Kumpulan Cerita Silat

13/01/2008

Darah Ksatria: Bab 10. Pertanyaan-pertanyaan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:20 pm

Darah Ksatria
Bab 10. Pertanyaan-pertanyaan
Oleh Gu Long

Arak itu memang tidak begitu enak. Juga bukan termasuk jenis arak yang bagus, dan tentu saja bukan arak Li-ji-ang. Arak itu cuma sejenis arak yang bisa kau beli di pasar biasa. Walaupun Ma Ji-liong tidak perduli, tapi Siau-hoan tetap menjelaskan dengan nada meminta maaf, “Hong-seng sangat jarang minum di sini. Dia pun tidak pernah mengundang temannya ke sini. Baru tadi aku membeli seguci arak ini.”

Arak itu baru saja dibelinya, dan makanan baru saja dimasaknya. Ini terjadi karena di tempat itu tidak ada seorang pun pelayan.
(more…)

Advertisements

Perguruan Sejati (11)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:15 pm

Perguruan Sejati (11)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Aku Tan Toa Tiau ketua ranting Pok Thian Pang di Ngo liu cung,” jawab Tan Toa Tiau dengan bangga.

“Eh bocah sewaktu engkau berada di Ngo liu cung tentu cecunguk ini yang menipumu bukan?”
(more…)

Perguruan Sejati (11)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:03 pm

Perguruan Sejati (11)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Aku Tan Toa Tiau ketua ranting Pok Thian Pang di Ngo liu cung,” jawab Tan Toa Tiau dengan bangga.

“Eh bocah sewaktu engkau berada di Ngo liu cung tentu cecunguk ini yang menipumu bukan?”
(more…)

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:51 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 05: Suara Nyanyian Dari Kejauhan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Tidak ada pohon bunga bwe (sakura) yang sedang mekar di sekitar Ban-bwe-san-ceng.

Saat itu bulan empat, bunga persik dan burung kukuk memenuhi lereng gunung.
(more…)

Rahasia Peti Wasiat (05)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:39 am

Rahasia Peti Wasiat (05)
Oleh Gu Long

“Habis apa isi peti itu?” tanya si nenek.

“Aku pun tidak tahu,” ucap It-hiong sambil menggeleng. “Aku hanya dipesan orang untuk menyampaikannya ke suatu tempat ….”
(more…)

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (05)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 9:54 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 05. Semalam di Kota Perbatasan
Oleh Gu Long

Yun Zai Tian dengan lentera di tangan, memimpin ke lima tamu dari depan.

Fu Hong Xue, dengan langkahnya yang berat dan dalam, berjalan perlahan di belakang kelompok – ada beberapa orang yang tidak mau seseorang berjalan dibelakangnya.
(more…)

Pendekar Baja (07)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:24 am

Pendekar Baja (07)
Oleh Gu Long

“Kalau begitu, silakan Kim-heng ikut padaku, apa pun yang akan terjadi tetap harus kuselidiki. Soal kelak engkau akan menjadi kawan atau lawanku tidak perlu dipikirkan sekarang.”

Jawab Kim Bu-bong, “Ya, memang demikian seharusnya.”
(more…)

Duke of Mount Deer (11)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:53 am

Duke of Mount Deer (11)
Oleh Jin Yong

Hay Kongkong tidak menyangkal. Dia hanya melanjutkan kata-katanya.

“Ketika Toankeng Hong hou wafat, banyak yang menduga bahwa kematiannya disebabkan tekanan batin karena kehilangan puteranya yang masih bayi itu. Menurut tabib istana, kematian Eng Cin Ong disebabkan dua ototnya putus karena hantaman seseorang. Karena itu isi perutnya menjadi hancur.”
(more…)

Misteri Kapal Layar Pancawarna (09)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:44 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (09)
Oleh Gu Long

Ia sendiri lagi kesal oleh berbagai persoalan, ditambah lagi urusan sekarang, tentu saja ia tambah kepala pusing, tapi juga tidak berdaya, terpaksa ia cari sepotong batu dan duduk di situ dengan termangu-mangu.

Terlihat raut mukanya yang kecil itu masih kekanak-kanakan, matanya yang besar justru penuh rasa duka orang dewasa, entah dari mana ia mendapatkan sepotong ranting pohon, ia sedang menggores lingkaran di atas tanah, ada lingkaran besar, ada lingkaran kecil, di tengah lingkaran besar diberi lingkaran kecil lagi, lingkaran yang tak terhitung jumlahnya itu terdapat sebuah kotak, di luar kotak ada goresan kotak besar ….
(more…)

Blog at WordPress.com.