Kumpulan Cerita Silat

12/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:50 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 04: Perasaan Yang Palsu
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Saat itu sedang berlangsung perjamuan. Perjamuan dilakukan di ruangan tempat mereka bertemu dengan Tay-kim-peng-ong. Arak dan makanan tersedia dalam jumlah yang banyak.

Araknya adalah arak asli, yaitu arak Ukiran Tua yang enak.

Liok Siau-hong menghabiskan arak di cawannya dalam satu tegukan. “Arak ini enak,” tiba-tiba ia menarik nafas. “Tapi dibandingkan dengan Arak Persia yang tadi…. sedikit pun tak bisa mendekati!”

Tay-kim-peng-ong tertawa: “Arak ini dikumpulkan dari tetesan embun bunga-bunga tertentu. Minuman seperti ini tampaknya agak sia-sia ya?”

“Dia bukannya minum,” Hoa Ban-lau berkomentar sambil tersenyum. “Dia hanya menuangkannya ke perutnya. Dia bahkan tidak merasakan araknya, memberinya arak seperti ini sebenarnya merupakan hal yang mubazir.”

Tay-kim-peng-ong tertawa lagi: “Tampaknya kau benar-benar tahu semua hal yang harus diketahui tentang dia.”

Sang kaisar bukan hanya kelihatan lebih bahagia malam itu, dia pun telah bertukar pakaian dan mengenakan jubah sutera yang bersulamkan seekor naga emas. Ia seperti seorang raja yang hendak mengirim seorang jenderalnya yang akan melakukan tugas besar dan menjamunya dengan pesta.

Tan-hong Kiongcu juga tampak gemilang dan cantik.

Ia sendiri yang mengisi cawan kosong di hadapan Liok Siau-hong. “Kami merasa hanya minuman seperti ini yang memberikan semangat gagah berani,” dia berkata. “Tidak ada gadis yang menyukai laki-laki yang minum arak seperti sedang minum racun.”

Wajah Tay-kim-peng-ong menjadi kaku: “Jadi menurutmu gadis-gadis suka laki-laki pemabuk?”

Mata Tan-hong Kiongcu berkedip-kedip: “Tentu saja ada sedikit nilai buruk untuk minuman.”

“Hanya sedikit?” Tay-kim-peng-ong bertanya.

“Seperti orang yang minum terlalu banyak,” Tan-hong Kiongcu menjawab. “Lalu dia semakin tua, kakinya mengalami masalah, dan dia tak bisa minum lagi. Maka bila melihat orang lain minum, dia pun akan marah. Sering marah-marah bukanlah hal yang baik.”

Tay-kim-peng-ong berusaha tetap membuat kaku wajahnya sampai akhirnya ia menyerah: “Sebenarnya waktu muda dulu, aku juga minum seperti cuma menuangnya saja ke dalam perutku. Dan kujamin itu tidak lebih lambat sedikit pun dibandingkan dengan caramu minum.”

Tuan rumah yang cerdik tahu bahwa cara terbaik memperlakukan tamu bukanlah dengan menyediakan makanan atau arak yang enak, tapi dengan gelak tawa.

Maka semua tamu seharusnya tahu persis bagaimana membuat tuan rumah merasa bahwa gelak tawa mereka memang mampu menghibur tamunya.

Liok Siau-hong ‘menuangkan satu cawan arak lagi ke dalam perutnya’. “Aku akan mencari Sebun Jui-soat besok pagi,” tiba-tiba ia berkata.

“Bagus!” Tay-kim-peng-ong menjawab.

“Orang ini aneh,” Liok Siau-hong melanjutkan. “Aku harus pergi sendiri untuk membujuknya agar ikut terlibat. Cu Ting adalah persoalan lain.”

Ia merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan secarik kertas yang kusut dan kotor. Ia meletakkannya di atas meja dan, dengan bantuan sumpit dan saus, melukis seekor burung hong yang sedang terbang. “Kirim orang ke tempatnya dengan membawa kertas ini,” ia berkata sambil menyerahkan kertas itu pada Tan-hong Kiongcu. “Dia akan ikut dengan orang itu.”

“Kudengar kalian berdua sudah lama tidak saling bicara.” Tan-hong Kiongcu tampak tidak yakin.

“Aku memang tidak bicara dengan dia,” Liok Siau-hong menjawab. “Aku hanya menyuruhnya datang ke sini. Itu dua hal yang benar-benar berbeda.”

“Jadi dia tidak mau bicara denganmu,” Tan-hong Kiongcu memandangnya dengan tatapan tidak percaya. “Tapi, melihat ‘tanda tanganmu’ ini, dia pasti mau ikut dengan seorang asing ke sebuah tempat yang benar-benar tak dikenalnya?”

“Tanpa ragu sedikit pun juga.”

“Kurasa kau bisa menganggap Tuan Cu ini sebagai orang aneh.” Tan-hong Kiongcu akhirnya menyerah.

“Dia bukan hanya orang aneh, dia adalah seorang telur busuk!”

Tan-hong Kiongcu melicinkan kertas yang kusut itu. Baru kemudian ia menyadari bahwa kertas yang kusam dan kotor itu adalah selembar cek senilai 5000 tael.

“Apakah cek ini sah?” Ia tak tahan untuk tidak bertanya.

“Kau kira aku mencurinya?”

Tan-hong Kiongcu menjadi merah wajahnya.

“Aku hanya khawatir karena kalau kalian berdua bersahabat baik maka cara mengundang dia seperti ini akan membuatnya marah.”

“Tidak, tak akan!” Liok Siau-hong menjawab sebelum tertawa kecil. “Satu-satunya hal yang baik tentang dirinya adalah tak perduli berapa banyak uang yang engkau berikan padanya, dia tak akan marah padamu.”

“Itu karena dia bukan orang yang munafik,” Tan-hong Kiongcu menjawab sambil tersenyum, “dan begitu juga kau.”

Jika kau tahu bahwa seorang sahabatmu sedang kelaparan karena ia miskin tapi masih memujinya karena berkemauan kuat dan angkuh serta lebih suka mati daripada memohon pertolongan.

Jika kau tahu bahwa seorang sahabatmu membutuhkan sedikit uang darimu tapi malah mengiriminya surat yang menyatakan betapa hebatnya dia karena mampu berjuang melalui itu semua.

Jika kau benar-benar orang seperti ini, maka kujamin bahwa satu-satunya sahabatmu hanyalah dirimu sendiri.

Siangkoan Tan-hong bukan orang seperti itu, maka dia pun faham maksud Liok Siau-hong.

Selain wajah yang cantik, ia pun memiliki hati yang penuh pengertian dan simpatik. Benar-benar jarang menemukan seorang gadis yang memiliki sifat seperti ini.

Hanya perempuan paling cerdas yang tahu bahwa pengertian dan simpati akan lebih menarik daripada wajah tercantik sekali pun.

***

Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa ia agaknya semakin dan semakin menyukai gadis itu. Begitu sukanya, sehingga, sekarang pun ia sedang memikirkan si dia.

Waktu sudah hampir tengah malam dan tak ada lampu yang menyala di kamar itu. Angin musim semi bertiup halus melalui jendela, membawa dan mengisi ruangan itu dengan keharuman bunga-bunga di luar.

Liok Siau-hong berbaring di ranjang itu sendirian, tapi matanya masih terbuka lebar.

Apa yang dia lakukan begitu larut malam? Apakah dia sedang menunggu seseorang?

Ia jelas bukan sedang menunggu Hoa Ban-lau, karena mereka berdua baru saja berpisah.

Malam itu sunyi. Begitu sunyinya sehingga engkau hampir bisa mendengar suara tetesan embun yang jatuh di kelopak bunga. Begitu sunyinya sehingga dia bisa mendengar suara langkah kaki di lorong.

Suara langkah kaki itu sangat ringan, dan sangat lamban. Tapi jantungnya tiba-tiba mulai berdebar seperti gila. Sekarang langkah kaki itu berhenti di luar pintu kamarnya.

Pintu kamar itu tidak terkunci dan seseorang mendorongnya terbuka dengan perlahan dan menutupnya kembali.

Kamar itu gelap, begitu gelapnya sehingga tak mungkin melihat seperti apa orang itu sebenarnya.

Tapi Liok Siau-hong tidak bertanya siapa orang itu. Seolah-olah ia sudah tahu siapa dia.

Kali ini, langkah kaki itu bahkan lebih ringan dan lamban daripada sebelumnya; perlahan-lahan mendekati ranjangnya, perlahan-lahan mengelus wajahnya dengan lembut.

Tangan itu dingin tapi lembut, dan membawa keharuman bunga-bunga yang baru saja dipetik.

Dia meraba-raba kumis Liok Siau-hong dan memastikan pada dirinya sendiri bahwa orang yang berbaring di ranjang itu memang Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong baru saja mendengar suara pakaian jatuh ke lantai ketika ia merasakan sesosok tubuh telanjang merayap ke dalam selimutnya.

Tubuh itu dingin dan lembut, tapi tiba-tiba berubah menjadi panas membara. Dan tubuh itu tiba-tiba bergetar, seperti nyala api yang berkerlap-kerlip, membangkitkan gairah Liok Siau-hong hingga dia pun menelan ludah. Setelah beberapa lama baru akhirnya ia menarik nafas.

“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya,” ia bergumam, “Aku tak tahan godaan. Mengapa kau masih datang?”

Si dia tidak menjawab. Tubuhnya malah semakin bergetar.

Liok Siau-hong tak tahan lagi. Ia berguling dan mendekap si dia dalam pelukannya. Kulitnya yang seperti sutera segera merinding, seperti pusaran-pusaran kecil di air ketika angin musim semi menghembusnya.

Dadanya tertekan ke dada Liok Siau-hong. Dadanya seperti seekor merpati, lembut dan hangat.

Liok Siau-hong tiba-tiba mendorongnya menjauh.

“Kau bukan…. siapa kau?” ia berkata dengan heran.

Si dia masih tak mau bicara, tapi tubuhnya mengkerut.

Liok Siau-hong mengulurkan tangannya lagi. Ketika ia menyentuh dada si dia, ia tersentak lagi seperti terkena arus listrik.

“Kau si Piauci cilik!”

“Dan aku tahu kalau kau adalah Piaute kecilku.” Si dia akhirnya menyerah dan mengakui sambil tertawa kecil.

Liok Siau-hong tiba-tiba melesat bangkit seperti sebatang anak panah.

“Apa yang kau lakukan di sini?” ia bertanya.

“Mengapa aku tak boleh datang ke sini?” Siangkoan Soat-ji menjawab. “Kau kira siapa aku tadi?”

Dari suaranya, ia seperti marah.

Mungkin tidak ada yang membuat seorang gadis lebih marah daripada dianggap sebagai orang lain saat mendekati seorang pria.

Liok Siau-hong biasanya bisa mengatasi situasi seperti ini dengan mudah. Tapi sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan.

“Jadi dia boleh datang,” Siangkoan Soat-ji meneruskan sambil mendengus, “Mengapa aku tidak boleh? Katakan padaku!”

“Karena,” Liok Siau-hong akhirnya menjawab sambil menarik nafas pertanda pasrah, “dibandingkan denganmu, aku seperti orang tua.”

“Aku datang ke sini semata-mata karena aku ingin membuktikan padamu bahwa aku bukan anak kecil lagi sehingga kau mau percaya dan tidak menganggapku sebagai pembohong lagi! Kau benar-benar mengira aku menyukaimu? Jangan menyanjung dirimu sendiri!”

Suaranya perlahan-lahan semakin kuat dan dia semakin marah, seakan-akan hendak menangis.

Liok Siau-hong mengulurkan tangan dan membelai rambut gadis itu dengan lembut, sambil berusaha memikirkan sesuatu yang bisa menghiburnya.

Tiba-tiba pintu dibuka orang dan kamar yang gelap itu pun menjadi terang.

Seseorang berdiri di ambang pintu dengan sebuah lentera di tangannya, mengenakan sebuah jubah yang berwarna seputih salju, tapi wajahnya masih lebih pucat daripada jubahnya.

Siangkoan Tan-hong.

Liok Siau-hong ingin merangkak ke bawah tempat tidur dan diam di sana. Ia tak berani membalas tatapan gadis itu saat memandangnya.

Siangkoan Soat-ji pun seperti anak kecil yang tertangkap basah saat mencuri kue.

Tapi dia segera mengangkat dadanya tinggi-tinggi, berdiri telanjang bulat, memandang Liok Siau-hong dengan bibir dimajukan, dan tersenyum.

“Mengapa tidak kau beritahukan sebelumnya bahwa dia akan datang?” ia berkata. “Aku kan bisa pergi lebih cepat.”

Siangkoan Tan-hong menatapnya, begitu marahnya sehingga bibirnya mulai bergetar. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.

Soat-ji telah mengenakan jubahnya. Dengan kepala terangkat tinggi-tinggi, ia berjalan di hadapan sang puteri. Tiba-tiba ia menjebikan bibirnya dan tersenyum lagi.

“Kau sebenarnya tidak perlu marah.” Ia berkata. “Semua laki-laki memang seperti ini.”

Siangkoan Tan-hong tidak bergerak, juga tidak menjawab. Seolah-olah seluruh tubuhnya telah menjadi batu. Dengan lambat dan perlahan-lahan, langkah kaki Soat-ji pun menghilang di kejauhan.

Siangkoan Tan-hong masih berdiri di sana, tanpa bergerak, menatap Liok Siau-hong. Matanya yang indah tampak mulai digenangi air mata.

“Bagus,” ia bergumam, “Akhirnya aku melihat orang macam apa engkau sebenarnya.” Ia membanting kakinya ke lantai, dan memutar tubuhnya.

Tapi Liok Siau-hong telah tiba di sisinya dan menariknya.

“Apa? apa lagi yang akan kau katakan untuk membela diri?” ia menggigit bibirnya dan mendesak.

“Aku sebenarnya tidak perlu mengatakan apa-apa,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Karena kau tentu tahu bahwa aku sedang menunggumu.”

Siangkoan Tan-hong menatap lantai. Sesudah beberapa lama, akhirnya dia menarik nafas.

“Aku datang ke sini untukmu.”

“Dan sekarang?”

“Dan sekarang…. sekarang aku hendak pergi.”

Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan menatap Liok Siau-hong. Matanya penuh dengan perasaan yang rumit dan bertentangan, antara mencela dan simpati.

“Apakah kau benar-benar percaya bahwa aku akan……,” Liok Siau-hong berkata sebelum si dia memotong ucapannya dengan mengulurkan jarinya ke bibirnya.

“Aku tahu kau tak akan berbuat begitu,” ia berkata. “Tapi malam ini…. aku tak bisa tinggal di sini malam ini.”

Tak seorang pun akan tertarik melakukan hal-hal lain sesudah menyaksikan pemandangan seperti tadi.

Liok Siau-hong mengerti, maka ia melonggarkan pegangannya dan membiarkan gadis itu pergi.

Siangkoan Tan-hong memandangnya. Tiba-tiba dia berjingkat dan mencium pipi Liok Siau-hong.

“Dan kau tentu tahu bahwa sebenarnya aku tidak ingin pergi.”

“Tapi sekarang kau sebaiknya pergi secepat mungkin,” Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum. “Kalau tidak aku akan…..”

Gadis itu tidak menunggu ucapannya selesai dan segera memberontak lepas dari dekapannya. Tapi dia masih berpaling.

“Kuperingatkan kamu,” dia berkata sambil tertawa. “Gadis kecil itu seperti setan. Bila kau bertemu dengannya lain kali, sebaiknya kau cepat-cepat menjauh. Aku bisa menggigit bila aku cemburu.”

Malam semakin sunyi dan sepi. Dunia tampaknya benar-benar tenang dan damai.

Tapi bagaimana dengan hati manusia?
______________________________

Pagi tiba. Jalan batu itu baru mulai dipanasi oleh sinar matahari, beberapa toko kecil di pinggir jalan bahkan masih belum buka.

Selalu ada orang yang tidak biasa bekerja pada pagi hari begini di kota.

Tan-hong Kiongcu baru berpaling setelah ia mengantarkan mereka sampai di tempat itu dengan kereta kudanya yang penuh dengan bunga.

“Setelah kami mendapat berita, kami akan memberitahumu.”

“Aku tahu, aku akan menunggumu.”

“Aku akan menunggumu,” dengan seorang gadis seperti ini menunggumu, apa lagi yang diinginkan seorang pria dalam hidupnya?

“Kau tahu, kurasa tak lama lagi dia akhirnya akan menggigitmu paling sedikit satu kali.” Hoa Ban-lau berkomentar.

Liok Siau-hong meliriknya sebelum akhirnya tertawa: “Telingamu tentu jauh lebih peka daripada telinga kelinci, lain kali aku harus ingat hal itu.”

Hoa Ban-lau balas tersenyum: “Setan kecil yang dia bicarakan itu, apakah dia adik Siangkoan Hui-yan?”

“Kutantang engkau untuk menemukan satu setan kecil lagi seperti dia di dunia ini,” Liok Siau-hong menjawab sambil tersenyum dipaksa. Hoa Ban-lau tetap diam.

“Apakah dia sudah menemukan kakaknya?” Akhirnya ia bertanya.

“Tampaknya belum, mungkin seharusnya aku tadi menanyakan hal itu pada Siangkoan Tan-hong. Mungkin dia tahu ke mana burung waletmu itu terbang.”

{Hui-yan berarti walet terbang dalam bahasa Cina.}

Hoa Ban-lau tertawa sedikit mendengar ucapannya itu sebelum menjawab: “Kurasa lebih baik kau tidak bertanya, kalau tidak dia akan menggigitmu karena bertanya.”

“Walaupun aku tidak menanyakan hal itu padanya, Soat-ji tentu telah bertanya.”

“Tampaknya dia tidak ada sangkut-pautnya dengan hal itu.” Hoa Ban-lau menduga-duga. Walaupun ia masih tersenyum, wajahnya tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ia sedang merasa cemas.

Liok Siau-hong berfikir sebentar sebelum tiba-tiba bertanya: “Apakah kau tahu berapa umur Siangkoan Hui-yan?”

“Katanya ia lahir pada Tahun Kambing, jadi umurnya 18 tahun.”

Liok Siau-hong mengelus-elus kumisnya dan bergumam pada dirinya sendiri: “Mungkinkah seorang gadis berusia 18 tahun mempunyai kakak berumur 12 tahun?”

“Tergantung situasinya,” Hoa Ban-lau menjawab sambil tersenyum.

Liok Siau-hong tercengang mendengar ucapan itu. “Situasi yang bagaimana?” ia bertanya.

“Jika orang cerdas sepertimu mulai bertanya-tanya tentang hal bodoh seperti itu, lalu kenapa tidak mungkin seorang gadis berusia 18 tahun mempunyai adik berumur 20 tahun? Adiknya yang berumur 20 tahun itu pun mungkin saja punya putera berumur 80 tahun.”

Liok Siau-hong tertawa, lalu tiba-tiba ia menepuk pundak Hoa Ban-lau dan berkata: “Tak mungkin seorang kakak berumur 18 tahun mempunyai adik berumur 20 tahun dan tak mungkin Siangkoan Hui-yan berada dalam bahaya.”

“Oh?”

“Ada kemungkinan Soat-ji tahu pasti di mana kakaknya berada dan mengatakan semua ini hanya untuk mengacaukanku. Tapi sekarang aku tahu bahwa kau tidak percaya sepatah kata pun ucapannya.”

Hoa Ban-lau juga tertawa kecil dan kemudian, seakan-akan ia tak ingin membicarakan masalah ini lagi, tiba-tiba ia mengubah pokok pembicaraan: “Kau bilang kau datang ke sini untuk mencari seseorang?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Tapi Sebun Jui-soat tampaknya tidak berada di sini.”

“Dia tidak di sini, aku mencari orang lain.”

“Siapa?”

“Kau jarang mengembara di dunia luar, maka kau mungkin tidak kenal 2 orang laki-laki tua yang amat aneh ini. Salah seorang dari mereka kebetulan tahu sedikit tentang segala sesuatu yang pernah terjadi. Orang yang satunya lagi sedikit lebih hebat, tak perduli betapa sukarnya masalah yang engkau hadapi, dia bisa membantu menyelesaikannya.”

“Kau sedang membicarakan Tay-thong dan Tay-ti?”

“Oh, kau tahu tentang mereka?”

“Aku mungkin buta, tapi aku tidak tuli.”

Liok Siau-hong tersenyum agak masam dan berkomentar: “Kadang-kadang aku berharap kau sedikit tuli.”

______________________________

Sekarang mereka sedang berjalan di bawah emperan sebuah bangunan. Seorang hwesio berwajah alim dengan kepala tertunduk dan mata menatap terus ke bawah sedang berjalan ke arah mereka.

Wajah hwesio ini agak persegi dan telinganya besar, pertanda seorang yang memiliki peruntungan yang bagus. Tapi pakaiannya kotor dan compang-camping, dan sepasang sepatu jerami di kakinya pun sudah usang.

Liok Siau-hong segera berlari menghampiri hwesio itu. Sambil tersenyum dia berkata: “Hai, Lau-sit Hwesio!”

Lau-sit Hwesio mengangkat kepalanya dan tersenyum waktu ia melihat Liok Siau-hong: “Apakah akhir-akhir ini kau sudah sedikit lebih jujur?”

“Bila kau berhenti jadi orang jujur, pada hari itu juga aku akan mulai jujur.”

Tampaknya bila mereka bertemu, Lau-sit Hwesio hanya bisa memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

“Kau tampak sangat senang hari ini, apakah kau punya kabar bahagia?” Liok Siau-hong meneruskan.

“Bagaimana mungkin Lau-sit Hwesio punya kabar bahagia? Hanya orang-orang tidak jujur seperti kalian yang punya.” Lau-sit Hwesio menjawab sambil tersenyum dipaksa.

“Tapi hari ini tampaknya merupakan pengecualian.”

Lau-sit Hwesio mengerutkan keningnya sebelum akhirnya menarik nafas: “Hari ini memang pengecualian.”

Dari raut wajahnya orang bisa tahu bahwa dia tidak ingin Liok Siau-hong bertanya-tanya lagi.

“Kenapa?” sayangnya Liok Siau-hong seperti tidak memperhatikan.

“Karena….. karena aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat tidak jujur dan baik,” Lau-sit Hwesio bergumam dengan raut wajah menyesal.

Ia tidak ingin mengatakannya, tapi ia terpaksa mengatakannya, karena ia adalah seorang hwesio yang jujur.

Itulah sebabnya Liok Siau-hong semakin ingin tahu dan bertanya lagi: “Kau bisa melakukan sesuatu yang tidak jujur dan baik?”

“Ini pertama kalinya dalam hidupku,” Lau-sit Hwesio menjawab.

Liok Siau-hong semakin ingin tahu dan ia merendahkan suaranya: “Apa yang kau lakukan?”

“Aku baru saja pergi menemui Auyang.” Wajah Lau-sit Hwesio tampak sedikit memerah ketika ia menggumamkan jawaban ini.

“Siapa Auyang itu?”

Lau-sit Hwesio menatapnya, raut wajahnya tiba-tiba menjadi sangat aneh, seolah-olah ia agak bangga karena tahu sesuatu dan sekaligus menyesalkan kenaifan Liok Siau-hong. Ia menggelengkan kepalanya dan bertanya: “Bagaimana mungkin kau tidak tahu siapa Auyang?”

“Kenapa aku harus tahu?”

“Karena Auyang adalah Auyang Cing,” Lau-sit Hwesio berbisik.

“Dan siapakah Auyang Cing ini?”

Wajah Lau-sit Hwesio jadi semakin merah dan ia pun tergagap-gagap: “Ia seorang….. seorang….. pelacur yang sangat terkenal.”

Tampaknya dia telah mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk mengucapkan kalimat terakhir itu.

Liok Siau-hong hampir tersandung dan jatuh karena kagetnya. Dalam mimpinya pun dia tak bisa membayangkan kalau Lau-sit Hwesio benar-benar menemui seorang pelacur.

Tapi walaupun dia terkejut dan tertawa dalam hatinya, wajahnya tetap tenang. Ia benar-benar dapat berkomentar dengan santai: “Sebenarnya itu bukan persoalan besar, hal seperti ini bisa terjadi kapan saja.”

Kali ini giliran Lau-sit Hwesio yang kaget: “Hal ini bisa terjadi kapan saja?”

Dengan wajah kaku, Liok Siau-hong menjawab: “Hwesio tidak punya isteri, apalagi selir, padahal mereka kuat dan sehat, apa yang bisa mereka lakukan selain pergi ke pelacur? Masa pergi ke nikouw (biksuni)?”

Lau-sit Hwesio terdiam.

“Di samping itu, ‘Hwesio Agung’ dan ‘Pelacur Termasyur’ kan mempunyai hubungan yang sangat erat,” Liok Siau-hong meneruskan.

“Bagaimana mungkin?” Lau-sit Hwesio bertanya.

“Hwesio Agung menghabiskan waktu seharian dengan memukul lonceng, Pelacur Termasyur menghabiskan waktu sepemukulan lonceng untuk ‘memukul roboh’ seorang hwesio. Erat sekali kan hubungannya?” Liok Siau-hong bahkan sudah terbungkuk-bungkuk sambil tertawa sebelum ia menyelesaikan leluconnya itu.

Tapi Lau-sit Hwesio begitu marahnya sehingga dia tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia hanya bisa memandang Liok Siau-hong dengan tatapan kosong. Sesudah beberapa lama, akhirnya dia menarik nafas dan bergumam: “Buddha yang maha pengampun, mengapa kau buat aku bertemu dengan Sun-loya tadi malam dan Liok Siau-hong hari ini?”

Liok Siau-hong tiba-tiba berhenti tertawa: “Kau lihat Sun-loya? Di mana dia? Aku sedang mencarinya.”

Tapi Lau-sit Hwesio seperti tidak mendengar. Dia tetap membaca doa: “Amitabha, aku tak akan pernah berbuat jahat lagi. Aku pantas mati untuk dosa-dosaku, Bodhisatwa tentu menghukumku merangkak pulang ke kuil.”

Ia terus berdoa dan tiba-tiba ia berjongkok dan benar-benar mulai merangkak.

Liok Siau-hong hanya melihatnya pergi secara merangkak dengan senyuman yang beku di wajahnya.

Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak berjalan menghampiri dan bertanya: “Apakah dia benar-benar akan merangkak pulang?”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Jika dia bilang akan merangkak 10 mil, tentu dia tidak akan merangkak hanya 9,5 mil, karena dia seorang hwesio yang jujur.”

“Tampaknya dia bukan hanya jujur, dia juga gila.” Hoa Ban-lau berkata sambil tertawa.

“Tapi dia hanya pura-pura gila, karena dia lebih tahu daripada orang lain apa yang sedang terjadi.”

“Jadi siapakah Sun-loya itu?”

Setelah pokok pembicaraan mengenai Sun-loya muncul, semangat Liok Siau-hong pun bangkit kembali: “Asalnya dia memang bermarga Sun (cucu), maka julukannya adalah Tuan Besar (Loya) Cucu Kura-kura….”

Hoa Ban-lau tertawa lagi dan bertanya: “Bagaimana dia bisa mendapatkan julukannya itu?”

“Karena dia selalu berkata bahwa bila dia sedang tak punya uang maka dia adalah cucu kura-kura dan bila dia sedang kaya maka ia adalah Tuan Besar. Kebetulan nama keluarganya Sun, maka orang-orang pun memanggilnya Sun-loya.”

“Tampaknya kau tahu banyak tentang orang-orang aneh ini,” Hoa Ban-lau bercanda.

“Tay-thong dan Tay-ti adalah 2 orang aneh juga, tak ada yang pernah melihat mereka, juga tak ada yang tahu di mana mereka berada. Selain Sun-loya, tak ada orang lain yang bisa menemukan mereka. Siapa yang tahu kalau Sun-loya ini bisa berguna juga? Ia sudah minum dan berjudi sejak ia masih kecil. Menghabiskan hidupnya dengan berkeliaran dan bermain-main, dia tak pernah melakukan satu pun hal serius dalam hidupnya dan juga tak bisa melakukan hal yang berguna. Tapi karena dia bisa melakukan satu hal ini, ia bisa menghabiskan separuh hidupnya hanya dengan bermain dan bebas dari perasaan khawatir.”

“Bagaimana bisa?”

“Karena jika orang ingin bertemu Tay-thong dan Tay-ti, maka orang itu harus mencarinya dan membeli dia.”

“Membeli dia? Mengapa harus melakukan itu?”

“Orang ini lebih pintar menghabiskan uang daripada orang lain di dunia ini. Karena itu ia tidak pernah menjadi Tuan Besar selama lebih dari 3 hari sebelum menjadi Cucu Kura-kura lagi. Bila dia tak bisa berhutang lagi, dia terpaksa tinggal di tempat itu dan menunggu seseorang datang dan membayarkan hutang-hutangnya. Ia sudah 10 tahun hidup seperti itu! Kekaguman bukanlah kata yang cukup kuat untuk menggambarkan perasaanku tentang dia.”

“Tampaknya bukan saja orang ini bisa berbuat sesuatu, dia pun sangat beruntung.”

“Tepat. Seorang yang tidak mujur akan segera menjadi gila bila hidup seperti dia.”

“Jadi kau akan mencari dan membelinya sekarang?”

“Tentu saja aku harus bertemu Auyang dulu.”

“Auyang?”

Sambil tersenyum Liok Siau-hong menjawab dengan santai: “Bagaimana mungkin kau tidak tahu tentang Auyang? Auyang adalah…….”

______________________________

Auyang Cing. Nama pertama yang terdaftar di buku tamu Ih Ceng-ih.

Menurut kabar, hal terbaik pada dirinya adalah tak perduli engkau siapa, hwesio atau orang cacat, dia akan memperlakukanmu seakan-akan engkau adalah laki-laki paling tampan di dunia, asal engkau punya uang. Dalam profesinya, memang hanya itu yang dibutuhkan.

Di samping itu dia pun tidak jelek, berwajah putih dan bersih, rambut hitam legam, dan bila dia tersenyum maka lesung pipi pun muncul di kedua pipinya. Dan sepasang mata yang menatapmu itu akan membuatmu rela menghabiskan seluruh uangmu untuk dia.

Pada saat itu dia sedang menatap Liok Siau-hong, memandang kumisnya, seakan-akan dia tak pernah melihat laki-laki setampan itu, dan kumis sebagus itu.

Liok Siau-hong merasa sedikit pusing karena tatapan itu dan uang di sakunya pun seperti ingin melompat keluar.

Senyuman Auyang Cing tampak semakin manis: “Tuan pernah ke sini sebelumnya, kan?”

“Belum pernah,” Liok Siau-hong menjawab.

“Dan Tuan minta bertemu denganku segera setelah tiba di sini?”

“Yang pertama aku tanyakan adalah kamu!”

Auyang menunduk dan berkata dengan lembut: “Jika demikian, berarti ini sudah takdir.”

“Tentu saja!”

Mata Auyang Cing berkilauan: “Tapi bagaimana kau tahu bahwa aku sedang berada di sini?”

“Seorang dewa memberitahuku dalam mimpi tadi pagi bahwa kita ditakdirkan untuk berkumpul lagi seperti 800 tahun yang lalu.”

Auyang Cing tertawa kecil mendengarnya: “Benarkah?”

“Tentu saja benar! Dewa itu berwujud seorang hwesio, tampak jujur dan alim, dan berkata bahwa dia sendiri sudah bertemu denganmu.”

Ekspresi wajah Auyang Cing tetap tidak berubah dan ia menjawab dengan tersipu-sipu: “Memang ada seorang hwesio datang ke sini tadi malam. Dia hanya duduk di sana dan memandangku sepanjang malam sesudah aku naik ke tempat tidur. Aku tidak tahu kalau dia dewa dan kukira ada sesuatu yang salah padanya.”

Tiba-tiba ia berjalan menghampiri dan duduk di pangkuan Liok Siau-hong. Sambil mengelus-elus kumis Liok Siau-hong, dia menggigit bibir dan tersenyum: “Tapi kau sebaiknya tidak menirunya seperti itu.”

“Aku bukan dewa.”

Auyang Cing meletakkan kepalanya di pundak Liok Siau-hong dan menggigit telinganya dengan lembut. Sambil tertawa kecil ia menyahut: “Sebenarnya menjadi seorang dewa juga tidak terlalu enak. Suruh saja temanmu pergi dan aku bisa membuatmu merasa lebih nikmat daripada menjadi dewa.”

Hoa Ban-lau tersenyum saja selama itu, duduk diam-diam di sudut jauh ruangan itu. Tampaknya ia merasa dagelan itu sudah cukup sampai di situ dan tiba-tiba memotong: “Kami ke sini mencari Sun-loya, kau tahu di mana dia berada?”

“Sun-loya? Kudengar dia ada di Siau-siang-ih di sebelah, menunggu seseorang membeli dia. Tempat itu tepat berada di depanmu bila kau keluar,” Auyang Cing menjawab. Tampaknya dia berharap Hoa Ban-lau mau pergi secepat mungkin.

Tapi yang pertama berdiri malah Liok Siau-hong.

“Kau juga pergi?” Auyang Cing mengerutkan keningnya.

“Sebenarnya aku tidak ingin pergi,” Liok Siau-hong menarik nafas, “tapi aku harus…..”

“Mau membeli dia?”

“Tidak, menunggu seseorang membeli kami juga.”

Ia menepuk-nepuk sakunya dan berkata dengan senyum terpaksa di wajahnya: “Sebenarnya, uang yang kami punya bahkan tidak cukup untuk membeli sepotong kue.”

Walaupun Auyang Cing masih tersenyum, tapi senyumannya sekarang tampak berbeda, kau pasti ingin pergi secepat mungkin bila engkau melihatnya.

Tapi Liok Siau-hong seperti tidak melihat, tiba-tiba ia tersenyum: “Tapi karena kita telah ditakdirkan untuk bertemu, bagaimana mungkin aku pergi? Kurasa sebaiknya jika kita……”

Auyang Cing segera memotong: “Karena kita ditakdirkan untuk bertemu, maka kita tentu akan bertemu lagi. Kupikir sebaiknya kau pergi dan mencari dia sekarang juga. Aku….. aku tiba-tiba merasa kurang enak badan, perutku sakit.”

***

Liok Siau-hong berjalan keluar, menghirup dalam-dalam udara musim semi yang datang dari arah Timur, dan tersenyum: “Jika kau ingin menyingkirkan seorang gadis, cara terbaik adalah dengan membuat perutnya sakit. Laki-laki yang sering keluar rumah harus tahu paling sedikit 3 macam cara untuk membuat perut seorang gadis menjadi sakit.”

“Aku tahu kau cerdik,” Hoa Ban-lau menjawab, “tapi baru hari ini aku menyadari kau sama sekali bukan orang baik-baik.”

“Kenapa?”

“Kau tahu perempuan seperti apa dia, kenapa kau masih menelanjangi sifatnya seperti tadi?”

“Karena aku tidak suka orang yang memalsukan perasaannya.”

“Tapi dia tidak memalsukan perasaannya, dia hanya bertahan hidup. Bagaimana mungkin dia terus hidup di tempat seperti ini jika dia memperlihatkan perasaaannya yang sebenarnya pada setiap orang?”

Dengan senyuman di wajahnya, Hoa Ban-lau pun meneruskan: “Kau seorang sahabat yang baik, sangat setia, mungkin cukup baik untuk disebut seorang ksatria, tapi kau punya cacat yang sangat besar.”

Liok Siau-hong hanya mendengarkan.

Hoa Ban-lau meneruskan: “Di dunia ini, ada banyak orang yang sangat jahat dan keji. Tapi terkadang mereka tidak sengaja melakukannya, terkadang mereka terpaksa melakukannya. Cacatmu yang terbesar adalah engkau tak pernah memikirkan hal itu dari sudut pandang mereka.”

Liok Siau-hong memandangnya. Memandangnya dalam waktu yang lama. Baru kemudian ia menarik nafas perlahan dan berkata: “Terkadang aku benar-benar tidak ingin berada di dekatmu.”

“Oh?”

“Karena aku selalu membayangkan bahwa aku bukanlah orang sejahat itu, tapi bila dibandingkan denganmu aku jadi seperti seorang bajingan.”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Asal seseorang tahu kalau dirinya seorang bajingan, maka masih ada harapan untuknya.”

***

“Aku seorang bajingan! Seorang bajingan ‘kelas satu’! Kau tak akan menemukan seorang bajingan lagi sepertiku dari sejuta orang!” Ketika mereka berjalan memasuki Siau-siang-ih, mereka bisa mendengar seseorang berteriak-teriak seperti itu di lantai atas.

“Sun-loya?” Hoa Ban-lau bertanya.

Liok Siau-hong tertawa: “Benar! Tidak banyak orang yang tahu betapa bajingannya diri mereka.”

“Itulah sebabnya masih ada harapan baginya,” Hoa Ban-lau juga tertawa.

***

Untunglah, walaupun dia tak bisa berdiri, Sun-loya masih bisa duduk.

Jadi demikianlah, sambil duduk di dalam kereta kuda yang baru saja disewa Liok Siau-hong, ia menatap Liok Siau-hong: “Aku tahu kau tentu ingin segera bertemu dengan 2 orang aneh itu, tapi kau masih mau minum beberapa cawan bersamaku.”

Liok Siau-hong menarik nafas dan menjawab: “Aku masih tidak faham. Orang-orang itu tahu pasti bahwa kau tidak punya uang sama sekali, tapi mereka masih mau memberimu minum.”

Sebuah senyuman licik pun muncul di wajah Sun-loya: “Karena mereka tahu bahwa cepat atau lambat seorang berkepala besar dengan banyak masalah sepertimu tentu akan datang dan membeliku.”

Sebenarnya kepalanya tidak lebih kecil daripada kepala orang lain. Jika kau tidak melihatnya, tak mungkin kau bisa membayangkan ada orang dengan tubuh yang kecil dan lemah seperti itu bisa memiliki kepala yang demikian besar.

“Bisakah kau menemukan mereka segera dalam kondisi seperti ini?” Liok Siau-hong bertanya.

“Tentu saja!” Sun-loya berkata dengan angkuh. “Tak perduli betapa anehnya 2 orang itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku. Tapi kita perlu menetapkan beberapa persyaratan dulu, 3 syarat tepatnya.”

“Baiklah.”

“50 tael perak untuk setiap pertanyaan, dan yang kubicarakan adalah 100% perak murni, tanpa campuran, yaitu perak lantakan. Saat aku masuk, kalian berdua tinggal di luar. Dan bila waktunya tiba untuk bertanya, kalian harus bertanya dari luar.”

“Aku tidak faham,” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum masam. “Kenapa mereka tidak mau bertemu dengan orang lain?”

Sun-loya tersenyum: “Karena mereka merasa bahwa, selain dari diriku, semua orang di dunia ini adalah telur busuk. Ironisnya, aku adalah telur busuk terbesar di dunia!”

______________________________

Gua itu gelap dan lembab. Jalan masuknya pun sangat kecil, satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan merangkak. Dan itulah yang tadi dilakukan Sun-loya.

Liok Siau-hong dan Hoa Ban-lau sudah lama menunggu di luar, Liok Siau-hong menjadi sangat tidak sabar.

Tapi Hoa Ban-lau tersenyum dan berkomentar: “Aku tahu kau sudah tidak sabar, tapi mengapa kau tidak melihat-lihat sekelilingmu dulu. Di sini begitu indah, bahkan angin yang bertiup pun membuatmu merasa nyaman. Bisa berhenti di sini benar-benar sangat beruntung.”

“Dan bagaimana kau tahu di sini indah?” Liok Siau-hong ingin tahu.

“Walaupun aku tidak bisa melihat, aku masih bisa merasakan dan memahaminya. Itulah sebabnya aku selalu merasa bahwa orang-orang yang memiliki mata tapi menolak untuk melihat itulah yang sebenarnya buta.”

Liok Siau-hong tak bisa menjawab.

Saat itulah suara Sun-loya terdengar dari dalam gua: “Baiklah, kalian boleh mulai bertanya.”

Perak lantakan pertama senilai 50 tael lalu dilemparkan ke dalam dan pertanyaan pertama adalah: “Apakah benar ada Dinasti Rajawali Emas 50 tahun yang lalu?”

Setelah diam beberapa lama, sebuah suara tua dan parau terdengar menjawab dari dalam gua: “Dinasti Rajawali Emas aslinya merupakan sebuah negeri yang sangat kecil dan jauh di Selatan. Adat-istiadat mereka sangat berbeda, pernikahan berlangsung di antara orang-orang bermarga sama. Maka sebagian besar penghuni Istana Kekaisaran memiliki marga Siangkoan. Walaupun dinasti itu tua dan kaya, tapi negeri tersebut hancur 50 tahun yang lalu. Kabarnya keturunannya telah mengembara sampai ke Tionggoan sini.”

Liok Siau-hong menghembuskan nafas, tampaknya dia puas dengan jawaban itu. Maka dia melemparkan sebuah lantakan perak lagi dan mengajukan pertanyaan kedua: “Selain dari keturunan keluarga kerajaan, apakah masih ada yang hidup dari Istana Kekaisaran?”

“Menurut kabar, ada 4 orang yang diperintahkan untuk melindungi harta mereka dalam perjalanan menuju ke sini. Salah seorang dari mereka adalah anggota keluarga kerajaan sendiri, namanya Siangkoan Kin. Yang 3 orang lagi adalah Jenderal Pengtok Ho, Panglima Siangkoan Bok, dan Pengurus (Congkoan) Istana Giam Lip-pun.”

Masih ada sedikit tambahan pada jawaban ini: “Jabatan-jabatan di negeri itu sangat mirip dengan di negeri kita.”

Pertanyaan ketiga adalah: “Lalu apa yang terjadi pada mereka?”

“Mereka barangkali telah mengganti nama mereka dan bersembunyi setelah tiba di sini. Waktu dinasti baru didirikan, tentu pembunuh-pembunuh gelap telah dikirim untuk membunuh semua keturunan dinasti terakhir. Tapi mereka tak dapat menemukan seorang pun. Jika pewaris tahta masih hidup, dia mungkin sudah tua sekarang.”

Sesudah berfikir beberapa lama, akhirnya Liok Siau-hong mengajukan pertanyaan keempat: “Jika ada sebuah persoalan sulit yang membutuhkan bantuan Sebun Jui-soat, apakah ada cara membujuknya agar mau membantu?”

Pertanyaan itu diikuti oleh kesunyian yang lebih lama. Akhirnya, jawabannya yang terdiri dari 4 kata pun muncul: “Sejauh ini tidak ada.”

______________________________

Siang-lim-jun di kota itu terkenal ke seluruh dunia karena arak Tiok-yap-jing-nya yang sangat enak, Sapi Bawang, hidangan Burung Dara, dan Kambing Masak Ikan. Itulah sebabnya mereka sekarang berada di Siang-lim-jun.

Liok Siau-hong adalah orang yang sangat pilih-pilih soal makanan.

“‘Sejauh ini tidak ada’! Jawaban macam apa itu?” Liok Siau-hong berkata dengan senyum dipaksakan dan menghabiskan secawan arak Tiok-yap-jing. “Seluruh hidangan di meja ini paling-paling hanya bernilai 5 tael, dan jawaban anak setan itu bernilai 50 tael untuk setiap pertanyaan!”

“Apakah itu berarti benar-benar tidak ada cara?” Hoa Ban-lau bertanya dengan senyuman santai di wajahnya.

“Sebun Jui-soat punya uang, punya kemasyuran, dan suka menyendiri: dia tak pernah ikut campur urusan orang lain.” Liok Siau-hong menjawab. “Ia pun memperlakukan sanak saudaranya seperti dia memperlakukan orang asing dan dia juga angkuh, bisakah engkau memikirkan cara untuk membujuk orang ini?”

“Tapi kadang-kadang ia mau pergi sejauh 3000 km untuk membalaskan dendam bagi seseorang yang tak pernah ia temui sebelumnya.”

“Itu karena dia mau. Jika dia tidak mau, bahkan Kaisar Pualam pun tidak akan mampu membuatnya bergerak.”

{Kaisar Pualam adalah dewa utama dalam mitologi tradisional China, karakter yang mirip dengan Zeus dalam mitologi Yunani.}

Hoa Ban-lau tersenyum: “Tak perduli apa, paling tidak perjalanan ini tidak sepenuhnya sia-sia. Kita berhasil mengetahui bahwa apa yang diceritakan Tay-kim-peng-ong pada kita bukanlah dusta.”

“Karena yang dia katakan itu bukan dusta, maka kita mau terlibat dalam masalah ini. Dan karena kita telah terlibat, kita pun membutuhkan Sebun Jui-soat.”

“Apakah ilmu pedangnya benar-benar menakutkan seperti yang diberitakan orang?”

“Mungkin lebih dari itu. Sejak dia bertarung pertama kalinya pada usia 15 tahun sampai sekarang, tak ada yang berhasil selamat dari pertarungan dengannya.”

“Mengapa kita membutuhkan dia?”

“Karena kekuatan kita jauh di bawah musuh, dan jumlah mereka pun banyak.”

Liok Siau-hong meneguk habis secawan arak lagi dan meneruskan: “Jika Tokko It-ho benar-benar ketua Jing-ih-lau, maka paling tidak ada 5 atau 6 orang yang sangat menyulitkan di bawah pimpinannya. Di samping itu, Go-bi-pay pun penuh dengan jago-jago kungfu yang hebat.”

“Aku juga telah mendengar bahwa Go-bi-jit-kiam (tujuh jago pedang dari Go-bi-pay), Sam-go-su-siu, termasuk yang terbaik dalam generasi jago-jago pedang muda.”

{Go-bi-jit-kiam dikenal sebagai ‘Sam-go-su-siu’ (Tiga Go dan Empat Cantik)}

“Congkoan (pengurus umum) perusahaan batu permata milik Giam Thi-san, yaitu Ho Thian-jing, bahkan lebih sukar dihadapi dibandingkan mereka bertujuh. Dia belum tua, tapi dianggap sebagai generasi yang dituakan. Menurut kabar angin, bahkan pendekar besar San Say-gan dari Kwantiong pun harus memanggilnya ‘susiok’!”

“Mengapa dia mau bekerja untuk Giam Lip-pun?”

“Karena beberapa tahun yang lalu dia dijebak musuh dan hampir terbunuh oleh seseorang di puncak Ki-lian-san dan Giam Lip-pun menyelamatkan nyawanya.”

“Dan Ho Siu sering menghilang dalam waktu yang lama, seluruh hartanya tentu telah dititipkan pada beberapa orang yang sangat handal. Jelas mereka juga bukan lawan yang ringan.” Hoa Ban-lau berfikir.

“Benar sekali.”

“Itulah sebabnya kita harus mendapatkan Sebun Jui-soat.”

“Benar lagi.”

“Tidak bisakah kita mencoba memanas-manasinya? Misalnya dengan mengatakan: mari kita cari tahu siapa yang terbaik di antara jago-jago kungfu itu?”

“Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak?”

“Karena engkau bukan saja tidak bisa membujuk dia dengan cara seperti itu, dia juga cerdik sekali, seperti aku.”

Liok Siau-hong tertawa kecil dan meneruskan: “Jika seseorang ingin memanas-manasiku untuk melakukan sesuatu, bisa kukatakan sekarang bahwa dia akan gagal.”

Hoa Ban-lau duduk terdiam selama beberapa saat sebelum berkata dengan lambat: “Kurasa aku punya ide, mungkin kita bisa mencobanya.”

“Ide seperti apa?”

Hoa Ban-lau tidak sempat memberitahukan idenya karena ada gangguan dan serentetan suara jeritan terdengar dari arah pintu depan.

Seseorang berjalan masuk dengan terhuyung-huyung, seorang yang bersimbah darah.

Matahari bulan empat mulai condong ke Barat karena saat itu sudah lewat tengah hari. Sinar matahari dari luar menyinari orang ini, pada tubuhnya yang berlumuran darah, membuatnya bercahaya merah, begitu merahnya sehingga membuat orang jadi bergidik.

Darah keluar dari 17 atau 18 titik yang berbeda; dahinya, hidungnya, telinganya, matanya, mulutnya, tenggorokannya, dadanya, pergelangan tangan, lututnya, kedua pundak, semuanya bersimbah darah.

Bahkan Liok Siau-hong belum pernah melihat orang dengan luka yang begitu banyak, ini adalah sesuatu yang tidak berani dipikirkan orang.

Orang itu pun telah melihat Liok Siau-hong, tiba-tiba dia bergegas ke hadapannya, dan mencengkeram pundaknya dengan kedua tangannya yang penuh darah. “Ge…. ge…..” Tampaknya dia berusaha mengatakan sesuatu.

Tapi dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, karena tenggorokannya telah terbelah dua. Tapi dia masih hidup.

Apakah ini sebuah keajaiban? Atau karena dia ingin mengatakan sebuah kalimat pada Liok Siau-hong sebelum dia mati?

Liok Siau-hong menatap wajah yang tak berbentuk itu dan tiba-tiba berteriak: “Siau Jiu-ih!”

“Ge….. ge…….” Tenggorokan Siau Jiu-ih masih mengeluarkan suara. Matanya yang berlumuran darah tampak penuh dengan rasa takut, murka, dan benci.

“Kau ingin memberitahu sesuatu?” Liok Siau-hong bertanya.

Siau Jiu-ih mengangguk. Lalu tiba-tiba dia mengeluarkan suara lolongan yang keras, lolongan putus asa; lolongan dari seekor serigala yang dulu angkuh, kesepian dan terluka, sebelum ia menyerah dan roboh ke atas tanah yang ditutupi salju.

Tiba-tiba seluruh tubuhnya tersentak, seakan-akan seseorang telah mencambuknya dengan sebuah cambuk yang tak kelihatan.

Apa yang ingin dia beritahukan pada Liok Siau-hong tentu sebuah rahasia yang mengerikan, tapi ia tak akan bisa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Saat tubuhnya menyentuh lantai, tangan dan kakinya melingkar ke tubuhnya karena kesakitan. Darahnya yang merah telah berubah menjadi ungu.

Liok Siau-hong menghentakkan kakinya dan melompat. Tubuhnya yang besar, seperti seekor rajawali raksasa, melompati 4 atau 5 buah meja dan kepala-kepala orang, dan keluar dari pintu depan.

Di jalanan batu itu memang terlihat jejak-jejak darah yang berawal dari tengah jalan menuju ke pintu.

“Tadi ada sebuah kereta lewat di jalan ini, orang itu jatuh dari kereta tersebut.”

“Kereta macam apa?”

“Hitam, dan orang-orang yang mengendarainya berbaju hijau.”

“Mereka pergi ke arah mana?”

“Barat.”

Liok Siau-hong tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi dan mulai berlari ke arah matahari. Sesudah melewati sebuah jalan besar lagi, dia mendengar suara yang sangat gaduh dan jeritan-jeritan dari persimpangan di sebelah kirinya.

Sebuah kereta hitam baru saja menabrak sebuah toko obat, merobohkan beberapa orang dan beberapa buah meja.

Sekarang kudanya telah terjungkal ke tanah, busa putih pun keluar dari mulutnya.

Orang yang mengemudikan kereta itu juga telah roboh, di sudut mulutnya muncul darah. Darah berwarna ungu gelap yang jatuh setetes demi setetes ke bajunya.

Bajunya berwarna hijau. Wajahnya yang kuning tiba-tiba menjadi hitam.

Liok Siau-hong membuka pintu kereta. Di atas jok di dalam kereta itu ada sepasang gaetan perak.

Pada gaetan perak itu terikat sehelai kain kuning, seperti kain yang biasa digunakan oleh pendeta To untuk memanggil arwah. Pada kain itu tertulis dengan darah segar: “Sebuah mata untuk sebuah mata!”

“Ini untuk orang-orang yang ikut campur dengan urusan orang lain!”

______________________________

Gaetan perak itu berkilauan terkena sinar matahari.

Hoa Ban-lau meraba ujung gaetan. “Kau bilang ini gaetannya Kau-hun-jiu?” Ia bertanya dengan suara yang rendah dan lembut.

Liok Siau-hong mengangguk.

“Dan Kau-hun-jiu mati di tangan Siau Jiu-ih?”

“Sebuah mata untuk sebuah mata!” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tapi kalimat lainnya jelas memperingatkan kita untuk tidak ikut campur dalam masalah ini.”

“Kecerdasan orang-orang Jing-ih-lau benar-benar mengagumkan, tapi sayangnya mereka tak bisa menilai orang,” Liok Siau-hong berkata sambil tertawa pahit dan dingin.

“Mereka benar-benar salah menilaimu,” Hoa Ban-lau juga menarik nafas. “Jing-ih-lau seharusnya tidak begitu bodoh dan melakukan hal seperti ini, apakah mereka yakin bahwa mereka bisa menakut-nakutimu?”

“Ini hanya bagus untuk satu orang.”

“Siapa?”

“Tay-kim-peng-ong!”

Ada orang-orang di dunia ini yang terlahir dengan kepingan aneh dan tak bisa dibengkokkan seperti ini di bahunya; semakin engkau berusaha untuk menakut-nakuti dia dan mencegahnya melakukan sesuatu, maka semakin bersemangat ia melakukannya. Liok Siau-hong termasuk orang seperti ini.

Maka, bila sekarang pun engkau menodongkan 180 batang golok ke tenggorokannya, engkau tak bisa mencegahnya ikut campur dalam urusan ini.

Ia mencengkeram gaetan perak itu erat-erat dan tiba-tiba bangkit: “Ayo! Mari kita temui Sebun Jui-soat sekarang. Aku baru saja mendapatkan cara untuk memaksanya.”

“Bagaimana?”

“Jika dia tidak mau membantu, maka aku akan membakar habis Ban-bwe-san-ceng miliknya!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: