Kumpulan Cerita Silat

12/01/2008

Duke of Mount Deer (10)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:49 pm

Duke of Mount Deer (10)
Oleh Jin Yong

“Membaik? Tidak! Sedikit pun tidak! Aku merasa dadaku semakin nyeri. Hal ini memang tidak pernah aku katakan padamu, karena itu kau pun tidak mengetahuinya….”

“Sekarang bagaimana? Apakah kongkong ingin aku mengambilkan obat?” tanya Siau Po.

“Mataku tidak bisa melihat, aku tidak mau sembarangan minum obat!”

Siau Po terdiam. Tidak berani dia bicara sembarangan. Menurutnya, watak Hay kongkong malam ini aneh sekali. Dia merasa perasaannya tidak enak.

“Jodohmu bagus sekali, Nak. Kau sudah menjadi sahabat Raja. Kelak di kemudian hari, banyak hal yang dapat kau lakukan. Kau pun belum membersihkan tubuh. Sebetulnya aku dapat melakukannya, hanya saja… sekarang ini rasanya sudah terlambat….”

Siau Po bingung, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan thaykam tua itu. Dia tidak tahu yang dimaksudkan dengan membersihkan tubuh adalah dikebiri. Dia hanya merasa kata-kata orang tua itu aneh sekali.

“kongkong, sekarang sudah larut malam, sebaiknya kongkong beristirahat saja,” kata Siau Po.

“Tidur, ya tidur. Sebetulnya waktu tidur sudah terlalu banyak. Pagi tidur, siang tidur, malam juga tidur. Kalau orang kebanyakan tidur, untuk selamanya dia tidak akan terjaga lagi. Anak, kalau seseorang tertidur untuk selamanya, bukankah dia tidak akan merasakan penderitaan lagi? Dia juga tidak akan mengalami sengsaranya batuk-batuk seperti ini. Bukankah bagus sekali?”

Siau Po membungkam. Dia tidak berani memberi komentar apa-apa. Hatinya tercekat. Dia merasa kata-kata Hay kongkong malam ini semakin lama semakin aneh.

“Anak!” Terdengar Hay kongkong berkata kembali. “Masih ada siapa di rumahmu?”

Sebetulnya pertanyaan itu sederhana sekali. Sering diajukan oleh siapa pun juga. Tetapi masalahnya Siau Po menyamar sebagai Siau Kui cu. Sedangkan dia tidak pernah tahu riwayat hidup thaykam cilik itu. Bagaimana kalau dia salah bicara? Namun, biar bagaimana pun, dia tidak bisa mengabaikan pertanyaan itu.

“Di rumahku masih ada seorang ibu saja. Tentang yang lainnya, entahlah, aku merasa tidak bergairah membicarakannya.”

“Oh… jadi hanya tinggal ibumu seorang. Kalian orang Hokkian. Biasanya bagaimana kalian menyebut ibu?” tanya Hay kongkong.

Sekali lagi Siau Po terkesiap.

‘Mengapa dia bisa mengatakan aku orang Hokkian? Apakah karena Siau Kui cu memang orang suku itu? Mungkinkah si kura-kura tua ini sudah mengetahui samaranku? Kalau benar, apakah dia juga tahu bahwa akulah yang membutakan kedua matanya?’

Pikiran Siau Po terus bekerja, sedangkan mulutnya menjawab dengan gugup.

“Aih! Un… tuk apa kau menanyakan hal itu?”

Hay kongkong menarik nafas dalam-dalam.

“Usiamu masih begitu muda, tapi mengapa hatimu begitu jahat? Sebenarnya kau menuruni watak ibumu atau ayahmu?”

Rasa terkesiap dalam hati Siau Po jangan ditanyakan lagi. Tapi pada dasarnya dia memang berani. Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa tertawa.

“Aku tidak mirip dengan siapa pun. Watakku tidak terlalu bagus, tetapi juga tidak terlalu buruk.”

Hay kongkong kembali terbatuk-batuk.

“Kau tahu, sejak masih muda aku sudah dikebiri. Karena itulah aku menjadi thaykam….”

Hampir saja Siau Po mengeluarkan seruan terkejut. Sekarang dia baru mengerti apa maksudnya membersihkan diri. Diam-diam dia berpikir dalam hati. “Aku belum dikebiri, dan aku pun tidak mau. Pokoknya aku harus mencari akal untuk meloloskan diri dari tempat ini!”

“Sebenarnya aku mempunyai seorang anak laki-laki.” Thaykam tua itu melanjutkan kata-katanya. “Sayangnya, ketika berusia delapan tahun, dia meninggal. Kalau tidak, mungkin cucuku saja sudah seusiamu sekarang. Eh, laki-laki she Mau itu, apakah dia itu ayahmu?”

Jantung Siau Po berdebar-debar. “Bukan! Bukan!” sahutnya cepat.

Tanpa terasa nada suara atau dialek Siau Po kembali sebagaimana dulunya, yakni aksen orang Yangciu.

“Aku juga mempunyai dugaan demikian. Seandainya kau adalah anakku tidak nanti aku tinggalkan kau dalam bahaya untuk melarikan diri sendiri. Biar bagaimana, aku pasti berusaha menyelamatkanmu!”

“Sayangnya aku tidak mempunyai ayah yang sebaik dirimu,” kata Siau Po dengan suara yang manis sekali.

“Aku sudah mengajarkan dua macam ilmu kepadamu. Yang pertama Tay Kim-na hoat dan Taycu Taypi Cian-yap jiu! Tentunya kedua ilmu itu sudah kau pahami dengan baik, bukan?” kata Hay kong-kong kembali.

“Ya. Tapi ada baiknya kongkong mengajarkan aku ilmu lainnya. Kepandaian kongkong terhitung nomor satu di dunia, tentu baik sekali apabila ada yang mewariskannya. Dengan demikian nama kongkong akan terangkat sehingga menjadi terkenal,” kata Siau Po memuji.

Hay kongkong menggelengkan kepalanya.

“Nomor satu di dunia? Aku tidak berani menerimanya. Kau tahu, orang yang berkepandaian tinggi di dunia ini banyak sekali. Bahkan tidak terhitung…” Hay kongkong menghentikan kata-katanya sejenak, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya. “Coba kau tekan perutmu, kurang lebih tiga dim dari pusar dan katakan apa yang kau rasakan?”

Siau Po tidak mengerti mengapa dia disuruh melakukan hal itu, tetapi dia menurut. Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia mengeluarkan seruan ter-tahan, karena bagian yang ditekan itu terasa nyeri. Nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin bercucuran.

“Bagaimana? Enak bukan?” suara Hay kongkong benar-benar tidak enak didengar.

Panas sekali hati Siau Po disindir sedemikian rupa. Dia pun memaki dalam hatinya.

“Dasar kura-kura tua tidak tahu mampus! Kura-kura tua busuk!” mulut dia menyahut dengan tenang. “Oh, memang enak sekali. Hanya sedikit nyeri saja, kok!”

“Setiap hari kau pergi berjudi dan berkelahi dengan Sri Baginda. Sebelum kau pulang, hidangan sudah diantarkan kemari. Aku merasa supnya kurang lezat, setiap hari dari dalam peti aku mengeluarkan sebotol obat yang lantas aku campurkan dalam sup itu. Dosisnya sedikit sekali sebab kalau banyak-banyak, reaksinya pada tubuhmu bisa membahayakan. Aku sadar tidak boleh melakukan hal itu. Kau seorang bocah yang sangat cerdik, kau pasti akan curiga. Dengan menaruh obat itu sedikit demi sedikit, kau tidak menyadarinya, bukan?”

Siau Po semakin terperanjat. Jantungnya berdegup semakin kencang.

“A… ku… aku kira kau tidak suka makan sup….”

“Sebenarnya aku suka, tapi karena, di dalam sup ada racunnya, biarpun hanya sedikit, aku jadi tidak suka. Siapa yang memakannya, lama-lama akan menjadi penyakit. Benar kan?”

Semakin kesal hati Siau Po.

“Benar-benar sekali!” Dia mengangkat jempol tangannya. “kongkong, kau memang lihay sekali!”

Thay kam tua itu menarik nafas panjang.

“Bukan, bukan begitu. Untuk melatih ilmu Taycu Taypi cian-yap Jiu, orang juga harus melatih pernafasannya. Ini yang dinamakan latihan tenaga dalam. Latihan itu dapat menahan racun dalam tubuhmu. Kalau kau tidak melatih ilmu itu, mungkin sejak empat lima bulan yang lalu, kau sudah dilanda sakit yang tidak tertahankan. Sampai satu tahun kemudian, kau tidak dapat menahan nyeri itu lagi sehingga kau akan membenturkan kepalamu ke dinding atau menggigit tanganmu sendiri!” Berkata sampai di sini, dia berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang mulai memburu. “Yang harus disayangkan justru aku, penyakit ini membuat aku semakin lama semakin tidak berdaya. Itulah sebabnya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi….”

Perasaan Siau Po menjadi agak lega mendengar kata-katanya. Di samping itu dia juga memikirkan akal untuk mencari akal guna meloloskan diri dari cengkeraman thaykam tua yang licik ini.

“Biarlah, meskipun ilmunya tinggi sekali, tapi toh matanya sudah buta. Kalau aku menyembunyikan diri, mana mungkin dia bisa mencari aku?” pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba sebuah ingatan yang bagus melintas di benak Siau Po. “Baru saja aku mendapatkan sebilah belati mustika yang tajamnya luar biasa. Kenapa aku tidak mencobanya saja?”

Membawa pikiran ini, dia segera berkata. “Kongkong, kiranya sejak semula kau sudah tahu bahwa aku bukan Siau Kui cu yang asli. Itukah sebabnya kau ingin menyiksa aku dengan cara ini? Ha… ha… ha… ha…! Sayangnya kau juga telah kena dikelabui olehku. Ha… ha… ha… ha…!” Siau Po tertawa terbahak-bahak.

Sembari tertawa, Siau Po menundukkan tubuhnya dan mencabut belati yang terselip di kaos kakinya. Dia melakukannya dengan hati-hati. Dan dia yakin, meskipun timbul sedikit suara, tapi suara tawanya itu akan menutupinya.

“Dalam urusan apa aku dikelabui olehmu?”

Sengaja Siau Po mengarang-ngarang cerita agar perhatian thaykam tua itu teralihkan.

“Sejak semula aku sudah tahu bahwa sup itu beracun. Aku langsung membicarakannya dengan Siau Hian cu….”

“Apa katanya?”

“Dia mengatakan bahwa kau ingin mencelakai aku!”

Hay kongkong tidak dapat menutupi rasa terkejutnya.

“Oh! Jadi Sri Baginda menduga demikian?”

“Kenapa tidak? Cuma waktu itu aku masih belum tahu bahwa SiauHiancu adalah Sri Baginda. Dia rnenganjurkan aku agar pura-pura tidak tahu, demi menjaga diri terhadap hal yang tidak diinginkan. Dia menyuruh aku setiap hari minum sup itu, kemudian dimuntahkan kembali. Kau kan tidak melihatnya, bukan?”

Sembari berkata begitu, pisau belatinya telak terhunus, bagian yang tajamnya di arahkan ke Hay kongkong. Diam-diam dia berpikir dalam hati. “Aku harus menikamnya dengan tepat. Kalau dia tidak langsung mati, tentu aku yang akan dibunuhnya!”

Dalam usia tiga atau empat belas tahun, Siau Po sudah bisa menggunakan otaknya mencari akal dan pemecahan bagaimana harus berbuat. Otaknya cerdas, apa pun dapat dipelajarinya dengan cepat.

Hay kongkong setengah percaya setengah tidak dengan ucapan Siau Po itu. Terdengar dia tertawa dingin.

“Kalau kau tidak makan sup itu, bagaimana kau bisa merasa nyeri di perutmu barusan?”

Siau Po menarik nafas panjang.

“Masalahnya begini, meskipun aku sudah muntahkan sup itu kembali, tetapi aku tidak sempat langsung mencuci mulut. Karena itu, sedikit banyak racun itu menempel dilidahku. Lama-lama toh akan membawa pengaruh juga di tubuhku ini.”

Jarak Siau Po dengan thaykam tua itu tinggal setengah tindak. Dia tinggal menunggu kesempatan yang baik untuk menyerangnya tepat di tengah jantung.

“Bagus!” kata Hay kongkong. “Racunku itu tidak ada obatnya. Kau makan sedikit, reaksinya memang menjadi lambat. Namun penderitaan yang akan kau rasakan juga semakin hebat!”

Siau Po tertawa terbahak-bahak. Tenaga daIamnya dikerahkan ke tangan kanan, tiba-tiba saja dia menikam ke jantung thaykam tua itu!

Hay kongkong tercekat hatinya. Namun dia memang lihay sekali. Begitu merasakan adanya serangkum angin dingin yang menyambar, dia langsung mempunyai dugaan buruk. Dengan gerakan spontan, tubuhnya maju ke depan, tangannya menangkis sekaligus mengirimkan serangan. Tangan kiri menangkis, tangan kanan menyerang.

Buk! Blam! Terdengar suara keras yang saling susul. Dalam sekali gerak, kedua tangannya sudah memperlihatkan hasil.

Tubuh Siau Po terpental ke belakang dan menghantam daun jendela sehingga jebol seketika kemudian melayang keluar dan jatuh di atas tanah dengan menerbitkan suara keras. Siau Po merasa lengan dan seluruh tubuhnya nyeri bukan main.

Di pihak lain, Hay kongkong juga merasa terkesiap sebab telapak tangannya terasa bukan main nyerinya. Ternyata keempat jari tangannya telah terkutung akibat tangkisannya pada belati mustika Siau Po tadi. Bahkan kalau reaksinya tadi kurang cepat, pasti saat ini dadanya sudah tertikam. Namun sekarang hanya kulit luarnya saja yang tersayat.

Seandainya belati yang digunakan Siau Po bukan barang langka, keempat jari tangannya sendiri juga tidak perlu terkutung karena tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.

Terdengar Hay kongkong tertawa dingin. Suaranya itu sungguh menggidikkan hati. Dalam dugaannya, mungkin Siau Po tidak dapat bertahan lebih lama lagi karena lukanya yang kelewat parah.

“Sungguh kematian yang terlalu enak baginya!” Thaykam tua itu mendumel sendiri. Setelah itu dia mengoyak kain sprei untuk membalut luka di tangannya.

Setelah selesai, dia menggumam lagi seorang diri.

“Entah senjata apa yang digunakan bocah sialan itu. Mengapa bisa begitu tajam? Eh, jangan-jangan yang digunakannya adalah senjata mustika!”

Dengan membawa pikiran itu dia segera keluar dari jendela untuk mencari bocah itu. Tapi, meskipun sudah meraba kesana kemari, dia tetap tidak berhasil menemukan Siau Po, apalagi senjata mustikanya.

Hay kongkong sempat bingung. Karena meskipun matanya buta, dia dapat menduga dengan tepat dimana jatuhnya tubuh Siau Po tadi. Dia juga masih hapal di luar kepala mana letak taman dan setiap pepohonan yang ada di sana. Tapi meskipun sampai kewalahan dia mencarinya, tetap saja dia tidak menemukan apa-apa.

“Mungkinkah ada orang yang langsung menyingkirkan mayatnya?” tanyanya dalam hati. “Siapa orang itu dan kemana mayatnya disingkirkan? Mengapa aku tidak berhasil menemukannya?”

Si thaykam tua tetap yakin bahwa pukulannya sudah berhasil membunuh Siau Po. Padahal, kenyataannya Siau Po memang belum mati. Dia hanya merasakan nyeri di seluruh tubuhnya, dadanya sesak. Memang ketika terpanting keluar, dia sendiri mempunyai dugaan bahwa jiwanya akan melayang. Hampir saja ia putus asa. Karena apabila hal itu terjadi, dendamnya karena dicelakai thaykam tua itu pasti tidak bisa dibalas lagi.

Namun ketika menyadari dirinya tidak mati, cepat-cepat dia menggulingkan tubuhnya menjauhi tempat jatuhnya tadi. Hal ini karena mendadak ia ingat ada kemungkinan Hay kongkong tidak yakin akan kematiannya dan akan keluar untuk memastikannya.

Mengingat bahaya yang dihadapinya, dia segera menggulingkan tubuhnya, kemudian merayap beberapa tindak. Namun dia roboh kembali. Dan kebetulan tanah tempatnya roboh itu cukup landai sehingga dia bergulingan ke bawah. Sampai sejauh belasan tombak, gerakan tubuhnya baru terhenti, Akhirnya dia dapat berdiri juga walaupun seluruh tubuhnya masih terasa ngilu. Untungnya belati mustika yang didapatkan dari rumah Go Pay masih tergenggam erat di tangannya.

“Sayang si tua bangka itu tidak sampai mampus di ujung belatiku ini. Dasar nasibnya lagi terang!” gerutunya dalam hati.

Diam-diam dia juga bersyukur bahwa dirinya sendiri masih hidup. Setelah menyelipkan kembali belatinya ke dalam kaos kaki, Siau Po berpikir kembali.

“Rahasiaku sudah terbongkar. Aku tidak bisa tinggal lagi dengan kura-kura’tua itu. Berbahaya sekali. Jiwaku bisa diincarnya setiap saat. Sayang uangku masih belum diberikan oleh So toako. Aih! Sudahlah, anggap saja aku sudah menghamburkannya dalam satu malam sehingga ludes! Tapi.. bagaimana dengan dayang cilik itu?” Tiba-tiba ingatannya kembali pada Lui Cu.

“Pasti dia sedang menunggu aku! Hampir saja Siau Po menjerit kecewa ketika mendapatkan manisan buahnya sudah hancur semua.’ Aku harus menemuinya dan memperlihatkan manisan ini kepadanya. Biar bagaimana, manisan ini masih harum dan rasanya masih bisa dimakan….

Membawa pikiran demikian, Siau Po cepat-cepat melangkah keluar. Sesampainya di depan pintu pendopo, lagi-lagi nyaris dia berteriak saking kesal. Ternyata pintu itu terkunci. Mana mungkin dia bisa masuk ke dalam?

Siau Po berdiri termangu-mangu. Pikirannya bingung. Dia merasa gundah. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu itu terbuka, lalu menyembullah sebuah kepala. Ketika Siau Po memperhatikan dengan seksama, hatinya menjadi senang. Dia mengenali orang itu sebagai si dayang cilik yang mengadakan perjanjian dengannya.

Lui Cu sedang menggapai kepadanya sambil tersenyum manis. Tanpa berpikir panjang lagi Siau Po segera menghambur ke depan dan menyelinap masuk lewat celah pintu yang tersingkap.

“Aku khawatir kau tidak dapat masuk. Karena itu aku menunggumu di sini,” kata si dayang cilik yang bibirnya tetap mengembangkan senyuman menawan. “Sudan cukup lama juga aku menunggumu.” “Maafkan keterlambatanku,” sahut Siau Po. “Di tengah jalan aku bertemu seekor kura-kura tua yang baunya bukan main. Batoknya keras sekali. Aku ditabraknya sehingga jatuh terguling.” Lui Cu jadi tertegun mendengar keterangannya.

“Apakah di taman ini ada kura-kura yang begitu besar? Aih! Aku, kok belum pernah melihatnya. Lalu, apakah sakit sekali tubuhmu sekarang?”

Siau Po sedang menghampiri nona cilik itu, ketika dia bertanya. Tiba-tiba saja dadanya terasa nyeri kembali. Untuk sejenak dia sudah melupakannya tadi karena terlalu gembira melihat si nona membukakan pintu untuknya, dia sampai mengeluarkan suara erangan.

Lui Cu dapat melihat keadaan bocah itu. Cepat-cepat dia menghampiri Siau Po dan membimbingnya agar tidak sampai terguling.

“Masih sakit?” tanyanya lembut.

Baru saja Siau Po hendak menjawab pertanyaannya, tetapi gerakan bibirnya terhenti karena saat itu juga dia melihat sesosok bayangan yang berkelebat.

Bayangan itu besar dan gerakannya cepat, sehingga mirip dengan burung garuda. Namun ketika bayangan itu berdiam diri, Siau Po dapat melihat tegas bahwa itu merupakan seseorang yang tubuh nya kurus dan membungkuk. Malah Siau Po langsung mengenalinya sebagai Hay kongkong, si thaykam tua. Jantungnya berdebar-debar dengan kencang.

Lui Cu juga sudah melihat orang itu. Sementara itu, Hay kongkong menatap ke arah mereka dengan pandangan mata yang garang. Sayangnya dia sudah buta. Kalau tidak, tentu dia bisa mengenali Siau Po dan dayang cilik itu. Padahal jarak mereka hanya terpaut dua kaki saja.

“Jangan bersuara!” bentak Hay kongkong garang. “Kalau tidak menurut apa kataku, kau akan mati! Jawab perlahan-lahan, siapa kau?”

“Aku… aku….” Lui Cu menjadi gugup karena takut.

Thaykam tua itu mengulurkan tangannya meraba kepala nona cilik itu. Dia juga mengusap wajahnya.

“Kau dayang keraton, bukan?”

“Be… nar,” sahut si nona cilik.

“Sekarang sudah tengah malam, apa yang kau lakukan di sini?” suaranya perlahan, tapi sinis sekali.

“A… ku… sedang men… cari udara segar….”

Hay kongkong tersenyum, namun senyumannya itu benar-benar menggidikkan bagi siapa pun yang melihatnya. Rembulan menyembunyikan dirinya sebagian sehingga cuaca tampak kelam.

“Dengan siapa kau di sini?” tanya Hay kongkong kembali. Dia menoleh, telinganya dipasang. Dia dapat mendengar deru nafas seseorang yang lain.

Tadi, karena terkejut, nafas Lui Cu memburu, itulah sebabnya Hay kongkong bisa mengetahui bahwa di sana ada orang. Sedangkan Siau Po berdiri di samping nona cilik itu, tentu saja suara nafasnya juga tidak luput dari telinga thaykam tua yang tajam itu.

Mendengar pertanyaan Hay kongkong, Siau Po terkejut setengah mati. Dia ingin memberi isyarat kepada si nona, tapi dia tidak berani bersuara atau menggerakkan kaki tangannya karena takut ketahuan. Untung Lui Cu juga cerdik sekali, dia dapat menduga isi hati Siau Po dari sinar matanya. “Ti… tidak…” sahutnya cepat. “Di mana Hong thayhou sekarang?” tanya Hay kongkong kembali. “Antar aku menemuinya!”

“Kong… kong… kau… aku ha… rap kau jangan ber… kata apa-apa kepada Ibu suri, lain kali… aku tidak berani lagi,” kata Lui Cu panik.

Nona cilik ini menyangka Hay kongkong sudah memergoki perbuatannya dan akan diadukan kepada Hong thayhou.

“Kau tidak perlu memohon apa-apa kepadaku. Kalau kau tidak antar aku sekarang, aku akan membunuhmu!”

Hay kongkong mencekal tangan nona itu erat-erat. Sebelah tangannya lagi mencekik leher dayang itu. Wajah si nona cilik jadi merah padam karena nafasnya sesak.

Siau Po juga terkejut setengah mati. Hampir saja dia mengeluarkan seruan. Untung saja dia dapat mengendalikan perasaannya.

“Lekas jawab!” bentak Hay kongkong. Cekikannya pada leher si nona dikendurkan.

“A… ku akan mengajakmu. Ma… ri,” sahut Lui Cu lirih.

Terpaksa dayang cilik itu mengajak Hay kongkong masuk ke dalam pendopo yang mana merupakan tempat tinggal Ibu suri. Tetapi si nona sempat mengedipkan matanya kepada Siau Po agar dia segera meninggalkan tempat itu.

“Thayhou berada di kamar tidur,” katanya perlahan.

Hay kongkong mengikutinya, tapi tangan kirinya tetap mencekal nona itu. Otak Siau Po bekerja keras. Dia mengkhawatirkan Lui Cu, juga mencemaskan Ibu suri. Diam-diam dia berpikir dalam hati”.

“Pasti si kura-kura tua ini akan mengadukan samaranku kepada Hong thayhou. Dia juga akan menceritakan kematian Siau Kui cu dan kebutaan matanya yang disebabkan olehku. Dia akan meminta kepada Hong thayhou untuk memerintahkan para pengawal menangkap aku. Bahaya sekali. Tapi, mengapa ia tidak mengadu kepada Sri Baginda saja? Apakah karena tahu aku bersahabat baik dengan Raja dan kaisar Kong Hi akan membela aku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Ah! Aku harus segera melarikan diri. Tapi, mana mungkin? Pintu istana sudah dikunci, lagipula di depan banyak pengawal. Sebentar lagi Hong thayhou pasti akan menitahkan mereka menangkapku. Biarpun seandainya punya sayap, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari tempat ini….”

Ketika Siau Po masih bingung untuk mengambil keputusan. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.

“Ah! Hay tayhu! Akhirnya kau datang juga mencariku!”

Terdengar suara ibu suri yang berkata.

“Kau ingin memberi selamat kepadaku? Mengapa tidak datang di siang hari, malah di tengah malam begini. Aturan dari mana itu?”

“Aku mempunyai sebuah rahasia yang ingin kuceritakan kepada thayhou. Siang hari terlalu banyak orang dan banyak telinga, kalau sampai rahasia. ini diketahui, tentu tidak baik,” sahut si thaykam tua.

“Nah, ini dial” kata Siau Po dalam hati. ‘Sekarang dia pasti ingin membeberkan kesalahanku. Biar aku dengarkan dulu apa yang akan diocehkannya, kalau sudah setengah nanti, baru aku menukasnya, tentu belum terlambat untuk menyangkalnya!’

Siau Po menoleh ke kanan kiri, dia ingin mencan sebuah tempat yang aman dan leluasa untuk mendengarkan percakapan itu. Kemudian dia melihat sebuah gunung buatan di samping kolam ikan emas. Dia segera menuju ke tempat itu yang dianggapnya cukup bagus.

“Kalau si kura-kura tua menyerang, aku akan loncat ke dalam kolam. Lalu berenang ke seberang dan menerjang masuk ke dalam kamar thayhou. Meskipun kura-kura tua itu mempunyai sembilan nyawa, tentu dia tidak berani menyerbu masuk.’

“Hm!” Terdengar thayhou mendengus dingin. “Rahasia apakah yang ingin kau sampaikan? Katakan saja sekarang!”

“Apakah di sini tidak ada orang lainnya?” tanya Hay kongkong. “Apa yang ingin hamba sampaikan adalah sebuah rahasia besar!”

“Apakah kau ingin masuk ke dalam untuk memeriksanya? Bukankah ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali? Apakah kau tidak bisa mendengar bahwa di sini tidak ada orang lainnya?” tantang thayhou.

“Mana berani hamba masuk ke dalam kamar thayhou? Bolehkah thayhou keluar ke sini, sebab ada rahasia besar yang ingin hamba utarakan.”

“Huh! Semakin lama nyalimu semakin besar saja! Siapakah yang kau andalkan sehingga sikapmu demikian kurang ajar?” tegur thayhou.

Mendengar teguran Ibu suri, hati Siau Po merasa puas. “Memang kura-kura tua ini sudah keterlaluan. Beraninya bersikap demikian tidak sopan terhadap Hong thayhou!” batinnya.

Sementara itu, terdengar sahutan Hay kongkong.

“Hambamu mana berani….”

“Hm!” suara Hong thayhou semakin dingin. “Kau… kau memang sudah lama tidak memandang sebelah mata terhadapku! Malam ini, tanpa terduga-duga kau datang kemari. Sebetulnya niat busuk apa yang terkandung dalam hatimu?”

Semakin puas hati Siau Po mendengarnya. “Oh, dasar kura-kura tua. Ketemu batunya kau kali ini! Rasanya aku tidak perlu campur tangan lagi. Thayhou sendiri bisa memakimu sepuas hati!”

Terdengar suara Hay kongkong yang tetap tenang.

“Kalau thayhou memang tidak mau mendengarnya, tidak apa-apa. Sebetulnya aku mempunyai berita tentang orang itu. Nah, aku pergi saja!” Orang tua itu berlagak seakan ingin meninggalkan tempat itu dengan membalikkan tubuhnya.

Sedangkan Siau Po yang mengira bahwa si thaykam tua hendak berlalu, belum apa-apa sudah kegirangan. “Ah, kau mau pergi? Pergilah! Lebih cepat lebih baik!”

Namun saat itu juga terdengar suara Hong thayhou yang agak gugup.

“Kau mempunyai berita apa?”

“Berita dari gunung Ngo-tay san!”

“Dari Ngo-tay san?” tanya Ibu suri menegaskan. Suaranya agak bergetar. “Apa maksudmu?”

Tiba-tiba Hay kongkong menggerakkan tangannya dan terkulailah tubuh Lui Cu.

Siau Po yang melihat itu terkejut setengah mati.

“Aih, si kura-kura membunuh nona yang manis itu. Pasti thayhou akan marah sekali. Dengan demikian ucapannya yang menyalahkan aku, tentu tidak akan dipercaya lagi!’ pikir si bocah dalam hati.

“Siapa yang kau lukai?” tanya thayhou gugup.

“Salah seorang dayangmu,” sahut si thaykam tua. “Hamba tidak membunuhnya, hanya menotok jalan darahnya saja agar dia tidak dapat mendengar pembicaraan kita nanti.”

Mendengar keterangan itu, lega juga perasaan Siau Po. Namun di pihak lain, dia juga mengkhawatirkan dirinya kembali.

Kemudian terdengar kembali suara Hong thayhou.

“Kau menyebut-nyebut Ngo-tay san. Kenapa?”

“Karena di puncak Ngo-tay san ada seseorang yang sangat memperhatikan thayhou,” sahut Hay kongkong dengan suara datar.

“Maksudmu… dia sudah pergi ke Ngo-tay san?” tanya Hong thayhou dengan suaranya yang bergetar kembali.

“Kalau thayhou ingin mendapatkan keterangan yang lebih jelas, ada baiknya thayhou keluar saja dari kamar. Di tengah malam begini, tidak leluasa hamba masuk ke dalam kamar. Sedangkan jika hamba bicara keras-keras, orang lain pasti mendengarnya.”

Thayhou terdiam, tampaknya dia ragu-ragu.

“Baik!” katanya sesaat kemudian.

Terdengar suara pintu dibuka dan seseorang melangkah keluar. Siau Po mengintai dari tempat persembunyiannya. Dia bisa melihat orang itu memang ibu suri adanya. Ternyata wanita itu mempunyai bentuk tubuh yang agak gemuk dan pendek. Dua kali dia pernah melihat ibu suri, tetapi posisi wanita itu selalu dalam keadaan duduk.

Terdengar ibu suri bertanya kembali.

“Barusan kau mengatakan dia telah pergi ke Ngo-tay san. apakah benar yang kau katakan itu?”

“Hambamu tidak mengatakan siapa yang pergi ke gunung Ngo-tay san. Hamba hanya mengatakan bahwa di puncak gunung Ngo-tay san, ada seseorang yang mungkin masih menaruh perhatian kepada thayhou.”

Thayhou terdiam pula sejenak.

“Baik. Anggap saja kau memang mengatakan begitu. Dia… maksudku, orang itu, untuk apa dia pergi ke Ngo-tay san? Apakah dia berdiam di dalam kuil?”

Sikap Hong thayhou biasanya tenang sekali. Tetapi kali ini begitu mendengar kata-kata Hay kongkong, penampilannya jadi seperti orang yang gelisah. Sebaliknya sikap Hay kongkong malah berubah semakin tenang.

“Orang itu memang berdiam di kuil Ceng-Liang si yang letaknya di puncak gunung Ngo-tay san.”

Mendengar kata-katanya, thayhou menarik nafas dalam-dalam seakan perasaannya menjadi agak lega.

“Terima kasih kepada langit dan bumi! Akhirnya aku bisa juga mendapat berita tentang dirinya….” Thayhou tidak dapat melanjutkan kata-katanya, suaranya bergetar mungkin kareaa kelewat terharu.

Siau Po justru semakin bingung mendengar percakapan mereka.

“Siapa orang itu? Mengapa thayhou begitu memperhatikannya?’ tanyanya dalam hati. Perasaannya menjadi kacau. Dia hanya dapat menerka-nerka. “Apakah orang itu ayah atau sanak saudaranya Ibu suri? Atau kekasihnya? Ya, pasti kekasihnya. Kalau memang ayah atau sanak saudaranya, toh bukan hal yang perlu dirahasiakan. Itulah sebabnya rahasia itu takut diketahui orang. Tapi, mengapa si kura-kura tua bisa mengetahui rahasia ini? Mungkinkah thaykam tua itu ingin menggunakannya untuk memaksa thayhou menghukum mati diriku? Celakalah aku! Untung saja aku mendengarkan pembicaraan ini. Kalau perlu, aku akan membeberkannya agar dapat meloloskan diri dengan selamat dari tempat ini.”

Terdengar suara pernafasan thayhou yang agak memburu.

“Apa yang dilakukannya di kuil Ceng-Liang si?” tanyanya kemudian.

“Apakah thayhou benar-benar ihgin mengetahuinya?”

“Untuk apa kau bertanya terus? Tentu aku ingin mengetahuinya.” bentak thayhou dengan nada tidak sabar.

“Junjungan kita itu sudah mencukur rambutnya menjadi hwesio.”

“Oh!” Thayhou mengeluarkan seruan tertahan. “Dia… benarkah dia sudah menjadi hwesio? Apa kau tidak mengelabui aku?”

“Tidak berani hambamu berdusta pada thayhou. Lagipula, hamba rasa juga tidak ada perlunya,” sahut Hay kongkong ketus.

“Benar-benar tega dia!” seru thayhou sengit. “Tentunya dia selalu memikirkan si rase centil, sampai-sampai dia mengabaikan usaha yang telah dibangun leluhurnya dengan susah payah. Dia juga tinggalkan kami, ibu dan anaknya!”

Siau Po semakin bingung.

“Apa yang dimaksud dengan usaha leluhurnya?’ Mengapa si kura-kura tua menyebut orang itu sebagai junjungannya, mungkinkah dia bukan kekasih thayhou?’ tanyanya dalam hati, semakin penasaran ia.

“Hati junjungan kita telah tawar melihat dunia yang penuh kepalsuan ini. Dia sudah sadar apa artinya kehidupan. Karena itu dia tidak ingin memikirkan negara, istri maupun anaknya lagi. Menurut beliau, semuanya bagai awan gelap yang telah berlalu!”

“Mengapa dia tidak menyucikan diri di masa dulu atau kelak, tetapi justru sekarang? Mengapa dia harus menunggu sampai si rase centil itu mati, baru mencukur rambutnya menjadi hwesio? Mengapa negara yang diusahakan leluhur, istri dan anaknya masih kalah dibandingkan dengan si rase genit itu? Sekarang, kalau kenyataannya dia sudah menyucikan diri, kenapa pula dia meminta kau datang menemuiku?” Pertanyaan thayhou datang bertubi-tubi, seakan semuanya membingungkan hatinya.

Semakin lama suaranya pun semakin keras. Siau Po yang mendengarkan jadi cemas.

“Siapa orang itu sebenaraya?”

“Junjungan kita telah berpesan wanti-wanti, Biar bagaimana, hambamu dilarang membuka mulut, agar urusannya tidak menjadi bocor. Terutama agar Hay thayhou dan Sri Baginda mengetahuinya. Junjungan kita juga mengatakan, dengan putra mahkota menggantikan kedudukannya, negara akan menjadi aman dan damai. Beliau benar-benar merasa puas.”

“Kalau begitu, mengapa baru sekarang kau mengatakannya kepadaku?” suara thayhou semakin sengit.

“Sebetulnya aku sudah tidak ingin memikirkannya kembali. Aku tidak ingin mengetahuinya. Bukankah di dalam hatinya hanya ada si rase centil?”

Siau Po masih heran.

“Mungkinkah orang itu ayah Sri Baginda?” tanyanya pula dalam hati. ‘Tapi, kaisar Sun Ti, ayah Sri Baginda kan sudah meninggal lama? Justru karena ayahnya wafat, baru Sri Baginda menggantikannya. Mungkinkah Sri Baginda masih mempunyai ayah yang lain?’

Siau Po bingung karena memang dia tidak begitu paham silsilah kerajaan. Yang ia tahu, Kaisar Sun Ti adalah ayah dari si raja cilik sekarang.

Mungkin, bila thayhou dan Hay kongkong berbicara lebih jelas lagi, dia juga belum bisa mengerti.

“Junjunganku sekarang sudah menjadi hwesio. Semestinya aku juga menyucikan diri di Ceng-Liang si untuk melayani beliau. Tetapi masih ada satu hal yang membuat junjunganku tidak tenang. Itulah sebabnya hamba ditugaskan kembali ke istana untuk menyelidikinya….”

“Urusan apa yang membuatnya risau?” tanya thayhou cepat.

“Menurut junjunganku, meskipun Tang Gok-hui….”

“Di hadapanku, aku larang kau menyebut nama si rase centil itu?” tukas thayhou bengis.

“Ah! Rupanya yang dimaksud dengan rase centil adalah Tang Gok-Hui. Tentunya dia seorang selir raja. Dan kemungkinan kekasih thayhou menyukainya dan tidak suka lagi kepada thayhou. Itulah sebabnya thayhou menjadi iri hati dan marah!”

“Baik, baik,” sahut si thaykam tua. “Kalau thayhou tidak menyukainya, tentu hamba tidak akan menyebutnya lagi.”

Nafas ibu suri tersengal-sengal. Dia masih penasaran.

“Apa katanya mengenai si rase centil itu?”

“Hambamu tidak mengerti apa yang kau maksudkan, thayhou. Setahu hamba, junjunganku tidak pernah menyebut si rase centil….”

Thayhou marah sekali melihat sikap Hay kong-kong yang berlagak pilon.

“Sudah tentu dia tidak akan menyebutnya demikian. Di dalam hatinya cuma ada permaisuri Toankeng. Setelah si rase centil mati, dia langsung menganugerahkan gelarnya itu. Tong keng Hong hou. Langsung saja para budak dan pelayan yang pandai menjilat menyebutnya permaisuri yang baik hati.”

“Thayhou benar. Setelah Tang Gok-hui meninggal, hamba seharusnya memanggilnya dengan sebutan Toankeng Hong hou. Permaisuri itu meninggalkan buku catatannya yang berjudul Toankeng Hou Gi-lok. Apakah thayhou ingin membacanya? Hamba selalu membawanya kemana-mana!”

Hawa amarah dalam hati thayhou semakin meluap-luap mendengar kata-kata Hay kongkong.

“Kau! Kau!” Untuk sesaat dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa. Namun kemudian dia sadar bahwa thayhou tua itu memang sengaja memancing kemarahannya. Karena itu dia segera mengeluarkan suara tertawa dingin sambil berkata. “Ya, sekarang ini zaman memang sudah berubah. Penjilat ada di mana-mana, karena itu banyak orang yang senang membaca buku yang isinya ngaco itu. Kecuali satu jilid yang ada padamu dan beberapa jilid yang ada pada junjunganmu, siapa lagi yang masih memiliki buku-buku itu?”

“Thayhou telah mengeluarkan perintah secara diam-diam untuk memusnahkan buku-buku itu. Siapa Iagi yang berani menyimpannya? Junjunganku memang memiliki buku itu, namun sebetulnya tidak membawa arti apa-apa. Karena apa yang ditulis oieh Toankeng Hong hou dalam buku itu sudah dihapal luar kepala oleh junjunganku. Hal ini sudah melebihi hanya memiliki buku tersebut.”

Thayhou memperhatikan thaykam tua itu lekat-lekat.

“Untuk menyelidiki urusan apakah sehingga dia menitahkan kau kembali ke istana?”

“Sebetulnya untuk dua macam urusan. Tetapi setelah hamba menyelidikinya, ternyata hanya terdiri dari satu urusan saja.”

“Dua urusan jadi satu, apakah itu?” tanya thayhou,

“Yang pertama mengenai kematian putera mahkota Eng Cin ong….”

“Yang kau maksudkan puteranya si rase centil?”

“Yang hamba maksudkan puteranya Toankeng Hong hou….”

“Hm! Binatang cilik itu mati ketika usianya baru empat bulan. Umurnya memang sudah ditakdirkan pendek. Apa yang aneh?”

“Tapi junjunganku mengatakan, ketika pangeran Eng Cin ong mendadak jatuh sakit, tabib istana langsung dipanggil. Dan tabib itu mengatakan penyebab kematiannya aneh sekali…”

“Hm! Tabib istana mana yang begitu pandai memeriksa penyakit? Mungkin kau sendiri yang mengada-ada!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: