Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Pendekar Baja (05)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:22 am

Pendekar Baja (05)
Oleh Gu Long

“Betul,” sambut It-siau-hud, “syukurlah saudara Thi bernyali besar, kalau tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapat anak harimau?”

Bersama Thi Hoat-ho segera mereka memasuki pintu pertama di sebelah kanan, sempat It-siau-hud menoleh, “Mo Si, Seng Ing, kalian berani ikut?”

Mo Si dan Seng Ing saling pandang, terpaksa mereka mengeraskan kepala dan buru-buru ikut masuk ke sana.

Cu Jit-jit mengawasi Sim Long, tanyanya, “Bagaimana kita?”

Sim Long mengawasi Thi Hoat-ho berempat lenyap di balik pintu, cahaya api makin jauh, tiba-tiba mulutnya menyungging senyum aneh, katanya sambil mengawasi si anak merah, “Bagaimana pendapatmu?”

Dengan gemetar si anak merah menjawab, “Kita pulang saja, di sini pasti ada ….” sebelum mengucapkan “setan”, mendadak Sim Long bergerak secepat kilat mencengkeram tangan dan menutuk Hiat-to lengan si anak merah.

Keruan Cu Jit-jit kaget, teriaknya, “Apa yang kau lakukan?”

“Kau kira dia ini adikmu?” Sim Long menyerahkan obor kepada Jit-jit, lalu membentak, “Coba lihat siapa dia.”

Sekali raih dia copot kedok muka si anak merah, maka tertampaklah seraut wajah yang penuh keriput.

Ternyata waktu si anak merah berlari masuk ke dalam gua tadi, sebetulnya dia sudah berubah jadi Hoa Lui-sian.

Keruan tambah kaget Cu Jit-jit serunya, “Mana Pat-te? Kau … kau apakan dia?”

Karena Hiat-to tertutuk dan tertawan, Hoa Lui-sian tampak gugup dan takut, sahutnya dengan menunduk, “Lo-pat kena kututuk dan kubungkus dengan kantong kulit serta kusembunyikan, dalam waktu dekat jelas tidak akan apa-apa.”

Baru sekarang Jit-jit ingat waktu berlari masuk gua tadi, untuk sesaat lamanya baru si anak merah menyusul masuk, di luar gua dia menjerit sekali, tentu saat itulah dia ditutuk dan dibelenggu oleh Hoa Lui-sian, setiba di dalam gua meski dia merasakan suara adiknya agak berubah, tapi dia kira adiknya ketakutan hingga suaranya sumbang, maka ia pun tidak memerhatikan lebih lanjut.

Kini baru dia sadar bahwa Hoa Lui-sian telah menipu dirinya, ia menjadi gemas, serunya dengan mengentak kaki, “Kau … kenapa kau sekeji ini terhadapnya?”

Makin rendah Hoa Lui-sian menundukkan kepala, Cu Jit-jit tambah beringas, “Ayo bicara, katakan … aku ingin tahu, sebab apa kau sampai hati melakukan semua ini terhadapku.”

Sim Long berkata, “Bukan kau saja yang dipermainkan, tadi sinar api berkelebat di luar pintu juga permainannya, ketika pandangan orang banyak tertuju ke sana, secepat kilat dia sambar lencana besi di atas meja itu dan disembunyikan, diam-diam dia pukul pula punggung Mo Si, orang lain anggap dia anak kecil, sudah tentu takkan curiga padanya, tentang jeritannya tadi ia bilang ada orang mencubitnya, sudah tentu karena disengaja ….”

Berhenti sejenak, lalu Sim Long menambahkan dengan tertawa, “Karena yang terakhir itulah, maka dapat kuketahui permainannya, coba kau pikir, dia memakai topeng, lalu siapa bisa mencubit mukanya?”

Dengan melongo Cu Jit-jit mendengarkan penjelasan Sim Long, kini baru dia menghela napas lega, katanya, “Ternyata betul dia, semua adalah perbuatannya, hampir saja aku mati ketakutan.”

“Yang hampir mati ketakutan bukan kau seorang saja,” ujar Sim Long dengan tersenyum.

“Kita sekeluarga baik-baik padanya, menganggapnya sebagai orang sendiri, kenapa dia tega melakukan semua ini untuk menakuti kami dan membekuk adik Pat lagi ….” makin bicara makan gusar Jit-jit, mendadak dia menampar muka Hoa Lui-sian, “Katakan, kenapa, kenapa?”

Mendadak Hoa Lui-sian angkat kepala, dia awasi Cu Jit-jit, sorot matanya memancarkan rasa benci, tapi mulutnya tetap terkancing, satu kata pun tak mau bicara. Sudah sekian tahun Cu Jit-jit berkumpul dengan dia, belum pernah dia dipandang sebengis dan sebuas ini, ia merasa ngeri.

Mendadak Hoa Lui-sian berteriak kalap, sekuat tenaga kedua kaki menendang selangkangan Sim Long.

Dengan sedikit mengegos, dengan enteng Sim Long menghindarkan diri. Agaknya karena tamparan Cu Jit-jit hingga sifat buas Hoa Lui-sian kumat, seperti binatang liar kelaparan, kaki tangannya bekerja, menyerang serabutan dengan kalap, namun urat nadinya terpegang, ujung baju Sim Long saja tak mampu disentuhnya.

Tiba-tiba Hoa Lui-sian menyeringai hingga giginya yang putih tertampak, mendadak dia menunduk terus menggigit punggung tangan Sim Long, tapi sekali tarik dan angkat tangannya, Sim Long berbalik menelikung tangan Hoa Lui-sian.

Dalam keadaan ditelikung, meski Hoa Lui-sian punya kepandaian setinggi langit juga mati kutu dan tak mampu melawan lagi, tapi rasa gusar yang terbayang di mukanya sungguh membuat orang ngeri.

Sim Long berkata lembut, “Kutahu kau sengaja melakukan berbagai adegan menakutkan itu supaya kami mengundurkan diri dari kuburan kuno ini, tapi apa maksud tujuanmu? Mungkinkah dalam kuburan ini ada rahasianya? Kau tidak suka kami tahu rahasia itu? Atau mungkin pribadimu sendiri ada sangkut pautnya dengan kuburan ini? Asal kau mau bicara secara blakblakan, aku pasti tidak akan menyakiti kau.”

“Lepaskan tanganmu, nanti aku bicara,” serak suara Hoa Lui-sian.

Sim Long tersenyum, katanya, “Kalau aku membebaskan kau, sukar lagi menangkapmu.”

Hoa Lui-sian menggerung geram, tiba-tiba ia jumpalitan ke belakang, kedua kakinya terus menendang, sasarannya adalah dada Sim Long. Tapi sekali mengentak tangannya, Sim Long sampuk kedua kaki orang.

Hoa Lui-sian mengertak gigi, desisnya, “Baik, kau menyiksa diriku, nanti akan kubikin kau mati tanpa terkubur, lidahmu akan kupotong, biji matamu kukorek, gigimu kupreteli satu per satu, rambutmu kucabuti sebatang demi sebatang ….”

Cu Jit-jit mengirik, katanya dengan suara gemetar, “Tutup mulut … jangan kau katakan lagi.”

Hoa Lui-sian menyeringai, “Baru kujelaskan dan kau sudah ketakutan, bila kupraktikkan, apa pula yang bakal terjadi atas dirimu? Lekas suruh dia lepaskan aku, kalau tidak ….”

Cu Jit-jit membanting kaki, katanya, “Kau terluka parah dan hampir mati, keluargaku menolongmu dan merawat dan memberikan segala keperluanmu, kau difitnah orang, aku berusaha membantumu, dulu perbuatan kejammu memang kelewat batas, tengah malam kau sering mengigau, sering aku tidur mendampingimu, siapa tahu … siapa tahu beginilah imbalan yang kuterima darimu ….” sampai di sini, saking sedih tak tertahan lagi bercucuran air matanya.

Hoa Lui-sian tertegun, perlahan dia menunduk, air mukanya yang masih beringas menampilkan rasa menyesal juga, mulut terbuka hendak bicara, tapi urung.

Sim Long berkata pula, “Kenapa kau berbuat demikian? Kenapa sejauh ini kau masih tetap bungkam? Mungkinkah ada orang di dalam kuburan kuno ini yang harus kau lindungi, mungkinkah orang itu sanak saudaramu ….”

Hoa Lui-sian membentak dengan beringas, “Dari mana kau bisa tahu?” cepat sekali dia menyadari telah kelepasan omong, dampratnya gusar, “Binatang cilik, kau … jangan harap kau bisa memancing sepatah kata pun dari mulutku.”

Berubah air muka Sim Long, tapi tetap tenang dan sabar, katanya perlahan, “Siapa nyana Hoa-hujin masih punya sanak kadang yang masih hidup di dunia ini, demi mereka kau perlu bicara terus terang, setelah kau jelaskan kesulitanmu, mungkin kami dapat berusaha membantumu, kalau tidak, umpama kami berhasil kau kelabui, tapi rahasia kuburan kuno ini juga akan tersiar luas, cepat atau lambat seluk-beluk di sini pasti ketahuan orang banyak, bila urusan sudah telanjur begitu, menyesal pun sudah terlambat.”

Tiba-tiba tampak Hoa Lui-sian melelehkan air mata, ucapnya dengan suara gemetar, “Kalau kuterangkan, apa benar akan kau bantu aku?”

“Kalau aku tidak mau membantu, kenapa tidak kubongkar saja rahasiamu di depan mereka, kau orang pandai, masa hal demikian tidak bisa kau pikirkan?”

“Baiklah,” akhirnya Hoa Lui-sian mengertak gigi. “Dua puluh tahun yang lalu, kami sudah tahu di tempat ini terdapat kuburan kuno yang menyimpan harta karun, waktu itu meski Cap-sa-thian-mo sedang jaya-jayanya dan malang melintang di Bu-lim, tapi setiap saat kami harus hati-hati menghadapi musuh yang selalu akan menyergap, maka tak sempat kami kemari mengeduk harta karun ini. Kemudian setelah tragedi di Heng-san, Cap-sa-thian-mo gugur seluruhnya, terpaksa rahasia kuburan kuno ini kusimpan dalam hati, tak tersangka rahasia ini akhirnya terbongkar juga.”

“Jadi demi mempertahankan rahasia kuburan kuno ini, supaya harta itu tidak dikeruk orang lain, maka sengaja kau lakukan semua ini?”

Muka Hoa Lui-sian tampak berkerut-kerut. “Bukan,” sahutnya singkat.

Cu Jit-jit melengak, “Lalu karena apa?”

“Karena … karena orang yang jadi korban di dalam kuburan ini, semua terkena Lip-te-siu-hun-san (bubuk beracun). Padahal Lip-te-siu-hun-san adalah resep terahasia keluarga Hoa kami, di kolong langit ini kecuali Toakoku, Siau-hun-thian-mo Hoa Kin-sian, siapa pun tak mampu meraciknya.”

Sim Long dan Jit-jit sama berubah air mukanya, kata Jit-jit, “Siau-hun-thian-mo Hoa Kin-sian, bukankah dia sudah mati dalam tragedi Heng-san dulu?”

“Lima hari setelah tragedi Heng-san itu, dunia persilatan kacau-balau, banyak tersiar kabar angin yang bersimpang-siur, tapi siapa pun tiada yang tahu duduk perkara yang sebenarnya. Kala itu hati setiap orang bingung dan gelisah, banyak pula yang hampir gila, Cap-sa-thian-mo waktu itu dipecah menjadi dua rombongan dan naik ke atas gunung, akhirnya semua tercerai-berai, aku hanya mendengar bahwa Toako Hoa Kin-sian mati di parit Loan-hun-kian, tapi tak kutemukan mayatnya.”

“Jadi kabar kematian Engkohmu itu harus diragukan?”

“Kukira demikian.”

“Jika demikian … bukan mustahil Toakomu itu sekarang berada di dalam kuburan ini?”

“Kukira begitu,” kata Hoa Lui-sian, “bahwa Lip-te-siu-hun-san muncul dalam kuburan ini, kuyakin Siau-hun-thian-mo pasti berada di sini juga.”

Tiba-tiba Sim Long tersenyum, katanya, “Lip-te-siu-hun-san itu kemungkinan diracik oleh sukma Toakomu di dalam kuburan kuno ini.”

Hoa Lui-sian tergetar, tapi segera dia menyeringai, katanya, “Umpama benar yang menghuni kuburan ini adalah sukma Toakoku, aku pun akan membantunya, orang luar dilarang mengganggu tempat ini.”

Mendadak dengan tangan kiri dia merogoh keluar lencana basi dari kantongnya, katanya pula, “Kau tahu apa ini?”

Di bawah sinar obor yang dipegang Cu Jit-jit, Sim Long mengawasinya dengan tajam, tampak di dalam lencana yang legam itu, seperti ada bayangan yang bergerak, lencana besi sekecil ini ternyata mengandung sesuatu kekuatan yang gaib.

Mau tak mau berubah air muka Sim Long, katanya, “Bukankah ini Thian-hun-ling milik Hun-bong-siancu, senjata rahasia beracun nomor satu pada masa lampau?”

“Pandanganmu memang tajam,” puji Hoa Lui-sian.

Cu Jit-jit terkesiap, serunya, “Thian-hun-ling yang pernah menggetarkan dunia kini muncul kembali, jadi Hun-bong-siancu, si perempuan iblis itu juga belum mati?”

“Mati-hidup orang lain tidak berani kupastikan, tapi dulu waktu Hun-bong-siancu mati di bawah ilmu jari Kian-kun-te-it-ci yang dilancarkan Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun, aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.”

Berubah air muka Cu Jit-jit, katanya, “Barang milik orang mati, bagaimana bisa … bisa berada di sini?”

Hoa Lui-sian tertawa dingin, “Jik-sat-jiu-sin-kang, Lip-te-siu-hun-san, Thian-hun-ling, semua ini milik orang yang sudah mati, tapi kenyataan sekarang muncul bersama di dalam kuburan kuno ini, hal ini menandakan sukma yang menghuni kuburan ini tidak hanya satu. Waktu hidup mereka aku adalah saudaranya, sesudah mereka mati aku tetap menjadi sahabat setannya, tempat suci mereka ini siapa pun dilarang mengganggunya, maka kuanjurkan lekas kalian keluar saja, kalau tetap bandel, kalian akan menerima nasib seperti It-siau-hud, Thi Hoat-ho dan lain-lain.”

“Bagaimana nasib mereka?” tanya Sim Long. Tiba-tiba didapatinya pintu ke mana tadi It-siau-hud, Thi Hoat-ho berempat pergi kini telah tertutup tanpa mengeluarkan suara.

Sim Long memusatkan perhatiannya kepada Hoa Lui-sian, maka tidak tahu kapan pintu itu tertutup.

“Hah … pintu … pintu itu ….” Jit-jit terbeliak.

Hoa Lui-sian tertawa terkial-kial, katanya, “Baru sekarang kalian sadar? …. Dalam kuburan ini akan bertambah beberapa setan baru lagi, kalau aku tinggal di sini juga tidak akan kesepian. Mengingat hubungan masa lalu, baiklah kuanjurkan kalian lekas pergi saja ….”

Sim Long melirik ke sana, dia yakin delapan pintu ini dibangun dengan perhitungan Pat-kwa, katanya sambil berkerut alis, “Mereka pergi lewat pintu hidup, mana mungkin mengalami nasib jelek?”

Sambil menarik Hoa Lui-sian dia melompat ke sana, dengan sepenuh tenaga dia memukul pintu, “blang”, pintu itu kukuh kuat bergeming, jelas daun pintunya berat dan tebal, kekuatan tangan siapa pun takkan mampu menjebolnya.

Getaran keras berpadu dengan suara gelak tertawa sehingga menimbulkan gema yang lebih keras.

Mendadak belasan lelaki yang membawa obor berbondong masuk, karena gema pukulan dan suara tertawa tadi hingga langkah orang banyak ini tidak terdengar. Setelah mereka tiba di ambang pintu baru Sim Long menoleh, tampak yang berdiri paling depan adalah Beng Lip-jin dan Ban-su-thong.

Sim Long segera menyapa, “Beng-heng juga datang, sungguh aku ….”

Belum habis bicara, beberapa orang di belakang Beng Lip-jin tiba-tiba meraung, “Budak jalang, ternyata kau berada di sini, kami susah payah mencarimu ke mana-mana.”

Mereka ternyata adalah Joan-hun-yan Ih Ji-hong, Pok-thian-tiau Li Ting, Sin-gan-eng Pui Jian-li dan Congpiauthau Can Ing-siong dari Wi-bu-piaukiok.

Beberapa orang ini telah mengejar sampai Pit-yang, meski tidak menemukan Cu Jit-jit, tapi bersua dengan Beng Lip-jin. Karena Beng Lip-jin memang kenalan lama mereka, dalam omong-omong dia menuturkan rahasia kuburan kuno ini, malah mendesak mereka untuk ikut ke sini.

Pui Jian-li dan Can Ing-siong memang manusia tamak, setelah dibujuk oleh Beng Lip-jin dan Ban-su-thong, akhirnya mereka ikut kemari.

Cu Jit-jit melirik sekejap, bisiknya, “Wah, celaka, beberapa musuh ini datang ….” tiba-tiba dia melejit ke sana dan menyelinap masuk pintu lain, sengaja dia berhenti dan menoleh, “Di dalam banyak setan pencabut nyawa, apa kalian berani masuk kemari?”

Ia melirik ke arah Sim Long, apa boleh buat sambil menyeret Hoa Lui-sian Sim Long ikut masuk ke sana.

Bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Cu Jit-jit sudah lenyap di tengah kegelapan. Sim Long menyusulnya, katanya, “Besar amat nyalimu, berani sembarangan main terobos.”

“Bekerja jangan kepalang tanggung, makin menakutkan cerita Hoa Lui-sian, makin kuingin tahu, toh dia ikut pula, peduli Engkohnya masih hidup atau sudah mati, sedikit banyak pasti akan memberi kelonggaran kepada kita. Apalagi daripada aku dikerubuti oleh Pui Jian-li dan begundalnya, lebih baik aku mati diterkam setan.”

Sim Long menghela napas, katanya, “Setan juga pasti pusing menghadapi kebinalanmu.”

“Blang”, tiba-tiba daun pintu di belakang tertutup sendiri, maka cahaya api dan orang-orang di luar terputus hubungan. Padahal obor di tangan Cu Jit-jit sudah padam, keadaan menjadi gelap gulita.

*****

Sementara itu Pok-thian-tiau Li Thing sedang marah-marah kepada Pui Jian-li, “Toako, kenapa kau larang aku mengejar, kenapa membiarkan musuh melarikan diri?”

Pui Jian-li menyeringai, katanya, “Mereka masuk lewat Si-bun (pintu mati), jelas mereka tidak bisa hidup lagi, buat apa kita susah-susah mengejarnya?”

Betul juga, daun pintu dimaksud tiba-tiba anjlok dan menutup lorong itu.

Li Ting mengelus dada, katanya, “Sungguh berbahaya, syukur Toako paham Kim-bun-pat-kwa, kalau tidak mungkin Siaute ikut terkurung di sana.”

Pui Jian-li mendelik, katanya, “Tapi sebaliknya, bila yang sembunyi di dalam kuburan ini orang hidup, Kim-bun-pat-kwa dengan sendiri berguna, jika dihuni oleh hantu … hehehe meski Khong Beng menjelma kembali juga takkan lolos dari kematian.”

Joan-hun-yan Ih Ji-hong berkata, “Budak itu kepepet dan masuk ke jalan buntu, anggaplah penasaran sudah terlampias, kini lebih baik kita keluar saja, supaya tidak mengalami kesulitan.”

Can Ing-siong dan lain-lain diam saja, agaknya mereka terbujuk, maklum meski mereka punya nyali besar, setelah masuk ke sarang hantu ini ciut juga nyali mereka.

Diam-diam Ban-su-thong memberi kedipan mata kepada Beng Lip-jin, orang yang belakangan ini segera berseru lantang, “Harta karun yang terpendam di dalam kuburan kuno ini mungkin tiada bandingan di kolong langit, setelah berada di sini, kenapa pulang dengan tangan kosong? Peduli ada setan atau hantu, kita sebanyak ini masa takut?”

“Jika kalian takut, silakan mundur saja,” demikian kata Ban-su-thong, “Cuma aku dan Beng-heng … hehe, betapa pun harus masuk ke sana.”

Can Ing-siong berkata dengan gusar, “Siapa yang takut? Wi-bu-piaukiok tiada orang yang pernah mundur di medan laga. Ayo kita terjang masuk bersama.”

Serentak mereka terus menerobos masuk ke sana.

Sin-gan-eng Pui Jian-li mendengus, “Kami Hong-lin-sam-ciau juga bukan orang yang takut urusan, tapi juga bukan orang bodoh yang ceroboh dan sok berani, umpama kita ingin terjang juga harus dirundingkan bersama, Can-congpiauthau, coba katakan, apakah kau ada pendapat?”

Can Ing-siong balas bertanya, “Lalu bagaimana menurut pendapat saudara Pui?”

Pui Jian-li berkata, “Jumlah kita kebetulan dapat dibagi menjadi dua rombongan untuk mencari jalan dan rombongan lain tetap tinggal di sini, kita ikat dengan tali panjang supaya yang masuk tidak kesasar dan bisa kembali.”

Beng Lip-jin berkeplok, katanya, “Pui-heng memang teliti, lalu siapa yang akan mencari jalan?”

“Biar kubicarakan dulu dengan Can-congpiauthau untuk menentukan siapa yang akan bertanggung jawab,” kata Pui Jian-li.

Can Ing-siong juga setuju menggunakan cara yang diusulkan Pui Jian-li.

Pui Jian-li lantas sembunyikan sebelah tangannya ke belakang punggung, katanya, “Congpiauthau boleh tebak jariku ganjil atau genap?”

Can Ing-siong termenung sejenak, lalu berkata, “Ganjil.”

Pui Jian-li tersenyum dan acungkan dua jarinya, katanya, “Genap!”

Can Ing-siong berteriak, “Baik, kami akan membuka jalan, semua anak murid Wi-bu ikut aku.”

Diam-diam Beng Lip-jin membatin, “Pui Jian-li memang licin, jari tangan sendiri disembunyikan di punggung, kalau Can Ing-siong menebak ganjil dia ulurkan dua jari, sebaliknya kalau Can Ing-siong menebak genap, dia lantas acungkan tiga jari, undian cara begini biarpun sampai dunia kiamat juga Can Ing-siong jangan harap bisa menang …. Namun semua orang sudah berada dalam kuburan kuno ini, siapa pun jangan harap bisa lolos sendirian, apa pula bedanya kalah atau menang?”

Maka dia lantas berseru, “Mari, kutemani Can-heng membuka jalan.”

Pui Jian-li segera mengeluarkan tali panjang, ujung tali yang lain dia serahkan kepada Can Ing-siong, katanya, “Congpiauthau, ikat ujung tali ini pada pinggangmu, bila tali ini habis rentang, di mana pun kau berada harus segera kembali, sepanjang jalan harus meninggalkan tanda. Bila di tengah jalan mengalami sesuatu, cukup kau tarik tali ini dan kami akan segera memberi pertolongan.”

“Ya, kutahu,” ujar Can Ing-siong. Lalu dia ikat ujung tali di pinggangnya, lalu berseru, “Ikut aku!”

Ia angkat obor ke atas dan melangkah lebih dulu memasuki pintu tebal itu, di antara Piauthau yang mengintil di belakangnya seorang berkata dengan gemetar, “Kalau pintu ini jatuh, bukankah kita akan tertutup di dalam?”

“Jangan khawatir,” ujar Li Thing, “kalau pintu ini anjlok ke bawah, aku bersama Ih-samte masih kuat menyangganya beberapa saat, bila Can-toako menarik tambang, kalian masih sempat lari balik.”

Can Ing-siong bergelak tertawa, katanya, “Orang bilang Pok-thian-tiau selain Ginkangnya tinggi juga memiliki tenaga raksasa, agaknya memang bukan julukan kosong. Baiklah, kami mohon bantuan dan perhatian Li-heng saja.”

Habis bicara bersama Beng Lip-jin dan sembilan orang lain beruntun mereka berjalan masuk, sembilan obor cukup menerangi lorong panjang di balik pintu besar itu.

Setelah kesembilan orang itu pergi jauh, Li Thing berteriak, “Can Ing-siong memang seorang lelaki sejati, gagah dan berani.”

“Sayangnya terlalu bodoh,” jengek Pui Jian-li.

*****

Can Ing-siong jalan paling depan, langkahnya tegap dan mantap. Lorong rahasia ini tingginya antara dua tombak, berliku-liku, panjang seperti tidak berujung. Banyak pintunya pada kedua sisi, semua tertutup, didorong juga tak terbuka.

Beng Lip-jin berjalan paling belakang, membawa golok dengan wajah mengulum senyum, sikapnya tenang dan seolah-olah percaya umpama kedelapan orang lain mati semua juga dirinya takkan mengalami bahaya apa pun.

Setelah menempuh perjalanan beberapa kejap, mendadak Beng Lip-jin menggunakan goloknya memotong tali panjang itu, orang yang berjalan di depan sudah tentu tiada yang tahu, cepat Beng Lip-jin menyusul ke depan dan berkata, “Can-heng, sudah ada yang kau temukan?”

Can Ing-siong menggeleng, katanya sambil menghela napas, “Kuburan kuno ini ternyata sangat besar ….”

Tiba-tiba dilihatnya daun pintu di depan seperti setengah terbuka, di balik pintu kelihatan ada sinar api yang bergerak, tersirap darah Can Ing-siong, katanya gemetar, “Mungkinkah di sini dihuni orang?”

Cepat dia melompat maju seraya melongok ke dalam.

Tampak di balik pintu adalah sebuah kamar batu segienam, setiap sudut ditaruh sebuah peti mati, paling tengah terdapat sebuah lampu tembaga yang memancarkan sinar yang redup, tiada bayangan manusia, entah siapa yang menyalakan dan menaruh lampu tembaga itu di situ, suasana terasa dingin mencekam, mendirikan bulu roma.

Can Ing-siong menarik napas, katanya, “Masuk tidak?”

Beng Lip-jin berkata setelah berpikir sejenak, “Lebih baik kita tarik tali, supaya Pui-heng dan lain-lain menyusul kemari baru kita bicarakan bersama.”

“Baik,” kata Can Ing-siong, segera dia hendak menarik tali, makin tarik makin cepat dan terasa enteng, tiba-tiba air muka Can Ing-siong berubah, tarikannya dipercepat, mendadak dilihatnya tambang itu putus seperti bekas ditebas senjata tajam, seorang lantas menjerit, “Lekas kita mundur.”

Beng Lip-jin membanting kaki, katanya gemas, “Ini … siapa yang melakukan? Urusan sudah telanjur, mundur juga sudah terlambat, lebih baik kita terjang saja ke depan, apa pun kita harus lihat apa yang berada di depan.”

Can Ing-siong bimbang sekian lamanya, katanya kemudian, “Mati-hidup ditentukan takdir, bila Can Ing-siong hari ini mati di sini … ai, biarlah, ayo terjang.”

Segera dia menyelinap masuk ke dalam kamar batu lebih dulu.

Beng Lip-jin berkata, “Biar aku jaga pintu, lekas kalian masuk!”

Wajah orang banyak kelihatan pucat, langkah pun merandek bimbang.

Beng Lip-jin melirik dan berkata pula, “Peti mati tembaga itu bukan mustahil berisi harta karun ….”

Belum habis ucapannya, orang banyak lantas berdesakan berebut masuk. Ujung mulut Beng Lip-jin mengulum senyum sinis, ia malah menyurut mundur dan mendorong pintu, pintu ini pakai pegas, “blang”, daun pintu lantas tertutup rapat.

Waktu orang-orang di dalam menoleh, daun pintu sudah tertutup, maka terdengarlah teriakan kaget dan panik orang-orang di dalam.

Pada saat itu satu bayangan kelabu berkelebat di ujung lorong, gerak-geriknya tidak menimbulkan suara, Lip-jin tidak menyadari akan kedatangan orang ini, dengan menyeringai dia bergumam, “Can Ing-siong, jangan kau salahkan aku, soalnya ….”

Tiba-tiba ada suara dingin menukas perkataannya, “Kau telah menjalankan tugas dengan baik, sekarang lekas kau putar balik dan tarik tambang itu dan memancing Pui Jian-li dan lainnya masuk kemari untuk mengantar kematian mereka.”

Beng Lip-jin tahu suara ini diucapkan orang berjubah kelabu itu, saking ketakutan lututnya sampai gemetar, namun sekuatnya dia melangkah ke depan, didengarnya suara seperti hantu itu berkata, “Jalan terus, jangan berpaling, perhatikan keselamatan jiwamu sendiri, bila menoleh nasibmu akan serupa mereka.”

*****

Di sebelah luar, perhatian Pui Jian-li tertuju pada tambang. Li Thing dan Ih Ji-hong berdiri di kanan-kiri pintu di mana tadi Can Ing-siong dan rombongannya masuk. Setelah tambang tertarik makin kencang, mendadak tidak ada gerakan apa-apa lagi. Pui Jian-li tidak tahu kalau tambang sudah putus, maka dia berkerut kening, katanya, “Kenapa Can Ing-siong tidak maju lebih jauh, mungkin sudah menemukan sesuatu ….”

Mereka menunggu dalam keheningan, menunggu reaksi, terasa sang waktu berjalan teramat lambat, kaki-tangan terasa dingin, deru napas mereka pun bertambah berat, entah berapa lama kemudian mendadak tambang ditarik dan disendal tiga kali, Li Thing segera berteriak, “Agaknya terjadi sesuatu di dalam, lekas kita beri bantuan!”

Pui Jian-li tertawa dingin, katanya, “Apa betul kau mau memberi bantuan, atau mau mengantar kematian?”

Li Thing melenggong, katanya tergegap, “He, ini ….”

Berputar biji mata Ban-su-thong, katanya mendadak, “Bukan mustahil Can Ing-siong telah menemukan harta karun, kalau kalian tidak mau masuk, biar aku pergi dahulu.”

Segera dia menyelinap masuk lebih dulu.

Berubah air muka Pui Jian-li, ia diam sebentar, mendadak dia berkata, “Dengan orang she Can kita tidak ada hubungan, tapi peraturan Kangouw patut dijunjung tinggi, marilah kita masuk membantu mereka.”

Lalu dia pimpin orang banyak berbondong masuk ke dalam, Li Thing dan Ih Ji-hong berada paling belakang.

Diam-diam Ban-su-thong membatin, “Rase tua ini banyak muslihatnya, mulutnya manis hatinya jahat, jelas dia mengincar harta karun, namun mulutnya bicara gagah, kali ini biar kau tahu rasa.”

Baru beberapa langkah orang banyak masuk, daun pintu tiba-tiba menutup sendiri.

Ih Ji-hong tahu lebih dulu, teriaknya panik, “Celaka, kita masuk perangkap.”

Pui Jian-li juga tersirap kaget, waktu dia berlari balik memeriksa, meski dengan gabungan seluruh kekuatan mereka juga jangan harap bisa membuka daun pintu berat ini, baru sekarang dia berkata dengan ngeri, “Kita terpaksa maju, ayolah terjang saja.”

Tapi beberapa langkah kemudian baru dia sadar bahwa tambang panjang itu ternyata putus.

Orang banyak sama pucat, suara Li Thing gemetar, “Can Ing-siong dan … dan yang lain entah ke mana? Mungkin sudah celaka?”

Dingin muka Pui Jian-li, bibirnya tertutup rapat, matanya menatap tajam ke depan, langkahnya perlahan, walau hati orang banyak sama kebat-kebit, tapi urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa orang banyak mengintil di belakangnya.

Mendadak ditemukan sebuah obor yang telah padam di depan sebuah pintu yang tertutup, walau apinya padam, rasanya masih hangat, jelas obor ini padam belum lama ini. Lekas Pui Jian-li jemput obor itu, katanya perlahan, “Obor ini memang milik mereka, agaknya ….” mendadak ia tutup mulut terus melangkah ke depan.

Walau dia tidak melanjutkan perkataannya, semua orang maklum ke arah mana maksud perkataannya, yaitu Can Ing-siong dan lain-lain mungkin sudah mengalami nasib jelek. Kecuali diliputi rasa takut dan ngeri, orang-orang itu pun merasa sedih. Tapi dalam keadaan seperti ini mereka segan bicara, sambil mengeraskan kepala terpaksa maju ke depan.

Di depan mendadak ditemukan simpang jalan tiga. Di simpang tiga ini mereka menemukan lengan manusia yang berlepotan darah yang belum kering, jari tangan mengepal kencang, hanya jari telunjuk yang menuding ke depan, menuding jalan sebelah kiri.

Sejauh cahaya obor menerangi jalan tembus ke kanan, tulang tengkorak manusia tampak berserakan, ada yang masih utuh, ada yang sudah kocar-kacir, ada yang memegang tombak, golok atau pedang yang setengah berkarat, tapi masih memancarkan cahaya gemerdep ditimpa cahaya obor, suasana hening seram.

Li Thing bergidik, katanya gemetar, “Apakah perlu … maju terus?”

“Kalau tidak, mau ke mana?” jengek Pui Jian-li.

“Tapi di depan … akhirnya juga … juga mati,” kata Li Thing khawatir.

“Memangnya kenapa kalau mati?” jengek Pui Jian-li pula.

Serak suara Li Thing, “Apakah penghuni kuburan kuno ini hendak membunuh kita semua?”

“Orang yang terpancing masuk kuburan ini asal usulnya berbeda dan tiada sangkut pautnya satu dengan yang lain, tapi penghuni kuburan ini justru menghendaki kematian mereka, ini jelas bukan lantaran dendam atau sakit hati ….”

“Memangnya lantaran apa?” sela Ih Ji-hong.

“Menurut hematku,” kata Pui Jian-li, “kuburan kuno besar ini pasti menyembunyikan suatu muslihat keji yang akan menimbulkan kegemparan dan keributan di kalangan Bu-lim, kita akan menjadi tumbal muslihatnya.”

Ban-su-thong bertanya, “Jadi Pui-heng yakin penghuni kuburan ini manusia dan bukan setan?”

Pui Jian-li menyeringai, katanya, “Di dunia mana ada setan, kecuali ….” mendadak di belakangnya terdengar suara orang menjengek, seketika bulu kuduk Pui Jian-li berdiri, serempak orang banyak berpaling.

Tapi di belakang kosong melompong, jangankan manusia, bayangan pun tidak kelihatan, ketika mereka menoleh lagi ke arah tudingan tangan kutung tadi, tudingan itu sudah berubah arah, kini menuding ke jalan yang tengah.

Semua orang sama merasa ngeri, entah siapa berkata dengan gigi gemertuk, “Ini … ini … apa lagi kalau bukan setan?”

Pui Jian-li menendang tangan kutung itu, bentaknya, “Umpama setan juga aku akan melabraknya.”

Segera ia mendahului menerobos ke jalan tengah.

Wajah Ban-su-thong menampilkan senyuman misterius, diam-diam dia berjongkok mengusap noda darah pada ujung kakinya, noda darah waktu dia mendepak dan mengubah arah lengan buntung itu. Cepat Hong-lin-sam-ciau membawa murid-muridnya menerobos ke jalan yang tengah.

Baru saja Ban-su-thong melangkah mendadak sebuah tangan menarik lengan bajunya, seorang berpakaian kelabu mendadak keluar dari balik dinding dan berdiri di belakangnya, katanya sambil menyeringai, “Apa kau juga ingin ikut mati bersama mereka?”

Bergetar sekujur badan Ban-su-thong, sahutnya gelagapan, “O, ham … hamba ….”

Orang itu berkata, “Kau masih berguna, tidak kubiarkan kau mati. Ingat, arahkan langkahmu ke lorong yang penuh tengkorak itu, temanmu Beng Lip-jin akan menyambut kedatanganmu di ujung sana.”

“Baik … kutahu ….” sahut Ban-su-thong.

Mendadak didengarnya suara jeritan Hong-lin-sam-ciau yang menerobos ke lorong tengah itu, segera jeritan mereka terputus seperti leher mereka mendadak tercekik. Cukup lama tubuh Ban-su-thong menggigil, setelah agak tenang, suasana hening lelap, di bawah penerangan obor tampak tulang belulang yang mengerikan, sekilas Ban-su-thong melirik ke belakang, orang kelabu ternyata sudah lenyap. Munculnya laksana setan gentayangan, perginya tanpa meninggalkan bekas.

*****

Tadi Hong-lin-sam-ciau bersama muridnya menerobos ke depan, tiba di ujung sebuah kamar batu yang pintunya terbuka, cahaya gemerdep tampak menyilaukan mata di dalam.

Pui Jian-li berteriak girang, “Agaknya arah yang kita tempuh tidak salah.”

Segera dia mendahului menerobos masuk. Dalam kamar batu ini berjajar empat peti mati, tutup peti tersingkap ke pinggir, di dalam peti penuh berisi berbagai batu menikam yang tak ternilai.

Hong-lin-sam-ciau termasuk keluarga persilatan yang kaya raya, namun selama hidup kapan pernah menyaksikan harta pusaka sebanyak ini. Apalagi murid-muridnya, semua terbeliak kaget, cukup lama mereka berdiri terpesona, entah siapa yang mendahului berteriak, segera mereka memburu maju sambil ulur tangan untuk meraup mutiara, zamrud, mata kucing dan permata lainnya.

Siapa tahu begitu tersentuh tangan, batu permata itu sama pecah dan menyemprotkan air yang berwarna-warni dan muncrat mengenai muka, kepala, lengan, dan badan murid-murid Hong-lin-sam-ciau.

Terasa batu permata itu dingin, tapi begitu pecah dan air berwarna-warni itu muncrat mengenai badan, rasanya ternyata panas membakar, kontan mulut mereka meraung kesakitan, satu per satu jatuh bergulingan saling tindih.

Tampak di mana air berwarna-warni itu mengenai badan, tidak terkecuali apa kain baju, rambut atau kulit badan seketika hancur dan membusuk hingga kelihatan tulangnya. Makin meronta dan kelejatan makin hebat rasa sakit, dan bagian yang membusuk itu pun makin melebar dengan cepat, dalam sekejap mereka yang menjerit-jerit itu makin lemah dan akhirnya melayang jiwanya.

Beberapa lelaki segar dengan perawakan gagah dan kuat, dalam beberapa kejap telah berubah menjadi seonggok tulang.

Sungguh kaget Pui Jian-li menyaksikan kejadian mengerikan ini, katanya dengan serak, “Racun … sungguh keji ….” mendadak terdengar suara keresekan perlahan, serempak mereka berpaling, daun pintu di belakang mereka tahu-tahu sudah menutup sendiri.

*****

Sementara itu di tempat lain, sejak daun pintu anjlok ke bawah, Sim Long, Cu Jit-jit, dan Hoa Lui-sian berada dalam kegelapan, dari dekat saja sukar melihat wajah masing-masing.

Cu Jit-jit lalu menjinjit hingga muka beradu muka, perlahan dia menggosok pipi sendiri dengan pipi Sim Long, ucapnya setengah berbisik, “Sungguh baik ….”

“Sudah hampir mati, apanya yang baik?” jengek Hoa Lui-sian tiba-tiba.

“Dalam kegelapan yang memabukkan seperti impian ini, bila aku dapat berpelukan mesra begini, meski harus segera mati juga rela aku,” demikian kata Cu Jit-jit, lalu dia jewer kuping Sim Long, katanya, “Aku tak mau ada orang ketiga berada di sini, boleh kau lepaskan dia pergi.”

“Walau kau ingin mati, Siociaku, aku sebaliknya belum hidup cukup. Apa pun tidak akan kulepaskan dia,” demikian jawab Sim Long tegas.

Kontan Cu Jit-jit menggigitnya dengan gemas katanya, “Kau lelaki patung yang tidak kenal budi kebaikan, aku benci padamu, aku … aku ingin menggigitmu sampai mati.”

“Lekas gigit, lekas,” Hoa Lui-sian bersorak, “lebih cepat lebih baik!”

Sim Long melepaskan pegangan Cu Jit-jit, katanya, “Serahkan.”

“Serahkan apa?” tanya Jit-jit.

“Ketikan api.”

“Tidak ada.”

“Aku tahu kau membungkusnya dengan sapu tangan putih dan kau simpan di kantong sebelah kiri, betul tidak?”

Jit-jit membanting kaki, “Setan alas, setan mampus … ini, ambil!” langsung dia lemparkan ketikan api yang dimaksud.

Walau dalam kegelapan sekali meraih Sim Long dapat menangkap ketikan api itu, segera dia menyalakan sebatang obor. Dilihatnya pipi Cu Jit-jit bersemu merah, sorot matanya berkilau entah merasa benci, haus cinta atau entah apa lagi ….

Sim Long tersenyum, katanya, “Ada sinar api jadi lebih mudah terjang ke depan, ayolah!”

“Huh, siapa yang ingin ikut kau?” jengek Cu Jit-jit sambil melengos ke arah lain, sesaat kemudian tak urung dia melirik juga, dilihatnya Sim Long telah melangkah pergi sambil menggandeng Hoa Lui-sian.

Jit-jit menggereget, serunya, “Baik, kau tidak urus diriku, boleh kau pergi, biar … biar aku mampus di sini, coba kau mau apa!”

Tanpa berpaling Sim Long malah tertawa, katanya, “Coba lihat siapa di belakangmu? Jangan sampai kau ….”

Belum habis dia bicara, Cu Jit-jit lantas menjerit sambil memburu maju dan memukul pundak Sim Long belasan kali, mulut juga menggerutu, “Setan, biar kupukul kau sampai mampus.”

Tapi tenaga pukulannya ternyata ringan saja, tidak urung dia lantas ikut pergi.

Sesaat lamanya mereka menyusuri lorong panjang, akhirnya tiba di depan sebuah pintu setengah terbuka, di balik pintu ada peti, di atas peti ada lentera. Cu Jit-jit berkata, “Mungkin di sini ada orang, coba aku masuk melihatnya.”

“Jangan masuk,” mendadak Sim Long membentak dengan suara tertahan.

“Kenapa?” Jit-jit membandel, “aku justru mau masuk.”

Sim Long menghela napas, katanya, “Nona manis, masa kau tidak tahu di sana dipasang perangkap? Bila kau masuk daun pintu akan segera tertutup.”

Berputar bola mata Cu Jit-jit, mendadak dia tertawa cekikikan, katanya, “Ya, memang kau lebih pintar.”

Bertiga mereka maju lebih lanjut, mendadak jalan simpang tiga mengadang di depan, pada jalan yang belok ke kiri menggeletak sebuah lengan kutung berlumuran darah dengan jari telunjuk menuding ke depan sana. Sementara jalan ke arah kanan tampak tumpukan tulang manusia.

Cu Jit-jit berkedip, katanya, “Mari kita tempuh jalan tengah ini.”

Sim Long berkata setelah termenung sejenak, “Pepatah bilang, dalam isi ada kosong, yang kosong ada isi. Jalan ke kanan ini kelihatannya berbahaya, tapi jalan tengah yang kelihatannya menuju ke pusat kuburan ini merupakan kunci dari seluruh rahasia di sini, maka jalan tengah ini tidak boleh ditempuh.”

“Kenapa di luar terdapat delapan pintu?” tanya Cu Jit-jit.

“Kini baru kusadari, kedelapan pintu di luar tadi hanyalah pancingan belaka supaya orang menaruh curiga, bukan saja kedelapan jalan itu sama, pasti juga menembus ke satu tujuan, tapi pada setiap lorong pasti ada perangkap, asal kita dapat menghindarkan diri dari jebakan itu dan menuju ke arah yang tepat, akhirnya pasti dapat menemukan rahasia utama yang menyelubungi tempat yang menakutkan ini.”

Sembari bicara mereka sudah sampai di ujung jalan kanan.

Tiba-tiba Hoa Lui-sian menjengek, “Hoa Kin-sian biasanya bekerja teliti dan hati-hati, sekali-kali kalian takkan bisa meraba rahasianya, kuanjurkan lekas kembali saja, kenapa harus mengantar kematian?”

Bukan saja tidak menghiraukan ocehannya, Sim Long juga tidak meliriknya, mendadak didengarnya Cu Jit-jit melonjak girang, “Betul, betul, arah yang kita tempuh ini pasti betul.”

Dia menuding ke sebuah kamar, di sana cahaya gemerlapan menyilaukan mata, sebuah kamar yang penuh bertaburan batu permata dan harta benda beraneka ragam.

Berubah hebat air muka Hoa Lui-sian. Cu Jit-jit dilahirkan dalam keluarga kaya raya, perhiasan atau permata apa yang tidak pernah dilihatnya, tapi sudah bagi sifat seorang gadis remaja, melihat permata sebanyak itu, betapa rasa ketariknya dan menimbulkan rasa ingin memilikinya, tanpa sadar dia ulur tangan, ingin memegang dan mengelus, tak tahunya baru tangannya terulur, mendadak Sim Long menariknya mundur.

“Kenapa kau tarik aku?” Jit-jit muring-muring.

“Kau hidup dalam keluarga kaya, memangnya tidak pernah melihat permata yang cemerlang? Terutama cahaya gemerdep dalam ruang yang terasa ganjil ini, kalau kau ingin memecahkan rahasia di sini, maka jangan kau menyentuhnya.”

“Baik, aku menurut petunjukmu sekali lagi,” ucap Cu Jit-jit dengan menggigit bibir.

Hoa Lui-sian tertawa dingin, “Anggap kau pintar, ini memang permainan Hoa Kin-sian, bagian luar permata ini memang khusus dia ciptakan secara istimewa, di dalamnya mengandung cairan racun jahat, siapa pun bila menyentuhnya pasti mampus …. Hehehe, tapi kau pun jangan bangga, biasanya Hoa Kin-sian sangat cerdik merancang, umpama sekarang kau dapat memecahkan perangkapnya, tapi masih banyak perangkap lain yang menunggumu. Maka kuanjurkan lebih baik kau lepaskan diriku, karena ada aku, mungkin kalian akan diampuni dia.”

Panjang lebar dia mengoceh, hakikatnya Sim Long tidak memerhatikan, maju lagi beberapa kejap, lorong tidak lurus lagi, kiri putar kanan, sekonyong-konyong bayangan seorang tampak berkelebat dari kiri dan lenyap ke arah kanan. Hanya dalam gerakan sekelebat itu, tangannya sudah terayun menimpukkan tiga larik sinar yang mengincar Sim Long, Cu Jit-jit, dan Hoa Lui-sian.

Jarak kedua pihak sangat dekat, serangan mendadak dan tidak terduga lagi, lorong panjang dan remang-remang. Tiga larik senjata rahasia itu jelas tak bisa dilawan oleh sembarang orang. Siapa tahu mendadak Sim Long memutar lengan bajunya, seperti mengandung daya sedot yang kuat, semua senjata rahasia itu tersedot ke dalam lengan baju Sim Long.

Kaget, girang, dan kagum sekali Cu Jit-jit, sekilas dia melirik, dilihatnya ketiga senjata rahasia itu adalah tiga batang anak panah pendek yang dibuat secara aneh. Cu Jit-jit bersuara gemetar, “Panah … panah ini mungkin dibidikkan oleh malaikat elmaut?”

Sim Long menyobek lengan baju, dengan hati-hati dia cabut ketiga batang panah itu, walau teraling selembar kain, tapi Sim Long rasakan tangan yang memegang panah kecil itu dingin luar biasa.

Diam-diam dia kaget dan heran, di bawah sinar obor dia perhatikan panah itu sesaat lamanya, alisnya berkerut, lalu tertawa, ujarnya, “O, kiranya begitu.”

Wajah Cu Jit-jit juga kelihatan senang, katanya sambil berkeplok, “Kiranya demikian … panah setan yang dibidikkan malaikat elmaut itu kelihatannya memang menakutkan, ternyata juga hanya begini saja.”

Tiba-tiba di antara lorong gelap yang berliku-liku tak berujung itu sayup-sayup terdengar nyanyian sedih yang menggetar sukma. Di dalam kuburan luas ini mendadak terdengar nyanyian sedih, sungguh menambah rasa ngeri dan seram. Tapi Sim Long malah bergelak tertawa, katanya, “Panah setan apa, tidak lebih hanya beberapa panah es belaka.”

Rahasia yang sukar ditebak dan membingungkan orang ini ternyata hanya sepele saja setelah terbongkar. Panah setan yang dibidikkan malaikat kematian itu ternyata tidak lebih adalah gumpalan salju yang mengeras dan dikikis berbentuk panah, dengan dilandasi Lwekang yang kuat, maka panah es itu dapat menembus kulit manusia dan menamatkan jiwanya, begitu terkena badan manusia yang bersuhu panas, es itu akan mencair menjadi air, oleh karena itu bila orang mencarinya tentu saja sudah lenyap.

Sambil menghela napas, Cu Jit-jit berkata dengan tertawa, “Hihi, ada-ada saja akal setan yang dipikirkannya, kalau akal bulusnya tidak terbongkar, orang sungguh bisa dibikin kaget setengah mati, tapi kalau bukan musim salju sedingin ini, akal liciknya ini juga tidak akan terlaksana.”

Sim Long berkata, “Tapi kau pun jangan meremehkan urusan sepele ini, air yang membeku jadi es dan dibikin panah ini pasti mengandung racun jahat, sehingga begitu es mencair racun pun bekerja di dalam badan sehingga jiwa direnggutnya.”

Sembari bicara sekenanya dia membuang “panah setan” yang terbuat dari es itu.

Cu Jit-jit mencibir, katanya, “Betapa pun kita telah berhasil membongkar muslihat keji dalam kuburan kuno ini. Aku jadi ingin melihat masih ada rencana apa pula mereka ….”

Belum habis dia bicara, sebuah dinding di belakangnya mendadak bergerak hingga terbuka sedikit celah-celah, segulung asap tebal segera menyembur. Sebelum Cu Jit-jit sempat tahan napas, kepala sudah terasa pusing, kontan dia jatuh tak sadarkan diri.

Setelah Cu Jit-jit siuman, kepala masih terasa pening, seperti orang mabuk yang baru sadar, tapi dapat memandang jelas, dirinya berada di pojok sebuah kamar batu yang lembap dan berbau apak, kaki dan tangan tidak terbelenggu, tapi sekujur badan terasa lemas lunglai.

Waktu ia mengerling, dilihatnya Sim Long, Hoa Lui-sian juga rebah di sampingnya, badan mereka pun tidak mampu bergerak, kaget Cu Jit-jit, teriaknya, “Sim Long, ken … kenapa kau pun begini.”

Dia tidak perhatikan nasibnya sendiri, tapi melihat Sim Long juga tak berdaya, sungguh rasa sedihnya seperti disayat-sayat.

Sim Long hanya tersenyum, menggeleng tanpa bersuara, kelihatan tenang dan wajar.

Hoa Lui-sian sebaliknya mengunjuk rasa puas, katanya perlahan, “Asap bius itu juga buatan khusus Hoa Kin-sian, aku sendiri pun belum pernah tahu, tapi namanya Sin-sian-it-jit-cui (malaikat dewata mabuk sehari), biarpun dewa bila mencium asap itu juga akan mabuk sehari semalam lamanya, sesudah sadar juga kaki dan tangan akan lemas lunglai, sekarang bila kalian mau berjanji tidak akan membocorkan rahasia di sini kepada orang lain, nanti bila bertemu dengan Hoa Kin-sian akan kubantu bicara bagi kalian supaya jiwa kalian diampuni.”

Dengan sekuat tenaga Jit-jit berteriak, “Kentut, kau nenek peyot yang tidak tahu budi, sungguh berengsek kau, pantas setiap insan persilatan ingin mengganyang kau.”

“Budak liar yang galak,” damprat Hoa Lui-sian, “dalam keadaan sekarang kau masih berani memaki orang ….”

Mendadak dilihatnya daun pintu batu tebal itu terbuka sedikit, selarik sinar lampu menyeret masuk dari luar. Hoa Lui-sian lantas berteriak, “Nah, itu dia, Toakoku sudah datang. Coba tunjukkan lagi kebinalanmu!”

Sorot lampu bergerak langsung menyinari muka Sim Long, Hoa Lui-sian, dan Cu Jit-jit, sinar yang menyilaukan mata entah dipancarkan dari lampu apa, cahayanya benderang dan keras, sekian lama Sim Long bertiga tidak mampu membuka mata karena silau sehingga tak tahu apa yang terjadi di depan mata.

Tapi terasa sebuah bayangan kelabu telah menyelinap masuk terus berduduk di belakang lampu, lalu katanya perlahan, “Dari jauh kalian datang kemari, Cayhe tidak menyambut semestinya, harap dimaafkan.”

Bicaranya sungkan, tapi nadanya kaku dingin, seperti bukan diucapkan dari mulut manusia.

Hoa Lui-sian memicingkan mata, lapat-lapat dapat dilihatnya bayangan orang di belakang lampu, tadinya dia kira yang datang adalah Toakonya, baru saja ia bergirang, namun demi mendengar suara orang, seketika berubah pula air mukanya, tanyanya gemetar, “Siapa kau? Apakah kau murid Toakoku Hoa Kin-sian? Ayo lekas berikan obat penawarnya kepadaku?”

Si baju kelabu seperti tidak mendengar perkataannya, jengeknya pula, “Kalian menempuh perjalanan jauh, setiba di sini selayaknya istirahat dengan tenang. Bila kalian memerlukan apa-apa silakan katakan saja, akan kusuruh orang mengantar kemari.”

Merah padam muka Cu Jit-jit, ia tak tahan lagi dan menjerit, “Siapa kau sebetulnya? Apa tujuanmu menipu kami kemari? Kau sebetulnya apa keinginanmu?”

Suara orang itu berkumandang dari belakang lampu, “Kabarnya putri kesayangan juragan Cu di Kanglam tanpa menghiraukan harga diri sudi berkunjung di tempat ini, tentulah kau nona yang dimaksud itu. Selamat bertemu nona!”

“Kalau benar kau mau apa?” jengek Jit-jit gusar.

“Banyak Enghiong ternama dalam Bu-lim yang berhasil kuundang kemari, apa maksud tujuanku, sebetulnya akan kujelaskan setelah kalian cukup beristirahat, tapi nona Cu keburu bertanya, aku jadi rikuh kalau tidak menjelaskan. Apalagi hari-hari mendatang tidak sedikit tenaga nona Cu perlu kuminta bantuannya ….”

“Lekas katakan, jangan mengoceh meluku,” teriak Jit-jit tidak sabar.

Kalau sekarang dia mampu bergerak, tak peduli siapa orang ini, tentu akan dilabraknya mati-matian. Tapi orang berbaju kelabu itu tetap tenang saja, katanya dingin, “Tiada maksud jahatku mengundang kalian kemari, jika kalian ingin pulang sembarang waktu boleh berangkat, tidak akan kuhalangi, malah akan kusiapkan pesta untuk menjamu kalian.”

Jit-jit bingung, pikirnya, “Aneh juga ….”

Si baju kelabu melanjutkan pula, “Tapi sebelum kalian pulang, aku mohon kalian sudi menulis sepucuk surat pendek.”

“Surat pendek apa?” tanya Jit-jit.

“Surat selamat yang ditujukan kepada keluarga kalian masing-masing, katakan bahwa kalian sekarang dalam keadaan segar bugar dan selamat. Untuk menjaga keselamatan kalian tentunya harus ada sekadar imbalan, oleh karena itu bila kalian tahu berterima kasih, maka dalam surat kepada keluarga itu tolong dimintakan kepada ayah bunda, kakak atau adik di rumah untuk mengantar biaya yang diperlukan sebagai imbalanku untuk menjaga keselamatan kalian.”

Gemetar suara Jit-jit, katanya, “Jadi kau … kau memeras?”

Orang itu tertawa aneh, seperti suara raung serigala. Tapi sikapnya tetap tenang, “Bagi seorang ahli, orang seperti nona sudah tentu tidak boleh dipandang sebagai barang yang tak berharga. Aku adalah pengumpul emas perak, tidak pantas nona menggunakan istilah ‘pemeras’ kepadaku.”

“Pengumpul emas perak? Kentut busuk,” damprat Cu Jit-jit.

Ternyata si baju kelabu juga tidak marah, suaranya tetap kalem, “Telah kuatur tipu daya dan memeras keringat baru berhasil memancing kalian kemari, lalu menaruh kalian di tempat aman di sini. Kuyakin tuntutanku untuk penggantian jerih payahku dengan harta yang tak berarti itu, sudah merendahkan derajatku, kalau kalian masih juga kikir apakah hatiku tidak akan sedih?”

Tiba-tiba Sim Long tersenyum, katanya, “Ucapanmu memang benar, entah berapa yang kau tuntut?”

“Setiap benda ada harganya, bergantung baik buruk barang-itu dan penilaian orang tepat atau tidak. Harga badan kalian jelas tak dapat dinilai dengan harga biasa. Dibandingkan Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain, jelas harga kalian berlipat ganda, jika aku menaikkan tarif bagi mereka, berarti aku meninggikan harga mereka malah, betapa pun hal ini takkan kulakukan.”

Jelas dia hendak mengeduk uang orang, tapi cara bicaranya justru memutar balik kenyataan sehingga orang akan mengira dia telah memberi kelonggaran kepada tawanannya malah. Jit-jit merasa keki dan geli, tanyanya, “Berapa sih yang kau inginkan?”

Orang itu berkata, “Kepada Can Ing-siong aku hanya menuntut lima belas laksa tahil, tapi terhadap nona, seratus lima puluh laksa tahil ….”

“Hah, seratus lima puluh laksa tahil?” pekik Jit-jit kaget.

“Betul, nona secantik ini, pintar lagi, tentu nona tidak sudi bila kunilai dirimu terlalu rendah, betul tidak?”

Cu Jit-jit melenggong sekian saat, akhirnya dengan mendelik dia berkata, “Betul kentut! Kau … kau gila, binatang keji ….”

Kini perhatian orang berbaju kelabu tertuju kepada Sim Long, ocehan Cu Jit-jit dianggap tidak mendengar, katanya, “Tentang Kongcu yang gagah perkasa ini, cakap dan ganteng, cerdik pandai lagi, kalau kunilai seratus lima puluh laksa tahil perak kurasa juga tidak terlalu rendah ….”

Sim Long tertawa, katanya, “Banyak terima kasih, tak kusangka Anda sudi menilaiku setinggi itu, sungguh aku merasa gembira dan bangga, nilai seratus lima puluh laksa tahil perak kurasa belum apa-apa.”

Melengking tawa orang berbaju kelabu, katanya, “Kongcu ternyata orang bijaksana dan bisa menyelami perasaan orang, tentang Hoa ….”

“Hoa apa?” bentak Hoa Lui-sian, “memangnya kau juga mau menuntut uangku?”

Orang itu berkata, “Bentukmu seperti labu, kecil buntak dan jelek, tapi jelek-jelek juga malah ada harganya ….”

“Kentut, binatang, kau … kau ….” saking marah suara Hoa Lui-sian sampai gemetar.

Tapi si baja kelabu tetap kalem, “Kau terlalu merendahkan diri sendiri, tapi aku justru tidak memandang rendah kau, paling sedikit aku akan menuntut dua atau tiga puluh laksa tahil kepadamu sebagai tanda penghormatanku.”

Walau hati merasa gusar, demi mendengar omongan orang ini, geli dan keki juga Cu Jit-jit, sementara otot hijau di jidat Hoa Lui-sian tampak merongkol, bentaknya, “Binatang, bila sebentar Toakoku tiba, rasakan nanti betapa nikmatnya bila kubetot ototmu, mengiris kulitmu serta mencacah tubuhmu.”

“Toakomu? Siapa itu Toakomu?” tanya orang itu.

“Hoa Kin-sian!” sahut Hoa Lui-sian dengan suara keras. “Masa kau tidak tahu? Atau pura-pura bodoh?”

“Hoa Kin-sian?” orang itu mengulangnya dengan tawar. “Ya, orang ini memang memiliki sedikit kepandaian, sayang sekali jiwanya sudah tamat sejak peristiwa di Heng-san dulu, aku takut terhadap apa pun, terhadap setan aku tidak pernah takut.”

Hoa Lui-sian tambah gusar, serunya, “Hoa Kin-sian, Toakoku itu adalah pemilik kuburan kuno ini, berani kau ….”

“Yang berkuasa dan mengatur segala muslihat di kuburan ini adalah diriku,” tukas orang itu. Meski suaranya tenang dan perlahan, tapi betapa keras suara bicara orang lain pasti lenyap tenggelam oleh suaranya yang perlahan itu.

Gemetar badan Hoa Lui-sian, makinya, “Kentut, kau binatang ini mengira dapat menipuku, jika Hoa Kin-sian sudah mati, permata palsu, Sin-sian-it-jit-cui dan lain-lain itu dari mana munculnya.”

“Semua itu adalah buah karyaku, hasil kerajinan kedua tanganku sendiri,” tandas dan tegas jawaban orang itu.

Berubah air muka Hoa Lui-sian, katanya serak, “Kau dusta, kau bohong … kecuali Toakoku, tiada orang lain di dunia ini yang tahu resep racun itu … Hoa Kin-sian, Toako di mana kau?! ….”

Mendadak ada angin keras menyambar Hiat-to bisu di lehernya, kontan suaranya terputus dan tak mampu bicara lagi. Tutukan Hiat-to jarak jauh si baju kelabu ternyata sangat lihai, tepat dan keji, jelas bukan sembarang jago silat dunia Kangouw.

Si baju kelabu berkata pula, “Bukan aku sengaja kurang ajar, soalnya Hoa-hujin ini terlalu sok, terpaksa kubantu dia supaya istirahat saja.”

Cu Jit-jit menjengek, “Baik juga hatimu.”

“Aku bertanggung jawab sebagai pelindung keselamatan kalian, maka tindak tanduk kalian harus selalu kuperhatikan.”

Saking gemas Cu Jit-jit hampir gila rasanya, tiba-tiba dia tertawa keras malah.

Sejak tadi Sim Long memejamkan mata seperti sedang menghimpun tenaga, sekarang baru dia buka suara, “Tuan ternyata anak buah Giok-koan Koay-lok-ong, dilihat dari kungfu dan sepak terjang perbuatanmu ini, kuyakin kau pasti salah satu duta kepercayaannya, yaitu Duta Harta dari keempat Duta Arak, Duta Warna, Duta Harta dan Duta Hawa.”

Ucapan Sim Long yang tidak terduga ini entah bagaimana reaksi si baju kelabu, tapi Cu Jit-jit jadi kaget setengah mati, teriaknya, “Dari mana kau tahu?”

Sim Long tertawa, katanya, “Resep rahasia milik Hoa Kin-sian jelas tidak mungkin dimiliki orang lain di dunia ini, tapi tuan ini telah membuktikan kemampuannya, jelas hanya ada satu dalih saja.”

“Tapi setengah dalih saja aku tidak mengerti,” ujar Jit-jit.

“Urusan cukup gamblang, sebelum ajal Hoa Kin-sian, tentunya dia menitipkan resepnya kepada Giok-koan Siansing, kalau tuan ini mengaku ahli mengumpulkan harta, maka jelas dia salah satu dari Duta Harta Giok-koan Koay-lok-ong.”

Cu Jit-jit melongo hingga tak mampu bicara lagi.

Dengan kalem Sim Long berkata pula, “Selain itu, Hoa Kin-sian memang sudah tahu akan rahasia kuburan ini, maka dia juga meninggalkan rahasia kuburan ini beserta rahasianya resep itu. Sekarang Giok-koan Siansing mengutus Duta Hartanya ini ke sini untuk mengeduk harta karun. Siapa tahu berita tentang harta karun dalam kuburan hanyalah muslihat belaka, padahal kuburan kuno ini kosong melompong. Dasar cerdik, Duta Harta ini lantas mengatur tipu daya, yaitu sasaran dia alihkan kepada kaum persilatan umumnya, kuburan kuno ini dia gunakan untuk merancang muslihat dan menjebak orang yang datang ke sini.”

“Tapi … jika benar dia sengaja memancing orang kemari, kenapa pula dia membuat adegan yang mengerikan dan menakuti orang agar tidak berani masuk ke sini?” tanya Jit-jit.

Sim Long tersenyum, katanya, “Manusia memang aneh, makin dilarang makin besar hasratnya. Justru karena Duta Harta yang pintar ini dapat memanfaatkan kelemahan manusia ini, semakin mengerikan semakin misterius tempat ini makin banyak pula gembong-gembong persilatan yang akan datang kemari. Bila tempat ini tidak menakutkan, yang datang tentu juga cuma kaum keroco. Dari orang-orang rendahan itu dia tidak akan mengeduk keuntungan, lalu cara bagaimana Duta Harta ini akan memberikan pertanggungjawaban kepada majikannya?”

Jit-jit manggut-manggut dan menghela napas, “Betul, betul …. Ai, kenapa kau selalu dapat memecahkan persoalan, sebaliknya aku justru tidak tahu?”

Lama si baju kelabu terdiam, akhirnya dia bersuara perlahan, “Apakah namamu Sim Long? Eh ya … Sim-heng kau memang seorang cerdik, kepintaranmu sungguh jauh di luar dugaanku.”

Sim Long tertawa, katanya, “Jadi uraianku tadi tidak meleset bukan?”

“Orang kuno bilang diberi tahu satu dipahami tiga, tapi Sim-heng diberi tahu satu lantas tahu tujuh, kau hanya mendengar beberapa patah kata Hoa Lui-sian lantas dapat membongkar seluruh rahasia serta menganalisisnya satu per satu. Kecuali nama julukanku Duta Harta Kim Bu-bong dan muridku A To yang belum Sim-heng tebak, semua urusan kira-kira sudah kau sebut dengan tepat, seperti kau sendiri yang merancang urusan ini.”

Ternyata di belakangnya masih berdiri seorang anak kecil.

“Kim-heng ternyata juga suka berterus terang,” ujar Sim Long.

Duta Harta Kim Bu-bong berkata, “Di hadapan orang sepintar Sim-heng, mana kuberani membual, tapi apakah Sim-heng tidak pernah mendengar orang bilang, orang pintar sering mengalami nasib jelek, seorang genius sering pendek usia.”

Sim Long tersenyum, katanya, “Tapi aku tidak merasa khawatir apa pun, bila Kim-heng sudah memberi tarif, kukira jiwaku tidak perlu dikhawatirkan lagi.”

“Tapi aku pun tidak suka ada manusia pintar yang berani memusuhiku, terutama lawan seperti Sim-heng,” demikian jengek Kim Bu-bong.

Gemetar suara Cu Jit-jit, katanya, “Kau … apa yang akan kau lakukan terhadapnya?”

Kim Bu-bong menyeringai hingga kelihatan giginya seperti taring binatang buas, katanya, “Umpama tidak kurenggut jiwanya, sedikitnya juga akan kupotong sebelah kaki atau tangannya, bila musuh setangguh Sim-heng kurang satu lagi di dunia ini, dapatlah aku makan dan tidur dengan tenteram.”

Kalau Cu Jit-jit ketakutan, sebaliknya Sim Long masih tetap tersenyum, katanya, “Masa Kim-heng setega ini?”

“Memangnya Sim-heng kira aku ini orang yang suka menaruh belas kasihan terhadap orang lain?”

“Tapi biarpun Kim-heng hendak mengambil seujung rambut orang she Sim mungkin juga tidak mudah.”

Kim Bu-bong tertawa dingin, “Baik, aku akan mencobanya.”

Perlahan dia berdiri dan maju selangkah.

Mendadak Sim Long tergelak sambil menengadah, katanya, “Kukira Kim-heng seorang cerdik pandai, kenyataannya Kim-heng bukanlah orang pintar yang kuduga.”

Tiba-tiba sirna gelak tertawanya, matanya menatap Kim Bu-bong dengan tajam, lalu sambungnya, “Kim-heng kira aku telah terbius oleh Sin-sian-it-jit-cui?”

Kim Bu-bong tersentak kaget dan menarik kakinya.

Sim Long berkata pula, “Begitu asap tebal menyembur masuk, segera aku menahan napas, meski Sin-sian-it-jit-cui amat keras daya kerjanya, namun sedikit pun aku tidak menyerap.”

Sesaat Kim Bu-bong berdiri diam, ia menyeringai pula, katanya, “Dalam hal ini Sim-heng mungkin bisa menipu orang lain, tapi jangan harap bisa menipu diriku. Kalau Sim-heng tidak terpengaruh oleh asap bius itu, kenapa kau rela menjadi tawanan Kim Bu-bong?”

“Ah, masa soal sepele ini Kim-heng juga tidak paham?” ujar Sim Long, senyum pada wajahnya makin cerah. “Coba pikir, kuburan ini penuh lorong yang menyesatkan, tiga hari juga belum tentu dapat menemukan rahasianya. Dengan pura-pura terbius, aku dapat istirahat di kamar ini, adakah cara lain yang lebih enak daripada cara ini?”

Berubah air muka Kim Bu-bong, katanya sambil menyeringai, “Sim-heng ternyata juga pandai putar lidah, tapi ….”

“Tapi apa, Kim-heng?” tukas Sim Long, mendadak dia berbangkit.

Wajah Kim Bu-bong yang semula pucat kini kelihatan lebih mengerikan lagi, tenggorokannya berbunyi, tanpa terasa kaki pun menyurut mundur.

Mencorong sinar mata Sim Long menatap wajah orang, katanya kelam, “Hari ini dapat perang tanding dengan Kim-heng, sungguh merupakan peristiwa besar yang menggembirakan, siapa yang bakal mampus di sini, tentu tidak usah dikubur lagi.”

Kim Bu-bong diam saja, sorot matanya dingin mantap Sim Long, keduanya beradu pandang, tiada yang berkedip, sorot mata Sim Long begitu dingin, tenang dan mantap.

Cu Jit-jit juga mengunjuk rasa senang, katanya, “Sim Long, boleh kau beri tiga jurus padanya, kalau tidak mana dia berani melawan kau?”

Sim Long tersenyum, katanya, “Kalau hanya tiga jurus kan sama seperti tidak memberi?”

“Jika begitu boleh kau beri tujuh jurus.”

“Begini baru pantas, baiklah aku mengalah tujuh jurus, silakan Kim-heng!” kata Sim Long.

Wajah Kim Bu-bong sebentar hijau sebentar putih, agaknya sekuatnya dia mengendalikan emosi menghadapi cemooh Sim Long dan Cu Jit-jit.

“Lho, bagaimana, dia mengalah tujuh jurus, kenapa kau malah tidak berani?”

Mendadak Kim Bu-bong melompat mundur, “blang”, pintu kamar tertutup rapat, cepat sekali Kim Bu-bong lenyap di balik pintu.

Jit-jit menghela napas, katanya dengan geregetan, “Wah, dia melarikan diri.”

Sim Long tersenyum, katanya, “Lebih baik dia melarikan diri ….” mendadak dia terkulai lemas.

Jit-jit terkesiap, pekiknya, “He, ken … kenapa kau?”

Sim Long tertawa getir, katanya, “Betapa lihai Sin-sian-it-jit-cui, mana bisa aku tidak terbius, tadi aku mengerahkan sisa tenagaku yang masih ada dan berdiri sekuatnya sehingga berhasil menggertaknya lari.”

Sekian lama Jit-jit melenggong, katanya dengan gemetar, “Untung tadi dia tidak terpancing, kalau … kalau ….”

Sim Long menghela napas, “Tapi aku tahu, manusia seperti Kim Bu-bong bagaimanapun tidak mudah terpancing ….”

Belum habis dia bicara, mendadak berkumandang gelak tertawa orang, perlahan pintu batu terbentang, Kim Bu-bong muncul kembali.

Pucat muka Cu Jit-jit, didengarnya Kim Bu-bong berkata, “Sim-heng memang pandai, tapi sepintar tupai melompat akhirnya terjatuh juga. Mungkin Sim-heng tidak mengira bahwa kamar batu ini dibuat sedemikian rupa hingga segala gerak-gerikmu dapat kuikuti dari luar,” mendadak dia menghardik beringas, “Urusan sudah begini, apa pula yang ingin kau katakan?”

Sim Long menghela napas panjang, ia memejamkan mata dan tidak bersuara.

Selangkah demi selangkah Kim Bu-bong menghampiri, katanya dengan menyeringai, “Bermusuhan dengan orang seperti Sim-heng sungguh hati selalu kebat-kebit saja, terpaksa kupotong dulu sebelah lengan Sim-heng baru hatiku bisa tenteram.”

Segera dia mendekati Sim Long, dia angkat tangannya ….

Jit-jit menjerit khawatir sekerasnya. Tak terduga belum lenyap suaranya, keajaiban mendadak timbul, pada saat Kim Bu-bong angkat tangan itulah, mendadak tangan Sim Long meraih ke atas dan tepat mencengkeram urat nadi Kim Bu-bong.

Perubahan ini sungguh di luar dugaan siapa pun, dalam sekejap ini perasaan Cu Jit-jit berubah beberapa kali, kejut, khawatir, takut, dan senang, sekarang dia terbeliak dan melongo.

Perlahan Sim Long berdiri, tangan kanannya tetap memegang urat nadi pergelangan tangan Kim Bu-bong, tangan kiri mengebut baju dan membersihkan debu, katanya dengan tersenyum, “Kim-heng tidak menduga akan kejadian ini bukan?”

Butir keringat tampak menghias jidat Kim Bu-bong.

Baru sekarang Jit-jit dapat menenangkan hatinya, serunya dengan tertawa, “He, sebetulnya apa … apa yang terjadi?”

“Sebetulnya aku tidak pernah terbius,” tutur Sim Long dengan tertawa, “sekarang tentu Kim-heng sudah tahu akan hal ini.”

“Kalau tidak terbius, kenapa tadi ….” Jit-jit merasa bingung.

“Kalau tadi aku bergebrak dengan Kim-heng, terus terang aku tidak yakin dapat menang, umpama dapat mengalahkan Kim-heng juga belum tentu dapat membekukmu. Tapi setelah sekadar main sandiwara tadi, Kim-heng pasti tidak menaruh curiga kepadaku, secara tidak terduga aku lantas menyergapmu, maka Kim-heng tak bila lolos lagi.”

“Setan mampus,” omel Jit-jit kegirangan, “kau … kau selain menipu dia, aku pun kaget setengah mati tadi, nanti akan kubikin perhitungan denganmu.”

Kim Bu-bong melenggong lalu menengadah dan menarik napas, katanya, “Bahwa hari ini Kim Bu-bong terjungkal di tangan lawan setangguh Sim-heng, kurasa juga bukan hal yang memalukan. Apa kehendakmu sekarang, lekas katakan.”

Sim Long tertawa, “Kalau begitu, tolong Kim-heng bawa kami keluar dari kamar ini, demikian pula kawan-kawan Kangouw lainnya yang kau tipu ke sini, hendaknya dibebaskan semua, untuk kerelaan mana lebih dulu kuucapkan terima kasih.”

Kim Bu-bong menarik napas panjang, katanya, “Baiklah, ikut padaku!”

Sim Long menggendong Jit-jit, tangan lain memegang Kim Bu-bong, setelah keluar dari kamar batu dan berbelok beberapa kali, tiba di depan kamar batu yang lain, sekujur badan Jit-jit masih lemas, tapi kedua tangannya merangkul leher Sim Long dengan erat, dia berteriak, “Siapa yang terkurung di dalam kamar ini?”

Tampak aneh sinar mata Kim Bu-bong, katanya, “Sin-gan-eng Pui Jian-li, Pok-thian-tiau Li Thing, Joan-hun-yan Ih Ji-hong dan Congpiauthau Wi-bu-piaukiok Can Ing-siong berempat.”

Jit-jit melengak, katanya, “Masa hanya empat orang saja ….”

“Betul, apa mereka harus dibebaskan?” tanya Kim Bu-bong.

“Tunggu dulu,” mendadak Jit-jit berteriak, “jangan dilepaskan.”

Sim Long berkerut kening, katanya, “Kenapa tidak dilepaskan saja?”

Jit-jit menghela napas, katanya, “Keempat orang ini semua musuhku, begitu mereka keluar bukan saja tidak akan berterima kasih kepada kalian, malah mungkin akan mengadu jiwa denganku, mana boleh mereka dilepaskan?”

Dingin sorot mata Kim Bu-bong, katanya kepada Sim Long, “Dilepaskan atau tidak terserah Sim-heng ….”

Jit-jit berteriak gusar, “Memangnya aku tidak boleh memutuskannya? Sekarang tubuhku lemas lunglai, jika mereka dilepaskan, bukankah mereka akan merenggut jiwaku … bila mereka main mengeroyok, Sim Long juga belum tentu mampu menghadapi mereka.”

Kim Bu-bong tetap menatap Sim Long, katanya mendesak, “Dilepaskan tidak?”

Sim Long menarik napas, katanya, “Lepaskan … atau tidak …. Wah, membuatku serbasusah … apakah mereka berempat tidak terbius oleh Sin-sian-it-jit-cui?”

Kim Bu-bong menjawab, “Meski bukan obat mujarab, tapi kalau hanya Pui Jian-li dan Can Ing-siong saja rasanya belum setimpal bagiku untuk menggunakan obat bius itu.”

“Cara bagaimana membuka pintu ini?” tanya Sim Long.

“Pintu ini dikendalikan dengan alat rahasia, tombolnya berada di benjolan batu ini, putar ke kiri tiga kali lalu ke kanan dan didorong ke atas, pintu akan terbuka sendiri.”

Sim Long mengangguk, tanpa bicara dia melangkah ke depan.

Jit-jit merasa senang, kontan dia persen dua kali cium di belakang kuping Sim Long, katanya dengan tertawa, “Kau sangat baik ….”

Sebaliknya Bu-bong lantas mendengus, “Kukira Sim-siangkong seorang yang arif bijaksana, seorang Enghiong yang suka menolong kesengsaraan orang lain, siapa tahu … hehe … hahahehe.”

Dia menengadah dan tertawa ejek.

A To, muridnya yang masih kecil ternyata berpikir tidak kecil, sekilas bola matanya berputar, mendadak dia menanggapi ucapan gurunya, “Pepatah mengatakan, Enghiong (kesatria) besar pun bertekuk lutut di bawah kaki si cantik, si ayu, teman sendiri pun akan dikesampingkan, Sim-siangkong memang tidak boleh disalahkan.”

Sim Long anggap tidak mendengar, tapi Cu Jit-jit lantas mencaci maki. Sim Long tetap menyeret Kim Bu-bong ke depan sana, setelah membelok mendadak ia berhenti di tempat gelap, katanya dengan suara tertahan, “Dari mana Kim-heng tahu rahasia kuburan ini?”

“Siapa ayahku almarhum, apa kau tahu?” tanya Kim Bu-bong malah.

Tentu saja Sim Long tidak tahu.

Kim Bu-bong lantas menambahkan, “Ayahku almarhum berjuluk Kim-so-ong (raja kunci emas).”

Sim Long tertawa, katanya, “Betul kalau begitu. Menurut berita dunia Kangouw, bahwa kepandaian membuat peralatan rahasia Kim-so-ong tiada bandingannya di dunia, Kim-heng adalah keturunannya, pantas alat rahasia kuburan ini tidak menyulitkan dirimu, memang tepat Koay-lok-ong mengutusmu kemari.”

Merandek sejenak, lalu ia berkata pula, “Kim-heng bilang tiada orang lain lagi yang mondar-mandir dalam kuburan ini, kuyakin ucapanmu pasti tidak salah.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: