Kumpulan Cerita Silat

10/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (06)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:43 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (06)
Oleh Gu Long

Wajah Ci-ih-hou yang pucat dan tenang itu pun timbul semacam cahaya yang aneh dan menambah daya tariknya yang misterius.

Jari tangan Pui Po-ji pun gemetar, meski ia tidak suka ilmu silat, tapi melihat pertempuran yang mahadahsyat segera akan berlangsung, betapa pun ia ikut tegang dan penuh semangat, dirasakan tangan Cui Thian-ki yang memegangnya itu juga berubah dingin.

Ketegangan para kesatria yang berkerumun di tepi pantai sana juga jauh di atas Po-ji dan Thian-ki, sebab mereka sudah melihat si baju putih, tokoh misterius pujaan dunia Kangouw kini pun sudah mendekat pantai bersama Oh Put-jiu.

Sorakan gemuruh yang memekak telinga bahkan menenggelamkan suara gemuruh ombak yang mendebur.

Namun sorak gemuruh itu tidak membuat air muka si baju putih yang dingin itu berubah sedikit pun, ia tatap panji pancawarna kapal layar dengan termenung.

Sementara itu Siu Thian-ce membawa keempat pembantu utamanya telah memburu tiba untuk menyambut tamu agung. Tapi salah seorang pembantunya yang berewok seketika gemetar dengan wajah pucat demi melihat tokoh misterius berbaju putih ini serupa melihat setan saja, kaki pun tidak mau turut perintah lagi, sukar bergerak dan bergemetar.

Dengan sendirinya si baju putih juga melihatnya, sinar matanya berkelebat dan mendadak berubah arah, langsung ia mendekati Siu Thian-ce berlima.

Tentu saja si lelaki berewok kebat-kebit, ngeri juga Siu Thian-ce dan ketiga orang lain melihat sorot mata orang yang tajam.

“Eng … engkau belum lagi mati ….” si lelaki berewok itu berucap dengan gemetar.

Si baju putih mencibir, sorot matanya yang tajam dingin itu menampilkan rasa menghina, ucapnya sekata demi sekata, “Kau tidak setimpal membuat kuturun tangan padamu.”

Ia putar haluan dan langsung menuju ke pantai.

Lelaki berewok itu menghela napas lega, mendadak ia jatuh duduk terkulai dengan mandi keringat.

“Sesungguhnya apa yang terjadi?” dengan heran Siu Thian-ce coba tanya pembantunya itu.

“Orang ini menumpang kapal dan datang dari kepulauan Tong-eng (kepulauan Okinawa),” tutur lelaki berewok. “Di teluk Losan, anak buah hamba menemukan barang muatan pada kapalnya tidaklah ringan, seperti sebangsa emas perak. Maka dikirim penyelam untuk membobol kapalnya sehingga tenggelam. Tampaknya orang ini pun ikut karam ke dalam laut, jarak tempat kapal karam dengan pantai lebih satu li jauhnya, semua orang yakin dia pasti akan terkubur di dasar laut, siapa tahu … siapa tahu dia ternyata tidak mati.”

Ia tidak tahu Lwekang si baju putih ini sudah mencapai tingkatan paling sempurna, sehingga sanggup tahan napas sekian lamanya, sesudah ikut tenggelam ke dasar laut, dengan ilmu membuat berat badan sendiri, ia berjalan dari dasar laut menuju ke pantai, karena munculnya si baju putih dari dasar laut tidak sempat dilihatnya, maka ia sangka orang sudah terkubur di dasar laut, sama sekali tak terpikir olehnya tokoh baju putih yang sedang ditunggu orang banyak inilah tokoh misterius itu.

“Ada berapa penumpang di kapalnya itu?” tanya Siu Thian-ce dengan suara tertahan.

“Cuma … cuma satu orang,” tutur lelaki berewok itu. “Melihat dia mengarungi lautan luas hanya sendirian saja, segera hamba tahu dia pasti orang yang luar biasa. Malahan lebih dari itu, hamba hanya pernah dilihatnya sekilas saja, ternyata sampai sekarang dia masih ingat padaku. Siapa pun tidak menyangka bahwa barang yang termuat pada kapalnya itu ternyata bukan barang mestika segala melainkan sebangsa besi yang beratus ton beratnya untuk menahan kapalnya agar tidak terbalik oleh damparan ombak samudra.”

“Dan sekarang dia justru mengampunimu,” ucap Siu Thian-ce dengan gusar.

“Ya, dia tidak menuntut balas kepada hamba, sungguh di luar dugaan ….”

“Dia dapat mengampunimu, akulah yang tidak dapat memberi ampun padamu,” bentak Siu Thian-ce dengan gusar. “Kau ternyata tidak mengindahkan moral dan etika pelayaran laut dan merampok terhadap penumpang yang sendirian, apa dosamu tentu kau tahu sendiri?”

Pucat muka si berewok, ucapnya gemetar, “Ya, hamba tahu … tahu dosa.”

“Jika tahu, harus kau bereskan diri sendiri,” kata Siu Thian-ce dengan bengis. Habis berkata, tanpa memandangnya lagi ia melangkah ke sana, menyusul si baju putih.

Si berewok menengadah dan menghela napas panjang, ratapnya, “O, nasib ….”

Mendadak ia berlutut kepada ketiga lelaki kawannya, ucapnya pedih, “Mohon ketiga saudara sudi mengingat hubungan baik yang lalu dan suka menjaga anak istriku ….”

Dengan wajah sedih ketiga orang itu menjawab, “Jangan khawatir ….”

Hanya sekian saja mereka sanggup bicara, mereka lantas berpaling, seperti tidak tega memandangnya lagi.

Si berewok menyembah beberapa kali dan mengucapkan terima kasih. Segera ia melolos sebilah belati dari sepatu kulitnya yang berlaras panjang itu, langsung ia menikam dada sendiri. Terdengar suara raungan dengan darah segera muncrat, tubuhnya roboh terkulai perlahan dan putus nyawanya.

Ketiga lelaki itu mengangkat mayat kawannya dan menyusul juga ke arah si baju putih.

Ketika mendengar raungan tadi, si baju putih sempat menoleh sekejap.

Siu Thian-ce sudah menyusul sampai di belakangnya, katanya sambil menghormat, “Bawahanku bertindak kurang pantas, namun hukum laut tidak boleh dilanggar ….”

Si baju putih seperti tahu si berewok pasti akan membunuh diri dan tahu orang akan membawa mayat kepadanya, tanpa menoleh ia membentak, “Bawa pergi!”

Ketiga lelaki tadi mengiakan.

Lalu Siu Thian-ce berkata pula, “Meski orang yang bersalah sudah mendapatkan hukuman setimpal, namun orang she Siu masih wajib mengganti rugi kapal Anda. Setengah jam lagi akan datang sebuah kapal layar baru.”

Hanya sekejap si baju putih menatapnya dan tidak bicara lagi, dengan langkah lebar ia menuju ke tepi pantai. Angin agak mereda, ombak masih mendebur meratakan bekas kaki yang memenuhi pesisir.

Terdengar suara halus berkumandang dari kapal layar jauh di laut sana, “Ilmu pedang Anda tidak ada bandingannya dan pantas disebut pendekar pedang tanpa bandingan, apakah Anda sudi bertempur denganku di tengah laut?!”

Suaranya halus lembut, namun sekata demi sekata terdengar dengan jelas serupa orang yang bicara di tepi telinga.

Semua orang sama melengak dan mengakui betapa kuat Lwekang orang.

Namun si baju putih tetap bersikap dingin, ucapnya perlahan, “Cara bagaimana harus bertempur di tengah laut?”

Suaranya juga perlahan, datar dan berkumandang jauh ke laut sana menembus debur ombak dan deru angin.

Cui Thian-ki, Pui Po-ji dan para gadis jelita yang berada di atas kapal juga sama terkejut dan diam-diam berkhawatir bagi Ci-ih-hou.

“Apakah Anda ingin penjelasan?” terdengar Ci-ih-hou menanggapi.

“Kukira tidak perlu lagi,” jawab si baju putih setelah termenung sejenak.

“Kita menumpang kapal bersama dan bertemu di tengah laut, setuju,” kata Ci-ih-hou pula.

“Baik,” jawab si baju putih. Meski jarak kedua orang sekian jauhnya, namun cara bicara mereka serupa berhadapan dekat, meski keduanya tahu pertarungan ini akan menentukan mati-hidup masing-masing, tapi cara bicara mereka tetap tenang saja.

Akan tetapi setiap orang yang berada di tepi pantai, di atas kapal, dan mendengar percakapan mereka itu, semua merasa tegang sekali.

Ketika Siu Thian-ce memberi tanda, segera sebuah sampan meluncur tiba. Si baju putih memandang Oh Put-jiu sekejap, katanya, “Kau mau menjadi tukang sampan bagiku?”

“Tentu saja!” jawab Oh Put-jiu tanpa ragu.

Segera Oh Put-jiu menyuruh tukang sampan melompat turun, ia sendiri menggantikannya memegang pendayung. Si baju putih melompat ke haluan sampan dan sampan pun meluncur dengan cepat ke depan.

Di sana Ci-ih-hou juga sudah keluar dan anjungan kapalnya, dengan tersenyum ia berkata kepada orang yang sedang melapor dengan sampan tadi, “Pertarungan ini sangat berbahaya, apakah kau suka menjadi tukang perahuku?”

Tentu saja orang itu merasa mendapat kehormatan besar, dengan semangat ia menjawab, “Hamba … hamba merasa sangat bangga ….” suaranya tersendat dan tidak sanggup meneruskan lagi.

Ci-ih-hou menoleh dan memandang Siaukongcu sekejap seperti ingin bicara, tapi tiada sepatah pun yang terucap dan segera ia melompat ke atas perahu.

Semua penumpang kapal layar pancawarna sama berlinang air mata, ingin bicara tapi sukar bersuara. Siaukongcu menggigit bibir, air mata hampir menitik, meski ia gigit bibir dan bertahan sekuatnya hingga bibir pun pecah, tidak urung air mata pun menetes akhirnya dengan derasnya.

Beratus, bahkan beribu pasang mata sama memandang ke tengah laut sana. Sang surya sudah hampir terbenam, cahaya senja gemilang menyinari permukaan laut dan memantulkan cahaya berwarna-warni. Kedua sampan semakin mendekat.

Ci-ih-hou mengangkat pedangnya dengan kedua tangan dan berucap, “Silakan!”

Si baju putih juga angkat pedang dan menjawab, “Silakan!”

Serentak terdengar suara pekikan serupa naga meringkik, di bawah cahaya senja mendadak bertambah dua jalur cahaya pedang yang menyilaukan mata.

Oh Put-jiu masih terus mendayung, tangan pun penuh keringat karena tegangnya. Ia coba memandang ke depan, terlihat si baju putih yang berada di haluan perahu berdiri tegak lurus dengan ujung pedang lurus miring ke depan.

Ci-ih-hou di haluan perahu depan sana juga berdiri tenang dengan pedang terhunus, meski sampan bergoyang-goyang, namun ujung pedangnya tampak mantap.

Jarak kedua perahu semakin dekat, sinar mata kedua orang sama menatap tajam pihak lawan tanpa menghiraukan lain lagi. Muka Ci-ih-hou tambah pucat, sorot mata si baju putih yang penuh semangat semakin membara.

Sekonyong-konyong kedua sampan lewat bersimpang, pedang Ci-ih-hou menebas lurus ke depan.

Jurus serangan ini tiada sesuatu yang istimewa, hanya ujung pedang kelihatan gemerdep, dalam sekejap saja bergetar berpuluh kali sehingga berpuluh Hiat-to di tubuh si baju putih terkurung di bawah sinar pedangnya. Akan tetapi gerak pedang tidak diteruskan, jelas gerak serangan, ternyata sesungguhnya adalah jurus bertahan yang paling menakjubkan di dunia ini.

Pergelangan tangan si baju putih berputar, pedang pun sekaligus berubah puluhan tempat, akan tetapi juga tidak berani melancarkan serangan di bawah jurus pedang Ci-ih-hou itu.

Tiba-tiba ombak mendampar, kedua sampan terpencar.

Setelah bergebrak satu jurus itu, Ci-ih-hou dan si baju putih kembali pada sikap tenang semula. Ketegangan para penonton pun ikut terempas lega.

Oh Put-jiu paling beruntung, karena dapat menyaksikan pertarungan itu dari dekat. Ia merasa jurus serangan Ci-ih-hou itu meliputi intisari berbagai Kungfu perguruan ternama, semuanya merupakan jurus serangan yang paling ampuh. Bahwa dalam satu jurus saja Ci-ih-hou dapat mengembangkan inti berbagai jurus serangan lihai itu, sungguh sukar dimengerti cara bagaimana dia menciptakannya.

Ketika ombak mendampar lagi, kedua perahu berpapasan pula. Sekali ini pedang Ci-ih-hou terangkat tinggi tanpa bergerak. Gaya ini jelas gaya bertahan belaka. Tapi sikap si baju putih lebih prihatin daripada tadi, ia pun angkat pedang ke atas, ia tahu gaya lawan yang kelihatan bertahan itu sebenarnya mengandung gaya serang susulan yang sukar diraba.

Angin menderu, ombak mendebur, sampan bergoyang, namun si baju putih sedikit pun tidak bergerak. Sebab ia menyadari, sedikit salah gerak dan memperlihatkan peluang tentu sukar lagi lolos di bawah pedang Ci-ih-hou.

Jadi keduanya tetap berdiri tegak serupa patung di atas sampan masing-masing. Oh Put-jiu sampai melongo dan menahan napas saking tegangnya, sukar lagi baginya untuk mendayung, sedikit merandek sampan lantas terhanyut mundur sehingga jarak Ci-ih-hou dan si baju putih terpisah beberapa tombak jauhnya.

Setelah dua gebrakan ini, Oh Put-jiu merasa hasil pertarungan ini sangat besar kemungkinannya dimenangkan Ci-ih-hou, sebab ilmu pedangnya jelas sudah sangat sempurna, jika ada ilmu pedang lain yang dapat mengalahkan dia, maka hal ini sukar untuk dipercaya.

Diam-diam Oh Put-jiu merasa lega, juga merasa pedih. Meski si baju putih ini dirasakan sebagai musuh bersama setiap orang persilatan, namun jiwa dan perilaku orang ini pun pantas dipuji dan dihormati.

Karena termenung sejenak, ia lupa mendayung. Begitu juga lelaki yang menjadi tukang perahu Ci-ih-hou pun melongo dan lupa mendayung sampannya. Waktu ombak mendampar lagi, jarak kedua sampan tambah jauh.

Ci-ih-hou dan si baju putih masih tetap berdiri dengan gaya semula tanpa bergerak. Sungguh Oh Put-jiu ingin kedua sampan ini terhanyut terpisah untuk selamanya dan tidak kembali lagi, agar pertarungan kedua tokoh misterius itu selamanya tidak diketahui kalah dan menang. Sebab siapa yang kalah atau menang tetap merupakan pukulan baginya.

Mendadak terdengar suara “brak” disertai guncangan sampan. Ternyata sampannya telah patah menjadi dua, haluan sampan tempat berdiri si baju putih telah berpisah dengan badan sampan.

Rupanya si baju putih menjadi tidak sabar menunggu, diam-diam ia mengerahkan Lwekang untuk menggetar patah sampan itu.

Tampaknya Ci-ih-hou juga berpikir sama, sampan yang ditumpanginya juga kelihatan patah menjadi dua.

Oh Put-jiu dan lelaki itu tidak sanggup menahan keseimbangan sampannya lagi, ketika ombak mendampar, mereka sama tercebur ke dalam laut.

Kejadian ini membuat gempar para penonton.

Sementara itu keadaan bertambah tegang, Ci-ih-hou dan si baju putih sama-sama membawa sebagian haluan sampan yang patah itu dan terapung di atas ombak, jarak keduanya semakin dekat.

Mendadak berkelebat pula cahaya perak di tengah gemilapan cahaya senja, hanya dalam sekejap saja pedang Ci-ih-hou dan si baju putih sudah saling serang berpuluh kali.

Para penonton hanya melihat sinar pedang berkelebat dan sukar membedakan serangan siapa. Sekonyong-konyong terdengar lengking nyaring menggema angkasa.

Di tengah lengking nyaring itu bayangan Ci-ih-hou tampak bergoyang-goyang terus terjungkal ke dalam laut. Sebaliknya si baju putih mengangkat pedangnya tanpa bergerak lagi.

Dada semua penonton serasa sesak karena menahan napas, mulut melongo tanpa suara.

Sampai sekian lama suasana sunyi senyap di tepi pantai, lalu suara jerit kaget dan khawatir meledak serentak. Sebagian besar kawanan gadis jelita di atas kapal layar pancawarna sama jatuh terkulai dan menangis sedih. Siaukongcu pun jatuh pingsan. Pui Po-ji juga melongo dan terbelalak seperti orang linglung.

Melihat tubuh si baju putih yang kaku serupa patung itu mengapung ke tepi pantai, meninggalkan cahaya senja yang kemilauan di tengah debur ombak laut.

Suara jerit kaget dan khawatir tadi mereda, semua orang sama menunduk sedih ….

Dalam keadaan mencekam itulah, tiba-tiba di tengah gelombang ombak laut itu muncul sesosok bayangan orang, meski sekujur badan basah kuyup, namun sikapnya tetap agung berwibawa serupa malaikat yang baru muncul dari laut. Siapa lagi dia kalau bukan Ci-ih-hou.

Sungguh kejut dan girang para penonton tak terkatakan, kejadian tak terduga ini sungguh membuat mereka melongo tidak habis mengerti.

Si baju putih akhirnya mencapai pantai, sedangkan Ci-ih-hou lantas melompat kembali ke atas kapal layar pancawarna.

Air muka si baju putih tidak menampilkan sesuatu perasaan, namun sinar matanya tambah dingin, mendadak ia berucap dengan suara berat, “Di mana kapalnya?”

Si naga jenggot merah alias Siu Thian-ce melengak, baru saja ia menyadari pertanyaan itu ditujukan kepadanya, tiba-tiba dari kerumunan orang banyak seorang berkata, “Di sana!”

Selaku kepala bajak, dengan sendirinya ia harus pegang janji. Ia sudah menyatakan akan ganti rugi sebuah kapal kepada si baju putih, maka tidak peduli mati atau hidup, kalah atau menang, sejak tadi kapal itu sudah disiapkan untuk si baju putih.

Waktu si baju putih memandang ke arah yang ditunjuk, benar juga terlihat sebuah kapal baru berlabuh belasan tombak di sebelah sana. Ia cuma memandang sekejap, lalu berpaling dan berucap terhadap kapal layar pancawarna, “Ilmu pedang Anda memang benar tiada bandingannya di dunia ini.”

Ci-ih-hou masih berdiri di haluan kapalnya, dengan sikap khidmat ia menjawab, “Sikap kesatria Anda sungguh pantas menjadi teladan segenap orang persilatan di dunia ini, sungguh aku sangat kagum dan hormat.”

“Menang tidak takabur, kalah tidak perlu patah semangat!” ucap si baju putih.

“Dan ke mana Anda akan pergi sekarang?” tanya Ci-ih-hou.

“Ke tempat jauh yang tak dapat kusebutkan,” jawab si baju putih.

“Jika begitu kuucapkan selamat jalan!”

“Terima kasih!”

Begitulah kedua orang itu bercakap dari jauh, sejenak kemudian, si baju putih menambahkan pula, “Kekalahanku ini takkan kulupakan selama hidup, tujuh tahun kemudian aku akan datang kembali untuk membersihkan noda kekalahan ini.”

Begitu selesai berucap, sekali berkelebat, secepat terbang ia melayang ke atas kapal baru yang disiapkan untuk dia itu.

Baru sekarang semua penonton tahu jelas bahwa pertandingan tadi telah dimenangkan oleh Ci-ih-hou. Maka tak tertahan lagi sorak-sorai gegap gempita.

Wajah setiap orang sama berseri gembira oleh kemenangan gemilang ini, sementara penonton yang bersorak-sorai terus menumpang sampan dan didayung mendekati kapal layar pancawarna, banyak yang tidak kebagian sampan sama kecebur ke laut dan akhirnya sampan pun terbalik.

Menyaksikan kejadian yang mengharukan itu Pui Po-ji pun berjingkrak kegirangan sambil merangkul Cui Thian-ki dan berteriak, “Hidup Ci-ih-hou!”

Dikecupnya sekali Po-ji oleh Cui Thian-ki sambil berucap dengan tertawa, “O, sayang!”

Nyata suasana gembira ini meliputi segenap lapisan dunia persilatan itu, semuanya ikut merasakan kemenangan itu dan merasa bangga.

Kawanan gadis di atas kapal layar pancawarna terlebih gembira serupa orang gila, mereka saling rangkul dan berjingkrak serta berpesta pora.

Thi Kim-to yang berjubel di tengah orang banyak berteriak, “Kan sudah kukatakan, ilmu pedang Houya kita tidak ada bandingannya di kolong langit ini, mana bisa beliau dikalahkan makhluk aneh itu.”

“Hehe, lucu juga makhluk aneh itu belum lagi rela, ia bilang tujuh tahun kemudian akan datang lagi,” kata seorang lain.

“Biarpun dia datang lagi tujuh tahun kemudian bisa berbuat apa,” teriak Thi Kim-to dengan terbahak. “Haha, paling-paling ia akan kabur lagi dengan mencawat ekor.”

“Haha, ucapan kawan Thi memang betul ….” Serentak semua orang tertawa gemuruh.

Oh Put-jiu telah merangkak ke atas kapal dari laut, melihat suasana gembira itu, ia pun sangat senang, tapi juga terasa agak kesal dan sedih. Ia lihat Ci-ih-hou berdiri tegak di haluan kapal, mukanya yang pucat tidak kelihatan semangat orang yang baru mendapat kemenangan, air mukanya yang kelam tampaknya terlebih kesal daripada Oh Put-jiu, hanya di tengah sorak gembira orang banyak, siapa pun tidak memerhatikan sikapnya yang luar biasa itu.

Entah siapa mendadak berteriak, “Mohon Houya memberi petuah sekata dua patah ….”

Serentak orang bersorak menyambutnya, “Benar, mohon Houya memberi beberapa patah kata sambutan.”

Perlahan Ci-ih-hou berpaling dan mengangkat kedua tangannya.

“Harap semua orang diam, supaya Houya dapat bicara dengan jelas,” teriak Ling-ji.

Setelah berulang ia berseru lagi barulah semua orang mulai diam.

Setelah memandang sekelilingnya, akhirnya Ci-ih-hou bersuara, “Maksud baik hadirin sungguh kuterima dengan bangga, cuma ….”

Siapa tahu, baru bicara sampai di sini, mendadak darah segar tersembur dari mulutnya, perawakannya yang tegap itu pun tidak tegak lagi berdirinya dan agak sempoyongan.

Ling-ji dan Cu-ji sama menjerit kaget, beramai mereka memburu maju untuk memegangi sang majikan. Semua orang juga terkejut.

“Ada apa, Houya?” tanya kawanan gadis jelita itu setelah berkerumun.

Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Ci-ih-hou, ucapnya sekata demi sekata, “Berulang kuganti berpuluh jurus serangan, akhirnya kugunakan satu jurus Hok-mo-kiam-hoat (ilmu pedang penakluk iblis) yang sudah lama lenyap dari dunia persilatan, dan beruntung dapatlah kuatasi dia, walaupun begitu tetap tidak dapat kulukai dia, namun ….”

Sampai di sini suaranya sudah sangat lemah, napas pun terengah dan tidak sanggup meneruskan lagi.

Ling-ji dan Cu-ji merasa cemas dan khawatir, perlahan mereka memijat dan mengurut dada dan punggung sang majikan.

Semua orang pun saling pandang dengan khawatir, angin mendesir, suasana berubah sunyi pula.

Setelah berhenti sejenak, sekuatnya Ci-ih-hou bertutur lagi, “Tapi setelah kuserang berpuluh jurus, tenagaku sudah terkuras terlampau banyak, meski beruntung dapat mengatasi dia, akan tetapi urat nadi jantungku pun tergetar luka …. Dia memang lelaki sejati, meski ia tahu keadaanku sangat payah, dia tetap mengaku aku menang setengah jurus, kalau tidak … ai, asalkan dia tidak kenal malu dia melancarkan serangan lagi, mungkin saat ini aku sudah … sudah terkubur di dasar laut.”

Mendadak Thi Kim-to berteriak, “Orang baik tentu mendapatkan ganjaran baik. Dengan kemenangan Houya ini, selanjutnya pasti bertambah jaya dan panjang umur!”

“Betul, hidup Houya kita!” teriak orang banyak.

Kembali Ci-ih-hou menampilkan senyuman pedih, ucapnya dengan sedih, “Terima kasih atas doa hadirin cuma kutahu keadaanku yang tak dapat bertahan lagi sampai besok pagi. Maka … ai, biarlah di sini juga kita berpisah!”

Ia berputar dan masuk kembali ke anjungan diikuti Ling-ji dan lain-lain. Mereka sudah sekian tahun meladeni sang majikan, baru sekarang untuk pertama kalinya terdengar orang tua itu menghela napas. Mau tak mau mereka sama terharu.

Semua orang ikut sedih memandangi bayangan Ci-ih-hou yang menghilang ke dalam anjungan, siapa pun tidak menyangka kemenangan ini ternyata membawa pengorbanan sebesar ini. Setelah sorak gembira, kini harus menahan sedih.

Tidak ada lagi yang bersuara, semuanya lesu dan kembali ke tepi pantai. Tapi semuanya tetap merasa berat meninggalkan pantai yang mendatangkan rangsangan gembira dan juga kesedihan ini.

Entah siapa yang mulai duduk dulu di tepi pantai dan yang lain pun ikut duduk di situ. Seketika pesisir penuh berjubel orang duduk, sebagian masih basah kuyup tanpa menghiraukan angin laut yang menggigilkan, semuanya duduk termenung memandang kapal layar pancawarna itu.

Cahaya mulai lenyap, ombak laut berubah menjadi kelam, kapal pancawarna pun kehilangan cahayanya yang gemilang.

Kapal layar yang ditumpangi jago pedang baju putih itu sejak tadi sudah menghilang entah ke mana, tapi tiada seorang pun sangsi apakah tujuh tahun kemudian dia akan datang atau tidak?

Dalam hati setiap orang sama berpikir, “Ci-ih-hou sudah meninggal, tujuh tahun kemudian bilamana benar si jago pedang baju putih datang lagi, lalu siapakah yang mampu menandingi dia?!”

*****

Anjungan kapal yang dulu semarak dengan segala kemewahan, sekarang diliputi awan mendung kesedihan.

Kawanan gadis jelita mengerumuni Ci-ih-hou, Siaukongcu berlutut di bawah kaki sang ayah. Pui Po-ji, Cui Thian-ki, Oh Put-jiu dan lain-lain berdiri agak jauh di samping. Siu Thian-ce berdiri di luar anjungan, tidak berani masuk tanpa disuruh.

Suasana sunyi senyap, hanya terdengar suara isak tangis perlahan.

Kedua mata Ci-ih-hou terpejam, wajah pucat dan sedih, berulang ia bergumam, “Tujuh tahun kemudian … tujuh tahun kemudian, bilamana dia datang lagi … ai ….”

Dengan air mata berlinang Ling-ji berkata, “Harap Houya istirahat dengan tenang, bisa jadi kesehatan Houya akan sembuh, kenapa mesti sedih mengenai urusan tujuh tahun lagi?”

Mendadak Ci-ih-hou membuka matanya, katanya dengan bengis, “Mengenai mati-hidupku kenapa mesti disayangkan? Tapi mana boleh kutinggalkan kawan dunia persilatan ini tanpa peduli?”

Po-ji terharu melihat kesatria yang menghadapi ajal ini tetap tidak melupakan bencana yang bakal menimpa orang persilatan pada tujuh tahun kemudian tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, jiwa luhur ini sungguh harus dipuji.

Seketika darah panas bergolak dalam dada Po-ji, pikirnya, “Inilah kesatria sejati, seorang pahlawan besar. Kelak kalau aku sudah dewasa, harus kutiru dia, supaya hidupku ini tidak sia-sia!”

Ling-ji menunduk, ucapnya dengan menangis perlahan, “Mungkin sekarang jarang ada yang sanggup melawannya, tapi tujuh tahun kemudian, bukan mustahil sudah banyak orang kosen yang dapat mengungguli dia, janganlah Houya ….”

“Ai, menurut penilaianku, biarpun tokoh Bu-lim terkemuka saat ini berlatih lagi tujuh tahun juga tiada seorang pun mampu mengalahkan dia, apalagi, dia keranjingan ilmu silat, jika ia pun berlatih tujuh tahun pula, jelas kemajuannya sukar dibayangkan. Sungguh sayang Toako, dia ….”

Sampai di sini Ci-ih-hou menghela napas panjang dan tidak meneruskan lagi, kening tampak bekernyit seperti sedang merenungkan sesuatu yang sukar dipecahkan.

Semua orang tidak berani mengganggunya, hanya Pui Po-ji saja yang bersemangat seperti terangsang oleh ucapan orang gagah itu.

“Ah, betul!” seru Ci-ih-hou mendadak.

Tergetar perasaan semua orang, disangkanya Ci-ih-hou berhasil memikirkan sesuatu cara untuk mengalahkan tokoh si baju putih.

Tak terduga Ci-ih-hou lantas memandang sekejap dan berucap pula, “Siapa mahir main catur?”

Ling-ji dan lain-lain sama melengak, akhirnya ia menjawab, “Hamba sama bisa ….”

Ci-ih-hou tersenyum, katanya, “Cara bermain catur kalian sudah kukenal seluruhnya, tanpa melihat papan catur pun dapat kulayani permainan kalian. Kalian tidak dapat kuterima.”

“Cayhe juga dapat main,” sela Oh Put-jiu.

“Baik, boleh coba kau main satu babak denganku,” kata Ci-ih-hou.

Semua orang tidak mengerti dalam keadaan demikian Ci-ih-hou berhasrat main catur segala. Tapi karena dia kelihatan sangat bergairah, semua orang tidak berani bertanya.

Ci-ih-hou duduk miring di atas pembaringan, kelihatan sangat bergairah, biji caturnya ditaruh dengan cepat.

Dengan sikap hormat Oh Put-jiu berdiri di depan ranjang, ia pun menaruh biji catur dengan sama cepatnya. Agaknya ia dapat menduga sebabnya Ci-ih-hou mengajaknya main catur pasti mempunyai maksud tertentu, padahal mengenai seni main catur dia memang cukup mahir, maka hanya dalam waktu singkat biji catur kedua pihak hampir memenuhi papan catur.

Wajah Ci-ih-hou kelihatan berubah-ubah, sebentar tersenyum, lain saat kening bekernyit, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tak terpecahkan, seperti juga sudah memahaminya, air mukanya sekarang persis seperti waktu dia melihat ranting kayu yang tertebas pedang tempo hari.

Namun air mukanya sekarang tambah pucat, sorot matanya juga semakin buram, ketika biji catur ke-49 ditaruh, ia seperti menghadapi jalan buntu dan terpaksa berpikir agak lama, napas pun semakin memburu, mendadak tubuh tersuruk ke depan sehingga papan catur tertumbuk dan biji catur berjatuhan ke lantai.

“Wah, sayang, sayang, bagaimana baiknya sekarang?!” ucap Ci-ih-hou dengan agak gugup.

“Tidak menjadi soal,” ucap Oh Put-jiu, segera ia memunguti semua biji catur yang jatuh, satu per satu dikembalikan kepada posisi semula, dan setiap biji catur itu ternyata dapat menempati posisi semula dengan tepat.

Heran juga kawanan gadis, sukar dimengerti pemuda yang tidak menarik ini ternyata memiliki daya ingat sekuat ini.

Meski tertampil juga sorot mata Ci-ih-hou yang heran dan memuji, tapi ia cuma memandangnya sekejap, lalu mencurahkan perhatian pula terhadap papan catur, biji catur yang dipegangnya sampai sekian lama sukar ditaruh lagi di tempat yang tepat.

Diam-diam Oh Put-jiu merasa heran, ia merasakan langkah catur orang ini sebenarnya sangat sederhana, sukar dimengerti mengapa jago catur serupa Ci-ih-hou bisa ragu menaruh biji caturnya.

Tiba-tiba Ci-ih-hou menghela napas panjang, seluruh biji catur diubrak-abriknya, katanya, “Setelah kuperas otak, kurasakan ilmu pedang si baju putih memang ada bagian yang selaras dengan seni main catur, maka maksudku ingin memecahkan rahasia ilmu pedangnya melalui permainan catur ini. Ai, bilamana aku dapat tahan hidup sebulan-dua bulan lagi sangat mungkin dapat kupecahkan rahasia ilmu pedangnya, tapi sekarang hanya dalam waktu beberapa jam saja ingin kupecahkan rahasianya, rasanya pasti tidak mungkin tercapai.”

Diam-diam Po-ji membatin, “Thian sungguh tidak adil, kenapa membuat orang jahat hidup di dunia dan orang baik harus mati. Ai, jika aku dapat menggantikan dia mati tentu segalanya akan menjadi baik.”

Selang sejenak, Ci-ih-hou berkata pula perlahan sambil memandang Oh Put-jiu, “Tapi permainan catur barusan bukannya sama sekali tidak berguna, paling tidak aku menjadi tahu kau ternyata mempunyai daya ingatan yang luar biasa. Bakatmu ini mana boleh terbenam begini saja.”

Segera ia mengeluarkan sebuah anak kunci yang berbentuk aneh, ucapnya pula, “Di kamar tulisku tersimpan kitab yang berisi rahasia intisari 193 aliran persilatan, hanya dengan anak kunci ini saja kamar tulisku itu dapat dibuka. Nah, boleh kau ambil.”

“Wah mana … mana hamba berani?” ucap Oh Put-jiu ragu.

“Kunci ini adalah benda yang diimpi-impikan setiap orang persilatan, sekarang kuberikannya kepadamu, hanya kau saja mungkin dapat mengingat seluruh catatan dalam kitab pusaka itu,” kata Ci-ih-hou.

Kejut dan girang Oh Put-jiu, ia tidak tahu apa yang harus diucapkan, ia hanya berlutut dan menyembah, diterimanya anak kunci yang kecil itu, akan tetapi dirasakan berbobot sebesar gunung.

Ci-ih-hou menengadah dan berucap pula dengan sedih, “Tapi, biarpun segenap ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu dapat kau pelajari, kau tetap bukan tandingan si baju putih.”

Mendadak Pui Po-ji menimbrung, “Jika orang lain sama bukan tandingannya, biarlah aku saja yang melawan dia. Tujuh tahun kemudian bila dia datang lagi, akan kuhantam lari dia!”

Ci-ih-hou tercengang dan rada geli juga, katanya, “Memangnya kau mahir ilmu silat?”

“Tidak,” jawab Po-ji.

“Lantas cara bagaimana akan kau tandingi dia?” tanya Ci-ih-hou dengan sinar mata berkelip.

Po-ji membusungkan dadanya yang kecil dan berseru, “Meski aku tidak paham ilmu silat dan juga tidak ingin belajar, tapi karena urusan ini tidak dapat dilaksanakan orang lain, dengan sendirinya hanya aku saja yang dapat melakukannya.”

Ia bicara dengan lantang tanpa ragu, meski wajahnya kelihatan kekanak-kanakan, namun sikapnya gagah perkasa dan berjiwa kesatria.

Sejenak Ci-ih-hou memandangnya, katanya kemudian, “Beribu kesatria di dunia ini tidak sanggup melaksanakan tugas ini, berdasarkan apa kau mampu mengerjakannya?”

“Asalkan ada kemauan, segala apa pun pasti akan tercapai,” jawab Po-ji tegas. “Kan si baju putih juga manusia, aku pun manusia, kenapa aku pasti tidak dapat menandingi dia?”

“Hm, anak ingusan semacam dirimu sudah berani membual,” ucap Ci-ih-hou dengan bengis, mendadak sebelah tangannya menampar.

Meski ia kurang sehat, namun tamparannya mana dapat dihindarkan Po-ji, kontan anak itu terpukul jatuh.

Semua orang memandangnya dengan rasa kasihan dan juga terkejut. Betapa pun mereka suka kepada anak kecil yang menyenangkan seperti Po-ji ini, terutama Oh Put-jiu yang ada hubungan erat dengan dia, namun sekarang ia justru tidak memperlihatkan rasa kaget atau khawatir, sebaliknya malah timbul rasa girang.

Semula Cui Thian-ki juga khawatir, setelah memandang Oh Put-jiu sekejap, akhirnya air mukanya berubah girang.

Dilihatnya Pui Po-ji melompat bangun tanpa memperlihatkan rasa takut.

“Sengaja kupukulmu, apakah kau penasaran?” tanya Ci-ih-hou.

“Tentu saja penasaran,” jawab Po-ji tegas.

“Lantas apa yang akan kau lakukan? Ingin balas memukulku, tapi tidak berani, begitu bukan?” tanya Ci-ih-hou.

“Bukan tidak berani balas memukulmu, melainkan tidak tega memukulmu,” jawab Pui Po-ji. “Soalnya usiamu sudah lanjut, pula seorang kesatria pujaan orang banyak, adalah layak aku pun menghormati dirimu, ditambah lagi saat ini engkau sedang sakit dan aku harus mengalah. Maka pukulanmu ini meski membuatku penasaran, terpaksa kuterima saja.”

Ia bicara tanpa gentar, sikapnya yang berani itu membuat Cu-ji dan gadis lain sama terkesima, sebab sudah sekian lama mereka ikut Ci-ih-hou dan belum pernah melihat siapa pun berani bicara sekasar ini terhadap sang majikan.

Dengan muka kelam Ci-ih-hou berkata, “Semua itu cuma alasanmu saja, yang benar kau selain tidak sanggup, juga bukannya tidak tega, lebih tepat kau tidak berani.”

Mendadak Po-ji tertawa, katanya, “Hihi, ucapanmu juga ada yang tidak betul. Selain aku memang tidak sanggup, juga bukan karena tidak tega, soalnya aku memang tidak mau.”

“Huh, kata macam apa?” jengek Ci-ih-hou.

“Sebab kutahu, walaupun wajahmu bengis, namun sorot matamu tidak kejam, caramu memukulku tadi pasti tidak sungguh hati bermaksud memukulku melainkan cuma ingin menguji diriku saja,” ujar Po-ji dengan tertawa.

Kembali Ci-ih-hou memandangnya sejenak, mendadak ia bergelak tertawa keras dan berseru, “Haha, anak baik … anak ….”

Karena lukanya memang cukup parah, maka belum lanjut ucapannya ia lantas terbatuk-batuk, setelah batuk berhenti barulah ia menyambung, “Kau pandai membedakan antara yang benar dan salah dan tidak mau sembarang bertindak, kau terhitung cerdik. Kau bisa bersabar dan mengalah, hormat kepada yang tua dan kasihan kepada yang lemah, kau terhitung bijaksana. Menghadapi bahaya kau tidak gentar dan siap menghadapi segala kesukaran, kau terhitung berani. Anak yang cerdik, bijaksana dan juga berani serupa dirimu, selama hidupku baru kulihat seorang dirimu saja.”

Diam-diam Po-ji membatin, “Engkau sepanjang tahun hidup di lautan, dengan sendirinya tidak pernah melihat.”

Waktu orang memaki dia, dengan membusung dada ia hadapi tanpa gentar, sekarang orang memujinya, ia berbalik kikuk sehingga muka merah dan tidak dapat bicara.

Oh Put-jiu dan Cui Thian-ki saling pandang sekejap, diam-diam kedua orang sama merasa senang karena Po-ji dipuji Ci-ih-hou.

Selang sejenak, perlahan Ci-ih-hou berkata pula, “Karena sepanjang tahun hidupku berlayar di lautan lepas, orang lain sama menyangka aku sudah bosan kehidupan di dunia ramai. Padahal dunia ramai banyak hal-hal yang mengesankan, sebabnya aku berlayar adalah karena dahulu aku pernah dikalahkan oleh pedang seorang, maka selama hidup aku tidak mau menginjak daratan lagi.”

Ada sementara orang sudah pernah mendengar ceritanya tentang kekalahannya atas seorang jago pedang, tapi waktu itu orang tidak menaruh perhatian, sekarang keterangan ini membuat mereka bergirang. Sebab kalau orang itu sanggup mengalahkan Ci-ih-hou, dengan sendirinya juga pasti dapat mengalahkan tokoh si baju putih.

Terdengar Ci-ih-hou menyambung, “Orang itu tak-lain-tak-bukan adalah Suhengku sendiri. Waktu kecilnya kami belajar bersama satu perguruan, orang lain sama menyangka ilmu pedangku tidak ada bandingan, padahal ilmu pedang Suhengku yang benar nomor satu di dunia.”

Meski pada dasarnya pendiam, tidak urung sekarang Oh Put-jiu ikut menimbrung, “Meski hamba tidak tahu apa-apa, tapi mengingat ilmu pedang Houya sudah mencakup intisari segenap ilmu pedang aliran mana pun dan sudah mencapai tingkatan paling sempurna, sampai jago pedang baju putih yang sudah tergembleng sehebat itu paling-paling juga Lwekangnya saja mampu melawan Houya, tapi kalau bicara tentang ilmu pedang jelas dia ketinggalan.”

“Betul,” kata Ci-ih-hou gegetun, “kalau bicara tentang intisari segala macam ilmu pedang di dunia ini, memang seluruhnya sudah kupelajari dan kupahami dengan baik. Tapi kemampuan Suhengku itu justru setingkat lagi di atasku.”

“Maaf, hamba ingin tanya, entah cara bagaimana dia bisa melebihi Houya?” tanya Oh Put-jiu heran.

“Soalnya meski aku dapat memahami segenap ilmu pedang di dunia ini, tapi Suhengku juga dapat mengingatnya tanpa kurang setitik pun, lalu melupakannya pula sama sekali, sebaliknya aku tidak dapat. Biar pun aku sudah berdaya sebisanya tetap sukar melupakan sebagian saja di antaranya.”

Semua orang saling pandang dengan bingung, sampai Oh Put-jiu juga melenggong, tapi segera ia tersenyum seperti memahaminya.

Rupanya ia tahu bilamana orang hendak mengingat sesuatu hal bukanlah pekerjaan sulit, tapi jika ingin melupakan segala sesuatu yang pernah diingatnya, inilah yang mahasulit.

Misalnya ada sementara urusan mestinya tidak suka kau ingat-ingat dan juga tidak perlu diingat, tapi urusan-urusan itu justru menggoda pikiranmu. Ada sementara urusan yang mestinya sudah lama dapat kau lupakan, tapi justru sukar untuk dikesampingkan, bahkan dalam mimpi pun selalu teringat.

Falsafah kehidupan yang sukar dipahami itu tentu saja belum dapat diselami oleh kaum gadis, mereka cuma merasa heran, “Jika dia sudah melupakan seluruh ilmu pedang yang dipelajarinya, cara bagaimana pula dia dapat menang dengan ilmu pedang?”

Terdengar Ci-ih-hou bertutur lagi, “Setelah Suhengku melupakan segenap ilmu pedangnya barulah beliau menyadari arti ilmu pedang itu sendiri, ia berhasil melebur segenap jiwa raganya ke dalam pedang sehingga dapatlah ia menguasai pedangnya sesuka hati tanpa sesuatu jurus tertentu, tapi setiap gerakan yang dikehendakinya selalu merupakan jurus yang ampuh dan sukar ditahan. Meski aku mahir memainkan segala macam ilmu pedang di dunia ini, tapi yang kukuasai tidak lebih hanya bentuknya saja, sebaliknya yang dikuasai Suheng adalah jiwa ilmu pedangnya. Biarpun ilmu pedangku terkenal tidak ada tandingannya, kalau dibandingkan Suheng sungguh sama sekali tidak ada artinya.”

Uraian ini membuat semua orang sama melongo dan tidak dapat bicara.

Selang agak lama barulah Oh Put-jiu menghela napas panjang, pikirannya berkecamuk tak keruan demi mendengar ceramah ilmu pedang yang sukar dipahami ini, seperti banyak yang ingin ditanyakan, tapi sukar berucap.

“Jika begitu sakti kepandaian Suhengmu, kenapa tidak mohon beliau menempur si baju putih saja?” kata Po-ji tiba-tiba.

“Hidup Suhengku itu suka aman tenteram, selamanya tidak mau berurusan dengan orang, belasan tahun yang lalu dengan segala daya upaya kupaksa dia coba menempurku, karena tiada jalan lain barulah dia bertanding dan aku telah dikalahkan sehingga aku tidak dapat menggodanya lagi. Tapi dia tetap khawatir aku akan terluka, maka dia tidak mengerahkan segenap tenaganya. Tapi, ai … dasar watakku memang suka menang, meski sudah kalah satu jurus aku masih coba menjaga pamor, pada saat lengah, dapatlah Suheng kulukai. Tapi beliau memang berjiwa besar, ia khawatir aku berduka dan sengaja bertahan sekuatnya serta tinggal pergi dengan tersenyum ….”

Agaknya kisah ini pernah menyakitkan hatinya, maka bertutur sampai di sini, wajah kelihatan pucat dan air mata berlinang, bicaranya pun tersendat.

Oh Put-jiu tahu bilamana sebelum mangkat orang dapat membeberkan segala persoalan yang pernah membuatnya malu, tentu kepergiannya akan merasa tenteram. Maka dengan hormat ia tanya. “Kemudian bagaimana?”

“Kemudian … dalam perjalanan pulang, di luar dugaan Suhengku kepergok musuh bebuyutan, dalam keadaan terluka, dengan sendirinya beliau bukan tandingan musuh, sekuatnya dia bertahan dan berhasil menggertak mundur musuh dengan ilmu pedangnya yang tiada taranya, tapi ia sendiri juga terserang oleh senjata rahasia musuh, Suheng sempat berlari beberapa li jauhnya, sekuatnya beliau berusaha menawarkan racun senjata rahasia musuh sehingga dapatlah jiwa dipertahankan, namun sejak itu ilmu silatnya pun punah, ilmu pedangnya yang tidak ada bandingannya seterusnya sukar dimainkan lagi.”

Kisah ini boleh dikatakan sangat umum, mungkin sering terjadi peristiwa serupa di dunia Kangouw, tapi sekarang cerita ini terurai dari mulut tokoh misterius serupa Ci-ih-hou, dengan sendirinya penuh daya tarik dan terlebih misterius.

Perasaan semua orang sama tertekan, semuanya ingin menangis rasanya, mendadak Siaukongcu berkata, “Eh, orang yang diceritakan ayah itu adalah paman yang mengajar seni merangkai bunga kepadaku itu?”

Ci-ih-hou mengangguk, katanya, “Betul, meski dia cedera akibat perbuatanku, namun dia tidak pernah benci dan dendam padaku. Ketika melihat kepintaranmu, ia justru bermaksud mengajarkan ilmu pedangnya padamu, praktiknya dia mengajar seni merangkai bunga padamu, sesungguhnya dia membaurkan ilmu pedangnya ke dalam seni merangkai bunga. Ketahuilah, baik seni sastra, seni bunga, seni catur dan sebagainya, semua itu adalah saripati kecerdasan leluhur kita. Akhir-akhir ini terbetik kabar di kepulauan timur sana juga ada orang mempelajari seni pedang ini, tapi kuyakin sukar membandingi bangsa kita.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung, “Setelah Kungfu Suheng punah, terpaksa beliau hidup mengasingkan diri untuk mencari ketenangan, di situlah dia menemukan ilmu sejati daripada seni bunga dan catur yang tidak banyak berbeda daripada seni pedang, sebab itulah dia berharap kau juga dapat memahami ilmu pedangnya. Ai, ternyata kau memang pintar, namun terlampau suka menang, betapa pun kau bukan orangnya untuk mempelajari seni pedangnya, karena itulah paman tinggal pergi dengan kecewa.”

Siaukongcu diam saja dengan mendongkol, akhirnya ia berkata juga, “Sesuatu yang tidak dapat kupelajari, kukira tiada orang lain lagi di dunia ini yang mampu menguasainya.”

Ci-ih-hou hanya tersenyum saja tanpa bersuara, sorot matanya beralih ke arah Pui Po-ji.

Siaukongcu terbelalak, katanya, “Ayah, apakah engkau maksudkan dia?”

“Ehm,” Ci-ih-hou mengangguk.

“Apa yang tidak dapat kupelajari masakah dia sanggup?” tanya Siaukongcu.

“Memangnya kau sangka dirimu lebih pintar daripada orang lain?” kata Ci-ih-hou.

“Tentu saja,” kata Siaukongcu. “Dengan sendirinya aku lebih pintar daripada dia.”

“Kau tahu apa bedanya pintar dan cerdik?” tanya Ci-ih-hou dengan tersenyum. “Kau memang pintar, tapi Po-ji terlebih cerdik, apa yang dia dapat belajar tidak dapat kau lakukan. Nah, paham sekarang?”

Siaukongcu melengak dan melototi Po-ji sekian lama, mendadak ia berteriak, “Huh, tidak perlu kau sok gagah, pada suatu hari kelak tentu aku lebih hebat daripadamu, ingat saja!”

Ia mengentak kaki dan berlari ke pojok sana, bahu tampak bergerak-gerak, tapi tidak ada suara tangis.

Po-ji juga melenggong, ucapnya tergegap, “Buat … buat apa menangis? Engkau memang, memang lebih hebat daripadaku.”

Ia hendak mendekati anak dara itu, tapi urung.

“Jangan urus dia,” kata Ci-ih-hou. “Coba kemari.”

Dengan kepala tertunduk Po-ji mendekati Ci-ih-hou.

Sambil membelai rambut Po-ji, dengan suara lembut Ci-ih-hou berkata, “Bila urusan di sini selesai, harus secepatnya kau pergi mencari Suhengku, tahu?”

Po-ji mengiakan.

Lalu Ci-ih-hou mengeluarkan sebuah kantong sulam kecil, katanya pula, “Inilah barang tinggalan Suhengku, di dalam kantong ini tertulis tempat tirakatnya. Selama sekian tahun ini dia menghindari musuh sehingga tempat pengasingannya sama sekali tidak diberitahukan kepada siapa pun. Meski dia meninggalkan kantong ini, tapi aku dipesan hanya pada saat paling genting baru boleh mengirim seorang untuk mencarinya. Berulang ia menegaskan hanya boleh menyuruh seorang, sebab itulah aku sendiri pun tidak pernah membaca apa yang tertulis dalam pesannya ini.”

Po-ji menerima kantong kecil itu tanpa bicara.

“Sifat Suhengku sangat aneh,” tutur Ci-ih-hou. “Maka kantong sulam ini tentu juga ada sesuatu yang aneh. Ai … apakah dapat kau temukan dia juga belum kuketahui.”

Mendadak Po-ji menengadah dan berseru, “Sekali sudah kukatakan akan kulakukan tentu akan kulaksanakan, di mana pun dia berada pasti juga akan kutemukan dia.”

“Tempat kediamannya itu bisa jadi jauh di ujung langit sana, tapi kau harus pergi ke sana sendirian, padahal usiamu sekecil ini, juga tidak mahir ilmu silat, perjalanan sejauh ini, apakah kau tidak takut?” tanya Ci-ih-hou.

Dengan tegas Po-ji menjawab, “Biarpun takut juga tetap kupergi ke sana. Selama hidupku ini entah berapa kali menghadapi urusan yang menakutkan, namun aku tidak pernah gentar.”

Ci-ih-hou tersenyum, “Bagus, anak bagus, ini namanya kesatria sejati. Hanya orang dungu, orang dogol saja yang tidak kenal apa artinya takut dan tidak dapat terhitung kesatria sejati.”

Ucapan ini kedengaran sukar dipahami, padahal mengandung dalil yang luas, Oh Put-jiu coba menyelami maknanya berulang sehingga serupa orang linglung.

Tiba-tiba Ci-ih-hou menghela napas, katanya, “Segala urusan sudah ada penyelesaiannya, biarpun mati juga dapatlah kupergi dengan lega ….”

Mendadak ia membentak, “Ambilkan arak, biar kuberangkat ke neraka dengan mabuk, ingin kukatakan kepada kawanan setan di sana bahwa di dunia ini penuh lelaki yang tidak gentar mati, setan pun harus tunduk bila berhadapan dengan mereka.”

Terpaksa kawanan gadis mengambilkan arak dan melayani dengan air mata berlinang.

Ci-ih-hou menuang arak dan minum sendiri, setelah menghabiskan beberapa cawan, mukanya yang pucat perlahan bersemu merah, mendadak ia terbahak dan bersenandung membawakan lagu mengharukan ….

Di tengah gelak tertawa keras ia meronta bangun dan berlari ke kamar rahasia sana dengan langkah sempoyongan. Ling-ji, Cu-ji dan lain-lain sama menyusul ke sana hendak memayangnya.

Namun Ci-ih-hou mengebaskan lengan baju sambil membentak, “Jangan mendekat, aku dapat datang dan pergi sendiri … hahahaha ….”

Segera ia berlari pula masuk ke dalam ruangan belakang, “blang”, pintu ditutup dan tidak terbuka lagi.

Terdengar suara gelak tertawa latah di dalam ruangan, semula sangat keras, lambat laun makin perlahan dan akhirnya tidak terdengar lagi. Pendekar zaman yang kosen ini telah pergi begitu saja ….

Sementara itu ufuk timur sudah mulai terang, lautan timbul lagi cahaya gemilang, namun di dalam anjungan kapal itu suasana diliputi kekelaman dan kepedihan.

Ketika angin meniup, keleningan pada anting-anting Ling-ji berbunyi mengejutkan orang banyak yang termenung. Entah berapa lama lagi, mendadak Ling-ji menuju ke haluan kapal dan memandang jauh ke pantai sana.

Para kesatria yang masih berkerumun di pantai itu juga ikut duka menyaksikan datangnya fajar, angin laut meniup dengan santernya membuat tubuh mereka sama menggigil.

Ketika mendadak terlihat Ling-ji muncul di haluan, para kesatria sama tidak berani memandangnya, mereka dapat merasakan firasat yang tidak enak.

Setelah memandang sekejap orang banyak yang berkerumun di pantai itu, dari jauh Ling-ji berseru sekata demi sekata, “Houya sudah mangkat!”

Habis berucap, baru saja tangan meraba rambutnya yang terurai, tahu-tahu ia roboh terkulai.

Semua orang tergetar kesima oleh ucapan Ling-ji itu sehingga robohnya nona itu tidak diperhatikan orang.

Entah siapa yang mulai lebih dulu berlutut, serentak orang banyak sama berlutut di tepi pantai. Terdengar seorang bersenandung, membawakan kidung yang mengharukan. Muncul seorang lelaki bertelanjang kaki dengan rambut semrawut dan menuju tepi laut. Dia ternyata Ong Poan-hiap adanya.

Ombak mendebur menimbulkan buih putih laksana bunga perak, sang surya yang baru terbit segera terbenam pula oleh awan mendung tebal, suasana terasa suram kelam.

Dengan terharu Ong Poan-hiap menengadah dan memanjatkan doa bagi kepergian Ci-ih-hou.

Mendadak seorang mendekat dan mencengkeram lengan Ong Poan-hiap dengan erat, begitu keras cengkeramannya sehingga tulang lengan Ong Poan-hiap seakan remuk.

Waktu Ong Poan-hiap melirik dengan kening bekernyit, dilihatnya seorang padri kelilingan bercaping lebar dan berkasa warna kelabu berdiri di sampingnya.

Karena caping sangat lebar dan ditarik turun ke depan sehingga hampir seluruh wajah si padri tertutup, namun dari warna muka orang yang kecokelatan dengan tulang pipi yang menonjol serta mulutnya yang terkancing rapat, tidak perlu diperiksa lagi segera ia tahu orang adalah Bok-long-kun.

Terdengar Bok-long-kun bertanya dengan suara tertahan, “Janji memintakan obat masa sudah kau lupakan?”

“Tidak,” jawab Ong Poan-hiap.

“Mana obatnya?” tanya Bok-long-kun pula.

“Tidak ada,” kata Ong Poan-hiap.

“Memangnya kau sengaja ingkar janji?”

“Ci-ih-hou sudah meninggal, kepada siapa dapat kuminta obatnya?”

“Sebelum mati Ci-ih-hou telah menyerahkan segalanya kepada Ling-ji dan Cu-ji, lekas kau tanya kedua genduk itu dan minta obat padanya, kalau tidak ….”

“Kalau tidak mau apa?” potong Ong Poan-hiap ketus. “Aku cuma berjanji padamu akan mintakan obat kepada Ci-ih-hou, memangnya pernah kujanjikan akan minta obat pada Ling-ji?”

“Tapi … tapi ….” Bok-long-kun melenggong dan tidak dapat bicara lagi.

“Jika Ci-ih-hou sudah mati, dengan sendirinya aku tidak dapat lagi minta obat padanya. Kalau aku tidak pernah berjanji akan minta obat kepada Ling-ji, dengan sendirinya pula aku tidak perlu minta obat padanya.”

Gelisah dan juga gusar Bok-long-kun, tapi toh tidak berdaya, seketika ia berdiri melongo seperti patung.

*****

Sudah sekian lamanya keadaan di atas kapal layar pancawarna itu masih sunyi. Hanya suara tangis orang terdengar di sana-sini.

Siaukongcu memburu ke sana dan mendekap pintu ruangan rahasia itu sambil meratap, “Oo ayah, betapa engkau tega men … meninggalkan anak ….”

Po-ji tidak berani memandang anak dara itu, Cui Thian-ki memegangi pundak anak itu dengan tangan agak gemetar dan mencucurkan air mata.

Sekonyong-konyong berkumandang suara orang yang seram dari pantai sana, “Oh Put-jiu … Oh Put-jiu ….” suaranya serupa setan merintih.

“Suara siapa itu?” tanya Cui Thian-ki.

“Untuk apa tanya lagi jika sudah kau kenali?” kata Oh Put-jiu.

“Ada urusan apa Bok-long-kun memanggilmu?”

“Dia ingin menagih janji padaku.”

“Kau berjanji apa padanya?”

“Aku berjanji padanya akan meracun mati dirimu,” tutur Oh Put-jiu.

Tergetar hati Cui Thian-ki, ia terbelalak dan tidak dapat bicara lagi.

Suara Bok-long-kun yang seram itu bergema pula, “Oh Put-jiu … malam nanti … tengah malam ….”

“Kau dengar,” Oh Put-jiu, “ia suruh kuracunimu tengah malam nanti.”

“Memangnya dapat kau laksanakan?” kata Cui Thian-ki dengan tertawa.

“Pada waktu kau lengah, apa susahnya jika hendak meracunimu?”

“Tapi sekarang kutahu kau akan meracuniku, masa aku tidak berjaga-jaga. Bukan mustahil aku akan mencari akal untuk membunuhmu dulu agar tidak mati diracun.”

“Betul, turun tangan dulu lebih menguntungkan, memang harus begitu,” kata Oh Put-jiu dengan tersenyum.

Kedua orang saling pandang, biji mata berputar dan entah apa yang sedang dirancang mereka.

Kedua orang ini sama cerdik dan licin, untuk menerka pikiran orang bukanlah pekerjaan sulit, sebaliknya apa yang mereka pikir sangat sulit diketahui orang lain.

Sementara itu awan mendung semakin tebal, akhirnya hujan pun turun.

Makin lebat hujan yang turun, para kesatria yang masih berjubel di tepi laut kembali basah kuyup, namun tetap tiada seorang pun yang menyingkir untuk mencari tempat berteduh, semuanya tetap memandangi kapal layar pancawarna dengan termenung.

Kapal layar pancawarna ini pernah mewakili semacam kekuasaan yang sukar dilawan, sumber kekuasaan itu, Ci-ih-hou, kini sudah meninggal, namun kedudukan kapal layar itu dalam pandangan semua orang justru semakin berjaya.

Melihat sikap Oh Put-jiu dan Cui Thian-ki itu, Po-ji merasa khawatir juga.

Perlahan Ling-ji tanya dia, “Apa yang kau khawatirkan?”

“Coba lihat mereka berdua, aku khawatir ….”

“Anak bodoh,” ujar Ling-ji. “Jika benar Oh Put-jiu hendak meracun mati dia, mana mungkin ia katakan terus terang padanya?”

“Meski sederhana dalil ini dan dapat diraba setiap orang, tapi untuk digunakan atas diri paman kepala besar dan dia, jelas tidak laku, mereka sama-sama orang aneh ….”

Pada saat itulah tiba-tiba seorang berseru di luar anjungan, “Lokyang Pang Jing ingin menyampaikan sesuatu.”

Cepat Ling-ji mengusap air mata dan memapak keluar, “Ada urusan apa?”

Di bawah hujan tampak sebuah sampan meluncur tiba, Pang Jing berdiri di haluan perahu dan berseru, “Atas wafatnya Ci-ih-hou, setiap kawan Kangouw sama menyatakan berdukacita dan sampai saat ini mereka masih berada di pantai untuk membuktikan kepedihan mereka. Jika mereka masih terus berada di situ, kukhawatir akan terjadi sesuatu. Kubicara terus terang tentang ini, harap nona jangan marah.”

“Bahkan maksudmu demi kebaikan orang banyak, mana kumarah padamu,” kata Ling-ji dengan menyesal. “Cuma beradanya kawan Kangouw di sana adalah kehendak mereka sendiri, cara bagaimana dapat kusuruh mereka pergi?”

“Jika kapal nona ini berlayar keluar teluk ini dan berlabuh lagi di tempat lain, kukira para tokoh Kangouw itu pasti akan bubar, usulku yang bodoh ini entah dapat diterima nona atau tidak?”

“Ehm, boleh juga cara ini ….” ucap Ling-ji setelah berpikir sejenak.

“Tidak jauh di sebelah utara sana ada sebuah muara kecil dan cukup baik untuk berlabuh,” tutur Pang Jing.

“Pang-tayhiap sungguh berbudi dan selalu memikirkan kepentingan orang banyak, sungguh hamba sangat berterima kasih,” kata Ling-ji sambil menghormat.

Pang Jing melambaikan tangan dan segera putar sampan ke arah pantai.

Meski berdiri di tepi pantai, tapi pergi datangnya sampan ini tidak diperhatikan oleh Ong Poan-hiap, ia menatap Bok-long-kun dan berkata, “Tidak lekas lepaskan tanganmu?”

Bok-long-kun mendelik dengan gemas, akhirnya ia lepaskan cengkeramannya atas lengan orang, katanya bengis, “Jangan kau kira kutakut padamu, hanya lantaran perkataan yang sudah telanjur terucap sehingga aku tidak berdaya padamu.”

“Hm, mendingan kau pun bisa pegang pada ucapanmu,” ujar Ong Poan-hiap. “Maka perlu kuberi nasihat sekalian, lebih baik janganlah banyak urusan, tengah malam nanti hendaknya jangan sembarangan bertindak. Kalau tidak, hanya beberapa nona di atas kapal itu sudah cukup untuk melemparkanmu ke laut.”

“Huh, kentut!” jengek Bok-long-kun sambil melangkah pergi.

Memandangi bayangan orang, Ong Poan-hiap hanya menggeleng kepala. Mendadak beberapa anggota Kay-pang yang menyandang beberapa buah karung muncul dari jubelan orang banyak dengan langkah tergesa-gesa dan kelihatan gugup.

Seorang di antaranya mendekati Ong Poan-hiap, memberi hormat dan berkata, “Pangcu mengalami musibah, semalam ….” ia bicara dengan suara lirih sehingga sukar terdengar apa yang dikatakan.

Terlihat air muka Ong Poan-hiap berubah hebat, ia pandang layar yang berwarna-warni itu, lalu menunduk dan termenung sejenak, akhirnya mengentak kaki dan ikut berlalu bersama anak murid Kay-pang.

Dalam pada itu badan kapal layar pancawarna yang besar itu mulai bergerak, meluncur ke arah utara.

Maka terjadi kegemparan di antara orang-orang yang berkerumun di pantai itu, ada yang mengomel, ada yang gegetun. Bok-long-kun berdiri jauh di bawah hujan sana sambil memandangi bayangan kapal layar ini, gumamnya gemas, “Hm, akan ke mana kau pergi ….”

*****

Ternyata cocok dengan perhitungan Pang Jing, begitu kapal layar pancawarna berlayar, segera kawanan orang Kangouw itu pun sama bubar. Menjelang malam suasana pantai sudah bersih dan sunyi, tersisa bekas kaki memenuhi pesisir, suatu tanda di sini belum lama berselang baru terjadi sesuatu yang luar biasa. Tapi bekas kaki itu akhirnya rata juga tersapu oleh air ombak.

Belasan li lebih ke utara memang benar ada sebuah muara kecil.

Ombak mendampar pantai, hujan belum berhenti, malam tambah kelam, kapal layar pancawarna yang besar itu hanya diterangi beberapa lampu yang tampak kelap-kelip dari kejauhan sehingga menambah seramnya kegelapan malam.

Ketika angin malam meniup lewat, mendadak sesosok bayangan muncul serupa hantu, terdengar suara gumamnya, “Kau takkan bisa lolos ….”

Suaranya kaku parau, siapa lagi kalau bukan Bok-long-kun.

Ia sudah berganti pakaian ringkas warna hitam mulus sehingga perawakannya tambah jangkung, ia terjun ke laut dan berenang ke arah kapal, sekali menyelam ia menghilang dalam kegelapan.

Keadaan di atas kapal layar pancawarna itu masih tetap tenang dan kelam.

Bok-long-kun muncul dari dalam laut dan merambat ke atas kapal dengan gesit tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Siapa tahu, baru saja ia berdiri tegak, tiba-tiba dari dalam anjungan suara seorang menegurnya, “Kau sudah datang?”

Meski lirih suaranya, tapi di tengah malam gelap dan hujan itu cukup membuatnya terperanjat. Serentak Bok-long-kun berpaling.

Terlihat sebuah kepala melongok keluar dari dalam anjungan, seorang lagi menggapai perlahan padanya.

Waktu Bok-long-kun memerhatikan, kiranya orang ini adalah Oh Put-jiu. Legalah hatinya dan cepat melompat ke sana, dengan suara tertahan ia tanya, “Bagaimana, sudah selesaikan tugasmu?”

“Ssst, ikut kemari,” desis Oh Put-jiu sembari menarik kepalanya ke dalam.

Bok-long-kun ragu sejenak, tapi segera ia menyelinap ke sana dengan siaga penuh. Dilihatnya ruang anjungan seluas itu sunyi senyap hanya diterangi sebuah lentera.

Angin laut meniup dari jendela sehingga cahaya lentera bergoyang-goyang. Di bawah cahaya lentera yang redup itu, di atas dipan terbujur sesosok tubuh dibalut kain kafan putih.

Terlihat rambut panjang orang ini terurai, tubuh kaku dan tiada tanda bernapas, jelas sudah mati cukup lama.

Biarpun tabah, tidak urung timbul juga rasa seram Bok-long-kun. Ia coba beranikan diri dan melangkah ke sana bersama Oh Put-jiu. Setelah melihat lebih jelas, ia merasa girang.

Kiranya yang terbujur di atas dipan itu tak-lain-tak-bukan ialah Cui Thian-ki, kedua mata terpejam, di bawah cahaya lentera yang guram wajahnya yang pucat kelihatan menakutkan.

Bok-long-kun menyeringai, jengeknya, “Hm, perempuan hina, mampus juga akhirnya kau ….”

Kedua tangannya yang kurus kering serupa kayu itu terjulur terus mencekik leher Cui Thian-ki. Nyata bencinya terhadap perempuan itu sudah merasuk tulang, meski orang kelihatan sudah menjadi mayat tetap tak diampuninya.

Mendadak Oh Put-jiu menarik tangannya dan mendesis, “Ssst, nanti dulu!”

“Ada apa?” tanya Bok-long-kun kurang senang.

“Obat yang kau serahkan padaku itu sudah kuberi minum seluruhnya kepadanya,” tutur Put-jiu.

“Kutahu ….”

“Jadi selanjutnya urusanmu dengan dia tiada sangkut paut lagi denganku.”

“Sangkut paut apa? Memangnya kau tiada sangkut paut apa pun.”

“Baik,” kata Put-jiu, segera ia berpaling dan melangkah pergi.

Memandangi bayangan punggung Oh Put-jiu, Bok-long-kun bergumam, “Gila, bocah ini memang orang gila.”

Sembari berteriak seram kedua tangannya lantas mencengkeram lagi ke leher Cui Thian-ki.

Tampaknya Cui Thian-ki sudah mati sehingga tidak bergerak lama sekali. Siapa tahu, mendadak perempuan yang kelihatan kaku itu menjulurkan tangan dan secepat kilat pergelangan tangan Bok-long-kun terpencet olehnya.

Keruan Bok-long-kun kaget setengah mati, ingin mengelak pun tidak keburu lagi, terdengar suara “krak-krek” dua kali, ruas tulang lengan dan bahu terpuntir patah.

“Hehe, hanya sedikit obat racunmu itu dapat membunuh diriku?” jengek Cui Thian-ki dengan terkekeh. “Nah, lekas pulang saja, supaya tidak membuatku marah.”

Kejut, gemas dan juga gusar Bok-long-kun, tapi ia pun tahu bukan tandingan Cui Thian-ki dengan sebelah tangan, sambil berteriak aneh cepat ia kabur.

Terdengar suara debur air di luar, agaknya ia terjun ke laut untuk menyelamatkan diri, lalu tidak terdengar apa-apa lagi selain desir angin laut.

Diam-diam Oh Put-jiu muncul dari tempat sembunyinya, katanya dengan tertawa, “Bagaimana?”

“Meski tidak parah, sedikitnya dapat membuat dia menderita beberapa bulan,” ujar Cui Thian-ki dengan tertawa. “Boleh juga akalmu ini, terima kasih.”

“Semua itu kan demi kebaikanmu,” kata Put-jiu.

“Jangan lupa, aku kan bini besar keponakanmu, jangan omong yang tidak-tidak,” kata Thian-ki.

Muka Put-jiu menjadi merah dan tidak bicara lagi.

“Haha, kiranya kau pun bisa malu, tadinya kusangka kulit mukamu setebal tembok,” ejek Cui Thian-ki.

Put-jiu berdehem kikuk dan mengeluyur pergi.

Pada saat itulah, dari permukaan laut yang kelam tanpa suara muncul 20-an sosok bayangan, semuanya memakai baju hitam ringkas. Agaknya likuran orang ini sangat mahir berenang sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara ketika bergerak di dalam air.

Semuanya memakai kain kedok hitam, hanya kelihatan sinar matanya yang gemerdep, ketika melihat suasana di atas kapal sunyi senyap, serentak mereka merunduk maju mendekati anjungan dengan gerakan enteng dan gesit.

Terdengar Cui Thian-ki lagi tertawa senang di dalam, Ling-ji, Cu-ji dan kawanan gadis muncul bersama Siaukongcu, Pui Po-ji dan Oh Put-jiu, semuanya sudah berganti baju.

“Bok-long-kun tadi ….” belum lanjut Po-ji bicara, mendadak Cui Thian-ki menjerit dan menubruk di atas tubuhnya, keduanya lantas jatuh tersungkur.

Pada saat yang sama terdengar suara mendesir, sebuah senjata rahasia menyambar masuk menyerempet lewat di atas kepala Cui Thian-ki dan menancap pada tiang, kiranya sebatang anak panah kecil.

“Siapa itu?” bentak Ling-ji.

“Di sini kawanan ke-24 siluman pemburu nyawa, jika kalian ingin nyawa hendaknya serahkan harta!” seru seorang di luar.

“Blang”, jendela dijebol sehingga kelihatan puluhan orang berseragam hitam ringkas dan berkedok.

Dengan bertolak pinggang dan mendelik Siaukongcu membentak, “Bandit keparat, kau tahu tempat apakah ini, berani main gila kemari!”

Si baju hitam yang menjadi kepala rombongan tertawa seram, jawabnya, “Tuan besar hanya tahu harta mestika, peduli tempat apakah ini. Kalau ingin selamat hendaknya berdiri tegak dan angkat tangan, kalau tidak ….”

“Kalau tidak mau apa?” bentak Ling-ji gusar.

Puluhan orang berseragam hitam sama terkekeh-kekeh, seorang mendadak menghantam ambang jendela sehingga bubuk kayu berhamburan.

Sama sekali Ling-ji tidak mengira kawanan bajak ini memiliki tenaga sehebat ini, nyata semuanya jago silat kelas tinggi. Ia coba menimbang kekuatan pihak sendiri. Bagi diri sendiri dan Cu-ji serta Cui Thian-ki mungkin tidak perlu gentar, tapi kepandaian yang lain jelas sukar melawan musuh sebanyak itu.

Diam-diam ia merasa khawatir, ia coba menggertak, “Kalian berani main gila di sini, apakah kalian ini anak buah si naga jenggot merah?”

“Si naga jenggot merah? Huh, kutu macam apa dia si naga jenggot merah?” jengek orang itu.

“Tidak peduli siapa kalian, yang jelas ayahku telah berkorban bagi dunia persilatan umumnya, beliau baru saja gugur dan segera kalian datang main gila, memangnya kalian tidak punya perasaan?” damprat Siaukongcu.

Orang berbaju hitam itu menengadah dan terbahak-bahak, “Haha, perasaan? Bilakah tuanmu pakai perasaan?”

Sekali ia memberi tanda, serentak likuran orang itu menerobos masuk.

Ling-ji dan Cu-ji terkejut, cepat mereka mengadang ke depan.

Tiba-tiba Cui Thian-ki berseru, “Haha, semula kuheran tokoh macam apakah ke 24 siluman penyambar nyawa itu, baru sekarang kutahu duduknya perkara.”

“Kau tahu perkara apa?” bentak orang tadi.

Cui Thian-ki tidak peduli padanya, ia pandang Oh Put-jiu dan menyambung, “Apakah kau paham maksudku?”

“Paham,” Put-jiu mengangguk perlahan.

“Sesungguhnya siapakah mereka?” tanya Ling-ji heran.

Dengan perlahan Oh Put-jiu berucap tegas, “Ti-sing-jiu Pang Jing!”

Semua orang terperanjat, orang berbaju hitam yang menjadi pemimpin rombongan itu pun menyurut mundur dua tindak.

“Bagus, kiranya kau,” seru Ling-ji. “Jadi sengaja kau minta kami menyingkir ke sini, rupanya sudah kalian rencanakan untuk berbuat cara pengecut agar tidak diketahui orang banyak. Huh, biasanya kau kelihatan seorang kesatria sejati, tak tahunya cuma manusia yang berhati binatang.”

“Binatang apa? Pada hakikatnya lebih rendah daripada binatang,” kata Siaukongcu.

Mendadak orang yang menjadi pemimpin itu menanggalkan kedoknya sehingga kelihatan wajah aslinya. Nyata dia memang betul Ti-sing-jiu Pang Jing adanya.

Dengan menyeringai Pang Jing berkata, “Tak tersangka kalian pun cerdik sehingga dapat menerka asal usul tuanmu. Sebenarnya mengingat Ci-ih-hou jiwa kalian hendak kuampuni, tapi sekarang, hm, terpaksa kalian harus kami sikat habis.”

Sembari menyeringai selangkah demi selangkah ia mendesak maju.

Meski kawanan bajak ini datang dengan siap siaga, tapi menghadapi kawanan dayang di atas kapal Ci-ih-hou, mau tak mau mereka harus berpikir dua kali sebelum bertindak, sebab itulah mereka mendesak maju dengan perlahan hati-hati.

Dari imbangan kekuatan kedua pihak Oh Put-jiu dapat menilai pihak sendiri pasti bukan tandingan kawanan bajak itu setelah berpikir lagi, diam-diam ia mengeluarkan anak kunci emas pemberian Ci-ih-hou dan disisipkan pada gelung rambutnya.

Tiba-tiba terdengar Pang Jing membentak perlahan, serentak likuran orang menerjang maju sekaligus.

“Jaga Siaukongcu, Cu-ji!” seru Ling-ji.

“Aku tidak perlu dijaga orang,” teriak Siaukongcu malah.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: