Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:42 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 03: Menegakkan Keadilan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Lorong itu gelap dan lembab, seakan tidak pernah tersentuh oleh sinar matahari. Di ujung lorong itu ada sebuah pintu yang sangat besar, gelang-gelangnya tampak mengkilap. Mereka mendorong pintu itu dan melihat Tay-kim-peng-ong.

Tay-kim-peng-ong bukan orang yang bertubuh tinggi dan berwibawa.

Dia tampak telah layu dimakan waktu, seperti seekor ayam jantan yang mulai menua diterpa angin dingin yang membawa penyakit.

Ia duduk di sebuah kursi bersandaran, selimut yang ditumpuk di kursi itu menutupi dirinya sehingga dia tampak seperti sebatang pohon cemara besar yang begitu tingginya di lereng pegunungan yang berawan.

Tapi Liok Siau-hong tidak kecewa dengan penampilannya, karena di matanya masih berkilauan aura agung yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Anjing pemburu yang bertelinga panjang dan berkaki panjang itu telah pulang dan beristirahat di dekat kakinya.

Tan-hong Kiongcu perlahan-lahan berjalan ke sisinya dan berlutut di sampingnya, seolah-olah dia sedang bercerita tentang perjalanannya.

Sepasang mata Tay-kim-peng-ong yang bersinar agung selama itu tidak pernah melepaskan Liok Siau-hong. Tiba-tiba ia berkata: “Ke marilah, anak muda.”

Suaranya rendah tapi penuh dengan kekuatan, seakan apa saja yang keluar dari mulutnya harus dipatuhi. Tapi Liok Siau-hong tidak menghampirinya.

Liok Siau-hong bukan orang yang biasa menerima perintah, maka ia hanya duduk sejauh mungkin di sebuah kursi di seberang laki-laki tua itu.

Ruangan itu gelap, tapi mata Tay-kim-peng-ong seperti menyala terang ketika dia berkata: “Apakah engkau Liok Siau-hong?”

Dengan santai Liok Siau-hong menjawab: “Ya, Liok Siau-hong, bukan Siangkoan Tan-hong.”

Ia menduga nama keluarga sang puteri juga Siangkoan, di zaman dulu semua orang di istana kekaisaran bermarga Siangkoan, setiap orang di istana kekaisaran membanggakan nama keluarga mereka itu.

Tay-kim-peng-ong tiba-tiba tertawa: “Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong, sepertinya kita sudah menemukan orang yang tepat!”

Ia pun melanjutkan: “Kau mencari Hoa Ban-lau?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Ia baik-baik saja, kau bisa segera melihatnya asal kau berjanji untuk melakukan sesuatu buatku.”

“Apa itu?”

Tay-kim-peng-ong tidak menjawab.

Dia malah menatap sebuah cincin berbentuk aneh di tangannya dan wajahnya yang layu tiba-tiba bersinar ganjil. Beberapa saat kemudian dia akhirnya mulai bicara lagi dengan perlahan-lahan: “Dinasti kami adalah dinasti yang amat tua dan kuno. Jauh lebih tua daripada dinasti kalian sekarang ini.”

Suaranya semakin penuh dengan kekuatan, jelas dia sangat membanggakan namanya dan keluarganya.

Liok Siau-hong tidak ingin merusak perasaan bangga orang tua itu, maka ia tidak mengucapkan apa-apa.

Tay-kim-peng-ong melanjutkan: “Walaupun negara kami telah hancur, darah yang mengalir di tubuh kami tetaplah darah bangsawan. Selama kami masih hidup, dinasti kami akan tetap ada!”

Suaranya bukan hanya penuh dengan perasaan bangga, tapi juga penuh dengan keyakinan.

Liok Siau-hong tiba-tiba merasa bahwa orang tua ini benar-benar memiliki kepribadian yang sangat mengagumkan.

Paling tidak dia bukanlah orang yang mudah menyerah. Liok Siau-hong selalu mengagumi orang seperti ini, dia mengagumi keberanian dan kepercayaan diri mereka.

Tay-kim-peng-ong lalu melanjutkan: “Walaupun negara kami terletak di daerah terpencil, tapi kami kaya raya. Bukan hanya hasil panen kami selalu baik, juga ada emas dan batu-batu berharga terkubur di pegunungan kami.”

Akhirnya Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya: “Lalu mengapa kalian pindah ke Tionggoan sini?”

Wajah Tay-kim-peng-ong kehilangan sebagian sinarnya dan terlihat perasaan sakit dan benci di matanya ketika dia berkata: “Tepatnya karena kami kaya raya! Tetangga-tetangga kami mengidamkan tanah kami dan mereka bersekutu dengan penjarah-penjarah Kazak dan menyerang negara kami!”

{Catatan: Kazak adalah bangsa Kazakhstan sekarang.}

“Itu kejadian lebih dari 50 tahun yang lalu. Aku masih kecil, ayahku memusatkan perhatiannya pada masalah hukum dan undang-undang selama masa pemerintahannya, maka dia tak mampu melawan orang-orang barbar itu. Tapi dia masih terus berjuang sampai mati, hidup dan mati bersama negaranya!”

Liok Siau-hong menyimpulkan: “Beliaulah yang memerintahkan Tuan pergi ke sini.”

Tay-kim-peng-ong mengangguk: “Untuk menyimpan kekuatan agar kami tetap punya kekuatan untuk bangkit kembali suatu saat nanti, bukan hanya ia mengijinkan kami pergi, dia juga membagi kas negara menjadi 4 bagian, masing-masing diberikan kepada penasehat-penasehatnya yang paling dipercaya, dan memerintahkan mereka untuk ikut ke Tionggoan sini bersamaku.”

Wajahnya penuh dengan perasaan berterima-kasih ketika ia meneruskan: “Salah seorang dari mereka adalah pamanku Siangkoan Kin, dialah yang membawaku ke sini, dengan menggunakan harta yang diberikan kepadanya ia membeli tanah dan rumah ini, sehingga keluargaku bisa tinggal di sini tanpa merasa khawatir. Aku tak akan pernah melupakan apa yang telah ia lakukan untuk kami.”

Liok Siau-hong bertanya: “Bagaimana dengan yang 3 orang lagi?”

Perasaan terima kasih di wajahnya pun berubah menjadi murka: “Aku tak pernah melihat lagi seorang pun dari mereka sejak aku meninggalkan ayahku. Tapi aku tak akan, tak akan pernah melupakan nama mereka!”

Liok Siau-hong mulai tertarik pada persoalan ini, maka ia pun segera bertanya: “Siapa saja mereka?”

Dengan tangan terkepal penuh kebencian, Tay-kim-peng-ong berkata: “Siangkoan Bok, Pengtok Ho, dan Giam Lip-pun!”

Liok Siau-hong berkata dengan suara yang berat: “Aku tidak pernah mendengar satu pun dari mereka sebelumnya!”

“Tapi kau tentu pernah melihat mereka!”

“Oh?”

“Setelah tiba di Cina, mereka mengganti namanya. Belum sampai setahun yang lalu akhirnya aku berhasil mengetahui siapa saja mereka!”

Ia tiba-tiba memberi isyarat pada puterinya. Tan-hong Kiongcu bangkit dari tempat duduknya dan mengeluarkan 3 gulung lukisan dari peti tua di belakang ayahnya.

Dengan marah Tay-kim-peng-ong berkata: “Ini adalah potret mereka, aku berani mengatakan kalau kau mengenal paling sedikit 2 orang dari mereka!”

Ada 2 buah potret di setiap gulungan, satu muda dan satu tua, kedua potret itu menggambarkan orang yang sama.

Tan-hong Kiongcu membuka gulungan pertama: “Potret yang di atas ini menggambarkan rupanya waktu ia meninggalkan negara kami. Potret di bawah adalah rupanya sekarang.”

Orang ini memiliki wajah yang bundar penuh senyuman. Dia tampak sangat hangat dan bersahabat, tapi memiliki hidung bengkok yang amat besar.

Liok Siau-hong mengerutkan keningnya: “Orang ini seperti Giam Thi-san, saudagar besar mutiara dan intan dari Kwantiong.”

Sambil mengkertakkan giginya Tay-kim-peng-ong menjawab: “Benar. Giam Thi-san sekarang adalah Giam Lip-pun bertahun-tahun yang lalu. Aku bersyukur kepada Thian karena dia belum mati.”

Orang kedua memiliki tulang pipi yang sangat tinggi dan matanya yang berbentuk segitiga penuh dengan perasaan angkuh, jelas dia adalah orang yang memiliki kekuasaan yang besar.

Waktu Liok Siau-hong melihatnya, ekspresi wajahnya pun berubah.

Tay-kim-peng-ong berkata: “Ini Pengtok Ho, namanya sekarang adalah Tokko It-ho, dia adalah ketua Jing-ih-lau!”

Liok Siau-hong tampak terpana lama sebelum akhirnya menjawab: “Aku juga tahu orang ini, tapi aku tak tahu kalau dia adalah ketua Loteng Pertama dari Jing-ih-lau.”

Ia menarik nafas dalam-dalam dan meneruskan: “Aku hanya tahu bahwa dia adalah ketua Go-bi-pay!”

Tay-kim-peng-ong berkata: “Dia memang amat pandai menyembunyikan asal-usulnya, mungkin tak seorang pun di dunia ini yang bisa menduga bahwa ketua Go-bi-pay yang terhormat adalah seorang pengkhianat yang tak tahu malu!”

Orang ketiga adalah seorang laki-laki tua yang kurus, kecil, menyendiri, rajin dan bersih.

Liok Siau-hong hampir menjerit: “Ho Siu!”

“Benar, Ho Siu. Nama Siangkoan Bok sekarang adalah Ho Siu!”

Dia melanjutkan: “Semua orang mengatakan bahwa Ho Siu adalah orang teraneh dan terkaya di dunia. Limapuluh tahun yang lalu, ia merintis jalannya ke dunia persilatan dengan tangan hampa, lalu tiba-tiba, seperti sebuah keajaiban, dia menjadi orang terkaya di dunia. Sampai sekarang, selain kamu, mungkin tak ada orang lain di dunia persilatan yang tahu bagaimana cara dia mendapatkan semua kekayaannya itu!”

Wajah Liok Siau-hong tiba-tiba berubah pucat. Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan terduduk.

Tay-kim-peng-ong menatapnya: “Kurasa kau sudah bisa membayangkan kenapa aku mengundangmu ke mari.”

Liok Siau-hong memandangnya beberapa lama sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang: “Tapi aku masih tidak tahu apa yang Tuan inginkan.”

Tay-kim-peng-ong mengepalkan tinjunya dan memukulkannya ke lengan kursinya: “Aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin keadilan!”

“Keadilan? Semacam balas dendam?”

Tay-kim-peng-ong balas memandangnya dan terdiam.

“Tuan ingin agar aku membalaskan dendam untuk Tuan?”

Tay-kim-peng-ong terdiam beberapa lama sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas dan menjawab dengan agak sedih: “Mereka semua sekarang sudah tua, aku pun sudah tua. Apa gunanya bila membunuh mereka sekarang?”

Ia segera menggelengkan kepalanya dan menyangkal apa yang barusan ia katakan: “Tapi aku tak bisa melepaskan mereka begitu saja!”

Liok Siau-hong tidak berkata apa-apa, dia memang tidak punya hak untuk bicara.

Tay-kim-peng-ong meneruskan: “Pertama, aku ingin mereka mengembalikan semua harta yang mereka ambil dari Kekaisaran Rajawali Emas, agar negeri kami bisa bangkit kembali suatu saat nanti.”

Itu keinginan yang sangat adil dan beralasan.

Ia meneruskan: “Kedua, aku ingin mereka mengakui dosa-dosa mereka pada ayahku di depan abunya, sehingga ayahku bisa beristirahat dengan damai.”

Liok Siau-hong berpikir sebentar dan menarik nafas: “Kedua permintaan itu benar-benar adil.”

Kerutan di wajah Tay-kim-peng-ong pun lenyap: “Aku tahu kau pemuda yang adil dan tidak akan menolak permintaan seperti ini.”

Sesudah berpikir beberapa lama, Liok Siau-hong berkata dengan senyum yang agak dipaksakan: “Tapi sangat sukar untuk melaksanakan kedua hal ini.”

“Jika kau tak bisa, lalu siapa yang bisa?”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Mungkin tidak ada.”

Ia segera menambahkan: “Sekarang ini 3 orang itu termasuk orang-orang yang paling terkenal dan dikagumi di dunia. Jika mereka benar-benar mau melakukan apa yang Tuan inginkan, maka itu sama saja dengan mengakui kejahatan mereka. Kemasyuran, kekuasaan, dan kekayaan mereka, semuanya akan lenyap!”

Ekspresi wajah Tay-kim-peng-ong pun terlihat makin serius: “Aku sudah menduga bahwa mereka tidak akan mengakui perbuatan mereka.”

Liok Siau-hong berkata: “Bukan saja mereka itu kaya-raya dan sangat berkuasa, mereka juga mempunyai kungfu yang amat luar biasa.”

Tay-kim-peng-ong mengangguk: “Ayah memberi tanggung-jawab yang besar kepada mereka karena mereka memang pesilat-pesilat terbaik di Kekaisaran Rajawali Emas.”

Liok Siau-hong menambahkan: “Apalagi selama 50 tahun terakhir ini mereka semua mungkin selalu khawatir kalau Tuan akan mencari mereka untuk membalas dendam, siapa yang tahu kungfu mereka telah maju sejauh apa.”

Ia menarik nafas dan melanjutkan: “Menurutku hanya ada 5 atau 6 orang jago kungfu yang benar-benar tangguh di dunia persilatan sekarang ini. Ho Siu dan Tokko It-ho termasuk dalam kelompok ini.”

Wanita memang selalu ingin tahu, maka Tan-hong Kiongcu tak tahan untuk tidak bertanya: “Siapa yang 3 atau 4 orang lagi?”

“Ketua Siauw-lim-pay, Tay-pi Siansu, dan tetua Bu-tong-pay, Bok-tojin, keduanya memiliki ilmu gwakang dan lwekang yang sangat hebat. Tapi jika kau mempertimbangkan ilmu pedang yang cepat dan menakjubkan, maka kau harus memasukkan Pek-in-sengcu (Majikan Benteng Awan Putih) Yap Koh-seng dari Pulau Dewi Terbang di Lamhai dan Sebun Jui-soat.”

Tan-hong Kiongcu menatapnya dan bertanya: “Bagaimana dengan dirimu sendiri?”

Liok Siau-hong tersenyum, hanya tersenyum dan tidak menjawab, dia memang tak perlu menjawab.

Tay-kim-peng-ong tiba-tiba menarik nafas, dengan sangat sedih dia berkata: “Aku tahu bahwa ini persoalan yang sukar, itulah sebabnya aku tidak memaksamu untuk membantu kami, mengapa tidak mempertimbangkannya sedikit?”

Tiba-tiba amarahnya bangkit. Ia kembali mengepalkan tinjunya dengan murka: “Tapi tak perduli bagaimana pun caranya melawan mereka, selama masih ada orang kami yang tersisa, maka kami akan terus berjuang!”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Aku tahu….”

Sesudah lama terdiam, Tay-kim-peng-ong tiba-tiba tersenyum dipaksa: “Tidak perduli apa pun yang terjadi, Liok-siauya tetap tamu kita yang terhormat! Mana arak?”

Tan-hong Kiongcu menundukkan kepalanya dan menjawab: “Akan kuberitahu pelayan untuk mengambilkan arak.”

Tay-kim-peng-ong memberi perintah: “Ambilkan arak Persia kita yang terbaik, dan undang juga Hoa-kongcu ke sini.”

“Ya, ayah.”

Tay-kim-peng-ong menatap Liok Siau-hong, tiba-tiba ekspresi wajahnya telihat berubah angkuh lagi dan ia berkata dengan perlahan: “Tak perduli apa pun yang terjadi, engkau sudah menjadi sahabat kami. Keturunan Kekaisaran Rajawali Emas tak akan memaksa seorang sahabat untuk melakukan sesuatu.”

______________________________

Cawan itu kuno dan indah, araknya berwarna agak ungu.

Liok Siau-hong memperhatikan Tan-hong Kiongcu menuangkan arak ke cawan yang kuno dan indah itu, Hoa Ban-lau duduk di sisinya.

Mereka tidak mengucapkan apa-apa ketika bertemu, mereka hanya berjabat tangan dengan erat.

Itu cukup untuk menjelaskan semuanya. Tan-hong Kiongcu telah selesai menuangkan arak, dia hanya menuangkan 3 cawan.

Tay-kim-peng-ong tersenyum: “Sudah bertahun-tahun aku tidak minum, tapi aku akan membuat perkecualian malam ini untuk tamu-tamu kita.”

Tapi Tan-hong Kiongcu menggelengkan kepalanya: “Aku yang akan minum untukmu, Ayah. Ingat kakimu?”

Tay-kim-peng-ong menatapnya dengan gusar sebelum akhirnya tersenyum: “Baiklah, aku tak akan minum. Melihat orang lain minum juga menyenangkan, arak bagus selalu membawa semangat dan energi yang besar.”

Tan-hong Kiongcu menjelaskan pada Liok Siau-hong sambil tersenyum: “Jika Ayah minum alkohol, kedua kakinya akan segera membengkak sedemikian rupa sehingga mustahil baginya untuk berjalan. Tolong maafkan dia karena tak dapat minum bersama kalian.”

Liok Siau-hong mengambil cawannya sambil tersenyum.

Tan-hong Kiongcu membalikkan badannya sehingga punggungnya menghadap ayahnya dan tiba-tiba ia menatap Liok Siau-hong dengan cara yang sangat aneh. Begitu anehnya sehingga Liok Siau-hong tak faham apa artinya.

Tan-hong Kiongcu mengambil cawannya sambil tersenyum dan berkata: “Ayah telah bertahun-tahun menyimpan arak ini, semoga sesuai dengan selera para tamu.”

Ia mengangkat cawannya dan meminum arak itu, lalu menarik nafas perlahan dan berkata: “Arak yang benar-benar enak.”

Sangat jarang terjadi seorang tuan rumah berulang-ulang memuji araknya sendiri dan Tan-hong Kiongcu jelas bukan orang yang suka menyombongkan dirinya sendiri.

Liok Siau-hong benar-benar heran, tapi kemudian ia menyadari bahwa ia bukan sedang minum arak, ia minum air yang telah diberi gincu.

Tiba-tiba ia faham apa yang dilakukan Tan-hong Kiongcu, dan khawatir kalau Hoa Ban-lau tak mengerti karena ia tidak bisa melihat tatapan aneh sang puteri.

Tapi Hoa Ban-lau tersenyum, tersenyum sambil minum “arak” di cawannya, sesudah itu ia menarik nafas perlahan dan berkata: “Arak yang benar-benar enak.”

Liok Siau-hong minum 3 cawan lagi dengan cepat sebelum tiba-tiba ia berkata sambil tersenyum: “Arak yang begini enak tak mungkin diminum tanpa imbalan.”

Mata Tay-kim-peng-ong bersinar lagi: “Apakah engkau….”

Liok Siau-hong menarik nafas yang panjang dan dalam: “Keadilan yang Tuan cari itu, aku akan berusaha sebisanya untuk memberikannya kepada Tuan.”

Tay-kim-peng-ong bangkit dengan cepat, berjalan menghampirinya, dan memegang pundaknya. Air mata tanda terima kasih tampak bercucuran dari mata tuanya yang murung. Ia mencoba bicara, tapi seperti tercekik oleh perasaan haru: “Terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih….”

Ia terus mengulang-ulang kalimat itu sampai semua orang tak tahu lagi sudah berapa kali ia mengatakannya.

Tan-hong Kiongcu berdiri di sisinya, diam-diam ia memutar tubuhnya dan cepat-cepat menghapus air matanya yang menggenang.

Setelah beberapa lama barulah Tay-kim-peng-ong tenang sedikit dan ia pun berkata: “Walaupun Tokko Hong mempunyai nama keluarga yang sama dengan Tokko It-ho, tapi mereka saling membenci dan bermusuhan; separuh wajah Liu Ih-hin diiris oleh Giam Thi-san dan Siau Jiu-ih kebetulan merupakan sahabatnya yang rela mati untuknya. Selama kau bersedia membantu kami, mereka bertiga akan mematuhimu biarpun harus pergi ke neraka.”

Tapi Liok Siau-hong menggelengkan kepalanya: “Kurasa sebaiknya mereka tetap di sini.”

Tay-kim-peng-ong mengerutkan keningnya: “Mengapa?”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Aku tahu bahwa mereka adalah jago-jago kelas satu di dunia persilatan, tapi meminta mereka melawan Tokko It-ho dan Ho Siu itu sama saja dengan meminta mereka bunuh diri.”

“Kau… kau tidak butuh bantuan?”

“Tentu saja butuh.”

Sambil tersenyum ia menepuk pundak Hoa Ban-lau dengan perlahan: “Kami telah lama saling bekerja sama.”

Tay-kim-peng-ong menatap Hoa Ban-lau, dia tampaknya tidak terlalu yakin dengan usul itu.

Dia benar-benar sukar percaya kalau orang buta ini bisa lebih hebat daripada orang-orang seperti Liu Ih-hin dan Siau Jiu-ih. Tak seorang pun yang akan percaya.

Tapi Liok Siau-hong telah melanjutkan lagi: “Selain dia, aku butuh 2 orang lagi.”

“Siapa?”

“Yang pertama adalah Cu Ting.”

Ia tersenyum: “Walaupun Cu Ting bukan seorang petarung, tapi dia sangat berguna.”

Tay-kim-peng-ong menunggu penjelasannya.

“Karena Tuan bisa menemukan mereka, sangat mungkin kalau mereka pun telah menemukan Tuan juga. Tuan ingin menuntut keadilan dari mereka, sangat mungkin mereka akan bergerak mendahului kita dan membunuh Tuan.”

Tay-kim-peng-ong mendengus: “Aku tidak takut.”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Tuan tidak, tapi aku yang takut. Itulah sebabnya aku ingin membawa Cu Ting ke mari, dia bisa mengubah tempat ini menjadi benteng yang tak bisa ditembus.”

“Dia faham alat-alat rahasia dan semacamnya?”

Liok Siau-hong tersenyum: “Jika dia mau, dia mungkin mampu membuat kursi yang bisa menggigit.”

Tay-kim-peng-ong juga tersenyum: “Tampaknya kau benar-benar memiliki beberapa orang sahabat yang sangat menarik.”

“Tapi sekarang aku hanya bisa berharap agar dapat membujuk satu orang lagi untuk membantuku dalam persoalan ini.”

Mata Tay-kim-peng-ong bersinar-sinar: “Seberapa mampunya ia membantumu?”

“Jika dia mau membantu, maka persoalan ini benar-benar punya kesempatan untuk diselesaikan.”

“Siapa dia?”

“Sebun Jui-soat!”

______________________________

Lorong itu sekarang menjadi lebih gelap dan misterius, karena hari telah sore.

Tan-hong Kiongcu menundukkan kepalanya dan rambutnya yang hitam jatuh ke pundaknya seperti arus air yang halus.

Perlahan-lahan ia berkata: “Aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu untuk kejadian tadi.”

Liok Siau-hong bertanya: “Apakah engkau membicarakan tentang arak tadi?”

Wajah Tan-hong Kiongcu memerah sebentar dan dia semakin menundukkan kepalanya: “Aku yakin kau sekarang sudah melihat bahwa ayah adalah seorang laki-laki yang angkuh, dan dia benar-benar tak bisa lagi mengalami kejutan atau kesedihan. Maka aku tak ingin dia mengetahui yang sebenarnya.”

“Aku mengerti.”

Tan-hong Kiongcu menarik nafas: “Selain ruangan-ruangan yang digunakan ayahku, kamar tidurnya dan ruang tamu, semua ruangan lainnya kosong melompong. Bahkan arak simpanan yang berharga pun telah habis dijual satu demi satu.”

Kepalanya semakin menunduk dan dia praktis hanya memandangi kakinya sendiri: “Kami benar-benar tidak punya penghasilan. Merawat rumah ini adalah soal yang sukar, di samping itu banyak yang harus kami lakukan. Untuk mencarimu aku bahkan telah menggadaikan mutiara peninggalan ibuku untukku.”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Aku tidak tahu banyak tentang keadaan kalian, tapi secawan arak itu telah memberitahu banyak.”

Tan-hong Kiongcu tiba-tiba mengangkat kepalanya kembali dan memandangnya: “Apakah kau akhirnya setuju karena kau telah mengetahui bagaimana sebenarnya keadaan kami?”

“Karena hal itu dan kenyataan bahwa dia telah menganggapku sebagai seorang sahabat dan tidak menggunakan apa-apa untuk mengancam atau memerasku.”

Tan-hong Kiongcu menatapnya, matanya yang indah kembali penuh dengan air mata terima kasih.

Ia cepat-cepat menundukkan kepalanya lagi dan berkata dengan suara yang lembut: “Selama ini aku keliru. Kukira engkau adalah orang yang tak akan tergerak oleh perasaan dan simpati.”

Selama itu Hoa Ban-lau hanya tersenyum. Dia mendengarkan banyak dan bicara sangat sedikit, baru sekarang dia akhirnya bicara lagi: “Sudah kubilang, orang ini keras dan bau di luarnya, tapi di dalam hatinya lebih lunak daripada tahu!”

Tan-hong Kiongcu tertawa kecil dan menjawab: “Kau juga keliru.”

“Oh?”

“Dia memang sangat kukuh dan keras, tapi tidak bau sama sekali.”

Wajahnya memerah sebelum ia menyelesaikan apa yang ia katakan. Maka ia segera mengubah pokok pembicaraan: “Kamar tamu kami benar-benar sangat sederhana dan biasa, semoga kalian tidak terlalu keberatan.”

Liok Siau-hong mendehem: “Mungkin kami seharusnya tidak tinggal untuk makan malam.”

Tan-hong Kiongcu tertawa dipaksa: “Jangan lupakan 4 emas batangan yang kau tinggalkan untuk kami.”

Mata Liok Siau-hong bersinar: “Apakah kau tahu bahwa kakek Ho termasuk orang yang kalian cari-cari?”

“Kami baru tahu setelah kau menyatakan bahwa dialah Ho Siu.”

Ekspresi wajah Liok Siau-hong tiba-tiba menjadi sangat serius: “Tapi bagaimana kau tahu bahwa Tokko It-ho adalah ketua Jing-ih-lau? Ini adalah rahasia terbesar dan paling misterius di dunia persilatan.”

Tan-hong Kiongcu bimbang sebelum akhirnya menjawab: “Karena Liu Ih-hin dulu merupakan sahabatnya yang paling dipercaya. Dia juga yang menjadi penyebab kenapa Giok-bin-long-kun Liu Ih-hin di masa lalu tampak seperti sekarang.”

Mata Liok Siau-hong bersinar-sinar lagi, seakan-akan dia akhirnya menyadari sebuah teka-teki yang beberapa saat yang lalu menghantuinya.

______________________________

Kamar tamu itu besar, tapi selain sebuah tempat tidur, meja dan beberapa kursi yang tampak tua, hampir tidak ada apa-apa lagi di kamar itu.

Hoa Ban-lau duduk di sana. Walaupun dia tidak bisa melihat, seolah-olah dia bisa merasakan di mana kursi itu berada.

Liok Siau-hong memandangnya, tiba-tiba ia bertanya: “Kau pernah terduduk di tempat yang kosong?”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Kau ingin aku terduduk di tempat kosong?”

Liok Siau-hong juga tersenyum: “Aku hanya berharap kalau lain kali kau duduk, kau akan terduduk di pangkuan seorang gadis.”

“Kau tahu lebih banyak tentang hal itu daripada aku.”

Liok Siau-hong berkata dengan getir: “Jika kau pun tahu sebanyak aku, mungkin kau tak akan terperdaya oleh tipuan mereka.”

“Tipuan siapa?”

“Sudah lupa dengan Siangkoan Hui-yan?”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Aku tidak terperdaya oleh tipuan orang, aku datang ke sini atas kemauanku sendiri.”

Liok Siau-hong sangat terkejut: “Kau memang mau ke sini? Kenapa?”

“Mungkin karena akhir-akhir ini kehidupanku terlalu tenang sejak aku tinggal sendirian. Aku ingin melakukan beberapa hal yang berbahaya.”

Liok Siau-hong mendengus: “Mungkin kau cuma terperdaya oleh seorang penipu berwajah cantik!”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Mungkin dia memang seorang penipu berwajah cantik, tapi dia jujur kepadaku.”

“Mungkin karena dia tahu bahwa cara terbaik untuk menipu orang sepertimu adalah dengan menceritakan hal yang sebenarnya.”

“Mungkin.”

“Tujuannya adalah membawamu ke sini. Sekarang kau ada di sini, tujuannya telah tercapai.”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Kau tampaknya berusaha membuatku marah.”

“Kau tidak marah?”

Sambil tersenyum Hoa Ban-lau menjawab: “Mengapa aku harus marah? Mereka datang dan membawaku ke mari dengan kereta mereka, memperlakukanku sebagai tamu terhormat. Cuaca di sini juga bagus dan di halaman sini bunga-bunga sedang mekar. Di samping itu sekarang kau ada di sini, bahkan jika aku benar-benar terperdaya olehnya, tak ada yang perlu aku keluhkan.”

Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak tertawa: “Tampaknya memang mustahil bisa membuatmu marah.”

Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya: “Kau benar-benar ingin mengajak Sebun Jui-soat?”

“Mmhmm.”

“Bisakah kau membujuknya untuk ikut campur dalam urusan orang lain?”

Dengan senyum getir di wajahnya, Liok Siau-hong menjawab: “Aku tahu bahwa di dunia ini tampaknya tidak ada yang bisa menggerakkan dia, tapi aku tetap harus berusaha.”

“Lalu apa?”

“Aku belum berfikir sejauh itu, sekarang aku hanya berfikir bagaimana caranya keluar dan melihat-lihat.”

“Melihat-lihat apa?”

Liok Siau-hong tertawa: “Mungkin aku ingin melihat Siangkoan Hui-yan.”

Hoa Ban-lau masih tersenyum, tapi ada sedikit kecemasan di senyumannya ketika ia menjawab: “Kau tidak akan menemukannya!”

“Oh?”

“Aku tidak pernah mendengar suaranya lagi sejak aku tiba di sini, tampaknya dia telah meninggalkan tempat ini.”

Liok Siau-hong menatapnya, perasaan khawatir tiba-tiba muncul di wajahnya.

Tapi Hoa Ban-lau tertawa lagi: “Tampaknya ia seorang gadis yang tak bisa diam atau beristirahat, selalu sibuk melakukan sesuatu.”

Liok Siau-hong tiba-tiba juga tertawa: “Sebenarnya, bukankah semua perempuan seperti itu?”

______________________________

Kamar itu sekarang sudah agak gelap. Hoa Ban-lau duduk di sana sendirian, terlihat bahagia dan damai seperti biasanya. Ia selalu bahagia dan puas, karena di mana pun ia berada, ia selalu merasakan rasa senang dan cinta yang tidak dirasakan orang lain.

Sekarang ia sedang menikmati matahari terbenam musim semi yang indah.

Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu.

Baru saja ia mendengar suara ketukan itu, orangnya sudah masuk. Sebenarnya ada 2 orang, Tokko Hong dan Siau Jiu-ih.

Tapi hanya terdengar suara langkah kaki satu orang saja, suara langkah kaki Tokko Hong lebih ringan dan lebih susah didengar daripada angin musim semi yang halus.

Hoa Ban-lau tersenyum: “Silakan duduk, di sini ada kursi kosong lebih dari dua.”

Ia tidak bertanya siapa mereka, juga kenapa mereka datang. Tidak perduli siapa yang masuk ke kamarnya, dia akan selalu sehangat dan seramah ini, selalu memberikan semua yang dia miliki untuk dinikmati orang lain.

Wajah Tokko Hong menjadi gelap dan ia menjawab dengan dingin: “Bagaimana kau tahu kami berjumlah 2 orang? Apakah kau benar-benar buta?”

Dia selalu menganggap tak seorang pun mampu mendengar langkah kakinya, dia selalu yakin pada ilmu meringankan tubuhnya. Itulah sebabnya dia sekarang merasa tidak senang.

Tapi Hoa Ban-lau masih tetap bahagia dan damai. Dia tersenyum dan menjawab: “Kadang-kadang aku sendiri juga bingung apakah aku benar-benar buta. Aku selalu berpikiran bahwa hanya orang-orang yang memiliki mata tapi menolak untuk melihat itulah yang benar-benar buta.”

Siau Jiu-ih tersenyum: “Kau lupa satu satu jenis orang lagi yang juga buta.”

“Jenis yang mana?”

“Orang mati!”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Bagaimana kau tahu orang mati itu buta? Mungkin orang mati melihat banyak kejadian seperti kita juga. Kita belum ada yang pernah mati, bagaimana kita bisa tahu apa yang diketahui atau dilihat oleh orang mati?”

Dengan dingin Tokko Hong menjawab: “Mungkin kau akan segera tahu!”

Dengan santai Siau Jiu-ih menambahkan: “Kami benar-benar tidak kenal denganmu, dan kami juga tidak punya dendam terhadapmu, tapi kami tetap akan membunuhmu!”

Hoa Ban-lau bukan hanya tidak terkejut, tampaknya dia sedikit pun tidak kelihatan gusar. Dia masih tersenyum: “Sebenarnya aku memang telah menunggu kalian berdua!”

Tokko Hong bertanya: “Kau tahu bahwa kami akan datang untuk membunuhmu?”

“Liok Siau-hong tidak bodoh, tapi dia telah banyak menyakiti hati orang lain tanpa dia sadari. Ini karena bila dia bicara, kadang-kadang dia seperti sebuah meriam!”

Tokko Hong mendengus.

Hoa Ban-lau menambahkan: “Tak seorang pun suka bila dikatakan bahwa dia tidak sebanding dengan orang yang buta. Terutama bagi 2 jagoan seperti kalian, hal itu benar-benar tak bisa ditolerir. Maka tentu saja kalian akan mendatangi si orang buta untuk membunuhnya.”

Ekspresinya masih tetap damai dan ia pun meneruskan: “Para pendekar dan orang-orang dunia persilatan memang paling tak tahan pada hal ini!”

Tokko Hong menukas: “Bagaimana denganmu?”

“Aku bukan seorang pendekar, aku hanya orang buta.”

Walaupun Tokko Hong masih mendengus, ekspresi heran telah muncul di wajahnya.

Bagaimana orang buta ini bisa tahu begitu banyak?

Siau Jiu-ih memotong: “Kau tahu kami akan datang, dan kau tetap menunggu di sini?”

“Ke mana lagi orang buta bisa lari?”

Tokko Hong tiba-tiba berteriak: “Ke neraka!”

Ketika dia berteriak, dia telah membuat gerakan. Sebuah tombak bermata satu melesat ke tenggorokan Hoa Ban-lau seperti pagutan seekor ular berbisa, sementara pedang Penghancur Usus telah ditusukkan juga.

Gerakannya lambat, begitu lambatnya sehingga tidak menimbulkan angin atau suara. Orang buta jelas tak bisa melihat pedang, dia hanya bisa mendengar suara yang diciptakan oleh pedang.

Tapi gerakan ini tidak menimbulkan suara sedikit pun, maka gerakan ini benar-benar merupakan sebuah gerakan yang dapat menghancurkan usus orang buta.

Apalagi ada tombak bermata satu di depan pedang. Jika tombak itu meleset, pedangnya tentu berhasil menusuk. Tapi perhitungan Siau Jiu-ih sama sekali salah.

Selain mendengar, orang buta ini tampaknya punya indera lain yang luar biasa dan misterius.

Dia tampaknya telah mengetahui, entah bagaimana caranya, bahwa bahaya sebenarnya bukan berasal dari tombak, tapi dari pedang. Tapi dia tak bisa melihat atau mendengar pedang itu.

Sebelum pedang itu tiba, tiba-tiba dia berjumpalitan. Ketika tombak itu meleset dari pundaknya, tangannya telah menyentuh pedang tersebut.

“Tak! Tak!” Pedang berusia seratus tahun itu tiba-tiba patah menjadi 3 bagian. Perut musuh belum hancur, tapi pedang itu sudah.

Bagian yang terpanjang masih berada di tangan Hoa Ban-lau. Dia menyentilkan tangannya dan rumbai-rumbai di tombak itu pun saling melibat dengan potongan pedang.

Tokko Hong tercengang. Bahkan di bawah sinar matahari terbenam, wajah Siau Jiu-ih masih tampak pucat seperti mayat.

Sambil tersenyum Hoa Ban-lau berkata: “Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu Tuan Siau Jiu-ih, tapi gerakan Tuan Siau Jiu-ih itu benar-benar kejam terhadap seorang laki-laki buta. Aku hanya berharap bahwa sesudah Tuan Siau Jiu-ih mendapatkan pengganti untuk pedang ini, dia mau menyediakan ruang di hatinya untuk dirinya sendiri sehingga paling tidak dia punya kesempatan untuk hidup.”
______________________________

Kebun itu tadinya benar-benar penuh dengan bunga, tapi sekarang sudah banyak yang dipetik.

Baru sekarang Liok Siau-hong bisa menduga dari mana asal semua bunga yang dibawa oleh Tan-hong Kiongcu.

Saat inilah dia melihat gadis kecil itu lagi.

Siangkoan Soat-ji sedang berdiri di tengah semak-semak bunga, di bawah cahaya matahari terbenam. Sinar suram matahari terbenam tampak menyinari rambutnya yang lembut dan halus.

Dia tampak begitu polos dan jujur, seolah-olah dia tidak pernah mengucapkan separuh perkataan dusta sekalipun.

Liok Siau-hong tersenyum, dia tak tahan untuk tidak berjalan menghampiri dan berkata: “Hai, Piauci. Apa kabarmu?”

“Tidak baik.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku punya kekhawatiran, banyak kekhawatiran.”

Liok Siau-hong tiba-tiba melihat adanya perasaan cemas yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata di matanya yang bening dan berkilauan itu, senyumannya yang manis pun tampak sedikit dipaksakan.

Ia pun bertanya: “Kekhawatiran macam apa?”

Gadis itu menjawab: “Aku mengkhawatirkan kakakku.”

“Kakakmu? Siangkoan Hui-yan?”

Siangkoan Soat-ji mengangguk.

Liok Siau-hong bertanya lagi: “Kenapa kau mencemaskan dia?”

“Dia tiba-tiba menghilang!”

“Kapan dia menghilang?”

“Hari kedatangan Hoa Ban-lau, yang juga merupakan hari keberangkatan kami untuk mencarimu.”

Liok Siau-hong memandangnya: “Jika kau begitu mencemaskan dia, mengapa kau tidak mencarinya?”

“Karena dia mengatakan bahwa dia akan tinggal di sini dan menunggu kami pulang.”

“Kau percaya semua yang ia katakan?”

“Tentu saja!”

Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak tertawa kecil: “Jika dia tidak pergi, bagaimana dia tiba-tiba bisa menghilang?”

“Aku pun tak bisa menebaknya, itulah sebabnya aku mencari-cari dia.”

“Di kebun bunga ini?”

“Mmhmm.”

“Mungkinkah dia bersembunyi di kebun, sembunyi selama berhari-hari?”

“Aku bukan mencari orangnya, aku mencari mayatnya.”

Liok Siau-hong mengerutkan keningnya: “Mayatnya?”

“Kurasa dia telah dibunuh dan dikubur di sini, di kebun ini.”

“Ini adalah rumah kalian sendiri, bagaimana mungkin ada orang yang ingin membunuhnya?”

“Walaupun ini rumah kami, tapi ada orang lain di sini.”

“Orang lain?”

“Seperti sahabatmu Hoa Ban-lau contohnya.”

“Kau kira Hoa Ban-lau mau membunuh?”

“Kenapa tidak? Semua orang bisa jadi tersangka, bahkan lo-ongya (kaisar tua) itu juga!”

“Lo-ongya jadi tersangka juga? Kenapa?”

“Itulah sebabnya aku mencarinya, karena aku tidak tahu!”

Liok Siau-hong menarik nafas pendek: “Kau terlalu banyak khawatir, seorang gadis berusia 12 tahun seharusnya tidak banyak khawatir.”

Siangkoan Soat-ji menatapnya, memandangnya lama sebelum akhirnya bertanya dengan lambat: “Siapa bilang aku baru 12 tahun?”

“Piaucimu.”

“Kau percaya apa yang dia katakan tapi tidak percaya pada ucapanku?”

______________________________

Hoa Ban-lau bertanya: “Tidak pergi mencarinya?”

Liok Siau-hong menjawab: “Adiknya saja tidak dapat menemukannya, harapan apa yang aku miliki?”

Wajah Hoa Ban-lau yang damai kembali memperlihatkan sedikit perasaan cemas. Jelas dia memiliki perasaan yang tidak biasa terhadap gadis yang tiba-tiba menghilang ini, dia tidak bisa menyembunyikan hal itu walau dia berusaha.

Bila perasaan ini memasuki hati seorang manusia, dia seperti sebutir intan di tengah gundukan pasir, setiap orang bisa melihatnya dalam sekali pandang.

Tentu saja Liok Siau-hong melihatnya juga, maka ia segera bertanya: “Kau sudah bertemu adiknya?”

Hoa Ban-lau menjawab: “Belum.”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Tampaknya nasibmu tidak begitu buruk, paling tidak masih lebih baik dariku.”

“Adiknya seorang telur busuk cilik?”

Liok Siau-hong tersenyum jengkel: “Bukan hanya telur busuk kecil, dia itu setan kecil! Ia bukan hanya bisa menipu orang mati menjadi hidup lagi bila dia berdusta, dia juga linglung.”

“Anak kecil juga bisa linglung?”

“Penyakit linglungnya malah lebih parah dari nenek-nenek. Dia mengira kakaknya telah dibunuh, dia mencurigaimu atau Tay-kim-peng-ong sebagai pembunuhnya.”

Ia ingin membuat Hoa Ban-lau sedikit bahagia, maka ia pun tertawa.

Tapi Hoa Ban-lau sedikit pun tidak kelihatan senang.

Maka Liok Siau-hong menambahkan: “Bukankah penyakit linglungnya itu lucu?”

“Sama sekali tidak.”

“Siangkoan Hui-yan juga seorang gadis muda, yang bisa dia lakukan hanyalah sedikit berdusta. Coba temukan seorang remaja berusia 18 atau 19 tahun yang tidak pernah berdusta. Mengapa ada orang yang ingin membunuhnya?”

Hoa Ban-lau terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab: “Sekarang aku hanya mengharapkan satu hal.”

“Mengharapkan apa?”

Hoa Ban-lau tersenyum dan menjawab: “Aku hanya berharap mereka tidak menyediakan arak palsu malam ini.”

Liok Siau-hong tidak bertanya apa-apa lagi tentang hal ini, karena Hoa Ban-lau biasanya tidak begitu perduli dengan arak.

Liok Siau-hong memandangnya, tiba-tiba dia merasa senyuman Hoa Ban-lau tampak sedikit misterius. Semua orang, tak perduli siapa, akan menjadi sedikit aneh dan misterius pada saat seperti ini.

Liok Siau-hong berkedip-kedip beberapa kali dan membuat suaranya semisterius mungkin: “Aku juga mengharapkan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku hanya berharap daging yang mereka sediakan untuk kita malam ini bukan daging manusia, dan arak yang mereka berikan tidak berisi obat bius!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: