Kumpulan Cerita Silat

12/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (04)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:38 am

Rahasia Peti Wasiat (04)
Oleh Gu Long

“Tidak, masa aku serupa dirimu?” ujar It-hiong dengan tertawa.

Thian-tek lantas melemparkan Siau-hi-jong kepadanya, “Kelak bila ada kesempatan ingin kumain catur lagi denganmu, sungguh aku tidak percaya engkau dapat lebih mahir daripadaku.”

It-hiong menangkap pedang pandak pusaka yang dilemparkan kepadanya itu, katanya dengan tertawa, “Baik, kusiap melayanimu setiap saat.”

Ketika mau melangkah pergi, kembali Thian-tek berpaling lagi dan berkata, “Masih ada satu soal, apakah benar engkau tidak tahu apa isi peti yang kau bawa itu?”

“Benar-benar tidak tahu,” jawab It-hiong.

“Bilamana kau ingin tahu dapat kuberi tahukan padamu,” kata Thian-tek.

Cepat It-hiong menggeleng kepala, katanya, “Tidak, aku tidak ingin tahu.”

Hal ini sangat di luar dugaan Sun Thian-tek, tanyanya, “Masa engkau tidak ingin tahu?”

“Bilamana kalian tokoh-tokoh ternama ini, seperti Koh-ting Totiang, Kim-kong Taysu dan sebagainya, meski tidak tergolong tokoh golongan baik yang murni, tapi juga tidak terhitung kaum jahat dan serakah, dan kalian juga menaruh perhatian terhadap peti ini, maka dapat diduga isi peti ini pasti benda yang sukar dinilai harganya.”

“Memang betul,” ujar Thian-tek.

“Nah, sedangkan aku Liong It-hiong juga bukan seorang tokoh yang suci bersih, maka kalau aku diberi tahu apa isi peti ini, mungkin hatiku akan tergelitik dan timbul hasrat untuk mengangkangi isi peti sebagai milik sendiri. Sebab itulah lebih baik aku tidak diberi tahu saja.”

Thian-tek tertawa geli, katanya, “Tampaknya engkau ini rada-rada dogol.”

“Betul, aku sering berbuat hal-hal yang bodoh dan aku justru merasa bangga,” It-hiong mengaku.

Thian-tek menggeleng, gumamnya, “Sudah lebih 20 tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw dan belum pernah menemui orang semacam dirimu …. Baiklah, sampai bertemu pula, selamat tinggal!”

Dengan menyeret kakinya yang masih kesakitan itu ia terus melangkah pergi dan menghilang di tengah hutan sana ….

Menunggu setelah Sun Thian-tek tidak kelihatan lagi, lalu Liong It-hiong berpaling ke pintu samping sana dan mendesis, “Nah, cucakrawa, sekarang bolehlah kau keluar!”

Akan tetapi “cucakrawa” yang dimaksud ternyata tidak muncul.

Ditunggunya lagi sejenak dan orang yang dimaksud tetap tidak kelihatan, segera It-hiong hendak menuju ke belakang untuk menjenguk Ni Beng-ay. Pada saat itulah tiba-tiba si penjaga kelenteng menyelonong masuk dengan muka pucat, katanya dengan masih ketakutan, “Mere … mereka sudah pergi!”

It-hiong tersenyum, “Ya, tapi mungkin masih ada lagi seorang ….”

Bicara sampai di sini mendadak ia lolos Siau-hi-jong terus menikam ke muka orang tua itu.

Keruan orang tua itu terkejut, karena terlampau cepat mundurnya, ia jatuh terduduk sambil menjerit takut, “Hei, ken … kenapa aku hendak kau bunuh?”

Melihat gerakan orang, segera It-hiong tahu orang tua ini bukan “cucakrawa” yang dimaksud, segera ia simpan kembali pedang pandak dan menarik bangun si kakek, katanya dengan tertawa, “Jangan takut, aku cuma bergurau saja denganmu.”

Baru sekarang kakek itu merasa lega, ucapnya dengan kurang senang, “Ai, kenapa Kongcu bergurau denganku secara begini, hampir saja aku mati ketakutan.”

“Engkau sudah melihatnya semua?” tanya It-hiong.

“Ya, begitu si nenek buta tadi datang segera aku terjaga bangun,” tutur si kakek. “Semula kusangka dia juga cuma ingin memondok bermalam di sini, maka tidak kuladeni, kemudian kudengar lagi suara seorang … wah, keras amat suaranya serupa raungan singa!”

“O, itu suara Kim-kong Taysu,” ujar It-hiong.

“Sesungguhnya apa kerja mereka itu?” tanya si kakek penjaga kelenteng.

It-hiong menggoyangkan peti hitam yang tergantung pada pergelangannya, katanya dengan tertawa, “Demi barang ini, mereka sama ingin merampas peti ini.”

“Wah, yang datang terakhir itu rada-rada lucu juga, dia ternyata mau main catur dengan Kongcu untuk menentukan kalah menang,” ujar si kakek.

“Kalau tidak main catur dengan dia, bisa jadi aku takkan dapat mengalahkan dia.”

“Tapi … tapi akhirnya Kongcu kan sudah melukai dia juga!”

It-hiong berpaling dan memandang keluar kelenteng, lalu berbisik padanya, “Bukan aku yang melukai dia. tapi seorang tokoh misterius secara diam-diam menyerang dengkulnya dengan senjata rahasia sehingga aku terhindar dari bahaya.”

Melotot kedua mata si kakek, tanyanya dengan suara lirih, “Siapa dia?”

“Entah,” jawab It-hiong.

“Di mana dia sekarang?”

“Mungkin masih berada di sekitar sini, juga bisa jadi sudah pergi.”

“Jika dia mau membantumu, tentu dia seorang baik, mengapa dia tidak mau muncul untuk bertemu denganmu?”

“Makanya dapat diduga dia pasti bukan orang baik, jika dia orang baik tentu akan menampakkan diri untuk menemuiku.”

“Tapi kalau dia bukan orang baik, kenapa dia menolongmu?”

“Soalnya dia tidak ingin peti ini dirampas oleh Sun Thian-tek, maka diam-diam ia melukainya. Apa pun juga tujuannya tetap terletak pada peti hitam ini.”

Pandangan si kakek beralih ke peti hitam itu, katanya dengan sangsi, “Sesungguhnya apa isi peti ini? Kenapa diincar sekian banyak orang?”

“Aku sendiri tidak tahu,” jawab It-hiong. “Baiklah, sekarang engkau boleh pergi tidur lagi, aku ingin menjenguk nona Ni itu.”

“Dia pasti juga sangat ketakutan,” ujar si kakek.

“Mungkin ….” It-hiong tersenyum.

Sembari bicara ia terus melangkah keluar menuju ke kamar belakang.

Di belakang ruang pendopo itu adalah sederet kamar samping, sebuah di antaranya kelihatan ada cahaya lampu.

It-hiong tahu Ni Beng-ay tentu berdiam di situ, segera ia mendekat dan mengetuk pintu, serunya, “Nona Ni, engkau sudah tidur belum?”

“Siapa?” terdengar suara Beng-ay rada gemetar.

“Aku, Liong It-hiong.”

“Oo ….” Si nona turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar, dengan wajah kejut dan khawatir ia tanya, “Sudah kau pukul lari mereka?”

“Tidak, hasil pertandingan mereka adalah Kiong-su-sing mendapatkan hak berebut peti, tapi akhirnya dia juga dipukul lari oleh seekor ‘cucakrawa’!” tutur It-hiong dengan tertawa.

“Kiong-su-sing Sun Thian-tek yang kau maksudkan itu apakah orang yang memakai sandal itu?” tanya Beng-ay dengan sangsi.

“Betul,” jawab It-hiong.

“Kau bilang dia dipukul lari oleh siapa?” tanya pula si nona.

“Cucakrawa,” kata It-hiong.

“Siapa itu Cucakrawa?” Beng-ay menegas.

“Seekor burung!” tutur It-hiong dengan tertawa.

“Seekor burung masa dapat memukul lari dia?” tercengang juga si nona.

“Pernah nona bersekolah?” tanya It-hiong dengan terbahak.

“Pernah sebentar,” jawab Beng-ay.

“Jika begitu tentu nona pernah membaca kisah kuno tentang tonggeret yang hinggap di atas pohon dan asyik berbunyi, tak tahunya di belakangnya mengintip sang walang yang siap menangkapnya. Selagi walang hendak menangkap sasarannya tak diketahuinya di belakangnya mengincar lagi burung cucakrawa. Ketika cucakrawa hendak mematuk walang, ia pun tidak tahu di bawah lagi mengintai pelinteng si pemburu. Itulah cerita incar-mengincar satu terhadap yang lain. Maksudku dengan cerita ini adalah supaya burung cucakrawa itu menyadari gawatnya urusan dan jangan lagi membuntuti aku.”

Ni Beng-ay seperti tertarik oleh dongeng ini, ucapnya dengan tertawa, “Hihi, kiranya cucakrawa yang kau maksudkan adalah manusia.”

“Ya,” sahut It-hiong mengangguk sambil menatap si nona dengan tajam.

Beng-ay menghindari pandangan orang, tanyanya pula, “Cara bagaimana orang itu memukul lari Kiong-su-sing Sun Thian-tek?”

“Semula Sun Thian-tek berjanji bertanding main catur denganku, hasilnya dia kalah, dari malu dia menjadi gusar dan main kekerasan hendak merampas petiku ini, maka terjadi pertarungan kami ….”

Begitulah secara ringkas ia kisahkan kembali apa yang sudah terjadi itu. Akhirnya ia tanya dengan tertawa, “Menarik bukan cerita ini bagimu?”

“Ya, sangat menarik,” jawab si nona dengan tersenyum.

Mendadak It-hiong berhenti tertawa dari berucap dengan kereng, “Tapi aku justru merasa tidak menarik.”

“Sebab apa?” tanya Beng-ay dengan melengak.

“Sebab aku tidak suka ada burung cucakrawa mengincar di samping,” kata It-hiong.

“Mungkin dia sudah pergi,” ujar Beng-ay.

“Tidak, dia pasti masih berada di sini,” ucap It-hiong.

Beng-ay tertawa genit, katanya, “Seumpama dia masih berada di sini, tapi di bawah kan masih mengintai si pelinteng, masa Kongcu takut!”

“Wah, caramu bicara makin lama makin menarik juga,” ujar It-hiong dengan tertawa.

Beng-ay tertawa malu dan menunduk.

“Hari sudah hampir pagi, lekas kau tidur saja, kalau tidak engkau bisa mengantuk dalam perjalanan besok,” kata It-hiong pula, lalu ia membalik tubuh dan hendak tinggal pergi.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda berkumandang dari dalam hutan di dipan kelenteng sana.

It-hiong sangat sayang kepada kuda Pek-sin-liong melebihi perempuan, begitu mendengar suara ringkik kuda itu segera diketahui tentu telah terjadi sesuatu, ia berseru khawatir dan segera berlari keluar.

Hanya sekejap saja ia sudah berada di luar kelenteng, tanpa pikir ia menerobos ke dalam hutan, tapi dilihatnya kuda sendiri yang putih itu masih berada di situ dengan santainya, tidak terlihat terjadi sesuatu atas binatang itu.

Tentu saja It-hiong merasa heran, ia mendekati Pek-sin-liong dan membelai bulu surinya, katanya, “Tidak ada apa-apa, kenapa meringkik?”

Kuda putih itu menunduk dan mengusapkan kepalanya di tubuh It-hiong serta mengeluarkan suara perlahan sebagai tanda gembira.

Meski di mulut It-hiong menegur kuda putih yang cerdik itu, tapi di dalam hati ia yakin tentu kuda itu melihat sesuatu, kalau tidak masakah dia bersuara?

Segera ia memeriksa keadaan sekitar hutan. Namun tidak ditemukan sesuatu, ia menepuk lagi leher kuda itu dan berkata, “Tidurlah yang baik, besok ….”

Belum habis ucapannya, mendadak pandangannya tertarik oleh sesuatu.

Itulah secarik kertas putih yang terselip di pelana kuda yang tergantung di pohon sana.

Ia mendekatinya dan mengambil kertas itu, keadaan dalam hutan terlampau gelap, cepat ia menuju ke luar hutan, di bawah cahaya bulan dapatlah ia membaca tulisan pada kertas itu.

“Ada orang hendak mencuri kuda dan sudah kugertak lari.”

Itulah isi surat yang ditulis dengan arang, anehnya di bagian bawah orang itu memberi tanda tangan dengan nama “aku bukan cucakrawa”.

Kejut dan sangsi Liong It-hiong, sukar ditebaknya siapa penulis surat itu, hanya diketahuinya orang tidak bermaksud jahat, maka ia masuk lagi ke dalam hutan, diturunkan pelana kuda dari dahan pohon, lalu melepaskan tambatan kuda dan dituntun keluar hutan.

Pada saat itu dilihatnya Ni Beng-ay lagi keluar dari dalam kelenteng dan menyongsongnya sambil bertanya, “Terjadi apa?”

It-hiong menambat kuda di samping pintu, pelana kuda dibawanya masuk ke dalam kelenteng, katanya, “Masuk saja, akan kuberi tahukan di dalam ….”

Beng-ay lantas ikut masuk ke dalam.

Sesudah menaruh pelana kuda barulah It-hiong menyerahkan kertas surat itu kepada si nona, katanya dengan tertawa, “Coba kau baca sendiri.”

Beng-ay menerima surat itu dan dibaca, dengan heran ia berkata, “Hei, apa artinya ini?”

“Ada orang hendak mencuri kudaku, tapi dapat digertak lari seorang lagi, orang kedua inilah yang meninggalkan surat dengan nama pedengan ‘aku bukan cucakrawa’ ini,” demikian tutur It-hiong.

“Mengapa orang ini mengaku dirinya bukan cucakrawa?” tanya Beng-ay.

“Sebab dia khawatir aku salah sangka dia sebagai si burung cucakrawa, maka dia menandatangani surat ini dan menyatakan sebagai bukan cucakrawa yang kumaksudkan.”

Beng-ay mengembalikan surat itu, katanya dengan tertawa. “Tampaknya tidak salah apa yang kukatakan tadi, yaitu Kongcu tidak pernah takut kepada burung cucakrawa itu, sebab ada seorang tukang pelinteng yang sedang mengintainya.”

It-hiong duduk kembali di tempat semula, katanya, “Ya, sungguh aneh, tak tersangka olehku ada orang diam-diam melindungi aku ….”

Setelah berpikir sejenak, lalu katanya pula, “Kupikir orang yang mengaku bukan cucakrawa ini pasti tidak bermaksud mengincar peti hitam ini, kalau tidak, tentu dia takkan mengusir si pencuri kuda bagiku, betul tidak?”

“Ya,” Beng-ay mengangguk.

“Tapi mengapa dia membela diriku?” kata It-hiong pula.

“Tentu karena dia orang baik,” ujar Beng-ay.

“Sungguh luar biasa, malam ini orang baik dan orang jahat telah muncul seluruhnya di tempat ini, apakah tidak terlampau aneh?”

“Bisa jadi dia cuma kebetulan saja lewat di sini,” kata si nona.

“Tidak, jika dia mengaku bukan si cucakrawa, ini menandakan dia telah mendengar percakapan kita, ini berarti sudah cukup lama dia sembunyi di sini.”

“Jika begitu, orang yang melukai Sun Thian-tek dengan senjata rahasia itu sangat mungkin juga dia.”

“Ya, mungkin dia, tapi mungkin juga bukan, jika tidak ada seekor cucakrawa, buat apa dia membela diri dan menyatakan dia bukan cucakrawa?”

“Atau si pencuri kuda itulah si cucakrawanya?”

Tergerak hati It-hiong, katanya, “Betul, sebabnya si pencuri itu mengincar kudaku, tujuannya mungkin bukan pada kudanya melainkan cuma ingin merintangi perjalananku saja.”

“Tanpa kuda apakah engkau tak dapat melanjutkan perjalananmu?”

“Ya, tidak bisa,” jawab It-hiong. “Tanpa kudaku itu tentu aku tidak dapat menempuh perjalanan dengan cepat. Padahal kudaku itu sanggup berlari delapan ratus li sehari, ini akan merupakan problem memusingkan kepala si pengincar peti itu, maka dia berusaha mencuri dulu kudaku agar aku tidak mampu menempuh perjalanan dengan cepat.”

“Uraianmu memang tepat,” Beng-ay mengangguk setuju.

It-hiong meraba dagu, katanya pula, “Tapi si ‘bukan cucakrawa’ ini sesungguhnya siapa? Mengapa semua orang ingin merampas petiku, hanya dia saja yang justru membantuku mengenyahkan mereka?”

Ni Beng-ay tidak menanggapi lagi.

It-hiong mengambil kertas surat putih itu dan diamat-amati sekian lama, katanya kemudian, “Kertas surat ini sangat indah, orang persilatan biasa tidak nanti membawa kertas surat semacam ini ….”

Ia coba mendekatkan kertas surat itu ke hidung dan diendusnya, lalu berkata pula, “Ehm, tidak ada bau harum, agaknya bukan barang milik orang perempuan.”

“Apakah kertas surat milik orang perempuan pasti membawa bau harum?” tanya Beng-ay dengan tersenyum.

It-hiong mengangguk, “Ya, orang perempuan umumnya mempunyai semacam bau harum badan, juga suka menggunakan barang sebangsa pupur dan sebagainya, jika kertas surat ini terbawa oleh orang perempuan tentu akan terlekat bau harum semacam itu.”

“Kulihat gaya tulisannya juga bukan tulisan tangan orang perempuan,” kata Beng-ay.

“Ini pun tidak pasti, ada tulisan sementara orang perempuan justru bergaya tulisan orang lelaki.”

“Aha, betul, terpikir olehku akan suatu tanda tanya,” seru Beng-ay mendadak.

“Urusan apa?” tanya It-hiong.

“Tadi waktu kau dengar ringkik kudamu, jelas waktu itulah si maling mencuri kudamu, betul tidak?” tanya Beng-ay.

“Betul,” sahut It-hiong.

“Anehlah jika begitu,” kata si nona.

“Aneh apa?” tanya It-hiong.

“Ketika kau dengar ringkik kuda dan memburu ke dalam hutan, semua itu terjadi dalam sekejap saja, kenapa dia sempat meninggalkan kertas putih ini?”

It-hiong tampak melenggong, katanya, “Ehm, benar juga, jika aku tentu juga tidak keburu meninggalkan surat ini …. Akan tetapi kalau dibilang pada hakikatnya tidak ada maling kuda, untuk apa pula dia bergurau seperti ini?”

“Ya, aku pun berpendapat demikian,” kata Beng-ay.

Kembali It-hiong meraba dagu, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula, “Aha, ingatlah aku!”

“Oo, ingat apa?” tanya Beng-ay.

“Bukanlah bergurau orang ini meninggalkan surat untukku, sebab memang benar-benar ada orang hendak mencuri kuda dan kena digertaknya lari,” ujar It-hiong sambil menunjuk surat itu.

“Tapi cara bagaimana dia sempat menulis surat ini?” tanya Beng-ay.

“Surat ini tentu disiapkan sebelumnya,” kata It-hiong. “Ketika diketahui di dalam hutan ada orang hendak mencuri kuda, lebih dulu ia lantas menulis surat ini, habis itu barulah ia tampil untuk mengusir maling kuda ini. Analisaku ini tentu masuk di akal bukan?”

“Ehm, betul, jika begitu akulah yang terlampau sangsi,” kata Beng-ay dengan tertawa.

“Tidak, engkau dapat memikirkan hal ini betapa pun hal ini menandakan engkau adalah nona yang sangat cerdik,” ucap It-hiong dengan tertawa.

Dengan kikuk Beng-ay melototinya sekejap, omelnya, “Kuharap engkau jangan berolok-olok.”

It-hiong angkat pundak, katanya, “Aku tidak berolok-olok, engkau memang benar sangat pintar, jauh lebih pintar daripada siapa pun.”

“Jika kau omong lagi, tentu takkan kugubris dirimu,” mulut Beng-ay tampak menjengkit.

“Haha, baiklah boleh kau kembali ke kamarmu, esok pagi bila mau berangkat akan kupanggil,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Tidak, aku mau duduk saja di sini,” kata si nona.

“Engkau tidak lelah?”

“Tidak.”

“Tapi dalam perjalanan janganlah engkau mengantuk.”

“Pasti tidak.”

“Masa engkau lupa pada peringatan Miau-lolo bahwa bila berada bersama orang asing, setiap saat ada kemungkinan akan tertimpa malapetaka,” tanya It-hiong dengan tertawa.

“Jangan percaya kepada ocehannya, kulihat engkau seorang yang baik hati,” kata Beng-ay.

“Aku mungkin tidak terlalu jahat, tapi … maaf bila aku berkelakar, sungguh aku khawatir engkau inilah si cucakrawa,” ucap It-hiong dengan tersenyum.

Perlahan Beng-ay menghela napas, “Jika aku cucakrawa, nasibku hari ini tentu tidak runyam seperti ini.”

It-hiong tertawa dan tidak bicara lagi, ia melipat kedua kakinya dan memejamkan mata untuk tidur.

Tiba-tiba Beng-ay menghela napas, ucapnya dengan rawan, “Jika engkau masih menaruh curiga padaku, biarlah aku pergi saja sendiri.”

“Ah, aku cuma bergurau saja, jangan kau anggap sungguhan,” ucap It-hiong dengan mata tetap terpejam.

“Tapi aku … aku takut ….” kata Beng-ay seperti mau menangis.

“Takut apa?” tanya It-hiong.

“Jangan-jangan setiba di Wanpeng tak dapat menemukan pamanku, jika begitu tentu susah aku,” kata Beng-ay.

“Jangan khawatir, pasti akan kubantu.”

“Jika benar paman tidak kutemukan, coba, lantas bagaimana?”

“Tidak perlu pikirkan hal ini, bila benar tidak bertemu, engkau kan masih dapat pulang ke tempat ayah tirimu sana.”

“Tidak, mati pun aku tidak mau pulang ke sana,” ucap Beng-ay dengan tegas.

“Jika begitu, setiba di Wanpeng nanti, apa kehendakmu tentu akan kubantu sepenuhnya. Nah, sekarang jangan bicara lagi, aku ingin mengaso dulu.”

“Fajar sudah menyingsing, masa engkau masih mau tidur?” kata si nona.

Waktu It-hiong membuka mata dan memandang keluar, benar juga dilihatnya hari sudah remang-remang, serunya, “Hah, tak tersangka semalam sudah lalu secepat ini.”

Sambil bicara, terpaksa ia berdiri.

Beng-ay juga ikut berdiri dan bertanya, “Berangkat sekarang juga?”

It-hiong mengangguk, “Ya, setelah kita mohon diri kepada kakek penjaga itu segera berangkat.”

Selagi bicara, tertampak si kakek sambil mengucek mata yang masih sepat melangkah masuk ruangan pendopo, katanya, “Wah, sepagi ini kalian sudah mau berangkat?”

“Pagi amat Lotiang sudah bangun,” sapa It-hiong.

“Pada hakikatnya aku tidak dapat tidur lagi, kedatangan beberapa orang itu semalam telah membuatku tak dapat pulas,” tutur si kakek.

“Kami baru mau mohon diri kepada Lotiang, sekarang sudah pagi, kami hendak berangkat segera,” kata It-hiong.

“Kenapa terburu-buru, biarkan kusiapkan sarapan dulu, habis makan baru berangkat,” ujar si kakek.

“Terima kasih, kukira Lotiang tidak perlu repot, tidak jauh lagi tentu ada kota, biarlah kami makan di sana saja,” jawab It-hiong sambil mengeluarkan dua-tiga tahil perak dan dijejalkan ke tangan si kakek, katanya pula dengan tertawa, “Semalam telah mengganggu, sedikit uang ini harap dianggap sebagai uang dupa dan minyak untuk Sian-li.”

“Ah, jangan, tidak usah …” si kakek berusaha menolak.

Tapi It-hiong berkeras menyuruhnya menerima, “Jangan sungkan, semalam kan sudah kuucapkan nazar di depan Sian-li, bilamana kelak benar terkabul harapanku, tentu aku akan datang lagi untuk membayar kaul.”

Si kakek melirik Beng-ay sekejap, lalu bergelak tertawa, “Haha, harapanmu pasti terkabul, pasti!”

“Baiklah, kami mohon diri,” ucap It-hiong sambil memberi hormat.

Si kakek membalas hormat dan mengucapkan selamat jalan kepada kedua muda-mudi itu.

Beng-ay juga mengucapkan terima kasih kepada si kakek, lalu ikut It-hiong meninggalkan kelenteng itu.

Setelah memasang pelana kuda, It-hiong berkata kepada Beng-ay, “Silakan naik nona Ni!”

Beng-ay melengak, “Kau suruh aku menunggang kuda?”

“Habis, apakah engkau diharuskan berjalan kaki mengintil di belakang kudaku?” jawab It-hiong.

Beng-ay memandang kuda putih itu sekejap, dengan takut-takut ia berkata, “Tapi … tapi aku tidak … tidak dapat menunggang kuda.”

“Takkan jatuh, jangan khawatir,” kata It-hiong.

“Kuda ini jinak tidak?” tanya si nona dengan ragu.

“Sangat jinak,” jawab It-hiong. “Bila kusuruh dia berhenti, dia pasti tak berani berjalan selangkah lebih banyak.”

“Jika kunaik kuda, lantas bagaimana dengan Kongcu sendiri?”

“Tidak apa, aku berjalan kaki,” ujar It-hiong.

“Wah kan tidak enak,” kaca Beng-ay.

“Jika engkau merasa tidak enak hati, boleh kau cari akal uruk membalas kebaikanku, aku ini memang suka menerima balas budi dari orang perempuan,” kata It-hiong dengan tertawa.

Kembali Beng-ay melototinya sekejap, lalu ia memanjat ke atas pelana, dia seperti takut terbanting jatuh, maka kedua tangan memegang erat pada pangkal pelana yang agak menegak itu, tanyanya, “Apakah begini caranya?”

It-hiong membetulkan posisi duduk si nona, lalu memberi salam kepada si kakek penjaga kelenteng dan berangkat dengan menuntun kuda.

Sambil berjalan timbul pikirannya yang serbarunyam, ia membatin, “Sekarang aku dibebani dua persoalan, yang satu, adalah peti hitam ini dan yang lain ialah nona Ni. Kedua urusan ini sangat mungkin membuat jiwaku melayang, ai, kenapa aku selalu melakukan hal-hal yang tolol dan tidak memberi keuntungan ini?”

Lalu teringat olehnya akan Pang Bun-hiong, tanpa terasa ia tersenyum, pikirnya pula, “Jika dia, pasti dia tidak mau berbuat kebodohan seperti ini, dia memang jatuh lebih cerdik daripadaku ….”

Sambil berpikir ia sudah meninggalkan hutan di lereng gunung dan mencapai jalan raya.

Ni Beng-ay seperti baru pertama kali menunggang kuda, semua dia sangat tegang, tapi lambat laun dirasakan menyenangkan juga, katanya kemudian dengan tertawa, “Oo, tadinya kukira menunggang kuda sangat berbahaya, rupanya juga cukup aman.”

Sampai saat ini rasa curiga Liong It-hiong terhadap si nona belum lagi lenyap, masih tetap menyangsikan si nona adalah si “cucakrawa”, kini setelah mendengar ucapannya, It-hiong bermaksud mengujinya, dengan tertawa ia lantas berkata, “Tapi hendaknya engkau pun jangan terlalu meremehkannya.”

“Maksudmu?” tanya Beng-ay.

“Soalnya kuda ini kutuntun dan berjalan perlahan, dengan sendirinya engkau merasa aman, tapi kita takkan selalu berjalan lambat begini, kita perlu juga berjalan lebih cepat.”

“Cepatan sedikit juga boleh, cuma jangan terlampau cepat,” ujar si nona.

Mendadak Liong It-hiong membentak sekali, kuda ditariknya terus dibawa lari dengan cepat, seketika kuda putih itu membedal secepat terbang.

Keruan Beng-ay menjerit kaget, teriaknya, “Haya, jangan, terlalu cepat!”

Dia kelihatan bergoyang di atas pelana, seperti hendak terperosot.

It-hiong menoleh dan memandangnya sekejap, serunya dengan tertawa, “Ini pun belum terhitung cepat, asalkan engkau berpegangan erat tentu takkan terbanting jatuh.”

Sembari bicara ia tetap berlari cepat ke depan.

Ia tahu seorang yang baru pertama kali menunggang kuda, pada waktu kuda membedal secara mendadak, kebanyakan tentu akan jatuh terbanting, terlebih seorang nona lemah, jelas pasti akan terbanting. Sebab itulah sekarang ia pun ingin tahu apakah Ni Beng-ay akan terlempar jatuh atau tidak. Kalau tidak terlempar, maka sangat mungkin dia adalah si “cucakrawa” yang misterius itu. Bila terbanting jatuh, maka sangat mungkin pula dia bukanlah si “cucakrawa”.

“Eh, tahan, terlalu cepat!” jerit Beng-ay dengan tubuh bergontai ke kanan dan ke kiri.

Namun It-hiong tidak menghiraukannya, sebaliknya tambah cepat larinya dan dengan sendirinya kuda itu ikut lari terlebih cepat.

“Auuhh!” begitu terdengar suara jeritan, segera terdengar pula suara “bluk”.

Rupanya nona itu benar-benar terbanting jatuh.

Waktu It-hiong berpaling, dilihatnya si nona sudah menggeletak telentang di tepi jalan, cepat ia berteriak menghentikan kuda putih itu, lalu memburu ke belakang untuk membangunkan si nona, serunya, “He, nona Ni, engkau terluka?”

Wajah Beng-ay tampak pucat, mata terpejam dan tidak bersuara, entah terbanting semaput atau pingsan ketakutan.

It-hiong coba meraba belakang kepalanya, ternyata tidak terluka, diduganya nona itu pingsan karena ketakutan. Segera dipondongnya dan mencemplak ke atas kuda serta melanjutkan perjalanan.

Sekarang rasa curiga It-hiong sudah hilang sebagian besar, dapat dipastikan si nona bukanlah si “cucakrawa”, maka timbul juga rasa kasihannya terhadap seorang anak perempuan, dirangkulnya erat tubuh Beng-ay.

Sejenak kemudian, perlahan nona itu siuman. Ketika merasa dirinya dirangkul oleh It-hiong, Beng-ay sangat malu, serunya, “Hei, lekas … lekas lepaskan aku!”

“Tidak, biarkan kurangkulmu, akan lebih aman,” kata It-hiong.

“Biarkan kuturun!” seru Beng-ay pula.

Tapi It-hiong menjawab dengan lebih tegas, “Tidak, kecuali engkau sanggup meronta lepas dari rangkulanku, kalau tidak biarlah kita melanjutkan perjalanan cara begini.”

Setelah meronta sejenak dan tetap sukar terlepas dari rangkulan tangan It-hiong yang kuat, Beng-ay lantas mencucurkan air mata, ratapnya, “O, baru sekarang kutahu engkau ternyata juga bukan orang baik-baik.”

“Aku memang bukan orang baik, bukankah kemarin sudah kuberi tahukan padamu?” jawab It-hiong.

“Oo, kubenci padamu!” seru Beng-ay sambil menangis.

“Eh, kenapa jadi begini?” tanya It-hiong dengan tertawa. “Semalam di kelenteng itu bukankah kau berani menggelendot di sampingku? Kenapa sekarang merasa keberatan kurangkul?”

“Tadi engkau sengaja membuatku terlempar dari kuda, kutahu,” kata Beng-ay.

“Betul, aku memang sengaja,” jawab It-hiong.

“Kenapa engkau berbuat begitu, apa maksudmu?” tanya si nona dengan marah-marah. “Kau tahu aku tidak pernah menunggang kuda, mengapa sengaja kau bikin aku jatuh terbanting?”

Perlahan It-hiong menjawab, “Sebab aku ingin tahu sesungguhnya engkau seorang nona baik atau si cucakrawa yang kucurigai itu.”

“Lepaskan aku,” teriak Beng-ay mendadak. “Engkau ini suka curiga, aku tidak mau lagi bersamamu.”

“Sekarang engkau tidak dapat pergi lagi,” ujar It-hiong dengan tertawa.

Kejut dan gusar Beng-ay, “Memangnya kau mau apa?”

“Membawamu ke Wanpeng dan menyerahkanmu kepada pamanmu itu.” kata It-hiong.

Si nona melenggong, “Engkau tidak … tidak akan mengganggu diriku?”

“Bisa jadi akan kuganggu dirimu, tapi terbatas, serupa ini ….” bicara sampai di sini mendadak ia menunduk, muka si nona diciumnya sekali.

Seketika Beng-ay malu dan gusar, tangan bergerak, “plak”, It-hiong digamparnya dengan keras, dampratnya, “Kurang ajar!”

It-hiong tidak marah, ia tetap melarikan kudanya dengan tersenyum.

Sesudah memukul, hati Beng-ay menjadi takut malah, khawatir kalau anak muda itu menjadi marah dan melakukan kekerasan terhadapnya. Tapi ketika dilihatnya It-hiong tidak menampilkan marah sama sekali, hal ini terasa di luar dugaan, ia pandang anak muda itu dengan termenung.

Di tengah pandangannya yang termenung itu, lambat laun dapat dilihatnya Liong It-hiong bukanlah manusia jahat sebagaimana dibayangkannya. Malahan dari sinar mata anak muda itu dapat dilihatnya mencorong semacam semangat kejantanan yang terhormat, dengan cepat rasa sangsinya itu buyar, tanpa terasa ia menjulurkan tangan untuk meraba pipi It-hiong yang digamparnya tadi, ucapnya dengan menyesal, “Sakit tidak?”

“Lumayan,” sahut It-hiong dengan tertawa.

“Maaf, aku … aku ….”

“Sudahlah, jangan bicara tentang ini lagi,” kata It-hiong. “Sekarang boleh kau pejamkan matamu, anggaplah seperti tidur di ranjang, tidurlah yang nyenyak.”

“Kalau … kalau dilihat orang lalu, kan malu,” ucap Beng-ay dengan kikuk.

“Sungguh bodoh, anggap saja tidur di ranjang, masa orang lalu dapat melihatmu?” ujar It-hiong dengan tertawa.

Beng-ay tersenyum malu dan membenamkan kepalanya di pangkuan It-hiong.

Selang sejenak, tiba-tiba ia angkat kepalanya lagi dan berkata, “Wah, tidak bisa, aku tidak dapat pulas.”

“Jika aku, tentu aku dapat pulas,” kata It-hiong dengan tertawa.

Beng-ay memandangnya dengan penuh arti, tanyanya lirih, “Beri tahukan padaku, di mana tempat tinggalmu?”

“Aku tidak punya rumah,” jawab It-hiong.

“Masa engkau tidak punya orang tua?”

“Punya, tapi semuanya sudah meninggal.”

“Jika begitu, siapa yang membesarkanmu?”

“Guruku.”

“Siapa gurumu?”

“Seorang tua yang tidak suka memperkenalkan namanya. Saat ini dia menjadi guru sekolah di suatu desa.”

“Mengapa dia tidak mau mengatakan namanya?” tanya pula si nona.

“Khawatir mendatangkan kesulitan, ia tidak suka bilamana orang mengetahui beliau menguasai ilmu tinggi, ia lebih suka hidup secara tenang dan damai.”

“Jika begitu, mengapa dia mau mengajarkan ilmu silatnya kepadamu?” tanya Beng-ay.

“Aku sendiri tidak tahu, bisa jadi beliau cuma tidak suka menonjolkan diri di dunia persilatan, jadi bukan lantaran tidak suka kepada ilmu silat.”

“Apa kerjamu selama ini?”

“Sibuk melulu!”

“Oo?!” Beng-ay tidak mengerti.

“Soalnya sepanjang hari, setahun penuh aku hanya berkeluyuran kian kemari, bila melihat sesuatu kejadian yang tidak pantas lantas ikut campur, terkadang juga bekerja buat orang lain, melakukan sesuatu yang kusukai.”

“Jadi engkau tidak mempunyai pekerjaan tetap, lalu cara bagaimana engkau mempunyai biaya hidup?” tanya Beng-ay.

“Itu kan mudah,” kata It-hiong. “Bila aku kehabisan uang, dapat kuminta pada kenalan, bila perlu hitam makan hitam, kucari tahu di mana ada penjahat yang baru berhasil mendapat rezeki, lalu kudatangi mereka dan bilang lagi bokek, tentu mereka akan memberi bagian padaku.”

“Tindakan ini kurang baik,” ujar Beng-ay.

“Bisa jadi memang kurang baik, tapi duit yang mereka rampas itu toh pasti akan dihamburkan, bila kubantu mereka membuang sedikit kan tidak salah bukan?”

Beng-ay terdiam sejenak, tiba-tiba ia tertawa malu, katanya, “Ingin katanya padamu, kau bicara dengan kakek penjaga kelenteng itu tentang kesaktian Sian-li segala, katanya kelak engkau akan membayar kaul, sesungguhnya apa yang kalian bicarakan itu?”

“Haha,” It-hiong tergelak. “Begini urusannya, semalam waktu aku memondok di kelenteng itu, si kakek penjaga sangat suka mengobrol, dia tanya aku sudah berkeluarga atau belum, kujawab belum, lalu dia menganjurkan aku memohon berkah kepada Sian-li agar selekasnya aku mendapatkan istri yang cantik, dia bilang Sian-li mahasakti, setiap permohonan pasti terkabul.”

“Dan engkau benar telah memohonnya?” tanya Beng-ay.

“Ya, aku berdoa dan mohon diberkahi mendapatkan seorang istri secantik bidadari. Siapa tahu, baru habis aku sembahyang, segera engkau muncul. Coba, kan sangat aneh.”

“Memangnya kau sangka kedatanganku untuk memenuhi doamu kepada Sian-li?” tanya Beng-ay dengan tersenyum malu.

“Aku pun tidak tahu,” jawab It-hiong. “Kalau menurut pendapatmu bagaimana?”

Muka Beng-ay menjadi merah, katanya, “Aku bukan nona secantik bidadari, aku justru ….”

“Dalam hal ini engkau tidak perlu rendah hati,” kata It-hiong cepat. “Engkau adalah nona yang paling cantik dan paling menarik daripada semua nona yang pernah kulihat.”

Tentu saja hati Beng-ay sangat senang, tapi di mulut ia mengomel, “Ai, engkau ini tidak genah, aku tidak mau bicara lagi denganmu.”

It-hiong menahan lari kudanya, katanya dengan menyesal, “Ya, mungkin aku pun tidak banyak kesempatan untuk bicara lagi denganmu.”

Si nona melengak, tanyanya cepat, “He, kenapa?”

“Coba kau lihat ke sana,” kata It-hiong.

Waktu Beng-ay menengadah, seketika berubah air mukanya, jeritnya khawatir, “Wah, jangan-jangan datang lagi perampas petimu ini?”

Ternyata betul, beberapa tombak di depan sana berdiri berjajar lima orang lelaki kekar, semuanya berwajah bengis dan menakutkan.

Sekali orang memandang wajah kelima lelaki ini segera akan diketahui mereka pasti saudara sekandung. Perawakan mereka sama tegap dan kekar sekali, semuanya hanya memakai kaus kutang warna hitam sehingga kelihatan dada dan punggungnya, bahkan semuanya memegang senjata berbentuk kapak.

Hanya dalam hal usia saja berbeda di antara mereka, yang paling tua berumur 50-an, yang paling muda juga ada 35-an.

Bahkan yang paling menakutkan adalah lelaki yang paling tua dan berdiri di tengah itu, kedua matanya kelihatan besar bulat serupa keleningan, mukanya penuh daging lebih, jenggot merah pendek, bentuknya serupa seekor harimau lapar.

Dengan sendirinya It-hiong tahu maksud kedatangan mereka, ia menaruh Ni Beng-ay di atas pelana supaya duduk dengan baik, lalu ia melompat turun, sapanya dengan memberi salam, “Apabila aku tidak salah lihat, kalian tentulah Kang-pak-go-hou (kelima harimau dari utara sungai) yang termasyhur di dunia persilatan, kelima Li bersaudara adanya?!”

Dia sengaja memperkeras kata “termasyhur” sehingga kelima lelaki tegap yang berwajah kriminil itu sama menampilkan rasa senang. Tampaknya sikap Liong It-hiong yang merendah diri dan menyanjung puji itu sangat mencocoki selera mereka.

Maka lelaki yang paling tua dan berdiri di tengah itu lantas berubah sikap yang angkuh itu, jawabnya dengan lantang, “Ya, betul, kami memang Kang-pak-go-hou adanya.”

Suaranya ternyata keras menggelegar dan membuat orang gentar.

Cepat It-hiong memberi hormat lagi, “Wah, nama kalian bersaudara sudah lama kudengar, sungguh beruntung sekali hari ini dapat berjumpa di sini.”

Lotoa atau si tertua tambah senang, ia tertawa dan berkata, “Namamu Liong It-hiong berjuluk Liong-hiap juga, sudah lama kami kagumi.”

“Ah, mana, diriku kan mirip kunang-kunang saja, mana berani berlomba cahaya dengan matahari atau rembulan, janganlah Li-toako merendah hati,” ujar It-hiong.

“Liong-hiap, apakah kau tahu apa maksud tujuan kedatangan kami ini?” tanya si Lotoa dengan tertawa.

“Tentu saja tahu,” It-hiong mengangguk. “Tentu yang kalian tuju adalah peti hitam yang kubawa ini, betul tidak?”

“Haha, memang betul, dan sudikah Liong-hiap menyerahkannya kepada kami?” tanya Lotoa pula.

“Perlu kuminta petunjuk dulu kepada Li-toako,” jawab It-hiong. “Dari mana kalian bersaudara mendapat tahu tentang peti ini berada padaku?”

Lotoa menjawab, “Semalam, seorang kenalan ibu ….”

Sampai di sini, mendadak salah seorang saudaranya yang mungkin si nomor tiga dan berdiri di sebelah kirinya menjawilnya sambil berseru, “Toako, nenek Miau sudah memberi pesan agar kita jangan bilang dia yang menghasut kita, kenapa sekarang kau ceritakan padanya?”

Kening si Lotoa bekernyit, ia berpaling dan mengomeli adiknya, “Tolol, kenapa engkau tidak tutup mulut saja?”

Losam atau si nomor tiga merasa penasaran, ucapnya dengan kurang senang, “Maksudku hanya mengingatkan Toako saja, masa salah?”

“Coba jawab,” kata Lotoa dengan mendelik, “siapa yang lebih dulu menyebut nenek Miau, aku atau kau?”

Tapi Losam tetap ngotot, “Justru lantaran kukhawatir Toako menyebutnya, maka cepat kuperingatkan padamu.”

Saking mendongkol hingga tubuh Lotoa rada gemetar, dampratnya pula, “Setan alas, kenapa aku mempunyai adik goblok semacam dirimu, sungguh sialan!”

“Huh, entah siapa yang sialan?!” jengek Losam tak mau kalah.

Lotoa angkat kapaknya dan membentak, “Keparat, berani kau bicara lagi segera kupecahkan kepalamu!”

Losam merasa seperti anak yang diomeli tanpa salah, mendadak ia menangis serupa anak kecil dan berteriak, “Wah, biar kukatakan pada ibu, akan kulaporkan pada ibu!”

Sambil mengentak kaki segera ia membalik tubuh dan berlari pergi, sembari lari ia pun menangis dan berteriak-teriak, “Ibu, ibu! Toako mengancamku lagi, katanya kepalaku akan dipecahkannya dengan kapak, tolong, Ibu! Berilah hajaran, pada Toako!”

Muka si Toako tampak merah padam, ia berpaling dan tertawa kikuk terhadap It-hiong, katanya, “Samteku ini memang orang dogol, harap Liong-hiap jangan menertawainya.”

It-hiong menggeleng, “Tidak, justru kulihat dia sangat pintar, malahan dia dapat mengingatkanmu agar jangan menyebut Miau-lolo yang menghasut kalian merecoki diriku.”

Lotoa menghela napas, katanya, “Karena engkau toh sudah tahu, biarlah aku bicara saja terus terang. Memang betul, semalam Miau-lolo datang ke rumahku, dia dan ibuku adalah kenalan karib, dia memberitahukan ibu bahwa Liong-hiap membawa satu peti berisi harta benda seharga sepuluh laksa tahil perak dan akan lalu di sini pagi ini, kami bersaudara didorong agar mencegat dirimu. Dengan wanti-wanti beliau berpesan agar jangan bilang dia yang menghasut kami, siapa tahu Samteku yang dogol itu malah menyebut dia.”

“Hah, engkau tertipu, Li-toako,” seru It-hiong dengan tertawa.

“Tertipu bagaimana?” tanya Lotoa melengak.

It-hiong mengangkat peti yang tergantung pada pergelangan tangannya, katanya, “Kau percaya peti ini berisi harta benda bernilai sepuluh laksa tahil?”

“Memangnya tidak?” Lotoa menegas.

“Coba kutanya lagi, bagaimana kepandaian kalian berlima dibandingkan Miau-lolo?” tanya It-hiong.

“Jelas dia jauh lebih tinggi daripada kami,” jawab Lotoa terus terang.

“Itu dia, kalau dikatakannya isi peti ini bernilai sebanyak itu, kenapa dia tidak turun tangan sendiri untuk merampasnya, tapi kesempatan mendapat rezeki besar ini malah sengaja diberikan kepada kalian?”

Loji, saudara kedua, manggut-manggut, katanya, “Betul, kukira pasti ada sesuatu yang tidak beres.”

Tiba-tiba Losi, si keempat, menukas, “Toako, isi peti itu harta benda atau bukan, asalkan peti itu dibuka kan lantas terjawab seluruhnya?”

Lotoa merasa benar juga usul itu, segera ia memandang It-hiong dan berkata, “Liong-hiap, harap engkau suka membuka petimu itu?”

“Maaf, peti ini tidak boleh dibuka,” jawab It-hiong sambil menggeleng. “Apalagi peti ini bukanlah milikku, umpama dapat dibuka juga takkan kuperlihatkan kepada kalian!”

Lotoa mendengus, “Hm, jika engkau tidak mau membuka peti itu agar jelas apa isinya, hal ini menandakan isi peti memang betul benda mestika.”

It-hiong tidak mau banyak rewel dengan dia, katanya dengan tertawa, “Apakah Li-toako bermaksud rebut dengan kekerasan?”

“Betul!” jawab Lotoa.

“Bagus jika begitu, biarlah kutemani kalian untuk main beberapa jurus, apabila aku bukan tandingan kalian, biarlah peti ini diambil kalian. Cuma pada sebelum bergebrak perlu kutanya dulu beberapa hal ….”

“Silakan tanya,” ujar Lotoa.

“Kalian Kang-pak-go-hou ini semuanya lelaki sejati dan jantan tulen, betul tidak?”

“Tentu saja betul,” jawab Lotoa.

“Dan yang kalian incar adalah petinya dan bukan orangnya, begitu bukan?”

“Betul,” jawab pula Lotoa.

“Kalian juga pasti takkan mengambil peti ini dengan cara yang rendah dan tidak tahu malu, bukan?”

“Apa artinya cara rendah dan tidak tahu malu?” Lotoa menegas.

“Selain kalian bergebrak denganku dan mengalahkanku secara terang-terangan, cara apa pun yang lain adalah tindakan rendah dan memalukan.”

Lotoa mengangguk, “Kami justru ingin mengalahkanmu dengan bergebrak dan tidak ingin menggunakan cara yang rendah dan memalukan.”

“Jika betul demikian, hendaknya kanan membiarkan nona ini lewat lebih dulu, habis itu baru kita bertanding habis-habisan,” kata It-hiong.

Lotoa memandang Beng-ay sekejap, tanyanya, “Dia ada hubungan apa dengan Liong-hiap?”

“Dia seorang nona yang harus dikasihani, ia hendak mencari pamannya di kota Wanpeng, di tengah jalan kepergok penjahat, kebetulan kulihat dan kutolong dia, maka hendak kuantar dia ke Wanpeng.”

“Baik, kami takkan membikin susah padanya,” ucap Lotoa.

Habis bicara ia lantas memberi jalan kepada Ni Beng-ay.

It-hiong lantas berkata kepada nona itu, “Nah, boleh kau berangkat lebih dulu, di depan adalah kota Koyu, boleh kau tunggu aku di sana.”

“Tidak, kalau mati biarlah kumati bersamamu,” kata si nona.

It-hiong tertawa, “Hus, jangan sembarangan omong, aku justru tidak ingin mati.”

Beng-ay melirik sekejap Kang-pak-go-hou, tanyanya kepada It-hiong, “Apakah engkau sanggup melawan mereka berempat?”

“Jangan khawatir,” It-hiong mengangguk dengan tertawa. “Aku pasti akan menyusul ke sana dengan selamat.”

“Jika mereka sudah berjanji takkan membikin susah padaku, buat apa aku berangkat lebih dulu?”

“Nyata engkau tidak tahu urusan,” ujar It-hiong. “Kebanyakan orang pada permulaan memang suka bicara muluk-muluk dan gagah kesatria, tapi bila mereka menderita kalah, dari malu bisa berubah menjadi kalap, lalu segala jalan dapat ditempuhnya. Sebab itulah mumpung mereka tidak mau membikin susah padamu boleh lekas kau pergi dari sini.”

“Engkau pasti tidak menjadi soal?” tanya Beng-ay dengan khawatir.

“Hal ini bergantung padamu, bila kau turut kepada perkataanku dan lekas berangkat dulu, dalam keadaan pikiran tidak dibebani urusan lain pasti aku akan menang.”

Beng-ay paham maksudnya, katanya, “Baiklah, akan kutunggu di pinggir gerbang kota, sehari engkau tidak datang akan kutunggu sehari, selamanya engkau tidak muncul juga akan kutunggu selamanya.”

“Tidak perlu sampai satu hari, paling banyak setengah hari pun sudah cukup,” kata It-hiong dengan tertawa. “Tapi bilamana terjadi sesuatu atas diriku, sebaiknya engkau jangan menunggu selamanya di situ, biarlah kudaku itu kau ambil saja, sedikit bekal dalam ranselku itu pun kuberikan padamu dan boleh kau berangkat sendirian ke Wanpeng.”

Bicara sampai di sini, tanpa memberi kesempatan bicara lagi kepada Ni Beng-ay segera ia tepuk pantat kuda dan dibentak, “Kudaku sayang, ayo lekas pergi!”

Serentak kuda putih itu membedal ke depan dengan cepat.

Kuda itu tidak lari sepenuh tenaga, namun Pek-sin-liong itu memang kuda mestika yang cerdik, ia tahu Beng-ay tidak mahir menunggang kuda, maka sengaja tidak lari cepat.

Setelah menyaksikan Beng-ay sudah pergi jauh barulah It-hiong berpaling dan berkata kepada Lotoa tadi, “Nah, baiklah, sekarang kalian boleh mulai turun tangan. Cuma sebelumnya perlu kuperingatkan kepada kalian, bilamana benar kalian dapat mengalahkanku dan merampas peti ini, kalian masih perlu juga hati-hati terhadap seorang lagi.”

“Hati-hati terhadap siapa?” tanya Lotoa.

“Miau-lolo,” jawab It-hiong.

“Memangnya dia kenapa?” Lotoa menegas dengan sangsi.

“Semalam dia dan Kim-kong Taysu, Koh-ting Tojin, Kiong-su-sing Sun Thian-tek bertiga sama muncul juga dan hendak merampas petiku ini, lantaran dia dan ketiga orang lain itu merasa sama-sama tokoh Bu-lim terkemuka dan cukup dihormati, mereka tidak mau saling bermusuhan hanya lantaran berebut sebuah peti, maka mereka lantas bersepakat mengadakan pertandingan pendahuluan, yang menang boleh ikut dalam perebutan peti, akhirnya dia dan Kim-kong Taysu serta Koh-ting Tojin tersisihkan, sebab itulah dia malu untuk mengincar lagi petiku ini ….”

Dengan sendirinya Lotoa pernah juga mendengar nama Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin yang disegani itu, ia merasa Kungfu dirinya ditambah saudaranya masih selisih jauh bila dibandingkan tokoh-tokoh itu, sedangkan Liong It-hiong yang dihadapinya sekarang justru mampu lolos dengan selamat dari cegatan jago kuat sebanyak itu, maka diam-diam ia terkejut akan kelihaian anak muda ini.

Rupanya cerita Liong It-hiong itu pun menarik baginya, ia coba tanya lagi, “Dan siapa akhirnya yang keluar sebagai pemenang, apakah Kiong-su-sing Sun Thian-tek?”

It-hiong mengangguk, “Betul.”

Lotoa tampak kejut dan ragu, tanyanya pula, “Dan dia tidak jadi merampas petimu ini?”

“Memangnya kau kira dia begitu murah hati terhadapku?” sahut It-hiong dengan tertawa.

“O, jadi dia telah turun tangan hendak merampasnya?” desak Lotoa.

“Ya, dengan sendirinya dia telah turun tangan padaku,” kata It-hiong.

“Tapi engkau dapat menggempurnya lagi?” tanya Lotoa dengan terbelalak.

Karena It-hiong sudah berjanji kepada Sun Thian-tek takkan menyiarkan apa yang terjadi sesungguhnya, maka dia sengaja melantur, katanya, “Tidak, orang semacam diriku mana mampu mengalahkan Kiong-su-sing Sun Thian-tek yang termasyhur itu? Soalnya dia sendiri yang lengah sehingga aku berhasil meloloskan diri.”

Keterangan ini membuat Lotoa merasa lega, sebab ia pikir jika Liong It-hiong belum lagi mengalahkan Sun Thian-tek, maka mereka bersaudara barulah ada harapan mengalahkan anak muda ini. Segera ia tanya lagi, “Dan apa maksudmu menyuruh kami hati-hati terhadap Miau-lolo?”

“Sebab dia tidak bebas lagi merampas peti ini langsung dariku, maka kalian dihasut agar mencegat diriku, sudah tentu telah direncanakan bilamana kalian berhasil mendapatkan peti ini dariku, segera juga ia akan merampasnya dari kalian.”

“Hm, apa betul beginilah tujuannya?” jengek Lotoa dengan air muka berubah.

“Menurut dugaanku, delapan bagian pasti demikian.”

Lotoa menjadi gusar, teriaknya, “Nenek keparat, kiranya dia tidak berniat baik!”

Mendadak Loji ikut bicara, “Jangan Toako terkena tipu mengadu domba bocah ini, Miau-lolo adalah kawan baik ibu selama puluhan tahun, mana dia sampai hati merampas barang kami.”

Lotoa itu agaknya juga orang yang tidak punya pendirian, ucapan saudaranya itu dirasakan beralasan juga, segera ia pasang kuda-kuda dan berseru, “Liong-hiap, segera kami akan turun tangan merampas petimu, jika kami mengalahkanmu harus kau serahkan peti itu.”

“Baik, tapi bagaimana bila beruntung aku yang menang?” tanya It-hiong.

“Jika begitu segera kami memberi jalan kepadamu,” jawab Lotoa.

“Bagus, setuju?”

“Setuju!”

It-hiong lantas melolos Siau-hi-jong dan siap tempur, katanya, “Silakan mulai.”

Lotoa mengedipi ketiga saudaranya, serentak keempat orang mengepung It-hiong di tengah, lalu mendesak maju dan siap serang.

Sudah sering juga It-hiong mendengar nama “Kang-pak-go-hou,” namun dia tidak memandang sebelah mata kepada mereka, dengan pedang terhunus ia berdiri tenang dan menunggu serangan mereka dengan tersenyum.

Meski di antara kelima saudara itu sudah pergi seorang, namun cara mereka main kerubut terhadap musuh sudah sangat berpengalaman, dari empat jurusan mereka mendesak maju, langkahnya teratur serupa berbaris.

Namun It-hiong tidak ingin mendahului menyerang, ia bermaksud menghadapi lawan dengan ketenangan, ini memang kebiasaannya, sebelum musuh menyerang dia tidak mau menyerang. Sekali musuh bergerak segera ia mendahului menyerang.

Ketika Kang-pak-go-hou sudah mendekat, kira-kira satu tombak di sekitar It-hiong, lalu berhenti terus mulai mengitar.

Empat orang memakai delapan kapak besar dan gemilapan di bawah sinar matahari, seram juga tampaknya.

Sekonyong-konyong Lotoa mendahului melancarkan serangan, ia meraung sekali, kapak sebelah kiri membacok pundak kanan It-hiong.

Serangan ini merupakan perintah mengerubut kepada saudaranya, maka serentak Loji, Losi dan Logo sama ikut menyerang, empat kapak mereka pun menyambar ke tubuh It-hiong.

“Bagus!” bentak It-hiong, sekali berputar, lebih dulu ia hindarkan kapak Lotoa, menyusul tangan kiri menyambitkan peti hitam untuk menghantam muka Loji, menyusul pedang pandak di tangan kanan menebas kapak Losi, berbareng kaki kanan juga menendang pergelangan tangan kanan Logo. Tiga jurus serangan dilancarkan sekaligus, gerakannya cepat, gayanya indah.

Loji tidak menduga orang dapat menggunakan peti hitam itu sebagai senjata, ketika peti itu menyambar tiba, ia terkejut, cepat ia menarik kembali kapaknya dan mendak ke bawah untuk menghindar.

Ketika Losi merasa gagang kapak sendiri hendak ditebas oleh pedang pandak lawan, ia pun cepat mengangkat kapak ke atas untuk menangkis.

“Creng”, kapak beradu dengan pedang pandak, tapi mata kapak telah tertebas sebagian oleh pedang, Siau-hi-jong sungguh pedang mestika yang dapat memotong besi seperti merajang sayur.

Keruan Losi melompat mundur dengan kaget, teriaknya, “Awas, bocah ini memakai pedang mestika!”

Pada waktu dia berteriak, “blang”, dengan tepat pergelangan tangan Logo juga kena ditendang oleh It-hiong.

Logo menjerit kaget sambil melompat mundur.

Kontak pada gebrakan pertama ini boleh dikatakan Liong It-hiong sama sekali berada di atas angin.

Kiranya Kang-pak-go-hou sebenarnya bukanlah tokoh silat kelas tinggi, perkembangan anggota badan mereka memang subur, namun otak mereka kerdil, sebabnya nama mereka terkenal di dunia Kangouw adalah berkat kebesaran nama ibu mereka.

Ibu mereka adalah satu di antara “Sam-lolo” atau tiga nenek yang termasyhur di Bu-lim yaitu Gu-lolo, salah seorang tokoh wanita dunia persilatan yang top pada zaman ini.

Akan tetapi ibu yang lihai itu ternyata melahirkan lima anak yang tolol. Tubuh mereka memang gede, namun semuanya berotak udang, mereka hanya menguasai sedikit Kungfu kasaran saja, Kungfu yang agak tinggi sukar masuk ke dalam otak mereka. Cuma lantaran mereka mempunyai seorang ibu yang gemilang maka orang Kangouw sama mengalah kepada mereka.

Lantaran pikiran seperti itu juga, maka cara bertempur Liong It-hiong juga pakai ukuran, kalau benar dia mau melabrak mereka, cukup sekali dua gebrak saja mereka sudah dibereskannya.

Kini demi melihat si buncit kena ditendang Liong It-hiong, Lotoa khawatir kalau lawan menambahi serangan maut lagi kepada Logo, cepat ia membentak dan memburu maju, kedua kapak diangkat terus membacok sekuatnya.

Berbareng itu Loji, dan Losi juga ikut menyerang, yang satu dari kanan yang lain dari kiri, kapak terus menghujani lawan.

Namun dengan gerakan yang lincah dan cepat dapatlah It-hiong menghindarkan setiap serangan mereka, mendadak ia mendak ke bawah, pedang pandak terus berputar, sekali berkelebat, terdengarlah suara mendering, menyusul ia lantas melompat mundur, serunya dengan tertawa. “Nah, Li-toako, sudah cukup bukan?”

Keempat Li bersaudara itu saling pandang dengan melongo.

Kiranya kedelapan kapak mereka kini sama tersisa setengah gagang saja yang terpegang di tangan, semuanya sudah tertebas putus dan jatuh ke lantai.

Sampai sekian lama, Lotoa melenggong, kemudian barulah ia menggerutu, “Keparat, ini keberapa kali?”

“Kesepuluh kalau tidak salah!” ucap Loji.

Dengan gemas Lotoa melemparkan gagang kapak ke tanah, teriaknya, “Sekali ini kita harus ganti gagang kapak sendiri, supaya tidak ditertawai Loh-lotia (bapak Loh).”

“Betul,” tukas Logo. “Setiap kali kita minta dia mengganti gagang kapak kita selalu kita diolok-olok olehnya.”

“Sekali ini kita ganti saja dengan gagang besi agar tidak selalu ditebas putus orang,” ujar Losi.

“Betul, setuju!” Logo mengangguk-angguk.

Lotoa menghela napas, keluhnya, “Wah, sebentar di rumah tentu akan dimaki ibu lagi ….”

“Memang,” sambung Logo. “Selama sekian tahun kita bersaudara tidak pernah menang berkelahi, pantas juga ibu lalu marah.”

Kembali Lotoa menghela napas, lalu memberi tanda kepada Liong It-hiong, katanya, “Liong-hiap, bolehlah engkau berlalu.”

Sebabnya Kang-pak-go-hou dapat hidup sampai sekarang juga terletak pada hal ini, yaitu berani mengaku kalah.

It-hiong memberi hormat, katanya, “Terima kasih, cuma aku mungkin tidak dapat berangkat sekarang.”

“Memangnya kenapa?” tanya Lotoa.

“Ibumu datang!” jawab It-hiong dengan tertawa.

Benar juga, Gu-lolo telah muncul.

Sebabnya dia disebut “Gu-lolo” atau si nenek kerbau mungkin bukan lantaran dia she Gu melainkan karena tubuhnya segede kerbau.

Kelihatan usianya sudah di atas tujuh puluhan, rambutnya sudah ubanan, tapi tinggi badannya lebih enam kaki, seluruh badan daging belaka. Yang lucu adalah tongkat yang dipegangnya adalah sebatang tongkat bambu yang kecil sehingga tidak berimbang dengan perawakannya.

Dia muncul dari dalam hutan di tepi jalan sana, setiap satu langkah bumi seakan-akan berguncang, sungguh sangat menakutkan perbawanya.

Losam yang tadi menangis dan berlari pulang itu sekarang mengintil di belakang sang ibunda, dia seperti dapat menduga Lotoa pasti akan mendapat ganjaran, maka dia kelihatan senang dan setengah mengejek.

Benar juga, sesudah dekat, Gu-lolo tidak lantas berurusan dengan Liong It-hiong, tapi langsung melototi putranya yang tertua itu dengan sikap garang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.

Seketika Lotoa ketakutan serupa tikus ketemu kucing, dengan sikap gugup ia menunduk dan membungkuk tubuh.

Setelah mendeliki Lotoa sejenak, mendadak ia membentak bengis, “Angkat kepalamu!”

Lotoa tampak gemetar, perlahan ia angkat kepala, ucapnya dengan gelagapan, “Bu, dengarkan dulu penjelasanku ….”

“Penjelasan apa?” hardik Gu-lolo dengan mendelik. “Menjelaskan bahwa kau pintar memukuli adik sendiri, begitu bukan? Sialan, bapakmu tidak becus, hasilnya beberapa anak seperti kalian juga tidak becus, tiap hari hanya bikin marah orang tua saja.”

Lotoa menunduk dan tidak berani bersuara lagi.

Dengan muka bengis Gu-lolo berkata pula, “Coba jawab, kenapa kau bilang mau pecahkan kepala Losam?”

“Aku … aku hanya … hanya mengancamnya saja dan tidak … tidak sungguh-sungguh,” jawab Lotoa dengan tergegap.

“Kenapa kau ancam dia? Padahal kau tahu nyalinya kecil, mengapa kau takut-takuti dia?” desak lagi Gu-lolo.

“Dia goblok, tanpa ditanya dia menyebut Miau-lolo segala,” tutur Lotoa.

“Bukan, tidak, dia yang omong lebih dulu, kuperingatkan dia jangan omong, dia berbalik memaki diriku dan mengancam hendak memecahkan kepalaku dan hendak mencencang tubuhku berkeping-keping,” teriak Losam.

“Kentut!” teriak Lotoa dengan gusar. “Bilakah pernah kubilang mau mencencang tubuhmu? Jika berani sembarang omong lagi bisa ku ….”

“Kau mau apakan dia?” bentak Gu-lolo.

Seketika Lotoa tutup mulut dan menunduk.

“Hm, di depanku saja berani kau takuti dia, maka bagaimana jadinya bila di belakangku tentu dapat dibayangkan,” jengek Gu-lolo. “Ayo, berlutut!”

Lotoa tidak berani membangkang, dengan penasaran ia bertekuk lutut.

“Kau tidak berani kepada orang luar, tetapi berani memukuli adik sendiri, kau pantas dihajar atau tidak?” tanya pula Gu-lolo.

“Pan … pantas dihajar,” jawab Lotoa.

“Jika begitu lekas julurkan tanganmu!”

Perlahan Lotoa lantas menjulurkan kedua tangannya.

Gu-lolo mengangkat tongkat bambunya dan memukul telapak tangannya tiga kali, lalu membentak, “Nah, lain kali masih berani tidak?”

“Tidak berani lagi,” jawab Lotoa sambil menggosok-gosok tangannya yang kesakitan.

“Tadi kalian menang atau kalah?” tanya Gu-lolo.

“Ka … kalah,” jawab Lotoa takut-takut.

“Apakah masih ingat peraturan yang kutetapkan tempo hari!”

“Ingat,” jawab Lotoa.

“Jika begitu, julurkan lagi tanganmu,” bentak Gu-lolo dengan gusar.

Dengan takut-takut Lotoa menjulurkan lagi kedua tangannya dan memohon, “Bu, harap engkau pukul perlahan sedikit, bila terlalu keras, tangan anak bisa tidak berguna lagi.”

“Memangnya sudah lama kau tidak berguna lagi, bilamana berguna tentu tidak kalah setiap bertempur sehingga bikin malu nama ibu sendiri,” maki Gu-lolo.

Sambil bicara ia angkat tongkat bambu dan menyabet sekerasnya, setiap kali menyabet selalu disertai caci maki.

Agaknya peraturannya menentukan bila kalah satu kali harus dihajar pukul telapak tangan sembilan kali, maka sesudah memukul sembilan kali ia lantas berhenti dan membentak, “Lekas minggir!”

Cepat Lotoa bangun dan menyingkir dengan lesu.

Lalu Gu-lolo berkata kepada Loji, Losi dan Logo, “Nah, kalian pun julurkan tangan.”

Terpaksa ketiga saudara itu menjulurkan tangan.

Lalu tongkat bambu Gu-lolo bekerja cepat, ia pun memukul telapak tangan mereka sembilan kali setiap orang, lalu ia berpaling dan membentak Losam, “Kau pun sama, kenapa tidak lekas menjulurkan tangan.”

“Jangan ibu memukulku,” protes Losam.

“Kenapa jangan?” bentak Gu-lolo.

“Sebab pertarungan tadi aku tidak ikut serta, mereka berempat yang kalah, anak tidak hadir di sini,” seru Losam.

“Apa betul begitu?” Gu-lolo menegas.

“Betul,” kata Losam. “Bila anak ikut bertempur tadi pasti takkan kalah.”

Gu-lolo mengangguk, “Ehm, betul juga, Ngo-gu-sin-tin (barisan sakti lima kerbau) yang kuajarkan kepada kalian tidak ada tandingannya, bilamana tadi kau ikut pasti takkan kalah. Baiklah, bukan salahmu, bebas dari hukuman.”

Maka tertawalah Losam dengan bangga.

Lalu Gu-lolo berpaling ke arah Liong It-hiong, tegurnya dengan dingin, “Apakah kau ini yang bernama Liong It-hiong dengan julukan Liong-hiap segala?”

“Betul,” It-hiong memberi hormat, “Sungguh beruntung hari ini dapat berjumpa dengan Gu-lolo yang namanya termasyhur di seluruh kolong langit ini.”

“Hm, tidak perlu kau pakai cara menyanjung puji segala, nyonya besar tidak mempan dicekoki cara begini,” jawab Gu-lolo dengan ketus.

“Sama sekali tidak ada maksudku menyanjung puji, sebab engkau memang benar tokoh yang termasyhur,” ujar It-hiong.

Betapa pun setiap orang suka diumpak, maka tidak urung tertawa juga Gu-lolo, dengan ramah ia berkata pula. “Baiklah, sekarang boleh kau tinggalkan kotak itu, mengingat engkau masih tahu sopan santun, biarlah kuampuni jiwamu.”

“Wah, maaf, tidak dapat kuberikan peti ini,” sahut It-hiong.

Seketika Gu-lolo menarik muka, bentaknya, “Kenapa tidak?”

“Sebab peti ini bukan milikku,” tutur It-hiong.

“Omong kosong,” damprat Gu-lolo dengan gusar, “Kalau bukan milikmu kenapa bisa berada padamu.”

“Masa engkau tidak diberitahukan oleh Miau-lolo?” tanya It-hiong.

“Dia bilang petimu itu berisi benda mestika berharga sepuluh laksa tahil perak dan hendak diantar sebagai kado ulang tahun kepada seorang pangeran,” kata si nenek. “Hm, ingin kuperingatkan padamu, daripada susah payah kau antar peti itu kepada pangeran apa, kan lebih baik kau berikan kepada nyonya besar saja.”

“Engkau tertipu, Gu-lolo,” kata It-hiong. “Isi peti ini sama sekali bukan benda mestika, jika cuma barang seharga sepuluh laksa tahil tak nanti menarik perhatian tokoh kelas tinggi sebangsa Kim-kong Taysu, Koh-ting Totiang dan sebagainya.”

Advertisements

3 Comments »

  1. Bagi yang ingin baca cersil langsung tamat silahkan kunjungi http://arebuuud-cersil.blogspot.com/

    Comment by Arebuuud — 13/01/2008 @ 11:14 am

  2. Bikin tambah penasaran,.lanjuu.ut.

    Comment by Penemu (bmbang) — 13/10/2012 @ 3:51 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: