Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Perguruan Sejati (11)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:15 pm

Perguruan Sejati (11)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Aku Tan Toa Tiau ketua ranting Pok Thian Pang di Ngo liu cung,” jawab Tan Toa Tiau dengan bangga.

“Eh bocah sewaktu engkau berada di Ngo liu cung tentu cecunguk ini yang menipumu bukan?”

“Benar!” jawab Tiong Giok.

“Hm, cecunguk kecil yang tidak ada artinya, katakana padanya aku segan bicara dengannya dan suruh minggir jauhan!”

Tan Toa Tiau mendengar perkataan ini, gusarnya tak alang kepalang, dengan keras dia membentak: ” Bangsat she Tong, kematianmu sudah di depan mata, untuk apa banyak cingcong lagi!”

“Hei, jangan banyak bacot!” bentak Tong Cian Lie sambil menggaplok.

Tan Toa Tiau tak merasa dongkol dipandang enteng ia menangkis sambil menyerang, tapi begitu kedua tangan bentrok, terdengar suara nyaring…Bukan saja Tan Toa Tiau tidak kesampaian melancarkan serangan, tubuhnyapun terhuyung tujuh delapan langkah. Dan terus memuntahkan darah dari mulutnya.

Tok Kay Pong dan Kam Kong segera turun tangan. Tong Cian Lie melancarkan pukulan geledeknya, membuat suara dasyhat susul menyusul dan membuat goyang seisi rumah. Dalam suasana hiruk pikuk dari perkelahian terdengar suara seorang berseru keras. “Celaka….rumah ini mau roboh!” Menyusul berkelebat sesosok tubuh dari dalam kamar dan terus berlari keluar. Dari potongan tubuhnya bisa dikenal orang itu adalah sisaudagar emas yang mengaku bernama Cian Bouw.

Tok Kay Pong dengan cepat menghadang Cian Bouw sambil membentak: “Mau kemana?”

“Jangan merintangi aku!” kata Cian Bouw, rumah ini akan rubuh aku bisa mati tertimpa puing-puing. Kamu tahu sendiri manusia mati hanya sekali, masakan aku disuruh mati lagi!” sambil berkata lengannya menyerang kepada Tok Kay Pong.

Sedikitpun Tok Kay Pong tak berpikir bahwa saudagar itu mempunyai pukulan yang keras dan tidak berada dibawah kekuatan Tong Cian Lie. Karena lalainya hampir-hampir ia menderita kerugian besar, cepat ia menarik senjatanya melindungi diri dan mundur. Serangannya si saudagar membawa dirinya keluar pintu losmen dan terus ia ngacir dengan sekencangnya.

“Bocah! Ikuti orang itu!” perintah Tong Cian Lie kepada Tiong Giok.

Baru saja Tiong Giok keluar losmen, Tok Kay Pong mengejarnya dari belakang.

Sementara itu Tan Toa Tiau biarpun sudah menderita luka, maju lagi kemedan pertempuran membantu Kam Kong. Hal ini tak membuat keder sedikitpun pada Tong Cian Lie, dengan tenang ia melancarkan ilmu pukulan geledek dengan keras, dan bertubi-tubi. Kam Kong maupun Tan Toa Tiau selangkah demi selangkah terrdesak mundur, mereka berkelahi dari dalam losmen sampai kejalan besar. Kam Kong dan Tan Toa Tiau tidak sanggup melayani musuhnya, tanpa berjanji lagi, melancarkan langkah seribu. Tong Cian Lie tidak mengejar, ia membiarkan kedua musuhnya itu lari, ia kembali kedalam losmen menantikan Tiong Giok.

Sementara itu Tiong Giok yang mengejar Cian Bouw, biarpun menggunakan seluruh kekuatan tak berhasil mencandaknya. Saking kesal ia berteriak: “Lo Cianpwee tunggu…”

“Siau ya kau boleh lari membawa dirimu, aku membawa diriku, mengapa mengikutiku?”

“Lo Cianpwee berkepandaian tinggi, tetapi pura-pura sebagai seorang biasa, apa artinya?”

“Siapa yang berkepandaian tinggi? Engkau jangan salah, orang yang berkepandaian tinggi adalah Pangcu dan rombongan dari Pok Thian Pang, tak lama lagi mereka akan datang, sebaiknya lari cepat-cepat.”

“Apa benar pangcu akan datang?”

“Percaya tidaknya itu terserah padamu! Jika engkau tak ingin kembali kemarkas pusatnya meeka, sebaiknya jangan pula pergi ke Tiat po, kuyakin kedatanganmu tidak akan membawa kebaikan! Nah kata-kataku sudah selesai kuucapkan, engkauboleh resapkan sendiri, aku tak bisa menemui orang dan harus berlalu secepatnya dari tempat berbahaya ini, selamat tinggal!” tubuhnya berlari lagi setelah berkata dalam sekejap sudah hilang dari pandangan.

Saudagar emas itu datang kelosmen Hiong hin can dam memberikan tanda bahaya pada Tiong Giok, semua ini bukan karena kebetulan, setelah mendengar perkataannya barusan, seolah-olah dia sudah mengenal kepada pemuda kita.

Tiong Giok tidak mengejar lagi, dia hanya berpikir dan menduga-duga siapa orang itu sebenarnya. Belum pula ia berhasil mengingat orang itu dari belakang terdengar sura dingin. “Bocah, kini engkau tak bisa kabur lagi!” Inilah suara Tok Kay Pong.

“Engkau mau apa?”

“Sejak di markas pusat, kita sudah kenal bukan? Soal engkau melarikan diri dari sana tak ada sangkut pautnya denganku! Tapi apa yang kulakukan ini adlah perintah dari atasan, jika tidak akupun tidak mau mengejar-ngejar dirimu.”

“Ya maksudmu mau apa?”

“Kudengar engkau telah pandai ilmu Keng thian cit su bukan?”

“Kalau benar memang kenapa?”

“Aku adalah orang tua yang menyenangi bakat muda sepertimu!” kata Tok Kay Pong.

“Maka itu jika engkau mau memberi petunjuk dimana letak keistimewaan dari ilmu itu…. he he he, engkau orang pintar tentu mengerti sendiri maksudku bukan?”

“Oh, jika kau mau memberikan petunjuk-petunjuk ilmu itu artinya kau tak segan-segan mengkhianati Pok Thian Pang dan membebaskan diriku bukan?”

“Bukan begitu, aku hanya menyayangi anak muda semacammu jika sampai dibawa kembali ke markas pusat Pok Thian Pang, mana tahan mengalami siksaan-siksaan keras!”

“Mendengar katamu itu membuat aku menarik napas sesak!”

“Kenapa begitu?”

“Sesak napasku karena perbuatanmu yang terlalu tidak tahu malu!” katanya lagi.

Tok Kay Pong menjadi semakin marah, matang kedua pipinya mendengar ucapan Tiong Giok itu. Dari malu timbul rasa gusarnya dan dengan didahului senyuman dingin ia berkata: “Bocah diajak jalan baik-baik tidak mau, maunya kejalan mati. Engkau jangan menyesal semua ini dicari sendiri!” Sehabis berkata Cui hun jiaunya menyambar dengan cepat pada Tiong Giok.

Akan tetapi dengan gerakan Kiu toa bie cong pou Tiong Giok berhasil menghindarkan dirinya dari serangan, lalu mencari posisi yang baik dan terus melancarkan Hiat cie lengnya yang ampuh.

Dengan didahului gerakan aneh Tok Kay Pong berbalik menyabetkan Cui hun jiau (cakar pengejar nyawa), tubuhnya yang besar tak ubahnya seperti anak panah cepatnya, mencelat dua tiga depa kedepan, menghindarkan Hiat cie leng lawannya.

Berulangkali Tiong Giok melancarkan Hiat cie leng yang menjadi andalannya, tapi sebegitu jauh belum berhasil menundukkan lawannya. Ia tak berpikir bahwa lawannya begitu gesit dan serangan dirinya tak membawa hasil. Ia tak mau memboroskan tenaga, maka Hiat cie leng tidak dipergunakan lagi.

Mereka berkelahi dengan hebat, nanti merapat nanti merenggang, masing-masing tak berani memandang enteng lawannya. Tok Kay Pong dengan sebelah tangan bersenjata Cui hun jiau, sebelah tangannya melindungi dadanya. Selangkah-selangkah mendekat lagi, setiap kakinya diangkat tertera sebuah jejek kakinya yang cukup dalam. Menandakan bahwa seluruh kekuatannya sedang dipergunakan semaksimum-maksimumnya.

In Tiong Giok sadar bahwa kekuatan ilmu dalamnya belum memadai lawan dan jika mengandalkan kelincahannya mungkin masih bisa bertahan dan tak sampai dikalahkan. Jika mengadu kekerasan, dengan bertangan kosong sudah pasti akan menderita kerugian. Untung dia seorang cerdik yang bisa berpikir cepat. Untuk mengatasi situasi yang makin gawat, segera ia berpura-pura jerih dan mundur-mundur kebelakang. Sesudah lima enam langkah, ia merandek karena kakinya memijak kayu kering yang mendatangkan bunyi “krak”. In Tiong Giok berlagak kaget dan melihat kebawah. Dan rupanya Tok Kay Pong tidaklah menyia-nyiakan kesempatan baik itu, tubuhnya menyergap dengan cepat pada musuhnya.

Tipu muslihat Tiong Giok yang menginginkan musuh berbuat seperti itu berhasil baik, tubuhnya berputar dengan cepat, menghindar sambaran senjata musuhnya. Lalu dari tempat yang enak ia melancarkan pukulan tangan diluar dugaan musuh.

Begitu serangannya tidak membawa hasil, Tok Kay Pong sudah tahu bahaya mengancam dirinya. Cepat ia mencelat keudara tanpa menoleh lagi dan membalik tangan melakukan tangkisan. Tiong Giok tidak mau mengadu tangan, ia mengubah serangannya dengan cepat. Sekali ini ia berhasil, pukulannya tepat mengenai bagian pundak musuhnya. “Buk” terdengar suara nyaring, tubuh Tok Kay Pong terpental sejauh dua tiga tombak.

Pukulan Tiong Giok itu begitu telak, dan berhasil menghancurkan tulang bahu musuhnya. Dengan terhuyung-huyung Tok Kay Pong bangkit dari tanah sambil menahan sakit. Sekali ini Siau bin bu siang atau siiblis selalu tersenyum tidak terlihat lagi senyumannya, ia meringis kesakitan.

Terhadap musuhnya yang sudah payah Tiong Giok tidak menurunkan tangan lagi, ia menanti dengan tenang. Tidak ada rasa sombong sedikitpun dirinya, bisa mengalahkan salah seorang Cap sah kie yang sudah tenar itu.

“Jika engkau kurang puas, aturlah pernapasanmu sampai baik, kita boleh duel lagi!”

“Bocah kemenanganmu ini adalah hasil kelicikanmu, dan bukan kepandaianmu!” tapi dengan akallah aku memperoleh kemenangan, menandakan aku menang teknik darimu bukan? Jika dalam hal ini engkau merasa kecewa, engkau boleh bertanya pada diri sendiri, patutlah sebagai Thian lam sam kui yang sudah kesohor, mempergunakan racun untuk mencelakakan musuh?”

Tok Kay Pong menjadi malu, dan tak ada muka untuk berdiam lama-lama disitu, dengan perasaan dan malu, ia mencelat pergi dengan cepat sambil menahan sakit dipundaknya.

In Tiong Giok tidak mau mengejar, ia merapikan pakaiannya dan terus menuju ke losmen untuk menemui Tong Cian Lie. Setibanya dimulut kampung ia menjadi melongo sendiri karena keadaan sangat sunyi sekali. “Mungkinkah Tong Lo Cianpwee telah.” pikirannya dengan kaget. Ia sudah mengenal tabiat orang tua itu. Yang andaikan berhasil membereskan Tan Toa Tiau dan Kam Kong, pasti akan mencari dirinya. Kini sepanjang jalan ia tidak melihat ada bayangan, juga tidak mendengar suara perkelahian. Mungkinkah kaum Pok Thian Pang dengan jago-jagonya telah datang dan membuat Tong Cian Lie tidak berdaya? Dengan tergesa-gesa ia berlari secepat-cepatnya kearah Hiong hin can. Begitu ia sampai didepan pintu lagi-lagi membuatnya melongo. Keadaan disitu sunyi sepi, tidak terlihat tanda-tanda belas perkelahian. Kam Kong maupun Tan Toa Tiau tidak terlihat sama sekali. Pintu rumah masih terbuka lebar-lebar didalam terlihat sinar api yang kecil, remang-remang terlihat dua orang sedang terpekur. Yang satu adalah Ma Hui In dan yang satu lagi adalah Tong Cian Lie.

Begitu mendengar derapan sepatu Tiong Giok, Tong Cian Lie memandang sambil menegur “Sudah pulang?”

“Ya sudah!”

“Tak kena dikejar orang tua itu?”

“Kena, namun ia tak mau menyebutkan namanya.” Jawab Tiong Giok. “Ia hanya memesan tak usah pergi ke Pek liong san, dan mengatakan bahwa jago-jago dari Pok Thian Pang dipimpin Pangcunya sendiri akan kesini dengan menganjurkan kita cepat-cepat berlalu dari sini.”

“Sayang perkataannya ini diucapkan terlalu lambat juga terlalu siang!” kata Tong Cian Lie.

Mendengar perkataan yang berlawanan dari kawannya itu, Tiong Giok menjadi melongo lagi. “Lo Cianpwee, engkau.”

“Duduklah dulu dan makan.” Potong Tong Cian Lie. “Hei jangan melamun saja, sediakan kami minuman dan makanan, sesudah itu kami mau tidur senyenyak-nyenyaknya!”

Ma Hui In segera bangkit dari tempat duduknya, tak selang lama dia kembali lagi dengan makanan serta minuman. Tong Cian Lie meneguk arak dengan hausnya. “Hei, bocah mari minum sepuas-puasnya, biar kita mati atau mabuk, dengan begitu segala kepusingan tidak ada lagi!”

“Lo Cianpwee apa yang terjadi disini?” tanya Tiong Giok.

“Apapun tidak ada yang terjadi! Kam Kong si setan cilik adalah pecundangku, apa lagi orang she Tan itu tak ada artinya bagiku! Begitu aku mengangkat tangan, mereka sudah lari terbirit-birit! Sudahlah jangan menceritakan itu, mari minum.”

Tiong Giok tidak berani banyak bertanya, diangkatnya cawan arak dan meneguknya dua kali, lalu meletakkan lagi dimeja.

Tong Cian Lie meminum arak sepuas-puasnya, tubuhnya bermandi keringat, arak seguci dalam waktu singkat telah menjadi kering. Ma Hui In mengambil lagi seguci.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Ya apa saja, misalnya soal bagaimana Lo Cianpwee mengalahkan Kam Kong dan Tan Toa Tiau.”

“Dua cecunguk itu tak ada harganya untuk diceritakan!”

“Atau memberikan pandangannya, siapa sebenarnya pedagang she Cian itu?”

“Seorang yang berlaku gelap-gelapan dan tak berani berterangan adalah bangsa pengecut, dan membuang-buang waktu saja menduga-duganya.”

“Orang ini seperti seorang yang sudah kukenal, tapi entah betuk entah tidak.” Ia merandek sejenak, sengaja memancing Tong Cian Lie membuka mulut dan mau mengutarakan isi hatinya.

Tapi yang diajak bicara itu tak memperdulikannya, terus asyik dengan araknya. “Mau betul atau tidak, tidak ada urusannya denganku! Kini iapun sudah pergi, tak usah diingat-ingat lagi, mari kita minum!”

Segala daya dipergunakan Tiong Giok, Tong Cian Lie trtap tak mau mengutarakan isi hatinya. Maka iapun meminum lagi araknya. Tak selang lama mereka telah merasa sedikit pusing dan mabuk, Tong Cian Lie menyuruh Ma Hui In membereskan sisa makanan dan perabotan, lalu ia berpaling pada Tiong Giok “tak lama lagi akan terang tanah, maka itu tidurlah lekas!”

In Tiong Giok menganggukkan kepala. Di kamar dia bersemedhi, menjalankan pernapasan sedikitpun tidak tidur. Dan terdengar pula suara bolak balik Tong Cian Lie diatas ranjang, nyatanya orang tua itupun tidak bisa pulas.

Dengan cepat malam telah berganti siang, setelah beres makan pagi mereka keluar dari losmen dengan menunggang kuda. Sepanjang jalan Tong Cian Lie mengerutkan kening, wajah muram terus. Membuat Tiong Giok kesal, tapi ia diam saja tak berani banyak bicara. Begitu keluar dari kampung itu mereka menuju keutara, dari sini hanya berjalan beberapa lie saja, perkampungan Tiat po telah terlihat jelas.

Perlahan-lahan mereka mengendarai kudanya mendekati pintu perkampungan. Tampak pintu perkampungan yang besar tertutup rapat. Hanya pintu samping yang kecil ada terbuka. Dan dari sinilah orang keluar masuk. Di depan pintu itu dijaga empat pemuda berbaju hijau.

Sesampainya didepan itu Tong Cian Lie terbengong-bengong, sinar matanya menjadi sayu dan mengembang air mata. “Bocah disinilah kita berpisah, jika ada juga kita bertemu lagi dikemudian hari!”

“Kenapa Tong Lo Cianpwee tak mau masuk kedalam?”

Tong Cian Lie tidak menjawab, kepalanya saja digeleng-gelengkan.

“Kenapa hanya dalam waktu semalam saja Lo Cianpwee berubah pikiran?”

“Ya, akupun merasa malu mengubah kemauan dalam sekejap, tapi mau dikata apa semua ini kemauan yang maha kuasa, manusia bisa apa…”

“Apa artinya Cianpwee berkata ini?”

“Sudah kupikirkan tadi malam sebaliknya engkaupun tak usah masuk kedalam perkampungan Tiat po, tapi kutahu engkau tak bisa dilarang, maka itu sengaja kuantar engkau sampai disini, dan kita berpisah.” Ia tidak melanjutkan kata-katanya, karena terputus isak tangisnya.

Tiong Giok tidak memaksa meminta keterangan apa sebabnya orang tua itu tak mau masuk ke Tiat po. Ia hanya berkata: “Lo Cianpwee tak masuk tak apa-apa, tapi ingin kutahu habis dari sini mau kemana?”

“Tentu pulang ke Kiu yang shia.” Jawab Tong Cian Lie. “Akan kukunci pintu rapat-rapat dan tak mau menerjunkan diri lagi didunia Kang Ouw. Jika dikemudian hari engkau lewat disana, tak halangan mampir barang satu dua hari!” Sambil berkata ia mengeluarkan sejilid buku dari sakunya dan menyerahkan pada In Tiong Giok. “Buku ini adalah buku pelajaran Thian lui tiap (buku pelajaran pukulan geledek). Sekarang buku ini tak ada gunanya lagi bagiku, nah terimalah dengan baik sebagai tanda mata dariku. Jika engkau sampai tak diterima Lim Siok Bwee, perlihatkanlah buku ini, mungkin buku andalanku ini, akan memberi muka kepadanya guna menerimamu sebagai tamu.”

“Bocah sebenarnya akupun merasa enggan berpisah denganmu, tapi apa mau dikata, sesuatu yang tidak diinginkan justru terjadinya lebih cepat dari pada yang diharapkan. Kecuali dari buku ini kupesan juga untukmu, berlakulah welas asih terhadap sesama manusia, biarpun ia lawan atau kawan!”

Tiong Giok menganggukkan kepala, dan memegang buku itu, sedngkan bayangan Tong Cian Lie semakin lama semakin kecil dan hilang dari pandangan matanya.

Empat penjaga pintu perkampungan Tiat po melihat Tiong Giok terpekur begitu lama, setelah berpisah dengan Tong Cian Lie menjadi geli sendiri. Antaranya ada yang berteriak: “Hei kawan, temanmu sudah pergi jauh!” Seruan ini membuat Tiong Giok tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat ia menyeka air mata dan menuntun kudanya masuk ke Tiat po.

Penjaga itu dengan hormat menyambut Tiong Giok. “Apakah saudara mau masuk ke kampung ini?”

“Benar!”

“Untuk keperluan apa?”

“Aku In Tiong Giok mau menghadap pada Siau siang lie hiap Lim Siok Bwee, dapatkah engkau menolongku memberi tahu kepadanya?”

“Mungkin saudara tidak mengetahui bahwa perkampungan ini sudah bertahun-tahun tidak menerima tamu!”

“Hal ini kuketahui, tapi aku mempunyai suatu hal penting dengannya, dan mohon pengecualian!”

“Sejak pintu ini tertutup selama dua puluh tahun lebih, banyak tamu-tamu yang datang dengan berbagai urusan penting dengannya, tapi semuanya ditolak tanpa pengecualian……”

“Tapi jika urusan penting yang bersangkutan dengan mati hidupnya Po cu disini, tidak diberi pengecualian juga?”

“Saudara jangan bergurau, Po cu kami telah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu.”

“Ya tersebab kudengar berita bahwa Po cu disini telah lama meninggal dunia, maka dari tempat ribuan lie aku datang kesini untuk mewariskan kepada isterinya, keadaan Po cu belakangan ini….”

Penjaga-penjaga pintu itu mula-mula merasa aneh dan heran mendengar keterangan Tiong Giok, tapi sekejap kemudian mereka terbahak-bahak. “Ah yang benar saja, Po cu kami sudah meninggal dunia puluhan tahun mana bisa hidup lagi!”

“Apa yang kukatakan adalah benar!” kata Tiong Giok dengan dongkol.

Penjaga-penjaga itupun menjadi mangkel melihat sikap pemuda kita yang masih tetap bertahan dan tak mau pergi dari situ. “Hei engkau harus tahu Tiat po ini tempat apa, dan janganlah membuka mulut sembarnagan tahu, kulihat engkau kurang waras dan lekaslah cari tabib yang pandai untuk berobat, jangan mengaco terus disini!”

“Aku dalam keadaan sehat walafiat, apa yang kukatakan adalah benar! Lagi pula hak menerima tamu berada ditangan Lim lie hiap bukan ditangan kalian! Kuheran kenapa kalian tak mau mewartakan kepadanya?”

Salah seorang penjaga yang paling muda menjadi gusar matanya segera mendelik, dan bersikap mau mengusir dengan kekerasan. Untung kena dicegah oelh yang lebih tua. Agaknya ia lebih berpengalaman dan bisa menyabarkan kawannya itu. “Saudara kulihat engkau seorang pemuda yang tidak berpotongan sebagai penipu, maka itu harus tahu bahwa semasa hidupnya Po cu kami, terkenal kemana-mana dan tempat tinggalnya maupun orang-orangnya bukan bangsa tempe yang boleh dihina. Soal kami tidak mewartakan kepada nyonya kami, adalah kebaikan untukmu sendiri. Jikalau soal mustahil mengenai Po cu kami didengarnya, engkau mencari penyakit sendiri, maka itu sebaiknya lekaslah engkau berlalu dari sini….”

“Terima kasih atas kebaikanmu,” sela In Tiong Giok. “Justru karena aku sebagai salah seorang pengagum Tiat eng hiong, maka jauh-jauh datang kesini dengan membawa berita penting untuk disampaikan kepada isterinya, tapi kalian tidak mau mewartakan, dan terus mengatakan bahwa nyonya kalian tidak mau menemuiku!”

“Maksudmu memaksa kami memberitahu kepada Lie pocu?”

“Sudah tentu!”

“Apakah tidak menyesal dengan akibatnya?”

“Apa yang perlu kusesalkan?”

“Baik kuwartakan kedalam dan nantikan disini!” kata orang itu memesan pad temannya sebelum berlalu. “Jaga baik-baik, jangan kasih diia pergi!”

“Tunggu dulu,” panggil In Tiong Giok. Ia mengeluarkan Thian liong giok hu dari sakunya. “Benda ini kuharap sekalian perlihatkan pada Lim Lie hiap!”

Orang itu menyambut kumala itu sambil menggerendeng. “Apa artinya benda ini?”

“Engkau jangan memperdulikan apa artinya benda ini, pokoknya serahkanlah pada lio pocumu, ia pasti tahu artinya.”

Tak selang lama setelah berlalunya orang itu, dari dalam kampung terdengar derap kaki kuda yang berisik sekali, penunggang kuda itu adalah seorang tua berusia enam puluhan, kepalanya diikat kain hijau, matanya bersinar tajam, menandakan seorang berkepandaian tinggi. Seorang lagi adalah gadis berbaju ungu berusia tujuh belas tahun, matanya jeli, pinggangnya ramping, tampaknya periang sekali. Begitu kedua penunggang kuda keluar pintu, mereka melompat turun dari tunggangannya dan mengawasi pada Tiong Giok dengan keheran-heranan…

Siorang tua segera menghampiri dengan membungkuk dan memberi hormat. “Numpang tanya, apa hubungan In siauw hiap dengan Pek Lo cianpwee dari Thian Liong bun?”

“Oh, berkat kemujuran aku menjadi pewaris dari Thian liong bun…”

Belum pula Tiong Giok menjelaskan perkataannya, orang tua itu segera berlutut. “Aku Tiat Hok, memberi hormat pada In siauw hiap!”

Sedangkan gadis remaja tadi, dengan hormat mendekati mereka. “Aku Tiat Siauw Bwee mewakili ibu, mengucapkan selamat datang pada In Siauw hiap!”

Para penjaga pintu tadi, tanpa disuruh lagi sudah bertekuk lutut memberi hormat dan ketakutan. Tiong Giok sudah tahu bahwa Tiat Giok Lin memperoleh kepandaian silat dari Pek King Hong, begitu kumala pusaka dari Thian Liong bun diperlihatkan, orang-orang di Tiat po berlaku demikian memujinya, hal ini benar-benar diluar dugaannya.

Dengan tergopoh-gopoh Tiong Giok membanguni Tiat Hok, “Tak usah banyak peradatan, bangunlah! Kedatanganku ini nampaknya mengganggu dan merepotkan saja.”

“Siauw hiap jangan berkata begitu, ketahuilah bahwa Po cu kami menerima pelajaran dari Thian liong bun, sekalian orang yang berada di dalam Tiat po begitu melihat Thian liong giok hu sama saja seperti melihat Ciang bun jin, Hujin (nyonya) tidak menyambut keluar, ia sedang menantikan di dalam lekaslah naik kuda!”

Dengan tersenyum Tiong Giok mencemplak kudanya, mengikuti Tiat Hok dan Siauw Bwee masuk kedalam. Keadaan didalam Tiat po sangat luas dan terbagi perkampungan depan dan perkampungan belakang. Mereka bercocok tanam dan menenun kain sebagai mata pencaharian sehingga bisa hidup dengan damai dari kesibukan dunia luar.

Sejak Tiat Giok Lin mati, tidak pernah seorangpun diijinkan masuk kedalam Tiat po dan Tiong Giok adalah orang pertama yang diperkenankan masuk kedalam. Sepanjang jalan laki-laki dan perempuan tua dan muda menyambut kedatangannya dengan meriah.

“Mamaku sedang menanti dengan tak sabaran, Tiat Hok temanilah In Siau hiap aku akan masuk duluan!” kata Tiat Siau Bwee yang terus memecut kudanya pergi duluan.

Dengan dikawani Tiat Hok, In Tiong Giok melewati perkampungan luar dan memasuki daerah perkampungan dalam. Adapun perkampungan dalam ini tempat tinggalnya Po cu. Penduduk biasa yang berada diluar kampung itu, tidak diperbolehkan sembarangan masuk kedalam.

Lim Siok Bwee sejak ditinggal mati suaminya tidak pernah keluar dari perkampungan dalam, dan sekarangpun tidak terkecuali, ia hanya berada didalam rumah menantikan kedatangan tamunya.

Kedua penunggang kuda langsung masuk kedalam perkampungan dalam dan berhenti disebuah taman bunga yang luas. Dari sini mereka masuk kedalam gedung yang besar dan megah. Keadaan didalam tampaknya sangat tenang dan sepi, dua puluh pelayan gedung yang berbaris rapi dikiri kanan, tersenyum-senyum menyambut kedatangan tamunya. Dibelakang barisan pelayan itu terlihat Lim Siok Bwee dan putrinya sedang menantikan tamunya.

Usianya Lim Siok Bwee tidak lebih dari empat puluh tahunan, tapi jika dilihat parasnya yang pucqat serta baju putih tanda dari berkabung yang masih dikenakan terus walau sudah puluhan tahun, tampaknya tua sekali.

“Yang rendah In Tiong Giok menghaturkan hormat pada Tiat Hujin,” kata Tiong Giok.

Lim Siok Bwee membalas hormat sambil berkata: “Mendiang suamiku mendapat pelajaran dari Thian liong bun, dan terhitung sebagai anak buah perguruan itu, maka itu Siau hiap tak usah terlalu memaksa peradatan. Anggaplah sebagai orang sendiri, mari masuk dan duduk.”

Lim Siok Bwee dan pengiringnya masuk kedalam, demikian juga dengan Tiong Giok, setelah pada duduk Lim Siok Bwee mengembalikan Thian liong giok hu. “Lebih kurang dua puluh tahun lamanya tidak melihat kumala ini! Mendiang suamiku semasa hidupnya tak pernah melupakan budi kebaikan dari Pek Locianpwee yang memberikan pelajaran silat, sayang dia sudah meninggal dan tidak bisa kenal dengan Siau hiap.”

“Sejujurnya dengan kebetulan dan berjodoh saja kuperoleh Giok hu ini, sedangkan ilmu pelajaran dari Thian liong bun belum kuperoleh sedikit juga. Maka itu kalau disbanding dengan kepandaian po cu masih jauh sekali! Sedangkan ilmu yang ada padaku sekarang ini bukan dari Thian liong bun melainkan dari Han Bun Siong.”

“Oh kiranya In Kongcu adalah murid dari Han Bun Siong?”

“Ya, tapi waktu berguru tidak mengetahui namanya, setelah mengembara didunia baru tahu bahwa guruku bernama Han Bun Siong!”

“Kenapa begitu?”

Dengan singkat Tiong Giok menuturkan sejak mempelajari bahasa Sangsekerta, sampai menjadi penterjemah di Pok Thian Pang, serta pertemuannya dengan orang tua didalam penjara tanah, secara jelas.

“Menurut dugaan Siau hiap, siapakah orang tua yang dipenjara itu?” tanya Lim Siok Bwee.

“Justru kedatanganku kesini berhubungan dengan orang tua itu, maka sebelum kujawab pertanyaan Hujin, dapatkah kiranya kuajukan beberapa pertanyaan?”

“Silahkan, apa yang kubisa pasti kujawab!”

“Adakah Tiat pocu mempunyai nama samaran Hauw Sian?”

“Benar!”

“Adakah Tiat pocu menulis pelajaran pedang Keng thian cit su dalam bahasa Sangsekerta?”

“Apa?”

“Benarkah setelah Tiat Pocu meninggal dunia, buku pelajaran itu hilang?”

“Benar…Apakah Siau hiap bercuriga bahwa orang tua dipenjara tanah itu sebagai suamiku?”

“Aku tidak berani memastikan,” jawab Tiong Giok. “Tapi kemungkinan ya juga, sebab orang tua itu adalah yang menulis buku Keng thian cit su dalam bahasa Sangsekerta, hal ini kuketahui dari mulutnya sendiri. Tambahan pula ia pandai berbahasa Sangseketa dan sudah delapan belas tahun dipenjara disitu, jika dilihat dari keadaan ini, dapat dipastikan orang tua itu adalah Pocu sendiri!” Sehabis menyatakan ini, Tiong Giok memancarkan sinar mata yang berapi-api menatap pada Lim Siok Bwee, menantikan reaksi dari nyonya itu. Pikirnya sedikit banyak nyonya rumah akan kaget dan membenarkan perkataannya. Tak kira Lim Siok Bwee tetap duduk dengan tenang seperti biasa.

“Siau hiap jangan lupa suamiku sudah meninggal dunia belassan tahun lamanya!”

Tiong Giok merasa kecewa mendapat jawaban itu. Tapi ia mendesak lagi dengan pertanyaannya. “Adakah Hujin disampingnya sewaktu Pocu meninggal dunia?”

“Tidak, tapi jenazahnya aku sendiri yang memasukkan ke dalam peti!”

“Tahukah hujin sebab kematian Pocu?”

“Oh.karena bunuh diri!”

“Dimana ia membunuh diri? Dan karena apa?”

“Aku sendiri tak tahu sampai sejelas itu.”

“Tiat Hujin sebelumnya kuminta maaf atas pertanyaan-pertanyan tadi,” kata Tiong Giok. “Dan sekarang dengan gegabah kukemukakan suatu pendapat, harap Hujin jangan marah. Yakni jika ada seseorang yang mengatur suatu rencana dengan menyediakan sebuah jenazah yang mirip dengan pocu…”

“Ah dalam hal ini tak mungkin begitu kejadiannya, sebab bukan saja cara itu bisa mengelabuhiku, tapi kematiannya itu ada yang melihat dan tak usah diragukan lagi!”

“Siapa yang melihat?”

Lim Siok Bwee berpaling dan menunjuk oada Tiat Hok. “Dialah yang melihat!”

“Benarkah engkau melihat dengan mata kepala sendiri?”

“Benar!”

“Kenapa engkau tidak mencegah waktu Pocu mau membunuh diri?”

“Waktu itu jarakku dengannya agak jauh, bagaimanapun tidak bisa mencegahnya.”

“Jika begitu segalanya engkau melihat dan bisa menuturkan jalannya tragedy itu bukan?”

“Hal ini…” Ia tidak melanjutkan hanya memandang kepada Lim Siok Bwee, seolah-olah minta persetujuan dari nyonya itu baru berani membuka mulut.

“Tiat Hok, In Siau hiap bukan orang lain, tak halangan kau tuturkan kejadian itu kepadanya” kata Lim Siok Bwee. Lalu ia menggapai pada puterinya.

“Bwee jie lekaslah engkau atur pelayan-pelayan itu menyediakan makanan dan minuman untuk menjamu In Siau hiap.”

Tiat Siau Bwee sedang asyik mendengarkan percakapan itu, dan enggan pergi dari situ, maka ia bertanya pada ibunya. “Mama kenapa tidak memperbolehkan aku mengetahui riwayat mendiang ayah.”

“Engkau m asih kecil tak perlu tahu terlalu banyak,” kata Lim Siok Bwee.

Tiat Siau Bwee merasa segan berlalu dari situ tapi iapun tidak berani membangkang perintah ibunya, dengan memoyongkan mulut ia pergi dari ruangan itu.

Lim Siok Bweepun menyuruh sekalian pelayan yang berada disitu keluar semua. Melihat keadaan ini Tiong Giok mendapat kesimpulan bahwa kematian Tiat Giok Lin, mengandung unsure-unsur pribadi yang dalam dan dirahasiakan. “Hujin soal kematian Tiat Pocu sukar diutarakan, akupun tidak memaksa…boleh diceritakan boleh tidak!”

“Kematian suamiku bukan saja bersangkutan dengan Tiat po ini, juga bertalian dengan seorang sahabat baiknya. Belasan tahun soal ini kukeram didalam hati, karena tak menginginkan peristiwa ini diketahui orang-orang persilatan. Kesatu untuk menjaga nama baik suamiku, dan timbulnya berita-berita sensasi yang bisa membawa akibat buruk bagi sahabat suamiku itu. Maka itu setelah Siau hiap mendengar peristiwa dan kejadian ini kuharap bisa menyimpan rahasia dan jangan menceritakan kepada orang lain lagi!”

“Aku berjanji, tapi dapatkah kutahu siapa-siapa sahabat dari Tiat Pocu itu?”

“Setelah Siau hiap mendengar cerita Tiat Hok akan tahu sendiri dengan jelas!”

“Tiat Hok engkau boleh bercerita sesuka hatimu, jika ada bagian-bagian yang sukar diutarakan dengan kata-kata, boleh dilewat saja.”

Didahului dengan deheman kecil Tiat Hok mulai dengan ceritanya.

Dua puluh tahun yang lalu, saat itu nama Sin kiam siang eng terkenal didunia Kang Ouw dan nama tersebut terlebih semarak lagi setelah terjadi perkenalan di gunung bu san sin lie dimana mereka dengan gemilang mengalahkan sebagian dari bu lim cap sah kie.

Adapun seperti sudah diketahui bahwa Sin kiam siang eng adalah sepasang pendekar muda, yang besaran bernama Ang Ek Fan dan yang mudaan bernama Tiat Giok Lin, mereka mengangkat saudara satu sama lain. Hubungan ini ditambah erat dengan perkawinan mereka: karena istrinya Ang Ek Fan yang bernama Sin Siu Ngo masih terhitung saudara sepupu dengan istrinya Tiat Giok Lin yang bernama Lim Siok Bwee. Sesungguhnya kedua sasudara angkat ini tinggal berjauhan, hubungannya tetap akrab dan intim. Pokoknya jika bukan Ang Ek Fan datang kerumah Tiat Giok Lin, tentu yang disebut belakangan datang kerumah yang disebutduluan.

Sudah menjadi kebiasaan Sin kiam siang eng jika ingin keluar rumah, terlebih dulu berjanji ditempat mana mereka harus bertemu. Jika tidak di Tiat po tentu dirumah Ang Ek Fan sendiri. Setelah itu baru mereka mengembara menjalankan kebaikan didunia Kang Ouw. Nah dalam tahun ini seharusnya mereka bertemu di Tiat po, tapi tak kira selang tiga hari lagi akan bertemu, Tiat Giok Lin menerima surat itu tidak ada yang tahu. Hanya saja paras Tiat Giok Lin menjadi pucat setelah membaca surat itu, mengeram diri dikamar tak mau menemui orang atau diganggu!

Tiga hari penuh Tiat Giok Lin mengeram dikamar tidak makan dan keluar pintu. Hari pertama masih terdengar elahan napasnya yang panjang, hari kedua tidak terdengar lagi barang sedikit suaranya, Lim Siok Bwee merasa tak tenang dan datang sendiri menemuinya.

Akan tetapi Tiat Giok Lin itu tidak membukakan pintu, ia hanya mengatakan sedang melatih ilmu dalam dan tak mau diganggu.

Soal jago bulim melatih diri dengan semadi dan tak makan maupun minum adalah biasa, lebih-lebih hanya tiga hari, tidak terhitung. Setelah mendengar suara suaminya Lim Siok Bwee pun menjadi tenang dan hilang kekuatirannya.

Tiga hari telah berlalu, adalah saatnya bagi Sin eng bertemu, maka itu pagi-pagi sekali Tiat Giok Lin sudah keluar dari kamarnya. Wajahnya biarpun seperti biasa, tetapi nampaknya sangat loyo dan kurusan, bagaikan orang baru bangun dari sakit. Dari sini dapat dilihat selama tiga hari ini bukan melatih ilmu dalam melainkan sedang menderita tekanan bathin.

Begitu keluar kamar ia tidak menemui isterinya, terus berjalan ketaman bunga, dan memerintahkan pelayan-pelayan menyediakan meja perjamuan sekalian hidangannya. Dan terus menantikan kehadiran Ang Ek Fan. Segala yang dipinta telah tersedia, tetapi yang dinantikan belum kunjung tiba. Dari pagi sampai tengah hari, segala makanan telah menjadi dingin. Tiat Giok Lin masih tetap duduk dikursinya sambil memandang keluar taman menunggukan orang-orang yang dinantikan. Setengah harian ia diam tak bergerak-gerak. Melihat keadaan ini sekalian pelayannya menjadi heran, karena kelakuannya itu lain dari biasa, tapi semuanya diam saja tak berani membuka mulut.

Waktu dengan cepat telah berlalu, dari siang telah menjadi sore dan magribpun tiba. Keadaan taman bunga masih tetap sepi, tak ada yang membuka mulut sepatah katapun, akhirnya Tiat Hok memberanikan diri maju kedepan dan ia berkata: “Pocu hari malam, perlukah memasang lampu dan menghangatkan kembali makanan dan minuman ini?”

“Sudah jam berapa?”

“Jam tujuh malam, kuyakin Ang Toaya tidak datang.” belum pula selesai ia mengucapkan kata-katanya, Tiat Giok Lin sudah membentak:

“Ngaco! Ang Toako tidak pernah melanggar janji!”

“Maksudku nanti malam Toaya baru sampai dan kuharap Pocu makan dulu…”

Tiat Giok Lin menggelengkan kepala dan berkata dengan keras: “Tidak! Aku harus menantikannya dan langsung harus menegurnya jika ia masih memandang aku sebagai saudara angkatnya, bagaimanapun ia harus datang.”

Tiat Hok tak tahan lagi dan ingin mengetahui apa yang sedang dirisaukan tuannya itu. “Pocu menantikan Toaya, apakah ada soal penting?”

Tiat Giok Lin tak menjawab, ia hanya menggoyangkan tangan dan berseru: “Nyalakan lampu dan beresi makanan dan meja-meja ini! Perintahkan seorang keluar, mungkin ia telah tiba.”

Pelayan-pelayan itu sedari tadi menginnginkan perintah itu, maka dengan cepat api dinyalakan dan ruangan menjadi terang. Dengan begitu terlihat tegas wajah Tiat Giok Lin yang pucat seperti kertas, kaki tangannya dan mulut terlihat bergetar tidak keruan.

Melihat keadaan ini Tiat Hok menyuruh orang bawahannya melaporkan pada Lim Siok Bwee bertepatan dengan ini, dari luar terdengar berderapnya sepatu kuda.

“Toaya datang!” terdengar seruan dari luar.

Tiat Giok Lin bangkit dan melangkah keluar. Dengan cepat suara derapan kuda tidak terdengar, seorang laki-laki gagah dan ganteng memasuki taman bunga dan bersampokan dengan Tiat Giok Lin.

“Hian tee kenapa engkau jadi kurus begini macam?” tegur Ang Ek Fan dengan kaget.

Tiat Giok Lin merangkap sepasang tangannya memberi hormat: “Soal ini tak bisa dituturkan dengan sepatah sua patah kata silahkan Toako masuk dulu baru kujelaskan!”

Ang Ek Fan sedikitpun tidak merasakan perubahan pada saudara angkatnya, dengan mesra ia memegang lengan Giok Lin dan melanggeng masuk kedalam dengan gembira, sambil jalan dan sesampainya duduk diruangan tengah ia menuturkan soal kelambatannya sampai di Tiat po. Lalu dari bungkusan yang dibawa ia mengeluarkan beberapa potong pakaian anak bayi. “Menurut peerhitungan anakmu akan lahir tak lama lagi bukan? Nah ini pakaian orok dibuat oleh ensomu. Ia sendiri baru bisa datang beberapa hari lagi.”

Tiat Giok Lin menerima pakaian anak orok itu, tanpa melihat lagi atau menghaturkan terima kasih. Ia hanya berpaling pada Tiat Hok dan sekalian pelayan-pelayan sambil membentak: “Kalian semua keluar dari sini, siapapun kularang masuk kesini maupun ketaman bunga!”

Setelah sekalian babu dan jongos keluar ruangan, Tiat Giok Lin baru berkata pada Ang Ek Fan: “Sudah lama kunantikan kedatangan toako, inngin kusampaikan perasaan hatiku secara berhadapan, tapi sebelum kata-kataku diucapkan aku ingin memperlihatkan dua macam barang kepada Toako.”

“Antara kita bukan orang lain, mau bicara ya silahkan, tak usah ragu-ragu tak karuan!”

Tiat Giok Lin tersenyum dingin, dirogoh sakunya dan mengeluarkan dua benda, satu adalah sebuah kotak kecil yang satu lagi adalah surat yang diterimanya tiga hari yang lalu.

“Toako tentu tahu apa yang berada di dalam kotak kecil ini bukan?” kata Tiat Giok Lin sambil membuka dan memperlihatkan isinya.

Ang Ek Fan melihat didalam kotak itu tertancap sebuah jarum berwarna biru “Oh inilah jarum yang bernama Pit hong tok ciam (jarum beracun berwarna biru), dari mana Hian tee dapat?”

“Kudapat dari daerah Biau ciang,” jawab Tiat Giok Lin. Toako tentu mengetahui kelihayan jarum ini bukan?”

“Ya memang luar biasa sekali, biarpun orang yang memiliki ilmu bagaimanapun jika terkena jarum ini, paling lama hanya setengah jam jiwanya tidak akan tertolong lagi!”

“Nah sekarang akan kucoba kelihayan jarum ini!” kata Tiat Giok Lin dengan senyumsinis dan terus jarum itu ditusukkan ketangan kirinya.

“Hian tee….” Ang Ek Fan hanya sempat berkata sebegitu, dan tak dapat mendcegah perbuatan adik angkatnya itu.

Dengan menggertakkan gigi Tiat Giok Lin mencabut lagi jarum itu dan melemparkan di atas meja.

“Hian tee apa artinya perbuatanmu ini?”

“Apa artinya? Mungkinkah Toako tidak tahu?”

“Aku baru datang sejenak lamanya, dan Hian tee tidak menerangkan barang sedikit soal apapun darimana aku bisa mengerti….”

Tiat Giok Lin tersenyum meringis, air matanya mengucur turun saking menahan kesal, dengan suara gemetar ia berkata: “Toako sejak kita mengangkat saudara selama sepuluh tahun lebih, perhubungan kita tak ubahnya seperti saudara kandung. Segala kesalahanku besar maupun kecil selalu kuterangkan pada Toako dan tidak segan aku menerima nasehat darimu. Tapi aku tak sangka hati Toako demikian kejam dan beracun…”

“Hian tee…”

“Aku tidak mempunyai saudara semacammu, dan akupun tak cocok menjadi saudaramu! Aku adalah seorang manusia hina yang tidak tahu malu, untuk apa lagi kau berpura-pura? Jika engkau bermaksud meruntuhkan aku tak apa-apa, tapi caramu ini bisa menghancurkan nama baik Tiat po! Sepuluh tahun kita bagai saudara, apakah engkau tidak merasa tega barang sedikit untuk menghancurkan keseluruhan nama baik dari Tiat po ini?”

Ang Ek Fan menjadi bingung, sejenak ia tidak bisa membuka mulut…

Saat ini wajah Tiat Giok Lin dari pucat menjadi biru, kedua bibirnya menjadi hitam, keringat sebesar kacang tanah memenuhi dahinya. Napasnya memburu, menandakan racun dari jarum sedang bekerja hebat.

Ang Ek Fan berkata dengan suara bergetar.

“Hian tee segala apa dapat dikatakan perlahan-lahan bukan? Jika ada kesalahan pada diriku tak usah ragu-ragu dan tegurlah langsung jangan berlaku diam-diam seperti ini. Dan ijinkanlah aku mengobati dulu racun ditubuhmu itu…”

Tiat Giok Lin tersenyum dingin dan segera bersiaga dengan tangannya, mencegah didekati saudaranya. “Engkau tak usah berpura-pura baik! Sejujurnya jarum beracun ini sedianya akan kutusukkan kepadamu! Tapi aku Tiat Giok Lin adalah laki-laki sejati, dan tidak sepertimu, bajingan keji yang laknat! Engkau boleh buat sesuatu yang tidak berperasaan, aku tak bisa melakukan hal yang tidak berbudi! Biarpun kau menjadi manusia dilaknat dan tak mengenal kebajikan tapi istrimu itu adalah seorang perempuan yang harus dihormati. Lagi pula aku segan membuat anakmuj yang mash kecil itu kehilangan bapak. Maka itu tak tega aku menurunkan tangan jahat kepadamu! Juga dengan membunuhmu tak berarti nama baik dari Tiat po bisa dipulihkan! Maka sengaja aku membunuh diri untuk memuaskan dirimu! Sejak hari ini segala nama kebesaran yang kita peroleh bersama menjadi milikmu seorang! Tapi engkau harus ingat, segala nama itu akhirnya membawa kehampaan! Engkau menyingkirkan aku, tapi tak akan memperoleh apa-apa! Dihatimu akan datang suatu penyesalan yang tidak ada taranya. Engkau akan menderita, sebab mempergunakan cara keji dan rendah mencelakakan kawan karib sendiri. Saat itu menyesalpun sudah terlambat….”

Segala yang mengeram dalam hatinya dikeluarkan sekaligus, sesudah itu ia diam dan duduk dengan tubuh bergoyang-goyang.

“Hian tee apa maksudmnu ini?” tanya Ang Ek Fan yang baru dapat kesempatan membuka mulut.

Napas Tiat Giok Lin semakin pendek dan sesak. “Ini bukti dari….kekejianmu, lihatlah sendiri!” katanya terputus dan terus meraih surat dimeja dan dilemparkan ketanah.

Ang Ek Fan memungut surat itu dan membacanya dengan cepat, keringat dinginnya membasahi tubuhnya, wajahnya berubah seketika. “Hian tee engkau kena diperdayakan orang, aku berani bersumpah, tidak…” Ia tidak melanjutkan ucapannya, karena melihat wajah Tiat Giok Lin berubah dengan mendadak. “Hian tee…serunya seraya melancarkan jarinya kejalan darah Hoy kay hiat yang terletak ditengah dada untuk memberikan pertolongan, tak kira sebelum tangannya sampai, dengan mata mendelik Tiat Giok Lin membentaknya dengan keras “Jangan dekat!” Suaranya keluar, jurus pukulannyapun menyambar dan tepat mengenai ulu hati Ang Ek Fan yang tidak bersiaga barang sedikitpun. “Ngek” Ang Ek Fan mengeluarkan suara nyesak dan terhuyung beberapa langkah kebelakang, pandangan matanya menjadi gelap dan hampir-hampir ia ngusruk. Dengan kekuatan ilmu dalamnya ia bertahan tidak sampai jatuh dan menekan perasaan, bergolaknya darah, dan sekali lagi ia mencoba maju untuk memberikan pertolongan pad saudara angkatnya. Tapi begitu lengannya menyentuh tubuh Tiat Giok Lin kagetnya tak alang kepalang, karena sudah dingin dan beku!

Perasaan pedih menyelimuti sanubari Ang Ek Fan, ia menahan kesedihan dan jatuhnya air mata, tapi tak berdaya sama sekali, air mata itu seperti juga banjir berderai turun membasahi pipinya. “Hian tee.ng.ng kenapa jadi begini ….”

Tiat Hok selesai menuturkan kisahnya, air matanyapun telah mengalir tanpa disadarinya. “Saat itu aku berada ditaman bunga dan melihat kejadian ini, tapi waktu kudatang memberikan pertolongan, semuanya telah menjadi terlamabt. Dan tepat diwaktu Po cu sudah meninggal, Hujin baru datang!”

Lim Siok Bwee sesungukan mendengar kisah ini demikan pula dengan In Tiong Giok. Suasana ruangan menjadi sepi sekian lamanya, akhirnya Tiong Giok membuka mulut terlebih dahulu. “Sekarang aku mengerti segala malapetaka itu terjadi karena surat itu.”

“Ya karena surat itu, sayang tidak ada yang tahu apa isinya surat itu!” kata Tiat Hok.

“Surat itu berada ditangan Ang Ek Fan bukan? Kenapa ia tidak memberikan isinya pada kalian?”

“Setelah terjadi peristiwa itu kami sangat repot dan tidak mengetahui bahwa Ang Toako dengan diam-diam membawa pergi surat itu! Sejak saat itu juga ia hilang dari dunia Kang Ouw sampai sekarang.”

“Mungkinkah ia berbuat sesuatu hal yang tercela terhadap saudara angkatnya?”

“Tidak!” jawab Lim Siok Bwee. “Aku memastikan dia bukan manusia rendah macam itu.”

“Jika tidak begitu kenapa ia pergi diam-diam?”

“Mungkin ia mempunyai suatu kesulitan yang tak bisa diutarakan padaku, misalnya luka akibat pukulan mendiang suamiku itu atau surat itu mengandung suatu rahasia yang tak boleh diketahui diriku.”

“Apakah Hu jin bercuriga juga, bahwa semasa hidupnya Tiat Po cu mempunyai kesalahan yang tak bisa diketahui orang?”

“Manusia bukan dewa, pasti punya kesalahan bukan? Tapi kuyakin kesalahan yang diperbuat mendiang suamiku tak seberat itu!”

“Jika Hu jin beranggapan begitu, aku tidak ragu-ragu lagi untuk memperlihatkan sepucuk surat kepadamu!” Segera ia memberikan sepucuk surat yang didapat Ciu Kouw kepada Lim Siok Bwee. Setelah selesai membaca.

“Aku yakin surat yang diterima Tiat Po cu itu semacam surat ini bunyinya,” kata Tiong Giok, dan menceritakan dimana ia memperoleh surat itu, secara teratur dan rapih.

“Jika begitu mungkin juga orang yang ditahan dalam penjara tanah Pok Thian Pang adalah Ang Toako adanya!”

“Bagaimana Hu jin bisa berpikir kearah itu?”

“Kematian suamiku karena surat ini, dan surat ini keluar dari Pok Thian Pang juga, bukankah dua soalini membuktikan bahwa Ang Toako pun ditahan mereka?”

“Apakah Keng thian cit su itu dihilangkan Ang Tay Hiap?”

“Sewaktu mereka mendapatkan pelajaran Keng thian cit su dari Pek Lo Cianpwee, suamiku hanya empat jurus yang didepan dan Ang Toako tiga jurus yang dibelakang. Maka itu permainan pedang mereka harus bergabung, baru ada kekuatannya. Hal ini membuat mereka kurang puas, maka itu mereka menyatukan buku itu. Dan bergilir mereka mempelajarinya buku itu. Waktu terjadi peristiwa suamiku membunuh diri, buku itu giliran dipegang oleh Ang Toako. Dan sejak itu ia hilang dari dunia persilatan. Aku menunggu sampai Siau Bwee umur sebulan baru mengunjungi rumah Ang Toako. Namun sesampainya ditempat tujuan itu Ang Toako sekeluarga tak kujumpai, sedangkan rumahnya telah berantakan menjadi puingan. Aku cari berita dari berbagai tempat, tapi tak mendapat kabar soal kemana perginya. Jika sekarang kita berpikir dengan cermat, segala malapetaka itu datangnya akibat Keng thian cit su! Mungkin pula cici Siu Ngo dan anaknya itu berada di Pok Thian Pang juga!”

“Jika begitu sebaiknya Hu jin datang saja ke markas Pok Thian Pang untuk menyelidiki soal mereka itu!”

“Ngomong memang gampang, kalau dijalankan sulit! Sungguhpun begitu untuk mengetahui nasib dari Ang Toako sekeluarga, ingin juga aku pergi kesana!” baru selesai ucapannya itu, terdengar suara derapan kuda memasuki taman bunga. Seorang penjaga pintu depan terlihat masuk memberi laporan, “Hu jin, didepan ada tamu mengaku sebagai Pangcu dari Pok Thian Pang, untuk bertemu Hu jin!”

Suara penjaga itu membuat kaget pendengaran yang hadir disitu. Dengan heran dan bingung Lim Siok Bwee menegasi: “Tamu itu siapa?”

“Pangcu dari Pok Thian Pang!”

“Katakan padanya Tiat po sudah ditutup belasan tahun lamanya, tak menerima tamu luar.”

“Sabar dulu, kutahu betul selamanya Pangcu itu tidak meninggalkan markasnya, tentu ada soal penting ia datang kesini. Sebaiknya terima saja kedatangannya baru bisa tahu maksudnya. Disamping itu dengan alasasn melakukan kunjungan balasan kemarkasnya, sekalian menyelidiki Ang Tay hiap sekeluarga!”

“Begitupun baik, tapi jika ia melihat Kongcu ada disini apa katanya?”

“Itu soal mudah, aku bisa menyingkir!”

“Jika begitu baiklah,” kata Lim Siok Bwee dan menyuruh penjaga tadi mempersilahkan tamunya masuk kedalam. Sedangkan In Tiong Giok segera bangkit dan diantar seorang pelayan pergi kesebuah ruangan kecil ditaman bunga.

Keadaan taman bunga yang berkolam teratai menarik perhatian Tiong Giok. Ia tidak segera menuju keruangan, tapi berjalan-jalan dulu ditaman sambil menghirupi akan udara segar, karena mendengar suara tangisan kecil dari arah kupel yang terdapat disudut barat taman itu. Langkahnya cepat-cepat menuju kesana, disitu ua melihat Siauw Bwee sedang tersedu-sedu seorang diri.

“Hei, sedang apa? Menangis ya?”

“Oh… In Siau Hiap. Silahkan masuk…”

“Apa yang membuatmu bersedih hati?”

“In siau hiap bisakah engkau menolongku?”

“Bisa saja jika kusanggup, tapi harus kutahu dulu persoalannya.”

“Kuminta engkau mau membujuk mamaku agar ia mengijinkan aku turut ketempat Pok Thian Pang,” kata Tiat Siau Bwee.

“Dari mana engkau tahu mau kesana?”

“Semuanya sudah kutahu, karena aku bersembunyi dibelakang ruangan itu mendengar percakapan kalian! Karena inilah aku menangis!”

“Sebab itu engkau menangis? Aku heran mendengarnya!”

“Ya sebab engkau tidak mengetahui, sejak aku menmgerti urusan ibuku selalu tak mau menceritakan soal kematian ayahku. Kini aku baru tahu terselip rahasia-rahasia yang belum diketahui. In siau hiap karena ingin melihat orang tua dipenjara tanah itu, minatku sangat besar pergi ke Pok Thian Pang, kalau-kalau saja orang tua itu adalah ayahku sendiri!”

“Pergi kesana bukan soal yang silit, hanya saja kalau orang tua itu bukan ayahmu bukankah mendatangkan kekecewaan bagimu?”

“Tak perduli orang tua itu ssiapa adanya, yang penting dapat kulihat! Jika ia bukan ayahku tapi Ang pek-pek (paman) adanya, kubisa menanya kepadanya, siapa yang membuat sampai ayahku membunuh diri. Sesudah itu aku akan menuntut balas kepadanya.”

“Kurasa ibumu akan meluluskan permintaanmu itu!”

“Tapi engkau tidak mengetahui tabiat mamaku, ia terlalu memanja dan menyayangku secara berlebih-lebihan. Karena itulah ia merahasiakan terus sebab-sebabnya kematian ayahku, takut aku meninggalkan Tiat po untuk mencari balas!”

“Orang tua sudah tentu sayang pada anaknya, lebih-lebih engkau anak satu-satunya bukan? Orang tua kuatir engkau mendapat kecelakaan diluaran dan melarangmu kemana-mana.”

“Pokoknya niatku sudah mantap meninggalkan Tiat po.”

“Itu terserah padamu!” kata Tiong Giok.

“Kuminta sekarang juga kau temui mamaku dan omongi soal ini kepadanya!”

“Nanti saja! Sekarang dia sedang menemui Pangcu dari Pok Thian Pang!”

“Pangcu itu mau apa datang kesini? Mari ikut denganku, kita dengar pembicaraannya .”

Siau Bwee mengajak In Tiong Giok kebelakang ruangan. Disini mereka bersembunyi dibalik pohon-pohon. Dan celingukan keempat penjuru, setelah melihat sekeliling tidak ada orang mereka naik kesebuah pohon. Ddari sini bukan saja mereka bisa mendengari percakapan orang didalam juga bisa melihat keadaan didalam.

Saat ini didalam ruangan terlihat dua tamu yang dikenali In Tiong Giok mereka adalah Pek Cin Nio dengan anaknya, yakni Pek Kiam Hong. “Heran, kenapa pemuda itu ikut juga?” pikir In Tiong Giok.

“….dengan gegabah aku kemari, semua ini kulakukan untuk anak yang bernasib malang ini. Hu jin seorang yang cerdik, setelah melihat anak ini tentu mengetahui maksud kedatanganku bukan?” kata Pek Cin Nio.

Lim Siok Bwee dengan mata bersinar tajam mengawasi pada Pek Kiam Hong, lalu berkata “Bagaimanapun engkau harus memberitahu siapa sebenarnya anak ini?”

“Tak usah mendesak!” kata Pek Cin Nio “sesudah tahu kukuatir mendatangkan suatu pukulan bagimu…”

“Adakah suatu pukulan batin yang lebih hebat dari kematian suami? Terangkanlah segera! Pukulan yang bagaimana hebatpun aku sanggup menerimanya!”

“Soal ini tak berani kuucapkan”, kata Pek Cin Nio , tapi sudah kusediakan dalam bentuk tulisan, silahkan membacanya. Pek Cin Nio mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sakunya dan menyerahkan pada Lim Siok Bwee. Begitu yang disebut belakangan selesai membacanya surat itu, wajahnya segera berubah dan terus menangis tersedu-sedu. Surat itu dimasukkan kedalam sakunya dan berkata: “Soal ini apakah benar-benar?”

“Bagaimanapun aku tak berani mendustai kalian untuk mengerjakannya,” kata Lim Siok Bwee. Tapi dengan begitu terlalu membuat kalian menderita…”

“Delapan belas tahun aku cukup bersabar, apa salahnya menanti lagi beberapa tahun! Yang penting adalah pengertian dari Hujin, dengan begini kami ibu beranak, merasa bersyukur dan terima kasih…”

“Jika begitu, sedikit banyak aku harus memberikan sesuatu tanda mata baginya,” kata Lim Siok Bwee. Dipanggilnya seorang pelayan dan dibisiki sejenak, pelayan itu cepat pergi dan cepat pula kembali. Ditangannya membawa dua buku tipis berwarna kuning. “Nak, kemarilah” kata Lim Siok Bwee pada Pek Kiam Hong.

Pek Kiam Hong diam saja dengan bingung, ia memandang pada ibunya tak berani mengambil keputusan sendiri. “Hong jie” lekaslah terima dan haturkan terima kasih pada Tiat Hu jin,” kata Pek Cin Nio dengan perlahan.

Dengan kaku Pek Kiam Hong memberi hormat dan menerima buku itu sambil menghaturkan terima kasih. Lim Siok Bwee memegang pundak pemuda itu dengan air mata berlinang, entah air mat sedih entah airt mata girang, seorangpun tidak ada yang tahu.

Kiranya yang menangis bukan Lim Siok Bwee sendiri, Pek Cin Nio pun bercucuran air mata. Atas pemberian nyonya rumah ia menghaturkan lagi terima kasihnya. “Sekali lagi kuhaturkan terima kasihku, budi kebaikan ini selamanya tidak akan kulupakan, dan dengan begitu urusanku sudah selesai, mohon pamit!”

“Buru-buru amat, masih siang bukan?”

“Karena masih banyak urusan lain, terpaksa harus pulang cepat-cepat,” kata Pek Cin Nio. “Ngomong-ngomong mana putrimu, sejak tadi tidak kulihat?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: