Kumpulan Cerita Silat

12/01/2008

Perguruan Sejati (10)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:04 pm

Perguruan Sejati (10)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Memang benar, setelah melancarkan dua kali Hiat cie lengnya In Tiong Giok kehabisan tenaga, napasnya memburu seperti kerbau kepayahan, tapi saat ini dia sudah melupakan keadaan dirinya, begitu napasnya baikan, segera ia berkata: “Lo Cianpwee katakanlah dengan jelas cara apa lukamu bisa sembuh?”

“Isi perutku sudah rusak dan hawa sudah mongering, biar mendapat obat dewapun tak bisa menyembuhkan. Sedangkan Hiat cie leng adalah ilmu dalam yang memakai tenaga sejati dan membangkitkan kehidupan padaku untuk sejenak saja, beginipun cukup membuatku menuturkan kata-kata sebelum meninggal dunia.”

“Bagaimanapun Lo Cianpwee tidak boleh meninggal dunia, untuk Thian liong bun dan untuk Liap Lo Cianpwee.””Perasaan rindu selama tiga puluh tahun cukup terhibur dengan pertemuan hari ini, padanya tiada yang kupikirkan lagi, tapi soal buku itu yang menjadi beban pikiranku!”

“Tak perlu Lo Cianpwee kuatirkan akan kuusahakan merampas kembali buku itu!” kata In Tiong Giok.

“Jangan kau rampas buku itu, pokoknya sanggupilah dua permintaanku.”

“Jangan kata dua, dua puluhpun akan kusanggupi!” jawab Tiong Giok.

“Bagus,” kata Pek King Hong. “Yang pertama setelah ku mati, dalam waktu kurang dari setahun engkau harus pergi ke Cu cin san dan datanglah di puncak Giok hong hong, di sana ada sebuah gua, dan ambillah sebuah benda peninggalan di gua itu, lalu menurut kata-kat yang tertulis di dinding gua itu, untuk dikerjakan. Untuk bisa sampai digunung itu dan masuk ke dalam gua engkau harus membawa kumala yang tempo hari kuberikan kepadamu, soal yang kedua jenazahku tidak boleh dikubur, dan letakkan di dalam gua itu…”

“Semua ini kusanggupi, tapi buku itu haruskah dibiarkan terus ditangan Pok Thian Pang?”

“Benar!”

“Kenapa?”

“Sebabnya engkau akan mengerti sendiri dikemudian hari, saat ini keadaan dunia persilatan mungkin sudah berubah lagi tak seperti sekarang!” kata Pek King Hong. Sejenak ia tidak melanjutkan perkataannya, melainkan melirik kepada Liap In Eng yang berada disebelahnya. “In Eng! Engkau begini cantik, kenapa bernasib buruk? Karena nasibkah? Ai! Dalam kehidupan ini terjadi perpisahan abadi!”

Untuk penitisan kelak tak dapat diharapkan.

Dunia yang fana sebagai impian.

Duka derita bagian kita.

Sehabis membacakan sebait sair itu, sinar mata Pek King Hong menjadi sayu dan buram. Wajahnyapun turut menjadi pucat dan dengan cepat berkerut-kerut serta menyusut seperti kayu kering. Waktu Tiong Giok meraba dengan tangannya, sudah dingin membeku. Dengan air mata bercucuran Tiong Giok menggoyang-goyang kedua tangan Pek King Hong sambil berseru “Pek Lo Cianpwee! Pek Lo Cianpwee…” Saat itu ia merasakan bumi berputar, suara jeritannya menjadi habis, dan jatuh pingsan tanpa merasa…

Entah berapa saat sudah berlalu, waktu ia siuman dari pingsannya, mendapatkan dirinya berbaring diatas ranjang tertutup selimut hangat. Tak jauh dari pembaringan terlihat seorang babu sedang berdiri, dan Tong Cian Lie yang sedang duduk bersila. Wajahnya sangat pucat, kedua matanya dimeramkan, seperti sedang memulihkan pernapasannya.

Tiong Giok kesusahan untuk bangkit, tapi kepalanya seperti mau copot tak bisa diangkat. Dan mendatangkan rasa sakit yang membuatnya tidur kembali.

“Apakah engkau ingin mati?” kata Tong Cian Lie sambil membuka mata. “Kuperingati, jangan bergerak jika mau hidup terus!”

“Aku…aku kenapa?” tanya Tiong Giok.

“Tanya pada dirimu sendiri! Kenapa rambut hangus, tenaga dan semangat hilang? Jika aku tak cepat kembali. Hm, ilmu kekuatanmu siang-siang sudah musnah!”

Tiong Giok menenangkan pikiran. “Bagaimana dengan Liap Lo Cianpwee?” tanyanya.

“Bocah apakah engkau tak bisa tenang barang sedikit?” kata Tong Cian Lie.

“Jika engkau ngomong terus, jiwamu pasti tak akan tertolong, dan percuma saja aku membuang tenaga menolongmu. Soal Liap In Eng tak perlu kau pusingkan, jalan darqahnya sudah kubuka dan ada diloteng depan sedang tidur nyenyak.”

Tiong Giok menutup mulut tak berani banyak bertanya lagi, hanya sepasang matanya lirik sana lirik sini memandang Tong Cian Lie dan bujang tua itu bergantian. Sebenarnya ia ingin menanyakan jenazah Pek King Hong, tapi takut dibentak Tong Cian Lie yang bertabiat berangasan. Namun gerak geriknya ini tidak luput daripandangan matta Tong Cian Lie, maka itu ia berkata: “Apakah engkau memikirkan soal jenazah itu? Tenangkan hatimu, aku sudah menyuruh orang menggotong pergi…”

“Tong Cianpwee jenazah itu tak boleh dogotong..”

“Apakah harus diletakkan terus dipembaringan Liap Kounio? Sungguhpun aku tak tahu dia siapa, kutahu tentu sahabat baikmu, maka kubeli peti mati dan memasukkan kedalamnya, apakah yang kulakukan salah?”

“Maksudku bukan begitu…”

“Aku segan menanyakan apa maksudmu, ringkasnya jenazah itu ada dihalaman belakang, dan pasti tidak akan hilang! Engkau jangan banyak bicara, mengasolah dengan tenang, nanti setelah sembuh baru bicara lagi.” Lalu ia menoleh kepada babu tua, “Sekarang engkau boleh pergi, dan jangan lupa obat itu masak dengan baik, dan pil itu diberikan pada Siociamu sebutir, perhatikanlah baik-baik, dan jangan sampai ia bangun.”

“Babu tua itu segera berlalu, Tong Cian Lie segera memejamkan mata lagi melakukan perbaikan jalan napasnya.

Terhadap jago bersifat berangasan ini, disamping menaruh hormat Tiong Giok merasa jerih. Maka iapun segera memejamkan mata menyalurkan lagi hawa sejati dan lwekangnya. Setelah melakukan istirahat dan perbaikan atas hawanya, yang dilakukan dengan giat, rasa sakit dibadannya berangsur-angsur hilang. Waktu ia membuka matanya kembali, matahari telah condong ke barat. Sedangkan Tong Cian Lie sudah berdiri didepan ranjang sambil memandang kearahnya. Dan memberikan sebutir obat: “Makanlah obat ini!”

Tiong Giok menerima obat itu dan menelannya, tak selang lama ia merasakan sekujur badannya menjadi panas dan membuat semangatnya berangsur-angsur pulih. Dicobanya bangun. Ia berhasil dengan baik, bahwa saking girangnya ia lupa menghaturkan terima kasih dan langsung saja bertanya.

“Waktu Lo Cianpwee mengejar perempuan jahanam itu, apa Lo Cianpwee tidak melihat seorang gadis yang bernama Pek Wan Jie?”

“Hm! Kekuatanmu belum pulih semua, sebaiknya lebih banyak istirahat dari pada berkata-kata!”

“Aku merasakan tujuh puluh lima persen kekuatanku pulih kembali. Jika Lo Cianpwee tak mau memberitahu hatiku mana bisa beristirahat dengan tenteram.”

“Apakah gadis yang bernama Wan Jie itu mempunyai hubungan yang dalam denganmu?”

“Ya.”

“Dan berhasilkah Lo Cianpwee mengejar mereka?”

“Masakan aku tak berhasil mengejar segala perempuan itu!”

“Kalau begitu perempuan jahat itu sudah ditangkap?”

“Siapa yang mengatakan?”

“Habis bagaimana?”

“Aku mempunyai pantangan tidak bisa turun tangan terlebih dahulu terhadap wanita!”

“Kalau begitu kerjaan Lo Cianpwee tidak membawa hasil?”

“Hm! Siapa yang bilang?”

“Habis kalau Lo Cianpwee tidak turun tangan bukankah perempuan-peempuan itu berhasil meloloskan diri?”

“Sungguhpun aku mempunyai pantangan yang beitu, tapi jika perempuan itu tidak mau menurut kata-kataku, akan kuhajar juga, nah Sun Toa nio sebagai contohnya.”

“Selanjutnya bagaimana?”

“Tatkala kena kukejar, kulihat mereka semuanya adalah perempuan melulu, maka aku tidak bisa turun tangan terlebih dahulu; kuperingatkan mereka kembali kesini. Bukan saja perempuan jahanam itu tidak menggubris perintahku, malahan ia menyuruh delapan pelayannya menghadangku. Akibatnya mereka turun tangan terlebih dahulu dan akupun tidak sungkan-sungkan lagi.”

“Bukankah pelayan-pelayan itu empat mengenakan pakaian biru dan empat mengenakan pakaian merah?”

“Benar!”

“Adakah Lo Cianpwee melukai mereka?”

“Engkau sudah mengatakan mereka sebagai anak buah Liap In Eng bukan? Maka itu aku tidak melukainya, melainkan membekuk satu persatu dan membawanya lagi kemari!”

“Ah celaka!” seru Tiong Giok.

“Apa katamu?”

“Maksudku agar mereka pura-pura tunduk dan ikut kemarkas pusat Pok Thian Pang. Bila mana sampai saatnya kita melakukan serangan kesana, mereka bisa menyambut dari dalam dan melicinkan perjuangan kita menghancurkan perserikatan jahat itu tapi tak kira Lo Cianpwee telah membawa mereka kembali kesini!”

“Untuk usahamu itu tidak perlu memakai banyak orang.” Kata Tong Cian Lie, “tiga orangpun sudah cukup. Kuajak mereka kembali, mengingat keadaan Liap In Eng sudah buta dan perlu mendapat perawatan sebaik mungkin dari pelayan-pelayannya.”

“Ya pendapat Lo Cianpwee benar juga, aku tak memikir sampai kesitu.”

“Soal yang engkau tak piker masih banyak, ingin kutanya kepadamu apa Pek Wan Jie itu benar-benar baik padamu? Atau hanya pura-pura baik?”

“Pikir saja ia berani meninggalkan maskas pusat Pok Thian Pang karena diriku, maka kebaikannya tak perlu diragukan lagi!”

“Hm, engkau mengatakan begitu, yang sebenarnya ia tidak menghianati Pok Thian Pang seujung rambutpun.”

“Bagaimana Lo Cianpwee berani memastikan?”

“Waktu kukejar perempuan jahanam itu dan dihalang-halangi pra pelayan, ia berniat meloloskan diri, tapi dengan pukulan geledek kulihat ia luka parah. Sebenarnya dengan mudah bisa kutangkap, kalau tidak ditolong Pek Wan Jie! Untung aku masih mengingat gadis itu sebagai kawanmu, jika tidak iapun pasti terluka ditanganku!”

“Ah, untung Lo Cianpwee tidak melukainya.”

“Atas inikah engkau bergirang?”

“Pek Wan Jie seorang gadis yang welas kasih sejak kecil dia dibesaarkan di Pok Thian Pang, Soat Kouw adalah bibinya, sudah tentu mempunyai hubungan bahtin yang mendalam, tak heranlah dia memberi pertolongan dikala bibinya menderita luka bukan? Atas perbuatannya itu mendapat jasa besar, dan bisa menebus kesalahannya di Pok Thian Pang, karena inilah aku bergirang hati.”

“Tak kira engkau semuda ini sudah tergila-gila paras cantik.” Kata Tong Cian Lie sambil menarik napas panjang. “Sedangkan kedudukan Wan Jie sebagai kawan atau lawan belum bisa diterntukan bukan? Menurutku lebih baik mengurangi pacar-pacaran dengannya! Dalam hal ini aku bermaksud baik, dan engkau jangan salah terima.”

“Aku menerima wejangan dari Lo Cianpwee dengan tulus ikhlas,” kata In Tiong Giok.

“Soal disini sudah beres, apakah engkau masih mau pergi ke Pek liong san?”

“Sudah tentu!”

“Keadaan fisikmu masih lemah…”

“Kurasa tidak menjadi soal,” potong In Tiong Giok. “Tapi sebelum itu, soal Liap Lo Cianpwee harus dibereskan dulu.”

“Hal ini tak perlu kau kuatirkan, ia bisa menyingkir dulu ke Kiu yang shia dibawah perlindungan pelayan-pelayannya,” kata Tong Cian Lie. “Jika engkau masih kuatir, aku bisa minta bantuan kaum pengemis yang menjadi anak buah Cian bin sin kay, untuk melindungi sampai ketempat tujuan.”

“Liap Lo Cianpwee mau kesana?”

“Jika menanyakan kepadanya sudah tentu ia tidak mau, kini tak perduli ia mau atau tidak, kita harus mengusahakan sampai ia mau!”

Setelah mengambil keputusan ini, Tong Cian Lie membubarkan babu-babu tua dengan memberi uang. Dan memanggil gadis-gadis berbaju biru dan merah, diterangkan pada mereka apa yang akan diperbuatnya untuk menyelamatkan Liap In Eng; mereka menyetujui usul itu sambil menghautrkan terima kasih. Dari delapan gadis berbaju merah yang bernama Cu lian dan Ing jie untuk mendampingi Siocianya disepanjang jalan, sedang yang lain dibagi menjadi tiga grup untuk berjaga dengan bergilir.

“Soal Liap In Eng bisa diatur, dan soal Pek King Hong adalah urusanmu,” kata Tong Cian Lie.

“Soal ini sudah kupikirkan!” kata Tiong Giok. Diajaknya Tong Cian Lie, membawa jenazah Pek King Hong kesebuah kelenteng, berbareng dengan bantuan kaum Kay pang (pengemis) untuk menyediakan sebuah perahu untuk keperluan Liap In Eng. Setelah mengatur keperluan dengan beres, Tong Cian Lie dan In Tiong Giok baru naik keloteng menemui Liap In Eng. Dalam pikiran mereka Liap In Eng tidak akan setuju meninggalkan tempat kediamannya, dan diluar dugaan mereka begitu naik keloteng, tampak Liap In Eng sudah siap seia dengan oakaian yang rapih menunggu kedatangan mereka didalam kamar.

Tong Cian Lie dan In Tiong Giok menjadi melengak menyaksikan ini, sehingga tidak bisa membuka mulut.

“Apakah sudah mendapat perahu, dan kapan berangkat?” tanya Liap In Eng perlahan.

“Oh kiranya Kounio sudah tahu,” kata Tong Cian Lie sambil tersenyum-senyum. “Kami mengira Kuonio keberatan meninggalkan tempat ini, karena itulah kami tidak memberitahu.”

“Sewaktu-waktu orang buta lebih tajam perasaannya dari yang melek,” kata Liap In Eng, tambahan perabotan dari rumah sebesar ini, biarpun sudah terbakar sebagian tak mudah dibersihi dalam waktu sejenak. Kesibukan-kesibukan dari para pelayanku itu, tak bisa dibohongi.”

“Tempat ini sudah diketahui kaum Pok Thian Pang dan tidak bisa ditinggali terlebih lama lagi. Untuk sementara sebaiknya mengungsi ketempat aman, balik lagi kesini jika kaum penjahat itu sudah terbasmi!”

“Soal rumah ini tidak kupikirkan dan kemana kalian mau membawaku, aku menurut saja, tapi sebelum berangkat tunjukkanlah dimana kuburan dari Pek King Hong.”

“Oh, kiranya segala apa Kounio sudah mengetahui,” kata Tong Cian Lie.

“Jenazah Pek King Hong belum dikebumikan dan sementara waktu dititipkan disebuah kelenteng. Sudah sepatutnya Kounio memberikan penghormatan terakhir kepadanya sebelum melakukan perjalanan.”

“Terima kasih atas kebaikan Tong heng, aku biarpun tidak bisa melihat tapi bisa juga meraba petinya. Setelah itu entah tahun mana bulan mana baru bisa menyambangi kuburannya lagi!”

Tong Cian Lie segera menyuruh kaum pelayan mengajak Siocianya turun dari loteng. Cui lian dan Ing jie memayang Liap In Eng turun kebawah dan naik keatas joli, terus berangkat kekelenteng.

Dalam waktu singkat mereka telah tiba ditempat tujuan, keadaan sangat sunyi dan sepi. Joli berhenti didepan pintu kelenteng, Liap In Eng dibawah payangan kedua pelayannya masuk kedalam. Ia merandek sejenak dan bertanya: “Kenapa jenazah diletakkan disini dan tidak dikubur?”

“Ini kehendak Pek Lo Cianpwee sendiri, agar jenazahnya bisa dibawa kegoa di Hong hong san!”

“Siapa yang mendampingi sebelum ia menutup mata?”

“Aku yang mendampingi.”

“Jika begitu waktu perempuan itu menurunkan tangan jahatnya, belum mati?”

“Ya belum mati, tapi sekuat tenaga kuusahakan untuk menyelamatkan jiwanya, tetap tak berhasil, karena lukanya kelewat parah.”

“Ah menyusahkan engkau saja…” suaranya bergetar dan tak tersambung lagi datangnya isak tangis yang memilukan.

Tong Cian Lie mengedipkan para pelayan, agar mendesak Liap In Eng lekas-lekas menjalankan penghormatan terakhir kepada kekasihnya.

“Siocia jangan bersedih terus, semua kemauan takdir, manusia tidak bisa mencegahnya. Lakukan upacara duka cita ini selekasnya, agar kita bisa berangkat secepatnya.”

Liap In Eng seperti mendengar seperti tidak perkataan pelayan itu, ia tetap bertanya pada In Tiong Giok: “Apa yang diucapkan sebelum ia menutup mata?”

“Pek Lo Cianpwee sebelum menutup mata membacakan sebait sajak yang berbunyi:

Dalam kehidupan kini terjadi perpisahan abadi

Untuk penitisan kelak tak dapat diharapkan

Dunia yang fana sebagai impian

Duka derita bagian kita.

Liap In Eng semakin bersedu-sedu mendengar sajak itu, demikian juga dengan Tong Cian Lie menjadi turut mengucurkan air mata.

Liap In Eng berulang kali membaca sajak itu, agaknya sajak itu membawa hiburan besar baginya.

“Kounio marilah kita berangkat!” ajak Tong Cian Lie.

“Ya, seharusnya kita cepat berangkat!”

In Tiong Giok merasa ganjil mendengarkan ucapannya. Liap In Eng membenturkan kepalanya pada peti dengan gerakan kilat. Tong Cian Lie menjambret tangan tapi tak berhasil.

“Bung” terdengar bunyi keras, kepala Liap In Eng tepat mengenai kayu peti yang keras dan pecah!.

Tong Cian Lie membebaskan totokan Tiong Giok dan kedua pelayan, lalu memeriksa keadaan Liap In Eng, ia mendapatkan kawan itu telah menutup mata untuk selama-lamanya.

Pelayan-pelayan yang setia menjerit-jerit mengeluarkan tangisan.

Tong Cian Lie terpekur dengan mengucurkan air mata. Ia seorang yang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, seharusnya tidak boleh mendesaknya meninggalkan tempat kediamannya. “Dan kitapun berlaku lengah tidak menjaga dirinya, tapi semua ini adlah kehendaknya dan dengan begini ia mencapai kepuasan untuk menghabiskan sisa hidupnya yang penuh derita.”

“Bawalah jenazah Siocia kalian kerumah nanti kami bisa membereskan upacara penguburannya.”

Dengan kesedihan yang berlimpah-limpah pelayan-pelayan bertekuk lutut dihadapan jenazah Siocianya, sedangkan Tong Cian Lie dan In Tiong Giok segera berangkat membeli peti dan keperluan lainnya.

Karena tidak mendapat kuli Tiong Giok membopong peti mati, sedangkan Tong Cian Lie membawa keperluan sembahyang dan cepat kembali kerumah.

Tak kira begitu mereka masuk kedalam, menjadi terkejut dan melongo melihat pemandangan didepan matanya. Jenazah Liap In Eng sudah terbungkus rapi kain putih dan dibaringkan diatas ranjang. Delapan pelayannya yang biasa mengenakan baju biru dan merah, sudah bersalin pakaian berkabung bertekuk lutut mengelilingi jenazah Siocianya, tapi semuanya telah mati membunuh diri.

Diatas meja terdapat sebuah kain putih bertulisan darah yang berbunyi:

Kami menerima budi besar dari Siocia, biarpun mati budi itu tidak akan terbals. Tapi sewaktu perempuan jahanam mencelakakan Siocia kami tidak bisa melindungi dan menyelamatkan, inilah suatu dosa besar bagi kami yang tidak akan tercuci bersih seumur hidup. Dalam kehidupan menderita dan menerima segala penghinaan dari jahanam itu. Kami terbebas berkat bantuan dari Jiewie. Antara Siocia dan kami bisa berkumpul lagi menjadi satu, saat ini menggirangkan kami! Akan tetapi berjalan terlalu singkat, karena Siocia menghabiskan jiwanya dengan membunuh diri, sebagai bidak-budak yang ingin tetap beserta di dunia maupun di akhirat kami mengiringi kepergian Siocia kedunia baqa.

Mudah-mudahan sukalah Jiewie mengubur mayat kami disamping Siocia kami yang tercinta, atas ini roh-roh kami hanya berdoa atas kebahagiaan Jiewie…..

Tong Cian Lie dan In Tiong Giok keduanya menjublek seperti patung dengan air mata berlinang-linang. Lama mereka tak bersuara, dan entah keluar dari mulut siapa suara yang berbunyi: “Ah…perempuan….perempuan!” memecahkan kesunyian itu.

Keesokan harinya ditaman bunga terdapat sebuah kuburan besar yang dikelilingi delapan kuburan yang agak kecil. Pada batu nisan tertulis. Disinilah tempat beristirahat untuk selama-lamanya. Pendekar wanita Liap In Eng. Dan disetiap kuburan lain tertulis pula nama-nama dari pelayan-pelayan yang setia itu.

Dengan isakan tangis kecil, Tong Cian Lie maupun In Tiong Giok bertekuk lutut didepan makam Piau siang kiam Liap In Eng sambil membaca doa didalam hati. Setelah itu dengan langkah berat mereka meninggalkan tempat itu untuk pergi ke Pek liong san.

Tiat po atau perkampungan Benteng Besi terletak dikaki gunung Pek liong san. Sebab perkampungan itu dikelilingi pagar tembok yang kokoh dan berwarna kelabu seperti besi, maka disebut perkampungan Benteng Besi.

Dua puluh tahun yang silam, masa jajahan Sin kiam siang eng didunia persilatan, perkampungan ini dianggap “keramat” oleh manusia sungai telaga, baik golongan hitam maupun putih. Kuda dan kereta-kereta dari segala pelosok banyak yang datang kesitu. Perkampungan Hui-hui yang bertetangga dengan perkampungan Tiap po pun menjadi ramai, sebab sebelum orang-orang sampai diperkampungan Tiat po harus singgah terlebih dahulu diperkampungan Hui-hui.

Tapi sejak ketua perkampungan Tiat po yang bernama Tiat Giok Lin meninggal dunia dan nama Sin kiam siang eng hilang dari dunia Kang Ouw perkampungan itu menjadi sepi, dan lama kelamaan seperti dilupakan orang.

Jalanan yang menuju perkampungan itu, karena kelewat lama tak dilalui orang telah ditumbuhi alang-alang; sedangkan losmen-losmen diperkampungan Hui-hui satu demi satu gulung tikar. Dan tinggal sebuah losmen yang bernama Hiong hin can masih bertahan, inipun dikarenakan pemiliknya adalah penduduk asli dari perkampungan itu. Sungguhpun begitu losmen ini telah dibagi dua, separuh untuk berdagang sapi dan separuh tetap sebagai losmen. Sudah bertahun-tahun losmen ini tidak dikunjungi seorang tamupun. Kesepian ini disebabkan Lim Giok Bwee sejak kematian suaminya, melarang anak buahnya keluar dari perkampungan itu juga tidak menerima tamu dari luar.

Hari ini mungkin pemilik losmen Hiong hin can yang bernama Ma Hui In dapat rejeki, pagi-pagi kedatangan tiga tamu yang mau bermalam. Ketiga tamu itu semuanya berkuda, antaranya dua masih muda-muda dan satu lagi sudah tua, nampaknya gagah-gagah.

Ma Hui In seperti bertemu dengan malaikat uang, dengan tersenyum-senyum dan terbungkuk-bungkuk menyambut tamunya sambil mempersilahkan masuk. Anak bininya sibuk membersihkan meja dan kamar serta memasak air menyeduh the.

Orang tua itu segera duduk sambil memandang sekeliling, sedangkan yang muda berdiri dikiri kanannya tak berani duduk.

“Kalianpun duduklah dan berlaku wajarlah agar tidak dicurigai orang,” kata siorang tua.

Kedua orang muda itu mengangguk dan duduk dikiri kanan si orang tua.

Ma Hui In dengan tersenyum-senyum menghampiri tamunya. “Sam wie sudah makankah? Disebelah ada jual daging sapi, jika perlu bisa kupesankan….”

“Soal makanan boleh belakangan, sekarang aku perlu bicara dulu denganmu.”

“Baik! Baik! Silahkan bicara!”

“Di kampung ini terdapat berapa losmen?”

Ma Hui In tergelak-gelak mendengar pertanyaan ini. “Pertanyaan tuan memang tepat, terus terang dulunya dikampung ini terdapat enam tujuh losmen…”

“Yang ditanya adalah sekarang, bukan yang dulu!” kata anak muda disebelah kiri.

Perkataan anak muda itu sangat nyaring dan kasar, membuat Ma Hui In terkejut, sehingga menjadi gugup. “Ini…ini..engkau…..”

“Jangan takut, jawablah dengan singkat!” kata si orang tua.

Setelah menenangkan diri sejenak Ma Hui In baru berkata: “Aku tak berani membohong, sekarng tinggal satu satunya ialah losmen ini yang terdapat dikampung ini.”

“Bagus,” kata si orang tua, “losmen ini ada berapa kamar?”

“Sebenarnya losmen ini; Ma Hui In mengubah kebiasaan bicaranya karena dideliki kedua anak muda yang galak itu. “Ada lima kamar.”

“Hanya lima?” kata siorang tua sambil mengerutkan kening. “Mana cukup…”

“Jika merasa kurang banyak, kamarku boleh dipakai dan aku bisa pindah kedapur. Kamarku cukup besar dan bisa dijadikan dua kamar.”

“Baiklah, kuminta selekasnya kamar-kamar dibersihkan termasuk kamarmu itu! Sejak hari ini jangan terima tamu lagi!”

“Mengertikah?” bentak anak muda yang disebelah kiri.

“Mengerti! Segera kusiapkan!” kata Ma Hui In yang terus berlalu. Tapi baru beberapa langkah ia dipanggil lagi si orang tua. “Sini dulu, ingin kutanya padamu, apakah dalam satu dua hari yang lalu, losmen ini pernah menerima tamu? Atau juga dilalui orang?”

“Losmenku ini entah bertahun-tahun tidak didatangi tamu!”

“Atau engkau pernah melihat, sewaktu keluar rumah seorang tua dan seorang anak muda di kampung ini?”

“Tidak ada! Benar-benar tidak ada, sebab kampung ini hanya mempunyai satu jalan setiap orang yang masuk ke kampung ini pasti dapat kuketahui!”

“Nah siapkanlah kamar dan makanan!” kata si orang tua.

Begitu Ma Hui In pergi, orang tua itu dengan tersenyum menoleh kepada anak muda dikiri kanannya. “Kalau begitu terlebih dulu dari mereka!”

Ma Hui In repot setengah mati memberesi kamar-kamar kosong yang sudah bertahun-tahun tidak didiami orang. Atas ini orang tua itu memberikan uang lima puluh tail perak.

Tak selang lama diluar losmen datang lagi tiga tamu, orang tua ini segera keluar sambil tersenyum. Setelah bersalam-salaman mereka masuk ke dalam kamar. Kedua anak muda yang galak didalam kamar ini kedudukannya tak ubah sebagai pelayan. Repot menuang arak dan menghidangkan makanan pada tiga tamu yang baru datang.

“Kita berhasil lebih dulu sampai dari mereka,” kata siorang tua. “Tong Cian Lie maupun In Tiong Giok menurut kabar belum sampai dikampung ini. Kini Jiewie Fut hoat dan Tong leng juga sampai tepat pada waktunya, selanjutnya bagaimana kita harus menghadapi lawan-lawan itu, kuserahkan pada Jie wie Fut hoat.”

“Karena Tan Cuncu yang sampai terlebih dulu, sebaiknya engkau saja yang mengatur,” kata salah seorang Fut hoat yang bukan lain dari Tok Kay Pong adanya.

“Aku hanya sebagai pembuka jalan,” kata Tan Cuncu itu yang bukan lain dari Tan Toa Tiau adanya. “Sedangkan soal selanjutnya Lo Cucong menyerahkan pada Fut hoat yang mengaturnya.”

“Baiklah,” jawab Tok Kay Pong. “Aku dan Kam Fut hoat akan menghadapi Tong Cian Lie soal In Tiong Giok kuserahkan pada Lie Tong Leng dan Tan Cungcu.”

“Tapi tugas utama yang dibebankan Lo Cucong kepad kita, yakni biar Tong Cian Lie lolos, asal jangan In Tiong Giok!” kata Lie Kee Cie.

“Apakah kita harus menghajarnya begitu mereka sampai disini?” tanya Lie Kee Cie.

“Benar!” jawab Lie Kee Cie.

“Menurut hematku, cara begini sukar dilakukan dan resikonya terlalu besar,” kata Tok Kay Pong sambil menggelengkan kepala.

“Habis bagaimana?” tanya Lie Kee Cie.

Didahului dengan tertawanya Tok Kay Pong membuka mulut. “Bukan aku mengecilkan kekuatan sendiri dan membesarkan kekuatan musuh. Sesungguhnya ialah kekuatan kami berdua, jika disbanding dengan Tong Cian Lie dalam keadaan berimbang! Sedangkan In Tiong Giok jangan dipandang remeh, ia sudah pandai Keng thian cit su! Tugas yang kita terima hanya boleh menang tidak boleh kalah! Untuk memperoleh kemenangan inilah kita harus berpikir terlebih panjang.”

“Habis bagaimana?” tanya Tan Toa Tiau.

“Pepatah mengatakan: senjaata terang mudah ditangkis, senjata gelap sukar dijaga! Menurutku, akan menyediakan dulu suatu perangkap bagi mereka, setelah itu baru melancarkan cara gelap, kemudian baru cara terang!”

“Aku kurang mengerti, maksud Fut hoat!” kata Tan Toa Tiau.

“Begini…” kata Tok Kay Pong sambil membisiki kuping kawannya.

“Biarpun cara ini sangat baik, tapi kurang sempurna. Kesatu tidak boleh bertemu muka dengan mereka, karena kenal. Kedua jika mereka langsung ke Tiat po bagaimana?” kata Tan Toa Tiau.

“Legakan hatimu, pokoknya beres,” kata Tok Kay Pong. “Jika usaha ini gagal, baru kita berkelahi secara terang-terangan.”

“Bagaimana pendapat Lie Tong leng?” tanya Tan Toa Tiau.

“Aku menurut saja seperti yang diatur Tok Fut hoat!” jawab Lie Kee Cie.

“Kam Fut hoat bagaimana?” tanya Tan Toa Tiau.

Kam Hong yang sejak tadi diam saja karena asyik dengan araknya, hanya menganggukkan kepala saja.

“Jika begini baiklah kita jalankan siasat Tok Fut hoat,” kata Tan Toa Tiau.

Setelah mereka makan minum dengan kenyang, Tok Kay Pong dan Kam Hong masing-masing menempati sebuah kamar beristirahat.

Sedangkan Lie Kee Cie tanpa istirahat lagi mengontrol kedalam losmen itu, lalu pergi keluar untuk memeriksa keadaan kampung.

Tan Toa Tiau membisiki Ma Hui In untuk menyiapkan sesuatu kepeerluan dan memberikan pemilik losmen itu uang emas. Setelah itu pintu losmen dibuka lebar-lebar. Dalam waktu sekejap Hiong hin can telah berganti rupa, dari kotor dan berantakan menjadi rapi dan bersih.

Dua pengawal yang mengiringi Tan Toa Tiau berubah jadi “pelayan” losmen itu. Di masing-masing pundaknya terlihat selebet bersih, pura-pura membersihkan ini itu sambil menunggu tamu yang dinanti-nantikan.

Kini perangkap telah dipasang, menunggu kedatangan mangsanya saja. Tapi yang dinantikan itu sebegitu lama belum kunjung tiba, membuat kedua pelayan menjadi kesal….Matahari hampir silam kebarat, kedua pelayan sudah mengantuk, tapi tak berani memeramkan matanya, karena sedang menjalankan tugas. Matanya telah menjadi panjang dan sepat, kakinya merasa ngilu, leherpun pegal, masih harus tetap bertugas ditempatnya dengan patuh. Saking kesal mereka menggerendeng didalam hatinya: “Dasar aku orang bawahan harus terima nasib seperti ini, coba kalau aku menjadi Fut hoat atau Cung cu, sudah kenyang makan minum, bisa enak-enakan menggeros diranjang.”

Sedang enak berpikir sambil nyap-nyap, ia dikejutkan dengan derpan suara kuda yang datang dari mulut kampung! Mata mereka yang sepat menjadi terang! Karena yang diharapkan dan dinantikan akhirnya datang juga!

Derapan kaki kuda semakin lama semakin tegas, tak selang lama dari mulut kampung terlihat sebuah kereta. Kedua lelaki tanpa berasa mengucak-ucak matanya menegasi, lalu menyeka-nyeka meja dan berlaku sewajar mungkin, menantikan kedatangan kereta itu.

Setelah melintasi jalan besar, kereta itu menuju ke losmen Hiong hin can dan berhenti di depannya. Dari dalam kereta turun seorang laki-laki berusia lebih kurang empat puluh tahun, wajahnya mengkilap dan berminyak. Tak ubahnya seperti seorang kaya. Tanpa berasa lagi datang kekecewaan dilubuk hati kedua laki-laki yang berpura-pura menjadi pelayan.

Orang kaya itu mungkin sebagai saudagar yang biasa berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Begitu memasuki Hiong hin can ia tersenyum sambil menyapa kedua pelayan itu dengan pandangan matanya. “Hei majikanmu si orang she Ma itu pintar betul, seolah-olah tukang nujum yang pandai dan bisa mengetahui kedatanganku!”

“Apakah engkau mau menginap?” tanya salah seorang laki-laki itu.

“Aku Cian Bouw sudah berlangganan dengan Hiong hin can, maka kukatakan majikanmu seperti tukang nujum, karena kulihat keadaan losmen ini sudah begini rapi dan beres,” kata tamu itu yang membahasakan dirinya Cian Bouw. “Kuminta engkau memberikan rumput pada kudaku, nanti kalian kuajak makan bersama-sama.”

“Maaf sekali tuan Cian, tidak ada kamar lagi bagimu, semuanya penuh…”

“Wah angin apa yang membuat losmen ini maju?” kata Cian Bouw, “untuk ini aku kenghaturkan selamat untuk majikanmu!” ia terus masuk melangkah kedalam.

Kedua laki-laki itu menjadi bingung dan buru-buru menghadang sambil tersenyum kecut, “Maaf tuan Cian, kamar benar-benar sudah penuh!”

“Siapa yang mengatakan engkau emmbohong?” kata Cian Bouw sambil tersenyum-senyum. “Kalian rupanya pegawai baru dan tidak kenal diriku. Tanyakanlah majikanmu siapa aku! Nanti ia akan memberitahu Cian Bouw adalah langganan lama yang tidak cerewet, biar tidak tidur diranjang, ngampar-ngampar pun jadi, pokoknya asal bisa bermalam.”

Kedua laki-laki itu memandang pada Ma Hui In yang tampak dalam kecemasan dan diam saja sedari tadi.

“Eh bagaimana? Sudah kaya dan bisa memakai pegawai baru rupanya, sampai langganan lama tak dihiraukan lagi?”

“Tidak…tidak…hanya…hanya….” Jawab Ma Hui In dengan terbata-bata.

“Sudah terang kau tak memandang mata lagi pada kawan lama!” sindir Cian Bouw sambil tersenyum-senyum. “Biarpun aku tak mempunyai toko dan hanya sebagai pedagang emas keliling, tapi tak pernah berlaku pelit kepadamu bukan? Tahun yang lalu sikapmu masih baik, kuheran kenapa sekarang seperti tak kenal saja!”

Ma Hui In mencoba mengingat-ingat pedagang emas ini, tapi tetap tak bisa mengenali, kepaksa ia tersenyum dan berkata: “Tuan Cian jangan marah, aku memperlakukan tamu baru maupun lama secara adil, tapi jika sudah penuh mau dikata apa…”

“Ya aku mengerti kesulitanmu, tapi sudah kutekankan ngegelarpun jadi! Aku memaksa, sebenarnya tak patut, tapi kecuali Hiong hin can, tak ada losmen lain bukan?”

“Engkau mungkin tak percaya bahwa tempat menggelar tikarpun sudah penuh,” kata Ma Hui In. Nah silahkan periksa adanya…

“Ha ha ha, sungguh mati aku tak percaya omonganmu,” potong Cian Bouw dan terus memeriksa kamar demi kamar.

Dalam lima kamar di losmen itu, antaranya empat sudah terisi, dan hanya tinggal sebuah kamar kosong. Itupun diperuntukkan untuk menjebak In Tiong Giok dan Tong Cian Lie. Begitu Cian Bouw mendapatkan kamar kosong ia menjadi gusar. “Apa artinya ini? Terang-terang kamar kosong kenapa dikatakan penuh? Apakah aku pernah menganglap bayaran kamar?”

Ma Hui In menjadi bungkam tak bisa berkata apa-apa lagi, sedangkan dua pelayan palsu itu menjadi mendongkol dan mau marah, tiba-tiba saja dalam keadaan janggal ini salah satu kamar membuka pintu. Tok Kay Pong dengan wajah yang selalu tersenyum tampak keluar. “Tuan Ma setelah kudengar perkataan tuan ini, kuambil kesimpulan engkau salah! Kenapa sebagai pengusaha losmen, tidak mau menjawab kamar kosongnya?”

“Ini….tapi…”

Tok Kay Pong mendahului berkata lagi, membuat Ma Hui In bungkam. “Tak perduli sudah dipesan orang, pokoknya siapa yang datang duluan dialah yang wajib diterima. Maka itu kuanjurkan, kamar kosong itu serahkanlah pada tuan ini. Dan jika pemesan tempat itu datang, baru bicara lagi!”

Ma Hui In yang telah dijadikan boneka sudah tentu saja menerima dengan baik usul Tok Kay Pong. Dan buru-buru membuka pintu kamar mempersilahkan tamunya masuk sambil menyuguhkan minuman.

“Terima kasih banyak atas bantuan bapak, yang rendah Cian Bouw untuk ini mengajak bapak minum bersama-sama, sebagai tanda terima kasihku,” kata Cian Bouw.

Tok Kay Pong menolak dengan halus sambil berkata: “Tak usah begitu, sama-sama orang yang keluar rumah, sudah sepantasnya saling membantu bukan? Nah, tuan mungkin habis melakukan perjalanan jauh, silahkan istirahat….”

Cian Bouw mengangguk dengan perasaan terima kasihnya yang berlebih-lebihan, lalu mengunci kamar dan makan minum seorang diri.

Tok Kay Pong mendekat pada Ma Hui In.

“Apakah engkau kenal dengannya? Dan betulkah tahun yang lalu ia pernah kesini?”

“Seingatku tidak pernah ia datang kesini, dan wajahnya tidak kukenal!” jawab Ma Hui In.

“Hm, jalan kesorga tidak ditempuh, kenapa menuju keneraka? Tak perduli engkau sebagai saudagar asli atau bukan, takkan kuberi ampun,” piker Tok Kay Pong. Dipanggilnya dua pegawai yang pura-pura jadi pelayan. “Salah seorang kuminta tetap menjaga diluar, dan seorang pergi kedapur mengambil arak yang panas.”

Kedua pengawal itu mengangguk dan pergi menjalankan tugasnya dengan patuh. Begitu arak panas didalam teko diserahkan pengawal padanya, ia merogoh sakunya mengeluarkan sebuah peles kecil. Dengan hati-hati tutup peles dibuka dan dikeprulkan sedikit puder dari peles itu kedalam arak. “Ini adalah racun yang bernama Tok ngo san, pedagangitu kujadikan kelinci percobaan dari keampuhan racun ini,” Nah berikanlah kepadanya, dan katakana arak ini adalah hadiah dari Ma Hui In sebagai rasa penyesalan atas sikapmu tadi.”

Wajah Ma Hui In menjadi pucat dengan meratap ia memohon. “Aku hanya memiliki losmen ini sebagai gantungan hidup kumohon jangan sampai terjadi peristiwa jiwa….

“Hm, jangan banyak bicara nanti kusilahkan engkau yang minum!” potong Tok Kay Pong.

Adapun yang dinamai racun Tok ngo san dibuat Thian lam sam kui dari seratus delapan macam, serbuk kupu-kupu beracun. Dan menjadi semacam puder yang tidak berwarna dan berbau. Jika dicampur dengan air, biarpun hanya sedikit bisa membuat yang meminumnya mati mendadak. Sejak memiliki racun ini mereka lantas mengabdikan diri ke Pok Thian Pang. Untuk mencari muka dari sang Pangcu mereka menyerahkan sepeles pada Pok Thian Pang. Nah racun yang dipergunakan Soat Kouw untuk mencelakakan Liap In Eng maupun Pek King Hong adalah Tok ngo san itu.

Kini Tok Kay Pong yang bertugas untuk menciduk Tong Cian Lie dan In Tiong Giok menyadari dengan kepandaian silatnya tidak bisa memenangkan lawan, maka itu aku menggunakan racun itu untuk memperoleh kemenangan. Tak kira sebelum racun dipergunakan, datang Cian Bouw. Untuk tidak mengganggu siasatnya yang telah direncanakan, maka itu Cian Bouw pun tidak diberi ampun.

Cian Bouw memang seorang penggemar arak, begitu melihat pelayan datang dengan seteko arak panas sebagai tanda maaf atas kelakuan majikannya yang kurang hormat tadi, rasa marah dan dongkolnya pada pemilik losmen itupun menjadi hilang. Cepat-cepat ia bangun sambil tertawa. “Katakan pada majikanmu, sebagai kawan lama lebih sedikit kurang sedikit tak diambil dalam hati. Kini ia membuang uang untuk membelikan aku arak, membuatku tak enak sendiri!”

Pelayan palsu itu menaruh arak diatas meja dan membawa pergi sisa arak yang tidak beracun diatas meja.

“Eh jangan pergi dulu, mari temani aku minum!” kata Cian Bouw sambil menarik lengan pelayan palsu itu.

Keruan saja pengawal itu menjadi kaget dan berkata dengan gugup. “Aku tidak berani minum arak!”

“Jangan takut, majikanmu pasti tidak akan marah, jika aku yang mengajak minum.”

Pengawal itu mana berani minum, dengan berbagai alasan ia melepaskan diri dari cekalan Cian Bouw dan terus keluar.

“Ah dasar pegawai baru, masih sok rajin dan takut pada majikan!” sehabis berkata dan ia segera menuang arak yang masih hangat itu lalu meminumnya. “Ah arak ini kenapa pedas betul? Ah… perutku kenapa sakit…, Ah celaka! Tolong!” Tubuhnya segera jatuh kelantai dan berguling-guling dari mulutnya keluar darah, kaki tangannya berkerejatan, tampaknya mau mati.

Kam Kong dan Tan Toa Tiau mendengar suara teriakan si saudagar, memburu datang, menyaksikan mangsanya menggeletak dilantai, tersenyum puas dan berkata: “Ha ha ha Tong Cian Lie inilah contoh untukmu” Belum kata-katanya diucapkan, pengawas yang bertugas diluar, datang berlari-lari dengan cemasnya membawa berita “Datang! Mereka datang!”

“Siapa yang datang, berkatalah dengan perlahan-lahan dan tegas!” kata Tan Toa Tiau.

Pengawal itu menunjuk keluar, “Tong Cian Lie dan In Tiong Giok sudah datang!”

“Berapa jauh lagi dari sini?”

“Hampir tiba di mulut kampung!”

Tan Toa Tiau menarik napas lega dan berpaling kepada Tok Kay Pong. “Bagaimana dengan mayat ini?”

“Jangan gugup jalankan menurut rrencana yang sudah ditentukan,” kata Tok Kay Pong dengan tenang. “Salah seorang pengawal lekaslah pergi temani mereka, guna menghambat kedatangannya kesini.”

Pengawal itu mengangguk dan cepat pergi keluar.

“Eh kemana perginya Lie Tong Leng?” tanya Tok Kay Pong tiba-tiba.

“Tadi ia mengatakan ingin melihat keadaan kampung ini…” kata pengawal yang berada disitu.

“Kalau begitu lekaslah bawa mayat ini kekamar Lie Tong Leng dan bersihkan lantai lekas-lekas!” kata Tok Kay Pong. “Setelah itu engkau atau temanmu lekas ketemu Lie Tong leng dan pesan padanya jangan kembali dulu kesini, kuatir dikenali bocah she In itu.”

Mereka beramai-ramai membersihkan lantai dan meja, setelah itu Tok Kay Pong, Tan Toa Tiau dan Sam Kong menurut rencana yang telah diatur kembali kedalam kamarnya.

Kedua penunggang kuda yang bukan lain dari pada In Tiong Giok dan Tong Cian Lie telah tiba dimuka Hiong hin can, kedatangan mereka disambut, “pelayan palsu” dengan senyuman ramah. “Jiewie Toaya, silahkan mampir hari hampir malam!”

Tong Cian Lie menengadah keatas sambil berkata: “Ah benar, tanpa terasa hampir malam.”

“Hoo kee (sebutan ramah) pada pelayan losmen aku numpang bertanya, masih jauhkah letaknya Tiat po?” tanya In Tiong Giok.

“Oh tidak!” jawab sipelayan. “Tapi cuaca hampir malam, sebaiknya Jiewie toaya bermalam dulu disini, besok baru kesana!”

“Memang kenapa?”

“Sudah merupakan kebiasaan bahwa berkunjung kerumah orang dimalam hari, kurasa kurang pantas!”

“Eh engkau benar!” kata Tong Cian Lie. “Mari kita bermalam dulu disini, besok baru kesana.”

Tiong Giok pun menurut dan segera turun dari kudanya mengikuti jejak Tong Cian Lie, sedangkan “pelayan” itu cepat-cepat menambat kuda itu disamaping. Begitu mereka masuk kedalam losmen Ma Hui In menjadi kebat kebit, dengan terpaksa ia menyapa. “Silahkan…silahkan duduk” suaranya gemetar, senyumnya lebih kecut dan buruk dari pada orang manis.

Sikapnya ini ketemu tabiat Tong Cian Lie yang berangasan kontan mendapat semprrotan “Hei jika segan menerima tamu, tutup saja losmen ini!”

“Oh bukan! Bukan! Harap jangan salah paham ” kata Ma Hui In sambil menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangan dengan repotnya.

“Toaya jangan gusar, majikan kami penduduk asli kampung ini, tabiatnya kaku dan kurang pandai menerima tamu,” kata si “pelayan” sambil tersenyum.

“Kalau begitu engkau bukan orang sini?” tanya Tong Cian Lie.

“Orang sini, tapi sejak kecil senang merantau keberbagai tempat, sehingga mempunyai pengetahuan lebih banyak dari majikanku sendiri.”

“Oh kiranya engkau adalah pelayan yang berpengalaman…” kata Tong Cian Lie dengan mendelik.

Tiong Giok menyaksikan ini segera menyelak: “Lo Cianpwee apa gunanya ambil pusing dengan pemilik penginapan ini, sehabis menginap besokpun kita pergi lagi, sama ada soal yang lebih penting dari pada bertengkar dengan dia.”

“Justru tabiatku amat jahat, apa yang aku lihat tak pantas, ingin kujadikan pantas!” kata Tong Cian Lie. “Eh Hok kee, sediakanlah kamar yang bersih!”

“Diloteng tersedia kamar yang bersih, silahkan toaya periksa!” berkata pelayan itu. Tong Cian Lie menganggukkan kepala dan segera melangkah kedalam, sedangkan matanya masih terus memandang Ma Hui In penasaran, kasihan pemilik losmen itu, biarpun ingin bicara tidak berani mengeluarkan suaranya, terpaksa menahannya perasaan itu karena takut.

Keadaan kamar memang bersih dan beres. Membuat Tong Cian Lie merasakan puas, “tak sangka di kampung ini ada losmen yang apik dan bersih. Hei bocah malam ini engkau boleh tidur nyenyak untuk memulihkan semangatmu untuk dipakai esok di Tiat po!”

“Hok kee adakah lagi kamar semacam ini sebab kami berdua?” kata Tiong Giok.

“Sayang losmen ini memiliki tidak banyak kamar, dan yang adapun sudah penuh dengan tetamu. Kamar ini adalah yang terbaik dari sekalian kamar yang ada disini, jamak sajalah Siau ya bermalam sekamar dengan Toaya ini.”

“Ya tidak apa-apa,” kata Tong Cian Lie, “ranjang ada dua kenapa pakai dua kamar segala? Lagi pula sehabis makan aku ingin jalan-jalan keluar, mungkin tengah malam baru pulang!”

“Lo Cianpwee mau kemana?”

“Aku ingin melihat keadaan di Tiat po guna persiapan dihari esok!”

“Seharusnya aku yang mesti kesana…”

“Engkau akan menjadi tamu Tiat po, maka itu janganlah meninggalkan kesan buruk pada tuan rumah!” kata Tong Cian Lie. Dan seterusnya ia memesan pada pelayan yang masih berada disitu untuk menyediakan makanan dan minuman.

Dengan menganggukkan kepala dan badan terbungkuk-bungkuk “pelayan” itu keluar kamar untuk menyediakan pesanan para tamunya. Sedangkan Tok Kay Pong yang berada disebelah kamar, melalui lubang kecil mengintai gerak gerik Tong Cian Lie dan In Tiong Giok. Begitu ia melihat kedua mangsanya menuju ketempat cuci muka yang berada dibelakang kamar, cepat ia meninggalkan kamarnya dan terus menuju kedapur.

Sayuran maupun minuman telah siap didapur, Tok Kay Pong mengeluarkan Tok ngo san dan memasukinya kedalam teko arak. “Engkau harus berlaku waspada dan hati-hati menyuguhkan arak ini, jika berhasil jasamu akan kulaporkan ke pusat dan engkau bisa naik pangkat!”

“Terima kasih atas perhatian Fut hoat!” jawab pengawal itu.

“Aku harus kembali dulu kekamar dan akan mengintai pekerjaanmu ini.” Kata Tok Kay Pong. “Dan beri tahu juga pada Kam Fut hoat dan Tan Cungcu agar berlaku tenang sambil menunggu perubahan. Sebelum Tong Cian Lie roboh sekali-kali jangan berlaku gegabah.”

Waktu mereka bicara seorang pengawal yang ditugaskan mencari Lee Kee Cie telah kembali dengan tergesa-gesa dan memberikan laporan: “Sudah kucari keempat pelosok kampung, tapi tidak juga kutemui bayangan Lie Tong leng!”

Tok Kay Pong terdiam sejenak, lalu tersenyum dingin: “Biarlah! Hasil sudah didepan mata, ia tak ada ditempat, sama dengan pahala ini tak ada bagiannya. Sekarang pergilah kedepan dan awasi Ma Hui In, jangan sampai ia masuk kekamar belakang, setelah usaha kita beres, bunuh padanya!”

Setelah mengatur segalanya dengan beres, ia masuk kekamarnya sambil memasasng kuping. Malam semakin larut kesunyian semakin terasa, sungguhpun begitu suasana di losmen Hiong hin can mengandung hawa pembunuhan yang setiap saat bisa meletus.

Tok Kay Pong, Kam Kong dan Tan Toa Tiau dengan menahan napas, memasang telinga selebar-lebarnya mendengari gerak-gerik dikamar lawannya dengan hati berdebar-debar. Mereka sadar jika sampai Tong Cian Lie mengetahui permainan mereka, perkelahian hebat bisa terjadi, dan jiwa mereka terancam kematian juga.

Sedangkan Ma Hui In dalam keadaan takut, keringat dinginnya membasahi sekujur tubuhnya. Ia seorang penduduk yang hidup tenang kini menghadapi kejadian pembunuhan di losmennya, membuatnya tak bisa tidur. Dan ia tahu saudagar she Cian telah dibunuh, mayatnya berada didalam, jika dua tamunya yang baru datang ini terbunuh juga, akibatnya tak berani dipikirkan. Ia hanya tahu kampung halamannya ini tak bisa ditinggali lebih lama lagi jika apa yang dipikirkan itu terjadi semua. Ia harus merantau mengembara kenegeri orang tanpa modal tanpa sandaran, mengingat ini hatinya semakin cemas dan hampa. Untuk menghilangkan gejolak kecemasan hati yang berdebar semakin keras, ia berdoa didalam hati, agar Tong Cian Lie dan In Tiong Giok tidak minum arak racun itu dan selekasnya meninggalkan kamarnya….dan iapun berpikir bukanlah lebih baik ia meninggalkan tempat itu sebelum terjadi pembunuhan? Tapi apa yang menjadi harapannya itu tak bisa dilaksanakan, berapa kali ia bangkit dari tempat duduknya, tapi dibawah tekanan sinar mata pengawal yang mengawasi, ia duduk kembali.

Dalam losmen Hiong hin can hanya Tong Cian Lie dan In Tiong Giok yang tidak mempunyai perasaan apa-apa. Mereka tetap dengan tenang merundingkan persiapan besok untuk menghadap ke Tiat po, sedangkan “pelayan” sudah membawa segala hidangan dan minuman kedalam kamar. Tong Cian Lie merasa kecewa melihat teko arak yang kecil dan segera menegurnya. “Hei, apa-apaan kamu ini? Arak seteko kecil ini untuk kucingpun tak cukup, apa lagi kami! Takut tidak dibayar ya?

“Ah, Loya bisa saja, bukannya tidak ada teko besar, tapi untuk mempercepat servis kubawakan teko kecil ini. Nanti setelah arak itu panas lagi akan aku bawakan dengan teko besar.”

“Bawa pergi tukar dengan teko besar lekas,” bentak Tong Cian Lie.

“Pelayan” itu tak berani membangkang, lekas-lekas keluar kamar sambil menggerutu didalam hati. “Ah, dasar mau cepat-cepat mampus!” Dan cepat-cepat ia kedapur mengambil teko besar, arak berada didalam teko inipun sudah dicampur racun. Lalu cepat dibawa kekamar tamunya.

Melihat teko ini Tong cian Lie menjadi puas juga, “tak perlu nongkrong disini lama-lama lekas masuk lagi biar banyakan, seteko inipun tak cukup menghilangkan rasa hausku!”

Dan pelayan itu mengangguk tapi tetap tak keluar kamar. Ia melayani dengan telaten sambil menuangkan arak kedalam cawan. “Loya boleh minum dengan tenang, persediaan banyak, berapa banyak Loya mau bisa saja disediakan, silahkan minum!”

Tong Cian Lie mengangkat cawan arak dan meminumnya, lalu mengawasi warnanya juga. “Ah arak ini cukup bagus dan tak beracun, kita boleh meminumnya dengan tenang.”

“Loya jangan bergurau,kami sebagai pengusaha kecil, mana berani…..”

“Ha ha ha, bukan aku curiga, setiap orang yang keluar rumah harus waspada dan hati-hati bukan? Andaikata ada racunnyapun kamipun tak takut, tapi yang menimbulkan kecurigaanku adlah majikanmu itu! Parasnya tak karuan dan tak sedap dipandang mata, mau tak mau terhadap segala hidangan disini menimbulkan kecurigaan!”

“Loya sudah melihat, biarpun dia berwajah demikian tapi hatinya sangat baik!”

“Memang benar, yang berparas baik sewaktu-waktu jahat, dan yang berparas kriminil hatinya baik!”

“Apa yang dikatakan Loya memang benar, nah silahkan minum jangan sampai arak ini menjadi dingin!”

“Ya benar, arak dingin bisa merusak badan bocah mari kita minum!” kata Tong Cian Lie.

Baru saja Tiong Giok mengangkat cawannya dari kamar tengah terdengar suara orang meerintih: “Aduh…aduh…perutku sakit…”

“Ih siapa yang sedang kesakitan? Tidakkah Lo Cianpwee mendengarnya juga?” tanya In Tiong Giok.

“Ya aku mendengar dari kamar sebelah,” jawab Tong Cian Lie. “Hoo kee siapa yang sedang kesakitan itu?”

Pelayan itu menggigil tak keruan, sebab telinganyapun mendengar suara rintihan tadi dan mengenali itulah suara Cian Bouw si saudagar emas. “Mungkinkah dia belum maati?” pikirnya dengan cemas.

“Hei tidakkah kau mendengar pertanyaanku?” bentak Tong Cian Lie.

“Dengar, dengar! Ya disebelah ada yang sedang sakit, tadi siang sudah diperiksa tabib dan sedang memakai selimut tebal agar keluar keringat, Jiewie minumlah dengan tenang, akan kulihat sebentar….”

Belum ia berlalu dari kamar sebelah terdengar lagi suara rintihan. “Aduh….aduh….perutku sakit. Hoo kee kenapa engkau memberikan aku arak beracun? Apa salahku apa dosaku dibuat begini macam? Aduh…orang jahat dapat balasan jahat, orang baik dapat balasan baik….aduh….”

Pelayan itu segera keluar, tapi sebelum berhasil keluar pintu, sudah dihadang Tong Cian Lie yang sudah terlebih cepat berada didepan pintu. “Engkau mau kemana?” tegurnya sambil menyeret lengan “pelayan” itu.

“Aku ingin melihat orang sakit itu…”

“Jangan tergesa-gesa, mari temani aku minum arak dulu.” Kata Tong Cian Lie.

Pegawai itu tahu segala perbuatannya sudah diketahui orang, cepat melepaskan diri dan lari keluar pintu, tetapi tak bisa berlari lagi karena tengkuknya diciduk Tong Cian Lie, “Masih mau lari? Jangan pandang enteng pada Tong Cian Lie tahu?” dengan kekerasan Tong Cian Lie mencecok “pelayan” itu dengan arak bercampur racun. Dalam sekejap pengawal itu bergelimpangan dengan kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong. “Tok Fut hoat! Tan Cung cu tolong!” belum pula ia bisa meminta tolong terlebih lanjut, napsnya sudah berhenti terlebih dahulu.

“Ah arak ini benar-benar beracun!” kata In Tiong Giok.

“Hei bocah, jangan diam saja, mari kita periksa setiap kamar, tentu masih ada komplotannya! Baru saja mereka keluar pintu dikiri kanan mereka telah berdiri dengan tegak Kam Kong, Tok Kay Pong dan Tan Toa Tiau dengan senjata yang sudah terhunus.

“Hm, kiranya yang dipanggil Tok Fut hoat adalah kawan lama juga!” kata Tong Cian Lie sambil mendelik-delikkan matanya.

“Hm, baru tahu sekarangpun tak berarti lambat, sayang saja sepeles Tok ngo san terbuang percuma. Dan apakah sudah takdir engkau harus mati basah dibawah senjata Cui hun jiu ku?”

“Ah tak kukira engkau sebagai orang-orang Cap sah kie yang cukup kenamaan di dunia Kang Ouw mau menjadi anjing Pok Thian Pang, dan melakukan kerjaan rendah untuk meracuni diriku!”

“Kami diterima di Pok Thian Pang dengan kedudukan tinggi, sedikitpun tidak memalukan orang! Dan kini mendapat tugas untuk menangkap bocah she In ini! Hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Tong heng, tapi engkau sendiri yang ikut-ikutan turut campur maka jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan harap jangan menyesal!”

“Hm, seolah-olah engkau sudah memastikan bahwa kemenangan berad dipihakmu?”

“Jala langit dan bumi sudah ditebar, biar bersayappun kalian tak bisa meloloskan diri!”

“Tapi aku tak mau mendesakmu keterlaluan, jika Tong heng tidak mau mencampuri urusan bocah ini, kamipun tidak akan mengganggu seujung rambutmu.”

“Hm, aku tak berhasil menikmati Ngo tok san, tak salahnya mencobai Cui hun jiu mu, antara kita sudah saling mengenal satu sama lain, tak perlu banyak bicara lagi: mari jangan malu-malu.”

“Ah engkau mencari mati sendiri,” seru Tan Toa Tiau.

“Hm, engkau siapa?” tanya Tong Cian Lie dengan kasar.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: