Kumpulan Cerita Silat

10/01/2008

Duke of Mount Deer (08)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:52 am

Duke of Mount Deer (08)
Oleh Jin Yong

Raja diam-diam memperhatikan gerak-gerik Go Pay. Dia mengangkat cawannya kemudian minum seteguk.

“Go siau-po, apakah kau menganggap kepandaian anak-anak ini biasa-biasa saja?”

“Mungkin lumayan juga,” sahut Go Pay tersenyum, agak sinis tampaknya.

Raja pun ikut tertawa.

“Jikalau dibandingkan dengan Go siau-po, mereka pasti tidak ada apa-apanya,” katanya sambil menggeser tubuhnya sedikit dan menjatuhkan cawannya sambil berseru. “Sekarang!”

“Sri Baginda?” seru Go Pay terkejut. Tapi hanya sepatah sempat dia bersuara, karena di lain waktu dia sudah diterjang oleh kedua belas thaykam cilik itu. Ada yang menyerempet bahunya, ada yang mencekal kaki dan tangannya malah ada pula yang menghajar dengan tinjunya.

Raja tertawa terbahak-bahak kemudian berkata dengan lantang.

“Go siau-po, awas!”

Go Pay terkejut, tapi dia masih belum sadar. Dia masih mengira Sri Baginda hanya menyuruh para thaykam itu mengujinya. Atau dia yang meng-uji para thaykam itu. Tenaganya kuat sekali, begitu dia mengerahkannya, empat orang thaykam langsung terpental mundur. Dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya karena khawatir ada yang terluka. Dia menendang dan kembali dua orang thaykam terpelanting jatuh.

Para thaykam terus mengingat ucapan Raja. Kalau mereka kalah, mereka akan dihukum penggal, tapi kalau menang akan mendapatkan hadiah besar. Karena itu mereka menjadi nekat. Yang jatuh segera merangkak bangun dan menerjang kembali. Apalagi yang memeluk pinggang serta mencekal betisnya, mereka benar-benar sudah nekat.

Siau Po tahu tugasnya, ketika orang-orang itu sedang bergumul, diam-diam dia menghampiri dari belakang. Tujuannya untuk menotok jalan darah I-Sia hiat. Kalau orang biasa yang terkena totokan di jalan darah itu, pasti akan roboh seketika atau setidaknya pingsan. Tetapi menteri yang satu ini memang luar biasa, dia hanya merasa tubuhnya kesemutan dan diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Siapa tokoh lihay yang paham ilmu menotok ini?”

Menteri itu langsung mengibaskan lengan kirinya sehingga tiga orang thaykam roboh terpelanting. Dia bermaksud membalikkan tubuh untuk melihat siapa orang yang menyerangnya. Tetapi tiba-tiba dia merasa dadanya nyeri karena Siau Po sudah menyerangnya kembali. Sekarang dia terkejut sekali begitu mengetahui bahwa yang menyerangnya bukan lain thaykam cilik yang selalu menyertai kaisar. Dia juga merasa heran dan aneh. Walaupun demikian, dia masih tidak dapat mempercayai bahwa raja memang sengaja menitahkan para thaykam itu untuk membekuknya.

Dengan satu luncuran tangan kiri, Go Pay menyerang Siau Po. Maksudnya ingin menekan bahu si bocah tetapi Siau Po berkelit ke kiri sembari membalas sebuah serangan.

Bahkan Siau Po menggunakan kedua tangannya, tangan kirinya meninju sedangkan tangan kanan mengirimkan totokan.

Siau Po menggunakan tipu jurus ‘Kiak Hou Kong Kong (Setelah sadar ternyata kosong) Tangan kirinya tidak menyerang terus, hanya gertakan belaka. Go Pay berkelit, tahu-tahu dia mendupak lawannya dengan mencelat ke atas.

Go Pay terkejut setengah mati. Namun tiba-tiba Siau Po menjerit keras-keras, karena kakinya seperti membentur dinding yang kokoh.

Sekarang Go Pay bukan hanya terkejut saja, dia juga gusar sekali. Sudah berkali-kali orang menyerangnya di bagian yang berbahaya. Sedangkan para thaykam mengerubutinya seperti semut merubung gula.

Dia juga tidak dapat menerka apa maksud Raja yang sebenarnya. Timbul niatnya untuk menghalau kawanan thaykam itu, tapi masih saja tangan dan kakinya dicekal. Dua terlepas yang lain segera menerjang lagi.

Raja menonton sambil bersorak-sorak dan menepuk tangan dengan keras.

“Go siau-po, aku khawatir kau akan kalah!” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Go Pay justru bermaksud menghajar kepala Siau Po ketika dia mendengar kata-kata raja. Hilanglah kecurigaannya.

“Ah, kiranya raja sedang bercanda denganku. Dasar adatnya masih kekanak-kanakan. Mana boleh aku mempunyai pikiran yang sama!” Maksudnya ia tidak boleh melayani anak-anak itu dengan sungguh-sungguh.

Kembali menteri itu meluncurkan tangan kirinya. Kali ini Siau Po terhajar bahu kanannya. Dia terhajar dengan tenaga sebanyak tiga bagian, tapi sudah terhitung hebat sebab tubuh orang itu besar sekali. Tubuhnya terhuyung-huyung seketika. Tapi dia memang lihay, karena terhuyung ke samping, maka dari tempat itu kembali dia melakukan penyerangan.

Bukan main kagetnya Go Pay, hatinya juga jadi mendongkol. Dia membentak keras kemudian meluncurkan kedua tangannya untuk mencekik batang leher Siau Po.

Dalam keadaan kritis, Kong Hi tidak dapat berdiam diri lagi. Kalau tidak usahanya pasti meng-alami kegagalan. Pisau belatinya sudah siap di tangan. Begitu terjun ke arena, dia langsung mengincar punggung lawannya.

Go Pay terkejut setengah mati melihat keadaan ini. Sekarang dia sadar bahwa raja memang menghendaki nyawanya. Ditinggalkannya Siau Po dan berbalik untuk menyerang kaisar Kong Hi.

Dengan gesit bocah yang menjadi raja itu dapat menghindarkan diri. Go Pay jadi gusar. Diangkatnya dua orang thaykam terdekat, kepala keduanya diadu dengan keras sehingga otaknya berceceran. Kemudian dia menghajar seorang thaykam lainnya dengan tangan kiri dan menendang empat orang thaykam lagi yang merangkul betisnya. Para thaykam itu terpental ke belakang sehingga membentur tembok. Tulang mereka berpatahan dan roboh di atas tanah tanpa berkutik lagi, mereka sudah mati karena hajaran yang keras itu.

Delapan thaykam dalam sekejap mata sudah dibuat tidak berdaya dan empat lainnya sampai termangu-mangu. Kong Hi dan Siau Po terus menyerang dengan belati di tangan masing-masing. Go Pay semakin gusar. Dia membentak keras, kemudian menghajar dengan kalap. Beberapa kali hampir saja serangannya mengenai tubuh kedua bocah yang mengeroyoknya. Semakin lama mereka semakin kewalahan.

Go Pay mendongkol sekali melihat serangannya gagal. Dengan tendangan berantai dia menyerang tubuh rajanya. Namun justru tepat pada saat itu, terlihat asap mengepul dan debu beterbangan. Percuma saja Go Pay bermaksud mengibas dengan kedua tangannya, sebab abu kayu cendana yang halus sudah masuk ke dalam matanya. Rupanya Siau Po kembali menggunakan cara yang licik itu untuk menghadapi lawannya.

Tanpa menunda waktu lagi, dia mengangkat hiolo tempat kayu cendana untuk mengharumkan ruangan. Diangkatnya hiolo itu ke atas kemudian dihajarnya ke kepala si menteri laknat.

Hiolo jatuh di atas tanah dan pecah berantakan, tetapi Go Pay tidak apa-apa. Sesaat kemudian tampak tubuhnya terhuyung-huyung kemudian jatuh terkulai di atas tanah. Rupanya kepalanya hanya pusing dihajar terlalu keras oleh Siau Po dan lantas jatuh semaput.

Cepat Siau Po dan kaisar Kong Hi mengambit tali untuk mengikat tubuh orang itu kuat-kuat.

“Siau Kui cu, kau hebat sekali!” puji kaisar.

Tidak lama kemudian Go Pay sudah sadar kembali. Dia terkejut menemukan dirinya telah terikat ketat.

“Aku adalah menteri setia! Aku tidak berdosa. Mengapa aku dicelakai sedemikian rupa? Aku tidak puas!”

“Jangan cerewet” bentak Siau Po. “Kau justru brengsek dan bermaksud berhianat. Rupanya sudah lama kau merencanakan maksud jahatmu ini. Hayo katakan, mengapa kau masuk ke dalam Gi Si Pong dengan membawa senjata tajam? Kau berdosa sekali sehingga patut mendapat hukuman mati selaksa kali!”

“Aku tidak merabawa golok ataupun senjata tajam apa-apa!” bantah Go Pay.

“Sudah terang kau membawa senjata tajam!” bentak Siau Po tidak kalah bengisnya. “Lihatlah, di punggungmu ada sebatang pisau belati. Demikian pula di tanganmu. Masih mau menyangkal?”

Padahal itulah pisau belati yang diserahkan Kong Hi kepadanya. Go Pay penasaran sekali. Dia berteriak-teriak menyangkalnya.

Raja mengawasi sisa thaykam yang masih hidup. Jumlahnya hanya tinggal empat orang.

“Kalian lihat sendiri, bukan? Go Pay sudah berani kurang ajar dan berniat jahat. Dia mau membunuh aku!”

Sisa para thaykam itu memang sedang kebingungan apa sebenarnya yang telah terjadi. Mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mendengar kata-kata raja, mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya berulang kali.

“Ya… ya….”

“Sekarang kalian keluar…” kata Raja kepada keempat thaykam itu. “Lekas kalian panggil orang Kong Cin-ong; Kiat Si dan Ngo Tu berdua datang kemari!” Raja mengawasi mereka dengan tajam. “Apa yang terjadi di sini, aku larang kau bicarakan dengan siapa pun juga. Kalau peristiwa ini sampai tersiar, hati-hati dengan batok kepala kalian!”

Keempat thaykam itu segera mengiakan. Setelah memberi hormat, bergegas mereka keluar dari kamar tulis raja.

“Penasaran! Penasaran!” teriak Go Pay seperti orang kalap. “Sri Baginda sendiri ingin membinasakan aku, padahal aku adalah menteri yang setia. Kalau mendiang Sri Baginda mengetahui hal ini, pasti arwahnya tidak akan tenang.”

Wajah Kong Hi menjadi merah padam. Dia memandang kepada Siau Po sambil berbisik.

“Kita harus mencari jalan agar dia tidak mengoceh terus.”

“Ya!” sahut Siu Kui cu palsu. Dia segera menghampiri Go Pay dan memencet hidungnya. Dengan demikian mulut menteri itu jadi terbuka. Kemudian dia memberi isyarat kepada Siau Hian cu. Tentu saja Raja yang cerdik itu mengerti. Dia segera mengambil pisau belati dari tangan Go Pay dan digunakan untuk memotong lidahnya. Go Pay meronta-ronta kemudian terdiam karena saking sakitnya, dia pun lantas semaput.

Siau Po menancapkan kedua bilah belati itu di atas meja. Kong Hi senang sekali melihat tindakan sahabatnya itu. Kalau tidak ada bantuan Siau Po yang cerdik, tentu tadi dia sudah mati di tangan Go Pay.

Tidak lama kemudian keempat thaykam tadi sudah balik lagi dengan Kong Cin-ong, Kiat Si dan So Ngo Tu. Mereka melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dan keadaan Go Pay yang mengenaskan. Keduanya sampai berdiri termangu-mangu beberapa saat.

Raja segera menjelaskan kepada mereka berdua.

“Go Pay mempunyai niat memberontak. Dia datang kemari dengan membawa senjata tajam, dengan berani dia mencoba menyerangku untuk membunuhku. Syukurlah roh para leluhurku masih melindungi aku sehingga niatnya itu tidak tercapai. Juga ada thaykai cilik dari Siang Sian Tong ini bersama para thaykam muda lainnya sehingga penjahat besar ini dapat dibekuk. Sekarang aku serahkan pada kalian untuk mengurus hal selanjutnya.”

Kong Cin-ong dan So Ngo Tu memang biasanya tidak cocok dengan Go Pay. Mereka merasa tidak puas dengan tindak-tanduk menteri itu. Sekarang menghadapi kenyataan ini, tentu saja mereka menjadi senang bukan main. Tanpa diperintahkan untuk kedua kalinya, mereka langsung menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada raja.

Terdengar raja berkata pula.

“Tentang Go Pay yang menyelinap kemari untuk membunuhku, sebaiknya jangan kalian beri-tahukan kepada siapa pun juga. Dengan demikian Hong thay hou serta Thay hong tidak akan terkejut dan ketakutan. Lagipula hal ini bisa menjadi bahan tertawaan rakyat dan bangsa Han. Go Pay memang jahat, meskipun tidak ada kejadian ini, sudah sejak dulu dia patut dihukum mati!”

Kedua menteri itu mengangguk-anggukkan kepalanya ke atas lantai.

“Ya… ya…” sahut mereka serentak. Meskipun demikian, dalam hati mereka sebetulnya timbul juga kecurigaan. Kekuataan Go Pay luar biasa, lagipula dia juga tokoh nomor satu bangsa Boan Ciu. Bagaimana dia dapat dikalahkan dengan mudah oleh beberapa orang bocah cilik? Di balik semua ini pasti ada apa-apanya, pikir kedua menteri itu. Tetapi mereka tidak berani meminta keterangan dari raja. Bahkan mereka sudah merasa senang karena satu saingan sudah tergeser.

Terdengar Kiat Si berkata.

“Perlu Baginda ketahui bahwa Go Pay mempunyai banyak antek di dalam istana, kalau perlu kita harus sapu bersih seluruh antek-anteknya. Kita harus mencegah apabila mereka berbalik pikiran.

Hamba rasa sebaiknya Ngo tayjin tetap di sini saja untuk melindungi Baginda. Jangan sampai berpisah satu tombak pun darinya. Hamba sendiri akan menurunkan titah untuk menawan seluruh antek Go Pay.”

“Baik!” kata Raja menganggukkan kepalanya.

Kong Cin-ong memberi hormat kemudian mengundurkan diri. Sementara itu So Ngo Tu mem-perhatikan Siau Kui cu sambil tersenyum.

“Saudara cilik, hari ini kau berjasa telah menyelamatkan nyawa Sri Baginda. Kau sungguh hebat!”

Siau Po merendah. “Semua ini berkat rejekinya Sri Baginda yang besar. Kami yang menjadi budak-budak, mana bisa berbuat jasa apa-apa!”

Kong Hi senang mendengar Siau Po tidak mengharap apa-apa, terutama dia tidak menceritakan perihal berkelahinya melawan Go Pay.

“Sayang sekali dia hanya seorang thaykam sehingga tidak bisa dihadiahkan kedudukan yang tinggi. Baiknya kau hadiahkan jumlah uang yang besar saja,’ pikir Kong Hi dalam hatinya.

Sementara itu, Kong Cin-ong bekerja dengan tangkas. Dalam sekejapan saja seluruh antek Go Pay sudah dibekuknya. Dia kembali dengan membawa sejumlah menteri dan pangeran yang semuanya meminta maaf atas keteledoran mereka dan juga mengucapkan selamat kepada Sri Baginda yang terlepas dari marabahaya. Akhirnya Raja dipersilahkan memilih pemimpin siwi yang baru dan sekaligus beberapa siwi lainnya untuk menggantikan antek-antek Go Pay yang tertangkap.

“Kalian pasti sudah letih sekali,” kata Raja.

Sementara itu, para pangeran dan menteri itu menjadi bergidik melihat mayat para thaykam yang berserakan dalam keadaan mengenaskan. Bahkan ada beberapa orang yang mencaci maki Go Pay karena kekejamannya itu.

Setelah itu Heng Pou Siang Si segera membawa Go Pay untuk dipenjarakan, sedangkan para pangeran dan menteri masih menghibur Raja dengan beberapa patah kata sebelum mengundurkan diri ke tempat masing-masing.

Kong Cin-ong juga menyampaikan pesan Raja agar tidak menyiarkan maksud jahat Go Pay supaya tidak membuat terkejut permaisuri atau ibu suri. Cukup disalahkan karena kekurangajarannya dan tidak becus dalam pemerintahan saja.

Para pangeran itu memuji kebijaksanaan kaisar Kong Hi mengingat kejahatan Go Pay itu besar sekali. Padahal selama Kong Hi memerintah, meskipun belum terlalu lama, tetapi juga bukan baru beberapa bulan, tampuk pemerintahan yang sebenarnya diatur oleh Go Pay. Jadi raja cilik itu hanya mendengarkan apa yang dikatakan menterinya itu. Sekarang melihat kebijaksanaannya, otomatis mereka merasa kagum dan tidak henti-hentinya memuji.

Kaisar Kong Hi sendiri merasa puas atas apa yang dilakukannya, rasanya baru sekarang dia dapat mencicipi bagaimana menjadi raja yang sesungguhnya. Diam-diam dia melirik kepada Siau Kui cu. Didapatinya bocah itu hanya berdiri diam di pojok. Kaisar Kong Hi berkata dalam hati: ‘Aih! Jasa bocah ini benar-benar sulit dibalas!’

Begitu para pangeran dan menteri-menteri sudah keluar semua, So Ngo Tu berkata kepada kaisar Kong Hi.

“Sri Baginda kamar tulis ini harus dibersihkan. Keadaannya benar-benar tidak enak dilihat. Sebaiknya Sri Baginda kembali dulu ke kamar sendiri untuk beristirahat.”

Kong Hi mengangguk mengiakan. Dia lantas mengundurkan diri. Kong Cin-ong dan So Ngo Tu mengantarnya sampai di luar kamar. Ketika raja hendak berlalu, Siau Kui cu masih berdiri di sudut dengan termangu-mangu. Karena tidak mendapat perintah apa-apa, dia menjadi bingung apa yang harus dilakukannya. Raja segera mengangguk kepadanya dan berkata.

“Mari ikut aku!”

Siau Po sudah menduga bahwa kamar raja itu pasti luar biasa indahnya. Dia memang ingin sekali melihat kamar raja. Tetapi begitu masuk ke dalam, dia jadi melongo. Sebab kamar raja itu demikian sederhana sehingga hampir tidak berbeda dengan kamar rakyat umumnya. Hanya bantal dan spreinya yang terbuat dari sutera bersulaman indah.

Kong Cin-ong dan So Ngo Tu tidak ikut masuk ke dalam kamar. Mereka hanya mengantarkan dan kemudian mengundurkan diri. Sebab kamar raja tidak boleh dimasuki orang lain kecuali para thaykam, dayang-dayang, ratu serta selir-selir.

Sehabis minum ramuan Som Tung yang disajikan dayangnya, Kong Hi berkata kepada Siau Kui cu palsu.

“Siau Kui cu, mari kau ikut aku menghadap Hong thayhou!”

Kaisar Kong Hi belum menikah, kamarnya terpisah tidak jauh dari kamar Hong thayhou. Begitu sampai di sana, Kong Hi langsung masuk ke dalam. Siau Po disuruhnya menunggu di luar.

Berdiri menunggu di depan seorang diri, pikiran Siau Kui cu alias Siau Po melayang-layang.

“Ilmu Taycu Taypi Cian Yap-jiu telah aku kuasai, demikian pula dengan ilmu Pat Kua Yu-Ciong ciang milik raja. Untuk apa aku terus menyamar sebagai thaykam di sini? Setiap hari aku harus berlutut memberi hormat dan munduk-munduk kepada Siau Hian cu. Hal ini membuat pikiranku jadi mumet. Go Pay telah berhasil dibekuk, Siau Hian cu tidak memerlukan bantuanku lagi. Sebaiknya besok aku lari saja dari istana ini dan tidak perlu kembali lagi!” pikirnya dalam hati.

Selagi pikirannya bekerja, seorang thaykam tua berjalan keluar dan menghampirinya.

“Saudara Kui, Hong thayhou menitahkan saudara masuk ke dalam untuk menyampaikan hormat kepada beliau,” katanya sembari tersenyum.

Mendengar keterangannya, lagi-lagi hati Siau Po mengeluh.

‘Celaka dua belas! Kembali aku harus bertekuk lutut dan mengangguk-angguk sehingga dahiku sakit karena membentur lantai terus menerus. Dan kau, Hong thayhou, mengapa bukan kau saja yang menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk terhadap aku Wi Siau-po?’

Meskipun dia berpikir demikian, tetapi dengan sikap hormat dia mengiakan. Kemudian dia mengiringi thaykam itu masuk ke dalam kamar.

Mereka melewati dua buah ruangan. Sampai di depan sebuah pintu, thaykam tua tadi menyingkap-kan tirai penyekat sambil berkata.

“Lapor kepada thayhou, Siau Kui cu telah datang menghadap!” Selesai berkata, dia memberi isyarat kepada Siau Po.

Siau Po mengerti. Dia melangkah masuk. Di bagian dalam masih ada selapis tirai lainnya yang bertaburkan batu manikam, sinarnya berkilauan. Sungguh indah. Tirai itu disingkap oleh seorang dayang.

Sambil menunduk, Siau Po melangkahkan kakinya. Diam-diam dia melirik ke atas, dilihatnya seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun duduk di sebuah kursi. Dia langsung menduga bahwa wanita itulah Hong thayhou atau ibu suri. Tanpa menunda waktu lagi, dia segera menjatuhkan din berlutut dan memberi hormat.

Hong thayhou tersenyum sembari mengangguk kecil.

“Bangunlah!” perintahnya. Ketika Siau Po bangkit, dia berkata kembali. “Sri Baginda mengatakan bahwa hari ini kau telah membuat jasa besar dengan membantu menawan Go Pay….”

“Harap thayhou ketahui bahwa hamba hanya tahu bagaimana bersetia kepada Sri Baginda dan melindunginya. Apa pun yang Sri Baginda titahkan, hamba hanya menjalankan. Usia hamba masih muda, karena itu pengetahuaa hamba pun dangkal sekali.”

Belum ada satu tahun Siau Po menjadi thaykam gadungan dalam istana, tetapi karena otaknya cerdas, dengan cepat ia dapat mengerti adat istiadat yang berlaku di tempat itu. Selama dia bermain judi, kawan-kawannya sering bercerita tentang pengalaman mereka dan dia mendengarkan dengan seksama. Dia tahu bahwa raja maupun ibu suri tidak suka pada orang yang mengagul-agulkan jasanya. Semakin besar pahalanya, orang itu harus bersikap pura-pura bodoh agar tidak timbul masalah yang tidak diinginkan. Jangan sekali-kali bersikap congkak dan angkuh, pasti usianya tidak bakal panjang. Apalagi orang yang tidak disukai oleh junjungannya.

Ternyata ibu suri senang sekali dengan sikap Siau Po. Terdengar dia berkata kembali.

“Kau masih muda, tetapi kau sudah tahu aturan dan setia. Kegagahanmu melebihi Go Pay yang telah menjadi siau-po. Aih, anak! Hadiah apakah yang pantas kita berikan kepadanya?” tanya ibu suri kepada Sri Baginda.

Kong Hi menjawab dengan hormat.

“Silahkan thayhou saja yang memutuskannya.”

Hong thayhou berpikir sejenak, terdengar dia seperti menggumam seorang diri.

“Di dalam Siang-sian tong, apakah tingkatanmu?” tanyanya kepada Siau Po. “Ah, sudahlah. Sekarang aku akan mengangkat kau menjadi thaykam tingkat enam dan kepala thaykam. Kau harus selalu mendampingi Sri Baginda!”

Mendengar kata-kata ibu suri, Siau Po ngedumel! dalam hati.

“Masa bodoh kau mau mengangkat aku menjadi thaykam tingkat satu sekalipun. Tidak nanti aku akan menerimanya!” Meskipun hatinya berkata demikian, dia langsung bertekuk lutut dan menganggukkan kepalanya seraya berkata.

“Terima kasih atas kebaikan thayhou!”

Dalam istana Ceng, tingkatan para thaykam dibagi dalam kelompok congkoan (pengurus) yang semuanya berjumlah empat belas orang. Siuceng thaykam seratus delapan puluh sembilan orang. Jumlah thaykam tidak terbatas. Mula-mula jumlahnya hanya beberapa orang, sekarang mungkin sudah lebih dari dua ribu orang. Thaykam tingkat empat menduduki jabatan tertinggi. Ada pula tingkat yang paling rendah, yakni tingkat delapan. Siau Po dari thaykam tanpa tingkat tiba-tiba dinaikkan kedudukannya menjadi thaykam tingkat enam. Kejadian ini bukanlah suatu hal yang mudah, boleh dibilang sangat jarang terjadi.

Ibu suri mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baik-baiklah kau menjalankan tugasmu!”

“Ya… ya!” sahut Siau Po berulang-ulang. Dia pun lalu bangkit untuk mengundurkan diri, namun pada saat itulah dia melihat di samping meja ibu suri ada sejilid kitab yang dialasi kain kuning. Di atasnya tertulis ‘Si Cap Ji cing-keng! Siau Po jadi tertegun. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Monyet! Lohu mencarinya dalam Gi-Si pong sampai berbulan-bulan, tapi tidak berhasil menemukannya. Tahu-tahu kitab itu ada di kamar ibu suri. Tentu saja sampai botak pun aku tidak akan mendapatkan hasil apa-apa!”

Hong thayhou tersenyum ketika mengetahui Siau Po sedang memperhatikan kitabnya.

“Eh, Siau Kui cu, apakah kau bisa membaca?”

“Hamba belum pernah bersekolah,” sahut Siau Po cepat. “Hamba hanya mengenal beberapa huruf saja.”

“Kalau begitu, bila ada kesempatan, ada baiknya kau belajar menulis dan membaca dari beberapa thaykam tua.”

“Baik,” sahut Siau Po sambil mengundurkan diri.

Ketika seorang dayang menyingkapkan tirai, diam-diam Siau Po memperhatikan ibu suri. Dia melihat wajah wanita itu agak pucat namun sepasang matanya sangat tajam dan alisnya berkerut. Tampaknya ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.

“‘Dia kan ibu suri, apa yang membuat pikirannya susah?’ tanyanya dalam hati.

Sesampainya di kamar, Siau Po menceritakan semua yang dialaminya kepada Hay kongkong. Ternyata Hay kongkong menyambut ceritanya dengan tawar.

“Sebetulnya sejak beberapa waktu yang lalu, hal itu sudah akan dilakukannya.”

Siau Po terkejut.

“Kongkong, apakah kau sudah tahu rencana Sri Baginda ini?”

“Sri Baginda belajar gulat. Ini merupakan permainan yang paling digemari anak-anak, tapi dia belajar dengan serius. Apalagi dia juga mempelajari Patkua Yu-ciong ciang, tentu dia mengandung maksud tertentu. Dia juga menunggu sampai kau berhasil mempelajari Cian-yap jiu, baru dia mengajakmu membekuk Go Pay. Sungguh harus dikagumi kesabarannya itu.”

Siau Po memalingkan kepalanya dan menatap Hay kongkong dengan perasaan heran.

“Kura-kura tua ini matanya sudah buta, tetapi urusan apa pun tidak dapat mengelabuinya,” pikirnya dalam hati.

Terdengar Hay kongkong bertanya kepada Siau Po.

“Bukankah Sri Baginda telah mengajakmu menemui Hong thayhou?”

“Benar!” sahut Siau Po yang semakin heran. “Lagi-lagi dia tahu!”

“Apa yang dihadiahkan Hong thayhou kepadamu?”

“Aku tidak diberikan hadiah apa-apa. Hanya dianugerahi pangkat sebagai thaykam tingkat enam dan Siuceng thaykam….”

Hay kongkong tertawa terbahak-bahak.

“Bagus! Dibandingkan diriku, kau hanya kalah satu tingkat. Aku memerlukan waktu tiga puluh tahun baru mencapai tingkat ini, sedangkan kau hanya dalam waktu beberapa bulan saja.”

Siau Po memperhatikan orang tua itu lekat-lekat.

“Besok aku toh akan meninggalkan istana ini. Kau telah mengajarkan aku berbagai ilmu, tetapi aku malah membutakan kedua matamu. Dalam hal ini, akulah yang bersalah. Seharusnya aku mencuri kitab Si Cap Ji cing-keng itu sebagai balas budimu tetapi sayangnya buku itu sedang dibaca oleh ibu suri. Mana mungkin aku bisa mencurinya. Ada baiknya aku beritahukan saja kepadamu agar kau mencari jalan sendiri!”

Membawa pikiran demikian, dia segera berkata kepada Hay kongkong.

“Kongkong, ketika hendak meninggalkan kamar ibu suri, aku melihat suatu benda yang menurutku cukup aneh.”

“Apa itu?” tanya si thaykam tua cepat.

“Kitab Si Cap Ji cing-keng yang kau ingin aku mencurinya, kongkong.”

“Apa?” Hay kongkong terperanjat, sikapnya yang tenang sebagaimana biasanya tidak terlihat lagi.

“Apa kata-katamu benar?” Tampangnya penuh semangat. Dia langsung menghambur ke depan untuk menyambar tangan Siau Po.

Bocah itu terkejut setengah mati. Dia berniat menghindarkan diri, tapi baru kakinya menggeser sedikit, tahu-tahu tangannya sudah terkecal.

“Buat apa aku berbohong?” sahutnya gugup. “Kitab itu berada di samping meja ibu suri. Aku juga melihat kain pembungkus yang terbuat dari sutera berwarna kuning. Di atasnya terdapat lima huruf dengan sulaman indah. Si Cap Ji cin-keng.”

Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri.

“Kongkong,” kata Siau Po kembali. “Kalau kau hendak mencuri kitab itu dari kamar ibu suri, tentunya sulit sekali. Kalau menurutku, sebaiknya kau berterus-terang saja kepada Sri Baginda, apabila ibu suri telah selesai membacanya, kau ingin meminjamnya sebentar. Atau kau minta saja terang-terangan.”

“Tidak, tidak bisa!” sahut Hay kongkong cepat. “Jangan kau bicara yang tidak-tidak!” Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri. Sejenak kemudian baru dia berkata lagi: “Tidak mungkin… tidak mungkin….” Tidak sanggup dia meneruskan kata-katanya. Celakanya pada tangan Siau Po dilepaskan. Dia duduk kembali, tiba-tiba dia batuk-batuk dengan keras sampai-sampai tubuhnya meringkuk.

Melihat keadaan orang tua itu, timbul rasa iba dalam hati Siau Po.

“Tua bangka ini sungguh aneh,” katanya dalam hati.

Malam itu Hay kongkong terus terbatuk-batuk, bahkan dalam keadaan tertidur. Siau Po masih bisa mendengarnya.

Besok paginya Siau Po pergi ke Gisi pong untuk melayani Sri Baginda. Dia melihat para siwi yang menjaga di luar sudah diganti dengan orang baru. Tidak lama kemudian, muncullah Sri Baginda di dalam kamar tulisnya. Kemudian menyusul Kongcin ong Kiat-si dan So Ngo-tu. Mereka berdua memberikan laporan bahwa setelah bekerja sama dengan para pangeran dan menteri lainnya, didapatkan kesalahan Go Pay berjumlah tiga puluh macam.

“Tiga puluh macam?” Kaisar Kong Hi sampai berseru saking terkejutnya. Hal ini benar-benar di luar dugaannya. “Masa begitu banyak?”

Kongcin ong segera menjura dan berkata. “Pada dasarnya dosa Go Pay memang banyak sekali, bukan hanya tiga puluh macam saja. Jumlah ini dikumpulkan berdasarkan pertimbangan dan kebijaksanaan Sri Baginda agar dia mendapat keringanan.”

“Baiklah! Apa saja ketiga puluh macam dosa itu?” tanya Kong Hi.

Kongcin ong mengeluarkan sehelai kertas dari dalam lengan pakaiannya dan membacakannya keras-keras.

“Rupanya kejahatan orang itu demikian banyak. Lantas hukuman apa yang pantas diberikan kepadanya?” tanya Kong Hi kembali.

“Seharusnya dia dijatuhi hukuman picis, tetapi sekarang dia mendapat keringanan, yakni hukuman dicopot pangkatnya serta penggal kepala. Sedangkan seluruh antek-anteknya seperti Pi Lung, Panpu Erl Shan dan Ho shasia sekalian….”

Raja merenung sesaat, kemudian dia mengangkat tangannya menahan ucapan menterinya.

“Dosanya Go Pay memang besar sekali, tetapi dia adalah seorang menteri besar dan telah banyak berjasa pada kerajaan. Sebaiknya dia dibebaskan dari hukuman mati. Hukumannya dipecat serta dipenjarakan saja, tetapi untuk selama-lamanya dia tidak boleh dibebaskan ataupun dikunjungi. Mengenai kaki tangannya, boleh turuti pertimbangan kalian tadi, yakni dihukum mati agar tidak ada lagi yang berani mendengar hasutan orang lain untuk berkhianat.”

Kong ong segera berlutut dan menerima baik titah Sri Baginda. Dia memuji kebijaksanaan rajanya itu.

Diam-diam Siau Po yang menyaksikan dari samping menertawakan dalam hati. “Luka di punggung Go Pay yang terkena tikaman cukup parah. Umurnya juga tidak bakal panjang lagi. Dihukum mati atau tidak, apa bedanya?”

“Bendera sulam kuning adalah salah satu dari tiga bendera utama. Karena itu meskipun Go Pay berdosa dan patut menerima hukuman, tapi kesalahannya tidak boleh mengaitkan bendera lainnya. Dalam urusan ini kita harus bertindak adil,” kata Kong Hi selanjutnya. “Baik!” sahut Kiat Si dan yang lainnya.

Siau Po hanya mendengarkan dari samping. Dia belum paham persoalan mengenai bangsa Boanciu yang terpecah di antara beberapa bendera. Dia hanya mendengar bahwa Go Pay menjadi pemimpin oey-ki (bendera kuning) dan Suke Shasia menjadi pemimpin pek-ki (bendera putih) Kedua pemimpin itu tidak akur satu dengan lainnya.

“Sekarang kalian boleh pergi. Biar So Ngo-tu tetap di sini. Masih ada masalah yang ingin kubicarakan dengannya,” kata kaisar Kong Hi.

Kiat Si dan yang lainnya mengiakan, dia mengajak rekan-rekannya memberi hormat kepada Sri Baginda kemudian mengundurkan diri.

“Ketika Suke Shasia dibunuh oleh Go Pay, tentunya semua harta benda juga disita bukan?” tanya Kong Hi kepada So Ngo-tu.

“Semua harta benda Suke Shasia berikut tanah dan sawahnya telah disita untuk negara, tetapi saat itu Go Pay juga menggeledah seluruh isi rumah Suke Shasia dan merampas emas intan dan permatanya.”

“Itu sudah kuduga,” kata kaisar Kong Hi. “Sekarang kau ajak beberapa orangmu ke rumah Go Pay, cari harta bendanya Suke Shasia untuk dikembalikan pada anak cucunya.”

“Baik, Sri Baginda!” sahut So Ngu-tu. Dia segera mengundurkan diri karena raja tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tapi ketika menteri itu melangkah perlahan menuju pintu, terdengar Kong Hi berkata kembali.

“Masih ada lagi pesan dari Hay Hong thayhou. Seperti kalian ketahui, ibu suri senang membaca kitab Buddha. Konon di tangan kedua pemimpin pek-ki dan oey-ki masing-masing menyimpan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng….”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: