Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (05)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:39 am

Rahasia Peti Wasiat (05)
Oleh Gu Long

“Habis apa isi peti itu?” tanya si nenek.

“Aku pun tidak tahu,” ucap It-hiong sambil menggeleng. “Aku hanya dipesan orang untuk menyampaikannya ke suatu tempat ….”

Lalu ia menceritakan apa yang dialaminya secara singkat.

Tampaknya Gu-lolo rada tertarik, “Apakah benar penuturanmu?”

“Seratus persen benar, masa kubohong?” jawab It-hiong tegas.

Sinar mata si nenek tampak menampilkan rasa gusar, “Hm, persaudaraan selama berpuluh tahun, tak tersangka dia juga mendustai diriku.”

“Pribadi Miau-lolo itu keji dan kejam, engkau justru harus waspada terhadapnya,” ujar It-hiong.

Tiba-tiba Gu-lolo tersenyum, “Cuma, kalau peti ini terus-menerus menjadi incaran mereka, hal ini menandakan nilainya tidak cuma sepuluh laksa tahil perak saja, bisa jadi berharga ratusan atau ribuan laksa.”

“Tidak,” cepat It-hiong menyangkal. “Menurut dugaanku, isi peti ini adalah sesuatu benda yang sangat penting dan bukan harta pusaka.”

“Peduli barang apa isi peti itu, jika mereka saling berebut, tidak boleh tidak aku pun ikut merampas juga,” kata Gu-lolo dengan tertawa.

“Tadi putramu sudah berjanji di muka, bilamana mereka kalah segera aku boleh pergi, Lolo sendiri adalah tokoh ternama, masa akan merusak nama baik sendiri?”

“Nenek adalah nenek dan mereka adalah mereka, yang berjanji akan melepaskanmu kan mereka dan bukan aku.”

“Kuharap engkau suka menimbangnya lebih mendalam,” kata It-hiong. “Jika peti ini menjadi incaran orang sebanyak itu, barang siapa memperolehnya berarti akan dijadikan sasaran pula oleh yang lain, peti ini pasti akan mendatangkan malapetaka bagimu.”

“Tidak menjadi soal, nyonya besar selamanya bernasib mujur dan berezeki besar, betapa hebat datangnya malapetaka juga akan buyar, tidak perlu kau khawatirkan bagiku,” kata Gu-lolo dengan tertawa. Habis bicara, sekali melangkah maju, kontan tongkatnya lantas menghantam.

Jangan sangka tongkat bambu itu sekecil itu, berada di tangan si nenek berubah menjadi sangat lihai dengan tenaga yang sukar diukur.

Liang It-hiong tidak berani meremehkan nenek ini, cepat ia mengelak dan menangkis dengan pedang pandak.

Pedang pandak itu sanggup memotong besi serupa merajang sayur, untuk menebas tongkat bambu sekecil itu tentu saja sangat mudah, sebab itulah tanpa pikir ia tangkis tongkat bambu lawan dengan maksud menebasnya hingga putus untuk membuatnya gelar.

Tak terduga Gu-lolo tidak setolol kelima anaknya, serangannya cepat, cara menarik kembali tongkatnya juga cepat. Begitu melihat pedang pandak It-hiong menebas, cepat ia tarik tongkat dan ganti dengan serangan lain, ia tutuk pinggang anak muda itu dengan ujung tongkat.

Cepat Liong It-hiong juga ganti jurus serangan, ia putar ke samping, berbareng pedang balas menusuk tenggorokan si nenek.

Gu-lolo terkekeh, ia mengegos dan tongkat bambu menyabet kaki lawan.

Cepat It-hiong melompat untuk menghindar, berbareng pedang menebas ke bawah, kembali tongkat bambu orang hendak dikutunginya.

Si nenek seperti sudah tahu sebelumnya, belum jurus serangan Liong It-hiong dilancarkan dia sudah tahu langkah lanjut anak muda itu. Keadaan demikian terjadi juga sekarang, baru saja It-hiong melompat ke atas, segera Gu-lolo ganti serangan pula, bukan cuma pedang It-hiong menebas tempat kosong, bahkan tongkat bambu terus menutuk lambungnya.

Sama sekali It-hiong tidak menduga begini cepat perubahan serangan si nenek, dalam keadaan terapung di udara tentu sulit baginya untuk menangkis, karena kepepet, kembali ia gunakan kotak hitam yang terantai di tangannya, kotak digunakan untuk menimpuk kepala lawan.

Serangan ini sangat nekat, yaitu biar gugur bernama musuh, karena merasa tidak mampu menghindari tusukan si nenek, terpaksa It-hiong berbuat nekat.

Pada detik yang paling gawat, yaitu ketika serangan masing-masing hampir mengenai sasarannya, sekonyong-konyong terdengar suara “plok” sekali.

Suara ini timbul dari pantat Gu-lolo seperti tertimpuk sesuatu benda.

Seketika nenek itu berjingkrak kesakitan sambil berteriak, “Aduh! Keparat, siapa yang menyerang orang secara gelap?”

Karena teriakan dan berjingkrak, dengan sendirinya tutukan tongkatnya tidak tepat mengenai sasaran melainkan cuma mengenai pinggul It-hiong yang tidak berbahaya, sebaliknya kotak hitam anak muda itu tidak mengenai kepala si nenek melainkan mengenai pundaknya.

“Bluk”, kontan Gu-lolo tertimpuk dan jatuh terjengkang.

It-hiong tahu ada orang diam-diam membantunya, ia sangat girang, tanpa ayal lagi ia terus angkat langkah seribu, lari ke depan secepat terbang.

Melihat It-hiong mau kabur, cepat Lotoa tadi melompat maju merintanginya sambil membentak, “Jangan lari!”

Berbareng kedua tangan lantas menyodok ke depan.

It-hiong mengelak ke samping, dampratnya dengan gusar, “Orang she Li, tadi kalian sudah kalah, apakah ucapanmu serupa kentut belaka?!”

Muka Lotoa menjadi merah dan urung menyerang lagi melainkan membiarkan It-hiong kabur.

Setelah berlari lari sekian jauhnya, waktu berpaling dan tidak terlihat dikejar Gu-lolo, tahulah It-hiong nenek itu terluka tidak ringan dan takkan menyusulnya. Ia lantas mengendurkan larinya, sembari melanjutkan perjalanan ia membatin, “Yang melukai nenek itu tadi entah si ‘cucakrawa’ atau si ‘aku bukan cucakrawa’?”

Ia merasa lebih besar kemungkinan si “aku bukan cucakrawa” yang telah menolongnya. Namun hal ini membuatnya tidak mengerti juga. Tak terpikir olehnya siapakah yang sudi membantunya? Padahal setiap orang sama mengincar kotak yang dibawanya, mengapa ada seorang sengaja membelanya malah?

Ia tidak memikirkan lagi hal ini, sebab sekarang timbul lagi tanda tanya yang lain, yaitu tentang Ni Beng-ay.

Nona itu baru berangkat sebentar saja, menurut perkiraan paling jauh baru dua-tiga li saja, padahal sekarang dirinya sudah menyusul lima-enam li jauhnya, mengapa bayangan si nona belum lagi kelihatan.

Jangan-jangan dia lari dengan sangat cepat? Rasanya hal ini tidak mungkin terjadi, sebab dia tidak mahir menunggang kuda, tentu tidak berani membedal kuda dengan terlampau cepat.

Atau mungkin dia tidak melalui jalan raya melainkan memilih jalan kecil?

Ini pun tidak mungkin. Pek-sin-liong adalah kuda yang cerdik, kuda ini takkan sembarangan membawa si nona ke jalan yang tidak benar, pula nona itu juga tidak dapat mengendalikannya.

Wah, jika begitu tentu terjadi sesuatu!

Berpikir sampai di sini, It-hiong menjadi gelisah, segera ia percepat lagi larinya, kembali dua-tiga li sudah dilaluinya dan bayangan Ni Beng-ay tetap tidak kelihatan, hal ini membuatnya tambah gugup dan cemas.

“Celaka, nona secantik itu, bilamana diculik oleh orang jahat, akibatnya tentu sukar dibayangkan. Tahu begini, tidak nanti kusuruh dia berangkat lebih dulu,” demikian pikirnya dengan khawatir.

Selagi bingung, tiba-tiba di kejauhan samping kanan sana ada orang berteriak padanya, “Hai, Liong-hiap, harap kemari!”

Tergetar hati It-hiong, cepat ia berhenti dan memandang ke arah suara, terlihat beberapa puluh tombak di dekat hutan sana ada seorang sedang menggapai padanya. Karena jaraknya agak jauh sehingga tidak tertampak jelas siapa dia, tapi segera disadarinya Ni Beng-ay pasti telah berada dalam cengkeraman orang itu.

Ia pikir jika kudekati dia, tentu dia akan memerasku dengan menggunakan Ni Beng-ay sebagai alat ancaman untuk memaksa kuserahkan kotak ini. Jika aku berlagak tidak tahu dan tetap melanjutkan perjalanan, dari sana diam-diam aku berputar balik untuk menolong si nona.

Pikiran itu bekerja dengan cepat, maka segera ia berlari lagi ke depan.

“Liong It-hiong, harap datang kemari!” kembali orang tadi berseru.

Namun It-hiong berlagak tuli, dan tetap lari ke depan.

Melihat anak muda itu tidak menggubrisnya orang itu berteriak pula, “Liong It-hiong, jika engkau tetap tidak kemari, segera kubunuh dulu kudamu ini!”

Mendengar ancaman ini, mau tak mau It-hiong harus menaruh perhatian, ia tahu pihak lawan mungkin takkan segera membunuh Ni Beng-ay, tapi untuk membunuh seekor kuda bisa saja dilakukannya dengan segera. Dengan sendirinya ia tidak mau kuda kesayangannya dibunuh orang, terpaksa ia putar balik dan lari ke hutan sana.

Jarak beberapa puluh tombak itu dalam sekejap saja sudah dicapainya, dilihatnya di depan adalah hutan yang lebat, orang yang berteriak itu adalah seorang kakek berbaju kelabu dan berwajah kurus tirus.

It-hiong berhenti satu tombak jauhnya di depan kakek itu, tanyanya, “Siapa Anda, mau apa memanggilku ke sini?”

Kakek itu tertawa mengekek, katanya pula, “Coba kemari, akan kuperlihatkan satu orang kepadamu.”

Habis berkata ia terus masuk ke dalam hutan.

Usia kakek ini lebih 60-an, perawakannya sedang, namun kelihatan kuat. Senjatanya yang tersandang di punggungnya adalah sepasang ruyung baja bersegi banyak, dipandang dari gerak-geriknya jelas dia seorang tokoh Bu-lim terkemuka.

It-hiong tahu orang yang hendak diperlihatkan kepadanya tentu Ni Beng-ay adanya, maka ia hanya tersenyum dan ikut masuk ke dalam hutan.

Tidak jauh, lebih dulu dilihatnya kuda putihnya tertambat di batang pohon dan asyik makan rumput.

Menyusul lantas terlihat Ni Beng-ay.

Nona itu terikat pada batang pohon dan sedang menangis sedih, melihat kedatangan It-hiong segera ia menjerit, “Oo, lekas menolongku Liong-kongcu!”

Tapi si kakek berbaju kelabu mendahului melompat ke samping Beng-ay, ia ancam tenggorokan si nona dengan sebilah belati, katanya sambil terkekeh. “Hehe, Liong It-hiong, apakah kau minta nona ini tetap hidup atau mati?”

Dengan tak acuh, It-hiong bersandar di pohon, ucapnya dengan melirik hambar, “Numpang tanya dulu, siapa namamu yang terhormat?”

“Maaf, aku-tidak perlu memberitahukan nama segala,” jawab si kakek dengan tertawa licik.

“Oo, jika begitu, tampaknya engkau toh mempunyai perasaan malu juga,” ujar It-hiong dengan tersenyum.

“Betul, selama hidupku memang tidak pernah berbuat rendah seperti ini,” kata si kakek. “Tapi hari ini demi mendapatkan kotak itu, terpaksa kulakukan cara begini, kuharap engkau dapat memakluminya.”

“Jika tidak kuserahkan kotak ini lalu bagaimana?”

“Jika begitu, kukira kau tahu apa yang akan kulakukan.”

“Apakah engkau mempunyai anak kunci untuk membuka belenggu di tanganku ini?” tanya It-hiong.

“Ada,” jawab si kakek.

“Miau-lolo dan lain-lain tidak punya anak kunci, sebaliknya engkau punya, ini menandakan betapa erat hubunganmu dengan peti ini,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Memang betul,” ujar si kakek baju kelabu.

“Baiklah, coba lemparkan anak kuncimu,” pintu It-hiong.

Air muka si kakek menampilkan rasa girang, katanya, “Sudah kau putuskan akan kau serahkan kotak hitam itu kepadaku?”

“Omong kosong,” semprot It-hiong sambil berkerut kening. “Jika tidak kuberikan peti ini, untuk apa kuminta anak kuncinya kepadamu?”

Dengan girang si kakek lantas mengeluarkan serenceng anak kunci, katanya dengan tertawa, “Di sini ada lima buah anak kunci, sengaja kubuat setelah mempelajari berbagai gembok, kuyakin satu di antaranya pasti dapat membuka belenggu itu, boleh kau cobanya satu per satu.”

Segera ia melemparkan serenceng anak kunci itu.

Dengan cekatan It-hiong menangkapnya dan dipandang sekejap, katanya dengan tertawa, “Melihat bentuknya hampir semuanya serupa.”

“Ya, semua anak kunci itu dibuat khusus untuk membuka belenggu tangan, maka bentuknya hampir sama.”

It-hiong tidak segera mencoba anak kunci itu, sambil mengangkat serenceng anak kunci ia berkata, “Jika tidak dapat kubuka janganlah kau salahkan diriku lho?!”

Suara si kakek berubah ketus, katanya, “Bila tidak dapat membukanya, terpaksa harus merepotkan dirimu agar berusaha memotong rantainya, pokoknya hari ini harus kudapatkan kotak itu, kalau tidak takkan kubebaskan nona ini.”

“Ai, kenapa tidak kau pikirkan, bilamana dapat kupotong rantai borgol ini, mana kumau menunggu sampai sekarang?” ujar It-hiong.

“Hm, tidak perlu berlagak bodoh,” jengek si kakek. “Aku sudah tahu engkau baru mendapatkan sebilah pedang pusaka dari Sun Thian-tek.”

“Hah, cepat juga berita yang kau dapatkan,” seru It-hiong dengan tertawa.

“Sudahlah, tidak perlu banyak cincong, lekas buka belenggu itu,” dengus si kakek tak sabar.

It-hiong mengangkat pundak, katanya, “Sekarang kotak ini akan segera jatuh ke tanganmu, maka aku jadi ingin tahu juga apa isi kotak ini, sudikah kau katakan padaku?”

“Tidak, lebih baik engkau tidak tahu, sebab bilamana kau tahu tentu berbahaya bagimu dan tiada faedahnya,” ujar si kakek.

“Miau-lolo dan lain-lain sama tahu, mengapa aku tidak boleh tahu?” tanya It-hiong.”

Si kakek tidak menjawabnya lagi melainkan memandang belati yang mengancam di tenggorokan Ni Beng-ay, jengeknya, “Ayo, jika tidak lekas kau buka segera kutubles lehernya.”

“Baik, baik, segera kubuka!” seru It-hiong cepat.

Ia pilih sebuah anak kunci dan dimasukkan ke dalam mata kunci serta diputar ke kanan dan ke kiri, lalu katanya, “Yang ini tidak cocok.”

“Coba yang kedua,” kata si kakek.

Segera It-hiong memasukkan lagi anak kunci kedua dan diputar, katanya sambil menggeleng kepala, “Ini pun tidak bisa.”

“Coba lagi yang ketiga,” seru kakek itu.

Ketika anak kunci ketiga dimasukkan lagi oleh It-hiong, sekali putar, “klik”, belenggu itu segera terbuka.

“Hah, bagus, sekarang lekas lemparkan padaku kotak itu bersama belenggunya,” seru si kakek dengan girang.

Melihat borgol yang sudah terbuka itu, seluruh tubuh It-hiong merasa terbebas dari tekanan berat. Tapi apa yang dirasakannya sesungguhnya bukan keringanan, hatinya justru merasa malu, merasa menyesal karena tidak dapat melaksanakan pesan Si Hin yang sudah mati itu.

Diam-diam ia berdoa, “Si Hin, demi untuk menyelamatkan nyawa seorang nona, terpaksa harus kuserahkan kotak ini kepada orang lain, hendaknya engkau memaafkan kesalahanku ini. Bilamana kotak ini dapat kurebut kembali, tentu akan kutunaikan tugas bagimu.”

Habis berdoa barulah ia melepaskan belenggunya dan bersama kotak hitam itu dilemparkannya kepada si kakek berbaju kelabu.

Si kakek merangkap belenggu itu dan langsung dipasang pada pergelangan tangan kiri sendiri, lalu menjulurkan tangan dan berkata pula, “Dan anak kunci itu!”

Tanpa rewel It-hiong melemparkan lagi anak kunci yang diminta.

Setelah menyimpan anak kunci dalam baju barulah berkata dengan tertawa, “Terima kasih. Hendaknya jangan kau kejar diriku, bila tidak menurut nasihat, kesempatanku untuk mencelakai nona ini selalu ada.”

Habis berkata mendadak ia melompat ke pucuk pohon, dengan Ginkangnya yang sangat tinggi ia terus melayang pergi.

It-hiong menyusul ke atas pohon, dilihatnya dalam sekejap saja kakek itu sudah melayang beberapa tombak jauhnya, betapa tinggi Ginkang orang sungguh jarang dilihatnya selama hidup ini.

Mau tak mau It-hiong merasa ragu untuk mengejar, pikirnya, “Tua bangka ini jelas bukan tokoh sembarangan, sekalipun dapat kususul dia juga belum tentu mampu merampas kembali kotak itu. Yang paling penting sekarang harus kulepaskan Ni Beng-ay dulu.”

Segera ia melompat turun dan mendekati Ni Beng-ay, ia potong tali ringkusan nona itu dengan pedang pandak yang tajam itu.

Begitu bebas serentak Ni Beng-ay menjatuhkan diri dalam pelukan It-hiong dan menangis sedih.

“Jangan menangis,” hibur It-hiong. “Sekarang segalanya sudah beres, tidak apa-apa lagi, jangan menangis!”

“Tapi aku telah … telah membikin kotakmu dirampas orang,” ratap Beng-ay.

“Tidak menjadi soal,” kata It-hiong. “Kotak itu barang mati, manusia kan makhluk hidup, meski kehilangan sebuah kotak, tapi dapat kuselamatkan nyawa seorang, kan cukup berharga?”

“Tidak boleh berkata demikian, sebab peti itu memang kepunyaanmu,” ucap Beng-ay dengan tersendat.

“Jika kepunyaanku terlebih tidak menjadi soal lagi.”

“Lekas kau kejar ke sana, coba, barangkali dapat menyusulnya dan merampas kembali peti itu.”

“Tidak, sudah tidak keburu lagi, Ginkang tua bangka itu sangat hebat, saat ini mungkin sudah beberapa li jauhnya.”

“Wah, lantas bagaimana baiknya?” ujar Beng-ay.

“Jangan khawatir, perlahan nanti kucari tahu, setelah mengetahui siapa namanya tentu dapat kucari dia untuk minta kembali peti itu.”

“Dapat kau temukan nama dan tempat tinggalnya?” tanya si nona.

It-hiong mengangguk, “Kukira tidak sulit. Ginkangnya sangat tinggi, senjata andalannya berbentuk ruyung baja istimewa, berdasar ke dua ciri ini mungkin tidak sulit untuk mencari keterangan tentang dia.”

“Sungguh tidak tahu malu dia,” omel Beng-ay dengan gemas. “Dia menggunakan diriku untuk memerasmu menyerahkan peti itu. Jika dia punya kepandaian, tidak seharusnya dia menggunakan cara serendah itu.”

“Di dunia persilatan, orang yang tidak tahu malu terlampau banyak, pada umumnya orang tua tadi belum termasuk terlalu busuk ….”

“Masa begitu perbuatannya tidak termasuk orang busuk?” Beng-ay menegas dengan melongo.

“Ya, ada sementara orang selain merampas harta juga memerkosa,” kata It-hiong. “Padahal dia hanya mengincar kotak saja dan tidak mengganggu dirimu, ini menandakan dia tidak terlampau busuk.”

Tiba-tiba It-hiong mengangkat dagu si nona, tanyanya dengan tertawa, “Dia kan tidak sembarangan mengganggumu?”

“Ya, tidak,” jawab Beng-ay dengan muka merah.

“Makanya kubilang dia tidak terlampau busuk,” kata It-hiong. “Cara bagaimana dia menculikmu ke sini?”

“Waktu itu aku sedang melarikan kuda putih, mendadak dia menyusul tiba, tali kendali direbutnya terus dibawanya lari, keruan aku ketakutan setengah mati, sekencangnya kupegang pelana kuda ….”

“Dan akhirnya engkau dibawa ke sini?” tukas It-hiong dengan tertawa.

“Ya setiba di sini aku lantas diseret turun dan diikat di batang pohon, aku diancam agar jangan berteriak minta tolong, kalau tidak aku akan dibunuhnya.”

“Mengapa engkau tidak pingsan ketakutan?” tanya It-hiong dengan tersenyum.

“Ya, aku sendiri tidak tahu,” jawab Beng-ay.

“Apa lagi yang dibicarakannya padamu?”

“Dia tidak bicara apa-apa.”

It-hiong berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Marilah kita berangkat.”

Habis itu ia lantas memondong si nona.

Agaknya Beng-ay sudah mulai terbiasa dengan ulah Liong It-hiong yang urakan itu, ia membiarkan tubuhnya dipondong dan tidak melawan.

Setelah membawa si nona ke atas kuda, segera It-hiong membedal kuda putih itu keluar hutan dan meneruskan perjalanan.

Serupa anak kecil meringkuk dalam pangkuan sang ibu, Beng-ay terus mendekap di dada It-hiong dan memejamkan mata. Sejenak kemudian barulah ia mengangkat kepala dan berkata, “Eh, tadi apakah dapat kau hajar lari kelima bandit itu?”

“Telah kukalahkan mereka, cuma mereka tidak lari, akulah yang lari,” tutur It-hiong.

“Mengapa bisa begitu?” tanya Beng-ay.

“Waktu aku hendak meninggalkan mereka, ibu kelima Li bersaudara yang berjuluk Kang-pak-go-hou itu, Gu-lolo, mendadak muncul. Haha, bicara tentang nenek Gu ini sungguh sangat menggelikan. Ilmu silatnya tidak di bawah Miau-lolo, dia juga tokoh termasyhur di dunia persilatan, dia kelihatan sangat sayang kepada putranya yang ketiga, yaitu Losam yang dogol itu.”

Beng-ay tertawa geli, “Hihi, jahanam itu memang lucu, sudah sebesar itu, tapi perangainya serupa anak kecil saja, hanya diomeli beberapa kata oleh sang Toako segera ia menangis dan lari pulang mengadu kepada maknya.”

“Betul, bahkan begitu Gu-lolo datang, tanpa tanya ini-itu Lotoa terus dihajar olehnya,” sambung It-hiong.

Lalu ia menceritakan apa yang dilihatnya dan kemudian cara bagaimana bertempur dengan Gu-lolo itu.

Beng-ay heran dan sangsi mendengar ada lagi orang yang diam-diam membantu anak muda itu, tanyanya, “Siapa orang itu?”

“Kukira dia adalah orang yang mengaku ‘aku bukan cucakrawa’ itu.”

“Mengapa dia berturut-turut membantumu?” tanya pula si nona.

“Aku pun tidak tahu,” jawab It-hiong.

“Kuyakin pasti ada alasannya!” ujar Beng-ay.

“Tentu saja, dia pasti orang iseng dan penganggur yang sengaja menguntit diriku tanpa maksud tujuan.”

Tanpa terasa Beng-ay memandang sekejap ke belakang, katanya, “Kau bilang dia menguntit dirimu secara diam-diam?”

“Betul,” jawab It-hiong.

“Sekarang juga masih menguntitmu?” si nona menegas.

“Kotak hitam itu sekarang sudah dibawa pergi si kakek baju kelabu, apakah dia masih menguntitku atau tidak tentu saja kurang jelas.”

“Orang ini juga sangat aneh sehingga sukar diraba apa maksud tujuannya,” kata Beng-ay. “Jika dibilang sasarannya terletak pada kotak hitam itu, buat apa pula berulang dia membantumu menghalau musuh? Kalau dikatakan tujuannya bukan terletak pada kotak itu, lalu untuk apa dia terus membuntutimu?”

“Ya, memang aneh,” tukas It-hiong.

“Makanya kukira cuma dapat disimpulkan yaitu dia mungkin seorang pendekar berbudi, lantaran tahu banyak orang hendak merampas kotakmu, maka diam-diam dia melindungimu.”

“Jika demikian, tadi waktu si kakek baju kelabu membawa lari kotak itu, kenapa dia tidak mau keluar untuk merintanginya!”

“Ya, betul, jika dia bermaksud baik, seharusnya tadi dia muncul mencegah perampasan itu dan takkan membiarkan kakek baju kelabu itu kabur begitu saja.”

“Makanya kukira dia juga bukan manusia baik-baik,” ujar It-hiong.

“Sekarang kotak itu sudah dirampas orang, apakah engkau masih akan menemaniku ke Wanpeng?” tanya Beng-ay.

It-hiong mengangguk, “Tentu saja, menolong orang tidak boleh kepalang tanggung, apalagi nona lemah seperti dirimu, rasanya sulit sekali menempuh perjalanan sejauh ini ke Wanpeng.”

Saking terima kasihnya sampai Beng-ay mencucurkan air mata, katanya, “Sedemikian baik engkau terhadapku, entah cara bagaimana harus kubalas budimu.”

“Asalkan selanjutnya engkau tidak menangis lagi kan berarti sudah membalas kebaikanku,” kata It-hiong dengan tertawa.

Beng-ay melenggong, tanyanya, “Apa arti ucapanmu?”

“Soalnya aku paling takut melihat anak perempuan menangis, terutama anak perempuan cantik, sebab hal ini menimbulkan rasa putus asa bagiku seakan-akan dunia sudah hampir kiamat.”

“Hus, engkau ini suka omong tidak genah,” omel Beng-ay.

“Betul, aku lebih suka melihat orang perempuan tertawa dan tidak senang melihat orang perempuan menangis.”

Beng-ay lantas mengusap air mata, katanya, “Kupikir, biarlah kupergi sendiri ….”

“Sebab apa?” tanya It-hiong.

“Kukhawatir bikin runyam urusanmu yang lebih penting, seharusnya kau pergi mencari kakek berbaju kelabu itu untuk minta kembali petimu.”

“Peti adalah benda mati, manusia kan makhluk hidup, kupikir lebih penting harus menyelamatkan manusianya.”

“Dan sekarang aku sudah selamat, asalkan kau pinjami aku beberapa tahil perak untuk ongkos, aku dapat melanjutkan perjalanan sendirian.”

“Tidak boleh!”

“Boleh saja.”

“Tidak, mutlak tidak boleh,” kata It-hiong sambil menggeleng.

“Siapa bilang? Beng-ay tetap ngotot.

“Sian-li yang bilang,” kata It-hiong.

Si nona mengikik tawa, “Hm, jangan kau kira Sian-li akan membahagiakanmu, ingin kukatakan padamu, aku … aku ….”

“Engkau kenapa?” It-hiong menegas.

“Aku takkan nikah denganmu,” jawab Beng-ay dengan tertawa malu.

“Haha,” It-hiong tergelak. “Belum lagi kulamar dirimu, kenapa engkau menjadi gugup?”

“Kukira harus kubicarakan dulu di muka agar nanti tidak membuatmu kecewa.”

“Jika begitu, perlu juga kukatakan satu hal padamu,” ujar It-hiong. “Selama ini belum terpikir olehku akan berkeluarga, kelak juga tidak. Aku cuma suka pada anak perempuan, tapi tidak ingin hidungku dicocok anak perempuan dan dibawa kian kemari serupa kerbau.”

“Jika begitu, mengapa kau mau mengiringiku ke Wanpeng?”

“Jika engkau tidak paham, bolehlah kau anggap aku ini orang tolol yang mau berbuat bodoh, kan beres?”

Mendadak Beng-ay menegakkan tubuhnya dan menuding kota yang kelihatan di depan, “Eh, lihat, apakah itu kota Ko-yu!”

“Betul,” It-hiong mengangguk.

“Engkau benar hendak mengiringiku ke Wanpeng?”

Kembali It-hiong mengiakan dengan mengangguk.

“Jika begitu, biarlah hari ini kita istirahat dulu di Ko-yu, dan besok baru melanjutkan perjalanan.”

“Apa alasanmu?” tanya It-hiong.

“Pinggang pegal dan tulang linu,” keluh si nona.

“Betul juga, orang yang pertama kali menunggang kuda memang akan mengalami gejala demikian,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Baiklah, boleh kita menginap semalam di hotel, esok pagi kita melanjutkan perjalanan.”

Tengah bicara, gerbang kota sudah kelihatan dari dekat.

Melihat orang yang berlalu-lalang mulai banyak, It-hiong lantas melompat turun dan membiarkan Beng-ay menunggang kuda sendirian.

Tidak lama sampailah mereka di depan gerbang kota, It-hiong menuntun kuda ke dalam kota.

Saat itu tepat tengah hari, jalan kota kelihatan ramai, beberapa buah rumah makan penuh tamu yang sedang makan siang.

It-hiong menyusuri jalan raja itu dan sampai di sebuah hotel yang agak mentereng, dilihatnya tingkat bawah hotel merangkap menjadi restoran, ia berhenti dan berkata kepada Beng-ay, “Bagaimana kalau kita tinggal di hotel ini?”

“Baiklah,” jawab si nona sambil merosot ke bawah.

Segera pelayan hotel menyongsong kedatangan mereka, sapanya dengan berseri, “Silakan duduk di dalam, di hotel kami tersedia kamar kelas satu, juga ada santapan yang paling lezat, bahkan harga pantas ….”

It-hiong menyodorkan tali kendali kuda kepalanya sambil berkata, “Kami ingin bermalam, berikan dua kamar kelas utama.”

Berulang pelayan mengiakan dan cepat membawa pergi kuda putih itu dan ditambat pada tempatnya, lalu membawa It-hiong berdua ke tingkat dua menuju sederetan kamar yang berhadapan dengan halaman, dibukanya dua kamar dan bertanya, “Apakah kedua kamar ini boleh?”

It-hiong mengangguk setuju.

Setelah membawa mereka ke dalam kamar, pelayan sibuk membawakan air minum, lalu bertanya pula, “Apakah Tuan tamu sudah makan siang?”

“Belum,” jawab It-hiong.

“Apakah perlu diantar ke kamar atau makan di bawah saja?” tanya pula si pelayan.

It-hiong berpaling dan tanya Beng-ay, “Kau suka makan di sini atau makan di bawah?”

Beng-ay pikir sejenak, katanya kemudian, “Kukira makan saja di sini, suruh mereka antar saja dua porsi bakmi kuah.”

Segera It-hiong menyampaikan pesan itu, katanya, “Nah, biar kami makan siang di sini saja, bawakan lauk-pauk lima sayur satu kuah, pilih masakan yang paling lezat.”

Pelayan mengiakan dengan hormat dan mengundurkan diri.

Beng-ay lantas menggerundel, “Makan semangkuk bakmi saja kau cukup, buat apa pesan lima macam sayur dan satu kuah lagi?”

It-hiong mengangkat pundak, katanya dengan tertawa, “Ya, memang menjadi ciriku, sok berlagak cukong di depan orang perempuan.”

“Aku justru tidak suka membuang duit,” ujar Beng-ay.

“Makanya kita tidak mungkin terikat menjadi suami-istri,” kata It-hiong dengan tersenyum.

“Aku kan bermaksud menghemat bagimu, masa caraku tidak baik?” kata si nona.

Selagi It-hiong hendak menjawab, dilihatnya si pelayan tadi datang lagi, tentu saja ia heran dan tanya ada apa.

Pelayan memberi hormat, katanya dengan tertawa, “Hendaknya Tuan tamu makan di bawah saja, sebab ada orang hendak mentraktir makan kalian.”

“Hah, masa ada kejadian sebaik ini, siapa yang akan mentraktir?” tanya It-hiong dengan tertawa.

“Seorang Siangkong, dia mengaku sebagai sahabat Tuan, maka hamba disuruh mengundang Tuan ke bawah,” tutur si pelayan.

“Dia tidak memberitahukan siapa namanya?” tanya It-hiong lagi.

“Ada, dia bilang namanya ‘aku bukan …’ apa begitu ….”

“Aku bukan cucakrawa?” It-hiong menegas.

“Aha, betul, dia mengaku bernama aku bukan cucakrawa!” seru si pelayan.

“Ehm, memang betul sahabatku, apakah dia sekarang berada di restoran bawah?” tanya It-hiong tertawa.

“Ya, betul. Siangkong sudah memesan santapan dan menunggu kedatangan Tuan berdua.”

It-hiong lantas memberi tanda kepada Beng-ay, katanya, “Mari kita turun!”

Beng-ay juga sangat ingin tahu siapa “aku bukan cucakrawa” itu, maka tanpa pikir ia ikut turun ke bawah loteng.

Setiba di dalam restoran, begitu tahu siapa si “aku bukan cucakrawa” itu seketika It-hiong berteriak, “Buset, kiranya kau!”

Rupanya orang yang mengaku sebagai “aku bukan cucakrawa” itu tak-lain-tak-bukan adalah Hou-hiap Pang Bun-hiong.

Saat itu Pang Bun-hiong lagi duduk dengan tersenyum, kipas lempit bergoyang perlahan, sikapnya tetap acuh tak acuh dan dugal.

It-hiong langsung mendekatinya, teriaknya sambil menuding hidung orang, “Hah, kiranya engkau terus-menerus menguntit diriku!”

Pang Bun-hiong tetap menggoyang kipasnya dengan tenang, ucapnya perlahan, “Perkelahian kita kan belum pernah berlangsung, bukan?”

“Kau bilang pada musim semi tidak mau meninggalkan daerah Kanglam?” tanya It-hiong.

“Memang betul, biasanya musim semi aku selalu tinggal di Kanglam,” jawab Bun-hiong. “Tapi sesudah kau pergi, tiba-tiba timbul hasratku untuk pergi ke utara, maka aku lantas menyusulmu.”

Bicara sampai di sini ia lantas berdiri dan memberi hormat dengan sopan kepada Ni Beng-ay, katanya, “Silakan duduk, nona!”

Si nona memandang It-hiong dengan ragu.

It-hiong lantas memperkenalkan mereka, “Dia she Pang, namanya Bun-hiong, di dunia Kangouw terkenal sebagai Hou-hiap, seorang yang suka ikut campur urusan tetek bengek.”

Bun-hiong tidak marah, kembali ia memberi hormat kepada Beng-ay, katanya, “Betul, aku Pang Bun-hiong, harap nona sering-sering memberi petunjuk.”

“Sesungguhnya kalian ini kawan atau lawan?” tanya Beng-ay dengan bingung.

“Boleh dikatakan kedua-duanya,” jawab Bun-hiong dengan tertawa. “Sesuai perjanjian, kelak kami pasti akan berkelahi, bisa jadi dia akan membunuhku, mungkin juga aku yang akan membinasakan dia.”

Setelah berhenti sejenak, lalu sambungnya pula, “Eh, silakan duduk, kan lebih enak bicara sambil berduduk …. Hei, pelayan, ambilkan teh!”

Waktu pelayan membawakan teh, It-hiong dan Beng-ay sudah berduduk di sebelah Bun-hiong.

Sesudah pelayan pergi, segera It-hiong menepuk pundak Bun-hiong dan menegur, “Coba jawab, engkau yang membantu melukai Kiong-su-sing Sun Thian-tek, bukan?”

Bun-hiong menggeleng, “Bukan, yang berbuat itu ialah si cucakrawa.”

“Siapa itu si cucakrawa?” tanya It-hiong.

“Ialah si pencuri kuda itu.”

“Siapa pula si pencuri kuda?”

“Si kakek berbaju kelabu,” tutur Bun-hiong dengan tertawa.

“Hah, dia!” seru It-hiong sambil menggebrak meja. “Maknya, kiranya dia!”

Bun-hiong melirik Beng-ay sekejap, katanya dengan tertawa, “Hei, saudara, ada nona hadir di sini, kalau bicara janganlah pakai kata kotor.”

“Kau kenal kakek itu?” tanya It-hiong.

“Tidak,” Bun-hiong menggeleng.

“Perawakannya sedang, Ginkangnya sangat tinggi, dia membawa senjata sepasang ruyung baja bersegi,” tutur It-hiong.

“Kutahu, semuanya sudah kulihat.”

“Yang melukai Gu-lolo juga dia?” tanya It-hiong pula.

“Bukan, akulah yang melukai Gu-lolo,” kata Bun-hiong.

“Kemudian engkau membuntuti aku ke hutan itu?”

Bun-hiong mengangguk, “Ya, betul.”

Mendadak It-hiong menarik muka, “Jika sudah menguntit ke situ, mengapa tidak kau cegat dia pada saat dia hendak kabur?”

Bun-hiong tersenyum, “Semula aku pun bermaksud bertindak begitu, tapi setelah kupikir, daripada kucegat dia kan lebih baik kubuntuti dia ….”

“Hah, betul juga,” seru It-hiong dengan tertawa, dari dongkol ia menjadi gembira. “Dan jadi kau buntuti dia?”

“Ya,” sahut Bun-hiong.

“Lekas ceritakan, sekarang dia berada di mana?” desak It-hiong.

“Sabar dulu,” ujar Bun-hiong. “Nanti, habis makan tentu akan kukatakan padamu …. Auhh, ada apa kau?”

Rupanya mendadak It-hiong telah menjambret dada bajunya sambil membentak, “Ayo, katakan atau tidak?”

“Ai, kenapa kau jadi terburu-buru begini?” ujar Bun-hiong dengan tertawa. “Habis makan siang nanti akan kubawa engkau mengunjungi dia, boleh?”

It-hiong melengak, “Jadi tempat tinggalnya berada di sekitar sini?”

“Tidak, ia bermalam di suatu hotel kecil di kota ini,” tutur Bun-hiong. “Sebelum hari gelap kukira dia takkan meninggalkan kota.”

“Dari mana kau tahu?” tanya It-hiong sambil melepaskan cengkeramannya.

“Dapat kudengar,” tutur Bun-hiong. “Ia pernah memberi pesan kepada pelayan hotel, katanya malam nanti ada seorang perempuan akan mencarinya, pelayan disuruh membawa perempuan itu menemuinya di hotel, maka kuyakin sebelum malam tiba tidak nanti dia meninggalkan pondokannya.”

Baru tenang hati It-hiong setelah mendapat keterangan ini, segera ia tanya lagi, “Dia memondok di hotel mana?”

Bun-hiong tidak menjawab, sebab pada saat itu pelayan datang membawakan santapan, sesudah pelayan meladeni segala sesuatu yang diperlukan dan mengundurkan diri, segera Bun-hiong menuangkan arak bagi It-hiong dan Beng-ay, sembari menuang arak sambil bertanya, “Apakah kalian bermaksud bermalam di kota ini?”

“Betul,” jawab It-hiong. “Untuk pertama kalinya nona Ni naik kuda, akibatnya pinggang linu dan bonyok pegal, maka kami bermaksud bermalam dulu di sini.”

Bun-hiong tertawa dan berseloroh, “Wah, engkau kejam benar, sungguh tidak berperikemanusiaan, anak gadis lemah lembut serupa nona Ni masakah kau suruh menunggang kuda dan dilarikan secara semena-mena?”

“Kalau tidak menyuruhnya naik kuda, memangnya suruh dia berjalan kaki?”

“Kan dapat kau sewa sebuah tandu baginya?” kata Bun-hiong.

“Haha, hebat juga gagasanmu,” seru It-hiong sambil tergelak. “Tapi belum pernah kulihat orang menumpang tandu untuk perjalanan beribu li jauhnya.”

“Ya, sedikitnya kan dapat kau sewakan kereta,” kata Bun-hiong pula.

“Kami bertemu di kelenteng yang terpencil itu, dari mana dapat menyewa kereta?” kata It-hiong.

“Di kota ini pasti ada,” ujar Bun-hiong. “Mari minum!”

Mendadak Beng-ay berdiri dan berkata, “Maaf, kalian makan dulu, aku mau ke kamar sebentar, segera kukembali.”

It-hiong tidak mencegah, katanya, “Baiklah, silakan!”

Segera Beng-ay meninggalkan mereka dan naik ke loteng.

Sambil memegangi cawan arak, pandangan Bun-hiong terus mengikuti langkah Beng-ay yang lemah gemulai itu, lalu menghela napas dan berkata, “Sungguh mujur kau, selama ini belum pernah kutemui anak gadis secantik ini.”

“Sayang ia tidak paham ilmu silat,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Kan dapat kau ajari dia?” ujar Bun-hiong.

“Tidak, tidak mau lagi aku berbuat hal-hal yang bodoh,” kata It-hiong sambil menggeleng. “Aku hanya akan mengantar dia sampai di Wanpeng saja, habis itu segera kuucapkan selamat tinggal padanya.”

Tampaknya hal ini sangat di luar dugaan Bun-hiong, tanyanya, “Apa engkau tidak suka padanya?”

“Jika dia bukan anak perempuan dari keluarga baik-baik tentu aku akan main-main dengan dia,” kata It-hiong. “Tapi dia justru anak perempuan keluarga baik, inilah yang membuatku repot. Kau tahu, main cinta dengan anak perempuan keluarga baik-baik kan terlampau merepotkan, harus mengeluarkan perasaan tulus, aku justru tidak punya waktu luang untuk bercinta cara begini.”

“Jika engkau tidak menghendaki dia, bagaimana kalau serahkan padaku?” tanya Bun-hiong dengan tertawa.

“Tidak bisa,” seketika It-hiong mendelik. “Orang macam dirimu sudah telanjur bangor, engkau tidak cocok untuk menjadi suaminya.”

Bun-hiong angkat cawan dan sama habiskan secawan bersama It-hiong, lalu bersantap sambil berkata, “Meski aku suka main perempuan, tapi anak perempuan dari keluarga baik-baik tidak nanti kupermainkan, jangan kau khawatir.”

“Tidak, tidak dapat dipercaya,” It-hiong menggeleng.

“Ah, jangan kau ukur dirimu dengan orang lain,” jengek Bun-hiong.

“Ingin kuperingatkan padamu, jika berani kau goda dia, hm, lihat saja kalau tidak kuhajar mampus dirimu.”

“Haha, tampaknya engkau toh sangat suka padanya!” Bun-hiong tertawa.

“Aku ibaratnya seorang tukang kebun belaka, kupandang dia sebagai sekuntum bunga yang indah dan suci bersih, aku tidak suka melihat dia sembarangan dipetik dan dirusak oleh tangan kotor.”

“Haha, kau salah,” seru Bun-hiong dengan terbahak. “Memang betul perempuan diibaratkan sebagai bunga, tapi bila tidak kau sayangi dia tentu dia akan layu dan kering, lalu apa artinya bunga yang indah itu?”

It-hiong lantas bersantap juga, katanya, “Kisah hidupnya harus dikasihani, dia perlu suatu rumah tangga yang bahagia, tapi kita ini bukan calon yang baik baginya, maka jangan bicara lagi urusan ini.”

“Apakah dia juga jatuh hati padamu?” tanya Bun-hiong.

“Entah, aku tidak tahu.”

“Pada umumnya bilamana seorang perempuan merasa utang budi kepada seorang penolongnya, biasanya lantas menyerahkan dirinya ….”

“Sudahlah, kuminta jangan bicara lagi tentang dia. Marilah kita minum saja,” sela It-hiong.

Kembali Bun-hiong mengangkat cawan bersama It-hiong, katanya kemudian dengan tersenyum, “Bicara terus terang, aku rada mencurigai dia ….”

“Aku juga,” tukas It-hiong. “Cuma setelah kulihat dia diikat di pohon oleh kakek berbaju kelabu itu, aku lantas tidak sangsi lagi.”

Mendadak ia ganti pokok bicara, tanyanya dengan tertawa, “Eh, coba katakan, dengan barang apa kau lukai Gu-lolo?”

“Hanya sepotong batu kecil saja,” tutur Bun-hiong dengan tertawa.

“Tapi kudengar suaranya cukup keras.”

“Hal itu disebabkan pantatnya terlampau tebal.”

“Kuyakin Kungfunya sudah mencapai tingkatan yang sempurna, jika tidak ada bantuanmu, mungkin aku tidak sanggup menahan seratus jurus serangannya.”

“Meski Kungfunya sangat tinggi, tapi kecerdikannya jauh di bawah Miau-lolo,” ujar Bun-hiong dengan tertawa.

“Betul,” kata It-hiong. “Miau-lolo sungguh tidak tahu malu, ia hendak memperalat Gu-lolo untuk merampas kotak hitam itu.”

“Menurut penilaianku, Koh-ting Totiang, Kim-kong Taysu dan Sun Thian-tek cukup kesatria,” ujar Bun-hiong. “Begitu kalah segera mereka angkat kaki, sungguh harus dipuji.”

It-hiong tertawa dan berkata, “Malahan aku mendapat untung sebilah pedang pandak dari Sun Thian-tek, kau tahu?”

“Tahu,” Bun-hiong mengangguk. “Tak kusangka kepandaianmu main catur sedemikian tinggi, bila ada kesempatan kita pun harus coba-coba main.”

“Aku dapat memberi sebiji benteng padamu,” ucap It-hiong dengan tertawa angkuh.

“Ah, sebaiknya engkau jangan sok, kalau tidak, bukan mustahil Siau-hi-jong bisa jatuh ke dalam tanganku,” Bun-hiong berseloroh.

Ia menenggak araknya lagi, lalu memandang ke arah tangga dan berkata, “Aneh, mengapa begitu lama dia pergi?”

“Ssst, mungkin ke kamar kecil,” desis It-hiong.

“Kenapa tidak kau susul dan coba melihatnya?” ujar Bun-hiong.

“Tidak perlu,” It-hiong menggeleng. “Kotak hitam itu sudah tidak berada padaku, tidak ada orang yang mau menculiknya lagi.”

“Aku justru khawatir dia mengeluyur pergi?” kata Bun-hiong.

It-hiong melengak, “Mengeluyur pergi? Masa dia bisa mengeluyur pergi sendiri?”

“Jika dia si burung cucakrawa itu, sangat mungkin dia akan meninggalkan dirimu di sini.”

“Tapi dia pasti bukan si cucakrawa,” ujar It-hiong. “Jika dia si cucakrawa, mana bisa kena diringkus oleh si kakek baju kelabu di pohon.”

“Tapi bilamana dia berkomplot dengan kakek itu?” ucap Bun-hiong sambil berdehem.

Tergetar juga hati It-hiong, katanya dengan sangsi, “Ah, kukira tidak … tidak sampai begitu.”

Bun-hiong tertawa, “Aku pun harap tidak, nona secantik itu, bilamana dia sekomplotan dengan si kakek baju kelabu, kan sayang sekali.”

Pikiran It-hiong menjadi gelisah, ia berdiri dan berkata. “Coba kulihat ke atas.”

Habis bicara segera ia berlari ke atas loteng.

Meski dia sangat tidak ingin mencurigai Ni Beng-ay adalah komplotan si kakek baju kelabu yang sengaja menjebaknya, tapi rasio memberitahukan kepadanya bahwa hal ini sangat mungkin terjadi. Maka buru-buru ia lari ke atas loteng, langsung menuju ke kamar si nona.

Kamar mereka berdampingan, dapat dilihatnya pintu kamar tertutup rapat, begitu sampai di depan pintu segera ia menggedor dan berteriak, “Nona Ni, engkau di dalam?”

Tapi tidak ada jawaban. Ia coba mendorong daun pintu dan melongok ke dalam, kamar kosong melompong, mana ada bayangan Ni Beng-ay. Cepat ia mendatangi kamar sendiri dan menggedor pintu pula sambil berteriak, “Nona Ni, engkau di dalam?”

Tetap tidak ada suara apa pun.

Cepat ia menolak pintu dan masuk ke dalam. Ni Beng-ay memang tidak terdapat di situ, keruan hati It-hiong serasa tenggelam, muka pun merah padam.

Apakah curiga Pang Bun-hiong itu menjadi kenyataan, Ni Beng-ay memang benar komplotan si kakek baju kelabu? Dengan cara licik mereka menjebaknya, setelah kotak hitam diperoleh segera nona itu kabur.

Seketika hati It-hiong panas seperti dibakar, ia termangu sejenak, mendadak ia berlari keluar kamar dan berteriak-teriak, “Siauji! Siauji!”

Seorang pelayan mengiakan dan lari tiba dengan tertawa ramah, “Tuan tamu minta apa?”

“Apakah kau lihat nona yang datang bersamaku itu?” tanya It-hiong.

Siauji atau pelayan itu mengangguk, “Ya, lihat. Baru saja dia turun melalui tangga belakang, katanya hendak keluar untuk belanja.”

“Belanja apa?”

“Entah, nona itu tidak menjelaskan, hamba tidak tahu,” jawab pelayan.

It-hiong diam saja, mendadak ia lari turun ke restoran, Pang Bun-hiong ditariknya sambil berkata, “Lekas kita pergi!”

“Pergi ke mana?” tanya Bun-hiong dengan bingung.

“Hotel kecil itu,” desis It-hiong.

“Di mana Ni Beng-ay?” tanya Bun-hiong dengan ragu.

“Hm, dia sudah minggat,” jengek It-hiong. “Jika tidak salah dugaanku, saat ini tentu dia sedang menuju ke hotel kecil yang kau katakan itu. Dia pasti hendak bergabung dengan kakek itu untuk merat bersama.”

“Oo, jadi dia memang berkomplotan dengan kakek berbaju kelabu itu untuk menipumu?” Bun-hiong menegas.

“Betul,” jawab It-hiong.

Mendadak Bun-hiong mengentak kaki dan berkata, “Wah, tamatlah sekali ini!”

“Apa maksudmu?” tanya It-hiong dengan terbelalak.

“Letak hotel kecil itu justru di gang belakang hotel ini,” seru Bun-hiong.

It-hiong menjadi gugup juga, cepat ia menarik Bun-hiong dan diajak lari keluar sambil berseru, “Ayo, lekas kita ke sana!”

Buru-buru mereka lari keluar restoran itu dan menuju ke persimpangan jalan sana.

Setiba di perempatan, Bun-hiong membawanya membelok ke jalan sebelah kanan, berpuluh langkah kemudian lantas membelok lagi ke gang di sebelahnya, lalu ia menunjuk sebuah hotel yang terletak tidak jauh dan berkata, “Nah, hotel itu!”

Hotel kecil itu bernama Kang-pak-khek-can, Hotel Utara Sungai. Langsung Bun-hiong menerjang ke dalam hotel dan mendekati kasir, ia tanya kepada salah seorang pengurus tua yang duduk di belakang meja, “Numpang tanya, barusan apakah ada seorang nona masuk ke hotel ini?”

Kasir tua itu mendongak dan memandangnya sekejap, lalu menjawab dengan tak acuh, “Anda mencari nona yang mana?”

“Seorang nona cantik, berusia antara delapan belasan,” tutur Bun-hiong.

Dengan ketus kasir tua itu menjawab, “Tidak lihat!”

Bun-hiong mengeluarkan sepotong uang perak dan disodorkan kepadanya, lalu berkata pula, “Pakaian nona itu sangat sederhana, dia datang ke sini untuk mencari seorang kakek berbaju kelabu, kakek itu membawa sepasang senjata ruyung baja ….”

Uang memang serbaguna, kasir tua yang semula tak acuh itu seketika tertawa dengan sinar mata mencorong, belum lagi habis ucapan It-hiong segera ia menukas, “Ah, rupanya yang dimaksudkan kalian adalah nona jelita itu …. Ada, ada, dia baru saja berangkat bersama tamu tua itu.”

Cepat It-hiong menegas, “Kira-kira berapa lama mereka pergi?”

“Belum lama, baru saja,” sahut si tua.

“Menuju ke arah mana?” tanya It-hiong.

“Ke sana,” sahut si tua sambil menuding ke suatu arah.

“Mereka akan kembali lagi ke sini tidak?” tukas Bun-hiong.

“Mereka sudah membereskan rekening, jelas tidak kembali lagi,” kata si tua.

“Adakah meninggalkan pesan atau mengatakan ke mana mereka akan pergi?” tanya Bun-hiong.

Si tua menggeleng, “Tidak.”

“Waktu kakek baju kelabu itu bermalam di sini, adakah dia meninggalkan nama dan alamatnya?” tanya It-hiong.

“Tidak ada,” jawab si tua. “Tamu tua itu baru satu jam yang lalu masuk hotel, katanya hendak menunggu kedatangan seorang nona. Dan begitu si nona datang segera si kakek membereskan rekening hotel terus berangkat.”

“Baiklah, terima kasih,” kata It-hiong, segera ia menarik Bun-hiong dan diajak pergi, ia memandang ke arah yang ditunjuk si tua dan berkata, “Bagaimana kalau kita menyusul ke sana?”

“Boleh juga,” kata Bun-hiong, “cuma harapannya kukira tidak besar. Jalan ini bukan jalan raya melainkan gang sempit, mereka menuju ke ujung gang, bukan mustahil membelok lagi ke tempat lain.”

It-hiong melangkah dengan cepat, katanya dengan gemas, “Harus kubekuk dia kembali dan akan kupukuli pantatnya. Sungguh sialan, sepanjang hari aku menembak burung, tak tersangka malah kena dipatuk burung, sungguh menjengkelkan.”

Bun-hiong tertawa, “Dia dapat menipumu, ini menandakan caranya memang sangat pintar, seharusnya kau kagum padanya.”

“Tidak, justru akan kuhajar dia,” kata It-hiong.

“Haha, kutahu, tentu dia telah menipu perasaanmu?” seru Bun-hiong dengan terbahak.

“Betul,” ucap It-hiong dengan marah. “Dia bilang ibunya kawin lagi, ayah tirinya jahat dan hendak menjualnya ke rumah pelacuran, maka dia minggat dari rumah dan bermaksud mencari seorang pamannya di Wanpeng, ceritanya panjang lebar dan membuat orang berbelas kasihan padanya. Keparat, tak tahunya cuma omong kosong belaka.”

“Orang perempuan memang mempunyai bakat pembawaan untuk berdusta,” ujar Bun-hiong. “Cuma, bilamana dia tidak cantik, tentu kau pun takkan percaya padanya. Betul tidak?”

“Memang,” It-hiong mengaku terus terang. “Dia begitu cantik, siapa tahu juga pintar berdusta, sungguh tidak nyana.”

“Makanya kupikir kaum lelaki ini memang berengsek,” ujar Bun-hiong dengan tertawa. “Asal bertemu dengan gadis ayu dan dirayu sedikit, seketika lupa daratan dan kegirangan setengah mati.”

“Semula aku pun tidak terlalu percaya padanya,” tutur It-hiong. “Tapi dia bisa juga mencucurkan mata, bila bicara dan berduka, air mata lantas berderai serupa hujan, siapa pun pasti akan percaya padanya.”

Bicara sampai di sini, mendadak ia berhenti.

Kiranya dia berada tepat di perempatan jalan, orang yang berlalu-lalang sangat banyak, namun tidak kelihatan bayangan si kakek baju kelabu dan Ni Beng-ay.

Bun-hiong memandang sekeliling dan berkata, “Bisa jadi mereka sudah kabur keluar kota, dari sini terus ke depan akan mencapai pintu kota selatan, ke kanan dan kiri adalah jalan menuju ke gerbang timur dan barat, menurut perkiraanmu mereka akan melalui pintu gerbang yang mana?”

“Bagaimana menurut pendapatmu sendiri?” jawab It-hiong.

Bun-hiong menggeleng, “Aku bukan malaikat dewata, tidak dapat kuramalkan arah kabur mereka.”

“Hari ini kita baru masuk kota ini dari pintu selatan, maka kemungkinan mereka akan keluar lagi ke pintu selatan rasanya sangat kecil ….”

“Tepat, sekarang tinggal dua jurusan saja, kalau tidak menuju ke timur, tentu mereka menuju ke barat.”

“Bagaimana kalau kita membagi arah untuk mengejar mereka?”

“Baik, engkau ke timur dan aku ke barat, kalau tidak menemukan sesuatu, sebelum magrib kita bertemu kembali ke hotel tadi.”

Habis berkata segera Bun-hiong hendak melangkah pergi.

Cepat It-hiong menahannya dan berkata, “Nanti dulu, bilamana satu di antara kita dapat menyusul mereka, lalu cara bagaimana kita akan mengadakan kontak?”

Bun-hiong berpikir sebentar, katanya kemudian, “Kakek berbaju kelabu itu jelas bukan orang biasa, tak peduli siapa di antara kita dapat menyusulnya, rasanya tidak mudah untuk merebut kembali kotak itu hanya dengan tenaga seorang diri ….”

“Betul,” kata It-hiong. “Tapi kalau tidak segera turun tangan, terpaksa harus menguntitnya secara diam-diam, jika demikian halnya, kita berdua menjadi sukar untuk berkumpul lagi.”

Kembali Bun-hiong berpikir sejenak, lalu berkata, “Ah, ada akal. Sesudah meninggalkan kota, sepanjang jalan kita meninggalkan kode, jika engkau tidak melihat kupulang ke hotel, hendaknya segera ke arahku berdasarkan kode yang kutinggalkan, begitu pula sebaliknya aku akan mencarimu berdasarkan kode yang akan kau tinggalkan sepanjang jalan.”

“Baik, tapi kode apa yang harus kita tinggalkan?” tanya It-hiong.

“Umpamanya membuat ujung panah yang menunjuk ke arah yang harus dituju, kan bisa?” ujar Bun-hiong.

“Bagus, setuju,” seru It-hiong. “Ayolah berangkat!”

Begitulah mereka lantas terpencar, yang satu ke timur dan yang lain ke barat.

Dengan langkah cepat It-hiong mencapai pintu gerbang timur, baru mau keluar kota, sekilas pandang dilihatnya seorang kakek penjual buah di kaki tembok sana, ia coba mendekatinya dan bertanya, “Numpang tanya Lotiang, adakah kau lihat seorang tua keluar kota dengan seorang nona?”

Kakek penjual buah itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Entah, aku tidak menaruh perhatian, banyak orang berlalu-lalang, tidak ingat lagi berapa banyak orang tua dan nona yang lewat di sini.”

It-hiong tahu tiada gunanya bertanya lagi, ia mengucapkan terima kasih dan meneruskan perjalanan.

Ia percepat langkahnya, sepanjang jalan ia meninggalkan kode sebagaimana disepakati dengan Pang Bun-hiong itu.

Kira-kira dua-tiga li di luar kota, setelah pejalan kaki sudah jarang-jarang, segera ia berlari cepat ke depan.

Sambil berlari sembari memberi tanda, sekaligus ia lari 20-an li dan tetap tidak tampak bayangan si kakek berbaju kelabu dan Ni Beng-ay.

Lamat-lamat dapat dirasakannya perjalanan ini pasti sia-sia belaka, namun dia tidak putus asa dan masih terus lari ke depan.

Belasan li lagi dan sampailah di suatu pedusunan, ia coba tanya dua buah warung makan kecil dan tetap tidak mendapatkan sesuatu berita yang menyenangkan, ia tambah yakin si kakek dan Beng-ay pasti tidak lewat jalan ini, segera ia putar balik kembali ke Ko-yu.

Setiba di hotel, tepat waktu magrib.

Melihat tamunya kembali lagi pelayan hotel terheran-heran dan menyapa, “Eh, bagaimana Kongcuya, mengapa makan siang tadi sama sekali tidak dimakan terus lari pergi begitu saja, kalian pergi ke mana?”

It-hiong duduk di ruangan restoran dan bertanya, “Nona yang datang bersamaku itu apakah kelihatan kembali ke sini?”

“Tidak, memangnya ke … kenapa dengan nona itu?” tanya pelayan.

“Dan Kongcu yang minum arak bersamaku itu, juga tidak kelihatan?” tanya It-hiong pula.

“Ya, juga belum kelihatan,” jawab pelayan.

“Kudaku sudah diberi makan belum?”

“Sudah, sudah diberi komboran paling baik, jangan khawatir,” tutur pelayan.

“Sekarang boleh sediakan air cuci muka bagiku, lalu siapkan santapan, wah, lapar sekali,” kata It-hiong.

Pelayan mengiakan dan mengundurkan diri.

Tidak lama kemudian selesailah It-hiong membersihkan badan dan mulai makan-minum sendirian di restoran.

Ia sudah ambil keputusan bila sudah makan kenyang dan Pang Bun-hiong belum juga pulang, jelas ini menandakan kawan itu sudah menemukan si kakek baju kelabu dan Ni Beng-ay dan sedang mengikuti jejak mereka, maka segera ia sendiri akan menyusulnya.

Tapi baru saja ia ambil keputusan demikian, tahu-tahu Pang Bun-hiong sudah muncul.

Sekali pandang saja It-hiong lantas tahu kawannya juga tidak menemukan sasarannya, segera ia menyapa, “Engkau sudah pulang?”

Bun-hiong mendekatinya dan duduk di depannya, tanyanya dengan tertawa, “Sudah berapa lama kau kembali ke sini?”

“Belum lama, baru saja,” jawab It-hiong.

“Berapa jauh kau kejar mereka?” tanya Bun-hiong pula.

“Kira-kira lebih tiga puluh li,” tutur It-hiong.

“Tidak menemukan mereka?”

“Tidak, dan engkau sendiri?”

“Sama saja,” jawab Bun-hiong. “Bisa jadi mereka tidak melalui jalan raya melainkan mengambil jalan kecil.”

It-hiong memanggil pelayan dan minta ditambah lagi makanan dan arak, lalu berkata pula dengan mendongkol, “Jika tidak kutemukan mereka, sungguh tak terlampias rasa gemasku.”

Bun-hiong menenggak secawan arak, katanya dengan tertawa, “Siapa kakek berbaju kelabu itu, cepat atau lambat dapat diketahui, tapi ketika menemukan dia, mungkin sekali kotak itu sudah dibuka olehnya.”

“Kau tahu apa isi kotak itu?” tanya It-hiong.

“Tidak tahu,” Bun-hiong menggeleng. “Ketika di Sian-li-bio kemarin malam bukankah Sun Thian-tek hendak memberitahukan padamu? Kenapa kau tolak?”

“Ada dua alasanku kutolak keterangannya itu,” tutur It-hiong. “Pertama, kukhawatir setelah tahu bukan mustahil akan timbul juga hasratku untuk mengangkanginya. Kedua, bila aku tidak ingin tahu isi kotak kan sama dengan membuktikan bahwa aku tidak mempunyai kepentingan pribadi, aku hanya ingin melaksanakan tugasku sesuai pesan orang mati untuk menyampaikan kotak hitam ke Cap-pek-pan-san. Maka barang siapa mengincar kotak itu harus menghadapi diriku lebih dulu. Selain itu, orang yang bermaksud merampas kotak itu setelah tahu aku sama sekali tidak tahu apa isi kotak, tentu mereka takkan bertindak keji padaku.”

“Jika sekarang ada orang mau memberitahukan apa isi kotak itu, apakah kau mau tahu?” tanya Bun-hiong dengan tertawa.

“Sekarang aku jadi ingin tahu,” ujar It-hiong dengan mengangguk.

“Tapi sayang sekarang tidak ada yang dapat memberi tahu,” kata Bun-hiong.

Segera It-hiong angkat cawan arak, katanya, “Ayo habiskan satu cawan!”

Bun-hiong mengadu cawan dengan dia dan menghabiskan isi secawan, lalu berkata dengan terbahak, “Haha, melihat gerak-gerikmu, tampaknya tidak menjadi sedih lantaran kotak itu dirampas orang, tapi hanya murung karena ditinggal pergi Ni Beng-ay.”

“Aku tidak cuma bicara saja,” kata It-hiong, “Bila kutemukan dia, tentu akan kuhajar dia.”

“Lalu tidur bersama dia,” sambung Bun-hiong.

“Betul,” kata It-hiong.

Bun-hiong tertawa, “Bicara sih begitu, tapi kalau orang yang melukai Sun Thian-tek kemarin malam itu ialah dia, ini membuktikan Kungfunya pasti tidak di bawahmu, maka tidaklah mudah bagimu bilamana hendak kau hajar dia.”

It-hiong berkerut kening, katanya, “Melihat gerak-geriknya seperti nona yang tidak pernah berlatih silat, kulit dagingnya juga sangat halus.”

Seketika Bun-hiong terbeliak, serunya, “Hah, pernah kau raba dia?”

“Kupondong dia di atas kuda dan menempuh perjalanan sekian jauhnya, dapat kurasakan sekujur badannya halus lunak serupa tidak bertulang,” tutur It-hiong dengan tertawa.

“Ini kan tidak dapat memastikan dia tidak pernah berlatih Kungfu,” ujar Bun-hiong. “Bisa jadi hal itu justru disebabkan karena Kungfunya sudah mencapai tingkatan sempurna, maka sama sekali tidak kentara.”

“Tidak mungkin,” kata It-hiong sambil menggeleng. “Jika ilmu silatnya sangat tinggi, tidak nanti ia menggunakan cara menipu.”

“Dan sekarang apa yang akan kau lakukan!” tanya Bun-hiong.

“Akan kucari seorang tokoh angkatan tua, hendak kuminta keterangan padanya tentang asal usul si kakek baju kelabu,” tutur It-hiong. “Rasanya tidak banyak tokoh zaman kini yang bersenjata ruyung baja persegi, kukira tidak sulit untuk mencari keterangannya.”

“Engkau tidak ke Kim-leng dan mencari Giok-nio lagi?” tanya Bun-hiong.

“Sesudah beres urusan ini baru akan kucari dia.”

“Apakah dapat kau katakan padaku maksudmu mencari Giok-nio?”

It-hiong tersenyum, katanya, “Hah, engkau ini sungguh orang sok mau tahu, segala apa pun ingin turut campur.”

“Betul, terlebih urusan yang menyangkut orang perempuan, paling menarik bagiku,” jawab Bun-hiong tertawa.

It-hiong termenung sejenak, lalu berkata, “Soalnya ada seorang detektif ulung yang sudah pensiun minta bantuanku mencari dia ….”

“Detektif ulung yang sudah pensiun?” Bun-hiong menegas.

“Ya, namanya Tui-beng-poan-koan To Po-sit, dulu detektif termasyhur di kota Tiang-an, baru pensiun tahun yang lalu,” tutur It-hiong.

“Ah, kiranya dia,” seru Bun-hiong, tertarik juga dia. “Konon dia memang tokoh yang hebat, selama hidupnya tak terhitung penjahat yang telah dibekuknya, dia pernah menerjang Oh-liong-ceh di Mo-thian-nia seorang diri dan menawan bandit paling ditakuti pada waktu itu.”

“Betul, itulah dia,” kata It-hiong. “Ada orang memaki dia sebagai alap-alap atau anjing pemburu pihak pemerintah, tapi kupandang dia sebagai seorang pendekar yang suka membela rakyat jelata dan penumpas kejahatan.”

“Saat ini dia berusia berapa?” tanya Bun-hiong.

“Lebih 60 tahun.”

“Bagi seorang yang berlatih Kungfu, umur 60 memang belum terhitung terlalu tua, kenapa dia minta pensiun dan pulang ke kampung halaman?” tanya Bun-hiong.

“Sebab dia tidak suka pada gejala aneh di kalangan pembesar yang dilihatnya,” tutur It-hiong. “Pula sebagai detektif yang terkenal, bilamana waktu mengusut perkara banyak mendapat pembatasan dan tidak bisa bekerja bebas, maka ia pikir lebih baik mengundurkan diri saja.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung lagi, “Alasan yang lain adalah karena dulu kakinya pernah terluka parah, meski sudah diobati dan sembuh, namun masih sering kambuh dan sakit, keadaan akhir-akhir ini tambah gawat, waktu berjalan perlu bantuan tongkat, terpaksa ia harus minta pensiun.”

“Ada hubungan apa antara dirimu dengan dia?” tanya Bun-hiong.

“Hanya kenalan saja, karena merasa cocok, maka bersahabat,” tutur It-hiong.

“Untuk apa dia minta kau cari Giok-nio?”

“Dia seorang yang sudah pensiun tapi, tidak mau menganggur,” kata It-hiong, “maka sering dia menyatakan menyesal karena beberapa perkara lama yang belum sempat dipecahkannya. Pada suatu hari secara iseng kukatakan padanya bagaimana bila kubantu dia menyelesaikan perkaranya yang belum tuntas, dia sangat senang mendengar gagasanku, segera ia memberikan perintahnya yang pertama dan menyuruhku mencari seorang perempuan hiburan bernama Giok-nio dan menangkapnya.”

“Memangnya apa kesalahan Giok-nio?” tanya Bun-hiong.

“Dia tidak melanggar sesuatu kesalahan,” kata It-hiong.

“Orang tidak salah kenapa akan ditangkap?” tanya Bun-hiong heran.

“Menurut Tui-beng-poan-koan To Po-sit, katanya kalau Giok-nio ditangkap akan dapat memecahkan suatu perkara pelik.”

“Kenapa bisa begitu?” tanya Bun-hiong.

“Dia memang orang aneh, dia tidak mau memberitahukan seluk-beluk perkara yang dimaksud, hanya diceritakan serbasedikit, katanya Giok-nio itu adalah adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kim-lam.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: