Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Perguruan Sejati (09)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:01 pm

Perguruan Sejati (09)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Terus terang saja kenapa tak mau engkau tuturkan apa yang menjadi rahasia hatimu itu?”

“Tidak ada sesuatu yang menjadi rahasiaku.”

“Baik-baik begitu, tapi terangkan dengan sejujurnya.”

“Kongcu hanya salah paham merpati pos yang kemarin kulihat terang-terang binatang yang terpelihara, kenapa mengatakan merpati liar yang datang sendiri?”

Wajah Tutan menjadi berubah, ia sangat kaget, dan kemek-kemek tidak bisa menjawab.

“Lagi pula hari ini akan datang tamu, siapa dia? Kenapa Siociamu dengan alas an ini menyingkirkan aku kesini dan memindahkan kamarku kebelaklang? Seolah0olah tidak boleh menemui tamu itu?”

Tutan menangis, air matanya mengallir ke pipi lalu berkata: “Tamu itu adalah kawan lama Siociaku. Sudah lama Siocia mengharapkan bertemu dengannya, tapi tak berhasil, dan baru sekarang harapannya selama tiga puluh tahun itu baru terlaksana! Sudah pasti banyak omongan yang akan dibicarakan mereka dan terlarang untuk orang luar mengetahuimya! Maka itu dengan memindahkan Kongcu kebelakang sedikitpun tidak bermaksud jahat!”

“Seharusnya kawan baiknya itu ditempatkan di loteng belakang berdekatan dengan kamar Siociamu bukan?”

“Ia adalah seorang laki-laki!”

“Oh, kiranya begitu, menyesal aku terlalu bercuriga!” kata In Tiong Giok sambil tersenyum.

“Sudah lama Liap Lo Cianpwee tak bertemu dengannya, tiba-tiba mengetahui kawannya itu akan datang, tentu burung pos itu yang membawa berita bukan?”

“Ini…ini…aku tak tahu!”

“Setiap kusinggung mengenai burung pos itu, engkau tak mau mengatakan yang sebenarnya. Tentu ada apa-apanya bukan? Mulai hari ini aku pindah keloteng belakang, pasti akan mendapat kesempatan membongkar rahasia ini dan akan mengetahui soal yang kau rahasiakan!”

“Bahkan jangan berlaku gegabah, jika diketahui Siocia engkau bisa celaka.”

“Adakah satu rahasia diloteng belakang itu yang tidak boleh diketahui orang luar?”

“Kongcu jangan bertanya padaku, bagaimanapun aku tak berani menerangkan,” kata Tutan, “aku hanya mengharapkan Kongcu jangan berlaku demikian, sebab berbahaya sekali…” Ia tidak mau menerangkan terlebih lanjut. Hanya kepalanya digoyang-goyang dan air mata mengalir terus dengan deras.

“Katakanlah padaku, aku berjanji tak akan menceritakan lagi pada orang lain!”

“Tutan menoleh kekiri kanan, tampak ketakutan sekali, berapa kali bibirnya bergoyang tapi tak mengeluarkan suara, seolah-olah jika ia bersuara akan mendatangkan bencana besar baginya.

“Jangan kuatir, kita hanya berdua saja, tak ada orang lain yang mendengar!”

Tutan menjadi berani juga. “Kongcu sebaiknya lekas pergi dari sini, lebih cepat lebih baik..”

“Siang-siang aku mau pergi, tapi sebab dicegah Siociamu…”

“Pergilah dari sini diluar tahunya!”

Tiba-tiba saja terdengar dengusan seseorang disusul berkelebatnya sesosok tubuh dihadapan mereka. “Tutan engkau jangan mengaco tak keruan, apa yang kau katakana barusan?”

Pendatang itu adalah seorang tua berambut putih, dan bermata satu.

“Sun Toa nio,” kata Tutan sambil menarik nafas lega.

Perempuan tua itu mengenakan pakaian serba hitam, lengannya memegang tongkat hitam yang mengkilap. Ia berjalan menghampiri sepasang muda mudi itu, dari geraknya tampak ia berilmu itnggi.

“Enkau siapa? Diamlah disitu kalau mau bicara tak perlu dekat!” kata In Tiong Giok.

Orang tua itu dengan terpaksa menghias wajahnya yang keriput dengan senyuman palsu.

“In Kongcu engkau tak kenal denganku, tetapi aku kenal denganmu. Siocia mengetahui tabiat Tutan ini paling senang mengatakan yang tidak-tidak , maka mengutusku untuk mengawasinya!”

“Aku tidak menanyakan soal ini, aku hanya ingin tahu engkau siapa?”

Nenek-nenek itu memancarkan sinar jahat dari matanya, lalu tertawa parau. “Jika ingin tahu siapa aku, tanyakanlah pada Tutan!”

“Tutan siapa sebenarnya dia?” tanya In Tiong Giok tak sabaran.

“Ia adalah babu tete Siociaku,” kata Tutan dengan berbisik. “Biar bagaimana Kongcu tak boleh melepaskan dia, jika tidak kita akan celaka…”

“Tutan, bentak nenek itu memotong percakapan orang. Nyalimu sungguh besar! Berani menghasut In Kongcu untuk melawan padaku?”

“Tidak! Aku tidak menghasut, aku hanya mengatakan soal yang sebenarnya.”

“Hm, apa yang kau ucapkan patah demi patah terdengar telingaku, mau membohong, kata nenek itu dengan galak. In Kongcu engkau adlah murid seorang kenamaan didunia persilatan, sekali-laki jangan mendengari perkataan budak ini! Tadi ia mengatakan ilmu yang dirahasiakan dan tak boleh diajarkan pada orang luar dan lain….semua dusta, jika tak percaya engkau boleh menanyakan semua ini kepada Siocia!”

“Kongcu tak boleh pulang, berarti kematian bagimu,” kata Tutan memperingati.

“Budak hina yang tidak tahu diri, kuhabiskan nyawamu!” teriak Sun Toa nio seraya menerkam dan menghajarkan tongkatnya pada Tutan.

In Tiong Giok mengebaskan lengan kirinya dan membusungkan dada menghadang Sun Toa nio. “Sabar dulu, aku mau bicara denganmu!”

Tongkat Sun Toa nio tadi kena disampoh miring lengan Tiong Giok, hal ini mendatangkan rasa kaget si nenek. Cepat-cepat ia menarik tongkatnya dan berkata: “Kongcu mau mengatakan apa?”

“Ingin kutahu Toa nio, tahun ini berusia berapa?”

“Untuk apa engkau menanyakan umurku?”

“Kuharap engkau menjelaskan, pasti ada gunanya!”

“Usiaku lima puluh enam tahun!”

“Orang seusiamu itu apakah pantas menjadi babu tete dari Liap Lo Cianpwee?” kata In Tiong Giok. “Tiga puluh tahun yang lalu Liap Lo Cianpwee sudah berusia sekitar dua puluh tahunan, engkau berusia berapa menyusui Siocia itu?”

Sun Toa nio tak bisa menjawab.

“Memang dia ini adalah babu tet yang palsu,” kata Tutan.

Sun Toa nio menjadi gusar, tongkatnya segera terangkat lagi menyerang tutan. Tapi dengan kecepatan kilat, Tiong Giok menyambar gadis itu dan dibawanya melompat sejauh beberapa tombak. “Engkau mau apa?” tanyanya pada si nenek.

“In Kongcu engkaujangan terpincuk paras cantik budak itu dan melakukan pekerjaan yang sesat! Lekaslah ikut denganku menghadap pada Siocia, ia sedang menantikanmu dengan tidak sabar! Mulutnya berkata lengannyapun tidak tinggal diam, memutar tongkatnya dengan keras, menghantam ke arah Tiong Giok.

“Kongcu jangan ragu-ragu lagi, hadapilah keparat ini dengan Hiat cie lengmu!” seru Tutan.

Sun Toa nio menyerang Tiong Giok dengan gencar sebanyak tiga jurus. Setelah dengan mendadak ia membalik tubuh dan menyergap Tutan. Untung yang disebut belakangan dapat mengengos, membuat tongkat itu menghajar tanah dan menimbulkan suara nyaring. Dengan gerakan cepat tongkat itu diangkatnya dan disabatkan lagi pada Tutan. Gerakan ini sangat cepat dan mendadak, sehingga mengenai dengan tepa tperut lawan, Tutan tergeliat dan nguseruk ditanah. Nenek tua itu tidak puas sampai disitu, tongkatnya terangkat lagi untuk menghabisi jiwa orang. Pada saat inilah In Tiong Giok melancarkan Hiat cie lengnya dari belakang musuh, suara seri ilmu mautnya, membuat Sun Toa nio membatalkan niat kejamnya.

Tanpa menoleh lagi ia merebahkan diri.

Tapi tak urung rambutnya sebagian besar telah menjadi hangus terkena angin Hiat cie leng yang panas laksana api. Dengan cepat ia mencelat bangun dan terus mengambil langkah seribu.

Tiong Giok menghampiri Tutan, “Bagaimana? Luka beratkah?”

Dengan kedua tangan Tutan menekap perutnya, wajahnya pucat pasi, keringat dinginnya mengucur deras. Dengan menahan sakit ia memaksakan bicara: “Kejar dia! Jangan biarkan ia kembali kerumah …”

“Ku obati dulu lukamu…”

“Jangan! Lekas kejar!”

In Tiong Giok menganggukkan kepala dan terus mengejar Sun Toa nio. Tapi yang dicari itu dalam waktu sekejap sudah tak terlihat mata hidungnya lagi. Tapi ia sadar bahwa musuhnya itu pasti berlari pulang kerumah. Maka itu dengan mengumpulkan hawa sejati dipusarnya ia berlari dengan keras memakai ilmu meringankan tubuh yang baru dipelajari kearah rumah. Entah sudah berapa lama ia berlari, tahu-tahu didepannya terlihat seorang tua mengenakan pakaian hitam, ia menjadi girang. Dengan cepat ia mendahului orang tua itu dan berbalik menghadang jalan. “Mau lari kemana lagi nek?” katanya begitu berbalik badan. Ia menjadi gugup dan kemaluan karena orang tua itu bukan nenek-nenek, melainkan adalah kakek-kakek hanya saja pakaiannya serba hiotam serupa dengan Sun Toa nio.

Kakek itu kelihatan bermata tajam, dan gagah, sekali lihatpun bisa diketahui seorang berilmu itnggi.

“Ah, maafkan aku,” kata In Tiong Giok, “Aku kesalahan pak!”

“Apakah dengan menghaturkan maaf saja soal ini terhitung beres?” tanya kakek itu dengan dingin.

“Habis harus bagaimana?” tanya Tiong Giok.

“Sedikitnya engkau harus saja kui, bertekuk lutut sebanyak tiga kali!”

“Aku sedang tergesa-gesa, tak mempunyai waktu berkelekar denganmu, lain kali saja!” kata In Tiong Giok dan terus mencelat pergi.

“Kembali!” teriak kakek itu.

Tiong Giok merasakan bajunya ditarik orang dan tak bisa pergi lagi, lalu jatuh lagi ketempat tadi. “Bocah jangan main gila dihadapanku!” bentak sikakek.

“Kesalahanku tidak seberapa dan sudah kuhaturkan maaf, tapi engkau menghendaki yang tidak-tidak dariku, perbuatanmu itu kelewat sekali!”

“Justru tabiatku sangatg aneh, setiap yang membangkang perintahku, bagaimanapun harus kutunduki!”

“Bagaimanapun aku tak bisa dipaksa!”

“Hm engkau sangat bandel ya! Ketahuilah orang-orang yang bandel dan tidak dengar kata mulutku akibatnya bagaimana? Tuh kau lihat contohnya!” katanya sambil menunjukkan kebawah tebing.

Tiong Giok menengok kearah yang ditunjuk disitu terlihat seorang tergantung rotan, waktu ditegasi orang itu nyatanya Sun Toa nio adanya. “Nenek ini kurang ajar, berlari cepat melewatiku, waktu kutahan dan menyuruhnya bertekuk lutut, bukan saja ia tidak mau malahan menyerang dengan tongkatnya itu,” kata si kakek sambil menunjuk kedekat batu. Disitu terlihat tongkat Sun Toa nio yang mengkilap tertancap dalam. Kakek itu merebut tongkat itu, lalu membelit ujung rotan lalu menyentak keatas seperti orang memancing ikan. Tubuh Sun Toa nio segera terangkat keatas dan jatuh ditanah. Wajahnya pucat pasi, tapi belum mati. “Dengan kepandaiannya tak seberapa mau melawanku Lui sin Tong Cian Lie, nah akibatnya begini!” Tampaknya si kakek yang bernama Tong Cian Lie tidak menaruh belas kasihan pada nenek itu.

Kakinya terangkat mendupak nenek itu dan terpental jatuh kedalam tebing dengan jiwa melayang.

In Tiong Giok tanpa disuruh lagi bertekuk lutut didepan kakek itu. “Aku In Tiong Giok menghaturkan hormat pada Tong Lo Cianpwee!”

“Hm mau bertekuk lutut juga? Engkau pandai dan bisa melihat gelagat, lekas bangun!”

“Tadi aku tak tahu bahwa Lo Cianpwee adalah Lui sin, maka aku berlaku kurang ajar …”

“Sesudah tahu buru-buru tekuk lutut, apa maksudmu?”

“Aku mendapat pesan dari Cian bin sin kay Cu Lit untuk menemui lo Cianpwee di Ciu yang shia, tapi belum sempat kesana dan kebetulan bertemu disini…”

“Kiranya engkau kenal dengan pengemis bermuka-muka itu? Ia menyuruhmu menemuiku untuk apa?”

“Antaraku dengannya adalah kawan dalam kesusahan” kata in Tiong Giok seraya menuturkan kisahnya bersama Cu Lit di Pok Thian Pang secara panjang lebar.

“Ah masakan sampai Thay Cin Tojin dan Cu Lit mengabdi pada Pok Thian Pang?” Aku tidak percaya!” kata Cian Lie.

“Ya memang mula pertama Cu Lo Cianpwee tak menurut dan mengacau disana, tapi setelah bertemu dengan sang Pangcu dari Pok Thian Pang segera menurut! Hal ini kudapat tahu dari Siau Pangcu!”

“Siau Pangcu? Berapa usia pemuda itu? Dan bagaimana parasnya?”

“Usianya tujuh belas tahun, soal wajahnya sukar dilukiskan dengan kata-kata,” kata Tiong Giok. “Orangnya pendiam dan tak suka bergaul, menurut katanya ayahnya sudah meninggal. Dan yang mengherankan sampai nama ayahnya sendiri tidak diketahuinya!”

“Oh seorang anak yang tak berayah, kasihan .”

“Ayahnya dibunuh orang!”

“Siapa yang membunuhnya?”

“Tidak tahu!”

“Jika tidak tahu mengapa mengetahui ayahnya dibunuh orang?”

“Hal ini diketahui dari dedengkot Pok Thian Pang yang biasa dipanggil Lo Cucong, hanya saja ia tidak memberitahu Siau Pangcu itu!”

“Apakah pangcu itu berusia sekitar tiga puluh lima tahun, dan ditengah-tengah alisnya terdapat tahi lalat merah? Kalau tersenyum ada lesung pipitnya?”

“Benar! Kenapa Lo Cianpwee bisa tahu?”

“Oh tak heran pengemis itu menyuruhmu menemui diriku kiranya hal itu benar adanya” kata Tong Cian Lie sambil berkemak kenik sendiri. “Ah bagaimanapun juga jika belum melihat dengan mata kepala sendiri sukar untuk mempercayainya!”

“Siapa yang ingin Lo Cianpwee lihat?”

Tong Cian Lie tidak menjawab melainkan menyuruh Tiong Giok berjalan “Aku akan bertamu ke Kek Liong san menemui Lim Siok Bwee.”

“Sekarang belum bisa kesana!”

“Kenapa?” tanyanya.

Tiong Giok menceritakan pertemuannya dengan Liap in Eng dan kejadian yang baru dialami tadi.

“Oh kiranya nenek tua ini anak buahnya Liap In Eng!” kata Tong Cian Lie. “Mari kita temuinya, aku kenal dengannya!”

“Tapi aku harus kegunung dulu disana ada seorang gadis yang menderita luka berat terkena tongkat Sun Toa nio,” kata In Tiong Giok. “Kuharap Lo Cianpwee menunggu sejenak aku mau menolongnya.”

“Siapa gadis itu?”

“Ia adalah pelayannya Liap Lo Cianpwee yang bernama Tutan,” jawab In Tiong Giok. “Saat itu ia baru mau mengungkapkan rahasia siocianya, tahu-tahu datang Sun Toa nio dan melukainya.”

“Ilmu meringankan tubuh yang engkau pergunakan tadi adlah pelajaran asli dari Liap In Eng yang bernama Bunga Jatuh Terbang Melayang, dari siapa engkau memperoleh ilmu itu?”

“Kudapat dari Tutan!” kata In Tiong Giok.

“Jika begitu Tutan adalah orang bawahan Liap In Eng yang sejati, mari kita tengok!”

Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh kembali ketempat dimana Tutan terluka tapi diluar dugaan siapapun bahwa Tutan sudah tidak terlihat lagi. Ditempat ia rebah terluka rumput-rumput berlepotan darah, dan terus terlihat sampai ketepi jurang, disitu terlihat sehelai baju yang penuh dengan tulisan darah dan berbunyi seperti berikut: “Lukaku sangat berat, pasti tidak akan tertolong lagi, tambahan kunantikan Kongcu tak kunjung datang, darah mengalir terus dari mulut, sedangkan napasku semakin sesak. Aku mati dengan penasaran, karena belum bisa membals budi kebaikan Siocia, andaikata Kongcu bisa membebaskan diri, jangan lupakan kamar bawah tanah yang terletak diloteng belakang…..” Sampai disini surat itu habis, agaknya Tutan tidak tahan lagi dan menggelinding kedalam jurang.

“Tutan akulah yang membuatmu mati…” kata Tiong Giok sambil menangis tanpa mengeluarkan suara.

“Jika bisa membebaskan diri jangan lupakan kamar dibawah tanah yang terletak diloteng belakang…Hm! mungkinkah Liap In Eng mempunyai sesuatu rahasia yang tak boleh diketahui orang?”

“Tutan mengatakan mati dengan penasaran karena belum bisa membals budi kebaikan siocianya. Andaikata Liap Lo Cianpwee mempunyai sesuatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar, sudah tentu Tutan membantunya menyimpan rahasia itu, tapi kenapa ia memberitahu padaku?”

“Kalau begini kita harus melihat rahasia apa yang terbenam dikamar tanah itu,” kata Tong Cian Lie.

“Lo Cianpwee adalah kawan lama dari Liap Lo Cianpwee, bagaimanapun tak pantas menanyakan secara langsung rahasia dikamar itu bukan?”

“Tidak bisa berterus terang, kita boleh menyelidiki secara menggelap bukan?”

“Kalau begitu kita nantikan sampai malam, dan masuk kedalam rumah melalui pintu belakang, bagaimana oikir Lo Cianpwee bolehkah?”

“Kenapa tidak boleh?” jawab Tong Cian Lie.

Tiong Giok memungut rantang yang bersih kue-kue kering lalu membagi Tong Cian Lie, dengan lahap menghabiskannya dan menghilangkan dahaga dengan air gunung. Sewaktu senja mendatang baru turun gunung. Mereka menempuh jalanan gunung yang berliku-liku, dan makan waktu. Maka setibanya dirumah lampu-lampu telah menyala.

Tong Cian Lie memandang rumah itu dengan sinar matanya yang tajam, lalu menanya pada Tiong Giok. “Bocah apakah engkau pernah menjadi maling?”

“Apa perlunya Cianpwee menanyakan hal ini?”

“Sejujurnya puluhan tahun aku berkecimpung didunia Kang Ouw, selama itu pernah mencuri masuk kerumah orang! Sekarang pertama kali masuk kerumah orang tanpa diketahui penghuninya, mau tak mau hatiku kebat kenit tidak keruan! Lebih-lebih Liap In Eng adalah kawan lamaku jika kepergok…”

“Tak kira Lo Cianpwee bernyali kecil …”

“Ngaco! Aku bukan takut, mengerti! Sebagai laki-laki sejati, bagaimanapun tak boleh membuang muka didepan perempuan!”

“Habis bagaimana?”

“Sebaiknya terang-terangan aku masuk dari pintu dan engkau masuk dari pintu belakang!”

“Cara itu kupikir kurang baik,” kata In Tiong Giok. “Bagaimana kalau Lo Cianpwee menunggu diluar dan aku masuk sendiri? Andaikata dalam waktu satu jam aku belum keluar pasti mendapat gangguan, saat itu Cianpwee boleh masuk dari pintu depan menghadap padanya untuk membebaskan aku…”

“Bagus!” sela Tong Cian Lie, “tak sangka kecil-kecil bisa berpikir panjang, nah pergilah dengan tenang!”

Tiong Giok tersenyum dan melangkah pergi. Dengan melalui tembok ia sampai dikamar batu sebelah kiri, dari sini ia melihat sinar lampu terang benderang diloteng belakang. Bayangan orang tampak seliweran, menandakan Liap In Eng dan para pelayannya belum tidur. Ia tak berani sembarangan bergerak, dengan hati-hati ia mengawasi situasi rumah. Dilihatnya sebuah gang kecil menuju kesebuah ruang dalam, disamping ruangan itu terdapat sebuah tangga menuju keloteng. Saat ini dirumah itu tidak ada orang, tapi ada dua lentera yang terang benderang. Jika berlaku semberono menuju kesana dan ketahuan orang, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Ia menunggu agak lama juga, tapi sinar lampu masih tetap terang. Untuk tidak membuang waktu dan membuat Tong Cian Lie yang menanti diluar merasa cemas, ia memberanikan diri menuju keruangan itu. Ia berhasil sampai ditempat yang dituju dan buru-buru menyembunyikan diri dibalik pintu.

Dari sini dia mendengar suara percakapan-percakapan yang bercampur isakan tangis.

“Apakah sudah diutus orang untuk mencari Tutan fan Sun Toa nio?” terdengar suara Liap In Eng dengan keras.

“Jung jung sudah pergi mencari, tak lama lagi ia pasti pulang!”

“Kamu tidak bisa diandalkan sama sekali, tepat pada saat-saat yang penting, tidak terlihat kembali, sudahlah pergi dan turun yang lain menyediakan kuda Pek kounio mau pulang!”

Begitu mendengar “Pek Kuonio” Tiong Giok berdebar-debar tidak keruan. “Mungkinkah dia?” Belum ia berpikir terlampu jauh kupingnya mendengar suara bercampur tangis. “Tidak! Aku tidak mau pulang, biar matipun tak mau pulang!” Suara sangat dikenal Tiong Giok, nyatanya Pek Kounio itu bukan lain dari Pek Wan Jie adanya.

Bukankah Wan Jie berada di Pok Thian Pang? Kenapa ia bisa berada disini, ia tak bisa berpikir lama sebab harus mendengar lagi pembicaraan Liap In Eng.

“Wan Jie kuharap kau bisa bersabar, sebaiknya lekas pulang, jika sampai diketahuinya, engkau berada disini, ia bisa curiga.”

“Aku bisa sembunyi diloteng!”

“Sebaiknya engkau pergi dulu dari sini! Jika In Tiong Giok kena kutangkap engkau bisa menemuinya dimarkas pusat”, kata Liap In Eng. “Apa yang kulakukan sudah menyimpang dari perintah seharusnya, aku musti menangkapmu lebih dulu dan membawa pulang.”

“Aku ingin melihatnya sekali saja, sebab kutahu pulang berarti mati, sungguhpun begitu aku rela jika sudah melihatnya, barang sekali.”

“Kuharap sebelum ia pulang engkau harus meninggalkan tempat ini. Mie lie, Siu sian antarkan Pek Kounio pergi!”

“Baik!” sahut dua pelayan itu. Langkah-langkah mereka segera terdengar diatas tangga. Tiong Giok yang bersembunyi dibalik pintu mudah terlihat dari atas, maka itu menjadi cemas. Dilihatnya sebuah pintu dibalik tangga yang tidak terlihat dari arah luar. Cepat-cepat is menuju kesana, untung tidak terkunci dan ia bisa masuk kedalamnya. Ia menjadi melongo karena kamar yang dimasuki adalah kamar mandi, disitu penuh tergantung pakaian dalam kaum perempuan dan sebuah kaca besar. Membuatnya jengah sendiri. Dengan menahan napas ia mengintip dari celah pintu. Tampak dua pelayan berbaju kuning sedang turun dari tangga, dibelakangnya mengikuti Pek Wan jie, gadis idaman hatinya yang tak dapat dilupakannya!

Sudah lama ia tidak bertemu muka dengan kekasihnya itu, rasa rindunya menjadi-jadi setelah melihat orangnya, hampir-hampir ia melompat keluar jika tidak melihat Liap In Eng berada disitu.

Dengan wajahnya yang cantik dan agung Liap In Eng menggandeng Wan Jie turun selangkah-selangkah dari tangga. Sambil melangkah ia menghibur dengan suaranya yang halus: “Wan Jie jangan sesalkan aku, kutahu engkau berani berhianat semata-mata untuk menolongnya agar tak sampai dibawa kemarkas pusat, tapi engkaupun mengingat selama lima tahun aku menderita karena apa?”

“Bukankah benda yang Kouw-kouw (bibi) kehendaki sudah dapat?”

“Benar benda itu sudah kudapat dan telah kubunuh sijelek, dengan begini capai lelahku selama lima tahun tak sia-sia! Tapi bagaimanapun kita tak bisa membiarkan In Tiong Giok, karena dialah orang luar satu-satunya yang mengetahui rahasia dimarkas pusat! Juga dengan tindakannya mencetak buku Keng thian cit su mendatangkan kerugian tidak sedikit bagi kita.”

“Kouw-kouw! Ampunilah dia, kutahu betul ia tidak memusuhi Pok Thian Pang! Ia hanya seorang pelajar lemah, kaum Pok Thian Pang tak usah takut padanya!”

“Engkau salaj, Wan Jie. In Tiong Giok yang sekarang bukan seorang pelajar lemah, iapandai Hiat cie leng dan Keng thian cit su ditambah bakatnya yang luar biasa, dalam sekejap kepandaiannya maju terus dengan pesat…”

“Benda yang Kouw-kouw kehendaki sudah didapat, boleh dikatakan kerugian dari Keng thian cit su sudah tertutup, kenapa masih memusuhi terus pad In Tiong Giok?”

“Andaikata ia dibawa kepusat belum tentu akan dihukum mati bukan?”

“Sudah pasti dihukum mati! Karena begitu mendapat surat dari merpati pos yang Kouw-kouw kirim: Lo Cucong mengatakan “tangkap bawa kesini dan beset kulitnya,” setelah kudengar perkataan ini dengan tidak memperdulikan apa aku meninggalkan pusat datang kesini.”

“Lo Cucong hanya keras dimulut, apa yang dikatakan belum tentu dilaksanakan, pokoknya asal bisa menasehatinya masuk menjadi anggota…”

“Ia pasti tak mau!” potong Wan Jie.

“Hal ini terserah padamu, apakah dengan cinta kasihmu padanya bisa membuatnya menurut atau tidak semua ini urusanmu! Pokoknya setelah sampai saatnya, baru kita bicarakan lagi, jalanlah baik-baik!” sebahis berkata, iapun memberi tanda pada Mei lie dan Sui sian dua gadis mengambil lampu dan mengajak Wan Jie keluar.

Wan Jie masih memegangi terus baju Kouw-kouwnya sambil meratap: “Kouw-kouw tega amat sih? Dulu Hoo Hoa dan Teng Pouw kau tolong masakan aku tidak?”

“Anak dungu pulanglah dengan tenang, pasti akan kumintakan ampun pada Lo Cucong asal saja engkau mau mendengar kata-kataku!” kata Liap In Eng. “Sekarang engkau pergi dulu ke lian hoa tong dikaki gunung, begitu Tiong Giok pulang akan kuajak dia kesana bertemu muka denganmu. Dan sekarang kuantar kau keluar, mari lekas!”

Wan Jie meninggalkan rumah sambil menangis.

Tiong Giok turut menangis menyaksikan kejadian itu, disamping itu iapun sadar bahwa orang yang mengaku Liap In Eng selama ini adalah Soat Kouw adanya, yakni Hoe Pangcu dari Pok Thian Pang yang telah menghilang selama lebih kurang lima tahun.

Yang mengherankan, seorang yang memalsu diri orang lain, berani bergerak di dalam dunia Kang Ouw seperti orang yang sebenarnya tanpa diketahui. Kini kemana perginya Piau siang kiam Liap In Eng yang sejati? Sedangkan Tutan pandai dia menggunakan ilmu bunga jatuh terbang melayang, dan menurut Tong Cian Lie adalah kepandaian sejati dari Liap In Eng. Tutan itu anak buahnya yang sebenarnya! Tapi kenapa Soat Kouw bisa mengetahui sampai kepada anak buah orang yang ia palsukan?

In Tiong Giok tidak mau berpikir lama-lama dan tak mau pula menolong Wan Jie pada saat itu, yang dipentingkan adalah mencari rahasia kamar dibawah tanah yang disebutkan Tutan. Begitu pikirannya sudah mantap, segera mau bergerak. Akan tetapi niatnya batal karena mendengar langkah kaki, ia mengintai keluar terlihat berkelebat sesosok tubuh berbaju kuning. Tiong Giok mengenali ini Jung jung yang disuruh mencari Sun Toa nio dan Tutan.

Gadis itu memegang tongkat Sun Toa nio tampak geraknya amat kesusu, ia melihat lentera ditangga sudah ada, segera berseru keras.

“Giok lan! Giok lan!” Dari loteng terdengar langkah kaki turun, dan seorang pelayan berbaju hijau menyahutperlahan. “Jung jung kemana saja engkau? Siocia berulangkali menanyakan…”

“Apakah Siocia sudah pergi?”

“Ia hanya mengantar Pek Kounio keluar…apakah engkau menemukan Sun Toa nio dan Tutan?”

“Tampaknya kejadian sangat hebat, kutemui tongkat Sun Toa nio disana bercampur dengan darah segar, sedangkan orangnya tak ada!”

“Sun Toa nio berkepandaian tinggi, apakah mungkin dicelakai orang?”

“Amat sulit dikatakan! Apakah Tutan dan In Kongcu sudah pulang?”

“Belum!” jawabnya.

“Ah benar-benar aneh!” kata Jung jung sambil menarik napas. “adakah Siocia memesan sesuatu hal untukku?”

“Ia hanya memesan setelah menangkap In Kongcu, boleh segera turun tangan, akan tetapi sekarang…”

“Adakah dia memesan untuk memindahkan kamar yang dibawah itu?”

“Seingat saya tidak!”

“Apakah sudah lama Siocia keluar?”

“Baru saja…” Belum pula perkataan itu habis, Jung jung mengayunkan tongkat ditangannya kepada Giok lan sekuat tenaganya. Tanpa bersuara lagi Giok lan roboh tanpa berkutik. Kejadian yang mendadak ini membuat In Tiong Giok melongo dan tak habis mengerti….

Jung jung setelah membunuh Giok lan segera mengambil serenceng kunci dari tubuhnya, dan menyeret mayat itu kebagian yang agak gelap.

“Jika tidak mengingat keselamatan Siocia, aku tidak bisa bersabar sampai hari ini! Hm Pok Thian Pang yang hina, ketahuilah bahwa anak buah Piau siang kiam bukan manusia yang mudah dihina.” Sehabis berkata sendirian, tubuhnya berputar dan mendorong pintu dimana Tiong Giok berada.

Hampir-hampir Tiong Giok terdorong mental, dengan gesitnya ia menggunakan kiu coan bie cong pou, sehingga tubuhnya itu dapat bergerak cepat dan tetap terhalang daun pintu. Jung jung tak memperhatikan dibelakang tubuhnya ada orang, begitu masuk ia menekan kaca bergeser terlihat sebuah pintu. Jung jung masuk kedalam, kaca itu tutup lagi sediakala.

In Tiong Giok menjadi girang dapat menemukan rahasia itu, cepat ia menekan kaca itu dan masuk kedalam. Ia melihat undakan tangga yang cukup banyak, menuju kebawah diujung sekali terdapat sinar api. Ia emngikuti tangga turun kebawah, dan tiba disebuah ruangan kamar persegi cukup lebar. Jeruji besi disitu sudah dibuka Jung jung, memudahkan Tiong Giok masuk kedalam. Ia melihat Jung jung sedang bertekuk lutut sambil menangis dihadapan seorang perempuan tua kurus berbaju hitam, yang kedua kaki tangannya terbelenggu rantai.

Kehadiran Tiong Giok disitu tidak diketahui Jung jung yang sedang bersedih hati sedangkan Liap In Eng diam diam saja, menandakan tak tahu juga.

Sambil membuka rantai yang membelenggu Liap In Eng tidak henti-hentinya Jung jung menangis. “Siocia waktu sangat mendesak, aku datang kemari bertaruh jiwa, kenapa Siocia tidak mau pergi?”

“Ah kenapa bodoh betul, tidakkah mengerti kata-kataku? Mataku telah buta, tidak ada artinya untuk hidup terus bukan? Aku hanya menyesal pelajaranku belum semuanya diturunkan pada kalian, sungguhpun begitu aku harapkan kalian selekasnya menyingkir dari sini dan carilah tempat yang baik untuk melatih diri, guna menuntut balas dikemudian hari! Dengan begitu, berarti kalian telah membalas budi padaku!”

“Jika Siocia tak mau pergi, sampai matipun aku tidak akan mau pergi!”

“Lagi-lagi engkau berkata bodoh, sudah tahu waktu sangat sempit! Dengan mengajakku keluar berarti kematian! Nanti siapa yang akan menuntut balas padanya?”

“Selama setengah tahun kami bersabar, karena Siocia berada ditangan mereka, kini dengan adanya Siocia ditangan kami, tidak perlu aku takuti lagi mereka. Yakinlah kita snggup melindungi Siocia dari bahaya apapun!”

“Jangan memandang enteng perempuan hina itu, kepandaian maupun kecerdikannya tidak berada dibawahku, pendeknya jika kau masih menganggapku Siociamu, lekaslah berlalu dari sini!”

Jung jung tidak mau menurut, dengan kekerasan ia membawa pergi Siocianya. Hal ini mendatangkan kemarahan Liap In Eng: “Hei budak apakah engkau tidak dengar kataku dan mau melanggar peraturan perguruan?”

“Siocia boleh marah dan mencaciku, tapi ketetapan untuk menolongmu keluar tak bisa diganggu gugat lagi, sudah mantap!” kata Jung jung sambil berlutut.

“Ai, engkau bukan mau menolongku, melainkan ingin menjerumuskan diriku kejurang derita! Tegakah engkau melihat aku dalam keadaan begini dihina perempuan bangsat itu? Apa artinya lagi hidupku dalam keadaan begini…?”

“Siocia bettahun-tahun engkau menantikan kedatangannya bukan? Kini ia sudah datang tidakkah engkau mau menemuinya barang sekali?”

“Aku mencelakakan diriku juga menceelakakan dirinya, lebih-lebih kedua mataku…” Suaranya begitu parau dan menyedihkan dari kedua matanya yang buta mengalir air mata.

“Jung jung kini ia datang, tidakkah dicelakakan perempuan hina itu?”

“Sore tadi aku diutus keluar, sebelum itu tidak terjadi apa-apa, entah keadaan sekarang. Menurut perkiraanku perempuan hina itu sedang menantikan In Tiong Giok kembali, baru menghadapi Pek Lo Cianpwee…”

“Kalau begitu lekas kutemuinya, serta minta padanya membawa kalian meninggalkan tempat yang berbahaya ini!”

“Tanpa adanya Siocia mana mungkin ia percaya?”

“Apakah ia tidak mencurigakan kepalsuan perempuan hina itu?”

“Antara Siocia dengannya sudah tiga puluh tahun tidak bertemu muka, mana mungkin ia bisa membedakan yang tulen dengan yang palsu, kecuali Siocia menemuinya sendiri!”

“Andaikata aku memberikan sesuatu barang padamu dan memperlihatkan padanya pasti ia akan mempercayai omonganmu!”

“Ya dengan begitu mungkin ia percaya!”

“Dibawah jerami-jerami tempat kutidur terdapat kantong kecil, ambillah!”

Jung jung membalik badan dan pergi mencari barang yang ditunjuk dibawah tumpukan jerami-jerami kering. Saat inilah dari tempat duduknya Liap In Eng mengeluarkan sebilah belati dan terus menikamkan kedalam ulu hatinya……., Gerakannya sangat cepat, Jung jung mendengar gerakan ini dan menoleh, ia menjadi kaget dan menubruk Siocianya. Tapi usahanya itu bagaimanapun tidak berhasil, karena gerakan Liap In Eng terlebih cepat dari gerakan Jung jung. Dalam keadaaan berbahaya inilah In Tiong Giok turun tangan. “Sreet” Hiat cie leng yang ampuh membuat belati ditangan Liap In Eng patah dibagian dekat gagangnya. Liap In Eng menjadi kaget, gagang belati yang dipegang segera jatuh ketanah. “Hiat cie leng!” Han Sian Ko kah yang datang?” serunya kaget.

In Tiong Giok maju kedepan sambil bertekuk lutut, “Aku In Tiong Giok.”

“In Tiong Giok?” kata Liap In Eng, nama ini sangat asing baginya.

“Siocia In Kongcu ini adalah murid Han Lo Cianpwee.”

“Oh, seru Liap In Eng dengan paras terkejut.

“In Kongcu terima kasih atas pertolonganmu, inilah Siocia kami yang sebenarnya!”

“Aku sudah mendengari percakapan kalian dan mengerti duduk persoalannya, kini waktu sangat mendesak, dan maaf atas kekurangajaranku!” Sehabis berkata ia bangun dengan cepat dan lantas menotok pada Liap In Eng.

“In Kongcu apa yang hendak engkau perbuat?” tanya Jung jung.

“Tak lama lagi perempuan itu akan kembali, waktu sangat sempit sekali untuk kita bergerak. Jika tidak begini Siociamu mana mau keluar dari sini?”

Jung jung menganggukkan kepala, “Bagaimana dengan Tutan?”

Tiong Giok menuturkan kematian Tutan dengan ringkas, dan pertemuannya dengan Tong Cian Lie sekalian dengan matinya Sun Toa nio. “Jika aku dan Tong Cian Lie dapat melawan si perempuan jahanam itu teramat baik, tapi bilamana gagal kuharapkan kalian tetap pura-pura menurut kepadanya seperti sediakala. Disamping itu diam-diam menyepakatkan kawan-kawanmu, nantikan kesempatan baik membalas dendam. Sedangkan Liap Lo Cianpwee ini tak perlu kalian pikirkan, aku bisa menyelamatkannya!”

Jung jung menjadi sedih dan terisak-isak mendengar kematian Tutan. “Kongcu akan membawa Siocia ini kemana?” tanyanya dengan parau.

“Ke kiu yang shia atau Pek liong san, pokoknya bisa kuatur dengan baik, dan ingat pesanku barusan!”

“Kalau begitu kami akan menurut kata-kata Kongcu untuk bersiasat, dan menantikan kesempatan untuk bergerak.” Kata Jung jung. “Keselamaatan Siocia, kami serahkan kepada Kongcu, atas ini sebelum dan sesudahnya kami menghaturkan banyak terima kasih.”

“Legakan hatimu, dengan jiwa ragaku, kupertanggung jawabkan beban ini.”

Jung jung memberi hormat kepada Liap In Eng sambil mengucurkan air mata, lalu membalik tubuh…

Tiba-tiba Tiong Giok ingat sesuatu dan menanya, “Barusan kudengar engkau menyebut nama seorang lo Cianpwee, apakah tamu itu yang kau maksud?”

“Benar!” jawab Jung jung. “Ia adalah kawan peribadi Siociaku dari banyak tahun, sejak muda mereka merupakan pasangan yang gagah, satu sama lain saling mencintai, tapi entah karena apa pada suatu ketika satu sama lain berpisah dan tidak bertemu. Karena merindukan kekasih itu, Siocia sering menangis, sehingga matanya menjadi buta! Saat itulah perempuan bangsat yang jahat itu datang kesini pura-pura menjadi pelayan, dan secara menggelap memberikan Siocia semacam obat, sehingga ilmu kepandaiannya menjadi musnah. Dan setelah itu dengan cerdiknya ia menjadikan Siocia sebagai sandera, membuat kami tak berdaya. Dan menyamar sebagai Siocia berkeliling keempat penjuru, mencari Pek Lo Cianpwee.”

“Untuk apa ia mencari Pel Lo Cianpwee?”

“Untuk memiliki semacam kitab pelajaran silat yang bernama Thian liong pu buku ini merupakan buku pusaka sejenis dengan Keng thian cit su…”

“Siapa nama jelas dari Pek Lo Cianpwee?” potong Tiong Giok.

“Pek King Hong!”

“Ha? Tanpa terasa Tiong Giok berseru kaget. “Ah celaka!” Dan jelaslah baginya bahwa kekasih Pek King Hong adlah Liap In Eng adanya. Tiga puluh tahun yang lalu mereka berkasih-kasihan dan menanamkan bibit cinta, akhirnya bibit itu bersemi dan berbuah getir: Tiong Giok memandang dengan sedih pada Liap In Eng, ia tidak habis piker seorang pendekar wanita yang gagah dan cantik pada hari tuanya menjadi begini macam. Tak terasa lagi air matanya memenuhi kelopak matanya.

“In Kongcu engkau kenapa?” tanya Jung jung.

In Tiong Giok menggelengkan kepala dan menyeka air matanya. “Semuanya telah menjadi telat, Pek Lo Cianpwee sudah dicelakakan bangsat itu dan buku Thian liong pu sudah dirampasnya.”

“Dari mana engkau tahu?” tanya Jung jung.

“Aku sudah mendengari percakapan mereka sejak tadi dibawah tangga. Dan mengetahui bahwa Pek Lo Cianpwee sudah dicelakakan!”

“Ah dasar nasib Siociaku yang malang,” kata jung jung dengan bersedu sedan.

Tangisan Jung jung ini membuat Tiong Giok sadar, dan cepat-cepat membopong Liap In Eng dan mengajak Jung jung keluar.

“In Kongcu jika mungkin, pertemukanlah Siociaku dengan Pek Lo Cianpwee….sungguhpun ia tidak bisa melihat, tapi rasa rindunya dari banyak tahun akan terhibur juga di saat-saat akhir hidupnya…”

“Kutahu! Legakan hatimu pasti kuusahakan sedapat mungkin agar mereka bisa berkumpul!” kata In Tiong Giok, “seka air matamu jangan sampai dilihat perempuan jahanam itu! Dan loloskan pedangmu untukku, aku tak bersenjata sama sekali.”

Jung jung menurut dan keluar dari kamar dibawah tanah. Setelah sesaat berlalu Tiong Giok baru keluar dengan menghunus senjata.

Saat keluar terdengar suara ribut-ribut karena pelayan menemukan mayat Giok lan. “Siapa yang membunuhnya?”

“Tentu saja penjahat!”

“Lekas cari!”

“Laporkan pada Siocia!”

Jung jung yang jalan lebih dulu menantikan Tiong Giok dan memberi isyarat dengan matanya, lalu mengacak-acak rambutnya dan menyobek-nyobek bajunya. Didahului jeritannya ia menerjang pintu sambil terhuyung-huyung. Diruangan itu ada tiga pelayan berbaju hijau, melihat keadaan Jung jung menjadi kaget dan berseru dengan berbareng. “Ah, Jung jung, ada apa? Ada apa?”

Dengan suara terputus-putus Jung jung menunjuk kekamar mandi: “Ada….. penjahat…..dikamar bawah….lekas tangkap!”

Tiga gadis berbaju hijau serentak menghunus senjatanya, dan bertepatan dengan ini, Tiong Giok muncul sambil membentak: “Yang merintangi binasa! Lihatlah Giok lan sebagai buktinya!” Sambil membentak pedangnyapun turut bekerja.

“In Kongcu, Siocia memperlakukan sangat baik, kenapa engkau membalas dengan kejahatyan!” kata tiga gadis berbaju hijau itu, sambil menghadang.

“Siociamu yang asli adalah yang kubopong ini, kenalilah dengan seksama…”

Tiga gadis berbaju hijau itu tidak memperdulikan perkataan Tiong Giok, mengayunkan pedangnya dari tiga penjuru menyerang pemuda kita dengan bengisnya.

“Jung jung lekaslah beri laporan pada Siocia, sementara kami melawan dia!”

Tiong Giok merasa heran kenapa tiga gadis berbaju hijau ini tak mengenali Siocia mereka yang asli! Dan iapun melakukan serangan dengan setengah-setengah, karena kuatir melukai mereka, tak heran ia berlaku demikian karena ia tidak mengetahui bahwa gadis-gadis berbaju hijau adalah anak buah yang sejati dari Soat Kouw, sedangkan anak buah yang berbaju kuning, merah dan biru milik Liap In Eng.

Jung jung yang melihat keadaan ini dapat membaca pikiran Tiong Giok, cepat-cepat ia memberi isyarat matanya sambil berseru dengan sengaja: “Hei, kalian kenapa mempergunakan ilmu pedang dari Pok Thian Pang dan tidak menggunakan ilmu pedang piau siang kiam yang bernama Su siong tin (barisan empat gajah)? Lekas gabungkan kekuatan kalian, baru bisa melawannya!”

“Ilmu itu belum paham betul kami gunakan,” jawab salah seorang gadis berbaju hijau, “sebaiknya lekaslah beeri laporan pada Siocia!”

“Ah dasar, sudah setahun engkau meninggalkan Pok Thian Pang dan mempelajari ilmu itu, kenapa belum paham-paham juga? Baiklah kulaporkan pada Siocia, dan hati-hatilah menghadapinya!”

Perkataannya ini secara tidak langsung memberi tahu pada Tiong Giok bahwa gadis-gadis berbaju hijau itu bukan anak buah Liap In Eng dan tak perlu kasian-kasian menghadapinya. In Tiong Giok setelah memberi persoalan itu, segera melancarkan gerakan Keng thian cit su.

Sinar pedangnya itu lalu berubah dengan cepat, bergerak membawa maut, mendesak dan membuat tiga musuhnya jungkir balik bermandi darah!

“Lekas engkau keluar dari pintu belakang,” kata Jung jung yang terus lari dengan terhuyung-huyung kearah depan. Tiong Giok keluar dari ruangan itu dan mencelat keatas tembok, dari sini ia melihat Tong Cian Lie sedang mengawasi ke dalam dengan mata berapi-api. “Bocah kenapa lama amat? Membuatku cemas tak keruan!”

Tiong Giok melokmpat turun.

“Ah bukankah ini Liap Kounio? Kenapa bisa begini?” tanya Tong Cian Lie.

“Yang menyamar sebagai Liap Lo Cianpwee adalah Hu pangcu dari Pok Thian Pang.” Kata In Tiong Giok. “Harap Lo Cianpwee membekuknya , aku mau membawa dulu Liap Lo Cianpwee ketempat aman!”

“Kurang ajar, lekaslah kau menyingkir, akan kuhajar perempuan jahanam itu.”

Tiba-tiba saja mereka menjadi kaget karena melihat api membubung tinggi dari depan rumah. Dengan gerakan cepat Tong Cian Lie melesat pergi, Tiong Giok pun mengurungkan niatnya meninggalkan rumah itu, mengikuti jejak Tong Cian Lie dari belakang.

Rumah yang megah dalam kesunyian itu, dalam sekejap telah menjadi lautan api, dihalaman hanya terlihat bujang-bujang tua yang sedang tergesa-gesa membawa barang, tidak terlihat Soat Kouw dan pelayan-pelayannya.

“Kemana larinya bangsat perempuan itu?” tegur Tong Cian Lie pada seorang babu tua.

“Kabur…ia sudah kabur!”

“Mungkin bangsat itu mendengar kedatangan Lo Cianpwee dan ketakutan sendiri, lalu membakar rumah ini sebelum kabur!”

“Bagaimanapun tak bisa lari jauh! Matikanlah api ini aku akan mengejarnya.”

“Lo Cianpwee harus waspada bahwa pengiringnya bangsat itu adalah pelayan-pelayan yang setia pada Liap Lo Cianpwee mereka hanya berpura-pura tunduk pada bangsat itu, karena sedang menjalankan siasat!”

Tong Cian Lie mengangguk dan terus mencelat pergi dengan kencangnya.

Perempuan-perempuan yang ada disitu lebih kurang tujuh delapan orang, sudah tua-tua dan tidak berilmu silat, sehingga tidak bisa mengangkat air untuk memadamkan api, sedangkan tenaga Tiong Giok tidak memadai untuk memadamkan api itu. Ia hanya berlari kesebelah tengah setelah meletakkan Liap In Eng ditempat aman, lalu merobohkan tembok disitu dan memerintahkan perempuan-perempuan tua mengambil air, dengan begini api tidak bisa menjalar.

“Apakah kalian melihat tamu she Pek itu?”

“Ia sudah dibunuh dan mayatnya masih berada diruang itu.” Jawab babu itu sambil menunjuk kesebuah ruangan yang hampir dijilat api.

Dengan cepat Tiong Giok mengguyur tubuhnya denga air, lalu menerjang keruangan yang ditunjuk. Hawa api sangat panas, ditambah kepulan assap sangat tebal, membuatnya tidak bisa melek. Untung ruangan itu adalah bekas kamarnya selama sepuluh hari dan keadaannya dikenal betul. Dengan meraba-raba seperti seorang buta ia masuk terus. Entah tergesa-gesa entah gugup, sekian lama ia berputar-putar tidak juga diketemukan tubuh Pek King Hong. Lidah api berulang kali menjilat tangannya membuatnya kesakitan, nafasnya menjadi sesak karena asap itu. Ia agak pening juga, tapi tidak putus asa dicoba membuka mata, tapi dengan cepat menutup lagi karena perih! Akihirnya ia merangkak, dan diluar tahunya ia masuk kekolong ranjang. Disinilah ia menyentuh sesosok tubuh, dengan girang diangkatnya tubuh itu. “Beleduk ” terdengar suara nyaring, karena kepalanya membentur papan ranjang, dan terpaksa membuatnya merangkak lagi sambil menyeret tubuh itu. Setelah meraba-raba diatas kepalanya tak ada penghalang lagi, ia baru merangkul tubuh itu dan dibawa keluar dengan susah payah melalui jendela. Waktu ia sampai ditempat aman, bajunya telah menjadi kering dan hitam-hitam. Tubuh itu diletakkan perlahan-lahan dan diawasi. Benar saja itulah Pek King Hong adanya. Wajahnya yangburuk tetap tak berubah seperti pertama kali dijumpainya, bedanya sekarang tidak bisa berkata-kata lagi seperti dulu. Kedua matanya Pek King Hong tertutup rapat, nafasnya tak ada lagi, menyatakan sudah berpisah dengan dunia yang fana ini.

Tiong Giok sangat berduka, tubuh itu dibawanya keloteng belakang yang tidak kebakar. Keadaan disini sangat sunyi dan sepi, berapa batang lilin masih menyala. Udara dikamar terasa harum semerbak! Tubuh itu diletakkan dipembaringan, lalu ia turun lagi kebawah dan membawa tubuh Liap In Eng kedalam kamar. Dan meletakkan disebelah Pek King Hong, hingga mereka berandengan dalam satu tempat tidur. Melihat ini mendatangkan rasa duka bagi sipemuda, ia bertekuk lutut didepan kedua jago Bulim itu sambil mengeluarkan air mata dan berkemak kemik sendiri: “Jie wie Lo Cianpwee cita-citanya ingin berdampingan kini dapat terlaksana! Dan maafkan bahwa aku tak membuka jalan darah Liap Lo Cianpwee karena untuk kebaikan baginya dikemudian hari! Kudoakan Liap Lo Cianpwee bisa menahan penderitaan dan percobaan duniawi yang ganas ini dengan tabah! Semua manusia harus meninggal dunia, dari sebab mati terjadi perpisahan! Perpisahan adalah duka! Tersebab duka inilah manusia lahir di dunia dan meninggalkan dunia ini! Kini kudoakan impian dan harapan mengikuti kehidupanmu, dan atas kedustaan dariku ini kumohon maaf dan kulakukan hanya untuk sekali saja. ” Sehabis ia berkata, tubuhnya bangkit dan keluar dari pintu kamar sambil memandang langit yang gelap.

Disini ia termanggu dan menduga bahwa tempat dimana kini ia berdiri, mungkin dulunya adalah tempat dimana Liap In Eng berdiri sambil menggadangi rembulan sambil terpekur memikiri kekasihnya! Entah berapa malam dan berapa siang ia kesunyian seorang diri, hanya rembulan dan awan yang mengetahui. Sedang kekasih yang dicintai tidak terdengar kabar beritanya!

Kini kekasih sudah berada disampingnya, tapi semuanya telah menjadi lambat: Bukan sebab Pek King Hong yang salah, ataupun Liap In Eng yang malang, semua itu adalah suratan takdir!

Malam semakin larut. Embun membasahi baju. Kesiuran angin malam menyapu mukanya, pipinya terasa dingin, ia baru berasa bahwa dirinya telah bercucuran air mata.

Tong Cian Lie belum kembali, mungkinkah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya? Pek Wan Jie melarikan diri dari Pok Thian Pang karena ia, dan apa akibatnya kalau sampai dibawa kembali kesana? Kalau sampai disiksa atau dibunuh Lo Cucong , bukankah semua ini, aku In Tiong Giok yang menyebabkan? Bukan saja Pek Wan Jie, seorang Pek King Hong pun mengalami penganiayaan karena aku juga! Semua ini adalah penyesalan untuk seumur hidupku….

In Tiong Giok menyesali dirinya sendiri dan berdiri dipelataran terbuka didepan kamar Liap In Eng. Saat itulah dengan tiba-tiba ia mendengar suara rintihan… Dalam suasana sunyi, biarpun rintihan itu perlahan, terdengarnya nyata sekali. Ia menjadi kaget dan celingukkan keempat penjuru, tapi tidak terlihat sesuatu apa yang mencurigakan. Dibukanya pintu kamar, matnaya melihat kepembaringan tak terasa lagi hatinya berdebar sendiri! Tubuh Pek King Hong yang diletakkan terlentang kini telah menjadi miring….mungkinkah? Ia menjadi girang dan cepat-cepat masuk kedalam, dirabanya tubuh Pek King Hong. Tetap seperti sedia kala, tidak bernapas, kaku!

Waktu Tiong Giok mengangkat lengannya dari perut Pek King Hong terdengar suara “sess” yang lunak, dan tubuh yang miring itu entah bagaimana bergerak dan tengkurap! Kedua mata In Tiong Giok terbelak lebar dan menatap terus tanpa berkedip-kedip menyaksikan keajaiban ini! Ia melihat dengan tegas waktu tubuh Pek King Hong bergerak, dibagian perutnya berkutik-kutik sesuatu benda seperti ular!

Dengan bernafsu, dibukanya baju Pek King Hong, dan barulah ia dapat tahu yang berkutik-kutik itu adalah hawa! Ditubuh seorang yang sudah mati terdapat sisa hawa yang bergerak, benar-benar menakjubkan!

In Tiong Giok terkejut tapi tidak mau membuang kesempatan untuk mencoba-coba. Segera lengannya bergerak dan menepuk kelima jalan darah besar Pek King Hong, mendesak agar sisa hawa tadi bisa tersalur keparu-paru dan terus kekerongkongan.

Tak alang kepalang girangnya Tiong Giok karena usahanya berhasil baik, dan terus menyalurkan tenaganya dengan baik. Lebih kurang sepemakan nasi lamanya sekujur badan In Tiong Giok bermandikan keringat. Tapi capai lelahnya ini tidak sia-sia, sebab dengan mendadakan Pek King Hong membuka matanya. Tapi dalam sekejap saja mata itu rapat kembali. Parasnya tampak lemah dan menyedihkan.

Keletihan Tiong Giok seolah-olah terhapus kegirangan, ia menyalurkan terus tenaganya tanpa berhenti, dan sekali lagi Pek King Hong membuka mata dan berkedip-kedip sambil mengucurkan dua tetes air mata.

“Lo Cianpwee pusatkan perhatianmu dan kubantu mengatur hawa untuk menjalankan darah sebentar lagi pasti berhasil..”

“Tak usah bercapai lelah…nak…tak …ada…gunanya,” jawab Pek King Hong dengan lemah dan hampir-hampir tidak terdengar.

“Pasti berguna…mati-matian kusalurkan tenaga ini menolong Cianpwee!” Sehabis berkata ia menyalurkan sekuat tenaga, hawa sejati bergolak semakin cepat dan lebih kuat dari tadi.

Dengan wajah pucat pasi Pek King Hong menggelengkan kepala dan berkata “Engkau berusaha mati-matian, tapi tidak akan membawa hasil! Jalan satu-satunya pergunakanlah Hiat cie leng dan totokkan pada yang terletak disebelah kiri dada. Dengan begini aku mempunyai kesempatan untuk mengutarakan perasaan hatiku…”

In Tiong Giok sudah kepayahan, tapi dengan tak ayal, ia memeramkan mata sejenak, lalu melancarkan Hiat cie lengnya. Angin dari jari itu tepat mengenai sasarannya. Pek King Hong berdehem sekali, kedua matanya sedikit rapat.

Hiat cie leng adalah ilmu maut yang ampuh, sedangkan Cio tay hiat adalah jalan darah kematian tapi begitu kena diserang bukan saja Pek King Hong tidak menderita luka, bahkan wajahnya yang pucat pasi perlahan-lahan menjadi semu merah. Waktu matanya melek, pancaran matanya pulih kembali seperti dulu. Sebaliknya Tiong Giok sendiri telah melancarkan Hiat cie leng menjadi termangu-mangu, keringatnya mengucur deras, semangat dan tenaganya seperti habis dan menjadi loyo sendiri.

“Kutahu engkau mengeluarkan tenaga terlalu banyak!” kata Pek King Hong.

“Aku menyuruhmu memakai Hiat cie leng, untuk menjalankan inti darah diurat terakhir, Engkau berhasil menjalankan darah itu, dan memberi kesempatan untukku mengutarkan sesuatu kandungan hati. Jika engkau terlalu letih meramkanlah matamu, sambil mengaso smabil mendengari kata-kataku.”

In Tiong Giok merasa lemas, cepat-cepat ia memejamkan matanya untuk memulihkan kembali pernafasannya.

“Kisah cintaku sungguhpun malang dan menyedihkan, tapi hari ini aku bisa berkumpul lagi dengan kekasihku. Tapi mau dikata apa, pertemuan itu hanya sejenak dan setelah itu adalah…. Tapi apa yang terjadi ini, sedikitpun tidak perlu kusessalkan, semua maunya takdir. Setelah kumati, engkau adalah Ciang bun jin Thian liong bun, hal ini tak bisa kau tolak lagi.”

Pelajaran dari Thian liong bun sangat luar biasa dan dlam serta luas. Maka itu pereempuan jahanam itu berdaya upaya untuk merampas Thian liong bun. Dalam buku ini tertulis ilmu pelajaran telapak tangan, tinju, meringankan tubuh, pedang, jari, lwekang (ilmu dalam). Mungkin engkau tidak mengetahui bahwa Keng thian cit su adalah ilmu pedang yang tertera pada Thian liong pu…”

“Apa? Keng thian cit su sebagai ilmu pedang perguruan Thian liong bun?” tanya Tiong Giok sambil membuka matanya.

“Sedikitpun tidak salah!” jawab Pek King Hong. “Pernah kuterangkan padamu, bahwa Thian liong bun memberikan pelajaran silat tanpa mendirikan perkumpulan, hanya jago-jago Bulim memiliki kepandaian tinggi yang berasal dari Thian liong bun antaranya Sin kiam siang eng. Untuk lebih jelas beberapa dari Bulim Cap sakie yang berilmu tinggi seperti gurumu yang memiliki Hiat cie leng, Liap In Eng, Thay Kong Thaysu, Thay Cin Tojin semuanya tak terlepas dari ilmu yang terdapat di Thian liong pu. Maka itu jika dinilai, Thian liong pu lebih berharga entah beberapa kali lipat dari Keng thian cit su! Karena itulah kaum Pok Thian Pang berdaya upaya mengatur segala siasat mencelakakan diriku untuk memperoleh buku itu.”

“Kalau begini nyatanya sudah terang buku itu kena dirampas perempuan jahanam itu?” tanya In Tiong Giok.

“Ya kemarin malam ia menaruhkan obat penghancur hawa sejati didalam makanan yang diberikan kepadaku, lalu dengan tiba-tiba ia menurunkan tangan jahat, menghancurkan tenaga pelindung diri, untung aku sudah keburu menurunkan nafas kebagian anggota bawah, dan mempunyai sisa hawa yang membuat bertahan sampai engkau memberikan pertolongan,” suaranya terputus dan menjadi kecil,”sedangkan wajahnya menjadi pucat sekali.

“Lo Cianpwee engkau bagaimana?”

“Bisakah engkau mengumpulkan tenaga lagi membrikan lagi Hiat cie leng?”

In Tiong Giok mengangguk dan mengumpulkan kekuatannya yang terakhir memberikan totokan pada Cio tay hiat Pek King Hong. Totokan ini membuat Pek King Hong mengeluarkan nafas panjang, wajah pucatnya berubah merah kembali. Setelah mengaso sejenak, semangatnya menyala kembali dan terus berkata: “Wah menyusahkanmu saja.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: