Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (06)

Filed under: Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 3:03 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 06. Golok Yang Terkubur
Oleh Gu Long

Matahari pagi mulai memancar dari timur.

Aroma tajam yang muncul pada malam hari telah hilang ditiup oleh angin.

Angin pagi yang bertiup sepoi-sepoi di udara disertai aroma segar dari rumput dan daun-daunan. Bendera raksasa “Gedung Sepuluh Ribu Kuda” berkibar dengan gagah tertiup angin.

Sebatang rumput terlihat di mulut Ye Kai sementara dia berjalan ke arah bendera raksasa tersebut.

Dia masih terlihat santai dan seperti yang tanpa gairah seperti biasanya, butiran pasir yang menempel di tubuhnya bercahaya di terpa sinar matahari seperti noda emas yang berkilauan.

Dua orang berdiri dibawah pintu gerbang yang sangat besar, mereka sepertinya sedang menunggu seseorang sepanjang waktu. Ye Kai mengenali salah seorang dari mereka, yaitu Yun Zai Tian. Orang yang satunya lagi berbalik melangkah melewati pintu gerbang tersebut sesaat dia melihat Ye Kai.

“Selamat pagi.” Ye Kai berkata, sementara dia masih berjalan sambil tersenyum.

Yun Zai Tian dengan ekspresi wajah yang terlihat serius menjawab,” Selamat Pagi.”

“Apakah Majikan Ketiga telah beristirahat kembali ke kamarnya?” Ye Kai bertanya.

“Belum, beliau saat ini sedang menunggu anda di ruang utama. Semua orang sedang menunggu anda di sana saat ini.” Yun Zai Tian berkata.

________________________________________

Semua orang ternyata benar-benar sedang menunggunya di ruang utama. Semua memperlihatkan paras wajah yang serius di mukanya.

Di atas meja telah tersedia semangkuk bubur dan sayuran di depan masing-masing orang, namun tidak seorangpun yang menggunakan sumpitnya.

Luo Luo Shan masih tergeletak di atas meja, sepertinya dia sudah mabuk lagi.

Ye Kai melangkah masuk ke ruang utama dan memberikan penghormatan ke semua orang dengan senyumnya,” Selamat pagi semua.”

Tidak ada seorangpun yang menjawab, namun mereka tetap menatap Ye Kai dengan pandangan yang tidak biasa.

Hanya mata Fu Hong Xue yang lebih fokus pada sesuatu yang lain. Dia masih menatap golok ditangannya.

Salah satu kursi yang juga telah terhidang bubur dan sayuran masih kosong.

Ye Kai menduduki kursi tersebut dan mengambil sumpit tersebut dengan tangannya. Dia mulai menyeruput buburnya hingga mulutnya penuh dan mengunyah sedikit sayuran. Bubur tersebut masih terasa hangat, Ye Kai telah menghabisi buburnya.

Setelah buburnya habis, dia meletakan kembali sumpitnya ke atas meja, Ma Kong Zun memandangnya dan berkata,”Saat ini sudah bukan pagi lagi.”

“Ah, anda benar, saat ini bukan pagi lagi.” Ye Kai berkata.

“Semua orang telah kembali ke kamarnya masing-masing semalam, apa yang terjadi dengan engkau?” Ma Kong Qun bertanya.

“Aku tidak di kamar.” Ye Kai berkata.

“Lalu dimana?” Ma Kong Qun berkata.

“Aku tidak dapat tidur semalam, jadi aku berjalan berkeliling. Namun siapa yang tahu, baru sebentar saja berjalan-jalan, cahaya pagi sudah muncul.” Ye Kai berkata.

“Apakah ada seseorang yang dapat memperkuat perkataan mu?” Ma Kong Qun berkata.

“Mengapa harus ada orang lain yang harus memperkuat perkataanku tadi?” Ye Kai berkata.

Pandangan Ma Kong Qun berubah menjadi setajam pisau, sesaat dia berkata,” Karena seseorang hutang tiga belas nyawa kepada kami!”

“Tiga belas nyawa?” Ye Kai mengerenyitkan alisnya dan berkata.

Ma Kong Qun menganggukan kepalanya dan menjawab,” Tiga belas sabetan, tiga belas nyawa, golok yang sungguh-sungguh cepat!”

“Apakah anda mengatakan bahwa tiga belas orang telah terbunuh semalam?” Ye Kai berkata.

“Tepat sekali, tiga belas orang telah terpenggal kepalanya semalam.” Ma Kong Qun menjawab dengan sinar mata sedih.

“Anjing dan kuda adalah korban yang tidak bersalah, cara membunuh yang benar-benar kejam.” Ye Kai menegaskan.

Ma Kong Qon menatap matanya dan berkata dengan tajam,”Engkau betul-betul tidak tahu apa yang telah terjadi semalam?”
“Tidak semuanya.” Ye Kai menjawab dengan singkat.

Ma Kong Qun mendadak mengangkat tangannya, Ye Kai melihat dia telah memegang sebilah golok.

Golok yang putih cemerlang seperti salju, mata golok sangat tipis dan sangat tajam, seperti pisau silet.

Mata Ma Kong Qun menatap golok tersebut dan berkata,”Apa pendapatmu mengenai golok ini?”

“Golok yang sangat bagus!” Ye Kai berseru.

“Bila bukan merupakan golok yang sangat bagus, bagaimana mungkin dengan mudahnya mencabut tiga belas nyawa?” Ma Kong Qun berkata.

Dia mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Ye Kai dan bertanya dengan suara yang tajam,” Engkau benar-benar belum pernah melihat golok ini sebelumnya?”

“Tidak pernah.” Ye Kai menjawab.

“Apakah engkau tahu dimana kita menemukan golok ini?” Ma Kong Qun bertanya kembali.

“Tidak tahu.” Ye Kai berkata.

“Golok ini ditemukan di bawah tanah disembunyikan oleh pembunuhnya.” Ma Kong Qun berkata.

“Di bawah tanah?” Ye Kai berkata.

“Setelah membunuhi orang-orang, pembunuh tersebut berusaha untuk menyembunyikan golok ini di bawah tanah, namun mungkin karena terburu-buru, kita dapat melihat gundukan tanah bekas galian.” Ma Kong Qun berkata.

“Mengapa seseorang harus menguburkan goloknya di bawah tanah?” Ye Kai berkata.

“Mungkin karena sipembunuh adalah seseorang yang tidak pernah membawa golok!” Ma Kong Qun berkata dengan dingin.

Ye Kai terlihat sedikit terkejut, dia menatap Ma Kong Qun kemudian tersenyum dan berkata,” Apakah Majikan Gedung menduga golok tersebut milikku?”

“Bila engkau adalah aku, apakah yang kamu akan pikirkan?” Ma Kong Qun berkata.

“Aku bukan kau.” Ye Kai menjawab.

“Semalam, Tuan Luo, Tuan MuRong, Tuan Fu dan Laba-Laba Terbang semuanya kembali ke kamarnya masing-masing dan tidur. Mereka semua memiliki saksi.” Ma Kong Qun berkata.

Jadi ketiga belas orang tersebut sudah pasti tidak mungkin dibunuh oleh mereka.” Ye Kai berkata.

Bola mata Ma Kong Qun bercahaya sesaat die bertanya kepada Ye Kai,” Jadi bagaimana denganmu? Berada dimana engkau semalam? Apakah engkau memiliki saksi?”

“Aku tidak memiliki saksi.” Ye Kai berkata sambil menghela napas.

Ma Kong Qun tidak menekan lebih lanjut, matanya mulai dipenuhi oleh hawa pembunuhan.

“Saudara Ye, bila engkau berkenan.” Yun Zai Tian berkata.

“Bila aku berkenan apa?” Ye Kai berkata.

“Berkenan untuk keluar.” Ye Kai menjawab.

“Aku sudah cukup nyaman duduk disini, mengapa engkau meminta aku untuk keluar?” Ye Kai berkata.

Dia menghela napas dan perlahan-lahan mulai mengangkat kakinya.

Yun Zai Tian menarik kursinya untuk membantu Ye Kai berdiri.

“Karena golok ini milikmu, maka kamu dapat menyimpannya, tangkap!” Ma Kong Qun berkata.

Dia mengayunkan lengannya, kemudian golok ditangannya telah melesat ke arah Ye Kai.

Namun Ye Kai tidak menangkapnya.

Ujung golok tersebut melayang melalui lengan bajunya, dan terdengar suara DAAAKKK, golok tersebut telah tertancap di meja kayu hingga beberapa inci dalamnya.

“Golok yang bagus sekali, sayangnya bukan milikku.” Ye Kai berkata.

Ye Kai akhirnya mulai melangkah berjalan.

Hua Men Tian dan Yun Zai Tian seperti bayangan, berjalan mengikutinya sangat dekat dari belakang.

Setiap orang menyadari bahwa setiap langkah Ye Kai merupakan langkah satu arah, tidak dapat kembali lagi.

Setiap orang menatapnya, pandangan mereka menunjukan simpati, namun tidak seorangpun angkat bicara.
Bahkan juga Fu Hong Xue.

Raut mukanya masih dingin dan kaku, sepertinya dia memperlihatkan raut muka yang menghina.

Ma Kong Qun memandang ke seluruh ruangan dan berkata,” Apakah ada yang mau mengatakan sesuatu mengenai hal ini?”

“Hanya satu pemikiran saja.” Fu Hong Xue tiba-tiba angkat bicara.

“Silahkan katakan.” Ma Kong Qun berkata.

“Bagaimana bila engkau membunuh orang yang salah?” Fu Hong Xue berkata.

Raut muka Ma Kong Qun sontak berubah menjadi dingin dan menjawab,” Bila kita salah bunuh, maka kita akan membunuh lagi.”

Fu Hong Xue perlahan-lahan menganggukan kepalanya dan berkata,” Aku mengerti.”

“Apakah ada perkataan lainnya yang mau diucapkan?” Ma Kong Qun bertanya.

“Tidak.” Fu Hong Xue menjawab.

Ma Kong Qun perlahan-lahan memegang dan mengangkat sumpitnya, berkata,” Semuanya, mari makan.”

Cahaya matahari bersinar sangat terang hingga membutakan mata, bendera raksasa bersinar tertimpa cahaya matahari berkibar ditiup angin padang.

Ye Kai berjalan ke arah cahaya matahari dan mengangkat kepalanya. Dengan menghela napas yang dalam dia berkata,” Sungguh-sungguh hari yang indah.”

“Aku rasa tidak ada seorangpun yang ingin mati di hari yang indah seperti ini.” Ye Kai berkata.

“Sayangnya selalu ada orang yang mati setiap hari tidak perduli itu hari yang indah atau bukan.” Yun Zai Tian berkata.

“Engkau benar, sayang sekali.” Ye Kai berkata.

“Dimana sebenarnya engkau berada semalam?” Hua Men Tian bertanya.

“Di suatu tempat dimana tidak ada seorangpun.” Ye Kai berkata.

Hua Men Tian menarik napas yang panjang dan berkata,” Sayang sekali, sayang sekali.”

“Apa yang harus disayangkan?” Ye Kai berkata.

“Engkau masih muda, sungguh sayang bila harus mati seperti ini. ” Hua Men Tian berkata.

“Siapa yang bilang aku ingin mati? Aku masih belum ingin mati kog.” Ye Kai berkata.

“Aku juga tidak ingin engkau mati, namun ada beberapa hal yang membuat orang lain tidak setuju denganku.” Hua Men Tian berkata.

“Apakah itu?” Ye Kai berkata.

Hua Men Tian perlahan-lahan menurunkan tangannya dan dengan ringan menggapai ikat pinggang kulit yang tergantung dipinggannya.

CCCCRRIIINNG, sebilah pedang yang dibuat dari baja terbaik yang ditempa selama ratusan kali keluar dari sarungnya. Pedang tersebut bergetar saat tercabut dan terhembus angin.

“Pedang yang hebat!” Ye Kai berseru.

“Bagaimana bila dibandingkan dengan golok tadi?” Hua Men Tian berkata.

“Tergantung dari siapa yang memegangnya.” Ye Kai menjawab.

“Bagaimana bila golok tersebut ditanganmu?” Hua Men Tian berkata.

“Aku belum pernah memegang sebuah golok sebelumnya, aku tidak suka menggunakannya.” Ye Kai berkata.

“Engkau tidak pernah menggunakan golok selama ini?” Hua Men Tian berkata.

“Aku lebih suka membunuh dengan kedua tanganku langsung, karena aku menyukai mendengar suara tulang manusia yang hancur oleh kedua tanganku.” Ye Kai berkata.

Raut muka Hua Men Tian berubah dan dia menjawab,” Apakah engkau pernah mendengar suara pedang yang memasuki daging manusia?”

“Belum pernah.” Ye Kai berkata.

“Suaranya cukup menarik juga!” Hua Men Tian berkata.

“Mungkin engkau dapat menunjukan suatu saat kepadaku.” Ye Kai berkata.

“Engkau akan mendengarnya sebentar lagi.” Hua Men Tian berkata.

Dengan sekali gerakan, terlihat cahaya yang mengikuti gerakan pedang yang melintang. Pedang tersebut bersinar di bawah cahaya matahari yang ujungnya mengarah ke badan Ye Kai dari belakang.

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita,” Anak kecil, apa asiknya melihat seseorang sedang dibunuh.”

“Sangat asik! Paling tidak lebih asik daripada melihat seekor babi dibunuh.” Terdengar suara seorang anak kecil menjawab.

Hua Men Tian mengerenyitkan alisnya dan menurunkan pedangnya.

Ye Kai tidak tahanuntuk tidak menengok. Dia melihat seorang wanita tengah baya dengan baju putih menggendong seorang anak kecil yang menggunakan baju merah berjalan keluar dari gedung.

Dia berdiri dengan percaya diri, dengan rambutnya yang hitam dan berkibar tertiup angin, dan wajahnya yang bulat dan putih seputih salju. Dia bukan seorang wanita yang membuat hati setiap pria mencair saat pandangan pertama, namun setiap gerakannya dan setiap tindakannya sangat anggun dan mempesona.

Setiap laki-laki yang melihatnya pasti dengan cepat dapat mengatakan wanita tersebut dijamin dapat memberikan kesenangan yang besar dan kepuasan, dan pasti seorang yang pengertian dan penuh kasih sayang.

Wanita itu kemudian menggandeng anak laki-laki kecil tersebut. Anak kecil tersebut mengenakan baju merah dari kepala hingga kakinya, dengan kepang dikepalanya yang juga menggunakan pita merah. Anak kecil tersebut nampaknya agak kurus dan kecil, namun kedua matanya besar dan lebar. Sepasang mata yang lincah tersebut terlihat bergerak dengan lincahnya dan bercahaya, melihat kesemua hal.

Tentu saja Ye Kai tersenyum melihat keduanya.

Senyumnya selalu hangat dan menarik bahkan ketika dia melihat seorang wanita dan anak-anak.

Anak kecil tersebut mendadak terdiam beku saat melihat Ye Kai. Kemudian dengan mendadak pula dia melompat dan berteriak,” Aku mengenal orang ini.”

Wanita setengah baya tersebut mengerenyitkan alisnya dan berkata,” Berhenti beromong-kosong, sudah pergi sana.”

Anak kecil tersebut lalu melepaskan genggamannya dan berlari ke arah mereka. Dia menarik menarik kedua pipinya dengan kedua tangannya, lalu meledek Ye Kai sambil berkata,” Weee malu malu! Engkau memeluk kakak perempuanku! Apakah engkau tidak tahu bahwa itu memalukan?”

“Xiao Hu omong kosong apa yang kamu ucapkan?” Hua Men Tian berkata dengan raut muka yang tegang.

“Aku tidak beromong-kosong, aku mengatakan yang sebenarnya! Semalam, aku melihat dia memeluk kakak perempuanku dan tidak melepaskannya!” Anak kecil itu berkata dengan antusiasnya sementara matanya berbinar-binar.

“Jam berapa terjadinya semalam?” Hua Men Tian berkata.

“Mungkin saat sinar matahari sudah hampir timbul.” Anak kecil itu berkata.

Ekspresi wajah Hua Men Tian berubah total.

“Apakah kamu melihat dengan mata kamu sendiri? Jangan coba-coba bohong yah!” Yun Zai Tian berkata dengan keras.

“Sudah tentu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!” anak kecil itu berkata.

“Bagaimana kamu melihat semua ini?” Yun Zai Tian berkata.

“Setelah gong berbunyi semalam, kakak perempuanku ingin keluar melihat-lihat. Aku ingin ikut bersamanya namun dia tidak memperbolehkan aku mengikutinya. Jadi, saat kakakku sibuk bersiap-siap, aku menyembunyikankan diri dibawah baju kudanya.” Anak kecil itu berkata.

“Lalu?” Yun Zai Tian berkata.

“Kakak perempuanku tidak menyadari aku disana. Selang beberapa lama dia mengendarai kudanya, kami bergerak ke arah orang ini. Kemudian dia mulai …..”anak kecil itu berkata.

Tapi sebelum dia menyelesaikan ucapannya, wanita tersebut menariknya. Namun sesaat dia tetap berteriak,” Aku mengatakan yang sebenarnya! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kenapa engkau tidak membiarkanku mengatakan apa yang aku lihat?”

Huan Men Tian dan Yun Zai Tian memandang satu sama lain, kedua wajah mereka terlihat pucat, keduanya tidak mengucapkan sepatah katapun.

Pandangan mata Ye Kai terlihat sangat tidak biasa, tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan.

Tiba-tiba, seseorang berkata dengan suara yang berat, ” Ikuti aku.”

Ma Kong Qun nampak diluar gedung dan memberikan isyarat ke Ye Kai sementara dia berjalan ke arah padang rerumputan.

Ye Kai mengikutinya.

Sesaat kemudian, mereka mendengar suara nyanyian dari kejauhan di luar lapangan.

“Biru, biru langit, dataran luas, padang rumput tertiup hembusan angin, lihatlah sapi dan domba.”

Namun disana tidak ada sapi atau domba, kecuali kuda.

________________________________________

Ma Kong Qun mengendarai kudanya berpacu melewati padang rumput di bawah cahaya matahari, dunia terlihat dipenuhi dengan semangat dan kehidupan.

Dia duduk dengan tegaknya di atas sadel kudanya sementara cemeti di tangannya di sabetkan sehingga menimbulkan suara yang keras. Sepertinya dia ingin membuang semua kesulitan dan kesusahannya dengan bergerak secepat yang dapat dia lakukan.

Untungnya, Ye Kai juga mengendarai seekor kuda yang tidak kalah bagus. Sehingga dia masih dapat menyambangi kecepatan kuda Ma Kong Qun.

Pegunungan dikejauhan nampak seperti hamparan hijau. Sepertinya pegunungan itu tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu jauh.

Dengan kecepatan seperti saat sekarang itu, mereka dapat mencapai kaki pegunungan dalam dua jam saja.

Dengan sekali gerakan tubuhnya, Ma Kong Qun telah turun dari kudanya dan berlari dengan cepat menuju ke bukit.

Ye Kai mengikuti dibelakangnya.

Sebuah kuburan terbaring di puncak bukit, sisi-sisinya diselimuti oleh rerumputan yang hijau dan beberapa pohon willow berdiri dengan khidmat terhembus angin barat. Di bagian luar kuburan berdiri sebuah batu nisan yang berdiri tegak setinggi sembilan kaki.

Pada nisan tersebut terukir sebuah tulisan yang berbunyi” Tempat Peristirahan Pahlawan Gedung Golok Dewa.”

Tulisan lainnya di bagian sisi berbunyi “Bai Tian Yu dan Istri, Bai Tian Yong dan Istri, dikuburkan bersamaan disini.”

Ma Kong Qun berjalan lurus ke depan dan berdiri tepat di depan kuburan, seluruh pakaiannya telah basah oleh keringatnya.

Angin di bagian atas pegunungan terasa dingin membeku, dia berlutut di depan makam dan menutup kedua matanya. Setelah beberapa saat, dia kembali berdiri dan berbalik. Keriput diwajahnya terlihat semakin mendalam, setiap garis keriputnya sepertinya merupakan tangisan dari semua kesengsaraannya di masa lampau.

Tidak ada yang tahu seberapa dalam penderitaan dan kebencian yang terkubur di dalam keriput tersebut!

Ye Kai berdiri diam, dia hanya merasakan hawa dingin membeku yang tidak dapat diucapkan lagi dengan kata-kata.

Ma Kong Qun memandangnya dan berkata,” Apa yang engkau lihat?”

“Makam.” Ye Kai menjawab.

“Tahukah engkau, makam siapakah ini?” Ma Kong Qun berkata.

“Bai Tian Yu, Bai Tian Yong …” Ye Kai berkata.

“Tahukah engkau, siapa kedua orang itu?” Ma Kong Qun berkata.

Ye Kai menggelengkan kepalanya.

“Mereka adalah kedua kakak angkatku, mereka bahkan lebih dekat daripada saudara sendiri bagiku.” Ma Kong Qun berkata sementara wajahnya memperlihatkan raut muka yang sedih.

Ye Kai perlahan-lahan menganggukan kepalanya, dan akhirnya dia mengerti mengapa dia dipanggil dengan “Majikan Ketiga’

“Dan tahukan engkau mengapa aku menguburkan mereka bersama-sama disini?” Ma Kong Qun bertanya.

Ye Kai menggelengkan kepalanya lagi.

Ma Kong Qun menggertakan giginya sambil mengepalkan jarinya dengan kencang dan berkata,” Saat aku menemukan mereka, daging mereka telah berserakan digigitoleh serigala. Semua yang tertinggal hanyalah tulang yang berserakan, tidak ada lagi cara untuk mengenali mereka.”

Ye Kai perlahan-lahan mengepalkan jarinya juga, sementara keringat dingin membasahi telapak tangannya.

Dari puncak bukit, terlihat pemandangan hamparan hijau yang luas yang bersatu dengan birunya langit di horison.

Angin bertiup berkejaran menerpa rerumputan sehingga menimbulkan gelombang seperti ombakdi laut.

Ma Kong Qun memalingkan muka dan melihat di kejauhan. Setelah beberapa saat, dia bertanya,” Apa yang engkau lihat sekarang?”

“Rumput yang hijau, dataran yang sangat luas.” Ye Kai berkata.

“Dapatkah engkau melihat batas akhirnya?” Ma Kong Qun bertanya.

“Tidak dapat.” Ye Kai menjawab.

“Dataran yang luas ini yang batasnya tidak terlihat, semuanya ini milikku!” Ma Kong Qun berkata.

Ekspresi wajahnya berubah dan dia mulai berbicara dengan keras,” Semua kehidupan yang berada di atas dataran ini, semua kekayaan yang diberikan oleh tanah ini, semuanya itu milikku! Akarku telah masuk kedalam tanah ini sangat dalam!”

Ye Kai mendengarkan, yang dia lakukan hanya mendengarkan.

Dia masih belum melihat maksud di balik ucapan Ma Kong Qun.

Setelah beberapa saat, gairah Ma Kong Qun mulai hilang kemudian dia menghela napas dan berkata,”Tidak mudah untuk memperoleh semua ini.”

“Tepat sekali, tidak mudah.” Ye Kai berkata.

“Tahukakengkau bagaimana aku dapat menguasai seluruh tanah ini?” Ma Kong Qun berkata.

“Aku tidak tahu.” Ye Kai berkata.

Ma Kong Qun tiba-tiba menarik bagian luar bajunya dan memperlihatkan dada yang bidang dan berkata,” Lihat dengan jelas dan katakan apa yang engkau lihat.”

Ye Kai mengamati dadanya, napasnya tiba-tiba berhenti.

Dia belum pernah melihat seseorang dengan bekas luka sebanyak ini sebelumnya!

Mata Ma Kong Qun perlahan-lahan berbinar dan dia berseru,” Ini adalah harga yang aku bayar. Aku membayar dengan darah dan keringatku sendiri, dan tidak terhitung teman-teman yang telah mengorbankan nyawanya!”

“Aku mengerti.” Ye Kai berkata.

Ma Kong Qun terengah-engah dengan berat. Meskipun dadanya masih diselimuti oleh otot-otot yang terpelihara, namun dia sudah tidak seperti dulu lagi, saat masa mudanya.

Kelihatannya ini adalah takdir yang tidak terelakan ketika proses menua berlangsung.

Setelah napas Ma Kong Qun kembali tenang, dia berjalan ke arah Ye Kai dan menepuk bahunya, suaranya tiba-tiba berubah menjadi ramah dan berkata,” Aku tahu bahwa engkau seorang muda yang gagah. Engkau tidak ingin menghancurkan nama baik orang lain, bahkan bila harus mati sekalipun. Orang muda seperti engkau sungguh langka.”

“Aku hanya melakukan apa yang aku pikir benar, tidak lebih dari itu.” Ye Kai berkata.

“Dan apa yang telah engkau lakukakan adalah benar. Aku sungguh beruntung memiliki teman sepertimu, bahkan mungkin seorang mantu laki-laki …”Ma Kong Qun berkata.

Tiba-tiba dia menurunkan pandangannya dan matanya mulai berbinar-binar kembali,” Namun, yang terbaik bagimu adalah bila engkau pergi secepat mungkin.”

“Pergi?” Ye Kai berkata.

“Ya pergi. Semakin cepat semakin baik.” Ma Kong Qun berkata.

“Kenapa aku harus pergi?” Ye Kai berkata.

“Karena kota ini akan dipenuhi oleh berbagai kesulitan. Setiap orang yang datang kemari tidak dapat ditolong dan akan dipenuhi oleh banjir darah.” Ma Kong Qun berkata.

“Aku tidak takut terhadap kesulitan, juga tidak ciut oleh banjir darah.” Ye Kai berkata.

“Namun bukan untuk yang pertama kalinya engkau kesini, engkau harus benar-benar pergi.” Ma Kong Qun berkata.

“Kemana aku harus kembali?” Ye Kai berkata.

“Kembali ke keluargamu, mungkin, kembali kemanapun yang engkau anggap rumah.” Ma Kong Qun berkata.

Ye Kai perlahan-lahan mengalihkan wajahnya dan menghirup aroma segar rerumputan yang terhembus angin, dan berkata,” Apakah engkau tahu dimana rumahku?”

“Tidak perduli seberapa jauh rumahmu, tidak perduli seberapa banyak uang yang kau butuhkan untuk mencapai kesana, aku dapat memberikannya.” Ma Kong Qun berkata.

“Tidak perlu, karena rumahku tidak jauh.” Ye Kai berkata.

“Tidak jauh? Lalu dimana?” Ma Kong Qun bertanya.

Ye Kai menatap awan di angkasa dan menjawab,” Rumahku disini.”

Ma Kong Qun diam membeku.

Ye Kai menoleh dan menatap Ma Kong Qun, raut wajahnya terlihat tidak seperti biasanya dan berkata,” Aku lahir disini dan besar disini. Kemana lagi aku harus pergi?”

Dada Ma Kong Qun terangkat naik dan dia mengepalkan jarinya. Terdengar suara menelan dari tenggorokannya. Namun, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku hanya melakukan yang aku anggap benar. Aku tidak pernah takut akan kesulitan dan aku tidak pernah lari dari banjir darah.” Ye Kai berkata.

“Jadi engkau akan tetap disini.” Ma Kong Qun berkata.

Jawaban Ye Kai hanya pendek dan sangat jelas, dia hanya mengatakan satu kata,” Ya!”

________________________________________

Angin barat menghembuskan dedaunan hingga jatuh ke tanah, pohon willow yang memutih bergoyang dengan khidmatnya.

Angin tebal yang menghitam mulai bergerak di atas dan mulai menutupi cahaya matahari sehingga langit menjadi abu-abu.

Meskipun badan Ma Kong Qun masih tegak seperti tongkat sapu, namun perutnya mulai berkontraksi. Sepertinya ada sesosok tangan yang tidak terlihat berusaha mendorongnya jatuh ke bawah, sesaat dia hampir melompat.

Dia merasakan mulutnya dipenuhi oleh air liur …. liur yang asam kecut dan pahit

Ye Kai sudah beranjak pergi.

Dia melihatnya pergi, namun tidak berusaha untuk menghentikannya. Bahkan, dia tidak memandang sekejappun saat Ye Kai beranjak pergi.

Karena tidak dapat dibujuk lagi, buat apa pula mencoba menghentikannya?

Bila hal ini terjadi lima tahun yang lalu, mungkin dia tidak akan membiarkan pemuda tersebut pergi begitu saja.

Tidak ada seorangpun yang berani menolak perintahnya selama ini. Tidak ada seorangpun yang mengabaikan perkataan yang keluar dari mulutnya.

Namun hal seperti itu tidak terjadi lagi.

Saat mereka berpandangan satu dengan yang lain, dia memiliki banyak kesempatan untuk menghajar hidung pemuda tersebut.

Kecepatan pukulannya secepat cahaya. Bila lima tahun yang lalu, dia sangat percaya diri untuk memukul sesorang yang berada dihadapannya.!

Siapapun yang terhajar hidungnya pasti akan jatuh tidak sadarkan diri, mata mereka pasti tertutup oleh darah yang mengucur, dan pasti hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menghindari hajaran selanjutnya.

Jurus ini yang disebut dengan ‘Satu Pukulan Menghajar Pintu’!

Dia selalu percaya terhadap tinjunya, dan tidak pernah gagal sebelumnya.

Namun untuk suatu alasan, tinjunya ini tidak keluar saat ini.!

Setelah masa latihan yang sangat lama, hampir setiap bagian tubuhnya dipenuhi oleh otot yang keras. Tidak ada sedikitpun lemak ditubuhnya. Tidak perduli saat dia duduk maupun berdiri, tubuhnya tetap tegak seperti panah.

Setelah sekian tahun, tubuhnya masih tidak berubah.

Namun saat seseorang mulai menua, tidak seorangpun yang menyangkal. Bahkan dirinya sendiripun tidak dapat menyangkal.

Dengan lain perkataan, tubuhnya tidak lagi dapat menerima arak yang biasa diteguknya, atau gairahnya tidak lagi dapat dibangkitkan oleh seorang wanita yang biasa menemaninya selama ini.

Perubahan terjadi didalam hatinya.

Dia menyadari bahwa dia rasa khawatir semakin besar seiring dengan berlalunya waktu, dari tahun ke tahun, dia tidak lagi memiliki kepercayaan diri seperti saat mudanya.

Bahkan di atas ranjangpun dia dipermalukan oleh kekasihnya, dia tidak dapat lagi mengontrol kejantanannya. Dia mulai tidak percaya diri bahwa dia dapat memuaskan kekasihnya itu. Apakah hal ini merupakan tanda-tanda penuaan?

Sesaat seseorang percaya bahwa dirinya telah menjadi tua, maka dia bahkan menjadi lebih tua dari usianya sendiri. Lima tahun ….. mungkin lewat dalam waktu tiga tahun ….

Tiga tahun yang lalu, setiap orang yang berani mengabaikan ucapannya dan pergi begitu saja pasti hanya dalam mimpi!

Namun, meskipun dia hendak mengembalikan kejayaan dan kekuatannya, masa tiga tahun yang telah lewat tidak dapat ditarik kembali.

Hanya berapa tahun yang telah lewat?

Dia tidak mau memikirkan hal itu, dia tidak berani untuk memikirkan hal itu-saat ini, dia hanya ingin berbaring. Mendadak tubuhnya terjatuh karena rasa cape dan letih yang amat sangat.

Langit mulai menjadi gelap, geledek dan kilat mulai menyambar-nyambar.

Sudah pasti dia melihat semua itu. Dengan pengalaman belasan tahun, dia dapat memperkirakan cuaca dengan akurat, sama halnya dia membaca orang lain.

Namun dia masih merasa malas untuk bangkit, masih merasa malas untuk kembali kerumah.

Dia berbaring diam di depan makan tersebut dan tatapannya terkait pada tulisan yang terukir di atas batu nisan,” Bai Tian Yu dan istri, Bai Tian Yong dan istri …”

Mereka adalah saudara angkatnya dan sudah mengangkat sumpah, mereka betul-betul mati dengan mengenaskan dan mengerikan.

Namun, tidak ada cara untuk membalas kematian mereka.

Kenapa bisa begitu?

Selain dirinya dan orang-orang yang telah meninggal itu, hanya sedikit orang yang tahu rahasia tersebut.

Rahasia ini telah terkubur di dalam hatinya lebih dari delapan belas tahun, seperti sebuah jarum yang terus-menerus menusuk hatinya.

Bahkan dia tidak mendengar suara ringkik kuda, namun dia merasakan seseorang mendatangi pegunungan.

Langkah orang tersebut tidak ringan. Langkah yang besar, lebar dan cepat.

Dia tahu, itu adalah GongSun Duan.

GongSun Duan adalah satu-satunya orang yang berbagi rahasia tersebut dengan dirinya. Dia mempercayai GongSun Duan seperti seorang anak mempercayai ibunya sendiri.

Langkah kaki seperti kata-kata, setiap langkah memiliki ceritanya sendiri. Itu sebabnya orang buta dapat mengenali seseorang dari langkah kakiknya.

Langkah kaki GongSun Duan menggambarkan bahwa dia seorang yang: sangat besar, garang, dan tergesa-gesa. Sekali seseorang memulai mencarai gara-gara, maka hampir mustahil dapat menghentikannya.

Dia mendaki gunung dalam sekali hembusan napas dan berdiri tepat di depan Ma Kong Qun dan bertanya,” Dimana dia?”

“Dia telah pergi.” Ma Kong Qun berkata.

“Engkau membiarkan dia pergi begitu saja?” GongSun Duan berkata.

Ma Kong Qun menghela napas dan berkata, “Mungkin engkau benar. Aku semakin tua dan mulai semakin menjadi penakut.”

“Penakut?” GongSun Duan berkata.

“Penakut seperti saat tidak mengharapkan memperoleh kesulitan lagi.”Ma Kong Qun berkata.

“Engkau tidak menduga dialah orangnya?” GongSun Duan berkata.

“Paling tidak kita tahu dia bukan pelaku semalam. Dia memiliki saksi.” Ma Kong Qun berkata.

“Kenapa dia tidak mengatakannya kepada kita?” GongSun Duan bertanya.

“Mungkin, karena dia masih muda, terlalu muda …”Ma Kong Qun berkata.

Sesaat perkataan tersebut terucap dari mulutnya, ucapan tersebut serasa dipenuhi dengan rasa yang asam dan pahit lagi. GongSun Duan menoleh dan melihat ke makam. Dia mulai mengepalkan kedua tangannya, pandangan di matanya berubah menjadi aneh. Tidak ada seorangpun yang dapat menebak, apakah itu rasa sedih, takut atau benci.

Setelah beberapa saat, GongSun Duan perlahan-lahan bertanya,” Apakah engkau yakin Bai memiliki seorang anak laki-laki?”

“Mmm.” Ma Kong Qun berkata.

“Bagaimana engkau yakin bahwa anaknya pasti akan datang untuk menuntut balas?” GongSun Duan berkata.

“Pembalasan tidak dapat kita hindari.” Ma Kong Qun berkata.

“Namun kita dapat menyimpan rahasia ini dengan ketat. Selain orang-orang yang telah mati, siapa lagi yang mengetahui rahasia ini?” GongSun Duan berkata.

“Setiap rahasia pasti akan terbuka cepat atau lambat-bila engkau tidak ingin seorangpun tahu, jangan jadi yang pertama mengetahui. Jangan pernah menyangsikan kata-kata itu.” Ma Kong Qun berkata.

“Bila anak yatim piatu tersebut sudah tumbuh besar sekarang, dia mungkin seumuran Ye Kai.” GongSun Duan berkata.

“Dan juga seumuran Fu Hong Xue.” Ma Kong Qun berkata.

GongSun Duan tiba-tiba berputar dan berkata,” Diantara mereka siapa menurutmu?”

“Pemuda tersebut terlihat sangat tenang dan sabar, namun mungkin dia yang paling mengejutkan dari siapapun.” Ma Kong Qun berkata.

“Namun dia merangkak di bawah pagar seperti anjing, sepertinya dia tidak memiliki keberanian untuk membunuh.” GongSun Duan berkata.

“Itu artinya orang-orang tersebut tidak bernilai baginya, dan merekapun bukan targetnya!”Ma Kong Qun berkata.

Raut wajah GongSun Duan berubah.

“Hanya ada satu alasan yang paling masuk akal seseorang yang paling mengejutkan berpura-pura tenang dan teliti.” Ma Kong Qun berkata.

“Apakah alasan tersebut?” GongSun Duan berkata.

“Balas dendam!” Ma Kong Qun menjawab.

“Balas dendam?” GongSun Duan berkata.

“Bila belum berhasil membalas dendam, kenapa seseorang harus berusaha mengontrol dirinya sendiri sedemikian keras, kenapa pula dia harus menahan diri dipermalukan seperti itu dihadapan orang-orang. Jawabannya adalah balas dendam adalah hal yang utama di dalam benaknya!” Ma Kong Qun berkata.

Dia membuka matanya, terlihat perasaan takut dimatanya,” Dia dapat menahan semua itu lebih baik dari pada orang lain karena kebencian di dalam hatinya mungkin lebih dibandingkan yang lain.”

“Bila seperti itu, kenapa kita tidak membunuhnya saja?” GongSun Duan berkata.

Ma Kong Qun memandang ke kejauhan, dia tidak menjawab.

“Sudah tiga belas nyawa hilang oleh tangan kita selama ini, apakah engkau masih takut untuk membunuh orang yang salah lagi?” GongSun Duan berkata.

“Engkau salah.” Ma Kong Qun berkata.

“Apakah engkau duga dia punya kaki tangan?” GongSun Duan berkata.

“Pembalasan dendam ini pasti tidak dapat dilakukan sendirian!” Ma Kong Qun berkata.

“Namun, bukankah semua keluarga Bai telah mati?” GongSun Duan berkata.

Ma Kong Qun tiba-tiba berdiri dan berkata,” Bila mereka semua telah mati, lalu darimana datangnya anak yatim piatu ini? Bila tidak ada orang yang sedang membantunya dari balik layar, bagaimana mungkin anak yatim piatu ini menjadi lawan yang berat? Dan bila orang tersebut juga bukan lawan yang berat, bagaimana orang tersebut selalu dapat mengelak dari kita selama ini?”

GongSun Duan menurunkan kepalanya, dan tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Itulah sebabnya kalau kita mau melakukan tindakan saat ini, maka kita harus melakukan tindakan yang berhasil. Kita tidak boleh membiarkan seorangpun lolos!” Ma Kong Qun berkata.

“Namun sampai berapa lama lagi kita harus menunggu seperti ini?” GongSun Duan berkata.

“Tidak perduli berapa lamapun, kita tetap harus menunggu. Kita telah kehilangan tiga belas nyawa, apa bedanya bila kita kehilangan seratus nyawa lagi?” Ma Kong Qun berkata.

“Apakah engkau tidak takut diserang lebih dulu?” GongSun Duan berkata.

“Tidak perlu takut, dia tidak akan melakukan tindakan apapun dalam waktu dekat ini.” Ma Kong Qun berkata.

“Kenapa?” GongSun Duan bertanya.

“Karena dia tidak ingin kita mati dengan cepat dan mudah.” Ma Kong Qun berkata.

Paras wajah GongSun Duan memucat, tangannya yang besar bergerak ke goloknya.

“Tapi yang paling penting adalah hingga saat ini dia belum dapat membuktikan, belum dapat membuktikan bahwa kita adalah pembunuhnya, itulah sebabnya …” Ma Kong Qun berkata.

“Sebab kenapa …? GongSun Duan berkata.

“Itulah sebabnya mereka menakut-nakuti kita. Bila seseorang merasa takut, mereka cenderung berbuat salah. Hanya bila kita membuat kesalahan maka dia akan mengambil keuntungan dari kita!” Ma Kong Qun berkata.

“Jadi kita tidak perlu melakukan tindakan apapun saat ini?” GongSun Duan berkata.

Ma Kong Qun menganggukan kepalanya dan berkata, ” Jadi yang kita lakukan saat ini adalah menunggu. Kita tunggu hingga dia membuat kesalahan pertama!” Raut wajahnya perlahan-lahan kembali tenang dan berkata,” Hanya dalam kesabaran menunggu, kita tidak akan membuat kesalahan!”

Bila seseorang menunggu, maka dia tidak akan membuat kesalahan.

Bila seseorang sabar dan menunggu, kesempatan yang sempurna pasti tiba!

Namun menunggu memiliki harga juga, dan harga tersebut cukup tinggi.

GongSun Duan tiba-tiba mencabut goloknya. Dengan sekali sabetan, dia membelah batu nisan hingga hancur berserakan ke segala arah.

Saat itu pula geledek menyambar ke bawah dari langit yang gelap!

Kilau perak goloknya hilang tertutup cahaya kilat dari langit.

Butiran air hujan yang besar mulai berjatuhan ke bawah, sementara air mulai mengali dari retakan nisan yang hancur menjadi butiran-butiran batu, seperti menangisi sesuatu …

ooOOOoo

Bagaimana tindakan Ma Kong Qun dan GongSun Duan selanjutnya? Peristiwa apa dibalik semua ini? Ikuti kisah selanjutnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: