Kumpulan Cerita Silat

10/01/2008

Perguruan Sejati (08)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:58 pm

Perguruan Sejati (08)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Surat itu berbunyi sebagai berikut:

Kepada Tiat Giok Lin yang terhormat.

Mengingat bahwa keluarga Tiat turun temurun sebagai orang-orang yang terhormat dan dimalui oleh kawan maupun lawan. Tapi sungguh diluar dugaan, engkau sebagai ahli waris keluarga Tiat yang kesohor diempat penjuru dunia, waktu mengadakan perjalanan ke propinsi Hoo pak bisa melakukan perbuatan mesum yang memalukan. Engkau telah memperkosa seorang gadis yang suci bersih secara tak tahu malu, setelah melanggar kehormatan gadis itu engkaupun merasa malu dan ingin menutup rahasia busukmu dengan membunuh gadis itu. Perbuatan ini bukan saja memalukan juga dikutuk Tuhan tapi heran, kenapa engkau masih ada muka hidup di dunia ini?

Mula pertama kami tidak percaya terjadi hal ini, setelah melakukan penyelidikan secara seksama baru mempercayainya. Dan sekalian golongan Kang Ouw pun sudah mengetahui perbuatan busukmu ini! Segala keharuman keluarga Tiat habis ditanganmu, untuk mencuci bersih nama keluarga Tiat sebaiknya hukumlah dirimu seadil-adilnya.

Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan, perkataan “kami” disurat itu jelas bukan seorang saja yang menulis, tapi mewakili lebih dari seorang.

Selesai membaca surat itu, Tiong Giok jadi berkeringat , pertama-tama terbayang olehnya seorang tua di dalam penjara tanah Pok Thian Pang yang bernama Hauw Sian, yang diketahui pula sebagai Tiat Giok Lin adanya! Ia sudah bunuh diri, kenapa masih terdapat dipenjara tanah itu? Keheranan ini sementara waktu belum bisa dipecahkan Tiong Giok, dengan terpekur ia mengawasi surat itu sekian lamanya.

“In Kongcu apa yang engkau pikirkan?”

“Dapatkah surat ini kupinjam untuk sementara waktu?”

“Apa gunanya bagimu?”

“Besar gunanya, kata In Tiong Giok, dengan surat ini mungkin bisa membongkar sesuatu peristiwa misterius di dunia Kang Ouw. Dan bisa juga membongkar kejahatan Pok Thian Pang serta mengungkap teka-teki kematian Tiat Giok Lin dan hilangnya Ang Ek Fan!”

“Adakah soal Sin kiam sian eng bertalian dengan Pok Thian Pang?”

“Bukan saja berhubungan dengan Pok Thian Pang bahkan kematian dari ibumu bersangkutan pula dengan Pok Thian Pang….”

“Benarkah?”

“Baik kuterangkan bahwa pembunuh ibumu itu yang bernama Ong Jiak Tong kini berada dimarkas pusat Pok Thian Pang, ia menjadi sebagai pengurus penjara tanah disana.”

“Pantasan ayahku mencari kesana kemari tidak menemuinya, kiranya ia bersembunyi di Pok Thian Pang!”

“Kini sudah kuterangkan dimana beradanya Ong Jiak Ttong,” kata In Tiong Giok “tapi jangan bergegas hendak membunuhnya, karena kekuatan Pok Thian Pang besar sekali, salah-salah bukan saja sakit hati ini tidak terbalas, juga bisa membuat ayahmu mendapat celaka.”

“Bagaimanapun aku tak takut!” kata Ciu Kouw, “jika bangsat itu dapat kutemui akan kubeset kulitnya dan kutusuk jantungnya agar sakit hati ibuku terbalas.”

Saat inilah dari arah jendela terdengar suara berdehem sekali dan disusul perkataan: “Engkau cukup mempunyai ambekan untuk menuntut balas, tapi perbuatanmu kini apa? Membohongi ayah dan melindungi pemuda ini, apa yang harus kukatakan atas kelakuanmu ini?”

“Siapa?” bentak Ciu Kouw.

“Hm, anak yang baik, sudah punya pacar sampai A-ie sendiri dikenal!” Seiring dengan habisnya suara dari luar masuk Hoo Su Kouw sambil tersenyum mengejek.

Ciu Kouw segera keluar, In Tiong Giok menyimpan surat itu lalu menyusul keluar.

Hoo Su Kouw bertolak pinggang sambil tersenyum-senyum. “Tadi siang kulihat perabotan berantakan, katanya engkau habis makan dan belum sempat memberesi, tak tahunya habis menjamu kekasih? In Kongcu sudah lama tidak ketemu, baik-baik sajakah? Tak sangka kita bisa bertemu disini bukan?”

“Hoo Su Kouw antara kita berdua tidak ada permusuhan apa-apa, kenapa engkau selalu memusuhi diriku terus? Apa yang engkau kehendaki, yakni buku Keng thian cit su sudah kau miliki, kenapa masih mendesak terus kepadaku?”

“Ah yang benar saja, sejak kapan aku memusuhi terus padamu?” kata Hoo Su Kouw. “Benar aku telah mendapatkan buku Keng thian cit su tapi bukan sendiri, biar begitu aku mengucapkan banyak terima kasih juga padamu.”

“Engkau merasa berterima kasih padaku, kenapa mendesakku pula, apa maksudmu?”

“Sejujurnya buku itu terlalu dalam dan rumit, kumohon bantuanmu untuk memberi petunjuk!” kata Hoo Su Kouw. “sedangkan pembicaraanmu barusan sudah kudengar semua, jika engkau mau membantuku, tidak akan kuutar-utarkan keluar soalmu itu, bagaimana?”

Ciu Kouw memandang keluar rumah dan mengetahui yang kembali kerumah hanya Hoo Su Kouw sendiri, maka itu melihat keadaan ini membuatnya merasa lega, tiba-tiba saja ia menyerang Hoo Su Kouw dengan mendadak sambil berseru keras: “In Kongcu, lekas pergi!” Gerakannya ini sudah jelas, asal In Tiong Giok bisa pergi, tak segan-segan membunuh Hoo Su Kouw.

Hoo Su Kouw sudah biasa berlaku licik, dengan sendirinya, siang-siang telah menaruh curiga, begitu Ciu Kouw bergerak, ia mencelat mundur. Wajahnya tampak menjadi masam. “Ciu Kouw tindakanmu ini salah besar! Aku tidak memecahkan soal In Kongcu bersembunyi dikamarmu pada mereka, tapi kenapa engkau menurunkan tangan jahat padaku? Apakah engkau menghendaki aku berteriak memanggil ayahmu?”

“Sampai sekarang kau masih mengajak ayahku untuk melakukan kejahatan, untuk ini tidak akan kuberi ampun!” kata Ciu Kouw yang terus menyerang dengan gencar, serangan putrid Kui ciu kim to cukup hebat, Hoo Su Kouw dibuatnya mengelak kesana kemari tanpa berdaya melakukan balasan, saking terdesak Hoo Su Kouw mencelat kebelakang dan terus mengancam. “Jangan kira aku takut, jangan katakana aku kejam,” katanya dan terus bersiul keras. Berbareng dengan itu ia menghunus pedang melakukan serangan.

Ciu Kouw tidak gentar menghadapi senjata, dengan gagah ia melawan, disamping itu ia menyuruh Tiong Giok lekas berlalu.

“Hm, jangan harap engkau bisa meloloskan diri!” Tak lama lagi mereka datang! Ciu Kouw apa yang hendak engkau katakana pada ayahmu?” kata Hoo Su Kouw.

Ciu Kouw membelaku mati-matian, mana boleh aku berlalu begitu saja, Tiong Giok, perlahan-lahan ia menghampiri medan perkelahian.

“In Kongcu lekas pergi!” desak Ciu Kouw.

“Aku bisa pergi, tapi akan kubantu dulu memberesi manusia rendah ini!”

“Jangan hiraukan diriku, lekas pergi!”

Hoo Su Kouw mendengar ancaman Tiong Giok menjadi kaget, cepat ia menarik serangan dan terus mabur.

“Celaka!” seru Ciu Kouw sambil memburu.

Tak sangka dalam waktu yang singkat Tiong Giok dapat melakukan satu serangan maut, peluang itu diisi dengan Hiat cie lengnya yang ampuh. Hoo Su Kouw jatuh ambruk, pinggangnya telah tertembus hangus dengan jiwa melayang. Ciu Kouw menjadi bengong menyaksikan kejadian ini. In Tiong Giok sendiri menjadi melongo tak karuan, karena ia sendiri tidak menduga bahwa ilmu Hiat cie lengnya telah maju sampai ketarap itu!

Saat ini suara berkeresek dari kebun jeruk terdengar tegas.

Ciu Kouw menjadi kaget dan cepat-cepat mendesak pemuda kita pergi dari situ.

In Tiong Giok mengangguk dan terus masuk kedalam kebun jeruk.

Tak selang lama Cie Peng Lam dan kawan-kawannya telah sampai didepan gubuk, mereka jadi kaget melihat peristiwa didepan rumah itu. Hoo Su Kouw dengan rambut acak-acakan menggeletak mati, dari pinggangnya terlihat darah mengalir. Disampingnya terlihat Ciu Kouw menggeletak. Cie Peng Lam dengan wajah pucat memeluk puterinya sambil berseru “Ciu Kouw! Ciu Kouw! Siapa yang melukaimu?”

Setelah agak lama Ciu Kouw baru membuka mulutnya, sebelum suaranya keluar, ia menyemburkan darah. “Dia…dia…dia…”

Cie Peng Lam matanya berapi-api, “siapa dia?” desaknya tak sabaran.

Ciu Kouw berlagak megap-megapan dan terus merapatkan matanya tak menjawab. Cie Peng Lam menjadi gusar: “Tak disangka dalam sekejap bisa terjadi kejadian ini!”

“Cie Toako sabarlah, anakmu menderita luka berat juga, sebaiknya diobati lebih dulu dan perlahan-lahan boleh menanyanya,” kata Lo Thian Wie.

“Tak perlu ditanya lagi sudah tentu perbuatan budak she In itu,” kata Lo Thian Beng dari Lo sie ngo houw yang kedua.

“Perkataanmu itu memang benar, karena Hoo Su Kouw terbunuh oleh Hiat cie leng,” kata Ouw Kun San.

Belakangan ini antara Hoo Su Kouw dan Lo Thian Beng sedang hangat-hangatnya main cinta, melihat kekasih terbunuh begitu macam, hatinya merasa disayat-sayat dan ingin menuntut balas saat itu juga. “Sudah tentu bocah itu belum jauh dari sini mari kita kejar!”

Saudara-saudara yang lain membenarkan pendapat saudaranya yang kedua itu, dan siap mau mengejar, saat inilah Ciu Kouw membuka mulut. “Dia…dia…seorang pelajar, masuk kerumah!”

“Apakah binatang itu masih bersembunyi di dalam?” kata Lo Thian Wie.

Perkataan ini membuat yang lain melengak, Lo Thian Beng tanpa berkata lagi menerjang kedalam rumah.

“Lo jie hati-hati, bocah itu cukup lihay!” Ouw Kun San memperingati.

Lo sie ngo houw yang lain cepat melindungi saudaranya yang kedua, melakukan pengepungan pada rumah itu. Tapi apa yang didapat pada gubuk kecil itu, sepotong bayangan manusiapun tidak diketemuinya.

“Ia masuk kerumah dan terus kedapur mencuri makanan! Waktu kupergoki nyatanya adalah orang yang sedang dicari-cari!” kata Ciu Kouw.

“Kenapa tidak sejak tadi engkau terangkan,” kata Cie Peng Lam, “sudah tahu pemuda itu orang yang hendak kita tangkap, kenapa tidak kau tahan!”

“Ia tidak mau, terpaksa kugunakan kekerasan dan terjadi pergumulan denganku, waktu aku terdesak Hoo A ie datang dan rupanya antara mereka telah mengenal satu sama lain .”

“Memang mereka sudah kenal, lalu bagaimana!” desak Cie Peng Lam.

“Hoo A ie menyuruhku jangan bersuara, dan terus berbicara dengan pemuda itu. Meminta agar kesulitan-kesulitan pada buku Keng thian cit su dapat dijelaskan, untuk ini ia berjanji membawa sipemuda meninggalkan tempat yang berbahaya, jika permintaan tidak diluluskan Hoo A ie mengancam akan memanggil tia dan lain-lainnya mengangkap pemuda itu,” Belum pula Ciu Kouw melanjutkan perkataannya Ouw Kun San telah bergelak-gelak. “Ha ha ha tak kira ia mempunyai hati seorang dan menjual kita sekalian untuk kepentingannya sendiri!”

“Tapi kenapa mereka sampai berkelahi dan Hoo Su Kouw mati ditangannya ,” kata Lo Thian Beng membela kekasihnya.

“Pemuda itu tidak melulusi permintaan Hoo A ie dan baru terjadi perkelahian ini!” kata Ciu Kouw.

Lo Thian Beng wajahnya menjadi merah matang, dan terus bungkam tak bersuara lagi.

“Sudah jelas bahwa Hoo Su Kouw mengalami kegagalan dalam usahanya, baru berkelahi, setelah terdesak meminta bantuan pada kita. Untuk mengakhiri perkelahian, pemuda itu baru menggunakan Hiat cie leng,” kata Ouw Kun San.

“Ya, memang begitu,” kata Ciu Kouw, “aku segera membantu Hoo A ie, tapi kena pukulan pemuda itu dampai mulutku berdarah.”

“Sudahlah tak perlu dibicarakan lagi, semua ini gara-gaar Hoo Su Kouw sendiri yang terlalu tamak, dan ia mati atas perbuatannya sendiri, tak perlu kita sesalkan. Tentu bocah itu belum pergi jauh mari kita kejar!” kata Cie Peng Lam,”kearah mana pemuda itu pergi?”

“Sebenarnya ia pergi kesebelah sana, rupanya mendengar suara datangnya ayah dan lain-lain ia buru-buru mengganti arah, terus lari kearah timur!”

“Sudah lamakah?”

“Belum!”

Sing Thian Beng sejak tadi berdiam diri, kini membuka suara. “Menurut hematku, bocah itu tentu masih berada didlam kebun jeruk!”

“Kulihat ia sudah pergi!” kata Ciu Kouw.

“Ya memang engkau melihat ia pergi kekebun jeruk, tapi tidak melihatnya ia keluar dari situ bukan?”

“Setelah kekebun jeruk sudah tentu ia kabur terus bukan?” kata Ciu Kouw.

“Tapi waktu kita kesini, sepanjang jalan tidak melihat seorang keluar dari kebun jeruk itu.” Kata Siang Thian Beng, dan sejak tadi aku tidak campur bicara, karena mendengar terus keadaan dikebun jeruk, sedikitpun tidak ada suara atau gerakan lain, ini menandakan ia sedang bersembunyi!”

“Pendapat Siang heng memang benar, mari kita periksa!” kata Cie Peng Lam.

“Kebun ini begitu besar, jika dilakukan pemeriksaan secara biasa akan memakan waktu lama.” Kata Sing Thian Beng dengan berbisik, “jika ia masih bersembunyi cukup dengan berteriak-teriak membuatnya keluar!”

Mereka segera berseru seperti sibuk memeriksa kebun jeruk itu sambil berteriak-teriak. Benar saja tak selang lama dari dalam kebun itu terddengar bunyi berkeresek.

“Ha ha ha seperti dugaanku semula, mari kita kejar,” kata Sing Thian Beng.

Dengan cepat beberapa orang itu memburu kearah suara, tinggal Ciu Kouw menjadi kuatir atas keselamatan pemuda itu. Ia tahu jika sampai ketangkap hanya kematian yang akan dihadapi Tiong Giok. Benar diluar perkiraannya waktu ia sedang cemas-cemasnya dari kebun jeruk berkelebat sesosok bayangan, yang bukan lain dari pada In Tiong Giok adanya.

“Oh kiranya sura berkeresek itu bukan engkau adanya,” kata Ciu Kouw dengan girang.

“Aku tak sempat melarikan diri dikebun itu,” kata In Tiong Giok, “hatiku tergerak mendengar perkataan Sing Thian Beng, dan kutangkap seekor tikus, lalu kupatahkan kakinya dan mengikatnya di ranting kayu hingga menimbulkan suara berkeresek. Mereka memburu kearah suara dan aku kesini.”

“Akalmu itu hanya bisa menipu mereka sementara saja, begitu mereka tahu pasti akan mencarimu lagi!”

“Kini hampir gelap, sebelum mereka mengetahui aku bisa meloloskan diri.”

“Kenapa engkau tidak segera pergi sekarang juga?”

“Aku bisa lantas berlalu, tapi bagaimana dengan Ku ju kee (ilmu menyiksa diri) yang engkau pakai itu, apakah membuatmu menderita parah?”

“Jangan banyak bicara, aku tak apa-apa, lekaslah pergi, keselamatanmu lebih penting!” desak Ciu Kouw.

“Atas budi pertolonganmu kuhaturkan terima kasih sedalam-dalamnya,” kata In Tiong Giok yang terus meninggalkan Ciu Kouw seorang diri. Gadis itu menjadi terpekur sendir sambil memandang kepergian sipemuda dengan mata mendelong. Saat ini lupa pada dirinya cantik atau buruk, ia seperti mendapat sesuatu entah apa, dan seperti kehilangan juga sesuatu. Air mata? Adalah suara hati! Tak bisa ia melukiskan perasaan hatinya! Ia hanya ingin menangis dan menggunakan air matanya mencuci segala kepenatan hatinya.

Cuaca perlahan-lahan menjadi gelap. In Tiong Giok berlari dengan deras, dalam waktu singkat dua puluh lie telah dilaluinya. Waktu ia menoleh sudah tak melihat lagi kebun jeruk itu, hatinya menjadi lega dan kakinyapun menjadi kendur. Ia memandang sekeliling, mendapatkan dirinya disuatu tegalan luas, didepannya terlihat bayangan rumah yang samar-samar. Perlahan-lahan dan tiba-tiba ia menuju kesana, setelah dekat baru melihat tegas, bahwa bangunan itu adalah sebuah kelenteng tua. Dengan perasaan letih, ia masuk kedalam, dan mencari tempat yang agak bersih untuk beristirahat. Akibat kelelahan tanpa terasa ia terlena dengan nyenyaknya, entah berapa saat sudah berlalu tidak diketahuinya. Tiba-tiba saja terdengar suara “plak”, dan seperti ada sesuatu terjatuh didekat kepalanya. Ia masih mengantuk benar, dirabanya benda itu, kiranya adalah seekor tikus, otaknya tidak bisa berpikir kenapa seekor tikus jatuh didekat kepalanya? Sebab rasa kantuknya tak alang kepalang. Ia hanya melemparkan bangkai tikus itu dan terus meram lagi…, Tak selang lama, lagi-lagi terdengar bunyi “plak”, sesuatu jatuh dilehernya. In Tiong Giok mencomot benda itu, waktu diawasi, nyatanya adalah bangkai tikus tadi. Ia menjadi kaget tak alang kepalang….karena bangkai tikus itu terikat pada ranting kayu kakinya sudah patah. Ia sadar bahwa musuhnya telah berada disitu. Ia menyesal usahanya mati-matian untuk meloloskan diri tidak membawa hasil yang memuaskan. Keadaan di dalam kelenteng tua masih gelap, ia tidak bisa melihat tegas keadaan sekelilingnya, tapi suara dingin dari Ouw Kun San dapat didengarnya.

“Bocah jangan pura-pura mati ular, permainan apa lagi yang engkau bisa, tak halangan dikeluarkan semuanya.”

In Tiong Giok mengulet sambil mengucek-ucek mata. Remang-remang terlihat beberapa bayangan, mengurung dirinya dari tiga penjuru.

“Selamat pagi!” kata In Tiong Giok pura-pura menenagkan diri.

“Jangan pura-pura berlaku tenang, biar brsayap engkau tak bisa lolos lagi dari tanganku!” kata Ouw Kun San.

“Aku merasa tidak bermusuhan dengan kalian, kenapa dikejar-kejar terus?” tanya In Tiong Giok.

“Engkau membunuh Hoo Su Kouw dan melukai Cie Kouw Nio, semua ini merupakan permusuhan bukan?” kata Lo Thian Wie.

“Untuk membela diri terpaksa aku melawan, mana boleh menyalahkan diriku!”

“Tutup bacotmu,” bentak Lo Thian Beng, hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa. Pedangnya segera bergerak, untuk melakukan serangan.

“Lo jie sabar, kita harus menyampingkan soal pribadi dan harus membereskan dulu kepentingan umum,” kata Cie Peng Lam. Dan terus matanya beralih pada Tiong Giok. “Tak kusangka muda-muda semacammu bernyali begini besar, aku paling menyayang kesatria yang gagah, dan segan melakukan pengeroyokan padamu, jika engkau tahu diri lebih baik menyerah untuk dibelenggu!”

“Menyerah, ya menyerah,” kata In Tiong Giok, “kemana kalian akan membawaku aku turut saja!”

“Sebelum itu kuminta engkau menotok sendiri jalan darahmu, lalu ikut denganku kerumah gubuk!” kata Cie Peng Lam.

“Kalian begini banyak orang, dan mungkinkah kuatir aku melarikan diri?”

“Ya benar juga,” kata Cie Peng Lam.

“Cie heng jangan terlalu berbesar hati, biarpun kecil ia murid Han Bun Siang dan pandai pula Keng thian cit su, biar bagaimana jalan darahnya harus ditotok!” kata Ouw Kun San.

“Hmm, orang kenamaan yang bergelar sebagai ular dan kura-kura, nyatanya bernyali seperti tikus,” kata In Tiong Giok sambil memainkan bangkai tikus ditangannya.

“Engkau jangan memanaskan aku, biar bagaimana aku tak bisa kena akal licikmu!” kata Ouw Kun San.

“Kalau kalian merasa kuatir dan takut, apa halangan sekarang juga turun tangan menotokku!” kata In Tiong Giok, “tapi jangan menyesal kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti Hoo Su Kouw! Karena segala yang akan kulakukan berdasarkan terdesak dan membela diri.”

“Ouw heng tak usah kuatir pada bocah yang masih bau tetek ini,” kata Cie Peng Lam.

“Jangan berkata begitu, apa yang ada padaku seperti Keng thian cit su dan Hiat cie leng adalah ilmu yang tidak boleh dipandang ringan, maka itu sebelumnya kalian harus berpikir masak-masak.”

“Anak muda jangan terlalu tekebur, kami tak perlu berpikir lama-lama,” kata Cie Peng Lam, permintaanmu supaya tidak ditotok, kululuskan sekarang juga. Jika engkau niat kabur ya kabur, tapi ingat jika tertangkap lagi, kakimu itu akan kupatahkan!”

“Ini adalah perkataanmu sendiri dan jangan menyesal dibelakang hari!”

“Jangan banyak bicara, hayo jalan!” bentak Cie Peng Lam.

In Tiong Giok menganggukkan kepala dan terus mencelat bangun! Jangan dilihat pihak Cie Peng Lam yang begitu banyak mereka semuanya merasa takut pada Keng thian cit su dan Hiat cie leng, begitu melihat pemuda kita bangun mereka mundur beberapa langkag sambil bersiap siaga dengan senjatanya, tak ubahnya seperti menghadapi lawan yang tangguh saja.

In Tiong Giok perlahan-lahan keluar dari kelenteng, tangannya masih tetap memainkan bangkai tikus itu. Saat ini cuaca hampir terang tanah, mereka meninggalkan kelentang itu sambil mengiring Tiong Giok. Tak lama, Tiong Giok merandek dengan tiba-tiba. “Aku harapkan salah seorang dari kalian berjalan dimuka karena aku tak mengenal jalan!”

“Pokoknya kau jalan terus, waktu berbelok kekiri kekanan aku bisa memberi tahu!” kata Cie Peng Lam.

“Kalian hanyalah menjaga diriku dari kiri kanan dan belakang, bagaimana jika aku lari kearah depan?” tanya Tiong Giok.

“Itu terserah kepadamu!” kata Cie Peng Lam dengan dingin.

Tiong Giok tak berhasil memecahkan perhatian musuhnya, terpaksa melangkah lagi maju kedepan. Sambil jalan ia menoleh pada Ouw Kun San yang menjaga sebelah kiri: “Sebaiknya engkau jangan terlalu dekatku, bagaimana kalau kuserang dengan Hiat cie leng dalam jarak dekat ini, akibatnnya engkau tahu sendiri!”

“Hmm,” Ouw Kun San mendengus tanpa lagi menghiraukan gertakan lawan.

“Engkau jangan mendengus tak karuan, apa yang kukatakan benar semua!”

“Tutup bacotmu! Aku tidak sempat mengadu lidah denganmu!” bentak Ouw Kun San.

“Baik! Tak bicara ya tidak, sayang kebaikanku tak kau terima!” kata In Tiong Giok.

“Jika engkau mengoceh terus, lidahmu akan kupotong!” kata Ouw Kun San dengan gusar.

“Ouw heng jangan ladeni ocehannya bocah itu, ia sedang memancing kita memencarkan perhatian, untuk meloloskan diri!” Cie Peng Lam memperingati. Ouw Kun San segera sadar dan terus membungkam tak mau melayani lagi Tiong Giok. Membuat pemuda kita cemas sendiri, tapi ia mencoba lagi mengajak bicara pada orang she Ouw itu. “Eh, ngomong kulupa menanyakan bagaimana persoalan ji wie dengan Oey Tin Hong itu?”

Ouw Kun San hampir-hampir menamparnya mendengar perkataan Tiong Giok itu, tetapi keburu dicegah oleh Sing Thian Beng. “jangan ladeni, biar dia ngoceh terus, masa tak diam!”

“Ah tak lama lagi akan sampai dikebun jeruk itu,” piker Tiong Giok, “mungkinkah aku akan menyerah begini saja dan terserah mereka? Tidak! Bagaimanapun aku harus melarikan diri dan melawan mereka dengan nekad, jika gagal ya mati, dengan begini matipun tidak percuma!”

Tidak lama samar-samar kebun jeruk telah terlihat jauh didepan. Tiong Giokpun sudah siap melakukan kenekatan. Bertepatan dengan jalan pikiran inilah, dari balik kebun jeruk terlihat selorotan seorang. Setelah tegas terlihat tegas orang itu terdiri dari enam belas gadis mengiringi sebuah joli yang tertutup rapat.

Enam belas gadis itu empat jalan di muka semuanya mengenakan berpakaian merah. Empat berada dibelakang, semuanya berpakaian biru, dikiri kanan joli terdapat empat gadis berpakaian kuning, yang empat lagi mengenakan pakaian hijau dan menggotong joli. Dari jauh terlihat warna warni ini sangat menarik hati. Sungguhpun semuanya gadis-gadis remaja langkah kakinya amat cepat dan ringan, menandakan memiliki ilmu yang tinggi.

Empat gadis yang mengenakan pakaian hijau ini mirip dengan gadis yang mandi disungai tempo hari. Tiong Giok mempercepat langkahnya mendekati joli itu.

“Jangan bergerak, engkau mau apa?” bentak Cie Peng Lam sambil menghadang.

“Hm, bukankah engkau ingin mengajakku kembali kegubuk itu? Aku sudah lapar sekali dan ingin lekas sampai…”

“Hm tidak perlu tergesa-gesa, engkau harus dengar kata, jangan sampai aku hajar disini juga,” kata Cie Peng Lam sambil melirik rombongan joli itu.

“Adakah yang tak beres?” tanya Lo Thian Wie.

“Kulihat rombongan joli ini amat mencurigakan,” kata Cie Peng Lam, sambil melirik rombongan, “sebaiknya nantikanlah mereka pergi baru kita lanjutkan perjalanan!”

Yang lainpun merasakan bahwa rombongan gadis-gadis itu sangat luar biasa sekali, segera menganggukkan kepala menyetujui usulan Cie Peng Lam. Cepat-cepat mereka menepi dan siap sedia mengawasi pada In Tiong Giok.

“Aha kenapa ketakutan tak keruan?” tegur In Tiong Giok, “joli itu joli pengantin, apa yang harus ditakuti?”

“Diam! Kularang engkau bicara!” bentak Cie Peng Lam.

In Tiong Giok tersenyum-senyum, dan terus menutup mulut dengan tenang. Sementara itu rombongan joli sudah mendekat pada mereka, waktu inilah Tiong Giok sengaja berbangkis keras-keras, lalu menekap mulutnya dengan tangan. Diluar tahu siapa-siapa lengannya itu sebelum menutup mulut telah melemparkan bangkai tikus kearah rombongan gadis-gadis penggotong joli. Lemparannya itu tepat mengenakan seorang gadis berbaju hijau dan jatuh kebawah lalu terpijak yang dibelakangnya. “Auw!” seru gadis itu dengan kaget.

Empat gadis berbaju merah didepan cepat berhenti sambil memutarkan badan, yang berbaju biru disebelah belakangpun sudah maju ke depan, mengelilingi joli. Serentak mereka menghunus pedangnya dan memandang kearah rombongan Cie Peng Lam.

“Kenapa kau menjerit?” tegur salah seorang gadis berbaju kuning pada kawannya yang berteriak tadi.

Gadis yang menggotong joli itu menunjuk kebawah: “Ada yang melemparkan tikus mati kepadaku!”

Gadis berbaju kuning itu memunggut bangkai tikus itu, wajahnya tampak gusar sekali. “Perbuatan siapa ini?” tegurnya kepada Cie Peng Lam dan kawan-kawan.

“Aku yang melemparkan!” In Tiong Giok mengakui dengan jujur.

“Nampaknya engkau sebagai pemuda sopan, tak kira begitu ceriwis dan genit, kau kira kami ini mudah dihina?”

“Nona jangan marah, aku tidak bermaksud begitu,” In Tiong Giok sambil tersenyum, “hanya saja tikus yang sedang kucekal tiba-tiba saja melompat pergi!”

“Hm, terang-terang tikus mati mana bisa melompat!”

“Nona tidak tahu kejadian aneh selalu ada, lebih-lebih tahun ini banyak sekali…tidakkah engkau mendengar ada kursi bisa berjalan, dan pohon-pohon bisa bernyanyi…”

“Jangan banyak bicara, tangkap padanya!” teriak perempuan berbaju kuning itu. Dengan cepat dua gadis berbaju merah menghampiri Tiong Giok.

“Sabar dulu!” kata Ouw Kun San sambil kedepan. “Orang ini tak bisa kuserahkan padamu!”

“Apa katamu?” dua gadis berbaju merah itu menegasi.

“Maksudnya jika nona ingin menangkapku, harus minta ijin dari mereka!” kata In Tiong Giok.

“Engkau kira dengan kawan-kawanmu bisa melindungi dirimu?” kata gadis itu.

“Jika engkau lebih lihay ya bisa, kalau lebih lemah tentu tidak!” kata In Tiong Giok.

“Hm, lihat saja buktinya!” kata gadis itu sambil memberi tanda pada temannya. Dan sua yang berbaju merah lagi segera membantu mereka menerjang kearah In Tiong Giok.

Lo sie ngo houw segera menghunus senjata dan menghadang dengan cepat, sehingga terjadi perkelahian dengan cepat detik itu juga. Gadis berpakaian birupun segera turun tangan membantu kawannya. Kui coa jie sau menmyambut kedatangan mereka, dan terjadilah perkelahian lagi. Sehingga menjadi dua rombongan bergumul dengan hebat, dan membuat abu mengepul tinggi.

Cie Peng Lam menghunus goloknya sambil memandang pada In Tiong Giok, ia mendapat pemuda itu sedang berpangku tangan dan tersenyum kepadanya. Ia merasakan senyuman pemuda itu seperti mengejek seperti juga mengasihani dirinya, begitu aneh dan misterius. “Bocah jangan bergirang dulu, bagaimanapun engkau jangan harap meloloskan diri!”

“Tenanglah, bagaimanapun aku tak mau melarikan diri sebelum keadaan benar-benar mengijinkan!” kata In Tiong Giok. “Menurut hematku sebaiknya lekaslah Bantu kawan-kawanmu itu, tampaknya mereka sudah kepayahan benar, jika dibiarkan terus pasti akan menderita rugi!”

“Ha segala budak-budak itu mana mungkin memperoleh kemenangan menghadapi kawan-kawanku itu!”

“Ingat masih ada delapan gadis yang belum turun tangan, dan yang didalam joli itu tentu bukan sembarang orang!”

Peringatan ini membuat Cie Peng Lam kaget, karena gadis-gadis itu berkepandaian sangat tinggi, lebih-lebih orang yang didalam joli itu, tentu lebih hebat lagi. Ia menoleh pada In Tiong Giok sambil tersenyum sinis. “Kutahu maksudmu menyuruh membantu kawan dan engkau bisa melarikan diri bukan?”

“Lucu! Sembarang waktu aku bisa pergi!” kat In Tiong Giok. “tapi aku tak mau karena ingin melihat akhir dari perkelahian ini siapa yang menang siapa yang kalah!”

“Hm, kau kira aku bodoh!” kata Cie Peng Lam yang dengan mendadak, menjulurkan tangan setannya pada pemuda kita. Gerakannya itu begitu cepat dan mendadak ia bermaksud setelah menciduk pemuda kita segera membawanya kabur kerumah. Tak kira serangannya yang lihay itu mengenai angin saja, karena dengan lihaynya Tiong Giok telah mengengos dengan Kiu coan bie cong pounya yang lihay. Peng Lam kaget dan cepat menarik serangan sambil melindungi dadanya, begitu ia menegasi lagi tampak Tiong Giok sudah berada dibelakangnya sambil berpangku tangan, dan tersenyum-senyum kearahnya seperti tidak terjadi sesuatu apa.

Cie Peng Lam berdilak-dilak, dan menarik napas lega…..

“Cie Lo Cianpwee sudah lama engkau mengundurkan diri dari dunia hitam, untuk apa terjun kembali?”

“Jangan mengira ilmu yang kau miliki sudah tinggi dan mau menasehatkan aku!” kata Cie Peng Lam. “Nah sambutlah seranganku ini!” Lengan kirinya terjulur, kakinya melangkah lebar menyapu kuda-kuda lawannya.

In Tiong Giok tidak menyangka bahwa lawannya mempunyai perhitungan matang, ia terdesak dan tak bisa mengembangkan ilmu memindahkan dirinya yang lihay. Tapi ia tidak takut serangan musuhnya itu dihadapi dengan Hiat cie leng.

Cie Peng Lam menjadi kaget, ia menarik serangan sambil menghindarkan diri dari bahaya maut. Apa mau dikata, biarpun Hiat cie leng dilancarkan lebih belakang dari tangan setannya, tapi sampainya terlebih cepat. “Tring!” terdengar suara memecah angkasa. Serangan Tiong Giok tepat mengenai gagang goloknya Cie Peng Lam yang terbuat dari emas. Waktu ia melihat lalu pemiliknya mengawasi, gagang goloknya telah berlubang kecil sebesar kacang tanah.

“Mengingat bahwa engkau telah insyaf banyak tahun, maka tak kuturunkan tangan jahat, atas ini engkau harus mengerti sendiri dan lekaslah meninggalkan tempat ini!”

“Bocah engkau telah melukai anakku dan merusak senjataku, mana mungkin beres begini saja!”

“Yang luka harus diobati, yang rusak bisa diperbaiki,” kata In Tiong Giok, “tapi jika salah bergaul akibatnya hebat, rumah tangga berantakan dan selamanya tidak bisa diperbaiki. Apakah selama dua puluh tahun dicelakai kawan-kawan jahat belum membuatmu puas?”

“Bagaimana engkau bisa tahu soal keadaan rumah tanggaku?” bentak Cie Peng Lam dengan mata menyala-nyala.

“Bukan saja kutahu soal keluargamu, bahkan mengetahui pula dimana beradanya Ong Jiak Tong! katas In Tiong Giok. “Sayang saja orang she Ong itu mempunyai beking yang kuat dan sukar buatmu membalas dendam! Sebab itulah aku tak mau menunjukkan dimana ia berada, nah pikirlah masak-masak usulku tadi, soal sakit hati lambat laun pasti terbalas!”

“Aku sudah bersabar selama dua puluh tahun!”

“Selama ini engkau bisa bersabar, mungkin tidak bisa bersabar dalam waktu yang lebih singkat lagi? Aku hanya mengharapkan kesabaranmu, dengan begitu sakit hatimu baru bisa terbalas!” kata In Tiong Giok sambil tersenyum. “Selama belum bertemu dengan musuh itu pelajarilah Keng thian cit su dengan baik, mungkin berguna besar untuk melakukan pembalasan pada musuh itu”. Selesai bicara ia mengeluarkan sejilid buku Keng thian cit su dan menyerahkan pada Cie Peng Lam.

Dengan perasaan terima kasih yang tak terhingga, Cie Peng Lam tertegun sejenak, lalu mengangkat kaki meninggalkan tempat itu.

In Tiong Giok memandang kepergian Cie Peng Lam sambil tersenyum, lalu merapikan baju dan melangkah pergi dengan bebas. Tapi belum pula beberapa langkah seorang gadis berbaju kuning telah mengejarnya sambil berseru: “Kongcu jangan pergi dulu!”

“Aku dalam keadaan terpaksa melemparkan bangkai tikus itu, karena berada dalam kungkungan penjahat-penjahat ini,” kata In Tiong Giok. “Kini akalku berhasil membuatku lolos dan Kouwnio mengejarku mau apa?”

“Soalmu melemparkan tikus kami maafkan,” kata gadis itu, “tapi Siociaku meminta engkau menunggu sejenak, ia ingin bicara denganmu.”

In Tiong Giok mengerutkan kening, dan berkata: “Aku tak kenal dengan Siociamu, tambahan ketujuh orang itu adalah musuh-musuhku, jika diketahui mereka, aku bisa celaka!”

“Kongcu kenapa merendah amat dengan kepandaianmu barusan, tujuh orang itu tak bisa berbuat apa kepadamu!”

“Pokoknya biar bagaimana sepasang tangan sukar melawan belasan tangan,” kata In Tiong Giok. “aku dapat meloloskan diri berkat bantuan nona-nona, jika tidak sampai sekarang mungkin masih menjadi tawanan mereka!”

“Apa lagi kalau begitu sepatutnya Kongcu menghaturkan terima kasih kepada siocia kami!”

Gadis berbaju kuning mengajak Tiong Giok kedepan joli, benar saja Kui coa jie sau dan Lo sie ngo houw melihatnya. Mereka celingukan tidak melihat Cie Peng Lam, dan menganggap kawannya itu kena bunuh Tiong Giok saat itu juga mereka menjadi kalap. Tanpa berunding dulu, masing-masing meninggalkan lawannya, meluruk menerjang Tiong Giok.

Gadis-gadis berbaju kuning mencabut senjata, tapi sebelum mereka turun tangan terdengar suara yang merdu. “Tutan, suruh sekalian kawan-kawanmu mundur, ingin kulihat manusia macam apa yang berlaku kurang ajar!”

“Hanya beberapa cecunguk kecil, kami masih sanggup mengatasinya. Siocia tidak perlu turun tangan!”

“Perintahkan mereka mundur!” jawab Siocia itu dengan penuh wibawa.

Tutan segera memerintahkan kawan-kawannya mundur, sedangkan Kui coa jie sau dan Lo sie ngo houw sudah sampai didepan joli. Mereka menjadi melengak, sebab kerai joli sudah terbuka. Mereka melihat seorang perempuan berbaju hitam, begitu cantik dan agung. Dengan matanya yang tajam ia melirik kepada sekalian penjahat itu, lalu mengawasi pada Tiong Giok. “Engkau kemari!” katanya perlahan tapi penuh wibawa.

Tanpa terasa lagi Tiong Giok maju kedepan sambil membungkukkan badan. “Aku In Tiong Giok menghaturkan hormat pada Siocia!”

“Oh, kiranya engkau adalah yang mencetak buku Keng thian cit su?”

“Benar!”

“Pantasan mereka tak mau melepaskan dirimu,” kata perempuan cantik berbaju hitam itu. “Tapi dengan adanya aku disampingmu, biar bagaimana mereka tidak berani berbuat kurang ajar!”

“Terima kasih atas bantuan Siocia!”

“Kemari, coba kulihat!”

In Tiong Giok mengerti apa yang hendak dilihatnya, tapi ia menurut perkataan perempuan itu, maju mendekati. Perempuan itu menjulurkan tangan memegang lengan Tiong Giok dan berkata dengan mesra. “Kulihat engkau pandai Hiat cie leng, Han Bun Siong itu apamu?”

“Guruku!”

“Oh, kiranya murid kawanku!” kata perempuan itu sambil tersenyum.

In Tiong Giok terkejut, dan perempuan itu menariknya perlahan kedalam joli. Mengajak Tiong Giok duduk disebelahnya. Kerai joli diturunkan. “Tutan buka jalan, siapa yang merintangi bunuh saja!” perintahnya dengan halus.

Joli mulai terangkat lagi dan maju kedepan.

Kui coa jie sau maupun Lo sie ngo houw merasa tersinggung melihat sikap perempuan berbaju hitam itu. “Mau kemana?” teriak Ouw Kun San dan terus menghadang, diikuti kawan-kawannya.

Empat perempuan berbaju kuning itu segera menghadapi mereka, agaknya yang berbaju kuning ini lebih lihay dari pada yang berbaju merah atau biru. Biar berempat mereka bisa menghadapi tujuh musuh. Tapi untuk memperoleh kemenangan sukar diramal, karena musuhnyapun bukan orang-orang sembarangan. Hal ini menjengkelkan betul pada siocia mereka. Dengan perlahan perempuan berbaju hitam itu turun dari joli, lalu memutarkan pedangnya menghajar pada Kui coa jie sau, sedangkan gadiss-gadis berbaju kuning menghadapi Lo sie ngo houw. Dengan turunnya perempuan berbaju hitam itu, dalam sekejap medan perkelahian berubah dengan mendadak. Dalam dua puluh jurus lebih Kui coa jie sau dibuatnya tak berdaya, tambahan tenaga aslinya belum pulih betul karena terkena jarum Oey Tin Hong. Lima jurus kemudian Ouw Kun San kena dilukai, berikutnya Sing Thian Bengpun menderita luka. Sungguhpun gerak geriknya sangat halus dan lembut, tapi perbuatannya perempuan berbaju hitam itu sangat telengas. Ia tidak memberi ampun pada musuhnya, pedangnya bekerja secepat kilat. Dalam sekejap hanya terdengar jeritan susul menyusul dari Kui coa jie sau mereka menggeletak mati bermandikan darah.

Dipihak lain gadis-gadis berbaju kuningpun sudah membereskan musuh-musuhnya. Jalan yang sunyi dan sepi, penuh dengan tubuh-tubuh bermandikan darah. Tiong Giok bergidik sendiri menyaksikan kejadian ini.

Joli berangkat meneruskan perjalanan.

Waktu senja rombongan gadis-gadis itu telah sampai disebuah lereng gunung, disitu berdiri sebuah gedung besar. Kiri kanannya penuh lebat dengan pepohonan, sangat sunyi dan tenang. Waktu joli memasuki pekarangan rumah Tiong Giok masih belum merasa karena sedang asyik bercakap-cakap dengan perempuan berbaju hitam itu. Dari percakapan disepanjang jalan, ia mengetahui bahwa perempuan berbaju hitam itu adalah salah seorang Cap sah kie yang bernama Liap In Eng.

“Kongcu boleh tinggal disini sebagai tamuku,” kata Liap In Eng. “Engkau boleh bergerak bebas sebagai dirumahmu sendiri!”

“Terima kasih atas kebaikan Siocia!” jawab Tiong Giok.

“Tutan ajaklah Kongcu beristirahat,” kata Liap In Eng yang terus masuk kedalam rumah.

Tiong Giok mendapat sebuah kamar yang sunyi dan tenang, untuk keperluannya sehari-hari selalu mendapat pelajaran dari Tutan dengan telaten.

Pada suatu hari terlihat Tiong Giok dengan ditemani Tutan berjalan disekitar rumah. Nampak ia terpekur dan bingung, lalu berkemak kemik sendiri: “Lagi-lagi waktu senja, burung-burung gagak pulang kekandang, waktu berlalu teramat cepat, tanpa terasa sudah sepuluh hari aku diam disini!”

“Kongcu apa merasakan bahwa waktu berlalu dengan cepat, apakah merasa tak puas atas pelayanan kami yang kurang telaten?”

“Bukan! Aku bergegas ingin menyambangi Lim Siok Bwe,” kata In Tiong Giok. “Tapi tertahan Siociamu disini sepuluh hari lamanya, hatiku merasa tak tenang dan ingin lekas-lekas sampai disana!”

“Oh aku mengerti, bahwa Siocia sengaja menahanmu lama-lama disini, karena menghargai kepandaianmu! Dan mengharapkan Kongcu mengajari kami Keng thian cit su! Apakah lambat majunya, sehingga membuatmu tertahan lebih lama disini, dan sama dengan mengabaikan urusan besarmu bukan?”

“Tutan jangan engkau salah mengerti, hingga Siociamu telah memiliki ilmu yang lihay. Baginya Keng thian cit su hanya tambahan saja bukan?”

“Kepandaian Siocia berbeda dengan Keng thian cit su,” kata Tutan. “Ilmu ini merupakan ilmu yang luar biasa didunia persilatan, menyesal aku tak berbakat, dan tak dapat mengerti serta mengembangkan keistimewaannya.” Ia berkata kepada Tiong Giok. “Sebelum gelap maukah engkau mengajari lagi sekali!”

“Bukankah kalian telah mempelajari setengah hari lebih?”

“Itu belajar cara rombongan, aku minta diajari sendiri, bagaimana?”

“Keng thian cit su adalah pelajaran yang dalam dan sukar dimengerti, lebih banyak orang mempelajari lebih baik! Kini apa yang kubisa sudah kuberikan semua!”

“Aku tak percaya, tentu ada bagian-bagian istimewa yang sengaja tidak diberikan kepada kami!”

“Tidak! Sejujurnya apa yang kubisa sudah kuberikan tanpa menyembunyikan sedikitpun.”

“Tidak percaya!”

“Percaya tidaknya terserah padamu, aku bisa berkata apa?”

“Asal engkau mau menyadari aku seorang diri, baru percaya!”

“Jika engkau memaksa ingin mempelajari sekali seorang diri, aku menurut saja!”

“Benar-benar sih?”

“Perlu apa aku membohong, ambillah dua bilah pedang dan kita pelajari diruangan dalam!”

“Aku tak mau didalam, tapi mempelajari diruangan belakang,” kata Tutan.

Dengan begini yang lain tidak tahu dan tidak bisa mengani bukan!” Ia menggapai mengajak Tiong Giok pergi kebelakang.

In Tiong Giok mengikuti dengan langkah perlahan, mereka menyusuri pinggiran rumah, melalui pintu samping masuk kekamar batu dihalaman belakang. Baru saja mereka tiba didepan pintu batu, dari utara terdengar bunyi mengaung. Tiong Giok berdongak keatas, tampak seekor burung pos berputar-putar diudara, dan terus terjun kebawah, masuk kebelakang loteng dimana Liap In Eng tinggal.

Tutan juga melihat burung pos itu, cepat-cepat ia membuka kamar batu mempersilahkan Tiong Giok masuk. Kongcu duduk dulu didalam, aku pergi dulu sebentar! Terus ia berlalu menuju ketempat burung merpati tadi turun.

In Tiong Giok menjadi heran ia berpikir: “Liap In Eng adalah seorang kenamaan yang mengasingkan diri dari dunia Kang Ouw, kenapa memelihara burung merpati? Mungkinkah ia masih mengadakan hunungan dengan dunia luar? Ya bisa dan tak perlu kuherankan.”

Baru ia duduk sejenak Tutan sudah kembali lagi. “Ah sungguh tak kebenaran, Siocia menyuruhku memasang hio,” kata Tutan, “sedangkan aku tak berani mengatakan akan berlatih pedang sendirian, maka itu niat ini terpaksa batal dan maaf mencapaikan Kongcu datang kesini dengan cuma-cuma!”

“Ah tidak mengapa lain kali masih ada waktu bukan,” kata In Tiong Giok.

“Mari kuantarmu kembali kekamar,” kata Tutan.

“Tak usah aku bisa kembali sendiri, dan ia melangkah, tapi merandek lagi serta bertanya: “Apa yang disembayangi Siociamu?”

“Ia menyembayangi ibunya kebiasaan ini dilakukan sudah sepuluh tahun lebih.”

“Ah, ia seorang yang berbakti pad orang tua!” kata In Tiong Giok. “Tadi kulihat seekor burung pos, apakah peliharaan Siociamu?”

“Bukan! Burung itu bukan peliharaan Siocia!” kata Tutan, sungguhpun ia berkata begitu wajahnya telah berubah gugup. “Pada suatu hari, entah dari mana datangnya burung itu, Giok Lan yakni kawanku dan lain-lain senang melihatnya. Lalu menangkap dan mengurungnya burung itu. Namun diketahhui Siocia, dan kami dimaki-maki, terpaksa melepasnya lagi, sungguhpun begitu ia tak mau pergi kemana-mana, agaknya betah diam disini!”

Sambil berjalan tak hentinya mereka bercakap-cakap, tanpa terasa telah sampai di kamar Tiong Giok. Tutan pamitan, membiarkan diri Tiong Giok seorang. Malamnya Tiong Giok tak dapat tidur dengan nyenyak. Pikirannya memikir kesoal burung tadi. Burung itu terlatih baik, kenapa Tutan mengatakan bukan burung piaraan? Dan apa maksudnya seorang kenamaan seperti Liap In Eng menahannya disini buat memberikan pelajaran Keng thian cit su pada pelayan-pelayannya? Mungkinkah ia sebangsa dengan Liok Sian Ong maupun Hek pek siang yauw yang menginginkan ilmu itu?

Semakin berpikir membuatnya semakin kesal, dan ingin ia itu mencuri masuk ketaman belakang untuk melakukan penyelidikan, tetapi rasionya mencegah berbuat begitu itu, karena sadar hal itu bisa mendatangkan yang tidak diinginkan. Tapi saking lamanya otaknya bekerja, akhirnya iapun leetih, ia tertidur juga waktu hampir pagi. Dan ia baru bangun waktu matahari ssudah diatas. Cepat ia keluar kamar dan membuka pintu, Tutan sudah berada diluar menantikannya.

“Kongcu tidur nyenyak benar?” kata Tutan sambil menyediakan handuk dan baskom pencuci muka.

Tiong Giok tersenyum dan mencuci mukanya di baskom, kesepatan matanya agak hilang. “Rupanya sudah tengah hari? Dan suara teman-temanmu ramai betul?”

“Ya memang sudah tengah hari, mereka sedang sibuk menyapu dan membereskan rumah maupun taman, karena ada tamu mau datang!”

“Tamu macam apasih disambut sehebat ini?”

“Sudah tentu tamu terhormat!” jawab Tutan. “Lekaslah cuci muka dan berberes, Siocia sudah menunggu lama sekali!”

Cepat-cepat Tiong Giok menyisir dan merapikan pakaian, tergesa-gesa masuk keruang tengah, dan benar saja Liap In Eng sudah berada disitu menantinya.

“Baru bangun ya? Sudah makan belum?” tanya Liap In Eng dengan ramah.

“Ah kelewat enak tidur membuat Lo Cianpwee kesal menanti, maafkan atas kemalasanku ini!”

“Anak muda memang sedang doyan tidur! Jika sudah tua mau tidurpun sukar!” kata Liap In Eng dengan tenang. “Engkau sudah sepuluh hari datang kesini, selama ini diam terus dirumah, tentu merasa kesal bukan? Sebaiknyalah kegunung bersama Tutan, disana bisa membuatmu gembira, sebab pemandangan indah dan hawanya segar.”

“Ah memberabekan Tutan saja!”

“Hari inii bakal datang tamu, kuatir engkau menjadi likat, maka itu untuk selanjutnya engkau boleh tidur diloteng belakang, disana lebih bebas untukmu kesana kemari, bagaimana?”

“Dibelakang adalah kamar Lo Cianpwee dan gadis-gadis ini kukuatir…”

“Takut apa?” kata Liap In Eng. “Jika menurut umur, antara aku dan gurumu tidak beda berapa jauh, sedangkan engkau merupakan anak baru gede, kenapa menjadi pemaluan betul dan takut sama perempuan?”

“In Kongcu dalam segala hal memang baik hanya terlalu mengekang diri bergaul dengan perempuan,” kata Tutan sambil tersenyum.

“Jangan berlaku kurang ajar!” kata Liap In Eng. “In Kongcu adalah seorang terpelajar yang mengenal aturan, sudah sepatutnya bersikap begitu! Jangan seperti kamu terlalu bebas dan berandalan.”

Tutan menjulurkan lidah, tak berani bersuara lagi.

“Sebenarnya aku sudah terlalu lama diam disini, kini kebetulan ketemu Lo Cianpwee. Dengan ini kumohon berlalu untuk pergi ke Pek Liong San.”

“Ah rupanya engkau dikatakan sebegitu saja lantas ngambek dan mau pergi?”

“Bukan,” jawab Tiong Giok, “karena soal sin kiam siang eng sampai sekarang persoalannya siapa sebenarnya orang tua yang ditahan dalam penjara Pok Thian Pang itu, Tiat Giok Lin atau bukan.”

“Soal ini memang penting, tapi tak perlu tergesa-gesa dikerjakan,” kata Liap In Eng. “Kuharapkan engkau berdiam beberapa hari lagi disini, setelah itu baru kesana, begitupun belum terlambat bukan?”

In Tiong Giok ingin memaksa hari itu juga pergi, tapi Liap In Eng sudah meninggalkannya, membuatnya tak sempat membuka mulut.

“Ah gara-gara Kongcu akupun kecepretan makian,” kata Tutan. “sudahlah buat apa banyak berpikir, lebih baik lekas makan dan turut denganku kegunung.”

In Tiong Giok tidak berdaya, dan mengikuti kehendak pelayan itu.

Setelah beres makan, Tutan mengganti pakaian yang lebih ringkas. Lengannya membawa rantang berisi bekal. Sepanjang jalan Tutan menunjuk kesana kemari menyebutkan nama-nama tempat. Tiong Giok hanya manggut-manggut, karena biarpun dirinya sedang berjalan ditempat yang permai, hatinya tidak ada disitu. Ia sedang berpikir: “Siapa tamu yang akan datang itu? Liap In Eng kenapa mau menempatkan dirinya diloteng belakang? Dan burung pos itu milik siapa? Ia seperti tak mau memperkenalkan tamunya itu padaku.”

“Kita jangan jalan besar, enakan jalan kecil mengelilingi gunung,” kata Tutan.

“Kira-kira berapa lama?”

“Sebelum gelap kita sudah kembali.”

“Aku tak pandai ilmu meringankan badan mungkin sampai gelappun belum sampai dirumah!”

“Ilmu silat maupun ilmu dalammu sudah begitu tinggi, masakan sampai ilmu meringankan tubuh saja tidak bisa?”

“Belum pernah ada yang mengajari mana bisa!”

“Orang yang mempelajari silat paling utama adalah ilmu dalam, setelah menguasai ilmu dalam yang lain mudah dipelajari. Demikian juga soal ilmu meringankan tubuh, mudah sekali jika mahir ilmu dalam.”

“Maukah engkau mengajari aku ilmu meringankan tubuh?”

Tutan menjadi merah mukanya. “Mana berani aku mengajari Kongcu, tapi untuk memberi petunjuk sih boleh saja,” Ia memandang kesekitar, dan dilihatnya sebuah pohon yang besar, diajaknya Tiong Giok kesana. “Kongcu lihatlah kuberi contoh dulu padamu,” Sehabis berkata terus ia menotolkan kakinya kebumi tubuhnya dengan ringan mencelat keatas pohon. “Bagaimana?” tanyanya.

“Ah tubuhmu begitu ringan sekali, sampai batang pohon itu tidak terlihat goyang barang sedikit!”

“Kongcu bisakah melompat setinggi tiga depa?”

“Jangan tiga depa, sedepapun belum tentu kubisa!”

“Bisakah memanjat pohon?”

“Manjat pohon sih bisa saja.”

“Nah mari kesini!”

In Tiong Giok dengan cepat naik keatas pohon menghampiri Tutan: “Setelah naik, haarus bagaimana lagi?”

“Nah sekarang engkau harus jalan dicabang pohon ini dengan tenang, napasmu harus teratur rapi, pikiran tidak boleh melayang-layang kesoal lain, harus mengkonsentrasi pikiran pada pelajaran. Nah cobalah!”

In Tiong Giok menurut kata-kata Tutan berjalan dicabang pohon, pertama ia bisa berjalan mantap, setelah cabang pohon bertambah kecil dan bergoyang-goyang, hatinyapun turut berdenyut keras, hampir-hampir ia tak berani melangkah lagi.

“Jangan takut, kumpulkan semangatmu dan perhatikan terus kakimu, Betul! Maju terus jangan gentar, biar jatuhpun tidak mengapa, hanya tiga depa tingginya!”

Dahan kayu yang panjangnya beberapa meter itu habis juga dilalui dengan setengah mati. “Bagaimana tidak sulit bukan?” kata Tutan.

“Ini mah bukan berlatih meringankan tubuh, tapi melatih keberanian.”

“Benar! Melompat ketempat tinggi atau dari tempat tinggi melompat turun membutuhkan keberanian bukan? Nah sekarang coba jalan lagi terbalik! Perhatikan waktu kaki kiri melangkah salurkan tenaga pada kaki kanan, waktu kaki kanan melangkah salurkan tenaga pada kaki kiri dengan begitu keseimbangan badan akan terjaga dengan sempurna.”

Tiong Giok menuruti kata-kata Tutan berjalan lagi diatas cabang pohon itu, benar saja dengan begitu keseimbangan badannya terjamin sekali. Ia bisa berjalan terlebih baik dari tadi. Tanpa disuruh lagi ia bulak balik beberapa kali.

“Latihan pertama kuanggap selesai dan mari meningkat kepelajaran kedua. Mulai dari sekarang sambil jalan harus membawa batu seberat tiga puluh kati. Untuk ini kaki harus diringankan betul, kekuatan berada dipinggang. Jika Kongcu bisa berjalan didahan itu sampai cabangnya tidak melengkung kebawah artinya sudah berhasil.”

“Baik,” jawab Tiong Giok.

Tutan segera turun kebawah, diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkan keatas, Tiong Giok menanggapi batu itu, lalu mengempitnya dan mulai berjalan didahan tadi. Tak selang lama batu yang dibawa itu dari kecil ditukar menjadi besar. Dengan tenaga dalamnya yang tinggi dan bakat yang bagus In Tiong Giok dapat mempelajari ilmu itu dengan mudah.

Tutan melempar batu dari bawah keatas, begitu lama, tak heran lengannya menjadi pegal dan tak kuat lagi melemparkan batu yang seberatnya seratus kati. “Kongcu engkau sendiri saja turun dulu dan mengangkat keatas, aku sudah letih sekali.”

Dengan berapi Tiong Giok menarik napas kepusar dan melompat turun, ia bisa tiba ditanah dengan ringannya. Lalu diambilnya batu seratus kati itu dan dibawanya melompat keatas…. Lebih kurang ia mengapung dua depa tingginya, batu dan dirinya jatuh lagi kebumi.

Tutan menjadi kaget tak alang kepalang ia cepat-cepat menghampiri. “Waduh bagaimana apamu yang sakit?”

In Tiong Giok tiba-tiba saja membalikkan badan dan tertawa tergelak-gelak.

“Ah Kongcu gila kau! Aku ketakutan setengah mati, kiranya engkau bermain dan berpura-pura jatuh!”

Tiong Giok tidak menjawab, sekali ini benar-benar ia melompat. Batu seberat seratus kati itu kena dibawanya keatas. “Aku berhasil!” serunya girang.

“Ah benar!” kata Tutan. “Coba sekali lagi!”

Tiong Giok turun kebawah dan mencelat lagi keatas terlebih tinggi dari tempat tadi.

Atas hasil itu membuat Tutan kaget bercampur girang. ” Ya Kongcu telah berhasil, dengan cara apa engkau menghaturkan terima kasih kepadaku?”

“Kini aku menghaturkan kepadamu, setelah kembali kerumah akan kuhaturkan lagi terima kasih didepan Liap Locianpwee!”

Tutan menggoyangkan tangan. “Tidak! Sekali-kali tak boleh diberitahu pada Siocia, sebab bisa mencelakakan diriku.”

“Memang kenapa? Bukankah jika Siociamu tahu akan turut bergirang?”

“Tidak! Tidak! Siocia memang bisa bergirang hati, tapi…tapi semua ini adalah bakat Kongcu yang luar biasa dan ilmu dalam yang tinggi! Aku hanya berkata main-main saja dan ingat jangan diberi tahu pada Siocia!”

“Biar ia tahupun tak mengapa bukan?” Tiong Giok sengaja menggoda dan ingin tahu apa sebabnya Tutan ketakutan sekali diketahui Siocianya.

“Kongcu kasihanilah aku,” kata tutan hampir menangis. “Sebab ilmu itu adalah kepandaian Siocia yang dirahasiakan dan tak boleh diajarkan pada orang luar. Sedangkan aku memberi pelajaran ini tanpa disadari, jika sampai diketahuinya, akan dihajarnya…”

“Aku tak percaya!”

“Aku memberikan pelajaran yang dirahasiakan ini kepada Kongcu, apakah dengan begitu caranya menghaturkan terima kasih kepadaku?”

“Hm seorang pandai seperti Liap Locianpwee tak mungkin merahasiakan ilmu kepandaiannya kepada orang lain.” Kata In Tiong Giok. “Disini tentu terselip sesuatu yang engkau rahasiakan bukan? Biar bagaimana harus kau terangkan padaku.”

“Dengan begini kebaikanku hanya mendatangkan bencana, dimana letak keadilan?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: