Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (03)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:36 am

Rahasia Peti Wasiat (03)
Oleh Gu Long

“Sembarang omong? Hehe, terus terang, aku ini kan orang tua yang sudah berpengalaman,” ujar si nenek dengan tertawa. “Biar kukatakan padamu, pada waktu muda aku pernah ikut minggat bersama kekasih. Rasanya memang nikmat. Cuma … ai, justru lantaran minggat bersama orang, makanya mengalami nasib malang seperti sekarang ini. Sebab itulah ingin kuberi nasihat kepada kaum muda kalian, urusan perjodohan yang mahapenting hendaknya serahkan kepada pilihan orang tua dan jangan sekali-kali sembarangan bertindak. Mengingat kejadian dahulu, bilamana aku tunduk kepada perkataan ayah-bunda ….”

Karena nada orang seakan-akan sudah memastikan dia minggat bersama kekasih, Ni Beng-ay merasa tidak senang, cepat ia memotong, “Toanio, jangan kau bicara lebih lanjut.”

“Kenapa?” nenek itu merandek. “Engkau tidak suka mendengarkan? Ehng? Engkau masih muda, tidak tahu urusan, makanya sebagai orang tua ingin menyadarkan dirimu. Hendaknya maklum, sekali telanjur berbuat bila menyesal selama hidup, ingin berpaling pun sudah terlambat. Jika engkau tidak percaya, kelak engkau tentu akan menderita.”

“Engkau sungguh salah sangka, kami bukan pasangan yang minggat dari rumah, kami hanya … hanya ….”

“Hanya apa?” tanya si nenek.

“Hanya sahabat yang baru berkenalan saja.”

“Ah, aku tidak percaya, sahabat yang baru berkenalan mana bisa bermalam bersama di kelenteng terpencil seperti ini?”

“Ya, terserah mau percaya atas tidak!”

“Siapa namamu?” tanya pula si nenek.

“Ni Beng-ay.”

“Kapan tanggal lahirmu?”

“Untuk apa kau tanya hal ini?”

“Aku dapat nujum, maka akan kupetangi nasibmu, apakah engkau ditakdirkan hidup bahagia atau hina, apakah ada minat?”

Beng-ay ternyata berminat, katanya segera, “Usiaku 17 tahun ini, sio kambing, lahir tanggal 19 bulan empat waktu tengah hari. Coba ramalkan.”

“Caraku nujum biasanya suka terus terang, maka jika kukatakan baik tidak perlu kau gembira, bila kukatakan jelek engkau pun jangan marah.”

“Ya, tentu,” sahut Beng-ay.

Si nenek buta lantas berkomat-kamit sambil menekuk jari-jemarinya, setelah berhitung sebentar, mendadak ia menjerit, “Wah, celaka!”

“Ada apa?” tanya Beng-ay kaget.

“Menurut perhitungan, nasib nona tidak begitu baik pada umur 17, tapi kelak engkau akan jaya dan bahagia, cuma ….”

“Cuma apa?” desak Beng-ay.

“Sekarang nasib nona lagi jelek, maka bila bertemu dengan orang asing, ada kemungkinan akan mendatangkan malapetaka bagimu.”

“Hah, apa betul?” tanya Beng-ay khawatir.

“Tentu saja betul, ramalanku selama ini sangat jitu, maka lebih baik lekas engkau lari saja.”

“Lari?!” Beng-ay menegas.

“Ya, lari ke jurusan barat akan dapat menghindarkan malapetaka itu.”

Sampai sekian lama Beng-ay melenggong, tiba-tiba ia tertawa, “Ah, jangan Toanio menakuti, tanpa sebab tiada alasan mengapa aku akan tertimpa malapetaka?”

“Coba jawab, bukankah Siangkong yang berada di sampingmu itu baru saja kau kenal?” tanya si nenek.

“Betul,” jawab Beng-ay.

“Nah, itu dia,” ujar si nenek dengan prihatin. “Maka bila engkau ingin selamat sebaiknya lekas lari saja.”

Beng-ay memandang It-hiong sekejap, ucapnya dengan tak percaya, “Masa kau anggap Liong-kongcu ini akan membunuhku?”

“Tidak dapat kupastikan siapa yang akan membunuhmu, aku cuma tahu bila kau temui orang asing pasti akan mendatangkan malapetaka.”

“Ah, aku tidak percaya,” jawab Beng-ay sambil menggeleng.

“Sebaiknya kau percaya,” tiba-tiba Liong It-hiong menukas.

“Apa?!” teriak Beng-ay kaget.

“Apa yang dikatakan Toanio ini memang beralasan, sebaiknya lekas kau lari saja,” kata It-hiong.

“Jadi … jadi benar engkau hendak membunuhku?” tanya Beng-ay sangsi.

“Aku tidak tahu apakah akan membunuhmu atau tidak,” sahut It-hiong. “Cuma di ruangan ini penuh nafsu membunuh memang terbukti nyata, hujan badai sudah hampir tiba!”

“Ai, janganlah engkau menakuti aku,” pinta Beng-ay. “Kelenteng ini sangat aman tenteram, dari mana datangnya nafsu membunuh segala?”

Tangan kanan si nenek yang kurus kering itu sedikit bergerak, katanya dengan tertawa terkekeh, “Hehe, nona cilik, jika engkau tidak percaya kepada nasihat orang tua, tentu akan kau rasakan pahit getir.”

Pada saat itu juga Liong It-hiong juga mengangkat tangan kanan dan menangkap sebuah tusuk kundai kemala yang menyambar ke arah Ni Beng-ay, katanya dengan tertawa, “Eh, Toanio, jangan kau curigai dia, sesungguhnya dia memang seorang nona yang kesasar dan terpaksa bermalam di sini.”

Tampaknya si nenek buta juga tahu tusuk kundai yang disambitkannya itu kena ditangkap Liong It-hiong, berubah juga air mukanya, serunya dengan tertawa, “Aha, Liong-hiap memang hebat!”

“Terima kasih atas pujianmu, Miau-lolo!”

Si nenek melengak, katanya pula dengan terkekeh, “Hehe, kiranya kau pun kenal diriku?!”

“Di dunia Kangouw terkenal It-kun (seorang Kun) Ji-ni (dua Nikoh) dan Sam-lolo (tiga nenek), jika tokoh terkenal begitu saja tidak kukenal, lalu cara bagaimana aku dapat berkecimpung di dunia Kangouw?”

“Baik, jika engkau kenal diriku, maka kita tidak perlu banyak cincong lagi, biarlah kita bicara blak-blakan saja ….”

Belum lanjut ucapan Miau-lolo atau si nenek Miau, mendadak di luar kelenteng ada orang berseru, “Omitohud! Siancay!”

Suara memuja kebesaran Buddha itu terdengar lantang serupa bunyi genta dan berkumandang kuras ke dalam kelenteng, membuat anak telinga orang terasa sakit.

Miau-lolo menarik muka, dengusnya, “Apakah Kim-kong Taysu?”

Kembali orang itu menyebut “Omitohud”, lalu muncul seorang Hwesio gendut melangkah masuk ke pendopo kelenteng.

Usia Hwesio ini antara 50-an, mukanya bulat sehingga serupa Buddha gendut yang suka tertawa itu, dia memakai Kasa (jubah Hwesio) berwarna merah, di dalamnya memakai baju belacu kuning, tangan memegang Hang-mo-tiang atau tongkat penakluk iblis, begitu masuk segera ia memberi hormat kepada ketiga orang, lalu duduk di pojok kanan ruangan.

Wajah Miau-lolo kelihatan kurang senang, jengeknya, “Kim-kong Taysu, ada urusan apa kau datang kemari?”

Hwesio yang disebut Kim-kong Taysu itu tertawa, jawabnya, “Kebetulan aku kemalaman dalam perjalanan ini, maka ingin memondok semalam di sini, tak terduga dapat bertemu dengan Miau-toaso di sini, selamat bertemu!”

“Hm, tidak perlu kau bicara melantur denganku!” jengek si nenek pula.

“Ah, mana aku berani,” ujar Kim-kong Taysu. “Cuma Sian-li-bio ini kan tempat umum, tentunya aku boleh berteduh di sini?”

Mendadak Liong It-hiong berseru lantang, “Wah, luar biasa! Para tokoh kenamaan Kangouw yang ditakuti orang sama muncul di sini!”

Kim-kong Taysu terbahak, “Haha, terima kasih. Aku ini kan pembawa bendera saja, peran utamanya masih belum muncul.”

Belum lenyap suaranya segera terdengar suara “srak-srek” di luar, suara sandal terseret.

Seketika terangsang nafsu membunuh Miau-lolo, jengeknya, “Hah, bagus, rupanya setan rudin ini juga datang meramaikan tempat ini.”

Menyusul suaranya seorang setengah umur tampak masuk ke ruangan pendopo dengan langkah terseyat-seyot. Wajah orang ini tidak jelek, hanya dekil serupa sudah beberapa bulan tidak pernah cuci muka. Bajunya yang menandakan dia seorang terpelajar juga kotor, kaki memakai sandal kulit butut, rupanya miskin dan kelakuannya rudin.

Begitu masuk ia lantas memberi hormat kepada Miau-lolo, Kim-kong Taysu, Liong It-hiong dan Ni Beng-ay, lalu tertawa dengan suaranya yang serupa burung hantu, “Terimalah salam orang she Sun ini, semoga kalian sama selamat!”

“Duduk saja!” jengek Mau-lolo.

Orang yang mengaku she Sun itu menjawab dengan hormat, “Ya, baik!”

Lalu ia menuju ke samping dan duduk di situ tanpa bicara lagi.

Miau-lolo berkata kepada Liong It-hiong, “Liong-hiap, apakah kau kenal dia?”

It-hiong mengangguk, “Tentu saja kenal. Nama kebesaran Kiong-su-sing (pelajar miskin) Sun Thian-tek sudah lama kudengar.”

“Bagus, jika sudah saling kenal tentu urusan menjadi mudah dibicarakan,” ujar Miau-lolo. “Dan, entah tokoh kosen mana lagi yang akan datang?”

“Mungkin masih ada satu!” seru Kiong-su-sing Sun Thian-tek dengan tertawa.

Baru selesai ucapannya segera di luar kelenteng bergema suara tertawa orang dan melayang masuk seorang Tojin tua.

Tojin tua ini berusia antara 60-an, mata alisnya kelihatan baik, jenggot panjang sebatas dada, memakai ikat kepala tersusun, berjubah tebal, memakai sepatu merah dan kaus kaki putih, yang dipegangnya bukan kebut, tapi sebuah Koh-ting atau tungku antik.

Jelas tungku antik itu terbuat dari perunggu, tingginya empat kaki, sekelilingnya berukir timbul, indah sekali buatannya. Bobotnya paling sedikit ada 500 kati, akan tetapi terpegang di tangan Tojin tua ini terasa seperti barang sangat enteng.

Miau-lolo tertawa dan menegur, “Apakah Anda ini Koh-ting Tojin?”

Tojin tua menaruh tungku antik di samping sana, lalu memberi hormat dan menjawab, “Betul, baik-baikkah Miau-toaso selama ini?”

“Sungguh aku tidak mengerti, mengapa orang beragama seperti kalian ini masih juga memikirkan nama dan harta?” kata si nenek.

“Ai, janganlah Miau-toaso bicara demikian, kedatanganku hanya ingin menyuguh minum kalian beberapa cawan saja,” kata Koh-ting Tojin dengan tertawa.

Ucapannya juga betul, sebab di dalam tungku perunggu itu berisi arak.

“Aku tidak biasa minum arak,” jengek Miau-lolo.

“Aku juga tidak,” tukas Beng-ay.

“Nona sudah hadir di sini, mana boleh tidak minum,” kata Sun Thian-tek.

Si Tojin menarik muka, jengeknya, “Barangkali nona menghina diriku?”

Mendadak Liong It-hiong menimbrung, “Rasanya kurang sopan memaksa seorang nona minum arak, kukira lebih baik Totiang minum sendiri saja.”

Tiba-tiba Sun Thian-tek berdehem dua kali, lalu berseru, “Hadirin sekalian, kukira lebih baik kita kembali kepada soal pokok saja. Tentang kotak hitam itu hanya ada satu, sebaliknya kita yang mengincarnya ada beberapa orang, lalu cara bagaimana akan kita selesaikan urusan ini?”

“Sederhana dan gampang.” tukas Kim-kong Taysu. “Kita sekarang berenam, boleh kita bagi menjadi tiga partai dan bertanding, yang kalah silakan enyah, yang menang bertanding lagi, pemenang terakhir itulah yang akan memiliki kotak hitam itu.”

“Aha, gagasan bagus, aku setuju,” seru Koh-ting Tojin tertawa.

It-hiong lantas bangun sambil kebas bajunya dan berkata, “Maaf, aku mengaku bukan tandingan kalian, aku mengundurkan diri dari pertandingan.”

Miau-lolo, Kim-kong Taysu, Koh-ting Tojin dan Sun Thian-tek sama melenggong oleh sikap Liong It-hiong itu.

Tempat duduk Kim-kong Taysu berdekatan dengan pintu, segera ia mengacungkan tongkatnya mengadang jalan keluar sambil berseru, “Eh, Siaucu (anak kecil), peti ini berada padamu, mana boleh kau pergi begitu saja?”

Liong It-hiong menyadari sukar untuk pergi sesukanya, terpaksa ia duduk lagi, katanya dengan tertawa, “Wah, tampaknya aku ingin menyerah pun tidak boleh ….”

“Kau mau pergi sih boleh saja, cuma peti itu harus kau tinggalkan,” ucap Koh-ting Tojin.

It-hiong menggeleng, “Tidak, setelah berdampingan bersama peti ini selama beberapa hari, sudah timbul rasa sayangku kepadanya, aku tidak tega meninggalkannya.”

“Jika demikian, jadi kau siap mengadu jiwa baginya?” tanya Koh-ting Tojin.

“Juga tidak, mengadu jiwa bagi sebuah peti kan tidak ada harganya,” ucap It-hiong sambil mengangkat pundak. “Apakah boleh kutahu sesungguhnya apa isi peti ini?”

“Bagus sekali jika engkau tidak tahu,” ujar Koh-ting Tojin.

Kiong-su-sing Sun Thian-tek lantas menuding Ni Beng-ay dan tanya Miau-lolo, “Miau-toaso, bagaimana asal usul nona ini?”

“Aku pun tidak tahu,” sahut si nenek tak acuh.

“Kalian sama salah sangka,” sela It-hiong. “Kedatangan nona ini bukan lantaran mengincar peti hitam ini, dia memang benar kemalaman dan ingin memondok semalam di sini.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Sun Thian-tek dengan tersenyum.

“Sebab aku memang suka memercayai perkataan setiap nona cantik,” jawab It-hiong.

“Buset!” kata Sun Thian-tek tertawa.

“Betul tidak nona Ni?” tanya It-hiong kepada Ni Beng-ay.

Nona itu kelihatan gugup jawabnya, “Apa maksudnya? Kenapa mereka curigai diriku?”

“Mereka mencurigai kedatanganmu ini juga hendak merampas peti hitam yang kubawa ini,” kata It-hiong sambil mengangkat peti yang terbelenggu di tangannya.

“Omong kosong,” kata Beng-ay. “Untuk apa kurampas peti hitam itu? Asal mereka tidak membikin susah diriku saja aku sudah bersyukur.”

“Jika nona bukan orang persilatan, silakan lekas pergi saja supaya tidak ikut tersangkut urusan ini,” ujar Sun Thian-tek.

“Wah, tengah malam buta, kau suruh aku pergi ke mana?” sahut Beng-ay dengan sedih. Lalu ia memandang It-hiong sekejap dan menampilkan maksud minta nasihat.

It-hiong mengangguk, katanya, “Ucapan Sun-tayhiap ini memang betul, lebih baik kau masuk ke dalam saja.”

“Dan engkau?” tanya Beng-ay dengan khawatir.

“Aku tidak menjadi soal,” ujar It-hiong.

“Mereka takkan membikin susah padamu?”

“Mungkin tidak,” jawab It-hiong tertawa. “Yang mereka incar adalah peti dan bukan diriku.”

“Besok engkau tetap berangkat ke Cap-pek-pan-san atau tidak?” tanya si nona pula.

“Tentu pergi, biarpun peti ini dirampas orang tetap kupergi ke sana, akan kutemanimu ke Wanpeng,” jawab It-hiong pasti.

Lega hati Ni Beng-ay setelah menerima janji It-hiong itu, perlahan ia masuk ke dalam melalui pintu samping.

Sun Thian-tek tertawa, katanya, “Nah, sudah pergi seorang, sekarang kita berempat jadi lebih mudah menyelesaikan urusan ini.”

“Cara bagaimana penyelesaiannya?” jengek Miau-lolo.

“Boleh gunakan usul Kim-kong Taysu tadi,” kata Sun Thian-tek. “Kita berempat terbagi menjadi dua partai untuk bertanding, yang kalah tersisihkan, yang menang bertanding lagi dengan yang menang, dan pemenang terakhir berhak mendapatkan peti itu.”

“Baik, biar aku yang menempur orang rudin macammu ini,” ejek si nenek.

“Boleh juga,” Sun Thian-tek terima tantangan itu dengan tersenyum. “Dengan cara bagaimana Miau-toaso ingin bertarung denganku?”

“Terserah padamu,” jawab Miau-lolo.

“Begini saja,” ujar Sun Thian-tek. “Karena Miau-toaso kehilangan penglihatan, betapa pun tidak enak bagiku untuk bergebrak denganmu. Biarlah kita bermain dua macam permainan saja, boleh kau tirukan caraku lalu bergilir kutiru caramu, yang tidak mampu meniru dianggap kalah. Nah, setuju?”

“Baik, setuju,” jawab si nenek.

Lalu Kiong-su-sing berpaling dan tanya Kim-kong dan Koh-ting berdua, “Apakah kalian juga setuju terhadap caraku?”

Kedua orang itu sama mengangguk dan menjawab, “Bagus, kami setuju!”

“Jika begitu, harap kalian menjadi saksi bagi kami,” kata Thian-tek. “Nah, Miau-toaso, silakan engkau dulu.”

Miau-lolo tidak bicara lagi, ia gunakan tongkatnya untuk menjajaki jalan dan mendekati meja sembahyang, lalu tangan meraba-raba sambil berkata, “Adakah Hiolo (tempat lidi dupa) di sini?”

“Ada, agak di sebelah kanan,” kata Thian-tek.

Miau-lolo menurut dan meraba ke kanan, betul juga dapat dipegangnya Hiolo dimaksud.

Ia mengambil enam tangkai sisa lidi dupa, lalu mengeluarkan sebilah belati untuk memotong lidi dupa supaya sama panjangnya, belati disimpan kembali, kemudian ia meraba ke pintu kelenteng, dari situ ia mundur beberapa langkah, katanya, “Nah, boleh kau lihat sejelasnya, segera aku akan mulai!”

“Silakan,” jawab Sun Thian-tek.

Miau-lolo menarik napas panjang, ia berdiri menghadap daun pintu dan termenung sejenak, perlahan tangan kanan yang memegang enam biji lidi itu terangkat, mendadak ia membentak sambil menyambitkan lidi dupa.

Terdengar suara “crat-crit” perlahan, keenam lidi dupa sama menancap di daun pintu kelenteng serupa paku dan terbentuk bunga sakura.

“Kungfu hebat!” seru Liong It-hiong dan lain-lain.

Kepandaian menyambitkan senjata rahasia ini memang luar biasa, sebab daun pintu kelenteng itu terbuat dari papan kayu yang keras, sedangkan sisa lidi dupa sangat kecil dan mudah patah, namun si nenek sanggup menyambitkannya dan menancap serupa paku, bahkan membentuk kelopak bunga Bwe, jika dia tidak memiliki tenaga dalam yang lihai dan gerak tangan yang terlatih, tidak mungkin dia mampu berbuat demikian.

Miau-lolo sangat senang, katanya, “Nah, sekarang giliranmu si rudin!”

Sun Thian-tek berdiri, katanya sambil menggeleng, “Wah, Kungfu Miau-toaso ini sungguh hebat, mungkin tidak sanggup kutirukan ….”

“Jangan sungkan, lekas silakan coba,” ucap si nenek dengan tertawa.

Sun Thian-tek lantas mendekati meja sembahyang juga dan mengambil enam lidi dupa, dipotongnya juga hingga rata, lalu berdiri di tempat Miau-lolo tadi, katanya dengan hormat kepada Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin, “Terpaksa kulakukan sebisanya, jika tidak sanggup menirukan Miau-toaso, harap jangan kalian tertawai diriku.”

Kim-kong dan Koh-ting hanya tersenyum saja tanpa bersuara.

Thian-tek juga berdiri diam sejenak untuk mengumpulkan tenaga dalam, mendadak ia pun mengertak sekali, tangan bergerak dari bawah ke atas, enam tangkai lidi kecil ditolak ke depan. “Cret”, keenam lidi pun menancap di daun pintu, juga membentak bunga Bwe yang berkelopak lima.

Kembali Liong It-hiong, Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin bersorak memuji, “Kungfu hebat, sungguh luar biasa!”

“Bagaimana?” tanya Miau-lolo dengan air muka rada berubah.

“Sama, serupa benar!” tutur Kim-kong Taysu.

“Hm, coba kuperiksa sendiri,” jengek Miau-lolo perlahan, ia mendekati daun pintu dan merabanya sejenak, lalu mengangguk dan berkata, “Hm, tak tersangka si rudin ini boleh juga.”

Sun Thian-tek memberi hormat dan tertawa, “Terima kasih atas pujianmu, sungguh beruntung!”

“Sekarang coba kau tiru lagi yang ini,” kata si nenek sambil menggeser mundur dua tindak.

Melihat permukaan lantai yang baru saja terinjak si nenek, tanpa terasa Liong It-hiong bersorak pula, “Sungguh Kungfu yang lihai, hari ini aku benar-benar banyak bertambah pengalaman.”

Setelah melihat apa yang terjadi, Kim-kong dan Koh-sing juga mengunjuk rasa kagum sambil mengangguk, kata mereka, “Injakan Miau-toaso ini terlebih hebat lagi!”

Kiranya pada waktu menggeser mundur tadi, diam-diam si nenek telah meninggalkan kedua bekas telapak kaki sedalam tiga inci di permukaan lantai.

Padahal lantai ruangan kelenteng terdiri dari ubin yang tebal, tapi tanpa bersuara kakinya dapat ambles dan mencetak bekas kaki sedalam itu, Kungfu ini sungguh jarang terdengar dan sangat mengejutkan.

Berubah juga air muka Sun Thian-tek, ucapnya dengan menyengir, “Wah, Kungfu sehebat ini mana kusanggup ….”

“Kembali kau sungkan lagi,” ujar si nenek dengan tertawa. “Padahal ini pun bukan Kungfu yang luar biasa, asalkan menguasai Lwekang taraf tertentu saja pasti sanggup ….”

“Tapi Lwekangku jelas selisih jauh dibandingkan Miau-toaso,” tukas Sun Thian-tek.

“Sudahlah, lekas lakukan, tidak perlu banyak omong lagi,” kata si nenek.

Mendadak Sun Thian-tek juga menggeser mundur dua langkah, waktu ia memandang lantai, ia menggeleng kepala dan berucap, “Memang tidak bisa, babak ini aku menyerah kalah.”

Kiranya pada waktu bicara tadi diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam untuk membuat bekas kaki di atas ubin. Cuma dalamnya tidak dapat melebihi tapak si nenek, malahan satu di antara ubin yang terinjak itu ada tanda retak.

Ini memang tanda Lwekang yang belum sempurna.

Koh-ting Tojin lantas melangkah maju dan memeriksa sejenak, lalu berkata, “Ya, babak ini memang Sun-tayhiap kalah.”

“Benar, aku mengaku kalah, cuma berapa jauh kalahnya harus diberi penilaiannya,” ucap Sun Thian-tek.

“Maksudmu?” tanya Koh-ting.

“Bicara terus terang, di antara kita berempat masing-masing mempunyai kepandaian khas sendiri, ada yang unggul dalam hal Lwekang, ada yang asor dalam hal Gwakang dan sebagainya, atau dengan lain perkataan, meski babak ini aku tidak dapat menandingi Miau-toaso, namun kalahnya juga tidak selisih terlalu jauh, maka bila nanti pada babak lain ada keunggulanku di atas Miau-toaso, tentu akan sukar ditentukan siapa yang harus dinyatakan sebagai pemenang.”

“Beralasan juga uraianmu,” ujar Koh-ting Tojin. “Lantas cara bagaimana sebaiknya menurut pendapat Sun-tayhiap?”

“Begini,” tutur Thian-tek. “Bekas kaki Miau-toaso itu sedalam tiga inci, sedangkan tapak kakiku cuma dua inci, bahkan membikin retak sebuah ubin, maka babak ini boleh dianggap Miau-toaso mendapat angka 10 dan aku cuma mendapat 4, ini berarti Miau-toaso lebih banyak mendapat 6 angka. Jika perhitungan cara begini diteruskan barulah dapat menentukan kalah menang dengan tepat. Coba, apakah kalian setuju?”

Koh-ting Tojin tidak keberatan, ia coba tanya Miau-lolo, “Bagaimana, apakah Miau-toaso setuju?”

“Baik, cuma harus kuperiksa juga hasil cetakannya apakah pantas diberi angka 4 atau tidak,” kata si nenek.

Ia mendekati kedua tapak kaki cetakan Sun Thian-tek itu dan berjongkok, setelah diraba beberapa kali, akhirnya ia mengangguk, katanya dengan tertawa, “Ya, sudahlah, boleh juga dianggap mendapat angka 4.”

“Jika demikian, sebentar bila Miau-toaso bertanding seri satu babak dan babak lain engkau cuma mendapat angka 3, itu berarti Toaso yang kalah,” kata Thian-tek dengan tertawa.

“Betul, sebaliknya jika aku mendapat angka lima berarti dirimu si rudin ini yang keok,” sahut Miau-lolo.

“Benar!” seru Thian-tek.

“Nah, sekarang giliranmu dulu!” kata si nenek.

“Permainan yang dapat kuperlihatkan tidaklah banyak, babak pertama yang hendak kupertunjukkan adalah main akrobat,” seru Thian-tek dengan tertawa.

Habis berkata ia terus melompat ke atas dan berjumpalitan tiga kali di udara, lalu melayang turun dengan ringan.

Hal ini sama di luar dugaan Koh-ting Tojin dan Kim-kong Taysu. “Hanya begini saja?” tanya mereka heran.

“Betul, cuma begini saja,” Thian-tek mengangguk.

Miau-lolo tidak percaya Sun Thian-tek hanya menggunakan main jumpalitan di udara untuk menentukan kalah menang, ia yakin pasti waktu berjumpalitan itu si pelajar miskin itu telah menggunakan semacam Kungfu istimewa yang tidak dijelaskannya, maka ia lantas berteriak, “Tidak, ini tidak adil!”

“Tidak adil bagaimana?” tanya Thian-tek dengan tertawa.

“Kau tahu aku tidak dapat melihat, mana dapat kutirukan caramu dengan tepat?” ujar si nenek.

“Miau-toaso tidak perlu berbuat serupa dengan diriku, cukup asalkan engkau juga berjumpalitan tiga kali saja di udara.”

“Hanya begitu saja?” kembali si nenek menegas dengan ragu.

“Betul, hanya begitu saja,” jawab Thian-tek.

Mau tak mau si nenek memperlihatkan rasa sangsinya, katanya kemudian, “Hm, sesungguhnya engkau si rudin ini hendak main gila apa?”

“Tidak main gila apa-apa, hanya main berjumpalitan saja,” ucap Thian-tek.

Berkedip-kedip kelopak mata Miau-lolo yang buta itu, mendadak ia mendengus, “Hm, mengertilah aku.”

“Oo, mengerti apa?” tanya Thian-tek.

“Pada waktu aku berjumpalitan nanti, tentu akan kau sambitkan senjata rahasia untuk merobohkan aku, bukan?”

Thian-tek menggeleng, “Tidak, tidak nanti kulakukan perbuatan pengecut seperti itu. Jika aku berbuat demikian, tentu Kim-kong Taysu dan Koh-ting Totiang takkan mengampuniku.”

“Betul. Jika dia main gila dan berbuat curang, tidak nanti kuampuni dia,” tukas Kim-kong Taysu.

“Nah, sudah Miau-toaso dengar sendiri, tentu engkau tidak perlu khawatir lagi bukan?” seru Thian-tek dengan tertawa.

Hati Miau-lolo agak lega setelah mendapat jaminan begitu, namun dia tetap sangsi, ia tidak mengerti mengapa lawan menggunakan permainan sepele ini untuk mengunggulinya? Tapi sekarang tiada pilihan lain lagi baginya, segera ia berkata kepada Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin, “Baik, harap kalian menaruh perhatian di udara, hendaknya jangan kalian membiarkan dia kabur!”

“Baik, biasanya aku pun benci kepada orang yang suka main licik dan curang, Miau-toaso tidak perlu khawatir,” seru Koh-ting Tojin.

Sebelum lenyap suara orang, mendadak Miau-lolo melompat tinggi ke atas, di tengah udara berturut-turut ia berjumpalitan tiga kali, habis itu dengan tangan terpentang ia hinggap kembali di permukaan lantai dengan enteng.

“Hah, bagus, babak ini kita sama kuat,” seru Thian-tek sambil berkeplok tertawa.

Miau-lolo kurang senang, jengeknya, “Hm, sengaja kau gunakan Kungfu anak ingusan ini untuk menguji diriku, sengaja kau hina diriku bukan?”

“Jangan Miau-toaso salah paham,” jawab Thian-tek dengan tertawa. “Untuk pertandingan selanjutnya, masa Miau-toaso tidak ingin menyimpan tenaga sedikit?”

Baru sekarang si nenek menyadari maksud tujuan pelajar miskin itu, ia terkekeh, “Hehe, betul juga perkataanmu. Cuma apakah kau yakin pada babak berikutnya pasti dapat mengatasi diriku?”

“Tentu saja,” sahut Thian-tek pasti. “Pada permainan babak kedua kuyakin Miau-toaso takkan mampu meniru diriku.”

“Kentut!” semprot si nenek. “Apa kepandaianmu, coba keluarkan saja!”

“Sesuai perjanjian semula, apa yang kulakukan harus ditirukan Miau-toaso, jika engkau tidak berani ikut berbuat dengan cara yang sama berarti engkau kalah, begitu bukan?” Thian-tek sengaja menegas lagi.

“Betul, tidak perlu cerewet, ayolah keluarkan kepandaianmu,” seru si nenek tak sabar lagi.

Sun Thian-tek lantas mengeluarkan sebuah botol obat terbuat dari kayu, lalu berkata dengan tertawa, “Nah, babak kedua ini boleh kita berlomba makan obat.”

Berubah air muka si nenek. “Makan obat apa?” tanyanya.

“Dengan sendirinya obat racun,” jawab Thian-tek dengan tak acuh. “Kalau berlomba makan obat kuat, kan lebih menguntungkan dirimu yang lebih tua.”

Tergetar tubuh si nenek, seketika ia tergegap, katanya, “Engkau seng … sengaja bergurau denganku?”

“Tidak, aku tidak perlu bergurau, tapi sungguh-sungguh,” kata Thian-tek.

Miau-lolo berpaling dan berkata kepada Kim-kong dan Koh-ting Tojin, “Harap kalian memberi keadilan, coba katakan apakah masuk di akal bertanding makan obat racun cara begini?”

Cepat Thian-tek mendahului bicara, “Sejak mula kan tidak ada ketentuan tidak boleh berlomba makan obat racun, coba jawab lebih dulu?”

Kening Kim-kong Taysu bekernyit, tentu saja ia merasa serbasusah.

Koh-ting Tojin juga kelihatan, prihatin, setelah termenung sejenak baru menjawab, “Miau-toaso, ucapan Sun-tayhiap memang beralasan. Sebelumnya kita memang tidak menentukan apa yang boleh dipertandingkan dan apa yang tidak boleh, sebab itulah jika dia minta berlomba makan racun, terpaksa engkau harus mengiringinya.”

Saking gemas sampai badan Miau-lolo gemetar, teriaknya, “Tapi makan racun terhitung ilmu silat macam apa?”

Dengan serius Sun Thian-tek berkata, “Miau-toaso kan kawakan Kangouw juga, mengapa kau bicara seperti anak kemarin saja? Makan racun tentu juga semacam Kungfu. Jika kau mampu, boleh kau kerahkan Lwekangmu untuk menahan bekerjanya racun. Dan pertandingan kita justru terletak di sini, bilamana engkau tidak mampu menahan serangan racun biarkan engkau mati keracunan.”

Muka Miau-lolo merah padam, tanyanya, “Lantas bagaimana bila kita sama-sama dapat menahan bekerjanya racun dan tidak mati?”

“Takkan terjadi demikian,” ujar Thian-tek. “Racunku ini sangat keras, asal makan satu biji saja bagi orang biasa, dalam waktu singkat dari mulut-hidung-mata-telinga akan berdarah dan mati seketika. Bagi kita yang memiliki Lwekang taraf tertentu mungkin perlu makan beberapa biji baru bisa mati. Maka caraku ini adalah aku makan dulu satu biji, lalu engkau ikut makan satu biji, sejenak kemudian bila kita tidak keracunan, lalu kumakan lagi sebiji dan engkau pun ikut makan pula sebiji, dan begitu seterusnya, baru berhenti bilamana seorang sudah binasa keracunan.”

Miau-lolo hanya, mendengus saja tanpa menanggapi.

Sun Thian-tek lantas membuka tutup bobol, katanya pula, “Supaya adil dan tidak menimbulkan sangkaan jelek, biarlah kuserahkan botol racun ini untuk dipegang Koh-ting Totiang, beliau yang akan membagikan pil racun kepada kita dan ….”

Bicara sampai di sini ia lantas menyerahkan botol racun itu kepada Koh-ting Tojin, lalu mengangsurkan tangan dan berucap pula, “Sekarang silakan Totiang menuangkan satu biji kepadaku.”

Koh-ting menurut, dituangnya satu biji pil racun, diendusnya dulu, lalu tertawa, “Hah, bau racun ini ternyata sangat harum!”

“Betul memang sangat harum, namun satu biji racun ini cukup untuk meracun mati seekor kerbau,” seru Thian-tek dengan tertawa.

Koh-ting memberikan pil racun itu kepada Sun Thian-tek, katanya, “Miau-toaso, sekarang sudah kuberikan satu biji pil racun kepada Sun-tayhiap.”

Miau-lolo mendengus, “Hm, kalau berani kenapa tidak kau makan saja dua tiga biji sekaligus?!”

“Baik, harap Totiang memberikan dua biji lagi,” kata Thian-tek.

“Wah, kukira Miau-toaso perlu pikir panjang,” ujar Koh-ting dengan tertawa. “Sebab kalau sekali makan Sun-tayhiap menghabiskan tiga biji, Miau-toaso sendiri juga harus ikut makan tiga biji.”

“Kutahu, tidak perlu kau jelaskan,” sahut si nenek mendongkol.

Segera Koh-ting menuangkan lagi dua biji pil racun itu kepada Sun Thian-tek, katanya dengan terkekeh, “Hehe, tak tersangka Sun-tayhiap ini menganggap makan obat racun sebagai kepandaian istimewa. Sungguh mengagumkan.”

Thian-tek terus menerima pil itu dan sekaligus dijejalkan ke dalam mulut terus ditelan, katanya, “Nah, sudah kuminum semua!”

“Harap Totiang mewakili diriku untuk memeriksanya, apakah pil itu tidak terselip di bawah lidahnya,” pinta si nenek buta.

Tanpa disuruh segera Sun Thian-tek membuka mulutnya lebar-lebar, katanya dengan suara kurang lancar, “Silakan Totiang memeriksanya!”

Koh-ting mengamat-amati mulut Thian-tek, terlihat ketiga biji pil tadi memang betul sudah diminumnya, maka ucapnya, “Ya, semuanya memang betul sudah masuk perut Sun-tayhiap.”

Air muka Miau-lolo tampak gelap, jengeknya, “Jika Thian bisa menimbang, seharusnya membikin engkau si rudin ini mati keracunan.”

“Jangan khawatir, Miau-toaso,” seru Thian-tek dengan tergelak. “Selama hidupku ini hampir tidak pernah hidup senang, kuyakin takkan mati secepat itu.”

Lalu ia berkata pula kepada Koh-ting Tojin, “Nah, harap Totiang pun menuangkan tiga biji untuk Miau-toaso.”

Segera Koh-ting menuang tiga biji pil racun seperti apa yang diminta dan disodorkan kepada Miau-lolo, katanya, “Silakan makan, Miau-toaso!”

“Tidak, aku tidak mau makan,” sahut si nenek.

“He, mana boleh tidak makan?” seru Koh-ting dengan melenggong.

“Kenapa tidak boleh?” jengek Miau-lolo.

“Jika tidak kau makan berarti babak ini dimenangkan Sun-tayhiap, engkau tidak berhak ikut berebut peti lagi,” kata Koh-ting.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya si nenek.

“Sun-tayhiap sedang mengerahkan tenaga untuk menahan serangan racun,” tutur Koh-ting Tojin.

Memang betul, saat itu Sun Thian-tek telah duduk bersila di lantai dan mulai mengerahkan Lwekang untuk menahan racun yang mulai bekerja di dalam perut.

Hal ini sama dengan pertarungan antara mati dan hidup, tidak seberapa lama, kening Sun Thian-tek tampak berkeringat.

“Hm, aku justru tidak percaya dia mampu menahan serangan racun, tentu dia sedang main gila,” ujar Miau-lolo.

“Miau-toaso,” ucap Kim-kong Taysu dengan kereng. “Sesungguhnya engkau mau makan atau tidak, kalau tidak makan berarti engkau kalah.”

Alis si nenek menegak, katanya, “Kalah juga boleh, memangnya kenapa?”

“Jika begitu, engkau tidak berhak ikut berebut peti lagi, silakan meninggalkan kelenteng ini,” kata Kim-kong Taysu.

“Hm, buat apa terburu-buru?” jengek si nenek. “Aku justru ingin tahu apa benar dia takkan mati.”

“Jika Sun-tayhiap berani makan, tentu dia yakin mampu mengatasi bekerjanya racun. Tapi seumpama Sun-tayhiap mati keracunan tetap engkau dianggap kalah, sebab engkau tidak berani menirunya makan racun.”

Miau-lolo mendengus gusar, “Hm, aneh juga. Aku kan sudah mengaku kalah, kenapa kau omong terus-menerus?”

“Haha, jangan Miau-toaso gusar, soalnya kita perlu bicara sejelasnya agar tidak menimbulkan sengketa di belakang,” seru Kim-kong Taysu dengan terbahak.

Dengan muka cemberut Miau-lolo tidak bicara lagi.

Sejenak kemudian, tertampak Sun Thian-tek mengembuskan napas, lalu berdiri perlahan, ucapnya dengan tertawa, “Miau-toaso, dapatlah kupunahkan semua racun yang kuminum, apa pula yang kau tunggu?”

“Apa betul racun yang kau makan?” mendadak si nenek menegas.

“Jika engkau tidak percaya, boleh juga kau makan sekarang,” jawab Sun Thian-tek dengan tertawa. “Asalkan engkau tidak mati keracunan, babak ini tetap kita anggap seri.”

Malu dan gusar pula si nenek, ia mengentak tongkatnya dan berkata dengan gemas, “Baik, aku mengaku kalah saja, sampai bertemu lagi kelak!”

Habis bicara ia terus melangkah keluar kelenteng.

Dengan tersenyum Sun Thian-tek memandangi kepergian nenek itu, lalu dimintanya kembali botol tadi, kemudian duduk lagi di samping, katanya, “Dan sekarang menjadi giliran kalian berdua untuk bertanding.”

Koh-ting Tojin tertawa, katanya, “Baiklah, lantas cara bagaimana kita akan bertanding, Kim-kong Taysu?”

“Selama berpuluh tahun ini entah sudah berapa kali kita telah bertanding dan selama ini apakah engkau pernah menang?” kata Kim-kong Taysu.

“Ya, meski aku tidak pernah menang, tapi juga tidak pernah kalah, kita tetap lawan yang sama kuat,” sahut Koh-ting.

“Makanya bila mau bertanding lagi harus mencari suatu cara yang aneh dan belum pernah terjadi, cuma kukhawatir hari ini mungkin tetap tidak dapat menentukan unggul atau asor,” ujar Kim-kong Taysu dengan tertawa.

“Silakan Taysu menjelaskan permainan aneh apa?” tanya Koh-ting.

“Kukira hari ini kita tidak perlu mengadu tenaga, juga tidak perlu berlomba kecerdasan, marilah kita mengadu untung saja, setuju?”

“Mengadu untung bagaimana?” tanya Koh-ting Tojin.

“Kita main undian saja,” ujar Kim-kong Taysu.

“Undian?” Koh-ting menegas dengan tertawa geli.

“Betul, kita minta Sun-tayhiap menjadi wasit bagi kita, cara undiannya dilakukan dengan menarik dua lidi dupa, satu panjang dan pendek, lidi panjang menang dan lidi pendek kalah,” tutur Kim-kong Taysu. “Yang berhasil menarik lidi panjang berhak berebut peti dengan Sun-tayhiap. Cara ini kan tidak perlu membuang tenaga, juga berlangsung secara damai, entah Totiang setuju atau tidak?”

“Baiklah, kuterima,” sahut Koh-ting setelah berpikir. “Bilamana nasibku lagi jelek dan menarik lidi pendek, segera kuangkat kaki dari sini.”

Kim-kong lantas berpaling dan berkata kepada Sun Thian-tek, “Jika demikian mohon bantuan Sun-tayhiap sudi membuatkan dua potong lidi dupa untuk undian.”

Sun Thian-tek mengiakan, ia menuju meja sembahyang dan melolos dua batang lidi dupa yang belum terbakar habis, di luar tahu kedua orang itu ia memotong kedua lidi itu menjadi panjang dan pendek, lalu digenggam rapat dan mendekati mereka, katanya dengan tertawa, “Nah, silakan, siapa yang menarik lebih dulu?”

“Usul ini datang dariku, maka harus silakan Totiang yang menarik dulu,” kata Kim-kong Taysu.

“Ah, kenapa Taysu jadi sungkan,” ujar Koh-ting Tojin.

“Sepantasnya harus begitu,” jawab Kim-kong Taysu dengan tersenyum.

“Baik, boleh juga kutarik lebih dulu ….” Koh-ting lantas mengamat-amati kedua lidi yang digenggam Sun Thian-tek, seketika ia menjadi ragu dan tidak tahu lidi mana yang harus dilolosnya.

“Ayolah lekas tarik!” kata Sun Thian-tek dengan tertawa, ia sengaja memejamkan mata.

Setelah menimbang lagi sejenak, tiba-tiba Koh-ting Tojin berkomat-kamit, rupanya lagi berdoa, habis itu ia terus melolos salah satu lidi dupa itu.

Waktu diperiksa, panjang lidi itu hanya dua inci, seketika berubah air mukanya, serunya kaget, “Haya, rupanya aku kalah?!”

“Sungguh malang, Totiang memang betul kalah,” ujar Thian-tek sambil membuka mata. Berbareng itu ia pun membuka tangan dan memperlihatkan lidi yang lain.

Lidi yang masih dipegangnya sepanjang lebih tiga inci, jelas jauh lebih panjang daripada lidi yang dilolos Koh-ting Tojin itu.

“Maaf, rupanya nasibku lebih mujur daripadamu,” kata Kim-kong Taysu dengan tertawa.

Dengan gemas Koh-ting mengentak kaki, tungku antik tadi diangkatnya dan arak di dalam tungku disiramkan ke patung Sian-li, lalu tinggal pergi.

Melihat kelakuan Tojin itu, diam-diam It-hiong merasa geli, pikirnya, “Totiang ini sungguh lucu, ia sendiri kalah, patung Sian-li yang menjadi sasaran rasa marahnya.”

Sekarang yang berhak berebut peti hitam tinggal Sun Thian-tek dan Kim-kong Taysu saja. Di antara kedua orang ini, It-hiong berharap Sun Thian-tek yang menang, sebab dapat dilihatnya Sun Thian-tek berkepandaian paling rendah di antara keempat orang tadi, juga satu-satunya lawan yang ada harapan untuk dikalahkan olehnya.

Akan tetapi harapan yang lebih diharapkannya sekarang adalah selekasnya lari keluar kelenteng ini.

Sejak Miau-lolo mulai bertanding dengan Sun Thian-tek tadi ia sudah mulai menggeser sedikit demi sedikit ke pintu samping sana, jaraknya dengan pintu samping sekarang tinggal tujuh-delapan kaki saja, asalkan lebih dekat lagi satu-dua kaki segera ia akan melompat keluar dan kabur.

Kim-kong Taysu dan Sun Thian-tek seperti tidak mengetahui perbuatan Liong It-hiong itu, mereka memandangi kepergian Koh-ting Tojin, lalu Thian-tek berkata dengan tertawa, “Bagaimana kita akan bertanding?”

“Kukira kita tidak perlu bertanding lagi,” kata Kim-kong Taysu.

“Kenapa tidak perlu bertanding?” tanya Thian-tek heran.

“Sebab pada hakikatnya engkau bukan tandinganku,” ujar Kim-kong Taysu dengan tertawa. “Bukankah engkau jago yang sudah keok di bawah tanganku?”

“Haha, kelirulah ucapan Taysu ini,” jawab Thian-tek dengan tergelak. “Apa yang pernah terjadi itu adalah peristiwa belasan tahun lalu, hendaknya diketahui, Sun Thian-tek sekarang lain dengan Sun Thian-tek belasan tahun lampau.”

“Tapi dari caramu bertanding dua babak dengan Miau-lolo tadi tampaknya engkau tidak lebih kuat daripada dulu,” ujar si Hwesio.

“Meski Lwekangku tidak dapat menandingi kalian tapi kuyakin kemenangan terakhir pasti dapat kuraih,” ujar Thian-tek dengan tertawa.

Kim-kong Taysu tertawa, katanya. “Baiklah, sekarang boleh kau katakan cara bagaimana kita akan bertanding?”

“Begini, kemahiranku adalah makan racun, jika kumenang lagi dengan cara ini rasanya tidak terpuji ….”

“Tidak, aku tidak gentar makan racun, jika perlu boleh juga bertanding cara ini,” potong Kim-kong Taysu.

“Oo, Taysu benar-benar tak gentar makan racun?” Thian-tek tampak melengak.

Kim-kong Taysu menjengek, “Betul, hal ini dapat kau gunakan untuk menggertak Miau-lolo dan tidak mungkin aku dapat kau gertak.”

Thian-tek tertawa, “Wah, jangan-jangan Taysu menganggap yang kumakan itu bukan racun?”

“Racun atau bukan tentu kau tahu sendiri,” kata Kim-kong.

“Jika Taysu mengira yang kumakan bukan racun, bagaimana kalau kita bertanding lagi cara yang sama?”

“Boleh!” jawab Kim-kong Taysu.

Segera Sun Thian-tek mengeluarkan botol obat dan dilemparkan kepadanya, jengeknya, “Asal Taysu berani makan satu biji saja segera aku mengaku kalah dan angkat kaki dari sini!”

Kim-kong Taysu menangkap botol obat racun yang dilemparkan kepadanya itu, ia terbahak dua kali, tiba-tiba ia berkata kepada Liong It-hiong, “Eh, ada apa Liong-sicu terus-menerus bergeser ke arah pintu? Memangnya engkau tidak menaruh minat terhadap pertandingan kami ini?”

Karena perbuatannya diketahui orang, Liong It-hiong merasa likat, cepat jawabnya dengan tertawa, “Ai, mana, Cayhe justru sangat tertarik, lekas kalian mulai bertanding.”

“Tapi kalau Liong-sicu hendak menggunakan kesempatan ini untuk kabur, hendaknya lekas batalkan jalan pikiran ini, kalau tidak, jangan menyesal bila aku bertindak tanpa ampun terhadapmu.”

Liong It-hiong angkat pundak, “Sebelum Taysu mengalahkan Sun-tayhiap belum memenuhi syarat untuk bergebrak denganku, silakan mengalahkan Sun-tayhiap dulu baru nanti bicara denganku.”

Kim-kong Taysu mendengus, lalu berkata lagi terhadap Sun Thian-tek, “Coba Sun-tayhiap ulangi bicara lagi sekali bahwa asalkan berani kumakan satu biji obat ini, segera engkau akan mengaku kalah dan angkat kaki diri sini?”

“Betul,” jawab Sun Thian-tek dengan mengangguk.

“Haha, jika demikian jelas Sun-tayhiap sudah pasti kalah,” seru Kim-kong Taysu dengan terbahak. “Mungkin orang lain dapat kau tipu, tapi tak nanti aku bisa tertipu. Isi botolmu ini pada hakikatnya bukan racun, masa aku tidak berani makan obat ini.”

Thian-tek tersenyum, “Jika begitu boleh silakan coba Taysu makan satu biji.”

Benar juga tanpa sangsi Kim-kong Taysu menuang satu biji pil itu dan ditelan, lalu botol dilemparkan kembali kepada Sun Thian-tek, katanya dengan tertawa, “Baik, sekarang boleh kau pergi.”

Thian-tek menyimpan botol obat itu ke dalam saku, katanya dengan tertawa, “Apa betul obat itu sudah Taysu makan?”

“Tentu saja,” jawab Kim-kong Taysu sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

“Bagus, jika betul Taysu sudah makan obat racun ini, maka bolehlah aku dianggap kalah, namun peti hitam itu toh tetap barangku.”

“Apa katamu?” teriak Kim-kong Taysu dengan gusar.

“Kubilang peti itu tetap menjadi milikku,” kata Thian-tek pula.

Seketika Kim-kong Taysu mendelik, teriaknya, “Hm, masa engkau tidak tahu malu, omonganmu dapat dipercaya tidak? Masa bicara mencla-mencle?”

“Jangan marah dulu, Taysu,” ujar Thian-tek dengan tertawa. “Tidak nanti kurebut peti itu sebelum Taysu menggeletak binasa. Cuma setelah Taysu menggeletak binasa nanti kan berarti tidak mampu lagi mengambil peti itu, maka dapatlah kukuasai peti itu tanpa rintangan.”

Air muka Kim-kong Taysu berubah, katanya sambil menyeringai, “Huh, jangan bermimpi, meski obat yang kutelan ini benar racun juga aku takkan mati.”

“Tidak, dalam waktu seperempat jam, jika Taysu tidak berusaha menawarkan racun, maka tiada pilihan lain engkau pasti akan binasa,” kata Thian-tek dengan tertawa. “Jika engkau tidak percaya, biarlah kuperlihatkan ini ….”

Segera ia mengeluarkan dua buah botol kecil yang bentuknya serupa, ditaruhnya kedua botol kecil itu di telapak tangan, katanya, “Tadi Taysu bilang yang kuminum bukan racun, hal ini memang tidak salah. Ketiga biji obat yang kutelan tadi memang obat kuat, yang hendak kuberikan kepada Miau-toaso juga obat baik, cuma sayang dia tidak berani makan. Namun satu biji obat yang baru saja ditelan Taysu itu berasal dari botol yang lain, karena bentuk kedua botol ini serupa benar, maka Taysu terjebak.”

Seketika berubah hebat air muka Kim-kong Taysu, sebab pada saat itu juga lamat-lamat dirasakan perutnya mulai melilit, ia tahu memang betul telah tertipu. Keruan kejut dan juga gusar sekali, ia meraung, “Keparat, rasakan tongkatku ini!”

Tongkat terangkat, kontan ia menyerampang sekuatnya ke pinggang Sun Thian-tek.

Cepat Thian-tek melompat mundur, serunya, “Aha, Toasuhu yang baik, masa engkau tidak menghendaki nyawamu lagi?”

Setelah serangannya mengenai tempat kosong, benar juga Kim-kong Taysu tidak berani bergerak pula, sebab ia tahu bilamana banyak mengeluarkan tenaga berarti akan menambah cepat bekerjanya racun.

Dengan gemas ia mengentak tongkatnya dan membentak, “Baik, setelah kupunahkan racunku tentu akan kubikin perhitungan lagi dengan keparat rudin macammu ini.”

Habis bicara ia terus tinggal pergi.

Thian-tek mendekati pintu kelenteng dan menyaksikan kepergian orang hingga menghilang dalam kegelapan, habis itu baru berpaling menghadapi Liong It-hiong, ucapnya dengan tertawa, “Liong-hiap, petimu itu sekarang sudah menjadi milikku.”

Liong It-hiong duduk bersandar dinding, jawabnya dengan tersenyum, “Orang bilang Kiong-su-sing Sun Thian-eek banyak tipu akalnya, tampaknya menang tidak salah.”

“Terima kasih atas pujianmu,” seru Thian-tek. “Orang pandai di dunia Kangouw makin lama tambah banyak, mau tak mau kita harus menggunakan otak sedikit.”

“Kulihat kekalahan mereka itu diterima secara penasaran, apakah engkau tidak khawatir mereka akan kembali lagi ke sini?” tanya It-hiong.

Thian-tek menggeleng, “Mereka takkan datang lagi, mereka adalah tokoh terkemuka dunia persilatan zaman ini, kehormatan dipandang mereka melebihi nyawa sendiri, sekali mereka mengaku kalah tentu takkan datang lagi.”

Lalu ia menyeringai, jelas kelihatan sifat rakusnya, katanya pula, “Nah, bagaimana? Akan kau serahkan sendiri peti itu atau perlu kuturun tangan?”

“Engkau mempunyai anak kunci belenggu ini?” tanya It-hiong dengan tertawa.

“Tidak ada,” jawab Thian-tek. “Cuma aku membawa sebilah pedang pandak yang mampu memotong besi serupa merajang sayur, boleh kucoba ….”

Sembari bicara ia terus mengeluarkan sebilah pedang pandak, panjang pedang hampir sama dengan belati biasa, dari bentuk sarung pedangnya yang antik, jelas sebilah pedang pusaka.

Ketika pedang pandak itu dilolos, seketika cahaya gemerdep membuat silau pandangan orang. Ia putar pedang itu perlahan, katanya dengan tertawa, “Apakah kau kenal pedang pandak ini?”

“Mungkin Siau-hi-jong (usus ikan kecil) yang dipandang benda mestika oleh setiap orang persilatan?” tanya It-hiong.

“Aha, pandanganmu memang cukup tajam, tepat sekali tebakanmu,” kata Thian-tek.

“Setahuku Siau-hi-jong ini adalah benda kesayangan Suma Bang yang berjuluk Pak-hay-hi-ong (si kakek nelayan dari laut utara), mengapa bisa berada padamu?” tanya It-hiong.

“Soalnya kami telah mengadakan pertaruhan, dia menggunakan Siau-hi-jong ini sebagai taruhannya, sebaliknya aku menggunakan kepalaku, hasilnya dia yang kalah, maka Siau-hi-jong lantas menjadi milikku.”

“Wah, caramu bertaruh tentu sangat tinggi,” ujar It-hiong dengan tertawa.

“Ah, tidak, hanya sekadar mencari makan saja,” kata Thian-tek sambil mengangkat pundak.

“Cara bagaimana kalian mengadakan pertaruhan?” tanya It-hiong pula.

“Daripada dikatakan taruhan akan lebih tepat dikatakan sebagai mengadu kecerdasan,” tutur Sun Thian-tek. “Kau tahu dia suka mengaku sebagai raja catur yang tidak ada tandingannya, sedangkan aku sendiri justru suka cari makan dari main catur, selama belasan tahun ini aku tidak pernah kalah, maka aku lantas mendatangi dia dan menantang catur padanya, hasilnya akulah yang beruntung menang.”

“Sayang di sini tidak ada catur, kalau ada tentu aku pun ingin main-main denganmu, sebab aku juga suka bertaruhan,” kata It-hiong.

“Padaku sekarang justru membawa seperangkat biji catur, cuma kalau engkau ingin bertaruh main catur denganku, kukira akan menjadi lelucon.”

“Bukan lelucon, aku bicara sungguh-sungguh,” kata It-hiong.

“Jika engkau tidak mau menyerahkan peti itu, silakan berdiri dan bergebrak denganku untuk menentukan kalah menang, untuk ini mungkin engkau masih ada setitik harapan untuk menang, mengenai main catur, hehe, jago catur kelas utama zaman ini semuanya kukenal, tapi tidak pernah kudengar ada jago catur serupa dirimu!”

It-hiong tertawa, katanya, “Jika engkau sedemikian yakin akan kemahiranmu main catur, bagaimana kalau kau beri sebuah benteng padaku.”

Thian-tek menggeleng, katanya tidak sabar, “Tidak, lebih baik kita saling gebrak saja.”

It-hiong sengaja memandangnya dengan sikap menghina, jengeknya, “Hm, kukira engkau ini tukang bual belaka.”

“Tukang bual bagaimana?” tanya Thian-tek dengan gusar.

“Sebab kalau benar permainan caturmu tidak ada tandingannya di dunia, kenapa engkau tidak berani coba main denganku?” tanya It-hiong.

“Soalnya engkau tidak memenuhi syarat untuk bermain denganku.”

“Tidak memenuhi syarat? Dari mana kau tahu?” tanya It-hiong. “Jika kau mau, aku pun tidak perlu minta diberi satu biji benteng. Biarlah kita main sama tingkat. Bila kau menang boleh kau ambil peti ini, jika kalah ….”

Mengenai ilmu silat Sun Thian-tek memang banyak jago yang lebih unggul daripada dia, tapi dalam hal main catur dia memang betul tokoh kelas satu yang tidak ada tandingan.

Keruan ia gusar karena orang berani menantang main catur padanya, tanpa pikir ia berkata, “Baik, jika aku kalah, biar kuberikan kepalaku.”

“Betul, engkau tidak menyesal?” It-hiong sengaja menegas.

“Ucapan seorang lelaki sejati tidak nanti dijilat kembali,” jawab Sun Thian-tek.

“Bagus, boleh keluarkan caturmu!” seru It-hiong gembira.

Segera Sun Thian-tek menyimpan pedangnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, ia duduk di depan It-hiong sambil membuka kotak, jengeknya, “Hari ini kukira akan dapat berkelahi sepuasnya, siapa tahu akhirnya tanpa senjata dan tidak perlu tenaga akan mendapatkan peti wasiat itu.”

“Itu kan lebih baik bukan?” kata It-hiong. “Seperti kata peribahasa, walang menangkap tonggeret, di belakang mengintai burung cucakrawa. Pokoknya malam ini apakah engkau berhasil mendapatkan peti atau aku yang tetap harus menyimpan tenaga untuk menjaga serangan burung cucakrawa, sebab itulah bilamana pertandingan kita dapat terlaksana tanpa membuang tenaga adalah cara yang paling baik.”

“Masa kau anggap masih ada cucakrawa yang mengincar di belakang kita?” tanya Sun Thian-tek dengan tersenyum.

“Kukira pasti ada,” It-hiong mengangguk.

Sun Thian-tek tidak bicara lagi, ia menggelar sehelai papan catur buatan kulit, lalu menuang ke-32 biji catur, katanya, “Supaya adil, biarlah kuberi kau jalan lebih dulu.”

“Ah, kan tidak enak,” ujar It-hiong.

“Sudah belasan tahun aku tidak pernah memegang biji hitam, kebiasaan ini tidak boleh kulanggar,” kata Thian-tek.

“Jika begitu, maaf aku mendahului,” ujar It-hiong sambil memasang ke-16 biji caturnya. Setelah pihak lawan juga sudah mengatur caturnya dengan betul, lalu ia mulai angkat sebiji catur ke depan.

Begitulah keduanya lantas mulai serang-menyerang, permainan Sun Thian-tek memang sangat lihai, serangannya gencar dan sukar diduga, hanya beberapa langkah saja raja hitam sudah tersudut, tampaknya segera It-hiong akan kalah.

Tak terduga dia sengaja memancing musuh, lalu dengan langkah yang tak tersangka ia menjebak dan mengurung, kemudian mencapai kemenangan terakhir.

Biasanya Sun Thian-tek menganggap dirinya sebagai raja catur, siapa tahu sekarang dikalahkan oleh seorang anak ingusan yang tak terdaftar dalam deretan jago catur, tentu saja ia sangat penasaran, dengan muka merah padam ia berteriak, “Ken … kenapa bisa jadi begini?”

It-hiong tertawa, “Permainanmu kau belajar dari Ki-sian (dewa catur) Li Hui-ho bukan?”

“Dari … dari mana kau tahu?” tanya Sun Thian-tek dengan melongo.

“Biarlah sekarang kuberi tahukan terus terang,” tutur It-hiong. “Dari beliau kau dapatkan kepandaian main, sebaliknya aku mendapatkan sejilid kitab catur dari dia yang khusus memuat berbagai problem catur, terutama yang menyangkut pengaturan perangkap dan mematikan musuh.”

Muka Sun Thian-tek menjadi merah dan sebentar lagi pucat, jawabnya dengan gelagapan, “Kiranya … kiranya demikian ….”

“Ya, maka di antara kita boleh dikatakan saudara seperguruan, engkau sudi mengaku Sute padaku?” tanya It-hiong dengan tertawa.

Dari malu Sun Thian-tek menjadi gusar, teriaknya, “Tidak, coba satu kali lagi, aku tidak percaya permainanmu bisa lebih tinggi daripadaku.”

Mendadak lenyap wajah tertawa Liong It-hiong, jawabnya dengan tegas, “Mau main lagi juga boleh, tapi lebih dulu aku minta sesuatu.”

“Sesuatu apa?” tanya Thian-tek.

“Barang yang telah kau janjikan akan kau berikan padaku,” kata It-hiong.

Seketika Thian-tek tampak tegang, “Barang apa itu!”

“Kepalamu!”

“Boleh kita main sekali lagi, jika tetap kukalah segera kuberikan kepalaku.”

“Tidak, harus setindak demi setindak, setelah kau kalah tadi, kepalamu harus kau serahkan padaku.”

Thian-tek menjadi marah, “Jika aku tidak punya kepala lagi, cara bagaimana dapat main catur pula denganmu?”

“Itu kan urusanmu, yang pasti aku menang dan aku ingin mengambil hasil taruhan kita tadi,” kata It-hiong tegas.

“Baik, kuberikan ini!” teriak Thian-tek bengis, telapak tangan kanan mendadak menebas leher It-hiong.

Namun It-hiong sudah siap sedia sebelumnya, begitu melihat pundak orang bergerak segera ia melompat mundur, teriaknya dengan tertawa, “Aha, Sun Thian-tek, ternyata bicaramu serupa kentut busuk belaka?!”

Namun Thian-tek berlagak tuli dan pura-pura bisu, kembali ia menubruk maju, kedua jari menutuk sekaligus kedua mata lawan.

Cepat It-hiong mengegos serentak melolos pedang, sekali sabet segera ia tebas kaki orang.

“Keparat, jika malam ini tidak dapat kau bunuh diriku, selanjutnya kau Sun Thian-tek jangan cari makan lagi di dunia Kangouw, sebab kejadian malam ini pasti akan kusiarkan seluas-luasnya,” seru It-hiong dengan tertawa.

Ancaman ini membuat nafsu membunuh Sun Thian-tek tambah berkobar, sudah diputuskan akan membunuh Liong It-hiong untuk menyumbat mulutnya. Sambil menghindari sabetan pedang, segera ia malas menendang.

Akan tetapi It-hiong juga sempat mengelak, menyusul pedang menusuk ke perut lawan.

Setelah saling gebrak beberapa jurus, merasa sukar memperoleh kemenangan jika cuma bertangan kosong, cepat Thian-tek melompat mundur sambil melolos pedang pandak, lalu menerjang maju lagi.

Meski pedangnya lebih pendek, tapi tipu serangannya aneh, apalagi It-hiong tahu pedang pandak itu dapat menebas besi seperti memotong sayur, tentu saja ia tidak berani sembarangan menangkis, maka makin lama makin terdesak di bawah angin.

Padahal umpama Sun Thian-tek tidak memakai pedang pusaka juga sukar bagi It-hiong untuk mengalahkannya, maklumlah Sun Thian-tek adalah tokoh dunia persilatan yang cukup terkenal, baik keuletan maupun pengalaman jelas jauh di atas It-hiong.

Apalagi It-hiong dibebani sebuah peti hitam yang berat, masih harus berjaga akan serangan pedang pandak, maka tambah lama tambah runyam keadaannya.

Setelah berlangsung tiga-empat puluh jurus, mendadak “creng” sekali, pedangnya tertebas putus oleh Siau-hi-jong yang tajam. Dengan demikian keadaan It-hiong tambah payah dan terdesak kalang kabut.

Sun Thian-tek sudah bertekad akan membunuhnya, maka serangannya tambah gencar, tipu serangan mematikan terus dilancarkan ke bagian tubuh It-hiong yang fatal.

Dalam keadaan kepepet, Liong It-hiong menjadi nekat, mendadak ia menggertak keras terus memutar peti hitam itu sebagai banderingan.

Rupanya Sun Thian-tek juga sudah menduga akan hal ini, cepat ia mengegos terus meraih, dengan tepat rantai peti itu kena dipegangnya, menyusul pedang pandak lantas menebas, rantai hendak dipotongnya.

Tak terduga, pada detik itu juga mendadak Sun Thian-tek menjerit aneh, berbareng pegangan pada rantai dilepaskan, bahkan cepat ia melompat mundur.

Kejadian ini serupa orang yang memegang rantai terbakar, karena kesakitan dan segera dilepaskan kembali.

Tapi karena lompatan mundur itu terburu-buru tanpa memilih arah, punggungnya lantas menumbuk dinding, kepalanya juga benjut terbentur sehingga terasa pusing tujuh keliling, tubuh pun duduk terkulai di lantai.

It-hiong tidak melancarkan serangan susulan, sebab ia tidak tahu persis apa yang menyebabkan musuh mendadak melompat mundur pada saat sudah mencapai kemenangan, dengan tertegun ia memandang lawan sekejap, lalu menegur, “Hei, kenapa kau?”

Thian-tek menggoyang-goyang kepala sehingga rasa pusingnya rada hilang, sambil memegang lututnya ia meraung, “Keparat, kau bilang aku banyak tipu akal, tampaknya engkau bocah ini terlebih licik dan licin daripadaku.”

Melihat orang memegang dengkul, barulah It-hiong mengetahui lutut kanan Sun Thian-tek tersambit oleh sehelai daun cemara, mau tak mau terkejut juga dia, pikirnya, “Buset, jadi benar ada seekor cucakrawa yang mengincar secara diam-diam ….”

Kiranya daun cemara itu tepat mengenai tulang kering Sun Thian-tek, padahal daun itu sudah kecil, jelas disambitkan oleh orang yang menguasai Lwekang sangat tinggi.

Walaupun kejut dan heran, namun It-hiong tidak bicara hal ini, katanya pula dengan terbahak, “Haha, terima kasih atas pujianmu, itu kan cuma sedikit kepandaian tak berarti saja!”

“Hm, tak tersangka mahir juga caramu menggunakan senjata rahasia, tampaknya aku memang salah nilai dirimu ….” ucap Sun Thian-tek pula sambil meringis kesakitan.

It-hiong mengangkat pundak, katanya, “Anggaplah ini sebagai pelajaran bagimu agar selanjutnya engkau jangan sok lebih tua dan menindas yang muda.”

Mendengar pada ucapan orang seperti tidak berniat membunuhnya, hati Sun Thian-tek terasa lega, katanya, “Engkau tidak membunuhku?”

“Sementara tidak, nanti kalau aku ingin membunuhmu tentu akan kucari lagi dirimu,” jawab It-hiong.

Thian-tek mengusap keringatnya, perlahan ia merangkak bangun, katanya, “Jika engkau tidak ada urusan lagi, aku mau pergi saja.”

“Silakan,” ujar It-hiong dengan tertawa.

Dengan pincang Sun Thian-tak berjalan ke pintu kelenteng, tiba-tiba ia seperti ingat sesuatu, ia berpaling dan berkata pula, “Sebenarnya kita dapat berembuk dulu ….”

“Urusan apa?” tanya It-hiong.

Mendadak Thian-tek menghela napas, katanya, “Aku Sun Thian-tek meski tidak berani mengaku sebagai tokoh mahalihai, tapi paling sedikit juga cukup ternama di dunia persilatan, sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia persilatan, dan selama ini tidak pernah kecundang secara mengenaskan seperti hari ini.”

“Ah, kalah atau menang adalah kejadian biasa di medan perang, kenapa engkau meski berpikir tentang kejadian ini?”

“Bukan begitu soalnya,” ujar Thian-tek dengan murung. “Usia orang she Sun sekarang sudah lebih 40-an, sekali lipat daripadamu, sudah lama namaku terkenal lebih dulu, namun sekarang bukan saja kepandaianmu main catur melebihiku, bahkan ilmu silatmu juga di atasku. Bilamana berita ini tersiar ke dunia Kangouw, lalu akan ditaruh ke mana mukaku ini?”

“Gelombang laut selamanya dari belakang mendorong ke depan, angkatan muda senantiasa menggantikan angkatan tua, siapa yang dapat bertahan tidak terkalahkan selamanya?” ujar It-hiong.

“Tapi kekalahanku ini terlampau mengenaskan,” kata Thian-tek, “sedangkan aku masih ingin berkecimpung lebih lama di dunia Kangouw, sebab itulah … eh, bagaimana kalau kita mengadakan persepakatan, melakukan suatu bisnis ….”

“Bisnis bagaimana?” tanya It-hiong.

“Jangan kau siarkan kejadian hari ini tentang kekalahan dan perbuatanku yang ingkar janji tadi, untuk itu akan kuberi sesuatu imbalan padamu.”

“Imbalan apa?”

“Pedang ini,” jawab Thian-tek sambil mengangkat pedang pandaknya. “Siau-hi-jong ini adalah benda mestika dunia persilatan, siapa pun mengincarnya, sungguh benda yang sukar dinilai dengan uang. Nah, bagaimana setuju?”

It-hiong berpikir sejenak, katanya, “Ini … ini ….”

“Apa yang terjadi ini kan tidak merugikan apa pun bagimu, kumohon engkau menerima dengan baik penawaranku,” pinta Thian-tek dengan sungguh-sungguh.

Diam-diam It-hiong merasa geli, ia mengangguk, katanya, “Baiklah, setelah mengalahkanmu, mestinya hendak kupermaklumkan kepada kawan dunia persilatan tentang kemenanganku yang gemilang ini, kau tahu, bilamana kawan Bu-lim mendengar dapat kukalahkan tokoh termasyhur Kiong-su-sing Sun Thian-tek, tentu namaku akan tambah cemerlang dan gengsiku akan naik, semua ini tentu tidak dapat dibeli dengan uang.”

“Kutahu,” ujar Thian-tek sambil menyengir. “Engkau masih muda, namamu pasti akan tambah gemilang, hari depanmu masih panjang. Sebaliknya keadaanku tentu berbeda, sekali aku kalah tentu namaku akan runtuh dan tamat riwayatku untuk selamanya.”

“Baik, kuterima tawaranmu, boleh kau serahkan pedang itu padaku,” kata It-hiong.

“Tapi jangan kau ingkar janji lho?!” pesan Thian-tek.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: