Kumpulan Cerita Silat

12/01/2008

Pendekar Baja (06)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:23 am

Pendekar Baja (06)
Oleh Gu Long

“Salah atau tidak dapat kau nilai sendiri,” jengek Kim Bu-bong.

“Bagus,” ucap Sim Long, mendadak ujung jarinya bergetar, sekaligus dia tutuk tiga Hiat-to tidur Kim Bu-bong, cepat sekali tangannya membalik menutuk tiga Hiat-to di tubuh A To pula. Gerakannya cepat dan ketepatan tutukannya sungguh menakjubkan, kontan Kim Bu-bong dan A To jatuh terkulai bersama.

Jit-jit heran, katanya, “Apa yang kau lakukan?”

Sim Long menurunkan nona itu, katanya lembut, “Kau tunggu saja di sini, dalam kuburan ini tiada musuh lain, tidak perlu kau khawatir.”

Terbelalak mata Cu Jit-jit, katanya, “Kau … kau mau lepaskan ….”

“Betul, akan kubebaskan dulu mereka berempat dan suruh mereka segera keluar. Kurasa tidak memakan waktu banyak, sebentar juga aku kembali.”

Semula Jit-jit kelihatan takut, tapi akhirnya dia menghela napas, katanya, “Aku tahu akan kau bebaskan mereka, seperti dicocoki jarum, sedetik saja hatimu tak bisa tenteram bila mereka tidak dilepaskan.”

Sim Long tertawa dan melangkah ke sana, katanya, “Aku akan segera kembali.”

“Tunggu sebentar,” seru Cu Jit-jit.

“Ada apa lagi?”

“Kau … kau ….” sorot mata Jit-jit menampilkan rasa takut dan minta belas kasihan, suaranya gemetar, “Entah kenapa, aku … aku takut, seperti … seperti ada setan mengintip di tempat gelap dan akan … akan mencelakai aku.”

Sim Long tersenyum, katanya lembut, “Anak bodoh, Kim Bu-bong dan A To sudah kututuk Hiat-tonya, apa lagi yang kau takutkan …. Sudahlah, jangan manja, tunggu saja, segera kukembali.”

Setelah mengulapkan tangan bergegas dia pergi.

Jit-jit mengawasi bayangan punggungnya lenyap ditelan kegelapan, entah kenapa, tiba-tiba timbul rasa takutnya, tanpa terasa dia duduk menggigil.

*****

Tombol pada pintu batu itu setelah diputar ke kiri tiga kali, ke kanan satu kali terus didorong ke atas oleh Sim Long, betul juga pintu lantas terbuka, di dalam terdapat sebuah lentera yang masih menyala tapi minyaknya sudah hampir habis, lidah api dan asap tipis bergoyang lembut seperti tarian hantu di udara.

Keadaan sepi, kamar kosong, mana ada bayangan Pui Jian-li dan lain-lain.

Sim Long melongo kaget, dengan cermat dia perhatikan sekelilingnya, debu di lantai memang ada bekas tapak kaki, jelas tadi ada orang berjalan dan duduk di sini, tapi sekarang entah ke mana? Mungkinkah mereka meloloskan diri? Atau ditolong orang? Lalu siapa yang menolong mereka? Sekarang berada di mana?

Semua ini berkelebat dalam benak Sim Long, hatinya terasa dingin, cepat dia lari ke arah datangnya tadi, dalam hati ia berteriak, “Cu Jit-jit, semoga kau tidak kurang suatu apa pun ….” tiba di belokan, dia berhenti, darah juga seperti membeku seketika, Cu Jit-jit yang duduk membelakangi dinding tadi, demikian pula Kim Bu-bong dan A To, ternyata telah lenyap, semua hilang dalam sekejap ini.

Lama Sim Long melenggong di tempatnya, keringat dingin memenuhi jidatnya, mendadak ada suara serak berkumandang di belakangnya, “Lama tak bertemu, Sim-siangkong.”

Begitu mendengar suara itu, seketika timbul rasa muak dan bencinya, sedapatnya Sim Long tahan perasaannya, katanya kemudian dengan tertawa, “Dua hari tidak bertemu, kenapa Kim-heng sudah merasa lama, apa betul Kim-heng begitu rindu kepadaku?”

Suara serak itu berkata dengan tertawa, “Aku memang rindu, kenapa Sim-siangkong tidak membalik badan, supaya dapat kulihat selama dua hari ini, apakah engkau lebih kurus atau tambah gemuk.”

“Terima kasih akan perhatianmu ….” mendadak Sim Long putar tubuh, gerakannya cepat tahu-tahu sudah menubruk ke arah suara itu, sekilas tampak bayangan hitam berkelebat, segera ia mencengkeram ke sana, dengan tepat bayangan itu tertangkap olehnya.

Segera terdengar gelak tertawa dari tempat gelap, kejap lain menyala sebatang obor, tertampak Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan berdiri bersandar dinding dengan santai, tangan kiri memegang obor yang baru saja disulut, tangan kanan memegang tongkat pendek, pada ujung tongkat tergantung sehelai mantel kulit, dan yang terpegang oleh tangan Sim Long adalah mantel kulit itu.

Tampak bangga dan senang Kim Put-hoan, katanya dengan tertawa lebar, “Mantel kulit ini pemberian Siangkong kepadaku tempo hari, apakah sekarang hendak kau minta kembali ….”

Tadi Sim Long mengira aksinya berhasil, baru sekarang dia menyadari Kim Put-hoan adalah manusia licik dan licin, agaknya dia memang sudah mengatur rencananya dengan baik, segera Sim Long berkata dengan tertawa, “Semula kukira Kim-heng, maka kutubruk kemari untuk bermesraan sekejap, tak kira hanyalah mantel kulit saja.”

Lalu dia mengelus mantel kulit kesayangannya dulu, katanya pula dengan tertawa, “Syukur tidak rusak bulu kulitmu, silakan Kim-heng ambil kembali, selanjutnya jangan sampai direbut orang lain.”

“Sim-siangkong memang pandai bicara,” kata Kim Put-hoan dengan tertawa, “mana ada bulu pada kulitku, kulit rase ini justru berasal dari badanmu malah.”

Lalu dia sampirkan mantel itu di atas badan sendiri dan menambahkan, “Namun kulit rase Sim-siangkong ini memang bisa menghangatkan badan.”

Sim Long mengumpat dalam hati, “Keparat ini tidak mau kalah adu mulut.”

Ia tetap tertawa, katanya, “Pepatah bilang, pedang pusaka dihadiahkan kepada pendekar, pupur wangi diberikan kepada perempuan jelita. Dan kulit rase ini memang setimpal diberikan kepada Kim-heng.”

Gayung bersambut, kata berjawab, kedua saling sindir secara tajam dengan sikap ramah dan tertawa. Namun Sim Long tidak menyinggung hilangnya Cu Jit-jit, Kim Put-hoan menjadi kelabakan sendiri, akhirnya dia tidak tahan, katanya, “Nona Cu mendadak lenyap, apakah Sim-siangkong tidak merasa heran?”

Sim Long tersenyum, katanya, “Bila nona Cu sudah dijaga oleh Ji Yok-gi, Ji-siauhiap, kenapa aku harus gelisah ….”

Kim Put-hoan tergelak, “Sim-siangkong memang cerdik, ternyata sudah kau duga Ji-lote juga ikut datang. Ji-lote memang pemuda romantis, dia suka kepada nona Cu, maka keselamatannya tak perlu dikhawatirkan, sekarang keduanya sedang ….” perkataannya diputus oleh gelak tertawanya, diam-diam ia memerhatikan reaksi Sim Long apakah berhasil memancing kemarahannya.

Ternyata Sim Long tetap tersenyum saja, katanya, “Entah bagaimana Kim-heng juga datang kemari, bagaimana dia kenal segala peralatan rahasia dalam kuburan ini? Sungguh aku amat heran.”

Biji mati Kim Put-hoan berputar, katanya dengan tertawa, “Sim-siangkong boleh ikut padaku ….”

Segera ia berjalan di depan dan Sim Long mengikut di belakangnya, cahaya obor menyinari mantel kulit di tubuh Kim Put-hoan.

Sim Long menghela napas, batinnya, “Keparat ini memakai mantelku, uang dalam kantongnya juga milikku, tapi masih berusaha mencelakai aku dengan berbagai akal keji, sungguh jarang ada orang seperti ini.”

Akhirnya mereka masuk ke sebuah kamar batu, pintu memang terbuka, cahaya lampu terang benderang di dalam kamar, Cu Jit-jit, Hoa Lui-sian, Ji Yok-gi, Kim Bu-bong dan A To semua berada di situ.

Hiat-to Kim Bu-bong belum terbuka, Cu Jit-jit sedang mencaci maki, saking malu Ji Yok-gi menyingkir jauh ke samping sana, begitu melihat kedatangan Sim Long cepat dia memburu ke samping Cu Jit-jit, pedang di tangannya lantas mengancam tenggorokan Cu Jit-jit.

Melihat Sim Long, Cu Jit-jit tak berani memaki lagi, wajahnya tampak memelas, sekian lama dia memonyongkan mulut, katanya kemudian, “Aku … kusuruh jangan pergi, sekarang … sekarang ….” segera bercucuran air matanya.

Ji Yok-gi berpaling, agaknya tidak tega melihat si nona menangis.

Kim Put-hoan berdiri di tengah antara Cu Jit-jit dengan Sim Long, katanya sambil menuding sebuah kursi batu di pojok kamar, “Silakan duduk!”

Dengan tersenyum Sim Long melangkah ke sana dan berduduk dengan tenang.

Kim Put-hoan menepuk pundak Ji Yok-gi, katanya, “Saudaraku, bila Sim-siangkong bergerak, kau pun boleh menggerakkan pedangmu, jangan pikir kasihan terhadap paras ayu, kelak masih banyak waktu bagimu untuk bersuka ria ….”

“Aku tahu bagaimana harus bertindak,” ucap Ji Yok-gi.

“Ada beberapa persoalan yang tidak dimengerti oleh Sim-siangkong, kita perlu memberi penjelasan kepadanya, maklum, hatinya lagi penasaran …. Sim-siangkong, biar kumain sandiwara di hadapanmu, perhatikan ya?”

Mendadak dia membuka Hiat-to penidur di tubuh Kim Bu-bong, lalu menutuk pula bagian pinggangnya.

Sim Long tidak tahu apa yang hendak dilakukan Kim Put-hoan, dilihatnya Kim Bu-bong batuk sekali lalu melompat bangun, sorot matanya menyapu pandang sekitarnya.

Lalu ia melototi Sim Long, ketika melihat Kim Put-hoan, seketika wajahnya memperlihatkan rasa kaget, segera dia membentak dan hendak menubruk, tapi lantas roboh terjungkal.

Ternyata tutukan Kim Put-hoan tadi menutup Ciang-bun-hiat, Hiat-to besar bagian pinggang. Ciang-bun-hiat merupakan penyalur darah ke seluruh badan. Bila Hiat-to ini tertutuk, badan bagian bawah akan mati rasa dan tidak mampu bergerak, sakitnya bagai digigiti ribuan semut. Meski Kim Bu-bong adalah laki-laki tabah, begitu dia bergerak seketika dia rasakan kesakitan yang luar biasa sehingga air mata pun meleleh.

Sim Long menyaksikan keadaan Kim Bu-bong, dia membatin, “Kelihatannya kedua orang ini musuh bebuyutan, bahwa Kim Put-hoan menggunakan cara sekeji ini menyiksa lawannya, sungguh tindakan jahat.”

Dari kejauhan Kim Put-hoan gunakan tongkat pendek untuk mengangkat tubuh Kim Bu-bong, katanya tertawa, “Toako bertemu dengan Siaute di sini, apakah kau tidak merasa heran?”

Panggilan ‘Toako’ sungguh membuat Sim Long kaget, sungguh tak terpikir olehnya bahwa kedua orang ini ternyata adalah saudara, pikirnya, “Tindakan Kim Put-hoan menyiksa musuh sudah cukup keji, dengan cara ini dia siksa saudaranya, sungguh lebih rendah daripada binatang.”

Dengan tertawa Kim Put-hoan berkata, “Toakoku ini mengira rahasia jebakan dalam kuburan ini tiada orang mampu memecahkannya kecuali dia sendiri, dia lupa masih punya seorang saudara seperti diriku yang juga ahli dalam bidang ini.”

Kim Bu-bong menggereget, desisnya, “Binatang … binatang, kenapa kau belum mampus?”

“Orang sebaik Siaute, mana tega Thian merenggut jiwaku. Tapi baru berhadapan Toako lantas mengutuk Siaute, bukankah terlalu?”

Kim Bu-bong berkata dengan mendelik, “Ayah menerima kau sebagai anak pungut, diasuh, dididik dan dibesarkan, memberi ajaran kungfu lagi, tak nyana hanya karena ingin merebut warisan ayah sampai hati kau mengatur muslihat mencelakaiku hingga aku tidak punya tempat berpijak dan terpaksa lari ke luar perbatasan, di sana aku pun hampir mati ….” suaranya makin serak dan lirih, saking gemas dia kehabisan tenaga dan tak sanggup melanjutkan perkataannya.

Kim Put-hoan tersenyum, katanya, “Tahukah kau sekarang aku sudah menjadi pendekar besar yang arif bijaksana, dijuluki Kian-gi-yong-wi segala, kau sebaliknya hanya antek Koay-lok-ong yang bangsat itu, demi mengeruk harta, kau sengaja menyiarkan kabar buruk tentang diriku, memangnya siapa yang mau percaya pada obrolanmu? Umpama aku membinasakan kau, orang Kangouw juga pasti memujiku demi menegakkan keadilan tidak pandang bulu, meski saudara sendiri juga tidak segan dihukum …. Hahaha, waktu itu nama julukan Kim Put-hoan tentu akan tambah cemerlang.”

Makin bicara makin senang, akhirnya ia tertawa latah sambil mendongak.

Kim Bu-bong mencaci maki kalang kabut, ternyata Cu Jit-jit juga ikut memaki.

Tiba-tiba Sim Long berkata, “Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain apakah telah Kim-heng bebaskan?”

“Betul, bagaimana Sim-heng bisa tahu?” tanya Kim Put-hoan.

Sim Long tersenyum, katanya, “Setelah membebaskan mereka Kim-heng suruh mereka lekas keluar, bukan saja mereka berterima kasih kepada pertolongan Kim-heng, mereka pun akan pandang Kim-heng sebagai kesatria besar zaman ini, selanjutnya di mana mereka berada pasti akan menyiarkan kebesaran nama Kim-heng, kelak bila Kim-heng mencari mereka, mau uang ada uang, mau pelesir boleh sesuka hati, bukankah caramu ini lebih baik daripada memeras uang mereka …. Ai sayang sekali saudara Kim yang satu ini justru bekerja sebagai pembantu Koay-lok-ong, meski ia juga mengerti akan hal ini, tapi tak mampu berbuat apa-apa, celakanya dia malah diperalat olehmu.”

Kim Put-hoan tertawa, serunya, “Ayah bunda melahirkan aku, dan Sim-heng saja yang dapat menyelami jiwaku.”

Sim Long berkeplok, katanya, “Sungguh hebat peran yang kau mainkan dalam sandiwara ini, kutahu, tidak boleh menonton gratis sandiwara ini, apa kehendak Kim-heng, boleh katakan saja.”

“Sim-siangkong memang pintar, cuma ….” Kim Put-hoan tertawa, lalu meneruskan, “agak terlalu pintar sedikit, maka begitu berhadapan dengan Sim-heng, Cayhe lantas memperingatkan diriku sendiri, ‘Kalau Kim Put-hoan dilahirkan kenapa lahir pula seorang Sim-siangkong? Bila di kalangan Kangouw ada tokoh macam Sim-siangkong, apakah Kim Put-hoan bisa hidup aman dan tenteram?'”

“Banyak terima kasih akan pujianmu.”

“Meski Cayhe bukan orang jahat, tapi demi kehidupan selanjutnya, mau tidak mau timbul pikiran untuk mencelakai jiwa Sim-siangkong, namun dengan kepandaianku sekarang jelas tak mampu mencelakai Sim-siangkong.”

“Kim-heng memang suka bicara blakblakan, sungguh harus dipuji,” kata Sim Long.

“Dan hari ini, kesempatan baik ternyata berada di tanganku,” ujar Kim Put-hoan, mendadak dia melejit ke samping Cu Jit-jit, katanya dengan tersenyum, “Silakan Sim-heng perhatikan, nona Cu ini dari keluarga kaya raya, cantik dan menggiurkan, dia kesengsem padamu, sungguh mujur sekali Sim-siangkong, jika sekarang nona Cu mengalami apa-apa, bukankah patut disayangkan.”

Sengaja Sim Long tertawa, katanya, “Nona Cu baik-baik saja duduk di situ, di bawah perlindungan Ji-siauhiap yang gagah perkasa, masa bisa terjadi sesuatu, apakah Kim-heng bukan lagi berkelakar?”

“Betul, aku memang cuma bergurau,” Kim Put-hoan. Mendadak dia menjatuhkan diri dan menumbuk badan Cu Jit-jit, jidat Cu Jit-jit membentur pedang Ji Yok-gi, kulit badannya yang putih seketika tergores luka dan mengeluarkan darah, Jit-jit mengertak gigi tanpa bersuara, Ji Yok-gi juga kaget.

Kim Put-hoan malah tertawa, katanya, “Jelas aku tidak lagi bergurau, tentu sudah kau saksikan? Cuaca sukar diramal, nasib manusia sulit diduga, bila jatuhku lebih keras, nona Cu secantik bidadari ini mungkin sudah berubah bentuk.”

“Ya, sungguh berbahaya, untung ….”

Mendadak Kim Put-hoan menyeringai, “Urusan sudah begini, kau tidak perlu berlagak-pilon lagi, jika ingin Cu Jit-jit selamat, kau harus menerima tiga syaratku.”

Sim Long tetap kalem, katanya dengan tertawa, “Baru saja Kim-heng bersikap ramah dan sopan terhadapku, kenapa mendadak berubah kasar dan beringas begini, sungguh sedih hatiku.”

Kim Put-hoan tertawa dingin, ia tidak mengacuh lagi, mendadak tangannya melayang ke belakang, “plak”, kontan dia tampar muka Cu Jit-jit.

Berubah air muka Sim Long, tapi segera dia berkata dengan tertawa, “Sebetulnya apa kehendak Kim-heng, tanpa kehadiran nona Cu sekarang juga pasti kuturut saja, kenapa Kim-heng harus bertindak sekasar ini terhadap nona cilik yang lemah ini.”

“Baiklah, dengarkan, pertama, kau harus bersumpah tidak menyiarkan apa yang kau lihat dan dengar di sini.”

“Itu gampang, aku memang bukan perempuan bawel yang panjang lidah.”

“Kedua, selama hidupmu ini kularang mencari perkara kepadaku … apa kau terima?”

“Baiklah.”

Timbul senyuman misterius dan licik pada wajah Kim Put-hoan, katanya pula, “Kurasa terlalu mudah kau terima syaratku ini, sekarang aku jadi sangsi, orang she Kim biasa hidup prihatin, sesuatu yang tidak aman tidak nanti kukerjakan.”

“Cara bagaimana baru Kim-heng merasa aman?”

Mendadak Kim Put-hoan mengeluarkan sebilah badik dan dilempar ke hadapan Sim Long, katanya dingin, “Jika kau mati, tentu aku merasa aman, tapi kau tidak pernah bermusuhan denganku mana tega aku menghabisi jiwamu, biarlah hari ini aku berlaku bijaksana, aku hanya menuntut sebelah tanganmu yang biasa memegang pedang, bila kau tebas putus tanganmu sebatas sikut, Cu Jit-jit tanpa kurang suatu apa akan kukembalikan dan segera kuantar kalian keluar dari kuburan kuno ini.”

Darah berlepotan di muka Cu Jit-jit, pipinya juga sembap, namun dia tetap melotot, kini pun berteriak, “Kau … jangan kau terima syaratnya ….”

Belum habis dia bicara, “plak”, kembali Kim Put-hoan menggamparnya.

Jit-jit berteriak serak, “Pukul … biarkan aku dipukul mampus … jangan kau pedulikan diriku, lekas … lekas kau pergi saja, kawanan binatang ini takkan kuasa mengalangi dirimu.”

Kulit muka Sim Long berkerut menahan emosi, namun tetap berkata dengan kalem, “Anggota badan ini pemberian ayah bunda, mana boleh sembarang kurusak sendiri, apalagi bila lengan kananku ini buntung, bukankah dengan mudah Kim-heng akan menamatkan jiwaku? Kukira aku masih harus ….” mendadak dia melompat bangun.

Tapi baru tubuhnya bergerak, tangan Kim Put-hoan lantas menjambak rambut Cu Jit-jit, tangan kanan mengeluarkan lagi sebilah badik dan mengancam tenggorokan Jit-jit, desisnya, “Ji-lote mungkin seorang penyayang si cantik, tapi aku ini laki-laki kasar, berani kau bergerak, nona cantik ini segera akan menjadi mayat.”

Terkepal tinju Sim Long, tapi tidak berani bertindak maju.

Dilihatnya Jit-jit telah diseret jatuh, dadanya naik turun, air mata berlinang di pelupuk matanya, tapi mulutnya berpekik serak, “Jangan hiraukan diriku … lekas … lekas pergi ….”

Seperti ditusuk jarum pedih hati Sim Long, tanpa kuasa dia menyurut balik dan duduk kembali di kursinya dengan lesu.

“Kalau tidak kau terima syaratku, apa boleh buat, terpaksa biar kau duduk di situ dan saksikan permainan sandiwara babak selanjutnya ….” di mana badik di tangannya bergerak, kain baju depan dada Jit-jit seketika sobek dan terbuka, maka tertampaklah dada yang montok tepat di sela buah dada tergores sejalur garis merah, darah mengalir turun ke perut.

Cu Jit-jit menjerit kalap, suaranya berubah rintihan.

Ujung badik Kim Put-hoan masih bergerak turun, jengeknya, “Setuju tidak ….”

Di tengah rintihan Cu Jit-jit berteriak pula, “Kau … jangan kau terima … jika lenganmu buntung … mereka pasti membunuhmu … lekas pergi ….”

Kim Put-hoan menyeringai, katanya, “Kau tega melihat penolong jiwamu dahulu dan juga kekasihmu ini tersiksa? ….” kembali badiknya diturunkan lebih ke bawah hingga mencapai pusar, darah sudah membasahi badannya yang putih halus dan menimbulkan perpaduan warna yang kontras, lukisan yang keji dan siksa yang keterlaluan.

Mendadak Sim Long mengertak gigi, dia jemput badik tadi seraya berseru, “Baik, kuterima!”

“Akhirnya kau menyerah juga,” seru Kim Put-hoan bergelak tertawa.

“Jangan … jangan … jiwamu ….” Jit-jit menjerit-jerit.

Sampai Kim Bu-bong juga memejamkan mata karena tidak tega menyaksikannya.

Begitu memegang badik, kelima jari Sim Long sampai memutih, ototnya merongkol, tangan gemetar, keringat memenuhi dahi.

Mendadak sinar putih berkelebat, “trang”, Jit-jit menjerit … di tengah jeritan itulah badik di tangan Kim Put-hoan ternyata terpukul jatuh oleh pedang panjang Ji Yok-gi.

Keruan Kim Put-hoan berjingkrak gusar, “Kau … gila!”

Kelam wajah Ji Yok-gi, dampratnya bengis, “Semula kukira kau ini manusia, tak tahunya lebih rendah daripada babi dan anjing. Ji Yok-gi adalah laki-laki sejati, mana sudi berbuat sejahat ini.”

Mulut bicara, sinar pedang pun berkelebat, dalam sekejap Ji Yok-gi menyerang tujuh kali.

Kejut dan girang sekali Sim Long, dilihatnya Kim Put-hoan dikurung sinar pedang dan mundur kerepotan, lekas ia melompat ke samping Jit-jit dan merapatkan pakaiannya. Rasa takut dan panik Jit-jit belum hilang, berada dalam pelukan sang kekasih, tak tertahan lagi dia melepaskan tangisnya.

Gusar Kim Put-hoan makinya, “Binatang, makan dalam bela luar. Memangnya kau lupa betapa besar rencana kita bila berhasil, masa kau lupa bila Sim Long mampus, Cu Jit-jit bakal jatuh ke tanganmu? …. Berhenti, lekas berhenti!”

Ji Yok-gi mengertak gigi tanpa bicara, bukan berhenti, serangannya malah tambah gencar, dia berjuluk Sin-kiam-jiu (si Pedang Sakti), ilmu pedangnya memang hebat, dibakar marah lagi, maka dia mainkan jurus Siu-hun-toh-bing-kiam (pedang perampas nyawa) yang jarang dia keluarkan, sesuai namanya ilmu pedangnya memang ganas dan keras.

Jiwa Kim Put-hoan memang jahat, tapi kungfunya juga tidak rendah, walau dalam keadaan tidak siaga dan dicecar lebih dulu, setelah agak tenang, segera dia kembangkan Khong-jiu-jip-pek-to dan Cip-pwe-loh-te-jiat-jiu (berkelahi dengan tangan kosong) dari Kay-pang, dengan tangkas dia bergerak di tengah sambaran sinar pedang Ji Yok-gi, dan ternyata masih mampu balas menyerang juga.

Jit-jit menahan tangisnya, katanya, “Jang … jangan kau urus diriku, lekas bekuk bangsat Kim Put-hoan itu, akan … akan kubeset kulitnya baru terlampias dendamku.”

Sim Long menyahut lembut, “Baik, kau tunggu ….” baru dia berdiri, dilihatnya Kim Put-hoan balas menyerang tiga kali lalu menyurut mundur tiga langkah, bentaknya, “Berhenti, dengarkan perkataanku.”

“Kau sekarang ibarat ikan dalam jaring atau kura dalam kuali, apa pula yang ingin kau katakan?” jengek Ji Yok-gi.

Kim Put-hoan tertawa, katanya, “Perlu kuberi tahu padamu, akan datang satu hari kau akan menyesal ….” mendadak badannya menempel dinding di belakangnya terdengar “krak” sekali, dinding batu di belakangnya mendadak terbuka, kontan Kim Put-hoan menyelinap ke belakang.

Waktu Ji Yok-gi memburu maju dengan tebasan pedang, dinding batu itu segera merapat hingga pedangnya mengenai dinding.

Sim Long mengentak kaki, katanya dengan gegetun, “Celaka, kenapa aku melupakan hal ini.”

“Kita kejar ….” teriak Ji Yok-gi.

Tiba-tiba Kim Bu-bong berkata, “Jalan rahasia dalam kuburan ini banyak ragamnya, mana bisa kalian mengejarnya?”

Ji Yok-gi gusar, semprotnya, “Kau tahu hal ini, kenapa tidak sejak tadi kau katakan?”

Dingin suara Kim Bu-bong, “Yang menjadi saudaraku dia atau kau?”

Sim Long tertawa getir, ujarnya, “Betul, dalam hal ini Ji-heng tidak boleh menyalahkan dia ….”

Ji Yok-gi menghela napas, “trang”, pedang panjang mengetuk lantai.

Jit-jit mengomel, “Kaulah yang salah, jika kau tidak urus diriku, mana dia mampu melarikan diri?”

Sambil tertawa getir, Sim Long memeluk pundaknya, katanya lembut, “Jangan khawatir, suatu hari aku pasti dapat membekuk orang ini, akan kutaruh dia di bawah kakimu, terserah bagaimana akan kau hukum dia, supaya rasa dendam dan penasaranmu terlampias.”

Jit-jit mendekap dalam pelukannya, katanya tiba-tiba, “Sekarang aku malah tidak lagi membencinya …. Bukan saja tidak benci, malah aku harus berterima kasih kepadanya.”

Sim Long heran, katanya, “Lho, kenapa begitu, sungguh aku tidak mengerti.”

“Kalau dia tidak berbuat sekeji itu padaku, mana kutahu betapa baiknya kau terhadapku? Biasanya kau dingin dan kaku, tapi hari ini kau rela mati demi diriku …. Setelah tahu hal ini, meski lebih menderita lagi juga tidak menjadi soal.”

Perlahan dia memejamkan mata, bulu matanya yang panjang masih dibasahi air mata, pipinya yang sembap bersemu merah dengan senyuman manis.

Menyaksikan si nona menderita tadi, keadaannya mengenaskan, tapi sekarang semua itu telah dilupakannya, dari sini terbukti betapa besar cintanya kepada Sim Long, asal Sim Long baik terhadapnya, maka dia puas melebihi apa pun. Tentang bagaimana sikap orang lain terhadapnya, baik atau jahat, hakikatnya tidak dipikir lagi. Hal ini mau tak mau membuat patah semangat Ji Yok-gi, dengan wajah guram dia mendekati Sim Long, katanya sambil menghela napas, “Karena pikiran sesat, Siaute telah diperalat oleh manusia jahat, sungguh aku sangat menyesal.”

Sim Long tertawa lantang, katanya, “Ji-heng tahu salah dan segera bertobat, keberanianmu ini patut dipuji, selanjutnya hendaknya kau pandai menempatkan diri, kelak pasti menjadi pendekar ternama, aku bersyukur hari ini dapat berkenalan dengan Ji-heng.”

“Jika demikian, aku ….” mendadak dia melirik ke arah Cu Jit-jit, mulutnya lantas terkancing, lekas dia putar badan dan melangkah keluar.

“Ji-heng, tunggu sebentar ….” teriak Sim Long.

“Gunung tinggi air mengalir, kelak masih sempat bertemu, semoga Sim-heng hidup rukun sampai tua dengan nona Cu ….” belum habis ucapannya bayangannya sudah tidak kelihatan.

Cu Jit-jit tertawa manis, katanya, “Sebetulnya dia juga orang baik, kelak kita harus membuatnya ….”

Sim Long tertawa getir, katanya, “Sudah untung bila kita tidak minta bantuan orang.”

Mendadak Kim Bu-bong menimbrung dengan suara dingin, “Orang lain sudah pergi, sekarang apa yang akan kau perlakukan kepadaku, boleh lekas turun tangan saja ….”

Sim Long tersenyum, ia lantas membuka Hiat-to orang malah.

Keruan Kim Bu-bong melenggong.

Sim Long tertawa, katanya, “Selamanya aku tidak mau kurang adat kepada kaum pendekar di jagat ini, Kim-heng adalah seorang Enghiong, sepatutnya aku menghormati dirimu.”

Terbayang rasa terima kasih di mata Kim Bu-bong, namun sikapnya tetap dingin, katanya, “Aku sudah menjadi tawananmu, terhitung Enghiong macam apa?”

Sim Long tersenyum tanpa bicara, tangan orang juga dilepaskan.

Jit-jit kaget, serunya, “Hah, kau tidak khawatir dia lari?”

Tapi Kim Bu-bong tetap berdiri dan tiada maksud melarikan diri, air mukanya tampak berubah hijau, akhirnya berkata, “Aku tahu sikapmu terhadapku ini pasti mengandung maksud tertentu, tapi secara jantan kau perlakukan diriku, memangnya aku harus memperlakukan dirimu sebagai manusia rendah? Apa kehendakmu, silakan bicara saja.”

Sim Long tersenyum, katanya, “Tolong tunjukkan jalan keluar kuburan kuno ini.”

Kim Bu-bong juga tidak bicara lagi, dia membuka Hiat-to A To, mengambil lentera dari dinding terus melangkah keluar.

Sim Long menggendong Jit-jit, akhirnya Cu Jit-jit tak tahan dan berbisik di pinggir telinganya, “Kau tidak khawatir dia lari?”

“Dalam keadaan seperti ini, dia pasti tidak lari,” ujar Sim Long.

Jit-jit menghela napas, katanya, “Perbuatan kaum lelaki memang membingungkan, aku pun menjadi rada … rada pusing.”

“Memangnya berapa banyak pula lelaki di dunia ini yang dapat menyelami hati perempuan?!” sahut Sim Long.

“Satu pun tidak ada, termasuk kau, tapi … hatiku terhadapmu, masa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?”

Sim Long seperti tidak mendengar, Jit-jit buka mulut hendak menggigit kupingnya, tapi begitu bibirnya menyentuh kuping orang, dia malah menciumnya, katanya mesra, “Lekas jalan.”

“Masih ada seorang di sini, masa kau lupa?”

Melotot mata Cu Jit-jit mengawasi Hoa Lui-sian yang pingsan karena ditutuk Kim Bu-bong tadi, katanya benci, “Manusia tidak kenal budi, biarkan mati di sini ….”

Sim Long tidak lantas bergerak, segera Jit-jit mendorongnya, “Kenapa melamun, lekas bawa dia?”

Sim Long tertawa geli, katanya, “Katamu tidak, kenapa menolongnya pula. Adakalanya mencintainya setengah mati, mendadak membencinya pula supaya dia lekas mampus … itulah hati perempuan yang sukar diraba?”

Segera dia kempit Hoa Lui-sian dan melangkah pergi. Dengan memegang lentera Kim Bu-bong menunggunya di luar pintu.

Jit-jit tidak melihat A To, dia berkerut kening dan bertanya, “Mana setan cilik itu?”

“Setan cilik ada di sini!” seorang segera menjawab dengan tertawa di belakang.

Tampak A To berlari keluar dari pojok sana dengan membawa bungkusan besar kain hijau yang berat, memanggul sebuah gendewa berbentuk aneh, panjang gendewa lebih tinggi daripada perawakannya, demikian pula buntelan berat itu lebih besar daripada perutnya, tapi gerak-gerik A To tetap enteng dan cekatan, jelas Ginkangnya sudah punya dasar yang kuat.

Jit-jit membatin, “Anak ini pintar dan lincah, Lo-pat tentu senang padanya ….”

Teringat kepada adiknya, ia menjadi khawatir dan marah, katanya, “Bila Lo-pat mengalami sesuatu, coba saja kalau aku tidak membeset kulit Hoa Lui-sian.”

Setiap timbul kemarahannya selalu dia menyumpah ruah mau menguliti orang, padahal bila ada orang dikuliti, mungkin dia akan lari lebih dulu daripada orang lain.

Dengan membawa lentera Kim Bu-bong jalan di depan, agaknya dia amat hafal segenap pelosok kuburan kuno ini, di bawah cahaya lampu baru sekarang Sim Long sempat memerhatikan bangunan ini ternyata teramat megah dan tidak kalah dibandingkan makam raja di zaman dahulu, alat rahasia yang dipasang di sini justru lebih lihai dan rumit. Mengagumi betapa besar proyek kuburan ini, Sim Long berkata dengan gegetun, “Entah karya raja dinasti manakah kuburan sebesar ini?”

“Dari mana kau tahu ini kuburan raja?” tanya Jit-jit.

“Untuk membangun proyek sebesar ini, bukan saja memerlukan tenaga dan keuangan yang besar, jiwa manusia pasti juga tidak sedikit dikorbankan di sini, coba lihat saka dan pilar ini, demikian pula lampu minyak itu, setiap karya di sini adalah hasil seni yang luar biasa, kecuali keluarga raja, siapa pula yang mampu mengerahkan tenaga manusia dan mengeluarkan biaya sebesar ini ….”

“Kau keliru,” tiba-tiba Kim Bu-bong menukas.

Sim Long melengak, “Masa bukan kuburan raja?”

“Bukan kuburan raja tapi kuburan Bu-lim-ci-cun ….” sejenak dia merandek, lalu menyambung dengan lebih kereng, “Apakah kau pernah dengar nama kebesaran Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun?”

“Per … pernah dengar,” Sim Long tergegap.

“Kaum persilatan hanya tahu keluarga Sim adalah keluarga besar paling tua dalam sejarah dunia persilatan. Anak murid keluarga Sim selama dua ratusan tahun pernah mengalami tujuh kali petaka besar, tapi tujuh kali pula dapat menanggulangi bencana yang menimpanya, cerita ini cukup diketahui umum. Di luar tahu orang banyak bahwa di kalangan Kangouw juga terdapat sebuah keluarga turun-temurun, bukan saja wibawa, kekayaan dan kungfunya tidak lebih asor daripada keluarga Sim, malah sejarah keluarga besar ini dimulai dari dinasti Han atau Tong.”

“Maksudmu apakah keluarga besar Ko dari Tionggoan?” tanya Sim Long.

“Betul, kuburan raksasa ini memang betul dibangun oleh keturunan terakhir keluarga besar Ko untuk tempat semayam jenazahnya.”

“Keturunan terakhir? …. Apakah Ko San-ceng?”

“Memang dia, orang ini berbakat besar, kungfunya menggetar dunia, pada waktu keluarga Ko berada di zamannya, kebesaran nama keluarga mereka menjulang tinggi, tak nyana pada masa tuanya, entah kenapa sifatnya berubah suka menyendiri dan nyentrik, percaya kepada takhayul, menyembah setan dan jin, hingga lupa makan dan tidur, seluruh harta bendanya dipergunakan untuk membangun kuburan ini, malah anak keturunannya pun tiada yang tahu akan letak kuburan misterius ini.”

Jit-jit menimbrung, “Kenapa begitu? Memangnya dia tidak ingin keturunannya menyembah dan berbakti kepadanya?”

“Soalnya dia terlalu takhayul, dia percaya manusia mati jika harta benda juga dibawa ke liang kubur, kelak bila menitis kembali dia tetap akan dapat memanfaatkan harta peninggalannya itu, maka dia tidak ingin keturunannya tahu tempat penyimpanan hartanya, dia khawatir anak cucunya mencuri harta yang dibawanya ke liang kubur ini.”

Jit-jit tertarik, tanyanya pula, “Tapi orang yang menguburnya tentu juga tahu ….”

“Sebelum dia mati, seluruh harta kekayaan dan pelajaran ilmu silat warisan keluarganya telah dipindah ke dalam kuburan ini, lalu dia tutup kuburan dari dalam, di sini dia menunggu ajalnya sendiri ….”

“Gila,” seru Jit-jit, “orang itu benar-benar orang gila.”

Kim Bu-bong menghela napas, katanya, “Benar, keluarga besar yang turun-temurun selama ratusan tahun tetap jaya tiada bandingan, akhirnya habis di tangan si gila ini, untuk mencari kuburan besar ini, keturunan keluarga Ko entah keluarkan berapa besar tenaga dan pikiran, ilmu silat warisan keluarga mereka pun diabaikan, di antara dua generasi mereka ada sebelas orang menjadi gila, waktu cucu Ko San-ceng masih hidup, keluarga besar Ko sudah merosot pamornya, tempat tinggal terakhir milik mereka pun sudah dijual untuk membayar utang, keluarga besar yang semula jaya dan kaya telah ludes benar, tidak sedikit keturunannya yang menjadi pengemis, kebesaran nama keluarga mereka sebagai kaum persilatan ternama juga putus turunan.”

Sampai di sini cerita Kim Bu-bong, waktu Cu Jit-jit angkat kepala, cahaya terang di mulut kuburan sudah kelihatan, dia menarik napas panjang, hatinya tidak merasa lega, tapi malah merasa kesal.

“Keturunan keluarga Ko sendiri harus disalahkan, mereka tidak berusaha membangun kembali kejayaan keluarga, malah rela menjalani kemiskinan.”

“Kalau aku jadi keturunannya, bila tahu kakek moyang menyimpan harta kekayaan sebesar itu, tentu apa pun aku tidak mau bekerja, ini sudah menjadi sifat manusia, mana boleh kau salahkan mereka,” demikian debat Jit-jit.

Sim Long menghela napas sambil menggeleng kepala, dua langkah berjalan mendadak dia berhenti, katanya, “Selama seratus tahun ini, kan tiada orang masuk kuburan ini?”

“Waktu kusuruh orang membuka kuburan ini, secara cermat telah kuselidiki, kuyakin kuburan ini tidak pernah diinjak manusia. Peti jenazah Ko San-ceng tidak tertutup rapat, ini membuktikan sebelum sempat dia tutup rapat peti mati sendiri, napas sudah putus lebih dulu. Jenazah Ko San-ceng tinggal tulang belulangnya saja, di pinggir peti kutemukan sebuah cangkir batu kemala yang pecah karena jatuh waktu jiwanya melayang. Lebih penting lagi alat rahasia di sini tiada tanda-tanda pernah digerakkan …. Dari berbagai bukti ini berani kupastikan bahwa selama ratusan tahun kuburan ini belum pernah dijelajahi manusia.”

“Kalau begitu, lalu di mana harta kekayaan dan Bu-kang-pit-kip (kitab ilmu silat) itu? Pasti masih tersimpan dalam kuburan ini, cuma Kim-heng belum menemukannya,” demikian kata Sim Long dengan berkerut kening.

Kim Bu-bong tertawa dingin, katanya, “Untuk ini tidak perlu khawatir, kalau benar dalam kuburan ini menyimpan harta karun, aku pasti dapat menemukan, jika sekarang aku tak menemukan apa-apa, ini membuktikan kuburan ini memang kosong melompong.”

Lama Sim Long termenung, katanya kemudian, “Kalau orang lain bilang demikian tentu aku tidak percaya. Tapi apa yang Kim-heng katakan kuyakin tidak salah, cuma, lantas di mana harta karun itu? Mungkin tidak dibawa masuk kuburan? Atau harta kekayaannya habis untuk membangun kuburan ini?”

Mendadak dia menghela napas, lalu berkata pula, “Ai, harta benda orang lain buat apa aku memikirkannya?”

Mengikuti langkah Kim Bu-bong, dia melompat keluar kuburan kuno itu.

Hujan salju sudah berhenti, mentari memancarkan cahayanya yang benderang.

Jit-jit tertawa senang, katanya, “Sifatmu inilah yang menarik hatiku, persoalan apa pun dapat kau angkat dan rela meletakkan pula, urusan yang mungkin dipikir orang hingga belasan tahun, tapi dalam sekejap dapat kau lepaskan begitu saja ….” sampai di sini suaranya berubah khawatir, “Tapi jangan kau lupakan Lo-pat, adikku. Lekas, lekas buka Hiat-to Hoa Lui-sian, tanya padanya, di mana dia menyembunyikan Lo-pat?”

Setelah Hiat-to terbuka, keadaan Hoa Lui-sian masih lemah, berdiri pun tidak tegak. Jit-jit lantas membentak, “Di mana Lo-pat, lekas katakan!”

Hujan salju meski sudah berhenti, namun hawa tetap amat dingin, walau kedinginan, tapi Jit-jit tidak pikir lagi, dia khawatirkan keselamatan Hwe-hay-ji, si anak merah.

Dia sangat gelisah, Hoa Lui-sian justru malas-malasan, katanya dingin, “Kepalaku pening, mana bisa ingat di mana kusembunyikan dia?”

“Kau … kau … biar kubunuh kau,” desis Jit-jit.

“Apa gunanya kau bunuh aku? Nanti bila pengaruh obat bius hilang, otakku jadi terang, kalau tidak ….”

Sim Long menukas, “Katakan di mana kau sembunyikan Lo-pat, sebelum pengaruh obat bius hilang, aku bertanggung jawab atas keselamatanmu.”

Dia tahu Hoa Lui-sian licik dan banyak perhitungan, tentu dia khawatir setelah menyerahkan Hwe-hay-ji, umpama Jit-jit tidak mencelakainya, pada saat tenaga belum pulih, bisa celaka juga bila kebentur musuh. Sebaliknya bila Hwe-hay-ji masih berada di tangannya, betapa pun Cu Jit-jit dan Sim Long pasti akan melindungi dia.

Rupanya ucapan Sim Long telah membongkar isi hatinya, mau tak mau berubah juga air mukanya, bola matanya berputar, sesaat dia berpikir, akhirnya berkata, “Bagaimana pula bila Lwekangku pulih?”

Jit-jit berkata, “Setelah Lwekangmu pulih, aku menuju ke arahku dan kau boleh pergi sesukamu, buat apa aku menahanmu?”

Hoa Lui-sian berpikir pula sejenak, katanya kemudian, “Baiklah, mari ikut padaku!”

Setelah setengah hari, pengaruh obat bius mulai lemah, walau sekarang dia belum bebas bergerak, tapi untuk berjalan sendiri sudah mampu. Demikian pula Cu Jit-jit, sebetulnya sudah bisa jalan, tapi dia justru masih ngendon di punggung Sim Long dan tidak mau turun, tangannya malah memeluk leher orang dengan lebih kencang.

Kim Bu-bong ikut di belakang mereka, air mukanya kaku, tampaknya tidak berniat lari, A To juga mengintil di belakangnya, berulang ia menggerundel, “Kalau aku tentu sudah tinggal pergi, untuk apa ikut orang? Memangnya menunggu digorok lehernya?”

Kim Bu-bong diam saja, anggap tidak mendengar ocehannya.

Hoa Lui-sian menyusuri lereng gunung menuju ke bawah tebing yang tingginya puluhan tombak, setiba di depan sebuah batu besar persegi baru berhenti, katanya, “Pindahkan batu ini, di bawahnya ada lubang, adik mestikamu itu berada di dalam …. Hm, lucunya, aku membungkus tubuhnya dengan mantel kulit itu, sekarang aku sendiri kedinginan, bukankah penasaran?”

Melihat lubang di bawah batu masih utuh dan rapat, lega hati Cu Jit-jit, jengeknya, “Hm, penasaran apa? Jangan lupa siapa yang memberi mantel itu …. Sim Long, ayo geser batu itu.”

Sim Long menoleh ke arah Kim Bu-bong dengan tertawa, sebelum dia bicara, Kim Bu-bong sudah menghampirinya, sekenanya tangannya menepuk batu besar itu, kelihatannya dia tidak mengeluarkan tenaga, tapi batu seberat tiga ratusan kati itu tertolak dan menggelinding ke samping.

Sim Long berseru memuji, “Pukulan hebat ….”

Belum lenyap suaranya mendadak Jit-jit menjerit, Hoa Lui-sian terbeliak kaget, berubah air mukanya. Lubang itu ternyata kosong, Hwe-hay-ji entah hilang ke mana?

“Nenek setan, nenek bejat, kau … kau berani menipuku!” damprat Jit-jit.

Hoa Lui-sian juga kebingungan, katanya, “Aku … jelas kusembunyikan dia ….”

“Sembunyikan apa?” damprat Cu Jit-jit, “buktinya adikku tidak terdapat di sini …. Di mana kau sembunyikan Lo-pat? Lekas … lekas cari! Lekas kembalikan dia!”

Hoa Lui-sian jadi gugup, katanya, “Buat apa kudusta, memangnya aku tidak ingin hidup … mungkin dia membuka Hiat-to sendiri dan … dan mendorong batu besar ini terus melarikan diri.”

Kim Bu-bong menjengek, “Kalau dia mampu lari sendiri, buat apa menutup pula batu ini?”

“Betul, apalagi usianya sekecil itu, mana mampu membebaskan Hiat-to sendiri, Sim Long, bunuh dia, lekas bunuh nenek setan ini!”

Sim Long menghela napas, katanya, “Sekarang biar dibunuh juga percuma. Menurut hematku, Hoa Lui-sian tidak berbohong, adikmu mungkin … mungkin jatuh ke tangan orang lain.”

Hoa Lui-sian menghela napas lega, katanya, “Sim-siangkong memang adil.”

“Lalu bagaimana … lekas cari akal!” seru Jit-jit gelisah.

“Tergesa-gesa juga tidak berguna, carilah akal perlahan ….”

“Cari akal masa harus perlahan? Jiwa Lo-pat mungkin tidak tertolong lagi …. Kau tega … tega berkata demikian ….” akhirnya pecah tangis Jit-jit.

Kim Bu-bong berkerut kening, katanya, “Biarkan dia tidur saja!”

“Ya, itulah cara terbaik,” ujar Sim Long.

Kim Bu-bong segera mengebaskan lengan bajunya menutuk Hiat-to penidur Cu Jit-jit, tangis Cu Jit-jit akhirnya berhenti, kelopak mata pun terpejam, sekejap saja sudah pulas dalam gendongan. Air matanya yang tersisa menetes di pundak Sim Long dan beku menjadi butiran es.

Kim Bu-bong mengawasi Hoa Lui-sian, katanya perlahan, “Cara bagaimana Sim-heng akan bereskan dia?”

Melihat sorot mata orang yang tajam dingin tanpa terasa Hoa Lui-sian menggigil, di bawah cahaya matahari baru dia melihat jelas tampang Kim Bu-bong ternyata aneh, ganjil dan menakutkan.

Jika kuping, hidung, mata dan mulutnya dipandang satu per satu, kelihatannya memang tiada beda dengan indra orang lain. Tapi kenyataan kedua daun kupingnya besar-kecil, demikian pula biji matanya satu besar mendelik dan yang lain kecil sipit, hidungnya menonjol besar seperti terung, bibirnya justru tipis seperti pisau, letak kedua mata pun kalau diukur ada sebesar telapak tangan jauhnya, bola mata kiri bundar mendelik seperti kelintingan, sementara mata kanan sipit segitiga. Mungkin tatkala Thian mencipta umatnya yang satu ini, karena kurang hati-hati hingga pancaindra lima-enam orang yang berbeda keliru diterapkan padanya, perempuan siapa saja atau anak kecil bila melihat wajahnya di tengah malam gelap pasti akan menjerit ketakutan seperti melihat setan.

Makin tidak ingin melihat wajah orang, Hoa Lui-sian jadi makin tertarik untuk memandangnya, makin mengirik, semula dia siap melontarkan caci makinya kepada Kim Bu-bong yang mencampuri urusan orang lain, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa kelu, sepatah kata pun tak mampu diucapkan.

A To juga menatap majikan atau gurunya ini dengan terbelalak kaget, seperti heran kenapa Kim-loya (juragan Kim) yang biasanya tinggi hati, tidak pernah tunduk kepada orang lain sekarang sedemikian penurut pada Sim Long.

Sim Long tersenyum, katanya, “Kalau Kim-heng menjadi diriku entah cara bagaimana akan kau bereskan dia?”

“Bunuh saja habis perkara daripada menjadi beban, atau tinggalkan saja di sini,” sahut Kim Bu-bong.

Keruan Hoa Lui-sian ketakutan, teriaknya, “Dar … daripada aku ditinggalkan di sini, lebih baik kau bunuh aku saja?”

Maklum, sekarang tubuhnya lemas lunglai, berbaju tipis, umpama tiada ditemukan musuh, ia pun tak kuat menahan hawa dingin dan bakal mati kedinginan tertimbun salju.

Kim Bu-bong menjengek, “Huh, Ciang-tiong-thian-mo ternyata juga takut mati … sambutlah!”

Dia lepaskan ikat pinggang, seperti cambuk saja dia lempar ke sana, cepat Hoa Lui-sian menyambutnya, tapi tidak tahu apa maksud orang.

Sim Long tertawa, katanya, “Kim-heng sudah mengampuni jiwamu, lekas ikat tali pinggang itu di tanganmu, tentu Kim-heng akan membantumu.”

Kim Bu-bong berkata, “Kalau Sim-heng tidak bermaksud membunuhnya, terpaksa aku membawanya saja.”

Sim Long tertawa, katanya, “Siapa nyana Kim-heng dapat menyelami perasaanku, sungguh seorang sahabat baik.”

Apa boleh buat terpaksa Hoa Lui-sian mengikat tali pinggang itu pada tangannya, selama hidupnya tak terhitung jiwa manusia direnggut atau dilukainya, dia anggap selama ini dirinya tak takut mati, sekarang menghadapi saat mati hidup baru dia sadar “tidak takut mati” hanya omong kosong belaka.

Kim Bu-bong berkata pula, “Sejak dahulu manusia mana yang tidak mati, kalau Hoa Lui-sian takut mati, memangnya aku tidak takut? Sim-heng telah membebaskan jiwaku, mana boleh kulupakan budimu, ke mana Sim-heng hendak pergi akan kuturut untuk mengabdi.”

Sim Long tertawa, katanya, “Kalau aku tidak percaya Kim-heng adalah seorang lelaki yang tegas membedakan budi dan dendam, mana aku bersikap sebebas ini terhadap Kim-heng? …. Marilah kita tinggalkan dulu tempat ini.”

Segera ia berjalan cepat, Kim Bu-bong menarik Hoa Lui-sian ikut di belakang.

Alam sekitarnya sunyi, tapi tanah bersalju penuh tapak kaki yang semrawut, jelas Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain pergi dalam keadaan runyam.

Selepas mata memandang Sim Long mendapatkan perbedaan tapak kaki yang mencolok antara yang datang dan pergi, waktu datang tapak kaki tampak ringan dan bekasnya cetek, jarak kaki yang satu dengan yang lain kira-kira ada lima-enam kaki, tapi tapak kaki waktu pergi ternyata ambles lebih dalam, jarak satu dengan yang lain juga lebih pendek, ini menandakan tapak kaki Pui Jian-li dan lain-lain waktu pulangnya sudah terluka sehingga langkah kakinya tampak berat.

Sedikit merenung, Sim Long tertawa sambil menoleh, katanya, “Hebat benar tindakanmu, Kim-heng.”

Kim Bu-bong melengak, katanya, “Apakah maksud perkataan Sim-heng?”

“Semula kukhawatir Pui Jian-li akan putar balik mencari perkara kepada nona Cu, kini setelah mereka terluka oleh Kim-heng, maka legalah hatiku.”

“Cayhe tidak pernah turun tangan, apalagi melukai mereka?” jawab Kim Bu-bong.

Sim Long terperanjat, pikirnya, “Kalau dia bilang tidak, kupercaya bukan dia yang melukai Pui Jian-li dan lain-lain, lalu siapa yang melukai mereka? Kim Put-hoan jelas tidak mampu melukai orang sebanyak itu?” – merasa aneh, tanpa terasa dia mengendurkan langkah.

Selama itu mereka sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Mendadak tampak sesosok bayangan meluncur datang. Semula hanya kelihatan setitik kecil dan samar-samar, tapi cepat sekali bayangan itu sudah tiba di depan mata, ternyata putri Loan-si-sin-liong, atau istri Thi Hoat-ho, nyonya cantik yang mukanya ada bekas luka, dia menggendong putrinya, Ting-ting, wajahnya kelihatan gelisah dan bingung, melihat Sim Long seperti melihat sanak kadang, segera ia berhenti dan tanya dengan napas memburu, “Siangkong, apa kau lihat suamiku?”

Berubah air muka Sim Long, katanya, “Apakah Thi-heng belum pulang?”

Nyonya itu tampak lebih gelisah, sahutnya, “Sampai sekarang belum ada kabar beritanya.”

“Pui Jian-li, Seng Ing dan It-siau-hud ….”

“Bukankah mereka ikut Siangkong menyelidiki rahasia kuburan kuno.”

Terkejut Sim Long, “Jadi orang-orang ini juga belum pulang.”

Dia tahu betapa besar kasih sayang Thi Hoat-ho terhadap istri dan putrinya, bila sudah bebas keluar kuburan, pasti selekasnya dia pulang berkumpul dengan anak bininya, kalau sekarang belum pulang pasti terjadi perubahan, apa lagi jejak Pui Jian-li dan lain-lain juga belum jelas, kalau tidak pulang ke kota, lalu ke mana?

Melihat sikap bimbang Sim Long, nyonya cantik itu makin gugup, tanpa sadar dia tarik lengan baju Sim Long, tanyanya dengan suara gemetar, “Hoat-ho … apakah dia ….”

Sim Long berkata lembut, “Hujin jangan khawatir, soal ini ….”

Sekilas ia memandang ke sana, seketika juga ia berhenti berucap.

Mendadak diketahuinya bekas telapak kaki kiri hanya tersisa yang menuju ke kuburan kuno saja, sedangkan tapak kaki yang meninggalkan kuburan itu ternyata telah putus sampai di sini.

Diam-diam Sim Long mengeluh. Tak sempat ia memberi penjelasan kepada si nyonya segera dia putar balik ke sana. Wajah Kim Bu-bong tampak prihatin, sementara air mata tampak berlinang di pelupuk mata si nyonya, Ting-ting, putrinya menyikap kencang lehernya dan menangis.

Mereka ikut lagi di belakang Sim Long, kira-kira sepemanah jaraknya, mendadak Sim Long berseru, “Nah, di sini.”

Kim Bu-bong memandang ke sana, tapak kaki orang banyak yang menuju ke kota ternyata putus sampai di sini, belasan orang tua-muda itu mendadak lenyap setelah sampai di sini.

Gemetar suara nyonya cantik, “Ini … apa yang terjadi?”

Berat suara Sim Long, “Thi-heng, Pui Jian-li, It-siau-hud dan lain-lain telah lolos dari bahaya di dalam kuburan, rombongan mereka buru-buru ingin pulang ke kota, tapi sampai di sini … sampai di sini ….”

Mana mungkin setiba di sini rombongan orang itu mendadak lenyap? Sebetulnya terjadi apa yang menakutkan? Sim Long sendiri bingung dan tidak mengerti, dia hanya geleng kepala sambil menghela napas.

Betapa pun nyonya cantik ini bukan nyonya rumah umumnya, walau dalam keadaan gugup dan khawatir, dia masih cukup tabah menghadapi kenyataan, ia pun perhatikan bekas kaki di permukaan salju, tiada yang putar balik atau membelok, lenyap seperti mendadak terbang ke langit.

Meski hatinya cukup tabah, tapi semakin dipandang semakin aneh dan makin mencemaskan, tanpa terasa kaki dan tangan menjadi gemetar, saking bingung sepatah kata pun tak terucapkan lagi dari mulutnya.

Sekilas Sim Long adu pandang dengan Kim Bu-bong, kedua orang ini biasanya cukup tajam penglihatan dan otaknya dalam menghadapi sesuatu peristiwa, namun meski sekarang sudah memeras otak tetap tidak mengerti apa sebetulnya terjadi.

Kalau mereka takhayul pasti mengira orang sebanyak itu telah ditelan setan, bila kedua orang ini bodoh dan kurang pengalaman, paling-paling mereka akan menarik kesimpulan, pasti ada sesuatu yang aneh, cuma seketika tidak bisa merabanya.

Tapi kedua orang ini justru berotak dingin, tabah, dan cermat, dalam sekejap ini mereka sudah memikirkan berbagai kemungkinan, namun tiada satu pun dari kemungkinan yang terpikir oleh mereka sesuai untuk memberi jawaban secara meyakinkan. Bahwa mereka tidak percaya takhayul, mereka yakin kalau peristiwa ini tak dapat dipercaya mereka, orang lain jelas lebih tak bisa memecahkan persoalan ini, maka semakin dipikir terasa peristiwa ini amat ganjil dan misterius.

Tak tertahan lagi si nyonya cantik meneteskan air mata, katanya dengan menunduk, “Aku bingung setengah mati, bagaimana peristiwa ini harus diselidiki, seluruhnya kuserahkan kepada Siangkong.”

Sim Long tertawa, katanya, “Dalam persoalan ini pasti tersembunyi suatu muslihat yang mengejutkan, dalam waktu singkat ini belum dapat kutentukan langkah apa yang harus kita lakukan, semoga Hujin tidak terlalu bersedih, marilah kita ….”

Mendadak seorang bersuara serak berteriak, “Thi-toaso, jangan percaya obrolan orang ini, orang di sebelahnya itu adalah anak buah Koay-lok-ong yaitu biang keladi yang merencanakan jebakan dalam kuburan kuno itu, ia bersekongkol dengan orang she Sim. Thi-toako, Pui-tayhiap dan belasan tokoh Bu-lim yang lain sudah terbunuh oleh mereka, aku Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan berani dijadikan saksi.”

Suara serak itu memang diucapkan Kim Put-hoan, dia sembunyi di belakang pohon di pinggir jalan sana. Di sampingnya ada empat orang lagi, yaitu Put-pay-sin-kiam Li Tiang-ceng, Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun dan kedua saudara Leng yang jarang bicara itu.

Ternyata Li Tiang-ceng juga mendengar keributan yang terjadi di kota Pok-yang, maka malam itu juga mereka menyusul kemari, kebetulan bersua dengan Kim Put-hoan yang lagi ingin cari perkara.

Kalau Li Tiang-ceng masih tetap tenang, tapi Lian Thian-hun menjadi gusar, bentaknya, “Pantas kami tidak tahu asal usul orang she Sim, kiranya dia antek Koay-lok-ong. Nah, Leng Toa dan Leng Sam, sekali ini jangan kalian lepaskan dia!”

Nyonya cantik itu merasa sangsi apakah tuduhan Kim Put-hoan dapat dipercaya, setelah mendengar salah satu majikan Jin-gi-ceng juga bilang demikian, ia tidak ragu lagi, sambil mengertak gigi sebelah tangannya mendadak menepuk ke dada Sim Long, gerakannya aneh, pukulannya keras, jauh lebih hebat dibandingkan Thi-sah-ciang yang pernah didemonstrasikan Hongbu Siong.

Walau menggendong satu orang, tapi sekali berkelebat, dengan mudah Sim Long dapat berkelit, dia tahu dalam keadaan seperti sekarang ini tak berguna memberi penjelasan.

Kim Put-hoan tambah senang, makinya, “Nah, bukankah keparat itu diam-diam sudah mengaku. Thi-toaso, seranganmu tak perlu kenal kasihan … Lian-locianpwe, kau pun lekas turun tangan!”

Lian Thian-hun berteriak murka, “Memangnya aku tukang main keroyok.”

Kim Put-hoan menjengek, “Menghadapi orang seperti dia, kenapa harus bicara aturan Bu-lim segala? Coba Lian-locianpwe lihat, siapa yang duduk di tanah bersalju sana itu?”

Begitu melihat Hoa Lui-sian, bola mata Lian Thian-hun seketika merah membara, sambil menggerung segera dia menubruk ke sana, mendadak dilihatnya seorang berjubah kelabu bertampang sadis mengadang di depannya. Lian Thian-hun membentak gusar, “Siapa kau, berani merintangiku?”

Kim Bu-bong mengawasinya dengan dingin dan tidak bersuara.

Kontan Lian Thian-hun menggenjotnya. Kim Bu-bong sempat mematahkan jotosannya. Beruntun Lian Thian-hun memukul lima kali, kedua tangan Kim Bu-bong bekerja cepat memotong urat nadi tangan lawan, kakinya tidak bergeser sedikit pun, keruan Lian Thian-hun semakin murka, bentaknya, “Ada hubungan apa kau dengan Hoa Lui-sian?”

Dingin suara Kim Bu-bong, “Hoa Lui-sian bukan sanak kadangku, tapi Sim-siangkong sudah menyerahkan dia kepadaku, siapa pun dilarang melukainya.”

Hoa-Lui-sian yang duduk di sana tampak mengunjuk rasa haru dan terima kasih meski dirinya tadi diseret dan kesakitan setengah mati. Dilihatnya jenggot rambut Lian Thian-hun seakan-akan menegak, dalam sekejap dia telah menyerang sembilan kali pula.

Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun meski kungfunya tinggal separuh sejak peristiwa Heng-san dulu, tapi pukulannya tetap dahsyat.

Namun Kim Bu-bong tetap berdiri sekukuh gunung tanpa bergeser selangkah pun.

Li Tiang-ceng menonton dengan heran, kaget dan kagum atas kungfu Kim Bu-bong yang hebat, namun ia pun kagum dan takjub menyaksikan kegesitan Sim Long, betapa tinggi Ginkangnya, meski menggendong satu orang, ternyata gerak-geriknya masih begitu enteng, kakinya tidak meninggalkan bekas sedikit pun di tanah bersalju, serangan si nyonya cantik cukup gencar, tapi tak dapat menyentuh ujung bajunya sekali pun.

Kim Put-hoan tampak sangat senang, semakin seru orang berkelahi semakin gembira hatinya, tak tahan dia mengoceh lagi, “Leng Toa, Leng Sam, sudah saatnya kalian pun turun tangan, apakah ….”

Belum habis bicara, angin keras mendadak menerjang mukanya, ternyata tangan Leng Sam yang dipasangi kaitan besi mengilap itu sudah menyambar tiba.

Saking kagetnya Kim Put-hoan melompat ke belakang, teriaknya gusar, “Apa yang kau lakukan?”

Leng Sam menjengek, “Tampangmu setimpal memerintah diriku?”

Hanya bicara empat patah kata, rasanya sudah terlalu banyak, lalu dia berludah ke tanah.

Gusar Kim Put-hoan, ia mendelik, tapi apa boleh buat.

Sementara itu kedua orang yang bertempur di tanah bersalju sudah berlangsung belasan jurus. Sim Long dan Kim Bu-bong tetap mengelakkan serangan lawan. Walau dibebani satu orang, nyonya itu juga membawa putrinya, maka gerak-geriknya juga terhalang.

Sebaliknya Kim Bu-bong yang harus melayani Lian Thian-hun kelihatan kerepotan, karena hanya bertahan dan tidak balas menyerang, keadaannya cukup gawat, sebentar lagi mungkin dia bakal dikalahkan.

Li Tiang-ceng berpengetahuan luas, dengan prihatin ia bergumam, “Nyonya ini pasti putri tunggal Say-gwa-sin-liong, Liu Poan-hong, kungfunya ternyata tidak lebih rendah dibandingkan Hoa-san-giok-li. Suaminya Thi Hoat-ho pasti juga memiliki kungfu yang lebih tinggi, dari sini dapat disimpulkan dalam dunia Kangouw masih banyak lagi Enghiong yang tidak ternama …. Jika suami-istri ini keturunan tokoh kosen ternama, lalu siapa pula pemuda ini? Sungguh sukar diraba.”

Maklum, sejauh ini Sim Long belum memainkan sejurus pukulan pun, orang lain sudah tentu sukar meraba asal usul ilmu silatnya.

Li Tiang-ceng memerhatikan pula Kim Bu-bong, kerut alisnya tambah rapat.

Mendadak dilihatnya Liu Poan-hong, yaitu si nyonya cantik mundur beberapa langkah dengan mandi keringat, napas pun tersengal-sengal, bertempur sekian lama dia tetap tidak mampu menyentuh ujung baju Sim Long, dia menuding sambil membentak, “Kau … kenapa kau tidak balas menyerang?”

“Cayhe tidak bermusuhan dengan Hujin, kenapa harus balas menyerang?” ujar Sim Long.

“Omong kosong, kalau bukan kau lalu ke mana orang-orang itu, bila tidak kau jelaskan ….”

“Cayhe sendiri juga heran dan tidak mengerti menghadapi persoalan ini, bagaimana aku bisa memberi penjelasan?”

“Baik,” seru Liu Poan-hong sambil mengentak kaki. “Kau … kau ….”

Mendadak dia turunkan putrinya, Ting-ting, yang ketakutan hingga tak berani menangis lagi, tapi begitu kaki menyentuh tanah seketika dia menangis pula. Liu Poan-hong berdiri bingung mengawasi putrinya, lalu mendelik kepada Sim Long, matanya berkaca-kaca, mendadak dia memeluk putrinya dan menangis tersedu sedan.

Sim Long menghela napas, ujarnya, “Duduk perkara sebetulnya belum diketahui, siapa salah dan siapa yang menjadi biang keladi sukar ditentukan, kalau Hujin sudi memberi tempo setengah bulan aku pasti dapat menemukan jejak Thi-tayhiap.”

Liu Poan-hong mendadak mendongak dan menatapnya lekat-lekat.

Kim Put-hoan mau bicara lagi, tapi sorot mata dingin Leng Toa dan Leng Sam telah menghentikan kata-katanya yang hampir terlontar dari mulutnya.

Pandangan Liu Poan-hong makin sayu, mendadak ia berkata, “Baik, aku menunggu beritamu di Pok-yang.”

Sim Long berpaling ke arah Li Tiang-ceng, katanya, “Bagaimana pendapat Cianpwe?”

Li Tiang-ceng masih bimbang, katanya dengan tersenyum, “Kurasa Leng bersaudara bersimpati kepadamu, tentu mereka juga tidak ingin melabrakmu, cuma Samteku ini …. Ai, kecuali kau mau menyerahkan Hoa Lui-sian.”

“Cayhe berani tanggung dia pasti tiada sangkut paut dengan pembunuhan segenap keluarga Kim Tin-ih,” kata Sim Long.

Walau sedang bertempur, tapi kuping Lian Thian-hun tidak menganggur, serunya gusar, “Kentut, kulihat dengan mata kepalaku sendiri ….”

“Apakah Cianpwe tahu, sekarang bermunculan berbagai kungfu yang sudah lama putus turunan di dunia Kangouw? Apakah Cianpwe tahu bahwa kematian An-yang-ngo-gi dikarenakan pukulan Jik-sat-jiu? Padahal Thi Hoat-ho tidak pernah turun tangan, boleh kuserahkan Hoa Lui-sian kepada kalian, tapi sebelum duduk persoalannya diselidiki dengan terang, Cianpwe harus bertanggung jawab akan keselamatannya.”

Li Tiang-ceng berpikir sambil mengelus jenggot, katanya kemudian, “Baik, kuberi waktu setengah bulan, setelah setengah bulan, datanglah ke Jin-gi-ceng, Thi-hujin juga boleh menunggu di perkampungan kami.”

Liu Poan-hong mengusap air mata sambil mengangguk.

Li Tiang-ceng lantas membentak, “Samte, lekas berhenti!”

Beruntun Lian Thian-hun menjotos pula tiga kali baru melompat mundur, sorot matanya menatap Kim Bu-bong dengan gemas.

Kim Bu-bong menengadah mengawasi langit tanpa menggubrisnya lagi.

Segera Kim Put-hoan berseru, “Sim Long boleh pergi, tapi keparat ini anak buah Koay-lok-ong, betapa pun tidak boleh dilepaskan pergi.”

“Kau mampu menahan dia?” tanya Sim Long.

Kim Put-hoan melengak, katanya, “Aku … aku ….”

Lalu berkata pula Sim Long, “Apakah betul dia anak buah Koay-lok-ong atau bukan, kalau kalian sudah membebaskan dia, maka siapa pun tidak boleh mencari perkara lagi padanya, tanpa bantuannya terus terang aku pun sukar menyelidiki persoalan ini.”

Li Tiang-ceng menghela napas, katanya, “Kalau saudara ini mau pergi, memang tiada orang yang dapat merintanginya ….” mendadak dia mengebas lengan baju, katanya pula dengan tegas, “Keputusan sudah diambil, siapa pun tak boleh banyak bicara lagi, harap Thi-hujin suka bantu memapah Hoa-hujin pulang bersama kita.”

Sim Long tersenyum dan menjura kepada kedua Leng bersaudara. Wajah Leng Toa dan Leng Sam yang kaku sekilas seperti tersembul senyuman tipis, tapi waktu sorot mata mereka beralih ke arah Kim Put-hoan, senyum mereka seketika sirna.

Kim Put-hoan berdehem dan menyingkir cukup jauh dan tidak berani lagi beradu pandang dengan orang lain.

Sekilas Li Tiang-ceng melirik ke arahnya, lalu menggeleng kepala dan menghela napas.

Setelah rombongan orang banyak pergi baru A To mengacungkan ibu jari dan memuji dengan tertawa, “Sim-siangkong memang seorang kawan sejati, meski dalam keadaan bahaya tetap tidak melupakan keselamatan Suhuku, pantas Suhu rela menjual jiwanya kepada Sim-siangkong.”

Sim Long tersenyum, katanya, “Anak baik, ingat, hanya dalam kesulitan baru kelihatan sahabat sejati.”

A To berkata, “Tapi tetap tidak kumengerti kenapa Siangkong melepas … melepaskan orang she Kim itu?”

Sim Long menghela napas katanya, “Umpama aku bertindak kepadanya, Li-jihiap tentu melindunginya.”

A To manggut-manggut.

Mendadak Sim Long berkata pula, “Ada satu hal ingin kutanyakan kepada Kim-heng, entah ….”

Sebelum lanjut ucapan orang segera Kim Bu-bong berkata, “Di antara empat duta Koay-lok-ong hanya diriku yang diutus lebih dulu ke Tionggoan, tapi tidak pernah kugunakan nama Hoa Lui-sian untuk mencelakai orang, siapa yang membunuh Kim Tin-ih, terus terang aku tidak tahu.”

Bahwa dia dapat meraba pertanyaan apa yang akan diajukan, Sim Long tidak merasa heran, tapi apa yang dikatakan itu benar-benar membuatnya terkejut, sesaat dia melenggong, gumamnya, “Kalau begitu, lalu siapa yang membunuh keluarga Kim Tin-ih? Kecuali anak buah Koay-lok-ong, adakah aliran lain dalam dunia Kangouw yang juga meyakinkan kungfu andalan perguruan orang lain?”

“Kurasa demikian,” ujar Kim Bu-bong, “dan lagi … Jik-sat-jiu adalah kungfu andalan Say-gwa-sin-liong yang tidak diajarkan kepada pihak luar, kecuali seorang murid Koay-lok-ong tiada lain yang pernah meyakinkannya, padahal orang ini sekarang jauh berada di luar perbatasan sana, bila An-yang-ngo-gi mati karena Jik-sat-jiu, sungguh aku pun tidak habis mengerti.”

Sim Long kaget, katanya, “Kuyakin biasanya dugaanku jarang meleset, siapa nyana hari ini segala rekaanku tiada satu pun yang tepat, tapi … tapi An-yang-ngo-gi jelas keluar dari kuburan kuno itu dalam keadaan terluka, jika bukan Kim-heng yang turun tangan, apakah dalam kuburan itu ada orang lain? Lalu siapa dia? Dari mana pula dia bisa mempelajari kungfu andalan orang lain?”

Kim Bu-bong menghela napas, katanya, “Keadaan semakin ruwet, agaknya geger dunia persilatan sudah di depan mata ….”

Guram air muka Sim Long, katanya dengan prihatin, “Hwe-hay-ji tidak jelas parannya, Thi Hoat-ho dan belasan jago lain lenyap secara misterius? Pembunuh keluarga Kim Tin-ih sukar ditemukan, kecuali anak murid Koay-lok-ong ternyata masih ada orang lain dalam dunia Kangouw yang mahir kungfu maut itu? Di balik persoalan ini pasti ada muslihat keji, peristiwa ini masih terselubung, tiada titik terang untuk bahan penyelidikan, tapi dalam jangka waktu setengah bulan harus kupecahkan persoalannya.”

Kalau orang lain menghadapi persoalan serumit ini mungkin akan putus asa dan menangis, tapi setelah menghela napas, alis Sim Long lantas terbuka lebar, katanya dengan tertawa, “Padahal waktu masih ada lima belas hari, tapi aku sekarang gelisah setengah mati, tentu bikin Kim-heng geli.”

Di tengah gelak tertawa dia lantas berjalan cepat beberapa langkah, melihat Kim Bu-bong masih berdiri terlongong, mendadak dia berhenti, katanya, “Kenapa Kim-heng ….” belum habis dia bicara, mendadak suatu ilham terkilas dalam benaknya, cepat dia mundur pula beberapa langkah dan mengawasi Kim Bu-bong.

Mereka saling pandang, wajah mereka seketika mengunjuk rasa girang, tanpa bicara lagi langsung mereka melangkah ke kuburan kuno, A To kaget dan heran, tak tahan dia bertanya, “Apa yang hendak kalian lakukan?”

Sim Long berkata, “Jika orang itu tidak ambles ke dalam bumi atau terbang ke langit, tapi tapak kaki mereka justru terputus di tengah jalan, kecuali orang-orang itu menyurut mundur pula, jawaban apa lagi yang bisa kita dapatkan?”

A To memang cerdik, katanya, “Betul, bila mereka mundur kembali dengan menginjak tapak kakinya sendiri, orang lain dengan sendirinya tidak akan tahu …. Pantas semua tapak kaki itu kelihatan berat dan ambles dalam serta agak kacau, ternyata setiap tapak kaki itu diinjak dua kali.”

Maklum, tapak kaki siapa pun bila diinjak dua kali pasti akan lebih dalam dan kacau keadaannya.

Kim Bu-bong berkata, “Sekarang masih ada satu hal yang belum kumengerti. Tujuan mereka berbuat demikian jelas untuk mengelabui orang lain, lalu siapa yang ingin mereka tipu?”

“Yang hendak ditipu jelas kau dan aku, yang tidak kupahami adalah kenapa Thi Hoat-ho tidak mau menemui anak bininya, kecuali ….”

Gemerdep sinar mata Kim Bu-bong, tukasnya, “Kecuali orang-orang itu sudah menjadi tawanan, dan di bawah pengaruhnya, demi menculik belasan tokoh itu, maka mereka dipaksa berbuat demikian untuk mengelabui mata orang sehingga sukar menemukan jejak mereka. Tapi … tapi orang sebanyak itu, bukan saja tunduk pada perintahnya dan pergi bersamanya dengan menyurut mundur ke sana, bukankah hal ini terlalu luar biasa?”

“Kalau orang lain tidak perlu dibuat heran, bahwa Thi Hoat-ho juga rela meninggalkan anak bininya, itulah yang luar biasa, kecuali … kecuali dia kehilangan kesadarannya atau terpengaruh oleh kekuatan gaib.”

“Ya, pasti demikian,” seru Kim Bu-bong, “kalau tidak, biarpun orang itu memiliki kungfu setinggi langit dan mampu menguasai mati-hidup orang, tapi jago-jago Bu-lim yang gagah dan keras hati itu belum tentu mau tunduk pada perintahnya.”

Sembari bicara mereka terus menyusuri bekas tapak kaki hingga sampai di depan kuburan kuno, mereka saling pandang sekali, lalu berhenti. Tampak salju di sebelah kiri semrawut dengan tapak kaki acak-acakan, lebih ke depan lagi bekas tapak kaki kelihatan lebih cetek dan lebih rata.

Kim Bu-bong berkata, “Orang-orang itu pasti mundur sampai di sini, lalu naik kereta di tepi jalan, di belakang kereta menyeret ranting pohon sehingga bila kereta berjalan bekas roda pun tersapu bersih.”

Bahwa persoalan ruwet yang tak terpecahkan akhirnya bisa dibikin jelas, sungguh lega perasaan mereka, tapi hanya sekejap Kim Bu-bong lantas berkerut kening pula, katanya, “Cara kerja orang itu begini teliti, dia dapat memikat puluhan orang hingga rela mengekor dia, sungguh aku tidak habis pikir tokoh macam apa ini?”

Sim Long termenung, katanya kemudian, “Tahukah Kim-heng dalam dunia ini siapa yang mahir menggunakan Bi-hun-sip-sim-tay-hoat (semacam ilmu sihir)?”

Tanpa pikir Kim Bu-bong menjawab, “Hun-bong-siancu!”

“Betul, Hun-bong-siancu dulu pernah menggunakan Am-gi (senjata rahasia) paling jahat Thian-hun-ngo-han-bian (kapas pancawarna) dan Bi-hun-sip-sim-tay-hoat hingga namanya menggetarkan Bu-lim. Jago silat kelas wahid sekalipun bila berhadapan dengan Hun-bong-siancu juga bertekuk lutut.”

“Tapi … bukankah Hun-bong-siancu sudah mati sekian tahun lamanya ….”

“Kalau Ca Giok-koan bisa pura-pura mati, padahal masih hidup, kenapa Hun-bong-siancu tidak bisa berbuat demikian pula?” sembari bicara Sim Long mengeluarkan sebuah pelat besi, katanya, “Apakah Kim-heng tahu besi apa ini?”

Kim Bu-bong hanya melirik saja, air mukanya seketika berubah, serunya, “Thian-hun-ling.”

“Betul, inilah Thian-hun-ling yang digunakan Hun-bong-siancu untuk memerintah kawanan iblis.”

“Dari mana Sim-heng memperoleh pelat ini?”

“Di atas meja batu yang terletak di mulut gua kuburan kuno itu, semula kukira pelat ini milik Kim-heng, kini dapatlah kutarik kesimpulan bahwa yang menaruh pelat ini di atas meja pasti orang yang membunuh An-yang-ngo-gi dengan Jik-sat-jiu, yang membawa Pui Jian-li dan lain-lain pasti perbuatannya pula.”

Pucat muka Kim Bu-bong, “Orang ini berada dalam kuburan, aku ternyata tidak tahu, malah segala gerak-gerikku di bawah pengawasannya …. Siapa dia, betulkah Hun-bong-siancu sendiri?”

Membayangkan musuh yang tidak kelihatan selalu mengintip gerak-geriknya di dalam kuburan kuno itu, Kim Bu-bong jadi bergidik sendiri.

“Apakah betul dia Hun-bong-siancu? Apa betul Hun-bong-siancu muncul dalam percaturan Kangouw pula? Muslihat apa pula yang dirancangnya dengan menculik Thi Hoat-ho dan lain-lain? Ke mana pula Thi Hoat-ho dan belasan orang itu dibawa pergi? Pembunuhan keluarga Kim Tin-ih apakah juga perbuatannya? …. Ai, dalam setengah bulan aku harus memecahkan semua persoalan ini, entah sudikah Kim-heng membantuku?”

“Semua persoalan ini ada sangkut pautnya dengan diriku, bila persoalan itu tidak terpecahkan, sehari pun aku tidak bisa tenang,” ujar Kim Bu-bong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: