Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (05)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 9:54 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 05. Semalam di Kota Perbatasan
Oleh Gu Long

Yun Zai Tian dengan lentera di tangan, memimpin ke lima tamu dari depan.

Fu Hong Xue, dengan langkahnya yang berat dan dalam, berjalan perlahan di belakang kelompok – ada beberapa orang yang tidak mau seseorang berjalan dibelakangnya.

Ye Kai dengan sengaja melambatkan langkahnya hingga dia berada disisinya. Gerakannya yang perlahan dan seretan langkahnya yang berat pada batu dan pasir sepanjang jalan seperti golok yang sedang menggiling tulang.

“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa engkau akan berdiam disini.” Ye Kai berkata.

“Oh?” Fu Hong Xue berkata.

“Aku tahu bahwa Ma Kong Qun bertanya keapada kita semua untuk bermalam karena dia ingin memeriksa dan melihat siapa dari kita semua yang tidak ingin bermalam.” Ye Kai berkata.

“Engkau bukan Ma Kong Qun.” Fu Hong Xue berkata.

“Bila aku adalah dia, akupun akan melakukan hal yang sama. Bila seseorang ingin membantai seluruh perkumpulan, maka aku yakin orang tersebut tidak akan suka untuk menghabiskan sepanjang malam di sini.” Ye Kai berkata.

Dia berpikir sejenak dan menambahkan,” Dan bila orang tersebut pun bermalam, dia akan bertindak sangat aneh sepanjang malam. Orang tersebut mungkin akan melakukan sesuatu sebelum pagi tiba.”

“Bila orang tersebut adalah engkau, apakah kau akan melakukan suatu tindakan?” Fu Hong Xue bertanya.

Ye Kai mengubah arah pembicaraaan dan langsung menjawab,” Tahukah kau siapa yang paling ditakuti oleh Majikan Gedung Ma?”

“Siapa?” Fu Hong Xue berkata.

“Engkau dan aku.” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue mendadak berhenti, matanya menatap lekat pada Ye Kai sesaat dia mengucapkan satu kata saat itu,” Kamu salah satunya?”

Ye Kai juga berhenti. Dia juga memandang ke arah Fu Hong Xue dan menjawab,” Itupun hal yang sama yang mau aku tanyakan kepadamu, kamu salah satunya?”
Keduanya diam berdiri dan terdiam ditengah malam. Ye Kai menatap Fu Hong Xue, dan Fu Hong Xue menatap Ye Kai. Tiba-tiba, keduanya tersenyum pada saat yang bersamaan.

Aku rasa, ini adalah senyumanmu yang pertama yang pernah aku lihat.” Ye Kai berkata.

“Dan mungkin ini adalah yang terakhir kalinya juga!” Fu Hong Xue berkata.

Hua Men Tian tiba-tiba nampak dari kegelapan. Dengan matanya yang bercahaya, dia menyeringai kepada mereka dan bertanya,” Apakah yang kalian berdua senyumkan?”

“Sesuatu yang sangat tidak lucu.” Ye Kai berkata.

“Tidak ada sedikitpun yang lucu.” Fu Hong Xue menambahkan.

________________________________________

Gong Sun Duan masih minum arak dari gelas raksasanya.

Ma Kong Qun duduk di sana memandangnya. Setelah beberapa lama, dia menghela napas dan berkata,” Aku tahu engkau berusaha untuk mabuk agar tidak sadar, tapi mabuk tidak akan menyelesaikan masalah apapun.”

Gong Sun Duan tiba-tiba menggebrakan tangannya ke atas meja dan berteriak,” Lalu bagaimana kalau tidak mabuk? Aku masih harus duduk disini dan menerima hinaan.”

“Engkau tidak menerima hinaan, namun merupakan tantangan keteguhan hati. Setiap orang harus tahan menanggung hal itu paling tidak sekali seumur hidupnya.”Ma Kong Qun berkata.

Gong Sun Duan mulai mengencangkan jarinya lagi. Arak di dalam gelasnya mulai tumpah keluar. Dia memandang ke arah gelas arak emasnya yang mulai gepeng ditangannya dan berkata, “Keteguhan hati, huh! Tiga puluh tahun engkau dan aku mengalami hidup dan mati bersama-sama, kita telah bertahan di lebih dari seratus tujuh puluh peperangan, dan darah yang mengalir lebih dari cukup untuk menenggelamkan orang-orang. Tapi sekarang engkau mengatakan aku harus menerima itu – engkau mengatakan aku harus duduk diam saja dan menerima hinaan dari bocah kecil tolol pincang itu?”

Raut muka Ma Kong Qun masih terlihat tenang. Dia kembali menghela napas dan berkata,” Aku tahu hal ini pasti berat bagimu, namun aku …”

“Engkau tidak perlu berkata-kata lagi, aku tahu alasannya. Engkau sekarang memiliki keluarga, dan seorang anak perempuan juga. Engkau tidak dapat lagi bertindak ceroboh dan sembarangan lagi seperti di masa lalu.”

Dia memukulkan tangannya ke atas meja lagi dan tertawa dingin,” Aku hanya kacung rendahan di Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Jadi cukup adil bila aku menerima hinaan untuk Majikan Ketiga.”
Ma Kong Qun berpaling dan memandang ke arahnya, namun matanya tidak melihat sedikitpun kemarahan. Dia sedikit bergerak.

Setelah beberapa saat, Ma Kong Qun dengan tenang menegur,” Siapa yang bilang aku majikan? Dan siapa yang bilang engkau hanya kacung? Segala yang kita miliki saat ini diperoleh dari darah dan keringat kita berdua. Bahkan saudara yang paling dekatpun tidak sedekat hubungan kita. Setengah dari semua ini adalah milikmu. Apapun yang kamu inginkan kamu dapat mengambilnya setiap saat – bahkan bila engkau menginginkan anak perempuanku, dengan senang hati aku menyerahkannya kepadamu.”

Meskipun tekanan suaranya sangat tenang, namun emosi yang terkandung di dalam kata-katanya lebih dari cukup untuk membuat orang yang berkuping besipun menangis. Gong Sun Duan menundukan kepalanya sementara matanya tidak dapat menahan air matanya.

Tepat saat itu, Hua Men Tian dan Yun Zai Tian kembali.

Majikan Gedung Ma nampaknya sedang dalam keadaan murung sesaat dia bertanya kepada kedunya,” Apakah mereka semua tinggal bermalam?”

“Ya.” Yun Zai Tian menjawab.

Emosi yang tersirat dimana Ma Kong Qun telah menghilang dan telah digantikan oleh ketenangan, dan dia menambahkan,” Aku sudah menduga kalau Luo Luo Shan, MuRong Ming Zhu dan Laba-laba Terbang tidak akan berkeberatan untuk bermalam dan itu tidak membuatku heran.”

“Engkau tidak berpikir bahwa mereka bertiga patut tidak dicurigai?” Yun Zai Tian bertanya.

“Sangat sedikit, bilapun ada.” Ma Kong Quan menjawab.

“Tidak perlu juga.” Hua Men Tian berkata.

“Mengapa begitu?” Ma Kong Qun berkata.

“MuRong Ming Zhu bukan orang yang biasa, aku berpikir yang kita lihat hanyalah akting saja. Mengingat reputasinya dan posisinya di dunia persilatan, tidak mungkin dia bertindak seperti itu, dipermalukan beberapa kali.” Hua Men Tian menjelaskan.

Ma Kong Qun menganggukan kepalanya menyetujui dan berkata,” Aku melihat itu juga, dia pasti memiliki maksud terselubung di kepalanya, namun aku ragu dia bermaksud tertentu pada Gedung Sepuluh Ribu Kuda.”

“Dan bagaiman dengan Luo Luo Shan? Sastrawan tersebut telah menikmati kedudukannya sebagai orang yang dihormati di dunia persilatan. Apa motifnya sehingga dia mau datang ribuan mil ke mari?” Hua Men Tian berkata.

“Mungkin dia sedang dalam pelarian dari musuhnya yang sangat kuat dan tempat seperti ini pasti tempat yang baik untuk bersembunyi.” Ma Kong Qun berkata.

“Kekuatan dan pengaruh Perguruan Butong melanglang hingga jauh. Biasanya, musuhnya yang akan bersembunyi dari mereka, sejak kapan mereka harus bersembunyi dari musuhnya?” Hua Men Tian berkata.

Ma Kong Qun tiba-tiba tertawa dan tertawa,” Engkau masih belum dapat melupakan peristiwa dua puluh tiga tahun lalu di Gunung Bu Tong?”

Raut muka Hua Men Tian berubah sesaat dia menjawab,” Aku tidak akan pernah melupakannya.”

“Tapi bukannya pendekar Butong yang melukaimu, Hui Yun Zi, telah mati oleh pedangmu?” Ma Kong Qun berkata.

“Betul, tapi sayangnya semua orang Butong belum mati mengenaskan seperti itu.” Hua Men Tian berkata dengan pedas.

Ma Kong Qun menatapnya dan berkata sambil menghela napas,” Engkau telah memiliki kedudukan yang tinggi, pandangan dan daya analisamu pun bagus dan tajam, dan kamu dapat mengendalikan situasi yang sulit lebih baik dari siapapun yang aku kenal. Kelemahanmu hanya pikiranmu yang sempit, aku hanya dapat mengingatkan mu bahwa hal ini dapat menjadi penyebab kejatuhanmu di masa mendatang.”

Hua Men Tian menundukan kepalanya dan tidak berbicara lagi, namun dadanya meninggi dan dia tidak terlihat senang.

Yun Zai Tian berusaha untuk mengubah arah pembicaraaan dan berkata,” Satu dari mereka berlima, Fu Hong Xue yang paling mencurigakan. Namun seperti yang Ye Kai bilang, apabila dia kesini sungguh-sungguh untuk ….. melakukan pembalasan, apakah dia akan mendatangi Gedung Sepuluh Ribu Kuda dengan golok di tangan?”

Ma Kong Qun terlihat terbenam dalam pikirannya dan akhirnya menjawab,” Bagaimana dengan Ye Kai?”

“Kemampuan silat orang ini nampaknya sangat hebat. Ketenangannya nampaknya sangat tidak terduga. Bila orang tersebut adalah dia, maka dia pasti lawan yang sangat berat.” Yun Zai Tian berkata.

“Kamu berdua sepertinya masih menduga-duga tidak jelas juntrungannya, apakah sekarang sudah ada keputusan?” Gong Sun Duan berkata.

“Belum.” Yun Zai Tian berkata.

“Karena kita masih tidak dapat meduga siapa diantara mereka, mengapa tidak kita habisi saja mereka semua dan selesai!” Gong Sun Duan berkata.

“Bagaimana bila kita membunuh orang yang salah?” Ma Kong Qun berkata.

“Lalu kita hanya harus membunuh dan membunuh lagi!” Gong Sun Duan berkata.

“Dan kita terus membunuh sampai kapan?” Ma Kong Qun berkata.

Gong Sun Duan mengepalkan jarinya dengan rasa marah sementara urat nadi ditangannya sudah mulai menonjol keluar.

Tiba-tiba, terdengar suara seorang anak dari luar,” Paman Keempat, saya tidak dapat tidur. Bisakah paman datang dan mendongengkan aku cerita?”

Gong Sun Duan menghembuskan napasnya dan nampaknya dia telah berubah menjadi orang yang benar-benar berbeda. Semua otot dibadannya terlihat mengendur sementara perlahan-lahan dia berdiri dan berjalan ke arah pintu.

Ma Kong Qun memandang ke arah tubuhnya yang sedang beranjak menuju ke arah pintu, dan pandangan dimatanya berubah menjadi seperti pandangan anak kecil di luar.

Ma Kong Qun berkata-kata dengan tenang,” Secara logika, aku ragu mereka akan melakukan gerakan malam ini, karena mereka memutuskan untuk bermalam. Namun aku tetap harus menepiskan pikiran untuk membiarkan penjaga lengah.

“Benar,” Yun Zai Tian menjawab.

“Lakukan perintah ini: bagi penjaga yang tugas malam menjadi delapan shift, dan perintahkan mereka untuk melakukan patroli tiga kali setiap jam. Bila terlihat ada yang mencurigakan atau terlihat adanya aktivitas, perintahkan mereka langsung membunyikan tanda bahaya!” Ma Kong Qun berkata.

Ma Kong Qun menganggukan kepalanya kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dia terlihat sangat letih sementara di matanya terpentang kegelapan yang membentang menutupi dataran yang luas.

Yun Zai Tian mengikutinya keluar dan berkata sambil menghela napas,” Bila malam ini dapat dilewati tanpa ada peristiwa apapun, maka anda dapat beristirahat dengan tenang semalaman. Lalu baru memikirkan hal lain yang memang harus dikhawatirkan lagi besok.”

Ma Kong Qun menepuk bahunya dan berkata,” Setelah perjuangan ini berakhir, kita harus memperoleh istirahat yang panjang …”

Hembusan angin bertiup. Lentera di langit tiba-tiba menjadi padam. Hanya pembungkus luarnya yang masih tergantung disinari cahaya bulan.

Yun Zai Tian memandang ke arah lentera, sinar matanya terlihat dipenuhi oleh kekhawatiran dan ketakutan.

Apakah Gedung Sepuluh Ribu Kuda akan memiliki nasib yang sama dengan lentera tersebut? Meskipun dia tergantung tinggi di atas, dan cahayanya terpancar hingga ke kejauhan mata memandang, siapa yang tahu tiba-tiba menjadi padam?
Malam semakin larut, cahaya bulan mulai suram, bahkan bila ada suara seribu serulingpun akan terserap menghilang tak berbekas.

Ditengah gurun yang tandus, dibawah cahaya bulan yang dingin dan pahit, siapa yang dapat tidur dengan nyenak?

Mata Ye Kai tetap terbuka sementara dia mulai memandang melalui lubang jendela ke langit malam.

Senyumnya tidak lagi terlihat.

Ketika tidak ada seorangpun disekitarnya, senyumnya yang selalu mengembang diwajahnya menghilang.

Dia juga tidak bisa tidur.

Meskipun tidak ada setitik suarapun yang terdengar, namun pikirannya sangat ramai seperti dipenuhi oleh suara yang berasal dari ribuan genderang. Namun, tidak ada seorangpun yang tahu pasti apa yang ada di dalam pikirannya.

Perlahan-lahan dia menggosokan ke dua tangannya. Kulit di antara ibu jari dan jari tengah tangan kanannya terlihat mengeras dan menebal seperti kulit yang kapalan. Hal ini disebabkan karena menggenggam senjata untuk jangka waktu yang sangat lama.

Namun, dimana senjatanya?

Dia adalah seseorang yang tidak pernah membawa senjata.

Apakah senjatanya tersembunyi di dalam hatinya?

Fu Hong Xue masih menggenggam goloknya dengan erat.

Dia juga tidak dapat tidur.

Dia bahkan tidak peduli sepatunya belum dilepaskan.

Cahaya bulan yang dingin dan pahit mengenai mukanya yang pucat, kaku tanpa emosi dan mengenai sarung goloknya yang berwarna hitam pekat.

Apakah tangannya pernah meninggalkan goloknya?

Tiba-tiba, suara tanda bahaya berbunyi memecah keheningan malam.

Empat buah panah api tanda bahaya telah ditembakkan ke arah kegelapan di sebelah barat halaman luas Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

Tercium aroma bau busuk daging yang sangat memuakan dan memualkan terbawa oleh tiupan angin.

Lampu di dalam kamar Ye Kai paling dulu menyala. Dalam sekejap dia telah meloncat keluar.

MuRong Ming Zhu dan Laba-laba Terbang membuka pintu kamar mereka berbarengan.

Sementara pintu kamar Tuan Luo masih tertutup dan terdengar suara dengkur yang kencang dari dalam kamar.

Tidak terdengar suara setitikpun dari kamar Fu Hong Xue.

“Apakah seseorang baru saja membunyikan tanda bahaya?” MuRong Ming Zhu berkata.

Ye Kai menganggukan kepalanya.

“Tahukah kamu apa yang telah terjadi?” MuRong Ming Zhu bertanya.

Ye Kai menggelengkan kepalanya.

Sesaat dua buah tubuh mendadak melayang kearah mereka. Pedang di salah satu tangannya bersinar seperti bunga yang mekar, sementara pedang ditangan orang yang satunya bergerak seringan dan seluwes bangau terbang.

Hua Men Tian memandang kepada mereka bertiga dari luar pintu kamar mereka dan berjalan hingga akhirnya mencapai tepat di depan pintu kamar Luo Luo Shan. Dia berhenti sesaat setelah mendengar suara dengkur dari dalam kamar.

Yun Zai Tian dengan ringan meloncat ke udara ke arah pintu kamar Fu Hong Xue. Dia mendorong pintu dengan tangannya dan pintu kamar sedikit terbuka.

Fu Hong Xue masih tetap berdiri tegak di balik pintu, tangannya masih menggenggam goloknya dengan kencang. Cahaya yang terpancarnya dari kedua matanya membuat siapapun merasa seram memandangnnya.

Yun Zai Tian secara tidak sadar mundur beberapa langkah kebelakang kemudian bergabung dengan yang lainnya,”Apakah anda semua berada disini sepanjang waktu?”

Tidak ada seorangpun yang merespon. Itu merupakan pertanyaan yang tidak berguna untuk diucapkan.

“Apakah tadi ada yang mendengar sesuatu?” Hua Men Tian bertanya.

Kembali, tidak seorangpun yang merespon.

MuRong Ming Zhu terlihat hendak mengatakan sesuatu namun dia tidak dapat membuka mulutnya, mendadak dia membungkuk dan mulai muntah.

Bau busuk telah mencapai mereka sekarang.

Kemudian, terdengar suara puluhan ribu kuda meringkik. Bahkan bulan yang dinginpun terlihat seperti ketakutan dan kehilangan akal.

“Kerajaan langit, kerajaan dunia. Darah menetes dari kedua mata, bulan tidak bersinar lagi. Sepuluh ribu kuda meratap setelah usus hancur …”

Suara apa yang paling menyeramkan di dunia?

Bukan suara ratapan setan yang kesepian ditengah malam, tapi suara sepuluh ribu ekor kuda yang meringkik berbarengan ditengah-tengah padang tandus yang tak tertepi!

Tidak ada seorangpun yang dapat menggambarkan kengerian suara tersebut saat itu. Tidak ada seorangpun yang pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya.

Bila langit belum saja ambruk ke muka dunia, bila bencana yang paling mengerikan belum juga terjadi, mengapa sepuluh ekor kuda secara mendadak menangis dan meratap berbarengan di tengah malam yang gelap? Bahkan orang yang paling berani dan keraspun saat mendengar suara ratapan yang mengerikan itu tidak dapat menahan tulang kerangkanya meloncat dari kulitnya, dan tidak dapat menahan jiwanya tergoncang dari tubuhnya.

Kuda-kuda yang berada kedua deret kandang kuda tersebut merupakan kuda-kuda pilihan, yang dapat ditemukan hanya satu dari seribu kuda, dipilih dan dibeli oleh tangan yang tidak dapat dinilai oleh emas.

Darah segar mulai mengalir keluar kandang kuda, aroma bau busuk dari kental yang menyeramkan mulai memenuhi udara.

Ma Kong Qun tidak muntah.

Dia berdiri di tengah kolam darah dan terlihat sepertinya seseorang telah merengut jiwanya.

Gong Sun Duan memeluk pada sebuah pohon yang berdiri di depan kandang kuda. Meskipun dengan berpegangan dengan kencang, seluruh tubuhnya bergetar tidak tertahankan. Pohon tersebut ikut bergoyang, daun pohon mulai berjatuhan, seperti di musim gugur, bertebaran ke atas kolam darah.

Darah tersebut terlalu kental sehingga membuat seluruh daun yang jatuh di atasnya tetap mengambang.

Saat Ye Kai tiba, dia tidak bertanya apa yang telah terjadi.

Setiap orang yang memiliki mata dapat melihat dan mengatakan apa yang telah terjadi.

Setiap orang yang memiliki hati pasti takut melihatnya.

Mungkin tidak ada seekor hewanpun di dunia ini yang dapat menyamai keindahan kuda-kuda ini. Dan hanya beberapa hewan saja yang dapat menyamai kegagahan dan kekuatan seekor kuda. Keindahan bentuk tubuhnya dan keanggunan dan kekuatan semangatnya sangat sempurna.

Siapa di dunia ini yang tega memenggal kepala seekor kuda seperti ini dalam sekali tebas?

Orang tersebut pasti sama ganasnya seperti saat membunuh orang lainnya?

Ye Kai menghela napas yang panjang dan memalingkan kepalanya. Dari jarak jauh, dia melihat MuRong Ming Zhu tidak henti-hentinya muntah.

Paras muka Laba-Laba Terbang memucat seperti abu dan keringat dingin mengalir di wajahnya.

Fu Hong Xue berdiri diam dalam jarak yang cukup dekat. Meskipun malam menyelimuti seluruh tubuhnya, pantulan cahaya bulan menyinari sarung goloknya yang berwarna hitam hingga berkilauan.

Gong Sun Duan menatap golok tersebut dan tergesa-gesa berjalan mendekatinya dan berteriak,” Cabut golok mu!”

“Saat ini belum waktunya untuk mencabut golokku.” Fu Hong Xue menjawab dengan lembut.

“Sekarang waktu yang tepat untuk mencabut golok mu, aku mau melihat apakah golokmu dibasahi oleh darah atau tidak!” Gong Sun Duan meminta.

“Golok ini bukan untuk dilihat oleh siapapun.” Fu Hong Xue berkata.

“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mencabut golok mu?” Gong Sun Duan berkata.

“Aku mencabut golokku hanya untuk satu tujuan.” Fu Hong Xue berkata.

“Untuk apa? Untuk membunuh?” Gong Sun Duan bertanya.

“Tergantung dari orang seperti apa yang akan aku bunuh. Aku hanya membunuh tiga jenis orang.” Fu Hong Xue menjawab.

“Apa ketiga jenis orang itu?” Gong Sun Duan bertanya.

“Musuh, penjahat, …”Fu Hong Xue berkata.

“Dan apa yang terakhir?” Gong Sun Duan bertanya kembali.

Fu Hong Xue menatapnya dengan dingin dan menjawab,”Orang sepertimu yang memaksaku mencabut golok ku.”

Gong Sun Duan tertawa keras dan berkata,” Bagus! Perkataan bagus! Itulah yang aku tunggu …”

Tangannya menggapai gagang goloknya. Sebelum suara tawanya selesai, goloknya telah berada di tangannya dengan kuat.

Mata Fu Hong Xue semakin bersinar, dia menunggu saat yang tepat.

Saat yang tepat untuk mencabut goloknya! Namun beberapa saat kemudian, dari tengah padang rumput yang gelap, suara yang menyeramkan memecah kebisuan,”Kerajaan langit, kerajaan dunia. Darah menetes dari kedua mata, bulan tidak lagi bersinar. Bulan yang gelap, angin yang kencang, malam ini merupakan malam yang tepat untuk membunuh, sepuluh ribu kuda meratap sesaat usus hancur.”

Suara tersebut terdengar dari langit yang gelap. Meskipun suara tersebut seperti terdengar dari kejauhan, namun setiap kata yang diucapkan terdengar dengan jelas.

Parah wajah Gong Sun Dua berubah. Dia menggerakan jarinya ke udara dan berteriak keras, “Kejar mereka!”

Sesaat setelah dia memberikan tanda, belasan lentera terlihat di berbagai sudut diikuti dengan suara-suara.

Yun Zai Tian mengangkat lengannya,’ Mengikuti Jangkerik Mengejar Awan dalam Delapan Langkah’, tubuhnya telah melayang bagai asap ke udara. Dalam tiga hingga lima langkah, dia telah mencapai tujuh puluh meter.

“Tidak heran orang-orang menyebutnya ‘Bangau Terbang di Awan’, ilmu meringankan tubuhnya betul-betul telah sampai pada tingkat yang teratas.” Ye Kai berkata.

Sepertinya dia berbicara pada dirinya sendiri, tapi dia juga seperti sedang bicara pada Fu Hong Xue. Sesaat, Ye Kai memalingkan kepalanya ke arah Fu Hong Xue berdiri, namun dia tidak melihat siapapun.

Kolam darah saat ini telah berhenti mengalir. Cahaya lentera dikejauhan perlahan-lahan menghilang.

Ye Kai berdiri sendirian di depan kandang kuda tersebut – sepertinya dia adalah orang terakhir yang masih berdiri di alam lain.

Ma Kong Qun, Hua Men Tian, Fu Hong Xue, Murong Ming Zhu … mereka semua nampkanya telah menghilang ke dalam kegelapan malam.

Ye Kai terbenam dalam pikirannya yang dalam. Senyum mulai nampak dari ujung bibirnya seraya berkata,” Sungguh aneh, sungguh aneh! Setiap orang dari mereka sungguh mengherankan!”

Belasan nyala api berkedip-kedip di lapangan rerumputan, seperti bintang yang jatuh dari langit ke bumi.

Ye Kai kemudian berjalan di dalam kegelapan, dia keluyuran ke timur dan ke barat, seperti tidak ada tujuannya. Dia terlihat seperti seseorang yang paling bebas dan tidak perduli disana.

Lentera di langit mulai menyala lagi.

Dia mengangkat tangannya dan mulai berjalan mondar mandir di bawah cahaya lentera.

Tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang menggelegar dan suara lonceng yang berdenting. Seekor kuda muncul dari kegelapan, mata sipengendara seperti embun di musim semi. Dia menatap gadis itu sejenak, lalu terdengar suara tangis yang lembut. Sipengendara dan kudanya tiba-tiba berhenti tepat dihadapannya. Kuda yang bagus, pengendara yang terampil.

Ye Kai tersenyum dan berkatra, ” Bibi benar-benar belum mati karena jatuh, sungguh beruntungnya, sungguh-sungguh beruntung.”

Ma Fang Ling menatapnya dingin dan menjawab, “Engkau bangsat kecil, apa yang sedang engkau lakukan disini?”

“Bagaimana aku bisa pergi begitu saja sebelum bertemu dan melihat pasar muka nona Ma?” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Engkau bangsat kecil yang tidak tahu malu berbibir manis, aku akan memukulmu hingga mati.” Ma Fang Ling menjawab dengan marah.

Cemetinya melesat seperti ular ke arah Ye Kai.

“Engkau tidak dapat memukul bangsat kecil sampai mati.” Ye Kai berkata.

Sebelum perkataannya selesai diucapkan, tiba-tiba dia meloncat menaiki kuda tersebut dan duduk tepa dibelakang Ma Fang Ling.

Ma Fang Ling memukulkan tinjunya ke belakang dan berteriak, “Apa yang sedang engkau lakukan?”

Namun sesaat tangannya bergerak memukul, lengannya telah tertangkap dan terkunci.

“Bulan sangat gelap, angin berhembus kencang, dan aku tidak tahu kemana aku bergerak. Bolehkah aku menyusahkan nona mengantarkan aku kembali ke rumah?” Ye Kai berkata.

“Mengapa engkau tidak pergi saja ke neraka.” Ma Fang Ling mencemooh.

Gadis itu kembali memukul dengan tangan yang lainnya, namun kembali lengannya ditangkap dan dikunci. Gadis tersebut masih berjuang untuk melepaskan diri, namun dia tidak dapat bergerak seincipun. Apa yang dapat gadis tersebut rasakan adalah seorang laki-laki yang bernapas perlahan dibelakang lehernya.

Gadis tersebut ingin sekali menggerakan kepalanya kebelakang sehingga melemparkan tubuh laki-laki tersebut dibelakangnya, namun karena suatu sebab dia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menggerakan setitik ototpun ditubuhnya.

Pembantu merah yang sedang mereka tunggangi, yang nampaknya seekor kuda betina, tiba-tiba berubah mejadi tenang dan menurut. Kuda tersebut membuat langkah kecil saat berjalan maju ke depan.

ooOoo

Peristiwa apa yang telah terjadi di Gedung Sepuluh Ribu Kuda? Apakah Ma Kong Qun akan membantu kelima orang tamunya?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: