Kumpulan Cerita Silat

10/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:40 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 01: Lopannio Yang Tercantik
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Menjelang senja, itulah saat paling ramai dan sibuk di Liong-ih-khek-can, penginapan sekaligus berupa restoran.

Kamar di atas loteng itu seluruhnya dua puluh empat kamar, semua kamar terisi penuh.

Tamunya kebanyakan adalah orang dunia Kangouw yang bersenjata, sungguh sukar dimengerti, tempat yang biasanya sunyi ini bisa ramai secara mendadak.

Sekonyong-konyong terdengar suara derap kaki kuda yang riuh, dua ekor kuda berlari cepat menerjang masuk dari pintu besar.

Suasana di dalam rumah makan itu menjadi heboh, tapi kedua penunggang kuda itu tetap tenang saja di atas pelananya.

Pada samping salah seekor kuda itu tergantung sepasang gaetan bersinar kemilau, penunggang kudanya adalah seorang lelaki bermuka ungu, bergodek, sinar matanya tajam serupa sinar senjata gaetan peraknya.

Ia memandang suasana dalam rumah makan itu, lalu menatap pelayan dan bertanya, “Di mana orangnya?”

“Masih berada di kamar nomor tiga di atas loteng,” jawab si pelayan.

“Di mana Kiu-kohnio (nona Kiu atau kesembilan)?” tanya pula si godek.

“Juga berada di kamar sedang merayunya,” tutur si pelayan.

Si godek tidak bertanya lagi, kedua kakinya mengempit kencang perut kuda. Sekali tali kekang ditarik, kudanya segera menerjang ke atas loteng.

Gerakan kuda yang lain juga tidak lambat. Penunggangnya adalah seorang laki-laki bermuka codet, bekas luka itu dimulai dari telinga kiri sampai ke ujung mulut sebelah kanan, telinga kirinya pun hilang separuh. Semuanya itu membuat wajahnya kelihatan menakutkan.

Begitu menerjang naik ke loteng, seketika penunggang kudanya melayang dan berjumpalitan dua kali di udara, kaki mendepak, pintu kamar nomor tiga yang berada di dekat tangga pun terdobrak.

Ketika menubruk ke dalam kamar dengan senjata terhunus, ternyata di sana cuma ada seseorang, seorang perempuan.

Perempuan yang bertelanjang bulat, kulit badannya putih mulus, dadanya montok dan kakinya putih dan panjang.

Kejadian demikian seandainya dibayangkan seorang laki-laki, perempuan itu tentunya di atas tempat tidur, tapi perempuan ini berada di langit-langit kamar.

Atap kamar itu tinggi. Perempuan itu duduk di atas belandar seperti kucing betina sedang berahi dan bermeong-meong mencari jodoh.

Tapi perempuan ini tidak bisa ‘bermeong’, karena mulutnya tersumbat.

Sekali cambuk si muka ungu disabetkan, sepotong handuk kecil yang menyumbat mulut perempuan itu pun terbelit lepas.

“Di mana dia?” tanya si muka codet.

Perempuan itu menarik nafas, jawabnya, “Dia sudah pergi. Dia seperti sudah tahu siapa diriku.”

“Menuju ke mana?” tanya si muka codet lagi.

“Didengar dari lari kudanya, sepertinya menuju ke utara, ke arah Ui-ciok-tin,” tutur perempuan itu pula. Lalu ia berteriak lagi, “Hei, lekas turunkan aku. Kuikut kalian mengejarnya.”

Si muka codet mendengus, “Siapa yang menahanmu, mengapa tidak turun sendiri?”

“Tunggu dulu, keparat itu telah menotok hiat-to kakiku,” teriak perempuan itu dengan kelabakan.

Tapi kedua laki-laki itu sudah melompat keluar jendela, di bawah sudah ada dua ekor kuda yang lain dan sedang menunggu mereka. Begitu hinggap di atas pelana, seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya, kedua ekor kuda itu segera dibedal maju.

Mendengar cepatnya lari kuda, perempuan itu pun mencaci-maki sambil memukul belandar, “Keparat jahanam! Semuanya jahanam!”

***

Ui-ciok-tin (Kota Batu Kuning) adalah sebuah kota yang besar. Jalan ini pun seharusnya merupakan jalan yang ramai dan sibuk.

Tapi sekarang hari telah larut malam, bulan baru tampak seperti sabit saat menyinari jalan batu hijau itu. Dua ekor kuda yang membawa dua orang lelaki berpakaian hijau tampak berlari dengan cepat, tapi tidak ada siapa-siapa di jalan.

Lelaki yang kehilangan separuh telinga kirinya dan mempunyai bekas luka dari bawah telinga kiri hingga ke sudut kanan mulutnya, menarik tali kekang kudanya untuk berhenti dan bertanya dengan suara yang berat: “Menurutmu dia akan bermalam di sini?”

Laki-laki bermuka ungu dan berjenggot menjawab: “Ya! Dia tetap manusia dan dia masih harus tidur pada malam hari, walaupun semua orang tahu bahwa dia memang mempunyai masalah dengan kebiasaaan tidurnya.”

Si muka codet pun bertanya: “Jika dia harus bermalam, di mana dia akan tinggal?”

Si muka ungu bahkan tidak berpikir sebelum menjawab: “Ging-jun-kok”.

Ging-jun-kok adalah rumah hiburan yang mempunyai gadis-gadis tercantik. Si dia selalu tidur dengan seorang wanita di dekatnya, itulah masalahnya.

Semua orang memang punya satu atau dua macam masalah.

Lentera besar di pintu depan Ging-jun-kok masih menyala, cahaya merahnya menggoda setiap orang untuk datang dan menikmati malam penuh warna merah di tempat itu.

Pintu itu setengah terbuka. Si muka ungu menyentak tali kekang kudanya dan mereka berdua pun menerjang masuk.

Seorang lelaki kurus bermuka kuning sedang tidur di atas kursi bambu di halaman gedung itu.

Cambuk di tangan si muka ungu tiba-tiba telah melingkar di leher lelaki tersebut, sementara ia berseru dengan bengis: “Apakah seorang laki-laki berjubah merah ada datang ke sini malam ini?”

Laki-laki kurus itu hampir kehabisan nafas karena tercekik, dia hanya bisa mengangguk.

Si muka ungu akhirnya melepaskannya dan bertanya: “Apakah dia masih di sini?”

Sambil berusaha menarik nafas, laki-laki kurus itu mengangguk lagi.

Si muka ungu bertanya: “Di mana dia?”

Si kurus menjawab: “Dia baru saja minum bersama 4 orang laki-laki di Tho-hoa-tia. Keempat orang itu menawarkan dia minum secara bergiliran, akhirnya dia pun mabuk.”

Wajah si muka codet tampak berubah: “Empat orang yang mana?”

Si kurus menjawab: “Empat orang yang wajahnya amat bengis, tapi mereka tampaknya sangat sopan kepadanya.”

Si muka codet bertanya lagi: “Di mana mereka sekarang?”

Si kurus menjawab: “Aku melihat mereka memapah dia masuk ke kamarnya. Kurasa mereka masih ada di sana!”

Si muka ungu sudah memutar kudanya dan menerjang ke arah kebun buah Tho di sebelah kiri. Lampu-lampu di Tho-hoa-tia masih menyala.

Cawan-cawan dan piring tampak berserakan di atas meja di Tho-hoa-tia, 3 atau 4 buah kendi arak yang kosong pun berserakan di sana juga.

Si muka codet melompat dan berjumpalitan di udara, ia berlari maju dan menendang pintu di bagian belakang aula hingga terbuka. Tiba-tiba ia berdiri terpaku.

Hanya ada 4 orang di ruangan itu, semuanya berlutut membentuk sebuah barisan. Semula wajah mereka tampak putih dan pucat, tapi ketika melihat si muka codet itu, tiba-tiba wajah mereka berubah menjadi merah padam.

Mereka berempat mengenakan pakaian yang mewah, seharusnya mereka tampak sangat bergaya. Tapi seseorang telah menggambari wajah mereka.

Orang pertama mempunyai gambar kura-kura di keningnya, juga ada dua buah kata yang tertulis di wajahnya: “Aku Oh-kui (kura-kura atau germo).”

Orang kedua: “Aku Ong-pat (tak tahu malu, sebutan untuk laki-laki yang bininya berselingkuh).”

Orang ketiga: “Aku babi.”

Orang keempat: “Aku anjing.”

Si muka codet berdiri di sana, menatap mereka, memandang pada gambar-gambar dan kata-kata di wajah mereka. Tiba-tiba ia tertawa, tertawa begitu kerasnya hingga tubuhnya membungkuk, seakan-akan ia tidak pernah melihat kejadian yang begitu lucu dalam hidupnya.

Keempat orang itu mengertakkan giginya dan melotot padanya, sorot mata mereka penuh dengan kebencian dan kegusaran, seolah-olah mereka ingin menerjang dan mencincang tubuhnya saat itu juga.

Tapi mereka masih berlutut di sana, bukan hanya tidak bisa melompat bangkit, bahkan mereka tidak bisa bergerak sedikit pun juga.

Sambil tetap tertawa keras, si muka codet pun berseru: “Sejak kapan Kangtang-si-kiat (4 Pendekar dari Kangtang) berubah menjadi Oh-kui, Ong-pat, babi dan anjing?”

Si muka ungu sudah berlari keluar sambil tertawa terbahak-bahak. Ia bertepuk tangan dan berseru sekeras-kerasnya: “Semua orang dipersilakan untuk menyaksikan kehebatan Kangtang-si-kiat yang terkenal di seluruh dunia! Sepuluh tael perak bagi siapa saja yang mau datang, tidak perduli siapapun dia!”

Wajah keempat lelaki yang berlutut di lantai itu tiba-tiba berubah menjadi pucat, begitu pucatnya sehingga hampir tembus pandang. Keringat menetes dari kening mereka seperti air hujan.

Sambil tertawa, si muka codet berkomentar: “Walaupun orang itu telur busuk, paling tidak dia adalah seorang telur busuk yang baik.”

Si muka ungu setuju: “Paling tidak perjalanan kita ini tak sia-sia.”

Tiba-tiba mereka berdua berhenti tertawa, karena mereka melihat seseorang berjalan masuk dengan kepala tertunduk.

Gadis itu berumur paling banyak 14 atau 15 tahun. Walaupun penuh riasan dan perhiasan, wajahnya masih imut-imut dan menggemaskan seperti anak kecil.

Dengan kepala tertunduk, ia bertanya: “Apakah Tuan berdua mencari Liok-toasiauya?”

Wajah si muka codet menjadi gelap ketika ia bertanya: “Bagaimana kau tahu?”

Gadis kecil itu berkata: “Beberapa saat yang lalu Liok-siauya tampaknya sedang mabuk, aku kebetulan duduk di sampingnya, jadi diam-diam aku minum 2 gelas untuknya.”

Si muka codet mendengus: “Orang ini benar-benar mempunyai peruntungan yang baik dengan perempuan!”

Wajah gadis itu memerah dan ia menukas: “Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu! Lalu Liok-siauya tiba-tiba sadar, ia mengatakan padaku bahwa aku mempunyai hati yang baik dan itulah sebabnya ia mau memberiku sesuatu untuk dijual kepada tuan berdua.”

Si muka ungu segera menukas: “Apa yang dia berikan kepadamu?”

Gadis itu menjawab: “Sebuah…. sebuah kalimat.”

Si muka ungu mengerutkan keningnya: “Sebuah kalimat? Kalimat macam apa?”

Gadis itu menjawab: “Dia bilang kalimatnya ini berharga paling sedikit 300 tael perak. Dia juga bilang bahwa tuan berdua harus membayar dulu sebelum aku memberitahukan kalimat ini pada tuan-tuan.”

Agaknya ia pun merasa bahwa urusan ini memang mustahil. Sebelum ia selesai bicara, wajahnya bahkan sudah memerah.

Tapi si muka ungu tidak bimbang sedikit pun juga, ia segera mengeluarkan 3 lembar cek yang masing-masing bernilai 100 tael perak dan melemparkannya ke atas meja di depan gadis itu. Lalu ia berkata: “Baik, aku akan membeli kalimatmu itu.”

Mata gadis itu terbelalak lebar, menatap 3 lembar cek itu, tidak percaya kalau ada orang seperti ini di dunia, benar-benar mau membayar 300 tael perak hanya untuk satu kalimat.

Si muka ungu lalu memberi perintah: “Ayo ke sini dan bisikkan kepadaku, jangan sampai 4 binatang di sana itu pun ikut mendengarnya.”

Gadis itu bimbang sebentar sebelum akhirnya berjalan menghampiri laki-laki itu dan berbisik di telinganya: “Dia berkata: Jika kau ingin menemukanku, temukan dulu Lopannio (isteri juragan).”

Si muka ungu mengerutkan keningnya, dia tidak paham arti kalimat itu.

Tidak terhitung jumlah Lopannio di dunia ini, setiap toko minimal mempunyai seorang Lopannio. Bagaimana ia bisa menemukan orang yang dicari?

Gadis itu tiba-tiba menambahkan: “Dia bilang, jika kau tidak memahami kalimat ini, ia bisa menawarkan sebuah kalimat lagi sebagai petunjuk. Ia bilang bahwa Lopannio ini adalah yang tercantik di dunia.”

Si muka ungu berdiri termangu sesaat. Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia memberi isyarat kepada temannya dan mulai berjalan keluar.

Si muka codet mengikutinya. Tiba-tiba ia berpaling, meraup sebuah kendi arak yang kosong, dan melemparkannya.

Kendi kosong itu mendarat dengan mulus di atas kepala orang kedua dari Kangtang-si-kiat tadi, kebetulan kendi itu berwarna hijau.

Si muka codet tertawa terbahak-bahak: “Sekarang baru benar-benar mirip Ong-pat.”

Masih ada beberapa orang Lopannio yang cantik di dunia ini, yang mana yang paling cantik?

Si muka codet mengerutkan keningnya: “Apakah orang ini ingin agar kita pergi ke semua toko dan membandingkan setiap Lopannio-nya?”

Si muka ungu hanya menjawab: “Tidak.”

Si muka codet pun bertanya: “Apakah kau punya rencana?”

Si muka ungu berpikir sebentar dan berkata: “Kurasa aku bisa menebak apa yang ia maksudkan.”

Si muka codet bertanya lagi: “Apa maksud dia?”

Si muka ungu tiba-tiba tertawa: “Apakah kau lupa nama julukan Cu Ting?”

Si muka codet tergelak lagi: “Tampaknya aku juga harus membawakan satu kendi kosong untuk dia.”

______________________________

Cu Ting tidak pernah berdagang, dia juga tidak punya toko.

Karena ia percaya bahwa tidak perduli bisnis atau toko macam apa pun yang engkau buka, sukar bagimu untuk tidak kehilangan uang. Dia tidak pernah mau mengambil resiko seperti itu.

Sebenarnya ada sebuah alasan amat penting lainnya mengapa ia tidak pernah berbisnis, yaitu karena ia memang tidak punya cukup uang untuk memulai bisnis. Tapi nama julukannya kebetulan adalah Lopan (juragan).

Cu Ting adalah orang yang amat mengerti cara mencari kesenangan, dan ia juga selalu berpikiran terbuka tentang hal apa saja. Bila kedua hal ini terpenuhi, maka daging lebih di tubuhnya pun akan semakin bertambah dan bertambah.

Orang gemuk selalu terlihat seperti memiliki peruntungan yang baik, dan hanya orang-orang yang memiliki peruntungan baik ini yang bisa menjadi Lopan, maka banyak orang yang memanggilnya Lopan.

Kenyataannya, ia memang benar-benar memiliki banyak peruntungan.

Walaupun ia tidak begitu tampan, ia memiliki isteri yang sangat cantik; dia tidak pernah melakukan satu pun hal serius dalam hidupnya, tapi dia selalu tinggal dalam rumah yang amat nyaman, mengenakan pakaian-pakaian yang paling mewah, dan selalu minum arak terbaik.

Ada satu hal lagi yang sangat ia banggakan: ia selalu percaya bahwa ia adalah orang yang lebih pemalas daripada Liok Siau-hong.

Sekali kau lihat dia sedang duduk di kursinya yang besar dan nyaman itu, kau akan tahu bahwa tidak banyak hal yang bisa membuat dia bangkit dari situ.

Karena tidak perduli apa pun yang akan dia lakukan, dia akan selalu berhenti dulu dan memikirkannya sebentar.

Bagi seorang yang berpikiran terbuka seperti dia, tidak ada urusan di dunia ini yang harus dilakukan apabila dia memikirkannya dulu.

Ia bisa hidup demikian enaknya karena, dan hanya karena, keterampilan tangannya yang bisa membuat segala macam benda aneh. Jika engkau bisa membayangkannya, maka ia bisa membuatkannya.

Pernah ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia bisa membuat orang-orangan kayu yang bisa berjalan.

Dan ia pun memenangkan 50 helai karpet bulu burung walet dan 50 kendi arak simpanan, membuat dirinya mendapatkan 5 kati lemak lagi di tubuhnya. Sekarang ia sedang membayangkan bagaimana caranya membuat layang-layang yang cukup besar untuk bisa membawa orang terbang.

Dulu dia ingin melihat apa yang ada di bawah tanah, sekarang dia ingin naik ke langit.

Saat itulah dia mendengar suara dengus kuda di luar, lalu dia melihat 2 orang laki-laki berpakaian hijau.

Kali ini si muka codet tidak menendang pintu lebih dulu, karena pintu memang sedang terbuka.

Segera setelah menerjang masuk, ia menatap Cu Ting dan berseru: “Di mana Lopannio?”

Cu Ting menjawab dengan santai: “Jika kau ingin mencari Lopannio, maka kau harus pergi ke toko kelontong di seberang jalan, dia ada di sana.”

Si muka codet pun menjawab: “Di sini juga ada satu. Kau dipanggil Lopan, maka isterimu adalah Lopannio.”

Cu Ting tertawa: “Jika Lopannio di sini tahu kalau orang-orang dari Jing-ih-lau (Loteng Baju Hijau) datang mencarinya, dia pasti akan merasa amat beruntung.” Ternyata dia mengenali kedua orang ini.

Jing-ih-lau bukan terdiri dari 1 lau (loteng) saja, tapi ada 108 buah loteng, masing-masing dengan 108 orang anggota, sebuah organisasi yang sangat besar dan kuat.

Bukan hanya kuat, organisasi mereka juga sangat rahasia. Maka jika mereka ingin melakukan sesuatu, sangat jarang mereka gagal melakukannya.

Kedua orang ini adalah orang-orang yang potretnya terdapat di loteng pertama dari Jing-ih-lau.

Tidak ada yang tahu di mana loteng pertama berada, tidak ada juga yang pernah melihat potret 108 orang anggota mereka.

Tapi semua tahu bahwa jika seseorang memiliki potret di sana, maka dia bisa berbuat sesukanya di dunia persilatan.

Si muka codet itu dijuluki Thi-bin-boan-koan (Hakim Berwajah Besi). Menurut kabar burung, jika orang membacok wajahnya dengan golok, golok itu pun akan patah, dari situlah asal-usul nama Wajah Besi tersebut.

Orang yang satunya lagi berjuluk Kau-hun-jiu (Penggaet Sukma), karena ia telah banyak menggaet jiwa orang dengan sepasang gaetan peraknya.

Cu Ting meneruskan dengan santai: “Sayangnya dia sedang ada urusan penting, mungkin tidak punya waktu untuk bertemu dengan kalian.”

Thi-bin-boan-koan bertanya: “Urusan penting macam apa?”

Cu Ting menjawab: “Dia sedang minum arak dengan seorang teman. Bukankah minum-minum dengan temanmu adalah hal yang paling penting di dunia ini?”

Thi-bin-boan-koan bertanya: “Apakah teman kalian itu bermarga Liok?”

Wajah Cu Ting tiba-tiba berubah menjadi gelap: “Lebih baik hal ini diluruskan dulu. Orang bermarga Liok itu temannya, bukan temanku.”

Thi-bin-boan-koan bertanya lagi: “Di mana mereka minum-minum?”

Cu Ting menjawab: “Mungkin di Jing-hun-khek-can tempat orang itu menginap.”

Thi-bin-boan-koan memandangnya beberapa kali, tiba-tiba sebuah senyuman berbisa muncul di wajahnya: “Isterimu sedang berada di sebuah hotel, minum-minum dengan seorang penakluk wanita terkenal, dan kau masih bisa duduk-duduk di sini?”

Cu Ting menjawab dengan santai: “Anak-anak biasa mengintip, isteri-isteri biasa bergosip, ini hal yang tidak bisa dikendalikan orang. Apa yang bisa kulakukan selain duduk di sini? Naik ke atas atap, lalu berjumpalitan? Bergulingan di lantai dan merangkak?”

Thi-bin-boan-koan kembali tertawa terbahak-bahak: “Aku mengagumimu, kau orang yang murah hati.”

Dia tertawa sesering mungkin, karena dia tahu kalau dia tertawa, maka dia terlihat lebih menakutkan. Bila dia tertawa, codet di wajahnya tiba-tiba akan bergetar dan dia pun akan tampak lebih menyeramkan daripada hantu-hantu di kuil yang terpencil.

Cu Ting menatapnya: “Apakah kau punya isteri?”

Thi-bin-boan-koan menjawab: “Tidak.”

Cu Ting tertawa dan berkata dengan malas-malasan: “Jika kau punya isteri secantik isteriku, kau juga akan bermurah hati.”

______________________________

Liok Siau-hong sedang berbaring di atas ranjang, sebuah cawan besar yang penuh berisi arak berada di atas dadanya.

Satu-satunya sebab mengapa tidak ada arak yang tercecer adalah karena ia hanya berbaring di sana, tanpa bergerak sedikit pun juga, hampir seperti mayat. Ia bahkan tidak membuka matanya sekali pun. Alisnya tebal, bulu matanya panjang, dan tepat di bawah bibirnya ia memelihara kumis, kumis yang terawat sangat rapi.

Lopannio duduk di seberangnya, sedang menatap kumisnya.

Dia seorang wanita yang benar-benar cantik, dengan alis mata melengkung, mata yang besar, dan bibir yang penuh dan indah. Ia tampak seperti madu yang matang, tidak ada yang tak tahan untuk tidak memandangnya sekilas.

Tapi yang paling menarik dan menggoda dari dirinya bukanlah wajahnya, juga bukan tubuhnya, tapi gayanya yang matang.

Jika kau seorang laki-laki, kau akan tertarik dengan perempuan seperti ini.

Tapi saat ini tampaknya dia yang tertarik pada kumis Liok Siau-hong itu. Sesudah memandangnya beberapa lama, tiba-tiba dia tertawa dengan nyaring: “Kumismu itu benar-benar mirip dengan sepasang alismu, tidak heran semua orang mengatakan bahwa kau punya 4 alis.”

Wajahnya seperti bunga yang sedang mekar ketika ia tertawa: “Orang yang tidak pernah bertemu denganmu tak akan bisa menduga kalau kau punya sepasang alis di atas bibirmu.”

Liok Siau-hong masih tidak bergerak, tiba-tiba dia menghirup, cawan di atas dadanya pun tertarik ke bibirnya, arak di dalam cawan itu terhirup ke dalam mulutnya, dan “Glek!”, semuanya langsung habis.

Ia lalu meniup, cawan itu pun kembali ke posisinya semula.

Lopannio tertawa lagi: “Apakah kau sedang minum atau bermain sulap?”

Liok Siau-hong, dengan mata masih tertutup, tidak menjawab, ia hanya menunjuk pada cawan kosong di atas dadanya.

Lopannio tidak punya pilihan lain kecuali mengisi kembali cawan itu untuknya, tapi ia tak tahan untuk tidak berkomentar: “Kau ingin aku datang ke sini dan minum bersamamu, lalu kenapa kau hanya berbaring di situ seperti orang mati dan bahkan tidak memandang padaku?”

Liok Siau-hong akhirnya bicara: “Aku takut memandangmu.”

Lopannio menyelidiki lebih jauh: “Kenapa?”

Liok Siau-hong menjawab: “Aku takut kau akan merayuku.”

Lopannio menggigit bibirnya: “Kau sengaja memberi kesan pada orang lain bahwa ada sesuatu di antara kau dan aku, dan kau masih takut kalau aku merayumu, untuk apa sebenarnya kau melakukan semua ini?”

Liok Siau-hong menjawab: “Untuk suamimu!”

Lopannio terkejut: “Untuk dia? Kau benar-benar mengira dia suka menjadi kura-kura hidup?”

Liok Siau-hong menjawab: “Menjadi kura-kura hidup masih lebih baik daripada menjadi kura-kura mati!”

Ia tidak memberi kesempatan pada Lopannio untuk memotong: “Dengan profesinya sekarang ini, seseorang mungkin akan mencoba membunuhnya kapan saja dan di mana saja. Dia benar-benar telah terlalu banyak bertemu orang dan terlalu banyak tahu rahasia orang!”

Lopannio tidak bisa memperdebatkan hal itu, Cu Ting memang tahu banyak rahasia dan hal-hal yang aneh dari banyak orang.

Walaupun mereka tahu bahwa bibirnya selalu tertutup rapat, tapi bibir siapa yang lebih rapat daripada bibir orang mati?

Membunuh untuk menjaga rahasia mereka, itulah hal yang bisa saja dilakukan oleh orang-orang itu kapan saja.

Liok Siau-hong melanjutkan: “Sesudah dia tewas, aku sangat meragukan kalau kau akan bersedia menjanda selama setahun saja!”

Lopannio mengangkat alisnya dan mendengus: “Kau kira aku ini orang macam apa? Poa Kim-lian?”

Liok Siau-hong menjawab dengan santai: “Bahkan jika kau Poa Kim-lian, aku bukanlah Sebun Ging!”

{Catatan: Di sini disebut-sebut sebagian cerita Para Pahlawan Batas Air, salah satu dari 4 karya Sastra Cina Klasik tentang seorang wanita yang telah bersuami dan seorang laki-laki gendaknya.}

Lopannio menatapnya; tiba-tiba ia bangkit, berputar, dan mulai berjalan keluar. Liok Siau-hong masih berbaring di sana, sama sekali tidak bergerak, bahkan tidak memiliki keinginan untuk menariknya kembali.

Tapi baru saja Lopannio berjalan keluar dari pintu, ia segera melesat masuk kembali dan berdiri di dekat ranjang dengan tangan bertolak pinggang. “Kau kira aku benar-benar tidak tahu apa yang coba kau lakukan? Kau kira aku bodoh?”

Liok Siau-hong menjawab: “Memangnya tidak?”

Lopannio menjawab, lebih keras daripada yang diperlukan: “Kau bertengkar dengannya, tapi kau tetap khawatir kalau hidupnya berada dalam bahaya, itulah sebabnya kau ingin orang lain mengira bahwa ada sesuatu antara kau dan aku; karena jika aku ingin membuktikan kesucianku, aku tidak boleh membiarkan diriku menjadi janda, tentu saja aku harus memohon kepadamu untuk melindungi dia. Bila kau melindungi dia, maka orang lain pun harus berpikir masak-masak jika mereka ingin membunuh dia.”

Kemarahannya pun bertambah, begitu juga dengan volume suaranya: “Tapi pernahkah kau memikirkanku? Kenapa aku harus dibebani dengan awan gelap yang bau ini?”

Liok Siau-hong menjawab: “Demi suamimu!”

Lopannio tiba-tiba tidak bisa menjawab. Berkorban sedikit untuk suaminya memang sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang isteri.

Liok Siau-hong menambahkan: “Itulah sebabnya, asal suamimu percaya padamu, kau tidak boleh memikirkan atau bahkan perduli terhadap anggapan orang lain!”

Lopannio menggigit bibirnya dan berdiri dengan pikiran kosong sebentar sebelum akhirnya ia tidak tahan dan bertanya lagi: “Kau kira dia benar-benar mempercayaiku?”

Liok Siau-hong menjawab: “Dia bukan orang bodoh!”

Lopannio menatapnya: “Tapi apakah dia juga mempercayaimu?”

Liok Siau-hong menarik nafas dengan malas-malasan: “Mengapa tidak kau tanyakan sendiri kepadanya?”

Ia menghisap lagi dan meminum arak di cawan yang ada di atas dadanya, lalu ia bergumam pada dirinya sendiri: “Jika orang-orang Jing-ih-lau itu tidak bodoh, mereka tentu akan segera tiba, maka kau harus segera pergi!”

Lopannio tiba-tiba tampak gelisah: “Mereka sedang mencarimu, tapi untuk apa?”

Liok Siau-hong menjawab dengan santai: “Aku juga ingin menanyakan hal itu pada mereka, kalau tidak aku tak akan membiarkan mereka menemukanku!”

______________________________

Cu Ting sedang duduk di kursi malasnya, tenggelam dalam pikirannya sendiri, yang biasanya merupakan pikiran-pikiran atau ide-ide yang aneh.

Semua peralatan aneh dan ganjil buatannya berasal dari renungannya ini.

Lopannio berjalan masuk dengan anggun, menggenggam sehelai saputangan dengan kedua jarinya, dan, memilin-milinnya dengan gaya yang menggoda, berjalan di dekat Cu Ting sebanyak dua kali. Tapi Cu Ting tampaknya tidak memperhatikan.

Lopannio tidak bisa menahan dirinya lagi: “Aku pulang!”

Cu Ting menjawab: “Aku sudah lihat!”

Lopannio sengaja memasang mimik muka yang sangat misterius: “Aku baru saja minum arak dengan Siau-hong, begitu banyaknya sehingga aku masih agak mabuk sampai sekarang!”

Cu Ting menjawab: “Aku tahu!”

Lopannio mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali: “Tapi, selain minum, kami tidak melakukan apa-apa!”

Cu Ting menjawab: “Aku tahu!”

Lopannio tiba-tiba mulai berteriak: “Kau tahu kentut!”

Cu Ting menjawab: “Sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa tentang kentut!”

Temperamen Lopannio semakin naik dan ia pun berkata dengan ketus: “Aku telah menghabiskan waktu untuk minum-minum bersama laki-laki lain di kamarnya, kau bukan hanya tidak cemburu atau marah, engkau malah masih melamun saja di sini?”

Cu Ting menjawab: “Aku tidak tahu apa-apa, itulah sebabnya aku tidak cemburu atau marah.”

Lopannio bertolak pinggang lagi: “Seorang laki-laki seperti dia, seorang wanita seperti aku, bersama-sama di sebuah kamar, mungkinkah kami masih bersikap terpuji selama itu?”

Ia mendengus dan meneruskan: “Kau kira dia siapa? Seorang malaikat? Liu Ha-ih (nama orang dalam cerita klasik yang terkenal tidak bisa begituan dengan perempuan)?”

Cu Ting tersenyum: “Aku tahu dia seorang telur busuk, tapi aku percaya dia!”

Lopannio bertambah marah: “Kau tidak marah atau cemburu karena kau percaya dia, dan bukan karena kau percaya aku?”

Cu Ting menjawab: “Tentu saja aku percaya padamu!”

Lopannio mencela: “Tapi kau lebih mempercayai dia!”

Cu Ting menjawab: “Jangan lupa kalau kami sudah saling kenal sejak kami masih memakai popok!”

Lopannio mendengus: “Jadi kalian telah berteman selama 20 atau 30 tahun, lalu kenapa tampaknya kalian tiba-tiba berubah menjadi musuh seumur hidup, tidak pernah bicara satu sama lain!”

Cu Ting menjawab dengan santai: “Karena dia telur busuk besar, dan aku pun telur busuk besar!”

Lopannio menatapnya sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak, menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa, ia berkata: “Kalian 2 telur busuk ini melakukan apa saja, bukan hanya tidak bisa kubayangkan, malah aku semakin bingung bila mencoba memikirkannya.”

Cu Ting menjawab: “Tentu saja kau tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh telur busuk besar, karena kau bukan telur busuk besar.”

Akhirnya Lopannio tersenyum manis dan berkata: “Akhirnya ada juga ucapanmu yang masuk di akal.”

Cu Ting tersenyum sedikit dan menambahkan dengan santai: “Paling banyak kau cuma telur busuk kecil, telur busuk yang sangat-sangat kecil!”

______________________________

Mata Liok Siau-hong masih tertutup sementara ia tetap berbaring di atas ranjang, dengan secawan penuh arak bertengger di atas dadanya.

Cawan itu diisi oleh Lopannio sebelum ia pergi tadi. Liok Siau-hong tidak akan bangkit dari ranjangnya hanya untuk secawan arak.

Ranjang itu lembut dan nyaman, tidak ada yang bisa membuatnya bangkit dari ranjang itu sekarang.

Jubah merahnya tergantung di sebuah gaetan di kepala ranjang. Untuk suatu alasan tertentu, tidak perduli kapan dan di mana pun, ia selalu membawa jubah seperti ini.

Kau hanya perlu melihat jubah merah ini dan kau akan tahu bahwa dia berada di situ.

Thi-bin-boan-koan dan Kau-hun-jiu pun sudah melihat jubah merah itu sekarang, mereka melihatnya dari jendela.

Lalu mereka bedua melompat masuk lewat jendela, langsung ke kepala ranjang, dan menatap Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong masih berbaring di sana seperti orang mati, tidak sedikitpun ada reaksi atau gerakan, bahkan tampaknya tidak bernafas.

Thi-bin-boan-koan bertanya dengan bengis: “Apakah kau Liok Siau-hong?” Tidak ada jawaban.

Kau-hun-jiu mengerutkan keningnya dan berkata dengan dingin: “Kurasa orang ini sudah mati!”

Thi-bin-boan-koan mendengus: “Mungkin sekali, orang seperti ini memang tidak berumur panjang!”

Liok Siau-hong tiba-tiba membuka matanya, memandang mereka, ia segera menutup matanya lagi dan bergumam: “Aneh, aku bersumpah telah melihat 2 orang manusia di kamar ini!”

Thi-bin-boan-koan menjawab dengan keras: “Karena memang ada 2 orang manusia di kamar ini!”

Liok Siau-hong bertanya: “Jika benar ada 2 orang manusia di sini, lalu kenapa aku tidak dengar suara ketukan sebelumnya?”

Kau-hun-jiu menjawab: “Itu karena kami memang tidak mengetuk.”

Liok Siau-hong membuka matanya lagi dan memandang mereka, tiba-tiba ia bertanya: “Apakah kalian benar-benar manusia?”

Thi-bin-boan-koan menjawab dengan marah: “Lalu apa kalau kami bukan manusia? Hantu?”

Liok Siau-hong berkata: “Manusia selalu mengetuk pintu sebelum mereka masuk ke ruangan, cuma anjing liar yang melompat lewat jendela!”

Wajah Kau-hun-jiu berubah warna. Tiba-tiba ia mengayunkan cambuknya. Dia bukan saja termasuk 4 orang pendekar yang terkenal dengan senjata gaetan gandanya di daerah dalam Tembok Besar, kungfu dan keahliannya menggunakan cambuk kulit ular itu juga sama sekali tidak buruk.

Menurut kabar angin, dia mampu menghancurkan sebutir kenari yang ada di atas 3 potong tahu.

Jelas Liok Siau-hong jauh lebih besar daripada sebutir kenari, apalagi dia sedang berbaring di ranjang itu seperti orang mati, maka tidak mungkin serangannya ini akan gagal.

Tapi siapa yang tahu kalau Liok Siau-hong tiba-tiba mengangkat tangannya dan menjepit cambuk itu di antara 2 jarinya seperti seorang pengemis tua yang menjepit kutu.

Dia tidak mempelajari gerakan ini dari Hoa Ban-lau, dialah yang mengajarkannya kepada Hoa Ban-lau.

Ekspresi wajah Kau-hun-jiu persis seperti Cui It-tong waktu goloknya tertangkap, sebentar hijau, lalu putih, dan akhirnya menjadi merah.

Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya, tapi masih tidak mampu merenggut cambuk itu dari jepitan jari-jari Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong masih berbaring dengan santai di sana, tanpa setetes pun arak yang tumpah dari dalam cawan di atas dadanya.

Thi-bin-boan-koan melihat semua itu dari samping dengan raut muka terkejut, tiba-tiba ia tertawa dan berkata: “Hebat, kungfu yang benar-benar hebat! Liok Siau-hong benar-benar sehebat yang dikatakan kabar burung.”

Kau-hun-jiu tiba-tiba juga tertawa sambil melepaskan cambuknya: “Kali ini aku yakin bahwa Liok Siau-hong yang ini benar-benar tulen!”

Thi-bin-boan-koan menambahkan: “Di jaman ini, jumlah penipu di dunia persilatan bertambah setiap harinya, jadi sahabat Liok jangan menyalahkan kami.”

Dengan 2 kalimat itu mereka berdua berusaha menolong diri mereka sendiri dari posisi yang serba salah, tapi Liok Siau-hong seperti telah tertidur lagi.

Kau-hun-jiu merasa sukar untuk tetap tertawa sehingga ia terbatuk 2 kali dan berkata: “Kurasa sahabat Liok sudah tahu siapa kami!”

Dia tampaknya mengingatkan Liok Siau-hong untuk tidak melupakan bahwa orang-orang Jing-ih-lau bukanlah orang-orang yang bisa disepelekan.

Thi-bin-boan-koan berkata: “Kami datang hanya karena kami diperintahkan untuk mengundang sahabat Liok ikut dengan kami, kami bukan hanya bertanggung-jawab untuk mengundang dan mengantarkanmu, tapi kami juga harus memastikan kalau sehelai rambutmu pun tidak akan terusik.”

Liok Siau-hong akhirnya menarik nafas dengan malas-malasan: “Mengapa aku harus ikut dengan kalian? Rasanya tidak mungkin Lopannio kalian ingin agar aku menemaninya di tempat tidur!”

Wajah Thi-bin-boan-koan menjadi gelap dan ia pun menjawab dengan dingin: “Di sana kami tidak punya Lopannio, tapi di sini ada!”

Wajah Liok Siau-hong juga menjadi gelap: “Karena kalian sudah tahu tentang hal ini, maka kalian harus kembali dan laporkan pada orang she Wi di loteng kalian itu bahwa sebaiknya dia tidak mengganggu Cu Ting, atau aku akan membakar ke-108 lau (loteng) kalian itu!”

Thi-bin-boan-koan mendengus: “Jika kami membunuh Cu Ting, kami mungkin telah membantumu, bukannya begitu?”

Liok Siau-hong menjawab dengan sederhana: “Apakah kalian belum pernah dengar? Aku tidak menyukai janda.”

Thi-bin-boan-koan menjawab: “Asal kau setuju ikut dengan kami, aku berjanji bahwa Lopannio tidak akan segera menjanda.”

Baru saja dia selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.

Tidak ada orang di luar, orang yang mengetuk itu telah berada di dalam kamar.

Dia tidak menggunakan tangannya untuk mengetuk, karena dia tidak punya tangan.

______________________________

Senja kembali tiba.

Sinar matahari terbenam menembus jendela dan menyinari wajah orang itu. Wajah itu benar-benar tidak bisa dianggap sebagai wajah manusia.

Setengah dari wajah sebelah kiri telah teriris, lukanya meninggalkan kerutan, menarik hidung dan matanya ke sisi itu, bukan sebuah hidung sebenarnya, tapi hanya setengahnya, dan bukan sepasang mata, tapi hanya satu.

Sebuah lubang yang gelap dan dalam, itulah yang tersisa di mata kanannya, tampak sebuah codet besar di pipinya, kedua tangannya telah buntung di pergelangan, di pergelangan tangan kanannya ada sebuah gaetan yang menakutkan, dan di pergelangan tangan kiri ada sebuah bola besi besar yang ukurannya lebih besar daripada kepala manusia.

Bila dibandingkan dengan orang ini, Thi-bin-boan-koan tiba-tiba tampak seperti laki-laki yang tampan dan halus.

Sekarang ia berdiri di dalam kamar dan mengetuk pintu dengan gaetan besi di tangan kanannya sambil berkata dengan dingin: “Aku bukan anjing liar, aku manusia, maka bila aku masuk ke kamar orang lain, aku selalu mengetuk pintu!”

Bila ia bicara, bagian wajahnya yang teriris akan mengerut, mukanya pun seperti menangis, tapi juga seperti tertawa.

Melihat orang ini, bahkan Thi-bin-boan-koan pun tak tahan untuk tidak bergidik.

Ia benar-benar tidak melihat bagaimana caranya orang ini masuk. Kau-hun-jiu pun telah mundur 2 langkah dan berteriak: “Liu Ih-hin?”

Suara tawa seperti 2 pedang berkarat yang saling bergesekan terdengar dari tenggorokan orang itu: “Masih ada orang di dunia ini yang mengenaliku, itu jarang sekali terjadi di jaman sekarang.”

Thi-bin-boan-koan tampak terkejut: “Kau adalah Giok-bin-long-kun (Laki-laki Berwajah Kemala) Liu Ih-hin?”

Orang seperti ini disebut sebagai Laki-laki Berwajah Kemala?

Tapi orang ini mengangguk dan ia berkata dengan sedih: “Perasaan seperti kebencian yang terlupakan, tidak ada gunanya mengungkit-ungkit masa lalu. Laki-laki Bermuka Kemala sudah mati, sayangnya Liu Ih-hin masih hidup.”

{Ih-hin berarti kebencian yang terlupakan, sebuah permainan kata-kata.}

Raut muka Thi-bin-boan-koan tampak berubah: “Mengapa kau datang ke sini?”

Tampaknya ia sangat takut kepada orang ini, begitu takutnya sehingga suaranya pun terdengar berubah.

Liu Ih-hin menjawab dengan dingin: “Liu Ih-hin ingin mati 10 tahun yang lalu, tapi karena dia masih hidup sampai hari ini, maka aku pun datang untuk meminta kematian.”

Thi-bin-boan-koan bertanya: “Kenapa aku harus membunuhmu?”

Liu Ih-hin menjawab: “Karena jika kau tidak membunuhku, akulah yang akan membunuhmu.”

Thi-bin-boan-koan terpana. Wajah Kau-hun-jiu pun berubah menjadi hijau.

Saat itulah kembali terdengar suara ketukan di pintu.

Kali ini orang yang mengetuk berada di luar, tapi tiba-tiba dia berjalan masuk, dia masuk tanpa membuka pintu.

Pintu kayu yang tebal itu seperti sehelai kertas tipis di hadapannya!

Ia tidak menghancurkan pintu itu dengan memakai alat atau mendepak pintu itu dengan kakinya, ia hanya berjalan maju begitu saja dan pintu itu pun tiba-tiba hancur berkeping-keping.

Tapi penampilannya sama sekali tidak mencerminkan kekasaran, dia malah terlihat seperti seorang pelajar yang halus dan lembut, wajahnya yang putih dan bersih itu pun selalu tersenyum.

Sekarang dia sedang tersenyum dan berkata: “Aku juga manusia, maka aku juga mengetuk.”

Thi-bin-boan-koan tiba-tiba melihat bahwa sekalipun dia tersenyum, nafsu membunuh dan tatapan setajam pisau tampak menyorot di matanya.

Kau-hun-jiu kembali mundur 2 langkah dan berseru: “Siau Jiu-ih!”

Orang itu tersenyum: “Hebat, sobat, pengetahuanmu memang mengesankan!”

Thi-bin-boan-koan kembali terkejut: “Toan-jong-kiam-khek (Pendekar Pedang Penghancur Usus) Siau Jiu-ih?”

Orang itu mengangguk dan menarik nafas: “Angin dan hujan musim gugur selalu menghadirkan kecemasan, kalau ada yang akan terbunuh, aku pun selalu merasa cemas.”

(Catatan: Jiu-ih berarti angin musim gugur, kembali sebuah permainan kata-kata.)

Thi-bin-boan-koan tak tahan untuk tidak bertanya: “Mencemaskan apa?”

Siau Jiu-ih menjawab dengan santai: “Sekarang pun aku sedang cemas karena aku tak bisa memutuskan apakah aku yang akan membunuh kalian atau aku harus membiarkan Liu-toako yang membunuh kalian.”

Thi-bin-boan-koan tiba-tiba tertawa, tapi suara tawanya tersekat di tenggorokan dan lebih mirip suara tangisan.

Kau-hun-jiu malah lebih lucu, ia memandang ke sekeliling ruangan itu, seolah-olah sedang mencari jalan keluar.

Tiba-tiba seorang laki-laki berkata sambil tertawa: “Apa yang kau cari? Sepasang gaetan perakmu?”

Laki-laki ini berdiri di luar jendela, wajahnya tirus dan hitam dan tubuhnya pendek, tapi dia mempunyai jenggot berwarna merah yang menutupi sebagian besar wajahnya, juga ada sepasang gaetan di genggamannya, gaetan milik Kau-hun-jiu.

Ia tersenyum dan berkata: “Aku sudah membawakan gaetanmu ke sini, ambillah!”

Waktu dia selesai mengatakan ‘ambillah’, dia mendorongkan tangannya ke depan dan sepasang gaetan itu terbang dengan perlahan ke arah Kau-hun-jiu, benar-benar perlahan, seolah-olah ada sepasang tangan tak kelihatan yang membawanya.

Bahkan Thi-bin-boan-koan pun mengenali orang ini dan dia berteriak: “Jian-li-tok-heng (Pengelana Ribuan Li) Tokko Hong?”

Tokko Hong juga mengangguk: “Aku jarang memasuki kamar orang lain, tapi kali ini aku membuat pengecualian!” Waktu ucapannya habis, dia sudah menghilang.

Tiba-tiba ia muncul di pintu dan mengetuk pintu yang telah hancur itu; tepat ketika suara ketukan terdengar, dia tiba-tiba melesat kembali ke jendela dan melompat masuk lewat jendela; sambil tersenyum, ia berkata: “Aku manusia juga, aku mengetuk.”

Pintu itu telah hancur berkeping-keping, tapi dia masih mengetuknya; sesudah mengetuk, dia malah melompat masuk lewat jendela.

Kau-hun-jiu telah menangkap gaetannya. Tiba-tiba dia berteriak dengan bengis: “Apakah kau ke sini untuk mengganggu kami juga?”

Tokko Hong menjawab dengan santai: “Aku tidak membunuh anjing liar, aku hanya menonton orang membunuh.”

Ia menarik sebuah kursi dan duduk, tepat di dekat jendela. Langit di luar sana tampak semakin merah.

Liok Siau-hong masih berbaring dengan santai di ranjangnya, seolah-olah tak perduli apa pun yang terjadi di sana, semuanya tak ada hubungannya dengan dirinya.

Ia tahu tentang Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong.

Mungkin tidak banyak orang di dunia persilatan yang tak tahu tentang mereka, tapi lebih sedikit lagi orang yang bisa membuat Liok Siau-hong bangkit dari ranjang itu sekarang. Tampaknya dia telah memutuskan untuk tinggal di situ dan bermalas-malasan di atas ranjang.

Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong mungkin bukan orang-orang yang paling aneh di dunia persilatan, namun mereka tidak jauh dari itu. Tapi sekarang mereka datang bersama-sama dan muncul di sini, sebenarnya untuk apa?

Walaupun wajahnya terlihat amat hijau, Kau-hun-jiu masih bisa mendengus dan berkata: “Jing-ih-lau tiada persoalan atau dendam permusuhan dengan kalian bertiga, kenapa kalian datang ke mari dan membuat masalah dengan kami?”

Siau Jiu-ih menjawab: “Karena aku suka!”

Ia tersenyum dan melanjutkan: “Aku membunuh siapa pun yang aku inginkan bila aku suka, aku ingin membunuh kalian berdua hari ini, maka aku datang untuk membunuh kalian!”

Kau-hun-jiu melirik Thi-bin-boan-koan dan bertanya dengan lambat: “Bagaimana jika kau tidak suka?”

Siau Jiu-ih menjawab: “Bila aku tidak suka, bahkan jika kau berlutut dan memohon juga aku tidak akan mengangkat satu jari pun!”

Kau-hun-jiu menarik nafas; saat itu juga Thi-bin-boan-koan melompat maju dan berjumpalitan, dengan sepasang boan-koan-pitnya yang terbuat dari besi ia menutuk ke arah hiat-to di tubuh Liu Ih-hin.

Gerakannya tidak luar biasa, tapi akurat, cepat, dan efektif!

Liu Ih-hin malah melangkah maju. “Buk!”, Sepasang boan-koan-pit itu serentak menusuk pundak dan dadanya.

Tapi bola besi yang terpasang di tangan kirinya juga mendarat di wajah Thi-bin-boan-koan. Wajah itu tiba-tiba hancur terbelah dua.

Dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat tubuhnya melunglai, tapi gaetan di tangan kanan Liu Ih-hin menahan tubuhnya dan mencegahnya roboh ke lantai.

Boan-koan-pit itu masih menancap di tubuh Liu Ih-hin, walaupun tidak mengenai jalan darah yang dituju, tapi tetap saja telah menancap dalam-dalam.

Liu Ih-hin seolah-olah tidak merasakannya dan ia hanya memandang dingin pada wajah yang hancur itu; tiba-tiba ia berkata dengan dingin: “Ternyata wajahnya tidak terbuat dari besi.”

Sekali ayun dengan gaetannya dan tubuh Thi-bin-boan-koan pun melayang keluar jendela, untuk menemui Hakim yang sebenar-benarnya.

Saat itulah sepasang gaetan perak milik Kau-hun-jiu juga melayang keluar jendela.

Tapi dia masih berada di dalam kamar itu, wajahnya pucat, tangannya terkulai, sambungan di kedua tangan itu sudah mengeluarkan darah dengan derasnya.

Darah juga menetes dari pedang pendek di tangan Siau Jiu-ih.

Ia tersenyum, memandang pada Kau-hun-jiu, dan berkata: “Kelihatannya kau tak akan pernah bisa menggaet jiwa orang lagi dengan tanganmu itu!”

Kau-hun-jiu mengkertakkan giginya, begitu kerasnya sehingga terdengar di seluruh ruangan itu, tiba-tiba dia menjerit: “Kenapa kau tak membunuhku!”

Siau Jiu-ih menjawab: “Karena aku tidak ingin membunuhmu, sekarang aku ingin kau pulang dan beritahu pada orang-orang di lotengmu bahwa mereka lebih baik tinggal di sana dan jangan keluar selama 2 bulan ini, atau mereka akan menemukan kenyataan bahwa sangatlah sukar untuk kembali ke loteng kalian dalam keadaan hidup.”

Mimik muka Kau-hun-jiu berubah beberapa kali, tapi ia tidak berkata apa-apa dan mulai berjalan ke arah pintu.

Tiba-tiba Tokko Hong muncul di hadapannya dan berkata dengan dingin: “Kau masuk lewat jendela, jadi sebaiknya kau juga keluar lewat jendela!”

Kau-hun-jiu menatapnya dengan bengis sebelum akhirnya menghentakkan kakinya, 2 orang yang masuk lewat jendela itu akhirnya keluar lewat jendela juga.

Liu Ih-hin memandang langit yang gelap di luar jendela, boan-koan-pit itu masih menancap di tubuhnya.

Siau Jiu-ih berjalan menghampiri dan mencabut boan-koan-pit itu dengan perlahan. Melihat darah yang mengucur dari dadanya, sedikit rasa simpati pun muncul dari sepasang matanya yang dingin seperti batu.

Liu Ih-hin tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam: “Sayang…. sayang….”

Siau Jiu-ih bertanya: “Sayang kau tidak mati kali ini?”

Liu Ih-hin tidak menjawab!

Siau Jiu-ih juga menarik nafas dalam-dalam: “Kenapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri?”

Tokko Hong tiba-tiba juga menarik nafas: “Kau menghancurkan usus orang, tapi dia menghancurkan dirinya sendiri!”

______________________________

Seseorang telah tewas di kamar itu dan kamar itu sendiri pun berantakan, tapi Liok Siau-hong masih tidak bergerak sedikit pun juga, seolah-olah ia tidak melihat apa-apa.

Yang lebih aneh lagi adalah ketiga orang itu tampaknya juga tidak meliriknya, seakan-akan tidak ada orang yang berbaring di atas ranjang tersebut.

Kamar itu sudah gelap. Mereka berdiri di sana dalam kegelapan, tidak ada yang bicara, tapi tidak ada juga yang pergi.

Saat itulah terdengar suara musik yang mengalun dibawa angin malam, suara yang indah seolah datang dari surga.

Semangat Tokko Hong tiba-tiba tampak bangkit. Ia berkata dengan suara yang serius: “Mereka di sini!”

Siapa yang ada di sini? Siapa yang memainkan musik yang demikian indah?

Liok Siau-hong ikut mendengarkan juga, tak ada yang tahan untuk tidak mendengarkan musik seperti ini.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa kamar yang tadinya penuh dengan bau anyir darah, sekarang penuh dengan aroma yang sangat harum.

Aromanya lebih wangi daripada harum bunga yang datang terbawa angin bersama alunan musik itu, dalam sekejap mata dunia terasa penuh dengan keharuman yang luar biasa ini.

Lalu kamar yang gelap itu mendadak jadi terang benderang.

Liok Siau-hong akhirnya tak tahan untuk tidak membuka matanya, tiba-tiba ia melihat bunga-bunga memenuhi udara.

Bunga-bunga segar dari berbagai jenis tampak terbang dibawa angin melalui jendela dan pintu sebelum akhirnya mendarat di lantai dengan perlahan.

Sebuah karpet dari bunga-bunga segar tiba-tiba tercipta di atas lantai, terhampar hingga keluar pintu kamar.

Seseorang berjalan memasuki pintu itu.

Liok Siau-hong sudah banyak melihat wanita, ada yang jelek, ada pula yang sangat cantik. Tapi dia belum pernah melihat wanita secantik ini.

Dia mengenakan jubah hitam lembut yang terjulai sampai ke lantai, menyentuh bunga-bunga segar itu.

Rambutnya yang hitam terurai hingga ke pundak, tapi wajahnya putih, biji matanya yang hitam tampak begitu gelapnya sehingga terlihat berkilauan.

Tidak ada perhiasan lain, tak ada warna lain.

Ia berdiri di atas bunga-bunga itu, tetapi bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni di atas lantai itu tiba-tiba seakan kehilangan warnanya.

Kecantikan seperti ini tidak berasal dari alam dunia, ini sesuatu yang lebih agung, sesuatu yang jauh di luar jangkauan akal pikiran.

Liu Ih-hin, Siau Jiu-ih, dan Tokko Hong diam-diam berpindah ke sudut ruangan, wajah mereka penuh dengan perasaan hormat.

Liok Siau-hong merasa seakan-akan berhenti bernafas. Tapi ia masih tidak mau bangkit.

Gadis berjubah hitam itu menatapnya, biji matanya bening dan jernih seperti embun musim semi yang jatuh di atas bunga mawar di saat fajar menjelang.

Suaranya juga lembut seperti angin, seperti angin musim semi yang berhembus di atas danau di pegunungan yang jauh sana di saat fajar tiba.

Tetapi senyumannya misterius, misterius seperti suara seruling yang mengalun di kejauhan di tengah malam yang sepi dan tenang, mengambang tanpa tujuan, membuat mustahil untuk ditebak maksud dan tujuannya. Ia memandang Liok Siau-hong, lalu tersenyum, tiba-tiba ia pun berlutut, seolah-olah segumpal awan di langit tiba-tiba turun ke dunia nyata.

Liok Siau-hong tidak bisa berdiam diri lagi di atas ranjang. Tiba-tiba ia melompat bangkit.

Tubuhnya mendadak seperti berubah menjadi sebatang anak panah yang melesat dari busur yang dipentang sekuatnya, tubuhnya terbang menembus kelambu tempat tidurnya; diikuti oleh suara “Brak!” ketika ia menembus atap.

Sinar bulan menyinari lubang di atap yang baru saja dibuatnya, tapi dia sudah tidak kelihatan lagi.

Seorang gadis yang sangat manis dan berwajah jujur dengan mata yang besar dan bundar, berdiri di samping gadis berjubah hitam itu, berdiri di atas hamparan bunga-bunga.

Melihat Liok Siau-hong tiba-tiba melarikan diri seperti baru saja melihat hantu, gadis itu merasa agak takut dan tak tahan lagi untuk tidak bertanya: “Yang Mulia begitu sopan dan hormat kepadanya, kenapa dia malah lari? Apa yang dia takuti?”

Gadis berjubah hitam tidak menjawab pertanyaan itu.

Tiba-tiba dia berdiri, menyentuh dengan perlahan rambutnya yang lembut seperti awan dan sebuah ekspresi aneh pun muncul di sepasang matanya yang bening dan bersinar; tak berapa lama kemudian ia akhirnya berbisik: “Dia benar-benar orang yang cerdik, salah satu orang yang paling cerdik di dunia ini!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: