Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Duke of Mount Deer (11)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:53 am

Duke of Mount Deer (11)
Oleh Jin Yong

Hay Kongkong tidak menyangkal. Dia hanya melanjutkan kata-katanya.

“Ketika Toankeng Hong hou wafat, banyak yang menduga bahwa kematiannya disebabkan tekanan batin karena kehilangan puteranya yang masih bayi itu. Menurut tabib istana, kematian Eng Cin Ong disebabkan dua ototnya putus karena hantaman seseorang. Karena itu isi perutnya menjadi hancur.”

“Apakah junjunganmu itu mempercayai ocehanmu?” tanya thayhou dengan nada dingin.

“Pertama-tama junjunganku memang tidak percaya, tetapi pikirannya berubah setelah hambamu memberikan faktanya. Dalam waktu satu bulan, hamba mencoba penemuan ini pada lima orang dayang, hasiilnya… .sebab kematian mereka persis dengan kematian Toankeng Hong hou. Kalau hanya satu yang kematiannya sama, mungkin masih bisa dikatakan bahwa perkiraan hamba itu salah. Tapi kalau lima-limanya sama, tentu persoalannya lain lagi. Akhirnya junjunganku jadi percaya.”

“Oh! Hebat sekali! Sungguh mengagumkan, di dalam istana ada seorang ahli penyelidik seperti engkau ini,” sindir Thayhou.

“Terima kasih atas pujian thayhou,” sahut Hay kongkong yang sikapnya tidak berubah meskipun sadar dirinya disindir.

Untuk sesaat keduanya membungkam. Hanya sekali-sekali terdengar suara batuknya si thaykam tua itu. Sejenak kemudian baru Hay kongkong melanjutkan kata-katanya.

“ltulah alasan mengapa junjunganku menitahkan aku kembali ke istana ini, yakni untuk menyelidiki sebab musabab kematian Toankeng Hong hou dan Eng Cin ong!”

Thay hou tertawa dingin.

“Untuk apa diperiksa? Di dalam istana ini, mana ada orang yang kepandaiannya begitu tinggi.”

“Biar bagaimana, hambamu yakin orang berkepandaian tinggi itu pasti ada!” sahut Hay kong kong berkeras. “Sehari-harinya sikap Toankeng Hong hou terhadap hamba sangat baik. Hamba selalu mendoakan agar beliau panjang umur dan hidup sejahtera sampai hari tua. Seandainya saja sejak semula hamba tahu ada orang yang berniat membunuh beliau, tentu hamba akan mengerahkan segenap kemampuan untuk melindunginya. Hamba rela mengorbankan selembar jiwa tua ini demi keselamatan beliau!”

“Sungguh setia!” ejek thayhou. “Seharusnya dia bersyukur mempunyai seorang anjing pengawal seperti engkau!”

“Sayangnya hamba tidak becus, akhirnya tidak sanggup melindungi permaisuri….”

Thayhou tertawa datar.

“Tentunya setiap pagi kau bersembahyang dan membaca kitab suci agar arwah Tongkeng Hong hou segera mencapai surga….”

Nada suaranya masih mengandung ejekan, tetapi Hay kongkong tidak memperdulikannya.

“Kalau hanya bersembahyang atau membaca kita suci saja, tidak ada gunanya. Di dalam dunia ini sepertinya ada sebuah pernyataan, yang baik akan mendapat kebaikan, yang jahat akan mendapat balasan!” Hay kongkong menghentikan kata-katanya sejenak. “Kalaupun pembalasan sampai tidak terjadi, hal ini hanya soal waktu saja”

Sekali lagi thayhou mendengus dingin.

“Perlu thayhou ketahui, junjunganku menitahku menyelidiki dua macam urusan, ternyata terdiri dari satu. Namun di samping itu, tanpa terduga-duga ada sebuah persoalan lainnya yang dari justru dari satu menjadi dua.”

“Rupanya banyak sekali urusan yang berhasil kau selidiki. Urusan apa lagi?”

“Urusan yang ada kaitannya dengan selir Ce hui!”

Ibu Suri tersenyum datar.

“Dia? Dia kan adiknya si rase centil. Pantasnya dia menjadi si rase centil kecil. Untuk apa kau menyebut-nyebutnya ?”

“Ketika junjunganku meninggalkan istana, beliau meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan bahwa beliau tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya. Berhubung thayhong dan thayhou sadar bahwa suatu negara tidak boleh tanpa pemimpin, itulah sebabnya kalian membuat pengumuman bawa raja telah mangkat dan putera mahkota Kong diangkat untuk menggantikannya. Kekuasaan akhirnya jatuh di tangan Sri Baginda yang sekarang dan thayhou sendiri. Ketika itu junjunganku sudah mencukur rambutnya menjadi hwesio. Hal ini hanya lima orang yang mengetahuinya, termasuk Gi Lim taisu dan hambamu, Hay tayhu.

” Mendengar sampai di situ, Siau Po baru mengerti duduk persoalannya. Rupanya ‘orang’ yang mereka sebut-sebut memang kaisar Sun Ti yang sudah mencukur rambut menjadi hwesio dan kemudian dinyatakan telah mangkat oleh Hong thayhou. Kaisar Sun Ti mengundurkan diri karena sedih sekali ditinggal mati oleh selir kesayangannya. Sedangkan menurut Hay kongkong, kematian selir ini akibat diserang secara gelap oleh seseorang berkepandaian tinggi.

Senang sekali hati Siau Po ikut mendengar pembicaraan mereka. Diam-diam dia berkata dalam hati

“Si kura-kura tua tadi mengatakan bahwa rahasianya diketahui oleh lima orang. Dia tidak tahu jumlah sebenarnya adalah enam, berikut diriku!”

Baru saja berpikir demikian, tiba-tiba timbul rasa jeri dalam hati Siau Po. Sebab dia baru saja mendengar sebuah rahasia besar, apabila si thaykam tua sampai mengetahui hal ini, tamatlah riwayatnya. Dan kalau ibu suri yang mengetahuinya, akibatnya sama saja.

Karena takutnya, gigi Siau Po sampai berbunyi gemeretuk. Untung saja baik Hay kongkong maupun Hong thayhou sedang hanyut dalam pikiran masing-masing sehingga tidak memperhatikannya. Apalagi suara batuk Hay kongkong memang sudah cukup membisingkan.

Beberapa saat kemudian si thaykam tua baru berkata lagi.

“Ketika Ceng-hui bunuh diri demi junjunganku, seluruh istana memujinya. Tetapi di pihak lain, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa kematian Ceng-hui karena dipaksa seseorang, bukan atas kehendaknya sendiri.”

“Itu pasti fitnahan para menteri durhaka yang tidak menghormati kaisar ataupun para atasannya. Cepat atau lambat, orang-orang seperti itu tidak boleh dibiarkan hidup!” .

“Tapi, apa yang mereka katakan memang benar. Ceng-hui mati bukan atas kehendaknya sendiri!” kata Hay kongkong.

“Apa kau ingin mengatakan bahwa kematian Ceng-hui karena dipaksa olehku?” tanya thayhou dengan nada sinis.

“Kata-kata paksa, hamba tidak berani ucapkan.” sahut thaykam itu.

“Lalu apa maksudmu?”

“Ceng-hui mati karena dibunuh, bukan dipaksa mati. Hambamu sudah menanyakannya kepada pemeriksa jenasah. Ketika mayatnya dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam peti, ternyata tulang-tulang di tubuh Ceng-hui telah berpatahan, bahkan batok kepalanya juga remuk. Itu merupakan hasil pukulan ilmu Hoa-hut Bian ciang (Pukulan lembut meremukkan tulang) bukan?”

“Mana aku tahu?”

“Hamba pernah mendengar bahwa di dunia ini memang ada ilmu yang lihay itu. Apabila seseorang dihantam oleh pukulan tersebut, dari luar memang tidak terlihat perubahan apa-apa, tapi tidak demikian dengan tulang-tulang dalam tubuhnya. Menurut selentingan, orang yang menjadi korban pukulan itu, dalam tiga atau empat tahun, barulah tulang-tulang dalam tubuhnya menjadi hancur. Mungkin orang yang mencelakai Ceng-hui ilmunya belum sempurna, sehingga perubahannya lebih cepat, yakni sore itu juga. Hal inilah yang ditemukan oleh pemeriksa jenasah. Dia terkejut setengah mati, namun tidak berani mengutarakannya kepada siapapun. Belakangan, setelah hamba memaksanya dengan berbagai cara, baru dia terpaksa mengatakannya. Nah, thayhou, bagaimana tanggapanmu sendiri, benarkah orang itu masih belum sempurna ilmu Hoa-hut Bian ciong-nya?”

Terdengar Ibu Suri menyahut dengan suara menyeramkan.

“Walaupun belum sempurna, tapi sudah membawa manfaat juga, bukan?”

“Bicara soal bermanfaat, memang benar. Karena setelah dipakai untuk membunuh Ceng-hui, dapat pua digunakan atas diri Haukong Hong hou!” sahut Hay kongkong.

‘Ah, benar-benar edan! Kenapa selir raja begitu banyak?’ kata Siau Po dalam hati. ‘Sekarang ada lagi seorang Hau-kong Hong hou. Mungkin permaisurinya lebih banyak daripada nona-nona penghibur di Li Cun-wan!’

Dasar bocah nakal. Mungkin hanya dia seorang yang bisa membandingkan jumlah selir raja dengan perempuan-perempuan penghibur di rumah pelesiran.

Sebenarnya kaisar Sun Ti mempunyai empat orang permaisuri, yang mana permaisuri pertama telah dipecat. Dia adalah keponakan ibunya sendiri.

Kaisar Sun Ti sangat mencintai Tang Gok-hui, ratu jadi cemburu karenanya dan sering mencari keributan dengan suaminya. Itulah sebabnya permaisuri pertama itu dipecat. Para menteri memprotes perbuatannya. Perkara ini memakan waktu sepuluh tahun, namun akhirnya permaisuri dipecat juga. Kaisar Sun Ti ingin mengangkat Tang Gok-hui sebagai permaisuri, namun sayangnya wanita itu bukan turunan bangsawan, sehingga hal itu tidak memungkinkan. Akhirnya seorang perempuan yang diangkat jadi permaisuri, dia adalah Hau Hong Hou yang masih sanak famili ibunya. Tentu saja pengangkatan itu karena persetujuan ibu raja. Raja merasa tidak puas. Belakangan, setelah putera mahkota Kong Hi diangkat menjadi kaisar untuk menggantikannya, permaisuri itu baru angkat menjadi ibu suri atau Hong thayhou.

Dua permaisuri lainnya, yang pertama ada ibu kandung kaisar Kong Hi sendiri. Dia asalnya orang Han, ayahnya bernama Tong To-Lai. Itu sebabnya kaisar Kong Hi berdarah campuran, separuh Han dan separuh Boan. Hong hau adalah seorang selir, tetapi karena anaknya diangkat menjadi kaisar, akhirnya dia pun diangkat menjadi permaisuri. Namun di saat pemerintahan Kong tahun kedua dan bulan kedua juga, permaisuri wafat. Setelah itu dia pun dianugerahi gelar Hau-hong Hong hou.

Yang satunya lagi adalah Tang Gok-hui. Setelah wafat, dia dianugerahi gelar Haulian Hong, Hou dan Toankeng Hong hou.

Siao Po tidak tahu bahwa Haukeng Hong hou adalah ibu kandung kaisar Kong Hi. Ia hanya menjadi heran ketika mendengar perubahan suara thayhou

Terdengar Hay kongkong berkata kembali.

“Orang yang mengurus jenasah Haukeng Hong Hou sama orangnya dengan yang memeriksa jenazah tang Gok-hui serta Ceng-hui!”

“Oh… tentunya orang itu, mengoceh yang bukan-bukan lagi bukan? Dia benar-benar pandai memfitnah, sepatutnya mendapat hukuman mati!” kata thayhou.

“Kalau thayhou bermaksud membunuhnya, sekarang sudah terlambat!”

Ibu Suri merasa heran.

“Apakah kau telah membunuhnya?”

“Bukan!” sahut Hay kongkong. Tahun yang lalu hamba sudah menitahkan orang itu pergi ke Ceng-Liang si untuk menuturkan apa yang ditemukannya kepada junjungan kita. Setelah itu, dia mendapat perintah untuk menyingkir ke luar perbatasan (Kwan gwa), di sana dia harus mengganti she dan nama aslinya untuk menghindarkan diri dari ancaman bencana.”

“Kau… kau…” Ibu suri marah sekali. Suaranya sampai bergetar. “Kau kejam sekali!”

“Yang kejam bukan hamba, tapi orang lain. Hamba merasa malu tidak mendapat kehormatan demikian besar,” sahut Hay kongkong.

Thayhou terdiam beberapa saat.

“Kalau begitu, apa tujuanmu datang ke malam ini?”

“Hamba datang untuk menanyakan satu hal kepada thayhou. Harap Hong thayhou sudi terus-terang, agar hamba bisa pulang ke Ngo-tay san dan. memberikan laporan kepada junjungan kita. Toankeng Hong Hou, Tang Gok-hui dan Ceng-hui mati penasaran. Itulah sebabnya junjungan sampai meninggalkan istana dan mencukur rambutnya menjadi hwesio. Hamba ingin mengetahui siapa orangnya yang menurunkan tangan jahat kepada mereka. Tentunya dia seorang yang berkepandaian tinggi dan bersembunyi di dalam istana ini, bukan? Siapa dia? Hamba sudah tua, penyakit batuk ini semakin hari semakin parah dan tidak mungkin disembuhkan lagi. Hamba ibarat lilin yang hampir padam. Kalau hamba tidak tahu siapa orang yang telah menurunkan tangan jahat, biar matipun, hamba tidak bisa memejamkan mata dengan tenang.”

“Sekarang sepasang matamu sudah buta. Kau tidak bisa melihat lagi. Untuk apa kau bertemu dengan orang itu?” tanya thayhou.

“Meskipun mata hamba sudah buta, tetapi hati hamba masih terang!”

“Kalau hatimu masih terang, mengapa kau harus bertanya padaku, mengapa kau tidak mencari jawabannya sendiri?”

“Lebih baik ditanyakan agar semuanya menjadi jelas dan hamba tidak perlu menduga-duga sekenanya. Sudah berapa bulan hamba menyelidiki masalah ini. Siapa kira-kira orang berilmu tinggi yang bersembunyi di dalam istana. Sebetulnya hal ini sulit sekali, sampai suatu hari terjadi peristiwa yang kebetulan sekali. Hamba berhasil mengetahui bahwa sri Baginda mengerti ilmu silat!”

Thayhou tertawa dingin.

“Kenapa kalau Sri Baginda mengerti ilmu silat? Apakah dia yang membunuh ibu kandungnya sendiri?” sindirnya tajam.

“maaf! Dosa, dosa kalau hamba berani mengatakan demikian. Hamba malah patut mendapat mati apabila mempunyai pikiran seperti itu saja. Tidak mungkin Sri Baginda melakukan perbuatan yang demikian durhaka!” Hay kongkong terbatuk-batuk sedikit, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya. “Hamba mempunyai seorang pelayan bernama Siau Kui cu….”

Siao Po terkejut sekali mendengar ueapan thaykam tua itu.

“Nah, si kura-kura tua mulai menyebut-nyebut namaku”, pikirnya was-was.

“Siau Kui cu lebih muda dua tahun dari Sri Baginda,” kata Hay kongkong melanjutkan kata-katanya. “Sri Baginda sangat menyukainya. Sering mereka berlatih gulat bersama dan berlatih ilmu silat juga. Kepandaian Siau Kui cu, hamba yang mengajarkannya. Dia belum terhitung orang gagah nomor satu, tapi mengingat usianya, tidak mudah sembarangan orang mengalahkannya.”

Senang juga hati Siau Po mendengar pujian yang secara tak langsung itu.

“Guru yang hebat pasti membuahkan murid yang pandai, sama seperti panglima yang gagah memimpin tentara yang perkasa!” kata Ibu suri.

“Terima kasih atas pujian thayhou. Tapi, kenyataannya apa yang terjadi, setiap Siau Kui cu kelahi melawan Sri Baginda, dalam sepuluh bertanding, dia pasti kalah sembilan kali. Tipu jurus apa pun yang hamba ajarkan, selalu dapat dipecahkan oleh Sri Baginda. Karena itu, pula, hamba berpendapat bahwa guru Sri Baginda mempunyai kepandaian yang lebih tinggi daripada hamba. Hamba juga yakin bahwa di antara para pesilat di dalam istana ini, guru Sri Baginda itulah yang berkepandaian tertinggi. Itulah sebabnya hamba juga mepunyai keyakinan bahwa tidak sulit menemukan siapa orangnya yang telah membunuh dua orang permaisuri dan seorang putera mahkota itu.”

“Oh, begitu…” kata ibu suri. “Kau berbicara dengan berbelit-belit, apakah hanya ini yang ingin kau katakan kepadaku?”

“Barusan thayhou mengatakan bahwa di bawah bimbingan seorang guru yang hebat, pasti membuahkan seorang murid yang pandai. Demikian juga kebalikannya. Apabila ada seorang murid yang hebat, gurunya pasti terlebih lihay lagi. Sri Baginda paham ilmu Patkua Yu-liong ciang yang terdiri dari empat puluh empat jurus. Hamba yakin guru Sri Baginda juga paham ilmu Hoa-hut Bian eiang.”

“Apakah kau telah berhasil mengetahui siapa adanya orang itu?” tanya thayhou tenang.

“Ya, hamba telah mengetahuinya!”

Thayhou tertawa dingin.

“Harus kuakui kehebatanmu! Kau dapat mempertimbangkan segalanya sampai jauh. Sengaja kau mengajarkan ilmu silat kepada Siau Kui cu agar dia dapat melayani Sri Baginda. Rupanya kau menggunakan kesempatan itu untuk menyelidiki siapa adanya guru Sri Baginda.”

Hay kongkong menarik nafas panjang.

“Hamba melakukannya karena terpaksa.” Dia menghentikan kata-katanya sejenak untuk merenung.Kemudian baru dia melanjutkan kembali. “Siau Kui cu adalah telur busuk yang paling licik dan jahat yang hamba temui. Dia telah meracuni hamba sehingga kedua mata hamba menjadi buta. Seandainya hamba tidak ada keperluan memanfaatkan dirinya, mungkin sudah sejak lama hamba membunuhnya.”

Thay hou tertawa terbahak-bahak.

“Siau Kui cu memang bocah yang cerdik. Dia telah membutakan kedua matamu. Bagus! Besok aku akan memberikan hadiah besar kepadanya!”

“Terima kasih, thayhou. Seandainya thayhou mengeluarkan perintah untuk menguburkannya dengan upacara kebesaran, tentu arwahnya akan bersyukur kepada thayhou di alam baka,” kata kongkong memberitahukan.

“Apakah kau telah membunuhnya?”

“Hamba sudah bersabar terlalu lama. Apalagi sekarang hamba tidak memerlukan tenaganya lagi.”

Siau Po terkejut juga gusar sekali. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Kampret! Rupanya sejak dulu kura-kura tua itu sudah tahu bahwa aku adalah Siau Kui cu gadungan. Bahkan dia juga tahu bahwa kedua matanya dibutakan olehku. Dan dia hanya memperalat aku untuk menyelidiki ilmu silat Sri Baginda. Itulah sebabnya dia belum membunuhku sampai hari ini. Dia mengajari aku ilmu silat untuk mengetahui siapa yang menjadi gurunya Sri Baginda. Celaka! Kalau tahu, tentu aku tidak akan menceritakan dengan jujur jurus-jurus yang digunakan Sri Baginda. Hm! Sekarang kura-kura tua ini mengira aku sudah mati. Pasti akan datang saatnya di mana dia akan terkejut setengah mati mengetahui aku masih hidup!”

Hay kongkong terbatuk-batuk, kemudian dia menarik nafas dalam-dalam.

“Watak junjungan kita tidak sabaran. Apapun yang diinginkannya, harus dilaksanakan pada saat itu juga. Sayangnya beliau merasa kecewa menjadi raja, karena orang yang dicintainya tidak sanggup beliau lindungi. Junjunganku sudah menjadi hwesio, tetapi dia tidak dapat melupakan Tang Gok-hui dan Ceng-hui. Ketika hamba berangkat menuju istana ini, junjunganku telah menitipkan selembar surat sebagai firman agar hamba menyelidiki siapa pembunuh Toankeng Hong hou, Ceng-hui dan putera mahkota yang masih bayi. Hamba mendapat kuasa untuk membunuh pembunuh itu apabila berhasil ditemukan!”

“Hm!” Thayhou mendengus dingin. “Dia kan cukur rambut menjadi hwesio, mengapa otaknya masih dipenuhi urusan membunuh dan mencelekai orang? Kan tidak sepatutnya seorang yang menyucikan diri mempunyai pikiran kotor?”

Hay Kongkong tidak memberi tanggapan atas ucapan Thayhou itu. Dia hanya berkata.

“Hamba telah memikirkan baik-baik bahwa hamba mungkin bukan tandingan guru Sri Baginda yang lihai itu. Karena itu diam-diam hamba mempelajari sebuah ilmu baru, tapi sayangnya hamba terlalu terburu nafsu, sehingga salah jalan dan menderita penyakit batuk yang tidak bisa disembuhkan ini. Di samping itu, mata hamba juga sudah buta. Tampaknya hamba tidak mempunyai harapan untuk …”

“Benar!” tukas thayhou. “Kau sudah kena penyakit yang parah dan matamu pun sudah buta pula. Meskipun seandainya kau mendapat firman rahasia, kau tidak sanggup menyelesaikannya lagi!”

Hay kongkong menarik nafas panjang.

“Memang benar…” Tampangnya seperti menderita sekali.

“Nah, sekarang juga hambamu ingin memohon diri!” Selesai berkata, orang tua itu langsung membalikkan tubuh, kemudian berjalan perlahan-lahan menuju luar.

Melihat keadaan itu, lega rasanya hati Siau Po.

‘Asal kura-kura tua itu pergi, aku akan bebas. Dia mengira aku sudah mati, tidak mungkin dia mencari aku lagi!” pikirnya dalam hati.

“Tunggu dulu!” teriak Ibu suri. “Hong Tayhu hendak kemana?”

“Hamba sudah menceritakan semuanya kepada thayhou. Sekarang hamba akan pergi untuk menunggu saat kematian….”

“Jadi kau tidak melakukan tugas yang dititahkan kepadamu?”

“Hamba mempunyai keinginan, tetapi tenaga sudah tidak memungkinkan. Lagipula hamba juga tidak berani melakukan perbuatan yang kurang sopan terhadap Yang Mulia.”

“Hm! Kau sungguh tahu diri! Tidak sia-sia kau melayani kami sekian tahun!” kata thayhou dengan nada sinis.

“Ya, ya! Terima kasih atas budi kebaikan thayhou. Dendam kesumat ini biar ditangguhkan saja sampai Sri Baginda dewasa dan beliau yang akan menyelesaikannya.” Terdengar dia batuk-batuk beberapa kali. Lalu melanjutkan kembali. “Kabarnya sri Baginda telah berhasil membekuk Go Pay. Sungguh perbuatannya hebat sekali! Sikapnya gagah. Ibunya sendiri tewas dianiaya orang. Hamba yakin tidak lama lagi beliau akan curiga dan akan menyelidiki masalah ini sampai tuntas. Sayangnya hamba tidak dapat menunggu begitu lama sampai semua misteri ini disingkapkan!”

Thayhou melangkah maju beberapa tindak.

“Hay tayhu, kembali!”

Thaykam tua menghentikan langkah kakinya.

“Ya, thayhou, ada perintah apa?”

“Barusan kau sudah berkata panjang lebar di hadapanku. Semua ucapanmu itu tidak bisa dipegang. Apakah kau sudah menyampaikannya kepada Sri Baginda?” Suara wanita itu jadi meninggi.

“Belum, thayhou. Hamba berencana untuk mengatakannya besok pagi. Sekarang hamba mohon diri dulu…”

“Bagus! Bagus!” kata thayhou, namun tepat pada saat itu juga, terdengar suara angin berkesiur sebanyak dua kali.

Siau Po terkejut sekali, dia sampai melongokkan kepalanya untuk melihat apa gerangan yang terjadi.

Tampak tubuh thayhou berkelebat dengan gesit ke arah Hay kongkong? Sepasang tangannya secara bergantian mengirimkan serangan ke arah thaykam tua itu

Hay kongkong sendiri tetap berdiri tegak, tangannya bergerak menangkis serangan yang gencar itu. Matanya memang buta, tapi kepandaiannya tinggi sekali. Biar diserang dari mana pun, dia sanggup menghindarkan diri.

Diam-diam Siau Po merasa kagum, namun juga berpikir. “Mengapa thayhou menyerang kura tua ini? Ah! Rupanya thayhou pandai bersilat!”

Thayhou bergerak dengan lincah, setiap pukulannya mengandung tenaga yang dahsyat. Tetapi Hay kongkong tetap berdiri tegak dan dapat mengimbangi setiap serangannya dengan baik. Angin yang terbit dari pukulan thayhou dapat terdengar jelas, tapi sambutan tangan Hay kongkong justru tidak terdengar sama sekali.

Sesaat kemudian, tibalah saat yang membahayakan. Tiba-tiba tubuh thayhou mencelat ke atas, sebelah kakinya mengirimkan sebuah tendangan. Hay kongkong menangkis, tangan dan kaki mereka lantas beradu. Akibatnya tubuh thayhou terpental ke belakang dan mendarat di atas tanah dalam keadaan limbung. Di pihak lain, Hay kongkong juga terhuyung-huyung ke belakang beberapa tindak.

“Budak yang baik!” bentak thayhou. Nada suaranya gusar dan kesal. “Sungguh pandai kau berpura-pura. Kau mengajarkan ilmu Siaulim pai kepada Siau Kui cu agar aku menduga bahwa kau adalah orang dari partai itu. Tetapi kenyataan. Kau orang Kongtong pai!”

“Maaf, thayhou. Sama saja, tidak ada perbedaanya di antara kita. Thayhou sendiri mengajarkan ilmu Butong pai untuk menipu hambamu ini. Namun, ilmu Hoa-hut Bian ciang adalah ilmu istimewa dari Coa To (Pulau Ular). Sebenarnya hal ini sudah hamba ketahui sejak dua tahun yang silam….”

Siau Po dapat menyaksikan apa yang berlangsung di antara mereka. Dia juga dapat mendengar semuanya dengan jelas. Dia menjadi heran dan kagum terhadap kedua orang itu, namun karena otaknya yang cerdik, sekejap saja dia sudah paham.

“Kura-kura tua ini sungguh licik. Dia mengajarkan aku ilmu Taykim Na hoat dan Taycu Taypi Cian-Yap jiu, semua merupakan ilmu Siaulim pai. Dia melakukannya agar thayhou bisa dikelabui. Dan kenyataannya dia orang Kongtong pai. Sayangnya ilmu Patkua Yu-Liong ciang justru tidak berhasil mengelabui kura-kura tua ini. Ah! Rupanya ilmu silat Sri Baginda diajarkan oleh thayhou!”

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba seluruh tubuhnya dingin karena berkeringat. Mendadak dia ingat suatu hal yang penting. ‘Celaka! Thayhou mengerti ilmu silat Hoa-hut Bian ciang. Mungkinkah para permaisuri dan putera mahkota yang mati adalah korban-korban thayhou sendiri? Kalau benar, gawat! Bahkan ibu kandung kaisar pun dibunuhnya! Bagaimana kalau Hay kongkong menyampaikan rahasia itu kepada Sri Baginda? Hebat akibatnya! Kalau Sri Baginda berniat menghukum mati ibu suri, thayhou pasti akan membunuhnya pula. Bagaimana baiknya?”

Pada saat itu, satu-satunya yang menjadi pikirannya Siau Po adalah segera angkat kaki dari tempat itu. Dia merasa dirinya terancam bahaya besar. Namun dia dia masih ketakutan sehingga kedua lututnya terasa lemas. Dia tidak kuat melangkahkan kakinya sama sekali. Keadaannya tidak berbeda seperti orang tengah bermimpi buruk.

Saat itu pula terdengar suara ibu suri. “Setelah urusannya menjadi begini, kau masih berharap dapat meninggalkan tempat ini?”

Tampaknya Hay kongkong tidak takut terhadap ancaman itu.

“Thayhou boleh dipanggil semua siwi, makin banyak makin baik. Dengan demikian hamba membeberkan semuanya kepada mereka. Hamba yakin pasti ada salah satunya yang bisa menyampaikan apa yang hamba katakan kepada Sri Baginda!”

Thayhou tertawa. Suaranya melengking nyanng.

“Hm! Jalan pikiranmu hebat sekali!” Bicaranya perlahan. Hal ini membuktikan bahwa dia sedang mengatur pernafasannya yang memburu.

“Harap thayhou jaga diri baik-baik. Jangan sampai thayhou tersesat seperti hamba!”

“Kau baik sekali!” sindir thayhou sinis.

“Thayhou justru manusia paling baik di dunia ini!” Hay kongkong tidak mau kalah sengitt.

Sebetulnya kepandaian Hay kongkong dengan Thayhou berimbang. Tetapi karena matanya buta, dia merasa tidak bisa menandingi ibu suri itu. Dia menyadari kehebatan Hoa-hut Bian ciang wanita itu. Ilmu itu merupakan ilmu simpanan dari Coa To. Untuk menghadapi ilmu tersebut, diam-diam dia mempelajari sebuah ilmu baru. Ketika itu dia masih belum tahu siapa pembunuh Tang Gok-hui, Ceng-hui dan putera mahkota yang masih bayi itu.

Setelah mengetahui bahwa kaisar Kong Hi dan Siau Ku cu senang bertanding ilmu silat dan mulai mempunyai dugaan dari mana Sri Baginda mempelajari ilmu silat, Hay kongkong yakin pembunuh para permaisuri dan putera mahkota adalah guru Sri baginda. Dia juga membayangkan bahwa pada suatu hari kelak dia akan berhadapan dengan tokoh yang lihay itu.

Di samping itu, berkat kecerdikannya, Hay Kongkong juga berhasil mengetahui penyamaran Siau Po. Dia yakin Siau Kui cu yang asli sudah dibunuh oleh bocah itu. Dan si setan cilik itu pula yang membutakan kedua matanya. Tetapi, karena Siau Kui cu palsu hanya seorang bocah eilik, dia menduga ada orang lain yang menjadi dalang dibalik semuanya. ltulah yang membuatnya bertekad untuk menyelidiki siapa adanya dalang itu.

Dalam hal ini, dugaanya salah, Siau Po melakukan apa-apa hanya berdasarkan nalurinya sendiri. Tidak ada orang yang menyuruh ataupun menasehatinya untuk melakukan apa saja. Dengan demikian Hay kongkong tidak bisa membuktikan apa-apa. Terpaksa dia menggunakan akal. Dia mengajarkan Siau Po ilmu-ilmu Siaulim pai dengan harapan lawan bisa dikelabui, ternyata siasatnya berhasil.

Sejak setengah tahun yang lalu, thayhou sudah menduga bahwa Hay kongkong adalah tokoh dari Siaulim pai. Sebaliknya, Hay kongkong dapat mengira dengan tepat bahwa thayhou bukan orang dari Butong pai. Karena itu, dalam pemikiran, ternyata thayhou masih kalah satu tingkat dengan Hay kongkong.

Hay kongkong juga mempunyai pikiran jauh. Karena matanya buta, dia sudah kalah selangkah. ltulah sebabnya dia harus memancing agar lawan menyerangnya terlebih dahulu.

Dia juga harus mendapat kepastian atas dugaannya bahwa thayhou adalah sang pembunuh. Dia masih menyimpan keraguan sebab bagaimana caranya thayhou bisa menguasai ilmu Hoa-hut Bian ciang yang merupakan ilmu simpanan Coa to. Ilmu itu harus ditekuni setidaknya selama dua puluh lima tahun. Walaupun ada kemungkinan, di masa muda thayhou pernah pergi ke Coa To, namun rasanya tidak mungkin mempunyai begitu banyak waktu untuk melatihnya. Karena itu pula dia mempunyai dugaan bahwa di samping thayhou masih ada seorang tokoh lihay lainnya.

Untuk mendapat kepastian itu, sengaja ia mengoceh bahwa akan membawa persoalan itu kepada Sri Baginda. Kali ini dia berhasil, thayhou menjadi panik. Tanpa disadari dia mengakui bahwa dialah pembunuhnya.

Pertempuran masih berlangsung. Dalam tiga gebrakan, thayhou menderita luka dalam. Hay Kongkong tahu hal itu dan dia merasa puas. Dia beranggapan bahwa setelah terluka, thayhou tidak bisa berbuat banyak lagi terhadapnya.

Luka thayhou tidak ringan. Dia menjadi cemas dan bingung. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Celaka kalau thaykam tua ini berhasil meloloskan diri. Kalau dia sampai membeberkan urusan ini kepada Sri Baginda, aku dan sabahabat-sahabatku tentu akan terjerumus dalam bencana besar. Si rase kecil centil yang ada dalam penjara tentu akan bersorak kegirangan mengetahui berita ini….”

Hati ibu suri menjadi panas apalagi setelah membayangkan arwah Tang Gok-hui akan senang melihat keruntuhannya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berkata dengan suara lantang.

“Malam ini aku akan mengadu jiwa denganmu agar kita mati bersama-sama!”

Kalau ditinjau dari kedudukannya, sebetulnya tidak pantas seorang ibu suri berkelahi dengan seorang thaykam. Akan tetapi keadaannya membuat dia terpaksa melakukan hal ini.

Belum sempat si thaykam tua mengatakan apa-apa, thayhou sudah melanjutkan kata-katanya kembali. Cuma nadanya kali ini agak lunak.

“Hay tayhu, kau memang suka mengarang-ngarang. Pergilah kau, beberkan kepada Sri Baginda. Usia Sri Baginda memang masih muda, tetapi otaknya cerdas sekali. Coba kita lihat, siapa yang akan dipercayainya, kau tahu aku!”

Hay kongkong tetap bersikap tenang.

“Pertama-tama Sri Baginda tidak akan percaya dengan kata-kata hamba. Malah ada kemungkinan hamba akan segera ditawan dan dihukum mati. Tetapi beberapa tahun kemudian, beliau pasti dapat berpikir kembali dan insaf bahwa hamba benar. Bila saat itu tiba, kehancuran akan terjadi pada diri thayhou beserta kerabat thayhou yang lainnya!”

Mendengar kata-kata itu, thayhou jadi tercekat, karena apa yang diucapkannya memang bisa menjadi kenyataan. Apabila Sri Baginda berpikir dengan tenang, berdasarkan kecerdasan otaknya, dia memang bida membuktikan kebenarannya kata-kata si thaykam tua ini.

Hay kongkong tidak menunggu jawaban Ibu suri, dia segera melanjutkan kata-katanya.

“Junjunganku telah berpesan, apabila hamba sudah berhasil menyelidiki siapa adanya pembunuh itu, hamba berhak melakukan tindakan apa saja terhadapnya. Sayangnya keadaan hamba tidak me mungkinkan. Itulah sebabnya hamba terpaksa menempuh jalan lain, yakni memberitahukannya kepada Sri Baginda!” Selesai berkata, kembali thayam tua itu melangkah pergi.

Diam-diam thayhou mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar thaykam kurang ajar itu. Tetapi, belum sempat dia mengambil tindakan apa-apa, tiba-tiba Hay kongkong membalikkan tubuhnya dan mengirim sebuah serangan. Kedua tangannya meluncur ke depan dengan cepat.

Hay kongkong mendapat tugas dari junjungannya, yakni kaisar Sun Ti. Dia diharuskan menyelidiki siapa pembunuh kedua permaisuri dan putera mahkotanya. Kata-katanya akan mengadu kepada Sri Baginda hanya gertakan belaka agar perhatian Tayhou teralihkan. Secara tiba-tiba dia menyerang Tayhou yang dianggapnya lawan tangguh itu. Sebelumnya dia juga sudah menghimpun seluruh tenaga dalamnya dan menduga dengan tepat di mana posisi berdirinya thayhou agar dia bisa menyerang dengan telak. Kedua matanya memang buta. Tetapi selama ini dia sudah melatih pendengarannya dengan baik sehingga dia dapat melancarkan serangannya ke dada Ibu suri.

Ibu suri ingin mengirimkan serangan, tetapi ternyata dia yang diserang terlebih dahulu. Untuk sesaat hatinya terkesiap. Sebenarnya dia sudah menghitung matang-matang posisinya apabila serangannya menderita kegagalan. Dia yakin, dengan matanya yang buta, thaykam tua itu tidak akan sanggup menandinginya. Siapa nyana kepandaian thaykam itu memang tinggi sekali. Untuk sesaat thayhou sempat kewalahan diserang sedemikia rupa oleh si Thaykam tua. Namun belakangan dia bisa juga menguasai dirinya sehingga mulai balik menyerang.

Kedua mengadu tenaga dalam. Hay kongkong yakin dia akan meraih kemenangan karena thayhou sudah terluka. 1a akan bertahan terus sampai lawannya kehabisan tenaga.

Siau Po dapat melihat semuanya dengan tegas dari tempat persembunyiannya. Dia melihat thahou mengadu tenaga dengan sebelah tangannya. Tampaknya keadaan mereka biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya tidak. Karena dengan lewatnya waktu, tenaga dalam Hay kongkong akan semakin kuat.

Thayhou heran ketika merasakan perubahan pertahanan thaykam tua itu. Dia juga merasa terkejut.

“Untung sejak semula aku sudah bersiap-siap. Coba kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah celaka. Malam ini mungkin nyawaku bisa amblas di tangannya,’ pikir thayhou dalam hati.

1bu suri bukan orang bodoh, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Di saat tangannya menahan serangan orang tua itu, tangan kirinya meraba ke dalam saku untuk mengeIuarkan senjatanya yang istimewa, Ngo-bi ci, sejenis ujung tombak dari baja berlapis platina. Secara diam-diam dia mengarahkan bagian yang runcing dari senjata itu ke dada lawan.

Siau Po dapat meiihat gerak-gerik thayhou. Dia masih mengintai karena belum menemukan kesempatan yang baik untuk melarikan diri. Melihat berkilaunya sinar putih di tangan wanita itu, diam-diam dia merasa senang. Biar bagaimana, dia lebih berpihak kepada thayhou.

“Bagus, bagus! Biar bagaimana, tampaknya si kura-kura tua malam ini terpaksa berpulang ke alam baka!” serunya dalam hati.

Tetapi, ketika senjata thayhou mengulur ke depan secara perlahan-lahan, tiba-tiba gerakannya berhenti. Hal ini disebabkan tenaga dalam Hay Konngkong yang mulai mendesak ibu suri. Tenaga wanita itu sendiri semakin melemah.

Karena terdesak, thayhou terpaksa harus mempergunakan tangan yang satunya. Tapi dia menggerakkannya dengan perlahan, agar senjatanya tidak diketahui oleh pihak lawan. Namun karena keterlambatannya, dia berhasil didahului oleh lawan. Siau Po melihat tangan kiri thayhou gemetar. Dia melihat senjata wanita itu tidak dapat digerakkan. Dia tidak tahu apa sebabnya.

Sesaat kemudian, senjata itu bukan saja tidak bisa bergerak ke depan malah perlahan-lahan mulai mundur, thayhou masih bertahan tetapi keadaannya mulai terdesak. Saat itulah Siau Po baru mulai tersadar. Hatinya tercekat.

“Ah! Celaka! Thayhou tidak sanggup melawan kura-kura tua itu! Kalau aku tidak menyingkir sekarang juga, nanti tentu tidak ada kesempatan lagi!” pikirnya dalam hati. Ia segera membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan mengendap-endap. Dia tidak ingin mengambil resiko sedikit pun. Dia juga yakin setelah agak jauh, baru dirinya aman.

Tepat ketika dia sampai di depan pintu dan mengulurkan tangan untuk membukanya, dia mendengar seruan tertahan dari mulut Hong thayhou. Hatinya terperanjat dan cepat dia menolehkan kepalanya.

“Celaka! Thayhou telah dibunuh oleh kura-kura tua itu!” keluhnya dalam hati.

Justru pada saat itulah terdengar suara Hay kongkong.

“Thayhou, kau ibarat lampu yang sudah mula kehabisan minyak. Sebentar lagi pelitamu akan padam dan habislah semuanya. Kecuali kalau ada orang yang datang menolongmu atau mendadak menikam punggungku yang mana akan membuat aku mati karenanya!”

Siau Po mendengar kata-katanya thaykam tua itu dengan jelas.

“Oh, kiranya thayhou belum mati. Tapi apa yang dikatakan kura-kura tua itu ada benarnya juga… Dia sedang menghadapi thayhou dengan kedua tangannya. Kalau aku membokongnya, tentu dia tidak dapat berbuat apa-apa. Kau sendiri yang memancing orang mencelakainya, maka jangan kau salahkan aku!” katanya dalam hati.

Dalam keadaan yang demikian kritis, Siau Po langsung mengambil keputusan. Dia ingin membantu thayhou. Dia juga ingin membunuh thaykam tua itu. Sekarang ada kesempatan yang baik, dia harus menggenggamnya erat-erat.

Siau Po segera membungkuk dan mencabut belati yang terselip di kaos kakinya. Setelah itu dia melompat keluar dari tempat persembunyannya ambil berteriak.

“Hei, Kura-kura tua! Jangan celakai thahou!”

Dia langsung menerjang ke depan untuk menikam punggung thaykam tua itu.

Hay kongkong memang hebat sekali. Ketika sedang melayani Ibu suri, telinganya yang tajam dapat mendengar suara langkah kaki yang lirih sekali. Tiba-tiba saja ingatannya melayang kepada Siau Kui cu. Dia langsung menduga bocah itu pasti belum mati. Dia takut Siau Kui Cu gadungan akan meminta bantuan para pengawal untuk membekuknya, karena itu dia segera memancing Siao Po dengan kata-katanya dan bocah itu langsung keluar dari tempat persembunyiannya untuk menyerangnya.

Siau Po tertipu. Dadanya terkena tendangan Hay kongkong. Tubuhnya langsung terpental juga ke belakaug dan memuntahkan segumpal darah segar. Serangan yang dahsyat itu telah menggagalkan bokongannya.

Ketika menyerang si bocah yang datang dari belakang, Hay kongkong sudah menduga thayhou akan berusaha menyelamatkan diri. Kemungkinan dia akan diserang oleh tangan kiri lawan. Cepat di berjaga-jaga, tangan kanannya mendekap bagian perut.

Namun tepat pada saat itu si thaykam tua terkejut setengah mati. Dia merasa telapak tangannya tersentuh benda yang dingin dan perutnya terasa nyeri seketika. Karena matanya buta, dia tidak dapat melihat keadaan lawan. Dia mengira thayhou akan menyerangnya dengan tangan kosong, tidak diduga sama sekali bahwa wanita itu telah menyiapkan senjata yang luar biasa tajamnya. Perutnya langsung terkena tikaman. Saking nyeri dan terkejutnya, Hay kongkong menghantamkan tangan kirinya.

Thayhou sedang menikam tidak sempat dia membela diri. Hantaman thaykam tua itu langsung membuat tubuhnya terpental ke belakang beberapa tindak. Untung saja dia masih sempat mengendalikan gerakan tubuhnya dengan kaki kiri sehingga tidak sampai jatuh roboh terguling. Dadanya teras sesak, darah di dalamnya terasa bergejolak, hampir saja dia semaput. Dia juga khawatir si thaykam tua itu akan menyerang terus, karenanya dia menyurut mundur dua langkah kemudian bersandar pada tembok.

Terdengar Hay kongkong mengeluarkan suara tawa yang melengking dan menyeramkan.

“Nasibmu mujur sekali! Benar-benar mujur!”

Secara berturut-turut dia melancarkan tiga buah serangan. Setiap kali menyerang, kakinya pun turut nelangkah maju ke depan sehingga jaraknya dengan ibu suri semakin dekat.

Menghadapi serangan yang demikian beruntun, Tayhou melompat ke kanan, namun apa daya kakinya tergelincir sehingga tubuhnya melorot turun terkulai di atas tanah. Tepat pada saat itu, tembok dimana thayhou bersandar tadi terhantam pukulan Hay kongkong sehingga timbullah suara yang bergemuruh.

Wajah thayhou pucat pasi.

“Tamatlah riwayatku!” pikirnya dalam hati. Dia tidak dapat bergerak lagi, sedangkan jarak antara Hay kongkong dengannya semakin dekat.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: