkesiap hati Jit-jit, ucapnya dengan suara gemetar, “Mungkinkah … mungkinkah dia ….”

Belum habis bicara seketika ia pun merasa kaki-tangan lemas lunglai, kepala juga pening dan pandangan gelap.

Kini dia baru sadar kenapa Toan-hong-cu melarikan diri, nyonya berbaju hijau yang kelihatan welas asih ini ternyata seorang iblis jahat, asap putih itu mengandung racun yang membius kesadaran orang. Siapa dia? Untuk apa dia berbuat demikian?

Tapi Jit-jit tidak sempat berpikir lagi, rasa kantuk mendadak menyerang dirinya, kelopak mata terasa berat … akhirnya dia rebah.

*****

Waktu Jit-jit siuman, bukan saja badan terasa kering dan hangat, malah kini dia tidur di suatu tempat yang empuk, seperti tidur di gumpalan awan. Rasa dingin, lembap, takut, dan panik sudah hilang semua, terbayang kejadian yang lalu, sungguh dia merasa seperti bermimpi buruk.

Waktu dia menoleh, dilihatnya si nyonya baju hijau tetap duduk di sebelahnya, tempat itu ternyata sebuah hotel, Jit-jit tidur di atas ranjang, nyonya berbaju hijau duduk di pinggir ranjang. Wajahnya pulih kembali welas asih, dengan lembut dia mengelus pipi Jit-jit, dengan suara lembut dia berkata, “Anak baik, sudah bangun, kau sakit, tidurlah lagi.”

Terasa oleh Jit-jit jari orang seperti ular berbisa, ingin didorongnya, tapi tangan terasa lemas tak bertenaga.

Dia terkejut dan ingin tanya, tapi hanya bibirnya yang bergerak, suara tidak dapat keluar dari mulutnya.

Sekali ini Jit-jit betul-betul melenggong kaget, “Perempuan siluman ini telah membuatku bisu.”

Walau banyak pengalaman ngeri yang dialaminya tapi rasa takut dan ngeri sekali ini sungguh jauh lebih besar daripada yang sudah.

Nyonya berbaju hijau berkata pula penuh kasih sayang, “Coba lihat, begini pucat mukamu, pasti parah penyakitmu, lekas istirahat. Sebentar bibi akan membawamu keluar.”

Jit-jit hanya bisa mengawasi, dia ingin berteriak, “Aku tidak sakit, tidak sakit … kau perempuan siluman ini mencelakai aku.”

Tapi meski dia mengerahkan segenap tenaga tetap tidak mampu mengeluarkan suara.

Dalam keadaan mengenaskan ini, nasib selanjutnya dan apa pula yang akan menimpa dirinya sungguh tak berani dipikir lagi, dia hanya mengertak gigi supaya air mata tidak menetes. Tapi apa pun, air mata tak tertahan lagi.

Nyonya baju hijau itu keluar sejenak, waktu datang lagi langsung ia menghampiri dan mengangkat Jit-jit, seorang pelayan hotel ikut masuk dan mengawasi Jit-jit dengan pandangan kasihan, katanya dengan menghela napas, “Lohujin, engkau sungguh sabar dan telaten.”

Nyonya berbaju hijau tertawa getir, katanya, “Murid perempuanku ini sejak kecil sebatang kara, seorang cacat lagi, kalau bukan aku yang merawat dia, lalu siapa akan mengasuhnya …. Ai, mungkin sudah nasib, apa boleh buat.”

Pelayan itu menghela napas berulang kali, katanya, “Engkau orang tua memang baik hati.”

Jit-jit tidak tahan dipandang kasihan, tak tahan pula mendengar percakapan itu.

Dadanya hampir meledak, rasanya ingin mengeremus bulat-bulat perempuan siluman ini. Tapi apa boleh buat, lalat pun dia tidak mampu membunuhnya, terpaksa bungkam dan membiarkan apa saja yang dilakukan perempuan siluman atas dirinya.

Perempuan berbaju hijau membopongnya keluar dan dinaikkan ke punggung seekor keledai, tiba-tiba si pelayan hotel menyusul keluar, dia mengeluarkan sekeping perak, dia memburu maju serta menyisipkan uang itu ke tangan si nyonya baju hijau, katanya, “Uang sewa kamar tak perlu bayarlah, uang ini kau bawa saja buat sangu di jalan.”

Nyonya berbaju hijau kelihatan seperti terharu, katanya tersendat, “Kau … orang baik.”

Pelayan itu juga hampir menangis, dia kucek mata terus putar kembali ke dalam hotel.

Ingin rasanya Jit-jit menggampar orang baik tapi ceroboh ini, diam-diam dia mengumpat, “Memangnya matamu buta, perempuan siluman ini kau anggap orang baik, kau … lekaslah mampus saja biar manusia seluruh dunia ini mampus, mampus seluruhnya.”

Keledai dituntun ke depan, air mata meleleh membasahi pipi Jit-jit, mau dibawa ke mana dirinya? Apa tujuan orang membawanya pergi?

Orang di jalan banyak yang memerhatikan mereka, biasanya bila Jit-jit berada di jalan raya memang sering menarik perhatian orang banyak, untuk ini dia tidak perlu merasa heran. Anehnya sekarang, sekali melihat dirinya, orang-orang itu lantas melengos dan tidak berani memandangnya pula.

Jit-jit ingin supaya orang memandangnya berulang kali supaya mereka tahu bahwa dirinya sedang menjadi tawanan nyonya berbaju hijau, tapi bukan saja orang-orang itu tidak tahu, malah sama melengos dengan rasa jijik.

Sungguh dongkol, heran, dan marah sekali Jit-jit, ingin dia menjatuhkan diri saja dari punggung keledai supaya mati di jalan raya, tapi nyonya berbaju hijau memapahnya dengan kencang, bergerak pun dia tidak bisa.

Entah berapa lama dari betapa jauh mereka menempuh perjalanan, yang terang matahari makin panas.

Tiba-tiba si nyonya baju hijau berkata dengan suara lembut, “Apa kau lelah, di depan ada warung teh, nanti kita istirahat dan menangsel perut, ya?”

Makin lembut sikap nyonya berbaju hijau itu, makin benci Jit-jit, rasanya belum pernah dia membenci perempuan yang satu ini.

Warung teh itu di pinggir jalan, sudah banyak kereta kuda, warung itu penuh tamu.

Ketika melihat si nyonya baju hijau membimbing Jit-jit masuk, pandangan tetamu juga kasihan dan simpati padanya.

Sungguh Jit-jit hampir gila, jika sekarang ada orang mampu membikin dia bicara, bisa mengatakan betapa jahatnya perempuan siluman ini, disuruh berbuat apa pun dia mau.

Semula warung ini sudah tiada tempat kosong, tapi begitu mereka masuk, beberapa orang segera merelakan tempatnya, seakan-akan orang-orang itu merasa kasihan dan simpati terhadap nyonya tua yang welas asih ini.

Dalam hati Jit-jit berharap Sim Long mendadak muncul, tapi manusia sebanyak ini, mana ada bayangan Sim Long, dalam hati dia mengumpat, wahai Sim Long, di manakah kau mampus, memangnya kau sudah minggat dan tidak menghiraukan diriku lagi? Mungkin ada perempuan lain yang memikatmu? Kau bangsat keji, kau tega meninggalkan aku.

Menghadapi keadaan ini, dia lupa bahwa dia sendiri yang meninggalkan Sim Long, bukan Sim Long yang meninggalkan dia.

Bila perempuan gusar pada orang lain, biasanya memang mau menang sendiri, bila orang itu adalah lelaki yang dicintainya, alasan apa pun jangan harap dapat membuatnya mengerti.

Mendadak sebuah kereta besar ditarik dua ekor kuda berlari datang dan berhenti di depan warung, kudanya kuda pilihan, keretanya juga bercat baru hingga mengilap. Sais mengayun cemeti, tangan yang lain menarik tali kendali, lagaknya dibuat-buat. Sikapnya garang. Banyak tamu dalam warung berkerut kening, pikir mereka, “Yang menumpang kereta ini besar kemungkinan orang kaya mendadak.”

Tampak sais kereta melompat turun, dengan sikap hormat ia membuka pintu kereta. Dari dalam kereta terdengar orang batuk-batuk beberapa kali, lalu keluar seorang dengan perlahan, tingkahnya memang tidak ubahnya sebangsa orang yang baru kaya. Badannya yang tambun justru mengenakan pakaian ketat warna cokelat, baju yang pantasnya dipakai orang yang tiga puluh kati lebih kurus daripada dia.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: