Kumpulan Cerita Silat

12/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (08)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:44 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (08)
Oleh Gu Long

Tidak kepalang gemas Kah-sing Hoat-ong, hampir meledak dadanya oleh uraian Cui Thian-ki itu, jika Kim-ho-ong tentu sudah berjingkrak dan dinding anjungan diterjangnya hingga bolong.

Namun Kah-sing Hoat-ong memang lain daripada yang lain, ia cuma tertegun sejenak, lalu mendengus pula, “Biarpun dinding ini terbuat dari baja kan tidak berarti tidak dapat dibobol.”

“Memang di dunia ini ada senjata yang mampu memotong baja dengan mudah, tapi sekarang kan tidak mudah bagi Taysu untuk mencari senjata setajam itu?” ujar Thian-ki. “Umpama Taysu pergi mencari senjata, kembali lagi ke sini mungkin tidak menemukan apa-apa lagi.”

“Apa artinya ucapanmu ini?” tanya Kah-sing dengan melengak.

“Benarkah Taysu tidak paham?” kata Cui Thian-ki. “Hehe, asalkan Taysu meninggalkan kapal ini, bukankah Oh Put-jiu akan segera kabur dengan membawa kitab pusaka?”

“Memangnya tidak dapat kutunggu dia mati kelaparan baru kupergi?” ujar Kah-sing Taysu.

“Sebelum mati, memangnya dia takkan memusnahkan seluruh kitab pusaka yang ada di situ? Dengan begitu bukankah usaha Taysu juga akan sia-sia belaka?”

Tergetar perasaan Kah-sing Taysu, ia termangu-mangu sejenak, kemudian bergumam, “Ya, sebelum mati kelaparan, jika dia memusnahkan kitab pusaka, lalu bagaimana?”

Tiba-tiba Cui Thian-ki berkata pula dengan santai, “Siapa bilang dia pasti akan mati kelaparan?”

Kah-sing melengak, katanya, “Biarpun dalam kapal ini ada persediaan air minum dan makanan, tapi ruang ini tertutup rapat dan tiada lubang apa pun, cara bagaimana dia akan mendapatkan air minum dan makanan?”

“Dengan sendirinya aku mempunyai cara sendiri,” ujar Thian-ki dengan tersenyum.

“Jika begitu, lekas katakan,” bentak Kah-sing.

Cui Thian-ki berkedip-kedip, katanya dengan tertawa genit, “Jika kau minta petunjuk padaku, sepantasnya kau bicara dengan ramah tamah dan memohon dengan baik-baik, masa bersikap kasar begitu?”

“Yang ingin menyelamatkan jiwanya kan dirimu, buat apa kumohon padamu,” ujar Kah-sing.

“Betul, yang gelisah ingin menyelamatkan jiwanya tadi adalah diriku, tapi sekarang yang terburu-buru menghidupkan dia adalah dirimu, jangan lupa kitab pusaka ….”

“Kurang ajar!” bentak Kah-sing gusar. “Jika geregetan, biar kubunuh kau sekalian, memangnya kau mau apa?”

“Ah, silakan, silakan,” sahut Thian-ki tertawa. “Jika kau bunuh diriku, mungkin selama hidup ini jangan harap lagi akan melihat kitab pusaka yang tidak ada bandingannya itu. Nah, silakan, kenapa tidak lekas turun tangan?”

Muka Kah-sing Taysu sebentar merah, sebentar pucat, ia terdiam sejenak dengan gemas, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Baiklah, aku menyerah kalah. Coba katakan.”

“Apakah cara begini sudah terhitung sopan? Tidak, tidak cukup,” kata Thian-ki sambil menggeleng.

Tidak kepalang mendongkol Kah-sing, tapi terpaksa ia merendah diri dan memohon, “Baiklah, mohon nona Cui sudi memberi petunjuk cara bagaimana supaya dia tidak mampus di dalam.”

“Nah, beginilah baru benar ….” ucap Cui Thian-ki dengan tertawa, senang sekali hatinya karena dapat mempermainkan padri fakir ini. “Sekarang coba kau pikirkan, jika anjungan kapal ini terkurung rapat tanpa sesuatu lubang angin, kan seluruh penghuninya bisa mati sesak napas. Memangnya orang yang membangun kapal ini kau kira orang dungu?”

“Ya, ya, betul,” kata Kah-sing Taysu.

“Dan kalau ada lubang angin, dengan sendirinya dapat kita sodorkan makanan atau minuman melalui lubang angin itu, masakah dalil sederhana ini tidak kau pikirkan?”

Kah-sing Hoat-ong melenggong sejenak, mendadak ia menengadah dan tergelak, “Haha, betul, memang betul!”

“Tapi kau pun jangan gembira dulu.” ucap Cui Thian-ki pula. “Lubang angin itu tentu saja sangat kecil, paling-paling cuma sebesar kepala. Maka kecuali engkau dapat berubah menjadi kecil sebesar burung pipit, kalau tidak, jangan harap akan dapat masuk ke situ.”

“Siapa bilang mau masuk ke situ?” sahut Kah-sing.

“Bagus jika begitu ….” kata Thian-ki dengan tertawa. “Bilamana nasib kita mujur dan mendapat angin buritan, kukira tidak sampai setengah bulan kapal ini pasti akan mencapai pantai.”

“Siapa yang ingin mendarat?” ujar Kah-sing Hoat-ong. “Pendek kata, sehari anak keparat itu tidak keluar, satu hari pula aku tidak akan meninggalkan kapal ini. Dan selama aku tidak meninggalkan kapal, selama itu pula kapal ini tidak perlu menepi.”

“Tapi … tapi kalau selamanya dia takkan keluar, lalu bagaimana?” tanya Cui Thian-ki dengan rada cemas juga.

“Setahun dia tidak keluar, setahun pula kutunggu dia, sepuluh tahun dia tidak keluar, sepuluh tahun juga kutunggu di sini. Jika selamanya dia tidak keluar, selama hidup pula akan kutunggu dia. Dan kau pun terpaksa harus menemaniku selama hidup di sini. Ingin kulihat kesabaran siapa yang lebih tahan lama.”

Cui Thian-ki menarik napas dingin, lalu termangu-mangu tak bisa bicara lagi. Ia takkan percaya bila orang lain yang bicara demikian, tapi Kah-sing Hoat-ong tentu sanggup berbuat sesuai ucapannya itu.

“Apabila perbekalan dalam kapal ini tidak mencukupi, maka kau harus kerja bakti bagiku dengan menangkap ikan atau udang,” kata Kah-sing pula. “Jika kehabisan air minum, waktu hujan harus kau tadah air hujan dan ditimbun sebanyaknya. Kalau kebetulan ada kapal layar lain yang lewat di sini, kan boleh juga kau tiru perbuatan kaum bajak dan rampas sedikit perbekalan yang kita perlukan.”

Murung Cui Thian-ki mendengarkan uraian padri fakir itu, ia menghela napas panjang, katanya kemudian, “Tak tersangka engkau dapat berpikir sejauh itu.”

“Hahaha, masa kau lupa pada peribahasa yang mengatakan asalkan ada kemauan, cita-cita apa pun pasti akan tercapai,” ujar Kah-sing dengan tertawa. “Mungkin tidak perlu menunggu keluarnya bocah itu sudah dapat kucari jalan untuk membobol dinding baja ini. Sebab itulah kau pun tidak perlu gelisah. Berada di kapal megah ini, kebetulan bagiku dapat hidup aman tenteram untuk beberapa tahun lamanya.”

Diam-diam Cui Thian-ki menggereget, katanya, “Hm, jangan keburu senang dulu. Biarpun kau dapat membobol dinding baja, memangnya tidak dapat kuminta dia memusnahkan kitab pusaka yang berada di situ sebelum dinding dibobol.”

“Hah, untuk ini jangan kau pikirkan,” ujar Kah-sing tertawa. “Sebagai pesilat, tentu kau pun tahu betapa seorang pesilat kemaruk terhadap sesuatu kitab pusaka ilmu silat, masa dia sampai hati memusnahkannya begitu saja. Kuyakin pasti takkan dilakukannya, kecuali ia tahu sudah dekat ajalnya. Selama dia tidak mati, selama itu pula dia takkan berbuat sebodoh itu. Misalnya, pernahkah kau dengar seorang peminum membuang arak enak? Pernahkah orang tamak membuang buang uang percuma? Nah, apa yang kukatakan adalah berdasarkan dalil yang sama.”

Cui Thian-ki termenung sejenak, perlahan ia mengentak kaki, mendadak ia lari ke dek di bawah. Kah-sing Hoat-ong juga tidak merintanginya melainkan cuma memandangi bayangan orang dengan tersenyum ejek.

Selang tidak lama, Cui Thian-ki muncul kembali, wajahnya kembali tersenyum manis sambil membawa senampan santapan yang masih mengepul.

“Aha, kebetulan aku sudah lapar, lekas bawa kemari,” kata Kah-sing.

Thian-ki menurut dan menaruh nampan hidangan itu di depan Kah-sing Taysu, ia sendiri berdiri di samping.

Kah-sing memegang sumpit, dicapitnya secomot sayuran, baru saja hendak dijejalkan ke mulut, tiba-tiba ia pandang Cui Thian-ki sekejap, lalu sumpit ditaruh kembali.

“Eh, apakah Taysu merasa hidangan masih panas?” kata Thian-ki dengan tertawa.

“Coba kau cicipi dulu,” jengek Kah-sing Taysu.

“Wah, kenapa Taysu jadi sungkan padaku, kan tidak enak hati bagiku,” ujar Thian-ki dengan tertawa genit.

Kah-sing hanya mendengus saja dan tidak menanggapi.

Cui Thian-ki berkedip-kedip, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Ai, kutahu. Rupanya Taysu khawatir dalam makanan ditaruh racun. Ai, apa boleh buat, terpaksa kumakan dulu.”

Segera ia ambil mangkuk kosong dan mengambil santapan yang paling baik, sambil membawa mangkuknya ia berjalan satu lingkaran, benar juga dilihatnya di ujung dinding menonjol sebuah pipa besi. Pipa yang kosong bagian tengah itu sebesar bulatan mangkuk.

Segera Thian-ki memanggil melalui lubang pipa, “Hei, kepala besar … Oh Put-jiu … Oh kepala besar ….”

Berulang ia memanggil beberapa kali dan ternyata tiada jawaban apa pun.

Seketika berubah air muka Cui Thian-ki, sangsi dan khawatir.

Pada saat itulah tahu-tahu suara Oh Put-jiu berkumandang dari lubang pipa, “Apa di situ nona Cui?”

Suaranya agak serak, seperti baru saja mengalami sesuatu yang aneh dan mengejutkan, namun kelainan suara itu tidak dapat dirasakan oleh Cui Thian-ki, ia tanya pula, “Hei, dipanggil kenapa tidak lekas menjawab. Ini, makanan ….”

Ia teroboskan makanan itu melalui lubang pipa. Terdengar Oh Put-jiu mengucapkan terima kasih dan seperti omong apa-apa lagi.

Namun Cui Thian-ki lantas membalik tubuh, ia pilih pula tiga hidangan kegemarannya dan dimakan sendiri. Sesudah dia makan, hidangan yang tersisa tinggal sebangsa tulang dan kulit belaka.

“Wah, sungguh tidak enak hati, masakah Taysu harus makan hidangan sisa,” ucap Cui Thian-ki dengan tertawa. “Eh, biarlah kuturun ke dapur untuk masak lagi.”

“Tidak perlu,” jengek Kah-sing Taysu. “Aku memang suka makan barang sisa.”

Segera ia angkat sumpit dan benar-benar makan dengan lahapnya.

Meski merasa geli, namun Cui Thian-ki tidak bicara lagi, hanya perasaannya lebih banyak sedih daripada gembiranya. Waktu malam tiba, kembali Thian-ki mengantar makanan lagi kepada Oh Put-jiu.

Pemuda kepala besar itu seperti sudah menunggu di sebelah dalam, begitu mendengar suara Thian-ki segera ia tanya dengan suara parau, “Bagaimana dengan Po-ji? Di mana dia? Adakah kau lihat dia?”

Thian-ki berdiri termangu sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Jangan khawatir, Po-ji baik-baik saja dan telah pergi bersama Ling-ji dan Siaukongcu, kalau tidak, kan aku bisa lebih cemas daripadamu.”

Meski di mulut ia bicara demikian, tidak urung air mata hampir menitik.

Oh Put-jiu ternyata tidak khawatir apa-apa, dan begitulah sang waktu sehari lewat sehari, malahan nafsu makan Oh Put-jiu bertambah banyak, suaranya juga makin lantang, sebaliknya Cui Thian-ki semakin pucat dan tambah kurus.

Hidup dalam kesepian, mimpi pun terkenang kepada Po-ji, ia sendiri tidak tahu sebab apa bisa begitu rindu terhadap anak kecil itu, rindunya tidak kurang serupa gadis remaja merindukan kekasih, tapi juga seperti kasih ibu yang mengharapkan kepulangan anak kesayangan. Terkadang ia suka termenung memandangi matahari terbenam, memandang kesima cahaya senja sehingga berjam-jam tanpa bergerak.

*****

Menjelang fajar, sebuah perahu nelayan tampak meluncur dari utara dan berlabuh di pesisir.

Sekilas pandang bentuk perahu ini sungguh sangat aneh. Dibilang kapal, bentuknya serupa rakit. Dikatakan rakit, tampaknya juga mirip kapal.

Badan kapal itu persegi, ternyata terbuat potongan balok kayu raksasa seutuhnya, sampai kulit pohon pun belum terkelupas. Di atas geladak dibangun ruang kabin berbentuk segitiga serupa anjungan, juga serupa tenda, hanya sehelai layarnya yang sangat lebar, kuat dan indah sehingga tidak serasi dengan kapalnya yang tidak keruan bentuknya itu.

Meski kapal ini dibangun serabutan dan berbentuk aneh, namun memberi kesan kukuh dan kuat, biarpun didampar hujan badai betapa dahsyatnya juga takkan bercerai-berai.

Di bawah layar besar yang berkembang itu tidur telentang seorang lelaki hitam kekar, keempat anggota badannya yang dijulurkan dengan bebas itu kelihatan panjang dan kuat sehingga mirip seekor harimau yang sedang tidur.

Belum lagi kapal ini menepi segera lelaki kekar melompat bangun dan melayang ke pesisir sambil membentak, sekali tarik, kapal balok itu telah diseretnya dan kandas di atas pesisir.

Waktu ia berdiri tegak, terlihat perawakannya yang tinggi besar bagai raksasa, sedikitnya ada dua meter tingginya, ia memakai baju jago silat hitam ringkas dari kain satin, bajunya itu bagi orang lain pasti kelonggaran, tapi baginya justru kelihatan ketat dan membalut tubuhnya dengan kencang, malahan kaki celana hanya sebatas dengkul, kancing baju pun sukar digunakan sehingga lebih mirip pakaian hasil rampas dari orang lain.

Walaupun perawakannya menakutkan, namun alisnya yang tebal dan mata besar, hidung singa dan mulut harimau, bentuknya ketolol-tololan dan terasa menyenangkan orang.

Hujan sudah mulai reda, selangkah demi selangkah lelaki hitam kekar itu berjalan di pesisir sambil memandang kian kemari, terdengar ia memaki, “Dirodok, Locu sudah datang, kenapa kawanan bangsat itu malah belum tampak batang hidungnya?”

Ia meraba raba perut sendiri, lalu rebah telentang lagi dan berseru sembari meraba perut, “Wah, lapar, lapar sekali! Kenapa dari langit tidak jatuh dua potong bakpao agar dapat kumakan dengan kenyang, supaya bertenaga untuk bertempur.”

Sejenak ia berbaring, agaknya tidak tahan lagi akan rasa lapar, mendadak ia melompat bangun dan berlari ke atas kapal kotak tadi, dari dalam tenda dikeluarkan sepotong entah daging apa yang tampaknya tidak masak juga tidak mentah, lalu dirogoh keluar lagi beberapa potong penganan yang sudah kering dan keras, gumamnya, “Keparat! Makin lama makin lapar, biarlah kumakan habis persediaan untuk malam dan esok, bilamana nanti aku dibinasakan orang, kan besok juga tidak dapat makan lagi.”

Sembari menggerundel makanan terus dijejalkan ke mulut sehingga mengunyah pun sukar.

Sekonyong-konyong ombak mendampar, di tengah gelombang ombak tampak ada sesuatu benda yang beraneka warna dan ikut terdampar ke pesisir.

Lelaki kekar itu menggaruk kepala dan bergumam, “Hei, mainan apa ini ….”

Segera ia memburu ke sana dan barang itu diraihnya, mendadak ia berteriak, “Wah, celaka! Mengapa laut pun dapat melahirkan anak?!”

Kiranya benda yang terdampar ke pesisir itu adalah seorang anak kecil berbaju satin, kedua tangan anak itu merangkul erat sepotong kayu, mati pun tak terlepaskan, gigi terkatup, muka pucat dan jelas tak sadarkan diri, entah masih hidup atau sudah mati.

“Wah, celaka, celaka ….” kembali lelaki itu berteriak-teriak, anak itu dilempar-lemparkan dan ditinggal lari terbirit-birit.

Tapi baru lari beberapa langkah segera ia berhenti lagi sambil bergumam, “Ah, tidak, tidak bisa, anak laut mana bisa terdampar pingsan. Ehm, bocah ini tentu terjatuh dari kapal lain ….”

Ia lari balik lagi dia mengangkat anak tadi, dirabanya dada anak itu, gumamnya pula dengan tertawa, “Aha, tidak jelek, bocah ini masih hangat, dia takkan mati!”

Cepat ia tiarapkan anak itu dan segera menekan punggungnya dengan kuat.

Bocah itu merintih perlahan dan tumpahkan air laut yang membuatnya kembung.

Lelaki itu berteriak sambil berjingkrak gembira dan menari-nari, serunya, “Hore, hidup, dia hidup kembali!”

Dapat menyelamatkan nyawa orang, hatinya merasa sangat senang sehingga perut lapar pun terlupakan, daging dan penganan tadi tercecer di tanah tanpa dipikir lagi, ia angkat bocah itu dan berlari ke pesisir yang lebih kering, berulang ia tepuk dan raba tubuh yang kecil itu, ucapnya dengan tertawa, “Ayo, anak kecil, kalau hidup, seharusnya kau pentang matamu!”

Akhirnya anak itu membuka mata, setelah memandang sekejap sekitarnya, tersembul rasa kejut dan herannya, tapi segera ia berubah tenang dan tersenyum terhadap lelaki kekar itu.

“Haha, kau tertawa …. Anak kecil, kau dapat bicara bukan?” seru lelaki itu.

Anak itu mengangguk.

“Kalau bisa bicara ayolah lekas bicara,” seru orang itu. “Eh, siapa namamu?”

“Aku she Pui, orang suka memanggilku Po-ji,” jawab anak itu.

Memang betul, anak ini adalah Pui Po-ji yang terbawa badai ke laut itu.

“Hah, Po-ji … Po-ji … kau memang seorang anak mestika, lihat kakimu ini, hampir sama besarnya dengan jariku,” seru lelaki itu dengan tertawa.

Po-ji memandangnya dengan terkesima, seperti sangat tertarik, bola matanya berputar, lalu bertanya, “Eh, anak besar, siapa namamu?”

“Aku she Gu, sejak kecil ayahku memanggilku Thi-wah,” tutur lelaki kekar itu. “Tapi orang lain suka memanggilku si dungu besar. Bilamana mendongkol dipanggil begitu, kontan kulempar mereka ke parit.”

Pui Po-ji tertawa geli dan melupakan dirinya baru saja terlepas dari bencana. Meski dalam hati ia pun mengkhawatirkan keselamatan Oh Put-jiu, Cui Thian-ki dan lain-lain, tapi bilamana teringat dirinya saja tidak mati, sedang kepandaian mereka jauh lebih tinggi daripadanya, mustahil mereka akan mati malah?

Namun bila teringat entah kapan baru dapat bertemu lagi dengan mereka, mau tak mau terasa sedih juga hatinya.

Apa pun dia masih anak kecil, hati anak kecil memang tidak dapat lama menahan rasa sedih, apalagi di depannya sekarang ada seorang dungu besar yang menarik, setelah bergelak tertawa, segala rasa sedih dan kesal pun terlupakan seluruhnya.

Si lelaki gede alias Gu Thi-wah mendadak seperti teringat sesuatu, tanyanya pula, “He, di mana ayahmu? Tubuhmu kan kecil, masakah ayahmu khawatir jatuh miskin memberi makan padamu? Mengapa sendirian kau lari ke sini?”

Po-ji menghela napas sambil menggeleng, lalu berkata dengan tertawa, “Dan kau sendiri, apakah karena di rumah tidak bisa makan sehingga sendirian kau lari kemari?”

“Haha, anak kecil sungguh pintar, sekali terka lantas kena,” seru Gu Thi-wah dengan tergelak. Selang sejenak, ia seperti teringat apa-apa lagi, dengan tertawa lebar ia berkata pula, “Eh, kau kehilangan ayah, aku pun belum punya anak, bagaimana kalau kau menjadi anakku saja?!”

Po-ji melenggong sejenak, matanya berkedip-kedip, jawabnya kemudian, “Apakah kau punya bini?”

“Bini?” Thi-wah menegas. “Wah, biniku mungkin masih berada dalam perut biangnya.”

“Nah, jika bini saja kau tidak punya, akan lucu jika kau hendak mengambilku sebagai anak,” kata Po-ji.

“Habis, apakah kau sendiri punya bini?” tanya Gu Thi-wah.

“Ah, malu ah … punya satu,” sahut Po-ji.

Gu Thi-wah melotot, dipandangnya anak itu dari kepala sampai kaki dan sebaliknya lalu geleng-geleng kepala dan berucap, “Wah, tak tersangka masih kecil begini sudah punya bini, hebat sekali kau ini.”

“Memang, biarpun kecil begini, tapi kecil cabai rawit, kepandaianku jauh melebihi orang gede seperti kau,” kata Po-ji dengan membusungkan dada.

“Wah, jika begitu, marilah kita menjadi saudara saja,” mohon Gu Thi-wah.

“Baik, aku Toako dan kau adiknya,” kata Po-ji.

Gu Thi-wah tertawa terpingkal-pingkal.

“Eh, awas ususmu bisa putus karena caramu tertawa itu, bisa-bisa nanti harus kubedah perutmu dan menyambung ususmu yang putus, kan bikin repot,” kata Po-ji.

Thi-wah melengak, segera ia pegang perutnya dan tidak berani tertawa lagi. Namun dengan napas terengah ia berkata, “Huh, kau menjadi adikku saja masih terlampau kecil, tapi kau malah ingin menjadi Toakoku?”

“Masa kau tidak tahu pepatah yang menyatakan, untuk belajar tidak ada soal besar atau kecil, yang lebih mahir ialah menjadi guru?”

“Jangan mengoceh begituan, aku tidak mengerti,” ujar Thi-wah.

“Arti pepatah itu adalah manusia itu tidak mengutamakan soal usia tua atau muda, asalkan pengetahuannya lebih luas, maka bolehlah dia menjadi guru orang yang cetek pengetahuannya itu,” tutur Po-ji. “Sekarang pengetahuanku lebih banyak daripadamu, kepandaianku juga lebih banyak daripadamu, jika aku mau menjadi gurumu kan sudah suatu kehormatan besar bagimu. Maka apa pun juga aku harus menjadi Toakomu.”

Thi-wah menggaruk kepala yang tidak gatal, gumamnya, “Kata pepatah tentunya tidak bakal keliru. Tapi … tapi sekali hantam dapat kubinasakanmu, sungguh aku tidak rela menjadi adikmu.”

“Huh, memangnya kau kira tanganmu lebih kuat daripadaku?” tanya Po-ji.

“Hahaha, hidup sebesar ini, belum pernah kulihat ada orang yang bertenaga lebih kuat daripadaku,” seru Thi-wah dengan tergelak. “Ini, lihat ….”

Mendadak ia berjongkok terus menghantam pesisir, kontan tanah pasir di situ terpukul sebuah liang besar.

“Ehm, boleh juga ….” ucap Po-ji. “Coba kau cengkeram lagi segenggam pasir, ingin kulihat apakah kau mampu melemparkan pasir itu ke laut atau tidak?”

“Sepuluh genggam juga dapat,” ucap Thi-wah dengan tertawa, segera ia meraup segenggam pasir dan dilemparkan sekuatnya.

Tapi ketika tertiup angin laut, kontan pasir berhamburan dan tidak dapat mencapai jauh, malahan sebagian besar tertiup balik dan menimpa muka Gu Thi-wah dan membuatnya kelilipan, cepat ia kucek-kucek mata dengan kelabakan sambil, berteriak, “Wah, aneh … sungguh aneh ….”

“Nah, sekarang coba kau lihat kepandaianku,” kata Po-ji.

“Kau mam … mampu?” tanya Thi-wah.

“Sedekat ini bukan apa-apa bagiku, biar kumundur lagi lebih jauh,” kata Po-ji sambil menyingkir ke pesisir yang pasirnya basah, lalu ia meraup segenggam pasir basah dan dikepal, sekali ia membentak dan lempar, pasir basah itu terlempar beberapa tombak jauhnya baru kemudian buyar tertiup angin dan pasir pun jatuh di atas laut.

Gu Thi-wah melongo dan termangu-mangu.

“Nah, kau menyerah sekarang?” tanya Po-ji dengan tertawa.

“Ya, menyerah, takluk,” jawab Thi-wah.

“Jika menyerah, kenapa tidak lekas menyembah kepada Toako,” kata Po-ji.

“Baik, Toa … Toako, terimalah hormatku ini,” sembari bicara Gu Thi-wah benar-benar bertekuk lutut dan menyembah.

Po-ji menjadi rikuh malah, cepat ia balas menghormat.

Setelah mereka menjadi saudara angkat, Gu Thi-wah meladeni Po-ji dengan lebih hormat, ia jemput kembali makanannya yang tercecer tadi dan diberikan kepada Pui Po-ji, lalu mencari sepotong batu besar untuk tempat duduk anak itu.

Selang sejenak, tiba-tiba Thi-wah bertanya, “Toako, usus dalam perut apakah betul dapat putus karena tertawa?”

Rupanya soal ini telah direnungkannya sejak tadi dan masih penuh tanda tanya baginya, maka sekarang ia minta penjelasan.

Dengan serius Po-ji menjawab, “Bilamana kau suka menertawakan orang, pada suatu hari ususmu bisa putus tertawa. Apabila tertawanya timbul dari setulus hati tentu tidak beralangan.”

Thi-wah tertawa cerah, katanya, “Wah, jika begitu legalah hatiku, kalau tidak seterusnya aku akan senantiasa khawatir usus putus sehingga tidak berani tertawa, hidup begini kan susah.”

“Apakah kau memang gemar tertawa?” tanya Po-ji.

“Setiap hari aku bergelak tertawa 30 kali dan tertawa kecil 300 kali, dengan begitu baru timbul tenaga ….” sampai di sini mendadak ia melompat bangun dan melotot ke arah permukaan laut.

Tanpa terasa Po-ji ikut memandang ke arah yang diperhatikan Gu Thi-wah alias bocah gede baja itu, tertampaklah sebuah kapal layar sedang meluncur kemari, badan kapal kelihatan rusak di sana sini, agaknya karena serangan hujan badai semalam, agaknya kapal ini berlabuh di tempat yang terhindar dari serangan badai, tapi toh mengalami kerusakan juga.

“Itu dia datang sekarang ….” gumam Thi-wah.

“Apakah kau kenal penumpang kapal itu?” tanya Po-ji.

“Keparat, siapa kenal dia?” damprat Thi-wah. “Orang di atas kapal itu adalah kawanan bandit, melihat kemiskinanku dan kelaparan, mereka bermaksud menyeretku masuk ke dalam komplotan mereka. Tapi aku Gu Thi-wah biarpun rudin dan mati kelaparan juga tidak sudi menjadi perompak, cuma … hehe, barang kaum bajak justru akan kurampas, asalkan mereka terpencil sendirian dan kepergok olehku, tentu akan kuhajar mereka dan sedikit banyak kurampas barang mereka.”

“Eh, baju yang kau pakai ini tentunya juga hasil rampasan,” tanya Po-ji tertawa.

“Tidak cuma baju saja, makanan ini dan perbekalan kapal semuanya hasil rampasanku, karena itulah kawanan perampok sangat gemas padaku dan aku ditantangnya untuk berkelahi di sini hari ini.”

“Oo, mereka menantangmu dan segera kau terima?” tanya Po-ji.

“Tentu saja kuterima, kalau tidak kan kelihatan pengecut?!” ujar Thi-wah dengan melotot.

“Mereka sukar membekukmu, maka sengaja menantangmu ke sini, dengan sendirinya mereka sudah siap sedia,” ujar Po-ji dengan menyesal. “Jumlah mereka jelas sangat banyak, bukankah kau bisa dihajar mampus oleh mereka?”

Thi-wah berpikir sejenak, lalu berkata, “Biarpun terhajar mampus juga harus datang kemari ….”

Sementara itu kapal bobrok itu sudah menepi, lebih 20 lelaki kekar dengan senjata tombak, garpu ikan, cundrik, golok dan sebagainya sama melompat ke pantai.

Meski sekian banyak gerombolan orang ini, namun tampaknya rada jeri juga terhadap Gu Thi-wah, mereka cuma mencaci maki saja dari kejauhan dan tidak berani menerjang maju.

Seorang yang paling depan membentak, “Hai, si dungu besar, hari ini jika kau tidak menyerah, bisa jadi badanmu akan kami cencang hingga hancur.”

“Kentut makmu busuk, memangnya tuanmu takut padamu!” teriak Thi-wah dengan gusar. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Po-ji, “Harap Toako duduk saja di sini, biar kuhajar kawanan bangsat itu.”

“Jika kau harus berkelahi boleh maju saja, hendaknya hati-hati,” kata Po-ji.

“Toako jangan khawatir,” jawab Thi-wah sambil menanggalkan baju sehingga badan bagian atas telanjang, ia mengangkat sepotong batu besar seberat ratusan kati terus lari ke depan.

Melihat si gede menerjang tiba, kawanan bajak itu tidak berani ayal, sekali bersuit, serentak mereka pasang barisan.

Seorang lelaki dengan rambut awut-awutan dan bergolok besar segera membentak dan mendahului menerjang maju, langsung goloknya membacok kepala Gu Thi-wah.

“Keparat!” damprat Thi-wah sambil memapak golok lawan dengan batu besar.

“Trang”, golok membacok batu sehingga tangan lelaki itu tergetar luka, golok pun terpental ke udara.

“Hahaha, tahu busuk!….” Thi-wah tergelak mengejek.

Mendadak dari samping sebuah tombak menusuk, sukar bagi Thi-wah untuk menangkis, terpaksa ia lemparkan batu sekuatnya ke depan, menyusul sebelah tangannya terus meraih ke samping dan tepat tombak lawan kena dipegangnya.

Terdengar desir angin kencang, batu seberat ratusan kati itu ditambah daya lempar Thi-wah yang kuat, keruan cukup mengejutkan luncuran batu itu, kawanan bajak berteriak ketakutan dan lari terpencar.

Dalam pada itu Thi-wah telah membetot sekuatnya sehingga tombak lawan dapat dirampasnya. Melihat kawanan bajak itu lari tunggang langgang, ia tertawa gembira dan memaki, “Telur busuk! Pulang saja kelonan dengan binimu! Berkelahi apa lagi?”

Ia putar tombaknya dengan kencang sehingga membawa deru angin keras. Meski caranya sama sekali tidak pakai jurus ilmu silat, namun deru anginnya cukup mengejutkan, bilamana tersabet oleh tombak, andai kata tidak mampus juga pasti akan sekarat.

Dengan sendirinya kawanan bajak itu tidak berani mendekat, bilamana Thi-wah mendesak maju, segera mereka lari tersebar lagi.

Thi-wah tambah senang, ia mencaci maki kalang kabut dan mengejek.

Seorang lelaki berbaju hitam yang menjadi pemimpin kawanan bajak itu berteriak, “Si dungu ini jelas cuma bertenaga besar saja dan sama sekali tidak mahir ilmu silat, ayolah kita kerubut dia menurut cara yang sudah kita rencanakan, pasti dapat membereskan dia, jangan takut!”

Kawanan bajak berteriak setuju, segera salah seorang membentak, “Ayo, sembelih dia dahulu!”

Dengan murka Thi-wah menerjang maju lagi dengan tombak berputar, meski kawanan bajak kembali menyingkir jauh, namun mereka cukup terlatih dan dapat menggunakan Ginkang, sia-sia saja Gu Thi-wah menguber kian kemari, tiada seorang pun dapat disusulnya.

Sampai sekian lamanya, akhirnya Thi-wah lelah sendiri. Baru saja ia hendak mengaso, tahu-tahu berbagai macam senjata lawan mengerubutnya lagi. Betapa pun Thi-wah bukan bertubuh baja, mana ia tahan, tidak sampai setengah jam ia sudah mandi keringat dan megap-megap.

Sedikit meleng, mendadak pinggul tertusuk garpu musuh, kontan bokong terluka tiga lubang dan darah pun mengucur.

Kawanan bajak tertawa senang, ada yang mengejek, “Haha, tampaknya segera kita akan santap daging panggang!”

Semakin murka dan semakin kencang putar tombaknya, semakin cepat pula tenaga Thi-wah terkuras dan tidak tahan lama.

Sekonyong-konyong ia berteriak, “Nanti dulu, berhenti!”

Kawanan bajak kaget oleh suaranya yang menggelegar dan sama merandek.

“Kau mau menyerah?” tanya si bajak baju hitam.

Siapa duga, selagi kawanan bajak itu tertegun, mendadak Thi-wah berlari menyingkir sambil membentak, “Kawanan bangsat, ayolah kalau berani boleh coba kejar kemari, boleh rasakan bala bantuanku yang sudah siap di sini!”

Mimpi pun kawanan bajak itu tidak mengira bocah dungu gede ini pun dapat main licik, seketika mereka tidak berani sembarangan mengejar.

“Masakah dia dapat kabur dari sini, kita lihat saja permainan apa yang akan diperbuatnya,” kata si bajak baju hitam.

Sementara itu Thi-wah sudah lari sampai di depan Pui Po-ji, segera ia berlutut dan menyembah.

Po-ji sendiri berdebar khawatir menyaksikan pertarungan tadi, dengan suara mendesis ia tanya, “Ssst, bagaimana? Apakah perlu lari?”

“Betapa pun sukar untuk kabur, berkelahi juga kalah, tampaknya hari ini Gu Thi-wah harus mati di tangan mereka ….” keluh Thi-wah dengan napas masih tersengal-sengal, bicara sampai di sini air matanya lantas menitik, ucapnya pula dengan menunduk, “Thi-wah telah mengangkat saudara dengan Toako dan tidak dapat memberikan apa-apa, hanya kapalku itu masih lumayan, di sana juga masih tersimpan beberapa kati daging, biarlah kuantar Toako ke atas kapal dulu, habis itu baru Thi-wah mengadu jiwa dengan mereka.”

Terharu juga Po-ji oleh ucapan Gu Thi-wah itu, air matanya juga berlinang-linang. Biarpun muda usianya, namun sudah berjiwa kesatria, segera ia berseru, “Tidak, tidak boleh jadi. Sekali kita sudah bersaudara, mana boleh kusaksikan orang membunuhmu. Jika kau mati tentu aku pun tidak mau hidup.”

Thi-wah melenggong, setelah berpikir, tiba-tiba ia menggeleng dan berkata, “Wah, tidak boleh, Toako sudah punya bini, jika Toako mati, kan binimu bisa menjadi janda.”

Geli dan juga terharu hati Po-ji, ia usap air matanya dan berkata dengan tersenyum, “Jangan khawatir, kita takkan mati.”

Meski di mulut ia hibur orang, padahal dalam hati sendiri juga ketakutan.

Siapa tahu ucapannya itu justru membuat girang Gu Thi-wah, mendadak ia melompat bangun dan berteriak, “Aha, betul, kepandaian Toako memang jauh lebih hebat daripadaku, tentu Toako mempunyai cara untuk menghajar kawanan bangsat itu.”

Tergerak juga hati Po-ji, timbul suatu akalnya, cuma tidak diketahui akalnya akan berguna atau tidak. Tapi keadaan sudah mendesak, terpaksa harus dicoba. Segera ia berseru, “Ya, kau tunggu saja di sini, biar kubereskan kawanan keroco itu.”

Ia benar-benar berdiri dan mendekati kawanan bajak.

Tubuh kawanan bajak itu rata-rata tinggi besar, sebaliknya perawakan Po-ji tidak lebih tinggi daripada satu setengah meter, apalagi sama sekali tidak paham ilmu silat, majunya ini ibaratnya domba diantar ke mulut harimau.

Akan tetapi Gu Thi-wah justru penuh menaruh kepercayaan kepada anak itu, ia malah berteriak-teriak, “Nah, kawanan bangsat, Toakoku sudah maju, bolehlah kalian menanti ajal!”

Kawanan bajak tertawa riuh, ada yang berseru, “Haha, setan cilik inikah Toakomu? Hahaha, ayolah maju, lihat saja sekali tendang akan kukeluarkan kuning telurmu!”

Gugup juga Po-ji berdiri di hadapan sekawanan bajak yang ganas serupa serigala, kaki pun terasa agak lemas, tapi selangkah pun ia tidak mundur, sebaliknya malah membusungkan dada, dengan tabah ia membentak, “Jika kalian hidup berkecimpung di tengah laut, tentunya kalian ini anak buah Siu Thian-ce, bukan?”

Kawanan bajak saling pandang sekejap dan mengunjuk rasa terheran-heran. Bajak baju hitam lantas membentak dengan bengis, “Kau setan cilik ini mengapa tahu nama besar pemimpin kami?!”

Bahwa kawanan bajak ini ternyata benar anak buah Siu Thian-ce, hal ini membuat hati Po-ji bertambah lega lagi, segera ia mendengus, “Hm, disiplin anak buah Siu Thian-ce biasanya sangat ketat, tak tersangka ada juga anak buahnya yang kotor serupa kalian ini, suka main kerubut dan menganiaya mangsa yang sendirian, memangnya kalian sudah lupa bahwa merampok mangsa yang sendirian bagaimana hukumannya?”

Betapa pun Po-ji adalah anak kecil, meski ia berlagak seperti orang Kangouw berpengalaman, nyata nadanya tetap agak janggal.

Namun bagi pendengaran kawanan bajak itu justru menimbulkan rasa kaget, sebab Siu Thian-ce yang mengepalai kawanan bajak di pantai timur itu dan telah memberi hukuman berat terhadap anak buahnya yang mengganggu kapal si jago pedang berbaju putih itu telah tersiar luas, apalagi kawanan bajak sekarang berkedudukan lebih rendah daripada bajak laut yang dihukum mati Siu Thian-ce itu, tentu saja hal ini sangat memprihatinkan mereka.

Dengan sendirinya mereka kebat-kebit demi mendengar teguran Po-ji, segera si bajak baju putih tadi bertanya pula, “Eh, sahabat cilik ini berasal dari mana, bolehkah mendapat penjelasan?”

Nyata nadanya sudah berubah lunak. Sebaliknya nada Po-ji berbalik galak, jengeknya, “Hm, hanya kau saja tidak ada harganya untuk bertanya asal usulku. Suruh Siu Thian-ce kemari untuk bicara denganku.”

Seorang lelaki beralis tebal sejak tadi telah mengamat-amati Pui Po-ji, sekarang mendadak ia berseru tertahan, “Aha, teringatlah olehku!”

Kawanan bajak sama berpaling ke arah si alis tebal dan bertanya dengan suara lirih, “Maksudmu teringat akan diri setan cilik ini?”

“Ya, setan … sahabat cilik ini kulihat berada di kapal layar pancawarna itu,” tutur si alis tebal.

Serentak kawanan bajak sama melengak, seru mereka, “Hah, apa betul? Kau tidak keliru?”

“Pasti tidak,” jawab si alis tebal. “Waktu Ci-ih-hou bertanding dengan jago pedang berbaju putih itu, dari jauh kulihat sahabat cilik ini berbicara dengan Ci-ih-hou.”

Bagi pandangan kawanan bajak ini, orang yang dapat bicara langsung dengan Ci-ih-hou tentu saja luar biasa kedudukannya. Seketika mereka saling pandang dengan bingung, air muka pun berubah pucat.

Entah siapa yang mulai, mendadak mereka sama berlutut di depan Po-ji.

“Maaf, hamba sekalian tidak tahu asal usul Anda sehingga bicara kasar, mohon Anda jangan marah dan sudi mengampuni kami,” seru si baju hitam tadi.

Kejadian ini pun membuat Po-ji merasa di luar dugaan, maklumlah, ia sendiri tidak tahu bahwa penumpang kapal layar pancawarna itu ternyata sedemikian dihormati oleh kawanan bajak ini.

Menyaksikan Pui Po-ji mendekati kawanan bajak, hanya bicara sebentar saja dan tanpa bergebrak, tahu-tahu kawanan bajak yang sukar dilawan itu ternyata bertekuk lutut dan tunduk benar-benar terhadap anak itu, keruan Gu Thi-wah melongo heran, kejut dan juga bergirang.

“Haha, bagus! Sungguh hebat, kepandaian Toako memang hebat!” seru Thi-wah sambil berkeplok tertawa.

Bola mata Po-ji berputar, katanya terhadap kawanan bajak, “Urusan hari ini boleh dianggap selesai, tapi selanjutnya bagaimana lagi jika kalian bertemu dengan saudaraku yang gede ini?”

Beramai kawanan bajak menjawab, “Selanjutnya bilamana kami bertemu dengan Gu-toaya, kami pasti akan menghormatinya, biarpun Gu-toaya memukuli kami juga tak berani kami balas.”

“Keparat,” damprat Gu Thi-wah. “Jika kalian tidak melawan memangnya untuk apa kuhajar kalian? Omong kosong belaka!”

“Ya, ya, ucapan Gu-toaya memang benar,” sahut kawanan bajak.

Diam-diam Po-ji merasa geli, tapi ia berlagak kereng, katanya pula, “Selanjutnya jika kalian berani main kerubut lagi, tentu akan kuminta pertanggungjawaban kepada Siu Thian-ce.”

Si bajak berbaju hitam tadi mengiakan dan menyatakan tidak berani lagi, selang sejenak ia berkata pula, “Dan adakah Toaya memberi pesan lain?”

“Tidak ada,” jawab Po-ji.

Belum lenyap suaranya Thi-wah lantas menukas, “Ada, masih ada!”

“Silakan memberi pesan, pasti akan kami laksanakan,” jawab si baju hitam.

Thi-wah tertawa, katanya, “Nah, lekas bawa sebagian perbekalan kapal kalian kemari, pilih daging yang baik, biar kumakan enak bersama Toako.”

Si baju hitam mengiakan, bersama kawanan bajak mereka lantas lari ke atas kapal dan membawakan satu keranjang makanan serta disuguhkan kepada Po-ji dengan hormat.

Mendadak Thi-wah mendelik dan membentak, “Sesudah makanan tersedia, lekas kalian enyah, memangnya kalian ingin minta bagian lagi?”

Hampir saja Po-ji mengakak geli. Sebaliknya kawanan bajak itu serupa mendapat pengampunan besar, segera mereka angkat kaki dan menghilang dalam sekejap saja.

Thi-wah terbahak-bahak, “Hahaha, ada daging, ada bakpao …. Tak tersangka jiwa tidak melayang, sebaliknya malah dapat makan besar sepuasnya.”

Hari ini mereka berdua benar-benar dapat makan dengan puas. Setelah kenyang, Gu Thi-wah lantas rebah dan segera pulas. Dalam keadaan begitu, biarpun dia dilemparkan ke laut pun sama sekali tidak tahu.

Meski Po-ji juga merasa lelah, tapi pikirannya terus bekerja sehingga sukar tidur.

Esok paginya, kembali Thi-wah makan kenyang, katanya, “Jika Toako tidak mempunyai tempat tujuan, marilah ikut adik mengembara di lautan bebas, meski terkadang kurang makan, namun hidup merdeka tanpa susah, setiap hari dapat tidur nyenyak, apakah Toako sepakat?”

“Jika hidupku benar dapat bebas merdeka seperti dirimu tentu aku akan senang,” kata Po-ji.

“Apakah Toako masih ingin mengerjakan sesuatu?” tanya Thi-wah heran.

“Ya, ada,” sahut Po-ji dengan gegetun.

Mendadak Thi-wah menunduk sedih, ucapnya, “Ai, jika demikian, bila … bila Toako meninggalkanku ….”

Meski tubuhnya sekali lipat lebih gede daripada Po-ji, tapi cara bicaranya sekarang serupa anak yang manja, namun rasa sedihnya memang benar timbul dari lubuk hatinya yang dalam.

Mau tak mau Po-ji juga merasa berat, ucapnya, “Aku pun tidak tega meninggalkanmu, cuma … ai, nanti saja kalau urusanku sudah beres tentu akan kucari dirimu lagi.”

“Entah Toako hendak pergi ke mana?” tanya Thi-wah.

“Aku pun tidak tahu hendak pergi ke mana, cuma aku perlu mencari seorang, tapi di mana orang itu sesungguhnya sampai saat ini aku sendiri tidak tahu,” tutur Po-ji.

Thi-wah berpikir sekian lama, tiba-tiba ia angkat kepala dan berkata, “Jika begitu, biarlah kuantar keberangkatan Toako, akan kuantar ke Tiangkang, di sana ada beberapa juragan kapal kenalanku, biar kumohon mereka mengantar Toako ke hulu Tiangkang, di sana selain akan memudahkan perjalanan Toako, mencari orang juga lebih leluasa.”

Selama bicara ia tidak berani mengangkat kepala, kiranya air matanya telah berlinang-linang dan khawatir dilihat Po-ji.

Tak tersangka oleh Po-ji bahwa bocah gede serupa kerbau ini juga punya perasaan akrab begini, biarpun keduanya baru saja kenal, namun sudah sebaik serupa saudara sekandung.

Seketika Po-ji merasa duka dan juga girang, kedua orang lantas naik ke atas kapal kotak dan pasang layar, lalu berlayar menuju ke muara Tiangkang.

Wusiong adalah kota pelabuhan di muara sungai Tiangkang yang makmur, kapal yang berlabuh di sini hilir mudik tiada hentinya sepanjang hari.

Melalui kota pelabuhan inilah kapal Gu Thi-wah menuju ke hulu sungai, mereka mendapatkan sebuah teluk dan berlabuh di situ. Thi-wah bermaksud mencarikan seorang juragan kapal agar dapat mengantar perjalanan Po-ji lebih lanjut.

Tiba-tiba Po-ji berkata, “Setelah kupikir lagi, kukira lebih baik melanjutkan perjalanan melalui darat saja.”

“Sebab apa?” tanya Thi-wah.

“Orang yang hendak kucari itu mestinya ada alamatnya yang tertentu, cuma watak orang ini agak aneh, ia tidak mau menuliskan alamatnya yang jelas melainkan sengaja membuat orang main teka-teki untuk mencarinya. Setelah kuterka kian kemari juga belum dapat kutebak sesungguhnya di mana tempat tinggalnya, bukan mustahil tempatnya justru terletak di sekitar pantai sini. Maka kalau aku menumpang kapal, meski lebih enak bagiku, tapi kan repot jika aku tersesat jalan malah.”

Thi-wah melotot, katanya, “Tapi … tapi Toako sendirian, juga tidak membawa sangu, kan Toako bisa kelaparan dalam perjalanan?”

“Untuk ini kau tidak perlu khawatir, Toako kan banyak kepandaian,” ujar Po-ji dengan tertawa.

“Aha, betul, kepandaian Toako memang jauh melebihiku, makanmu justru jauh lebih sedikit daripadaku. Kalau Thi-wah saja tidak pernah kelaparan, masa Toako bisa kelaparan,” seru Thi-wah dengan gembira.

Sejenak kemudian, mendadak ia mengeluarkan segenap sisa makanan yang masih tersedia dalam kapal, katanya dengan tertawa lebar, “Ini semua milik Toako.”

Po-ji melenggong, ucapnya, “Siapa bilang milikku? Kan milik Thi-wah sendiri.”

“Bukan, milik Toako, harap Toako bawa pergi saja,” kata Thi-wah sambil menggeleng.

“Tidak, tinggalkan saja untukmu,” ujar Po-ji.

“Kalau tidak Toako bawa, Thi-wah bisa … bisa ….” bisa apa sukar lagi diucapkan bocah gede itu.

Tiba-tiba Po-ji berkata dengan tertawa, “Eh, kan sepantasnya ada rezeki harus dinikmati bersama. Sekarang tersedia makanan sebanyak ini, ayolah lekas kita sikat, siapa pun tidak perlu membawanya pergi. Setuju?!”

“Aha, bagus, bagus sekali!” seru Thi-wah.

Kedua orang lantas duduk dan mulai makan minum, tangan Thi-wah tidak pernah berhenti, mulut juga tidak berhenti mengunyah, berulang ia berteriak puas dapat makan sepuasnya.

Sejenak kemudian, mendadak ia berhenti makan dan berteriak, “Ah, tidak, tidak betul, ini tidak adil!”

“Tidak adil apa?” tanya Po-ji.

“Aku makan terlampau banyak dan Toako makan sangat sedikit, maka aku tidak mau makan lagi,” kata Thi-wah.

Dengan menahan rasa duka Po-ji masukkan sepotong daging panggang yang tersisa ke dalam baju, katanya dengan tertawa, “Baiklah, sepotong daging ini akan kubawa. Sekarang bolehlah kau pergi, segera aku pun akan berangkat.”

Thi-wah memandangnya sejenak dengan termangu-mangu, lalu berdiri, katanya dengan menunduk, “Toako, jangan … jangan lupa kepada Thi-wah ….”

Mendadak ia putar tubuh dan bertindak pergi dengan langkah lebar, ia dorong kapalnya dan hanya sekejap saja sudah meluncur jauh.

Po-ji memandangi bayangan kapal dengan termenung, entah berapa lama lagi, mendadak ia berteriak, “Thi-wah … Thi-wah, aku pasti tidak melupakanmu.”

Namun Thi-wah sudah pergi jauh dan tidak mendengarnya lagi, wajah Po-ji pun bercucuran air mata.

Selama hidupnya entah betapa banyak orang yang sayang dan memanjakan dia, tapi semua itu adalah kasih sayang orang yang lebih tua daripadanya, baru sekarang dirasakannya kasih sayang antarsahabat, dan sahabat yang setia itu sekarang sudah pergi. Meski Po-ji sudah bertekad akan menjadi seorang lelaki berhati baja, tidak urung sekarang ia mencucurkan air mata.

Ia mendapatkan sepotong batu dan duduk di situ, pikiran terasa kusut dan tidak keruan rasanya. Untuk pertama kalinya ini ia mulai merasakan pahit getir dan manis kecutnya orang hidup, merasakan keruwetan kehidupan manusia, terkenang olehnya waktu berbaring iseng di rumah dan membaca dengan santai, namun cuma berselang beberapa puluh hari saja hidupnya sekarang seperti sudah berada di dunia lain.

Waktu itu ia berharap dirinya dapat menambahkan pengalaman orang hidup dan memahami lebih banyak, sekarang baru dirasakan akan lebih baik jangan banyak mengetahui hal-hal kehidupan manusia.

Cuma, sang waktu yang berlalu betapa pun tidak dapat diputar balik lagi, ia menjadi terharu akan pengalamannya yang serbasingkat ini.

Sampai agak lama, mendadak terdengar suara orang membentak keras berkumandang dari lautan di belakangnya.

Po-ji terkejut dan berpaling, dilihatnya kapal Gu Thi-wah itu meluncur balik lagi, belum mencapai pantai Thi-wah lantas melompat turun dan menyeret kapalnya ke pesisir, lalu berlari-lari ke arah Po-ji dengan kaki telanjang.

Kejut dan girang Po-ji, tanyanya dengan heran, “Hei, ken … kenapa kau kembali lagi ke sini?”

Thi-wah menunduk, jawabnya dengan tergegap, “Meski … meski kepandaian Toako lebih besar daripada Thi-wah, tapi apa pun juga Thi-wah merasa … merasa khawatir Toako berangkat sendirian. Maka kupikir lebih baik kupergi bersama Toako saja.”

Hati Po-ji terasa hangat, darah panas terasa bergolak, kerongkongan serasa tersumbat dan tidak sanggup bicara.

“Toako, apakah … apakah engkau marah padaku?” tanya Thi-wah. “Jika Toako merasa tidak leluasa jalan bersamaku, biarlah aku ikut dari kejauhan saja.”

Mendadak Po-ji melompat bangun dan merangkul leher Thi-wah, teriaknya, “Kenapa kumarah padamu? Jika kau mau menemaniku, tentu sangat bagus!”

Pandangan Thi-wah terasa kabur karena teraling oleh air mata, ujung mulutnya membawa senyuman lega, ucapnya dengan agak gemetar, “Ben … benarkah begitu? Ah, alangkah gembiranya aku … sungguh gembira ….”

Kedua orang saling rangkul dengan erat. Meski perawakan keduanya berbeda sangat mencolok, namun perasaan tulus murni tidak ada berbeda, sampai sang surya pagi pun seperti ikut senang dan menongol dari balik lapisan awan.

Kedua orang lantas kerja keras, mereka mencari dan mengumpulkan segala keperluan dan diangkut ke atas kapal, lalu gentong air minum diisi penuh. Mereka lupa sekarang sudah berada di sungai, selanjutnya tidak perlu lagi khawatir kehabisan air minum.

Ternyata benar ada sementara juragan kapal yang berlayar di Tiangkang itu cukup kenal Gu Thi-wah, dari kejauhan mereka saling tegur sapa, ada yang berseloroh, “Hai, Thi-wah, kau sudah pulang. Wah, agaknya panenan tahun ini tidak cukup untuk kita makan lagi.”

Maklumlah, Gu Thi-wah terkenal sangat banyak takaran makannya.

Juga ada orang bertanya, “Hai, Thi-wah, siapakah saudara cilik yang berada bersamamu itu?”

“Dia Toakoku!” jawab Thi-wah dengan suara keras.

Yang bertanya sama melengak, lalu sama bergelak tertawa pula. Maklum, bilamana Pui Po-ji dikatakan sebagai Toako si bocah gede itu, dengan sendirinya tidak ada yang mau percaya.

Thi-wah juga tertawa lebar bilamana orang lain sama melongo heran. Malamnya, sudah sekian jauh kapal mereka berlayar, lalu mereka mencari satu tempat berlabuh di ujung sebuah semenanjung.

Tiba-tiba dari jauh ada orang berteriak, “Toako … Toako, tunggu ….”

Suaranya halus merdu, ternyata suara anak perempuan.

“Hah, tak tersangka ada orang yang juga memanggil Toako padamu,” ucap Po-ji dengan tertawa.

Waktu memandang ke sana, terlihat sebuah sampan meluncur tiba secepat anak panah terlepas dari busurnya. Yang mendayung sampan itu adalah seorang anak gadis manis berbaju hijau.

Lengan baju anak gadis itu tersingsing tinggi sehingga kelihatan lengannya yang putih mulus, dua gelang kemala hijau menghiasi pergelangan tangannya.

Hanya memandang sekejap saja Thi-wah lantas memperlihatkan rasa kegirangan, ia lari ke buritan kapal dan berteriak, “Hai, Samoay, dayung yang keras, cepat kemari!”

Wajah anak gadis berbaju hijau yang putih itu tampak sudah berkeringat, namun kecepatan sampan itu sungguh luar biasa, hanya sebentar saja sudah menyusul tiba.

Sekali Thi-wah menjulurkan tangannya, dengan enteng saja gadis manis itu diangkatnya ke atas kapal dan dirangkulnya erat-erat, teriaknya, “Lekas katakan, mengapa kau pun berada di sini?”

Si gadis memandang Thi-wah dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, katanya kemudian dengan tertawa, “Wah, Toako, engkau tumbuh terlebih kekar lagi …. Eh, siapakah adik cilik ini?”

Ia tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.

Thi-wah tertawa, katanya, “Adik cilik apa? Dia Toakoku, jadi juga Toakomu, ingat!”

Gadis baju hijau itu terbelalak bingung, ia menegas, “Toa … Toako?”

“Ya, Toako,” kata Thi-wah. “Kepandaian Toako kita ini sungguh sangat hebat. Oya, Toako, inilah adik perempuanku, namanya Thi-lan. Ia jauh lebih pintar daripadaku.”

Dengan terbelalak si gadis baju hijau alias Gu Thi-lan memandang Pui Po-ji, sejenak kemudian barulah ia menegas, “Engkau … engkau ini Toakoku?”

Mendadak ia tertawa terkial-kial sehingga sesak napas.

“Tertawa apa?” omel Thi-wah. “Ayo, lekas memberi hormat kepada Toako.”

Dengan tertawa manis Thi-lan mendekati Po-ji, ingin menahan tertawa, tapi sukar ditahan, katanya, “Apa benar engkau ingin … ingin kupanggil sebagai Toako?”

“Sudah tentu harus panggil begitu,” teriak Thi-wah sebelum Po-ji menjawab.

“Baik, baik, Toako … Toako cilik ….” sambil memanggil Thi-lan tertawa mengikik.

“Apakah kau anggap usiaku terlampau muda dan tidak pantas kau panggil sebagai Toako?” tanya Po-ji.

“Jika aku menyangkal berarti aku dusta padamu,” sahut Gu Thi-lan.

Bola mata Pui Po-ji berputar, katanya, “Kau sendiri masih muda belia, anak perempuan pula, mengapa seorang diri mengeluyur keluar rumah dan bikin khawatir ayah ibu?”

Seketika Gu Thi-lan berhenti tertawa, ucapnya heran, “Hei, dari mana kau tahu aku mengeluyur ….”

Mendadak ia menyadari telanjur omong dan kalimat lanjutannya ditelan kembali mentah-mentah.

Po-ji menudingnya dan berkata pula, “Jika kau tidak mengeluyur keluar di luar tahu ayah-ibumu, waktu ditanya Toakomu tadi mengapa kau tidak menjawab?”

Thi-lan memandang Po-ji dengan terkesiap, nyata ia terheran-heran anak sekecil itu mengapa mempunyai pandangan setajam itu dan begitu teliti pula caranya menganalisis sesuatu urusan.

Mendadak Gu Thi-wah membentak, “Samoay, jadi benar kau mengeluyur keluar secara diam-diam?”

Terpaksa Gu Thi-lan mengangguk.

“Bagus, anak berumur dua belasan sudah begitu berani, apa kau tidak takut dimakan orang jahat?” omel Thi-wah.

“Memangnya siapa anak berumur dua belasan?” jawab Thi-lan kurang senang.

“Buset, jika kau tidak berumur dua belasan, habis berapa?” kata Thi-wah. “Jelas aku masih ingat beberapa hari sebelum kupergi kau baru saja berulang tahun ke-12.”

Thi-lan tertawa geli, sahutnya, “Itu kan kejadian lima tahun yang lalu, memangnya orang tidak bisa tumbuh besar lagi dan masih tetap berumur 12 saja?”

Baru sekarang Gu Thi-wah menyadari kekeliruannya, serunya, “Ah, betul, betul, aku sudah pergi lima tahun lamanya ….”

“Sejak Toako pergi, Jiko (kakak kedua) lantas mengambil Jiso (kakak ipar kedua),” tutur Thi-lan.

“Hah, apa benar? Loji sudah menikah?” Thi-wah menegas dengan girang.

“Ya,” jawab Thi-lan. “Jiso itu orangnya cantik dan juga cerdik, sungguh sukar dimengerti mengapa dia mau menjadi istri Jiko.”

“Memangnya kenapa dengan Loji? Apakah dia tidak sesuai menjadi suami orang?” omel Thi-wah dengan mendelik.

“Jiko memang punya sedikit rezeki, cuma ….” Thi-lan menghela napas lalu menyambung, “Cuma Jiso yang cantik lagi pintar itu ternyata terlampau lihai juga.”

“Lihai bagaimana?” tanya Thi-wah.

“Sejak Jiso masuk rumah kita, keadaan rumah kita lantas banyak berubah daripada dulu,” tutur Thi-lan dengan menyesal. “Dahulu, meski kita miskin, namun hidup kita cukup gembira. Tapi kemudian … kemudian Jiso datang dengan membawa harta, lalu keluarga kita tidak semiskin dulu lagi. Namun … namun aku lebih suka hidup miskin seperti dahulu itu.”

“Maksudmu dia mengganggumu?” tanya Thi-wah.

Thi-lan menggeleng, lalu mengangguk pula, mata pun tampak basah, ucapnya sedih, “Tidak menjadi soal jika dia menggangguku, tapi Jiko, Jiko juga dia ….”

“Memangnya Jiko juga diganggunya?” tanya Thi-wah dengan gusar.

Thi-lan menunduk, sampai lama tidak bicara lagi.

“Ayo lekas katakan,” bentak Thi-wah.

Sampai sekian lama Thi-lan termenung, ia pandang Po-ji sekejap, lalu bertutur perlahan, “Sebelum … sebelum dia kawin dengan Jiko, banyak kawannya yang sering datang mencari dia ….”

“Apa alangannya banyak kawan datang mencari dia?” ujar Thi-wah dengan melotot. “Jika suka bersahabat, suatu tanda dia anak perempuan yang berbudi baik dan sepantasnya kau menghormati dia.”

“Tapi … tapi para sahabatnya itu semuanya orang lelaki ….”

“Memangnya kenapa kalau lelaki?” teriak Thi-wah. “Apakah orang lelaki tidak boleh dijadikan sahabat? Hehe, kau ini memang anak aneh.”

“Huh, Toako sendiri yang aneh,” jawab Thi-lan sambil mengentak kaki. “Perempuan yang sudah menikah sepantasnya tidak … tidak boleh sembarangan bersahabat lagi dengan lelaki lain, masa urusan begini saja Toako tidak paham?”

“Memangnya kenapa? Masa perempuan yang sudah menikah tidak boleh bersahabat lagi?” gumam Thi-wah, ia pandang Po-ji sekejap, lalu bertanya, “Coba Toako, apakah uraian Samoayku ini tepat?”

“Memang begitulah seharusnya,” kata Po-ji.

Thi-wah berpikir, lalu berteriak, “Jika begitu, seharusnya Jikomu memberi hajaran kepada bininya dan melarang dia sembarangan bergaul lagi dengan kawannya.”

“Masakah Toako tidak kenal tabiat Jiko,” ujar Thi-lan dengan menyesal. “Dia tidak berani bertengkar dengan siapa pun, terhadap Jiso terlebih tunduk, asalkan Jiso berdehem saja seketika Jiko akan mendekatinya dan meninggalkan pekerjaan apa pun.”

“Ai, kenapa ayah juga tidak mengurus dia?” ujar Thi-wah.

“Sampai ayah dan ibu juga rada-rada takut padanya,” tutur Thi-lan dengan menyesal. “Betapa pun Jiso membuat ribut, biasanya ayah dan ibu juga tidak berani bicara, hanya aku … hanya aku saja ….”

“Kau kenapa?” tanya Thi-wah.

“Hanya aku saja yang tidak takut padanya,” tutur Thi-lan. “Bilamana dia bertindak kelewatan, diam-diam aku lantas memusuhi dia, dengan berbagai daya upaya kubikin dia serbasusah menghadapi apa pun.”

Mendadak Thi-wah tertawa, katanya, “Haha, dahulu bila aku bertengkar denganmu, diam-diam aku pun sering dipermainkan olehmu. Kuyakin perempuan itu pasti juga banyak kau kerjai, dan entah cara bagaimana dia membalas dirimu?”

“Di luar dia tidak memperlihatkan sesuatu, tapi bila aku berada sendirian, segera dia mendekati aku dan mengajak berkelahi,” tutur Thi-lan.

“Hah, adik perempuan Gu Thi-wah masakah kalah berkelahi dengan orang?” seru Thi-wah.

“Perawakannya kecil, tapi tenaganya besar, gerakannya juga cepat, sering aku tercecar dan tidak sanggup melawannya.”

“Apakah Loji tahu apa yang terjadi?” tanya Thi-wah dengan gusar.

Thi-lan menunduk, jawabnya, “Cara turun tangannya keji dan ganas, meski aku dipukuli dan kesakitan setengah mati, tapi tempat yang dipukulnya selalu dipilih bagian yang tersembunyi sehingga tidak terlihat, sampai … sampai Jiko juga tidak tahu.”

Muka Thi-wah merah padam saking gusarnya, dampratnya, “Wah, pantas mampus, pantas mampus!”

“Dan karena aku tidak tahan, terpaksa kabur dari rumah,” tutur Thi-lan.

Tiba-tiba Po-ji menimbrung, “Wah, Jisomu itu agaknya seorang aneh. Menurut ceritamu, jika benar dia begitu galak, jangan-jangan dia menguasai ilmu silat?”

“Ya, konon dia anak murid Hoa-san-pay,” jawab Thi-lan.

Kening Po-ji bekernyit, pikirnya, “Jika anak murid Hoa-san-pay, pintar lagi cantik, mengapa mau kawin dengan pemuda dusun yang miskin, di balik ini tentu ada sesuatu yang tidak beres.”

Waktu ia memandang, terlihat Gu Thi-lan memakai baju wanita nelayan, namun dari bahan yang halus, potongannya juga serasi dengan perawakannya.

Perlahan Thi-wah menepuk bahu adik perempuannya, gumamnya dengan penasaran, “Selama aku tidak di rumah, tentu telah bikin susah padamu.”

Perlahan Thi-lan mengangguk.

“Selama sekian tahun kau benar hidup susah?” tiba-tiba Po-ji tanya pula.

Thi-lan melengak oleh pertanyaan ini, air mukanya rada berubah juga, tapi ia lantas tersenyum dan berkata, “Ah, orang muda kan tidak menjadi soal susah sedikit.”

“Sudah berapa lama kau meninggalkan rumah?” tanya Po-ji.

“Kira-kira tiga tahun,” jawab Thi-lan.

“Selama tiga tahun ini apa yang kau lakukan?”

“Menangkap ikan untuk belanja hidup sehari-hari,” sahut Thi-lan.

“Dari mana kau peroleh kapal itu?”

“Kusewa, setiap bulan tiga cekak perak.”

“Kami cari duit dengan susah payah kenapa caramu berdandan sedemikian boros?”

“Anak perempuan mana yang tidak suka bersolek?” jawab Thi-lan dengan tertawa. “Hidupku cukup hemat, dengan tabungan lebih dua tahun baru dapat kubeli sepasang gelang kemala ini.”

Po-ji merasa sangsi, pertanyaannya cepat dan gencar, tapi jawaban Thi-lan terlebih cepat daripada pertanyaannya, namun jawabnya biarpun cepat tanpa cacat, tetap Pui Po-ji merasa anak perempuan ini ada sedikit aneh, sorot matanya yang bening itu seperti menyembunyikan sesuatu rahasia.

Sedangkan keanehan dan rahasia ini justru sukar ditebak oleh Po-ji. Diam-diam ia merasakan semacam firasat yang tidak enak, cuma sukar dijelaskan apa firasat itu.

Tanpa berkedip ia pandang Gu Thi-lan, namun gadis itu tidak memandangnya lagi.

Mendadak Thi-wah berkata dengan tertawa, “Ah, kau sudah tumbuh menjadi gadis besar, cepat sekali kau dewasa.”

Hanya sekejap saja ia sudah melupakan rasa duka tadi, dengan tertawa ia berkata pula, “Untung hari ini dapat kau temui aku, kalau tidak, bila nanti kau sudah tua baru bertemu denganku, tentu sukar bagiku untuk membayangkan si Lan kecil dahulu telah berubah menjadi nenek-nenek …. Ya, untung, sungguh untung kita dapat bertemu ….”

“Kudengar cerita mereka bahwa engkau terlihat di sini, maka buru-buru kususul kemari ….” kata Thi-lan dengan tertawa.

Kembali hati Po-ji tergerak, segera ia menukas, “Orang-orang sama sibuk menangkap ikan, jika kau juga hidup dari menangkap ikan, kenapa kau tinggal di rumah?”

“O, ini … aku kan juga perlu istirahat sehari dua hari,” sahut Thi-lan.

“Banyak kenalan keluarga kalian di sini, jika kau sudah tinggal di sini selama tiga tahun, memangnya ayah-bundamu tidak tahu dan mengapa mereka tidak mencarimu ke sini?” tanya Po-ji.

“Aku … aku sendiri tidak tahu apakah ayah dan ibu mengetahui aku berada di sini atau tidak, yang jelas mereka memang tidak pernah mencariku.”

Ia tetap menjawab dengan lancar dan cepat, namun kata-katanya sudah rada tergegap.

Kembali kening Po-ji bekernyit dan tambah sangsi. Semula ia sangka keluarga Gu Thi-wah pasti sangat sederhana, baru sekarang diketahui cukup ruwet dan ada sesuatu yang tidak beres.

Pula antara mereka kakak beradik ternyata sangat berbeda, si kakak polos bersahaja, sebaliknya si adik justru penuh diliputi misterius. Sang kakak bicara lugu, si adik justru pandai putar lidah, setiap katanya sukar untuk dipercaya, sungguh Po-ji tidak menyangka Gu Thi-wah bisa mempunyai seorang adik perempuan seperti ini.

Sedangkan Gu Thi-lan juga sama sekali tidak menyangka anak kecil serupa Pui Po-ji ini ternyata dapat melihat rahasia pribadinya, tahu begini tentu dia takkan sembarangan menyusul kemari.

Sebaliknya Gu Thi-wah sama sekali tidak tahu apa-apa, ia masih tertawa lebar dan gembira. Melihat adik perempuan yang tumbuh semakin besar ini, selain tertawa ia tidak mau berpikir urusan lain lagi.

Tapi Thi-lan seperti teringat banyak urusan, ia menunduk dan memainkan ujung baju.

“Ayo berangkat,” kata Po-ji tiba-tiba.

“Ke mana?” tanya Thi-wah.

“Kan pantas jika mampir ke tempat tinggal adikmu,” sahut Po-ji.

“Aha, benar,” seru Thi-wah tertawa. “Kalau tidak disebut Toako, hampir saja kulupa. Eh, Samoay, di mana letak rumahmu? Ayolah kita berangkat.”

“Baik … baiklah, ikut padaku,” sahut Thi-lan dengan menunduk. Tapi mendadak ia berteriak kaget, “Wah, celaka! Di … di manakah sampanku?….”

Thi-wah memandang sekitarnya, ternyata benar sampan adiknya sudah hilang. Mungkin saking asyiknya mereka bicara sehingga tidak tahu sampan itu hanyut terbawa arus entah ke mana.

“Mengapa tidak … tidak kau tambat dengan tali,” omel Thi-wah.

Thi-lan menangis dan ribut, “Wah, lantas bagaimana baiknya? Sampan itu milik orang lain, untuk mengganti rugi jelas aku tidak mampu …. Toako, katanya kepandaianmu sangat besar, mohon engkau sudilah mencarikan akal.”

“Susul ke hilir sana,” ucap Po-ji dengan kening bekernyit.

“Betul, usul bagus,” seru Thi-wah.

Padahal cara ini sedikit pun tidak bagus, bahkan boleh dikatakan cara yang paling bodoh. Jika sampan sudah hanyut ke hilir, ke mana lagi mereka dapat menemukannya, apalagi cuaca pun mulai gelap.

Sekonyong-konyong dari depan sana sebuah perahu meluncur tiba. Penumpangnya juga seorang gadis berbaju hijau, keadaannya serupa Gu Thi-lan.

Segera Thi-lan berteriak, “Lau-cici, apakah kau lihat sampanku?”

“Tidak,” jawab gadis itu. “Marilah kubawamu mencarinya.”

“Baik,” sahut Thi-lan. “Toako, hendaknya kalian tunggu di sini saja, sampan itu kecil dan ringan, mudah ditemukan ….”

Sementara itu perahu tadi sudah mendekat.

Sejak tadi Po-ji ingin bicara apa-apa, namun dapat ditahannya.

“Lekas, Samoay, tahu tidak?” seru Thi-wah.

Thi-lan mengiakan dan melompat ke atas perahu.

Melihat gerak tubuh Gu Thi-lan, kembali hati Po-ji tergetar. Meski ia sendiri tidak mahir ilmu silat, namun sudah cukup banyak ia melihatnya, sekarang dapat dipastikannya adik perempuan Gu Thi-wah ini pasti menguasai ilmu silat cukup tinggi.

Dilihatnya Thi-lan memberi salam dan perahu tadi didayung pergi lagi. Kelihatan gadis berbaju hijau itu berbisik apa-apa di tepi telinga Thi-lan entah apa yang dikatakannya, lalu menoleh dan memandang Po-ji sekejap, kemudian perahu itu pun semakin menjauh.

Memandangi kepergian adik perempuannya, tiba-tiba Thi-wah berkata dengan tertawa, “Dandanan nona itu selain serupa benar dengan adikku, bahkan perahu yang dibawanya juga serupa sampan Losam tadi, sungguh aneh dan menarik ….”

Meski otaknya tidak selincah orang biasa, tapi orang yang berpikiran polos seperti ini sering kali dapat langsung memberi reaksi dan menyelami sesuatu persoalan secara lebih mendalam daripada orang lain, sebab jalan pikirannya tidak ruwet seperti orang lain, yang dipikir tidak sebanyak orang, maka terkadang sekaligus dapat memegang titik pokoknya dengan jitu.

Meski Po-ji sudah dapat melihat hal-hal yang mencurigakan yang tidak mungkin dapat dilihat oleh Gu Thi-wah, tapi terhadap urusan yang mudah kelihatan berbalik tidak dapat memahaminya.

Sekarang hati Po-ji tergerak lagi, serunya, “Aha, betul!”

“Apanya yang betul?” tanya Thi-wah.

“Oo, tidak ada apa-apa ….” meski demikian jawab Po-ji, tapi di dalam hati ia pikir, “Adik perempuan Thi-wah pasti telah ikut sesuatu Pang-hwe (perkumpulan dan organisasi) rahasia, dan di dalam Pang-hwe itu pasti banyak terdapat anak gadis berdandan serupa dia. Melihat caranya menjaga rahasia, rasanya Pang-hwe itu pasti tidak berhaluan baik.”

Urusan keluarga Thi-wah itu makin dipikir makin memusingkan kepala. Sebaliknya Thi-wah sendiri sama sekali tidak ambil pusing, ia telah menyeret kapal kotaknya sehingga kandas di pesisir.

“Waktu kecilnya apakah adik perempuanmu pernah belajar silat?” tanya Po-ji.

Thi-wah menyeret kapalnya sambil menggeleng, “Tidak pernah.”

“Tapi sekarang dia sudah mahir ilmu silat,” kata Po-ji dengan kening bekernyit.

“Apa betul?” Thi-wah menegas dengan tertawa. “Wah, jika begitu tentu sangat bagus, kelak biar kuminta belajar padanya.”

“Siapa gurunya yang mengajar kungfu padanya?” tanya Po-ji pula. “Jika dia hidup dari menangkap ikan, mengapa ada orang mengajar ilmu silat padanya? Memangnya kau tidak heran terhadap hal-hal demikian?”

“Heran apa?” tanya Thi-wah dengan tertawa lebar.

Po-ji menghela napas dan tidak bicara lagi.

Kedua orang menunggu cukup lama di pantai, Thi-wah semula berdiri di tepi pantai sambil celingukan kian kemari, akhirnya ia berbaring di pesisir dan tertidur nyenyak.

Memandangi bocah gede itu, Po-ji menggeleng kepala, gumamnya, “Sungguh orang yang polos ….”

Sementara itu sudah magrib, tabir malam sudah menyelimuti angkasa, bintang sudah berkelip di langit. Namun bayangan Gu Thi-lan masih belum lagi kelihatan.

Diam-diam Po-ji membatin, “Jangan-jangan ia khawatir kami singgah ke tempat tinggalnya, maka diam-diam tinggal pergi.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: