Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (03)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 9:51 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 03. Pedang Terpotong. Usus Akan Hancur
Oleh Gu Long

Setelah laki-laki baju putih tersebut berlari keluar sekitar 10 meter, dia menotolkan ujung kakinya ke tanah dan melayang ke udara.

Hamparan gurun sunyi senyap. Pasir yang kuning tersapu kesegala arah menggenangi malam yang gelap. Bagaimana bisa mencari bayangan?

Hanya sayup-sayup gema suara yang mennyeramkan yang masih terdengar yang terbawa oleh angin malam.

Angin bertiup melolong.

Laki-laki baju putih berkata dengan suara yang berat.”Kawan, karena kamu mencari ribut, kenapa belum juga mengunjukan diri?”

Meskipun suaranya pelan, namun dipenuhi dengan tenaga dan kekuatan. Setiap kata yang diucapkan terdengar hingga ke kejauhan.

Setelah kata-kata tersebut diucapkan, laki-laki baju putih berlari lagi hingga beberapa puluh meter ketengah-tengah dataran rerumputan yang telah layu. Angin berhembus menyisiri rerumputan tersebut sehingga menjadi seperti ombak di lautan.

Tidak ada yang terlihat maupun tidak ada yang merespon.

“Baik! Lihatlah berapa lama engkau dapat bersembunyi!”laki-laki baju putih berkata.

Dia melihat ke angkasa dan meloncat balik. Setelah tujuh hingga delapan langkah, dia telah kembali ke kereta kuda.

Ye Kai masih berada di dalam kereta, menyender dengan santainya. Sementara tanganya mengetok-ngetok jendela dengan pelan mengikuti irama tertentu.

“… Sekali memasuki Gedung Sepuluh Ribu Kuda, pedang terputus, usus akan hancur, lupakan untuk pulang ke rumah …”

Matanya setengah tertutup dan terlihat seringai diwajahnya. Sepertinya dia menikmati lagu tadi.

Laki-laki baju putih membuka pintu dan memasuki kereta. Dia tersenyum dan berkata,”Itu hanya omong kosong dari orang gila. Harap tuan tidak terlalu mananggapinya dengan serius.”

“Apakah orang tersebut menyanyikan lagu yang benar atau tidak, itu tidak artinya bagiku. Jadi tidaklah penting apakah aku mendengarkan atau tidak.”Ye Kai berkata.

“Oh?”laki-laki baju putih berseru.

“Kamu lihat, aku tidak membawa senjata. Dan aku pun yakin ususku sudah hancur oleh arak. Sejauh ini aku hanya pengelana yang bepergian hingga ke ujung dunia., ke-empat sudut dunia adalah rumah ku. Jadi, bila Majikan Ketiga ingin aku menetap di Gedung Sepuluh Ribu Kuda, dengan senang hati aku akan mematuhinya.”Ye Kai berkata.

Laki-laki baju putih kemudian tertawa dengan lepas dan berkata,”Engkau adalah orang yang bersahaja, manusia biasa tidak dapat dibandingkan denganmu.”

Ye Kai mengedipkan matanya beberapa kali dan sambil tersenyum berkata,”Ilmu meringankan tubuh ‘Bangau Terbang Dikabut’adalah salah satu dari tiga keahlian Yun Zai Tian. Aku yakin, tidak ada banyak yang dapat dibandingkan dengan anda juga.”

Pandangan kaget dan senang terlihat diraut wajah laki-laki baju putih itu, namun perlahan-lahan menyurut saat berkata,”Sudah lama saya menyembunyikan diri dari dunia persilatan, hampir lebih dari sepuluh tahun. Aku kagum anda dapat mengenaliku hanya dengan sekali lihat. Anda pasti memiliki mata yang tajam!”

“Mataku tidak terlalu tajam. Namun “Membuka Jendela untuk Melihat Bulan Menerjang Awan’,”Bangau Tunggal Menerjang Angkasa Melihat Awan’ dan ‘Mengikuti Jangkerik Mengejar Awan dalam Delapan Langkah’ merupakan ilmu meringankan tubuh yang sangat terkenal, sulit tidak diketahui dalam sekali lihat.”Ye Kai berkata.

“Mohon maaf bila telah mempermalukan diri sendiri.”Yun Zai Tian berkata.

“Bila gerakan tersebut memalukan, maka saya harus loncat keluar jendela dan bunuh diri.”Ye Kai berkata.

Secercah cahaya terlihat di mata Yun Zai Tian.”Pemuda seusia anda telah mengenal ilmu-ilmu silat di dunia persilatan dengan baik. Sepertinya anda mengenal semua jurus di seluruh perguruan silat dan perkumpulan semudah membalik telapak tangan. Hingga saat ini saya belum dapat mengetahui anda sesungguhnya, itu yang membuat aku malu.”

“Saya hanya seorang pengelana yang bepergian ke-empat penjuru dunia. Saya menjadi heran bila anda belum mengetahui siapa saya.”Ye Kai berkata.

Yun Zai Tian diam berpikir. Tiba-tiba terdengar suara Duk duk duk, seseorang sedang mengetuk pintu kereta diluar.

“Siapa itu?”Yun Zai Tian berkata.

Tidak ada yang menjawab. Kemudain terdengar lagi suara ketukan seperti tadi Duk duk duk.

Yun Zai Tian mengerenyitkan alisnya. Kemudian mendadak dia menjulurkan tangan dan mendorong pintu hingga terbuka.

Pintu kereta berayun maju mundur, tapi tidak seorangpun di luar hanya jalan panjang di belakang terlihat. Tidak mungkin seseorang mampu menggantung seperti kertas dibelakang kereta sehingga dapat melayang-layang.

Karena hanya manusia hidupyang dapat mengetuk.

Raut muka Yun Zai Tian berubah dan berkata,”Menakut-nakuti seseorang dengan suatu yang aneh, menyerang orang lain dengan hal yang menakutkan. Hanya orang bodoh yang terjebak oleh tipuan ini.”

Baru saja dia mau menutup pintu, tiba-tiba menggantung sebuah lengan dari atap kereta. Tangan yang putih kekuningan sedang memegang mangkuk pecah.

Suara aneh yang mengerikan terdengar dari atap kereta,”Apakah engkau memiliki arak …? Tolong tuangkan aku sedikit … Aku hampir mati karena kehausan …”

Yun Zai Tian tiba-tiba tersenyum dan berkata’”Untungnya kita membawa arak di kereta, Tuan Luo mengapa belum turun ke bawah dan bergabung dengan kami?”

Dua belah kaki yang ditutupi oleh sepasang sandal yang solnya sudah hilang separuh turun dari atap kereta dan bergoyang-goyang ke belakang dan ke depan seiring dengan goyangan kereta yang sedang berjalan.

Ye Kai agak merasa sedikit cemas juga, dia takut orang tersebut akan jatuh ke bawah.

Namun dengan hanya sekejap, sesosok tubuh masuk ke dalam kereta. Dia duduk menggelayut di hadapan Ye Kai dan memandangnnya dengan mata yang setengah sadar.

Ye Kai, tentu saja, memandang juga kearahnya.

Dia mengenakan baju seorang sastrawan berwarna hijau. Tidak hanya sangat bersih, bahkan tidak terlihat sedikitpun kerutan dibajunya.

Dengan hanya melihat tangan dan kakinya, tidak ada yang menduga bahwa dia mengenakan baju yang sangat baik. Ye Kai menemukan suatu hal yang sangat aneh pada awalnya.

Tuan Luo tersebut, tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan berkata,”Kenapa engkau memandang aku seperti itu? Kamu mengira baju ini hasil curian, kan?”

Ye Kai tersenyum dan menjawab,”Bila itu hasil curian, tolong katakan dimana tempat mencurinya, karena aku juga ingin mencuri untuk diriku juga.”

“Sudah lama engkau belum mengganti baju, kan?” Tuan Luo berkata.

“Tidak terlalu lama, baru beberapa bulan saja.” Ye Kai berkata.
Tuan Luo mengerenyitkan dahinya dan berkata,”Tidak heran tercium bau ikan busuk disekitar sini, betul-betul bau yang memuakan!”

“Seberapa sering engkau mengganti bajumu?” Ye Kai berkata.

“Berapa sering? Aku mengganti bajuku paling tidak dua kali sehari.”Tuan Luo berkata.

“Dan seberapa sering kamu mandi?” Ye Kai kembali bertanya.

“Mandi hanya merusak energi vital tubuh, itu adalah hal yang tidak pernah aku lakukan.”Tuan Luo berkata.

Ye Kai tersenyum dan menjawab,”Jadi arak lama dengan botol baru. Sementara aku arak baru dengan botol lama. Sederhananya kita menggunakan cara yang berbeda untuk hasil yang sama, jadi untuk apa harus diributkan.?”

Tuan Luo menatapnya, matanya mengecil dan mengecil. Tiba-tiba dia terbelalak dan bersertu,”Pintar, pintar! Analogi tersebut sangat sederhana dan hebat! Anda pasti seorang terpelajar, dan pelajar yang istimewa-lekas, bawakan kami arak. Setiap saat aku berubah menjadi seorang pelajar, bila aku tidak minum paling sedikit dua gelas, maka aku akan jatuh sakit.”

Yun Zai Tian tersenyum dan berkata,”Kalian berdua belum saling mengenalkan diri. Beliau adalah salah satu dari pendekar Butong yang terkenal, dan salah satu dari orang yang paling terpelajar di dunia persilatan, Luo Luo Shan, Tuan Luo yang besar.”

Aku Ye Kai,” Ye Kai berkata.

“Aku tidak perduli kamu ini daun terbuka atau daun tertutup, selama kamu seorang terpelajar, aku akan minum tiga gelas arak denganmu.”Luo Luo Shan berkata.

“Lupakan bila hanya tiga, aku hanya bersedia minum tiga ratus gelas.”Ye Kai berkata.

“Betul! Pertemuan harus dimulai dengan minum tiga ratus gelas arak, berhenti hanya bila botol arak telah kosong. Mari minum!” Luo Luo Shan berkata.

Yun Zai Tian menggapai sebotol arak yang terletak dikabinet di dalam kereta dan menuangkan arak. Dia tersenyum pada Luo Luo Shan dan berkata,”Tuan Luo, saat bertemu dengan Majikan Ketiga nanti, tolong jangan perlihatkan bahwa anda telah mabuk di kereta ini.”

“Aku tidak perduli apakah dia Majikan Ketiga atau Majikan Keempat, seorang yang aku jamu minum saat ini adalah pelajar ini, mari, mulai kita minum!”Luo Luo Shan berkata.

Setelah mengakhiri tiga ronde, terdengar suara Daaang , suara mangkuk jatuh berguling ke salah satu sudut kereta.

Luo Luo Shan meringkuk di tempat duduknya, dia mulai mabuk.

Ye Kai tidak dapat menahan ketawa dan berseru,”Jadi Tuan Luo cepat mabuk.”

“Tahukah engkau nama lain dari Tuan Luo? Dia juga dipanggil Tuan Tiga Kekurangan.” Yun Zai Tian berkata.

“Tuan Tiga Kekurangan?” Ye Kai berkata.

“Dia mencintai wanita tapi kurang berani, dia menyukai arak tapi kurang tahan mabuk, dan dia suka berjudi tapi kurang beruntung. Itu adalah ketiga kekurangannya, dan itu sebabnya dinamakan Tuan Tiga Kekurangan,”Yun Zai Tian menerangkan.

“Pelajar yang sejati hanya hidup sesaat, siapa perduli dengan segala macam kekurangan?” Ye Kai mengomentari.

“Jadi engkau benar-benar memahami siapa Tuan Luo ini.” Yun Zai Tian berkata.

Ye Kai membuka jendela dan menarik napas menghirup udara segar, kemudian bertanya,”Berapa lama lagi kita tiba di Gedung Sepuluh Ribu Kuda?”

“Kita telah sampai beberapa waktu yang lalu.” Yun Zai Tian berkata.

“Jadi kita telah melewatinya saat ini?” Ye Kai berkata.

“Tidak, kita belum sampai. Tanah ini merupakan bagian dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.”Yun Zai Tian berkata.

“Betapa besarnya Gedung Sepuluh Ribu Kuda?”Ye Kai berkata.

“Tidak terlalu besar. Namun dari timur ke barat, bila kamu mengendarai kuda dipagi hari pada satu sisi, maka pada sore hari kamu baru tiba diujung sisi yang lain.”Yun Zai Tian berkata.

“Bila seperti penjelasanmu, maka Majikan Ketiga mengundang kita untuk makan pagi?”Ye Kai berkata.

Yun Zai Tian tersenyum dan berkata,”Gedung Sepuluh Ribu Kuda sudah di depan.

Suara ringkikan kuda terhembus angin terdengar kesegala arah.

Melihat keluar jendela, hanya terlihat cahaya terang di depan.

Ruangan Tamu Gedung Sepuluh Ribu Kuda, dimana sinar lampu tadi berasal.

Kereta mereka kemudian berhenti di depan pagar kayu.

Pagar tersebut terbuat dari tiga buah batang pohon yang diikat menjadi satu dan memiliki tinggi belasan meter. Terdapat beberapa penyangga dibelakang pagar namun oang hanya dapat menebak saja jumlahnya.

Sebuah gerbang yang megah berdiri tegak di kegelapan malam. Sebuah tiang bendera yang terletak di atasnya menjuang tinggi ke langit malam yang gelap.

Namun bendera yang tergantung di tiang tersebut telah diturunkan.

Dua baris orang-orang berbadan besar dan tegap dengan baju putih berdiri menjaga di depan pintu gerbang. Empat orang bergegas menarik pintu gerbang yang tebal dan berat tersebut untuk membukanya.

Ye Kai melangkah keluar kereta kuda dan menarik napas yang dalam. Dia melihat semua sudut dan melihat hamparan tanah yang luas. Merupakan suatu keberuntungan baginya, mengingat penduduk kota belum pernah memperoleh kesempatan mendatangi tempat ini.

Yun Zai Tian mengikutinya dari belakang dan berkata,”Jadi apa kesan engkau mengenai tempat ini?”

“Aku merasa betapa beruntungnya orang yang memiliki tempat ini, Majikan Ketiga pasti mempunyai kehidupan yang tidak perlu disesalkan.”Ye Kai berkata.

“Tepatnya dia bukan seorang biasa. Namun dapat menikmati keberhasilannya saat ini, bukan merupakan hal yang disesalkan.”Yun Zai Tian berkata.

“Bagaimana Tuan Luo?”Ye Kai berkata.

“Dia telah terkapar di tanah, aku khawatir dia tidak bisa bangun lagi.”Yun Zai Tian berkata.

Mata Ye Kai bercahaya dan tiba-tiba berkata,”Untungnya bukan hanya kita berdua yang tiba menggunakan kereta ini.”

“Oh?”Yun Zai Tian berkata.

Ye Kai berjalan ke depan kereta dimana pengendara kereta sedang menyeka dahinya.

Dia menepuk bahunya dan berkata,”Engkau pasti sudah kecapean!”

Pengendara tersebut sedikit terkejut dan menjawab,”Semua ini sudah menjadi pekerjaan saya.”

“Engkau tahu, engkau seharusnya duduk nyaman di dalam bersama kami. Mengapa harus menyusahkan diri?”Ye Kai berkata.

Si pengendara berdiam sejenak, kemudian membuka topi bambu yang dia kenakan dan memperlihatkan senyum yang lebar dan berkata,”Hebat! Betul-betul mata yang hebat! Sungguh mengagumkan!”

Sesaat saat kita berhenti sebelumnya, anda berhasil menyelusup ke kereta dan menutuk jalan darah pengendara, melemparnya ke luar kereta, dan menggunakan bajunya. Betul-betul gerakan yang sangat cepat dan tepat, anda pantas disebut dengan enam kata:’Selemas Sutra Terbaik, Secepat Kilatan Cahaya.”Ye Kai berkata.

Si pengendara menatapnya dengan heran dan berseru,”Bagaimana engkau tahu siapa aku?”

“Di dunia persilatan, siapa yang dapat menyamai keahlian seperti itu dengan Laba-Laba Terbang?”Ye Kai berkata.

Laba-Laba Terbang tersenyum sambil membuka baju putihnya yang menutupi baju hitamnya yang ringkas. Dia berjalan dan memberikan penghormatannya kepada Yun Zai Tian dan berkata,”Saya hanya bermaksud bersenang-senang, harap Senior Yun memaafkan saya.”

“Kehadiran anda merupakan kehormatan kami, silahkan masuk.”Yun Zai Tian berkata.

Beberapa orang telah membopong Luo Luo Shan keluar dari kereta kuda.

Yun Zai Tian memimpin berjalan melewati halaman yang luas.

Sebuah pintu putih terlihat di depan yang tertutup, namun tiba-tiba berderit terbuka.
Cahaya yang terang terlihat dari dalam dan seseorang berdiri di pintu tersebut.

Pintu tersebut merupakan pintu yang besar namun ketika orang tersebut berdiri disana, dia hampir menutupi seluruh pintu itu.

Ye Kai tidak terlalu pendek, namun dia masih harus menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah orang tersebut.

Orang ini terlihat sangat besar dan tegap. Dia mengenakan baju berwarna putih dan pada dadanya tergantung rompi tebal yang terbuat dari kulit sapi. Pada rompi tersebut terdapat sebuah pedang dengan penutup berwarna perak, gagang yang hitam dan pedang dengan bentuk yang aneh. Segelas arak terpegang di tangannya.

Gelas di tanganya tidak terlihat besar, namun orang biasanya mungkin tidak dapat mengangkat gelas tersebut bahkan dengan dua buah tangan.

Yun Zai Tian berjalan ke depan dan bertanya kepadanya,”Dimana Majikan Ketiga?”

“Dia sedang menunggu di dalam, apakah semua tamu telah tiba?” orang besar dan tegap tersebut menjawab.

Siapapun yang mendengar orang tersebut berbicara untuk pertamakalinya pasti terkejut dan ketakutan. Kata pertama yang terucap dari mulutnya menggetarkan seperti guntur dari langit membuat telinga yang mendengarnya bergetar dan berdenging.

“Hanya tiga dari mereka yang baru tiba.” Yun Zai Tian berkata.
Penjaga yang besar dan tegap tersebut menaikan alis matanya dan berkata,”Dimana ketiga yang lainnya?”

“Aku hanya berharap mereka sedang berjalan dengan cepat kesini.”Yun Zai Tian berkata.

Penjaga berbadan besar dan tegap itu menganggukan kepalanya dan berkata,”Namaku Gong Sun Duan. Aku hanyalah seorang bajingan. Ketiga tamu terhormat, silahkan masuk.”

Caranya dia berbicara sangat tidak nyambung. Kalimat sebelum dan sesudahnya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.

Tepat di belakang di hadapan pintu terdapat layar besar yang terbuat dari kayu berdiri hampir setinggi tujuh meter. Tidak terlihat lukisan, gambar maupun kata-kata pada layar tersebut, namun layar tersebut sangat bersih. Tidak terlihat setitik debu pun.

Sesaat mereka memasuki ruangan, terdengar suara derap kuda yang memecah ke langit malam yang berasal dari sembilan ekor kuda yang berlari dengan cepat.

Sesaat mereka mencapai pintu gerbang, para pengendara kuda menaikan salah satu kakinya dan turun sesaat setelah kuda mereka berhenti. Tidak hanya gerakan para pengendara kuda tersebut seragam, bahkan kuda mereka juga bergerak dengan serempak, mereka juga mengenakan pakaian yang sama satu dengan yang lainnya.

Semua pengendara tersebut mengenakan kepala ikat pinggang dari emas, rompi berwarna ungu dan pedang yang panjang di pinggang mereka. Sarung pedang mereka dihiasi dengan perhiasan batu permata yang indah. Salah satu dari mereka menggunakan ikat pinggang yang berwarna ungu ke emasan, dan memiliki pedang yang dihiasi dengan mutiara seukuran mata naga.

Ke-sembilan orang tersebut merupakan orang yang tampan. Seorang dari mereka berdiri dengan gaya yang paling gagah dan percaya diri. Dia berjalan dari kumpulannya dan berkata,”Mohon maaf kami terlambat.”

Meskipun mulutnya mengucapkan permintaan maaf, namun wajah memperlihatkan kesombongan. Setiap orang pasti dapat mengetahuinya bahwa yang diucapkan sedikitpun tidak memperlihatkan ketulusan.

Kesembilan orang tersebut berjalan melewati halaman dan tiba di depan pintu putih besar.

“Siapa yang berama MuRong Ming Zhu?”Gong Sun Doan berkata dengan keras.

Pemuda dengan ikat pinggang berwarna ungu ke-emasan maju ke depan dan menjawab,”Aku.”

“Majikan Ketiga hanya mengundang anda, katakan kepada yang lainnya untuk pergi.”Gong Sun Duan berkata.

Wajah MuRong Ming Zhu berubah warna dan menjawab,”Mereka tidak diijinkan untuk masuk bersamaku?”

“Tidak!”Gong Sun Duan menghardik.

Salah satu pemuda yang menyertai MuRong Ming Zhu tiba-tiba meletakan tangannya pada gagang pedang sepertinya dia akan menarik pedangnya.

Tiba-tiba selintas cahaya perak terlintas. Sebelum dia menarik pedangnya, Gong Sun Duan telah memotong pedangnya menjadi dua, juga sarung pedangnya.

Gong Sun Duan mengeluarkan pedangnya dan berkata, “Siapa saja yang berani menarik pedang di Gedung Sepuluh Ribu Kuda maka harus terpotong seperti tadi.”

Raut wajah MuRong Ming Zhu berubah menjadi pucat. Dia menghadap ke pemuda tadi dan menamparnya, kemudian berteriak dengan marah,”Siapa yang menyuruh engkau menarik pedang? Pergi kesana dan tunggu di luar!”

Pemuda tersebut tidak berani berbicara lagi dan menurunkan mukanya kemudian berjalan pergi.

Ye Kai melihat hal itu menggelikan.

Dia mengenali bahwa pemuda tersebut adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang mau menjamunya minum arak kemaren malam.

Pemuda tersebut terlihat memiliki pedang yang dapat dicabut kapan saja. Namun, sebelum dia dapat mencabutnya selalu pedangnya putus menjadi dua.

Melewati layar lebar terdapat ruangan yang besar dan luas.

Siapapun yang melihat ruangan ini, pasti merasa terkejut dan kagum.

Meskipun lebarnya hanya sekitar tiga puluh meteran, namun panjangnya diluar perkiraan siapapun.

Bila seseorang berada pada satu ujung, maka membutuhkan seribu hingga dua ribu langkah untuk mencapai ujung yang satunya.

Pada dinding kiri ruangan besar tersebut terdapat lukisan sekumpulan kuda yang sedang berlari kencang. Beberapa kuda tampaknya sedang meringkik sementara beberapa kuda yang lainnya rambutnya berkibaran diterpa angin. Setiap ekor kuda dilukis berlainan dan setiap ekor kuda tersebut dilukis dengan sangat indah hingga nyata dan hidup. Betul-betul kuda yang tiada bandingannya.

Pada dinding yang lainnya terdapat tulisan raksasa yang bahkan lebih besar dari tubuh manusia. Ditulis dengan kaligrafi yang berkualitas tinggi seperti naga yang mengaum dan burung hong sedang menari. Tulisannya berbunyi ‘Gedung Sepuluh Ribu Kuda Guang Dong’

Di tengah-tengah ruangan terdapat meja yang panjang yang terbuat dari kayu putih.

Saking panjangnya, meja tersebut seperti sebuah jalan, bahkan seseorang dapat menaiki dan mengendarai kuda di atasnya.

Pada kedua sisi meja terdapat tiga ratusan kursi.

Bila kamu belum pernah mengunjungi Gedung Sepuluh Ribu Kuda,mungkin kamu tidak pernah membayangkan ada meja sepanjang itu dan ruangan seluas itu.

Ruangan besar ini dilengkapi dengan perabotan yang bermutu tinggi dan indah, namun masih mengesankan kemegahan, keagungan dan kehormatan. Siapapun yang memasuki ruangan ini pasti merasakan suatu perasaan yang berat, merasa kecil.

Di ujung meja terdapat kursi yang sangat besar, duduk seseorang dengan pakaian berwarna putih.

Tidak ada seorangpun yang dapat melihat dengan jelas mukanya, namun yang dapat mereka katakan bahwa orang tersebut duduk dengan tegak.

Meskipun tidak ada seorangpun disana, dia tetap duduk dengan cara yang sama.

Meskipun pada punggunya terdapat senderan yang nyaman, namun dia tetap tidak bersender. Dia tetap duduk dengan tegak.

Meja tersebut sangat panjang, sehingga kursinya seperti satu-satunya kursi yang menyendiri di kejauhan sementara yang lainnya berdiri dari jauh.

Meskipun Ye Kai tidak dapat melihat raut wajahnya dengan jelas, namun dia dapat merasakan kesendirian dan kesepiannya. Dia sepertinya seseorang yang terbuang jauh dari dunia, dari kegembiraan, dari kesenangan.

Dan dari teman-temannya.

Apakah ini harga dari seorang pendekar, seorang pejuang?

Dia seperti terbenam dalam pikirannya. Apakah dia senang mengenang semua kejayaan dimasa lalu? Atau dia sedang merenungi kesepiannya saat ini?

Nampaknya dia tidak melihat atau mendengar sekumpulan orang baru saja memasuki ruangan.

Apakah dia tuan dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda?

Meskipun dia telah memenangkan ratusan peperangan di dalam hidupnya, namun dia tidak memiliki cara untuk memenangkan peperangan dan kegundahan di dalam hatinya.

Meskipun dia telah memiliki kekayaan yang tidak terhitung dan kesejahteraan, namun dia tidak memiliki kedamaian hati dan ketenangan pikiran.
Yun Zai Tian berjalan ke arahnya di depan meja. Meskipun langkahnya lebar dan sangat ringan. Saat dia mencapai ujung meja dia membungkuk dan membisikan sesuatu ditelinganya.

Majikan Gedung terlihat seperti terjaga dari mimpinya. Dia menangkupkan kedua tangannya dan memberikan hormat seraya berkata,”Selamat datang, silahkan duduk.”

MuRong Ming Zhu, yang membawa pedang ditangannya, berjalan paling awal.
Gong Sun Duan meloncat dan menghalanginya.

Raut muka MuRong Ming Zhu berubah warna, dan dia berkata dengan suara perlahan,”Apa yang dapat aku bantu kali ini?”

Gong Sun Duan tidak mengucapkan satu patah katapun. Dia hanya berdiri mengancam dan menatap pedangnya.

“Jangan katakan engkau menginginkan pedangku?”MuRong Ming Zhu berkata.

Gong Sun Duan menganggukan kepalanya perlahan dan berkata,”Tidak seorangpun diijinkan membawa pedang di dalam ruangan Gedung Sepuluh Ribu Kuda!”

Paras wajah MuRong Ming Zhu memucat dan butiran keringat keluar mukanya. Pembuluh darah ditangannya yang memegang pedang menonjol keluar.

Gong Sun Duan tetap berdiri seperti sebuah gunung dan menatapnya dengan dingin.

Tangan MuRong Ming Zhu mulai bergetar, sepertinya dia tidak dapat menahan diri dan akan mencabut pedangnya.

Pada saat itu, sebuah lengan menjangkaunya dan memegang lengannya dengan ringan.

Dengan cepat MuRong Ming Zhu menengokan kepalanya dan melihat Ye Kai, senyum terlihat di wajahnya.

“Apakah kamu cukup berani memasuki Gedung Sepuluh Ribu Kuda dengan tangan memegang pedangmu?”Ye Kai berkata.

Daaannng, pedang telah tergeletak di meja.
________________________________________

Lentera putih perlahan-lahan bergerak naik sepanjang tiang bendera hingga mencapai tiga puluh meter tingginya.

Lima buah tulisan tertulis pada lentera putih tersebut:’Gedung Sepuluh Ribu Kuda Guang Dong’.

Kedelapan pemuda berbaju ungu yang sedang menyender dan beristirahat di pagar kayu diluar mengangkat kepalanya dan memandang ke arah lentera tersebut.
Salah satu dari mereka tidak dapat menahan diri dan berterikan,”Gedung Sepuluh Ribu Kuda Guang Dong, hemmh! Terlalu sombong!”

Tiba-tiba terdengan suara menjawab,”Kita tidak bermaksud menyombongkan diri, namun memberikan tanda kepada yang lainnya.”

Seseorang berbaju putih sekonyong-konyong nampak dibawah tiang bendera.

Dia berbicara dengan perlahan namun suaranya tegas dan tenang.

Meskipun tidak ada pedangnya disisinya, tidak dapat disangsikan bahwa dia adalah seorang tokoh kosen di dunia persilatan. Dia “Pedang Tunggal, Mencungkil Bunga’, Hua Men Tian.

Para pemuda berbaju ungu tersebut sepertinya tidak mengenalnya. Salah satu dari mereka berkata,”Tanda? Tanda apa?”

“Ini adalah tanda untuk semua teman-teman di dunia persilatan, bahwa Gedung Sepuluh Ribu Kuda saat sedang mengadakan kegiatan malam ini. Oleh karena itu, selain tamu yang diundang oleh Majikan, siapapun harus menunggu hingga besok pagi bila mau mengunjungi.”Hua Men Tian menjelaskan.

Salah satu dari mereka tertawa dan berkata,”Bagaimana bila seseorang menerobos masuk?”

Hua Men Tian menatapnya dan diam, tiba-tiba dia merampas pedangnya dari pinggangnya.

Mereka berdiri cukup jauh dari Hua Men Tian. Namun, sekali Hua Men Tian menggerakan tangannya, pedangnya telah berpindah ke tangannya. Kemudian dengan hanya sekali gerakan, pedang tersebut telah patah menjadi delapan potong.

Tatapan mata para pemuda diselimuti dengan ketakutan, mereka tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Hua Men Tian menyelipkan kembali bagian potongan pedang yang dipegangnya ke sarung pedang pemuda tersebut.”Terasa berdebu dan berangin diluar. Kami telah menyiapkan arak dan makanan untuk tamu kami. Mengapa kalian semua tidak mau mencoba satu atau dua gelas?”

Dia bahkan tidak menunggu jawaban, kemudian jalan berbalik dan pergi.

Para pemuda dengan baju ungu saling pandang dengan geregetan, setiap tangan mereka menggenggam gagang pedang mereka. Namun, tidak ada seorangpun yang berani mencabut pedangnya.

Sesaat kemudian, mereka mendengar suara di belakang mereka dan berkata,”Pedang bukan untuk diperlihatkan. Bila kamu tidak berpengalaman menggunakan pedang, lebih baik jangan membawanya.”

Kalimat itu diucapkan dengan tajam namun diucapkan dengan sepenuh hati.

Karena dia sama sekali tidak bermaksud mengejek, namun semata-mata menasihat para pemuda tersebut.

Raut wajah para pemuda berubah warna dan berbalik. Mereka melihatnya berjalan mendekati perlahan dari kegelapan. Kaki kirinya membuat satu langkah, dan kemudian diikuti oleh kaki kanannya diseret dari belakang.

Mereka sekejap melihat pada pemuda yang pedangnya telah terpotong menjadi dua. Salah satu dari mereka berkata kepadanya,”Jadi dia si pincang yang yang lari dari mu malam itu?”

Pemuda tersebut mengertakan giginya dan memandang Fu Hong Xue kemudan berkata,”Jadi apakah golokmu juga sebagai hiasan?”

“Bukan.”Fu Hong Xue menjawab.

“Kalau begitu, engkau berpengalaman menggunakan golok?” pemuda tersebut berkata.

Fu Hong Xue menurunkan tatapannya dan melihat ke tangannya.

“Bila engkau ahli menggunakan golok, mengapa engkau tidak menggunakannya dan memperlihatkannya ke kami?” pemuda tersebut berkata.

“Golok bukan untuk diperlihatkan.”Fu Hong Xue menjawab.

“Bila tidak digunakan untuk diperlihatkan, jangan katakan kepadaku itu digunakan untuk membunuh? Si pincang sepertimu dapat membunuh?” pemuda tersebut berkata.

Tiba-tiba dia tertawa dan berkata,”Bila kamu mempunyai biji, kesini dan bunuh aku! Kita lihat apa yang dapat kau perbuat!”

Para pemuda dengan baju ungu mengeluarkan tawa yang meledak. Salah satu dari mereka berteriak,”Bila engkau terlalu takut, lupakan saja untuk masuk melalui pintu. Engkau dapat merangkak dibawah pagar.”

Mereka saling berpegangan tangan dan menghalangi pintu gerbang.

Kepala Fu Hong Xue tetap menunduk, matanya menatap tangannya. Setelah beberapa lama, dia kemudian merunduk dan mulai merangkak ke bawah pagar.

Para pemuda dengan baju ungu mulai tertawa dengan liar. Sepertinya mereka telah menebus rasa malu mereka.

Namun Fu Hong Xue sepertinya tidak mendengarkan tawa mereka sama sekali.

Tidak terlihat emosi diwajahnya sementara perlahan-lahan dia menyelipkan tubuhnya di bawah pagar. Tapak kakinya yang berat melesak ke dalam tanah sementara perlahan-lahan dia mulai bergerak maju. Bajunya telah basah seluruhnya.

Kemudian, gelak tawa mereka mendadak berhenti – saat mereka melihat bekas telapak kakinya, tidak satupun dari mereka yang tertawa lagi.

Karena mereka menyadari setiap langkah kakinya membekas sangat dalam di tanah, lubang bekas tapak kaki tersebut sangat dalam yang sisinya terlihat seperti teriris dan terukir oleh sebuah golok.

Sepertinya dia menggunakan seluruh kekuatan di tubuhnya untuk mengendalikan kegeraman dan kemarahannya.

Dia sepertinya orang yang tidak tahan dicemooh, namun untuk alasan apakah dia harus menahan semua ini?

Hua Men Tian menatap kepadanya dari jauh di dalam gedung. Raut wajah yang aneh terlihat dimukanya, dia seperti terkejut dan merasa takut.

Raut muka tersebut menyerupai raut muka seseorang ketika melihat seekor serigala lapar memasuki rumahnya.

Tetapi orang yang dia lihat adalah Fu Hong Xue!
________________________________________

Pedang tergeletak di atas meja.

Mereka telah menempati kursi di kedua sisi meja dengan jarak yang jauh dari tempat duduk Majikan Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

Majikan Gedung masih duduk dengan tegak, kedua tangannya diletakan di atas meja.

Namun kedua tangannya boleh dikatakan bukan sepasang tangan manusia lagi. Hanya tersisa ibu jari pada tangan kirinya. Bahkan tidak terliha sisa jari lagi – terlihat seperti tertebas sebilah pedang dari sisi kanan hingga ketengah telapak tangannya.

Akan tetapi dia tetap meletakan tangan tersebut di atas meja, dia tidak berusaha menyembunyikannya. Karena hal ini bukan hal yang memalukan. Akan tetapi, hal itu merupakan suatu yang dapat ia banggakan.

Itu adalah luka dari kemenangan yang gemilang atas pertempuran!

Setiap keriput diwajahnya terlihat seperti hasil ukiran atas setiap bahaya dan penderitaan yang dia alami semasa hidupnya. Dapat dikatakan setiap keriputnya merupakan penjelasan bagi setiap orang bahwa tidak ada apapun di dunia yang dapat menjatuhkan orang ini!

Dia merupakan seseorang yang selalu menolak untuk menunduk!

Namun kedua matanya terlihat sangat tenang, tidak sedikitpun terlihat permusuhan dalam tatapannya.

Apakah penderitaanya dialaminya bertahun-tahun lamanya dan tidak terhitung banyaknya telah mengikis sifat buasnya?

Atau dia telah belajar selama bertahun-tahun bahwa kebuasan harus disembunyikan di hadapan orang lain.

Saat ini, dia menatap langsung kepada Ye Kai.

Dia telah memandang yang lainnya, Ye Kai adalah yang terakhir.

Dia menggunakan kedua matanya lebih sering daripada lidahnya.

Sebab dia telah belajar bahwa dengan mengamati yang lain, maka seseorang dapat meningkatkan pengetahuannya. Menggunakan lidah terlalu banyak, maka kesulitan akan semakin banyak.

Majikan Gedung mendadak tersenyum dan berkata,”Kamu benar-benar tidak membawa pedang?”

“Sebab aku tidak membutuhkannya.”Ye Kai menjawab.

Majikan Gedung perlahan-lahan mengganggukan kepalanya,”Benar sekali! Keberanian sejati tidak diperoleh dari mata pedang!”

MuRong Ming Zhu mendadak tertawa dan berseru,”Hanya karena seseorang tidak membawa pedang, maka belum tentu membuktikan dia memiliki keberanian!”

Majikan Gedung berkata dan menimpali,”Keberanian adalah suatu hal yang aneh. Engkau tidak dapat melihatnya, merasakannya, atau membuktikannya bahwa ada keberanian, itu sebabnya …”

Matanya melirik ke Ye Kai seraya dia meneruskan,”Kadang-kadang seseorang yang memiliki keberanian sejati nampak pengecut dimata yang lainnya.”

Ye Kai menepukan kedua tangannya dan berkata,”Semua itu masuk akal … sebetulnya saya mengenal seseorang yang seperti itu.”

Majikan Gedung segera bertanya kepadanya,”Siapa?”

Ye Kai tidak menimpali. Dia hanya tersenyum dan melihat pada seseorang yang perlahan berjalan di balik layar besar.

Senyumnya aneh dan tidak biasanya.

Majikan gedung mengikuti pandangan mata Ye Kai dan melihat Fu Hong Xue.

Di bawah cahaya yang terang benderang, wajah Fu Hong Xue bahkan terlihat lebih pucat.

Namun pupil matanya masih hitam gelap. Keduanya terlihat seperti tanpa tepi, malam yang tanpa akhir, menyembunyikan bahaya dan rahasia yang tidak terhingga.

Sarung goloknya berwarna hitam dari kayu. Sama sekali tidak ada guratan, ukiran, kata-kata maupun hiasan.

Tangannya memegang gagang golok dengan kencang sementara perlahan-lahan dia melewati layar. Sebelum keringat yang menetes dari hidungnya belum juga kering, dia melihat seseorang tinggi tegap, setinggi dan setegap sebuah gunung, Gong Sun Duan berdiri tepat dihadapannya.

Gong Sun Duan menatap tajam pada golok ditangannya.

Fu Hong Xue juga menatap golok ditangannya. Tanpa pengecualian, nampaknya dia tidak pernah menatap siapapun maupun apapun kecuali golok tersebut.

“Tidak ada seorangpun diijinkan membawa senjata ke dalam Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Dan tidak seorangpun juga diijinkan membawa golok!”Gong Sund Duan berseru.

Fu Hong Xue terdiam beberapa lama, kemudian perlahan-lahan dia berkata,”Tidak pernah diijinkan sebelumnya?”

“Tidak seorangpun!”Gong Sun Duan berkata.

Fu Hong Xue perlahan-lahan menganggukan kepalanya sementara tatapan matanya bergerak dari goloknya ke lengkungan pedang di pinggang Gong Sun Duan. Kemudian dia perlahan-lahan berkata,”Dan bagaimana dengan engkau? Apakah engkau bukan orang?”

Raut muka Gong Sun Duan berubah.

MuRong Ming Zhu tiba-tiba melepaskan tawa lebarnya dan berkata,”Bagus! Pertanyaan yang bagus!”

Arak di dalam gelas yang di genggam oleh Gong Sun Duan perlahan-lahan mulai meluap membasahi tangannya. Gelas emas tersebut tiba-tiba penyok oleh kekuatan tangannya. Tiba-tiba, gelas emas tersebut terbang ke udara dan sekilas cahaya perak melintas cepat.

Cring, cring, cring, gelas emas tersebut jatuh ke lantai namun telah terbelah menjadi tiga bagian. Lengkungan pedangnya bercahaya secertah sinar perak.

Senyum MuRong Ming Zhu sontak hilang oleh gerakan tunggal tersebut. Keheningan memenuhi ruangan raksasa tersebut.
Gong Sun Duan dengan hati-hati menepukan mata goloknya. Dia menatap Fu Hong Xue dengan ancaman dan berkata,”Bila golokmu seperti ini, maka engkau dapat membawanya ke dalam.”

“Aku tidak memiliki golok seperti itu.”Fu Hong Xue berkata.

“Memangnya golok seperti apa yang engkau miliki?”Gong Sun Duan berkata sambil tersenyum.

“Aku tidak tahu – yang aku tahu golok ini tidak digunakan untuk memotong gelas arak.”Fu Hong Xue berkata.

Dia harus mengangkat wajahnya untuk melihat wajah kasar, tegas dan keras dari Gong Sun Duan.

Dia hanya menatapnya sekali sebelum dia berbalik dan mulai berjalan. Pandangannya dipenuhi dengan ejekan sementara kaki kirinya mulai melangkah ke depan dan kaki kanannya diseret dari belakang.

“Engkau mau pergi?”Gong Sun Duan berteriak.

Tanpa memalingkan kepalanya, Fu Hong Xue menjawab,”Aku datang bukan untuk melihat seseorang memotong gelas arak.”

“Karena engkau sudah datang, maka engkau harus meletakan golokmu, bila engkau hendak pergi maka engkau harus meninggalkan golokmu juga!”Gong Sun Duan berkata.

Fu Hong Xue menghentikan langkahnya. Ototnya mendadak mulai menonjol keluar dari balik pakaiannya yang basah.

Setelah beberapa saat dia berkata,”Kata-kata siapakah itu?”

“Kata-kata itu berasal dari pedangku!”Gong Sun Duan berseru.

“Golokku berkata lain.”Fu Hong Xue menjawab.

Gong Sun Duan mulai menegangkan ototnya juga dan berkata dengan tajam,”Dan apakah yang golokmu bilang?”

“Golok hanya ada bila bersama dengan seseorang, dan seseorang hanya ada bila bersama dengan golok.”Fu Hong Xue berkata.

“Dan bagaiman bila aku tetap menginginkan golokmu disini?”Gong Sun Duan berkata.

“Bila golok tetap disini, maka orangnya juga tetap disini!”Fu Hong Xue berkata.

“Bagus! Sangat bagus!”Gong Sun Duan berkata.

Ditengah seruannya, pedangnya bergerak kembali menimbulkan kilauan cahaya perak pelangi, mengarah langsung ke tangan Fu Hong Xue.

Fu Hong Xue tetap tidak berbalik, goloknya masih belum keluar, dan tangannya masih belum bergerak.

Sesaat pedang bergerak akan memotong tangannya, sebuah suara tiba-tiba berseru keras,”Berhenti!”

Cahaya tersebut tiba-tiba berhenti membeku. Mata pedang kurang lebih tinggal lima inci dari pinggang Fu Hong Xue. Namun, tangannya tetap diam dengan sempurna, bahkan tidak bergerak seinci pun.

Gong Sun Duan menatap tangan tersebut sementara butiran keringat mengumpul pada dahinya.

Ketika pedangnya telah bergerak keluar, maka hanya seorang di seluruh dunia yang dapat memerintahnya untuk ditarik kembali.

ooOOOoo

Apa yang terjadi terhadap Fu Hong Xue? Kejadian apa yang berlangsung di Gedung Sepuluh Ribu Kuda kemudian?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: