Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:41 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 02: Orang Terkaya
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Waktu ia masuk ke rumah kakek Ho yang kecil itu, kakek Ho sedang minum arak.

Rumah itu adalah sebuah pondok kayu yang kecil dan sangat sederhana, berdiri di tengah sebuah hutan kecil yang terdiri dari pohon-pohon kurma di lereng sebuah gunung.

Kakek Ho juga seperti pondok kayu kecil itu, kecil, menyendiri, rajin dan bersih, mirip sebutir kacang berkulit keras yang telah mengalami berbagai macam badai. Kebetulan ia sedang minum di atas sebuah meja yang kecil tetapi indah.

Arak itu baunya enak, ruangan itu penuh dengan kendi arak dari berbagai jenis dan ukuran, dan tampaknya juga berkualitas tinggi.

Waktu ia melihat cawan arak di tangan Liok Siau-hong, tak tahan lagi ia pun tertawa dan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata: “Apakah kau takut kalau aku tidak tahu kau datang ke sini untuk minta minum? Itukah sebabnya kau membawa sebuah cawan arak untuk mengingatkanku?”

Liok Siau-hong juga tertawa: “Waktu berangkat tadi, aku hampir tidak punya waktu untuk memakai celana, bagaimana mungkin aku punya waktu untuk meletakkan cawan ini? Tadi masih ada arak di cawan ini, sayang sekarang sudah tumpah semua.”

Kakek Ho merasa hal ini amat janggal sehingga ia mengerutkan alisnya dan bertanya: “Kenapa kau begitu tergesa-gesa?” Ia tidak dapat menebak apa yang telah terjadi.

Liok Siau-hong menarik nafas dan tertawa masam: “Tidak ada apa-apa, cuma tadi ada seorang gadis yang memasuki kamarku.”

Kakek Ho tertawa lagi: “Rasanya ada saja wanita yang masuk ke kamarmu setiap harinya, kau tidak pernah ketakutan sebelumnya!”

“Gadis ini berbeda!”

“Apa yang membuatnya begitu berbeda?”

“Semuanya!”

Kakek Ho mengedip-ngedipkan matanya: “Apakah gadis ini sangat buruk rupa?”

Liok Siau-hong tiba-tiba menggelengkan kepalanya: “Bukan saja dia tidak buruk, dia malah cukup cantik untuk menjadi seorang dewi, dan dia membawa hawa seperti seorang puteri!”

“Lalu apa yang kau takutkan? Takut dia akan memperkosamu?” kakek Ho bergurau.

Liok Siau-hong tersenyum: “Jika dia ingin memperkosaku, maka kau tak akan bisa mengusirku pergi biarpun dengan memakai sapu!”

“Lalu kenapa dia bisa membuatmu melarikan diri?” kakek Ho bertanya.

Liok Siau-hong menarik nafas lagi: “Dia berlutut di depanku!”

Kakek Ho membuka matanya selebar mungkin dan menatap Liok Siau-hong, seolah-olah sekuntum bunga tiba-tiba tumbuh dari lubang hidungnya.

Liok Siau-hong khawatir ia tidak mengerti dan menerangkan lebih lanjut: “Tepat sesudah dia masuk ke kamarku, tiba-tiba dia berlutut ke arahku, berlutut dengan kedua kakinya!”

Kakek Ho akhirnya menghembuskan nafas sekuatnya dan berkata: “Aku selalu mengira bahwa kau orang yang normal, tanpa ada masalah sama sekali, tapi sekarang aku mulai agak curiga!”

Liok Siau-hong kembali tersenyum masam: “Sekarang kau mulai agak curiga kalau-kalau aku memang ada masalah?”

Kakek Ho menjawab: “Seorang wanita seperti dewi, masuk ke kamarmu, dan berlutut di hadapanmu, tapi kau malah begitu ketakutan sehingga melarikan diri dengan panik?”

Liok Siau-hong mengangguk: “Bukan hanya panik, aku malah harus lari lewat atap!”

Kakek Ho menarik nafas: “Kelihatannya kau bukan hanya punya masalah, masalah itu pun rupanya sangat besar!”

“Aku lari karena otakku masih bekerja dengan baik!”

“Oh?”

“Tadi kan sudah kubilang, bukan hanya cantik, dia juga membawa hawa tertentu!”

“Hawa seperti apa?”

“Hawa seorang puteri!”

“Pernahkah kau bertemu dengan seorang puteri sebelumnya?”

“Belum, tapi aku tahu bahwa seorang puteri sekalipun tidak akan bisa membawa tiga orang pengawal seperti dia!”

“Siapa saja pengawalnya?”

“Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong!”

Kakek Ho mengerutkan keningnya: “Liu Ih-hin yang bertarung seperti orang yang mencari mati itu?”

“Ya!” Liok Siau-hong menjawab.

“Siau Jiu-ih yang tampaknya halus dan terpelajar tapi kenyataannya kuat seperti banteng liar?”

“Ya!”

“Tokko Hong yang datang dan pergi tanpa jejak dan selalu sendirian?”

“Ya!”

“Mereka bertiga itu pengawalnya?”

“Ya!”

“Dia punya 3 orang pengawal seperti itu, dan masih berlutut kepadamu?”

“Ya!”

Kakek Ho tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali menuangkan secawan arak dan meminumnya.

Liok Siau-hong juga menghabiskan apa yang tersisa di cawannya dan berkata: “Kau mengerti sekarang?”

“Ya!” kakek Ho menjawab.

“Menurutmu, kenapa dia berlutut kepadaku?”

“Karena dia ingin kau melakukan sesuatu untuknya!”

“Seorang gadis seperti dia berlutut di hadapanku, untuk apa sebenarnya?”

“Untuk sesuatu yang amat sukar!”

“Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, mengapa aku mau menempuh bermacam bahaya untuknya?”

“Hanya orang tolol yang mau!”

“Apakah aku tolol?”

“Tidak!”

“Jika kau jadi aku, apakah kau juga akan lari?”

“Aku akan lari sepertimu, malah mungkin sedikit lebih cepat!”

Liok Siau-hong menghembuskan nafas panjang sebelum tersenyum kembali: “Kelihatannya biarpun kau mulai tua, kau belum menjadi orang bodoh.”

Kakek Ho menjawab: “Tapi kaulah yang bodoh walaupun masih muda.”

“Oh?”

“Seorang gadis seperti dirinya mau berlutut kepadamu dan memohon sesuatu kepadamu, maka persoalan ini pasti tidak bisa diselesaikan oleh orang lain.”

Liok Siau-hong setuju dengan dugaan itu.

Kakek Ho meneruskan: “Ia sudah berhasil menemukanmu, apakah menurutmu kau bisa lari?”

“Menurutmu dia akan datang kembali?”

“Mungkin ya!”

Liok Siau-hong tersenyum: “Aku tidak punya banyak keahlian, tapi aku cukup cepat bila melarikan diri!”

“Hingga tidak ada orang yang bisa mengejarmu?”

“Hingga tidak banyak orang yang sanggup mengejarku!”

Kakek Ho mendengus.

Liok Siau-hong bertanya: “Kenapa kau mendengus?”

“Dengusanku itu berarti aku sedang mendengus!”

“Aku tidak tahu apa maksudmu.”

“Banyak yang tidak kau ketahui.”

Liok Siau-hong kembali tertawa: “Paling tidak aku masih tahu bagaimana caranya menentukan kendi mana di tumpukan ini yang berisi arak terbaik.”

Ia mengambil sebuah kendi, memang yang terbaik. Tapi baru saja ia hendak membuka segelnya, terdengar suara “Brak!” yang keras sebanyak tiga kali. Ternyata orang sudah membuat 3 buah lubang di dinding sebelah kanan, kiri dan di depannya.

Tiga orang laki-laki berjalan masuk melalui lubang di dinding itu. Ternyata mereka adalah Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih dan Tokko Hong.

Dari wajah mereka yang yakin dan tenang, seolah-olah bukan mereka yang membuat lubang di tembok itu. Seakan-akan mereka bertiga hanya membuka pintu dan kembali ke rumah mereka sendiri setelah semalaman keluar.

Siau Jiu-ih tersenyum dan berkata: “Kami tidak masuk lewat jendela!”

“Jadi kami bukan anjing!” Tokko Hong menyimpulkan.

Sementara keduanya bicara, masing-masing lalu mengambil sebuah kursi. Tiba-tiba saja kedua kursi yang berukiran indah itu sudah hancur berkeping-keping.

Liu Ih-hin duduk dengan perlahan di atas tempat tidur. Tapi baru saja ia duduk, seluruh tempat tidur itu sudah roboh dengan menimbulkan suara yang keras.

Siau Jiu-ih mengerutkan keningnya: “Perabotan ini rupanya tidak kuat.”

“Lain kali sebaiknya kita ingat supaya tidak membeli perabotan dari sini.” Tokko Hong meneruskan.

Saat kedua orang itu mengucapkan kalimat-kalimat ini, 5 atau 6 macam benda lagi telah hancur.

Liok Siau-hong dan kakek Ho seolah-olah tidak melihat semua kejadian itu.

Kakek Ho masih duduk dan minum-minum, tanpa sedikit pun ada perasaan marah di wajahnya, seolah-olah benda-benda yang mereka hancurkan itu bukanlah miliknya.

Sebentar saja semua benda di rumah itu sudah hancur, termasuk lebih dari 20 kendi arak.

Siau Jiu-ih memandang ke sekelilingnya: “Rumah ini seperti akan roboh, lebih baik kita perbaiki dulu!”

Tokko Hong berkomentar: “Itu baru ide yang bagus!”

Mereka bertiga mulai membongkar rumah itu. Liok Siau-hong dan kakek Ho masih duduk di sana, sambil meminum arak mereka dengan perlahan-lahan.

“Brak!”, “Bum!”, “Brukk!” Dinding di keempat sisi rumah itu sudah roboh. “Buummm!!” Atap pun roboh, tepat di atas kepala Liok Siau-hong dan kakek Ho.

Tiba-tiba mereka berdua menghilang.

Tokko Hong dan Siau Jiu-ih saling berpandangan dan melirik ke belakang mereka, kedua orang itu ternyata sudah duduk-duduk di lapangan rumput tepat di depan rumah, masih di atas 2 kursi, dan kendi arak pun masih berada di atas meja di hadapan mereka.

Siau Jiu-ih berkata lagi: “Nafsu adalah pisau yang mematahkan tulangmu, arak adalah racun yang merusak perutmu, kami tidak bisa membiarkannya!”

Tokko Hong pun meneruskan: “Benar, kita tidak boleh meninggalkan satu kendi pun!”

Maka dia berjalan menghampiri dengan tenang, mengambil kendi di atas meja, dan membantingnya ke atas tanah dengan keras.

Kali ini kendi itu tidak hancur. Tiba-tiba benda itu kembali ke atas meja.

Tokko Hong mengerutkan kening, mengambilnya kembali, dan melemparkannya sekuat yang ia bisa.

Kali ini dia melihat apa yang terjadi. Sebelum kendi itu tiba di tanah, Liok Siau-hong tiba-tiba merenggutnya di udara.

Tokko Hong melemparkannya lagi, Liok Siau-hong menangkapnya lagi. Dalam sekejap mata Tokko Hong telah melempar kendi itu paling tidak sebanyak 8 kali, tapi kendi ini masih tetap berdiri di atas meja. Tokko Hong menatap kendi itu, seolah-olah dia sudah kehilangan kesadarannya.

Sesudah memandangnya beberapa lama, akhirnya dia berbalik dan berkata pada Siau Jiu-ih dengan senyum yang dipaksakan di wajahnya: “Kendi ini kepunyaan setan, tidak bisa dihancurkan!”

Siau Jiu-ih bertanya: “Setan macam apa?”

“Setan arak tentunya!”

“Biar aku yang coba.”

Dia berjalan menghampiri, seakan-akan tidak ada 2 orang lainnya yang duduk di meja itu, tiba-tiba dia mengambil kendi itu dan mendorongnya.

Kendi itu melayang sejauh 20 atau 30 m. Tapi tetap tidak hancur.

Waktu kendi itu terbang, tubuh Liok Siau-hong pun turut serta.

Waktu Liok Siau-hong duduk kembali di kursinya, kendi itu juga kembali ke atas meja.

Siau Jiu-ih mengambilnya lagi dan mendorong, kali ini kendi itu terbang lebih cepat dan lebih jauh.

Dari lahirnya ia memang lelaki yang sangat kuat, dorongannya yang seperti itu mampu memindahkan sebuah balok besi yang berbobot beberapa ratus kilogram.

Tapi kendi itu kembali lagi, diikuti oleh Liok Siau-hong.

Siau Jiu-ih juga terpana sehingga ia bergumam: “Kelihatannya memang ada setan yang memiliki kendi ini, setan arak yang punya sayap.”

Liu Ih-hin tiba-tiba mendengus. Sesudah tertawa sekali, ia pun tiba di meja itu. Ia mengambil kendi itu dengan kedua tangannya, memegangnya erat-erat, dan tiba-tiba mencoba menghancurkannya dengan keningnya.

Orang lain berusaha menghancurkan kendi itu, tapi dia tampaknya mencoba menghancurkan kepalanya sendiri.

Siau Jiu-ih menarik nafas, kali ini kendi itu pasti akan hancur, tapi kepala Liu Ih-hin mungkin keadaannya tidak lebih baik.

Tapi kepala itu tidak rusak dan kendi itu juga tidak hancur.

Tangan Liok Siau-hong tiba-tiba terjulur dan menangkap kendi itu dengan menempatkan tangannya di antara kendi dan kepala Liu Ih-hin.

Liu Ih-hin mendengus lagi dan tiba-tiba dia melompat dan menendang perut Liok Siau-hong. Tendangan ini juga tidak berhasil.

Liok Siau-hong tiba-tiba melompat dan berjumpalitan melewati kepalanya, mendarat di belakangnya, masih menahan kendi arak itu dengan tangannya.

Liu Ih-hin menendang ke belakang, Liok Siau-hong bersalto kembali ke depannya. Tiba-tiba ia menarik nafas dan berkata: “Kendi arak ini adalah kendi kami yang terakhir, kepala itu juga kepalamu yang terakhir, kenapa kau begitu ingin menghancurkan kedua-duanya?”

Liu Ih-hin menatapnya, sebelah matanya yang masih normal seolah-olah sudah berubah jadi seperti matanya yang rusak, terlihat seperti lubang yang gelap dan dalam.

Siau Jiu-ih tiba-tiba tertawa: “Kelihatannya orang ini Liok Siau-hong yang tulen!”

Tokko Hong menyahut: “Oh, ya?”

“Selain Liok Siau-hong, siapa lagi yang mau bersusah-payah hanya untuk sekendi arak?”

Tokko Hong juga tertawa: “Itu benar, tidak banyak orang bodoh seperti ini di dunia!”

Sambil tersenyum Siau Jiu-ih menjauhkan kendi itu dari Liu Ih-hin dan meletakkannya kembali di atas meja.

“Bruk!” Tiba-tiba kendi itu pecah berkeping-keping dan arak di dalam kendi juga tumpah di atas meja — tangan Liu Ih-hin dan tangan Liok Siau-hong tadi telah menyalurkan tenaga dalam ke kendi itu, biarpun kendi itu terbuat dari besi pun ia akan hancur.

Siau Jiu-ih tercengang sebentar, lalu mengeluarkan sebuah senyuman yang agak dipaksakan: “Aneh ya? Bila kau ingin menghancurkannya, eh tidak berhasil; bila kau tidak ingin menghancurkannya lagi, eh malah pecah sendiri!”

Liok Siau-hong menjawab dengan santai: “Banyak kejadian di dunia ini yang terjadi dengan sendirinya dan tidak bisa dipaksakan, jadi kenapa menganggapnya begitu serius?”

Sorot mata Liu Ih-hin tiba-tiba tampak sedih luar biasa dan membuat iba orang lain. Dia berpaling dan berjalan menjauh.

Tampaknya apa yang dikatakan Liok Siau-hong barusan telah mengingatkan dirinya pada suatu rahasia yang terkubur dalam-dalam di benaknya.

Saat itulah sebuah suara yang merdu dan menyegarkan terdengar berkata: “Yang Mulia Tan-hong Kiongcu (Puteri Tan-hong) dari dinasti Rajawali Emas, sang Puteri Burung Hong Merah sendiri, ingin bertemu dengan Liok-toasiauya, Liok Siau-hong.”

Suara itu milik seorang gadis manis berwajah polos yang memiliki mata besar dan berpakaian warna-warni.

Dia baru saja berjalan keluar dari semak-semak pohon kurma yang lebat, tapi tampaknya seluruh bintang-bintang di langit telah pindah ke matanya.

Liok Siau-hong bertanya: “Puteri Burung Hong Merah? Tan-hong Kiongcu?”

Gadis itu memandang dirinya dengan sepasang matanya yang bening dan bersinar, dan tersenyum: “Tan-hong Kiongcu, Burung Hong Merah. Bukan Puteri Siau Hong, burung hong kecil.”

Liok Siau-hong memandang kakek Ho, menarik nafas dan bergumam: “Jadi dia benar-benar seorang puteri!”

Gadis itu menjawab: “Seratus persen asli!”

Gadis itu tersenyum lagi, senyuman yang demikian manis: “Beliau takut kalau Liok-siauya lari lagi, maka dia menunggu di luar!”

Meskipun senyumnya manis, ia berbicara lambat-lambat. Liok Siau-hong hanya bisa balas tersenyum.

Gadis itu menatapnya dan tersenyum lagi: “Beliau menunggu di luar, sekarang pertanyaannya adalah apakah Liok-siauya berani menemuinya atau tidak.”

Kakek Ho tiba-tiba memotong: “Tentu saja dia berani!”

Lelaki tua yang pendiam dan misterius itu tersenyum dan melanjutkan: “Jika dia tidak pergi menemui sang puteri, seluruh rumah teman-temannya mungkin akan segera hancur!”

***

Bintang-bintang berkerlap-kerlip di langit, bulan muda berdiam dengan nyaman di peraduannya yang gemerlapan, tiba-tiba terpancar sebuah aroma yang harum di hutan pohon kurma itu — asalnya bukan dari pohon kurma, itu adalah bau harum bunga.

Ternyata bau harum itu berasal dari seekor anjing, anjing pemburu yang tampaknya sangat kuat, dengan telinga yang panjang dan kaki-kaki yang panjang.

Terlihat sejumlah rangkaian bunga di tubuh anjing itu, dan dia pun membawa sebuah keranjang bunga di mulutnya.

Di dalam keranjang yang penuh bunga itu sekilas tampak kilauan emas, datangnya dari 4 buah emas batangan yang masing-masing berbobot paling sedikit 50 tael.

Gadis tadi mengambil keranjang itu dan berkata dengan manis: “Ini adalah ganti rugi dari puteri kami atas kerugian Losiansing itu, maukah Liok-toasiauya mewakilinya untuk menerimanya?”

Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya: “Untuk apa itu? Karena kalian sudah merobohkan rumahnya?”

Gadis itu mengangguk.

Liok Siau-hong berkata: “Empat buah emas batangan ini totalnya bernilai lebih dari 100 tael, bukan uang yang sedikit!”

Pondok kayu yang kecil seperti itu, dengan 50 tael pun kau akan mendapat beberapa buah, maka tentu saja ganti rugi yang ditawarkan oleh gadis itu memang tidak sedikit jumlahnya.

Gadis itu berkata: “Kami hanya berharap agar pak tua itu mau menerima penghargaan dan penyesalan kami yang kecil ini.”

Liok Siau-hong menjawab: “Dia tak akan mau!”

“Mengapa?”

“Karena dia sama sekali tidak butuh 100 tael perak ini, dan jika ini adalah ganti rugi untuk rumah itu, kelihatannya masih kurang.”

“Emas batangan ini masing-masing bernilai 50 tael!”

“Aku tahu.”

“Ini masih tidak cukup untuk membayar rumah itu?”

“Masih kurang sedikit!”

“Kurang berapa?”

“Berapa jumlahnya, aku tidak terlalu yakin. Tapi kurasa sekitar 30 atau 40 ribu tael lagi baru cukup!”

“30 atau 40 ribu tael apa?”

“30 atau 40 ribu tael emas, tentunya!”

Gadis itu tertawa.

“Kau tidak mempercayaiku?”

Gadis itu tak bisa berhenti tertawa. Mendengar lelucon seperti ini, apa lagi yang bisa ia lakukan selain tertawa? Membayar ganti rugi puluhan ribu tael emas?

Liok Siau-hong tiba-tiba mengambil kursi kayu berukir yang tadi dia duduki: “Apakah kau tahu kursi macam apa ini?”

Gadis itu berkata sambil tertawa: “Kursi untuk diduduki orang!”

“Tapi kursi ini dibuat 400 tahun yang lalu oleh tukang kayu terkenal Loh Tit, dia sendiri yang mengukir hiasan-hiasan ini. Hanya ada 11 buah kursi seperti ini di dunia, 5 ada di istana kaisar, 6 ada di sini, tapi kalian telah menghancurkan 4 buah di antaranya.”

Mata gadis itu terbelalak selebar mungkin ketika ia memandang kursi di tangan Liok Siau-hong, ia pun tertawa semakin keras!

Liok Siau-hong bertanya: “Apakah kau tahu siapa yang tinggal di rumah ini sebelumnya?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Dulu pondok ini adalah tempat peristirahatan musim panas milik pujangga terkenal Liok Hong-ong, ia menuliskan beberapa puisinya di dinding pondok ini, sekarang semuanya telah hancur berkeping-keping.”

Mata gadis itu semakin terbelalak dan ia tampak kaget.

Liok Siau-hong berkata dengan santai: “Setiap potong kayu di rumah ini tidak ternilai harganya, bahkan sekalipun kau datang dengan 40 atau 50 ribu tael emas, itu juga masih kurang.”

Ia tertawa kecil dan melanjutkan: “Untunglah orang tua itu sama sekali tidak ingin kalian membayar kerusakannya, karena 40 atau 50 ribu tael emas hanyalah uang recehan bagi dirinya!”

Gadis itu diam-diam menjilat bibirnya sambil memandang pada si kakek tua dengan tidak percaya.

Kakek Ho masih duduk dengan nyaman di sana, perlahan-lahan ia menghirup setengah cawan arak yang masih tersisa di cawannya, seakan-akan tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting daripada setengah cawan arak itu.

Liok Siau-hong tiba-tiba berpaling pada Tokko Hong, lalu ia tersenyum dan bertanya: “Aku tahu kau memiliki pengetahuan yang luas tentang kejadian-kejadian di dunia ini, maka kupikir kau tentu pernah mendengar siapa orang yang terkaya di dunia!”

Tokko Hong menjawab dengan suara yang berat: “Jika kau bicara tentang tanah, tentu keluarga Hoa di selatan Sungai Tiangkang; jika menyangkut benda-benda berharga, maka keluarga Giam di dalam Tembok Besar di daerah Soasay tengah. Tapi yang benar-benar terkaya, mungkin itulah Ho Siu.”

“Apakah kau tahu orang macam apa Ho Siu ini?”

“Walaupun ia orang terkaya di dunia, ia suka hidup seperti pertapa, maka tidak banyak orang yang pernah melihatnya; Kudengar dia adalah seorang laki-laki tua yang sangat pendiam dan eksentrik, dan ….” Tiba-tiba ia berhenti dan memandang kakek Ho.

Sekarang semua orang akhirnya menyadari bahwa laki-laki tua yang pendiam dan misterius itu adalah Ho Siu, orang terkaya di dunia.

Kakek Ho tiba-tiba menarik nafas dan bangkit dengan perlahan: “Karena semua orang sudah tahu aku tinggal di sini, aku tak bisa tinggal lagi di sini, kenapa kau tidak mengambilnya saja.”

Liok Siau-hong menatap potongan-potongan kayu di atas tanah dan berkata: “Seingatku kau bahkan tidak mau meminjamkannya kepadaku beberapa hari yang lalu.”

Kakek Ho menjawab dengan santai: “Kau sendiri yang mengatakannya, semua benda di sini tak ternilai harganya, bagaimana mungkin aku meminjamkannya pada orang lain?”

“Tapi karena sekarang sudah menjadi kayu biasa, kau pun tak keberatan!”

“Itu benar!”

Liok Siau-hong menarik nafas dan tersenyum: “Akhirnya aku tahu kenapa kau bisa begitu kaya!”

Wajah kakek Ho tidak berubah sama sekali ketika ia menjawab: “Ada sesuatu lagi yang harus kau ketahui.”

“Apa?”

“Bila kau melarikan diri, memang tidak banyak orang yang bisa mengejarmu di dunia ini; tapi selain orang, masih banyak makhluk-makhluk lain di dunia ini, contohnya….”

“Contohnya, seekor anjing pelacak dengan penciuman yang sangat tajam!”

Kakek Ho menarik nafas: “Jadi kau tidak begitu bodoh, mungkin suatu saat kau akan kaya juga!”

______________________________

Kereta hitam itu ditarik oleh seekor kuda berbulu hitam, hitam berkilauan dan gagah. Kereta hitam itu juga tertutupi oleh bunga-bunga dari berbagai warna.

Gadis kecil tadi berkata: “Yang Mulia menantimu di dalam kereta, kenapa kau tidak masuk?”

Liok Siau-hong bertanya: “Masuk?”

“Mmhmm!”

“Lalu?”

“Lalu kereta ini akan membawamu ke suatu tempat yang tidak pernah kau datangi sebelumnya. Kujamin kau tak akan menyesal setelah kita tiba di sana!”

“Tentu saja aku tak akan menyesal, karena aku tidak ikut.”

Gadis itu memandangnya, dia tampak terkejut: “Kenapa tidak?”

“Kenapa aku harus membiarkan diriku dibawa ke suatu tempat yang tidak pernah kudatangi oleh orang yang tidak pernah kutemui sebelumnya?”

Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya: “Karena……. karena kami akan memberimu banyak emas!”

Liok Siau-hong tertawa.

Gadis itu bertanya: “Kau tidak suka emas?”

“Aku suka, tapi aku tidak suka mempertaruhkan nyawaku hanya untuk emas.”

Gadis itu memutar-mutar biji matanya dan kemudian berbisik: “Di dalam kereta begitu nyaman, Yang Mulia pun sangat cantik, dan perjalanan ini cukup panjang, siapa yang tahu apa yang mungkin terjadi di sepanjang perjalanan?”

Liok Siau-hong tersenyum: “Nah, itu lebih manjur untukku!”

Mata gadis itu berkilauan: “Kau mau masuk?”

“Tidak!”

Gadis itu mencibir: “Kenapa tidak?”

Dengan tenang Liok Siau-hong menjawab: “Aku selalu suka wanita cantik, tapi aku tak suka mempertaruhkan nyawaku untuk wanita cantik!”

“Jadi untuk siapa kau mau mempertaruhkan nyawamu?”

“Untuk diriku sendiri.”

“Selain dirimu sendiri, kau tak mau mempertaruhkan nyawamu untuk orang lain di dunia ini?”

“Tidak!”

Mata gadis itu berputar-putar lagi: “Tidak juga untuk Hoa Ban-lau?”

“Hoa Ban-lau?”

Gadis kecil itu berkata dengan nada santai: “Kurasa kau tentu tahu siapa Hoa Ban-lau, ia sedang menunggumu di tempat itu. Jika kau tidak pergi, ia mungkin akan sangat kecewa!”

“Jika dia ingin aku pergi, dia sendiri yang akan datang dan mencariku.”

“Sayangnya dia tidak bisa datang sekarang!”

“Kenapa?”

“Karena dia tidak bisa pergi ke mana-mana sekarang!”

“Kau bilang dia sudah jatuh ke tangan kalian?”

“Kira-kira begitulah!”

Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa, seakan-akan dia baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia ini, dia tertawa begitu kerasnya sehingga tubuhnya terbungkuk.

Gadis kecil itu tak tahan untuk tidak bertanya: “Apa sih yang kau tertawakan?”

Masih sambil tertawa, Liok Siau-hong menjawab: “Kau. Kau masih terlalu kecil, bahkan tak tahu bagaimana caranya berdusta!”

“Oh?”

“Jika kalian bisa mendapatkan Hoa Ban-lau, tentu tidak ada hal di dunia ini yang tak bisa kalian lakukan, lalu apa gunanya datang mencariku?”

Gadis itu tersenyum kecil: “Kau tahu, kau tak sebodoh itu, tapi kau juga tidak cerdas!”

“Oh?”

“Jika kau cerdas, kau tentu menyadari 2 hal sekarang!”

“Oh?”

“Pertama, aku bukan anak-anak lagi, aku adalah Piauci Tan-hong Kiongcu. Dia baru 19 tahun, aku sudah 20 tahun.”

Ucapannya itu membuat Liok Siau-hong tercengang dan dia memperhatikan gadis itu lagi. Tak perduli berapa kali dia memandangnya, dia masih melihatnya sebagai seorang gadis berumur 12 tahun, jauh dari usia 20 tahun.

Gadis itu meneruskan: “Kau tentu tahu bahwa ada orang-orang yang tidak bisa bertambah tinggi, ada nenek-nenek berusia 60 atau 70 tahun yang jauh lebih pendek dariku, kau pernah melihatnya bukan?”

Walaupun ia masih tidak percaya, Liok Siau-hong harus mengakui bahwa ada orang-orang seperti itu di dunia ini.

Gadis itu melanjutkan lagi: “Yang kedua, kau seharusnya tahu bahwa Hoa Ban-lau tidak seperti dirimu!”

“Memang tidak. Dia lebih cerdik dariku!”

“Tapi dia juga orang yang baik!”

“Dan aku tidak?”

“Terutama karena kau bukan orang baik-baik, itulah sebabnya kau tidak mudah mempercayai kebohongan orang lain. Tetapi dia percaya pada semua orang, menipu dia jadi jauh lebih gampang!”

Liok Siau-hong menimbang-nimbang beberapa kali dan tiba-tiba bertanya: “Apakah kau benar-benar berumur 20 tahun?”

“Baru saja mencapai 20 tahun bulan yang lalu.”

Sambil tersenyum Liok Siau-hong berkata padanya: “Orang berusia 20 tahun seharusnya tahu bahwa orang jahat sepertiku tidak akan pernah mau mempertaruhkan nyawanya untuk seorang teman, siapa pun dia!”

Gadis itu menatapnya: “Benarkah?”

“Benar!”

______________________________

Liok Siau-hong telah berada di dalam kereta waktu kereta itu mulai bergerak.

Di dalam kereta juga penuh dengan berbagai jenis bunga, Tan-hong Kiongcu duduk di antara bunga-bunga itu, seperti mawar hitam paling berharga dan tercantik di dunia ini. Biji matanya pun hitam, hitam berkilauan, dia masih memandang pada Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong tidak memandangnya, ia telah menutup matanya, seolah-olah hendak tidur.

Tan-hong Kiongcu tiba-tiba tersenyum dan berkata kepadanya dengan suara yang lembut: “Untuk sesaat tadi kukira engkau tak mau ikut.”

Liok Siau-hong menjawab: “Oh?”

“Kurasa aku dengar kau mengatakan bahwa kau tak akan mau mempertaruhkan nyawamu untuk seorang teman.”

Acuh tak acuh Liok Siau-hong menjawab: “Aku tak akan mempertaruhkan nyawaku untuk seorang sahabat, tapi aku tak keberatan naik kereta demi seorang sahabat.”

Tan-hong Kiongcu tertawa. Waktu ia tertawa, seakan-akan sebuah kebun bunga tiba-tiba mekar seluruh bunganya tepat di hadapanmu.

Liok Siau-hong yang baru saja membuka matanya segera menutupnya kembali.

Dengan manis Tan-hong Kiongcu bertanya: “Kau bahkan tidak memandangku, kenapa?”

“Karena kereta ini sangat kecil, dan aku adalah laki-laki yang tak tahan godaan!”

“Kau takut kalau aku merayumu?”

“Aku tak ingin mempertaruhkan nyawaku untukmu!”

“Bagaimana kau tahu kalau aku akan memintamu untuk mempertaruhkan nyawamu?”

“Karena aku tidak bodoh!”

Tan-hong Kiongcu mengambil sekuntum bunga dan memandangnya; sesudah diam beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas dengan lembut dan berkata: “Kau benar, sebabnya kami datang kepadamu hari ini adalah untuk memintamu melakukan sesuatu untuk kami. Tapi aku tidak akan merayumu, dan memang tidak perlu.”

“Oh?”

“Karena aku tahu ada tipe manusia tertentu yang akan melakukan apa saja untuk seorang sahabat!”

“Tipe seperti apa itu?”

“Tipe sepertimu.”

Liok Siau-hong tersenyum: “Aku bahkan tidak tahu tipe orang seperti apa aku ini, bagaimana mungkin kau yang tahu?”

“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya, tapi aku telah mendengar banyak cerita tentang dirimu.”

Liok Siau-hong mendengarkan, satu-satunya orang di dunia ini yang belum pernah mendengar cerita itu mungkin cuma dirinya sendiri.

Tan-hong Kiongcu berkata: “Kudengar banyak orang yang mengatakan bahwa kau seorang telur busuk, tapi mereka juga mengakui bahwa kau telur busuk yang paling dicintai di dunia ini.”

Liok Siau-hong menarik nafas, dia tak bisa memutuskan apakah itu sebuah penghinaan atau pujian. Tapi akhirnya ia membuka matanya.

Tan-hong Kiongcu meneruskan: “Mereka semua mengatakan bahwa di luarnya kau seperti batu karang yang jatuh ke dalam jamban, keras dan bau; tapi di dalamnya hatimu jauh lebih lunak daripada tahu.”

Liok Siau-hong tersenyum, dia memang hanya bisa tersenyum.

Tan-hong Kiongcu tiba-tiba tertawa kecil dan berkata: “Tentu saja kabar angin seperti itu tidak bisa dipercayai, tapi paling tidak ada satu hal yang memang benar.”

“Dan apa itu?”

“Aku sebelumnya tidak mengerti kenapa mereka bilang kau punya 4 alis, sekarang akhirnya aku faham.”

Liok Siau-hong mengerutkan keningnya. Waktu ia mengerutkan kening, kumisnya pun tampak mengerut.

Tan-hong Kiongcu melanjutkan: “Apakah kau tahu siapa orang yang memberitahukan ini semua kepadaku?”

Sambil mengerutkan keningnya, Liok Siau-hong bertanya: “Hoa Ban-lau benar-benar ada di tempat itu?”

“Mengapa aku harus berbohong padamu? Lagipula kau akan segera bertemu dengannya.”

“Walaupun dia tak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan bahaya yang jauhnya masih 5 km lagi. Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana dia jatuh ke tangan kalian.”

“Karena dia orang baik, dan dia juga laki-laki. Bila seorang laki-laki yang baik bertemu dengan seorang gadis yang banyak akalnya, sangat jarang sekali dia tidak tertipu.”

Dengan dingin Liok Siau-hong bertanya: “Ia bertemu denganmu?”

Tan-hong Kiongcu menarik nafas: “Walau kadang-kadang aku mau memperdaya orang, tapi biarpun kemampuanku meningkat 10 kali lipat pun aku masih tak bisa menandingi Siangkoan Hui-yan.”

“Siangkoan Hui-yan?”

“Kakaknya Soat-ji, Siangkoan Hui-yan.”

“Lalu siapa Soat-ji itu?”

“Soat-ji adalah Piaumoayku, dialah gadis yang tadi mengundangmu masuk ke sini.”

“Dia bukan Piaucimu?”

Tan-hong Kiongcu tertawa: “Dia baru berumur 12 tahun, bagaimana mungkin jadi lebih tua dariku?”

Liok Siau-hong tak tahu apa yang harus ia lakukan, haruskah ia tertawa? Ataukah menangis?

Ia tak bisa percaya kalau dirinya telah diperdayai seperti itu oleh seorang gadis kecil berumur 12 tahun.

Dengan adik seperti itu, bayangkanlah seperti apa sang kakak jadinya?

Melihat mukanya yang setengah tertawa setengah menangis, Tan-hong Kiongcu tertawa nyaring dan berkata: “Setan kecil itu bahkan tidak mengedipkan mata bila dia sedang berdusta, kau juga terperdaya olehnya?”

Liok Siau-hong tertawa masam: “Paling tidak aku jadi bisa membayangkan bagaimana Hoa Ban-lau bisa tertipu.”

“Walaupun dia berada di tangan kami, tapi kami memperlakukan dia dengan sangat hormat. Bukan hanya karena dia sahabatmu, tapi juga karena kepribadiannya.”

“Memang begitulah dia.”

“Kau dan dia, dan Cu Ting juga, tampaknya telah bersahabat sejak kecil, bukan?”

“Tampaknya kau mengetahui semua yang perlu diketahui tentang diriku.”

Tan-hong Kiongcu tersenyum: “Sejujurnya, untuk menemukanmu, kami telah mempersiapkan ini selama 7 bulan.”

Liok Siau-hong menarik nafas: “Jika kau mempersiapkan diri selama 7 bulan untuk menemukan seseorang, maka orang itu pasti sangat tidak beruntung.”

Tan-hong Kiongcu menjawab dengan lembut: “Tetapi kami tidak ingin menyakiti kalian!”

Liok Siau-hong tersenyum agak pahit.

Tan-hong Kiongcu meneruskan: “Walaupun hal yang kami minta untuk kau lakukan itu berbahaya, tapi aku yakin kau dapat melakukannya tanpa masalah.”

Ia menatap Liok Siau-hong, wajahnya penuh dengan kekaguman dan kepercayaan.

Liok Siau-hong pun bertanya: “Kalian ingin aku melakukan apa?”

Dengan bimbang Tan-hong Kiongcu menundukkan kepalanya dan menjawab: “Aku tak boleh memberitahumu dulu, kau akan segera mengetahuinya.”

“Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong semuanya juga ikut karena urusan ini?”

Tan-hong Kiongcu mengangguk dan tertawa: “Mendapatkan mereka tidaklah gampang, tapi masih jauh lebih mudah daripada mendapatkanmu.”

Liok Siau-hong bertanya lagi: “Bagaimana caranya kau mendapatkan mereka bertiga?”

Tan-hong Kiongcu tersenyum: “Setiap orang punya kelemahan, mereka pun tak akan dapat menduga bagaimana caranya aku mendapatkanmu.”

Ia menudingkan bunga di tangannya ke wajah Liok Siau-hong dan melanjutkan: “Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, Tokko Hong, Hoa Ban-lau, dan terakhir kamu. Jika ada sesuatu di dunia ini yang tidak bisa kalian berlima melakukannya, maka hal itu memang tak mungkin dilakukan.”

Kabut putih muncul di sekeliling kereta, cahaya yang masuk ke dalam kereta pun semakin lemah.

Liok Siau-hong menatap bunga di tangan gadis itu, bunganya indah, tapi tangan itu jauh lebih indah.

Tan-hong Kiongcu menggunakan tangannya yang lembut dan halus untuk menancapkan bunga itu di baju Liok Siau-hong dan kemudian berkata dengan lembut: “Lebih baik kau tidur sebentar.”

“Mengapa?”

Tan-hong Kiongcu menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara yang makin lembut dan semakin lembut: “Karena aku bisa kehilangan kendali dan merayumu.”

______________________________

Kereta itu berjalan terus menembus kabut yang tebal. Walaupun kabutnya tebal, itu adalah kabut di waktu fajar, maka perlahan-lahan malam pun akan berakhir.

Liok Siau-hong bersandar di dinding kereta, tampaknya ia tertidur.

Tan-hong Kiongcu berkata dengan lembut: “Tidurlah, dengan begitu kau dapat bertemu dengan beliau di waktu kau bangun nanti.”

Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak membuka matanya lagi: “Siapa beliau itu?”

“Tay-kim-peng-ong.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: