Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Duke of Mount Deer (09)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:51 am

Duke of Mount Deer (09)
Oleh Jin Yong

Siau Po terkesiap mendengar kata-kata kaisar Kong Hi. Kitab itulah yang dicari Hay kongkong. Dia segera memasang telinganya mendengarkan.

Kaisar Kong Hi melanjutkan kata-katanya.

“Kedua kitab itu dibungkus dengan kain sutera. Kitab bendera putih dibungkus dengan sutera putih. Sedangkan kitab bendara kuning dibungkus dengan kain sutera berwarna kuning. Di rumah Go Pay, sekalian kau cari kitab itu dan bawa kemari apabila kau menemukannya.”

So Ngo-tu menerima baik titah itu. Dia tahu raja masih muda sekali, tetapi sangat berbakti kepada Hong thayhou. Apa pun kehendak ibu suri selalu diturutinya.

“Siau Kui cu!” kaisar Kong Hi menoleh. kepada Siau Po. “Kau ikutlah dengan So Ngo-tu, kalau kitab itu berhasil diketemukan, bawalah kemari.”

Siau Po senang sekali mendapat tugas itu. Hanya diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Kitab itu aneh sekali. Jadi jumlahnya ada tiga? Biar bagaimana aku harus memeriksanya nanti. Lagipula sudah lama aku berdiam di dalam istana dan tidak pernah pergi ke mana-mana. Perasaanku memang sudah jenuh. Walaupun aku sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok, tapi kalau ada kesempatan, niat ini boleh dipercepat. Ada baiknya aku menggunakan peluang ini untuk pergi dari sini!”

So Ngo-tu berjalan di samping Siau Po. Dia sadar thaykam cilik itu gagah perkasa dan sangat disayangi Raja. Apalagi dia telah membuat jasa besar dengan membantu membekuk Go Pay. Dia menduga Kaisar tentunya mempunyai maksud tertentu, karena untuk mengambil kitab saja, toh tidak perlu diiringi si thaykam cilik ini. Dia sendiri juga dapat menyelesaikan tugasnya. Sebuah ingatan melintas dalam benaknya.

“Hm! Aku mengerti sekarang. Pasti Sri Baginda ingin menghadiahkan sesuatu kepada bocah ini. Go Pay mempunyai harta benda yang banyak dan inilah kesempatan untuk memenuhi saku, tetapi Sri Baginda mencurigai aku sehingga mengutus thaykam ini untuk mengawasi aku….’

Dengan berpikir demikian, So Ngo-tu segera memaklumi apa yang harus dilakukannya. Mereka berdua pun keluar dari istana. Di luar telah menunggu beberapa orang pengawal.

Sesampainya di luar, So Ngo-tu berkata kepada Siau Po sambil tersenyum.

“Kui kongkong, silahkan naik kuda!” Di dalam hatinya, dia menduga thaykam cilik ini pasti tidak bisa menunggang kuda, karena itu dia berjaga-jaga di sampingnya. Tetapi kenyataannya, meskipun dalam mahir, Siau Po pernah belajar silat, kudakudanya sudah cukup mantap, dia dapat naik ke punggung kuda dengan baik.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Go Pay. Tanpa menunggu waktu lagi, mereka langsung masuk ke dalam. So Ngo Tu tertawa dan berkata kepada Siau Po.

“Kui kongkong, lihat barang-barang ini. Mana yang kau suka, silahkan ambil saja. Sri Baginda menitahkannya kongkong ikut denganku mengambil kitab, sebenarnya beliau mempunyai maksud tertentu, yakni ingin memberikan hadiah untukmu. Apa juga yang kongkong ambil di sini, Sri Baginda pasti tidak perduli.”

Bukan main ramahnya sikap So Ngo-tu terhadap si bocah cilik. Dia selalu memanggilnya dengan sebutan kongkong.

Sementara itu, Siau Po masih terkesima melihat barang-barang yang ditunjukkan kepadanya. Semuanya terdiri dari harta benda yang tidak terkirakan nilainya. Ada batu permata yang indah, emas, berlian dan lain-lainnya. Dia juga melihat bahwa semua perabotan yang ada di dalam rumah Go Pay lebih indah dari Li Cun-wan, rumah pelesiran di Yangciu. Dia menjadi bingung, barang apa yang harus diambilnya? Namun Siau Po juga teringat bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok, tentu tidak leluasa baginya membawa barang banyak-banyak dalam perjalanan.

Ketika So Ngo-tu mencatat barang-barang yang ada di dalam rumah itu, Siau Po mengambil salah satu di antaranya. Batu permata itu sudah dicatat oleh bawahan So Ngo-tu. Begitu melihat si bocah mengambil salah satunya, orang itu segera menghapus tulisannya untuk dikurangi jumlahnya, tetapi Siau Po meletakkannya kembali dan orang itu pun terpaksa menulis sekali lagi.

Berdua mereka memeriksa gudang itu, seorang bawahan So Ngo-tu menghampiri atasannya dan memberikan laporan.

“Harap tayjin berdua ketahui, di dalam kamar Go Pay ada sebuah gudang penyimpanan barang-barang. Hamba tidak berani lancang, karena itu harap tayjin berdua memeriksanya sendiri.” So Ngo-tu senang menerima laporan itu. “Bagus! Sebuah gudang? Tentu digunakannya untuk menyimpan barang-barang berharga. Bagaimana dengan kedua kitab yang dikatakan Sri Baginda. Apakah kalian sudah berhasil menemukannya?” “Dalam berpuluh-puluh kamar yang ada di gedung ini, kedua jilid kitab itu tidak diketemukan. Yang ada hanya buku-buku perhitungan saja. Tapi kami masih mencari terus,” sahut bawahannya.

Dengan menuntun tangan Siau Po, So Ngo-tu mengajaknya ke kamar tidur Go Pay. Di kamar yang sebelumnya terdapat banyak uang serta batu permata dan harta lainnya, namun di kamar tidurnya sendiri, perabotannya cukup sederhana. Lantainya ditutupi dengan lempengan besi yang ditutup dengan kulit harimau, sedangkan di tembok tergantung busur yang lengkap dengan anak panahnya. Ada juga golok dan pedang. Hal ini membuktikan bahwa penghuninya seorang yang gemar berburu.

Karena kulit harimau dan lempengan besi penutup lantai telah dibuka, maka terlihatlah sebuah celah yang cukup lebar. Dua orang pengawal berdiri di kedua sisi celah itu.

“Bawa keluar semua barang yang ada di dalamnya!” perintah So Ngo-tu kepada pengawal itu.

Keduanya segera mengiakan dan masuk ke dalam celah tersebut. Mereka tidak lama di dalam celah itu, barang-barang pun mulai disodorkan dari bawah yang mana kemudian disambut oleh pengawal lainnya di atas. Mereka menyusunnya di atas kulit harimau.

“Semua barang berharga Go Pay pasti disimpan dalam lubang ini. Kui kongkong, kau pilih saja barang apa yang kau sukai, aku yakin kau tidak akan salah memilih,” kata So Ngo-tu sambil tersenyum.

Siau Po ikut tertawa.

“Jangan sungkan. Kau juga pilih saja!”

Baru mengucapkan dua patah kata, tiba-tiba Siau Po mengeluarkan seruan tertahan, karena tangannya menggenggam sebuah bungkusan dari kain sutera berwarna putih. Di atasnya tersulam lima huruf dengan indah. ‘Si Cap Ji Cinkeng.’

“Nah, itu dia!” seru So Ngo-tu.

Kemudian dia mengambil lagi bungkusan lain yang terbuat dari sutera berwarna kuning. “Bagus, Kui kongkong! Kita berhasil mendapatkan kedua jilid kitab ini, Hong thayhou pasti senang sekali dan kita bakal mendapat hadiah besar!”

Sikap Siau Po tetap tenang.

“Mari kita periksa dulu buku ini,” katanya sembari membuka bungkusan yang pertama.

“Kongkong, ada sesuatu yang ingin kukatakan, aku harap kongkong tidak menjadi salah paham karenanya.”

Siau Po senang menghadapi sikap So Ngo-tu yang berpangkat tinggi namun selalu mengucapkan kata-kata yang sopan kepadanya. Selama di Yang-ciu, setiap hari dia dihina para tamu dan kebanyakan memanggilnya dengan sebutan yang tidak enak didengar, umpamanya kura-kura kecil atau anak haram. Belum ada yang memperlakukannya sebaik itu. Kadang-kadang dia merasa heran atas perubahan menyolok yang dialaminya.

“Ada perintah apa, So tayjin? Silahkan utarakan saja,” kata Siau Po.

“Memerintah? Mana aku berani?” sahut So Ngo-tu tersenyum. “Begitu, aku lebih tua beberapa tahun darimu, dan tiba-tiba saja terlintas sebuah ingatan di benakku. Kui kongkong, kitab-kitab ini merupakan permintaan Hong thayhou dan Go Pay punya menyimpannya di tempat yang demikian rahasianya, pasti kitab ini penting sekali. Namun di mana letak pentingnya? Aku juga ingin sekali melihat isinya, tapi aku khawatir kalau isinya tidak disukai oleh Hong thayhou, sedangkan kita sudah mendahului beliau membukanya, bukankah kita akan celaka karenanya?”

Siau Po terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia letakkan kembali kitab itu.

“Kau benar, So tayjin. Terima kasih atas nasehatmu. Kalau tidak, kemungkinan kita berdua akan tertimpa bencana,” kata Siau Po.

“Jangan berkata demikian, kongkong. Kita dititahkan untuk bekerja sama. Di antara kita tidak ada perbedaan derajat. Kalau aku tidak memandang kongkong sebagai orang sendiri, mana mungkin aku berani bicara terus-terang, iya kan?”

“Tapi, tayjin. Kau adalah seorang menteri besar, sedangkan aku hanya seorang budak hina. Mana boleh dianggap sebagai orang sendiri?” kata Siau Po.

So Ngo-tu mengibaskan tangannya.

“Kalian keluar dulu!” perintahnya kepada para bawahannya.

Para pengawal itu segera mengiakan sambil menjura. Begitu orang-orang itu mengundurkan diri, Hay So Ngo-tu segera menarik tangan Siau Po sambil berkata.

“Kongkong, jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi. Bahkan kalau kongkong tidak keberatan, aku ingin mengikat tali persaudaraan denganmu.”

Siau Po tertegun.

“Kita mengangkat jadi saudara? Mana mungkin?”

“Sudah kukatakan, kongkong jangan mengucapkan kata-kata itu. Sama saja kongkong tidak memandang sebelah mata kepadaku. Entah mengapa, mungkin karena jodoh, begitu pertama kali melihat kongkong, aku langsung mempunyai perasaan akrab. Senang sekali rasanya dapat bergaul denganmu. Nah, kalau kau memang tidak keberatan, kita pergi ke ruang sembahyang untuk mengangkat sumpah di sana. Dengan demikian kita mengangkat persaudaraan. Asal Sri Baginda tidak tahu, tentu tidak ada yang berani mengatakan apa-apa.”

So Ngo-tu menggenggam tangan Siau Po erat-erat. Sikapnya serius sekali. Dia memang seorang menteri yang berpandangan jauh dan pengamatannya tajam sekali. Dia sadar bahwa bersahabat dengan si thaykam cilik akan membawa manfaat besar baginya. Bukankah thaykam cilik ini sangat disayang oleh Sri Baginda dan juga ibu suri?

Meskipun Siau Po juga seorang bocah yang cerdas, tapi dalam soal kelicikan dia masih kalah jauh dengan So Ngo-tu. Karena itu pula dia mudah terbujuk mulut manis.

“Mari!” kata So Ngo-tu sambil menarik tangan Siau Po.

Bangsa Boanciu memuja sang Budha. Itulah sebabnya dalam setiap rumah para pembesar, menteri maupu orang sipil terdapat ruang pemujaan. Demikian pula dengan gedung kediaman Go Pay ini.

So Ngo-tu langsung mengambil hio yang mana kemudian disulutnya dan diajaknya Siau Po menjatuhkan diri berlutut bersama-sama.

“Murid bernama So Ngo-tu, had ini murid bersama….”

“Kui Siau-Po!” kata Siau Po menyebut namanya, tapi dia menggunakan she Kui.

“Benar-benar edan! Aku sampai lupa menanyakan nama lengkapmu!” Seru So Ngo-tu sambil menepuk kepalanya sendiri. “Siau Po…. Nama yang bagus, kau memang mustika di antara manusia!”

Siau Po artinya mustika kecil. Dan saat itu ketika mendengar ucapan So Ngo-tu, Siau Po justru berkata dalam hatinya.

‘Hm, itu katamu. Di Yangciu, orang justru memanggilku si kura-kura kecil!’

So Ngo-tu melanjutkan sumpahnya “Murid, So Ngo-tu. Hari ini, murid mengangkat saudara dengan Kui Siau Po, untuk selanjufnya kam. akan hidup bahagia dan sengsara bersama-sama. Siapa tidak jujur atau tulus, biarlah dia dikutuk untuk selamanya tidak bisa maju dan akan mendapat celaka di akhir nanti.”

Selesai bersumpah, dia menyembah tiga kali kemud.an berkata kepada Siau Po. “Nah, sekarang giliranmu!”

Siau Po menurut. Dia juga memasang hio dan menjatuhkan diri berlutut serta menyembah. Namun sebelum mengucapkan sumpahnya, diam-diam dia berkata dalam hati.

‘Aku lebih muda, tak sudi aku mati bersama-sama denganmu. Lagipula namaku bukan Kui Siau Po!’

Setelah itu baru dia bersumpah. “Murid Kui Siau Po, thaykam dalam istana dan sehari-harinya dipanggil Siau Kui cu, hari ini mengangkat saudara dengan So Ngo-tu tayjin. Kami ingin hidup bahagia dan sengsara bersama-sama. Kami tidak terlahir dalam hari, bulan dan tahun yang sama, tapi ingin mati bersama dalam hari, bulan serta tahun yang sama. Jikalau Siau Kui cu tidak jujur dan setia, biarlah Siau Kui cu terkutuk. Tidak akan berumur panjang dan selamanya tidak mendapat rejeki.”

Selesai bersumpah, dia menyembah lagi tiga kali. Otaknya memang cerdik. Dia terus menyahut nama Siau Kui cu, dengan demikian yang bersumpah itu bukan dia, tapi Siau Kui cu adanya.

Setelah itu, keduanya saling memberi hormat dengan berlutut dan menganggukkan kepala sebanyak delapan kali.

“Saudara Kui, sekarang kita telah mengangkat saudara, kita harus bergaul lebih daripada saudara kandung sendiri. Lain kali, bila kau memerlukan bantuan, silahkan katakan saja terus-terang. Jangan sungkan-sungkan.”

Siau Po tertawa.

“Hal itu tidak usah dibicarakan lagi. Sejak dilahirkan, aku memang tidak tahu apa arti sungkan.”

Kembali So Ngo-tu tersenyum.

“Tentang pengangkatan saudara ini, ada baiknya jangan diketahui pihak ketiga agar tidak menimbulkan kesirikan orang lain. Menurut peraturan kerajaan, kami dari menteri pihak luar tidak boleh bergaul akrab dengan pembesar dalam istana. Karena itu, sebaiknya urusan ini diketahui kita berdua saja.”

“Benar!” sahut Siau Po menyetujui pendapat itu.

“Saudara Kui, di hadapan umum aku tetap memanggilmu Kui kongkong, dan kau tetap menyebutku So tayjin. Ini demi kebaikan kita masing-masing. Beberapa hari lagi, aku akah mengundangmu ke rumahku untuk minum arak sambil menonton. Dengan demikian kita dua bersaudara dapat merasakan saat-saat menyenangkan bersama-sama.”

Siau Po senang sekali. Dia tidak suka minum arak, tapi nonton wayang merupakan kegemaran utamanya. Dia langsung bertepuk tangan sambil tertawa gembira.

“Bagus! Aku memang suka nonton. Kapan?”

“Kalau kau memang suka nonton, aku bisa mengundangmu setiap waktu. Sebaiknya kau yang tentukan sendiri kapan waktu senggangmu.”

“Bagaimana kalau besok?”

“Baik! Besok pun jadi. Siang-siang aku akan menunggumu di depan pintu,” sahut So Ngo-tu.

“Tapi bagaimana dengan aku? Apakah seorang thaykam dapat keluar masuk istana dengan leluasa?”

“Mengapa tidak? Asal kau sudah selesai melayani Sri Baginda, tidak ada pekerjaan lagi yang harus kau lakukan. Kau kan Sieceng thaykam dan kau juga sangat disayang oleh Sri Baginda. Siapa yang berani melarangmu?”

Siau Po tersenyum. Dalam hati dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana dan tidak akan kembali lagi. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, dia tidak berniat meninggalkan istana itu cepat-cepat karena rupanya dia dapat keluar masuk dengan bebas.

“Baiklah, demikian saja kita tetapkan. Kita adalah saudara, senang sama-sama, nonton pun harus sama-sama,” katanya kemudian.

So Ngo-tu segera menarik tangannya.

“Nah, mari kita kembali ke kamar Go Pay!”

Siau Po menurut. Di kamar Go Pay, So Ngo-tu mulai memeriksa daftar barang-barang dan meneliti benda-benda lainnya yang dikeluarkan dari dalam gudang rahasia.

“Saudara, apa yang kau inginkan?” tanyanya kepada Siau Po.

“Aku tidak tahu barang apa yang paling berharga. Toako, kau saja yang pilihkan buatku.”

“Baik!” sahut So Ngo-tu yang segera mengambil dua rangkaian mutiara dan sebuah kuda-kudaan dari batu kumala. “Kedua barang ini sangat berharga, kau menyukainya bukan?”

“Aku sih suka saja,” kata Siau Po. Dia langsung menerima benda-benda yang disodorkan itu kemudian dimasukkan ke dalam saku pakaiannya.

Setelah itu, Siau Po iseng-iseng menjamah barang-barang lainnya. Tangannya secara sembarangan mengambil sebilah pisau belati yang panjangnya kurang lebih lima dim. Sarungnya terbuat dari kulit ikan. Beratnya tidak berbeda dengan belati lainnya. Tanpa disengaja dia mencabut belati itu, tiba-tiba dia merasa ada serangkum hawa dingin yang menerpa.

Siau Po mengeluarkan seruan tertahan. Dia segera memperhatikan belati itu dengan seksama. Anehnya, tubuh belati itu berwarna hitam pekat dan tidak mengkilap, malah warnanya agak kusam.

Dia menduga belati itu tentunya sejenis senjata pusaka, sebab Go Pay menyimpannya di gudang rahasia. Namun bentuknya tidak jauh dengan belati biasa. Dengan ayal-ayalan dia melemparkan pisau itu, tetapi dia dikejutkan suara yang keras. Rupanya pisau itu menancap di ujung meja sampai sebatas gagangnya.

“Ah!” So Ngo-tu juga mengeluarkan seruan terkejut.

Keduanya mengawasi dengan mata terbelalak. Lebih-lebih Siau Po, karena dia tahu bahwa dia melemparkan sembarangan, tetapi ternyata sanggup menembus meja itu. Aneh! Belati itu tajam sekali, sehingga meja itu seperti sepotong tahu saja!”

Cepat-cepat Siau Po mengambil belati itu dan memperhatikannya dengan teliti.

“Pisau belati ini aneh sekali!”

Pengalaman So Ngo-tu sudah banyak sekali. Suatu ingatan melintas di benaknya.

“Mari kita coba lagi!” katanya sambil mengambil sebatang golok Go Pay yang tergantung di dinding kamar. Ketika dia menghunusnya, golok itu mengeluarkan cahaya berkilauan yang menandakan tajamnya yang luar biasa. Dia merentangkan golok itu kemudian berkata kepada Siau Po. “Saudara, coba kau tebas golok ini dengan belati itu!”

Siau Po menurut. Dia mengayunkan belati di tangannya untuk menebas golok. Keduanya pun jadi tertegun seketika. Karena kenyataannya golok itu terkutung menjadi dua bagian begitu saja oleh tebasan belati tersebut.

“Bagus!” seru mereka serentak. Golok itu terkutung seperti kayu yang dibelah, tidak terdengar suara dentingan logam sebagaimana biasanya. Hal ini membuktikan bahwa senjata belati itu memang benda mustika yang langka.

“Saudaraku, selamat!” kata So Ngo-tu kepada Siau Po. Bibirnya ramai dengan senyuman. “Beruntung sekali kau mendapatkan senjata pusaka itu. Menurut pendapatku, di antara semua benda-benda milik Go Pay, mungkin belati ini yang paling berharga!”

Tentu Siau Po senang sekali. “Toako, kalau kau menginginkannya, ambillah!” So Ngo-tu segera mengibaskan tangannya. “Tidak! Kakakmu ini pembesar militer, sekarang menjadi pembesar sipil. Perang sudah selesai, kami tidak membutuhkan senjata tajam lagi. Sebaiknya yang simpan kau saja belati itu.”

Siau Po menganggukkan kepalanya. Dia segera menyelipkan pisau itu di pinggangnya.

“Saudara, ukuran belati itu pendek sekali. Sebaiknya kau selipkan dari kaos kakimu saja. Lagipula menyelipkan di pinggang mudah terlihat, nanti timbul banyak pertanyaan.”

Memang ada peraturan dalam istana kaisar Ceng, kalau bukan siwi tingkat satu, siapa pun dilarang membawa senjata tajam.

Siau Po segera mengiakan dan menyelipkan belatinya dalam kaos kaki. Dia sudah mendapatkan pisau pusaka itu, hal lain tidak menarik perhatiannya lagi. Dia terus memikirkan pisau itu sementara yang lainnya bekerja. Di keluarkannya lagi pisau belati itu dan dicobanya untuk menebas tombakyang ada di sudut ruangan. Ternyata tombak itu juga terkutung jadi dua bagian. Setelah itu dia seperti ketagihan, apa saja yang ditemuinya, dibabat seenaknya.

Terakhir dia malah menggurat gambar seekor kura-kura di atas meja. Setelah selesai, jatuhlah bagian yang di guratnya ke atas lantai dengan bentuk seekor kura-kura.

Sementara itu, So Ngo-tu yang asyik memeriksa barang-barang, melihat sepotong pakaian yang tipis sekali. Dia merasa heran karena pakaian itu mengeluarkan cahaya seperti perak. Dia segera mengambil pakaian itu dan mengangkatnya, terasa ringan seperti kapas. Pakaian itu bukan terbuat dari bahan sutera, entah dari bahan apa, pokoknya halus sekali.

“Saudaraku, kemarilah!” So Ngo-tu memanggil Siau Po. Dia ingin mengambil hati adik angkatnya itu. Karena itu, barang bagus yang ditemukannya, langsung dia serahkan kepada Siau Po agar hati bocah itu senang.

“Adik, coba kau pakai baju ini, rasanya pasti hangat sekali. Buka dulu baju luarmu dan pakai ini di bagian dalam.”

“Apakah itu juga baju pusaka? Apakah mengandung keajaiban?” tanya Siau Po.

“Entahlah, kau pakai saja,” sahut So Ngo-tu.

“Baju ini kebesaran….”

“Tidak apa-apa. Baju ini kan tipis dan lemas, longgar sedikit tidak menjadi masalah.”

Siau Po menerima baju itu. Memang ringan sekali. Dia teringat ketika di Yangciu, ibunya juga membuatkan sehelai baju hangat untuknya, tetapi sebelum selesai, dia sudah pergi.

“Ada baiknya aku pakai baju ini, Nanti kalau pulang ke Yang ciu, aku akan memperlihatkannya kepada ibu,” pikirnya dalam hati.

Siau Po langsung membuka baju luarnya dan mengenakan baju tipis itu. Baju itu memang kebesaran, tetapi empuk dan hangat.

Kemudian So Ngo-tu meminta daftar yang telah dicatat orang-orangnya. Dia mendapatkan jumlah yang besar sekali. Untuk beberapa saat dia sampai terkesima karenanya.

“Sungguh luar biasa kekayaan Go Pay ini. Harta bendanya melebihi dugaanku.” So Ngo-tu memberi isyarat dengan gerakan tangan agar orang-orangnya mengundurkan diri. Setelah itu baru dia berkata lagi kepada Siau Po. “Saudara, ada pepatah bangsa Han yang mengatakan ‘merantau sejauh ribuan li untuk memperkaya diri.’ Sekarang kebetulan kita mendapat tugas yang menyenangkan. Kita ambil saja sebagian harta ini, nanti akan kuubah daftarnya. Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Aku tidak mengerti hal semacam ini,” sahut Siau Po. “Urusan ini aku serahkan kepada toako saja.”

So Ngo-tu tertawa.

“Jumlah kekayaan Go Pay seluruhnya ada 2.353.481 tail. Bagaimana kalau kita main sulap sedikit dengan merubah angka dua di depan menjadi satu? Setuju?”

Siau Po terperanjat.

“Maksud toako…?” Dia bingung, sebab jumlah yang hendak dikurangkan So Ngo-tu mencapai satu juta tail. Kemudian jumlah itu akan dibagi rata dengannya.

So Ngo-tu tertawa lebar.

“Saudara, apakah kau menganggap jumlah itu terlalu sedikit?”

“Bu… bukan begitu,” sahut Siau Po gugup. “Hanya… saja aku masih kebingungan.”

“Begini, saudara. Dari jumlah itu kita ambil satu juta tail yang kemudian kita bagi dua. Dengan demikian, satu orang mendapatkan lima ratus ribu tail. Tapi kalau kau menganggapnya masih kurang, kita bisa atur lagi.”

Wajah Siau Po menjadi pucat pasi seketika. Ketika di Yangciu, apabila dia mendapatkan uang sebanyak lima atau enam tail saja, dia sudah merasa dirinya tiba-tiba menjadi orang terkaya di dunia. Tapi sekarang dia justru ditawarkan harta senilai lima ratus ribu tail. Bayangkan! Siau Po hampir tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

Sebetulnya Siau Po masih terlalu muda untuk memahami tujuan So Ngo-tu yang sebenarnya. Menteri itu ingin memenuhi kantongnya sendiri, tapi dia khawatir Siau Po akan mengadukannya kepada Sri Baginda. Karena itu, dia menawarkan ‘bocah itu untuk mengambil apa saja yang ia sukai dan diberi bagian setengah dari jumlah harta yang akan disulapnya. Dengan demikian, Siau Po tentu tidak berani berkata apa-apa kepada kaisar Kong Hi.

“Eh, saudara, ada apa denganmu? Kau tahu aku akan menuruti apa pun kehendakmu,” kata So Ngo-tu heran.

Siau Po menghembuskan nafas lega.

“Toako, aku toh sudah mengatakan bahwa terserah kau saja. Kau ingin membagi aku setengah dari jumlah itu, rasanya terlalu banyak….”

“Tidak, tidak terlalu banyak. Begini saja, kalau adik merasa jumlahnya terlalu banyak. Bagaimana kalau kita kurangi sejumlah seratus ribu tail untuk dibagikan rasa kepada orang-orangku ini. Jadi kita masing-masing mendapat empat ratus lima puluh ribu tail.”

“Ide bagus. Tapi sayangnya aku tidak tahu bagaimana cara membaginya,” sahut Siau Po.

“Mudah, serahkan saja pada toakomu ini. Maka kubagi sama rata dan mengatakan kau yang menghadiahkannya. Dengan demikian, mereka akan tunduk dan menurut apa pun yang kau katakan. Dalam urusan apa pun, kau bisa mengandalkan mereka….”

“Baiklah kalau begitu.”

“Sekarang saudaraku, tentunya repot bagimu untuk membawa barang-barang ini pulang ke kamarmu. Ada baiknya sebagian kita jadikan uang kontan dulu, sehingga jumlahnya tidak menyolok dan bisa kau bawa kemana-mana. Tentu tidak ada orang yang menyangka bahwa kita ini sebenarnya kaya raya.”

Siau Po tersenyum. Dia merasa cara ini memang bagus sekali. Namun dia masih ragu dengan semuanya ini. Benarkah aku mempunyai harta sebanyak empat ratus lima puluh ribu tail? Uang begitu banyak, bagaimana cara memakainya? Kalau hanya untuk makan enak, tidak memerlukan uang sebanyak itu. Lebih baik aku kembali ke Yangciu saja dan membuka sepuluh rumah pelesiran di sana. Ibu tidak usah bekerja lagi. Dialah yang akan mengelola tempat itu menjadi besar dan menjadi saingan utama Li Cu-wan. Hm! Aku ingin sekali melihat tampang-tampang orang yang menghinaku dulu. Namaku tentu akan menjadi terkenal kemana-mana. Sungguh suatu kenyamanan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.

So Ngo-tu melihat Siau Po berdiri terpaku.

Wajahnya termangu-mangu. Dia berusaha menduga apa yang sedang dipikirkan bocah itu.

“Saudara, Sri Baginda dan Hong thayhou menunggu kitab ini. Sebaiknya kita antarkan secepatnya. Mengenai harta Go Pay, nanti akan kuurus.”

Siau Po tersentak dari lamunannya. Dia menganggukkan kepalanya. So Ngo-tu segera membungkus rapi kedua jilid kitab Si Cap Ji Cing-keng. Dengan masing-masing membawa satu jilid, mereka kembali ke istana.

Begitu bertemu dengan raja, keduanya segera memberikan laporan sekalian menyerahkan kedua jilid kitab itu. Kaisar Kong Hi senang sekali. Setelah itu dia mengajak Siau Po menyertainya membawa kitab itu ke kamar ibu suri. So Ngo-tu tidak masuk ke dalam. Dia mengundurkan diri dan mengemukakan alasan bahwa dia akan membereskan harta benda Go Pay.

Ketika berjalan masuk, Raja menanyakan berapa jumlah harta Go Pay. Siau Po menjawab satu juta lebih seperti yang dikatakan So Ngo-tu. Dia mengatakan demikian untuk berjaga-jaga apabila di kemudian hari hal ini terbongkar oleh kaisar Kui Kong Hi. Dia bisa menimpakan kesalahan kepada saudara angkatnya itu.

“Huh!” Kong Hi mendengus dingin. “Telur busuk itu, begitu banyak dia memeras rakyat. Coba bayangkan nasib rakyat jelata yang diperasnya!”

“Kau tidak tahu hampir sebagian dari jumlah sebenarnya telah dimanipulasikan oleh So Ngo-tu dan dibagi ramai-ramai!” kata Siau Po dalam hatinya. Dia juga menertawakan kaisar yang ternyata begitu mudah dikelabui.

Sejenak kemudian mereka sudah sampai di kamar thayhou. Raja segera menyerahkan kedua jilid kitab tersebut sambil menjelaskan bahwa Siau Kui cu dan So Ngo-tu yang menemukannya di kediaman Go Pay.

“Siau Kui cu, pekerjaanmu bagus sekali!” puji Hong thayhou. Dia langsung menyambut kedua jilid kitab itu. Wajahnya berseri-seri.

Siau Po menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Dia mengatakan bahwa semuanya berkat keberuntungan ibu suri sendiri.

Di samping ibu suri ada seorang dayang kecil. Permaisuri berkata kepadanya: “Lui Cu, ajaklah Siau Kui cu ke belakang. Dan berikan manisan buah untuknya.”

Dayang itu berusia sekitar tiga atau empat belas tahun. Wajahnya manis dan menawan. Dia tersenyum sambil berkata. “Baik!”

Siau Po langsung mengucapkan terima kasih kepada Hong thayhou.

“Siau Kui cu,” kata Kong Hi. “Setelah menikmati manisan buah, kau boleh langsung kembali ke kamarmu. Aku ingin berdiam di sini bersama thayhou. Kau tidak perlu menunggu lagi.”

Siau Po mengiakan, kemudian mengikuti Lui Cu. Mereka menuju sebuah kamar kecil yang letaknya di bagian dalam. Nona cilik itu membuka sebuah lemari di mana di dalamnya terdapat berpuluh macam manisan buah. Ada juga beberapa macam kue. Sambil tersenyum dia berkata kepada Siau Po.

“Kau bernama Siau Kui cu, karena itu kau harus makan dulu manisan Kui hoa siong-ci. Dia mengeluarkan sebuah dus yang berisi manisan Kui-hoa campur Siong-ci. Baunya harum sekali.

Siau Po tertawa.

“Cici yang baik, kau juga makanlah bersama.”

“Thayhou menghadiahkannya untukmu, bukan untukku. Kami yang menjadi pelayan, mana boleh mencuri makanan?” katanya terus-terang.

“Kalau kita makan secara diam-diam, tidak ada orang yang mengetahuinya, bukan?”

Wajah si nona menjadi merah jengah. Dia menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa makan!”

“Kalau tidak, begini saja, aku akan menunggu sampai kau selesai melayani thayhou, manisan ini aku bungkus dan nanti kita makan bersama-sama,” kata Siau Po.

“Lebih baik kau makan sekarang saja. Atau kalau memang kau ingin membungkusnya, boleh juga. Kau bisa nikmati di kamarmu. Tapi jangan kau tunggu aku, sebab selesai melayani thayhou, waktunya pasti sudah tengah malam,” sahut Lui Cu malu-malu.

“Memangnya kenapa kalau tengah malam. Malah bagus karena tidak ada yang tahu? Bukan? Cici katakan, di mana kau akan menunggu aku?”

Melihat sikap Siau Kui cu yang demikian serius. Hati Lui Cu ikut tertarik. Di antara beberapa dayang Ibu suri. Usianya memang paling muda. Wajahnya cantik dan manis. Sayangnya dia tidak begitu akrab dengan kawan-kawannya dan tidak pernah bisa terbuka seperti terhadap Siau Kui cu sekarang. Sikap bocah ini menarik simpatinya. Dia memperhatikannya lekat-lekat.

“Bagaimana kalau di taman luar?” tanya Siau Po.

Gadis cilik itu ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk juga. Bukan kepalang senangnya hati Siau Po.

“Bagus, kita sudah mengadakan perjanjian. Sekarang kau ambilkan manisannya, pilih saja yang kau sukai,” kata Siau Po kembali.

Lui Cu tersenyum.

“Kan bukan aku yang makan. Kok, aku yang disuruh pilih? Kau suka makan manisan apa?”

“Apa pun yang kau suka, aku pasti suka juga,” sahut Siau Po. Nada suaranya manis sekali sehingga hati Lui Cu jadi berbunga-bunga.

Gadis cilik itu segera memilihkan beberapa macam manisan kemudian dusnya diserahkan kepada Siau Po.

“Nanti kentungan ketiga, aku menunggumu di luar pendopo. Jangan lupa!” kata Siau Po. Lui Cu menganggukkan kepalanya. “Kau harus berhati-hati!” pesannya. “Kau juga harus hati-hati!” kata Siau Po yang segera meninggalkan tempat itu.

Kalau ditilik dari usianya, Siau Po belum mengenal kata asmara. Dia masih seorang bocah cilik yang gemar bermain-main. Baginya, penyamaran sebagai Siau Kui cu adalah sebuah permainan yang menyenangkan. Apalagi sampai sekian jauh, tidak ada seorang pun yang mencurigainya. Namun kegembiraannya agaknya berkurang ketika mengetahui bahwa teman berkelahinya Siau Hian cu adalah sang Raja. Di samping itu, kedudukannya tiba-tiba saja meningkat banyak. Tapi dia tidak merasa puas. Bukan itu tujuannya menyamar sebagai Siau Kui cu di istana ini. Itulah sebabnya dia merasa bersemangat kembali mendapat teman baru seperti Lui Cu Padahal dia sadar sedang bermain api, bila ketahuan, jiwanya bisa celaka, namun dia tetap nekat melakukannya karena hal ini membangkitkan kegembiraannya.

Sesampainya di kamar, Hay kongkong menanyakan apa saja yang dilakukannya hari ini.

Siau Po menceritakan bahwa dia dititahkan Sri Baginda untuk ikut dengan So Ngo-tu menggeledah rumah Go Pay. Tujuannya untuk menyita harta benda orang itu. Tentu saja dia tidak menceritakan soal harta yang disulap, serta pisau belati dan baju tipis yang diambilnya. Dia hanya mengatakan.

“Kongkong, thayhou menyuruh aku mengambil kitab Si Cap Ji Cin-keng. Ternyata di rumah Go Pay, aku menemukan dua jilid kitab tersebut, persis dengan yang ada di samping meja thayhou…”

Tampaknya Hay kongkong terkejut setengah mati mendengar keterangan. Karena dia sampai terlonjak bangun.

“Di dalam gedung Go Pay, ada dua jilid kitab yang sama?”

“Benar!” sahut Siau Po menegaskan. “Thayhou dan Sri Baginda yang menitahkan aku mengambil kedua kitab itu. Kalau tidak, sudah kubawa kemari untuk kongkong.”

Wajah Hay kongkong berubah menjadi kelam.

“Hm! Hm! Bagus sekali!” Nada suaranya agak menyeramkan.

Dapat dipastikan bahwa hati Hay kongkong tidak senang mendengar berita itu. Ketika Siau Po menyuguhkan bubur untuknya, orang tua itu hanya makan sedikit. Kedua matanya mendelik ke atas sehingga yang terlihat hanya bagian yang putih saja, tampaknya dia sedang menguras otaknya memikirkan sesuatu.

Siau Po tidak memperdulikan thaykam tua itu. Selesai makan dia langsung beranjak tidur. Dia ingat janjinya pada kentungan ketiga tengah malam nanti. Pikirannya terus membayangkan wajah Lui Cu sehingga dia tidak dapat pulas.

Ketika bangun, dia berjinjit perlahan-lahan menuju pintu. Dia tidak ingin mengejutkan thaykam tua itu. Tapi, baru saja dia membuka daun pintu, Hay kongkong sudah menegurnya.

“Siau Kui cu, hendak ke mana kau?”

“Aku ingin buang air kecil…” sahutnya.

“Kenapa tidak di dalam kamar saja?” tanya Hay kongkong dengan suara tajam.

“Aku tidak dapat tidur, aku ingin mencari udara segar di taman!”

Siau Po khawatir dia akan dicegah oleh Hay kongkong. Tanpa membuang waktu lagi dia segera melangkah keluar, tapi baru kakinya maju satu tindak, tahu-tahu kerah lehernya telah tercekal kemudian dia ditenteng masuk oleh Hay kongkong.

Saking terkejutnya, Siau Po sampai menjerit. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Apakah dia tahu aku ada janji dengan dayang cilik itu dan dia hendak mencegahnya?”

Belum selesai pikirannya melayang, tubuhnya sudah dibanting ke atas tempat tidur. Otak Siau Kui cu bekerja kilat, cepat dia berkata.

“Ah, kongkong,” katanya sembari tertawa. “Kenapa kongkong masih suka bercanda? Sudah beberapa hari kongkong tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku. Jurus apakah yang kongkong mainkan barusan?”

“Hem!” Hay kongkong mendengus dingin. “Ini jurus ‘Menangkap biawak’ yang tidak pernah gagal. Lihatlah, sekarang biawak tua akan meringkus biawak kecil!”

‘Huh! Biawak tua meringkus biawak kecil?’ dalam hati Siau Po jengkel sekali. Otaknya segera bekerja. Sepasang matanya mengedar, dia ingin meloloskan diri, karena ingat janji dengan Lui Cu. Dia juga memikirkan manisan buahnya. Pasti dusnya sudah ringsek karena tertindih tubuhnya ketika dibanting Hay kongkong tadi.

Hay kongkong menghenyakkan pantatnya di atas tempat tidur.

“Kau memang berani, juga sangat berhati-hati. Apalagi kau juga cerdas. Ilmu silatmu masih belum cukup berarti, tapi kau mempunyai bakat besar. Sayang… Sayang….”

Siau Po tertawa.

“Kongkong, apanya yang disayangkan?” Dia bersikap seakan-akan hatinya sedang gembira sekali.

Hay kongkong tidak langsung menjawab dia menarik nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian dia baru berkata lagi.

“Aksen suara Pekingmu sudah maju banyak. Kalau delapan bulan yang lalu, aksenmu sudah sebaik sekarang, tentu tidak mudah aku mengetahuinya….”

Siau Po terkejut setengah mati. Tubuhnya menggigil. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tapi dia memaksakan dirinya untuk tertawa.

“kongkong, kau….”

“Anak, berapa tahun usiamu sekarang?”

Siau Po dapat mendengar nada suaranya yang tidak sekeras tadi lagi, hatinya menjadi lega. Rasa takutnya agak berkurang. Dia berusaha untuk bersikap tenang.

“Tahun… ini usiaku empat… belas.”

“Mengapa jawabanmu ragu-ragu?”

“A… ku tidak tahu berapa usiaku yang sebenarnya. Ibu… juga tidak mengingatnya,” sahut Siau Po.

Sebenarnya jawaban Siau Po itu bukan asal mengoceh saja. Dia memang tidak tahu berapa usianya yang sebenarnya.

Hay kongkong menganggukkan kepalanya. la juga terbatuk-batuk.

“Dulu ketika belajar ilmu silat, aku pernah tersesat. Maksudku, salah latihan. Akhirnya timbullah penyakit batuk ini. Kemudian aku tahu penyakit ini tidak dapat disembuhkan lagi….”

“Sebaliknya, kongkong. Aku rasa batukmu malah sudah membaik….”

Hay kongkong menggelengkan kepalanya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: