Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Darah Ksatria: Bab 10. Pertanyaan-pertanyaan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:20 pm

Darah Ksatria
Bab 10. Pertanyaan-pertanyaan
Oleh Gu Long

Arak itu memang tidak begitu enak. Juga bukan termasuk jenis arak yang bagus, dan tentu saja bukan arak Li-ji-ang. Arak itu cuma sejenis arak yang bisa kau beli di pasar biasa. Walaupun Ma Ji-liong tidak perduli, tapi Siau-hoan tetap menjelaskan dengan nada meminta maaf, “Hong-seng sangat jarang minum di sini. Dia pun tidak pernah mengundang temannya ke sini. Baru tadi aku membeli seguci arak ini.”

Arak itu baru saja dibelinya, dan makanan baru saja dimasaknya. Ini terjadi karena di tempat itu tidak ada seorang pun pelayan.

“Hong-seng sangat menyukai ketenangan. Dia tidak mau ada pelayan. Maka aku mengerjakan segalanya di sini sendirian.” Suaranya penuh mengandung kelembutan seorang perempuan. Seluruh hidupnya berkutat di sekitar Khu Hong-seng. Dia pasti akan melakukan apa saja yang diinginkan Khu Hong-seng.

Cinta sudah cukup bagi mereka. Kenapa mereka butuh orang lain? Mengapa mereka perlu arak yang bagus untuk diminum? Tiba-tiba Ma Ji-liong merasa iri pada mereka. Dia tak henti-hentinya bertanya pada dirinya sendiri, seandainya dia memiliki seorang perempuan seperti Siau-hoan ini – yang tidak memikirkan apa pun selain dirinya dan selalu melayani seluruh kebutuhannya – maukah dia meninggalkan segalanya dan hidup sederhana seperti ini?

Tiba-tiba dia teringat pada Toa-hoan. Jika dia menikahi gadis itu, apakah gadis itu akan memperlakukan dia seperti ini?

Ma Ji-liong tidak mencari tahu lebih lanjut. Pertanyaan ini bukan saja aneh, tapi juga lucu.

Tentu saja dia tidak akan menikahi seorang perempuan seperti Toa-hoan, meskipun lehernya ditodong dengan sebilah pisau. Walaupun Toa-hoan sekarang tidak begitu buruk dan jahat seperti sebelumnya, tapi dia masih jauh dari kesan menarik dan menyenangkan. Bagaimana mungkin Pek-ma Kongcu menikahi gadis seperti itu? Ma Ji-liong mengangkat cawannya dan menghabiskan araknya dalam satu tegukan, dia memutuskan untuk melupakan gadis tersebut sejak saat itu.

Agaknya Khu Hong-seng sudah cukup banyak minum. Dan karena hari ini dia ingin minum, Siau-hoan tentu saja ikut minum bersamanya. Mereka berdua tampaknya sudah agak mabuk, dan tingkah mereka terlihat semakin mesra, agaknya mereka lupa kalau Ma Ji-liong berada tepat di hadapan mereka. Ma Ji-liong sudah mulai merasa diabaikan, maka dia pun mencari kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Semula dia hendak mengajukan banyak pertanyaan pada Khu Hong-seng, tapi sekarang dia tidak mau lagi. Ini terjadi karena dia sudah sangat mempercayai Khu Hong-seng. Tepat ketika dia akan bangkit, Khu Hong-seng tiba-tiba mengajak bersulang.

Dia menarik tangan Siau-hoan dan berkata sambil tersenyum, “Kau harus minum tiga cawan untuk menghormatinya, tiga cawan besar.”

Sambil cekikikan, Siau-hoan menggelengkan kepalanya, “Aku hanya akan minum secawan.”

“Kau harus minum tiga cawan.”

“Jika aku minum tiga cawan, aku pasti akan mati karena mabuk.”

“Jika kau tidak minum, maka aku akan mencekikmu sampai mati.”

Siau-hoan tersenyum memikat, sorot matanya penuh dengan perasaan cinta. Dia berkata, “Aku lebih suka dicekik olehmu sampai mati.”

“Benarkah?”

“Tentu saja, sungguh.”

“Bagus.” Khu Hong-seng tersenyum, sambil meremas leher gadis itu dengan tangannya.

Lalu dia berkata dengan lembut, “Maka aku akan mencekikmu hingga mati.”

Ma Ji-liong benar-benar tidak ingin mendengarkan lagi, dia juga tidak mau bertindak sebagai penonton lagi. Seharusnya dia segera pergi, tapi tidak jadi. Karena ketika dia bangkit, tiba-tiba dia melihat sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya meskipun dalam mimpinya. Dia melihat mata Siau-hoan yang indah melotot keluar seperti mata ikan mati, mukanya menjadi biru dan tubuhnya menjadi kaku. Kali ini dia benar-benar mati. Khu Hong-seng benar-benar mencekiknya hingga mati.

Ma Ji-liong merasa terperanjat, seolah-olah lehernya juga sudah tercekik oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan. Napasnya tiba-tiba berhenti. Tubuhnya menjadi kaku. Bahkan tangan dan kakinya pun terasa dingin seperti es. Tubuh Siau-hoan akhirnya ambruk ke lantai, dan Khu Hong-seng mengawasi tubuh itu tanpa perubahan sedikit pun di wajahnya.

Yang mengejutkan, di wajahnya malah tersungging sebuah senyuman.

“Berbohong itu buruk. Aku tidak pernah berbohong.”

Sambil tersenyum dia berkata, “Kubilang aku akan mencekiknya hingga mati, dan itulah yang kulakukan. Maka, nanti, apa pun yang kukatakan, kau harus mempercayaiku.”

Ma Ji-liong tidak sanggup bicara. Dia cuma ingin muntah, membuang semua yang baru saja dia makan dan minum. Tapi dia bahkan tidak bisa melakukannya.

Khu Hong-seng tertawa dengan riangnya, “Mengapa kau tidak bertanya kenapa aku mencekiknya?”

Dia tidak menunggu Ma Ji-liong bertanya. Dia malah mulai bicara lagi, “Sebenarnya, aku sudah berencana untuk membunuhnya sejak kami bertemu pertama kalinya. Aku menebus dia dan membeli rumah ini agar terlihat mustahil kalau aku sebenarnya akan membunuhnya. Aku memungut gadis ini karena dia bukan saja sangat cantik, tapi dia juga bodoh. Perempuan seperti ini memang amat cocok untuk rencanaku.”

Rencananya? Rencana apa?

Meskipun Ma Ji-liong tidak bodoh, tapi dia benar-benar belum paham tentang segala kejadian ini.

Khu Hong-seng menerangkan lagi, “Aku harus membuat semua orang tahu bahwa aku sudah bertekad untuk mati dengan gadisku dan bahwa kami sudah bersumpah setia satu sama lain dan maut pun tidak akan bisa memisahkan kami. Setiap orang pun akan percaya bahwa aku tidak ingin menjadi menantu Bik-giok Hujin.”

Sambil menghela napas, dia berkata, “Padahal sesungguhnya, aku sangat menginginkan hal itu.”

Tapi saingan-saingannya terlalu kuat dan dia sendiri pun belum tentu terpilih.

Dia melanjutkan, “Maka aku harus menyingkirkan kalian bertiga dulu.”

Sesungguhnya, menyingkirkan tiga orang manusia tidaklah mudah.

“Untunglah aku tahu bahwa kalian semua adalah pemabuk, dan aku pun kebetulan tahu bahwa Toh-kongcu sudah memesan makanan dan arak dari Kik-hong-wan.”

Maka dia menyuap seorang pegawai Kik-hong-wan untuk meracuni arak dan kemudian memesan Thian-sat untuk membungkam orang-orang dari rumah makan itu.

“Tapi aku tidak menyangka kalau kau tidak mau minum.”

Dia meneruskan lagi, “Untunglah rencanaku amat teliti. Aku punya orang-orang di belakangku.”

Orang-orang itu adalah Kim Tin-lin dan Peng Thian-pa. Kim Tin-lin dulu pernah ditundukkan olehnya, dan Peng Thian-pa sudah sejak lama menjadi kaki tangannya. Giok-pwe yang tergantung di dadanya juga merupakan bagian dari rencana. Sesudah itu, semua saksi harus disingkirkan.

“Pang Tio-hoan dan Coat-taysu sebenarnya tidak tahu apa-apa. Aku sengaja menyuruh Peng Thian-pa mengundang mereka minum di Kik-hong-wan dan membawa mereka ke Han-bwe-kok untuk membuktikan bahwa aku benar-benar tidak bersalah dan bahwa kau adalah penjahat yang sesungguhnya.”

Dia tertawa terbahak-bahak, “Tapi kau tidak boleh menyalahkan diriku. Kau hanya bisa menyalahkan nasibmu sendiri yang buruk sehingga kau tidak meminum arak itu dan mati begitu saja. Jika kau mati, maka kau tidak akan mengalami masalah seperti ini.”

Sekarang dia tidak punya saingan lagi. Tapi, jika Siau-hoan tidak mati, dia tidak punya cara untuk menjelaskan status dirinya, juga tidak bisa mencampakkannya begitu saja untuk menjadi menantu Bik-giok Hujin. Maka Siau-hoan pun harus mati.

Khu Hong-seng menatap Ma Ji-liong. Lalu dia berkata, “Dan sekarang, apakah kau hidup atau mati tetap tidak ada artinya. Setiap orang tahu bahwa kau adalah si pembunuh. Bila kau tetap hidup, hal itu malah akan menjadi keuntungan buatku.”

“Keuntungan apa?” Ma Ji-liong akhirnya sanggup bersuara. “Kenapa hal itu baik untukmu?”

Khu Hong-seng menghela napas dan mendadak berkata, “Apakah kau belum bisa menebak kalau aku adalah ketua Thian-sat?”

Segalanya menjadi jelas, dan Ma Ji-liong pun berdiri tertegun. Selama ini dia mengira bahwa dia tidak akan pernah memahami apa yang telah terjadi. Dia tidak menyangka kalau penjahat yang sebenarnya akan memberitahukan semua ini padanya.

Tak tahan lagi dia pun bertanya, “Kenapa kau memberitahukan rahasiamu padaku?”

Sambil tersenyum, Khu Hong-seng berkata, “Karena………”

Dia tidak menyelesaikan kata-katanya. Wajahnya tiba-tiba berubah, persis seperti wajah Toh Ceng-lian yang ketakutan menjelang saat kematiannya. Mukanya yang pucat tiba-tiba menjadi gelap. Dia berusaha bangkit, tapi kakinya malah menendang meja. Dan ketika meja itu terbalik, maka dia pun terjungkal ambruk.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: