Kumpulan Cerita Silat

11/01/2008

Hina Kelana: Bab 109. Antara Guru Dogol dan Murid Istimewa

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 10:32 pm

Hina Kelana
Bab 109. Antara Guru Dogol dan Murid Istimewa
Oleh Jin Yong

“Dahulu itu kan terpaksa, apalagi lantaran itu telah timbul banyak omongan-omongan iseng,” kata Ing-ing. “Tadi Ayah mengatakan aku… aku hanya memikirkan kau dan tidak mau ayah lagi, kalau sekarang aku benar ikut pergi bersama kau tentu Ayah tambah marah. Setelah mengalami penderitaan-penderitaan selama belasan tahun agaknya watak Ayah rada-rada berubah aneh, kupikir harus menjaganya dengan baik-baik dan tidak tega berpisah dengan beliau. Asalkan hatimu tidak berubah, selanjutnya waktu berkumpul kita kan masih panjang?”

Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan lirih sehingga hampir-hampir tak terdengar. Kebetulan waktu itu segumpal mega putih melayang tiba sehingga mereka seperti terbungkus di dalam awan. Meski mereka duduk bersanding, namun tampaknya hanya remang-remang, jarak keduanya seperti sangat jauh.
(more…)

Darah Ksatria: Bab 09. Musuh Dan Hati Yang Suci

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:20 pm

Darah Ksatria
Bab 09. Musuh Dan Hati Yang Suci
Oleh Gu Long

Tak diragukan lagi, gang ini adalah tempat tinggal para saudagar kaya.

Orang-orang kaya ini harus menjaga diri dari perampok dan maling yang ingin mencuri harta mereka. Karena mereka tidak bisa melihat dengan jelas setelah matahari terbenam, maka mereka harus tinggal di balik tembok yang tinggi. Dan begitulah, kedua sisi jalan sempit itu diapit oleh tembok-tembok yang sangat tinggi, begitu tingginya sehingga orang yang memiliki ginkang Thian-ma-hing-khong pun tidak sanggup untuk melompatinya.
(more…)

Perguruan Sejati (09)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:01 pm

Perguruan Sejati (09)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Terus terang saja kenapa tak mau engkau tuturkan apa yang menjadi rahasia hatimu itu?”

“Tidak ada sesuatu yang menjadi rahasiaku.”
(more…)

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:42 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 03: Menegakkan Keadilan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Lorong itu gelap dan lembab, seakan tidak pernah tersentuh oleh sinar matahari. Di ujung lorong itu ada sebuah pintu yang sangat besar, gelang-gelangnya tampak mengkilap. Mereka mendorong pintu itu dan melihat Tay-kim-peng-ong.

Tay-kim-peng-ong bukan orang yang bertubuh tinggi dan berwibawa.
(more…)

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:41 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 02: Orang Terkaya
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Waktu ia masuk ke rumah kakek Ho yang kecil itu, kakek Ho sedang minum arak.

Rumah itu adalah sebuah pondok kayu yang kecil dan sangat sederhana, berdiri di tengah sebuah hutan kecil yang terdiri dari pohon-pohon kurma di lereng sebuah gunung.
(more…)

Rahasia Peti Wasiat (03)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:36 am

Rahasia Peti Wasiat (03)
Oleh Gu Long

“Sembarang omong? Hehe, terus terang, aku ini kan orang tua yang sudah berpengalaman,” ujar si nenek dengan tertawa. “Biar kukatakan padamu, pada waktu muda aku pernah ikut minggat bersama kekasih. Rasanya memang nikmat. Cuma … ai, justru lantaran minggat bersama orang, makanya mengalami nasib malang seperti sekarang ini. Sebab itulah ingin kuberi nasihat kepada kaum muda kalian, urusan perjodohan yang mahapenting hendaknya serahkan kepada pilihan orang tua dan jangan sekali-kali sembarangan bertindak. Mengingat kejadian dahulu, bilamana aku tunduk kepada perkataan ayah-bunda ….”

Karena nada orang seakan-akan sudah memastikan dia minggat bersama kekasih, Ni Beng-ay merasa tidak senang, cepat ia memotong, “Toanio, jangan kau bicara lebih lanjut.”
(more…)

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (03)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 9:51 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 03. Pedang Terpotong. Usus Akan Hancur
Oleh Gu Long

Setelah laki-laki baju putih tersebut berlari keluar sekitar 10 meter, dia menotolkan ujung kakinya ke tanah dan melayang ke udara.

Hamparan gurun sunyi senyap. Pasir yang kuning tersapu kesegala arah menggenangi malam yang gelap. Bagaimana bisa mencari bayangan?
(more…)

Pendekar Baja (05)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:22 am

Pendekar Baja (05)
Oleh Gu Long

“Betul,” sambut It-siau-hud, “syukurlah saudara Thi bernyali besar, kalau tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapat anak harimau?”

Bersama Thi Hoat-ho segera mereka memasuki pintu pertama di sebelah kanan, sempat It-siau-hud menoleh, “Mo Si, Seng Ing, kalian berani ikut?”
(more…)

Duke of Mount Deer (09)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:51 am

Duke of Mount Deer (09)
Oleh Jin Yong

Siau Po terkesiap mendengar kata-kata kaisar Kong Hi. Kitab itulah yang dicari Hay kongkong. Dia segera memasang telinganya mendengarkan.

Kaisar Kong Hi melanjutkan kata-katanya.
(more…)

Golok Yanci Pedang Pelangi (11)

Filed under: +Golok Yanci Pedang Pelangi — ceritasilat @ 1:48 am

Golok Yanci Pedang Pelangi (11)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada CloudRs)

Pintu batu itu berat sekali, Ho Leng-hong harus mengerahkan tenaga untuk menggeser pintu itu, baru saja ia akan ikut menerobos masuk, tidak tersangka dari balik pintu tiba-tiba berkelebat keluar sesosok bayangan manusia, hampir saja kedua orang saling bertumbukan.

Orang itu tak lain adalah Tong Siau-sian pertama tadi, kalau sewaktu masuk ia tidak membawa apa-apa, maka sekarang tangannya telah bertambah dengan sebilah golok panjang.
(more…)

Misteri Kapal Layar Pancawarna (07)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:43 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (07)
Oleh Gu Long

Dalam pada itu salah seorang lelaki jangkung berseragam hitam lantas menubruk ke arah Siaukongcu. Tentunya karena anak dara itu kelihatan lemah dan hendak ditawannya hidup-hidup, maka tidak menggunakan senjata melainkan hendak memegangnya dengan tangan.

Dengan mendelik Po-ji berteriak, “Huh, tidak tahu malu, orang tua hanya pandai menganiaya anak kecil.”
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.