Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Pendekar Baja (07)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:24 am

Pendekar Baja (07)
Oleh Gu Long

“Kalau begitu, silakan Kim-heng ikut padaku, apa pun yang akan terjadi tetap harus kuselidiki. Soal kelak engkau akan menjadi kawan atau lawanku tidak perlu dipikirkan sekarang.”

Jawab Kim Bu-bong, “Ya, memang demikian seharusnya.”

Maka mereka terus mengikuti bekas salju yang tersapu, sepanjang jalan memang tidak sedikit penemuan mereka, Kim Bu-bong melepas pandang ke empat penjuru, katanya dengan menghela napas, “Melihat gelagatnya, mereka seperti menuju ke barat.”

Sim Long berkerut kening, katanya, “Kalau mereka menuju ke tempat yang ramai tentu akan menarik perhatian orang, tapi ke arah barat adalah Thay-hang-san, jalan yang jelas sangat sepi.”

“Dengan orang sebanyak itu, tentu tak bisa berjalan cepat. Bila kita percepat mungkin dapat menyusul mereka.”

Tapi meski mereka mengejar hingga mentari sudah doyong ke barat tetap tidak menemukan kereta yang patut dicurigai, bila ketemu orang lewat, Kim Bu-bong lantas menyingkir dan Sim Long cari keterangan, soalnya tampang Kim Bu-bong yang aneh dan jelek itu mungkin menakutkan orang dan pasti tak mau memberi keterangan.

Namun sepanjang jalan usaha Sim Long juga selalu nihil, ada yang menjawab tidak melihat apa-apa, ada yang bilang pernah melihat kereta, ditegaskan kereta macam apa dan ada berapa? Bagaimana pula tampang kusir keretanya? Orang-orang itu hanya melongo saja dan tidak mampu memberi keterangan lagi.

Menjelang magrib hujan salju turun pula, terpaksa mereka mampir di sebuah pondokan di luar Lokyang, pengaruh bius di tubuh Cu Jit-jit sudah lenyap, maka dia rewel lagi kepada Sim Long, setelah Sim Long memberi keterangan betapa ruwet persoalannya, Jit-jit jadi melongo dan ngeri.

Penginapan di dusun kecil ini amat sederhana, setelah Kim Bu-bong menyodorkan sekeping uang perak, pemilik rumah baru mau memberikan dipan batu yang di bawahnya diberi perapian setiap orang menghabiskan beberapa mangkuk bubur daging sapi, Sim Long berbaring terus tidur, A To juga meringkuk di pojokan, tapi Jit-jit duduk di atas dipan yang keras itu, mengawasi selimut kapas yang kasar dan apak, terbayang yang dibakar di bawah dipan adalah tumpukan tahi kuda, nona cantik bertubuh montok dari keluarga hartawan ini mana dapat memejamkan mata.

Tapi kalau dia tidak tidur, tampang Kim Bu-bong sejelek setan itu selalu terbayang di depan matanya.

Melihat Sim Long dapat tidur nyenyak dan mendengkur, sungguh dongkol sekali Jit-jit, diam-diam dia membatin, “Orang yang tidak punya perasaan, masa tidur sendiri seperti ini?”

Saking dongkol dia buang selimut terus turun dan mendorong pintu, ia berjalan keluar, meski badan terasa dingin sampai menggigil, tapi melihat taburan bunga salju di udara sungguh pemandangan yang memesona.

Di kejauhan terdengar kentungan peronda, waktu sudah lewat tengah malam. Mendadak terdengar suara ringkik kuda dan kereta sayup-sayup terbawa angin dari kejauhan.

Terbangkit semangat Jit-jit, batinnya, “Mungkinkah mereka telah tiba, biar aku membangunkan Sim Long.”

Tapi belum lenyap pikirannya, mendadak sesosok bayangan orang sudah melayang keluar lewat sampingnya, siapa lagi kalau bukan Sim Long.

Orang yang tidur paling nyenyak ternyata keluar paling cepat, entah senang atau gemas, Jit-jit mengomel di dalam hati, “Bagus, ternyata kau pura-pura tidur ….”

Baru saja dia hendak memanggil, bayangan seorang berkelebat pula di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Kim Bu-bong.

Betapa pesat gerakan kedua orang ini, hanya sekejap sudah lenyap di balik tembok sana, sama sekali tidak bicara kepada Cu Jit-jit.

Dongkol sekali hati Jit-jit, pikirnya, “Baik, kalian tidak mengajak diriku, biar kukejar sendiri.”

Padahal suara roda kereta dan lari kuda kini tidak terdengar lagi, Cu Jit-jit tidak jelas dari arah mana datangnya suara kereta tadi. Keruan ia gelisah. Mendadak dia ambil tusuk kundai dan dilemparkan ke tanah, ujung tusuk kundai mengarah ke timur, segera dia kembangkan Ginkang dan berlari ke timur.

Sepanjang jalan jangankan melihat kereta, bayangan setan pun tidak dilihatnya. Keadaan di sini juga semakin sepi, pohon kering di tengah hujan salju di malam gelap kelihatan mirip bayang-bayang setan yang siap menerkam. Kalau orang yang bernyali kecil pasti akan putar balik, tapi Cu Jit-jit justru gadis binal yang bandel, makin tidak ketemu makin ingin dicarinya.

Namun usaha pencariannya tetap nihil, Jit-jit sendiri sudah hampir beku kedinginan, sejak kecil dia biasa diladeni, hidup mewah dan main perintah, setiap patah katanya harus dipatuhi ratusan orang, kapan dia pernah menderita seperti ini.

Mendadak embusan angin dingin terasa merasuk tulang, ternyata sepatunya telah bolong, salju masuk ke dalam sepatu dan membasahi kaus kaki.

Jit-jit menjadi bingung, makin dipikir makin khawatir, akhirnya dia menggelendot di pohon sambil memegang kaki dan menangis terisak. Omelnya, “Untuk siapakah aku menderita begini? Orang tidak punya Liang-sim (perasaan), tahukah kau?”

Belum habis dia bicara sendiri, dari luar hutan kering sana terdengar langkah orang yang menyaruk salju, suaranya yang ganjil ini membikin Jit-jit merinding, saking takut air mata pun lupa menetes, dia menyurut ke belakang pohon dan mengintip ke sana.

Derap kaki makin dekat, lalu muncul dua sosok bayangan putih, di bawah pancaran cahaya salju tertampak kedua orang ini mengenakan jubah putih panjang menyentuh tanah, rambut panjang melampaui pundak, tangan masing-masing memegang cambuk panjang hitam, seperti badan halus saja melayang tiba, waktu ditegasi, ternyata dua gadis belia yang berwajah cantik.

Meski wajah mereka kelihatan kaku dingin, betapa pun mereka adalah gadis remaja, maka legalah hati Cu Jit-jit, namun tetap menahan napas dan tetap mengintip tanpa bergerak.

Sambil berjalan kedua gadis berbaju putih itu celingukan kian kemari, lalu berhenti, gadis di sebelah kiri mendadak mendekap bibir dan bersuit.

Suara suitannya terdengar tajam melengking seperti pekikan setan, Cu Jit-jit sampai berjingkat kaget, tapi lantas didengarnya suitan yang sama dalam jarak puluhan tombak sana, kejap lain terdengar derap kaki orang banyak semakin dekat.

Mendadak muncul dua belas laki-laki jalan beriring menjadi dua barisan memasuki hutan.

Kedua belas lelaki ini ada tua-muda, tinggi-pendek, tapi wajah mereka tampak kaku seperti linglung, lebih mirip mayat hidup yang digiring, di belakang mereka ada lagi dua gadis berbaju putih yang memegang cambuk panjang, bila seorang keluar barisan segera cambuk mereka menghajar tubuhnya, cepat orang itu menyelinap pula ke dalam barisan, wajahnya tidak menunjuk sesuatu perasaan, seperti tidak merasakan sakit sama sekali.

Baru saja hati Jit-jit merasa lega dan hilang rasa kaget, melihat keadaan ganjil ini, jantungnya kembali berdebar-debar.

Selama hidupnya dia cuma pernah melihat penggembala menggiring kambing, sapi, kuda, atau bebek, mimpi pun tak terbayang olehnya bakal melihat gadis-gadis remaja menggiring mayat hidup.

“Mengiring mayat,” mendadak Jit-jit teringat pada cerita yang biasa terjadi di daerah Siang-say, kembali ia merinding, batinnya, “Mungkinkah ini menggiring mayat?”

Tapi di sini bukan di Siang-say, juga orang-orang itu meski kaku dingin, jelas tidak mirip orang mati. Kalau bukan orang mati kenapa menurut saja digiring?

Tampak gadis yang datang duluan tadi mengangkat cambuknya, belasan orang itu pun berhenti, seorang gadis berbaju putih yang berperawakan lebih tinggi berkata sambil menghela napas, “Ai, letih betul, rasanya mau mati, biarlah kita istirahat di sini!”

Gadis temannya berwajah bagai bulan, ia pun menghela napas, katanya, “Tugas menggiring orang seperti ini memang bukan tugas enteng, sudah tidak bisa istirahat, juga khawatir kepergok orang. Kepada kita Toasiauya justru memberi nama julukan yang indah ‘Pek-hun-bok-li’ ….” mendadak ia tertawa cekikik geli, lalu menyambung, “Bok-li (gadis gembala), bila orang mendengar nama ini pasti kita disangka penggembala kambing atau sapi, siapa tahu yang kita gembala adalah manusia?”

Gadis berperawakan ramping tertawa, katanya, “Menggiring orang kan lebih baik daripada digiring orang. Kau tahu di antara orang-orang ini tidak sedikit tokoh-tokoh ternama, umpama dia ….” cambuknya menuding ke tengah barisan, “dia ini salah seorang Piauthau terkenal di daerah Ho-say.”

Jit-jit ikut mengintip ke arah yang ditunjuk, tertampak di tengah barisan itu berdiri seorang lelaki berbadan tinggi besar, tegak kaku dengan selebar muka penuh berewok, siapa lagi kalau bukan Can Ing-siong?

Jika Can Ing-siong berada di sini, maka orang-orang ini pasti juga datang dari kuburan kuno itu. Sungguh Jit-jit tak menyangka tanpa sengaja akan memergoki rahasia ini, sungguh kejut dan girang hatinya, batinnya, “Walau Sim Long cerdik dan pandai, pasti tidak pernah menyangka di dunia ini ada orang menggembala manusia, dia kira setelah orang-orang ini terpengaruh daya ingatannya pasti akan dinaikkan kereta …. Hah, terpaut serambut selisihnya ternyata sangat jauh, seluruh perhatiannya tertuju untuk menguntit kereta, diam-diam orang lain justru menggiring pergi orang-orang ini di tengah malam dingin.”

Meski Can Ing-siong musuhnya, tapi melihat keadaannya yang mengenaskan, hati Jit-jit jadi merasa kasihan, pikirnya, “Bagaimana aku harus memberitahukan kepada Sim Long supaya dia berusaha menolong mereka?”

Tapi lantas terpikir pula, “Ah, tidak, Sim Long selalu anggap aku gadis kolokan, aku justru akan melakukan sesuatu yang mengejutkan dia supaya terbuka matanya, dan kesempatan kini berada di depan mata, mana boleh kuabaikan. Setelah aku menyelidiki sampai jelas duduk persoalannya baru pulang memberitahukan kepadanya, akan kulihat bagaimana mimik wajahnya nanti.”

Lantas terbayang olehnya Sim Long yang menyengir dan kagum serta memuji kepadanya, maka tersimpul senyum manis di wajahnya.

Terdengar salah seorang Pek-hun-bok-li atau Gadis Penggembala Awan Putih yang bertubuh kecil berkata, “Waktu sudah mendesak, marilah berangkat! Jangan lupa, sebelum terang tanah kita harus menggiring orang-orang ini tiba di tempat tujuan, kalau terlambat kita berempat bakal kena hukuman.”

Gadis bermuka bulat berkata, “Kenapa tergesa-gesa, apa gunanya kita sampai di tempat tujuan lebih dini daripada waktu yang ditentukan?”

Yang berperawakan tinggi menghela napas, katanya, “Tiba lebih dini kan lebih baik daripada terlambat, marilah berangkat.”

Cambuk panjang terayun, segera dia membuka jalan di depan. Can Ing-siong dan lain-lain lantas mengintil di belakangnya, persis kawanan bebek yang digiring ke sawah.

Sementara kedua gadis berbaju putih yang lain mengayun cambuk panjang untuk menghapus bekas tapak kaki mereka di atas salju, dengan cepat mereka sudah keluar hutan pula.

Jit-jit berpikir, “Agaknya mereka membagi diri dalam empat kelompok, asal kukuntit kelompok yang ini ke sarang mereka, tentu tak bisa mereka lolos.”

Dengan penuh semangat dan tekad akan membongkar peristiwa misterius ini, kaki dingin tidak dirasakan lagi, dengan main sembunyi dan menahan napas, dia terus menguntit rombongan orang-orang ini dari kejauhan. Untung langkah kaki mereka yang menyaruk salju cukup jelas terdengar dari kejauhan, maka Jit-jit tidak perlu khawatir kehilangan jejak buruannya.

Agaknya Pek-hun-bok-li juga tidak mengira di tengah malam dingin hujan salju ini ada orang memergoki rombongan mereka, maka sedikit pun mereka tidak meningkatkan kewaspadaan, hakikatnya mereka tidak pernah menoleh atau memeriksa keadaan di depan dan di belakang.

Kecuali derap kaki lirih, mereka tidak mengeluarkan suara, cara menggiring tawanan puluhan orang dari satu tempat ke tempat lain ini memang akal yang bagus.

Makin dipikir makin kagum Jit-jit akan cara yang ditempuh orang ini, dalam hati dia membatin, “Cara sebagus ini kenapa sebelum ini tak pernah ada yang memanfaatkannya? …. Tapi orang yang dapat menggunakan akal misterius ini, tentu dia sendiri juga makhluk aneh.”

Sambil meraba-raba siapa sebetulnya makhluk aneh itu dan bagaimana tampangnya, tanpa terasa dia sudah menguntit satu jam lebih.

Diperkirakan sekarang mungkin sudah mendekati fajar, tapi musim dingin biasanya malam lebih panjang dan siang pendek, maka alam semesta masih gelap gulita, sedikit cahaya pun belum tampak.

Cu Jit-jit menduga rombongan “penggiring mayat” ini pasti menuju suatu tempat tersembunyi yang jarang dijelajah manusia, siapa tahu makin maju ke depan, kecuali menyeberangi sungai yang beku permukaannya, jalanan ternyata makin rata, di bawah refleksi cahaya salju dapat Jit-jit melihat bayangan tembok kota besar di kejauhan.

Hal ini kembali di luar dugaannya, pikirnya, “Apakah nona penggiring mayat ini akan masuk ke kota? Ah, kukira tak mungkin.”

Tapi kenyataan kawanan mayat hidup itu memang digiring mendekati kota.

Waktu itu pintu kota baru terbuka, dua buah kereta mentereng mendadak dibedal keluar dengan kencang. Empat sisi kereta bergantung empat lampu yang menyala terang, kelihatannya kereta milik keluarga bangsawan atau orang berpangkat, bukan saja keretanya, kudanya pun tinggi besar.

Jit-jit membatin, “Umpama mereka mau masuk kota tentu juga takkan naik kereta yang mentereng ini, bukankah menarik perhatian orang malah?”

Tak tahunya kedua kereta itu justru menyongsong ke arah rombongan “penggiring mayat” ini, nona bermuka bundar bersuit sekali, kereta segera berhenti, kedua belas lelaki dan empat nona berbaju putih segera naik ke atas kedua kereta itu.

Jit-jit melongo mengawasi kejadian ini, bingung dan kaget, dia tidak tahu bahwa sepak terjang orang-orang ini memang selalu di luar dugaan orang, jika penggunaan kereta kuda ini dapat diraba orang, tentu bukan peristiwa misterius lagi.

Cepat sekali kedua kereta itu bergerak. Jit-jit menjadi nekat, pikirnya, “Sekali bekerja tidak boleh kepalang tanggung, umpama harus masuk kubangan naga dan gua harimau tetap akan kukuntit mereka sampai ke sarangnya.”

Mendadak ia melompat ke depan, dengan gesit ia menyusup ke kolong kereta, dengan membonceng di bawah kereta dia ikut masuk ke sarang musuh.

Orang lain mungkin harus berpikir dua kali, tapi Jit-jit memang gadis binal dan bandel, kalau tidak tentu takkan mengalami macam-macam bahaya.

Kereta masuk kota, Jit-jit bergelantung di kolong kereta dan merasa punggung menyentuh salju, rasa dingin merangsang badannya, sukar baginya membedakan ke arah mana kereta dilarikan. Lambat laun sekeliling mulai terdengar suara orang, sayup-sayup dia mendengar orang berkata, “Bunga anggrek ini bibit istimewa, sukar ditemukan meski sengaja dicari.”

“Sekarang kan sedang musim bunga, lewat musimnya tentu sukar dibeli lagi.”

“Seruni ini terlebih molek lagi, bila ditaruh di meja makan, suasana tentu bertambah indah.”

Mendengar percakapan itu, hidung Jit-jit lantas membau harum bunga, dapat ditebak tempat ini adalah pasar pagi yang khusus menjual bunga.

Kereta lantas berhenti sejenak, agaknya keempat Pek-hun-bok-li membeli tidak sedikit bunga kesayangan mereka. Jit-jit jadi heran, “Untuk apa mereka membeli bunga?”

Terdengar penjual bunga berkata, “Nona boleh ambil saja, kenapa bayar segala.”

“Besok pagi akan datang jenis bunga lain yang lebih bagus mutunya, hendaknya nona datang lebih pagi.”

Jit-jit tambah heran, “Agaknya mereka adalah langganan lama, hubungannya dengan para penjual bunga sudah akrab, orang yang tindak tanduknya serbamisterius ternyata sering kemari membeli bunga, sungguh aneh.”

Kereta mulai bergerak pula ke depan, Jit-jit tidak sempat berpikir lebih banyak.

Setelah keluar dari pasar bunga, jalanan kota yang ditempuh ternyata berbelak-belok ke kiri dan ke kanan, selang sekian lama lagi, terdengar seorang dalam kereta berkata, “Apakah pintu gerbang terbuka?”

“Ya, terbentang lebar, orang lain mungkin sudah tiba lebih dulu.”

“Nah, kan sudah kubilang pulang lebih dini, kau justru ingin istirahat segala.”

“Sekarang sudah sampai, untuk apa mengomel, lekas masuk!”

Di tengah percakapan itu, kereta mendadak berjalan menanjak, semula Jit-jit mengira mendaki lereng bukit, akhirnya baru diketahui cuma undakan batu yang lebarnya hanya tiba cukup lewat sebuah kereta, kedua sisi dipagari tembok pendek, undakan batu juga hanya belasan tingkat, di ujung atas terdapat sebuah gerbang yang luas.

Setelah masuk pintu, jalan di situ dilandasi balok batu hijau, salju sudah tersapu bersih, walau tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, tapi Jit-jit merasakan pekarangannya sangat luas dan bangunannya megah, halaman demi halaman berlaku pula, kemudian baru terdengar seorang berseru, “Kereta diparkir di barak nomor tujuh, orangnya boleh turun lebih dulu.”

Jit-jit coba mengintip, dilihatnya kedua sisi kereta ada belasan kaki orang yang mondar-mandir, semua mengenakan sepatu berselongsong tinggi, tapi ada juga yang bersepatu kain bersulam, ada yang pakai celana, ada yang bergaun, langkah mereka ringan, cuma tidak kelihatan wajah mereka, baru sekarang Jit-jit mulai gelisah.

Sekarang dia sudah masuk sarang harimau, ia tak menemukan akal cara meloloskan diri, bila ada orang berjongkok melongok kolong kereta, maka dia akan ketahuan, umpama dirinya punya enam tangan dan tiga kepala juga jangan harap bisa melarikan diri.

Kini selain gugup ia pun agak menyesal, tidak seharusnya seorang diri dia menyerempet bahaya, kini umpama dia mati di sini demi Sim Long juga tak diketahui anak muda itu.

Suara orang banyak ribut seperti di pasar, ringkik kuda terdengar di sana-sini, beberapa orang menarik kereta masuk ke istal, ada yang sibuk menimba air, mengambil sikat, mencuci kuda dan membersihkan kereta, untung tiada yang melongok ke kolong kereta.

Tubuh Jit-jit terasa kaku dingin, lengannya pegal linu, sungguh dia ingin terjang keluar. Tapi dia belum ingin mati, terpaksa bertahan sekuat tenaga, hanya satu yang diharapkan, semoga tukang cuci ini lekas mengakhiri kerjanya dan menyingkir.

Tak tahunya pencuci itu justru tidak mau pergi, sambil mencuci kuda dan membersihkan kereta malahan sambil ngobrol, ada yang bertembang lagi, maklum, laki-laki kasar, yang dibicarakan tentu juga urusan perempuan melulu.

Jit-jit mengertak gigi, dalam hati dia mencaci maki dan mengutuki supaya orang-orang ini lekas mampus.

Tiba-tiba terdengar bunyi keleningan, seorang berteriak, “Sarapan pagi sudah tersedia, siapa ingin makan bubur lekas ambil!”

Pencuci kereta dan kuda itu serempak bersorak gembira, sikat dibuang, sapu dilempar, kain lap juga ditinggalkan begitu saja, hanya sekejap orang-orang kasar itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

Lega hati Jit-jit, dia tidak tahan lagi, ia jatuh telentang di atas tanah, seluruh ruas tulang seperti terlepas. Tapi dia sadar dirinya masih dalam bahaya, terpaksa dia mengertak gigi dan menahan sakit, perlahan ia merangkak keluar, sembunyi di belakang kereta dan mengintip keluar.

Di luar istal ada puluhan pohon cemara tua dan rindang penuh salju yang bergantungan di pucuk pohon, ke sana lagi terdapat bangunan yang berderet-deret, entah berapa banyak gedung yang berada di sekitarnya.

Diam-diam Jit-jit berkerut alis, sungguh dia tidak mengerti dirinya berada di tempat apa, dari bangunan gedung yang besar megah berderet ini, ia menduga kalau bukan istana raja tentu gedung menteri, tapi bila direnungkan lagi hal ini pun tidak mungkin.

Selagi sangsi, tiba-tiba terdengar seorang tertawa mengikik, kuduk lantas dicium orang dari belakang.

Keruan kaget dan gusar Jit-jit, cepat ia membalik badan, sayang tubuhnya masih pegal linu dan tak bertenaga, gerak-geriknya tidak setangkas semula, setelah membalik badan, ternyata tidak ada bayangan orang.

Tiba-tiba terasa tengkuk dicium orang pula, lalu suara bernada jahil berkata di belakangnya, “Wah, alangkah wanginya!”

Kontan Jit-jit menyikut ke belakang, tapi sodokannya luput.

Waktu dia putar badan lagi orang itu sudah berada di belakangnya dan mencium tengkuknya pula dan katanya dengan tertawa, “Seorang nona sepantasnya lemah lembut, mana boleh main sikut dan pukul.”

Suara orang sekali ini kedengaran serak tua, berbeda dengan suara tadi.

Sungguh kaget, takut, dan marah bukan kepalang Jit-jit, cepat dia putar tubuh, bayangan orang tetap tidak kelihatan, malah kuduknya tetap dicium pula sekali. Didengarnya orang di belakang berkata dengan tertawa, “Meski lebih cepat kau berputar juga tidak akan melihat diriku.”

Sekarang suaranya berubah lembut seperti suara seorang gadis remaja.

Jit-jit menjadi gemas, beruntun dia berputar lima kali, otot tulangnya sudah bekerja normal maka gerak tubuhnya tambah cepat dan tangkas, tak tahunya gerak-gerik orang seperti bayangan setan saja, betapa pun cepat Jit-jit bergerak, orang terlebih cepat lagi, suara bicaranya juga berubah-ubah, dari tua menjadi muda, lelaki berubah menjadi suara perempuan, seolah-olah ada delapan orang ganti-berganti bicara di belakangnya.

Betapa besar nyali Cu Jit-jit, saking ngeri jantungnya seperti hendak melompat keluar, katanya, dengan gemetar, “Kau … sebetulnya orang atau setan?”

Orang itu tertawa senang, sahutnya, “Setan … setan bajul buntung!” – Lalu ia mencium pula.

Bibir orang terasa dingin seperti es, setiap kali kuduk Jit-jit dicium orang rasanya seperti dipagut ular, menyingkir tidak mungkin, berkelit juga tidak bisa.

Betapa pun Jit-jit memang gadis cerdik yang pandai menggunakan otaknya, setelah bola matanya berputar, mendadak dia tertawa cekikik malah, katanya, “Kalau betul kau setan bajul, kenapa tidak berani mencium pipiku?”

Orang itu tertawa, katanya, “Bila kucium pipimu, bukankah akan terlihat olehmu?”

“Biar aku memejamkan mata,” ujar Jit-jit.

“Meski ucapan perempuan tak dapat dipercaya, tapi …. Ai, betapa pun aku harus percaya sekali ini.”

Kedua tangan Jit-jit sudah penuh terisi tenaga, matanya terbelalak, mulut berkata sambil mengikik, “Sudah, mulai!”

Tiba-tiba pandangannya kabur, bayangan seorang berkelebat di depan mata. Dengan sekuat tenaga Jit-jit menghantam dengan kedua tangan, siapa tahu sebelum tinjunya mengenai sasaran, kedua tangannya sudah terpegang orang malah.

Orang itu bergelak tertawa, katanya, “Omongan perempuan memang tidak boleh dipercaya, untung aku sudah sering tertipu, sekarang tidak mudah ditipu lagi.”

Tampak jelas orang ini berpakaian warna jambon, bersepatu tebal, dandanannya persis pemuda bergajul yang suka menggoda perempuan, tapi wajahnya jelek, mata kecil, hidung pesek, alis pendek, bibir tebal, tampang yang menjijikkan.

Jit-jit ngeri dan mual, tapi kedua tangannya dipegang orang sehingga tidak mampu meronta, serunya gugup, “Kau … bunuhlah diriku, aku ini mata-mata yang menyelundup kemari, lekas kau serahkan diriku kepada majikan gedung ini, biar aku dihukum berat!”

Ia pikir lebih baik dirinya tertangkap sebagai musuh yang menyelundup kemari dan dihukum berat daripada jatuh ke tangan pemuda bajul yang berwajah jelek ini.

Tak tahunya orang lantas cengar-cengir dan berkata, “Majikan rumah ini bukan bapakku juga bukan anakku, kau boleh jadi mata-mata, apa sangkut pautnya dengan aku? Kenapa harus kuserahkan dirimu kepadanya!”

“Jadi kau pun menyelundup kemari secara sembunyi-sembunyi?” tanya Jit-jit kaget.

Pemuda baju jambon tertawa, katanya, “Kalau tidak masa aku keluar dari istal?”

Berputar biji mata Cu Jit-jit, harapan hidup timbul dalam benaknya, katanya dalam hati, “Dinilai dari kungfunya yang tinggi, bila dia mau membantuku, dengan mudah segera aku bisa meninggalkan tempat ini.”

Tapi berhadapan dengan orang sejelek ini, makin dipandang makin mual, kalau dia harus memohon kepadanya, betapa pun dia tidak sudi. Apalagi mata orang yang kecil itu bersinar cabul, kata-kata minta bantuan yang hampir terlontar dari mulutnya lantas ditelannya kembali.

Sudah sipit matanya, tapi pemuda itu sengaja memicingkan mata, seperti menikmati sebuah karya besar pengukir ternama, ia mengawasi wajahnya, dadanya, pinggulnya, lalu pahanya, semua bagian tubuh Jit-jit dipandangnya seperti juru kir atau wasit dalam pemilihan ratu kecantikan, mendadak dia tertawa lebar, katanya, “Apa kau mau minta kubantu melarikan diri?”

“Ap … apa kau bisa?” Cu Jit-jit gelagapan.

Pemuda baju jambon tertawa, katanya, “Orang lain anggap tempat ini kubangan naga atau gua harimau, bagiku mau datang boleh datang, mau pergi bisa pergi, mondar-mandir sesuka hatiku seperti keluar-masuk di rumah sendiri.”

“Kukira kau hanya membual saja,” kata Jit-jit.

Pemuda baju jambon menyengir, katanya, “Tak perlu kau pancing diriku, kalau kau ingin kubantu keluar dari sini, aku harus dipersen dulu cium pipi.”

Jit-jit berpikir, “Biar kupejamkan mata dan dicium sekali daripada mati di sini, kalau mati di sini, Sim Long tak bisa kulihat lagi.”

Teringat kepada Sim Long, Jit-jit jadi nekat, asal bisa ketemu Sim Long, umpama dia harus dicium babi atau anjing juga rela.

Segera ia pejamkan mata, katanya, “Baiklah, silakan ….”

Belum habis dia bicara pipinya sudah di”ngok” keras-keras satu kali, didengarnya pemuda baju jambon berkata, “Seorang lelaki sejati harus bisa pegang janji. Nah, ikut padaku!”

Tanpa kuasa Cu Jit-jit lantas terseret pergi, waktu dia membuka mata, dilihatnya dia berlari ke arah gedung-gedung megah sana, keruan Jit-jit kaget setengah mati, teriaknya, “He, mau ke mana kau?”

Pemuda baju jambon tertawa, katanya, “Sebetulnya ingin kubantu kau lari, tapi bila kau sudah pergi, selanjutnya tentu takkan menghiraukan aku, setelah kupikir-pikir, lebih baik menahanmu di sini.”

“Tapi kau … kau sudah janji ….”

“Pemilik gedung ini bukan bapakku juga bukan anakku, tapi adalah ibuku,” kata pemuda itu. “Tadi kau menipuku sekali, giliranku sekarang menipumu sekali, satu lawan satu, sama kuat. Supaya kau maklum saja, meski perempuan pandai menipu, tapi bila lelaki mau berdusta kan tidak kalah bila dibandingkan perempuan.”

Kejut dan gusar bukan kepalang Cu Jit-jit, ia mencaci maki, “Kau babi, kau anjing kurap, kau … kau binatang lebih rendah daripada anjing dan babi, aku benci, ingin kubeset kulitmu.”

Makin galak dia memaki, senyuman pemuda baju jambon makin lebar, makin senang.

Ketika para lelaki berbaju hitam, gadis-gadis berbaju putih di halaman itu melihat kedatangannya, semua menyingkir dan memberi hormat sambil menyapa, “Toasiauya pulang.”

Ada seorang gadis agaknya ada hubungan intim dengan dia lantas berkata, “Toasiauya semalam tidak pulang lagi, awas bila diketahui Hujin (nyonya), pasti kau dilarang masuk pintu.”

Pemuda baju jambon berkata dengan tertawa, “Aku memang tidak masuk pintu, tapi melompat masuk dari tembok dekat istal kuda … Enci yang baik, jangan kau laporkan kepada ibu, besok pasti kuajak kau main mesra.”

Gadis itu tertawa malu, serunya, “Siapa mau main mesra denganmu? …. Domba yang kau bawa pulang ini tampaknya lumayan juga ….”

Di tengah cekikik para gadis itu, pemuda berbaju jambon terus melangkah pergi sambil menarik Cu Jit-jit menuju ke deretan rumah yang terletak di belakang pepohonan bambu sana.

“Berhenti!” mendadak seorang membentak. Suara nyaring berkumandang dari atas loteng di balik pepohonan bambu, meski tinggi loteng ada beberapa tombak, tapi suara bentakan itu seperti mengiang di tepi telinga Jit-jit.

Pemuda baju jambon ternyata tidak berani melangkah lagi, segera berdiri tak bergerak.

Orang di atas loteng lantas menegur, “Besar benar nyalimu, sesudah pulang lantas mau masuk kamar secara diam-diam?”

Pemuda baju jambon ternyata tidak berani mendongak, sebaliknya Cu Jit-jit sudah pasrah nasib, segera dia mendongak, dilihatnya di belakang langkan loteng berdiri seorang perempuan setengah baya berdandan seperti seorang ratu.

Tidak sedikit perempuan cantik yang pernah dilihat Cu Jit-jit, tapi bila dibandingkan perempuan cantik setengah baya ini, maka perempuan lain itu menjadi jelek seperti siluman, hanya sekilas Jit-jit memandang ke atas dan lantas berat untuk berpisah, batinnya, “Aku sendiri perempuan, sekali melihatnya lantas kesengsem, bila lelaki entah bagaimana jadinya, mungkin berjalan pun tidak kuat lagi.”

Perempuan cantik berdandan seperti ratu itu juga menatap Jit-jit, katanya dengan dingin, “Dari mana kau peroleh perempuan ini?”

“Dia ini ….” tutur pemuda baju jambon sambil menyengir, “dia … inilah Yan Ping-bun, nona Yan yang sering anak katakan itu, ibu bilang ingin melihatnya, maka anak membawanya pulang supaya ibu dapat melihatnya.”

Berputar biji mata perempuan setengah baya itu, dengan mengangguk ia berkata, “Ehm, memang cantik, pantas kau tergila-gila padanya, kalau demikian, silakan dia ….”

Bahwa pemuda berbaju jambon berusaha melindungi dia, kalau orang lain pasti kegirangan, tapi dasar Jit-jit berwatak keras, terbayang bila dirinya dibawa masuk ke kamarnya, rasanya lebih baik mati, maka dia lantas berteriak, “Aku bukan Yan Ping-bun. Aku she Cu, juga bukan dia yang mengundangku kemari. Aku menyelundup ke sini dengan membonceng di bawah kereta, maksudku hendak menyelidiki rahasia kalian, tak tersangka tertawan oleh dia, sekarang mau dibunuh atau akan disembelih boleh terserah.”

Seketika dingin telapak tangan pemuda baju jambon itu, perempuan cantik setengah baya itu pun berubah air mukanya, dengan gusar dia mendelik dan mendesis, “Bawa dia kemari.”

Gedung ini dari luar tertampak megah, pajangan di dalam ternyata juga tidak kalah dibandingkan istana, perempuan cantik setengah baya duduk bersandar di atas kursi besar berlapis kulit harimau, duduk santai dengan gaya yang memesona seperti bidadari.

Begitu masuk pemuda berbaju jambon lantas berlutut di depannya. Jit-jit sudah tidak memedulikan mati-hidupnya sendiri, apa pula yang ditakuti? Maka dia berdiri dengan bertolak pinggang sambil mengulum senyum dingin.

“Kau she Cu, siapa namamu?” tanya perempuan itu.

“Mestinya tidak perlu kau urus. Tapi boleh juga kuberi tahukan padamu. Cu Jit-jit adalah diriku, aku adalah Cu Jit-jit. Nah, sudah jelas bukan, jangan dilupakan!”

“Cu Jit-jit, besar amat nyalimu,” desis perempuan itu.

“Berhadapan dengan perempuan secantik kau, sungguh tidak kepalang senangku, apa pula yang kutakuti? Sayangnya engkau yang cantik ini melahirkan putra yang jelek sekali.”

Agaknya perempuan cantik setengah baya belum pernah menghadapi gadis seberani ini, wajahnya yang molek menampilkan rasa tercengang, mendadak dia berseru ke luar, “Bawa kemari!”

Seorang gadis baju putih mengiakan terus berlari turun ke bawah loteng, kejap lain sudah kembali dengan membawa empat laki-laki kekar dan menggusur dua gadis baju putih, yaitu gadis baju putih yang dilihat Jit-jit menggiring barisan mayat hidup itu.

Melihat nyonya cantik setengah baya, kedua gadis itu ketakutan dan gemetar, cepat mereka berlutut lunglai di lantai.

Perempuan cantik itu lantas tanya kepada Jit-jit, “Apakah kau membonceng di bawah kereta mereka itu?”

“Seperti benar, tapi juga seperti tidak benar,” sahut Jit-jit.

Ujung bibir si perempuan cantik tiba-tiba mengulum senyum genit, katanya lembut, “Anak baik, usiamu masih muda, biar bibi mengajar suatu hal kepadamu, bahwa perempuan di dunia ini semakin cantik semakin jahat dan keji hatinya, yang berwajah jelek malah berhati baik.”

“Apa benar?” ujar Jit-jit.

“Jika kau tidak percaya, boleh kau saksikan, setiap gadis anak buahku, bila lalai bekerja, apa hukuman yang harus diterimanya,” jari tangannya yang lentik lantas menjentik perlahan, kedua Pek-hun-bok-li yang berlutut itu seketika menjerit, menangis takut dan memilukan.

Tapi keempat lelaki itu justru tidak kenal kasihan meski terhadap gadis cantik dengan tubuh montok sekalipun, dengan dua lawan satu, yang belakang menjambak rambut dan yang di depan meraih baju, begitu tangan direntang, pakaian dirobek sehingga telanjang, terlihatlah tubuh yang mulus dengan garis tubuh yang ramping, serempak mereka mengeluarkan cambuk terus menghajarnya, tubuh yang putih mulus dan padat itu seketika babak belur dan berdarah, jerit tangis makin memilukan.

Kedua gadis itu berguling dan menjerit, meratap minta ampun, tapi cambuk kulit tanpa kenal kasihan terus menghajar tubuh mereka. Jalur merah membiru menghiasi tubuh mulus dan montok itu agaknya menambah kebuasan keempat lelaki itu, cambuk bekerja semakin gencar.

Jit-jit tidak tahan lagi, teriaknya, “Berhenti … kumohon kepadamu … suruh berhenti.”

“Anak baik,” ucap si perempuan cantik, “kutahu kau tidak takut mati, tapi kau pun perlu tahu banyak urusan di dunia ini jauh lebih menderita daripada mati, umpamanya ….”

Kedua tangan Jit-jit mendekap kuping, teriaknya, “Aku tak mau dengar ….”

“Jika demikian, harus kau bicara terus terang kepadaku. Berapa banyak rahasia kami yang kau ketahui? Kecuali dirimu siapa pula yang tahu?”

“Aku tidak … tidak tahu … apa pun aku tidak tahu.”

“Apa benar kau tidak tahu? Baik ….”

Serentak delapan lelaki kekar telah mengurung Cu Jit-jit.

Ngeri hati Jit-jit, dengan gemetar ia berteriak, “Sim Long, di mana kau? Lekas kemari menolongku.”

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara keleningan dari belakang tabir, seketika berkerut alis si perempuan cantik, perlahan ia menjulurkan kakinya yang putih dan mengenakan sepatu bersulam, lalu berdiri, dengan langkah gemulai ia berjalan keluar.

Kaget dan melongo Jit-jit, tapi lega juga hatinya.

Pemuda berbaju jambon menoleh, katanya perlahan, “Kusuruh jangan banyak omong, kau justru usil, sekarang …. Ai, agaknya nasibmu masih mujur, ada seorang tamu yang harus ditemui itu, kalau tidak ….”

Kalau tidak bagaimana, tanpa dijelaskan juga Jit-jit dapat membayangkan.

Tampak seorang gadis berbaju putih naik ke atas loteng, lalu bicara dengan kereng, “Atas perintah Hujin, sementara nona Cu ini supaya disekap di kamar bawah tanah untuk menunggu keputusan lebih lanjut.”

Segera si pemuda baju jambon bertanya, “Aku bagaimana?”

Gadis itu cekikik geli, katanya, “Kau boleh ikut padaku.”

Berputar biji mata Jit-jit, mendadak dia bertindak, memukul dan menendang, sekaligus merobohkan keempat lelaki, menyusul segera ia menerobos jendela terus melompat ke bawah loteng.

Gadis baju putih dan pemuda baju jambon diam saja melihat dia melarikan diri. Jit-jit sendiri tidak mengira sedemikian gampang dia bisa meloloskan diri, keruan hatinya sangat girang, ia pikir setelah keluar dari loteng ini, orang belum tentu dapat mencegatnya.

Tak tahunya baru saja kakinya menyentuh tanah, mendadak didengarnya seorang tertawa perlahan di belakang, “Anak baik, kau menyusul datang, aku memang menunggumu!”

Suaranya lembut, nadanya genit, siapa lagi kalau bukan si perempuan cantik setengah baya.

Seketika Jit-jit seperti diguyur air dingin, dengan nekat mendadak dia putar tubuh dan menghantam dengan kedua telapak tangan, jurus serangan lihai yang sempat terpikir dilancarkan seluruhnya, dalam sekejap dia menyerang delapan kali.

Ginkangnya memang tidak rendah, serangan juga tidak lamban, sayang ilmu silat yang diyakinkannya terlalu banyak ragamnya sehingga kedelapan jurus serangan itu meski cukup lihai, namun tiada sejurus pun yang diyakinkan dengan sempurna, untuk menghadapi jago silat biasa memang berkelebihan, tapi di hadapan perempuan cantik setengah baya ini ilmu silatnya hanya seperti permainan anak kecil saja.

Didengarnya perempuan cantik itu tertawa dan berkata, “Anak baik, tidak sedikit juga kungfu yang kau pelajari ….”

Dengan enteng dia mengebaskan lengan baju, Yu-ti-hiat di siku kanan Cu Jit-jit kena disabetnya, kontan lengan kanan tergantung, namun dia tetap bandel, dengan nekat tetap menyerang pula tiga kali dengan telapak tangan kiri.

“Kau harus tahu, banyak makan sukar dicerna, demikian pula kungfu, makin banyak ragam yang kau pelajari namun tiada satu pun yang sempurna, lalu apa gunanya ….”

Sekali nyonya cantik itu berlenggang, kembali lengan bajunya mengebas.

Yu-ti-hiat di sikut kiri Cu Jit-jit kembali tertutuk, lengan kiri juga lemas tak bisa bergerak, tapi dasar bandel dia tetap tidak mau kalah, kedua kaki beruntun menendang.

Si perempuan cantik tertawa, katanya, “Dengan kepintaranmu, bila khusus mempelajari satu macam kungfu mungkin kau mampu melawan sepuluh jurus seranganku, tapi sekarang … lebih baik kau menyerah saja.”

Habis berkata, serentak Hoan-tiau-hiat di lutut Jit-jit juga tertutuk dengan kebasan lengan bajunya, Jit-jit terkulai lemas dan tak mampu berdiri lagi.

Tiada seujung rambut perempuan itu tampak kusut, biasanya sikapnya memang anggun, pada waktu bergebrak pun gerak-geriknya lemah lembut memesona.

Jit-jit memandangnya sejenak, katanya dengan menghela napas, “Sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa di dunia persilatan ada perempuan seperti dirimu, tak bisa pula kutebak tipu muslihat apa pula yang sedang kau rancang, agaknya … geger dunia persilatan sudah di ambang pintu.”

“Apa yang kulakukan memang tiada seorang pun di dunia ini dapat merabanya, apa kau tunduk sekarang?”

Walau badan tidak bisa bergerak, tapi mata Jit-jit tetap melotot, teriaknya, “Kenapa aku harus tunduk padamu? Jika usiaku setua kau, belum tentu dapat kau kalahkan.”

“Anak bandel, agaknya sampai mati pun tak mau tunduk, tapi biar kuberi tahukan padamu, waktu usiaku sebaya kau sekarang namaku sudah tersohor di seluruh dunia, tiada lawan yang mampu menandingi aku, jika kau bisa hidup setua aku sekarang, tentu pula kau tahu selama hidupmu jangan harap dapat menandingi aku, hanya sayang ….”

Mendadak dia berhenti bicara dan mengulapkan tangan terus putar tubuh dan tinggal pergi.

Jit-jit membayangkan apa arti “hanya sayang” yang dikatakan, bila dia kembali lagi nanti entah cara bagaimana orang akan memperlakukan dirinya, terbayang pula keadaan di sini serbamisterius, umpama jiwanya melayang juga tidak akan diketahui orang luar, maka jangan harap ada orang akan menolongnya keluar dari sini.

Semakin dipikir semakin ngeri perasaan Jit-jit, jika tiada harapan untuk lolos, terpaksa dia hanya menunggu kematian saja.

Dua lelaki besar tampak menghampirinya, mereka menyeringai, jelas mengandung maksud tidak baik.

Jit-jit mengertak gigi, pikirnya, “Umpama orang luar tidak tahu aku mati di sini, paling sedikit aku harus tahu di mana aku meninggal dunia ….”

Untung lehernya mampu bergerak, maka dia celingukan ke kanan-kiri, dilihatnya di sebelah kanan adalah jalan kecil berbatu kerikil warna-warni, ada gunung-gunungan dan kolam teratai, di belakang pepohonan sana tampak deretan rumah berloteng, samar-samar kelihatan bayangan beberapa orang berpakaian berwarna-warni mondar-mandir, entah apa yang sedang dikerjakan.

Mestinya dia ingin melihat jelas, tapi tubuhnya sudah diangkat kedua lelaki itu, empat tangan berbulu seperti sengaja dan tidak sengaja meremas-remas tubuhnya.

Segera Cu Jit-jit memaki kalang kabut.

Lelaki sebelah kiri menyeringai, katanya, “Genduk busuk, pura-pura suci, sebentar lagi baru ….”

Mendadak seorang menukas, “Sebentar lagi kenapa?”

Kedua lelaki itu tersentak kaget sambil menoleh, tertampak si pemuda baju jambon tengah menatap mereka dengan dingin, seketika pucat muka mereka, kepala tertunduk dan tidak berani bersuara lagi.

Sambil mengawasi Jit-jit pemuda baju jambon seperti mau bicara lagi, tapi segera ditarik pergi oleh si gadis berbaju putih tadi, kedua lelaki itu pun segera menggusur Jit-jit ke balik pintu, seorang gadis baju putih sudah menunggu di samping meja, dengan jarinya yang lentik sedang memajang bunga anggrek di atas meja.

Melihat Jit-jit, gadis berbaju putih itu geleng kepala, katanya dengan tertawa, “Setelah berada di sini, masih ingin lari? Membuang-buang tenaga saja ….”

Lalu dia putar meja persegi di depannya dua kali, papan batu di pinggir meja mendadak menjeplak, muncul sebuah pintu gua yang menjurus ke bawah tanah, di bawah cahaya terang benderang, ternyata sepanjang dinding lorong dihiasi lampu perunggu yang indah.

Gadis berbaju putih lantas berkata, “Kamar Hoa-san masih kosong, bawa dia ke sana saja.”

Di hadapan gadis berbaju putih ini, kedua lelaki itu bersikap hormat dan munduk-munduk, dengan langkah lebar mereka lantas masuk ke sana.

Cu Jit-jit menoleh, serunya, “Cici yang baik, sebetulnya tempat apakah ini, dapatkah kau beri tahukan padaku?”

“Ai, merdu juga kau panggil Cici padaku, sayang aku tidak bisa memberi tahu.”

Kontan Jit-jit memakinya, “Setan alas, budak busuk, tidak kau katakan padaku, suatu hari aku pasti juga tahu.”

Gadis itu hanya mengawasinya dengan tertawa, tidak menjawab dan tidak menghiraukan ocehannya.

Lorong bawah tanah ini ternyata berliku-liku dan ruwet, gelagatnya tidak kalah rumit dibandingkan kuburan kuno itu.

Tampak oleh Cu Jit-jit di tepi setiap pintu yang dilewati ada ukiran huruf yang berbunyi Lo-hu, Ceng-seng dan nama gunung ternama lainnya.

Setiba di depan kamar yang terukir huruf Hoa-san, kedua lelaki itu menekan tombol rahasia dan membuka pintu batu.

Lelaki sebelah kiri menyeringai pula, katanya, “Genduk busuk, justru ingin kuciummu, coba saja kau bisa berbuat apa?”

Sembari bicara dia lantas menunduk, mulutnya yang penuh berewok dan berbau bawang itu lantas mencium muka Cu Jit-jit.

Jit-jit tidak memaki juga tidak meronta, katanya malah dengan nada genit, “Asal kau bersikap baik padaku, tidak jadi soal kau menciumku.”

Lelaki itu tertawa senang, katanya, “Nah kan begitu, agaknya sudah kau rasakan nikmatnya dicium olehku, baiklah kucium lagi ….”

Mendadak dia menjerit kesakitan, darah berlepotan di mukanya, ternyata bibirnya digigit sobek oleh Cu Jit-jit.

Saking kesakitan dan murka lelaki itu mencengkeram dan hendak merobek pakaian Jit-jit.

Tapi Jit-jit lantas mengancam, “Berani kau sentuhku lagi, bila nanti Siauya kemari pasti kuadukan padanya …. Hehe, apa kehendakku pasti akan dilakukannya, coba apa hukuman atas dirimu nanti.”

Sambil mendekap mulut lelaki itu melotot gusar. Lelaki temannya lantas membujuk, “Ma-losam, sudahlah jangan cari perkara, kau tahu bagaimana watak iblis cilik itu.”

Dengan gemas lelaki itu mendorong Jit-jit ke dalam kamar, lalu daun pintu pun tertutup.

Lega hati Jit-jit, tapi air mata lantas bercucuran, keadaan sekeliling kamar tidak diperhatikannya lagi, yang terbayang olehnya hanya wajah Sim Long. Sambil menangis Jit-jit mengomel, “Setan berhati hitam, di … di mana kau sekarang? Kenapa tidak lekas kemari menolongku?”

Mengingat diri sendiri yang salah, kenapa minggat tanpa pamit, seketika pecah tangisnya. Dia memang teramat lelah, menangis dan menangis, tanpa terasa dia tertidur.

Entah berapa lama dia pulas, di dalam mimpi terasa Sim Long menghampirinya dengan tersenyum, dengan girang dia memanggilnya, siapa tahu Sim Long tidak menghiraukannya, malah asyik bermain cinta dengan perempuan cantik setengah umur itu, pemuda baju jambon mendadak muncul dan merayunya, tapi mendadak pemuda itu berubah menjadi kucing dan menubruknya ….

Jit-jit menjerit kaget, tiba-tiba dia terjaga dari alam mimpi, entah sejak kapan pemuda berbaju jambon sudah berdiri di depannya dan dengan tersenyum tengah mengawasinya, matanya memang mirip mata kucing, memancarkan sinar hijau kemilau seolah-olah ingin menelan dirinya bulat-bulat.

Cahaya lampu kelap-kelip. Jit-jit ragu entah kejadian sesungguhnya atau dalam mimpi? Yang terang sekujur badannya basah oleh keringat dingin, dengan suara serak dia mendesis, “Sim Long … di mana Sim Long?”

Pemuda berbaju jambon tertawa, tanyanya, “Siapa itu Sim Long?”

Jit-jit menenangkan hati, baru diketahuinya tadi dirinya memang bermimpi, tapi keadaan di depan mata sekarang rasanya tidak lebih baik daripada mimpi buruk tadi.

Segera bentaknya, “Kau … untuk apa kau kemari?”

Terpicing mata si pemuda baju jambon, katanya dengan tersenyum, “Apa yang hendak kulakukan? Masa kau tidak tahu?”

Tangannya lantas mengelus wajah Jit-jit yang pucat.

“Kau … kau … enyah dari sini!” teriak Jit-jit.

Pemuda baju jambon cengar-cengir, katanya, “Kalau aku tidak enyah memangnya kau bisa apa?”

Muka Jit-jit yang pucat bersemu merah, serunya gemetar, “Kau … kau berani?”

Padahal dia maklum pemuda ini pasti berani melakukan apa pun, membayangkan apa yang hendak dilakukan orang atas tubuhnya, sungguh dia merinding.

Tak tersangka pemuda itu lantas menghentikan aksinya, katanya dengan tertawa, “Walau aku ini pemuda bangor, tapi selamanya tak pernah main paksa, asal kau mau menuruti kehendakku, bagaimana kalau kutolong kau keluar?”

“Tidak. Mati pun aku tidak … tidak mau!”

“Aku ini kurang apa sehingga mati pun kau tidak mau tunduk padaku? Ah, aku tahu sekarang, mungkin kau anggap mukaku terlalu jelek?”

“Memang pemuda bertampang sejelek setan seperti dirimu, hanya babi betina yang suka padamu.”

Pemuda itu menepuk paha, katanya, “Hah, ternyata benar karena mukaku jelek. Baik!”

Mendadak dia putar badan membelakangi Cu Jit-jit, sesaat lagi lantas membalik pula, katanya dengan tertawa, “Sekarang pandanglah diriku.”

Jit-jit tidak mau memandangnya, tapi rasa ingin tahu memaksa dia angkat kepala, seketika dia melongo … pemuda yang barusan bertampang jelek mendadak telah berubah menjadi pemuda bertampang cakap.

Di bawah sinar lampu tertampak bibirnya merah tipis, alis lentik mata jeli, kulit mukanya yang putih bersemu merah, biarpun Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi yang terkenal sebagai pemuda tampan di Bu-lim juga bukan tandingannya.

Keruan Jit-jit terkesima, katanya kemudian, “Kau … kau ….”

“Bagaimana tampangku sekarang? Apa kau mau ….”

“Siluman, iblis, jangan harap!”

“Masih tidak mau? … kutahu, mungkin kau anggap wajah secakap ini kurang jantan, bukan lelaki sejati ….” lalu dia berputar tubuh, setelah membalik kemari pula, kini wajahnya bersemu hijau perunggu, alis tebal, mata besar, sikapnya gagah perkasa, memang berbeda dibandingkan pemuda lembut berpupur tadi, suaranya pun berubah kereng. “Bagaimana?”

Jit-jit menarik napas dingin, katanya, “Kau … jangan harap.”

“Masih belum mau?” ucap pemuda baju jambon. “Ehm, mungkin kau suka pada laki-laki yang sudah matang, kau anggap aku masih hijau. Baiklah, boleh kau lihat.”

Dia lantas membalik badan pula, mukanya sekarang bertambah jenggot, alisnya gompiok, kumisnya melintang. Kini tampangnya memang kelihatan lebih tua sebagai lelaki yang pandai mengayomi kaum perempuan. Lelaki seperti ini memang punya daya tariknya tersendiri.

Meski tercengang, tapi Jit-jit tetap mencaci maki.

Lalu pemuda baju jambon lantas berubah menjadi laki-laki kasar dan bengis, katanya dengan bertolak pinggang, “Kau perempuan rewel, jika tetap tidak tunduk, rasakan kalau kulahap kau.”

Bukan saja tampangnya berubah, suaranya juga berubah persis sesuai orangnya.

Sungguh tak pernah terpikir oleh Jit-jit bahwa di dunia ini ada ilmu merias seaneh ini, keruan dia terkesima.

Melihat Jit-jit terbeliak, pemuda itu tertawa, katanya, “Orang macam apa pun yang kau sukai, baik tua atau muda, aku bisa berubah sesuai kehendakmu, bila kau menjadi biniku serupa sekaligus punya sepuluh suami, betapa senang dan bahagia hidupmu nanti? Perempuan lain sekalipun menyembah kepadaku takkan kulayani, masa kau masih tetap tidak mau?”

“Kau … peduli kau berubah menjadi apa, jangan harap akan diriku.”

“Hah, tetap tidak mau? Kenapa? Memangnya kenapa? …. Ah, aku tahu, mungkin kau mengutamakan ilmu dan tidak menilai tampang, biarlah kuberi tahukan padamu, meski aku bukan orang pandai, tapi baik main musik dan tulis-menulis, atau mengadu kungfu, semuanya mahir, selain ilmu sastra dan ilmu silat, segala macam ilmu pengetahuan juga kukuasai dengan baik. Bila kau punya suami seperti diriku, tanggung selama hidupmu tidak akan kesepian. Kalau tidak percaya, boleh buktikan.”

Sembari bicara dia terus menggerakkan kaki dan tangan, sekaligus dia mempertunjukkan sembilan gerak perubahan, semuanya ilmu silat Siau-lim, Bu-tong dan perguruan besar lain yang tidak sembarangan diajarkan kepada orang.

Lalu dia menepuk ke dinding, dinding batu seketika melekuk sebuah cap tangan, lima jari kelihatan nyata seperti ukiran saja.

Ilmu silat Cu Jit-jit sendiri memang tiada satu pun yang sempurna, tapi kungfu yang pernah dilihatnya sangat banyak, selintas pandang saja dia kenal pukulan lihai orang berasal dari sembilan perguruan besar, sementara tepukan ke dinding itu adalah Toa-jiu-in kaum Lama Tibet. Pemuda ini masih muda, ternyata mahir menguasai berbagai ilmu pukulan perguruan besar, sungguh hal ini amat mengejutkan dan sukar dibayangkan.

Jit-jit lantas bertanya, “Dari … dari mana kau pelajari kungfu itu?”

Pemuda itu tersenyum, katanya, “Apa susahnya? Bila senggang aku malah memperdalam kungfu dengan perpaduan syair-syair ciptaan pujangga kuno, harap nona suka mengoreksi.” Lalu kedua lengan bajunya berkibar, dia memainkan ilmu silatnya sambil membaca syair.

Beruntun si pemuda mempertunjukkan puluhan jurus kungfu yang dipadukan dengan makna syair yang disenandungkan, tak kepalang heran dan kagum Cu Jit-jit, akhirnya dia berseru memuji.

“Terima kasih atas pujian nona, dan sekarang tentu nona maklum, di kolong langit ini memang banyak orang pandai, tapi untuk mencari pemuda seperti diriku pasti tidak ada keduanya.”

Mendadak Jit-jit mendengus, “Huh, juga belum tentu!”

“Apakah nona kenal lelaki bertampang dan berkepandaian melebihi diriku?”

“Kukenal seorang, baik ilmu sastra atau ilmu silat, jelas seratus kali lebih unggul daripadamu, orang macam dirimu hanya setimpal menjadi kacungnya.”

Mendelik si pemuda, tapi segera dia tertawa, katanya, “Ah, nona sengaja hendak memancing kemarahanku?”

“Kau tidak percaya, apa boleh buat. Sayang dia tidak berada di sini …. Hm, kalau dia berada di sini, siapa yang mampu mengurungku?”

Lama pemuda itu melongo, mendadak matanya memancarkan sinar terang, serunya, “Hah, aku tahu, dia … dia pasti Sim Long!”

“Betul … Sim Long, wahai Sim Long, di mana kau sekarang? Betapa kurindukan dikau?” bila mengucap nama Sim Long, sorot mata Jit-jit lantas berubah lembut, manis dan mesra.

Merah mata si pemuda, mukanya dingin, dengan sendirinya ia juga mempunyai daya tarik tersendiri.

Tergerak hati Jit-jit, katanya tak tertahan, “Kecuali Sim Long, kau pun terhitung pemuda pilihan satu di antara seribu, jika di dunia ini tiada manusia bernama Sim Long itu, kemungkinan aku akan jatuh hati padamu.”

“Jadi selama Sim Long ada di dunia ini, selama itu pula kau tidak tertarik padaku, begitu?”

“Pertanyaan ini tidak perlu kujawab, kuyakin kau sendiri maklum.”

“Jika Sim-Long mampus, lalu bagaimana?”

Berubah air muka Cu Jit-jit, tapi lantas tersenyum, katanya, “Manusia seperti Sim Long kuyakin tidak akan mati muda, untuk ini tidak perlu kau khawatir.”

“Sim Long … Sim Long ….” si pemuda mendesis benci. Mendadak dia mengentak kaki, “Baik, ingin kubuktikan orang macam apakah dia, suatu ketika akan kubunuh dia di hadapanmu.”

“Kalau berani kau lepaskan diriku, akan kubawa kau menemui dia, siapa lebih jantan dan siapa lebih unggul antara kalian, setelah berhadapan tentu dapat kau buktikan ….”

“Pandai juga kau memancingku, tapi aku justru terperangkap olehmu …. Baik, akan kubebaskan kau, hendaknya kau bawa dia menemuiku.”

Dalam hati Jit-jit bersorak girang, tapi lahirnya tetap dingin, katanya, “Apa kau berani? Tidak takut Sim Long membunuhmu?”

“Aku justru khawatir Sim Long tidak berani menemuiku.”

“Sekalipun di sini ada gunung golok dan lautan minyak mendidih juga dia berani datang, mungkin kau sendiri yang akan ngacir.”

Sekarang pemuda ini tidak perlu dibakar lagi, sebelum Jit-jit habis bicara dia lantas membuka Hiat-to pada kedua tangan dan lutut Jit-jit.

Cepat Jit-jit melompat bangun, hatinya girang, tapi kaki tangan masih lemas, darah belum lancar, baru berdiri hampir ambruk lagi. Lekas pemuda baju jambon memapahnya, katanya dingin, “Apa kau dapat berjalan?”

“Tak bisa berjalan juga aku akan merangkak keluar, tak perlu kau papah diriku.”

Pemuda itu menjengek, tanpa bicara kedua tangan segera mengurut sendi tulang lutut Jit-jit dan dibetotnya dua kali, mata Jit-jit sudah mendelik dan hendak mendorongnya, tapi kedua tangan orang rasanya seperti mengandung kekuatan gaib, terasa oleh Jit-jit ke mana tangan orang meraba dan memijat segera terasa linu, geli dan lemas, tapi rasanya juga nyaman dan nikmat, selama hidup belum pernah dia rasakan seperti ini, umpama sekiranya dia mampu mendorongnya juga tidak rela lagi mendorongnya.

Tanpa terasa badannya malah merapat, di bawah cahaya lampu mukanya yang pucat sudah bersemu merah, sorot mata si pemuda juga memancarkan cahaya yang aneh, gerak-gerik jarinya juga mulai gemetar.

“Berhenti … berhenti … lepaskan aku ….” gemetar suara Jit-jit.

Bibir si pemuda berada di tepi telinganya, desisnya perlahan, “Apa betul kau ingin kulepaskan dirimu?”

Gemetar sekujur badan Cu Jit-jit, tiba-tiba air matanya bercucuran, katanya, “Aku … aku tidak tahu … tolong … kau … kau ….”

Mendadak terdengar suara tertawa merdu di luar pintu, seorang mengomel, “Bagus, memang sudah kuduga kau pasti mengeluyur ke sini. Eh, kalian sedang main apa?”

Nadanya mengandung rasa cemburu, ternyata si gadis berbaju putih tadi.

Keruan kaget dan malu Cu Jit-jit, sekuatnya dia dorong si pemuda.

Gadis berbaju putih meliriknya sekejap, katanya dengan tersenyum, “Bukankah kau benci padanya, kenapa sekarang tak mau lepas dalam pelukannya?”

Tambah merah muka Cu Jit-jit, biasanya mulutnya usil, tapi sekali ini dia mati kutu dan tidak mampu bersuara. Sebab dia sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa terbuai oleh rasa nikmat tadi. Selama hidup baru kali ini dia merasakan rangsangan nafsu berahi, nafsu berahi yang menakutkan dan mudah menjerumuskan.

Lalu gadis baju putih melirik pemuda baju jambon, katanya tetap dengan tertawa, “Tentunya kau gunakan rabaan maut padanya bukan? Kau ….”

Ketika melihat sorot mata si pemuda memancarkan nafsu yang menyala, segera dia berhenti bicara, tubuh pun bergetar.

Selangkah demi selangkah pemuda baju jambon menghampirinya, sorot matanya seperti tertawa tapi tidak tertawa, katanya, “Aku kenapa?”

Merah muka si gadis baju putih, mendadak dia menjerit, baru saja memutar badan hendak lari, tapi lengannya sudah ditarik si pemuda dan dipeluknya kencang. Badannya menjadi lunglai, tenaga untuk meronta pun tiada lagi.

Perlahan si pemuda berkata, “Kau sendiri yang kemari, jangan salahkan aku!”

Sorot matanya makin mencorong, mukanya juga makin merah, mendadak dia menarik jubah putih si gadis ….

Jit-jit menjerit tertahan, lekas dia melengos ke arah lain.

Didengarnya angin berkesiur, jubah putih itu melayang tiba dan jatuh di depannya, didengarnya dengus napas si gadis semakin memburu, makin keras dan setengah merintih. Badan Jit-jit ikut menggigil, dia ingin lari keluar, sayang kaki tak kuat bergerak, segera didengarnya pemuda itu berkata, “Telah kulepaskan dirimu, tidak lekas pergi?”

Jit-jit menggigit bibir, sekuatnya dia berdiri, lalu lari ke pintu dengan sempoyongan.

Mendadak pemuda itu membentak, “Ambil baju itu dan pakailah, setelah keluar pintu, terus belok kiri, tidak boleh berhenti dan jangan menoleh, tiba saatnya ada orang akan menyambutmu … jangan menunggu sampai aku berubah pikiran.”

Bibir Jit-jit berdarah karena tergigit kencang, entah bagaimana perasaannya, dia lari balik menjemput baju putih itu, tak berani melirik si pemuda yang telah menindih si gadis, segera dia berlari.

Dengan langkah terhuyung sambil mengenakan jubah putih itu, setelah membelok dua kali, jantungnya masih berdegup keras. Baru sekarang teringat ingin melihat keadaan di bawah tanah tadi, tapi apa pun dia tidak berani menoleh lagi, dirasakan pemuda tadi sungguh iblis jahat, bahkan lebih menakutkan daripada iblis, selama hidup belum pernah dia merasa takut seperti sekarang, juga belum pernah merasa benci seperti sekarang.

Dari samping dinding di kejauhan seperti terdengar gemerencing suara logam, serupa suara rantai. Jit-jit tidak berani berhenti, setiap menemukan belokan ke kiri dia lantas masuk, kembali dia berputar dua kali, baru sekarang ia heran akan bangunan di bawah tanah ini. Waktu dia angkat kepala, dilihatnya dua lelaki mengadang di depan, jantung Jit-jit berdegup pula, namun untuk mundur tidak mungkin, terpaksa harus menerjang ke depan, biarpun kedua orang ini lawan tangguh juga tidak lebih menakutkan daripada pemuda tadi.

Di luar dugaan, begitu melihat dia, kedua lelaki itu tidak menampilkan sikap bermusuhan, hanya seorang di antaranya seperti berkata, “Wajah nona ini kok belum pernah kenal.”

Temannya menjawab, “Mungkin baru masuk.”

Lega hati Jit-jit, baru sekarang dia mengerti sebab apa pemuda tadi menyuruh dia mengenakan jubah putih ini, dengan tabah segera dia maju lagi dengan langkah lebar.

Bukan saja tidak merintanginya, kedua lelaki itu malah menjura, sapanya, “Apa nona hendak keluar?”

Sudah tentu Jit-jit tidak berani bicara, dia hanya mendengus, lalu melangkah lewat, didengarnya kedua lelaki itu menggerutu.

Banyak pintu di antara dinding kanan-kiri yang dilewatinya, ia pikir Can Ing-siong, Pui Jian-li dan orang-orang yang lenyap itu mungkin dikurung di balik pintu-pintu itu. Sementara perempuan cantik setengah baya di atas loteng itu pasti pemilik dan perencana semua perangkap keji ini. Kalau dia bukan Hun-bong-siancu pasti juga ada hubungan erat dengan Hun-bong-siancu. Semua ini adalah rahasia yang sedang diselidiki Sim Long, kini-Jit-jit sudah tahu semuanya.

Terbayang bahwa akhirnya dirinya berhasil membantu kekasih pujaannya menyelidiki peristiwa misterius ini, terasa derita yang baru dialaminya bukan apa-apa lagi.

Dia mempercepat langkahnya sambil berpikir, “Menderita bagi orang yang dicintai ternyata juga satu kenikmatan, namun siapa pula di dunia ini yang bisa menikmati kesenangan seperti diriku sekarang … bukankah aku lebih gembira dan bahagia daripada orang lain ….”

Sementara itu dia sudah sampai di ujung lorong, di sini tidak kelihatan ada pintu keluar.

Pada saat itulah dari tempat gelap sana muncul sesosok bayangan orang, begitu menoleh ke sana, semula Jit-jit berjingkat kaget, tertampak orang yang muncul ini berperawakan tinggi besar, perawakan Jit-jit tidak terhitung pendek, tapi berdiri di depan orang ini tingginya hanya sebatas dadanya, badan Jit-jit juga tidak terhitung kurus, tapi pinggangnya tidak sebesar lengan orang ini.

Badan besar kekar, gerak-gerik orang ini juga tangkas dan lincah, Jit-jit tidak mendengar langkahnya, tahu-tahu tubuh besar seperti raksasa ini sudah berdiri di depannya, dadanya telanjang, kulit badannya berminyak mengilat, kepalanya juga besar, dicukur gundul kelimis, lelaki raksasa bermuka sadis ini ternyata memancarkan sorot mata lembut selembut seorang ibu yang sayang kepada anaknya, demikian dia pandang Jit-jit dengan lembut.

Jit-jit tenangkan hati dan membesarkan nyali, sapanya, “Apakah kau … diutus Kongcu menyambutku?”

Raksasa itu mengangguk, ia menuding kuping sendiri lalu menuding mulut.

Jit-jit melengak, batinnya, “Kiranya dia bisu-tuli.”

Dilihatnya lelaki raksasa itu mengangkat kedua tangannya yang panjang besar, langit-langit lorong ini sedikitnya setinggi dua orang, tapi dapat dicapai oleh tangannya.

Samar-samar kelihatan tubuhnya yang berminyak itu penuh otot, sepotong papan batu besar dan berat di atas langit-langit telah diangkatnya.

Jit-jit kaget, pikirnya, “Hebat benar tenaganya, kecuali dia, mungkin tiada orang yang mampu menggeser papan batu di atas itu.”

Tapi dia tidak sempat menoleh lagi, dia melompat ke atas dan menerobos celah-celah papan batu yang tergeser ke pinggir itu.

Semula dia kira di bagian luar kalau bukan hutan tentu adalah tanah pekuburan, ternyata dugaannya keliru pula. Mulut lorong ternyata berada di sebuah kamar belakang toko peti mati.

Dalam rumah yang besar dan luas di sana-sini bertumpuk peti mati, ada yang sudah jadi, ada yang belum rampung dikerjakan, tukang kayu kekar dengan telanjang dada sedang sibuk bekerja, jelas toko peti mati ini cukup laris sehingga pekerja sebanyak ini tiada satu pun yang menganggur.

Sudah tentu Jit-jit berdiri melongo, tapi papan batu sudah tertutup pula, terpaksa dia harus mengeraskan kepala dan berjalan keluar.

Di luar dugaan, tukang-tukang kayu itu semua tekun pada pekerjaan masing-masing, tiada satu pun yang menoleh memerhatikan kehadirannya.

Di luar sana kereta berlalu-lalang, manusia pun hilir mudik, suara ramai sebuah jalan raya. Dua orang sedang memilih dan menawar peti mati, di sana suara gergaji, di sini suara palu memukul paku, di depan lagi tukang sedang memasah kayu, suasana kerja keras benar-benar terasa.

Berada dalam toko peti mati ini, hati Cu Jit-jit merasa ngeri dan takut, kenapa bisa berada di toko peti mati? Mungkinkah dari lorong bawah tanah itu sering digotong keluar orang mati? Begitu digotong keluar lantas dimasukkan ke dalam peti mati, setan pun tidak tahu perbuatan mereka, adalah jamak kalau penjual peti mati mengirim barang dagangannya, siapa pun takkan menaruh curiga, umpama sehari ada dua-tiga puluh orang mati juga orang luar tidak akan curiga … pembunuhan terencana ini sungguh suatu muslihat yang aman dan misterius.

Makin dipikir makin aneh dan ganjil, makin mengerikan, tanpa terasa mengirik bulu kuduknya, lekas dia lari keluar.

Di bagian depan toko dua pegawai sedang melayani pembeli, seorang bermuka burik, seorang lagi bibirnya sumbing, kalau bicara suaranya sumbang. Di pojok sana terdapat meja kasir yang tinggi, di sebelah kiri tertaruh sebuah timbangan emas.

Jit-jit ingat semua yang dilihatnya ini, batinnya, “Asal aku ingat baik-baik toko peti mati ini, Sim Long akan kubawa kemari ….”

Tamu itu mengawasinya dengan heran, kedua pegawai itu malah tak mengacuhkannya.

Jit-jit merasa heran, tapi juga tenang, cepat ia melangkah keluar, begitu menginjak jalan raya yang ramai, melihat orang ramai berlalu-lalang, sungguh senang sekali hatinya.

Sambil menunduk dia mencampurkan dirinya di tengah orang lalu di seberang sana, kemudian baru berani menoleh, dilihatnya toko peti mati itu pakai merek “Ong-som-ki” yang diukir di atas pigura.

Jit-jit ingat baik semua yang dilihatnya, batinnya, “Hwesionya bisa kabur, kelentengnya masa bisa lari? Asal aku ingat tempat ini, memangnya kutakut mereka lari? Seorang diri aku berhasil membongkar muslihat besar yang menggemparkan dunia ini, Sim Long pasti takkan bilang aku tak becus lagi.”

Hatinya menjadi riang kembali, beberapa langkah kemudian dia berpikir pula, “Anehnya, mereka tahu aku bakal membongkar muslihat mereka, kenapa aku dibebaskan? Mungkinkah pemuda baju jambon itu sudah gila? Bukankah perbuatannya secara tidak langsung telah mempertaruhkan usaha ibunya yang besar itu? Jelas tidak mungkin ….”

Teringat hal “tidak mungkin”, tanpa terasa ia mengulum senyum pula, dia kira hal yang “tidak mungkin” itu telah didapatkan jawabnya, “Aku dapat berkorban demi Sim Long, maka pemuda itu tentu juga dapat berkorban demi diriku, cinta memang sesuatu yang agung dan hebat.”

Berpikir demikian, hatinya merasakan manis madu, rasa ragunya lenyap.

Waktu itu sudah menjelang magrib, cahaya mentari keemasan menyinari wajah orang yang berjalan hingga tampak cerah dan segar.

Cu Jit-jit merasa belum pernah mengalami cuaca secerah ini, badan terasa ringan, langkah pun cepat bagai mau terbang.

Tapi tabir malam segera tiba, Jit-jit lantas menyadari dirinya tidak seriang seperti apa yang dibayangkan semula, hakikatnya masih banyak urusan yang merisaukannya.

Sekarang dia tidak membawa sangu sepeser pun, padahal perut lapar dan badan kedinginan, di kota seramai ini, di mana dia bisa menemukan Sim Long? Dia tidak tahu bagaimana dan ke mana dia harus mencari.

Pada waktu menghadapi mati-hidup tadi, tidak pernah dia pikirkan urusan ini, kini baru dirasakan soal kecil ini sangat realistis dan sukar diatasi.

Di sini memang kota Lokyang.

Lama Jit-jit mondar-mandir di depan pintu, sukar mengambil keputusan apakah harus keluar kota atau tetap tinggal di sini.

Ia yakin Sim Long takkan menunggunya di hotel semula, ketika mengetahui dia menghilang, pemuda itu pasti gugup dan gelisah, dan pasti sibuk mencarinya. Tapi ke mana dia mencarinya? Sekarang bukan lagi Sim Long yang mencarinya, tapi dia yang mencari Sim Long.

Perubahan ini sangat aneh dan lucu, pikir punya pikir Cu Jit-jit jadi geli sendiri, namun dalam keadaan kantong kempis dan perut lapar, bagaimana dia bisa tertawa?

Sambil berkerut alis, dengan bersedekap dia berjalan menyusuri kaki tembok kota, tiba-tiba dilihatnya seorang bertopi miring sambil bernyanyi kecil dan berjalan sempoyongan ke arahnya, dari tampang dan dandanannya orang ini kalau bukan pencoleng tentu juga kaum gelandangan.

Kebetulan jalan sepi dan tidak kelihatan orang lain, mendadak Jit-jit melompat maju mengadang di depannya, tegurnya, “He, kau tahu siapa Enghiong (kesatria) terbesar dan ternama di kota Lokyang ini?”

Semula orang itu kaget, dia mengamati Jit-jit sejenak, segera ia cengar-cengir, katanya sambil memicingkan mata, “Aha, adikku manis, tepat kau tanya kepada orangnya, Enghiong terbesar di kota Lokyang ini siapa lagi kalau bukan aku Hoa-hoa-thay-swe Tio-lotoa ….”

Belum habis dia bicara mendadak mukanya kena gampar empat kali pulang-pergi, kontan dia roboh terjungkal. Sebelum tahu apa yang menimpa dirinya, lengan kanannya sudah ditelikung orang, saking sakitnya sampai dia mencucurkan air mata. Baru sekarang dia tahu nona cilik ini tidak boleh dibuat main-main, lekas dia minta ampun.

“Lekas katakan,” bentak Jit-jit, “siapa Enghiong ternama di kota Lokyang?”

Gemetar suara Tio-lotoa, “Yang tinggal di kota barat bergelar Thi-bin-un-hou Lu Hong-sian. Di kota timur juga ada Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi, kedua orang ini adalah Enghiong ternama di kota Lokyang.”

Jit-jit pikir, “Sesuai julukannya, tentu Auyang Hi lebih luas pergaulannya dan royal duitnya ….”

Lalu dia membentak, “Auyang Hi tinggal di mana? Lekas bawa nona ke rumahnya.”

Terkilas senyum licik pada sinar mata Tio-lotoa, serunya, “Baik, baik, sudilah nona lepaskan dulu tanganku, pasti hamba antar ke sana.”

Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi memang tokoh terkenal di kota Lokyang, rumahnya terletak di kota timur, gedungnya besar dan angker, loteng bersusun dengan pekarangan yang luas.

Dari jauh Jit-jit sudah melihat sinar lampu yang terpancar dari kediaman Auyang Hi, suara hiruk-pikuk orang bicara dan bersenda gurau pun berkumandang dari sana.

Setelah dekat jadi lebih jelas, orang keluar-masuk dan kereta berseliweran, semua adalah orang-orang Bu-lim yang dada busung dan perut buncit.

Jit-jit membatin, “Melihat keadaannya memang tidak malu dia dijuluki Tiong-goan-beng-siang (Sosiawan Tionggoan). Tampaknya cukup aku membocorkan sedikit rahasia kepadanya, kuminta dia mencari jejak Sim Long, sekaligus supaya menghubungi orang gagah daerah Tionggoan ….”

Sementara dia berpikir, tiba dia di depan gedung, Jit-jit lantas membebaskan Tio-lotoa.

Mendadak Tio-lotoa berteriak sekeras-kerasnya, “Hai, saudara-saudara, lekas kemari, perempuan celaka ini hendak mencari perkara pada kita.”

Orang-orang yang berkumpul dan mengobrol iseng di depan rumah segera merubung maju setelah mendengar teriakan Tio-lotoa, ada yang berteriak dan ada pula yang memaki, “Tio-lotoa makin tua makin tak berguna, seorang nona cilik saja tidak mampu kau atasi?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: