Kumpulan Cerita Silat

10/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (02)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:34 am

Rahasia Peti Wasiat (02)
Oleh Gu Long

“Dia bernama Si Hin, semula tinggal bersama kami,” tutur lelaki bergolok. “Kemarin tiba-tiba timbul maksud jahatnya, peti ini digondol lari, akhirnya dapat kami susul dia, cuma sayang, sesudah kami melukai dia, sempat juga dia meloloskan diri.”

“Apa isi peti ini?” tanya It-hiong.

“Maaf, untuk ini tidak dapat kuberi tahukan,” jawab lelaki bergolok. “Sekarang mohon engkau suka mengembalikan peti itu kepada kami.”

“Boleh, tapi adakah kau pegang kunci borgolnya?”

“Ada,” lelaki bergolok mengangguk.

Dia memindahkan golok ke tangan kiri, lalu tangan kanan merogoh saku untuk mengambil anak kunci sambil melangkah maju, katanya, “Harap ulurkan tanganmu, akan kubukakan borgolnya.”

It-hiong menjulurkan tangan kirinya, ucapnya dengan tertawa, “Sungguh beruntung bertemu dengan kalian berdua, kalau tidak barang ini sungguh sangat merepotkan.”

Melihat tangan orang sudah terjulur, lelaki bergolok juga lantas menjulurkan tangan kanan dengan lagak hendak membukakan kunci borgolnya. Siapa tahu mendadak golok pada tangan kirinya terus menebas ke tangan kiri Liong It-hiong dan tepat mengenai sasarannya.

Akan tetapi tangan kiri Liong It-hiong ternyata tidak tertebas buntung, sebaliknya tetap utuh tanpa kurang sesuatu, lecet saja tidak.

Sungguh mimpi pun orang bergolok itu tidak menyangka Liong It-hiong menguasai Kungfu kekebalan senjata, seketika ia terperanjat dan cepat melompat mundur.

Namun It-hiong tidak tinggal diam, sambil bergelak tertawa sebelah kakinya terus mendepak dan tepat mengenai perut orang. “Blang”, kontan orang itu terpental jauh.

Melihat tipu kawannya tidak berhasil, si kakek tegap lantas membentak dan menerjang maju juga, toya tiga ruas terus berputar dan menyabet kedua kaki Liong It-hiong.

“Haha, boleh juga kita main-main beberapa jurus!” seru Bun-hiong dengan tertawa.

Segera ia memapak orang tua itu, kipas lempit menukik ke bawah dan “brak”, sabetan toya si kakek ditangkisnya.

Seketika si kakek tergetar sempoyongan ke samping. Bun-hiong tidak memberi kelonggaran lagi, sambil tertawa panjang ia terus menubruk maju dan menjojoh pula dengan kipasnya.

Sekarang si kakek baru menyadari telah ketemu lawan tangguh, ia tidak berani sembrono lagi, segera ia putar toya tiga ruas dengan kencang dan menempur Pang Bun-hiong dengan sengit.

Meski si lelaki bergolok terdepak perutnya oleh Liong It-hiong, tapi perutnya tidak sampai pecah, sesudah jatuh terjungkal, segera ia melompat bangun dan menerjang maju lagi dengan goloknya.

Mestinya It-hiong dapat melolos pedang untuk menandingi golok lawan, namun dia juga anak muda yang tinggi hati, menghadapi lawan empuk tidak mau dia menggunakan pedang, segera ia layani golok lawan dengan tetap bertangan kosong.

Agaknya lelaki bergolok itu juga cukup luas pengetahuannya, setelah tahu Liong It-hiong menguasai Kungfu kekebalan senjata, maka selanjutnya dia tidak menyerang lagi dengan membacok atau menebas melainkan dengan gerakan mengiris, sebab ia tahu orang yang menguasai Kungfu kekebalan sebangsa Kim-ciong-toh atau Thi-po-sam umumnya tidak takut dibacok melainkan khawatir diiris atau disayat.

Begitulah dia terus menggunakan cara istimewa itu dan main sayat melulu terhadap Liong It-hiong.

Merasa kelemahan sendiri diketahui lawan, It-hiong juga tidak berani gegabah lagi, sembari menghindari setiap serangan, lebih sering lagi sekarang dia menggunakan peti hitam untuk menimpuk musuh.

Bobot peti hitam itu antara sepuluh kati, ditambah lagi rantai sepanjang dua-tiga kaki, bila diputar menjadi serupa banderingan dan sangat lihai.

Lelaki bergolok itu telah mengeluarkan segenap kepandaiannya dan tetap tidak mampu mengganggu seujung rambut lawan, ia mulai jeri, berbareng juga merasa terkejut dan heran, ia coba tanya, “Hei, sesungguhnya kalian berasal dari garis mana? Coba beri tahukan!”

It-hiong tertawa, serunya, “Tuanmu jalan tidak ganti nama dan duduk tidak tukar she, aku inilah Liong It-hiong yang berjuluk Liong-hiap!”

“Wah, celaka!” teriak si lelaki bergolok mendadak sambil melompat mundur dan berseru dengan kata sandi dunia Kangouw kepada kawannya. “Lui-heng, ayolah lari, lawan tidak boleh dibuat main-main!”

Habis itu secepat terbang ia lari masuk ke hutan serupa seekor tikus yang beruntung lolos dari terkaman kucing.

Kakek tegap itu juga kewalahan menghadapi Pang Bun-hiong, selagi kejut dan heran, tiba-tiba didengarnya lawan yang bergebrak dengan temannya itu adalah Liong-hiap Liong It-hiong yang termasyhur, seketika runtuh semangat tempurnya, cepat ia berlagak menyabet untuk mendesak mundur Pang Bun-hiong, lalu ia melompat mundur dan kabur pula ke dalam hutan.

Bun-hiong tidak mengejarnya, It-hiong juga berdiri tanpa bergerak, meski keduanya sama-sama memiliki kepandaian tinggi, tapi sebelum tahu jelas seluk-beluk musuh tidak nanti mereka mau menyerempet bahaya dan sembarangan mengejar.

“Kenapa engkau tidak mengejarnya?” tanya It-hiong.

“Guruku mengajarkan kepadaku agar ‘penjahat yang sudah lari jangan dikejar, kalau ketemu hutan jangan dimasuki’. Jika mau kejar boleh kau kejar sendiri.”

It-hiong garuk-garuk kepala sambil menggerutu, “Sungguh tolol aku ini, kalau tidak kuberi tahukan namaku tentu tidak menjadi soal. Mereka tidak tahu siapa aku baru berani bertempur denganku dan dengan begitu pula baru ada kesempatan bagiku untuk menangkap mereka.”

“Jangan khawatir, cepat atau lambat mereka akan datang lagi,” ujar Bun-hiong.

“Kau kira mereka siapa?” tanya It-hiong.

Bun-hiong menggeleng, “Entah, aku cuma tahu satu hal, yaitu tadi mereka berdusta. Orang yang menyerahkan peti hitam kepadamu itu pasti bukan kawan mereka.”

“Ya, orang sialan itu justru dilukai oleh mereka, tentu tidak salah lagi,” kata It-hiong.

“Betul, sebab mereka hendak merampas petinya,” tukas Bun-hiong.

It-hiong menunduk mengamati peti hitam itu, katanya, “Di dalam peti pasti berisi benda mestika yang tak terkira nilainya.

“Apakah perlu kita membukanya?”

“Sudah kucoba, tak bisa buka.”

“Boleh kucoba juga,” kata Bun-hiong sambil memegang peti itu dan diperiksa dengan teliti, dilihatnya peti itu berwarna hitam mulus, terbuat dari baja murni, di tengah peti ada dua garis celah-celah yang merapat dengan sangat erat, namun tidak ada sesuatu lubang untuk membukanya.

Ia coba menarik dan membentangnya, namun tidak mau terbuka, ia menggeleng kepala dan berkecek menyatakan rasa heran, “Peti ini memang sangat istimewa.”

“Ya, selama ini aku pun tidak pernah melihat peti semacam ini,” kata It-hiong.

“Aku juga tidak pernah melihat peti begini,” tukas Bun-hiong.

“Tapi peti ini harus dapat dibuka, soalnya kita tidak tahu cara membukanya,” ujar It-hiong.

Bun-hiong menuding celah-celah di pinggang peti itu dan berkata, “Umumnya sebuah peti hanya ada sebuah celah, tapi peti ini ada dua garis celah, mungkin di sinilah letak pesawat rahasianya.”

Sembari bicara ia coba menggunakan jarinya untuk menolak bagian di dalam celah peti, dirasakan bagian di tengahnya ternyata dapat bergerak, serunya kegirangan, “Hah, lihat, memang terletak pada kedua garis celah ini rahasianya.”

“Coba geser lagi lebih keras,” kata It-hiong sepat.

Bun-hiong menekan dan mendorong pula, tapi meski dicoba lagi beberapa kali tetap peti itu sukar terbuka. Ia menggeleng kepala dengan lesu, katanya, “Aku berani tertaruh denganmu, barang ini pasti bukan buatan Tiongkok.”

It-hiong tidak menanggapinya, ia sampirkan rantai peti di pundak dan berkata, “Ayo berangkat, pulang dulu ke kota dan urusan belakang!”

Kedua orang lantas turun gunung.

“Ke mana kita akan minum arak?” tanya Bun-hiong.

“Sampai di kota nanti kebanyakan ramah makan tentu sudah tutup pintu, boleh ke hotelku saja.”

Bun-hiong mengiakan.

“Melihat bentukku ini mustahil kalau orang tidak menyangka aku ini perantaian yang baru lolos dari bui,” ujar It-hiong.

“Ya, sangat mungkin.”

“Sialan, sungguh celaka!”

“Jangan khawatir, kebanyakan Pothau di kota Kim-tan sudah kukenal, asal engkau selalu berada bersamaku pasti takkan terjadi perkara.”

“O ya, mereka pasti memegang macam-macam anak kunci borgol, bagaimana kalau kau pinjam beberapa anak kunci pada mereka.”

“Baiklah, setiba di kota segera akan kucari Ciu-pothau ….”

Begitulah sambil bicara sembari berjalan. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di Kah-pin-khek-can, hotel tempat It-hiong menginap.

Bun-hiong berhenti di depan hotel dan berkata kepada It-hiong, “Boleh kau suruh pelayan menyiapkan arak dan santapan, kupergi mencari Ciu-pothau dan segera pulang kembali.”

Habis bicara ia terus pergi.

Tidak lama pelayan sudah menyiapkan semeja makanan dan arak di dalam kamar Liong It-hiong, sejenak kemudian Pang Bun-hiong juga sudah kembali.

Setelah mengenyahkan pelayan, Bun-hiong menutup pintu kamar dan mengeluarkan serenceng anak kunci, katanya dengan tertawa, “Lihat, inilah pinjamanku kepada Ciu-pothau, seluruhnya ada belasan buah, bila tetap tak bisa membukanya maka habislah akal.”

It-hiong duduk di depan meja dan menaruh pergelangan tangan di ujung meja, katanya, “Lekas dicoba!”

Bun-hiong memilih sebuah anak kunci yang sekiranya cocok dan dimasukkan ke lubang kunci borgol yang membelenggu tangan It-hiong itu, diputarnya ke kanan dan kiri beberapa kali, namun tidak berhasil, ia menggoyang kepala dan berkata, “Yang ini tidak cocok ….”

Ia ganti anak kunci yang lain, hasilnya tetap nihil. Ganti lagi anak kunci ketiga, keempat, kelima dan akhirnya belasan anak kunci sudah dicoba semua, namun borgol di tangan It-hiong tetap tak terbuka.

Kembali It-hiong uring-uringan, omelnya, “Keparat, kalau saja orang she Si itu tidak mati, tentu akan kuhajar dia hingga sekarat!”

Bun-hiong menyimpan anak kunci, katanya dengan tertawa, “Sudahlah, jangan marah kali, apa pun juga tunggu sampai besok saja, tentu pandai besi dapat membuka borgolmu itu. Sekarang marilah kita minum arak.”

Ia duduk di depan It-hiong dan menuangkan dua cawan arak, secawan disodorkan kepada It-hiong, katanya, “Mari habiskan secawan!”

It-hiong angkat cawan dan minum habis bersama dia, katanya dengan tertawa, “Kau sangat mencocoki seleraku, namun aku tetap akan berkelahi denganmu.”

“Umpama kau tidak mau berhantam lagi juga takkan kuterima,” jawab Bun-hiong tertawa.

“Bicara sejujurnya, sudah sekian tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, namun baru pertama kali ini kutemui jago kelas tinggi serupa dirimu.”

“Aku juga begitu. Maka kita harus menentukan kalah dan menang …. Mari, minum secawan lagi!”

Begitulah keduanya lantas makan-minum dan mengobrol ke timur dan barat, makin bicara makin cocok satu sama lain dan arak yang mereka minum pun tambah banyak.

Tanpa terasa sudah lewat tengah malam.

Bun-hiong berdiri dan berkata, “Aku mau pulang.”

“Engkau punya istri?”

“Tidak ada.”

“Jika tidak punya istri, untuk apa pulang sedini ini?”

“Sekarang sudah jauh lewat tengah malam, masa kau bilang dini?”

“Boleh kita minta tambah arak lagi, sekalian minum sampai pagi, habis itu bersama pergi mencari pandai besi.”

“Tidak,” jawab Bun-hiong, “Habis minum arak aku lantas mengantuk, sekarang kan waktunya orang tidur.”

Sampai di sini ia memberi tanda, lalu membuka pintu dan melangkah pergi.

Terpaksa It-hiong memanggil pelayan agar menyingkirkan mangkuk piring, lalu membuka baju dan bermaksud tidur.

Namun ketika lepas baju baru diketahuinya baju tak dapat ditanggalkan.

Sebab kalau dia mau membuka baju luar, lengan kiri harus dapat lolos dari rantai dan peti hitam itu, padahal ukuran peti itu lebih besar daripada lengan bajunya sehingga sukar lolos. Jika benar ingin membuka baju hanya ada satu jalan, yaitu memotong seluruh lengan baju kiri.

Saking gemasnya ia mengentak kaki dan mencaci maki lagi pada orang mati yang mengaku bernama Si Hin itu. Dengan mendongkol ia pakai lagi baju luarnya, lalu merebahkan diri di tempat tidur.

Lantaran banyak minum arak, maka tidak lama setelah berbaring ia lantas mendengkur.

Kira-kira setengah jam setelah dia tidur, kertas perapat daun jendela kamarnya tiba-tiba dibasahi orang setitik, lalu dari lubang yang dibasahi itu tersembul semacam benda yang ujungnya lancip serupa paruh bangau, kemudian ada asap tertiup dari paruh bangau itu, asap perlahan buyar dan akhirnya memenuhi seluruh kamar.

Itulah Bi-hun-hio atau dupa bius.

Namun Liong It-hiong tidak merasakan apa-apa, suara mengoroknya tambah rata dan keras.

“Krek”, terdengar bunyi perlahan, sebilah pisau menubles celah daun jendela dan membuka palang jendela, menyusul daun jendela lantas terbuka.

Asap yang memenuhi kamar perlahan buyar keluar kamar, sejenak kemudian sebuah kepala manusia menongol di depan jendela. Nyata orang ini adalah lelaki bergolok yang semalam bermaksud merampas peti hitam di atas gunung itu.

Ia mengintip dulu ke dalam kamar, lalu berpaling dan memberi isyarat tangan, kemudian dengan tangan menahan kosen jendela ia melompat ke dalam kamar.

Agaknya kawannya yaitu si kakek tegap, juga ikut datang, isyaratnya itu jelas memberi tanda agar si kakek berjaga di luar.

Sesudah berada di dalam kamar, dengan berjinjit-jinjit ia mendekati tempat tidur, diperiksanya keadaan Liong It-hiong, melihat anak muda itu tertidur lelap, ia yakin dupa biusnya sudah bekerja dengan baik, seketika ia merasa tabah, ucapnya dengan tertawa. “Setan alas, sekali ini coba saja apakah kau punya kepandaian!”

Sembari berkata ia tarik pergelangan tangan kiri It-hiong ke tepi pembaringan, segera ia angkat goloknya dan membacok dengan keras.

Siapa tahu bacokannya tetap tidak dapat mengutungi tangan Liong It-hiong, serupa membacok pada sepotong kulit kering saja.

Keruan lelaki bergolak itu terkejut, cepat ia melompat mundur.

Pada saat itulah Liong It-hiong lantas melompat bangun, ucapnya dengan tertawa, “Jangan lari, rasakan dulu banderinganku!”

Berbareng tangan kiri bergerak, peti hitam terus menyambar ke depan.

Dia memang sudah siap menyerang sejak tadi, maka peti itu menyambar dengan sangat cepat, baru saja orang itu melompat mundur sudah tersusul oleh peti hitam, terdengar suara “bluk” yang keras, dengan tepat dadanya tertimpa peti.

Tanpa mengeluarkan suara lelaki bergolok terus roboh terjungkal.

Sementara itu si kakek yang berjaga di luar juga mengetahui kawannya tertimpa bahaya, selagi dia hendak menerjang ke dalam kamar untuk menolongnya, tiba-tiba didengarnya di atas kamar di belakangnya ada orang menegur dengan tertawa, “He, kawan, jangan kau ganggu tidur orang, lebih baik cari lagi diriku saja!”

Yang bicara ini ternyata Pang Bun-hiong adanya.

Dengan tertawa ia duduk bersila di emper rumah, seperti sudah menunggu sekian lamanya di situ.

Keruan pucat air muka si kakek, mana dia berani lagi menerjang ke dalam kamar, tanpa permisi ia terus lari malah ke tempat gelap sana.

“Haha, mau lari?!” seru Bun-hiong dengan tergelak.

Sekali kedua tangan membentang, serupa elang menyambar anak ayam, ia terus terjun ke bawah.

Namun kakek itu pun cukup licin, dengan dua-tiga kali lompatan ia dapat mencapai kaki tembok, lalu menerobos keluar hotel.

Selagi Bun-hiong hendak mengejar lebih jauh, terdengar Liong It-hiong berseru kepadanya sambil melongok keluar jendela, “Sudah dapat kubekuk satu, tak perlu mengejar lagi.”

Dengan tertawa Bun-hiong memutar balik dan melompat ke dalam kamar melalui jendela, ia pandang lelaki bergolok itu dan bertanya, “Kau lukai dia?”

“Ya, kuhantam dadanya dengan peti hitam berantai ini, mungkin terlampau keras sehingga membuatnya kelengar,” tutur It-hiong.

“Kalau tahu engkau sudah siap sedia, tentu aku sudah pulang tidur,” ujar Bun-hiong.

“Dari mana kau tahu akan kedatangan mereka?” tanya It-hiong.

“Dan dari mana kau tahu mereka akan datang?” tanya Bun-hiong.

It-hiong mengangkat pundak tanpa menjawab, ia mendekati lelaki bergolok yang tak bergerak itu dan berjongkok di sampingnya, katanya, “Mari kita bikin siuman dulu keparat ini …. Eh, bagaimana, jadinya ini?!.”

Mendadak ia berseru kaget, sebab diketahuinya muka orang itu pucat lesi, tampaknya sudah mati.

Bun-hiong coba memeriksa napasnya, ternyata betul sudah tak bernapas lagi. Dirabanya lagi bagian dada, baru diketahuinya di antara 12 tulang dada kanan sudah patah enam, tulang patah menusuk jantung atau paru-paru, tentu saja binasa sejak tadi.

“Hm, masakah cuma kau sambit dengan agak keras saja?” jengek Bun-hiong dengan mendongkol.

It-hiong merasa menyesal, ucapnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, “Sialan, kukira seranganku sudah pakai kira-kira, siapa tahu telah membinasakan dia.”

“Tampaknya cara kerjamu lebih banyak runyam daripada suksesnya,” omel Bun-hiong.

“Betul, terkadang aku memang agak linglung, tanpa sadar lantas menerbitkan onar ….”

“Dan cara bagaimana membereskan dia sekarang?”

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Ini kan urusanmu, aku tidak mau ikut campur.”

“Kau kira aku harus melaporkan diri telah membunuh orang?”

“Jika kau mau melapor diri, aku ada cara yang lebih baik bagimu.”

“Coba katakan.”

“Kau mau menurut petunjukku?”

“Baik, katakan saja.”

“Sekarang naik ke tempat tidur,” kata Bun-hiong sambil menunjuk ranjang.

“Untuk apa?” It-hiong melengak.

“Sesudah di tempat tidur baru kuberi tahukan.”

Dengan ragu It-hiong berdiri dan menuju ke tempat tidur, ia duduk di tepi ranjang dan bertanya, “Baiklah, sekarang boleh kau katakan.”

“Rebah!” kata Bun-hiong.

Kembali It-hiong melenggong. “Ai, kau main gila apa?”

“Setelah berbaring segera kau tahu.”

Terpaksa It-hiong menurut berbaring, katanya dengan mendongkol, “Dan apakah perlu memejamkan mata?”

“Tentu saja, kalau sudah berbaring harus memejamkan mata, kalau tidak mana dapat tidur?!”

“Baik, segera kupejamkan mata. Tapi hendak kuperingatkan, jika ada maksudmu mempermainkan diriku, awas kaki anjingmu!”

Habis berucap ia benar-benar memejamkan mata.

Dan baru saja mata terpejam, segera terdengar suara “serr” yang perlahan. menyusul bergema suara Bun-hiong di luar jendela, “Tidurlah yang nyenyak, esok pagi akan kudatang lagi.”

Waktu It-hiong membuka mata, dilihatnya mayat si lelaki bergolok tadi sudah hilang, ia tersenyum dan bergumam, “Sontoloyo, bocah ini memang benar lagi mempermainkan aku.”

Dia tidak bangkit lagi, tapi, terus tidur.

Paginya dia terjaga bangun oleh suara gedoran pintu. Cepat ia membuka pintu kamar, kiranya si pelayan.

“Ada apa? Kau khawatir aku tidak bayar?” omelnya dengan mendongkol.

“O, maaf,” kata pelayan. “Hamba cuma ingin tahu, kabarnya di kamar Tuan semalam seperti terjadi sesuatu.”

“Betul, semalam ada maling, tapi sudah kuhajar lari,” sahut It-hiong.

“Maling?” pelayan terkejut.

“Ya, malahan bukan sembarang maling, mereka berani masuk dengan mencungkil jendela.”

“Adakah kehilangan?” cepat si pelayan menegas.

“Syukur tidak.”

“Mendingan tidak,” pelayan merasa lega. “Keparat, ternyata ada maling berani mengganggu hotel ini, kalau tertangkap pasti kuhajar sampai setengah mati.”

Lalu ia memberi hormat dan minta maaf pula karena telah mengganggu tidur Liong It-hiong, anak muda itu diharap tidur lagi.

“Sesudah bangun tak dapat tidur lagi, sediakan saja air cuci muka, lalu siapkan sarapan pagi,” kata It-hiong. “Sediakan untuk dua orang, sebentar akan datang seorang temanku.”

Pelayan mengiakan dan berlari pergi.

Selesai dia cuci muka, pelayan datang kembali membawakan sarapan pagi, dan Pang Bun-hiong juga segera muncul.

It-hiong tidak tanya cara bagaimana orang membereskan mayat itu. ia hanya mengajaknya, “Mari sarapan dulu!”

Tanpa sungkan Bun-hiong mengambil tempat duduk, katanya, “Sudah kubicarakan dengan pandai besi, ia bilang dapat memotong belenggumu.”

Sembari makan It-hiong berkata, “Semalam telah kupikirkan dengan masak dan telah membuat suatu keputusan penting ….”

“Memutuskan takkan bertanding lagi denganku?” tanya Bun-hiong.

“Bukan urusan itu, tapi mengenai peti ini sudah kuputuskan takkan membuangnya dari tanganku,” tutur It-hiong sambil mengangkat peti itu.

Bun-hiong melengak, “Sebab apa?”

“Sebab kalau dibuka dari belenggu ini, tentu akan gampang hilang,” ujar It-hiong. “Kupikir justru lantaran khawatir peti ini akan kuhilangkan, maka orang she Si itu memborgolnya di tanganku.”

“Aha, engkau tidak bergurau bukan?” Bun-hiong menegas dengan bingung.

“Tentu saja tidak,” jawab It-hiong dengan serius. “Dia menyerahkan barang ini kepadaku sebelum ajalnya, kupikir tidak boleh kubikin kecewa harapannya.”

“Akan tetapi barang ini telah mendatangkan malapetaka bagimu, engkau tidak takut?”

“Ah, terlampau gawat bicaramu,” ujar It-hiong. “Dengan membawa barang ini mungkin rada berbahaya bagimu, tapi kalau bilang jiwaku juga terancam, kukira tidak demikian halnya.”

“Tapi untuk apa kau bawa barang ini?”

“Dengan membawa barang ini kan juga ada baiknya.”

“Kebaikan apa?”

“Barang siapa ingin merampas peti ini, maka dia harus merampas diriku sekalian,” habis berucap It-hiong terbahak-bahak senang.

Bun-hiong ikut tertawa, “Hm, engkau memang rada-rada sinting.”

“Begitukah?” It-hiong angkat pundak.

“Tapi kupikir lebih tepat jika kukatakan engkau lagi bergurau dengan dirimu sendiri,” kata Bun-hiong.

“Bergurau dengan dirinya sendiri kan bukan dosa toh?”

“Apakah selama hidupmu akan kau bawa barang ini?”

“Tidak, akan kuserahkan barang ini sesuai pesan orang she Si itu kepada Cap-pek ….”

“Cap-pek apa?” Bun-hiong menegas.

Kembali It-hiong angkat pundak, “Entah, aku lupa. Tapi pada suatu hari tentu dapat kutemukan dia.”

“Engkau tidak mencari nona Giok-nio lagi?”

“Urusan ini tidak terlalu penting, boleh kulakukan perlahan nanti.”

“Menjual nyawa bagi seorang yang tidak kau kenal, kan tidak berharga?”

It-hiong tidak menanggapi, katanya dengan tertawa, “Eh, akan kuuji dirimu. Jika aku bilang Cap-pek, apa yang kau pikirkan lanjutannya?”

“Cap-pek-can-te-gik (delapan belas tingkat neraka)!” kata Bun-hiong.

“Bukan, tidak mungkin orang she Si itu minta kuserahkan barang ini ke neraka,” ujar It-hiong sambil menggeleng. “Coba pikir lagi yang lain.”

“Cap-pek-lo-han (delapan belas Buddha)?” kata Bun-hiong pula.

It-hiong berpikir sejenak, lalu menggeleng pula, “Bukan, coba yang lain.”

“Atau delapan belas jenis ilmu silat maksudnya?”

“Juga bukan, pikir lagi!”

“Atau … atau gundik kedelapan belas maksudnya?”

“Buset, masa sampai gundik apa segala?”

Bun-hiong menyengir, “Baiklah, sekarang tinggal satu yang terakhir, jika tetap bukan, maka aku pun angkat tangan.”

“Coba katakan.”

“Mungkin maksudnya si gadis berumur Cap-pek!”

“Aha betul!” seru It-hiong tertawa.

Bun-hiong berbalik melenggong, “Betul?!”

“Sering kuingin mencari seorang nona berumur 18, untuk diajak berkencan, sayang nasibku kurang mujur, yang kutemui selalu gadis berumur likuran.”

“Kutahu di mana ada nona jelita berumur 18, bagaimana kalau kubawamu ke sana?”

It-hiong tidak menjawab, ia ke pintu dan berteriak, “Pelayan!”

Seorang pelayan mendekat dengan berlari-lari anjing, tanyanya, “Tuan tamu mau pesan apa?”

“Ingin kutanya padamu, adakah suatu tempat di sekitar sini bernama Cap-pek apa ….”

Pelayan berpikir sejenak, lalu menggeleng dan menjawab, “Tidak ada, di sekitar sini tidak ada tempat demikian.”

“Habis di mana ada?” tanya It-hiong.

“Tempat yang memakai nama Cap-pek hamba tahu ada beberapa buah ….”

“Coba sebutkan!”

“Inlam-cap-pek-ceh umpamanya (delapan belas sarang bandit di Inlam).”

“Lalu?”

“Hong-kang-cap-pek-lan? (pesisir delapan belas di sungai Hong).”

“Mana lagi?”

“Ada lagi di … di Hopak, yaitu Cap-pek-pan-san (gunung melingkar delapan belas).”

“Aha, itu dia!” teriak It-hiong sambil melonjak girang. “Memang betul Cap-pek-pan-san, memang itulah maksudnya.”

Saking senangnya ia memberi persen setahil perak kepada pelayan dan menyuruhnya pergi, lalu berkata kepada Bun-hiong dengan tertawa, “Coba lihat, betapa pun pelayan itu memang berpengetahuan luas, sekali tebak saja lantas kena!”

“Apa tidak salah Cap-pek-pan-san?” Bun-hiong menegas.

“Tidak salah lagi, sekali dia omong segera kuingat, memang betul orang she Si itu bilang Cap-pek-pan-san!”

“Tempat itu terletak di Hopak, cukup jauh!”

“Tidak menjadi soal, aku mempunyai si naga putih sakti.”

“Keparat she Si itu menyuruhmu menyampaikan peti ini kepada Cap-pek-pan-san?”

“Dengan sendirinya bukan menyerahkan kepada gunungnya melainkan kepada seorang yang tinggal di sana.”

“Orang yang tinggal di Cap-pek-pan-san kan sangat banyak, harus kau serahkan kepada siapa?”

“Nanti pasti dapat kuselidiki.”

“Jadi benar kau mau ke sana?”

It-hiong mengangguk, “Tentu saja betul. Orang she Si itu sudah memercayai diriku, betapa pun harus kulaksanakan cita-citanya.”

“Kupikir peti ini pasti berisi benda mestika yang jarang ada.”

“Betul,” kata It-hiong.

“Dan orang yang ingin merampasnya pasti juga tidak sedikit.”

“Tepat,” seru It-hiong.

“Maka engkau akan dirundung kesulitan yang tak habis-habisnya.”

“Betul.”

“Tapi jangan kau harap akan perlindunganku, setiap musim semi aku tidak mau meninggalkan daerah Kanglam.”

It-hiong melotot, “Cis, siapa yang minta perlindunganmu? Memangnya orang semacam diriku juga perlu dilindungi?”

Bun-hiong tersenyum, “Kutahu engkau sangat cerdik dan pintar, cuma urusan ini mungkin sukar dihadapi sendirian olehmu.”

“Jangan khawatir bagiku, aku takkan mati,” kata It-hiong.

“Kapan engkau akan berangkat?”

“Sebentar lagi, sehabis sarapan.”

“Dan kapan kita akan melangsungkan duel?”

“Setelah kubereskan urusan ini segera kukembali ke sini untuk mencarimu.”

Dengan tersenyum Bun-hiong berbangkit, katanya, “Baiklah, jika begitu aku mohon diri saja.”

“Baik, kira-kira pertengahan musim panas nanti aku akan kembali lagi ke sini, dalam waktu dua-tiga bulan ini sebaiknya kau giat berlatih Kungfumu agar tidak mudah kukalahkan.”

Bun-hiong tidak menanggapi lagi, ia memberi salam dan tinggal pergi.

It-hiong merampungkan sarapannya hingga kenyang, lalu berbenah seperlunya, pelayan dipanggilnya untuk membereskan rekening hotel. Kemudian berangkatlah dia menuju ke pintu utara kota dengan menunggang kudanya.

Agar orang tidak melihat borgol pada pergelangan tangannya, ia menggulung rantainya, lalu sengaja sampirkan sepotong baju pada bahu kiri untuk menutupi peti hitam.

Sekeluarnya pintu kota segera ia membedal kudanya dengan cepat.

Ia tahu kakek tegap itu pasti tidak tinggal diam dan akan menguntitnya secara diam-diam dan bila ada kesempatan tentu akan merampas peti lagi. Sebab itulah ia sengaja melarikan kudanya dengan cepat, sedapatnya berusaha melepaskan diri dari penguntitan si kakek.

Kudanya si naga putih sakti adalah satu di antara kelima kuda ternama di dunia ini, sehari mampu berlari delapan ratus li jauhnya, sekarang kuda itu dilarikan sepenuh tenaga, tentu saja secepat terbang dan sukar disusul.

Waktu tengah hari dia sampai di Tinkang, ia makan siang sekadarnya, lalu menumpang kapal tambangan menyeberang ke utara.

Sepanjang jalan ia selalu berpaling dan menoleh, namun tidak melihat dibuntuti orang, maka ia tidak membedal kudanya lagi melainkan dilarikan dengan kecepatan umum saja.

Di bawah suara berdetak kaki kuda, perlahan sang surya sudah hampir terbenam di ufuk barat, senja sudah tiba.

Namun sejauh mata memandang hanya hutan belukar belaka, sama sekali tidak tertampak rumah penduduk, apalagi kota.

It-hiong tahu besar kemungkinan malam ini harus dilalui di bawah alam terbuka. Namun hal ini tidak menjadi soal baginya. Terkadang dia malah suka bermalam di alam terbuka, sebab bermalam di alam terbuka juga ada semacam kebaikan, yakni dapat menikmati ketenangan dan bebas dari gangguan apa pun, ketenangan yang tidak mungkin terdapat bila dia bermalam di hotel.

Ia meneruskan perjalanan ke depan. Tidak lama kemudian malam pun tiba.

Bulan sabit sudah menghias di langit, serupa alis lentik melintang di ujung langit yang biru lembayung, tampaknya begitu terang dan bersih namun tetap sukar menghalau kegelapan di permukaan bumi ….

Beberapa puluh li sudah dilalui lagi, tiba-tiba di kaki gunung di depan sana muncul setitik cahaya. Itulah cahaya lampu.

Setelah sekian lama akhirnya ditemui rumah penduduk.

Tapi hal ini tidak menimbulkan pikiran It-hiong untuk minta memondok di rumah penduduk itu, sebelum ini dia juga sering kemalaman di tengah perjalanan, tapi kecuali kehujanan biasanya dia tidak suka mohon memondok di rumah orang, soalnya dia tidak biasa tidur di rumah orang yang tidak dikenalnya.

Lantaran itulah setitik cahaya lampu di kaki gunung sana dianggapnya seperti tidak dilihatnya, ia melanjutkan perjalanan ke depan mengikuti jalan itu.

Tidak lama kemudian sampailah di kaki gunung. Mendadak ia menahan kudanya dan memandangi hutan cemara yang lebat di lereng gunung, gumamnya perlahan, “Ehm, sungguh indah pemandangan tempat ini!”

Memang betul, kaki gunung dengan lerengnya yang lebat terasa tenang dan keramat. Dilihatnya pula cahaya lampu yang menembus dari balik hutan, maka ia dapat memastikannya bukan rumah penduduk biasa melainkan sebangsa rumah berhala, biara atau kelenteng.

Maka ia memutuskan akan melihat ke dalam hutan sana, jika biara atau kelenteng ia mau minta bermalam di situ.

Ia melompat turun dan menuntut kudanya ke dalam hutan, dilihatnya sebuah jalan kecil berbatu, ia menyusuri jalan itu, kira-kira seratus langkah jauhnya, benar juga terlihat sebuah kelenteng.

Dilihatnya bangunan kelenteng ini cukup megah, bangunan induknya terdiri dari tiga deret, di pintu gerbang melintang sebuah pigura dengan tiga huruf besar, cuma lantaran sudah terlalu tua sehingga apa tulisan itu tidak terbaca lagi.

Ia mengamat-amati keadaan sekitarnya, lalu menambat kudanya di dahan pohon dan mendekati kelenteng itu.

Setiba di depan undak-undakan baru dapat terlihat jelas tulisan pada pigura itu, kiranya “Sian-li-bio” adanya, yaitu kelenteng dewi kahyangan.

Seketika tersembul senyuman It-hiong, pikirnya, “Bagus sekali, mohon bermalam pada dewi kahyangan tentu rasanya lain daripada yang lain.”

Segera ia mendekati undak-undakan dan masuk ke halaman kelenteng.

Ruangan pendopo kelenteng tampak sangat luas, yang dipuja ternyata benar sebuah patung Sian-li atau dewi. Di atas meja sembahyang ada dua lentera gelas. Lantai tersapu resik, melihat keadaannya jelas kelenteng ini terawat dengan baik.

Ia mendekati meja sembahyang dan coba mengamat-amati patung dewi itu, ia merasa kecantikan patung yang keramat itu tidak lebih menggiurkan daripada kecantikan perempuan biasa yang genit, maka ia tidak tertarik, ia coba berdehem perlahan, lalu berseru, “Sepada! Permisi!”

Terdengar suara seorang tua mengiakan dan muncul.

Usia kakek ini antara 63-64 tahun, muka bersih dan agak kurus, di bawah dagu terpiara secomot janggut serupa janggut bandot, berbaju warna kelabu, tampaknya seorang tua yang ramah.

It-hiong memberi salam kepadanya dan bertanya; “Apakah Lotiang (bapak) ini penghuni kelenteng ini?”

“Betul,” jawab si kakek sambil membalas hormat. “Apakah Kongcu bermaksud sembahyang?”

“Sesungguhnya aku kemalaman dalam perjalanan dan bermaksud memondok semalam di sini, entah boleh tidak?”

“Baik, cuma Kongcu harus permisi dulu kepada Sian-li, beliau adalah tuan rumah di sini,” kata si kakek dengan kocak.

“Lotiang she apa?” tanya It-hiong.

“She Ing,” jawab si kakek sambil menyulut tiga batang hio atau lidi dupa dan diberikan kepada anak muda itu, tanyanya dengan tertawa, “Kongcu sendiri she apa dan bernama siapa?”

“Aku she Liong bernama It-hiong,” jawab It-hiong sambil menerima dupa itu. “Sekarang harus kukatakan apa kepada Sian-li?

“Katakan saja engkau kemalaman dalam perjalanan dan mohon diperkenankan memondok semalam di kelenteng ini, selain itu kau pun boleh menyatakan sesuatu nazar.”

“Nazar apa?” tanya It-hiong.

“Nazar apa saja sesuai kehendakmu, boleh kau mohon kepada Sian-li,” ujar si kakek dengan tertawa. “Apa Kongcu sudah berkeluarga?”

“Belum,” jawab It-hiong.

“Jika begitu boleh engkau memohon semoga Sian-li memberkati engkau seorang istri yang cantik dan bijaksana,” kata si kakek. “Sian-li kami sangat keramat, setiap permohonan pasti terkabul.”

“Haha, usul bagus, biar kumohon seperti ajaranmu,” seru It-hiong tertawa. Lalu ia menghadap patung Sian-li dan hendak sembahyang.

“Eh, lepaskan dulu barang bawaanmu, di sini tak ada orang jahat yang akan merampas barangmu, jangan kau pegang begitu.”

“Ya, betul juga,” ujar It-hiong, lalu ia menaruh ransel dan baju luar yang menutupi peti hitam itu di lantai.

Ia mulai sembahyang dan berdoa, “Sian-li yang mulia, hamba Liong It-hiong kemalaman dalam perjalanan, terpaksa mohon memondok semalam di sini, bila ada tindakanku yang kasar mohon diampuni. Selain itu, konon setiap permohonan kepada Sian-li tentu dikabulkan, sebab itulah hamba mohon diberkahi selekasnya mendapatkan seorang istri yang cakap dan bijaksana, untuk itu sebelumnya hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih.”

Habis sembahyang ia tancapkan lidi dupa di dalam Hiolo (pot lidi dupa).

Melihat pergelangan tangan kiri anak muda itu terdapat rantai dengan sebuah kotak, kakek itu melongo heran, tanyanya, “Eh, barang apakah pada tanganmu itu!”

It-hiong memutar pergelangan tangan sehingga kotak hitam terjulur ke bawah, katanya dengan tertawa, “Sebuah mestika, menarik bukan!”

Melihat barang itu terbelenggu di pergelangan tangannya, si kakek tambah heran, tanyanya pula, “Hei, mengapa diborgol cara begitu!”

“Dengan begini supaya tidak dapat dicuri orang,” tutur It-hiong.

“Memangnya apa isi kotak itu?” tanya si kakek dengan geli.

“Maaf, tak dapat kukatakan.”

“Meski tak dapat hilang karena dibelenggu pada tanganmu, tapi kan tidak sedap dipandang?” ujar si kakek.

“Memang betul tidak sedap dipandang, makanya kututupi dengan baju tadi,” kata It-hiong sambil berjongkok mengambil ransel dan baju luar tadi serta disampirkan lagi di pundak.

“Kongcu hendak menuju ke mana?” tanya si kakek.

“Cap-pek-pan-san,” jawab It-hiong.

“Apa sangat jauh?”

“Ya.”

“Sudah makan malam belum?”

“Belum, namun siang tadi aku sudah makan dua kali lipat termasuk makan malam, maka tidak terasa lapar,” jawab It-hiong dengan tertawa.

“Di sini tersedia mi, bila Kongcu mau boleh kubuatkan semangkuk.”

“Tidak, Lotiang jangan repot, sungguh aku tidak lapar. Terima kasih,” lalu ia menuding ke luar kelenteng dan menyambung, “Kudaku tertambat di bawah pohon sana, tidak menjadi soal bukan?”

“Rasanya tidak apa-apa, cuma tak berani kujamin pasti takkan dibawa lari orang yang kebetulan lewat. hendaknya Kongcu sendiri hati-hati sedikit.”

“Kudaku itu cukup cerdik, bila didekati orang yang mencurigakan segera akan meringkik,” tutur It-hiong dengan tertawa.

“Wah, tentu seekor kuda mestika,” ujar si kakek.

“Ya, di antara sejenisnya kudaku memang cukup ternama ….” ia memandang ke kanan dan ke kiri sekejap, lalu menuding pojok ruangan dan berkata, “Boleh kutidur saja di situ.”

“O, tidak, di belakang masih ada kamar kosong, silakan Kongcu ….”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar di luar kelenteng ada teriakan orang, “Tolong … tolong ….”

Dari suaranya dapat diketahui seorang perempuan muda.

Tanpa pikir It-hiong berlari keluar, sekilas tertampak dari dalam hutan di depan sana berlari keluar seorang gadis, di belakangnya mengejar seorang lelaki berkepala kecil dan bermata tikus.

Waktu lari keluar hutan, jarak lelaki itu tinggal beberapa langkah saja di belakang si gadis, saat itu dia lagi menjulurkan tangan hendak mencengkeram punggung si gadis. Kelihatan dia menyeringai seram, serupa seekor serigala lapar hendak menerkam ayam.

Cepat Liong It-hiong melompat ke halaman di depan kelenteng sambil membentak, “Hai, berhenti! Kau mau apa?!”

Melihat ada orang keluar dari kelenteng, lelaki bermuka tikus itu kaget dan tidak berani menguber lagi, cepat ia putar haluan dan lari masuk lagi ke dalam hutan.

Gadis itu terus berlari ke depan Liong It-hiong, lalu duduk lemas di situ sambil menangis.

Usianya antara 17-18 tahun, meski pakaiannya tidak begitu baik, namun wajahnya sangat cantik.

Cepat It-hiong menghiburnya, “Jangan menangis, nona, orang itu sudah kabur. Sesungguhnya apa yang terjadi?”

“Dia … dia ….” gadis itu menangis sedih sehingga tidak lancar bicaranya.

“Dia siapa dan apamu?” tanya It-hiong.

“Aku tidak kenal dia, se … sepanjang jalan dia mengintil di belakangku, tadi dia … dia hendak menggangguku.”

“Ah, kiranya seorang pencoleng saja,” kata It-hiong. “Jangan khawatir, toh nona belum sampai terganggu. Marilah, silakan mengaso di dalam kelenteng saja.”

Si gadis mengusap air mata, katanya sambil merangkak bangun, “Aku kehilangan ranselku.”

“Kehilangan?” It-hiong menegas.

“Kusangka dia hendak merampas barangku, maka kubuang ranselku, siapa tahu bukan itu yang diinginkannya ….”

“Kau buang di mana?”

“Di tengah jalan.”

“Jauh tidak dari sini?”

“Aku … aku tidak tahu jelas.”

“Berisi barang apa ranselmu?”

“Ada belasan tahil perak dan beberapa potong pakaian, itulah seluruh milikku.”

“Jangan khawatir, nanti kubereskan, lekas masuk saja ke dalam.”

Si nona coba mengamat-amati dia, tertampil rasa curiganya, “Siapa engkau?”

“Orang lalu dan memondok di sini.”

“Apa … apa dapat kupercayaimu?” kata si gadis sangsi.

It-hiong menuding si kakek yang berada di belakangnya dan berucap, “Umpama engkau tidak percaya padaku kan dapat memercayai bapak ini, dia pengurus kelenteng ini.”

Keterangan ini membuat gadis itu tidak ragu lagi, segera ia melangkah ke dalam kelenteng.

Si kakek mengambilkan sebuah bangku dan menyuruh si nona duduk, lalu bertanya, “Sesungguhnya apa yang terjadi tadi?”

Dengan wajah yang masih menampilkan rasa takut si nona bertutur, “Tadi di tengah jalan kulihat dibuntuti orang itu, aku ketakutan dan cepat berlari ke sini, melihat aku lari segera ia pun mengejar.”

“Mengapa nona menempuh perjalanan malam sendirian?” tanya pula si kakek.

Mata si nona menjadi merah dan menangis sedih lagi.

“Jangan menangis,” bujuk si kakek. “Ada urusan apa, coba ceritakan kepada kami, mungkin kami dapat membantumu.”

“Aku … aku bernasib malang ….” tutur si nona dengan menangis.

“Siapa namamu?” tanya si kakek.

“Ni Beng-ay.”

“Penduduk mana?”

“Tan-yang.”

“Mengapa penduduk daerah Kanglam lari ke daerah utara sungai sini?”

Kembali si nona menangis sedih.

“Ah, tentu karena berbuat sesuatu, maka diusir orang tua,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Omong kosong, bukan begitu halnya,” ujar si nona yang mengaku bernama Ni Beng-ay itu.

“Habis bagaimana urusannya?” tanya It-hiong.

“Ayahku sudah lama meninggal,” tutur Beng-ay dengan menangis, “ibu kawin lagi, ayah tiriku itu ….”

“Ayah tirimu jahat?” tukar It-hiong.

“Bahkan sangat busuk,” kata Beng-ay. “Dia tidak bekerja, sepanjang hari hanya berjudi dan minum arak, kalau tidak punya duit lantas memeras ibuku ….”

“Ibumu punya duit?” sela It-hiong.

“Tidak, terpaksa ibu bekerja, mencuci dan mengasuh anak, menjadi babu orang, upah yang didapat ibu dibuat foya-foya ayah tiriku. Karena terlampau kerja keras, tahun lalu ibu jatuh sakit dan meninggal ….”

Bertutur sampai di sini kembali ia menangis sedih lagi.

Cepat It-hiong membujuk, “Jangan menangis, jangan menangis! Lalu bagaimana?”

“Setelah ibu meninggal, aku lantas dipaksa mencarikan duit baginya,” tutur Beng-ay pula. “Aku cuma dapat mencuci pakaian dan tidak sanggup mengasuh anak, maka tidak banyak duit yang kuperoleh ….”

“Tentu saja, engkau masih gadis, mana dapat menyusui anak orang,” kata It-hiong. “Kemudian bagaimana?”

“Setengah bulan yang lalu, tetangga kami Liok-toama mengisiki aku, katanya ayah tiriku bermaksud menjual diriku kepada rumah pelacuran, maka aku dianjurkan lekas minggat. Sebab itulah pada waktu dia keluar rumah aku lantas melarikan diri.”

“O, kasihan,” ucap si kakek. “Dan sekarang kau hendak ke mana?”

“Menurut cerita ibu, ada seorang kakak ibu tinggal di kota Wanpeng daerah Hopak, maka ingin kumenumpang di tempat paman itu.”

“Sungguh kebetulan, aku juga akan menuju ke Hopak,” kata It-hiong. “Jika begitu besok bolehlah nona berangkat bersamaku saja.”

“Apa betul?” terbeliak sinar mata Ni Beng-ay.

“Betul,” ucap It-hiong dengan pasti.

Rupanya si kakek meragukan maksud It-hiong itu, bukan mustahil anak muda itu akan menculik si nona, keningnya bekernyit, katanya, “Tadi kudengar kau bilang hendak ke Cap-pek-pan-san segala, mengapa sekarang berubah menjadi kota Wanpeng di Hopak?”

“Cap-pek-pan-san itu terletak di dekat Wanpeng,” ujar It-hiong dengan tertawa.

“Betul?” si kakek menegas.

“Di depan Sian-li masakah aku berani berdusta?” sahut It-hiong sambil menunjuk patung yang dipuja itu.

Karena jawaban ini, hilanglah rasa sangsi si kakek, ia tersenyum puas, katanya, “Jika demikian kalian boleh berangkat bersama …. Ah, apa kataku, Kongcu, bukankah Sian-li kita sangat keramat, sudah terbukti bukan?”

“Ya, ya, betul, memang setiap permohonan pasti terkabul,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Tapi ingat, Kongcu, hendaknya berlaku dengan baik-baik, kalau sembarangan tentu akan menerima ganjaran setimpal,” ucap si kakek dengan sungguh-sungguh.

“Tentu, tentu!” sahut It-hiong.

Ni Beng-ay memandang mereka dengan bingung, tanya, “Hei, apa yang kalian katakan?”

“O, tidak bicara apa-apa, kami mempersoalkan urusan lain,” jawab si kakek. “Eh, nona tentu sudah lapar, biar kubuatkan semangkuk mi untukmu?”

Segera ia menuju ke belakang.

Sesudah si kakek pergi, dengan malu-malu barulah Beng-ay tanya It-hiong, “Maaf, siapakah nama Kongcu?”

“Liong It-hiong.”

“Untuk apa Kongcu pergi ke Wanpeng?”

“Ada orang minta bantuanku menyampaikan sesuatu kepada seorang di Cap-pek-pan-san.”

“Sesuatu apa?” tanya Beng-ay.

It-hiong mengangkat baju yang tersampir di pundaknya dan menuding peti hitam, katanya, “Barang ini.”

Melihat kotak itu berantai dan terbelenggu pada pergelangan tangan anak muda itu, mata Beng-ay terbelalak, tanyanya heran, “Hei, barang apakah itu?”

“Terus terang, aku pun tidak tahu.”

“Engkau tidak tahu?” Beng-ay menegas.

“Ya, begini kejadiannya,” tutur It-hiong. “Ketika di luar kota Kim-tan, tanpa sengaja kupergoki seorang yang terluka parah dari hampir mati ….”

Begitulah ia lantas menceritakan apa yang dialaminya. Baru selesai bercerita, si kakek pun muncul kembali dengan membawa dua mangkuk mi kuah yang masih panas.

Ia menaruh kedua mangkuk mi di atas meja, lalu berkata, “Mari, silakan, makanlah mumpung masih panas. Inilah mi kuah yang kubuat sendiri, cuma tanpa bumbu, harap dicicipi.”

Dengan tertawa It-hiong berkata kepada Beng-ay, “Lotiang ini sangat baik hati, kalau kita menolak rasanya kurang hormat, marilah makan saja.”

Maka kedua orang lantas duduk dan mulai makan mi.

Menyaksikan kedua muda-mudi itu makan dengan nikmatnya, si kakek bergelak tertawa, “Haha, orang bilang kalau memang jodoh di mana pun bertemu. Tampaknya pemeo ini memang tidak salah. Kulihat … haha, kulihat ….”

“Eh, Lotiang,” sela It-hiong sengaja. “Tampaknya engkau jauh lebih gembira daripadaku. Apakah takkan keliru urusan ini?”

“Tidak, pasti tidak keliru!” seru si kakek. “Jika Sian-li sudah memberi jasa baiknya, kutanggung tidak keliru lagi.”

“Hei, apa, yang kalian bicarakan?” kembali Beng-ay tanya dengan bingung.

“O, tidak bicara apa-apa, cuma bergurau,” ujar It-hiong.

Si nona memandang si kakek dan bertanya, “Losiansing, bolehkah kumemondok satu malam di sini?”

“Tentu saja boleh,” jawab si kakek. “Kau dan Liong-kongcu ini boleh bermalam di sini, besok berangkat bersama ke Wanpeng.”

Beng-ay berpaling dan tanya It-hiong, “Aku tidak tahu berapa jauh dari sini ke Wanpeng. Apakah Liong-kongcu tahu?”

“Tahu,” It-hiong mengangguk.

“Wah, bagus sekali,” seru Beng-ay girang. “Selanjutnya di tengah perjalanan mohon Kongcu suka banyak menjaga diriku, bila bertemu dengan paman akan kuminta beliau memberi tanda terima kasih padamu.”

“Ah, tidak perlu, tidak perlu,” seru It-hiong.

Sembari bicara, tahu-tahu semangkuk mi sudah habis termakan.

“Sekarang ada satu kesulitan,” kata si kakek. “Di sini cuma ada sebuah kamar kosong ….”

Cepat It-hiong menanggapi, “Kamar kosong itu boleh dipakai nona Ni saja, biar kududuk saja di pojok ruangan sini.”

“Tempat tidurku terlampau kecil, kalau tidak tentu dapat Kongcu tidur bersamaku,” ujar si kakek.

“Jangan sungkan,” ujar It-hiong. “Biarlah aku mengawasi saja di ruangan sini, sekalian menjaga kudaku.”

“Jika demikian silakan nona laut masuk ke belakang saja,” kata si kakek kepada Ni Beng-ay.

“Di sini tidak ada orang jahat kan!” tanya si nona sambil berbangkit.

“Tidak, tidak ada, jangan khawatir,” kata si kakek.

Lalu si nona masuk ke dalam bersama si kakek.

Menyaksikan mereka masuk ke belakang, pandangan It-hiong beralih ke patung Sian-li yang dipuja itu sambil garuk-garuk kepala, gumamnya dengan tertawa, “Sian-li ini memang keramat sekali, sungguh dia sangat cantik ….”

Tidak lama kemudian si kakek sudah datang lagi dan memberi tahu, “Dia sudah tidur.”

“Sungguh kasihan,” ujar It-hiong. “Tapi nyalinya juga besar, dia berani menempuh perjalanan sendirian di tengah malam buta.”

“Ya, Kongcu harus menjaganya dengan baik,” ujar si kakek.

“Tentu saja,” kata It-hiong.

“Harus kau bawa dia menemukan pamannya baru boleh kau tinggalkan dia, jangan ditinggal begitu saja setiba di Wanpeng,” pesan orang tua itu.

“Kutahu,” jawab It-hiong.

Dengan suara tertahan si kakek tanya dengan tertawa, “Kau lihat bagaimana wajahnya?”

“Belum pernah kulihat nona secantik ini,” kata It-hiong terus terang.

“Usianya paling-paling baru 17-18 tahun.”

“Ya,” It-hiong mengangguk.

“Jika engkau menaksir dia, hendaknya sepanjang jalan kau jaga dia baik-baik, dengan begitu baru dapat kau rebut hatinya.”

“Wah, tampaknya Lotiang juga cukup berpengalaman,” It-hiong berseloroh.

Kakek itu tertawa, “Terus terang, waktu mudaku juga sok romantis, cuma sayang aku terlampau jual mahal, akhirnya hidup hampa pada hari tua seperti sekarang. Makanya ingin kuberi nasihat padamu, orang muda hendaknya jujur dan setia dalam hal cinta, jangan sekali-kali sayang bermula dan ditinggal kemudian, bikin susah orang lain juga bikin runyam diri sendiri.”

“Betul,” It-hiong mengangguk.

“Dan kelak bila kalian jadi menikah, janganlah lupa kalian mengirim undangan kepadaku.”

“Tentu, tentu,” jawab It-hiong tertawa.

“Baiklah, sudah jauh malam, silakan istirahat, aku pun mau tidur.”

Baru saja si kakek mau masuk lagi, tiba-tiba terlihat Ni Beng-ay muncul dari pintu samping, keruan ia melenggong, “Eh, nona belum lagi tidur?”

Beng-ay mendekati mereka dan memainkan ujung baju, jawabnya dengan malu-malu, “Aku … aku tidak … tidak berani tidur di kamar itu ….”

“Memangnya kenapa?” tanya si kakek.

“Di dalam kamar banyak tikus berkeliaran,” tutur si nona.

Si kakek tertawa, “Ai, seorang nona besar masakah takut pada tikus?”

“Aku justru takut tikus,” kata Beng-ay.

“Tikus tidak menggigit manusia, bila kau gertak tentu dia lari terbirit-birit.”

Beng-ay tertawa likat, “Sesungguhnya aku rada takut tidur sendirian, maka … maka kupikir lebih baik duduk bersama Liong-kongcu di sini sampai pagi.”

“Eh, mana boleh?” ujar si kakek.

“Jika nyali nona ini memang kecil, biarkan dia duduk di sini bersamaku saja,” kata It-hiong. “Toh duduk bersandar dinding juga dapat tidur, sama saja seperti tidur di ranjang.”

“Jika begitu boleh kau rebah di bangku panjang ini,” kata si kakek, lalu ia memindahkan sebuah bangku panjang dari ruang samping ke situ, ditaruhnya dekat tembok, lalu berkata pula, “Hawa sekarang tidak dingin, boleh juga tidur di atas bangku.”

“Terima kasih, Lotiang,” kata Beng-ay. “Biarlah kududuk saja. silakan engkau pulang ke kamarmu.”

“Baiklah, aku tidak menemani kalian lagi,” ujar si kakek dengan tertawa. “Bila kalian tidak dapat pulas, silakan mengobrol saja.”

Lalu ia masuk lagi ke belakang.

Si nona memandang It-hiong sekejap, katanya dengan malu-malu, “Aku ikut … ikut duduk di sini takkan mengganggu dirimu?”

“Tidak,” jawab It-hiong dengan tersenyum.

Beng-ay duduk di atas bangku, ucapnya pula, “Sesungguhnya aku tidak berani tidur sendirian di kamar, maka … maka ….”

“Tidak apa, sungguh tidak menjadi soal,” sela It-hiong.

“Ranselku hilang, kau bilang hendak menyelesaikannya bagiku, cara bagaimana akan kau selesaikan?” tanya pula si nona.

“Setiba di kota besok akan kubelikan beberapa potong baju bagimu, mengenai biaya dalam perjalanan biarlah semua atas bebanku.”

“Wah, tidak enak rasanya.”

“Tidak apa,” kata It-hiong.

Beng-ay meliriknya sekejap dengan rasa terima kasih, “Ai, engkau ini orang baik, kelak pasti akan kubalas budimu.”

“Jangan sungkan,” ujar It-hiong tertawa.

Perlahan si nona menghela napas, lalu berucap dengan terharu, “Manusia memang aneh, ada sementara orang sangat baik, ada pula yang jahat, ternyata begini banyak bedanya ….”

“Kau bilang aku ini orang baik?” tanya It-hiong.

“Ya, belum pernah kulihat orang baik serupa dirimu. Juga orang tua tadi, kalian semua sangat baik.”

It-hiong angkat pundak, “Memang betul orang tua tadi sangat baik, tapi aku kan belum pasti bagimu, aku pernah membunuh orang.”

Sembari bicara ia tepuk-tepuk pedang yang tergantung pada pinggangnya.

Seperti baru sekarang si nona melihat pedangnya, dia kelihaian rada jeri, katanya, “Apa benar engkau pernah membunuh orang?”

“Betul,” It-hiong mengangguk.

“Engkau mahir Kungfu?” tanya pula si nona.

“Ya, lumayan,” kembali It-hiong mengangguk.

“Orang yang kau bunuh tentu orang busuk semua bukan?” tanya si nona setelah memandangnya sejenak dengan termangu-mangu.

“Tidak tentu,” sahut It-hiong sambil menggeleng. “Di dunia ini orang baik dan orang jahat terkadang sangat sukar dibedakan. Orang yang kubunuh semuanya kuanggap pantas dibunuh, mengenai mereka sesungguhnya orang baik atau orang jahat tidak kupedulikan.”

“Aku tidak paham ucapanmu,” kata si nona.

“Umpamanya begini,” tutur It-hiong dengan tersenyum. “Misalnya sekarang mendadak datang satu orang, dia hendak membunuhku, ingin merampas kotak hitam yang terbelenggu di tanganku ini, demi membela diri, terpaksa kubunuh dia daripada aku sendiri terbunuh, tentunya aku tidak peduli lagi dia orang baik atau orang busuk.”

“Apakah ada orang hendak merampas kotakmu?”

“Ya, sangat mungkin.”

“Yang suka merampas barang milik orang lain kebanyakan pasti orang jahat.”

“Ini pun tidak pasti,” kata It-hiong. “Sampai sekarang aku sendiri tidak tahu persis apakah orang yang memberikan peti ini kepadaku itu orang baik atau jahat, sebab itulah aku pun tidak jelas orang yang akan merampas petiku ini baik atau busuk.”

“Jika begitu mengapa kau sanggupi akan mengirimkan peti ini ke Cap-pek-pan-san?” tanya Ni Beng-ay.

“Sebenarnya aku tidak pernah menyanggupi dia, tapi mendadak dia membelenggu barang ini pada tanganku,” tutur It-hiong. “Cuma kupikir isi peti ini pasti barang yang sangat penting, jika dia memercayai diriku, terpaksa aku harus memenuhi permintaannya.”

“Kukira engkau ini pasti seorang pendekar budiman bukan?” tanya Beng-ay.

“Entah, aku tidak tahu,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Terkadang kurasakan banyak juga perbuatan busuk yang telah kulakukan.”

“Eng … engkau takkan mengganggu diriku bukan?” Beng-ay menegas dengan rada khawatir.

It-hiong tertawa, “Tidak, takkan kuganggu dulu perempuan baik-baik terkecuali dia yang mengganggu diriku.”

“Kau bilang aku akan mengganggumu?” si nona menegas dengan tertawa malu.

“Semoga tidak,” jawab It-hiong sambil memandangnya sekejap.

Beng-ay menutupi mulutnya yang menguap kantuk dengan lengan baju, lalu berkata, “Sungguh aku ingin tidur.”

“Jika begitu silakan tidur saja,” kata It-hiong.

Beng-ay memandang bangku panjang, katanya sambil menggeleng, “Aku tidak mau tidur di atas bangku ini.”

“Tapi di atas bangku kan lebih baik daripada tidur di lantai.”

“Tidak, aku ingin meniru dirimu,” ujar si nona dengan tertawa.

Lalu ia menyingkirkan bangku itu dan duduk bersandar dinding.

It-hiong lantas memejamkan mata dan tidak bicara lagi.

Melihat anak muda itu memejamkan mata, Beng-ay tidak enak untuk mengajaknya bicara. Tapi setelah duduk diam sebentar, agaknya ia merasa dingin, katanya sambil bersedekap, “Wah, aku … aku rada dingin ….”

Segera It-hiong membuka ranselnya dan mengeluarkan sepotong baju luar serta dilemparkan kepada si nona, katanya, “Tutupkan baju ini di atas tubuhmu, mungkin akan tambah hangat.”

Si nona membentang baju itu dan diselimutkan di atas badan, ia mengangguk kepada anak muda itu, katanya dengan tertawa penuh arti, “Terima kasih.”

It-hiong tidak menjawab, kembali ia memejamkan mata.

Selang sebentar lagi, tubuh si nona tambah melingkar serupa ebi, keluhnya pula, “Ai, tetap merasa rada dingin.”

It-hiong berkata dengan mata tetap terpejam, “Lebih baik kau tidur di dalam kamar saja.”

“Tidak, aku ingin di sini.”

“Jika begitu janganlah berkeluh kedinginan.”

“Baik, aku takkan mengeluh lagi.”

It-hiong lantas menyilakan kedua kakinya dan memusatkan pikiran, bersemadi serupa seorang padri.

Selang tak lama lagi, kembali terdengar suara keluhan, “Oouh ….”

Itulah suara orang yang tak tahan kedinginan.

“Kenapa lagi?” terpaksa It-hiong buka suara.

“O, tidak apa-apa, maaf tidak apa-apa,” cepat Beng-ay menjawab.

“Masih kedinginan?”

“Tid … tidak terlalu dingin ….”

Mau tak mau timbul juga rasa kasihan It-hiong, katanya, “Jika engkau mau, boleh kau rapatkan dirimu kemari, dengan demikian engkau akan merasa lebih hangat sedikit.”

“Ap … apa boleh begitu?” kata si nona dengan ragu.

“Aku sih tidak menjadi soal, terserah padamu,” ujar It-hiong dengan tersenyum.

Muka Beng-ay menjadi merah, “Takkan kau tertawai diriku?”

“Tidak,” jawab It-hiong.

“Antara kita adalah suci bersih, betul tidak?” tanya si nona.

“Betul,” jawab It-hiong pula.

Beng-ay lantas mendekat ke sana dan duduk di sampingnya, katanya dengan perasaan tidak enak, “Maaf, sesungguhnya aku kedinginan, jika kutahu malam hari di sini sangat dingin tentu aku akan pakai baju lebih tebal.”

Mendadak mata It-hiong terbelalak dan memandang ke luar kelenteng, lalu mendesis, “Ssst, ada orang!”

Beng-ay tampak terkejut, katanya dengan gugup, “Hai, sia … siapa?”

“Jangan takut,” ujar It-hiong tertawa. “Tak peduli siapa yang datang, tidak perlu kau takut.”

Dalam pada itu terdengarlah suara “tek-tok-tek ….” beberapa kali, suara tongkat mengetuk tanah.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba muncul seorang pengemis perempuan tua.

Usia nenek pengemis ini ada 60-an, rambutnya yang sudah kelabu tampak semrawut, tubuhnya kurus, matanya celung, membawa tongkat kayu, tampaknya seorang tunanetra alias buta.

Setiba di pintu kelenteng, lebih dulu ia gunakan tongkatnya untuk menjajaki, lalu tangan lain meraba ambang pintu, gumamnya, “Ya, tidak keliru, akhirnya dapat kutemukan juga.”

Habis berucap ia lantas beranjak ke dalam.

Tampaknya ia tidak merasakan ada orang di ruangan pendopo kelenteng, setelah masuk ke dalam, langsung ia merambat ke arah Liong It-hiong dan Ni Beng-ay berada.

“Eh, Toanio (ibu) ini, apa yang kau cari?” tiba-tiba It-hiong buka suara.

Nenek pengemis itu terkejut dan berhenti seketika, tanyanya, “Siapa itu? Engkau ini siapa?”

“Cayhe orang lalu di sini, lantaran kemalaman, maka memondok di kelenteng ini,” jawab It-hiong.

Kelopak mata si nenek pengemis berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “O, kiranya demikian. Aku juga ingin bermalam di sini, dahulu aku sudah pernah berteduh di sini, cukup baik bukan tempat ini?”

“Ya, resik dan terawat,” ujar It-hiong.

Nenek itu berputar ke sebelah sana, lalu duduk berjarak beberapa kaki di kaki tembok, keluhnya, “Ai, sungguh capek sekali.”

“Toanio, engkau bekerja apa?” tiba-tiba Ni Beng-ay bersuara.

Nenek pengemis itu tampak melengak, ia berpaling ke arah si nona dan bertanya dengan heran, “Siapa itu yang bicara?”

“Aku,” jawab Beng-ay. “Aku juga menumpang bermalam di sini.”

Kembali kelopak mata si nenek yang buta itu berkedip, tanyanya, “Engkau seorang nona?”

Beng-ay mengiakan.

Nenek itu tertawa sehingga kelihatan giginya yang besar dan kuning, katanya, “Hehe, dari suaramu kedengarannya umurmu belum ada 20.”

“Betul, tahun ini aku berusia 17,” jawab Beng-ay.

“Apakah engkau dan tuan tadi satu rombongan?”

Kembali Beng-ay mengiakan.

“Kalian bersaudara atau ….”

“Bukan,” potong si nona.

“O, jika bukan saudara, juga bukan suami istri, lantas apa hubungan kalian?” tanya si nenek dengan tertawa.

“Ah, jangan kau tanya,” ujar Beng-ay.

Kembali si nenek tertawa, “Hehe, kutahu, kalian ini pasangan yang minggat bersama, betul tidak?”

“Hus, jangan sembarangan omong!” omel si nona.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: