Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Duke of Mount Deer (12)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:54 am

Duke of Mount Deer (12)
Oleh Jin Yong

Sejak masa purbakala, kota Yang Ciu sudah terkenal sebagai daerah istimewa. Apalagi sekarang. Sepanjang hari kota Yang Ciu selalu ramai. Berbagai toko memenuhi sepanjang jalan.

Tahun pertama kedudukan kaisar Kong Hi dari dinasti Ceng. Di samping telaga Siu Sai, Yang Ciu, ada sebuah bangunan besar tempat hiburan. Saat ini baru masuk musim semi, lentera-lentera tergantung menerangi seluruh tempat itu. Bangunan yang bernama Li Cun Goan mengumandangkan berbagai jenis suara. Ada ketukan bambu, ada suara teriakan para laki-laki yang sedang bertaruh kepalan tangan. Ada pula suara tertawa cekikikan. Maklumlah, Li Cun Goan memang menyediakan banyak wanita penghibur. Ada juga yang sudah setengah mabuk sehingga bernyanyi-nyanyi dengan suara sumbang. Pokoknya suasana bising sekali sampai di taman pun terdengar jelas.

Tiba-tiba dari arah utara dan selatan terdengar suara bentakan serentak.

“Para sahabat yang ada di dalam gedung, para nona-nona cantik dan teman-teman yang sedang menghamburkan uang, harap dengarkan: Kami ingin mencari seseorang! Tidak ada urusannya dengan kalian semua. Siapapun tak boleh berkoar-koar atau ribut-ribut, siapa yang tidak mendengar perintah kami, jangan salahkan apabila kami mengambil tindakan keras!”.

Suasana hening seketika. Tetapi sesaat kemudian terdengarlah suara jeritan beberapa orang wanita dan suara teriakan laki-laki yang keras. Keadaan di tempat itu jadi kacau tidak karuan.
Di tengah-tengah ruangan Li Cun Goan ada belasan laki-laki yang duduk mengitari tiga buah meja. Di samping masing-masing ditemani seorang wanita penghibur. Mendengar suara bentakan tadi, wajah mereka semuanya berubah.

“Ada apa?”

“Siapa?”

“Apakah ada pemeriksaan dari pihak kerajaan ? ” Berbagai pertanyaan tercetus serentak.

Dalam waktu yang bersamaan terdengar suara ketukan keras di pintu. Para pelayan dan wanita penghibur menjadi bingung. Untuk sesaat mereka tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Apakah harus membuka pintu atau membiarkannya saja?

Terdengar suara benturan yang keras, rupanya pintu ruangan itu sudah didobrak sehingga terbuka. Disusul dengan masuknya belasan laki-laki bertubuh kekar.

Para laki-laki itu mengenakan pakaian yang ringkas, kepala diikat dengan selendang putih. Tangan masing-masing membawa golok yang berkilauan menandakan tajamnya. Ada pula beberapa orang yang membawa pentungan besi.

Sekali lihat saja para tamu maupun wanita penghibur di dalam gedung itu sudah mengenali mereka sebagai para begajul yang biasa making melintang di sekitar wilayah itu.

Agaknya mereka tidak dapat disamakan seperti begajul-begajul biasanya, karena rombongan itu berkumpul di bawah naungan seorang pemimpin dan mereka hanya mengadakan jual-beli garam selundupan. Pada zaman itu, baru terjadi peralihan dinasti, harga garam tinggi sekali. Siapa yang bisa menyelundupkan garam dan kemudian menjualnya dengan harga di bawah pasaran, akan menjadi kaya raya. Rombongan inilah penyelundup garam tersebut, kecuali itu mereka tidak pernah merampok ataupun melakukan kejahatan lainnya.

Meskipun demikian, kegarangan mereka kali ini berbeda dengan biasanya. Hal ini membuat para tamu maupun wanita-wanita penghibur di Li Cun Goan itu bertanya-tanya apa kemauan mereka sebenarnya.

Seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluhan tahun segera keluar dari rombongan itu.

“Para sahabat sekalian, maafkan gangguan kami ini!” Selesai berkata, dia segera menjura ke kiri dan kanan, kemudian berteriak lagi dengan suara lantang. “Sahabat she Ci dari Tian-te hwe, Cia lao-liok apakah ada di sini?” Matanya mengedar di antara para tamu.

Para tamu yang bertemu pandang dengan sinar matanya, langsung ciut hatinya. Tetapi mereka berpikir dalam hati. Mereka toh hanya mencari orang yang berkecimpung di dunia kangouw, pasti tidak mencampuradukkan urusannya dengan orang lain yang tidak bersangkutan.

Laki-laki setengah baya tadi berteriak sekali dengan suara keras.

“Cia lao-liok, sore ini di tepi telaga Siu Sai, kau mengoceh sembarangan, mengatakan bahwa kami para penyelundup garam dari Yang Ciu terdiri dari orang-orang yang tidak berguna. Tidak berani membunuh petugas kerajaan, hanya berani main belakang. Mengadakan usaha yang pengecut. Di sana kau berteriak-teriak seenak perutmu dengan mengatakan bahwa apabila kami tidak puas, boleh datang ke Li Cun Goan untuk mencarimu. Nah, sekarang kami sudah datang. Cia lao-liok, kau toh seorang pentolan dari Tian-te hwe, mengapa sekarang menjadi anak kura-kura yang menyurutkan kepalanya?”

Para laki-laki yang datang bersamanya seperti beo yang latah berteriak serentak: “Pentolan dari Tian-te hwe, mengapa jadi kura-kura yang menyurutkan kepalanya?”

“Eh, kalian semua! Sebetulnya kalian dari Tian-te hwe atau Sut-thau hwe (perkumpulan menyurutkan kepala)?” teriak yang lainnya.

“Kata-kata itu hanya diucapkan oleh Cia lao-liok seorang, tidak ada urusannya dengan orang lain. Meskipun kami hanya mencari sesuap nasi dari beberapa patah kata dan tidak sanggup bersaing dengan segala Tian-te hwe, tapi setidaknya kami bukan orang-orang seperti kura-kura yang hanya bisa menyusutkan kepalanya ke dalam batok!” kata laki-laki setengah baya yang pertama tadi.

Setelah menunggu beberapa lama, masih tidak terdengar sahutan dari orang yang dipanggil Cia lao-liok, laki-laki setengah baya tadi membentak lagi.

“Cari ke setiap bagian bangunan ini. Kalau bertemu dengan Cia lao-liok, undang dia keluar! Di wajah orang ini ada bekas bacokan golok yang cukup panjang, mudah dikenali!”

Tiba-tiba dari kamar sebelah timur berkumandang suara yang serak tapi gagah.

“Siapa yang pentang mulut keras-keras di sini, mengganggu ketenangan lohu saja?”

“Cia lao-liok ada di sini!”

“Cia lao-liok, cepat menggelinding keluar!” teriak rekan-rekan laki-laki setengah baya tadi.

“Maknya! Anjing tua itu nyalinya sungguh besar!” teriak yang lainnya.

Orang di dalam kamar sebelah timur itu tertawa terbahak-bahak.

“Lohu bukan she Cia, tetapi mendengar kalian memaki-maki Tian-te hwe, telinga tua ini jadi gatal. Meskipun lohu bukan orang Tian-te hwe, tapi maklum bahwa setiap anggota Tian-te hwe terdiri dari laki-laki sejati. Kalian yang bermulut ember bocor masih tidak pantas menenteng sepatu mereka atau menceboki pantat mereka sekalipun!”

Rombongan yang datang itu marah sekali, mereka memaki-maki serabutan. Tiga di antaranya langsung mengayunkan golok dan menerjang ke kamar sebelah timur. Sesaat kemudian terdengarlah suara mengaduh dan mengerang dari mulut mereka. Satu per satu melayang keluar lalu terbanting di atas tanah. Golok seorang di antaranya membentur kepala sendiri sehingga darah segar bercucuran, kemudian ia pun semaput seketika.

Enam orang lainnya ikut-ikutan menerjang ke dalam kamar sebelah timur, tapi mereka menemukan nasib yang sama dengan rekan-rekannya. Semua terpental kembali dengan mulut mengerang-erang. Yang lainnya semakin berang, mereka memaki dengan kata-kata yang kotor, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menerjang ke dalam kamar itu lagi.

Laki-laki setengah baya yang menjadi pimpinan rombongan itu segera melangkah ke depan dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Dia melihat seorang laki-laki brewokan sedang duduk di atas tempat tidur. Kepalanya terikat dengan selendang putih. Di wajahnya tidak ada bekas bacokan golok, ternyata ia memang bukan Cia lao-liok. Laki-laki setengah baya itu bertanya dengan lantang.

“Kepandaian saudara sungguh hebat, bolehkah kami tahu siapa she dan nama anda yang mulia?”

Orang di dalam kamar itu menyahut dengan setengah mengomel.

“Siapa she dan nama bapakmu, itu pula she dan namaku. Anak kurang ajar! Masa nama bapak tua sendiri tidak tahu?”

Tiba-tiba salah satu dari para wanita penghibur yang berdiri di samping tidak dapat menahan kegelian hatinya mendengar ucapan orang dalam kamar, dia tertawa cekikikan. Salah seorang laki-laki tiriggi besar dari rombongan para penjual garam itu segera maju ke depan dan menempeleng pipi wanita yang tertawa tadi sebanyak dua kali.

“Perempuan lacur! Apa yang kau tertawakan?” makinya garang.

Wanita itu ketakutan setengah mati dan otomatis tidak berani bersuara sedikit pun. Tiba-tiba dari samping ruangan menghambur keluar seorang bocah laki-laki berusia dua belasan tahun. Begitu sampai dia langsung memaki.

“Kau berani memukul ibuku! Kura-kura busuk, kakeknya kura-kura! Kusumpahi biar tanganmu budukan, korengan, bernanah, lama-lama jadi kutung! Kumannya menyebar ke mulutmu, tenggorokanmu, biar tertelan nanah busuknya dan ususmu ikut busuk!”

Laki-laki bertubuh kekar itu berang sekali. Tangannya terulur ke depan untuk mencengkeram anak kecil itu. Ternyata gerakan tubuh si bocah gesit sekali, sekali kelebat dia sudah menyelinap di balik rekan laki-laki itu. Laki-laki tadi segera menggeser rekannya ke samping sehingga terhuyung-huyung, kemudian tangan kanannya mengirimkan sebuah pukulan ke arah bocah kecil itu.

Wanita penghibur yang kena tempeleng tadi langsung menjerit histeris.

“Ampun, toaya!”

Dalam waktu yang bersamaan, si bocah cilik sudah merundukkan tubuhnya, tangan kanannya menjulur ke depan dan mencengkeram bagian selangkangan laki-laki itu. Otomatis si tubuh kekar itu menjerit kesakitan. Kemarahannya semakin meluap-luap, tapi si bocah sudah mengelit ke samping. Kemarahan laki-laki itu belum terlampiaskan. Tinjunya melayang ke depan menghantam wajah wanita penghibur tadi, wanita itu pun pingsan seketika.

Bocah cilik itu langsung menghambur ke depan dan memeluk wanita tadi.

“Mak! Mak!” Laki-laki bertubuh kekar tersebut segera mengulurkan tangannya mencengkeram kearah belakang bocah itu. Baru saja dia ingin mengangkatnya ke atas dan ingin membantingnya keras-keras, tindakannya sudah dicegah oleh pemimpinnya.

“Jangan bikin onar, lepaskan anak itu!”

Meskipun kurang senang, laki-laki itu tidak berani membantah. Dia meletakkan bocah tadi di atas tanah lalu menendang pantatnya keras-keras sehingga menggelinding beberapa kali lalu membentur tembok.

Pemimpinnya melirik laki-laki kekar itu sekilas lalu berkata dengan lantang.

“Kami adalah para saudara dari Ceng Pang. Karena salah seorang anggota Tian-te hwe, yakni Cia lao-liok menghina perkumpulan kami, bahkan menantang kami dengan mengatakan akan menunggu di sini, maka kami datang ke tempat ini. Seandainya saudara memang bukan orang dari Tian-te hwe dan tidak pernah mempunyai perselisihan dengan Ceng pang kami, mengapa saudara mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati? Harap saudara meninggalkan she dan nama, agar kami bisa memberikan tanggung jawab apabila ditanyakan oleh Pangcu kami!”

Orang di dalam kamar itu tertawa terbahak-bahak.

“Kalian ingin membuat perhitungan dengan orang Tian-te hwe, apa urusannya denganku? Aku hanya ingin menyenangkan hati di tempat ini, kalau kalian mengatakan tidak ada perselisihan di antara kita, terlebih-lebih kalian tidak boleh mengganggu kesenangan lho. Tapi ada sepatah kata yang ingin aku nasehatkan kepada loheng. Kalian pasti tidak sanggup menghadapinya. Karena terlanjur di maki orang, terima saja dalam hati. Toh, kenyataannya memang begitu!”

Laki-laki yang menjadi pimpinan rombongan marah sekali mendengar ocehannya.

“Aneh, di dunia masa ada orang yang begitu tidak tahu aturan seperti Anda ini?”

“Tahu aturan atau tidak, toh bukan urusanmu. Memangnya kau sedang mencari suami untuk kakak atau adikmu?”

Tepat pada waktu itu juga, dari luar melesat masuk tiga orang lainnya. Dandanannya sama seperti rombongan penyelundup garam tersebut. Salah satunya yang membawa pecut segera berbisik di telinga si laki-laki setengah baya.

“Siapa orang itu?”

“Dia tidak mau mengatakannya, tetapi sedikit-sedikit dia sesumbar tentang kehebatan Tian-te hwe, kemungkinan besar Cia lao-liok memang bersembunyi di dalam kamar itu,” sahut si orang tua.

Orang yang bertubuh kurus itu memberikan isyarat tangan kepada kedua rekannya. Bersama-sama si orang tua yang sudah mengeluarkan sebatang pedang pendek dari selipan pinggangnya, mereka menerjang ke arah kamar sebelah timur itu.

Terdengar suara benturan senjata dari dalam kamar. Ruangan di gedung Li Cun Goan seluruhnya terdiri dari kamar-kamar yang mempunyai perabotan lengkap. Sekarang terdengar suara gedebak-gedebuk yang tidak beraturan. Dapat dibayangkan bahwa kursi dan meja di dalamnya pasti menjadi sasaran amukan beberapa orang itu. Wajah pemilik gedung yang gemuk itu terus berkerut-kerut hatinya terasa sakit membayangkan barang-barangnya hancur berantakan. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan nama Buddha.

Keempat laki-laki yang terdiri dari para penyelundup garam itu membentak dengan suara keras, seperti sedang berlangsung suatu pertarungan yang berlangsung sengit sekali, tetapi tidak terdengar sedikit suara pun dari mulut si tamu itu sendiri. Para tamu menepi jauh-jauh, mereka tidak ingin terkena getahnya. Tiba-tiba terdengar suara jeritan histeris dari mulut seseorang, agaknya salah satu dari keempat orang yang menyerbu masuk.

Si bocah kecil yang ditendang oleh laki-laki bertubuh kekar tadi tentu saja kesakitan setengah mati. Bagian selangkangannya benar-benar terasa ngilu dan perih. Dalam keadaan marah, dia melihat si bocah berusaha merangkak bangun, tinjunya segera menghantam ke depan. Bocah itu mengelak ke samping untuk menghindarkan diri. Laki-laki kekar itu mana sudi menyudahi urusannya begitu saja, dia segera melayangkan dua kali tamparan ke pipi kiri kanan bocah itu. Tubuh sang bocah sampai melintir saking tidak dapat menahan diri.

Para tamu yang lain serta wanita-wanita penghibur di gedung itu dapat melihat sepasang mata si laki-laki kekar yang beringas. Kalau dia memukul terus beberapa kali lagi, sang bocah pasti akan terkapar mati. Tapi tidak ada satu pun yang berani mencegah atau menasehatinya.

Tampak laki-laki kekar itu kembali mengangkat tangannya ke atas dan siap dihantamkan ke bawah. Bocah laki-laki itu nekad menerjang ke depan, tapi tidak ada jalan lagi baginya untuk meloloskan diri. Akhirnya dia terpaksa mendorong pintu kamar sebelah timur itu dan menerobos ke dalam. Para tamu dan yang lainnya mengeluarkan seruan tertahan. Laki-laki itu berniat mengejarnya, tapi akhirnya niatnya ia batalkan, mungkin karena takut menjadi sasaran perkelahian di dalam.

Begitu menyelinap ke dalam kamar, si bocah tidak dapat melihat jelas pemandangan di dalamnya. Hanya terdengar suara benturan senjata yang nyaring. Trang! Timbul beberapa percik bunga api, tampak seorang laki-laki brewokan sedang duduk di atas tempat tidur. Kepalanya diikat dengan sehelai selendang putih, tampangnya menyeramkan. Si bocah sampai mengeluarkan seruan tertahan. Begitu percikan bunga api padam, keadaan di dalam kamar menggelap kembali. Hanya sinar lentera dari luar kamar yang menyorot suram. Perlahan-lahan pandangan mata baru terbiasa dan mulai dapat melihat keadaan di dalam kamar tersebut.

Di antara keempat orang yang menyerbu masuk, sekarang hanya tinggal dua orang yang masih bertahan, yakni laki-laki yang membawa pecut dan si orang tua yang menggunakan sebatang pedang pendek. Mereka sedang berkelahi dengan seru. Si bocah berpikir dalam hati: ‘Bagian kepala orang itu sudah terluka, berdiri saja tidak genah, pasti ia tidak akan sanggup melawan para penyelundup garam ini lebih lama. Sebaiknya cepat-cepat melarikan diri, tapi entah bagaimana keadaan mak?’

Mengingat ibunya yang dihina sedemikian rupa, kemarahan dalam hatinya meluap lagi. Tanpa sadar dia memaki-maki seenaknya.

“Penjahat busuk! Turunan banci! Aku sumpahi agar delapan belas keturunanmu berbau busuk! Garam selundupanmu pasti banyak sekali. Kalau istri, nenek, emakmu mati, kuburkan saja dengan garam. Kalau dagingnya sudah asin, bawa ke pasar untuk dijual, satu kilo tiga picis pun tidak ada yang sudi membeli daging busuk keluargamu itu…!”

Laki-laki bertubuh kekar yang terdiri di luar kamar jadi gusar mendengar makian si bocah yang kasar, tapi dia tetap tidak berani menerjang masuk ke dalam kamar.

Orang yang duduk di atas tempat tidur itu tiba-tiba menggerakkan goloknya ke depan. Bacokannya tepat menikam ke bahu kiri si laki-laki kekar yang membawa pecut, akibatnya tulang pundak si kekar itu tertebas putus seketika. Dalam waktu bersamaan, si orang tua juga maju ke depan satu tindak, pedang pendeknya dihunjamkan ke dada orang yang duduk di atas tempat tidur. Dengan sigap orang itu mencabut goloknya dari bahu si laki-laki kekar kemudian mengayunkannya ke samping untuk menangkis serangan pedang pendek si orang tua. Sekaligus tangan kirinya mengirimkan pukulan sebanyak tiga kali berturut-turut. Si orang tua rupanya tidak menyangka dalam keadaan terdesak seperti itu, si brewok itu masih sempat menyerangnya. Dadanya langsung terhantam, mulutnya memuncratkan darah segar dan tubuhnya terpental keluar kamar.

Laki-laki bertubuh kekar yang tulang pundaknya hancur memang sudah terluka parah, tapi masih nekad juga. Dia ayunkan pecut bajanya ke depan. Kali ini si brewok yang duduk di atas tempat tidur tidak melakukan gerakan apa-apa, kemungkinan tenaganya sudah habis terkuras. Bila pecut itu sampai mengenai tubuhnya, tidak ayal lagi pasti selembar nyawanya sulit dipertahankan.

Melihat situasi yang demikian kritis, timbul perasaan senasib sependeritaah dalam hati si bocah cilik. Tanpa berpikir panjang dik langsung menerkam sepasang kaki si laki-laki kekar itu dan menariknya erat-erat.

Bayangkan saja, tubuh laki-laki itu paling tidak ada dua ratusan kati, sedangkan si bocah cilik itu kurus kering. Dalam keadaan biasa, mana mungkin dia sanggup menahan tubuh orang itu, tetapi laki-laki kekar itu memang sudah terluka parah. Serangannya ini juga menggunakan sisa tenaga yang terakhir. Begitu ditarik oleh si bocah cilik, tubuhnya langsung terjengkang ke belakang dan tidak bergerak lagi.

Laki-laki brewokan di atas tempat tidur itu segera berseru dengan lantang.

“Kalau memang bernyali, masuklah kalian semua ke dalam!”

Bocah cilik itu menggoyangkan tangannya berkali-kali, maksudnya agar laki-laki itu tidak menentang penyelundup garam lainnya yang ada di luar. Pada saat si orang tua terpental keluar, pintu kamar itu sempat terbuka sekejap lalu mengatup kembali. Sampai sekarang pintunya masih bergerak kesana kemari. Dengan bantuan sorotan lemah dari lentera yang tergantung di luar, orang-orang dapat melihat seluruh wajah si brewok penuh dengan noda darah, tampangnya sungguh menyeramkan. Tetapi mereka hanya dapat melihat sekelebatan, apa sebenarnya yang terjadi di dalam kamar mereka tidak tahu. Beberapa orang penyelundup garam lainnya hanya saling pandang dengan bimbang. Terdengar si brewok berkata lagi dengan keras.

“Anak kura-kura, kalau kalian tidak berani masuk ke dalam, sebentar lagi lohu akan keluar dan membantai kalian satu per satu!”

Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang masih berdiri di luar segera mengangkat tubuh rekannya yang terluka dan lari meninggalkan gedung itu dengan terbirit-birit.

Si brewok tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata dengan suara perlahan:

“Anak, cepat kau rapatkan pintu kamar!”

Si bocah memang sudah mempunyai pikiran yang sama. Karena itu dia segera mengiakan dan merapatkan pintu. Setelah itu perlahan-lahan dia menghampiri tempat tidur, samar-samar tercium bau amis darah.

“Kau… kau…” Si brewok seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi kekuatannya sudah hampir habis, tubuhnya limbung beberapa kali dan hampir saja terjerambab jatuh di tanah.

Si bocah terkejut setengah mati, cepat-cepat dia menghambur ke depan dan menahan tubuh si brewok. Tubuh orang itu sangat berat. Dengan segenap tenaga si bocah meletakkan kepala orang itu di atas bantal. Si brewok mengatur pernafasannya beberapa kali. Tampaknya dia merasa agak baikan. Sesaat kemudian baru dia berkata.

“Aku sudah membunuh beberapa orang penyelundup garam itu, sekarang tenagaku masih belum pulih. Kalau rombongan itu datang lagi membawa tenaga bantuan, bahaya sekali. Sebaiknya aku menyingkir dulu, ya… menyingkir dulu.”

Agaknya dia merasa menyesal dengan keadaannya sendiri. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun, tapi rasa sakit segera menyerangnya, sehingga mulutnya mengeluarkan suara erangan.

Si bocah cerdik sekali, dia mengerti apa keinginan orang itu. Dia segera membantunya agar dapat duduk tegak.

“Ambil golok!” kata orang itu. “Berikan padaku!”

Anak itu menuruti permintaannya. Ia mengambil golok dan menyodorkannya ke hadapan orang itu. Orang itu menggunakan goloknya sebagai tongkat dan turun dari pembaringan perlahan-lahan. Bocah itu masih membimbing tangannya. Untuk sesaat, tubuhnya masih terhuyung-huyung.

“Aku akan keluar sekarang,” kata orang itu. “Tak perlu kau bimbing aku terus. Kalau rombongan penjahat itu datang kembali dan melihat kita bersama. Kau bisa celaka, kau akan mereka bunuh!”

“Maknya! Aku tidak takut! Kalau mereka mau membunuh aku, silahkan! Kita adalah sepasang sahabat yang harus menjunjung kegagahan, pokoknya bagaimana pun aku harus membantu kau!”

Orang itu tertawa terbahak-bahak. Karena tubuhnya masih lemah, dia sampai terbatuk-batuk.

“Kau membicarakan soal kegagahan?”

“Kenapa tidak boleh. Sahabat sejati harus senang dirasakan bersama, menderita dicicipi bersama pula!”

Di kota Yang Ciu banyak tukang cerita yang menceritakan berbagai kisah tentang Sam Kok, Sui Hu Coan, dsbnya. Bocah itu memang keranjingan cerita-cerita itu, karenanya dia dapat mengucapkan kata-kata senang dan menderita dicicipi bersama.

“Kata-kata yang bagus! Aku berkelana di dunia bulim ini sudah dua puluh tahun lebih, kata-katamu tadi aku juga sudah mendengarnya ribuan kali. Teman yang mau diajak bersenang-senang di mana-mana pun ada, tapi yang mau diajak menderita bersama, sampai sekarang baru beberapa gelintir yang kutemukan. Mari kita berangkat!”

Bocah itu terus membimbing tangan orang itu dan mengajaknya keluar dari kamar. Tiba di ruangan tengah, orang-orang yang melihat mereka jadi terkejut dan menyingkir karena takut.

Terdengar ibu si bocah memanggil-manggil.

“Siau Po, Siau Po, mau kemana kau?”

“Ibu, aku akan mengantarkan sahabatku ini dulu. Sebentar aku kembali lagi!”

Mendengar kata-kata si bocah, orang itu tertawa terbahak-bahak.

“Bagus-bagus… sahabat, iya sahabat. Aku memang sudah menjadi sahabatmu!”

“Jangan kau pergi, nak. Sebaiknya kau bersembunyi saja,” kata sang ibu khawatir. Si bocah hanya tersenyum, bersama sahabat barunya dia meninggalkan Li Cun Goan, rumah pelesiran itu.

Keadaan di luar gang, sunyi senyap. Tampaknya kawanan penyelundup itu memang sudah pergi, atau mungkinkah mereka sedang mencari bala bantuan? Tiba di sebuah gang kecil, orang itu mendongakkan wajahnya menatap langit, dia memandangi bintang-bintang yang bertaburan.

“Mari kita menuju ke barat!” katanya.

Si bocah metiurut. Mereka berjalan bersama-sama. Lewat beberapa tombak, di depan tampak sebuah kereta keledai sedang bergerak ke arah mereka.

“Lebih baik kita naik kereta saja,” kata orang itu kembali. Kemudian dia berteriak dengan suara lantang. “Pak Kusir! Pak Kusir! Ke sini!”

Kusir kereta itu segera menghentikan keledainya. Dia terperanjat melihat wajah orang itu yang penuh luka. Diam-diam timbul kecurigaan dalam hatinya. Orang itu rupanya segera maklum arti pandangan kusir kereta itu. Dia segera mengeluarkan uang perak seberat lima tail dan menyodorkannya kepada si kusir kereta.

“Ambillah uang ini!”

Pikiran sang kusir bekerja cepat. ‘Masa bodoh urusan lainnya, uang paling penting!’ Karena itu, dia segera menganggukkan kepalanya sambil menyambut uang yang disodorkan itu.

Dengan bantuan si bocah, orang itu perlahan-lahan naik ke atas kereta. Kembali dia mengeluarkan uang goanpo yang besar jumlahnya kemudian menyerahkan kepada si bocah.

“Sahabat cilik, aku akan berangkat sekarang. Uang sekedar ini harap kau simpan baik-baik.”

Melihat jumlah uang besar itu, si bocah meneguk air liurnya. Tapi dia teringat kembali kisah cerita yang sering di dengarnya bahwa orang-orang gagah hanya mementingkan persahabatan, uang atau harta tidak ada artinya. Dengan susah payah hari ini dia sudah berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang gagah, biar bagaimana usaha itu tidak boleh kandas di tengah jalan hanya karena harta yang tidak seberapa dan sebentar saja sudah habis itu. Karena itu dia segera menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada tegas.

“Kita membicarakan soal persahabatan sejati. Kau memberikan uang kepadaku, itu tandanya kau tidak menghargai aku. Lukamu masih belum sembuh, aku akan mengantar kau lebih jauh sedikit!”

Orang itu melengak, kemudian dia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Bagus! Bagus!” serunya. “Kau memang sahabat sejati!” la pun menyimpan uangnya kembali.

Si bocah pun langsung melesat naik ke atas kereta dan duduk di samping orang itu.

“Ke mana tujuan kita, tuan?” tanya si kusir kereta yang sejak tadi diam saja.

“Ke bukit Tek Seng san, di sebelah barat kota!” sahut orang itu.

“Ke Tek Seng san? Tengah malam begini?” tanya si kusir kereta yang menganggap telinganya salah dengar.

“Benar!” sahut orang itu tegas sembari mengetuk-ngetukkan ujung goloknya ke alas kereta.

“Baik-baik…” kata si kusir yang ketakutan. Cepat-cepat dia menurunkan tirai, kemudian memecut keledainya sehingga kereta itu langsung melaju ke depan.

Bukit Tek Seng san letaknya di sebelah barat kota Yang Ciu, tepatnya di dusun Pek Gi Hiang, kurang lebih tiga puluh li dari kota.

Di zaman dinasti Lam Song, Song selatan, Jenderal Han Se-Tiong pernah menggempur prajurit Kim habis-habisan, karenanya bukit Tek Seng san jadi terkenal.

Kereta terus bergerak, kurang lebih satu jam kemudian, mereka sudah sampai di kaki bukit.

“Tuan, kita sudah sampai di bukit Tek Seng san!” kata si kusir.

Si brewok melongokkan kepalanya. la melihat gundukan tanah setinggi tujuh delapan tombak. Sebenarnya tidak cocok disebut bukit, tapi gunung-gunungan.

“Inikah Tek Seng san?” tanyanya bimbang. “Benar tuan,” sahut si kusir. “Ya, ini memang bukit Tek Seng san. Ibu dan para cici lainnya sering datang ke bukit ini untuk bersembahyang di kuil Eng Liat hujin. Aku pernah ikut dan bermain-main di situ.”

“Kalau kau yang mengatakannya, pasti tidak salah lagi!”

Mereka segera turun dari kereta. Si bocah mencelat turun terlebih dahulu. Dia memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu yang sunyi senyap dan remang-remang karena hari sudah senja. Diam-diam dia berpikir di dalam hati.

‘ Tempat ini cocok sekali untuk menyembunyikan diri. Kawanan penyelundup garam itu pasti tidak akan mencari sampai ke tempat ini.’

Kusir kereta itu masih merasa khawatir. Rasanya ingin dia cepat-cepat berlalu dari tempat itu, namun si brewok berkata lagi padanya.

“Tunggu, kau antar dulu bocah ini kembali ke kota!”

“Baik, Tuan.”

“Tidak. Aku akan menemanimu beberapa saat lagi,” kata si bocah. “Besok pagi aku bisa membelikan bakpau untuk mengganjal perut.”

Si brewok memperhatikan sang bocah lekat-lekat.

“Benarkah kau akan menemaniku?”

“Tidak baik sendirian berada di tempat seperti ini, apalagi lukamu masih belum sembuh!” sahut si bocah tegas.

Si brewok tertawa lebar. Dia menoleh kepada kusir kereta tadi.

“Kau boleh pergi saja!”

“Baik, tuan,” sahut si kusir kereta yang sejak tadi memang sudah menunggu-nunggu perintah itu.

Si brewok berjalan menuju sebuah batu besar dan duduk di sana. Kereta keledai itu sudah melaju pergi. Keadaan di sekitar sunyi senyap. Tiba-tiba si brewok membentak:

“Anak kura-kura berdua yang bersembunyi di balik pohon Liu cepat menggelinding keluar!”

Si bocah terkejut setengah mati. Diam-diam dia berpikir dalam hati. ‘Benarkah di sini ada orang lain?’ hal ini benar-benar di luar dugaannya.

Ternyata dari balik sebatang pohon besar muncul dua sosok bayangan hitam. Mereka melangkah maju beberapa tindak, tetapi berhenti kembali. Si bocah tidak dapat melihat jelas wajah kedua orang itu, namun mereka mengenakan sabuk putih di kepala, pertanda bahwa mereka adalah rombongan para penyelundup garam.

Tangan masing-masing mencekal sebatang golok. Melihat sikap mereka yang hanya maju beberapa langkah, kemudian berhenti lagi, tampaknya hati mereka dilanda kebimbangan.

Si brewok membentak lagi dengan suara yang garang.

“Hei, anak kura-kura! Kalian mengintil aku dari Li Cun Goan, kenapa sekarang malah ragu-ragu mendekatiku? Bukankah kalian memang sengaja datang untuk mengantar jiwa?”

Mendengar kata-katanya, diam-diam si bocah membenarkan dalam hati. Tentunya kedua orang itu memang sengaja menguntit sampai di tempat ini, kemudian mereka bisa mendatangkan bala bantuan untuk mengeroyok si brewok.

Tampak kedua orang itu saling berbisik beberapa patah kata, tiba-tiba mereka membalikkan tubuhnya kemudian lari meninggalkan tempat itu.

“Eh!” seru si brewok yang berusaha bangun, maksudnya ingin mengejar kedua orang itu. Tetapi tiba-tiba dia mengaduh, tentu rasa sakit di lukanya kumat lagi.

Si bocah segera memapah tubuh orang itu. Diam-diam dia berpikir dalam hati. ‘Gawat. Kereta tadi sudah pergi jauh, sedangkan kita tidak bisa berdiam terus di sini. Untuk menyingkir, sahabatku ini tampaknya tidak kuat berjalan. Bagaimana kalau kedua orang itu kembali lagi dengan membawa konco-konconya?”

Sekonyong-konyong bocah itu menangis meraung-raung.

“Aduh, kenapa kau jadi mati? Tidak! Kau tidak boleh mati!”

Suara tangisannya semakin keras. Kedua anggota penyelundup garam yang baru berjalan tidak seberapa jauh menjadi terhenyak seketika. Tentu saja mereka mendengar suara tangisan si bocah. Serentak mereka membalikkan tubuhnya dan mendengar si bocah meratap dengan sedih.

“Hu… hu… hu…. Kenapa kau mati begitu saja?”

Kedua orang itu saling pandang sejenak. Yang satu langsung berkata.

“Kau dengar suara tangisan anak laki-laki itu. Pasti si bangsat itu sudah mati.”

“Benar! Pasti lukanya terlalu parah sehingga ia tidak dapat menahan diri lagi,” sahut yang lainnya.

Keduanya segera menoleh dan dari kejauhan terlihat bayangan tubuh yang menggumpal. Keduanya mengira pasti si anak kecil sedang mendekap tubuh si brewok sambil menangis pilu.

“Mari kita hampiri,” kata salah seorangnya. “Taruh kata dia belum mampus, tetapi keadaannya sudah terlalu lemah untuk mengadakan perlawanan. Kita tebas saja batang lehernya, sekaligus batok kepala si anak celaka itu!”

“Ide bagus!” sahut rekannya setuju.

Kedua orang itu berjalan ke arah semula dengan mengendap-endap. Si bocah masih menangis sedih. Dia memukuli dadanya sendiri sambil membanting-banting kakinya di atas tanah.

“Oh, saudaraku… mengapa kau diam saja? Kalau kawanan penjahat itu sampai balik lagi, bagaimana aku sanggup melawan mereka?” teriak bocah itu sambil meraung-raung.

Mendengar kata-kata si bocah, kedua anggota penyelundup garam itu semakin senang hatinya. Mereka segera mempercepat langkahnya. Kemudian keduanya menerjang ke hadapan si bocah sambil mengayunkan goloknya.

Si bocah sepertinya terkejut setengah mati, matanya membelalak lebar. Dalam waktu yang bersamaan, tampaklah sinar lain yang berkelebat lebih cepat lagi. Tahu-tahu batang leher si penjahat yang pertama sudah terbabat putus, kemudian disusul dengan rekannya yang koyak perutnya sehingga ususnya amburadul keluar.

Saat itu juga si brewok bangkit dan tertawa terbahak-bahak. Si bocah sebaliknya masih menggerung-gerung sambil berkata.

“Aduh, sahabat-sahabatku, kasihan sekali nasib kalian. Mengapa kepalamu menggelinding? Dan kau… mengapa perutmu terbuka lebar? Mengapa kalian menghadap raja Giam lo-ong? Siapa yang akan menyampaikan kabar baik ini kepada keluarga dan rekan-rekanmu? Celaka?” Berkata sampai di sini, bocah itu tidak dapat menahan kegelian hatinya sehingga tertawa terbahak-bahak.

Si brewok ikut-ikutan tertawa.

“Hai setan cilik, kau memang cerdas sekali. Kalau kau tadi tidak pura-pura menangis tadi, tentu kedua telur busuk ini tidak akan kembali lagi menyerahkan jiwanya!”

“Apa susahnya pura-pura menangis? Biasanya kalau emak akan menghajar dengan rotan, cepat-cepat aku menangis sekeras-kerasnya sehingga emak tidak tega menghajar aku keras-keras,” kata si bocah.

“Kenapa ibumu suka memukulmu?”

“Sebabnya tidak pasti. Kadang-kadang karena aku mencuri uangnya. Kadang-kadang karena aku mempermainkan bibi Bin dan paman Yu….”

Si brewok menarik nafas panjang.

“Kalau kedua mata-mata ini tidak mati, urusannya pasti gawat. Eh, kenapa ketika menangis tadi kau tidak memanggil aku tuan atau paman, tapi hanya saudara saja?”

“Kau kan sahabatku, sudah seharusnya aku memanggilmu saudara! Tuan, apa kau kira dirimu? Kalau kau ingin aku memanggilmu tuan, setanlah yang akan melayanimu!”

Si brewok tertawa tergelak-gelak.

“Benar, benar! Eh, sahabat cilik, siapakah namamu?”

“Kau menanyakan she dan namaku yang mulia? Aku bernama Siau Po!”

“Bagus. Nama besarmu Siau Po, lalu apa she-mu yang mulia?”

“She… she mu… yang mulia…” Bocah itu tergagap-gagap. “She Wi.”

Si brewok tertawa semakin geli. Bocah itu mengatakan she-mu yang mulia. Hal itu membuktikan bahwa dia tidak tahu apa artinya, seperti burung yang membeo saja.

Sebetulnya bocah ini lahir di rumah pelesiran. Ibunya bernama Wi Cun Hoa. Siapa ayahnya, jangan kata dia, bahkan ibunya sendiri mungkin tidak tahu. Sampai sebesar ini, tidak pernah ada yang menanyakan asal-usulnya, baru hari ini si brewok menanyakannya. Karena bingung, dia pun menggunakan she ibunya sendiri. Bocah ini tidak pernah belajar membaca menulis. Dia mengetahui sebutan she dan nama yang mulia dari cerita-cerita kepahlawanan yang sering didengarnya.

“Dan… kau sendiri… siapa… nama besarmu dan… she-mu yang mulia?” tanya si bocah kemudian.

Si brewok tersenyum.

“Kau sudah menjadi sahabatku, tidak perlu aku menyembunyikan she dan namaku terhadapmu. Aku bernama Mau Sip-pat. Mau dari Mau rumput dan Sip-pat berarti delapan belas.”

Bocah itu mengeluarkan seruan tertahan dan langsung melonjak bangun.

“Aku… pernah mendengar bahwa pembesar negeri sedang mencarimu. Mereka ingin… menangkapmu karena dianggap penjahat besar!”

“Benar. Apakah kau takut kepadaku?” tanya Mau Sip-pat terus terang.

“Takut? Kenapa aku harus merasa takut? Lagipula aku tidak mempunyai harta ataupun uang. Apa sih artinya seorang penjahat? Bukankah Lim Ciong dan Bu Song dari cerita Sui Hu Coan juga orang-orang gagah yang terdiri dari para perampok?”

Mau Sip-pat senang sekali mendengar kata-kata Siau Po.

“Kau samakan aku dengan Lim Ciong dan Bu Song, orang-orang gagah yang terkenal itu? Bagus sekali…” katanya.

“Sekarang coba kau beritahu kepadaku, siapa yang mengatakan bahwa ada pembesar negeri yang ingin menangkapku?”

“Di dalam kota Yang Ciu penuh dengan selebaran yang mencari Mau Sip-pat. Dijelaskan pula, barang siapa yang dapat membunuhmu, hadiahnya lima ribu tail. Sedangkan bila hanya memberikan informasi tentang di mana dirimu berada, hadiahnya tiga ribu tail. Tapi jumlahnya juga sudah terhitung besar juga, bukan?”

Mau Sip-pat memperhatikan Siau Po dengan tajam. Bibirnya mencibir seperti memandang rendah. Tiba-tiba saja, timbul pikiran Siau Po. ‘Kalau aku mempunyai uang sebesar tiga ribu tail, tentu aku bisa menebus ibuku dari Li Cun Wan. Seandainya ibu tidak bersedia keluar dari tempat hina itu. Uang sebanyak itu pun cukup untuk membeli baju bagus dan hidup mewah selama beberapa tahun!’

Melihat Siau Po diam saja, pandangan mata Mau Sip-pat semakin tajam dan memperhatikan mimik wajahnya lekat-lekat. Siau Po dapat merasakan pandangannya yang mengandung kecurigaan. Hatinya menjadi kurang senang.

“Kenapa kau mengawasi aku seperti itu? Oh… kau pasti mengira aku akan melaporkan kau ke pembesar negeri agar mendapatkan hadiah besar itu, bukan?”

Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya.

“Memang benar! Jumlah hadiah itu begitu besar dan siapa orangnya di dunia ini yang tidak suka uang?”

“Sinting! Menjual sahabat. Buat apa kita membicarakan kegagahan?”

“Lho! Itu kan tergantung prinsipmu sendiri!”

“Kalau kau memang tidak percaya padaku, mengapa kau memberitahukan nama aslimu. Dandananmu sekarang jauh berbeda dengan selebaran yang tertempel di dalam kota. Kalau kau sendiri tidak mengatakannya, siapa yang bisa mengenalimu sebagai Mau Sip-pat?” teriak si bocah kurang senang.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa senang dan menderita harus kita cicipi bersama? Kalau nama saja perlu disembunyikan, bagaimana bisa disebut sebagai sahabat sejati?”

Mendengar kata-kata itu, perasaan jengkel dalam hati Siau Po terhapus seketika.

“Kau benar. Bagiku, jangan kata baru tiga ribu tail, tiga laksa tail pun tidak akan aku menjual sahabatku!”

Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi namanya juga anak-anak, ia tetap membayangkan betapa senangnya memiliki uang sebesar tiga ribu tail.

“Baiklah,” kata Mau Sip-pat.

“Sekarang kita tidur dulu. Besok pagi ada dua orang sahabatku lainnya yang akan datang mencari aku. Kami sudah mengadakan perjanjian untuk bertemu di bukit Tek Seng San. Perjanjian mati, sebelum bertemu siapa pun tidak boleh memisahkan diri!”

Siau Po sudah lelah dan mengantuk. Dia tidak begitu ambil perhatian atas kata-kata Mau Sip-pat. Begitu menyenderkan tubuhnya pada sebatang pohon, dia langsung tertidur pulas.

Advertisements

4 Comments »

  1. ini kan bukan bagian 12, ini malah bagian 1….

    Comment by normie — 25/07/2008 @ 4:23 am

  2. opss. Terima kasih atas koreksinya. Akan diperbaiki secepatnya.

    Comment by ceritasilat — 26/07/2008 @ 2:47 am

  3. Duke of mountain deer jilid 12 nya mana? Kok jilid 1 yang tertulis dijilid 12?

    Comment by Anonymous — 07/02/2010 @ 4:25 pm

  4. Kok sampai sekarang belum diperbaiki. Ini sudah tanggal 14 Mei, jilid 12 adalah jilid 1. Bila masuk ke 13, juga terasa tak nyambung dg akhir jilid 11 -ada adegan yg hilang..

    Comment by Riyo — 12/05/2012 @ 3:34 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: