Kumpulan Cerita Silat

10/01/2008

Pendekar Baja (04)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:20 am

Pendekar Baja (04)
Oleh Gu Long

It-siau-hud tertawa lebar, katanya, “Kalau demikian, pukulan Ong-heng tentu dapat membuat batu hancur dan melayang kencang laksana panah?”

Tiba-tiba Hongbu Siong berdiri, serunya sengit, “Baiklah, ingin kumohon pengajaran padamu.”

Ong-jimoacu menepuk jubah pendeknya yang berwarna kuning, lalu mengetuk pipa cangklongnya di pinggir meja, perlahan ia berdiri. Tertampak mukanya kuning, matanya sipit berbentuk segitiga, jenggot pendek menyerupai kambing, berdiri pun rasanya payah, langkahnya sempoyongan, dia mendekati Hongbu Siong, katanya dengan tersenyum, “Boleh kau coba memukulku sekali!”

Hongbu Siong berkata, “Pukulanku tidak murni, bila kurang hati-hati melukai Anda, mana aku berani menanggungnya?”

Ong-jimoacu mengelus jenggot, katanya dengan tertawa, “Jika aku terpukul mampus, memang akulah yang sial, takkan kusalahkan orang lain, apalagi aku ini sebatang kara, ingin mencari bini juga serbasusah, maka jangan khawatir ada orang akan menuntut balas kepadamu.”

Hongbu Siong menoleh ke kiri-kanan, katanya kemudian dengan bengis, “Kau sendiri yang menghendaki, kuharap kawan-kawan yang hadir menjadi saksi …. Haait!” di tengah bentakannya, jenggot panjang kelihatan bergetar, telapak tangannya mendadak memukul dada Ong-jimoacu, pukulannya memang keras dan dahsyat.

“Serangan bagus!” puji Ong-jimoacu, berbareng telapak tangannya terus ditolak ke depan, dia sambut pukulan lawan.

“Blang”, begitu kedua telapak tangan beradu, Hongbu Siong tertolak mundur beberapa langkah, dadanya kembang-kempis, dengan mendelik ia menatap Ong-jimoacu sekian lama, mendadak mulutnya menyemburkan darah segar.

Terkejut Siau Mo-in, teriaknya, “Hongbu-heng, kau ….” segera ia memburu maju hendak mamapahnya, tapi Hongbu Siong mengipratkan tangannya dan mengentak kaki dengan gemas, mendadak dia lari keluar.

Siau Mo-in hendak mengejar, tapi urung, ia tertawa getir sambil geleng-geleng kepala.

It-siau-hud tertawa, katanya, “Boleh juga kau, Ong-heng, hari ini kau membuat mataku terbuka.”

Sekali genjot Ong-jimoacu memukul mundur musuh, sikapnya tetap wajar, katanya sambil mengelus jenggot, “Terima kasih, Taysu terlalu memuji.”

Tatkala itu ruang makan menjadi kacau, pecahan mangkuk piring berceceran di lantai, tinggal meja Cu Jit-jit dan kedua suami-istri tadi yang tidak terganggu.

Sim Long tetap asyik dengan araknya, sikapnya santai, seperti tak acuh terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Cu Jit-jit tetap mengawasinya dengan kesima. Sementara suami-istri itu dengan tersenyum mengawasi anak mereka, tapi putri mereka, si gadis cilik berpakaian hijau pupus itu berulang berpaling dan menggoda si anak merah, tapi anak merah itu pura-pura tidak melihat, namun terkadang juga mengerut alis, menghela napas, lagaknya mirip orang tua. Keenam orang ini seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tidak menghiraukan orang lain.

It-siau-hud melangkah ke sana, tapi suami istri itu tetap diam, seperti tidak melihat dan mendengar.

Cu Jit-jit mendesis, “Kalau Hwesio gede ini mencari perkara terhadap mereka berarti dia cari susah sendiri.”

Seluruh hadirin menumplakkan perhatian ke arah It-siau-hud dan kedua suami-istri itu dan ingin menyaksikan bagaimana It-siau-hud hendak menguji kedua orang ini.

Tak tahunya, belum It-siau-hud membuka suara, sekonyong-konyong di kejauhan terdengar jeritan ngeri susul-menyusul, ada yang jauh, ada yang dekat, ada yang di sebelah kanan, ada yang di sebelah kiri, ada pula yang seperti terjadi di dalam lingkungan hotel ini.

Jeritan itu sangat menusuk telinga, membuat bulu roma berdiri.

Semua orang berubah air mukanya, It-siau-hud mendahului melesat ke arah jendela, sekali pukul dia dobrak daun jendela, angin dingin kontan mengembus masuk membawa bunga salju, lilin dalam ruang makan seketika tertiup padam.

Di tengah kegelapan tiba-tiba berkumandang seorang bernyanyi, “Bulan purnama menerangi pusara, hati tamak jangan berbuat jahat, bila masuk kota Pit-yang, harus mampus di kota ini ….”

Suaranya memilukan, sayup bergema di angkasa, di tengah kegelapan yang tak berujung seperti ada setan iblis yang menyeringai dan hendak mencabut nyawa.

Serasa beku darah seluruh hadirin, entah lewat berapa lama kemudian, tiba-tiba It-siau-hud membentak bengis, “Kejar!”

Segera berjangkit kesiur angin, tiba-tiba bayangan orang sama berlompatan keluar jendela. It-siau-hud melayang paling depan, sekuat tenaga dia mengayun langkah, “ser, ser”, terasa olehnya ada beberapa orang melesat mendahului dirinya.

Malam gelap angin kencang, bunga salju bertaburan.

It-siau-hud tidak melihat jelas bayangan mereka, tapi dilihatnya setelah berlompatan beberapa kali, beberapa bayangan itu mendadak berhenti, semua menunduk memandang ke bawah seperti menemukan apa-apa. Setelah dekat Baru It-siau-hud melihat jelas tiga bayangan itu adalah Sim Long dan kedua suami-istri itu, di atas tanah bersalju di depan mereka menggeletak delapan mayat. Mereka adalah orang-orang gagah yang berkumpul dalam ruang makan tadi. Mereka mati meringkuk, agaknya mendadak disergap, sebelum melawan, jiwa sudah melayang.

“Siapa yang turun tangan?” tanya It-siau-hud dengan terkesiap, “cepat amat gerakannya!”

Laki-laki itu menggendong putrinya, mendadak dia tepuk paha dan berteriak girang, “Ada seorang belum mati.”

Sim Long memburu maju dan membangunkan orang itu, tangan kiri menahan punggungnya dan menyalurkan hawa murni ke tubuh orang.

Keadaan orang itu sudah kempas-kempis, kini mendadak seperti ada setitik harapan hidup, setelah menarik napas panjang, dengan jari tangan yang gemetar ia menuding ulu hati sendiri, katanya, “Panah … panah ….”

“Panah apa? Di mana?” tanya Sim Long.

“Di ….” mendadak tubuh orang itu mengejang dan tak mampu bicara lagi, waktu Sim Long memegangnya, napasnya sudah putus, tubuhnya terasa dingin, umpama ada obat dewa juga tak bisa menolongnya lagi.

Umumnya orang yang baru mati, betapa pun mayatnya takkan dingin seketika, tapi begitu orang ini mati, sekujur tubuhnya lantas kaku, sungguh kejadian yang tidak biasa.

Sim Long berkerut alis, sesaat dia termenung, katanya kemudian, “Siapa bawa geretan api?”

Saat mana rombongan orang banyak telah menyusul tiba, seorang segera mengetik api menyalakan obor. Api yang ditiup angin tampak guram, namun cukup terang menyinari sekitarnya, tampak muka orang mati itu menunjuk mimik ketakutan, kedua matanya melotot, mukanya berubah hitam, malah juga membengkak, keadaannya sangat seram. Keruan semua orang sama merinding, terdengar Cu-bu-cui-hun Mo Si berkata, “Racun, sungguh senjata rahasia beracun yang lihai ….”

It-siau-hud berjongkok, ia coba menyingkap pakaian orang, tertampak sekujur badannya juga membengkak hitam, tepat di tengah dadanya terdapat sebuah luka bekas tusukan panah, darah hitam masih meleleh keluar, tapi senjata rahasia apa yang melukai tidak ditemukan.

Setelah diperiksa lagi mayat-mayat yang lain pun serupa keadaannya, semua mati lantaran terkena senjata rahasia beracun, tapi senjata rahasianya tidak kelihatan. Orang banyak saling pandang, tiada seorang yang mampu bicara.

Di tengah embusan angin dingin, terdengar suara keriang-keriut, suara gigi yang gemertuk, orang jadi ikut mengirik.

It-siau-hud sendiri juga merinding, katanya dengan suara tertahan, “Apakah kalian tahu senjata rahasia macam apakah yang mematikan mereka?”

Sim Long berkata, “Dari bentuk lukanya jelas bidikan panah.”

Mo Si mendesis, “Panah? Lantas di manakah panahnya?”

Setelah berpikir, It-siau-hud berkata, “Jika pembunuh itu membidikkan panah, setelah mereka terbunuh lalu memunguti pula panah-panah itu, kurasa hal ini agak janggal dan tidak masuk akal, tapi kalau tidak demikian kejadiannya, lalu ke mana panah-panah itu?”

Mendadak suara nyanyian memilukan tadi terdengar pula terbawa angin, arahnya tidak jauh di sebelah selatan.

“Kejar!” It-siau-hud mendahului bergerak.

Tapi suara nyanyian itu seperti mengambang di udara, kadang-kadang di depan, tahu-tahu di belakang, di kiri atau di kanan tidak menentu, siapa pun sukar menentukan arahnya yang tepat, lalu ke mana mereka harus mengejar? Akhirnya It-siau-hud berdiri melenggong.

Mendadak gadis cilik putri kedua suami-istri itu menangis tergerung-gerung, tangannya menuding kejauhan sambil menjerit, “Setan … ada setan di sana, sekali berkelebat lantas hilang!”

Laki-laki itu menepuk punggung putrinya dan membujuknya, “Ting-ting, jangan takut, tiada setan di dunia ini?”

Tapi tanpa terasa sorot matanya juga memandang ke arah yang ditunjuk putrinya, namun malam gelap dan salju berhamburan, mana ada bayangan setan segala?

Orang banyak juga tiada melihat apa-apa, tapi mereka tambah mengirik seperti malaikat elmaut yang tidak kelihatan hendak mencabut nyawa mereka dan diam-diam akan membidikkan panah maut.

Mendadak It-siau-hud tertawa latah, katanya, “Keparat itu main setan-setanan, paling-paling hanya untuk menakuti anak kecil. Aku justru tidak percaya pada setan, ayolah siapa di antara kalian yang berani ikut aku, kita aduk sarangnya, kita buktikan dia jelmaan apa sebetulnya?”

Ong-jimoacu berkata juga, “Siapa yang tidak berani ikut silakan menemani adik cilik ini kembali ke penginapan, supaya tidak menangis ketakutan.”

Sindirannya cukup tajam, tapi orang lain anggap tidak mendengar, sebelum habis bicaranya, beberapa orang sudah berlari pergi.

Laki-laki itu serahkan putrinya kepada sang istri, katanya, “Kau bawa dia kembali, biar aku mengejar.”

“Kau saja bawa dia pulang, biar aku yang mengejar,” sahut si istri.

Laki-laki itu mengentak kaki, serunya, “Ai, kenapa kau ….”

Ting-ting, gadis cilik itu, menangis pula, serunya, “Aku mau papa dan mama menemani Ting-ting ….”

Laki-laki itu menghela napas, ia coba membujuk dan menghibur, tapi Ting-ting tetap pada pendiriannya. Biasanya laki-laki itu berwatak keras dan kasar, tapi terhadap putri tunggalnya ini, ternyata dia kewalahan.

Sim Long berkata, “Kalian suami-istri boleh kembali saja, mengejar pembunuh adalah urusan kecil, bila adik cilik ini kaget dan jatuh sakit, bukankah urusan bisa susah?”

Suami-istri itu pandang Sim Long dengan rasa terima kasih dan simpati. Ting-ting memang pintar, segera katanya, “Benar, paman ini memang baik hati ….”

Perempuan itu menukas, “Kalau demikian, marilah kita pulang saja ….” tapi tiba-tiba dia melotot kepada Ong-jimoacu, jengeknya, “Kalau ada yang mengira kami takut … hm, rasakan nanti!”

Entah cara bagaimana dia bergerak, tahu-tahu pipa cangklong Ong-jimoacu telah direbutnya, kontan dia patahkan menjadi dua terus dibuang, tanpa bicara lagi dia gandeng tangan sang suami dan melangkah pergi, melirik pun tidak lagi kepada Ong-jimoacu.

Sudah puluhan tahun Ong-jimoacu malang melintang di utara dan selatan sungai besar, mimpi pun tidak pernah terbayang olehnya bahwa pipa cangklong yang dipegangnya secara aneh tahu-tahu direbut orang, dipatahkan dan dibuang lagi, keruan dia terbelalak diam tak bergerak mengawasi kepergian suami-istri itu.

Orang banyak juga terbeliak kaget, segera It-siau-hud berkata, “Cepat, sungguh cepat! Selama empat puluh tahun baru dua kali ini kulihat gerakan secepat ini!”

Baru sekarang Ong-jimoacu sadar, ia berdehem dan menyengir, katanya, “Paling-paling hanya kaki tangannya dapat bergerak cepat, jika tidak mengingat dia seorang perempuan, tentu sudah … sudah ….” mati pun dia ingin jaga gengsi, tapi perkataan ‘sudah kuhajar dia’ tetap malu untuk diucapkannya.

Sim Long tersenyum, katanya, “Apa benar hanya kecepatan gerak kaki dan tangannya saja? Kukira tidak!”

Karena lagi penasaran dan tidak terlampiaskan, kontan Ong-jimoacu mendelik, kulit mukanya yang burik seperti menyala, bentaknya, “Kalau bukan kecepatan gerak kaki dan tangan, memangnya kenapa?”

Sim Long juga tidak marah, dengan tertawa dia menuding tanah, “Coba kau lihat!”

Orang banyak sama menunduk, tertampak kedua kutungan pipa cangklong itu ambles masuk ke dalam tanah dan hanya kelihatan dua titik hitam saja, padahal hujan salju sudah berlangsung beberapa hari, kecuali tanah salju, bagian bawahnya sudah mengeras seperti besi, tapi seenaknya perempuan itu membuang kutungan pipa, seperti tidak menggunakan tenaga sedikit pun, tapi kutungan pipa sepanjang dua kaki itu ternyata ambles seluruhnya ditelan bumi, tenaga lemparan yang mengejutkan ini sungguh sukar dipercaya jika orang tidak menyaksikan sendiri.

“Ini … ini ….” Ong-jimoacu menyeka keringat, lalu tertawa dingin, “Ya, memang hebat.”

It-siau-hud menghela napas, katanya, “Suami-istri itu memang aneh … tapi kita tak perlu urus dia, ayo lekas kejar!”

Mumpung ada kesempatan, segera Ong-jimoacu mendahului, “Betul, lekas kejar!”

It-siau-hud menoleh kepada Sim Long, tanyanya, “Entah saudara ini ikut mengejar tidak?”

Sim Long memandang sekelilingnya, dilihatnya Cu Jit-jit dan adiknya tidak ikut datang, sesaat dia berkerut alis, lalu katanya dengan tersenyum, “Baiklah, kejar!”

Orang-orang ini sebelumnya tidak saling kenal, di antaranya malah ada yang tidak sehaluan, tapi sekarang mereka punya tujuan sama, maka kelihatan akrab, meski mereka tidak berunding lebih dulu, tapi serentak mereka sama menuju ke utara kota Pit-yang, ke “sarang hantu” itu, dalam beberapa kejap ini, terlihatlah perbedaan Ginkang masing-masing.

It-siau-hud berlari paling depan, Cu-bu-cui-hun Mo Si ketat ikut di belakangnya, Sim Long pun tak jauh dari mereka. Ong-jimoacu, Yu-hoa-hong Siau Mo-in berdua kira-kira berendeng dengan Sim Long, Thi Seng-liong masih mampu menyusul dan tidak tertinggal jauh.

Say-un-ho Sun Thong dan Gin-hoa-piau Seng Ing walau agak ketinggalan di belakang, tapi sambil berlari mereka berbincang-bincang dengan asyiknya, langkah mereka tampak enteng, agaknya tidak menggunakan sepenuh tenaga, Poat-swat-siang-to-ciang Beng Lip-jin juga segera menyusul tiba, katanya dengan tertawa, “Wi Hoat-hou ayah beranak kelihatan gagah, tak tahunya mengekor Ban-su-thong dan diam-diam mengeluyur pergi. Menilai manusia memang tidak boleh melihat tampangnya.”

Seng Ing hanya tertawa dan tidak memberi tanggapan.

Sun Tong malah berkata, “Apa di belakang tiada orang lain lagi?”

Beng Lip-jin menjawab, “Masih ada Hin-te-bu-hoan Li Pa, tapi jauh tertinggal di belakang. Kungfu orang ini tidak lemah, sayang Ginkangnya ….” belum habis dia bicara, mendadak terdengar suara jeritan ngeri di belakang.

Beng Lip-jin terkejut, “Wah, Li Pa ….”

Orang banyak juga kaget dan serentak berhenti, tanpa bicara mereka berlomba putar balik ke arah datangnya jeritan itu.

It-siau-hud segera memperingatkan, “Yang bawa senjata cepat keluarkan, yang bawa senjata rahasia juga disiapkan, setiap orang tak dikenal boleh diberondong saja.”

Dalam jarak beberapa patah kata itu saja orang banyak lantas melihat salju di depan sana rebah sesosok bayangan hitam. Tapi di sekitarnya tidak terlihat ada jejak manusia.

Sun Thong, Seng Ing siap memburu maju, tiba-tiba didengarnya It-siau-hud berseru, “Berhenti! Nyalakan api, periksa dulu tapak kaki di atas salju.”

Sun Thong dan Seng Ing saling pandang sekejap, dalam hati membatin, “Hwesio gede ini kelihatannya goblok, ternyata seorang kawakan Kangouw yang cermat.” Diam-diam mereka kagum, maka rasa benci tadi sirna tanpa terasa.

Beng Lip-jin, Mo Si dan Siau Mo-in bertiga sudah menyalakan api. Perlu diketahui Yu-hoa-hong Siau Mo-in adalah begal yang biasa beroperasi sendiri pada malam hari, obor bikinannya dibuat secara khas dan sangat bagus, nyala api bisa dibikin besar dan kecil sesuka hati, bila nyala besar bisa menyinari beberapa tombak di sekelilingnya. Tampak bayangan yang tiarap di atas salju itu memang benar adalah Hin-te-bu-hoan Li Pa, di belakang dan depan mayatnya ada sebaris tapak kaki, tapi salju di kanan-kirinya rata dan rapi tiada bekas apa pun.

It-siau-hud segera berkata, “Kalian maju dengan hati-hati, coba kenali tapak kaki masing-masing.”

Seng Ing menemukan jejak kakinya lebih dulu, “Ini tapak kakiku.”

Lalu dengan ujung jari dia memberi tanda silang. Maklum besar-kecil tapak kaki setiap orang tidak sama, Ginkang mereka pun berbeda, sepatu juga berlainan, bahwa setiap orang harus mengenali tapak kaki orang lain memang sukar, tapi untuk mengenali tapak kaki sendiri tentu gampang.

Sun Thong juga sudah menemukan tapak kakinya, ia pun memberi tanda silang. Cepat sekali Ong-jimoacu Siau Mo-in, Thi Seng-liong, Beng Lip-jin juga telah menemukan tapak kaki masing-masing, didapati Beng Lip-jin tapak kakinya ternyata paling dalam, diam-diam merah mukanya.

Orang banyak tahu urusan ini cukup gawat, maka mereka sangat hati-hati dan teliti meski tahu tapak kaki sendiri lebih dalam daripada orang lain juga tidak akan diperbandingkan.

Kini tinggal dua tapak kaki yang belum ditemukan pemiliknya, jelas kelihatan di bawah sinar api kedua tapak kaki ini amat cetek, juga kelihatan alas sepatu orang terdiri dari serat yang kasar.

Tanpa terasa mereka sama mengawasi sepatu rami yang dipakai It-siau-hud. It-siau-hud berkata, “Tapak yang satu ini memang betul punyaku … tapi saudara ini ….”

Sekarang orang baru teringat masih kurang sepasang tapak kaki, tanpa terasa mereka menoleh ke arah Sim Long.

Sim Long tersenyum, katanya, “Mungkin tubuhku terlalu kurus sehingga tapak kakiku tidak kelihatan.”

Bicaranya ramah dan rendah hati pula, tapi orang banyak sama terbeliak kagum. Baru sekarang mereka tahu pemuda yang kelihatan lemah lembut dan tidak ternama ini ternyata memiliki Ginkang Tah-swat-bu-heng (menginjak salju tidak meninggalkan bekas) yang tinggi, bukan saja kagum, mereka pun curiga bagaimana mungkin bocah semuda ini mampu meyakinkan kungfu setinggi itu, curiga pula akan asal usulnya, tapi tiada satu pun di antara mereka yang berani bertanya.

It-siau-hud tergelak katanya, “Orang pandai memang tidak suka mengagulkan diri, Siangkong (tuan) ini memang berisi,” lalu ucapnya lagi dengan prihatin, “Tiada tapak kaki lain lagi di sekitar sini, tak ada tanda-tanda perkelahian, jelas Li Pa terbunuh juga oleh senjata rahasia. Marilah kita periksa pula senjata rahasia apa yang membunuhnya?”

Lalu dia membalik mayat Li Pa, sekujur tubuhnya tampak membengkak hitam, waktu baju dadanya disingkap, dada kiri sebelah atas dekat pundak ada luka, darah hitam masih meleleh.

Tapi di tempat luka ini tidak kelihatan ada senjata rahasia. Kembali orang banyak saling pandang, kembali suara gemertuk gigi terdengar di antara mereka, jantung pun berdebar keras. Akhirnya Mo Si berkata dengan gemetar, “Senjata … senjata rahasia itu mungkin memang tiada wujudnya? Kalau tidak kenapa bisa mencair ke dalam darah?”

Maklum, mayat ini jatuh tengkurap dan tiada tanda pernah disentuh atau bergerak, di sekitarnya juga tiada jejak orang lain, maka dapat dipastikan senjata rahasia yang mengenai Li Pa tidak diambil orang. Padahal begitu dada tersambit senjata rahasia Li Pa terus jatuh tersungkur, siapa pun meski memiliki kepandaian setinggi langit, untuk mengambil senjata rahasia di bawah dadanya juga harus menyentuh tubuhnya, apalagi tiada tapak kaki di sekitar mayat.

Meski orang banyak sama memeras otak, tetap juga mereka tidak habis mengerti dan menemukan jawabannya. Yang terang bulu kuduk sama berdiri, Beng Lip-jin berkata dengan gemetar, “Mungkinkah serangan Bu-heng-kiam-khi? (hawa pedang tak berbentuk)?”

It-siau-hud menyeringai, “Apa kau sedang mimpi?”

Agaknya Beng Lip-jin masih ingin membantah, tapi begitu angkat kepala, seketika ciut nyalinya dan tak mampu bersuara lagi, dilihatnya wajah It-siau-hud diliputi nafsu membunuh, sorot matanya beringas, seperti binatang liar yang kalap, mendadak dia tanggalkan jubah, dengan telanjang dada, bunga salju berjatuhan di atas tubuhnya, bukan saja tidak merasakan dingin, bunga salju yang hinggap di atas tubuhnya seketika cair dan mengeluarkan uap putih.

Di bawah tatapan orang banyak yang keheranan, It-siau-hud robek jubahnya itu menjadi tali-tali panjang selebar tiga-empat senti untuk membalut lengan, paha dan dadanya, daging gempur di tubuhnya terikat kencang, lalu It-siau-hud melompat dan menggerakkan kaki dan tangan, kelihatan gerak-geriknya jauh lebih enteng dan gesit, ia menyapu pandang orang banyak, lalu berkata, “Nah, yang ingin hidup lekas pulang, yang mau ikut harus siap kehilangan nyawa!”

“Ikut … ikut ke utara?” tanya Beng Lip-jin.

“Kecuali ‘sarang hantu’, ke mana lagi?” seru It-siau-hud, tiba-tiba dia mencomot segumpal salju terus dijejalkan ke dalam mulut, setelah mengunyah beberapa kali dia membentak, “Ayo kita ubrak-abrik sarang hantu itu, siapa pemberani boleh ikut padaku.”

Segera dia mendahului berlari ke depan.

Seng Ing, Sun Thong, Mo Si, Ong-jimoacu, Thi Seng-liong dan Siau Mo-in merasa darah bergolak, mereka sudah tidak pikirkan mati-hidup lagi, berbondong-bondong mereka ikuti langkah It-siau-hud.

Melihat Sim Long tetap berdiri di tempatnya, Beng Lip-jin menegur dengan menunduk, “Silakan Siangkong, hubunganku dengan Li Pa cukup erat, tak tega kubiarkan jenazahnya tak terkubur di tengah jalan …. Ai, setelah mengebumikan jenazahnya segera kususul ke sana.”

Sim Long hanya tersenyum, begitu Beng Lip-jin angkat kepalanya pula, bayangan Sim Long sudah menghilang, yang kelihatan hanya setitik hitam saja di kejauhan. Melihat orang sudah pergi, legalah hati Beng Lip-jin, tanpa hiraukan mayat Li Pa dia berlari pulang ke hotel.

Hanya sekejap Sim Long sudah menyusul Seng Ing dan lain-lain, tapi dia tidak melampaui mereka, hanya mengintil di belakang dalam jarak tertentu, kini dia yang berada paling belakang, bila ada panah gelap menyerang pula tentu akan dibidikkan padanya. Dengan tersenyum-senyum, bukan saja tidak acuh, dia seperti mengharap elmaut menyambar ke arahnya, supaya dia bisa tahu bagaimana bentuk panah gelap itu sebetulnya.

Ternyata sepanjang jalan tidak terjadi apa-apa, sementara itu sudah jauh mereka meninggalkan kota, sebentar lagi tentu akan tiba di sarang hantu.

Tengah Sim Long menghela napas kecewa, tiba-tiba didengarnya It-siau-hud yang berada paling depan membentak keras. Mo Si juga menjerit kaget dan suara ribut orang banyak, lalu It-siau-hud mencaci maki, “Keparat, kalau berani ayo keluar tandingi bapakmu ini, main seperti sembunyi setan, terhitung binatang macam apa kau?”

Sambil berkerut kening Sim Long mempercepat langkahnya, laksana panah dia meluncur ke depan, dilihatnya orang banyak sudah berhenti, tampak muka It-siau-hud merah padam, tangannya memegang secarik kain sambil mencaci maki, sekelilingnya tiada bayangan orang lain dan tidak mendapatkan reaksi.

Sim Long bertanya perlahan, “Ada apa?”

“Kau lihat ini!” sahut It-siau-hud, kain putih itu dia lemparkan, Sim Long menyambutnya, di bawah pantulan cahaya salju dilihatnya kain putih itu ada tulisan besar dengan tinta darah yang berbunyi: “Kuperingatkan kalian, lekas kembali, jangan maju ke depan, bila menyesal sudah kasip.”

“Dari mana datangnya?” tanya Sim Long.

“Aku sedang lari tadi ….” tutur It-siau-hud.

Kiranya It-siau-hud memimpin lari paling depan, tanah salju di depannya terbentang luas dan lapang, dari depan sana tiba-tiba bertaburan bunga salju itu, pasir dan tanah, laksana badai menerpa mukanya. It-siau-hud merasakan pandangannya kabur, sempat dirasakan olehnya di tengah taburan bunga salju itu ada bayangan putih berkelebat menyeruduk dirinya, tapi sebelum dia sempat menyerangnya, “wut”, bayangan putih itu melesat ke atas lewat kepalanya, dan tahu-tahu kain putih ini sudah berada di tangan It-siau-hud.

Sim Long berkerut kening mendengar penjelasannya, katanya kemudian, “Ke mana orang itu? Kenapa kalian tidak mengejarnya?”

“Dikatakan bayangan orang tidak mirip bayangan orang, panjangnya hanya tiga kaki, mirip seekor rase, tadi sebelum dia bertindak sempat juga kulihat dia mendekam di atas salju, tapi begitu aku membuka mata pula, tiada orang lain di sekelilingku,” tutur It-siau-hud pula.

Tergerak pikiran Sim Long, batinnya, “Gerakan itu agak mirip Ngo-sek-hou-sin-ciang-gan-hoat dari Thian-mo-mi-cong-sut, dari penjelasannya, bayangan orang itu mirip Hoa Lui-sian, tapi Hoa Lui-sian tiada sangkut pautnya dengan ‘sarang hantu’, mana mungkin dia mencampuri urusan ini.”

Didengarnya It-siau-hud berkata pula, “Siangkong tidak perlu berpikir pula, peduli permainan apa pun, tidak nanti kutakut dan takkan mundur, asal Siangkong mau membuka jalan bersamaku, sementara Mo-heng dan Seng … Seng apa?”

“Seng Ing,” sahut Seng Ing tertawa.

“Betul. Seng Ing dan Mo Si berjaga di belakang dan kita yang akan menerjang ke depan.”

Sim Long berpikir sejenak. “Terjang!” katanya kemudian.

“Bagus, terjang!” sambut Seng Ing.

“Terjang! Terjang!” orang banyak sahut-menyahut, tapi suara mereka jelas rada gemetar.

Keadaan sudah sejauh ini, mereka hanya boleh maju dan tak boleh mundur, terpaksa mereka mengeraskan kepala dan memberanikan diri.

Maka orang banyak berlarian pula ke depan, terlihat bentuk bayangan gunung, makin dekat jantung mereka makin berdebar, betapa pun mereka memikirkan keselamatan sendiri, entah apa yang bakal mereka temui di dalam sarang hantu. Tujuan mereka memang yakin bahwa di dalam sarang hantu itu ada harta karun yang tak ternilai harganya, maka jauh-jauh mereka meluruk kemari, namun setelah menghadapi serentetan peristiwa yang menyeramkan tadi, sifat tamak sudah lenyap sebagian dari hati mereka.

Sim Long berpikir, “Untung nona binal itu tidak ikut kemari, kalau tidak ….”

Tiba-tiba didengarnya di sebelah depan seorang tertawa merdu dan menegur, “Baru sekarang kalian tiba?”

*****

Sementara itu tanpa berhenti, seperti dikejar setan Beng Lip-jin lari pulang ke hotel, keadaan hotel juga kacau-balau, kelihatan masih ada orang yang sibuk menggotong mayat keluar, didengarnya ada yang berkata, “Lagi-lagi puluhan jiwa manusia ….”

Jangankan melihat, mendengarkan saja tak berani lagi, Beng Lip-jin langsung lari ke kamarnya, dan pintu langsung didobraknya terbuka, dia menerobos masuk dan cepat-cepat merapatkan daun pintu serta berdiri menggelendot di belakang pintu, baru sekarang dia sempat menghela napas lega, gumamnya, “Syukurlah jiwaku kupungut kembali. Pulang sajalah, peduli amat harta karun apa di dalam kuburan itu, aku tidak ….”

Tiba-tiba ia merasa ganjil, entah kapan tahu-tahu pelita di kamarnya sudah menyala. Begitu dia pandang ke sana, seketika ia melongo kelu, darah dalam tubuhnya seperti membeku, kedua lututnya pun gemetar.

Dilihatnya tepat di tengah kamar berduduk seorang berjubah kelabu, duduk membelakangi pintu, maka Beng Lip-jin tidak dapat melihat wajahnya. Namun jubah kelabu yang panjang dan rambut panjang yang terurai kelihatan bergerak-gerak di bawah sinar pelita yang guram, bentuknya lebih mirip mayat yang baru keluar dari kuburan.

Dengan suara gemetar Beng Lip-jin menegur, “Sah … sahabat siapa?”

Orang berjubah kelabu tertawa mengekeh, sepatah demi sepatah berkata, “Bulan menerangi kuburan ….”

Gemetar kedua lutut Beng Lip-jin, tubuhnya merosot lunglai dan “bluk”, jatuh terduduk.

“Apa kau takut mati? Kau ingin pulang?” tanya orang berjubah kelabu itu.

“Aku … aku ingin ….”

Si jubah kelabu menyeringai, “Setelah masuk kota Pit-yang, pasti mampus dalam kota ini ….”

Mendadak Beng Lip-jin mengertak gigi, dengan nekat mendadak dia menubruk maju, tangannya terayun, ia hantam batok kepala orang berbaju kelabu, sudah puluhan tahun dia ternama, serangan ini bukan main lihainya.

Si baju kelabu tetap tidak menoleh, mendadak lengan bajunya yang panjang mengebas ke belakang, kontan Beng Lip-jin merasa segulung tenaga lunak dingin tapi sangat kuat menumbuk dadanya, kontan dia merasa seperti dipukul palu raksasa, tubuhnya tertolak balik dan “blang”, menumbuk pintu dan “blak”, jatuh ke lantai bersandar pintu, mulut terbuka dan darah menyembur keluar.

Si baju kelabu menjengek, “Begini saja kemampuanmu berani bertepuk dada mengaku sebagai orang gagah?”

Terbelalak mengawasi darahnya sendiri, tubuh Beng Lip-jin menggigil hingga daun pintu bergetar seperti didobrak orang.

“Kau mau mati atau ingin hidup?” tanya si baju kelabu.

Mulut sudah terkuak lebar, tapi Beng Lip-jin tak kuasa mengeluarkan suara.

“Lekas bicara,” bentak si baju kelabu.

“Ing … ingin … hidup ….” setelah menghabiskan tenaga baru dia mampu bersuara, namun badan juga sudah basah kuyup.

“Kalau ingin hidup, kau harus tunduk pada perintahku,” desis si baju kelabu.

*****

“Baru sekarang kalian tiba?” demikian kata-kata yang biasa tadi, tapi dirasakan orang banyak seperti mendengar suara hantu di tengah malam, semua bergetar kaget. Thi Seng-liong menyurut mundur. Siau Mo-in juga hampir jatuh.

It-siau-hud mengepal tinju, bentaknya dengan suara serak, “Si … siapa? Keluar!”

Dari tempat gelap segera melayang keluar sesosok bayangan putih, tubuhnya kaku lurus, lutut tidak tertekuk, tubuh tidak bergerak, tidak kelihatan dia menggerakkan kaki, tapi melayang keluar dengan tegak lurus Dari kepala sampai kaki berwarna putih melulu, muka tertutup oleh lengan baju yang terangkat, agaknya sengaja menutupi mukanya yang buruk.

Merinding dan ketakutan orang banyak, kalau bayangan putih ini manusia, mana ada manusia berjalan cara begitu?

Biasanya nyali It-siau-hud cukup besar, tapi menghadapi bayangan putih ini ia pun tertegun sekian lamanya, mendadak ia membentak, “Umpama betul kau ini setan juga akan kupotong!”

Segera ia menerjang, deru pukulannya menerpa ke dada bayangan putih itu.

Baju bayangan putih berkibar oleh angin pukulan, di tengah jengekan tubuhnya tetap berdiri lurus sambil menggeser dua kaki.

Tentu saja It-siau-hud amat kaget, selagi dia siap menubruk pula, tiba-tiba dirasakan angin berkesiur di sampingnya, tahu-tahu Sim Long sudah melompat maju seraya membentak, “Cu Jit-jit, belum puas kau menggoda orang?”

Tiba-tiba bayangan putih itu cekikikan dan menurunkan lengan bajunya, remang-remang tampak tubuh nan ramping gemulai, wajah secantik bunga mekar, siapa lagi dia kalau bukan Cu Jit-jit, si gadis binal.

Dari bawah kakinya terdengar pula seorang tertawa, katanya, “Sim-toako memang lihai!”

Tahu-tahu si anak merah menerobos keluar. Ternyata anak merah itu merangkul kedua kaki Cu Jit-jit dari belakang, dengan sendirinya tanpa menekuk lutut Cu Jit-jit bisa maju-mundur sesuka hati. Padahal yang hadir ini semua kawakan Kangouw, tapi di depan “sarang hantu”, di tengah malam hujan salju lagi, setelah mengalami beberapa kejadian yang menegangkan tadi, orang banyak jadi pecah nyalinya sehingga tiada seorang pun perhatikan permainan anak nakal ini.

Kaget dan dongkol hati It-siau-hud, namun dia hanya mengentak kaki dan mengomel, “Nona, berkelakar boleh saja, tapi harus lihat waktu dan tempat.”

Anak merah tertawa, katanya, “Tapi Hwesio gede memang pemberani, setan juga tidak bisa mengejutkan kau!”

It-siau-hud terbahak-bahak, katanya sambil mendongak, “Hwesio besar memang tidak pandai membekuk iblis, tapi tidak sulit untuk menundukkan setan.”

Lalu dia berkata kepada Sim Long, “Kakak beradik ini memang nakal dan jenaka, dia hanya menggoda kita, Siangkong jangan marah.”

Cu Jit-jit melirik Sim Long, katanya, “Hm, dia berani marah? Dia telah membongkar permainanku, aku tidak marah kepadanya sudah untung baginya!”

It-siau-hud tertawa, katanya, “Bagus, bagus, Siangkong memang tidak marah … bila ada yang mampu membuat Siangkong ini marah, orang itu tentu lihai.”

Cu Jit-jit tertawa cekikikan, katanya, “Memangnya dia, dia ….” diam-diam ia mendekat dan mencubit lengan Sim Long, katanya, “Apa kau ini patung? Kenapa tidak bicara?”

“Baik, aku akan bicara,” kata Sim Long. “Jawab pertanyaanku, cara bagaimana kau bisa kemari? Kapan tiba? Apakah kau sudah masuk dan melihat Hoa … Hoa-hujin?”

“Eeh, kau ini, diajak bicara tidak mau, kalau mau bicara terus mencerocos seperti mitraliur …. Baiklah kujelaskan. Waktu kalian memeriksa mayat tadi, diam-diam aku sudah tiba sini dan langsung menerjang ke dalam, maksudku semula ingin memeriksa keadaan, tapi di dalam teramat gelap, kami tidak membawa api, walau aku tidak takut, Lo-pat ternyata gemetar, khawatir dia jatuh sakit, terpaksa aku putar balik.”

“Hah, tidak tahu malu, memangnya kau tidak takut, kalau tidak takut kenapa menarikku sekencang itu? Terasa jari-jari tanganmu sedingin es dan juga gemetar ….”

Cu Jit-jit membentak, “Setan cilik, berani omong!”

Anak merah itu tertawa, “Kalau kau tidak mengolok diriku, tentu aku tidak banyak omong tentang dirimu.”

Tiba-tiba dari depan berkumandang jeritan ngeri seorang, dari jauh makin mendekat meski suaranya perlahan, tapi seram menakutkan, tampak bayangan orang dengan langkah sempoyongan berlari datang.

Melihat orang banyak ini, orang itu tertegun sekejap, jarinya menuding, sebelum bicara tubuhnya lantas terjungkal.

Setelah mengalami berbagai kejadian ngeri, perasaan semua orang seperti sudah beku, hanya Sim Long yang masih bertindak cekatan, dia memburu maju dan membangunkannya, diam-diam dia kerahkan Lwekangnya sambil memanggil, “Saudara, bangunlah.”

Mendapat bantuan saluran tenaga murni Sim Long, perlahan orang itu membuka mata dan mengerling ke kanan-kiri, tiba-tiba ia memanggil dengan tersendat, “Thi … Thi-heng ….”

Cepat Thi Seng-liong memburu maju, seketika dia menjerit kaget, “Ah, kau Kim-heng, kenapa … kenapa jadi begini?”

“Ka … kami ber … berlima kini tinggal … aku saja ….”

“Jadi An-yang-ngo-gi sudah … sudah gugur semua di sini? Wah … siapakah yang turun tangan sekeji ini?”

Orang itu tersenyum kaku, gumamnya, “Di dalam sana ada … ada setan, jangan … jangan masuk ke sana … jangan masuk … ke sana,” tiba-tiba dia meralat dengan suara lebih keras, “Buk … bukan setan, tapi ….”

“Tapi apa?” tanya Sim Long. “Saudara … bangunlah ….”

Terpejam mata orang itu, jiwanya melayang.

Sim Long menghela napas panjang, perlahan dia berdiri dengan masygul dan semua orang sama geleng kepala.

It-siau-hud bertanya, “Apa benar orang ini salah satu dari An-yang-ngo-gi (lima saudara angkat dari An-yang)?”

“Orang ini bernama Kim Lin, saudara tertua dari An-yang-ngo-gi, mungkin mereka juga mendengar kabar adanya harta karun di dalam kuburan, maka mendahului kemari, tak nyana ….” Thi Seng-liong menghela napas. lalu dia membuka pakaian luarnya untuk menutupi jenazah Kim Lin.

“Buka bajumu,” tiba-tiba It-siau-hud berseru.

Thi Seng-liong melenggong bingung.

It-siau-hud berkata pula, “Coba periksa bagaimana kematiannya?”

“Luka penyebab kematiannya tidak sama dengan Li Pa dan lain-lain ….” tukas Mo Si.

It-siau-hud menyobek baju Kim Lin, di depan dada tiada tanda terluka, tapi di punggung ada bekas telapak tangan warna hitam, bekas lima jari yang melesek ke dalam daging.

Mo Si bergidik melihat tapak tangan ini, desisnya, “Pukulan lihai.”

Lama It-siau-hud awasi bekas telapak tangan itu tanpa berkedip, sekian lama baru dia angkat kepala, katanya sambil memandang Sim Long, “Apakah Siangkong sudah melihatnya?”

“Ya sudah kuketahui,” ujar Sim Long.

Cu Jit-jit mengentak kaki, tanyanya, “Kau tahu apa, lekas terangkan!”

“Jik-sat-jiu!” sahut Sim Long.

Tergetar tubuh Cu Jit-jit, serunya, “Jik-sat-jiu (telapak ungu), apa benar?”

“Pasti tidak salah,” kata It-siau-hud tegas, “selama lima puluh tahun belakangan ini, orang yang memiliki kungfu sejenis ini dalam Bu-lim hanya Say-siang-sin-liong, Tok-jiu-siu-hun dan Yau-bing-sin-kay bertiga saja, kecuali itu tiada jago silat lain yang mempelajari ilmu pukulan ini.”

Mo Si ragu-ragu, katanya, “Tapi … bukankah ketiga orang itu sudah mati?”

“Betul,” sahut It-siau-hud, “ketiga orang ini memang sudah mati.”

Orang banyak saling pandang, tanpa terasa mereka merubung maju.

Cu Jit-jit tertawa, “Aduh, percakapan kalian sungguh membuat takut saja. Kalau orang lain tiada yang mahir menggunakan Jik-sat-jiu, mungkinkah ketiga orang itu telah bangkit dari liang kuburnya dan membunuh Kim Lin?”

Tapi tertawanya makin lirih karena melihat wajah hadirin sama masam, tanpa terasa dia sendiri ikut ngeri dan tak bicara lagi.

Mendengar Tacinya bicara orang mati, hati si anak merah ikut takut, diam-diam dia mendekati Sim Long, katanya perlahan, “Tempat ini bukan tempat bermain dan dingin pula, mari pulang saja.”

“Kalian berdua memang harus pulang,” ucap Sim-Long.

“Dan kau?” tanya anak merah.

“Selama hidupku belum pernah melihat setan, kalau hari ini aku bisa melihatnya, menyenangkan juga ….” ujar Sim Long setengah berkelakar, “tapi yang boleh melihat setan hanya beberapa orang saja, supaya setannya tidak lari ketakutan.”

Biasanya dia pendiam, kini setelah orang banyak ketakutan dan sukar bicara, dia justru berkelakar seenaknya.

It-siau-hud tertawa, katanya, “Keadaanku sekarang kurasa tak jauh bedanya dengan setan, peduli setan lelaki atau setan perempuan, bila melihatku pasti mengira aku kawan sejenisnya dan takkan lari ketakutan.”

Sim Long tertawa, “Bagus jika Taysu mau pergi ….” seperti tidak sengaja ia melirik ke arah Cu-bu-cui-hun Mo Si dan Gin-hoa-piau Seng Ing.

Seng Ing segera maju ke depan, katanya tersenyum, “Cayhe akan tetap berada di samping saudara.”

Mo Si tertawa, katanya, “Orang-orang Kangouw sama memanggilku ‘setan perenggut sukma’, hari ini biar setan tiruan ini menghadapi setan tulen.”

“Bagus,” ucap Sim Long, “ada empat orang sudah cukup ….”

“Dan aku?” tanya Cu Jit-jit.

“Kau pulang saja,” sahut Sim Long.

“Tidak, berdasar apa kau berani memerintah diriku? Aku justru tidak mau pulang. Lo-pat, angkat kepalamu, besarkan nyalimu, kalau setan membuat kita mati, bukankah kita masih dapat menjadi setan, kenapa takut? Mari kita masuk dulu, coba siapa berani merintangi kita?”

“Aku … aku ….” semula si anak merah bimbang, bola matanya berputar, lalu menambahkan dengan tertawa, “Aku tidak mau, kukira kau pun tidak perlu ikut.”

Dongkol Cu Jit-jit, semprotnya, “Kau takut setan?”

“Aku tidak takut setan, tapi aku takut pada Sim-toako. Nasihatnya tidak berani kutentang,” ujar si anak merah sambil menarik baju Cu Jit-jit, lalu berbisik pula, “Kalau kau selalu menguntit dia, mana dia mau akrab terhadapmu. Jika ada orang selalu menentangmu, apakah kau menyukainya?”

Berputar bola mata Cu Jit-jit, katanya sambil menghela napas, “Setan cilik, tahu begini, tidak kubawa kau kemari. Setelah kau ikut, mau tak mau harus kulindungimu. Baiklah, pulang ya pulang.”

“Nah, kan begitu,” ujar si anak merah riang.

Agaknya orang banyak belum pergi, Sim Long berkata, “Di hotel mungkin juga terjadi apa-apa, tenaga kalian amat diperlukan di sana.”

Ong-jimoacu berkata, “Betul, meski di sini berbahaya, tugas di sana juga tidak ringan, baiklah kita selesaikan tugas masing-masing, jadi siapa pun tiada yang menganggur.”

“Ya, memang harus demikian,” ujar Sim Long tersenyum, lalu ia putar tubuh dan melangkah dulu ke arah “sarang setan”.

Mendadak Cu Jit-jit berseru, “Sim Long, kau ….”

“Kenapa?” Sim Long menoleh.

Cu Jit-jit menggigit bibir, katanya, “Kau … jangan-jangan kau digondol setan nanti.”

“Sim-toako, Ciciku amat mengkhawatirkan keselamatanmu. Tapi engkau berkepandaian tinggi, setan mana pun pasti takkan mampu membekukmu, aku tidak khawatir ….” lalu anak ini menoleh ke arah Ong-jimoacu, Siau Mo-in, dan lain-lain dan tertawa, katanya, “Kalian memang mau pergi, ayolah berangkat, tunggu apa lagi? Kita berangkat bersama.”

*****

Akhirnya Sim Long, It-siau-hud, Mo Si, dan Seng Ing memasuki “sarang hantu” yang entah telah merenggut nyawa beberapa orang, setelah bayangan mereka berempat lenyap ditelan kegelapan, barulah Ong-jimoacu dan lain-lain pergi. Cu Jit-jit mengawasi dengan kesima mirip orang linglung, tiba-tiba air matanya meleleh.

“Apa yang kau tangisi, dia kan bakal kembali,” omel si anak merah.

Cu Jit-jit menunduk, katanya, “Entah mengapa, aku … aku takut. Lo-pat, kalau dia … tidak … tidak kembali ….”

Tiba-tiba anak merah juga bergidik, mengawasi bayangan gunung yang seram itu, mukanya yang merah seketika pucat, sampai lama tidak mampu bicara. Mendadak dilihatnya Cu Jit-jit mengayun langkah berlari kencang ke depan.

“Cici ….” teriak si anak merah kaget.

Cu Jit-jit tidak berpaling, juga tidak berhenti, katanya, “Kau pulang saja, carilah Hoa-po (nenek Hoa, maksudnya Hoa Lui-sian), aku … aku akan mendampingi dia ….” sekali bayangan putih berkelebat segera lenyap di dalam “gua hantu”.

Anak merah celingukan, dilihatnya pepohonan di sekitarnya tandus kering, angin mengembus kencang, seperti bayangan setan berkelebat di antara taburan bunga salju, baru sekarang anak merah itu merasa takut selama hidup, tak tahan segera dia berteriak, “Cici, tunggu aku … tunggu ….”

Segera ia pun menyusul ke dalam gua.

*****

Di kaki bukit, mulut gua yang gelap gulita menganga seperti mulut raksasa yang siap mencaplok mangsanya, batu besar yang berserakan di sekitar mulut gua juga diselimuti salju, mulut gua serupa dilapisi permadani putih sehingga menambah suasana makin seram dan tidak kelihatan betapa dalam gua ini.

Cu Jit-jit tidak peduli, sekali lompat langsung dia menerjang masuk, apakah nanti dia bakal mati atau hidup tidak dipikir lagi, karena dia tahu umpama mati juga lebih mending daripada menunggu Sim Long di luar gua.

Tiba-tiba didengarnya si anak marah berteriak di belakang, “Cici … tunggu ….”

Setelah memanggil dua kali, mungkin karena jatuh, suaranya tiba-tiba putus, tapi segera merangkak bangun dan mengejar pula seraya berteriak, “Tunggu, Cici ….”

Terasa betapa takut dan panik dari suaranya yang serak. Maklum, betapa besar nyalinya, dia masih seorang bocah.

Cu Jit-jit enggan menunggu, tapi juga tak tega, akhirnya dia berhenti, serunya dongkol, “Setan cilik, kusuruh kau pulang tidak mau …. Hati-hati, jangan jatuh lagi ….”

Di tengah kegelapan tampak bayangan si anak merah menyusul datang dengan sempoyongan, lekas Cu Jit-jit maju memapahnya, katanya, “Sakit tidak?”

“Tidak sakit,” sahut si anak merah, padahal suaranya sudah berubah, tangan kecil yang mengenakan sarung tangan kulit menjangan memegang kencang tangan Cu Jit-jit, mati pun tak mau dilepas lagi.

Cu Jit-jit menghela napas, gumamnya, “Aku jadi heran kenapa ayah tega membiarkan kau keluar …. Ai, gua ini sangat gelap, kau harus hati-hati.”

Kakak beradik bergandeng tangan, selangkah demi selangkah masuk terlebih dalam, keadaan gua juga makin gelap, lima jari sendiri saja tidak kelihatan.

Sim Long berempat sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, semula deru angin di luar masih kedengaran, lama-lama suara itu pun lenyap, sekeliling sunyi senyap seperti tiada makhluk hidup di dunia ini, bau apak dan lembap terus merangsang hidung.

Sekonyong-konyong sebuah benda dingin lengket menerjang tiba, Cu Jit-jit berteriak kaget, sekuat tenaga dia sampuk dengan tangannya, benda itu mengeluarkan suara mencicit terus melayang pergi.

Jit-jit berseru, “Lo-pat, jangan … jangan takut, itu cuma seekor … kelelawar.”

Dia suruh adiknya jangan takut, padahal suara sendiri rada gemetar.

Tiba-tiba dilihatnya ada bayangan berkelebat di depan dan melayang tiba, dengan suara gemetar Jit-jit menegur, “Sia … siapa?”

“Apakah Jit-jit?” tanya bayangan itu. “Aku Sim Long.”

Cu Jit-jit berpekik girang, dia menubruk maju dan memeluk Sim Long dengan kencang, mukanya yang dingin terbenam dalam pangkuan Sim Long, sekujur badan masih gemetar, lutut pun terasa lemas.

Tak tahan Sim Long mengelus rambutnya, katanya sambil menghela napas, “Aku sudah bilang jangan ikut, kau tetap kemari, coba ketakutan begini …. Ai, buat apa cari penyakit?”

Mendadak Jit-jit mendorongnya dengan mendongkol, serunya, “Memang aku pantas mampus, siapa suruh aku menolong kau yang hampir mampus dulu, jika kubiarkan kau mati, sekarang mana … mana aku bisa menderita begini?”

Tiba-tiba di kejauhan tampak sinar api bergerak, hingga air mata di pelupuk matanya berkilau, lekas Cu Jit-jit melengos ke arah lain, nona yang berhati keras ini, meski menangis lantaran Sim Long, tapi sedapatnya dia berusaha supaya Sim Long tidak melihat dia menangis.

Namun Sim Long sudah melihatnya, sesaat dia melenggong, lalu berkata lembut, “Coba lihat, Lo-pat malah tahu diri, anak kecil bersikap dewasa, kau sebaliknya seperti anak kecil saja.”

“Memangnya kau tidak mirip anak kecil? ….” sambil melototi Sim Long tiba-tiba Jit-jit tertawa cekikik, tertawa yang mesra dan penuh kasih sayang, seorang yang berhati baja pun akan luluh hatinya, tapi Sim Long justru berpaling ke sana.

Tertampak It-siau-hud muncul membawa obor, katanya dengan tertawa, “Apakah nona Cu? Kutahu kau pasti menyusul kemari …. Di depan sana adalah pintu batu, lekas kalian berdua kemari.”

Gelak tawanya yang keras menimbulkan gema yang keras pula di dalam “sarang hantu” ini hingga tempat yang sunyi gelap ini seketika berubah agak hangat dan ada hawa kehidupan.

Terbangkit semangat Cu Jit-jit, lekas dia seka air mata, katanya, “Kami tidak berdua, tapi bertiga.”

Sambil menggandeng tangan Sim Long dan Cu Pat, dia maju ke depan dengan langkah lebar.

Sorot mata seperti bercahaya, dilihatnya si anak merah telah mengenakan topeng setannya yang berwarna merah darah, ia tertawa, katanya, “Bagus, anak bagus, bila kau pakai topeng itu, setan pun akan ketakutan melihatmu.”

Sim Long ambil obor dari tangan Seng Ing, diangkat tinggi di atas kepala terus mendahului jalan ke depan.

Cahaya obor yang bergerak menerangi dinding sekeliling gua hingga kelihatan seram, di tengah embusan angin dingin, sebuah pintu batu mengadang di depan. Pintu batu polos tanpa hiasan apa-apa, tinggi dan besar, mereka berhenti di depan pintu, meski mendongak juga tidak terlihat betapa tingginya pintu.

Seketika timbul perasaan sedemikian kecil diri mereka ini, hingga rasa takut terhadap gua hantu ini bertambah besar.

Kedua daun pintu besar ini tertutup rapat, di tengahnya terdapat garis celah, tampak bekas bacokan di atas pintu, tapi daun pintu yang tebal dan berat ini jelas tak bisa dibuka dengan kekerasan.

Sim Long berpikir sebentar, lalu katanya, “Rombongan kuli tambang yang menemukan tempat ini entah cara bagaimana bisa masuk kemari? Entah Wi Be ada penjelasan atau tidak?”

Alis It-siau-hud bertaut, katanya, “Menurut cerita Wi Be pintu ini berhasil dijebol oleh para kuli itu tatkala mereka mabuk.”

Sim Long menarik napas, “Tapi pintu ini jelas bukan terbuka karena kekerasan, agaknya cerita Wi Be ada yang tidak sesuai dengan keadaan di sini.”

“Mungkin badan halus tempat ini yang membuka pintu ini?” ucap Jit-jit dengan sangsi.

“Tapi … tapi ….” si anak merah menimbrung, mungkin karena ketakutan, suaranya jadi tergegap, setelah batuk dua kali baru dia meneruskan, “Tapi kalau setan penghuni kuburan ini melarang orang masuk kemari, mana mungkin dia membuka pintu, bisa jadi dia … dia merasa kesepian dalam gua ini, maka sengaja menipu beberapa orang untuk mengantar kematian, supaya tambah setan baru untuk menemani mereka?”

Ucapan si anak merah seperti minyak menyiram api, Cu Jit-jit mengomel, “Setan … setan cilik, omong … kosong.” -Suaranya pun menggigil.

Saking ketakutan Cu-bu-cui-hun Mo Si tak kuat berdiri lagi, katanya,” Apakah … tidak lebih baik menunggu siang hari baru … baru kita masuk kemari lagi?”

It-siau-hud tertawa dingin, “Sudah puluhan tahun Cu-bu-cui-hun malang melintang di dunia Kangouw, kau terhitung seorang tokoh yang disegani, kenapa sekarang berucap demikian?”

“Tapi … tapi ….” luluh semangat Mo Si, akhirnya dia menunduk tanpa bicara lagi.

Sim Long menghela napas perlahan, katanya, “Memang aneh kejadian dalam gua hantu ini, kalau Mo-heng tidak mau masuk lebih lanjut, janganlah dipaksa.”

It-siau-hud menjadi gusar. “Sudah sampai di sini, siapa lagi yang tak mau masuk?”

“Bukan demikian halnya,” kata Sim Long. “Sekarang siapa pun bila melangkah ke dalam pintu, mati-hidup selanjutnya sukar diramalkan, umpama kau bisa memaksa orang lain berbuat seperti dirimu, tapi tak boleh memaksa orang lain untuk mengantar jiwa secara sia-sia.”

It-siau-hud melongo, segera Sim Long menambahkan, “Kalau Mo-heng tidak mau masuk boleh silakan kembali saja ….”

Mendadak It-siau-hud tertawa, katanya, “Keluar seorang diri, kukira jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan hidup.”

Bergetar tubuh Mo Si, mendadak dia mengertak gigi, dengan kalap dia membentak, “Masuk juga boleh!”

Segera dia mendahului menerjang masuk seraya berteriak, “Ayo, kawanan setan dalam kuburan ini, kalau berani keluar bertempur melawanku …. Keluar, keluar … hahaha, kenapa tidak berani? Kalian tidak berani? Hahaha ….” gelak tertawa yang mengerikan bergema di dalam gua hantu hingga debu rontok berhamburan.

Cu Jit-jit bergumam, “Mungkin orang itu sudah gila.”

Sim Long berkerut alis, sekali berkelebat menyusul ke dalam, dilihatnya Mo Si sedang menggerakkan kaki dan tangan, menari mirip orang gila, secepat kilat Sim Long memegang urat nadinya, katanya dengan suara tertahan, “Mo-heng, kenapa jadi nekat begini, memangnya kau tidak ingin hidup lagi?”

Bergetar tubuh Mo Si, sesaat dia berdiri melongo. Sementara itu orang banyak telah menyusul tiba, tampak di balik pintu merupakan sebuah ruang besar berbentuk bulat, ada sembilan pintu yang tersebar di berbagai penjuru, langit-langit pun bulat berbentuk kubah dan kelihatan ada lukisan, cuma terlalu tinggi, tak tercapai oleh cahaya api, maka tidak bisa terlihat lukisan apa.

Ruang sebesar ini kosong melompong, hanya sebuah meja bundar di tengah ruangan, benda lain tidak ada. Cu Jit-jit merinding berada di tempat serbabulat ini, gumamnya, “Sebetulnya kuburan siapakah ini?”

Seng Ing menimpali, “Kemungkinan kuburan seorang raja zaman dahulu.”

Tiba-tiba ia seperti menemukan apa-apa, dia memburu ke meja bundar sambil mengulurkan tangannya.

“Berhenti!” tiba-tiba Sim Long membentak.

Seng Ing menoleh, serunya, “Di atas meja ada ….”

“Apa pun yang berada di dalam ruang ini, siapa pun dilarang menyentuhnya,” Sim Long memperingatkan. “Seng-heng harus ingat ….”

“Kenapa?” tanya Cu Jit-jit.

Sim Long menghela napas, katanya, “Jangan lupa bagaimana kematian para kuli tambang itu, setiap sudut tempat ini, mungkin dilumuri racun, bila menyentuhnya jangan harap ….”

Mendadak si anak merah menjerit, “Itu dia setannya datang!”

Serentak semua orang berpaling, tertampak pintu kiri di sebelah anak merah ada cahaya api berkelebat, sinarnya berkelap-kelip laksana kunang-kunang, jelas api setan.

“Kejar!” It-siau-hud memberi aba-aba.

“Nanti dulu,” kembali Sim Long mencegah, “dalam kuburan ini pasti banyak lorong yang simpang-siur. Jika Taysu kurang hati-hati dan tersesat di dalamnya, mungkin takkan bisa keluar lagi, maka kalian tidak boleh sembarang bertindak.”

Seng Ing menghela napas, katanya, “Pendapat saudara memang benar, menurut apa yang kuketahui, dalam kuburan kuno memang banyak jalan rahasia yang menyesatkan, kecuali bisa mendapatkan peta mengenai seluk-beluk kuburan ini, kalau tidak, jangan harap bisa pergi datang seenaknya sendiri ….”

Tanpa sengaja dia menoleh, air mukanya mendadak pucat, tangannya menuding ke meja, jarinya gemetar, mulutnya menganga, tapi tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

It-siau-hud juga kaget, tanyanya, “Ada apa, kenapa mendadak berubah setegang ini?”

Seng Ing menenangkan diri, katanya kemudian, “Barusan kulihat di atas meja bundar ini ada sekeping lencana besi hitam gelap, tapi dalam sekejap saja lantas lenyap.”

Mo Si ketakutan, tanyanya gemetar, “Apakah kau … melihatnya jelas?”

“Sejak umur tujuh tahun kutumbuh dewasa di kamar gelap, di bawah penerangan api dupa juga aku bisa melihat sesuatu benda, sudah lima belas tahun aku melatih diri, kuyakin pandanganku cukup tajam, dalam jarak tiga tombak, nyamuk terbang pun takkan bisa mengelabui pandanganku …. Barusan … barusan kulihat dengan jelas, pasti tidak salah.”

Maklum, Gin-hoa-piau Seng Ing adalah salah seorang jago muda yang cukup menonjol dalam kalangan Bu-lim di Tionggoan, setiap anak murid Seng-keh-po yang ahli senjata rahasia sangat terkenal, betapa tajam mata murid didik keluarga Seng, kejituan serangannya sudah diakui oleh kaum persilatan, bahwa sekarang Seng Ing bicara seyakin ini, jelas urusannya tidak perlu disangsikan lagi.

Berkeringat jidat Mo Si, katanya gemetar, “Soal ini tidak boleh dibuat permainan, siapa yang mengambil lencana besi itu, silakan mengaku, supaya kita tidak perlu berkhawatir.”

Orang banyak saling pandang dengan wajah serius, tapi tiada seorang pun yang bicara, kembali Mo Si membentak, “Kalau tiada yang mengambil, memangnya lencana itu punya sayap dan bisa terbang sendiri?”

Gema suaranya seperti bunyi genta yang bertalu-talu, jelas gua ini sangat luas dan dalam, sampai gema suara itu sirna, orang banyak masih tiada yang bicara.

Sambil mengawani Mo Si diam-diam Cu Jit-jit membatin, “Keparat ini sok bertingkah, bukan mustahil dia sendiri yang main gila.”

Sementara itu Mo Si juga mengawasi Seng Ing dan membatin, “Mungkin pada hakikatnya dia tidak melihat apa-apa, namun sengaja bilang melihat sesuatu supaya orang banyak berkhawatir dan curiga, lalu diam-diam dia akan menarik keuntungan?”

Sedangkan Seng Ing memandang It-siau-hud, pikirnya, “Hwesio ini memiliki kungfu tinggi, tapi jarang namanya disebut orang di kalangan Kangouw, bukan mustahil dia salah seorang dari anggota penghuni gua hantu ini, sengaja dia memancing orang banyak antar kematian kemari? Kalau dugaan ini benar, jelas lencana tadi diambil olehnya.”

Beberapa kali It-siau-hud hendak bicara, tapi urung, dia menatap Sim Long, pikirnya, “Hm, asal usul bocah ini patut dicurigai, masih semuda ini tapi membekal kungfu setinggi itu, semua peristiwa yang mengejutkan bukan mustahil adalah permainannya?”

Jadi satu sama lain saling curiga, tanpa terasa mereka lantas saling memerhatikan apakah orang yang dicurigai menunjukkan sesuatu gerak-gerik dan memerhatikan tangan orang apakah memegang sesuatu yang mencurigakan?

Hanya Sim Long yang bersikap wajar dan tenang, sedikit pun tidak gugup atau gelisah.

Tiba-tiba terdengar si anak merah berkata, “Di luar pintu ada setan, lencana besi tadi pasti dibawa setan tadi, tempat ini memang menyeramkan, ayolah putar balik saja!”

Belum habis dia bicara mendadak Mo Si menjerit ngeri dan tersungkur.

Orang banyak berjingkat kaget, It-siau-hud dan Seng Ing bergerak hendak memapahnya, tapi hanya maju tiga langkah, tanpa berjanji keduanya lantas berhenti.

Lekas Sim Long memapah Mo Si, tertampak mukanya pucat, sorot matanya memancarkan rasa takut dan ngeri, bola matanya melotot, dadanya juga naik-turun. Melihat orang belum mati, lega hati Sim Long, tanyanya, “Mo-heng, tidak apa-apa bukan?”

“Ada …ada ….” Mo Si tergegap.

“Ada apa?” tanya Sim Long.

“Ba … barusan ada … ada orang memukulku dari belakang.”

Cu Jit-jit tertawa dingin, jengeknya, “Mana ada orang di belakangmu, apa kau mimpi?”

“Benar, ada orang memukul punggungku,” suara Mo Si serak dan panik, “punggungku sekarang masih sakit, aku … jika aku membual, biarlah aku mati tak terkubur.”

Kembali orang banyak saling pandang, tidak ada yang bicara, bernapas pun tak berani keras-keras.

Kembali Seng Ing membatin, “Kapan ada orang memukulnya, kurasa dia sengaja berbuat demikian supaya orang takut dan curiga, diam-diam dia akan memungut keuntungan.”

Jit-jit juga membatin, “Siapakah di antara orang-orang ini yang jadi biang keladi? Mungkin Hwesio gede ini?”

Tapi It-siau-hud tampak menyeringai, otaknya juga bekerja, “Bukan saja bocah ini patut dicurigai, gadis ini mungkin juga punya maksud tertentu, aku harus lebih hati-hati, jangan sampai tertipu oleh mereka.”

Makin besar saling curiga mereka, saling berjaga dan saling mengawasi, di bawah api obor yang bergerak-gerak, tampak air muka mereka tegang dan kaku.

Di tengah keheningan itu terdengar Mo Si bergumam, “Siapa yang memukulku? Siapa?”

Mendadak dia membentak dan menerjang ke depan Seng Ing, katanya dengan beringas, “Tadi kau berdiri paling dekat denganku, mungkinkah kau yang main gila?”

Seng Ing gusar, dampratnya, “Kau sendiri yang berpura-pura dan sengaja menuduh orang malah.”

“Kentut busuk ….” maki Mo Si, kontan ia menjotos.

Sigap sekali Seng Ing berkelit, tangannya merogoh kantong. Mo Si sudah telanjur kalap, bentaknya, “Senjata rahasia keluarga Seng memang lihai, tapi apakah Cu-bu-cui-hun takut padamu? Ayolah maju, orang she Mo ingin membuktikan apakah Gin-hoa-piau lebih lihai, atau Cui-hun-ciam (jarum mengejar sukma) milikku lebih ampuh?”

Kedua orang ini sudah siap saling labrak, padahal senjata rahasia kedua orang ini sama lihai dan terkenal, bila bentrokan terjadi, maka urusan pasti sukar dibereskan.

Dalam keadaan seperti ini orang lain tidak dapat lagi berpeluk tangan, cepat It-siau-hud menarik Mo Si dan Sim Long membujuk Seng Ing, katanya, “Dalam keadaan seperti ini, mana boleh kalian saling bunuh malah, kalau ditonton musuh di tempat gelap kan ….”

“Mana ada orang di tempat gelap?” seru Mo Si gemetar.

“Kalau tiada orang, lalu siapa yang memukulmu?” tanya Sim Long.

Si anak merah mendadak berteriak, “Setan! Setan … pasti ada setan ….”

Mendadak obor yang dipegang It-siau-hud padam, keadaan menjadi guram, perasaan semua orang tambah tertekan.

Serak suara It-siau-hud, “Bagus, bagus! Ayolah saling genjot, kalian boleh berhantam. Kita memang tidak ingin keluar lagi dengan hidup, baiklah aku menonton kalian berhantam lebih dulu.”

Tangan Mo Si yang dipegangnya lantas dilepaskan, tapi tubuh Mo Si jadi gemetar, mana dia berani turun tangan?

Seng Ing berkata, “Kita harus maju atau mundur lekas diputuskan, kalau berani ayo terjang ke dalam, mendingan mati daripada menunggu di sini.”

Belum habis dia bicara, tiba-tiba Sim Long juga meniup padam obor di tangannya, keadaan seketika gelap gulita, lima jari sendiri pun tidak kelihatan. Keruan semua orang berteriak kaget, It-siau-hud berkata, “Siangkong, apa yang kau lakukan?”

“Dalam keadaan seperti sekarang, alat semacam ini teramat penting artinya, kita akan maju atau mundur tetap memerlukan obor ini, mana boleh dinyalakan terus dengan percuma, setelah ada putusan, bila tiada obor untuk penyuluh jalan, lalu apa yang bisa kita lakukan?”

Seng Ing menghela napas, katanya, “Memang Siangkong lebih cermat berpikir, jika obor tak bisa menyala, kita akan mati kutu, maju tak bisa, mundur juga sulit, mungkin kita semua bisa mati kelaparan terkurung di sini ….”

Dalam kegelapan mendadak terdengar suara anak merah membentak dan mengomel, “Jit-ci, kenapa kau cubit aku?”

“Aku … mana aku mencubit kau?” sahut Cu Jit-jit.

“Bukan kau, lalu … siapa?”

Sim Long, Seng Ing, Mo Si dan It-siau-hud serempak berkata, “Juga bukan aku.”

Seketika mereka merinding, terbayang entah siapa dalam kegelapan ini akan menyentuh atau mencubitnya, mereka jadi ngeri, keringat dingin membasahi sekujur badan.

Si anak merah gemetar, serunya, “Ayolah kembali … kalau terlambat ….”

Tiba-tiba perkataannya terputus karena di luar terdengar suara langkah berat mendatangi, setiap langkah orang seperti berdetak menggetar sanubari mereka. Tanpa berjanji serempak semua orang bersiaga dan membentak, “Sia … siapa?”

Terdengar seorang menjawab di luar, “Siapa kau?”

It-siau-hud dan Cu Jit-jit melintangkan kedua tangan di depan dada, Mo Si, Seng Ing diam-diam menggenggam senjata rahasia, tampak secercah cahaya menyorot masuk dari luar, suara langkah itu pun berhenti di ambang pintu.

Sebat sekali It-siau-hud menyelinap ke belakang pintu, ia memberi tanda kepada Seng Ing. Segera Seng Ing berdehem dan berkata, “Saudara di luar itu silakan masuk!”

Hening sejenak, tiba-tiba sebuah tangan terulur masuk dari balik pintu, sekali pukul daun pintu, “blang”, di tengah getaran suara yang keras, daun pintu besar dan berat itu digempur terbuka, maka It-siau-hud tak bisa bersembunyi lagi di belakang pintu, cepat dia melompat mundur, pintu itu pun terpentang lebar.

Bayangan orang tampak berkelebat di luar pintu, tanpa memberi peringatan kontan Mo Si ayun tangannya menebarkan segenggam jarum beracun. Maka terdengarlah suara gemeresik, jarum beracun semua mengenai daun pintu.

Siapa tahu Cu-bu-cui-hun, ahli senjata rahasia yang terkenal, karena gemetar, kaki tangan jadi lemas dan sambitan senjatanya pun lemah hingga jauh dari sasaran.

Di bawah kelebat cahaya api seorang besar berdiri di ambang pintu sambil mengacung obor di atas kepala. Perawakannya yang tinggi kekar, tegak lurus, dengan kegelapan di belakangnya sehingga kelihatan angker.

Kini semua orang baru melihat jelas, laki-laki ini bukan lain adalah suami yang mengantar istri dan putrinya balik ke hotel tadi, kini seorang diri dia menyusul tiba.

“O, kiranya kau,” lega hati Mo Si.

Lelaki besar itu mendengus, “Tanpa membedakan lawan atau kawan saudara terus main serang secara keji, apa tidak sembrono?”

“Soalnya ….” Mo Si hanya bisa menyengir saja.

Mendadak It-siau-hud membentak, “Dalam keadaan seperti sekarang, semua menghadapi bahaya dan ketakutan, dapat dimengerti jika ingin turun tangan lebih dulu, umpama salah tangan juga lebih baik daripada jiwa sendiri melayang di tangan orang lain. Saudara juga belum memperkenalkan diri, kita sukar membedakan kawan atau lawan, maka bukan salah kami kalau keliru bertindak.”

Laki-laki itu juga gusar, katanya, “Memangnya kau kira aku ini setan gentayangan dari gua hantu ini?”

“Siapa tahu?” jengek It-siau-hud.

Laki-laki itu bergelak sambil mendongak, katanya, “Kalau kau ingin tahu asal-usulku juga boleh, tapi aku ingin tanya padamu, tahukah apa yang diucapkan Tay-pi Siangjin sebelum ajalnya dulu?”

It-siau-hud berpikir sejenak, air mukanya berubah, katanya dengan suara berat, “Maksudmu keempat kalimat yang berbunyi: ‘Pada hari munculnya mega putih, tatkala Jit-sat muncul kembali, dunia persilatan yang kotor ini, kekacauan akan segera mulai’.”

“Betul,” seru laki-laki itu. “Sepuluh tahun yang lalu padri agung itu telah meramalkan huru-hara yang bakal terjadi, maka sebelum ajal dia telah mengucapkan ramalannya itu, maksudnya tidak lain bila Jik-sat-jiu muncul pula di dunia Kangouw, kekacauan besar akan mulai berlangsung dalam Bu-lim.”

“Apa hubungan soal ini dengan dirimu?” bentak It-siau-hud.

Laki-laki itu makin keras tertawa, serunya, “Coba kau lihat, apa ini?”

Perlahan dia ulurkan tangannya, di bawah penerangan obor tampak kelima jari tangannya ternyata sama panjang dan pendek, bagian tengah telapak tangannya berwarna ungu gelap dan memancarkan semacam sinar yang aneh.

Kontan semua orang banyak berteriak kaget, “Jik-sat-jiu.”

“Betul,” tandas suara laki-laki kekar itu, “Loan-si-sin-liong Jik-sat-jiu ….”

“Bangsat,” Mo Si berjingkrak gusar, “jadi An-yang-ngo-gi mati di tanganmu.”

Kontan dia timpukkan pula senjata rahasianya.

Loan-si-sin-liong Jik-sat-jiu menghardik bengis, sekali ayun sebelah tangannya, taburan senjata rahasia itu berhasil dipukul rontok, bentaknya marah, “Apakah kau gila? Sembarang mengoceh!”

Gemertuk gigi Mo Si saking dendam, bentaknya, “Sudah jelas An-yang-ngo-gi mati di bawah Jik-sat-jiu, kecuali kau, siapa pula yang mampu menggunakan Jik-sat-jiu? Kau … bayar kembali jiwa mereka berlima.”

Dengan nekat tiba-tiba dia menerjang maju dan menghantam dada orang, tapi sebelum tangannya mengenai sasaran, tahu-tahu sikutnya terpegang dan ditelikung oleh Sim Long.

“Kau … apa kerjamu?” teriak Mo Si kalap.

“Mo-heng, harap tenang dan gunakan pikiran. Waktu An-yang-ngo-gi terbunuh, saudara itu masih berada bersama kita, mana mungkin dia membunuh orang di dalam kuburan ini?”

Mo Si melengak, tangannya terjulur lemas.

Laki-laki itu masih gusar, serunya, “Sesungguhnya apa yang terjadi? Setiba di sini, apakah keparat ini menjadi gila karena ketakutan?”

Sim Long menjura, katanya dengan tertawa, “Mohon tanya, konon Say-siang-sin-liong Liu-tayhiap dahulu mempunyai seorang putri tunggal, sejak kecil hidup di padang pasir jauh di luar perbatasan sana, entah ada hubungan apa dengan Anda ….”

“Ya, dia istriku,” sahut laki-laki itu.

“Siapa nyana Anda ini menantu Liu-tayhiap. Maaf, bila kurang hormat,” setelah memberi hormat Sim Long menyambung pula, “Kaum persilatan tahu bahwa Jik-sat-jiu mengutamakan tenaga keras dan tiada bandingannya di dunia ini, tapi ilmu ini harus dilatih oleh perjaka murni baru akan bisa mencapai puncaknya, padahal dahulu Tok-jiu-siu-hun guru dan muridnya mengalami musibah sekaligus, Yau-bing-sin-kay bertabiat aneh dan lebih suka hidup menyendiri, jelas mereka tidak punya keturunan, Say-siang-sin-liong Liu-tayhiap juga hanya punya seorang putri, maka kaum persilatan sama menyangka Jik-sat-jiu kini sudah putus turunan, siapa tahu meski putri tunggal Liu-tayhiap sendiri tidak meyakinkan ilmu pukulan itu, namun pukulan hebat itu telah diwariskan kepada saudara. Bahwa ilmu sakti yang tiada taranya ini ternyata masih ada juga ahli warisnya, sungguh berita gembira dan patut diberi selamat.”

Terunjuk senyum tipis di ujung mulut laki-laki itu, katanya kalem, “Saudara gagah dan masih muda, tapi sudah paham sejarah dunia persilatan, tentunya kau pun dari keluarga besar persilatan yang kenamaan.”

“Cayhe Sim Long, kaum keroco, dan siapa nama saudara yang mulia?

“Thi Hoat-ho,” sahut laki-laki itu.

Sim Long berkeplok, katanya, “Naga sakti muncul tatkala dunia kacau, orang sakti berdarmabakti, orang terkenal memang patut punya nama bagus.”

Thi Hoat-ho tergelak, katanya, “Saudara ternyata pandai bicara!”

Rasa gusarnya tadi tersapu bersih setelah percakapan berlangsung.

Sim Lang berkata pula, “Dalam dunia persilatan sekarang, kecuali Thi-heng, pasti masih ada seorang yang juga mahir menggunakan Jik-sat-jiu, cuma saudara sendiri tidak tahu.”

“Mana mungkin?” ujar Thi Hoat-ho sambil berkerut kening.

Maka Sim Long lantas menerangkan kematian Kim Lin, tertua An-yang-ngo-gi, akibat pukulan Jik-sat-jiu.

Berubah air muka Thi Hoat-ho, katanya dengan mendelik, “Tak tersangka gua hantu ini mengandung banyak keanehan, perguruan Tok-jiu-siu-hun jelas sudah putus turunan, Yau-bing-sin-kay juga tidak punya ahli waris, dari mana orang itu mempelajari Jik-sat-jiu? Apa pun hari ini orang she Thi harus menyelidikinya sampai terang.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: