Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (07)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:43 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (07)
Oleh Gu Long

Dalam pada itu salah seorang lelaki jangkung berseragam hitam lantas menubruk ke arah Siaukongcu. Tentunya karena anak dara itu kelihatan lemah dan hendak ditawannya hidup-hidup, maka tidak menggunakan senjata melainkan hendak memegangnya dengan tangan.

Dengan mendelik Po-ji berteriak, “Huh, tidak tahu malu, orang tua hanya pandai menganiaya anak kecil.”

Anak ini memang berjiwa luhur, melihat orang terancam bahaya, ia pun lupa akan diri sendiri yang tak mahir ilmu silat, tapi terus mengadang di depan anak dara itu, bahkan mendahului menjotos lelaki jangkung itu.

Namun lelaki jangkung itu juga tokoh persilatan terkenal, mana pukulan Po-ji ini mampu mengenai sasarannya.

“Awas Po-ji ….” seru Cui Thian-ki khawatir.

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Po-ji sudah diangkat orang dan dilemparkan jauh ke sana, “blang”, tubuh anak itu membentur dek kapal dan tidak bergerak lagi.

Pucat wajah Siaukongcu, serunya, “Po-ji ….”

“Eh, mestika sayang, jangan urus dia ….” ucap si jangkung sambil menyeringai, ia pentang kedua tangannya yang lebar terus hendak meraih tubuh Siaukongcu yang kecil mungil itu.

Namun Siaukongcu sempat berputar cepat dan menyelinap lewat di bawah tangkapan orang.

“Hehe, boleh juga Ginkangmu, mestika sayang,” ejek si jangkung dengan terkekeh, kembali ia pentang kedua tangan dan meraih kian kemari.

Namun Ginkang Siaukongcu memang hebat, cuma Kungfu lain memang agak kurang. Tapi karena orangnya kecil dan langkahnya pendek, ia lari dua-tiga tindak, lawan cukup sekali melangkah saja sudah menyusul sampai di belakangnya.

Ling-ji dan Cu-ji bermaksud membantunya, tapi mereka sendiri kerepotan menghadapi lawan yang lebih banyak.

Tiba-tiba terdengar Siaukongcu menjerit kaget diselingi tertawa mengakak si jangkung, tahu-tahu Siaukongcu sudah terpegang olehnya.

Sementara itu kawanan gadis di atas kapal sudah ada sebagian tak bisa berkutik lagi karena Hiat-to tertutuk musuh. Oh Put-jiu juga mandi keringat, akhirnya tidak tahan dan roboh terkulai.

Hanya Cui Thian-ki saja yang gesit masih sanggup berputar kian kemari di bawah kerubutan musuh, akan tetapi juga lebih banyak bertahan daripada balas menyerang, melihat gelagatnya, dalam waktu tidak lama ia pun akan kecundang.

Meski Kungfu Ling-ji dan Cu-ji cukup tinggi, tapi kebanyakan cuma teori saja dan kurang pengalaman tempur, tenaga pun kalah kuat. Maka hanya sebentar saja mereka sudah mandi keringat.

“Nona Cui, lekas kau lari saja, tidak perlu urus kami lagi,” seru Cu-ji.

“Tidak, aku tidak dapat pergi,” kata Cui Thian-ki tegas.

Cu-ji sangat terima kasih, dengan suara gemetar ia berkata pula, “Nona Cui, jangan ….”

“Jangan salah paham,” ucap Cui Thian-ki dengan tersenyum, “Bukan maksudku hendak mengorbankan jiwa percuma bagi orang lain. Soalnya kapalmu jauh dari pantai, aku sendiri tidak mahir berenang.”

Dalam keadaan bahaya ia masih dapat bicara dan tertawa, sengaja bergurau dan setengah mengejek.

Bagi pendengaran Ling-ji dan Cu-ji, ucapan Cui Thian-ki itu membuat mereka rada runyam.

Mendadak seorang lelaki menubruk maju, tapi sekali bergebrak kontan Ling-ji dapat menutuknya. Gerak tutukan Ling-ji ini sungguh sangat aneh dan sukar diduga, biarpun tenaganya sudah mulai lemah, namun kepandaiannya menutuk Hiat-to yang lihai ini membuat lawan tidak berani sembarangan mendekat.

“Pang-toako,” teriak seorang lelaki pendek kecil dengan suara serak, “beberapa perempuan ini cukup tangguh, apakah perlu kugunakan cara istimewa?”

“Coba saja,” jawab Pang Jing tertawa.

“Baik,” kata si pendek kecil, berbareng ia melompat ke samping seorang gadis yang tertutuk dan tak bisa berkutik.

Belasan gads yang tertutuk telah digusur ke pojok dinding kapal sana.

Meski Hiat-to mereka sama tertutuk, namun mereka masih sadar, semuanya tampak pucat ketakutan.

Si pendek kecil menyeringai dan mencolek pipi seorang gadis, katanya dengan terkekeh, “Hehe, mestika sayang, wah, putih dan halus juga!”

Melihat kelakuan orang, Ling-ji berseru khawatir, “Keparat, akan … akan kau apakan dia?”

Orang itu tertawa dan mengejek, “Coba katakan, akan kuapakan dia?”

Mendadak tangannya meraih sehingga baju gadis tadi terobek dan tertampaklah kulit badannya yang putih halus.

“Kau bin … binatang!” teriak Ling-ji gemetar.

“Ya, aku memang binatang,” kata si pendek. “Hehe jika kau tidak menurut, sebentar akan terjadi lagi yang lebih hebat.”

Sambil bicara tangan pun bekerja, dirabanya pinggang si gadis terus ke bawah hingga pinggul yang padat, dengan cengar-cengir pula.

Keruan gadis itu ketakutan, sorot matanya menampilkan rasa mohon kasihan serupa anak domba yang akan disembelih. Tubuhnya yang putih mulus itu kelihatan gemetar.

Sembari bertempur, Ling-ji dan Cu-ji juga memerhatikan apa yang terjadi di sebelah sini, dengan sendirinya mereka pun khawatir.

Lelaki jangkung yang lain juga telah mengangkat tinggi Siaukongcu, katanya sambil menyeringai, “Hah, budak cilik ini pun tidak kecil lagi, apakah kau ingin melihatnya ….”

“Lepaskan dia, lepaskan ….” teriak Ling-ji parau.

“Jangan menyerah,” seru Cui Thian-ki. “Ingat, jika kita sama jatuh ke dalam cengkeraman kawanan binatang ini, akibatnya sukar dibayangkan.”

“Tapi … tapi ….” teriak Ling-ji setengah meratap.

Pada saat itulah mendadak lentera yang menyala semua padam sekaligus.

Meski di luar ada cahaya bintang, namun karena cahaya lampu padam serentak, pandangan semua orang seketika kabur dan tidak melihat apa pun. Hanya hidung semua orang segera mencium semacam bau harum yang aneh.

Menyusul dari luar anjungan tiba-tiba melayang masuk lagi puluhan bayangan emas serupa hantu dan seperti badan halus, tapi juga serupa binatang aneh.

Komplotan Pang Jing itu kebanyakan adalah tokoh Kangouw yang biasa membunuh orang tanpa kenal ampun, tapi sekarang mereka pun merasa ngeri menyaksikan puluhan bayangan emas serupa hantu itu, tanpa terasa mereka sama menyurut mundur dan berjubel menjadi satu.

Ling-ji, Cu-ji dan Cui Thian-ki juga lantas menyingkir ke pojok sana dengan tangan berpegang tangan.

Kini semua orang sudah dapat melihat bahwa bayangan emas itu bukan setan iblis atau badan halus, tapi mirip bayangan manusia, dan bau harum tadi pun tersiar dari tubuh orang-orang ini.

Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya, berpuluh garis cahaya kuat memancar ke arah tubuh bayangan manusia warna emas itu sehingga membuat pandangan semua orang sama silau.

Sejenak kemudian barulah semua orang dapat melihat jelas bayangan emas itu terdiri dari kawanan gadis yang berpotongan tubuh ramping dengan rambut panjang tersampir di pundak, tubuh kawanan gadis jelita itu rata-rata sangat montok menggiurkan, seperti tidak mengenakan sepotong kain pun, namun penuh dilumuri bubuk emas yang sangat aneh dan memancarkan cahaya emas di bawah cahaya yang terang.

Melihat tubuh yang penuh daya tarik, terlebih bau harumnya yang aneh itu, barang siapa mengendus bau harum itu seketika akan timbul semacam perasaan syur yang sukar dilukiskan.

Pada saat perasaan semua orang terombang-ambing itulah sekonyong-konyong kawanan gadis warna emas sama pentang tangan dan tertawa genit menubruk ke arah orang-orang berseragam hitam.

Meski kawanan orang berseragam itu sudah berpengalaman tempur, tapi dalam keadaan demikian menghadapi lawan aneh begini, seketika mereka menjadi gugup. Sementara itu kawanan gadis warna emas sudah menerjang tiba dan mereka masih berdiri melongo, tidak mengelak juga tidak menangkis. Maklumlah, tubuh yang montok dengan bau harum yang menggiurkan itu membuat mereka lupa daratan.

Dan ketika mereka terkejut sadar, ingin menghindar pun sudah kasip.

Lebih 20 anak gadis berwarna emas itu tahu-tahu sudah menubruk ke atas tubuh kawanan orang berseragam hitam, kedua tangan mereka menyusup ke belakang dan merangkul bahu dengan erat, kedua kaki mereka yang panjang juga mencawat ke belakang tubuh lawan, ujung kaki tepat mengait bagian lutut.

Sepintas pandang serupa pasangan muda-mudi yang sedang pacaran dengan mesranya, sama sekali tidak ada tanda orang yang sedang bertempur atau saling bunuh.

Semua orang sudah sering menyaksikan adegan pertempuran sengit, tapi mimpi pun tidak pernah melihat cara bertempur yang aneh itu. Keruan semua orang sama melenggong.

Kawanan orang berseragam hitam selain kejut dan heran, terasa pangkuan masing-masing terangkul juga sesosok tubuh yang panas serupa api, pikiran mereka terguncang dan pandangan kabur, kaki tangan pun tidak bertenaga, mana lagi sanggup bertempur.

“Kita orang apa?” terdengar salah seorang gadis warna emas itu berteriak.

Serentak kawanan gadis emas yang lain menjawab lantang, “Wi-kim-mo-li!”

Di tengah suara nyaring itu terdengarlah suara “krak-krek” beruntun-runtun disusul suara jeritan ngeri, lalu suara tertawa genit menggiurkan kawanan gadis warna emas.

Waktu kawanan gadis emas itu melompat turun dari tubuh lawan, serentak kawanan orang berseragam hitam sama roboh dengan merintih tanpa bergerak lagi.

Rupanya kawanan gadis emas yang menamakan dirinya “Wi-kim-mo-li” atau gadis iblis emas murni ini dalam sekejap saja telah membuat remuk ruas tulang bahu dan lutut kawanan orang berseragam hitam itu.

Keruan orang-orang lain yang menyaksikan itu sama melongo pucat, hanya Cui Thian-ki saja yang tetap tenang, sama sekali tidak gugup, sebaliknya kelihatan senang.

Pang Jing tampak mandi keringat, ucapnya dengan gemetar. “Jadi kalian Wi-kim-mo-li dari barat ….”

Tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara melengking tajam, “Betul, ternyata luas juga pengetahuanmu!”

Suaranya nyaring serupa benda logam yang bergesek dan mengilukan.

Tambah takut Pang Jing, ucapnya gemetar, “Kim … Kim-locianpwe, selamanya tiada permusuhan apa pun antara kita, ken … kenapa engkau ….”

“Kentut!” bentak orang di luar anjungan itu. “Biarpun Ci-ih-hou bukan manusia baik, tapi kawanan dayangnya masakah boleh sembarangan disentuh oleh kawanan anjing seperti kalian ini?”

Lebih dulu ia memaki Ci-ih-hou bukan manusia baik, rasanya ia pun menaruh hormat kepada tokoh misterius itu, maka sukar diketahui sesungguhnya dia kawan atau lawan Ci-ih-hou.

Kawanan gadis merasa kejut dan girang. Bilamana orang ini adalah kawan Ci-ih-hou, maka musibah hari ini tentu akan berubah menjadi selamat. Sebaliknya kalau orang ini bukan kawan Ci-ih-hou, maka urusan pasti akan runyam.

Cui Thian-ki masih kelihatan tenang-tenang saja, agaknya ia sudah dapat meraba asal usul dan siapa pendatang ini.

Orang lain sama memandang keluar anjungan, sebab pendatang ini apakah baik atau busuk, kawan atau lawan, betapa pun pasti seorang tokoh yang terkemuka dan berharga untuk ditonton.

Mendadak cahaya emas berkilauan, sepotong lonjoran emas sepanjang tiga kaki terlempar masuk dengan cepat, dan begitu lonjoran emas jatuh ke lantai baru terlihat jelas lonjoran emas ini adalah manusia.

Perawakan orang ini tidak lebih dari satu meter, sekujur badan gemerdep warna emas, baju yang dipakainya entah terbuat dari bahan apa, kepala memakai kopiah raja emas berbentuk aneh, namun jelas sangat berat, jika terpakai di atas kepala orang lain bisa jadi tulang leher akan tertindih patah.

Yang paling aneh adalah jenggotnya yang panjang melebihi tubuhnya itu terseret menyentuh lantai, warna jenggotnya juga kuning emas sehingga kelihatan aneh dan lucu.

Bentuk orang ini jelas sangat lucu, tapi demi melihat dia, semua orang tiada lagi yang merasa geli, malahan lebih banyak yang gemetar ketakutan.

Serentak kawanan gadis warna emas tadi sama menyembah, tubuh mereka yang menggiurkan serupa patung bidadari emas yang memesona.

Kakek berjenggot emas itu terbahak-bahak, serunya, “Haha, bagus, bagus, mendingan kalian tidak membikin malu padaku.”

Memangnya suaranya terasa mengilukan, sekarang suara tertawanya tambah membuat telinga orang mendengung. Siapa pun sukar membayangkan bahwa orang tua yang bertubuh kerdil ini bisa mengeluarkan suara sekeras ini.

Mendadak suara tertawa si kakek berjenggot emas terhenti, sorot matanya beralih ke tubuh Cui Thian-ki.

Bukan saja seluruh tubuhnya berwarna emas, sampai sorot matanya juga memancarkan cahaya keemasan, asalkan beradu pandang dengan dia tanpa terasa akan timbul rasa ngeri.

Namun wajah Cui Thian-ki justru menampilkan senyuman genit dan menggiurkan.

Kim-si-lojin alias si kakek berjenggot emas tertawa, serunya, “Aha, bagus, tak tersangka si budak Cui juga berada di sini.”

“Bagus, bagus, tak terduga Kim-ho-ong akan hadir kemari!” Cui Thian-ki menanggapi dengan tertawa.

Cara bicaranya sengaja menirukan lagak lagu si kakek yang disebut Kim-ho-ong (Raja Sungai Emas) itu, dan caranya menirukan ternyata sangat persis sekali.

Sampai kawanan gadis berwarna emas tadi juga terbelalak heran.

Ling-ji dan lain-lain terkejut dan bergirang, pikir mereka, “Ah, syukurlah nona Cui kenal dia, agaknya kita akan tertolong. Selain bentuknya aneh, nama orang tua ini juga lucu, entah mengapa disebut Kim-ho-ong?”

Betapa pun mereka orang muda, begitu hilang rasa takutnya lantas mulai memikirkan hal-hal yang lucu.

Kim-ho-ong tertawa keras, katanya, “Budak kurang ajar, berani kau tirukan suara paman Kim?”

Biji matanya yang berwarna keemasan berputar, lalu berucap pula dengan menyesal, “Tapi budak Cui, sering kau omong besar betapa tinggi kepandaianmu, setelah kusaksikan sendiri tadi, sungguh aku sangat kecewa.”

“Oo? ….” Cui Thian-ki tertawa.

“Jika kau berada di sini, mengapa kau biarkan kawanan dayang Ci-ih-hou dan putrinya dianiaya kawanan binatang ini, sungguh aku pun kehilangan muka atas ketidakbecusanmu,” omel Kim-ho-ong sambil menggeleng kepala.

Agaknya dia sangat mendongkol sehingga jenggotnya yang panjang ikut bertebaran tertiup angin sehingga sekilas pandang serupa arus air sungai yang berwarna emas.

Baru sekarang kawanan ini tahu arti nama orang tua itu, rupanya karena jenggotnya yang bergerak seperti arus itu.

“Kawanan binatang ini memang menggemaskan,” kata Cui Thian-ki kemudian. “Entah cara bagaimana engkau akan membereskan mereka?”

“Mengingat di antara mereka ada juga yang kenal asal usulku, bolehlah mereka diampuni ….” ucap Kim-ho-ong.

Pang Jing dan begundalnya menjadi girang, sebaliknya kawanan gadis merasa penasaran.

Tak terduga Kim-ho-ong lantas menambahkan, “Dan bolehlah kematian mereka diberi keringanan, biar mereka mati dengan tubuh sempurna.”

Ucapan ini selain membuat kawanan orang berseragam hitam merasa ngeri, para gadis juga terperanjat. Siapa pun tidak menyangka si kakek emas bisa bertindak sekeji ini, katanya hendak mengampuni orang, namun nyawa orang tetap harus dilenyapkan.

Dengan suara parau Pang Jing berteriak, “Wi-kim-kiong ….”

Belum lanjut ucapannya dua gadis emas sudah menarik tubuhnya terus dilemparkan keluar, kontan tubuh Pang Jing menerobos jendela dan jatuh di tengah laut.

Menyusul lantas terdengar suara “plang-plung” berulang, dalam sekejap saja likuran orang berseragam hitam itu sudah dilempar semua ke laut.

Orang-orang berseragam hitam itu sudah cacat badan, dengan dilempar ke laut, jelas nyawa mereka pasti amblas.

Kim-ho-ong terbahak-bahak sambil meraba jenggotnya yang panjang, katanya, “Nah, baru sekarang beres seluruhnya. Kawanan lelaki yang bertubuh sempurna itu paling membuatku benci.”

Waktu ia berpaling, mendadak ia menuding Oh Put-jiu dan membentak, “Kenapa masih tersisa satu, lemparkan sekalian!”

Keruan Cu-ji dan Ling-ji terkejut. Terlihat kawanan gadis emas sudah mulai mengangkat tubuh Oh Put-jiu.

Tadi Ling-ji dan Cu-ji sudah menyaksikan Kungfu kawanan gadis emas yang hebat dan aneh itu, mereka sadar melulu tenaga sendiri sukar menyelamatkan Oh Put-jiu, tapi apa pun juga mereka tidak dapat menyaksikan si kepala besar dilempar ke laut begitu saja. Serentak mereka lantas melompat maju menghalangi daun jendela.

“Dia … dia bukan komplotan kawanan orang berseragam, juga tiada permusuhan apa pun dengan kalian, mengapa kalian hendak membunuhnya?” teriak Ling-ji.

“Setiap lelaki di dunia ini pantas mampus semua, tahu tidak?” ucap Kim-ho-ong. “Nah, lekas minggir?!”

Kejut dan gusar juga Ling-ji, teriaknya, “Jika begitu, memangnya setiap lelaki di dunia ini harus kau binasakan seluruhnya dan tersisa engkau sendiri saja baru puas, begitu?

“Ya, memang begitu, sebab ….”

Belum lanjut ucapan Kim-ho-ong, mendadak Cui Thian-ki menukas, “Sebab setelah setiap lelaki di dunia ini mati ludes, maka tiada orang yang merasakan dia terlebih cebol daripada lelaki lain.”

Kim-ho-ong tertawa keras, “Ya, betul, tahu juga kau.”

Watak kakek kerdil ini sungguh sangat aneh dan jarang ada bandingannya, pada waktu tidak perlu marah, ia justru marah. Sekarang ia disindir oleh Cui Thian-ki, ia berbalik tidak memperlihatkan rasa gusar.

Maka Cui Thian-ki berkata pula, “Tapi bila kau bunuh orang ini, ibuku pasti tidak suka, tatkala mana bila ibu tidak gubris lagi padamu, tentu bisa runyam bagimu.”

“Oo, apa betul?” tampak Kim-ho-ong melenggong.

“Siapa yang berani menipumu?”

Kembali Kim-ho-ong melenggong, mendadak ia mengentak kaki dan memukuli dada sendiri, papan geladak sampai berbunyi keras.

Melihat kegusaran kakek itu, kawanan gadis sama melengak, disangkanya sekali ini Oh Put-jiu pasti akan terbunuh.

Tak tersangka setelah berjingkrak sejenak, Kim-ho-ong lantas berteriak lagi, “Lepaskan bocah buruk itu, lempar ke belakang dan jangan sampai kulihat dia lagi.”

Dan sekali lempar, kawanan gadis emas itu lantas melemparkan Oh Put-jiu ke belakang anjungan.

Selang sejenak, setelah Ling-ji tenang kembali, perlahan ia tampil ke muka dan memberi hormat, katanya, “Cianpwe telah membebaskan kami dari kesukaran, entah cara bagaimana kami harus membalas budi pertolongan ini.”

“Betul, aku sudah menyelamatkan nyawa kalian,” seru Kim-ho-ong, “kalian memang pantas membalas kebaikanku ini. Cara bagaimana kalian akan membalas budi, boleh kau katakan sendiri saja.”

Ling-ji berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Ada juga Houya meninggalkan sedikit harta benda ….”

Kim-ho-ong tergelak, “Haha, harta benda? Siapa yang menghendaki harta bendamu? Setiap orang tahu Wi-kim-kiong kaya raya tiada tandingan, memangnya kedatanganku ini ingin mencari harta?”

Ling-ji melengak, ia coba melirik kawanan gadis emas, ucapnya dengan gugup, “Habis Cianpwe ingin … ingin apa?”

“Kau pun tidak perlu khawatir akan kubawa pergi kalian,” kata Kim-ho-ong pula. “Meski aku pun penggemar perempuan cantik, tapi pelayan orang lain rasanya tidak sudi kugaet.”

Baru sekarang Ling-ji mengembus napas lega, ucapnya hampa, “Entah Cianpwe ingin memberi pesan apa?”

Mendadak Kim-ho-ong berhenti tertawa, katanya dengan menarik muka, “Kedatanganku ini hanya ingin mencari berita satu orang. Permusuhanku dengan orang ini sedalam lautan dan tidak mungkin hidup bersama. Jika tidak kutemukan jejaknya dan membunuhnya, selama hidupku ini takkan tenteram.”

Ia bicara dengan penuh rasa dendam kesumat sehingga membuat ngeri orang yang mendengarkan.

“Entah … entah siapakah orang ini?” tanya Ling-ji dengan rada gemetar.

Gemertuk gigi Kim-ho-ong saking geregetan, katanya. “Dia bukan lain Suheng Ci-ih-hou yang busuk itu, ia ketakutan padaku sehingga bersembunyi seperti kura-kura. Di seluruh jagat ini hanya Ci-ih-hou saja yang tahu jejaknya.”

“Tapi … tapi agak terlambat kedatangan Cianpwe, sebab Houya kami sudah … sudah wafat,” ucap Ling-ji.

“Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu dia sudah mampus,” kata Kim-ho-ong dengan terkekeh. “Justru lantaran dia sudah mati, maka kudatang kemari. Mungkin kalian tidak tahu sudah belasan tahun kutunggu kematiannya dan selama itu belum terjadi. Ketika kudengar kabar dia akan bertanding pedang dengan orang, segera juga kususul kemari, ingin kulihat dia mampus di bawah pedang orang ….”

“Tapi dengan wafatnya Houya, kan tiada orang lain lagi yang tahu jejak ….”

“Haha, memangnya orang macam apa diriku ini sehingga dapat kau bohongi?” Kim-ho-ong tertawa aneh pula. “Hubungan Ci-ih-hou dengan Suhengnya lain daripada yang lain, bila Ci-ih-hou mati, mustahil dia tidak meninggalkan pesan apa-apa padamu? Terlebih si tokoh berbaju putih itu menyatakan tujuh tahun kemudian akan datang lagi, masakah Ci-ih-hou tidak menunjuk seseorang agar datang kepada Suhengnya untuk minta belajar?”

Air muka Ling-ji berubah, ucapnya tergegap, “Tapi … tapi ….”

“Tapi apa?!” bentak Kim-ho-ong. “Ayo, lekas kalian mengaku terus terang di mana dia tinggal, kalau tidak, jangan menyesal jika terpaksa aku bertindak kasar padamu.”

Meski biasanya Ling-ji pintar omong dan pandai putar lidah, tidak urung sekarang ia menjadi gelagapan.

Kim-ho-ong menarik sebuah kursi, ia melompat ke atas kursi dan duduk bersila di situ, katanya sambil memberi tanda kepada kawanan gadis emas, “Ayo lekas menyanyi, bawakan lagu yang enak didengar!”

Kawanan gadis emas itu mengiakan, segera mereka menyanyi. Meski suara mereka cukup merdu, namun kaku dan dingin, sedikit pun tidak enak didengar.

“Sehabis mereka bernyanyi dan kalian belum juga memberi keterangan, segera akan kuhajar adat padamu,” ucap Kim-ho-ong, lalu ia pejamkan mata untuk mengumpulkan semangat.

Ternyata lagu yang dibawakan gadis emas itu kemudian berubah menjadi merdu merayu dengan lirik yang porno sehingga membuat para pendengar terkesima dan akhirnya tidak tahan.

Mendadak Cui Thian-ki berseru, “Sudahlah, jangan nyanyi lagi!”

“Siapa itu yang bilang?” bentak Kim-ho-ong sambil membuka mata.

“Ai, seumpama mereka menyanyi tiga hari tiga malam dan orang tetap tidak mau bicara sekata pun, lain bisa apa?” ujar Cui Thian-ki.

Serentak Kim-ho-ong melompat turun, dampratnya sambil menuding Cui Thian-ki, “Budak busuk, jelas kau sendiri anggota keluarga Ngo-heng-sin-kiong kita, mengapa kau bicara membela orang lain?”

“Aku tidak bermaksud membela orang luar,” sahut Cui Thian-ki dengan tertawa. “Aku hanya bicara menurut fakta saja, memangnya engkau lebih suka aku dusta padamu.”

Kim-ho-ong memberi tanda sehingga suara nyanyi segera berhenti, dengan gemas ia melototi Ling-ji dan Cu-ji hingga sekian lama, mendadak ia membentak, “Kalian mau mengaku atau tidak?”

Namun Cu-ji dan Ling-ji tetap bungkam tanpa bersuara.

“Nah, apa kataku, betul tidak?” ujar Cui Thian-ki dengan tertawa.

Kim-ho-ong berjingkrak murka, tapi semakin garang ia mencaci maki, semakin rapat pula Ling-ji dan Cu-ji membungkam.

Cui Thian-ki berdiri bersandar dinding dengan santai, ucapnya perlahan, “Jika engkau percaya dan mau menurut, hendaknya engkau pulang saja supaya tidak bikin rusak kesehatanmu sendiri jika terus marah-marah di sini.”

Kim-ho-ong termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ia tertawa keras lagi, katanya, “Haha, bagus, ingin kulihat apakah kalian mau mengaku atau tidak?”

Segera ia mengeluarkan segulung kawat emas.

Panjang kawat emas ini tampaknya ada beberapa tombak, halus serupa benang, mirip benang sulam yang biasa dipakai orang perempuan, siapa pun tidak tahu apa gunanya kawat emas lembut ini bagi Kim-ho-ong.

Hanya Cui Thian-ki saja yang tahu apa gunanya kawat emas itu, mendadak air mukanya berubah.

Dalam pada itu Kim-ho-ong telah mengayun tangannya sehingga gulungan kawat emas itu terjulur panjang ke depan dan tertarik hingga lurus.

“Hehe, coba, kau mengaku atau tidak?” dengan terkekeh Kim-ho-ong lantas menyabetkan kawat emas itu ke tubuh kawanan gadis.

Kawat emas itu beberapa tombak panjangnya sehingga setiap anak gadis itu rata-rata tersabet oleh kawat itu. Orang mungkin menyangka kawat emas selembut itu takkan menimbulkan rasa sakit meski tersabet. Ternyata tidak demikian halnya, begitu sabetan menyentuh badan, kontan baju kawanan gadis itu sama robek berkeping-keping sehingga kelihatan kulit badan yang putih bersih dan babak belur.

Karena Hiat-to mereka tertutuk sehingga tidak dapat bergerak, ingin menjerit pun tidak bisa, hanya wajah mereka kelihatan ketakutan dan menahan rasa sakit.

Ling-ji dan Cu-ji berteriak terus menubruk maju, segera mereka bermaksud menarik kawat emas. Siapa tahu kawat emas lembut itu ternyata bergerak serupa ular hidup, sekali berputar dan melingkar balik, kontan Ling-ji berdua juga tersabet.

Tergetar tubuh Ling-ji dan Cu-ji, sabetan kawat emas itu serupa besi panas yang menyengat tubuh, sakitnya sukar dilukiskan.

“Nah, mengaku tidak?” bentak Kim-ho-ong pula dengan terkekeh. Melihat orang lain tersiksa, tampaknya dia sangat senang, tangan bergerak dan kawat emas segera hendak menyabet pula.

Ling-ji dan Cu-ji menjadi nekat dan bermaksud menerjang musuh untuk melabraknya.

Mendadak terdengar seorang berteriak, “Berhenti dulu, akan kukatakan!”

“Haha, bagus, akhirnya ada juga yang mengaku!” seru Kim-ho-ong dengan tertawa, sekali sendal, kawat emas panjang itu melingkar balik dan tergulung menjadi satu.

Maka terlihatlah seorang anak lelaki dengan mata besar dan hidung mancung muncul dari pojok ruang sana. Siapa lagi dia kalau bukan Pui Po-ji. Entah sejak kapan dia sudah siuman.

“Huh, setan cilik macam dirimu ini tahu apa?” omel Kim-ho-ong dengan kening bekernyit.

Berbareng Ling-ji dan Cu-ji lantas berteriak juga, “Po-ji, tidak boleh kau katakan.”

Semula Kim-ho-ong tidak percaya anak sekecil itu tahu sesuatu, demi mendengar ucapan Ling-ji dan Cu-ji, ia menjadi girang, sebab kalau benar anak bocah ini tidak tahu apa-apa, tentu Ling-ji berdua tidak perlu khawatir.

Sekali lompat segera Kim-ho-ong mendekati Po-ji, ucapnya dengan tertawa, “Anak sayang, lekas katakan apa yang kau ketahui, sebentar kakek memberikan permen untukmu.”

Ia menjulurkan tangan dan bermaksud membelai kepala Po-ji, sayang ia terlampau kerdil, lebih pendek satu kepala daripada Po-ji, dengan sendirinya sukar meraba kepala anak itu.

Mendadak Po-ji mendelik dan menjawab, “Engkau kakek siapa?”

Kim-ho-ong melenggong, lalu tergelak dan berkata, “Haha, bagus, bagus! Aku kakek orang lain!”

Po-ji tertawa, katanya, “Bagus, adik cilik berjenggot panjang, beginilah baru kakak sayang padamu, sebentar kakak membelikan permen untukmu.”

Kembali Kim-ho-ong melenggong, seperti mau marah, tapi urung sehingga sikapnya kelihatan kikuk, hanya meraba jenggot terus-menerus.

Bilamana tidak lagi tertekan perasaannya, tentu Ling-ji dan Cu-ji sudah tertawa geli.

Segera Po-ji bertutur, “Setelah Ci-ih-hou wafat, pernah dia tinggalkan sepucuk surat wasiat, pada sampul surat tertulis alamat Suhengnya. Surat wasiat itu sekarang berada pada siapa, hal ini tentu sangat ingin kau ketahui bukan?”

“Ya, betul, lekas berkata,” seru Kim-ho-ong girang.

“He, bicara dengan Toako, mana boleh sekasar ini?!” omel Po-ji.

Kim-ho-ong berdehem kikuk, diam-diam ia memaki di dalam hati, “Binatang cilik, sebentar bila sudah kau katakan, bisa kurobek tubuhmu.”

Tapi sebelum Po-ji bertutur, andaikan dia disuruh memanggil anak itu sebagai kakek mungkin juga akan dilakukannya.

Terpaksa ia terkekeh dan menjawab, “Oya, Toako, mohon lekas menjelaskan.”

Cui Thian-ki tertawa mengikik geli, serunya, “Hihihi, lucu bin aneh, lelucon setiap tahun terjadi, baru ini terlebih lucu. Kakek jenggot panjang justru memanggil Toako kepada seorang anak kecil!”

Ling-ji dan Cu-ji tidak tahan lagi rasa gelinya, mereka mengikik tawa. Tapi demi teringat kepada persoalan rumit yang belum terpecahkan, air mata mereka hampir menitik lagi.

Terdengar Po-ji berkata, “Jika kau minta Toako bicara, mudah saja. Cuma anak gadis ini sama sekali tiada permusuhan denganmu, lebih baik kau bebaskan mereka pergi saja.”

Gemertuk gigi Kim-ho-ong saking geregetan, tapi di mulut terpaksa menjawab, “Ah, gampang, gampang ….”

Lalu ia memberi tanda, “Buka Hiat-to mereka dan bebaskan mereka pergi!”

Hendaknya maklum, dengan susah payah ia berusaha mencari tahu tempat pengasingan Suheng Ci-ih-hou, segala urusan lain dapat dikesampingkannya. Kalau tidak, masakah dengan kedudukannya yang diagungkan sudi menyebut “Toako” kepada Pui Po-ji?

Maka dengan gerak cepat kawanan gadis emas tadi lantas bekerja, hanya sekejap saja kawanan gadis lantas dapat bergerak bebas.

Keadaan kawanan gadis itu agak mengenaskan, baju robek dan muka pucat, badan babak belur pula, berdiri saja tampak lemas, dan tangan mereka berusaha menutupi bagian badan yang terbuka, dengan wajah memelas mereka memandang Ling-ji dan Cu-ji.

Namun Ling-ji dan Cu-ji sendiri juga berlinang air mata, mereka menunduk dan berucap lemah, “Kalian lekas pergi saja ….”

Po-ji tidak tega memandang mereka, ia cuma berseru, “Peti yang terletak di pojok sana itu memang bagian mereka, bagaimana kalau diberikan juga kepada mereka.”

“Oya, boleh, boleh saja ….” kata Kim-ho-ong sambil memberi tanda.

Hanya sekejap saja kawanan gadis emas sudah mengangkat puluhan peti harta itu ke depan kawanan gadis jelita.

Terpaksa kawanan gadis itu angkat kaki dengan menerima pesangon itu. Biarpun mereka tidak mau pergi, terpaksa mereka pergi dengan perasaan berat. Betapa pun mereka adalah anak perempuan yang tidak tahan siksa dan hinaan lagi.

“Budak busuk!” bentak Kim-ho-ong. “Tidak lekas enyah, mau tunggu apa lagi? Apa minta kuhajar pula?”

Dengan gemetar kawanan gadis itu sama berlutut di depan Ling-ji dan Cu-ji sambil meratap, “Maaf, kami … kami menyesal ….”

“Tidak, Houya pasti tidak menyalahkan kalian,” ujar Ling-ji. “Sekarang lekas kalian pergi saja.”

“Betul, Houya memang juga menyuruh kalian lekas pergi, maka lekaslah berangkat, bila terlambat lagi mungkin menjadi kasip seterusnya,” tukas Cui Thian-ki sambil membagikan peti harta benda itu.

Berulang Kim-ho-ong mengentak kaki dan membentak agar kawanan gadis itu lekas enyah.

Akhirnya kawanan gadis itu melangkah pergi, sebelum keluar anjungan, tanpa terasa mereka sama menoleh memandang sekejap kepada Po-ji, meski cuma sekilas pandang saja, namun sorot mata mereka yang pedih dan terima kasih itu cukup membuat Po-ji takkan lupa selamanya.

Malam bertambah larut, kabut tambah tebal sehingga cahaya bintang pun guram.

Terlihat belasan sosok bayangan emas kecil menjinjing lentera, ada yang duduk dan ada yang berdiri sama berpegangan pada tambang layar di sekitar anjungan, cahaya lentera menembus ke dalam anjungan melalui jendela yang terbuka. Bayangan emas kecil itu tampaknya serupa benar dengan Kim-ho-ong, tapi bila diawasi baru ketahuan “mereka” tidak lain adalah belasan ekor kera berbulu emas yang sudah terlatih sehingga paham benar kehendak sang majikan.

Di samping kapal layar terdapat belasan rakit kulit yang ringan, mungkin rakit yang digunakan Kim-ho-ong dan rombongannya. Rakit kulit yang enteng dan gesit sehingga tidak menimbulkan suara ketika meluncur di permukaan air.

Kawanan gadis menurunkan sampan, lalu berangkat dengan menahan isak tangis.

Kim-ho-ong sudah tidak sabar menunggu lagi, segera ia terkekeh dan menegur Pui Po-ji, “Nah, mereka sudah pergi. Sekarang tentunya dapat kau katakan siapa yang memegang surat wasiat tinggalan Ci-ih-hou,”

“Ya, berada padaku sendiri,” jawab Po-ji.

“Oo, berada … berada padamu?!” Kim-ho-ong menegas. “Wah, bagus sekali. Nah, serahkan padaku.”

Tapi Po-ji hanya menatapnya dengan pandangan tajam, sorot matanya menampilkan sikap yang aneh, seperti mengejek, serupa juga senang, “Kau tidak dapat mengambilnya.”

“Binatang cilik,” Kim-ho-ong menyeringai. “Apakah kau pun ingin tahu rasa?”

Mendadak Po-ji tertawa, ejeknya, “Huh, kau monyet emas tua bangka, kenapa tidak kau bunuh diriku dan makan diriku atau bakar diriku, yang jelas surat wasiat itu takkan dapat kau ambil, sebab surat wasiat itu sudah kumakan di dalam perut.”

Kejut dan girang Ling-ji dan Cu-ji, akhirnya terharu juga dan mencucurkan air mata pula, mencucurkan air mata bagi Pui Po-ji. Siapa pun tidak menyangka anak sekecil ini sedemikian berani dan sedemikian cerdik.

Kim-ho-ong seperti disambar petir dan termangu-mangu, mendadak ia membentak murka, “Binatang cilik, akan kubedah perutmu!”

Habis bicara serentak ia menubruk maju dan mencengkeram serupa hantu. Meski perawakannya lebih kecil, sekali cengkeram Po-ji kena diangkatnya ke atas.

Po-ji sudah bertekad untuk mati, maka sama sekali ia tidak memperlihatkan rasa takut, sebaliknya ia malah tersenyum, hanya dalam hati terasa agak pedih.

Ling-ji menjerit dengan gemetar, “Jangan takut Po-ji, jika engkau mati biar kutemanimu ….”

“Aku juga ….” sambung Cu-ji dengan menangis sehingga tidak dapat meneruskan ucapannya.

“Lepaskan dia!” mendadak Cui Thian-ki membentak.

Dengan menyeringai Kim-ho-ong menjawab, “Sebentar setelah kubedah perutnya baru kulepaskan dia!”

“Akan kau bedah perutnya? Memangnya sengaja hendak kau bikin aku menjadi janda?” seru Cui Thian-ki.

Kim-ho-ong melenggong heran, “Apa … apa katamu?”

Dengan santai Cui Thian-ki menjawab, “Dia sudah menjadi suamiku, aku telah menjadi istrinya. Sekarang dia adalah majikan cilik ‘Seng-cui-sin-kiong’ kami, memangnya berani kau bunuh dia?”

Setelah tertegun sejenak, mendadak Kim-ho-ong menengadah dan terbahak-bahak, “Hahaha, kau telah menjadi istrinya? Hahaha, binatang cilik ini suamimu? Haha … omong kosong … kentut belaka … lelucon yang tidak lucu ….”

Suara tertawanya makin lama makin ewa, makin lemah, sampai akhirnya cuma keluar suara “ho-ho-ho” dan “he-he-he” dari kerongkongannya. Soalnya dari sikap Ling-ji dan Cu-ji serta ketenangan Cui Thian-ki, ia tahu apa yang dikatakan Cui Thian-ki itu bukanlah kentut, juga bukan omong kosong, apalagi lelucon.

“Nah, tidak kau lepaskan dia sekarang?!” kata Cui Thian-ki pula dengan tersenyum.

Kim-ho-ong mengentak kaki berulang-ulang dengan menggertak gigi, tiba-tiba ia terkekeh dan berucap halus, “Hehe, nona yang baik, kumohon, kuminta dengan hormat, biarkan kubunuh bocah ini. Jika tidak kubunuh bocah ini, sungguh rasa gemasku tidak terlampiaskan. O, nona baik, biarkan kubunuh dia, selama hidupku takkan kulupakan kebaikanmu.”

“Ai, kenapa engkau menjadi pikun begini?!” ujar Cui Thian-ki dengan tertawa genit. “Kan sudah kukatakan, dia sudah menjadi suamiku, mana kutega membiarkan dia dibunuh olehmu?”

“Oo, nonaku yang baik, selanjutnya, biarpun harus kupanggil bibi padamu pun jadi, ingin kusembah padamu pun boleh, asal saja ….”

“Tidak, betapa pun tidak bisa,” potong Cui Thian-ki sambil menggeleng.

Mendadak Kim-ho-ong berteriak dan memaki, “Keparat, budak busuk, budak mampus, jangan kau lupa, berpuluh orang tua-muda atau besar-kecil penghuni Ngo-heng-kiong hanya Kungfuku yang paling tinggi, jika kubunuh dia begitu saja memangnya kau bisa berbuat apa padaku?”

Cui Thian-ki tertawa, katanya, “Betul, memang Kungfumu paling tinggi, tapi jika berhadapan dengan ibuku, sama sekali Kungfumu tidak ada gunanya lagi. Meski caramu bicara sekarang galak seperti setan, bila berhadapan dengan ibuku, kentut saja kau tidak berani.”

Kepala Kim-ho-ong lantas menunduk, muka pun kelihatan merah, agaknya apa yang dikatakan Cui Thian-ki itu memang bukan omong kosong.

Kawanan gadis emas saling pandang dan sama menampilkan senyuman aneh. Meski orang luar tidak ada yang tahu kenapa Kim-ho-ong yang garang itu bisa sedemikian takut terhadap majikan perempuan “Seng-cui-sin-kiong”, namun kawanan gadis emas itu tentu saja tahu dengan jelas hal tersebut.

Selang tak lama, tiba-tiba Kim-ho-ong mengangkat kepala, katanya dengan menyeringai, “Hm, bilamana kau pun kubunuh sekalian di sini, dari mana ibumu mendapat tahu siapa yang berbuat kejam padamu?”

“Memangnya kau berani?” tanya Cui Thian-ki dengan tertawa.

“Kenapa tidak berani?” jawab Kim-ho-ong.

“Tidak, kau tidak berani,” ujar Thian-ki dengan tertawa. “Jika berani tentu sejak tadi sudah kau lakukan. Sebab, apa pun juga kau tidak pernah lupa kepada Bu-cui-wi-hong-kiam (sengat tawon kuning tanpa cairan) Seng-cui-sin-kiong kami. Biarpun aku dapat kau bunuh juga sebelum mati akan kusengat dirimu satu kali, sengatan yang tidak dapat disembuhkan oleh siapa pun di dunia ini, sebab orang yang pernah merasakan sengatan demikian sudah lama sama pulang ke rumah nenek moyangnya alias modar, sebabnya selama ini Bok-long-kun tidak berani bergebrak denganku secara terbuka bukankah karena dia juga takut kugunakan jurus terakhir yang siap untuk gugur bersama ini?!”

Kembali Kim-ho-ong melenggong sampai sekian lama, mendadak ia lepaskan Pui Po-ji, bentaknya dengan geregetan, “Kurang ajar! Bisa mati aku saking gusar!”

Habis berucap, terus saja ia menerjang ke dinding anjungan. Betapa kuat dinding kapal itu, tapi sekali ditumbuk oleh kepalanya, langsung dinding kapal menjadi bolong, di tengah berhamburnya bubuk kayu ia terus menerobos keluar.

Melihat betapa hebat kekuatan orang tua kerdil itu, Ling-ji dan Cu-ji sama melongo kaget.

Selang sejenak, “blang”, tahu-tahu dinding sebelah lain berlubang pula dan Kim-ho-ong melayang masuk lagi sambil terbahak-bahak.

Sementara itu Cui Thian-ki sudah membangunkan Pui Po-ji dan sedang meraba-raba tubuh anak itu sambil bertanya, “Sakit tidak?”

Lalu ia berpaling dan tanya Kim-ho-ong, “Nah, rasa gemasmu sudah terlampias?!”

“Haha, aku ini sungguh keledai tolol, keledai goblok!” ucap Kim-ho-ong dengan tertawa.

“Jadi baru sekarang kau tahu?” ujar Cui Thian-ki dengan terkikih geli.

Kim-ho-ong tidak menggubrisnya lagi, ia tetap terkekeh dan berkata pula, “Hehe, meski tidak dapat kubunuh kalian, memangnya tidak dapat kubekuk kalian, lalu kukurung di suatu tempat terpencil, akan kusiksa kalian dengan perlahan, akhirnya bocah ini masa tidak mengaku di mana alamat yang tertulis pada surat wasiat itu?”

Air muka Cui Thian-ki berubah, untuk pertama kalinya ia memperlihatkan rasa kejut dan khawatirnya.

“Hehe, biarpun tidak kutemukan mayat Ci-ih-hou, tapi kapal ini dapat kuhancurkan hingga berkeping-keping, sedikit-banyak akan terlampiaslah rasa dongkolku.”

Ling-ji dan Cu-ji menjadi khawatir oleh ancaman kakek kerdil itu, soalnya bukan cuma mayat Ci-ih-hou memang masih berada di dalam kapal, Siaukongcu juga belum meninggalkan kapal. Sejak tadi mereka tidak berani memandang putri kecil itu justru lantaran khawatir asal usul Siaukongcu sebagai satu-satunya keturunan Ci-ih-hou akan diketahui musuh.

Sekarang dalam keadaan khawatir mereka tidak dapat berpikir panjang lagi, serentak mereka menubruk ke atas tubuh Siaukongcu, dengan mendelik mereka berkata, “Kau be … berani?”

Kim-ho-ong menyeringai, “Hehe, kenapa tidak berani? Bukan saja kapal ini akan kuhancurkan, juga segenap penumpang di atas kapal ini akan kubunuhi seluruhnya. Hanya budak cilik ini ….”

Sampai di sini ia menuding Siaukongcu, tertawanya tambah riang, lalu menyambung, “Budak cilik ini tampaknya pasti keturunan Ci-ih-hou, maka akan kubesarkan dia dan kelak akan kujadikan dia sebagai selirku yang ke-199.”

“Kau … kau ….” saking cemas hingga Ling-ji tidak sanggup bicara.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar anjungan kapal layar pancawarna itu bergema suara orang menyebut Buddha, “Omitohud!”

Kata-kata yang sederhana itu diucapkan dengan sangat kaku, menyusul suara seorang yang dingin dan aneh berkata pula, “Siapa pun tidak boleh mengganggu sesuatu benda apa pun di kapal ini.”

Waktu suaranya mulai bergema kedengaran sangat jauh, tapi pada kata terakhir diucapkan, tahu-tahu orangnya sudah berada di luar pintu.

Kejut dan gusar Kim-ho-ong, bentaknya, “Siapa itu, berani ikut campur urusanku?”

“Apakah kau kenal diriku?” jengek suara seorang di luar, lalu muncul seorang padri berkulit hitam dan berkaki telanjang dengan jubah kain belacu.

“Hah, apakah engkau ini Kah-sing Hoat-ong?” tanya Kim-ho-ong kaget.

Hendaknya maklum, nama Kah-sing Hoat-ong, padri fakir dari India ini sudah lama terkenal, meski Kim-ho-ong tidak pernah melihatnya, tapi dari dandanan dan bentuknya yang aneh yang sering dilukiskan dalam cerita orang Kangouw ini, sekali pandang saja dapatlah Kim-ho-ong menerka siapa dia.

Wajah Kah-sing Hoat-ong yang kurus kering itu menampilkan senyuman aneh, senyuman yang tidak senyum, hanya ujung mulut saja bergerak sedikit.

Ia merangkap kedua telapak tangan di depan dada, ucapnya perlahan, “Tidak tersangka Kim-kiong-mo-cu juga kenal diriku.”

Dandanan Kim-ho-ong yang aneh dan perawakannya yang unik juga diketahui oleh setiap orang Kangouw, maka sekali pandang saja segera pula Kah-sing Hoat-ong tahu siapa dia.

“Hehe, sama-sama,” ucap Kim-ho-ong. “Antara kita sebenarnya serupa air sungai tidak pernah melanggar air sumur, entah mengapa Taysu sengaja datang mencampuri urusanku?”

“Aku tidak ingin ikut campur urusanmu, apakah kau ingin hidup atau minta mati sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku,” kata Kah-sing Hoat-ong. “Hanya mengenai kapal layar pancawarna ini, siapa pun tidak boleh mengganggunya.”

Ketika melihat kedatangan penolong, semula Ling-ji dan Cu-ji merasa gembira, sekarang diketahui kedatangan padri fakir ini bermaksud jahat, tentu saja mereka sangat kecewa.

Diam-diam Cui Thian-ki mendekati mereka dan berkata, “Kalian tidak perlu kecewa, kalian harus tahu orang yang datang ke kapal ini semuanya serupa serigala yang menyampaikan selamat ulang tahun kepada ayam, tidak seorang pun yang berniat baik. Maka bila kita ingin menyelamatkan diri, kita sendiri yang harus mencari akal.”

“Akal … akal apa?” tanya Ling-ji.

Cui Thian-ki menghela napas, ucapnya, “Saat ini pun aku tidak tahu akal apa.”

Dalam pada itu Kim-ho-ong sedang mendengus, “Hm, tak terduga orang beragama seperti Taysu juga punya pikiran tamak dan hendak merampas harta milik orang lain. Memangnya engkau tidak takut berdosa?”

“Aku cuma tidak sampai hati menyaksikan Kungfu sakti tinggalan Ci-ih-hou akan lenyap begitu saja, maka sengaja kudatang kemari untuk mengambil kitab pusaka ilmu silat tinggalannya untuk disebarluaskan, mengenai barang lain sama sekali tidak perlu kusentuh, inilah tujuanku yang baik, masakah kau bilang aku tamak?”

“Wah, jika begitu, jadi akulah yang salah omong, maaf,” kata Kim-ho-ong.

“Omitohud! Yang tidak tahu tidak salah,” ucap Kah-sing Hoat-ong.

“Hahaha, sungguh padri bajik munafik,” mendadak Kim-ho-ong tergelak. “Jika Kungfu tinggalan Ci-ih-hou harus disebarluaskan, itulah merupakan tugas anak muridnya, masakah perlu minta jasamu?”

“Memangnya siapa anak muridnya?” tanya Kah-sing Hoat-ong dengan sinar mata gemerdep.

“Semua yang berada di anjungan ini,” kata Kim-ho-ong.

Sorot mata Kah-sing Hoat-ong yang tajam menyapu pandang sekejap atas diri Pui Po-ji, Cui Thian-ki. Ling-ji, Cu-ji dan Siaukongcu, lalu katanya dingin, “Hm, bakat kelima orang ini kurang bagus, jika mereka mewarisi Kungfu Ci-ih-hou, hasilnya tentu akan memalukan perguruan Ci-ih-hou. Sudah lama aku bersahabat moril dengan Ci-ih-hou, aku tidak tega membiarkan namanya tercemar setelah meninggal, terpaksa hari ini aku harus bertindak baginya dan mengambil seluruh kitab pusaka ilmu silatnya.”

“Huh, padri tua serupa dirimu ini jelas ingin mencuri ilmu silat orang lain, tapi sengaja bicara muluk-muluk, sungguh menggelikan,” sindir Kim-ho-ong.

“Kau berani kasar terhadapku?” teriak Kah-sing Hoat-ong gusar.

“Hari ini paling-paling kita harus berkelahi, memangnya kasar atau halus apa bedanya?” sahut Kim-ho-ong. “Hm, orang lain takut padamu, masakah aku pun takut?”

“Hah, bagus!” seru Kah-sing Hoat-ong gusar. “Memangnya sudah lama ingin kulihat betapa hebat Kungfu istana emas. Ayo, silakan mulai!”

“Silakan kentut, boleh coba Hwesio mulai dulu,” kata Kim-ho-ong dengan mencibir.

Keduanya saling melotot dan berdiri muka berhadapan muka. Meski Kah-sing Hoat-ong juga pendek kecil, ternyata Kim-ho-ong jauh lebih cebol daripada dia.

Angin meniup kencang sehingga menambah hawa dingin.

Melihat kedua tokoh kelas top ini segera akan bertempur mati-matian, semua orang ikut bersemangat dan ingin menonton peristiwa menarik ini. Maklumlah, keduanya sama-sama tokoh aneh, tentu Kungfu mereka pun lain daripada yang lain.

Selain tertarik untuk melihat Kungfu yang aneh, para penonton juga berbeda perasaan daripada menyaksikan pertarungan Ci-ih-hou dengan jago pedang baju putih itu. Semua orang ikut prihatin atas kalah atau menang pertandingan Ci-ih-hou, sebaliknya kalah atau menang akhir pertarungan kedua orang aneh ini tiada seorang pun yang peduli.

Maklumlah, siapa pun di antara mereka menang tiada sedikit pun bermanfaat bagi orang banyak. Jika kedua orang ini nanti sama-sama terkapar, itulah kejadian yang diharapkan.

Sementara itu Kah-sing Hoat-ong dan Kim-ho-ong masih berdiri saling melotot tanpa bergerak. Dengan sendirinya pandangan semua orang juga terpusat kepada mereka.

Sekonyong-konyong tangan Kim-ho-ong bergerak, kawat emas yang tergenggam itu mendadak menyambar ke depan membawa suara mendesir dan tepat mengenai tubuh Kah-sing Hoat-ong.

Biarpun kawat emas itu menyambar dengan cepat, namun semua orang memperkirakan padri fakir itu tentu dapat mengelak dengan gesit. Siapa tahu Kah-sing Hoat-ong sama sekali tidak mengelak dan menghindar melainkan membiarkan tubuh disabet oleh kawat emas itu.

Ling-ji dan Cu-ji sudah merasakan betapa sakit sabetan kawat emas, disangkanya Kah-sing Hoat-ong pasti juga sukar terhindar dari babak belur, siapa tahu padri fakir itu ternyata baik-baik saja, kulit badannya yang hitam tiada tanda lecet luka apa pun, juga wajahnya tidak memperlihatkan rasa sakit.

Kim-ho-ong masih terus ayun tangan, dalam sekejap saja sudah menyabet empat kali.

Kah-sing Hoat-ong seperti terkesima dan membiarkan diri dihujani cambukan tanpa bergerak.

Sambil menyeringai mendadak kawat emas Kim-ho-ong menyabet terlebih keras, lalu tidak ditarik kembali lagi melainkan terus melingkar, serupa ular saja kawat emas itu membelit tubuh Kah-sing Hoat-ong hingga belasan kali. Waku Kim-ho-ong menarik sekuatnya, ternyata gagal. Malahan Kah-sing Hoat-ong lantas pejamkan mata, siapa pun tidak mampu membuatnya bergerak.

Heran dan kejut semua orang, diam-diam Cu-ji berkata, “Meski Kungfu Kah-sing Hoat-ong sangat lihai, tapi caranya bertempur dengan orang tanpa bergerak, mana dapat ia mengalahkan lawannya?”

“Kukira dia mempunyai cara untuk mengalahkan lawannya, hanya entah ….”

Cui Thian-ki mendengus sebelum lanjut ucapan Ling-ji, “Peduli dia akan menang atau kalah, paling baik keduanya mampus sekaligus.”

Mendadak Po-ji yang dipegangnya itu meronta lepas.

“Hei, kau mau apa?” tanya Thian-ki.

“Paman kepala besar sedang memanggilku, biar kujenguk dia,” desis Po-ji.

Sementara itu air muka Kim-ho-ong tampak prihatin, kawat emas yang dipegangnya terbetot lurus, namun benang sehalus itu ternyata tidak putus.

Kah-sing Hoat-ong tetap tidak bergerak. Rupanya ilmu yoga dari negeri Thian-tiok (India) memang sangat ajaib, yang diutamakan adalah “tahan” atau sabar. Seorang ahli yoga kelas top biasanya dibakar atau direndam pun takkan mati, bahkan dikubur selama berpuluh hari pun tetap hidup. Sesuatu hal yang orang lain tidak tahan justru dapat dilakukan mereka.

Pertarungan di antara dua orang, jika selisih Kungfu masing-masing tidak banyak, maka soal kesabaran dan ketahanan memegang peranan penting dan merupakan kunci kalah atau menang.

Kah-sing Hoat-ong terkenal sebagai jago nomor satu di negeri Thian-tiok, dengan sendirinya dalam hal “tahan” boleh dikatakan tidak ada taranya lagi.

Angin menderu di luar, kapal layar besar ini jadi rada goyang, namun perhatian semua orang sama terpusat pada pertarungan sengit ini sehingga tidak merasakan perubahan cuaca.

Kening Kim-ho-ong mulai keluar butiran keringat.

Perlahan Po-ji kembali mendekati Ling-ji dan mendesis, “Paman kepala besar tanya padamu, di mana tempat perpustakaan Ci-ih-hou?”

Ling-ji berjongkok sedikit dan membisiki telinga Po-ji, “Yaitu pada pintu yang dimasuki Houya tadi.”

Po-ji mengangguk, diam-diam ia mengeluyur pergi lagi.

Pada saat itulah mendadak Kim-ho-ong membentak tertahan, “Menari!”

Serentak kawanan gadis emas mengiakan dan terjun ke arena dan mulai berlenggak-lenggok lagi.

Di bawah cahaya lentera terlihat paha mereka yang jenjang dan dada yang montok dengan gaya menari yang menggiurkan serta desis perlahan yang menggetar sukma.

Biarpun Ling-ji dan Cu-ji juga sama orang perempuan, tidak urung mereka pun terkesima dan terangsang.

Air muka Kah-sing Hoat-ong yang semula tampak tenang tiba-tiba berubah prihatin, lambat laun dahinya yang hitam itu pun merembes keluar butiran keringat.

Sebaliknya sikap Kim-ho-ong kelihatan agak santai. Deru angin di luar juga mulai mereda.

Sekonyong-konyong angin meniup tanpa suara, “prak, blang”, badan kapal berguncang keras disertai beberapa jeritan melengking, sebagian lentera sama padam. Rupanya tiang layar mendadak patah.

Berbareng Ling-ji dan Cu-ji berteriak kaget, “Liong-kui-hong (sejenis angin puyuh)!”

Belum lenyap suaranya, kembali angin menyambar lagi, terdengar jeritan di sana-sini, cahaya lentera padam seluruhnya. Mungkin kawanan kera emas yang memegang lentera itu sama terbawa angin dan tercemplung ke laut.

Seketika keadaan gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Angin meniup kencang, kapal menjadi oleng. Ling-ji saling pegang tangan dengan Cu-ji, Cui Thian-ki berteriak-teriak, “Po-ji … Po-ji ….”

Namun tidak ada suara jawaban.

Angin tambah keras, kapal semakin guncang, kawanan gadis emas ikut menjerit juga.

Dengan erat Cui Thian-ki merangkul tiang layar, baru saja membuka mulut hendak berteriak, seketika angin dahsyat membuatnya gelagapan sehingga sukar bersuara. Terdengar angin menderu bagai harimau meraung di samping telinga.

Mendadak badan kapal miring ke samping disertai suara “blang-blung”, di tengah serentetan suara keras itu terseling pula jeritan ngeri orang perempuan, entah suara siapa.

Cepat Kim-ho-ong membentak, “Jangan ….”

Belum lanjut ucapannya lantas terputus, entah putus oleh deru angin yang dahsyat atau karena kena serangan Kah-sing Hoat-ong.

Maka tidak ada lagi suara orang. Di tengah angin dahsyat tiba-tiba terdapat pula suara hujan, dari kecil menjadi besar, dalam sekejap raja butiran air hujan laksana mutiara yang jatuh berhamburan.

Ombak bergemuruh dan hujan angin memekak telinga, bumi dan langit gelap gulita, dalam keadaan demikian, betapa pun tangkasnya seorang juga akan tunduk di bawah amukan alam.

Cui Thian-ki masih terus merangkul tiang dan tampak ketakutan, dalam keadaan demikian baru dirasakan betapa kecilnya manusia, tanpa kuasa ia memberosot dan berlutut.

Air ombak mendampar ke atas kapal sehingga Cui Thian-ki basah kuyup, daun jendela tergetar rontok dan ditelan ombak yang tidak kenal ampun.

Entah berselang berapa lama, lambat-laun Cui Thian-ki tidak sadarkan diri, yang teringat cuma merangkul tiang seeratnya dan tidak tahu urusan lain.

Mendadak sinar kilat berkelebat, suara guntur pun menggelegar.

Di bawah cahaya kilat dan bunyi guntur, terlihat seseorang menggelinding keluar dari pojok sana, siapa lagi dia kalau bukan Oh Put-jiu. Ia seperti sukar menyelamatkan diri dan segera akan terguling keluar anjungan dan segera pula bisa ditelan ombak.

Sekilas lihat, secara di bawah sadar Cui Thian-ki berteriak, “Selamatkan dia!”

“Kenapa harus menyelamatkan dia?” jengek seorang dengan dingin.

“Sebab rahasia tempat sembunyi kitab tinggalan Ci-ih-hou hanya dia saja yang tahu,” seru Cui Thian-ki dengan suara parau.

Baru lenyap suaranya, kembali sinar kilat berkelebat dan guntur berbunyi.

Sesosok bayangan orang segera melayang maju dan menubruk di atas tubuh Oh Put-jiu, kedua tangannya yang kuat serupa cakar baja menjuju, “crat”, langsung kedua tangan menancap geladak kapal sehingga tubuh Oh Put-jiu serupa terbelenggu erat di atas geladak.

Cui Thian-ki dapat melihat dengan jelas, orang yang menyelamatkan Oh Put-jiu itu bukan lain daripada Kah-sing Hoat-ong.

Hanya sekilas pandang saja, lalu Cui Thian-ki tidak ingat apa-apa lagi.

Guntur masih menggelegar disertai sinar kilat, angin menderu dan ombak mendampar.

Entah berselang berapa lama lagi, Cui Thian-ki mendusin seperti habis mimpi buruk, dalam keadaan samar-samar tubuh terasa berguncang, mata tidak melihat sesuatu, telinga juga tidak mendengar apa pun. Hanya deru angin dan hujan sudah semakin jauh, suasana kosong, hampa ….

*****

Fajar sudah tiba, ombak akhirnya tenang. Terkadang ada tiang layar patah, sobekan layar serta meja kursi yang hancur dan papan terdampar ke pantai.

Hujan masih gerimis.

Sejauh mata memandang dari pantai hanya kilatan awan mendung menyelimuti permukaan laut, tidak terlihat lagi kapal layar pancawarna yang megah itu.

Namun betapa pun hujan badai tidak kenal ampun, tetap belum dapat membuat tenggelam kapal raksasa ini melainkan cuma menghanyutkannya jauh di tengah samudra sana dan merampas kejayaannya.

Waktu Cui Thian-ki benar-benar sadar, tatkala itu sudah pagi.

Ia coba mengamati keadaan sekitarnya, terlihat anjungan kapal yang mewah itu sudah tidak keruan rupa lagi terpukul angin badai, meja kursi dan perabot lain sudah sama hanyut terbawa ombak, hanya tersisa ruang anjungan yang luas dan rusak.

Di tengah ruang anjungan sekarang hanya tersisa dia sendiri dan tiada bayangan orang lain, sungguh seram rasanya berada di tengah kehampaan dan kesunyian ini.

Cui Thian-ki merasa ngeri, tubuh agak menggigil, gigi gemertuk, mendadak ia menjerit terus menerjang ke luar.

Di luar masih hujan deras, tidak terlihat pantai, juga tidak tampak sehelai bayangan layar pun.

Di kolong langit ini seakan-akan cuma tersisa Cui Thian-ki sendirian, perasaan ngeri dalam keadaan sendirian ini membuatnya hampir gila.

Dengan rambut panjang terurai ia berjalan dari haluan kapal menuju ke buritan sambil berteriak-teriak, “Po-ji … Ling-ji … Po-ji … di mana kalian?!”

Mendadak teriakannya terhenti, sebab tiba-tiba dilihatnya di samping anjungan sana ada lagi sesosok bayangan manusia yang kurus kering, siapa lagi dia kalau bukan Kah-sing Hoat-ong.

Dalam keadaan dan di tempat begini, di atas “bangkai kapal” ini ternyata ada jejak manusia, sekalipun orang ini adalah Kah-sing Taysu yang aneh, mau tak mau membuatnya terkejut dan juga bergirang.

Waktu diperhatikan, terlihat di bawah tubuh padri fakir itu ternyata ada lagi sesosok tubuh lain, ternyata Oh Put-jiu yang belum lagi sadar itu.

Kah-sing Hoat-ong menoleh dan memandangnya sekejap, sekilas timbul juga rasa gembiranya, tapi hanya sekejap saja lantas lenyap dan berubah dingin lagi, lalu menunduk, dengan telapak tangannya yang hitam ia coba mengurut Hiat-to Oh Put-jiu untuk mengeluarkan air yang memenuhi perut anak muda itu.

Setelah mengalami musibah begini dan tiba-tiba menemukan sesamanya, sungguh Cui Thian-ki sangat ingin bercengkerama dengan dia, tak terduga padri fakir itu hanya memandangnya sekejap dengan sikap dingin, keruan ia sangat kecewa, tapi ia coba mengajak bicara juga, “Sehabis ditimpa musibah dan tidak mengalami cedera apa pun, sungguh Taysu harus diberi selamat dan entah Taysu melihat orang lain tidak?”

Ia berharap dari jawaban padri itu dapat diketahui keadaan Po-ji dan lain-lain. Tahu-tahu Kah-sing Hoat-ong tetap diam saja tidak menggubris.

Tentu saja Cui Thian-ki mendongkol, ucapnya ketus, “Sedemikian kaku sikap Taysu terhadap orang lain, tapi ternyata mau turun tangan menolong orang, sungguh peristiwa ajaib.”

Namun Kah-sing Hoat-ong tetap diam saja. Sejenak kemudian, mendadak ia mendengus, “Hm, tujuanku menolong dia sama sekali tidak berniat baik, tidak perlu kau heran.”

“Tidak bermaksud baik, kenapa kau tolong dia malah?” tanya Cui Thian-ki.

“Tujuanku hanya ingin kucari tahu di mana kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou. Kalau tidak, biarpun dia mati seribu kali juga tidak kupeduli.”

Baru sekarang Cui Thian-ki ingat waktu dirinya dalam keadaan hampir kelengar tadi sempat mengatakan rahasia kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou hanya diketahui oleh Oh Put-jiu, pantas padri fakir ini mau menolong pemuda kepala besar itu.

Bola matanya berputar, mendadak ia tertawa dan berkata, “Hihi, kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou masakah mungkin diwariskan kepada bocah tolol ini?”

“Tapi kau sendiri yang bilang ….”

“Itu cuma ucapanku pada waktu kepepet agar engkau mau menolong dia, tak tersangka orang cerdik semacam dirimu juga mudah percaya begitu.”

Air muka Kah-sing Hoat-ong agak berubah, ia termenung sejenak, tiba-tiba tersembul lagi senyuman dingin, ucapnya perlahan, “Betul, keterangan itu kau katakan pada saat kepepet, tapi justru ucapan pada waktu gawat itulah pengakuan yang jujur dan bukan karangan belaka. Sekali rahasia itu sudah telanjur kau bocorkan, memangnya sekarang dapat kau tarik kembali?”

Diam-diam Cui Thian-ki mengakui kelihaian pikiran orang, namun ia tetap tenang saja, jengeknya, “Hm, percaya atau tidak terserah padamu.”

“Jika begitu, rasanya aku pun tidak perlu buang tenaga percuma, akan kulemparkan dia ke laut saja dan habis perkara,” kata Kah-sing Hoat-ong, sekali cengkeram segera Oh Put-jiu diangkatnya.

Keruan Cui Thian-ki kaget, cepat serunya, “Nanti dulu!”

Kah-sing melototinya dan mendengus, “Memangnya bagaimana?”

“Dia … dia ….”

“Dia kenapa?” ejek Kah-sing.

Akhirnya Cui Thian-ki menghela napas, katanya, “Ya, rahasia tempat sembunyi kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou memang cuma dia saja yang tahu.”

“Pengakuanmu ini betul atau dusta?”

“Seratus persen benar.”

“Hahaha, budak cilik ingusan juga ingin belajar menipu orang?” Kah-sing Hoat-ong terbahak-bahak. “Tapi untuk main gila denganku masih selisih sangat jauh.”

Selama hidup Cui Thian-ki entah sudah berapa banyak sudah mempermainkan tokoh Kangouw yang lihai, sekarang ia benar-benar mati kutu, hati gemas, tapi tidak berdaya.

Tidak lama kemudian, akhirnya Oh Put-jiu siuman.

Dengan bengis Kah-sing Hoat-ong lantas membentak, “Di mana tempat simpanan kitab pusaka Ci-ih-hou, kau tahu bukan?”

Oh Put-jiu memandangnya sekejap, lalu memandang Cui Thian-ki pula, habis itu baru menjawab, “Tahu.”

Kah-sing Hoat-ong berbalik melenggong karena jawaban tegas dan cepat anak muda itu, ia pandang Oh Put-jiu dan terbelalak dengan rasa sangsi.

“Jika aku sudah berada dalam cengkeramanmu, kecuali mati, lambat atau cepat toh harus kukatakan, dan karena aku tidak mau mati, tentunya lebih cepat kukatakan kan lebih baik,” tutur Put-jiu.

Kah-sing Hoat-ong manggut-manggut, ucapnya dengan tertawa, “Ehm, pintar juga kau, pantas Ci-ih-hou mau mewariskan kitab pusakanya kepadamu. Nah, di mana kitab pusaka tinggalannya itu disimpan, lekas membawaku ke sana.”

“Baik,” jawab Put-jiu.

Bertiga orang lantas mendekati pintu ruangan rahasia tempat menyimpan kitab, mendadak Oh Put-jiu mendepak sekuatnya, tepat mengenai daun pintu, namun pintu tidak bergerak, sebaliknya ujung kaki kesakitan.

“Apa kau gila?” omel Kah-sing Hoat-ong dengan kening bekernyit.

Cui Thian-ki mendahului mendengus, “Orang ini memang sering berbuat gila-gilaan, buat apa kau peduli.”

Dengan rasa terima kasih Oh Put-jiu memandang Cui Thian-ki sekejap, dilihatnya bola mata nona itu gemerdep, seperti dapat menerka maksud depakan Put-jiu tadi.

Hendaknya maklum, keduanya sama-sama cerdik, meski tindak tanduk Oh Put-jiu sukar diduga, tapi sedikit bola matanya berputar segera Cui Thian-ki dapat menerka apa yang sedang dipikir anak muda itu.

Sekarang kedua orang hanya saling pandang sekejap saja dan keduanya lantas ada kontak batin, Oh Put-jiu merasa bersyukur ada yang tahu isi hatinya, Cui Thian-ki juga yakin dugaan sendiri ternyata tidak salah.

Tapi sesungguhnya apa yang terpikir dan terduga oleh mereka justru sama sekali tidak diketahui oleh Kah-sing Hoat-ong, ia cuma mendengus, “Jika kitab pusaka Ci-ih-hou telah diwariskan padamu, tentu kau pegang kunci ini.”

“Hehe, Taysu ternyata sangat pintar,” kata Put-jiu dengan menyesal.

“Memangnya aku dapat kau tipu?” ujar Kah-sing Hoat-ong dengan tertawa bangga.

Dari gelung rambutnya Put-jiu mengeluarkan sebuah anak kunci dan disodorkan, “Silakan Taysu membukanya.”

Kah-sing Hoat-ong menerima anak kunci itu, segera Put-jiu menyingkir jauh ke sana, Cui Thian-ki bahkan lari terlebih jauh.

Baru saja Kah-sing mendekati pintu, sekilas lirik melihat perbuatan kedua orang itu, seketika ia melompat mundur, sekali cengkeram ia pegang bahu Oh Put-jiu, anak kunci dikembalikan kepada anak muda itu dan membentak, “Kau buka sendiri.”

“Ken … kenapa Taysu tidak jadi membukanya sendiri?” tanya Put-jiu.

Kah-sing mendengus, “Hm, tentu ada sesuatu yang tidak beres pada pintu ini, memangnya kau kira aku tidak tahu. Haha, jangan kau harap akan menjebak diriku.”

Oh Put-jiu berlagak terpaksa menerima kembali anak kunci, katanya, “Jika begitu, boleh Taysu tunggu di sini, biarkan kami berdua membuka pintu.”

Ia memberi tanda lirikan kepada Cui Thian-ki, kedua orang lantas mendekati pintu.

Terdengar Kah-sing Hoat-ong mengejek, “Huh, ketika kau laksanakan permintaanku begitu saja memang sudah kuduga pasti ada sesuatu yang tidak beres ….”

Sampai di sini, mendadak Kah-sing Hoat-ong melompat maju lagi secepat terbang, Cui Thian-ki diseretnya mundur.

Keruan Thian-ki terkejut, tanyanya, “Memangnya apa maksud Taysu?”

“Hm, untuk membuka pintu kan cukup satu orang saja, kau ikut berdiri bersamaku di sini, jangan membantu setan cilik itu main gila padaku,” jengek Kah-sing.

Air muka Cui Thian-ki berubah cemberut, selang sejenak, tiba-tiba ia bergumam dengan tersenyum, “Ah, baik juga, biar sama-sama tenang dan bebas.”

Tanpa menoleh Oh Put-jiu juga bergumam, “Jagalah diri dengan baik … banyak terima kasih atas bantuan terlaksananya urusan ini ….”

Kata-kata kedua orang itu membuat Kah-sing Hoat-ong merasa bingung, tapi juga curiga, mendadak ia membentak, “Huh, apakah kalian sudah gila? Kenapa ….”

Pada saat itulah tahu-tahu daun pintu sudah terbuka, dengan cepat Oh Put-jiu lantas menyelinap ke balik pintu, menyusul lantas “brak”, pintu ditutup rapat lagi.

Kejut dan gusar Kah-sing Hoat-ong, secepat terbang ia menubruk maju sambil membentak, “Hei, apa yang kau lakukan? Kau tutup dirimu di dalam, memangnya kau sangka aku tidak dapat masuk ke situ?”

Akan tetapi meski ia membentak dan berteriak berulang, pintu tetap tidak dibuka.

“Jika dapat masuk ke situ, kenapa tidak kau coba?” ucap Cui Thian-ki dengan sinis.

Kah-sing mundur dua-tiga tindak dan menyingsing lengan jubah, setelah menghimpun tenaga, mendadak ia ayun telapak tangan dan menghantam daun pintu sekuatnya.

“Blang”, tergetar anak telinga Cui Thian-ki, geladak kapal pun berguncang, namun daun pintu baja itu tetap bergeming, jangankan hendak membobolnya.

Biarpun culas orangnya, wajah Kah-sing yang hitam kelam itu kini pun dibuat merah legam, dengan gemas ia berlari mengitari anjungan, tiada hentinya ia menghantam dan menendang sehingga berjangkit suara gemuruh, dinding anjungan dari bahan kayu sama ambrol dan bertebaran, namun ruang bagian tengah tempat menyimpan kitab itu ternyata dinding sekelilingnya terbuat dari pelat baja, biarpun Kah-sing Taysu mengerahkan segenap tenaganya tetap tak dapat membobolnya.

Cui Thian-ki menghela napas, ia duduk bersila di lantai, ucapnya perlahan, “Jika aku menjadi Taysu, pasti aku takkan buang tenaga sia-sia.”

Kah-sing melompat ke depan Cui Thian-ki, bentaknya dengan parau, “Jadi … jadi sebelumnya kau sudah tahu?”

“Dinding ruangan ini terbuat dari baja, kan sejak tadi sudah diketahui semua orang, depakan Oh Put-jiu tadi justru ingin mengujinya,” tutur Cui Thian-ki dengan santai, lalu sambungnya dengan tertawa. “Waktu itu sudah kuduga dia akan meninggalkanmu di luar sini, sebabnya dia menyuruhmu membuka pintu hanya akal pancingan saja, sungguh lucu Taysu yang mengaku cerdik ternyata juga tertipu olehnya. Mestinya aku pun ingin ikut masuk ke sana bersama dia tapi karena diseret mundur olehmu, terpaksa aku pasrah adanya. Kami bergumam tadi justru membicarakan hal ini.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: