Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (10)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:45 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (10)
Oleh Gu Long

Dalam pada itu perlahan Toh-liong-cu sedang mendekati Thi Un-hou dan lain-lain, namun orang-orang itu tidak dihiraukan, langsung ia hendak masuk ke anjungan kapal.

Serentak Thi Un-hou dan Li Eng-hong menerjang maju, dua macam senjata, satu keras dan satu lemas, satu panjang dan satu pendek, sekaligus menyerang dari kanan dan kiri.

Mereka berdua memang tidak malu sebagai tokoh terkemuka, dua jalur perak menyambar dan mengadang rapat jalan lalu Toh-liong-cu.

Mendadak Toh-liong-cu menarik diri dan menyurut mundur setombak jauhnya, tampaknya dia akan kecebur ke dalam air, tentu saja Thi Un-hou dan Li Eng-hong sama melengak.

Siapa tahu pada saat itu juga punggung Toh-liong-cu serupa pakai pegas sehingga tubuh melenting balik, berbareng kedua tangan menghantam ke kanan dan ke kiri.

Gerak pergi-datangnya secepat hantu, betapa pun luas pengalaman Thi Un-hou dan lain-lain, sama melongo juga menyaksikan kungfu sehebat ini.

Maka terdengar suara “srak”, tahu-tahu ujung tombak berantai Li Eng-hong kena ditangkap Toh-liong-cu, ketika kedua orang sama membetot, tombak berantai itu terentang lurus.

Meski Li Eng-hong terkenal karena Ginkangnya, tenaga tangannya ternyata juga tidak lemah, tombak berantai tidak sampai terampas musuh, siapa tahu mendadak Toh-liong-cu mengayun sebelah kakinya, tombak berantai itu ditendangnya putus.

Waktu itu Li Eng-hong sedang membetot sekuatnya, karena rantai putus, dengan sendirinya ia kehilangan imbangan dan terhuyung ke belakang.

Dalam pada itu tangan Toh-liong-cu yang lain juga lantas memotong pergelangan tangan Thi Un-hou, terpaksa Thi Un-hou tarik kembali tombaknya dan balas menyerang tangan lawan.

Sungguh luar biasa kepandaian Toh-liong-cu, tampaknya dia sudah kepepet, namun dalam posisi yang tidak menguntungkan dia masih mampu menerobos lewat di bawah kerubutan Thi Un-hou berdua dan segera akan menyusup ke dalam kabin. Tiba-tiba entah dari mana datangnya, tahu-tahu Kim-ih-hou Ciu Hong mengadang di depan Toh-liong-cu.

Karena tidak tahu seluk-beluk lawan ini, cepat Toh-liong-cu menyurut mundur.

“Lihat ini ….” kata Ciu Hong dengan tertawa sambil mengangkat kotaknya, sekali tepuk, dari dalam kotak menyembur keluar asap tipis berwarna jambon.

Hanya dalam sekejap saja tadi asap ini dapat merobohkan orang, tapi sekarang meski disembur oleh asap itu, Toh-liong-cu tetap berdiri tegak tanpa merasakan apa-apa.

“Sungguh hebat, coba lagi ….” seru Ciu Hong, kembali ia tepuk kotaknya, mendadak dua bilah pisau kecil menyambar kedua telinga Toh-liong-cu.

Akan tetapi sekali tangan Toh-liong-cu meraih tahu-tahu kedua pisau itu hilang tanpa bekas.

Berubah air muka Ciu Hong. Sikap Toh-liong-cu justru seperti anak kecil yang tertarik oleh permainan sulap, ia memberi tanda agar Ciu Hong main sulap lagi.

Sementara itu Bok-long-kun juga telah menubruk ke arah Song Kong, hanya sekejap saja kedua orang sudah saling gebrak dua-tiga jurus, cepat dan berbahaya, sama sekali berbeda daripada pertarungan Ciu Hong dan Toh-liong-cu yang serupa orang bersenda gurau itu.

“Hei, Bok-long-kun, keluarkan jurus maut, kita harus serbu sendiri ke dalam, jangan andalkan si tuli yang sinting itu,” seru Ban-lohujin. Berbareng tongkatnya juga lantas menyerampang Cian Siang-sing.

Bok-long-kun mendengus, “Hm, boleh kau lihat jurus mautku!”

Sekali bergerak, kedua tangan menghantam lurus ke depan dengan dahsyat. Meski ganas serangannya, namun dada sendiri menjadi tidak terjaga juga.

Song Kong berjuluk Kay-pi-jiu, si Tangan Penghancur Pilar, suatu tanda betapa hebat tenaga pukulannya, begitu melihat ada peluang, tentu saja ia sangat girang, sedikit bergeser, mendadak ia menghantam dada lawan.

“Plak”, dengan tepat pukulannya mengenai sasarannya. Girang sekali Song Kong, ia yakin majikan Sin-bok-tong yang termasyhur ini sekarang pasti akan binasa di bawah pukulannya.

Siapa tahu, meski terkena pukulan dengan telak, Bok-long-kun serupa tidak merasakan sesuatu, malahan kedua tangannya lantas mengacip, menggunting tangan Song Kong yang menghantam dadanya itu.

Keruan Song Kong terkejut, ingin menghindar pun tidak keburu lagi, maka terdengarlah suara “krek”, tulang lengan patah terkacip ia menjerit dan roboh tak sadarkan diri.

Mendengar jeritan ini, Po-ji dan lain-lain yang berada di dalam kabin sama terkejut dan cepat memburu ke pintu dan coba mengintip keluar.

Terlihat dari kotak yang dibawa Ciu Hong itu mendadak melompat keluar seorang perempuan cantik mini terbuat dari besi dan sedang menari-nari di atas kotak.

Toh-liong-cu berkeplok senang melihat permainan lucu itu, sekonyong-konyong si cantik besi itu berputar, tahu-tahu secomot jarum lembut menyambar ke depan dari tangan boneka besi itu.

Sejak tadi Thi Un-hou dan Li Eng-hong juga sudah menunggu kesempatan, melihat ada peluang, tanpa ayal lagi tombak mereka lantas menyerang punggung dan juga kepala Toh-liong-cu.

Jadi Toh-liong-cu sekaligus diserang dari tiga jurusan, akan tetapi mendadak ia mendak ke bawah, berbareng kaki menyerampang. Thi Un-hou dan Li Eng-hong sempat mengelak, hanya Ciu Hong yang tersapu jatuh dan terguling ke sana dengan tetap merangkul kotaknya, ia terguling sampai ke pojok sana dan tidak sanggup berdiri lagi.

Dengan sendirinya Thi Un-hou dan Li Eng-hong tidak rela membiarkan Toh-liong-cu menyusup ke dalam kabin, serentak mereka menyerang lagi terlebih gencar sehingga seketika Toh-liong-cu sulit melepaskan diri.

Mendadak Bok-long-kun menerjang ke belakang Li Eng-hong, cepat Li Eng-hong menyambutnya dengan putar tombak berantai, tak terduga olehnya tombak berantai yang putus sebagian itu tepat mengenai dada Bok-long-kun. Namun Bok-long-kun hanya tertawa terkekeh saja, kedua tangan yang kurus kering serupa kayu itu tetap menghantam. Terpaksa Li Eng-hong mendoyong ke belakang sambil menyurut mundur. Sungguh sukar dimengerti bahwa dada lawan ternyata kebal senjata, mau tak mau timbul rasa jerinya.

Dilihatnya sembari menyeringai Bok-long-kun sedang mendesak maju, meski memegang tombak berantai, seketika Li Eng-hong tidak berani menyerang lagi.

Selagi bingung, tiba-tiba suara seorang membisikinya, “Jangan takut, dia tidak kebal senjata melainkan karena dia memakai tameng pelindung dada pusaka.”

Terbangkit semangat Li Eng-hong, tanpa sempat memikirkan dari mana datangnya suara bisikan itu, serentak ia putar lagi tombaknya dan menyerang beberapa kali.

Di sebelah sana pertarungan Cian Siang-sing dengan Ban-lohujin juga semakin sengit.

Meski kedua ruyung Cian Siang-sing cukup lihai, namun berada di dalam ruang kapal yang sempit, sukar mengeluarkan segenap daya serangnya, ke mana ruyungnya berputar, kalau tidak menghantam dinding kabin tentu membentur tiang kapal. Sebaliknya Ban-lohujin dapat menyelinap kian kemari di bawah sambaran ruyung lawan, tongkatnya selalu mencari peluang untuk melancarkan serangan balasan.

Yang berbahaya adalah sekujur badan nenek itu penuh senjata rahasia, setiap kali tangan bergerak, berbagai senjata rahasia lantas dihamburkan sehingga Cian Siang-sing agak kewalahan.

Dalam pada itu keadaan di tengah semak gelagah sana juga kacau-balau.

Terdengar Siau Bwe-jiu berteriak dan membentak, “Kejar! Jangan sampai lolos anak dungu itu …. Tapi awas, jangan mencederai orang yang digendongnya itu!”

Di tengah semak gelagah itu memang tersembunyi anak buahnya, sekarang semuanya lantas ikut mengejar. Namun Gu Thi-wah yang berkaki panjang itu menarik keuntungan besar berlarian di rawa yang berlumpur itu. Baginya satu langkah sama dengan dua-tiga langkah orang biasa, biarpun di antara pengejarnya ada yang menguasai Ginkang, namun berlari di tengah lumpur rawa-rawa itu terasa tidak leluasa juga.

Sambil berlari Gu Thi-wah sempat tertawa dan mengejek, “Ayolah kejar kalau mampu ….”

Tidak kepalang gemas Siau Bwe-jiu, tapi dalam keadaan begitu, ia pun khawatir Kiang Hong akan dicederai sehingga tidak berani memerintahkan anak buahnya menghamburkan senjata rahasia, maklumlah, dia memang menaruh maksud tertentu terhadap Kiang Hong.

Melihat sang pimpinan dibawa lari musuh, anak buah Thian-hong-pang banyak yang ikut terjun ke dalam rawa dan bantu mengejar musuh. Seketika terjadilah pertarungan sengit yang sukar dibedakan kawan atau lawan di tengah rawa.

Betapa banyak anak buah yang dibawa Siau Bwe-jiu tetap sukar melawan anak buah Thian-hong-pang di kandang sendiri. Setelah bertempur sekian lama, keadaan anak buah Thian-hong-pang jelas lebih unggul, di antara sepuluh orang yang menjerit roboh ada tujuh orang anak buah Siau Bwe-jiu.

Dengan wajah masam Siau Bwe-jiu menyaksikan pertarungan seru itu, tiba-tiba ia menyeringai dan berteriak, “Bakar!”

Serentak anak buahnya yang tersebar di sana-sini sama menanggapi, “Bakar … bakar!”

Hanya dalam sekejap saja api lantas berkobar di tengah semak-semak gelagah.

Dalam pada itu pertarungan sengit di atas kapal sudah mulai jelas pihak mana yang lebih kuat.

Ban-lohujin tahu ketangkasan Cian Siang-sing, ia tidak mau bergebrak keras lawan keras melainkan terus main lari kian kemari, lambat laun tenaga Cian Siang-sing banyak terkuras, pundak pun sempat dilukai lawan.

“Ai, sayang, tampaknya jago dunia persilatan Tionggoan akan berkurang satu orang lagi,” ejek Ban-lohujin.

“Kentut busuk!” teriak Cian Siang-sing dengan gusar, kedua ruyungnya menyabat terlebih dahsyat.

Namun Ban-lohujin sempat menyelinap lewat di bawah sambaran ruyung lawan, ucapnya, “Namamu senantiasa menang (Siang-sing), tapi sekali ini kau pasti akan keok!”

Sekonyong-konyong tongkatnya menangkis ruyung lawan, berbareng dua biji manisan cermai turun menyambar ke depan.

Terdengar Cian Siang-sing berkeluh tertahan, dadanya terluka pula, waktu putar ruyung bagian terluka itu terasa sakit, tampaknya tidak sanggup tahan lama lagi.

Di sebelah lain Thi Un-hou juga sudah mandi darah, hanya semangat tempurnya yang pantang menyerah masih tetap nekat menghadapi Toh-liong-cu.

Di antara mereka hanya Li Eng-hong yang masih menahan Bok-long-kun, meski posisinya juga terdesak, tapi setiap kali bila keluar jurus serangannya yang aneh, dalam keadaan kepepet dapatlah ia mematahkan serangan Bok-long-kun.

Rupanya setiap kali bila ia terancam bahaya, segera bisikan yang misterius itu lantas bergema di tepi telinganya, memberi petunjuk suatu gerakan yang tak terpikir olehnya dan dapatlah serangan Bok-long-kun digagalkan.

Diam-diam Li Eng-hong dapat menduga suara bisikan itu pasti datang dari seorang tokoh kosen yang menyampaikannya dengan ilmu mengirim gelombang suara. Cuma sukar diduganya sesungguhnya siapakah gerangan tokoh yang membantunya itu.

Tiba-tiba terdengar Thi Un-hou menjerit, tahu-tahu lengan kanannya dipatahkan Toh-liong-cu, “trang”, tombak pun jatuh ke lantai.

Sorot mata Toh-liong-cu memancarkan warna mengejek seakan-akan hendak bilang “apa dayamu sekarang?” Tanpa menghiraukan Thi Un-hou lagi segera ia menerjang ke dalam kabin.

Akan tetapi Thi Un-hou lantas meraung keras, dengan nekat ia menubruk maju. Namun Toh-liong-cu seperti bisa memandang ke belakang, tanpa menoleh dapat ia mengelak.

“Bruk”, Thi Un-hou jatuh terbanting dan kesakitan, akan tetapi sisa tangan kiri pada saat itu juga berhasil merangkul kaki kanan Toh-liong-cu.

Tentu saja Toh-liong-cu sempoyongan dan hampir jatuh juga. Dengan murka ia menghantam pula, “krek”, kembali lengan kiri Thi Un-hou dipukul patah.

Toh-liong-cu menyeringai, sorot matanya pun memantulkan cahaya buas, tampaknya bukan manusia lagi melainkan binatang buas yang kejam, dipandangnya Thi Un-hou yang terkapar di bawah kakinya, ia tidak segera membunuhnya, tapi seperti hendak menyiksanya dan mempermainkannya serupa kucing mempermainkan tikus.

Melihat sikap kejam dan sinar mata Toh-liong-cu yang beringas itu, sampai Ban-lohujin juga merasa ngeri.

Perlahan Toh-liong-cu menjulur tangan dan hendak mencekik Thi Un-hou. Mendadak Un-hou mengerang dan menggigit betis Toh-liong-cu. Keruan Toh-liong-cu kesakitan, ia pun meraung dan berjingkrak-jingkrak, kaki menendang dan mendepak. Namun betapa pun Toh-liong-cu bertindak tetap Thi Un-hou tidak melepaskan gigitannya, betapa tinggi Toh-liong-cu meloncat, tetap ia lengket pada kaki orang.

Dengan nekat Cian Siang-sing menyabat dengan ruyungnya. Pada saat itulah segulung api terlempar tiba dan jatuh di ruang anjungan.

Cian Siang-sing terkejut dan menyurut mundur, mendadak tangan terasa kebetot, rupanya ujung ruyungnya terpegang oleh Toh-liong-cu sehingga terjadi saling tarik. Terasa suatu arus tenaga panas tersalur tiba melalui ujung ruyung, Cian Siang-sing tidak sanggup memegangi lagi ruyungnya.

Setelah merampas ruyung orang, segera Toh-liong-cu menggunakan ruyung itu untuk menghantam kepala Thi Un-hou.

Tampaknya kepala Thi Un-hou pasti akan hancur, tiba-tiba sesosok bayangan kecil menerjang tiba dari samping dan jatuh di atas tubuh Thi Un-hou sambil berteriak dengan suara parau, “Jika ingin membunuh silakan bunuh dulu diriku!”

Siapa lagi dia kalau bukan Pui Po-ji, ia merangkul leher Thi Un-hou dengan erat, wajah penuh air mata.

Tertegun Toh-liong-cu yang memegang ruyung itu, sembari menyeringai, akhirnya ruyung tetap dihantamkan. Namun Po-ji tidak gentar sedikit pun, ia mengertak gigi dan mendelik.

Pada saat itulah terdengar beberapa kali jeritan kaget, beberapa sosok bayangan sama memburu tiba, dua di antaranya lantas menubruk di atas tubuh Pui Po-ji.

Terdengar suara “trang” sekali, tombak Toh-liong-cu tertangkis oleh ruyung Cian Siang-sing, berbareng Li Eng-hong juga mengadu pukulan sekali dengan Toh-liong-cu.

Rupanya kedua orang itu menjadi nekat dan tidak menghiraukan keselamatan sendiri demi melihat Po-ji terancam bahaya. Ban-lohujin dan Bok-long-kun ternyata juga tidak merintangi mereka, kedua iblis yang kejam ini sekarang juga timbul rasa sayang terhadap Po-ji, kalau tidak mana mereka mau membiarkan Li Eng-hong dan Cian Siang-sing bertindak sesukanya.

Kedua orang yang menubruk di atas tubuh Po-ji ternyata dua anak gadis, seorang gadis lain merangkul erat Siaukongcu. Agaknya keempat gadis ini pun tidak menghiraukan keselamatan sendiri demi melihat Po-ji ada kesulitan, serentak mereka memburu keluar dan semuanya berusaha menyelamatkan anak muda itu.

Gadis yang menutupi tubuh Po-ji itu berteriak parau, “Setiap orang di dunia ini boleh kau bunuh, hanya … hanya anak ini saja kalian tidak boleh mengganggunya.”

Dalam pada itu Cian Siang-sing dan Li Eng-hong juga telah melabrak Toh-liong-cu sehingga si tuli tidak sempat melakukan keganasan terhadap Po-ji.

Kaki Toh-liong-cu tidak dapat bergerak karena diganduli Thi Un-hou, namun dia tidak gentar menghadapi kerubutan orang banyak. Sekonyong-konyong ia meloncat ke atas dan melayang jauh ke sana.

Agaknya karena dirangkul oleh Po-ji sehingga gigitan Thi Un-hou menjadi longgar sehingga memberi kesempatan kepada Toh-liong-cu untuk melepaskan diri.

Bok-long-kun lantas memburu maju dan menjengek, “Hm, kenapa anak ini tidak boleh dibunuh?”

“Apakah kalian tahu nasib dunia persilatan selanjutnya terletak di tangan anak ini?” jawab gadis tadi.

“Hm, biarpun segenap jago dunia persilatan habis ludes juga nasib dunia persilatan tidak tergantung pada anak kecil yang masih ingusan ini,” jengek Bok-long-kun pula.

Si gadis tadi berteriak parau, “Meski dia masih kecil sekarang, namun Houya kami telah memberitahukan rahasia satu-satunya orang yang mampu mengatasi pendekar pedang berbaju putih itu kepada anak ini, jika dia mati dan si baju putih datang lagi tujuh tahun kemudian, lalu siapa yang sanggup melawannya?”

Bok-long-kun tertawa dingin, katanya, “Biarpun segenap tokoh dunia persilatan terbunuh habis oleh si baju putih juga tidak ada sangkut paut sedikit pun denganku.”

Habis berkata, langsung tangannya yang kurus kering serupa cakar burung terus mencengkeram Po-ji.

“Tahan!” bentak Siaukongcu mendadak. “Kedatangan kalian adalah karena kami berempat, asalkan kau lepaskan dia, kami berempat siap ikut pergi bersamamu.”

Si gadis yang merangkul Siaukongcu itu meratap, “Jangan Siaukongcu, jang … jangan!”

Dengan air mata berlinang Siaukongcu berkata, “Ia pernah menolong kita tanpa menghiraukan nyawa sendiri, mengapa sekarang kita tidak menolong dia dengan jiwa kita ….”

Gadis itu menunduk dan menangis.

Siaukongcu berteriak pula, “Asalkan kami ikut pergi bersamamu, maka segala harta benda di dalam kapal pancawarna itu akan menjadi milik kalian …. Memangnya kalian belum mau melepaskan dia?”

Hendaknya maklum, tentang kapal layar pancawarna terdampar oleh hujan badai belum lagi diketahui orang Kangouw, sebab itulah ketika Ban-lohujin mengetahui Siaukongcu dan beberapa gadis itu jatuh dalam cengkeraman orang Thian-hong-pang, tanpa menghiraukan bagaimana akibatnya ia bermaksud merebut nona cilik itu, tujuannya tentu saja harta benda dan kitab pusaka dalam kapal pancawarna itu. Juga lantaran itulah Bok-long-kun terbujuk oleh Ban-lohujin, kalau tidak, dia memang berniat membinasakan nenek itu, mana mungkin sekarang mereka dapat bersekutu malah?

Sebabnya Siaukongcu merahasiakan tentang musibah yang menimpa kapal layar pancawarna, dengan sendirinya juga hendak menggunakan kapalnya untuk memancing mereka, ia yakin ucapannya pasti akan menarik perhatian orang-orang yang tamak itu.

Setelah ragu sejenak, akhirnya Bok-long-kun urung menyerang. Ban-lohujin lantas berseru, “Jika kau mau ikut pergi bersama kami harus cepat, kalau terlambat tentu tidak sempat lagi.”

Waktu Siaukongcu menoleh, terlihat Cian Siang-sing dan Li Eng-hong masih bertempur sengit dengan Toh-liong-cu, sedang sekeliling rawa sudah berubah menjadi lautan api.

Banyak orang berlarian di tengah rawa sambil menjerit, semuanya berebut cari jalan lolos dari kepungan api, bila tertumbuk jatuh, segera terinjak-injak mati di dasar rawa.

Kiranya semula api hanya berkobar di jurusan timur, barat dan selatan, tapi ketika Siau Bwe-jiu menerjang keluar bersama anak buahnya melalui jurusan utara, lalu tanpa menghiraukan mati-hidup orang lain mereka pun membakar ladang gelagah di sebelah utara. Dalam keadaan terkepung api, semua orang terpaksa berhenti bertempur memikirkan berusaha mencari selamat.

Terdengar suara ribut di sana-sini, air lumpur rawa pun berubah merah, di bawah cahaya api suasana bertambah seram dan menggetar sukma.

Menghadapi adegan begitu, kaki dan tangan Siaukongcu dingin dan gemetar, mendadak ia menarik Gu Thi-lan dan berkata, “Kau … kau harus menjaga dia baik-baik.”

Thi-lan juga gemetar dan tidak sanggup bicara lagi.

“Tapi … tapi meski kalian melepaskan dia cara … cara bagaimana dia dapat lolos dari sini? ….” teriak Siaukongcu pula.

Belum lanjut ucapannya mendadak ia diangkat oleh Ban-lohujin.

“Lepaskan dia … lepaskan ….” seru salah seorang gadis.

“Ikut terjang keluar, kalau tidak, biar kumampuskan dulu Po-ji,” ancam Ban-lohujin, sembari menggendong Siaukongcu, tangan lain ia seret gadis itu terus menerjang keluar anjungan.

Segera Bok-long-kun menjambak rambut gadis yang bertiarap di atas tubuh Po-ji itu, sekaligus ia angkat kedua gadis itu, ucapnya sambil menyeringai, “Ayo berangkat!”

Sekali tangan berayun, ia lemparkan salah seorang gadis itu ke arah Toh-liong-cu, sembari mengempit gadis satunya lagi segera ia menerjang keluar bersama Ban-lohujin.

Terdengar Siaukongcu menjerit pilu, “Lepaskan aku … lepaskan …. Jika Po-ji tidak dapat diselamatkan, biar … biar aku pun mati bersama dia.”

Toh-liong-cu sempat mendesak mundur Li Eng-hong, ruyung rampasannya juga ditimpukkan ke arah Cian Siang-sing, lalu ia tangkap gadis yang dilemparkan kepadanya itu terus melayang ke sana, malahan sekaligus ia sambar pula gadis yang diseret Ban-lohujin itu dan dikempit pula.

Terlihat bayangan ketiga orang melompat naik-turun, mereka menggunakan tubuh orang yang bergelimpangan di rawa-rawa itu sebagai batu loncatan terus menerjang keluar lautan api.

Ban-lohujin agak terlambat, mendadak ia disambar lidah api, namun Ban-lohujin sempat meraih seorang lelaki terus dilemparkan ke arah api.

Orang itu menjerit dan jatuh ke tengah hutan api, lidah api tertolak ke bawah dan kesempatan itu digunakan Ban-lohujin untuk melayang ke sana.

Di dalam anjungan mendadak terdengar suara gemuruh, ruyung Cian Siang-sing menyampuk tombak yang dilemparkan Toh-liong-cu tadi, ia terhuyung-huyung dan mendadak roboh terkulai.

Rupanya dia sudah kehabisan tenaga, cuma dia masih terus bertempur mati-matian. Sekarang lawan tangguh telah kabur, semangatnya seketika runtuh dan ambruk.

Li Eng-hong juga kelihatan sempoyongan, ia lihat di antara keempat tokoh Tionggoan yang tersisa saat ini tinggal ia sendiri yang masih dapat berdiri tegak, namun betapa pedih dan duka perasaannya sukar pula diketahui orang lain.

Di antara orang-orang yang berlarian di rawa-rawa itu, meski ada beberapa orang sempat meloloskan diri, namun lebih banyak pula yang roboh. Kini jumlah orang yang berlarian sudah sedikit, jeritan juga mereda, namun api justru berkobar terlebih hebat.

Mayat bergelimpangan di sana-sini, ada pula yang sekarat dan masih meronta-ronta di tengah air lumpur, ada yang jatuh terduduk tak berkutik dan menanti ajal. Song Kong sudah mati, Thi Un-hou dalam keadaan sekarat, Cian Siang-sing roboh tak sadarkan diri, Siaukongcu diculik orang, Thian-hong-pang runtuh habis-habisan ….

Pertempuran ini boleh dikatakan kalah total, kini hanya tersisa Li Eng-hong sendiri yang masih mengenyam rasa kalah yang mengenaskan ini.

Po-ji mengeluh tertahan dan meronta bangun, tadi ia jatuh pingsan karena cemasnya, sekarang keadaan sekitarnya membuatnya ngeri juga.

Api semakin berkobar, suasana sepi, hanya bunyi “pletak-pletok” api yang membakar semak gelagah dan deru angin serupa paduan suara yang membawakan lagu maut.

Mendadak Gu Thi-lan berlari mendekati Li Eng-hong, ia berlutut dan memegang tangan Li Eng-hong yang dingin, ratapnya dengan parau, “Kumohon dengan … dengan sangat, bawalah dia pergi dari sini, kalau tertunda lagi tentu … tentu tidak keburu lagi.”

Li Eng-hong menunduk dan memandangnya sekejap, katanya, “Dan kau sendiri?”

“Aku … aku tidak menjadi soal ….” jawab Thi-lan.

“Tidak, dia saja kau bawa pergi, aku tidak menjadi soal,” seru Po-ji.

“Kau tidak takut mati?” tanya Li Eng-hong.

“Aku takut mati, juga tidak ingin mati,” jawab Po-ji. “Tapi apakah orang lain ingin mati?”

“Orang lain boleh mati, hanya engkau tidak … tidak boleh mati,” ujar Thi-lan.

“Tidak, setiap orang sama-sama sayang nyawa,” teriak Po-ji. “Aku tidak boleh mati, kau juga tidak. Cian … Cian-toasiok juga tidak boleh mati, begitu pula yang lain.”

Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Li Eng-hong, ucapnya sekata demi sekata, “Tapi mungkin semua orang akan mati di sini ….”

Belum habis ucapannya, “bruk”, ia pun jatuh terkulai.

Pucat wajah Gu Thi-lan, mendadak ia pegang tahu Po-ji, teriaknya parau, “Lekas … lekas kau pergi … apa pun juga kau harus berdaya menyelamatkan diri!”

“Tidak, aku tidak mau pergi, tidak boleh kutinggalkan kalian di sini!” jawab Po-ji singkat dan tegas melukiskan tekadnya.

Mendadak Thi-lan berteriak gusar, “Kau tahu, justru karena berusaha menyelamatkan dirimu, maka banyak orang telah berkorban. Kau tahu betapa berat tanggung jawabmu, mana boleh kau mati? Jika mau mati, sungguh sia-sia orang yang berkorban bagimu.”

Merah basah mata Po-ji, cepat ia melengos.

Dengan suara berat Li Eng-hong berkata, “Biarpun ia tidak ingin mati, tapi seorang anak kecil seperti dia apakah mampu menerjang keluar?”

Thi-lan melengak, “Dan engkau ….”

“Aku tidak berguna lagi,” ujar Li Eng-hong dengan tertawa pedih.

Thi-lan tidak tahan lagi rasa dukanya, ia menangis keras.

Semangat tempur Li Eng-hong sudah runtuh seluruhnya, jiwa kesatrianya pun lenyap oleh kekalahan yang mengenaskan ini, ia duduk lemas di lantai dan menunduk lesu.

Geladak kapal pun sudah terjilat api, tidak lama lagi api akan menjalar ke tubuh mereka, hawa panas dan bau hangus menyesakkan napas. Po-ji dan lain-lain merasa kepanasan, lidah kering dan bibir pecah.

Api berkobar dengan hebat, udara pun merah membara.

Memandangi Thi Un-hou yang kembang kempis itu, Li Eng-hong tersenyum pedih, ucapnya, “Sejak kita berkecimpung di dunia Kangouw dan mengalami berbagai pertempuran sengit, selama itu kita tidak pernah kalah … haha, betapa gagah perkasa kita waktu itu, tak tersangka sekarang kita … kita ternyata harus mati di sini … haha … haha ….”

Di tengah gelak tawa keras, air mata pun bercucuran.

Tak terduga, suara bisikan aneh itu segera bergema lagi di tepi telinganya, “Kenapa menangis bila ada orang tua seperti aku yang siap membantumu, masakah kau bisa mati?”

Seketika semangat Li Eng-hong terbangkit, serentak ia mendongak.

Terdengar bisikan itu berkata pula, “Nah, begitulah! Harus tegak leher, membusungkan dada dan berdiri. Pertarungan sengit tadi kan belum mencederaimu, hanya api seperti ini terhitung apa pula? Jika kau mati di tengah kobaran api begini, bukankah akan menjadi buah tertawaan kaum kesatria sejagat?!”

Dengan mengertak gigi Li Eng-hong lantas melompat bangun.

Suara bisikan aneh ini sejak tadi sudah beberapa kali menyelamatkan dia, sekarang malahan mendatangkan semangat mencari hidup baginya, juga membawa kekuatan baru baginya.

Mendadak ia berteriak, “Betul, terjang keluar! Apakah berhasil terjang keluar atau tidak, paling sedikit kan jauh lebih baik daripada mati konyol begitu saja.”

Kejut dan girang Thi-lan, serunya dengan suara gemetar, “Bet … betul, beginilah baru lelaki sejati.”

“Kau ikut di belakangku, biarkan Po-ji kugendong, kita ….”

“Tidak!” teriak Po-ji sebelum lanjut ucapan Li Eng-hong.

“Kenapa tidak? Memangnya kau tidak berani? Takut mati?” tanya Eng-hong dengan gusar.

Dengan suara lantang Po-ji menjawab, “Aku tidak takut mati. Tapi bila kita hendak menerjang keluar kita harus membawa serta paman Cian dan paman Thi, sekali-kali tidak boleh kita tinggalkan mereka.”

Thi-lan mengentak kaki, ucapnya pedih, “Tapi … tapi luka mereka sangat parah, biarpun mereka dapat dibawa pergi juga … juga belum tentu bisa hidup lebih lama lagi.”

“Apa pun juga tidak dapat kusaksikan mereka terbakar di sini,” ucap Po-ji dengan air mata bercucuran. “Kalau tidak, biarlah aku pun tetap di sini.”

Li Eng-hong menghela napas panjang, katanya, “Anak baik, tak tersangka sekecil ini kau sudah berbudi seluhur ini. Cuma … cuma ….”

“Cuma kita bertiga dapat menerjang keluar atau tidak pun belum dapat diramalkan, apalagi sekarang harus menolong lagi orang lain?” tukas Thi-lan menyesal.

Po-ji berteriak pula, “Tapi mereka telah bertempur mati-matian bagi kita, mengapa kita tidak berkorban bagi mereka. Kalau mau menerjang keluar biarlah kita terjang bersama, kalau mati, biarlah kita mati bersama di sini.”

Suaranya matang, maksudnya tegas, tekadnya bulat, sama sekali tidak mirip ucapan seorang anak kecil sebaya dia.

“Bagus!” seru Li Eng-hong dengan tertawa. “Tak tersangka hari ini dapat kulihat seorang anak yang berjiwa kesatria seperti ini, biarpun hari ini kau mati di sini, kisah kepahlawananmu yang mengharukan ini pasti akan tercatat dalam sejarah dan akan menjadi suri teladan kaum kesatria seluruh jagat.”

“Jika kita mati semua, siapa pula yang tahu kisah ini?” ujar Thi-lan dengan air mata berlinang.

“Apa pun juga, kita tidak boleh mengecewakan harapan anak ini,” teriak Li Eng-hong bengis. “Nah, boleh kau gendong Cian Siang-sing, aku memanggul Thi Un-hou. Anak baik, ikutlah di belakangku, kita terjang keluar!”

Segera ia angkat Thi Un-hou, lalu membentak, “Terjang!”

Terpaksa Thi-lan mengangkat Cian Siang-sing, sedang Po-ji lantas tertawa dan berkata, “Haha, hari ini baru kutahu arti ‘mati-hidup bersama’ yang luhur ini.”

Tiba-tiba dari pojok sana seorang merintih dan berkata, “Masakah kau tega … tega meninggalkan kakek semacam diriku dan terbakar hidup-hidup di sini?”

Baru sekarang Po-ji melihat Kim-ih-hou Ciu Hong masih menggeletak di pojok sana, saat itu orang tua itu sedang meronta bangun dan berlari keluar dengan setengah merangkak.

“Dia penipu, jangan ….”

Belum lanjut ucapan Thi-lan, cepat Po-ji telah memegang Ciu Hong dan berseru, “Jangan khawatir, akan kupayang dirimu!”

Ia tidak menyadari tenaga sendiri pun terbatas, yang terpikir olehnya hanya ingin membantu orang lain.

Thi-lan merasa gelisah, katanya sambil mengentak kaki, “Ai, cara bagaimana kau mampu … mampu memayang orang? Jadinya nanti cuma mengantar kematian belaka.”

“Tidak apa-apa,” kata Po-ji.

Thi-lan bermaksud bicara lagi, namun tubuh kapal pun sudah terbenam kobaran api dan hampir tidak ada tempat berpijak lagi, terpaksa mereka harus terjun dulu ke rawa.

“Semak gelagah sekeliling sudah terjilat api, cara bagaimana kita dapat lolos?” ujar Ciu Hong sambil menggeleng kepala. “Kukira lebih baik kita tunggu saja di sini.”

“Orang menolongmu, masakah kau malah menghambat kehendak orang?” omel Thi-lan dengan gusar.

Namun setelah berpikir, segera Po-ji berseru juga, “Betul, memang lebih baik kita tunggu saja di sini.”

“Apa … apa katamu?” tanya Thi-lan dengan melotot.

“Kecuali menunggu saja di sini, kita harus pula mengatur sampan yang terantai ini agar mengelilingi kita, lalu sampan ini pun kita bakar,” kata Po-ji.

Keruan mata Thi-lan terbelalak, lebih lebar, ucapnya gemetar, “Apa kau gila?”

“Anak ini tidak gila,” kata Ciu Hong tertawa. “Dia justru jauh lebih bisa berpikir daripada orang lain.”

“Selain menipu, kau tahu apa lagi?” damprat Thi-lan dengan gusar.

Sejak tadi Li Eng-hong menatap Ciu Hong, sekarang ia pun berseru, “Jika kakek ini bilang perkataan Po-ji betul, maka bolehlah kita menurut.”

Bahwa dia ternyata menghormati pendapat penipu yang terkenal busuk di dunia persilatan ini, hal ini sungguh sangat di luar dugaan orang.

Karena kalah suara, terpaksa Thi-lan tutup mulut.

“Hanya dengan api untuk mengatasi api baru dapat menyelamatkan diri,” teriak Po-ji. “Nah, lekas bekerja, tunggu apa lagi?”

Kebakaran di rawa-rawa ini telah mengejutkan penduduk di sekitar sini, namun nelayan yang sudah lama tinggal di sini juga sama tahu tempat ini adalah sarang kawanan bajak Thian-hong-pang, siapa pun tidak berani mencari perkara ke sini. Sampai api sudah hampir padam barulah ada sementara orang berani mengintip suasana di sini.

Sementara itu semak gelagah di rawa-rawa ini sudah berubah menjadi abu. Hanya asap masih mengepul dan membuat napas sesak. Abu beterbangan terbawa angin. Sekonyong-konyong beberapa orang berlari keluar dengan terhuyung-huyung dari balik asap tebal.

Di antara beberapa orang ini ada lelaki dan perempuan, ada tua dan muda, semuanya dekil dan kuyup, siapa pun tidak menyangka dari tengah rawa yang kebakaran itu bisa muncul orang hidup. Keruan kaum nelayan sama kaget dan lari karena menyangka yang muncul itu adalah hantu.

Orang-orang yang muncul itu dengan sendirinya adalah Po-ji dan Li Eng-hong berenam.

Setelah berada di tempat aman, dengan napas masih tersengal-sengal Gu Thi-lan menatap tajam Po-ji dan berkata, “Syukur engkau dapat memikirkan akal ini.”

“Menggunakan api untuk merintangi api, dengan sendirinya bagian tengah rawa itu sekali terpisah dari kobaran api, lalu kita membenam diri di lumpur sana, cara ini kan aman dan sederhana,” kata Po-ji dengan tertawa.

Thi-lan menarik napas panjang, katanya dengan tersenyum, “Meski sederhana cara ini, namun dalam keadaan panik, siapa yang dapat memikirkannya?”

Li Eng-hong juga mengacungkan jempol dan memuji. “Menghadapi bahaya tidak panik, bertindak menurut gelagat, keberanian ini, ketenangan dan kecerdasan ini sukar dicari kecuali orang yang memang berbakat. Ai, percuma selama berpuluh tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, sungguh aku harus malu dan mengaku kalah terhadap seorang anak kecil.”

“Terima kasih atas pujian paman,” ujar Po-ji dengan menunduk.

Tiba-tiba Ciu Hong pun berkata, “Keadaan luka Cian-tayhiap dan Thi-tayhiap memerlukan pertolongan secepatnya, hendaknya sekarang kalian berusaha mengobati mereka, kenapa omong iseng di sini.”

“Betul,” seru Li Eng-hong dan segera mendahului berlari ke depan.

“Nanti dulu,” kata Ciu Hong. “Luka Thi-tayhiap sangat parah, kalau mesti menunggu sampai mendapatkan tabib, mungkin jiwanya sukar tertolong lagi.”

Sembari bicara ia lantas mengeluarkan sebuah botol kayu dari kotaknya, katanya pula, “Meski obat luka yang kubawa ini tidak cespleng, sedikitnya jiwa Thi-tayhiap dapat dipertahankan, hendaknya cari air bersih dulu di depan sana, sebagian obat ini baru diminum Thi-tayhiap dan lainnya dibubuhkan bagian luar.”

“Terima kasih,” kata Li Eng-hong, setelah berhenti sejenak, tiba-tiba berkata pula, “Ada suatu hal yang kurasakan kurang mengerti, bolehkah kumohon petunjuk kepada Ciu-cianpwe?”

Ciu Hong tersenyum, jawabnya, “Asalkan sama-sama tahu, buat apa banyak tanya. Ayo berangkat.”

Li Eng-hong memandangnya sekejap, ia tidak tanya lagi, mereka terus berlari ke depan.

Menyaksikan sikap Li Eng-hong sedemikian hormat terhadap tokoh yang dipandang sebagai penipu di dunia persilatan itu serta mendengar tanya-jawab mereka, tentu saja Thi-lan merasa heran namun tidak leluasa baginya untuk bertanya.

Po-ji juga tiada hentinya memandangi Ciu Hong, makin dipandang makin merasakan diri kakek ini memang banyak terdapat hal-hal yang aneh dan misterius.

Jalan pematang berliku-liku, setelah mereka berputar kian kemari beberapa kali, tiba-tiba terlihat seorang lelaki kekar berdiri di depan dengan bertolak pinggang, ketika melihat Pui Po-ji, orang gede ini bersorak gembira dan memburu maju. Siapa lagi dia kalau bukan Gu Thi-wah.

“Kau sedang menunggu orang?” tanya Po-ji dengan kening bekernyit.

Thi-wah tertawa lebar dan mengangguk.

“Tunggu siapa?” tanya Po-ji.

“Dengan sendirinya menunggu engkau, Toako,” sahut Thi-wah dengan tertawa.

“Dalam keadaan bahaya kau tinggalkan Toako, sekarang apa yang kau tunggu?” ujar Po-ji. “Jika Toako sudah mampus terbakar, lantas apa yang akan kau lakukan?”

Thi-wah tertawa, sahutnya, “Dengan kepandaian Toako yang mahatinggi, masakah dapat mati terbakar? Sebab itulah Thi-wah tidak pernah khawatir, lalu kutunggu saja di sini kedatangan Toako.”

Jika orang lain yang bicara demikian tentu cuma untuk alasan belaka, tapi apa yang dikatakan Thi-wah memang timbul dari lubuk hatinya, sedikit pun tidak pura-pura.

Po-ji tertawa cerah oleh uraian orang, rasa kurang puasnya tadi segera lenyap sama sekali, katanya dengan tertawa, “Bisa juga kau ….”

Tiba-tiba Thi-lan bertanya, “Di manakah Jiko?”

Thi-wah berkedip-kedip, jawabnya dengan tertawa, “Dia sedang menemani Ensomu.”

“Jiso juga … juga datang kemari?” tanya Thi-lan dengan heran.

“Bukan Jiso, tapi Toaso (kakak ipar pertama, istri kakak),” tutur Thi-wah.

Tentu saja Thi-lan melongo bingung.

Maka Thi-wah menjelaskan dengan tertawa, “Adik dungu, biar kujelaskan padamu bahwa selekasnya Toakomu juga akan punya bini.”

Segera ia tarik tangan Thi-lan dan diajak lari ke sana. Arah yang dituju ternyata kapal kotak yang masih berlabuh di situ. Penumpang kapal selain Gu Thi-hiong masih ada lagi satu orang yang masih tidur lelap, ternyata bukan lain daripada pemimpin Thian-hong-pang alias Kiang Hong.

Setelah mengalami pukulan berat tadi, lahir batinnya sungguh sangat sakit sehingga sekarang tidurnya ternyata sangat nyenyak, rambutnya yang hitam pekat terurai, alisnya yang lentik dengan bulu matanya yang panjang menutupi kelopak matanya, tubuhnya meringkuk miring, sifatnya yang gagah perkasa kini telah lenyap terhanyut dalam tidurnya.

Po-ji merasa dalam keadaan demikianlah Kiang Hong benar-benar telah pulih sebagai seorang perempuan tulen.

Kejut dan girang Thi-lan mengenali siapa dia, ucapnya, “Jadi Toako hendak mengambil dia sebagai istri?”

“Betul,” kata Thi-wah dengan tertawa dan mengangguk.

“Apa dia sudah setuju?” tanya Thi-lan.

Thi-wah melengak, jawabnya, “Masakah perlu dia setuju segala? Asalkan aku suka kan beres urusannya?”

“Melulu engkau saja yang suka tidak boleh jadi,” ujar Thi-lan dengan tersenyum getir, setelah berpikir, lalu ia berkata pula, “Jika kau ingin dia setuju, segala sesuatu harus kau tunduk kepada ucapanku, nanti kalau dia siuman janganlah kau sembarangan bicara, harus kau layani dia dengan baik. Selang beberapa waktu lagi tentu akan kucarikan akal bagimu, harus bersabar, tidak boleh terburu nafsu.”

“Baik, baik, kuturut padamu,” seru Thi-wah girang.

Sementara itu semua orang sudah naik ke atas kapal kotak, kapal yang tampaknya tidak berharga ini ternyata besar sekali daya gunanya, sembilan orang berjubel di dalam kapal ternyata tidak kelihatan penuh, bahkan tetap dapat meluncur dengan baik.

Dengan tertawa Thi-wah berkata, “Dulu dengan susah payah kubuat kapal kotak ini, tujuanku bila sudah jadi akan kugunakan sebagai kapal penumpang keluarga, siapa tahu hari ini dapat digunakan lebih dulu di sini.”

Ia menyengir, lalu bertanya, “Eh, bagaimana Tia (ayah) dan Mak di rumah, apakah baik-baik, sungguh kami sudah kangen.”

“Aku pun sudah lama tidak bertemu dengan mereka,” jawab Thi-lan dengan menunduk.

Teringat oleh Po-ji, ia coba tanya, “Mengapa kau bisa masuk menjadi anggota Thian-hong-pang? Kenapa pula Jisomu itu mau kawin dengan Jikomu? Sekarang juga kukira dapat kau ceritakan.”

Thi-lan jadi teringat pada kebohongan sendiri, muka menjadi merah dan menunduk lebih rendah, ucapnya, “Kabarnya Jiso itu adalah adik perempuan orang she Siau, aku memang sudah curiga, dengan kedudukannya mana dia mau kawin dengan orang miskin seperti keluarga kami. Kemudian setelah kumasuk Thian-hong-pang barulah kutahu bahwa beberapa rumah gubuk tempat tinggal kami itu tepat berada di muara Tiangkang yang strategis, dari rumah kami dapat melihat setiap kendaraan air yang berlalu-lalang di perairan Tiangkang, juga setiap bagian pelabuhan, bongkar-muat setiap kapal, semuanya terlihat jelas, malahan dari tempat kami juga dapat mengintai setiap gerak-gerik Thian-hong-pang.”

“Oo, kiranya begitu,” baru sekarang Po-ji tahu duduknya perkara. “Jika mereka mau bertindak kasar dengan menguasai keluarga kalian dari sana, lalu dibuat pos pengintai, namun cara demikian tentu akan menimbulkan perkara dan mungkin juga akan menarik perhatian pihak Thian-hong-pang, tapi dengan cara halus, yaitu pura-pura berbesanan dengan kalian, maka setiap hari mereka dapat mengadakan kontak secara rahasia dengan Jisomu dan segala kejadian di perairan Tiangkang pun diketahui dengan jelas. Tentu tidak ada yang curiga bahwa seorang menantu keluarga nelayan justru adalah mata-mata kawanan bajak …. Dan kalau Jisomu mesti berkorban sedikit kan juga pantas.”

Muka Thi-lan tambah merah, dengan malu-malu ia berkata perlahan, “Tapi … tapi sejak kawin, sampai sekarang pun Jiko selalu tidur di lantai.”

“Oo, tidur di lantai, apa betul?” tanya Po-ji.

“Memang betul,” tiba-tiba Thi-hiong sendiri dengan tertawa. “Sebelum kawin diam-diam mak memberitahukan padaku bahwa orang lelaki dan orang perempuan kalau tidur bersama, yang lelaki harus di atas dan orang perempuan di bawah. Sebab itulah pada malam pengantin baru aku sendiri tidur di ranjang dan kusuruh dia tidur di lantai. Tak terduga dia marah-marah padaku dan minta tidur di ranjang, karena merasa tidak sanggup melawannya, terpaksa kutidur sendiri di lantai.”

Keterangan lucu ini tidak dirasakan sesuatu kejanggalan oleh Pui Po-ji, tapi bagi Li Eng-hong, Ciu Hong dan lain-lain sukar lagi menahan rasa gelinya sehingga mereka tertawa dalam sedihnya. Malahan Thi-wah juga tertawa keras.

“Kau tertawa apa?” tanya Po-ji.

Seketika Thi-wah terbelalak tak bisa menjawab, sampai sekian lama baru berkata, “Aku … aku pun tidak tahu ….”

Sementara itu fajar sudah tiba, angin pagi meniup sepoi-sepoi, kapal berlayar lalu-lalang, semangat semua orang sama terbangkit.

Teringat kepada pertarungan sengit yang dirasakan seperti habis mimpi buruk saja, pula teringat kepada Siaukongcu yang sekarang berada dalam cengkeraman kaum iblis, tanpa terasa Po-ji menitikkan air mata.

Segala sesuatu di dunia ini sering terjadi dengan sangat kebetulan. Pada waktu bertemu dengan Gu Thi-lan sama sekali tak terpikir olehnya akan terjadi pertemuan kebetulan seperti ini dan mendatangkan macam-macam urusan, selain dirinya berulang menghadapi bahaya, juga mengubah nasib banyak orang.

Terdengar Ciu Hong lagi bergumam, “Orang she Siau itu belum lagi mati, perjalanan ini mungkin berbahaya, jika sekarang ada orang mencegat kita, jelas kita pasti mati semua.”

Po-ji melengak. Tiba-tiba dirasakan orang yang dianggap sebagai penipu oleh dunia persilatan ini, meski ucapannya tidak enak didengar, namun setiap perkataannya mengandung arti yang mendalam, dalam keadaan gawat terkadang setiap perkataannya serupa bunyi genta di subuh sunyi yang menggugah perasaan setiap orang.

Ketika di rawa-rawa sana, kalau tidak tergugah oleh ucapan penipu ini tentu mereka menerjang keluar tanpa menghiraukan api yang berkobar, jika demikian jadinya jelas mereka akan terkubur semua di tengah lautan api.

Terlihat Li Eng-hong lagi termenung, sekonyong-konyong ia mencabut golok yang dibawa Gu Thi-hiong, ia menuju ke buritan dan duduk bersila, pita hiasan tangkai golok dirobeknya untuk menggosok batang golok sehingga mengilat.

Kapal mereka terus laju, kira-kira satu dua jam kemudian, permukaan sungai mulai ciut. Li Eng-hong menoleh dan berkata, “Luka kedua orang ini harus cepat diobati, apakah dapat kita menepi dulu.”

“Di depan ada sebuah dermaga,” kata Thi-lan, sembari bicara ia terus putar haluan kapal membelok ke tepian.

Melihat Thi-lan bekerja dengan wajah duka, Po-ji tahu orang merasa khawatir bagi keselamatan kedua orang tua di rumah.

Maklumlah, usaha Siau Bwe-jiu yang gagal total itu sebagian besar disebabkan Gu Thi-hiong dan Thi-wah, setelah lolos tentu dia akan membalas dendam dan bukan mustahil dendamnya akan ditimpakan terhadap ayah-ibu Thi-wah.

Teringat hal ini, pikiran Po-ji tambah beban lagi, ia tahu melulu kekuatan beberapa orang ini jelas sukar menggempur mundur Siau Bwe-jiu dan begundalnya. Apalagi Li Eng-hong juga harus berangkat.

Hanya Thi-wah dan Thi-hiong saja sama sekali tidak memikirkan apa pun, dengan tekun mereka bekerja dan membawa kapal ke tepi pantai. Dengan tertawa Thi-wah berkata, “Aha, dermaga ini terletak tidak jauh dari rumah kita, kebetulan kita dapat pulang menjenguk ayah dan ibu, Ayo, Loji, dayung sekuatnya, lekas pulang, entah binimu kabur atau tidak.”

“Bininya takkan kabur,” gumam Ciu Hong. “Kau pun tidak perlu kerja keras, simpan tenaga sedikit, masih banyak urusan yang memerlukan tenaga kalian.”

Tanpa terasa Thi-lan dan Po-ji sama memandangnya sekejap. Mereka tahu, orang tua ini tentu merasakan sesuatu bencana yang akan timbul dan sengaja mengingatkan mereka agar waspada.

Sekonyong-konyong sebuah kapal sungai meluncur tiba mengikuti arus dan langsung menerjang kapal kotak ini. Meski di siang hari bolong namun kapal ini penuh dihias lampu yang menyala terang.

Tidak tampak seorang pun di atas kapal itu, kapal sebesar itu melaju dengan cepat, bilamana diterjang, biarpun kapal kotak ini cukup kukuh juga pasti akan hancur lebur.

Keruan semua orang sama terkejut, Thi-wah dan Thi-hiong langsung berteriak-teriak dan mencaci maki, dengan membawa dayung mereka memburu ke buritan.

Li Eng-hong yang berada di buritan mendadak melompat ke atas “kapal hantu” itu, sekali ayun golok tali layar kapal itu ditebas putus.

Kontan layar besar jatuh ke bawah sehingga tubuh kapal pun rada miring, kebetulan kapal kotak menyerempet lewat di sebelahnya, benturan tak terhindar, “blang”, kapal kotak tergetar oleng dan menerjang ke tepian yang dangkal dan kandas.

Semua orang sama terciprat air sungai, Kiang Hong juga siuman oleh karena guncangan keras itu dan segera melompat bangun, tapi Po-ji lantas bersuara menghiburnya malah.

Terdengar di atas “kapal hantu” itu suara jeritan kaget Li Eng-hong dan Gu Thi-lan, segera Thi-lan pun berteriak, “Hei, lihat, apa ini?!”

Sekuatnya Thi-wah menolak kapal kotak ke sana dan beramai-ramai melompat ke atas “kapal hantu”. Tapi apa yang terlihat membuat mereka sama melongo kaget.

Ternyata di anjungan kapal bergelimpangan lebih 20 sosok mayat, ada yang terkapar malang melintang, ada yang jatuh tiarap di atas meja, ada yang setengah badan bergelantungan di jendela ….

Nyata orang-orang ini sama diserang secara mendadak sehingga sama sekali tidak mampu balas menyerang, banyak di antaranya bermaksud lari, namun tidak keburu.

Semua orang sama terkesima, hanya Kiang Hong saja, setelah memandang mayat-mayat ini, mendadak ia berlari maju dan mengangkat sesosok mayat.

“He, mau apa?” seru Po-ji kaget.

Belum lenyap suaranya, terdengar Kiang Hong bergelak tertawa dan berteriak parau, “Haha, kiranya kau … haha!”

Waktu semua orang mengamati mayat yang dipegang Kiang Hong itu, baru dikenali mereka bahwa orang mati ini ternyata Siau Bwe-jiu adanya. Wajahnya yang kaku masih menampilkan rasa ketakutan sebelum ajalnya.

Entah kaget entah girang, Thi-lan juga berseru, “He, siapa … siapa yang membunuhnya?”

Li Eng-hong tidak bersuara, ia melangkah maju, sekali golok bekerja, baju dada Siau Bwe-jiu diungkapnya, terlihatlah pada dada orang ada bekas telapak tangan berwarna merah gelap.

Waktu mayat-mayat lain diperiksa, semuanya juga tidak ada bekas darah, jelas mereka terbunuh oleh getaran tenaga pukulan yang dahsyat dan binasa seketika, betapa keji tenaga pukulan ini sungguh sangat mengejutkan.

Semua orang saling pandang, sampai lama barulah Thi-lan berkata, “Jangan-jangan perbuatan … perbuatan Bok-long-kun dan Toh-liong-cu?”

“Siapa lagi selain mereka?” ujar Ciu Hong.

“Setiap orang Ngo-hing-mo-kiong tidak kenal kasihan, setiap soal yang menyakiti hati mereka pasti akan menuntut balas, tadi Siau Bwe-jiu bermaksud membakar mati Toh-liong-cu dan juga Bok-long-kun, dengan sendirinya dia sukar lolos pembalasan orang Ngo-hing-mo-kiong,” tutur Li Eng-hong dengan gegetun. “Melihat gelagatnya, agaknya Siau Bwe-jiu juga menyadari bahaya yang akan mengancamnya, maka malam-malam ia kabur sebisanya, siapa tahu … siapa tahu tetap tersusul dan terbunuh.”

Meski mereka sama bersyukur atas kematian Siau Bwe-jiu, namun setelah mengalami pertarungan sengit dan sekarang menyaksikan korban sebanyak ini, betapa pun mereka sama merasa ngeri dan waswas.

Mendadak terdengar Gu Thi-hiong membentak dan menerjang ke dalam anjungan, hanya sekejap saja ia sudah lari keluar lagi, ucapnya dengan tertawa kepada orang banyak, “Biniku tidak berada di kapal ini.”

Ciu Hong tersenyum, katanya, “Tokoh semacam Siau Bwe-jiu pada waktu lari mencari selamat masakah mau pikirkan orang lain? Sampai-sampai adik perempuan sendiri kan juga ditinggalkan.”

Thi-hiong bersorak gembira sambil melonjak-lonjak. Thi-lan juga bergumam, “Dengan demikian dapatlah kita pulang dengan tenteram.”

Diam-diam Po-ji juga merasa terharu dan bersyukur bagi Thi-wah bertiga.

Akhirnya Li Eng-hong mendapatkan sebuah kereta, cepat ia mengantar Thi Un-hou dan Cian Siang-sing mencari tabib, dengan berlinang air mata Kiang Hong mengantar keberangkatan mereka. Teringat kepada berbagai perubahan selama sehari, orang pun sama terharu.

Angin mendesir, perlahan Li Eng-hong meraba bahu Po-ji, sampai lama diam saja.

“Paman Li datang dari Tionggoan, apakah engkau mendengar tentang kakek Jing-pek-kiam-khek?” tanya Po-ji.

Berubah juga air muka Li Eng-hong, ia tidak menjawab langsung melainkan berkata, “Perjuangan seorang kesatria memang banyak pahit getir, masa depanmu sendiri tidak terbatas, hendaknya kau berjaga diri baik-baik.”

Po-ji berkedip-kedip dan diam, meski kecil usianya, namun jalan pikirannya sudah cukup dewasa, urusan apa pun dapat disembunyikannya di dalam hati untuk menghindarkan duka sendiri dan susah orang lain.

Tiba-tiba Li Eng-hong membisiki Po-ji, “Ciu-loyacu itu pasti bukan orang biasa, hendaknya jangan sembarangan kau perlakukan dia.”

Po-ji mengangguk, Li Eng-hong lantas mencemplak ke atas kereta, katanya sambil memberi salam, “Sampai berjumpa lagi ….”

Kuda dicambuknya dan kereta pun dihalau pergi dengan cepat.

Kiang Hong menangis sedih, Thi-lan mendekatinya dan memegang tangannya. Mendadak Kiang Hong mengusap air mata dan berseru, “Para kawan, aku pun akan berangkat sekarang.”

“Pangcu hendak pergi ke mana?” tanya Thi-lan.

“Ke mana? …. Empat penjuru adalah rumah ke mana pun boleh,” sahut Kiang Hong dengan tertawa. Meski ia berlagak gagah perkasa seperti dulu, namun sukar menutupi rata pedih dan hampanya perasaan.

Dengan terharu Thi-lan berkata, “Dunia Kangouw penuh bahaya dan kepalsuan, Pangcu sendiri sudah sekian lama berkelana, apakah tidak ingin istirahat dulu untuk sementara?”

Kiang Hong memandangi air sungai termangu-mangu, air mata pun berlinang, dengan parau, “Betapa ganasnya dunia harus kuterobos juga.”

Thi-wah seperti ingat sesuatu dan mau bicara tapi urung karena mata Thi-lan yang mendelik padanya.

Sambil memegangi bahu Kiang Hong, dengan perlahan Thi-lan berkata pula, “Tapi Pangcu ….”

“Apa yang hendak kau katakan lagi?” kata Kiang Hong dengan mengentak kaki. “Memangnya kau tidak tahu bahwa tiada tempat lagi yang dapat kutuju?”

Ia kebaskan tangan Thi-lan, lalu lari ke depan. Namun Thi-lan keburu menariknya sambil berseru, “Pangcu ….”

Karena terseret, Thi-lan jatuh terduduk. Kiang Hong sempat melangkah ke depan dan menoleh lagi. Segera Thi-lan dirangkulnya erat dan keduanya sama menangis.

“Jelek-jelek rumahku masih cukup untuk berteduh,” ucap Thi-lan dengan mencucurkan air mata. “Bilamana Pangcu tidak menolak, marilah singgah dulu di rumahku ….”

“Orang yang sudah kehilangan segalanya sudi kau terima?” tanya Kiang Hong dengan menangis.

Kejut dan girang Thi-lan, serunya, “Jadi Pangcu terima … terima tawaranku?”

“Pangcu apa? Masa kau masih panggil Pangcu padaku,” kata Kiang Hong dengan bengis. “Sekali kau panggil demikian lagi segera aku angkat kaki dari sini.”

“Baik, Cici, kehendakmu tentu kuturut saja,” sahut Thi-lan dengan tersenyum.

Terharu Po-ji menyaksikan percakapan mereka, sebaliknya Thi-wah tertawa lebar dan mendekat pula, seperti mau bicara, tapi dicegah lagi oleh Thi-lan dengan melotot, bentak si nona, “Ayo, pulang, jalan di depan!”

“Baik, adik sayang, kakak menurut saja,” sahut Thi-wah dengan tertawa. Segera ia pegang tangan Po-ji dan berkata pula, “Toako, engkau juga harus ikut pulang untuk berkenalan dengan ayah dan ibuku.”

Segera mereka mendahului jalan di depan diikuti Thi-lan yang memayang Kiang Hong. Sedang Ciu Hong menarik Thi-hiong dan berkata padanya, “Jika binimu mendengar kabar kematian kakaknya, tentu dia tak mau tinggal lagi di sini. Tatkala mana bila kau ingin mencari bini lagi tentu sulit.”

“Wah, lantas … lantas bagaimana?” tanya Thi-hiong cemas.

“Kau mau kuberi suatu jalan?” tutur Ciu Hong.

“Tentu saja mau,” seru Thi-hiong girang. “Ayolah Loyacu, lekas … lekas tolong diriku.”

“Begini,” tutur Ciu Hong lebih lanjut. “Jika dia mau pergi, boleh kau cengkeram dia cara demikian ….”

Ia angkat kedua tangan dan memberi contoh satu gerak serangan, lalu menyambung, “Nah, dengan cara begini tanggung dia akan kau pegang dan sukar terlepas.”

Thi-hiong menirukan jurus itu sambil bergumam, “Masa begini gampang dapat memegangnya?”

“Memang gampang,” ujar Ciu Hong tertawa. “Setelah dia kau pegang, boleh coba kau lepaskan dia, lalu menggunakan cara ini untuk menangkapnya lagi dan dia tetap akan dapat kau pegang.”

“Apa, betul?” Thi-hiong menegas dengan terbelalak.

“Tentu saja betul. Cuma setelah kau tangkap dia lagi hendaknya jangan kau lepaskan pula ….”

Sementara itu mereka sudah mulai menanjaki sebuah jalan pegunungan. Tiba-tiba sesosok bayangan orang berlari datang dari atas secepat terbang, kiranya seorang gadis jelita berbaju hijau.

Cepat Thi-hiong menyongsongnya sambil tertawa lebar, “Aha, biniku sayang, kau datang menyambutku bukan?”

Melihat mereka, air muka si gadis rada berubah, segera ia pun menegur dengan mendelik, “Kenapa kau pulang sendirian? Di manakah mereka?”

“Mereka sudah kabur semua, kau ditinggal begitu saja,” tutur Thi-hiong tertawa.

“Omong kosong, biar kususul ke sana,” seru si gadis dengan gusar dan segera hendak melangkah pergi.

“Berhenti!” bentak Thi-hiong mendadak.

Kaget juga gadis itu, belum pernah Thi-hiong berani berlagak segarang ini, jawabnya bengis, “Kau berani merintangi kebebasanku?”

“Aku kan lakimu, jika aku tidak boleh urus dirimu siapa lagi yang urus?” sahut Thi-hiong tegas.

“Aha, bagus! Tak tersangka sekarang Loji juga punya semangat jantan,” seru Thi-wah sambil berkeplok tertawa.

“Hm, kau berani urus diriku, boleh coba bila ingin digampar ….” belum lanjut ucapan si gadis baju hijau, entah cara bagaimana, tahu-tahu kedua tangannya kena dipegang Thi-hiong.

“Hehe, pernah kau lihat jurus ini? ….” tanya Thi-hiong dengan tertawa. “Toako, inilah biniku Siau Soh-jiu, sebelum ini kutakut padanya, selanjutnya dia yang harus takut padaku.”

Karena sukar melepaskan diri, dengan muka merah Siau Soh-jiu berteriak, “Huh, main pegang pada waktu orang tidak menduga, terhitung jantan apa?”

“Baik, jika kau tidak takluk, boleh kau coba lagi ….” kata Thi-hiong sambil lepaskan pegangannya.

Baru saja terlepas, kontan Siau Soh-jiu menampar muka Gu Thi-hiong. Siapa tahu hanya sekali bergerak saja tahu-tahu tangan si nona kena ditangkap lagi.

Jelas terlihat oleh Siau Soh-jiu gerak tangan Thi-hiong itu, namun ingin menghindar justru tidak keburu. Keruan ia melongo, muka pun merah padam menahan gemas.

Kiang Hong dan Thi-lan juga keheranan, mereka merasa gerak tangan Thi-hiong itu sungguh sangat indah, arah yang dituju juga sangat ajaib, biarpun mereka yang menghadapi serangan ini juga pasti sukar mengelak.

Terdengar Thi-hiong lagi berteriak dan tertawa, “Aha, biniku sayang, sekarang kau takluk tidak? Nah, ikut pulang saja bersama lakimu ini.”

Sembari bicara segera ia seret Siau Soh-jiu dan diajak menuju ke atas bukit.

Po-ji, Thi-wah, dan Thi-lan sama terkejut dan bergirang, tanpa terasa mereka sama memandang Ciu Hong. Orang tua itu kelihatan tak acuh dan lagi tersenyum sambil mengelus jenggot.

Setiba di rumah gubuk di atas bukit, setelah bertemu kedua orang tua Thi-wah, terjadilah suasana suka-duka, ya menangis ya tertawa, ya sibuk ya ribut, ya makan ya minum ….

Itulah suka-duka kehidupan manusia yang lazim. Malamnya, diam-diam Po-ji menuju ke hutan kecil di belakang rumah, di angkasa cahaya bulan remang-remang dan bintang berkelip, di bawah sana air sungai mengalir jauh ke sana.

Po-ji coba memandang jauh ke hulu dan ke hilir sungai, ditaksir sejauh belasan li sama tercakup di dalam pandangannya, diam-diam ia membatin, “Tempat ini memang sangat strategis, pantas Siau Bwe-jiu berusaha ….”

Belum habis terpikir, tiba-tiba terlihat dua buah perahu terbuka meluncur tiba menentang arus. Berpuluh orang penumpangnya sama memegang dayung, perahu meluncur sangat cepat.

Di bawah cahaya bulan cukup terlihat jelas ratusan penumpang kedua perahu itu semuanya adalah kaum pengemis yang berambut kusut dan berbaju rombeng.

Dahulu Po-ji pernah melihat tiga orang jago pengemis yang serakah, tapi kemudian digertak lari ketakutan oleh Bok-long-kun. Sejak itu ia sangka orang Kay-pang hanya terdiri dari manusia tamak dan takut mati, namun kemudian ia pun kenal tokoh Kay-pang seperti Ong Poan-hiap yang berbudi luhur, maka baru diketahuinya bahwa dari lapisan mana pun sukar terhindar dari baik dan buruk.

Kini terlihat kawanan pengemis yang menumpang dua perahu itu dan didayung tergesa-gesa begitu, diam-diam ia bergumam sendiri, “Apakah mungkin di dalam Kay-pang juga terjadi sesuatu?”

Mendadak seorang menukas ucapannya, “Betul, dalam Kay-pang tentu terjadi sesuatu urusan, apakah kau ingin melihatnya?”

Suaranya serak tua, waktu Po-ji menoleh, kiranya Ciu Hong adanya.

Po-ji tidak mahir ilmu silat, tapi sejak kecil mata telinga memang sangat tajam, sekarang Ciu Hong tahu-tahu muncul dari belakang di luar tahunya, tentu saja ia terkejut.

Dilihatnya Ciu Hong sedang menengadah sambil tersenyum, lalu berkata pula, “Anggota Kay-pang biasanya berkeliaran di mana-mana, sumber berita mereka sangat cepat dan dapat dipercaya. Barang siapa ingin mencari orang, tanya saja kepada mereka pasti akan berhasil.”

Ia seperti bicara sendiri, namun setiap katanya kena di hati Po-ji, diam-diam ia terkesiap, katanya kemudian dengan tertawa, “Loyacu, apakah engkau juga ingin pergi melihatnya?”

“Aku memang biasa berkelana kian kemari, keramaian apa pun ingin kulihat,” jawab Ciu Hong.

Tergerak pikiran Po-ji, cepat ia berkata pula, “Baik, kuikut pergi bersamamu.”

“Kau tahan siksa derita dalam pengembaraan?” tanya Ciu Hong.

Tanpa ragu Po-ji menjawab, “Tahan!”

“Tidak, tidak tahan ….” sekonyong-konyong suara seorang mendekat, lalu muncul Gu Thi-wah dengan wajah sedih.

“Urusan apa yang membuatmu murung?” tanya Ciu Hong tertawa.

Dengan muka kecut Thi-wah menjawab, “Pandanganku senantiasa tercurahkan kepada nona Kiang, tapi … tapi dia justru tidak pernah memandang sekejap pun padaku.”

“Hah, dalam keadaan telanjang bulat dia pernah kau peluk, dengan sendirinya dia malu terhadapmu,” ujar Ciu Hong dengan tertawa. “Maka semakin dia tidak mengacuhkanmu, tandanya dia ada perasaan terhadapmu. Bila dia anggap sepele kejadian itu dan bicara denganmu seperti biasa, tentu kau yang tidak tahan.”

Mata Thi-wah terbelalak lebar, serunya, “Masa begitu aneh jalan pikiran orang perempuan?”

“Barang paling aneh di dunia ini bukan lain adalah hati orang perempuan,” ujar Ciu Hong.

Thi-wah terdiam sejenak, kemudian berkata pula dengan menyesal, “Tapi tadi waktu tidak ada orang lain pernah kupegang lengan bajunya, namun dia tetap tidak memandang sekejap pun padaku. Ia hanya menengadah dan bergumam sendiri tentang apa yang aku tidak paham, katanya hari masih panjang, kaum lelaki harus punya harga diri, kalau bukan pahlawan, jangan harapkan si cantik.”

Meski kecil, namun Po-ji sudah banyak membaca dan terpelajar, ia tahu maksud syair yang didendangkan Kiang Hong itu, dengan sendirinya anak dogol semacam Gu Thi-wah tidak paham urusan syair yang cukup gamblang maksudnya itu.

Dengan tertawa Ciu Hong sengaja berkata, “Haha, bagus sekali! Tampaknya hati anak perempuan itu memang terpikat olehmu. Apa yang diucapkannya itu justru memberitahukan padamu bahwa hari masih panjang, supaya kau jangan terburu nafsu, asalkan kau dapat berbuat sesuatu yang mengguncangkan dunia ini, akhirnya dia tetap akan menjadi milikmu. Tapi kalau kau bukan kelas pahlawan, tentu tidak sesuai mendapatkan dia.”

Thi-wah bersorak dan melonjak gembira, namun dalam sekejap lantas murung lagi, katanya, “Tapi, wah, cara bagaimana untuk bisa menjadi seorang pahlawan? Loyacu, dapatkah kau ajarkan padaku?”

“Jika kau ingin belajar menjadi pahlawan, untuk sementara kau harus ikut pergi bersamaku dan Toakomu,” kata Ciu Hong dengan tersenyum.

Tiba-tiba terdengar lagi suara orang menghela napas panjang dan berkata, “Ayolah berangkat, lebih baik berangkat saja.”

Terlihat Thi-hiong mendekat dengan wajah muram durja.

“He, kau kenapa? Apa yang membuatmu masygul?” tanya Ciu Hong.

“Biniku itu masih mengharuskan aku tidur di lantai,” tutur Thi-hiong kesal. “Bila kunaik ke tempat tidur segera didepaknya ke bawah lagi. Ai, jurus tangkapan ajaran Loyacu itu sekarang sudah tidak berguna lagi.”

“Baik, akan kuajarkan lagi dua jurus yang berguna padamu,” kata Ciu Hong.

Lalu ia ajak Thi-hiong ke samping, dia memberi contoh lagi beberapa gerakan, diajarkan lagi beberapa jurus.

Cepat juga Thi-hiong memahami jurus ajaran Ciu Hong, dengan tertawa orang tua itu berkata, “Baiklah, sekarang akan kuajarkan pula satu akal, agar binimu tunduk benar-benar padamu.”

“Aha, apa benar ada akal sebagus itu? Ayolah lekas Loyacu ajarkan padaku,” pinta Thi-hiong dengan girang.

“Tentu saja benar, cuma akal bagus ini tidak boleh didengar orang ketiga, coba dekatkan telingamu ke sini,” kata Ciu Hong.

Cepat Thi-hiong menyodorkan telinga ke dekat orang tua itu untuk mendengarkan, sejenak setelah mendengarkan, mendadak mukanya berubah merah, ucapnya dengan tertawa, “Wah, cara ini apakah tidak … tidak agak … agak memalukan?”

“Kalian kan suami-istri, kenapa pakai malu segala?” ujar Ciu Hong. “Nah, lekas laksanakan saranku ini.”

Thi-hiong bersorak gembira terus berlari pergi.

Po-ji saling pandang dengan Thi-wah, keduanya merasa bingung karena tidak tahu akal baik apa yang dikatakan Ciu Hong itu.

*****

Esok paginya, diam-diam Po-ji dan Thi-wah sama menaruh perhatian terhadap gerak-gerik Gu-jiso alias Siau Soh-jiu atau istri Gu Thi-hiong itu. Terlihat nona itu masak air dan membuat teh dengan tekun, ternyata benar-benar telah tunduk kepada peraturan rumah tangga dan bekerja sebagai seorang nyonya menantu keluarga Gu, hanya di antara mata alisnya kelihatan tanda malu-malu, tingkah lakunya juga agak lemas seperti kurang tidur.

Waktu memerhatikan Gu Thi-hiong, anak muda itu tampak bersitegang dan berseri-seri, malahan sering meraba dagu dan tertawa senang seperti orang sinting.

Tentu saja Thi-wah ingin tahu, ia coba tanya, “Sebenarnya akal apa yang diajarkan Ciu-loyacu kepadamu?”

Siapa tahu Thi-hiong hanya menggeleng-geleng kepala dan menjawab, “Wah, hal ini sama sekali tak boleh kuberi tahukan padamu.”

Sambil tertawa ia terus berlari pergi.

Ciu Hong, Po-ji dan Thi-wah lantas mohon diri kepada semua orang, dengan sendirinya terjadi percakapan yang mengharukan, akhirnya mereka bertiga naik ke atas kapal kotak buatan Thi-wah itu dengan perasaan berat.

Setelah jauh meninggalkan pantai, tiba-tiba Thi-wah tertawa sendiri seperti orang linglung.

“He, perasaan orang sama tertekan, apa yang kau tertawakan?” tegur Po-ji.

“Aku gembira, sebab akhirnya dia memandangku sekejap pada waktu kunaik kapal tadi, meski cuma sekejap, namun jauh lebih baik daripada ucapan,” tutur Thi-wah.

Meski sederhana penuturannya, namun arti yang terkandung sungguh timbul dari perasaan yang tulus dan murni.

Po-ji berolok-olok, “Wah, perasaan mendalam begini ternyata dapat kau terima juga.”

Mendadak Ciu Hong menimbrung, “Kalian mesti ingat, sepanjang jalan ini kalian harus lebih banyak menggunakan mata dan sedikit pakai mulut, kaki dan tangan pun tidak boleh sembarangan bergerak.”

“Kita kan bukan orang buta, bila tidak tidur, tentu mata akan digunakan terlebih banyak,” ujar Po-ji.

“Sama-sama menggunakan mata untuk memandang, namun cara memandang juga berbeda beda, kalau memandang tanpa melihat, lalu apa bedanya seperti orang buta?” kata Ciu Hong.

Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, “Coba umpama air mengalir, apakah pernah kau lihat ….”

“Sudah tentu pernah kulihat,” jawab Po-ji tertawa.

“Ya, tentu beratus kali pernah kau lihat air, tapi ingin kutanya padamu, falsafah apa yang terkandung dalam air mengalir itu dan apanya yang menarik, dapatkah kau terangkan?”

“Wah, ini … ini ….” Po-ji melenggong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: