Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Golok Yanci Pedang Pelangi (11)

Filed under: +Golok Yanci Pedang Pelangi — ceritasilat @ 1:48 am

Golok Yanci Pedang Pelangi (11)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada CloudRs)

Pintu batu itu berat sekali, Ho Leng-hong harus mengerahkan tenaga untuk menggeser pintu itu, baru saja ia akan ikut menerobos masuk, tidak tersangka dari balik pintu tiba-tiba berkelebat keluar sesosok bayangan manusia, hampir saja kedua orang saling bertumbukan.

Orang itu tak lain adalah Tong Siau-sian pertama tadi, kalau sewaktu masuk ia tidak membawa apa-apa, maka sekarang tangannya telah bertambah dengan sebilah golok panjang.

Leng-hong tidak menyangka orang akan bersembunyi di balik pintu, sebaliknya nona itupun tidak menyangka orang yang menerjang masuk adalah Ho Leng-hong, maka pergokan ini membuat kedua pihak sama-sama kaget.

“Di mana Pang-toako?” bentak Leng-hong cepat.

“Ia sudah mati, aku telah berusaha, tapi gagal menyelamatkan jiwanya…”

“Omong kosong! Dia berada di mana?” bentak Leng-hong pula.

“Itu? Di kaki dinding sana, kalau tidak percaya periksalah sendiri,” kata orang itu sambil menunjuk ke sana.

“Baik, ayo ikut ke sana!” teriak Leng-hong lagi sambil melintangkan goloknya.

“Aku…aku…” belum habis perkataannya, mendadak golok nona itu membacok.

Ho Leng-hong mundur setengah langkah sambil miring ke samping, ditangkisnya bacokan itu, lalu secepat kilat melancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bergebrak empat-lima jurus, semua gerakan yang dipergunakan adalah jurus-jurus ilmu golok Ang-siu-to-hoat, ternyata keduanya sama kuat.

“Kim Hong-giok, rupanya kau!” teriak Leng-hong terkesiap.

Orang itu tertawa dingin, “Benar, sayang sudah terlambat, aku telah menguasai sembilan jurus Ang-siu-to-hoat, kukira kau tak bisa lagi mengapa-apakan diriku.”

“Aku tidak peduli Ang-siu-to-hoat segala,” bentak Leng-hong dengan gusar, “pokoknya kalau sampai Pang-toako mengalami sesuatu, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu.”

Baru selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar jeritan kaget Tong Siau-sian, “Jangan lepaskan dia, Pang-tayhiap telah dibunuhnya….”

Jeritan tersebut bagaikan bunyi guntur di siang bolong, hampir saja golok panjang di tangan Ho Leng-hong terlepas dari genggaman, cepat ia tanya, “Ia benar-benar sudah mati?”

“Lambungnya tertusuk golok perempuan hina itu, lukanya parah sekali, tapi nyawanya belum putus.”

Merah membara mata Ho Leng-hong saking gusarnya, sambil membentak golok segera membacok Kim Hong-giok.

Keadaan anak muda itu sekarang ibaratnya harimau terluka, dengan kalap dia lancarkan serangan secara bertubi-tubi, semua jurus serangan mematikan.

Entah cuma pura-pura atau memang gentar pada keberingasan wajah lawan yang mengerikan, secara beruntun Kim Hong-giok terdesak mundur tiga-empat tindak.

Kedua orang itu bertarung di depan pintu batu, setelah yang satu maju dan yang lain mundur, akhirnya mereka tiba di luar pintu, hawa dingin yang berembus keluar dari istana es membuat anggota tubuh mereka terasa kaku, permainan golok otomatis tak bisa dikembangkan sebagaimana mestinya lagi.

Ho Leng-hong ingin melukai Kim Hong-giok, tapi dia lupa menyumbat jalan mundurnya.

Sebaliknya Kim Hong-giok hanya memikirkan bagaimana cara meloloskan diri, begitu melihat ada kesempatan ia lantas berpura-pura tidak tahan, sambil berseru ia terus mundur ke dinding sebelah kiri.

Leng-hong sangat girang, goloknya berputar dan menyerang pula.

Diam-diam Kim Hong-giok mengerahkan tenaga dalam dan menangkis bacokan itu dengan sepenuh tenaga, pada kesempatan tersebut ia berputar dan menerjang keluar dengan menyusuri kaki dinding, lalu sambil bergelinding beberapa kali menerobos lewat di bawah kaki Ho Leng-hong.

Serangan Ho Leng-hong yang lain belum sempat dilancarkan lagi, iapun tak menduga Kim Hong-giok akan mengeluarkan jurus bahaya seperti itu untuk meloloskan diri, padahal kaki dinding merupakan sudut mati, untuk membacok ke bawah jelas tak sempat lagi… Sementara ia tertegun, Kim Hong-giok telah melompat keluar, ini berarti pula mereka telah bertukar arah.

Tentu saja Kim Hong-giok gunakan kesempatan tersebut dengan baik, begitu melompat bangun di lantas kabur keluar.

Dengan sendirinya Ho Leng-hong tak mau melepaskannya dengan begitu saja, sambil membentak goloknya disambitkan ke depan.

Kim Hong-giok ketika itu mungkin terlalu girang, atau mungkin terpengaruh hawa dingin istana es sehingga anggota badannya tak bisa bergerak selincah dulu, ketika mendengar desing golok dari belakang, buru-buru ia berusaha berkelit ke samping, sayang terlambat setengah langkah, mata golok yang dingin dan tajam sekali telah menembus bahu kirinya. Ia mengeluh tertahan dengan sempoyongan, tapi ia tak berani berhenti, sambil membawa golok yang masih menancap di tubuhnya ia kabur keluar …

Ho Leng-hong mengejar dari belakang, ia sambar golok nenek Po yang tergeletak di tanah dan siap mengejar lebih jauh, tapi saat itulah terdengar Tong Siau-sian berteriak, “Pang-tayhiap tidak tahan lagi, cepat…cepat kemari…”

Terpaksa Ho Leng-hong melepaskan Kim Hong-giok kabur dengan membawa luka dan buru-buru kembali ke dalam sana.

Pang Goan tampak berbaring di sisi dinding, perutnya terbacok hingga keadaannya sangat gawat, tapi nyawanya belum putus, ia masih berusaha meronta untuk duduk.

Leng-hong segera membuang goloknya dan berjongkok, katanya, “Pang-toako, maafkan aku datang terlambat.”

Napas Pang Goan tersengal, tapi sekulum senyum masih juga menghiasi bibirnya, sahutnya lirih, “Tidak, kedatanganmu belum terlambat, adalah perempuan hina itu yang datang selangkah lebih dulu, waktu itu aku sangat lemas karena lapar, maka perutku kena dibacok satu kali…”

“Mari kita tinggalkan tempat ini, lukamu perlu cepat diobati…”

“Jangan, jangan kau angkat diriku meninggalkan tempat ini.” Cegah Pang Goan sambil menggeleng kepala, “tempat ini sangat dingin maka darah yang mengalir keluar dari lukaku menjadi beku, sebab itu pula aku sanggup bertahan untuk mengucapkan beberapa patah kata padamu, sekali kau membawaku meninggalkan tempat ini, aku akan mati lebih cepat.”

“Benar juga perkataanmu,” bisik Tong Siau-sian, “ikuti saja keinginannya, dengarkan dulu pesan apa yang hendak ia sampaikan kepadamu.”

Leng-hong mengangguk, bagaimanapun dinginnya udara dalam istana es, menetes juga air matanya yang panas.

“Apakah Siau-cu juga selamat?” tanya Pang Goan dengan napas tersengal, “kenapa ia tidak ikut kemari?”

“Ia baik-baik saja,” jawab Leng-hong dengan tersendat, “dia…lantaran ada urusan lain, ia tak dapat kemari…”

Dalam keadaan seperti ini, ia benar-benar tak tega untuk memberitahukan keadaan Hui Beng-cu yang sesungguhnya.

“Syukurlah kalau selamat, dulu kita salah menuduhnya yang bukan-bukan, mulai sekarang kita tak boleh membuatnya menderita lagi.”

“Aku tahu!” Leng-hong mengangguk, air matanya jatuh bercucuran.

Tiba-tiba Pang Goan tertawa, katanya, “Terus terang, aku kuatir sekali kalian akan terpanggang mati dalam kawah api itu, beri tahulah kepadaku, bagaimana rasanya di sana? Tentunya panas sekali bukan?”

Ho Leng-hong mengangguk, “Benar… di sana memang panas sekali…tapi kami semua tidak terluka, kami…entah bagaimana harus berterima kasih kepada Toako…”

“Berterima kasih apa!” kata Pang Goan, “apa yang kulakukan tidak lebih cuma mendorong kalian belaka… Bicara terus terang, sungguh akupun ingin sekali tidur dalam balok es, sayang aku tak mungkin bisa merasakannya.”

Setelah berhenti sebentar, katanya pula, “Kalian sudah bertemu dengan Wan-kun?”

“Sudah, iapun sangat baik….”

“Sekarang ia berada di luar gua,” sambung Tong Siau-sian dengan cepat, “bagaimana kalau kupanggil dia masuk kemari?”

Pang Goan menggeleng kepala, lalu pegang tangan Ho Leng-hong, katanya, “Kabulkanlah permintaanku, jangan salahkan dia yang telah membohongi kita tempo hari, kutahu iapun bermaksud baik.”

“Jangan kuatir Toako, tak ada orang yang menyalahkan dia, aku akan melindunginya serta mengantar dia bersama anaknya pulang ke Thian-po-hu.”

“Bagus! Bagus sekali!” lambat laun tangan Pang Goan berubah menjadi amat dingin, sinar mata pun menjadi pudar, ia celingukan sekejap ke sekeliling situ, lalu gumamnya, “Sesungguhnya tempat ini adalah suatu tempat istirahat yang sukar dicari, sayang udaranya terlampau dingin…”

“Pang-toako …! Pang-toako…” Leng-hong tak dapat mengendalikan rasa sedihnya, ia menangis tersedu-sedu.

Di tengah panggilan yang memilukan hati itulah Pang Goan menghembuskan napasnya yang penghabisan… .

—————

Pintu batu istana es kembali ditutup, jalan darah nenek Po dan kedua orang perempuan buta yang tertutuk kini telah dibebaskan, mereka menerobos lorong gua dan menuju ke rumah batu. Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, jelas hati setiap orang dicekam oleh perasaan yang berat.

Dengan membawa luka Kim Hong-giok berhasil melarikan diri, Pang Goan mengakhiri hidupnya dalam istana es, sedang keselamatan Hui Beng-cu masih merupakan sebuah tanda tanya yang besar…

Yang sudah lewat kini telah lewat, kejadian pada masa mendatang sukar diduga, hanya satu hal yang harus segera dihadapi, yakni, Tong-popo tidak akan melepaskan mereka dari tuduhan “masuk ke dalam istana es yang terlarang”, bahkan mungkin orang di luar sedang menantikan kemunculan mereka.

Barang siapa berani masuk ke daerah terlarang itu, hukumannya adalah mati. Kendatipun Tong Siau-sian adalah pejabat Kokcu, sulit baginya untuk mengelakkan peraturan “hukuman mati” atas suaminya, asal ia mati, maka kekuasaan memerintah Mi-kok akan terjatuh ke tangan Tiang-lo-wan, dan hal inilah yang diidam-idamkan oleh Tong-popo.

Tidak sulit bagi Tong Siau-sian untuk membayangkan girang Tong-popo saat ini, tapi kesalahan ini sudah terbukti dan jelas tidak bisa dibantah lagi, atau dengan perkataan lain dalam perebutan kekuasaan kali ini, ia sudah jelas berada di pihak yang kalah. Bukan saja kalah dalam berebut kekuasaan, bahkan jiwanya ikut pula menjadi korban.

Ia tidak menyesal, iapun tidak takut, karena sekalipun ia kehilangan segala-galanya, namun berhasil mendapatkan cinta yang paling berharga, bagi seorang gadis hal ini sudah lebih dari cukup.

Mungkin saja Ho Leng-hong bukan laki-laki paling sempurna di dunia ini, tapi kerelaannya untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi Thian-po-hu membuktikan bahwa ia seorang lelaki yang jujur, keberhasilannya lolos dari kawah api membuktikan akan kecerdasannya, daya ingatnya yang kuat serta keberhasilannya mempelajari ilmu golok Ang-siu-to-hoat membuktikan kepintaran serta bakatnya yang bagus, sikap pegang janji serta tidak lupa kepada budi yang diperlihatkan selama ini membuktikan pula bahwa dia adalah seorang lelaki berhati mulia…Laki-laki semacam inilah merupakan teman hidup yang paling diidam-idamkan oleh setiap gadis.

Tong Siau-sian telah mengambil keputusan dalam hati, sekalipun harus mati, ia rela mendampinginya sampai akhir hayat. Selama masih hidup, iapun tak segan-segan mendampingi kekasihnya untuk mendobrak kepungan serta berusaha meninggalkan Mi-kok. Oleh sebab itu, sepanjang perjalanan mendampingi Ho Leng-hong, ia tidak merasa takut menghadapi apapun.

Apa yang diduga ternyata benar, dalam rumah batu telah dipenuhi bayangan manusia.

Sebagai pemimpin adalah Tong-popo, hampir seluruh anggota Tiang-lo-wan hadir di situ, kecuali itu, di bawah pimpinan Hoa Jin, dua belas orang jago berbenang biru dengan golok terhunus siap sedia di sekitar sana. Di luar rumah batu masih ada pula dua puluh empat pengawal perempuan pelaksana hukum serta hampir ratusan pasukan yang tergabung dalam Bok-lan-pek-tui dan Bok-lan-hek-tui.

Waktu itu fajar telah menyingsing, di luar sana lautan manusia sudah berkumpul, sebagian besar masyarakat lembah telah tiba di luar ruangan batu itu.

Pang Wan-kun tampak dibelenggu dan berada di barisan depan pasukan pelaksana hukum.

Baru saja Ho Leng-hong melangkah masuk ke dalam ruangan batu, Tong-popo segera membentak, “Tangkap dia!”

Ke-12 orang berbenang biru serentak mengiakan dan menyerbu maju.

“Berhenti!” bentak Tong Siau-sian, “kalian mau berontak?”

Bagaimanapun dia adalah Kokcu, begitu dia membentak, Hoa Jin sekalian lantas tak berani bergerak lagi.

Tong-popo tertawa dingin, ejeknya, “Tong Siau-sian, tak perlu kau pamer kuasa sebagai seorang Kokcu, ketahuilah jabatan itu bukan hak Tong Siau-sian lagi!”

“Kedudukan Kokcu adalah kedudukan yang turun-temurun,” bentak Tong Siau-sian lantang, “sejak dulu sampai sekarang hanya keluarga Tong yang berhak menjadi Kokcu, siapa yang berani tidak menghormati diriku?”

“Memang, selama ini kedudukan Kokcu secara turun-temurun dipegang oleh keluarga Tong, tapi itu cuma berlangsung sampai kau Tong Siau-sian, menurut peraturan lembah, Tiang-lo-wan berhak memilih Kokcu baru setelah kau meninggal dunia.”

“Tapi sampai sekarang aku belum mati!”

“Ya, belum, tapi hampir. Kau telah setuju kawin dengan Ho Leng-hong, dan sekarang ia sudah melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati, menurut peraturan kau harus mengiringi pula kematiannya.”

“Ho Leng-hong adalah pahlawan lembah kita, kesalahan besar apa yang dilakukan dia?”

“Malam-malam ia memasuki lembah belakang dan menerobos ke dalam istana es secara paksa, kesalahan tersebut pantas dijatuhi hukuman mati.”

“Memutuskan hukuman mati terhadap seseorang merupakan hak dan keputusan Kokcu, bukan Tiang-lo-wan yang berhak memutuskannya dengan begitu saja.”

“Jika orang yang melanggar peraturan adalah calon suami Kokcu, apa lagi Kokcu sendiripun tersangkut dalam peristiwa ini, tentu saja Tiang-lo-wan berhak memutuskan hukuman tersebut.”

“Hehe, omong kosong, sehari aku belum mati, sehari pula aku menjadi Kokcu Mi-kok, Tiang-lo-wan tidak lebih hanya merupakan pemangku sementara bila aku mati, kalian tidak berhak merebut kedudukanku sebagai Kokcu dengan begitu saja. Tong-popo, kau begitu takabur, berani menghina diriku, tidak menuruti peraturan leluhur, rupanya kau hendak mengkhianati lembah dan merombak peraturan?”

“Aku bertindak demikian justru untuk melaksanakan peraturan leluhur, Ho Leng-hong telah melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati, menurut peraturan kaupun harus mengiringinya mati, apakah kau hendak melanggar peraturan leluhur kita ini?”

“Bersalah atau tidaknya Ho Leng-hong adalah hakku untuk memutuskan, sebelum ia diputuskan bersalah, siapa yang berani tidak mengakui diriku sebagai Kokcu Mi-kok?”

Saking mendongkol Tong-popo mendengus, tanyanya, “Baik, anggaplah kau masih seorang Kokcu, sekarang aku ingin tanya padamu, Ho Leng-hong yang telah masuk ke daerah terlarang dengan paksa harus dikatakan berdosa atau tidak?”

“Berdosa atau tidak harus disertai dengan bukti, kau tak boleh menuduh seenaknya saja, siapa yang bisa membuktikan ia telah masuk daerah terlarang?”

“Baru saja ia keluar dari lambung bukit, apakah hal ini belum cukup sebagai bukti?” teriak Tong-popo.

Tong Siau-sian mengangkat bahu, “Itupun hanya membuktikan ia memasuki lorong dalam lambung bukit, bukan bukti ia memasuki istana es, lorong dalam lambung bukit bukan daerah terlarang, selama ia tidak masuk ke istana es secara paksa, menurut peraturan ia tak dapat dijatuhi hukuman mati, apakah kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa ia masuk ke istana es?”

“Sekalipun aku tidak menyaksikan sendiri, nenek Po dan kedua orang petugas penjaga pintu istana telah menyaksikannya.”

Tong Siau-sian tertawa, “Wahai Tong-popo, hendaknya kaubicarakan yang jelas, nenek Po dan kedua orang petugas itu semuanya buta, hakikatnya tak mungkin mereka menyaksikan apa pun.”

Ucapan ini seketika membuat Tong-popo menjadi bungkam.

Sekalipun semua orang yang hadir tahu alasan Tong Siau-sian terlalu dipaksakan, tak urung mereka alihkan juga sorot matanya ke wajah nenek Po.

“Mataku memang buta, tapi hatiku tidak buta,” kata nenek Po dengan tenang, “aku merasa yakin masih sanggup untuk menjadi saksi apakah Ho Leng-hong telah masuk ke istana es atau tidak, cuma tak tahu apakah kalian mau percaya pada pengakuan si nenek buta atau tidak.”

“Betul,” seru Tong-popo dengan girang, “meskipun mata enci Po buta, kutahu tindakanmu selalu jujur dan tidak mengenal kompromi, selaku pemegang kunci istana es, memang dia pantas dijadikan saksi.”

“Apakah kesaksianku bisa kalian percayai?” tanya nenek Po dengan wajah tanpa emosi.

“Pasti percaya,” jawab Tong-popo cepat, “enci Po, katakanlah kesaksianmu itu, kami percaya padamu.”

Diam-diam Tong Siau-sian amat gelisah, buru-buru ia menyela, “Nenek Po, aku selalu bersikap baik padamu, kuminta jangan sampai kaujerumuskan orang baik ke dalam lembah kehancuran.”

“Aku si nenek buta tak pernah bermusuhan dengan siapapun,” kata nenek Po hambar, “aku hanya tahu menjaga pintu istana es adalah tugas kewajibanku, apa yang terjadi hari ini akan kukatakan apa adanya dan bagaimana kejadiannya, aku tidak peduli kesaksianku ini akan menyinggung perasaan ataupun akan menguntungkan orang lain.”

“Nenek Po…” rengek Tong Siau-sian dengan suara lirih.

“Rekan-rekan seperguruan,” kata Tong-popo segera dengan suara lantang, “masuk ke daerah terlarang secara paksa adalah suatu kejadian serius, kalau Kokcu berkeras menghendaki bukti, marilah kita dengarkan bersama kesaksian enci Po, apakah Ho Leng-hong bersalah atau tidak akan kita putuskan setelah mendengarkan kesaksiannya.”

Seketika itu suasana di luar maupun dalam ruangan batu menjadi hening, semua orang menahan napas dan siap mendengarkan pengakuan nenek Po.

“Nah, enci Po,” kata Tong-popo kemudian dengan bangga, “harap berikan kesaksianmu dengan suara keras agar setiap orang dapat mendengarkan.”

Berputar biji mata nenek Po yang putih, lalu dengan suara lantang katanya, “Po Sui-lan bertugas menjaga istana es sebagai daerah terlarang, untuk mempertanggung jawabkan kewajibanku, dengan ini kuberikan kesaksian yang sebenar-benarnya. Hari ini Kokcu dan Ho Leng-hong benar-benar telah datang ke istana es…”

Kontan saja Tong-popo dan Hoa Jin sekalian menyambut dengan sorakan senang.

“Jangan berisik dulu,” bentak nenek Po lantang, “keteranganku belum selesai kuucapkan…

Sambil tertawa Tong-popo berkata, “Baik, silakan enci Po menyelesaikan kata-katanya, kami semua pasti mendukung kesaksian enci Po ini.”

Nenek Po berdehem, lalu serunya lagi dengan suara lantang, “Aku dapat membuktikan bahwa Kokcu dan Ho Leng-hong hanya sampai di depan pintu istana es, mereka sama sekali tidak melangkah masuk ke dalam istana tersebut!”

Begitu kesaksian ini diutarakan, kontan suasana di sekeliling tempat itu menjadi sunyi, tak kedengaran sedikit suarapun, semua orang sama tertegun. Selang sesaat kemudian, dari luar ruangan baru meledak suara sorak sorai yang nyaring, “Hidup Kokcu! Hidup Huma!”

Hampir saja Tong Siau-sian tidak percaya hal itu bisa terjadi, ditatapnya nenek Po sekejap dengan sorot mata penuh rasa terima kasih, lama dan lama sekali ia baru berbisik dengan gemetar, “Terima kasih banyak, nenek Po!”

Tapi luapan terima kasih yang lirih itu telah tertutup oleh gemuruh sorak sorai di luar ruangan, serta merta pasukan pelaksana hukum melepaskan tali yang membelenggu tubuh Pang Wan-kun.

Air muka Tong-popo berubah menjadi merah padam, lalu berubah pucat pias, dengan gemas serunya, “Bagus sekali tua bangka she Po, kita lihat saja nanti!”

“Tidak usah menunggu sampai nanti,” jawab nenek Po tenang, “kauberani memfitnah Kokcu dengan tuduhan yang bukan-bukan, menghasut khalayak ramai untuk memberontak, kau pantas dijatuhi hukuman mati. Hmm, kaukira hari ini bisa keluar ruangan ini dengan selamat?”

Tong-popo mendengus, “Hmm, aku tidak percaya ada orang mampu menahan diriku di sini. Ayo pergi!”

Sambil mengulap tangannya, ia berjalan keluar ruangan itu.

“Berhenti!” terdengar bentakan nyaring.

Sambil melolos golok panjang milik seorang perempuan buta, Tong Siau-sian maju ke depan sambil membentak, “Tong Siok-tin, besar amat nyalimu, setelah melakukan kesalahan besar, berani pula kau melawan perintah. Hmm, kau masih menghargai peraturan lembah atau tidak?”

“Selaku seorang Tianglo yang memimpin Tiang-lo-wan, kedudukanku tidak berada di bawah kedudukanmu sebagai Kokcu, kau tak perlu pamer kekuasaanmu di depan si nenek.”

“Tong Siok-tin berani melawan dan mengkhianati lembah, dosanya tak terampunkan, atas nama Kim-to-leng yang diwariskan leluhur, mulai detik ini kupecat Tong Siok-tin dari kedudukannya sebagai Tianglo,” seru Tong Siau-sian dengan suara lantang, “dengan ini pula diperintahkan kepada seluruh anggota perguruan agar bersama-sama menangkap pengkhianat itu, barang siapa berhasil menangkap Tong Siok-tin, dia akan kuangkat sebagai pemimpin para Tianglo, barang siapa berkomplot dengan Tong Siok-tin akan dianggap sebagai pengkhianat dan dijatuhi hukuman mati.”

Semua anggota lembah Mi-kok saling pandang dengan sangsi, untuk sesaat mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.

Tong-popo segera menengadah sambil tertawa terbahak-bahak, ejeknya, “Tong Siau-sian, Kim-to-lengmu itu tak lebih cuma kekuasaan sebesar ini. Hm, Tiang-lo-wan adalah lembaga paling tinggi dalam lembah ini, kau tidak berhak menghapus atau memecat seseorang dari kedudukannya sebagai Tianglo, sebaliknya kami justru mempunyai hak untuk memecat kau sebagai Kokcu yang tak becus…”

Bicara sampai di sini ia lantas berpaling ke arah beberapa orang Tianglo lain seraya berkata, “Saudara sekalian, urusan telah berkembang menjadi begini, lebih baik kita turun tangan saja membekuk budak ini, entah bagaimana pendapat kalian?”

Beberapa orang Tianglo itu hanya saling pandang saja dengan terbelalak, sikap mereka kelihatan sangsi.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Tong-popo segera memberi tanda sambil membentak, “Tong Siau-sian tidak becus dan tak pantas memimpin Mi-kok, Tiang-lo-wan memutuskan bahwa mulai saat ini dia dipecat dari jabatannya untuk kemudian memilih Kokcu baru lagi. Pengawal tangkap dia!”

Seseorang mengiakan sambil melolos senjatanya, ternyata dia adalah Hoa Jin, tapi ketika ia celingukan ke sana kemari dan diketahui cuma di sendiri yang menyahut, ia menjadi gugup dan ragu untuk bertindak lebih lanjut.

Tong Siau-sian segera mengeluarkan sebilah pisau kecil berwarna emas, sambil mengangkatnya tinggi-tinggi ia berseru, “Hoa Jin berani berkomplot untuk melakukan pengkhianatan, barang siapa menangkap Hoa Jin, dia akan kuberi jabatan sebagai Tianglo berbenang perak!”

Baru saja ucapan itu diutarakan, seseorang segera tampil ke depan seraya berseru, “Terima perintah!”

Orang itupun seorang petugas “Benang biru”, dia tak lain adalah Yu Ji-nio.

“Kau manusia plin-plan dan pengecut,” maki Hoa Jin dengan gusar, “setelah keadaan berubah menjadi begini, kenapa kau malah membantu orang lain?”

“Kentut busuk,” bentak Yu Ji-nio, “turun temurun kita menetap dalam lembah ini, belum pernah ada orang berani menggeser kedudukan Kokcu, kau ingin memfitnah diriku sebagai pengkhianat? Hmm, justru aku sekarang hendak membekukmu untuk menebus dosa. Lihat serangan!”

Golok panjangnya segera bergetar dan langsung menyerang Hoa Jin.

Bagaimanapun lebih banyak anak murid Mi-kok yang berjiwa jujur daripada yang bermaksud khianat, sekalipun mereka tak berani bertindak ketika terjadi percecokan antara Kokcu dan pemimpin Tianglo, tapi terhadap Hoa Jin tak seorang pun yang merasa takut, begitu Yu Ji-nio turun tangan, serentak merekapun ikut berkobar jiwa ksatrianya, sambil berteriak nyaring masing-masing melolos golok dan ikut mengerubuti Hoa Jin.

Begitulah suasana dalam ruangan telah berubah, dari luar ruangan pun terjadi pergolakan, semua anak murid Mi-kok serentak melolos senjata masing-masing dan ikut terjun dalam gerakan menentang pengkhianatan.

Melihat masa jaya baginya sudah lewat, dengan penuh kebencian Tong-popo menggentakan kakinya ke tanah, lalu sambil putar senjata ia terjang keluar ruangan.

Bagaimanapun dia seorang Tianglo, tentu saja tenaga dalamnya jauh lebih sempurna dibandingkan para jago Benang Biru serta para anggota pasukan Bok-lan-tui, di mana cahaya golok berkelebat segera timbul gelombang hawa dingin, kontan semua orang menyingkir ke belakang, dengan demikian dalam waktu singkat ia berhasil menerobos pergi.

Menyaksikan hal tersebut, Tong Siau-sian mau turun tangan sendiri, tapi pada saat itulah tanpa menimbulkan suara Ho Leng-hong telah melompat ke depan dan mengadang jalan lari Tong-popo.

Selama ini beberapa orang nenek lainnya yang tergabung dalam Tiang-lo-wan tidak melakukan gerakan apa-apa, jelas mereka tidak setuju dengan tindakan Tong-popo yang berkhianat secara terang-terangan itu.

Saat itulah Tong Siau-sian baru bisa mengembuskan napas lega, bisiknya kepada nenek Po, “Bila semua pengkhianat telah berhasil dibekuk, aku pasti akan berterima kasih atas perlindungan kau orang tua…”

“Tak usah berterima kasih kepadaku,” kata nenek Po sambil menggeleng, “kalau ingin berterima kasih, seharusnya kau berterima kasih kepada Ho Leng-hong.”

“Kenapa?” tanya Tong Siau-sian tercengang.

Nenek Po menghela napas, “Ai, selama berpuluh tahun ini tidak sedikit orang yang sudah ku antar masuk ke dalam istana es, meskipun mereka tewas dalam istana es, tapi tiada bedanya seperti mati di tanganku, dengan susah payah akhirnya ada juga seorang yang berhasil keluar dengan selamat, mana aku sampai hati mencelakai lagi jiwanya dengan sepatah kataku?”

Tong Siau-sian tertawa, tanyanya pula, “Tapi kau orang tua selamanya tak pernah bohong, kenapa sekali ini…”

Biji mata nenek Po yang putih berputar, “Siapa bilang aku tak pernah bohong? Aku hanya tidak mendapatkan kesempatan saja. Kalau ada orang mengaku selama hidupnya tak pernah bohong, maka pengakuan itu sendiri adalah bohong besar.”

Di dunia ini memang tak ada orang yang tak pernah bohong, seperti juga di dunia ini tak pernah ada orang yang tak mengampuni kesalahannya sendiri. Justru karena semua orang suka memaafkan kesalahan sendiri, maka mereka suka berbohong.

—–

Sesungguhnya tenaga dalam Leng-hong bukan tandingan Tong-popo, tapi lantaran ia memahami jurus kesembilan yang merupakan jurus anti ilmu golok Ang-siu-to-hoat, maka setiap gebrakan ia selalu mengawasi keadaan dan membuat permainan golok Tong-popo sukar dikembangkan.

Tak sampai lima enam gebrakan, secara beruntun Tong-popo telah menerima dua kali bacokan sekalipun tidak parah, namun cukup menggetarkan sukma Tong-popo.

Setelah sadar bahwa ia bukan tandingan Ho Leng-hong, tiba-tiba nenek itu berkata lirih, “Hei, orang she Ho, jangan terlalu mendesak diriku, kau masih ingin menolong Hui Beng-cu tidak?”

Tergerak juga hati Ho Leng-hong, serangan goloknya dikendurkan, lalu balik bertanya, “Kau sanggup menolongnya?”

“Jika kau mau melepaskan diriku, tentu saja aku mempunyai cara untuk menolongnya lolos dari cengkeraman orang.”

“Coba jelaskan dulu!”

“Setelah terluka, sampai sekarang, Samkongcu dari Ci-moay-hwe belum meninggalkan lembah ini, hanya aku yang mengetahui di mana dia bersembunyi, kalau kau setujui untuk melepaskan diriku dari sini, dia akan kuserahkan padamu, dengan ia sebagai sandera, apa susahnya untuk memaksa pihak Ci-moay-hwe membebaskan Hui Beng-cu.”

Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, ia menarik kembali goloknya seraya bertanya, “Sekarang dia berada di mana?”

“Sedang merawat lukanya dalam lembah ini, asal Ho-tayhiap bersedia memberi jalan lewat, sekarang juga kuajak kau ke sana…”

“Baik. Ayo bawa aku ke sana!” golok Leng-hong segera ditarik kembali dan memberi jalan lewat, secepat kilat Tong-popo kabur dari situ.

“Leng-hong, cepat cegat dia!” teriak Tong Siau-sian kaget.

Ho Leng-hong mengulapkan tangannya seraya berkata dengan suara tertahan, “Baik-baiklah mengatur urusan lembah sini, serahkan orang itu kepadaku, jangan mengirim orang untuk menyusulnya, aku akan kembali dengan cepat.”

Tong Siau-sian masih ingin tanya lagi, tapi Ho Leng-hong telah melayang ke sana menyusul Tong-popo.

—–

Sebagian besar anak murid Mi-kok telah berkumpul di belakang lembah ini hingga bangunan induk terasa lenggang dan sepi.

Tong-popo langsung kembali ke Tiang-lo-wan, ibaratnya anjing yang kena gebuk, ia pulang dengan lemas dan murung.

Kendatipun dalam gedung saat itu tinggal beberapa orang pelayan saja, orang-orang itupun diusir keluar semua.

Dalam keadaan demikian, kecuali kepada diri sendiri boleh di bilang ia tidak percaya pada orang lain lagi, selain itu iapun tak berani berdiam lama dalam lembah, maka sebelum meninggalkan tempat itu untuk selamanya, beberapa macam barang berharga perlu dibawa serta.

Di antara barang mestika termasuk juga dua bilah golok pusaka, yang pertama adalah Yan-ci-po-to dari Thian-po-hu, sedang yang kedua adalah golok sabit dari Hui Beng-cu.

Terhadap asli tidaknya golok mestika Yan-ci-po-to untuk sementara waktu belum dapat ditentukan, maka dia hanya menyandangnya di punggung, sementara golok sabit milik Hui Beng-cu dipegangnya dan siap dipergunakan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Ho Leng-hong mengadang jalan perginya di tengah halaman, begitu ia muncul, pemuda itu segera menegur dengan ketus, “Kim Hong-giok bersembunyi di mana? Kalau tidak kauserahkan padaku, jangan harap meninggalkan lembah Mi-kok dengan selamat.”

Sesudah lolos dari kepungan, apalagi golok mestika sudah berada dalam genggaman, Tong-popo kelihatan tidak takut lagi, katanya sambil tertawa, “Ho-tayhiap, antara kau dan aku ibaratnya air sumur tak melanggar air sungai, aku harap kau jangan mendesak orang keterlaluan, selewatnya hari ini, rasanya kita masih akan berjumpa lagi.”

“Boleh saja aku tidak mencampuri urusan dalam lembah kalian, tapi harus kauserahkan Kim Hong-giok kepadaku, sebab itulah syarat bagimu untuk meloloskan diri dari sini.”

“Bila orang itu kuserahkan padamu, dapatkah kau menjamin bahwa Tong Siau-sian akan mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan semua kekuasaan Mi-kok kepadaku?”

“Itu urusan lembah kalian, aku tidak dapat memberi jaminan seperti itu.”

“Makanya akupun tak dapat menyerahkan Kim Hong-giok kepadamu,” jawab Tong-popo sambil tertawa dingin, “sebab mereka akan mendukungku kembali ke sini, sudah lama Ci-moay-hwe menyiapkan orang-orangnya di sekitar sini, kalau aku sampai bentrok dengan mereka, siapa yang akan mendukungku kembali ke lembah ini?”

“Jadi kau hendak mengingkar janji?” bentak Leng-hong.

“Bukanya aku ingkar janji, terus terang kuberitahu, tadi Kim Hong-giok telah kabur pergi dari Mi-kok, apa yang kuucapkan tadi tidak lebih hanya siasat belaka.”

Betapa geram Ho Leng-hong, bentaknya, “Kalau begitu, jangan harap kau bisa lolos dari sini!”

“Ho-tayhiap, sekalipun kau menahan diriku atau menyerahkan diriku kepada Tong Siau-sian untuk dijatuhi hukuman, hal inipun tidak bermanfaat bagimu, sebaliknya bila kau ikut diriku meninggalkan lembah ini, bisa saja kubawa kau ke markas rahasia Ci-moay-hwe, tentu saja berhasil atau tidaknya kau menolong Hui Beng-cu bergantung kepada kepandaianmu sendiri, aku hanya bertugas membawa jalan, aku tak ingin menyalahi teman-temanku sendiri.”

Nenek itu sungguh licik dan banyak tipu muslihatnya, jelas tujuannya hanya ingin mempergunakan Ho Leng-hong untuk melindunginya meninggalkan Mi-kok, andaikata tiba di sarang rahasia Ci-moay-hwe, diapun pasti akan berpihak kepada Ci-moay-hwe dan membekuk Ho Leng-hong guna mencari pahala, jadi kalau dia bilang berniat membantu pemuda itu menolong Hui Beng-cu, hal ini jelas hanya tipuan belaka.

Tapi Ho Leng-hong seolah-olah tidak berpikir sampai ke situ, setelah termenung sebentar, dia mengangguk, “Baik, aku percaya padamu sekali lagi, kalau kau berani membohongi pula, jangan menyesal bila aku tidak sungkan lagi padamu.”

“Jangan kuatir,” kata Tong-popo dengan tertawa, “sekali ini aku bicara sejujurnya. Bayangkan sendiri, setelah kabur dari Mi-kok, kecuali menuju ke Ci-moay-hwe, aku dapat kabur ke mana lagi?”

“Ayo berangkat!” seru Leng-hong kemudian, segera ia berangkat lebih dulu meninggalkan gedung tersebut.

Tiba di mulut lembah, belasan orang pengawal dari Bok-lan-pek-tui telah mengadang mereka, seorang petugas dari benang biru segera berkata, “Tong-popo telah berkhianat dan melarikan diri, Kokcu memberi perintah agar membekuknya, siapapun dilarang meninggalkan lembah ini.”

“Berilah jalan lewat padaku, bila Kokcu menegur nanti, akulah yang bertanggung jawab,” sahut Ho Leng-hong.

“Ho-huma adalah tamu agung kami, untuk melepaskanmu pergi kami masih berani melakukannya, tapi Tong-popo… .”

“Aku yang membawanya pergi, bila terjadi sesuatu tentu saja aku pula yang bertanggung jawab.”

Petugas penjaga lembah itu menjadi serba susah, katanya dengan ragu, “Tentang ini…bagaimana kalau hamba minta persetujuan Kokcu lebih dulu?”

“Aku ada urusan yang mendesak, tiada waktu lagi untuk menunggu jawaban kalian,” kata Leng-hong dengan tidak sabar, “pokoknya sampaikan saja apa yang kukatakan ini kepada Kokcu.” Sampai di sini, tanpa menunggu jawaban lagi, ia lantas menerobos lewat lebih dulu.

Dengan golok sabit terhunus Tong-popo ikut menerjang keluar pula.

Para penjaga tak ada yang berani turun tangan mengalangi mereka, dengan mata terbelalak terpaksa mereka membiarkan kedua orang itu meninggalkan lembah.

Pada waktu pergi Tong-popo masih sempat mendamprat dengan penuh kebencian tapi para penjaga pura-pura tidak mendengar, setelah kedua orang itu pergi jauh, satu di antara penjaga itu secara hati-hati sekali membuntuti kedua orang itu dari kejauhan.

Sekalipun orang itu mengenakan baju barisan “benang putih”, kenyataannya dia adalah Pang Wan-kun.

—–

Yang dimaksudkan sebagai markas rahasia Ci-moay-hwe oleh Tong-popo, pada hakikatnya adalah rumah gubuk yang terletak di bukit gerbang di belakang Mi-kok.

Sepanjang jalan ia lari berdampingan dengan Ho Leng-hong, ketika mendekati rumah gubuk itu tiba-tiba ia mengerahkan tenaga dalam dan mempercepat langkahnya.

Leng-hong kuatir nenek itu akan kabur, buru-buru mengerahkan tenaga dalam untuk menyusul.

Satu di depan yang lain di belakang, dalam waktu singkat kedua orang telah tiba di tanah lapang di depan rumah gubuk itu.

Tiba-tiba Tong-popo mencabut golok lengkungnya sambil membentak, “Ho Leng-hong, jangan kau mendesak orang keterlaluan, aku sudah terperosot seperti ini, tapi kau masih mengejar tiada hentinya. Hm, biarlah aku beradu jiwa denganmu.”

Seraya berkata goloknya terus berputar dan menerjang Ho Leng-hong.

Tapi baru bergebrak beberapa jurus, mendadak ia berlagak tidak tahan, permainan goloknya menjadi kalut, bersamaan itu ia berteriak dengan gugup, “Nona Lik-giok, cepat bantu aku. Samkongcu telah terjebak dalam Mi-kok, kalian tak dapat berpeluk tangan belaka….”

Di tengah teriakannya itu, bayangan manusia segera bermunculan, dalam waktu singkat dua puluhan orang perempuan berbaju hitam telah muncul di situ.

Perempuan-perempuan berbaju hitam itu semuanya memakai baju pendek dengan ujung lengan lebar, rambutnya disanggul tinggi, setiap orang menggenggam sebilah golok panjang sempit dan sebilah pisau pendek terselip di pinggang.

Bersamaan itu pula, dari balik rumah gubuk berjalan keluar dua orang, seorang mengenakan baju warna hijau dan yang lain berjubah biru.

Yang memakai baju hijau itu adalah Kim Lik-giok, sedangkan yang memakai jubah biru belum pernah dijumpainya.

Akan tetapi usia maupun kedudukan perempuan berjubah biru ini agaknya di atas Kim Lik-giok, ditinjau dari dandanannya jelas dia adalah seorang perempuan asing suku Ainu.

Begitu muncul ia lantas membentak, “Tahan!”

Bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Han, akan tetapi logatnya kaku sehingga kedengarannya sangat lucu.

Tong-popo dan Ho Leng-hong segera menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang, serentak para perempuan Ainu yang berada di sekeliling tempat itu bergerak maju dan mengurung kedua orang itu rapat-rapat.

Tong-popo kelihatan tercengang, serunya, “Nona ini adalah…”

“Dia adalah Toasuci,” jawab Kim Lik-giok, “bernama Kim Lam-giok, ketua perkumpulan kami.”

Kim Lam-giok! Ketua Ci-moay-hwe!

Tanpa terasa Ho Leng-hong berpaling ke arah perempuan itu, usia Kim Lam-giok baru 26 – 27 tahun, amat cantik dan sedikit agak genit, diam-diam hatinya tergiur juga.

Sementara itu Tong-popo tersenyum ketika mengetahui bahwa perempuan itu adalah ketua Ci-moay-hwe, katanya cepat, “O, rupanya Toakongcu, terimalah hormatku.”

“Tak usah banyak adat,” sahut Kim Lam-giok ketus, “Benarkah apa yang kau ucapkan tadi?”

“Aku dengan perkumpulan kalian telah mengikat tali persahabatan, untuk apa aku berbohong?”

“Tapi, mengapa kau menderita kekalahan sedemikian mengenaskan? Kenapa Sammoay bisa terjebak dalam Mi-kok?”

“Semuanya itu adalah gara-gara orang she Ho ini …” sahut Tong-popo sambil menuding Ho Leng-hong dengan ujung goloknya.

Secara ringkas diceritakannya bagaimana Ho Leng-hong dan Tong Siau-sian memasuki istana es, bagaimana Kim Hong-giok terluka dan bagaimana nenek Po memberikan kesaksiannya…

Tampaknya Lam-giok tidak tertarik pada urusan Tong-popo berebut kekuasaan dengan Tong Siau-sian, semua perhatiannya hanya tertuju pada soal Kim Hong-giok, kembali ia tanya, “Kalau Sammoay terluka, mengapa kau tidak membawanya kemari? Kenapa kau meninggalkannya dalam lembah?”

“Setelah terluka parah, Samkongcu tidak leluasa untuk bergerak, terpaksa kusembunyikan di dalam gua di balik gunung-gunungan dalam taman Tiang-lo-wan, tempat itu sangat rahasia dan tak mungkin bisa ditemukan orang, setelah urusanku gagal, sebetulnya aku hendak menolongnya kabur, tapi orang she Ho ini mengikuti diriku terus menerus, dalam keadaan demikian terpaksa kupancing ia kemari. Bila Hwecu ingin menolong Samkongcu, silakan membekuk Ho Leng-hong lebih dulu, kemudian kita bersama-sama kembali ke Mi-kok dan melenyapkan Tong Siau-sian, tentu Samkongcu bisa kita selamatkan.”

Kim Lam-giok mendengus, “Hmm, maksudmu kami harus membantumu untuk melenyapkan musuh tangguhmu lebih dulu, kemudian mengantarmu pulang untuk menjadi penguasa Mi-kok?”

“Tidak, aku tidak bermaksud begitu,” sahut Tong-popo cemas, “setelah terjebak dalam lembah, keadaan Samkongcu berbahaya sekali, kita tak bisa mengulur waktu lagi, kendatipun kalian membantuku, sama artinya menolong Samkongcu, tindakan ini akan menguntungkan kedua pihak.”

“Ya, tapi urusan beradu jiwa dengan musuh, kauminta Ci-moay-hwe melakukannya bagimu?”

“Sebetulnya kita tak perlu beradu jiwa dengan musuh,” kata Tong-popo lagi, “Ho Leng-hong adalah calon suami Tong Siau-sian, asal kita berhasil membekuknya, tidak sulit untuk memaksa Tong Siau-sian menuruti kehendak kita!”

“Kalau begitu, silakan kau sendiri membekuk orang itu!”

“Tapi …” Tong-popo menjadi sangsi, “orang ini telah berhasil menguasai golok lembah kami, dengan kekuatanku seorang sulit merobohkan dia ….”

“Lantas apa gunamu kecuali berpeluk tangan menunggu hasil yang menguntungkan, apa yang bisa kau lakukan?” bentak Kim Lam-giok.

Sambil mengulap tangannya ia lantas berseru, “bunuh orang itu…”

Belum habis ucapannya, Kim Lik-giok yang berada di sampingnya tiba-tiba menyela, “Tunggu sebentar, masih ada persoalan hendak kutanyakan padanya.”

Perempuan Ainu yang berada di sekeliling telah mengangkat golok tinggi-tinggi sambil maju memperkecil lingkaran kepungan, mereka telah siap melancarkan serangan.

“Tong-popo,” kata Lik-giok kemudian, “kita telah bekerja sama, adalah pantas kalau masing-masing berusaha dengan sepenuh tenaga dan saling tolong-menolong, kini Sammoay terluka, kau tidak melindunginya, sebaliknya malah kabur sendiri, tak heran kalau Toaci menjadi marah.”

“Kalian hanya menyalahkan diriku, kenapa tidak menyalahkan diri sendiri?” kata Tong-popo dengan marah, “ketika Kim Hong-giok menyeludup ke dalam istana es untuk mencuri belajar Ang-siu-to-hoat, sebelumnya ia tak pernah memberitahukan apa-apa kepadaku, tapi setelah kejadian itu aku telah menyembunyikan dia, apakah akupun salah?”

“Tentu saja bukan seluruhnya kesalahanmu, aku ingin tanya padamu, benar amankah tempat sembunyi Sammoay?”

“Tanggung…”

“Tanggung tidak aman!” tiba-tiba seorang menyela ucapan Tong-popo.

Menyusul ucapan tersebut, serombongan besar bayangan orang melayang ke atas tanah lapang… mereka adalah kedua belas jago “kelompok benang biru” yang memimpin empat puluhan orang pasukan berbenang hitam yang tergabung dalam Bok-lan-pek-tui.

Di tengah berkelebatannya bayangan merah, dalam waktu singkat puluhan perempuan pendek berbaju hitam suku Ainu itu sudah terkepung.

Sebagai pemimpinya bukan lain adalah Tong Siau-sian. Kokcu lembah Mi-kok, sedang yang berbicara adalah Pang Wan-kun.

Dua anggota Bok-lan-pek-tui menggotong sebuah pembaringan kayu, di atas pembaringan membujur tubuh Samkongcu Kim Hong-giok yang tertutuk jalan darahnya.

Air muka Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok berubah menjadi pucat seperti mayat, mereka menatap Kim Hong-giok yang berada di pembaringan dengan rasa cemas dan gelisah.

Keadaan Tong-popo lebih mengenaskan lagi, ibaratnya seekor anjing liar yang menghadapi jalan buntu, dengan sinar mata yang penuh rasa cemas ia celingukan ke sana kemari sambil berusaha keras mencari kesempatan untuk kabur.

Tapi hampir ratusan orang telah mengepung sekeliling tempat itu, cahaya golok berkilauan, apa lagi di sampingnya masih berdiri seorang Ho Leng-hong yang mengawasinya tanpa berkedip, ingin kabur? Jelas bukan pekerjaan gampang.

Walaupun Pang Wan-kun tidak mengenakan seragam Mi-kok, kini ia merupakan seorang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Mi-kok, terdengar ia berseru dengan suara lantang, “Ci-moay-hwe bukan saja berani memasuki tempat terlarang lembah kami dan mencuri belajar ilmu silat kami, kalian pun berani pula melindungi buronan lembah kami, bicara soal kesalahan kalian pantas dihukum mati, bila ada di antara kalian yang mau melepaskan senjata dan menyerahkan buronan, Kokcu kami bersedia mengampuni dosa kalian dengan memberi jalan hidup. Nah, sekarang siapa yang ingin hidup dan siapa ingin mati terserah pada pilihan kalian sendiri.”

Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok tidak bicara apa-apa, kedua puluh orang perempuan Ainu pun tak ada yang melepaskan senjata, jelas kendatipun mereka merasa tak bisa menang menghadapi lawan lihai, namun mereka pantang menyerah dengan begitu saja.

Menyaksikan keadaan ini, Pang Wan-kun berpaling ke arah Tong Siau-sian, gadis itupun mengangguk.

Hal ini berarti segala sesuatunya telah diserahkan kepada Pang Wan-kun untuk memutuskan.

Dengan wajah serius pelahan Pang Wan-kun mengangkat tangan kanannya, lalu berkata, “Kalian sendiri yang mencari mampus, jangan menyesal jika pihak kami tidak memberi kesempatan lagi kepada kalian!”

Baru saja ia hendak menitahkan anak buahnya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba Kim Lam-giok menengadah sambil tertawa terbahak-bahak….

“Hei, kematian sudah berada di ambang pintu apa yang kau tertawakan?” bentak Wan-kun.

“Benar, ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok memang tiada tandingan di dunia ini, apalagi dengan jumlah orang yang banyak, bila terjadi pertarungan mungkin saja Ci-moay-hwe kalah, tetapi sebelum menderita kekalahan total, kami pun tak akan melepaskan orang yang berada di tangan kami.

Sambil berpaling ke arah rumah gubuk, bentaknya, “Suheng, gusur ke keluar orang-orang itu!”

Dari dalam rumah gubuk terdengar suara orang menyahut, menyusul muncul serombongan orang, orang pertama adalah laki-laki setengah umur bertubuh pendek tapi kekar, di belakangnya mengikuti dua orang laki-laki berbaju pendek dan menggusur seorang lelaki dan seorang perempuan. Lelaki itu berusia lima puluhan, berwajah keren, bermuka merah, beralis tebal dan dibelenggu oleh tali sekujur badannya sehingga mirip seorang tawanan.

Yang perempuan adalah Hui Beng-cu, iapun dibelenggu kencang dengan golok dipalangkan pada tengkuknya.

“Ho Leng-hong!” kata Kim Lam-giok kemudian, “tahukah kau siapa tawanan laki-laki ini? Jika kau ingin tahu, silakan tanya sendiri kepada Pang Wan-kun!”

“Tak perlu tanya, aku tahu dia pastilah pemilik gedung Hiang-in-hu dari Hu-yong, Tay-yang-to (golok matahari) Hui Pek-ling!”

“Hahaha, kau memang pintar sekali!” kata Kim Lam-giok sambil tertawa, “Kalau begitu, kau tentu mengetahui bukan, seandainya orang-orang Mi-kok sampai turun tangan, apa yang akan kuperbuat terhadap kedua orang ayah dan anak ini?”

Hawa amarah terpancar dari wajah Ho Leng-hong, bentaknya dengan menahan geram, “Perselisihan kalian dengan Mi-kok apa sangkut pautnya dengan mereka ayah dan anak? Tidakkah kau merasakan perbuatanmu itu terlalu rendah dan kotor?”

“Mereka ayah dan anak mempunyai hubungan dengan kau, dan kau adalah tamu agung Mi-kok, asal kaumau tampil ke depan, perselisihan di antara kedua pihak baru bisa terselesaikan,” jawab Kim Lam-giok dengan tertawa.

Leng-hong hanya mendengus dan tidak berkata apa-apa.

Kembali Kim Lam-giok berkata, “Kami tidak mempunyai permintaan lain, aku hanya ingin menggunakan kedua orang ini untuk ditukar dengan Sammoayku Hong-giok, kemudian Ci-moay-hwe akan segera angkat kaki dari Tay-pa-san ini, mengenai Tong-popo, kuserahkan penyelesaiannya kepada kalian, entah bagaimana pendapat Ho-tayhiap dengan syarat ini?”

Belum sempat Ho Leng-hong menjawab, dengan gusar Tong-popo telah berteriak, “Perempuan busuk, lantaran posisiku sudah tersudut, maka kau ‘setelah menyeberang sungai lantas menghancurkan jembatan’? Hm, terus terang kuberitahukan padamu, tidak segampang itu rencanamu bisa terpenuhi, bila aku si nenek tak mampu meloloskan diri, kalian perempuan asing busuk juga jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat.”

“Hei, apa gunanya kau marah kepada kami?” ejek Kim Lam-giok, “bukannya aku tak sudi membantumu, adalah kau yang mencelakai Sammoay lebih dahulu!”

Kemarahan nenek Tong tak terkendalikan lagi, tiba-tiba ia putar goloknya dan menerjang ke arah rumah gubuk itu.

Begitu dia turun tangan, serentak perempuan-perempuan Ainu yang berada di sekeliling sanapun turun tangan mengalanginya, serentak cahaya golok dan bentakan nyaring lantas berjangkit di sana sini.

Sekalipun jumlah perempuan Ainu itu sangat banyak, ilmu golok mereka jauh ketinggalan bila dibandingkan Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok, begitu pertarungan berkobar, beruntun empat lima orang telah terluka, Tong-popo berhasil menerobos lingkaran tersebut.

Tapi di luar lingkaran kepungan perempuan Ainu itu masih ada sekelompok besar anak murid Mi-kok.

Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, secara nekat Tong-popo menerjang.

“Cegat jalan perginya, mati atau hidup, bekuk dia!” bentak Pang Wan-kun.

Empat jago “benang biru” serentak maju bersama mengadang jalan pergi Tong-popo.
Waktu itu Tong-popo mulai menyadari lemahnya kekuatan sendiri, bukan pekerjaan gampang untuk menembus kepungan rapat itu, tapi iapun sadar bila menyerah berati mati, sebaliknya kalau nekat mungkin masih ada harapan untuk hidup, maka seperti harimau terluka, goloknya diputar sedemikian rupa untuk menghadapi kepungan musuh.

Baru tiga-empat gebrakan, salah seorang lawan kena dibacok bahunya sehingga melompat mundur.
Seorang jago kelompok benang biru dengan cepat melompat maju untuk menutup kekosongan tersebut, dengan demikian posisinya masih tetap empat lawan satu.

Makin lama Tong-popo makin nekat, di tengah bentakan-bentakan gusar yang nyaring, kembali ia berhasil membacok roboh seorang lawan.

Begitu orang itu terluka dan mundur, segera orang lain menutupi kekosongan tersebut, sedikitpun tidak memberi peluang bagi nenek Tong untuk melarikan diri. Keadaan tersebut amat tidak menguntungkan nenek Tong, karena kawanan jago benang biru berjumlah dua belas orang, sedang ia cuma seorang diri, apalagi di luar lingkaran kepungan masih ada empat puluh orang lebih pasukan Bok-lan-tui.

Pertarungan ini betul-betul pertarungan kalap seperti seekor binatang yang terjebak, sengit dan tegang, seperti demonstrasi kelihaian ilmu golok aliran Mi-kok, semua ini membuat para perempuan Ainu yang berada di sekitar situ menjadi tertegun.

Baju merah saling berkelebat, cahaya golok menyilaukan mata. Bagaimanapun Tong-popo hanya seorang diri, dalam suatu kesempatan akhirnya suatu bacokan sempat mampir juga pada pahanya.
Darah segera berhamburan membasahi pakaiannya yang berbenang perak itu, begitu kehilangan banyak darah, tenaga makin lemah, gerakannya jadi lamban, akhirnya lengan kiri dan pinggang juga kena bacokan.

Tong-popo tidak tahan lagi, sambil melepaskan serangan, buru-buru ia mundur dengan sempoyongan.
Tiba-tiba satu tangan memayang tubuhnya, menyusul terdengar Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, apa gunanya saling membunuh dengan sesama saudara perguruan, lepaskan golokmu Popo!”

Sekuat tenaga Tong-popo bermaksud menyerang pula, tapi pergelangan tangan segera kesemutan dan golok lengkung sudah dirampas oleh Ho Leng-hong.

Segenap anggota Mi-kok menyambut kejadian itu dengan sorak kegirangan, serentak mereka menerobos kepungan perempuan-perempuan Ainu dan berkerumun ke depan…

“Jangan buru-buru turun tangan,” seru Ho Leng-hong, “ada yang hendak kukatakan lebih dulu.”

Dengan sebelah tangan memegang golok dan tangan lain memayang Tong-popo, pemuda itu berkata lebih jauh, “Nona Tong, bersediakah kau mengabulkan permintaanku?”

“Kenapa? Kau ingin mintakan ampun baginya?”

“Sebenarnya aku tidak berhak mintakan ampun bagi Tong-popo yang telah melanggar peraturan Mi-kok, tapi bagaimanapun dia adalah ahli waris Ang-ih Hui-nio, ia keblingar dan melakukan kesalahan besar lantaran kemaruk kekuasaan, apakah nona bersedia memandang hubungan persaudaraan dan mengampuni jiwanya? Biarkan dia hidup sampai akhir hayatnya alam lembah dengan status sebagai orang hukuman!”

Tong Siau-sian mengernyitkan alis, lalu berkata, “Ia telah menipumu masuk ke istana es, berulang kali ingin mencelakai jiwamu, apakah kau telah melupakan semua itu?”

Ho Leng-hong tertawa getir, “Bila mana bisa mengampuni orang, ampunilah dia! Ia sudah tua dan paling banter hidup beberapa tahun lagi, apa salahnya kalau kita ampuni jiwanya dan memberi kesempatan kepadanya untuk melewatkan sisa-sisa kehidupannya saat ini?”

Tong Siau-sian termenung sejenak akhirnya ia mengangguk, “Baiklah, kukabulkan permintaanmu, tapi ilmu silatnya harus dipunahkan dan sepanjang hidupnya ditahan dalam penjara!”

“Terima kasih, nona!” Leng-hong segera memberi hormat.

Ia lantas melepaskan golok mestika Yan-ci-po-to dari punggung Tong-popo, menutuk jalan darahnya dan menyerahkan nenek itu kepada dua orang petugas benang biru untuk menggusurnya pergi.

Semua perempuan Ainu yang berada di sekitar situ dapat mengikuti adegan tersebut, mereka sama terharu sehingga banyak di antaranya tanpa sadar menurunkan samurainya masing-masing.

Ho Leng-hong menyapu pandang sekejap wajah orang-orang di sekelilingnya, lalu dengan suara lantang berkata, “Kalian semua adalah perempuan baik-baik bangsa Ainu, kenapa kalian mau diperalat orang dan jauh-jauh menyeberangi lautan datang ke Tionggoan untuk mengantar kematian? Ketahuilah, laki-laki dan perempuan secara kodrat mempunyai kewajiban yang berbeda, perempuan Ainu terkenal bijak dan alim, apa gunanya kalian datang ke wilayah Tionggoan sini? Apakah kalian tidak rindu pada orang tua yang berada di negerimu sendiri?”

Perempuan Ainu itu saling pandang tak seorang pun bersuara atau memberi komentar.

“Ho Leng-hong, jangan kau memecah belah kekuatan Ci-moay-hwe!” teriak Kim Lam-giok, “kami perempuan bangsa Ainu sudah muak dan tak tahan diperbudak oleh kaum pria macam kau, sebab itu kami mengambil keputusan untuk mendirikan Ci-moay-hwe, kamipun ingin membuat kaum lelaki merasakan bagaimana rasanya kalau ditindas dan diperbudak orang.”

“Sekalipun demikian, sepantasnya kaudirikan Ci-moay-hwe di negerimu sendiri yang menindas dan memperbudak kalian dan bukan laki-laki bangsa Tionggoan, apa gunanya kalian bikin kacau di wilayah Tionggoan kami?”

“Ini…” seketika Kim Lam-giok terbungkam, tapi setelah berpikir sebentar, katanya lagi, “hal ini disebabkan daratan Tionggoan sangat luas dan rakyatnya banyak, kami akan mendirikan Ci-moay-hwe di sini lebih dulu, setelah daratan Tionggoan kami kuasai, tidaklah sulit bagi kami untuk menguasai bangsa Ainu.”

Ho Leng-hong tersenyum, katanya, “Sayang perempuan Tionggoan kebanyakan berwatak bajik, tak mudah mereka terpengaruh, kalau tidak percaya tanyalah kepada puluhan orang perempuan Tionggoan yang hadir di sini, siapa di antara mereka yang mau menggabungkan diri dengan Ci-moay-hwe?”
Puluhan anggota Mi-kok sama tergelak, mereka merasa persoalan Ci-moay-hwe ini sangat lucu dan tak seorang pun tertarik untuk menjadi anggota.

Tiba-tiba Leng-hong berkata dengan kereng, “Masalah Tong-popo telah berakhir, seperti apa yang dijanjikan oleh Mi-kok Kokcu, barang siapa ingin pulang ke negeri asalnya dalam keadaan hidup boleh segera membuang senjatanya ke tanah, masing-masing akan diberi pesangon seratus tahil perak untuk ongkos pulang, kalau tidak, maka Tay-pa-san akan menjadi kuburan kalian untuk selamanya.”

Baru selesai ia berseru, belasan orang di antara dua puluhan perempuan Ainu itu membuang senjata mereka dan mengundurkan diri ke samping.

Buru-buru Kim Lam-giok membentak dengan bahasa Ainu, ternyata bentakan itu tak ada gunanya, kembali ada beberapa orang membuang senjata mereka.

Kim Lik-giok menjadi gugup, katanya dengan agak gemetar, “Ho-tayhiap, kami tidak ingin memusuhi dirimu, asalkan Sammoay Hong-giok dilepaskan, kami segera akan angkat kaki dari sini.”

“Ya, kalau tidak terpaksa kami akan bunuh Hui Pek-ling dan putrinya lebih dulu, kemudian baru bertarung mati-mati melawanmu,” sambung Kim Lam-giok.

Ho Leng-hong menggeleng kepala, “Kim Hong-giok telah mencuri belajar ilmu aliran Mi-kok, perbuatannya itu melanggar peraturan Mi-kok, aku tidak berhak melepaskannya, kalau kalian berani melukai ayah dan anak keluarga Hui itu, jangan harap kalian bisa lolos dengan selamat.”

“Barusan kau telah mintakan ampun bagi Tong-popo, sekarang apa salahnya kamipun mintakan ampun buat saudaraku?” pinta Kim Lik-giok.

“Tong-popo adalah anggota lembah, sebaliknya Kim Hong-giok hendak meninggalkan lembah ini, jadi aku tak bisa memintakan ampun baginya.”

Kim Peng yang sejak tadi membungkam mendadak membentak, “Ho Leng-hong, jangan latah, kalau punya kepandaian, beranikah bertaruh denganku?”

“Bertaruh bagaimana?” tanya Leng-hong.

“Beranikah kau berduel denganku tanpa menggunakan ilmu golok aliran Mi-kok, jika kau menang, kami bersedia membubarkan Ci-moay-hwe, semuanya bergabung dengan Mi-kok dan selamanya tidak pulang ke negeri asal.”

“Seandainya aku kalah?” tanya Ho Leng-hong sambil tertawa.

“Kalau kaukalah, maka harus kausuruh Tong Siau-sian membubarkan Mi-kok dan bergabung dengan Ci-moay-hwe, Mi-kok akan menjadi pusat markas besar perkumpulan Ci-moay-hwe kami.”

“Maaf, aku tak dapat menerima taruhan seperti itu, karena Mi-kok bukan milikku,” kata Leng-hong sambil menggeleng kepala.

“Kau tidak berani menerima tantanganku?” ejek Kim Peng sambil tertawa dingin.

“Bukannya tidak berani, aku tak bisa menyanggupi…”

“Aku setuju!” mendadak seorang menyambung.

Orang itu ternyata adalah Tong Siau-sian.

Leng-hong melenggong, katanya cepat, “Nona, persoalan ini bukan masalah kecil, Mi-kok mempunyai aturan leluhur yang ketat, andaikata…”

“Tak ada andaikata, aku percaya kau pasti akan merebut kemenangan.”

“Sudah lama Kim Peng berdiam di wilayah Leng-lam,” kata Leng-hong dengan kening berkerut, “ia sudah apal sekali Tay-yang-sin-to (tiga belas bacokan panas matahari) dari Hiang-in-hu, aku tidak mempunyai keyakinan akan menangkan peratungan ini.”

Tong Siau-sian tertawa, “Dia cuma berlatih ilmu golok dan tak pernah berlatih ilmu pedang, lagipula kecuali Ang-siu-to-hoat, di dunia dewasa ini ada ilmu golok macam apakah yang sanggup menandingi Poh-in-pat-tay-sik (delapan jurus sakti pembuyar mega) kemahiranmu itu?”

“Kokcu sendiri tidak kuatir, apalagi yang kaukuatirkan?” bisik Pang Wan-kun, “turun tanganlah, beri ajaran setimpal pada si kate itu!”

Kenyataannya tidak mengizinkan Ho Leng-hong untuk bersangsi lebih lama, karena waktu itu Kim Peng dengan langkah lebar telah menuju ke tengah arena, semenara perempuan-perempuan Ainu serta anggota Mi-kok yang berada di tanah lapang telah mengundurkan diri dari situ.

Terpaksa Ho Leng-hong mengangkat bahu, setelah menyelipkan Yan-ci-po-to ke ikat pinggang, sambil menenteng golok lengkung ia menyongsong ke depan.

Setelah kedua orang itu berdiri berhadapan, ternyata Ho Leng-hong lebih tinggi satu kepala daripada Kim Peng, sebaliknya pinggang Kim Peng satu kali lebih besar dibandingkan pinggang Ho Leng-hong.

Yang satu langsing dan jangkung, yang lain kekar dan pendek, masing-masing telah mengambil posisi siap tempur.

Ho Leng-hong membawa dua bilah golok, Kim Peng juga memegang samurai panjang dan sebilah pedang pendek.

“Ingat!” kata Kim Peng kemudian sambil menengadah, “kau tak boleh menggunakan Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok!”

“Jangan kuatir!” sahut Leng-hong sambil mengangguk.

“Kita tidak membatasi jumlah jurus, pokoknya menang-kalah ditentukan bila salah seorang terkena, barang siapa berhenti di tengah jalan, dia dianggap kalah.”

“Boleh!”

“Untuk memperoleh kemenangan, semua pihak diperkenankan mempergunakan cara apapun, tapi hanya
terbatas saling menutul saja.”

“Baik!”

Tiba-tiba Kim Peng berseru ke arah belakang Ho Leng-hong, “Hei, nona, harap mundur sedikit, tidak boleh membantu secara diam-diam!”

Ho Leng-hong mengira ada orang hendak membantunya secara diam-diam, cepat ia berpaling… .

Pada saat ia berpaling itulah cahaya golok secepat kilat menggulung pinggangnya. Ternyata Kim Peng hanya pura-pura membentak untuk mengalihkan perhatian pemuda itu, lalu ia menyergap secepat kilat.

Karena tidak menyangka, hampir saja Ho Leng-hong termakan serangan itu, buru-buru ia bergeser ke samping dan putar badan… .

Kendatipun tebasan itu berhasil dihindari, tapi Kim Peng telah berhasil merebut posisi di atas angin, samurainya berputar sedemikian rupa sehingga berwujud satu lingkaran sinar, dalam sekejap ia telah melancarkan tujuh-delapan kali tebasan maut.

Di bawah tekanan musuh yang bertubi-tubi, Ho Leng-hong tak sempat menghentikan gerak tubuhnya, dia terdesak mundur sejauh satu tombak lebih, ia membentak dan segera ayun goloknya untuk menangkis dengan keras lawan keras.

“Trang!” mendadak Ho Leng-hong merasa tangannya menjadi ringan, ternyata golok lengkung itu patah menjadi dua.

Ho Leng-hong jadi teringat pada cerita Hui Beng-cu, dikatakan bahwa ayahnya, Hui Pek-ling, terpikat oleh Kim Lam-giok lantaran ingin mencari sebilah golok mestika, rupanya golok mestika yang berada di tangan Kim Peng inilah yang dimaksudkan.

Padahal golok lengkung juga golok pilihan, siapa sangka sekali bentrok lantas kutung menjadi dua, pantas Kim Peng seperti begitu yakin pada pertarungan ini, rupanya ia mengandalkan golok mestika tersebut.

Tanpa senjata di tangan, posisi Ho Leng-hong menjadi berbahaya, terpaksa ia buang gagang golok itu, ia berjumpalitan di udara dan melayang lewat di atas kepala Kim Peng, kesempatan itu dipergunakan melolos golok mestika Yan-ci-po-to yang terselip di pinggang itu.

Kendatipun Yan-ci-po-to telah dipoles dengan cairan air raksa sehingga menutupi ketajamannya, paling sedikit ia tak kuatir goloknya akan terpapas kutung lagi. Oleh sebab itu, begitu melayang turun ia lantas mengembangkan goloknya dan melancarkan serangan balasan.

Kim Peng masih juga berusaha untuk mengutungi Yan-ci-po-to, tapi setelah beberapa kali bentrokan tidak berhasil, ia mulai kuatir dan ketakutan.

Dengan demikian, Ho Leng-hong dapat merebut kembali posisinya, ia mendesak maju terus.
Dalam paniknya Kim Peng ganti serangan, kali ini dia khusus menyerang tiga arah bagian bawah lawan, dengan potongan badan yang pendek, ia mengelilingi kaki Ho Leng-hong dengan gerakan cepat dan mengembangkan ilmu golok Tay-yang-sin-to dari Hiang-in-hu.

Tay-yang-sin-to ini bukan cuma bergerak cepat, sewaktu dikembangkan golok itu memancarkan hawa berwarna merah darah bagaikan kobaran api. Tentu saja untuk memainkan ilmu golok Tay-yang-sin-to ini banyak tenaga dalam yang harus digunakan.

Tapi Kim Peng seperti memiliki tenaga yang tiada habisnya, permainan goloknya kian lama kian cepat, di antara putaran goloknya, kabur merah menyelimuti angkasa dan seakan-akan mengurung Ho Leng-hong dalam sebuah tungku api yang membara.

Hawa udara yang panas tentu saja tidak enak, ditambah lagi Ho Leng-hong yang jangkung harus menghadapi lawan yang cebol, keadaan ini sangat tidak menguntungkan dia, tak lama kemudian sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringat.

Tapi iapun berhasil menemukan sesuatu yang aneh…golok mestika Yan-ci-po-to seakan-akan kian lama kian bertambah tajam.

Ia jadi teringat pada pesan Pang Goan, bahwa mata golok Yan-ci-po-to telah dipoles dengan air raksa sehingga kelihatannya tumpul, tapi kalau digarang api sehingga air raksa meleleh, maka ketajamannya akan pulih kembali, jangan-jangan lantaran Kim Peng menggunakan ilmu golok Tay-yang-sin-to, maka air raksa pada mata golok menjadi meleleh?

Ho Leng-hong masih juga tidak percaya, pada suatu kesempatan, tiba-tiba ia membacok tubuh lawan dengan sepenuh tenaga.

Sesungguhnya Kim Peng mempunyai peluang untuk berkelit, tapi diam-diam timbul hawa napsu membunuhnya. Mendadak golok di pindah ke tangan kanan, kaki setengah berlutut, dengan jurus Heng-ka-kim-ko (menangkis melintang batang emas) ia sambut bacokan lawan dengan keras lawan keras, sementara tangan kiri secepat kilat melolos pisau pendek dari pinggang dan menikam lambung anak muda itu.

Jurus serangan ini benar-benar ganas dan keji Tong Siau-sian menjerit saking terkejutnya.
Keadaan waktu itu memang gawat, tangkisan samurai Kim Peng telah mengunci mati golok Ho Leng-hong, sementara tikaman tangan kiri berlangsung dalam jarak yang amat dekat, serangan yang tidak terduga…

Serentak jeritan ngeri berkumandang menggetar perasaan setiap orang.

Hampir setiap orang yang berada di situ menganggap Ho Leng-hong pasti terluka, tapi kenyataannya ternyata tidak.

Yang terluka sebaliknya adalah Kim Peng, golok panjangnya kutung, bahkan seluruh lengan kirinya ikut terpapas kutung juga, darah membasahi sebagian besar tubuhnya dan ia sendiri roboh tak sadarkan diri.

Tangan kirinya yang menggenggam golok pendek itu tergeletak di samping kaki Ho Leng-hong, ujung golok itu sempat melubangi jubah luar yang dikenakan anak muda itu.

Ho Leng-hong berdiri termangu di situ sambil mengawasi golok mestika Yan-ci-po-to itu dengan terkesima, tampak bingung dan tak habis mengerti.

Tiba-tiba Kim Lam-giok menjerit, “Orang she Ho, kau benar-benar rendah dan tak tahu malu, tadi telah janji hanya terbatas saling menutul saja kenapa sekarang kau gunakan serangan sekeji ini?”

Sepatah katapun Ho Leng-hong tidak bersuara, ia hanya menutuk jalan darah sekitar luka Kim Peng, lalu mengangkatnya bangun.

“Lepaskan dia! Lepaskan dia….” bentak Kim Lam-giok dengan gusar.

Leng-hong tetap membungkam, ia menerobos kepungan orang Mi-kok dan berhenti di hadapan Tong Siau-sian, tanyanya lirih, “Apakah nona membawa obat penghenti darah?”

Tong Siau-sian mengangguk, Pang Wan-kun segera mengeluarkan sebutir pil dan diangsurkan.
Ho Leng-hong mencekokkan obat itu ke mulut Kim Peng, kemudian katanya, “Aku telah salah melukainya, untuk membayar kesalahan ini, bersediakah nona memenuhi suatu permintaanku?”

“Katakanlah, asal aku sanggup pasti kukabulkan.”

“Harap nona membebaskan Kim Hong-giok, biar mereka membawa Kim Peng pergi, segala akibatnya akan kutanggung sendiri.”

Tong Siau-sian ragu-ragu sejenak, katanya, “Apakah kaulupa bahwa Kim Hong-giok telah mencuri belajar Ang-siu-to-hoat kita? Melepaskan harimau kembali ke gunung hanya akan mendatangkan bencana bagi kita di kemudian hari.”

Leng-hong mengangguk, “Aku akan menunggu sampai mereka berhasil meyakini Ang-siu-to-hoat, lalu menentukan suatu tempat untuk berduel lagi, bagaimanapun aku tak ingin orang asing menertawakan bangsa kita yang cuma sanggup menyerang orang yang sedang susah!”

Mencorong tajam sinar mata Tong Siau-sian, katanya sambil tertawa, “Baik, sebagai bangsa yang besar harus memiliki jiwa ksatria seperti itu.”

Ia lantas memberi tanda, dua orang pengawal lantas membebaskan Kim Hong-giok dari pengaruh tutukan.

“Padahal kaupun tak perlu menyalahkan diri sendiri,” bisik Pang Wan-kun kemudian, “apa yang terjadi dapat kita saksikan dengan jelas, caramu melukainya dengan tidak sengaja, sebaliknya dia yang berhati keji dan bermaksud merenggut nyawamu….”

Ho Leng-hong tertawa hambar, “Bangsa Ainu tersohor berpandangan picik dan berjiwa sempit, bagaimanapun yang terluka kan dia.”

Bicara sampai di sini, ia lantas serahkan Kim Peng kepada Kim Hong-giok, katanya, “Kutahu nona telah mengikuti kejadian tadi dengan mata kepala sendiri, semua budi dan dendam hanya menyangkut aku orang she Ho seorang dan sama sekali tak ada hubungannya dengan ayah dan anak keluarga Hui, kuharap nona segera mengambil keputusan.”

Kim Hong-giok manggut-manggut, sambil mengangkat tubuh Kim Peng ia berjalan ke rumah gubuk.
Tapi baru beberapa langkah, mendadak ia berpaling dan berkata, “Apakah semua keputusanku akan kau terima?”

“Tentu saja!”

“Kau tidak menyesal?”

“Pasti tidak!”

Kim Hong-giok tertawa, ia percepat langkahnya dan kembali ke rumah gubuk itu.

“Apakah perlu kita kepung rumah gubuk itu untuk mencegah niat jahat mereka melukai ayah dan anak keluarga Hui?” tanya Wan-kun kemudian.

“Aku rasa tidak perlu,” jawab Leng-hong sambil menggeleng, “aku percaya Kim Hong-giok bukan manusia semacam itu.”

Akan tetapi kejadian selanjutnya ternyata di luar dugaan mereka semua.

Sekembalinya ke rumah gubuk, Kim Hong-giok sama sekali tidak membebaskan Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu, setelah tiga bersaudara seperguruan itu berunding sejenak mereka mengantar Kim Peng masuk ke dalam rumah, kemudian Kim Lam-giok tampil ke depan dan berkata, “Harap Nyo-hujin dari Thian-po-hu datang kemari sebentar untuk merundingkan sesuatu.”

“Permainan apalagi yang hendak dilakukan perempuan asing ini?” bisik Wan-kun agak bingung.

“Penuhi saja permintaan mereka, jangan kuatir,” ujar Leng-hong, “tampaknya mereka tidak bermaksud jahat, kalau tidak, tak mungkin dia memanggilmu dengan sebutan demikian.”

Tong Siau-sian ikut berkata, “Ya, sebelum meninggalkan Tay-pa-san, tak nanti mereka berani melukaimu, mungkin saja mereka hendak merundingkan syarat meloloskan diri dari sini.”

Terpaksa Wan-kun memberanikan diri menuju ke rumah gubuk itu, kedatangannya segera disambut oleh Kim Lam-giok dan diajak masuk ke dalam rumah, selang sejenak Wan-kun muncul kembali seorang diri.

Sekembalinya dari rumah gubuk itu, ternyata ia menghindari Ho Leng-hong dan langsung mengajak Tong Siau-sian ke samping serta berbisik-bisik dengan suara lirih.

“Hei, apa yang kalian rundingkan?” tak tahan Ho Leng-hong lantas menegur.

Tong Siau-sian tidak menjawab, tapi ia segera menitahkan pasukannya kembali ke Mi-kok.

Leng-hong bingung sekali, ia berdiri termangu dan tak tahu apa gerangan yang terjadi.

“Sudahlah, jangan melongo saja,” tegur Wan-kun sambil tertawa misterius, “mari kita pulang dulu ke Mi-kok, persoalan ini sebentar pasti akan kuberitahukan padamu.”

“Secara teratur pasukan Bok-lan-tui membubarkan kepungan dan kembali ke lembah, ternyata para perempuan Ainu bekas anggota Ci-moay-hwe lantas membuntuti pula di belakang mereka, kemudian empat bersaudara Kim, Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu sekalian juga meninggalkan rumah gubuk, ikut kembali ke Mi-kok.

Ho Leng-hong yang selama ini terkenal cerdik, kali ini benar-benar dibuat bingung dan tidak habis mengerti oleh kejadian ini.

—————

Upacara perkawinan diselenggarakan dalam Mi-kok bukan cuma meriah saja, bahkan amat megah dan mewah, aneka warna lampion bergelantungan di sana sini, suasana gembira ria meliputi seluruh pelosok lembah.

Semenjak dulu Mi-kok selalu mengadakan pesta perkawinan bagi Kokcunya, tapi tak satu kalipun sedemikian megah dan meriah seperti upacara perkawinan sekali ini.

Karena menurut pengumuman resmi pihak Tiang-lo-wan, bahwa sejak hari perkawinan itu, Kokcu lembah Mi-kok tidak harus lagi dijabat oleh seorang perempuan, kedudukan itupun tidak bersifat turun-temurun lagi, setiap lelaki maupun perempuan yang berbakat cerdik dan berhati mulia mempunyai hak yang sama untuk menduduki jabatan Kokcu berikutnya.

Tentu saja, menyusul perubahan tata cara jabatan seorang Kokcu, banyak peraturan lain yang kurang sesuai mengalami pula perubahan dan penambahan, semenjak itu lembah Mi-kok tidak putus hubungan dengan dunia luar lagi, asal mereka tidak berniat jahat, setiap saat boleh masuk ke lembah untuk berdagang ataupun menetap di situ…

Akan tetapi semua perubahan ini tidak berhasil juga membuat Ho Leng-hong paham terhadap persoalan yang selama ini mengganjal hatinya, persoalan tersebut akhirnya dipahami juga setelah upacara perkawinan dilangsungkan.

Ternyata pengantin perempuan yang berdiri di sisi permadani merah ada dua orang. Yang satu adalah Tong Siau-sian sedang yang lain ialah Kim Hong-giok.

Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu telah menjadi comblangnya, pihak Tiang-lo-wan menjadi wali untuk Tong Siau-sian, Pang Wan-kun dengan kedudukan sebagai enso bertindak selaku wali Ho Leng-hong, sedangkan wali untuk Kim Hong-giok ternyata adalah Kim Peng yang kini berlengan buntung.

Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok menjadi pendamping pengantin, bukan pengantin perempuan yang didampingi, dengan satu di kiri dan yang lain di kanan mereka justru mengapit Ho Leng-hong.
Ho Leng-hong sendiri tidak menyangka akan digiring begitu saja, sedikit sangsi segera ia dijepit oleh kedua orang iparnya hingga tak mampu berkutik lagi.

Dengan nada menggertak Kim Lam-giok berkata, “Tahu diri sedikit, jangan coba kabur dari sini. Ketahuilah, untuk menjamin agar ilmu golok Ang-siu-to-hoat tak sampai tersiar ke luar, terpaksa Sammoay menerima bujukan kami dan mau dimadu, kalau kau berani menelantarkannya, hati-hati kalau kamipun akan menuntut dendam terpapasnya lengan Suheng kami.”

Ho Leng-hong tertawa getir, “Tapi perkawinan adalah masalah besar yang menyangkut kehidupan seseorang, seharusnya kalian memberitahukan kepadaku lebih dahulu.”

“Ah, kenapa memberitahukan padamu?” tukas Kim Lam-giok, “enso bagaikan ibu, asal Nyo-hujin sudah setuju, apalagi yang bisa kaukatakan?”

Ya apalagi yang bisa dikatakan Ho Leng-hong?

Bagaimanapun juga mereka sudah berada di ruang upacara, tentu saja ia tak bisa berteriak, juga tak dapat kabur, terpaksa ia “pasrah nasib” terhadap apapun yang akan menimpa dirinya.

Padahal di dunia ini pasti sangat banyak lelaki yang ingin “pasrah nasib” semacam itu, sayang mereka tidak mujur seperti apa yang dialami Ho Leng-hong…

TAMAT

Advertisements

1 Comment »

  1. hehe,
    dari jaman dulu, serita2 silat selalu berakhir dengan happy ending

    Comment by ayub — 03/05/2010 @ 6:14 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: