Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:51 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 05: Suara Nyanyian Dari Kejauhan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Tidak ada pohon bunga bwe (sakura) yang sedang mekar di sekitar Ban-bwe-san-ceng.

Saat itu bulan empat, bunga persik dan burung kukuk memenuhi lereng gunung.

Menghadapi dunia yang penuh dengan bunga-bunga, sepertinya Hoa Ban-lau ingin tetap berada di situ selamanya. Sebuah ekspresi yang tidak dapat diuraikan dengan kata-kata pun muncul di wajahnya yang tenang dan damai, ekspresi yang biasanya muncul di wajah seorang gadis yang melihat kekasih cinta pertamanya berjalan menghampirinya.

Tapi Liok Siau-hong tidak bisa menunggu lagi: “Aku tidak ingin merusak suasana, tapi bila hari telah gelap maka Sebun Jui-soat tidak akan mau menerima tamu.”

“Tidak juga kau?”

“Bahkan Raja Dewa juga tidak.”

“Bagaimana jika dia tidak ada di sini?”

“Dia tentu berada di sini. Dalam setahun, paling banyak dia pergi keluar 4 kali, dan itu pun bila dia ingin membunuh seseorang.”

“Jadi, paling banyak dia membunuh 4 orang dalam setahun?”

“Dan mereka semua memang patut dibunuh.”

“Siapa yang patut dibunuh? Siapa yang memutuskan mereka pantas dibunuh?”

Hoa Ban-lau tiba-tiba menarik nafas sebelum melanjutkan: “Kau pergilah, kurasa sebaiknya aku menunggumu saja di sini.”

Liok Siau-hong tidak berkata apa-apa lagi, karena dia sangat memahami sahabatnya ini.

Tidak ada orang yang pernah melihat Hoa Ban-lau marah atau murka, tapi sekali dia memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa membujuknya lagi.

Hoa Ban-lau berpaling ke arah lereng gunung yang penuh bunga dan berkata: “Bila kau bertemu dengannya, coba caraku dulu, baru caramu.”

______________________________
Tidak ada bunga di ruangan itu, tapi terasa keharuman bunga; samar-samar dan sederhana, seperti Sebun Jui-soat.

Liok Siau-hong duduk di pinggir di atas sebuah kursi lembut yang terbuat dari kayu pohon pinus, dan memandang tuan rumah. Cawan Sebun Jui-soat penuh dengan arak hijau terang. Baju putih yang ia kenakan pun berwarna terang dan lembut.

Samar-samar, gelombang demi gelombang, terdengar suara sebuah seruling, yang sepertinya dekat tapi jauh, suaranya lebih lembut dari suara angin musim semi yang terhalus sekali pun; tetapi pemain serulingnya tidak kelihatan.

Liok Siau-hong menarik nafas: “Dalam hidupmu, pernahkah kau mengalami kesulitan?”

“Tidak,” Sebun Jui-soat menjawab.

“Adakah sesuatu di dunia ini yang tak bisa kau miliki?”

“Tidak ada lagi.”

“Apakah engkau benar-benar puas?”

“Karena aku benar-benar tidak berharap sebanyak itu,” Sebun Jui-soat menjawab dengan santai.

“Dan itulah sebabnya kau tidak pernah minta pertolongan pada orang lain?”

“Ya.”

“Dan itulah sebabnya bila orang lain datang kepadamu, kau tidak pernah mau menolong mereka.”

“Ya.”

“Tak perduli siapa, tak perduli masalahnya apa, kau tidak akan mau membantu?”

“Apa yang ingin aku lakukan bukan berdasarkan apa yang orang lain minta padaku, ini kan hal biasa.”

“Bagaimana jika seseorang membakar habis rumahmu?”

“Siapa yang akan membakar rumahku?”

“Aku.”

Sebun Jui-soat tertawa. Dia jarang tertawa, maka bila tertawa wajahnya selalu memperlihatkan senyum mengejek.

“Aku datang ke sini untuk memintamu membantuku melakukan sesuatu. Aku berjanji pada seseorang bahwa jika kau tidak mau membantu, maka aku akan membakar rumahmu, membakarnya sampai habis.” Liok Siau-hong menjelaskan.

Sebun Jui-soat menatapnya. Sesudah beberapa lama, ia akhirnya mulai bicara dengan lamban: “Aku tidak punya banyak sahabat, paling banyak 2 atau 3 orang sekali waktu, tapi kau selalu menjadi sahabatku.”

“Itulah sebabnya aku datang dan meminta bantuanmu.”

“Dan itulah sebabnya bila kau ingin membakar rumahku, kau boleh melakukannya. Kau boleh mulai membakarnya dari mana saja.” Sebun Jui-soat menjawab dengan santai.

Liok Siau-hong terkejut, karena dia juga sangat memahami sahabatnya ini.

Setiap kata yang diucapkan orang ini adalah seperti anak panah yang telah dilepaskan dari busurnya; tak akan pernah ditarik kembali.

“Di gudang belakang sana, aku punya kayu pinus dan minyak tanah. Kuusulkan supaya kau mulai membakar dari sana. Lakukan pada malam hari, api seperti itu pasti kelihatan indah pada malam hari.” Sebun Jui-soat berkata.

“Apakah kau kenal Tay-thong dan Tay-ti?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya.

“Kudengar tidak ada sebuah pertanyaan pun di dunia ini yang tak bisa mereka jawab. Apakah mereka benar-benar tahu segalanya?” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin.

“Kau tidak percaya?”

“Kau percaya?”

“Aku bertanya pada mereka apakah ada cara untuk membujukmu membantuku. Mereka bilang tidak ada. Semula aku tidak percaya pada mereka, tapi sekarang….. Tampaknya mereka bisa menebak jawabanmu.”

Sebun Jui-soat menatap Liok Siau-hong dalam diam. Tiba-tiba dia tertawa kecil dan berkata: “Kali ini mereka keliru.”

“Oh?”

“Kau punya cara untuk membujukku supaya mau membantumu.”

“Apa itu?”

Sebun Jui-soat tersenyum dan berkata: “Jika kau cukur kumismu itu, aku akan melakukan apa saja yang kau minta dariku.”

______________________________
Jika Liok Siau-hong bertemu teman-temannya sekarang, mungkin mereka tak akan mengenalinya lagi.

Ia adalah orang yang dianggap memiliki 4 alis, tapi sekarang dia hanya punya 2; dan bagian atas mulutnya sekarang mulus seperti kulit bayi yang baru lahir. Sayang sekali Hoa Ban-lau tidak bisa melihatnya.

Jelas ia tidak bisa melihat Sebun Jui-soat berjalan mengikuti Liok Siau-hong; tapi ia tersenyum dan bertanya: “Sebun-cengcu?”

“Hoa Ban-lau?” Sebun Jui-soat balas bertanya.

Hoa Ban-lau mengangguk: “Aku menyesal terlahir cacat sehingga tidak bisa melihat pendekar pedang terbaik di jaman ini dalam kejayaannya.”

Sebun Jui-soat menatapnya dan tiba-tiba bertanya: “Maafkan aku, tapi… benarkah kau tidak bisa melihat?”

“Aku yakin Sebun-cengcu telah mendengar bahwa biarpun Hoa Ban-lau punya mata, tapi dia buta seperti kelelawar.”

“Jadi kau mendengar suara langkah kakiku?”

Seperti Tokko Hong, dia pun harus mengajukan pertanyaan itu. Dia membanggakan ilmu meringankan tubuhnya seperti ilmu pedangnya, dan dia memang patut membanggakannya.

“Dari yang kutahu, paling banyak ada 4 atau 5 orang di dunia ini yang bisa berjalan tanpa suara sama sekali. Sebun-cengcu adalah salah seorang di antaranya.”

“Tapi kau tetap tahu kalau aku ada di sini!”

Hoa Ban-lau tertawa kecil: “Itu karena Sebun-cengcu membawa semacam hawa kematian!”

“Hawa kematian?”

“Bila orang menghunus pedang, maka ada hawa tertentu yang dikeluarkan oleh pedang itu. Berapa banyak orang yang telah dibunuh oleh Sebun-cengcu? Bagaimana mungkin kau tidak punya hawa kematian di sekitarmu?” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai.

“Tak heran engkau tak mau memasuki rumahku, rupanya engkau tak tahan terhadap hawa yang kumiliki.” Sebun Jui-soat membalas dengan dingin.

Hoa Ban-lau tersenyum: “Bunga-bunga di sini begitu indah. Bila Sebun-cengcu bisa menikmati keindahan ini, hawa mematikan itu perlahan-lahan akan menghilang.”

“Bunga-bunga segar mungkin indah, tapi bagaimana bisa dibandingkan dengan bunga darah waktu seseorang terbunuh?” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.

“Oh?”

Mata Sebun Jui-soat tiba-tiba tampak berbeda: “Selalu ada pengkhianat-pengkhianat tak jujur di dunia ini. Bila kau tusukkan pedangmu ke tenggorokan mereka, bunga darahnya mekar di bawah pedangmu. Jika kau bisa melihat saat-saat kejayaan itu sekejap, maka kau akan mengerti bahwa tidak ada lagi yang lebih indah di dunia ini.”

Tiba-tiba ia berputar dan berjalan menjauh tanpa memandang ke belakang lagi.

Kabut malam pun turun, seakan bunga-bunga mendadak menutupi diri mereka dengan sehelai kain sutera putih. Sosok tubuhnya pun menghilang dalam kabut.

Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak menarik nafas dan berkomentar: “Akhirnya aku faham kenapa dia bisa begitu hebat dalam ilmu pedang.”

“Oh!”

“Karena dia percaya bahwa membunuh itu adalah tugas yang suci dan indah tiada bandingnya. Ia telah menyerahkan hidupnya untuk tugas itu. Hanya pada saat membunuhlah dia benar-benar merasa hidup. Selain saat-saat itu, dia hanya menunggu tibanya saat berikutnya.”

Liok Siau-hong berfikir dalam-dalam sebelum akhirnya dia juga menarik nafas: “Untunglah semua orang yang dibunuhnya memang pantas mati.”

Hoa Ban-lau tersenyum dan tidak menjawab.

______________________________

Langit malam yang tiada akhir tiba-tiba menelan seluruh dunia.

Bintang-bintang mulai bermunculan. Bulan yang indah tapi jauh seolah-olah bergantung di sebatang pohon nun jauh di sana. Angin masih membawa keharuman bunga, malam pun tampak indah dan memabukkan.

Hoa Ban-lau berjalan perlahan di lereng gunung itu, tampaknya dia telah tenggelam dalam lamunan yang indah dan memabukkan.

Tapi Liok Siau-hong tak tahan lagi: “Kau tidak menanyakan apakah kepergianku tadi berhasil atau tidak?”

“Aku tahu bahwa kau telah berhasil meyakinkan dia untuk bergabung dengan kita,” Hoa Ban-lau berkata sambil tersenyum.

“Bagaimana kau tahu?”

“Ia tidak memintamu untuk tinggal dan juga tidak mengucapkan selamat jalan, dan kau pun tampaknya tidak perduli sama sekali. Jelas itu terjadi karena kalian berdua telah menetapkan sebuah tempat pertemuan.”

“Dan kau juga tahu bagaimana caranya aku berhasil melakukannya?”

“Dengan caraku, tentu saja.”

“Kenapa kau berkata begitu?”

“Dia mungkin tidak punya hati, tapi kau punya. Dia tahu kau tidak akan membakar rumahnya; di samping itu, biarpun kau melakukannya, dia tak akan perduli.”

Liok Siau-hong tertawa dan kemudian menarik nafas: “Tak perduli betapa mengagumkannya dirimu, tetap ada sesuatu yang tak akan pernah dapat kau duga.”

“Dan apa itu?”

Liok Siau-hong meraba-raba bekas kumisnya: “Tebaklah, akan kuceritakan padamu bila kau bisa menebaknya dengan benar.”

“Jika tebakanku benar, kenapa kau harus bercerita lagi kepadaku tentang itu?” Hoa Ban-lau tertawa.

Liok Siau-hong pun tertawa. Tapi, sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba ia menyadari bahwa wajah Hoa Ban-lau yang tenang dan damai itu mendadak menjadi kaku dan aneh.

“Ada apa?” Liok Siau-hong bertanya.

Hoa Ban-lau tidak menjawab, dan tidak mendengar pertanyaannya. Tampaknya dia sedang mendengarkan sebuah suara misterius dari kejauhan, suara yang hanya bisa didengar olehnya.

Tiba-tiba dia merubah arah dan mulai berjalan ke balik gunung.

Liok Siau-hong hanya bisa mengikutinya. Malam semakin gelap dan satu demi satu bintang-bintang menghilang di balik puncak gunung.

Tiba-tiba dia juga mendengar suara nyanyian dari kejauhan itu. Nyanyian itu tak dapat diuraikan dengan kata-kata, menyeramkan, dan indah menggetarkan hati.

Liriknya pun sama, indah dan menggetarkan hati. Lagu itu tentang seorang gadis muda dan penuh gairah yang sedang sekarat dan menceritakan pada kekasihnya tentang kehidupannya, tentang patah hati dan kesepiannya.

Liok Siau-hong tidak begitu memperhatikan liriknya, karena saat itu dia sedang bingung melihat ekspresi wajah Hoa Ban-lau. Ia pun bertanya: “Kau pernah mendengar lagu ini sebelumnya?”

“Ya,” Hoa Ban-lau akhirnya mengangguk sesudah terdiam beberapa lama. “Aku pernah mendengarnya.”

“Dari siapa?”

“Siangkoan Hui-yan.”

Liok Siau-hong sering mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada kira-kira selusin benda yang dia percayai penuh. Telinga Hoa Ban-lau kebetulan termasuk salah satunya.

Bila orang lain melihat sesuatu dengan mata mereka sendiri, terkadang mereka tidak benar-benar melihatnya. Tapi telinga Hoa Ban-lau tidak pernah keliru.

Jadi penyanyi itu tentulah Siangkoan Hui-yan.

Bagaimana gadis yang menghilang secara misterius itu tiba-tiba bisa muncul di sini? Dan kenapa ia menyanyikan lagu yang indah tapi menakutkan itu di sini, pada malam hari, di sebuah lereng gunung terpencil?

Untuk siapa dia menyanyikan lagu itu?

Mungkinkah dia seperti gadis dalam lagu tersebut? Sedang menceritakan kemalangan dan kepahitan hidupnya pada kekasihnya tepat menjelang saat kematiannya?

Liok Siau-hong tidak bertanya lagi, karena seberkas cahaya tiba-tiba muncul dari dalam kegelapan.

Nyanyian tadi juga berasal dari arah lampu yang berkerlap-kerlip itu.

Hoa Ban-lau pun mulai bergerak, melesat ke atas lereng gunung. Walaupun dia tak bisa melihat cahaya itu, dia bergerak tepat ke arahnya.

Sinar itu semakin dekat dan semakin dekat dan Liok Siau-hong akhirnya bisa melihat sebuah biara kecil. Apakah biara itu dibangun untuk menghormati setan gunung atau dewa bumi?

Tiba-tiba nyanyian itu sirna, seluruh dunia tiba-tiba hampa dan sunyi.

Liok Siau-hong melirik Hoa Ban-lau. “Jika dia memang bernyanyi untukmu,” ia berkata untuk meyakinkan dirinya sendiri, “dia tak akan pergi sekarang.”

Tapi si dia memang sudah pergi. Lampu minyak masih menyala di dalam biara yang gelap dan lembab itu, tapi tak seorang pun yang kelihatan.

Sebuah patung setan gunung berwajah hitam sedang duduk di atas seekor harimau yang buas dengan sebatang tongkat besi di tangannya. Dalam cahaya yang samar-samar dan kerlap-kerlip, seakan-akan dia hendak memukul segerombolan penjahat dengan tongkatnya dan menegakkan keadilan untuk orang-orang baik.

Di atas meja altar ada sebuah baskom cuci tua yang terbuat dari perunggu dan telah berkarat. Baskom itu penuh dengan air bersih, beberapa helai rambut terlihat mengapung di air.

“Apa yang kau lihat?” Hoa Ban-lau bertanya.

“Ada sebuah baskom cuci di atas meja, baskom itu penuh air dan ada rambutnya juga.” Liok Siau-hong menjawab.

“Rambut?”

Rambut itu halus dan masih menyisakan keharuman yang hanya dimiliki oleh gadis-gadis muda.

“Ini rambut seorang gadis.” Liok Siau-hong menyimpulkan. “Tampaknya seorang gadis baru saja bernyanyi di sini dan menggunakan baskom air ini sebagai cermin untuk menyisir rambutnya. Tapi sekarang dia telah pergi.”

Hoa Ban-lau mengangguk perlahan, seakan-akan ia memang sudah memperkirakan bahwa si dia tak akan menunggunya di sini.

“Di tempat ini, pada saat seperti ini, dia masih berusaha menyisir rambutnya? Jelas dia seorang gadis yang ingin selalu tampak cantik.” Liok Siau-hong meneruskan.

“Gadis-gadis berusia 17, 18 tahun, siapa dari mereka yang tidak ingin selalu tampak cantik?”

“Dan bukankah Siangkoan Hui-yan gadis berusia 17, 18 tahun?”

“Dia juga selalu ingin tampak cantik.”

Liok Siau-hong memandang Hoa Ban-lau, dan bertanya: “Kau pernah meraba rambutnya, bukan?”

Hoa Ban-lau tertawa. Terdapat banyak jenis tawa, jenis tawa seperti ini berarti pengakuan.

“Apakah ini rambutnya?”

Ia yakin jari-jari Hoa Ban-lau sama sensitifnya dengan telinganya. Ia telah melihat, dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Hoa Ban-lau mampu mengetahui keaslian sebuah benda hanya dengan menyentuhnya perlahan.

Hoa Ban-lau telah menggenggam rambut itu di tangannya dan merabanya perlahan dengan jari-jarinya. Sebuah ekspresi yang sangat aneh pun muncul di wajahnya, bukan senang tapi juga bukan sedih.

“Apakah ini benar-benar rambutnya?”

Hoa Ban-lau mengangguk.

“Dia tadi duduk di sini dan menyisir rambutnya sambil bernyanyi. Jelas dia masih hidup.”

Hoa Ban-lau kembali tertawa. Terdapat banyak jenis tawa, tapi tawa seperti ini mustahil untuk diketahui apakah itu menandakan senang atau sedih.

Si dia tadi di sini, tapi mengapa ia tidak menunggu dirinya? Jika si dia tak tahu dirinya ada di sini, lalu tadi ia bernyanyi untuk siapa?

Liok Siau-hong diam-diam menarik nafas, ia tak bisa memutuskan apakah harus menghibur sahabatnya itu atau tidak, atau pura-pura tidak faham saja.

Angin berhembus dan memasuki ruangan itu melalui pintu. Patung setan gunung berwajah hitam yang memegang tongkat dan mengendarai harimau itu tiba-tiba berderak. Tongkatnya yang sepanjang 10 m itu tiba-tiba jatuh.

Segera patung raksasa itu juga hancur berkeping-keping.

Dalam awan debu, tiba-tiba Liok Siau-hong menyadari bahwa di atas dinding di belakang patung tadi tergantung tubuh seseorang.

Orang mati. Darah di tubuhnya masih belum kering. Sebatang boan-koan-pit yang terbuat dari besi menembus dadanya dan memantek tubuhnya ke dinding. Dua helai kertas seperti yang biasa digunakan pendeta Tao untuk memanggil arwah tampak terikat di pena itu.

“Sebuah mata untuk sebuah mata!”

“Inilah yang terjadi pada orang yang ikut campur dalam urusan orang lain!”

Dua kalimat yang sama, tertulis dengan darah, seperti yang terdahulu. Darah tampak membasahi kertas itu.

Tokko Hong, bukan Liu Ih-hin. Yang ingin mati ternyata masih hidup, sementara yang ingin hidup malah mati.

“Patung ini sebenarnya sudah lama hancur,” Liok Siau-hong berkata dengan marah. “Mayat ini memang ditempatkan di sini untuk kita lihat.”

Wajah Hoa Ban-lau pun sepucat mayat. Akhirnya dia bertanya: “Apakah itu Siangkoan Hui-yan?”

“Ini adalah Tokko Hong.” Liok Siau-hong menjawab. “Aku benar-benar tidak mengira kalau dia adalah orang kedua yang akan mati.”

“Apa yang dia lakukan di sini? Mengapa Siangkoan Hui-yan pun berada di sini?” Hoa Ban-lau tenggelam dalam renungan. “Mungkinkah dia diculik? Mungkinkah ia telah jatuh ke tangan Jing-ih-lau?”

Liok Siau-hong mengerutkan keningnya: “Biasanya kau orang yang selalu berfikiran terbuka, tapi kenapa bila terjadi sesuatu padanya, kau selalu memikirkan kemungkinan yang terburuk?”

Hoa Ban-lau terdiam beberapa lama sebelum akhirnya menarik nafas: “Mungkin karena aku terlalu memperdulikannya.”

Bila seseorang terlalu memperhatikan orang lain, sukar baginya untuk tidak memikirkan kemungkinan terburuk.

Itulah sebabnya semakin seseorang memperhatikan orang lain, maka semakin mudah timbul kesalahfahaman, dan semakin buruk pula situasi yang terjadi pada saat perpisahan.

Liok Siau-hong tertawa dipaksa dan berkata: “Tak perduli apa, paling tidak dia masih hidup. Bagaimana mungkin orang bisa bernyanyi demikian indahnya jika ada sebatang golok di lehernya?”

______________________________

Lagu ini tidak indah, karena dinyanyikan oleh Liok Siau-hong.

“Hidup harus dinikmati hingga akhirnya, dan tidak perlu termenung menghadap bulan sendirian.”

Dia mengetuk-ngetukkan sumpitnya pada cawan arak sebagai musiknya. Berulang-ulang dia menyanyikan 2 baris lagu itu.

Tiap Liok Siau-hong menyanyikan satu baris, Hoa Ban-lau akan minum satu cawan. Akhirnya, dia tak tahan lagi dan berkata: “Bukannya aku tak suka nyanyianmu itu, tapi bisakah kau menyanyikan lagu yang lain?”

“Tidak.” Liok Siau-hong menjawab.

“Kenapa tidak?”

“Karena cuma 2 baris itu yang aku tahu.”

Hoa Ban-lau tertawa. “Kau tahu, semua orang selalu mengatakan bahwa Liok Siau-hong adalah seorang jenius, salah satu orang yang paling cerdik dan cerdas di dunia ini; dan tak perduli jenis kungfu apa pun, dia akan mempelajari dan menguasainya dalam sekejap mata.” Ia berkata. “Tapi dalam hal bernyanyi, kau lebih buruk dari seekor keledai.”

“Jika kau tidak suka nyanyianku, lalu kenapa kau tidak bernyanyi sendiri, huh?” Liok Siau-hong mendebat.

Tujuannya adalah membuat Hoa Ban-lau tertawa, membuat Hoa Ban-lau bernyanyi. Karena dia tak pernah melihat Hoa Ban-lau bersikap seperti ini, dan minum-minum seperti itu.

Arak itu bukanlah arak yang enak. Di mana kau bisa menemukan arak enak di sebuah desa miskin di lereng gunung pada saat seperti ini?

Tapi tak perduli apa pun jenis arak itu, tetap saja lebih baik daripada tidak punya arak sama sekali. Hoa Ban-lau tiba-tiba mengangkat cawannya di udara, meneguk habis seluruh isinya dengan cara yang dramatis, dan mulai bernyanyi.

Yang ia nyanyikan adalah lagu ‘Kenangan Lama’, aslinya ditulis oleh Li An, satu-satunya kaisar Dinasti Tang Selatan, ketika dia merindukan almarhum permaisurinya. Maka lagu ini memiliki nada yang sedih, lembut, romantis dan sunyi.

Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa Hoa Ban-lau benar-benar telah jatuh cinta pada gadis cantik yang misterius itu. Dia tidak pernah membicarakan hal itu, tapi itu terjadi hanya karena dia sedang kasmaran. Dia jatuh cinta yang sedalam-dalamnya, tapi itu terjadi karena dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.

Tapi bagaimana dengan Siangkoan Hui-yan?

Gerak-geriknya sungguh misterius, dan sikapnya tidak dapat ditebak, bahkan Liok Siau-hong tidak mampu menduga apa yang ada di dalam hatinya; apalagi Hoa Ban-lau yang sudah terjerat asmara.

Tiba-tiba Liok Siau-hong tertawa. “Nyanyianku mungkin buruk, tapi nyanyianmu bahkan lebih buruk!” Ia berkata. “Bila aku bernyanyi, paling tidak aku bisa membuatmu tertawa. Tapi bila kau bernyanyi, senyum saja pun aku tidak bisa.”

“Itulah sebabnya, kurasa sebaiknya kita minum-minum saja. Seperti kata pepatah, ‘Hari ini punya arak, maka mabuklah hari ini juga’.”

Mereka berdua mengangkat cawan. Tepat saat kedua cawan akan bersentuhan, terdengar sebuah suara berkata: “Apakah di sini ada yang bernama Liok Siau-hong, Liok-toasiauya?”

Malam telah semakin larut dan semua orang telah pergi. Seharusnya tidak ada orang yang datang ke desa di lereng gunung ini, dan tentu saja seharusnya tak ada yang datang mencari Liok Siau-hong.

Tapi seseorang telah datang, dan dia mencari Liok Siau-hong.

Dari tampangnya, dia seperti seorang pemburu. Di tangannya ada sebuah keranjang bambu. Di dalam keranjang itu ada beberapa potong ayam bakar.

“Kenapa kau mencari Liok Siau-hong?” Liok Siau-hong bertanya dulu sebelum menjawab pertanyaannya.

Pemburu itu meletakkan keranjang bambu di atas meja. “Ini dibeli untuk Liok Siau-hong toasiauya oleh bibinya tersayang yang menyuruhku untuk datang ke sini dan memberikannya kepadanya untuk dinikmati bersama araknya.” Ia pun menjelaskan.

“Bibiku?” Liok Siau-hong bergumam setelah tercengang sebentar.

“Tuan adalah Liok Siau-hong toasiauya?” Pemburu itu pun tampak tercengang juga.

Liok Siau-hong mengangguk. “Tapi aku bukan seorang toasiauya, dan aku tidak punya bibi.”

“Ya, tuan punya, tentu saja punya.”

“Kenapa?”

“Jika orang itu bukan bibi Tuan, lalu kenapa dia mau menghabiskan 5 tael perak untuk membeli ayam ini dan 5 tael lagi untuk upahku membawanya ke sini?” Pemburu itu mendebat. “Tapi itu…. itu…..”

“Itu apa?” Liok Siau-hong bertanya.

“Dia bilang Liok Siau-hong toasiauya punya 4 alis dan aku akan segera mengenalinya sewaktu bertemu dengannya.” Pemburu itu menjawab sambil berusaha keras untuk tidak tertawa. “Tapi tampaknya Tuan hanya punya 2.”

Liok Siau-hong berusaha menampilkan wajah yang kaku, tapi gagal dan dia pun tertawa. “Pernahkah kau melihat orang yang punya 4 alis?”

Si pemburu pun tertawa juga. “Karena aku belum pernah melihatnya, maka aku mau datang ke mari.” Ia menjawab. “Aku datang ke sini bukan hanya untuk 5 tael perak itu saja.”

“Seperti apa bibiku itu?” Liok Siau-hong bertanya.

“Dia seorang gadis kecil.”

“Seorang gadis kecil?” Liok Siau-hong hampir saja berteriak. “Mungkinkah orang seusiaku punya bibi seorang gadis kecil?”

Sebuah senyum dipaksa pun muncul di wajah si pemburu. “Semula aku pun tidak percaya. Tapi dia lalu mengatakan bahwa walaupun dia belum terlalu tua, namun dia adalah orang yang dituakan. Bahkan dia mengatakan bahwa dia punya seorang cucu keponakan bernama Hoa Ban-lau yang berusia lebih dari 50 tahun.”

Liok Siau-hong melirik Hoa Ban-lau. Dia ingin tertawa, tapi merasa tidak enak.

Tapi malah Hoa Ban-lau yang tertawa: “Itu benar, aku memang punya nenek seperti itu.”

Sekali lagi pemburu itu tercengang mendengar jawaban tersebut. “Tuan ini Hoa Ban-lau? Tuan berusia 50 tahun?”

“Aku merawat diri dengan baik, itulah sebabnya aku tampak begitu muda.”

“Bagaimana Tuan melakukannya?” Pemburu itu tak tahan untuk tidak bertanya. “Bisakah aku melakukannya?”

“Tentu saja, itu sangat mudah.” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai. “Yang kulakukan setiap hari adalah makan 50 ekor cacing tanah, 20 ekor kadal, dan 2 kilogram daging manusia.”

Pemburu itu menatapnya sedemikian rupa sehingga biji matanya seolah-olah akan melompat keluar dari tempatnya. Tiba-tiba, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia lalu berputar dan lari, lari seolah-olah tiada hari esok lagi bagi dirinya.

Liok Siau-hong tak tahan lagi dan tertawa sekeras-kerasnya.

Hoa Ban-lau pun tertawa. “Kau benar,” ia berkata, “tampaknya bila setan kecil itu berdusta, dia sanggup memperdaya orang mati hingga hidup kembali.”

Sambil bicara, dengan separuh hati dia menunjuk ke arah jendela di sebelah kirinya dengan sumpitnya.

Liok Siau-hong melesat, berjumpalitan di udara, dan mendorong jendela itu hingga terbuka.

Seorang gadis dengan rambut dikepang dua sedang bersembunyi di luar jendela sambil tertawa-tawa sendirian.

Mata Siangkoan Soat-ji masih terlihat besar dan dia masih tampak begitu baik dan jujur. Tapi dia tak bisa tertawa lagi.

Sambil mencengkeram rambut kepangnya, Liok Siau-hong menyeretnya masuk ke dalam. “Setan kecil ini, menjadi bibiku saja masih tidak cukup, dia pun masih mengaku-aku menjadi nenekmu.” Ia berkata.

Soat-ji mencibir sedikit dan mencela: “Aku kan hanya main-main. Hanya karena kau tak suka diolok-olok, bukan berarti kau boleh menarik-narik kepang orang lain.”

“Apalagi dia telah menghabiskan 10 tael perak untukmu.” Hoa Ban-lau tersenyum. “Di samping itu, ayam-ayam ini pun rasanya lumayan. Bahkan jika kau tidak mau berterima-kasih, paling tidak kau seharusnya lebih sopan sedikit.”

“Tampaknya cucu keponakanku masih punya hati.” Soat-ji menambahkan. “Paling tidak dia masih bersikap adil dan jujur.”

Liok Siau-hong tertawa: “Jadi menurutmu orang yang punya hati kedudukannya masih lebih rendah daripada orang yang tak punya?”

Sambil tertawa, dia melepaskan rambut kepang Soat-ji. Seperti seekor rubah kecil, Soat-ji segera merangkak di antara kedua kaki Liok Siau-hong dan lari.

Sayangnya ia tidak cukup cepat karena Liok Siau-hong segera mencengkeram rambut kepangnya lagi dan menyeretnya seperti seekor ayam kecil. Sambil memaksanya duduk di sebuah kursi, wajah Liok Siau-hong tampak berubah serius ketika ia berkata: “Aku harus bertanya sesuatu padamu, dan lebih baik kau menjawabnya dengan jujur, jangan pernah berfikir untuk berdusta.”

“Aku tidak pernah berdusta sebelumnya.” Soat-ji mengedip-ngedipkan matanya, seakan-akan dia telah dituduh dengan sewenang-wenang.

“Kalimatmu yang barusan itu saja sudah merupakan dusta.”

“Jika semua yang kukatakan adalah dusta, lalu kenapa kau masih mau bicara denganku?” Karena marah, Siangkoan Soat-ji pun berteriak.

Tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengannya, Liok Siau-hong lalu menarik muka dan bertanya: “Kenapa kau selalu mengikuti kami?”

“Aku bukan mengikuti kalian. Bahkan jika aku ingin, aku tak akan mampu.”

Kalimat itu memang benar.

“Lalu bagaimana caranya kau menemukan kami?”

“Aku tahu kalian akan datang ke mari untuk mencari Sebun Jui-soat, maka aku datang ke sini lebih dulu!”

“Jadi kau sudah lama menunggu di sini?”

“Aku sudah menunggu seharian. Bahkan tidak sempat bertukar pakaian atau pun mandi. Aku bau. Kau tidak percaya? Mendekatlah ke sini.”

Hoa Ban-lau kembali tertawa. Liok Siau-hong hanya bisa berdehem beberapa kali. “Mengapa kau menunggu kami?” Ia bertanya.

“Karena aku punya rahasia yang harus kuberitahukan padamu.”

“Rahasia apa?”

Soat-ji kembali mencibir, tampaknya dia akan menangis lagi. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah ukiran burung walet emas yang sangat indah dari dalam bajunya. “Kutemukan ini di kebun malam itu.”

Liok Siau-hong memperhatikan benda itu tapi tak menemukan apa-apa.

“Sebelum aku lahir, ayahku memberikan ini pada kakakku.” Soat-ji meneruskan. “Kakakku sangat menghargainya, dia memasangnya pada sebuah kalung emas dan selalu memakainya. Aku selalu berusaha meminjamnya barang sehari atau 2 hari, tapi ia bahkan tak membiarkan aku menyentuhnya. Tapi sekarang aku menemukannya tergeletak begitu saja di sana di atas tanah.”

“Mungkin dia tak sengaja menjatuhkannya.” Liok Siau-hong menduga-duga.

Soat-ji menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Benda ini pasti dijatuhkan seseorang saat mereka berusaha menyembunyikan mayatnya.”

Air mata mulai mengembang di kelopak matanya, ia tampak sangat sengsara, bahkan suaranya pun mulai serak.

“Kau benar-benar mengira kakakmu telah mati?”

Soat-ji menggigit bibirnya dan mengangguk dengan yakin. “Aku bukan hanya tahu bahwa dia telah mati,” ia berkata dengan suara yang sember. “Aku pun tahu siapa pembunuhnya.”

“Siapa?”

“Pasti Piauciku yang jalang itu.” Soat-ji menjawab dengan pahit.

“Siangkoan Tan-hong?”

“Ya, dia! Bukan hanya dia yang membunuh kakakku, dia juga yang membunuh Siau Jiu-ih, Tokko Hong, dan Liu Ih-hin!”

“Mereka bertiga semua dibunuh olehnya?”

Soat-ji mengangguk. “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia sedang berada di kamar hotel itu, berbincang-bincang dengan Liu Ih-hin. Lalu tiba-tiba ia melepaskan Hui-hong-ciam (Jarum Burung Hong Terbang) miliknya dan membunuh Liu Ih-hin. Dia bahkan menyembunyikan mayatnya di kolong tempat tidur.”

“Difikir-fikir, dia sangat ingin mati, tapi dia kok mati seperti itu.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Hui-hong-ciam adalah senjatanya yang paling ampuh. Jarum itu langsung menutup jalan darah ketika bertemu darah dan racunnya pun berakibat fatal. Kakakku mungkin terbunuh oleh jarum itu juga. Tapi di mana dia menyembunyikan mayatnya?” Air mata pun bergulir di pipinya ketika dia melanjutkan ucapannya.

“Yang kamu katakan itu sangat logis dan masuk di akal.” Liok Siau-hong menarik nafas lagi. “Sayangnya aku masih tidak percaya sedikit pun juga.”

Kali ini Soat-ji tidak marah, dia tetap saja menangis. “Aku tahu kau tak akan mempercayaiku, kau…. kau sudah dikacaukan olehnya…..”

Liok Siau-hong menatapnya, keyakinannya mulai goyah sedikit. Maka ia tak tahan untuk tidak bertanya: “Dia adalah Piaucimu, kenapa dia ingin membunuh kakakmu?”

“Siapa yang tahu kenapa?” Sambil mengkertakkan giginya, Soat-ji pun menjawab. “Mungkin dia membenci kakakku karena lebih cerdas dan lebih cantik.”

“Lalu bagaimana dengan Liu Ih-hin? Bukankah ia setia kepadanya? Kenapa dia membunuh Liu Ih-hin?”

“Dia lebih keji daripada ular paling berbisa sekalipun. Jika dia tega membunuh orang seperti kakakku,” Soat-ji menjawab dengan pahit, “lalu kenapa dia tak mungkin membunuh orang lain?”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Aku tahu kau membencinya, tapi…..”

“Kau kira aku membencinya karena cemburu terhadap hubunganmu dengan dia?” Siangkoan Soat-ji tiba-tiba memotongnya sambil mendengus dingin. “Mungkin dia tampaknya sangat baik padaku, tapi di belakang dia sering menakut-nakuti diriku sejak kami masih kecil.”

Liok Siau-hong tiba-tiba memotongnya: “Dia baru 19 tahun, tapi kamu 20 tahun. Bagaimana mungkin dia bisa menakut-nakuti dirimu?”

Soat-ji tak bisa menjawab.

Liok Siau-hong tidak tega, maka ia menambahkan dengan suara yang lembut: “Jika kau benar-benar mengkhawatirkan kakakmu, kau bisa tenang sekarang. Karena aku tahu pasti bahwa dia belum mati.”

Soat-ji menggigit bibirnya dan menjawab: “Tapi aku benar-benar melihat dengan mata kepalaku sendiri waktu dia membunuh Liu Ih-hin. Aku….”

Tiba-tiba ia berhenti, seluruh tubuhnya seperti membeku.

Liu Ih-hin yang katanya telah terbunuh dan mayatnya disimpan di bawah tempat tidur oleh Siangkoan Tan-hong, tiba-tiba muncul.

Kabut malam terasa dingin dan sepi, bulan pun tampak samar-samar. Liu Ih-hin muncul dari balik kabut di bawah sinar bulan yang samar-samar itu dan masuk ke dalam kedai arak kecil tersebut.

Wajahnya yang mengerikan semakin tampak menakutkan bila dilihat di bawah sinar bulan.

Tapi ekspresinya tampak amat tenang dan suaranya pun sangat lembut. “Sudah cukup main-main di sini? Kembalilah bersamaku.” Ia berkata, sambil memandang Soat-ji. “Yang Mulia sedang menungguku untuk membawamu pulang.”

Biji mata Soat-ji hampir melompat keluar. “Kau? kau belum mati?” ia tergagap.

Sinar mata sedih pun terlihat di mata Liu Ih-hin ketika dia menjawab dengan suara berat: “Kadang-kadang, mati bukanlah hal yang mudah.”

“Dan Piauciku?”

“Ia juga berharap kau segera pulang. Kau masih muda, tunggulah beberapa tahun lagi, saat itu masih belum terlambat bagimu untuk pergi ke luar dan bermain-main. Contohnya kakakmu, dia pergi ke mana pun yang dia inginkan, dan tak seorang pun mempermasalahkannya.”

Soat-ji memandang padanya, dia seperti ketakutan. Tiba-tiba dia mencengkeram tangan Liok Siau-hong: “Tolong jangan biarkan dia membawaku pulang!” Ia menjerit. “Tolong ijinkan aku ikut dengan kalian, aku akan bersikap baik!”

“Itu harus menunggu kau besar sedikit.” Liu Ih-hin berkata. “Kau masih anak-anak. Ada hal-hal serius yang harus dilakukan oleh orang dewasa, bagaimana mungkin kau boleh ikut?”

Di luar sana terdengar suara ringkik seekor kuda. Sebuah kereta kuda ada di luar, kereta yang juga pernah ditumpangi oleh Liok Siau-hong.

“Tidurlah di dalam kereta.” Liu Ih-hin meneruskan. “Lalu kau akan tiba di rumah sebelum kau menyadarinya.”

Siangkoan Soat-ji akhirnya pergi, pergi tanpa berpaling ke belakang lagi.

Memandangnya naik ke atas kereta, melihat betapa sedih wajahnya, Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak menarik nafas lagi. “Kau seorang gadis yang manis dan cantik, kenapa kau suka berdusta?”

Hoa Ban-lau dari tadi hanya duduk saja di sana, tapi sekarang tiba-tiba dia berkata: “Setiap orang yang berdusta selalu punya alasan. Ada yang berdusta untuk menipu orang lain, ada pula yang berdusta untuk menipu dirinya sendiri.”

Ia menarik nafas dan melanjutkan: “Dan yang paling rapuh adalah orang-orang yang berdusta untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, untuk membuat orang lain memperhatikan dirinya.”

“Apakah itu terjadi karena dia tak mendapatkan kasih saying dan cinta dari orang lain?”

“Ya.”

“Kau benar.” Dengan senyum dipaksa di wajahnya, Liok Siau-hong menarik nafas. “Ada orang yang harus dimaafkan walaupun mereka berbuat salah. Mungkin seharusnya aku telah memikirkan…..”

Ia belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat Liu Ih-hin tiba-tiba muncul kembali di pintu. “Soat-ji menitipkan pesan untukmu.” Orang itu berkata dengan lambat.

Liok Siau-hong menantikan pesan itu. Tiba-tiba ia melihat di mata orang yang mengerikan ini muncul secercah senyuman hangat. “Ia bilang, ia lupa mengatakan bahwa setelah kau mencukur kumismu, kau tampak jauh lebih muda dan tampan daripada sebelumnya.”

______________________________

Liok Siau-hong meraba bulu-bulu kasar di bawah hidungnya dengan ujung jarinya. Dia terus-menerus merabanya di sepanjang perjalanan dari Yanbei ke Soasay. Sepertinya dia merasa kumis itu kurang cepat tumbuhnya.

“Kau tahu aku tak pernah merasa sedih karena tak bisa melihat.” Hoa Ban-lau tersenyum selebar-lebarnya. “Tapi saat ini aku benar-benar berharap bisa melihat wajahmu yang tanpa kumis itu.”

“Sangat muda dan tampan.”

“Lalu kenapa kau terus memelihara kumis itu?”

“Karena aku khawatir kalau semua gadis akan tergila-gila padaku.”

“Agaknya kau jadi mudah naik darah beberapa hari terakhir ini.” Hoa Ban-lau masih tersenyum. “Apakah kau sedang marah pada dirimu sendiri?”

“Mengapa aku harus marah pada diriku sendiri?” Liok Siau-hong menjawab dengan dingin.

“Karena kau merasa bahwa kau telah bersikap terlalu keras pada gadis kecil yang rapuh, manis dan suka berdusta itu. Dan kau khawatir kalau-kalau dia akan diancam dan diperlakukan buruk saat dia sampai di rumah.”

Liok Siau-hong tiba-tiba bangkit berdiri. Tapi sebelum dia sempat pergi, seseorang datang membawakan sebuah undangan.

“Dengan hormat, telah disiapkan makanan dan minuman serta air untuk membersihkan diri dari debu di perjalanan. Harap tuan-tuan bersedia hadir.”

Undangan itu ditanda-tangani oleh ‘Ho Thian-jing.’

Kalimatnya sederhana, tertulis dengan sangat rapi dan indah. Tintanya pun sangat tebal, sehingga setiap huruf pun bisa terbaca dengan jelas. Bahkan orang yang tak bisa melihat pun bisa menggunakan jari-jarinya untuk membaca undangan itu.

“Agaknya Ho-congkoan ini seorang yang amat teliti dan penuh perhatian.” Hoa Ban-lau berkata sambil tersenyum.

“Bukan hanya penuh perhatian.” Liok Siau-hong pun berkata dengan santai.

Orang yang menyampaikan undangan itu adalah seorang bocah yang tampaknya amat cerdas. Ia berdiri di luar dan membungkuk dengan hormat. “Ho-congkoan menginstruksikan bahwa jika tamu-tamu terhormat bersedia hadir pada acara makan malam, maka hamba harus menyediakan sebuah kereta dan menunggu di sini, untuk kemudian membawa tuan-tuan ke Cu-kong-po-gi-kok (rumah megah penuh batu permata). Ho-congkoan telah menunggu kedatangan tuan-tuan di sana.”

“Bagaimana dia tahu kami ada di sini?” Liok Siau-hong bertanya.

Bocah itu tertawa dan menjawab: “Tidak perduli besar atau kecil, tak ada yang bisa lewat di daerah ini dalam radius 400 km tanpa sepengetahuan Ho-congkoan.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: