Kumpulan Cerita Silat

09/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (01)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:34 am

Rahasia Peti Wasiat (01)
Oleh Gu Long

Musim semi di daerah Kanglam (selatan sungai Yangtze), bumi raya diliputi pemandangan alam yang memikat.

Tibalah waktunya orang-orang menikmati suasana gembira ria.

Di kota hiruk-pikuk, cahaya lampu gemerlapan dengan kehidupannya yang beraneka ragamnya. Di desa sunyi sepi, pepohonan menghijau permai, di mana-mana terlihat gairah hidup musim semi.

Dalam suasana yang demikian itulah seorang pemuda penunggang seekor kuda putih mulus gagah sedang menyusuri lereng gunung yang indah dengan santai.

Usia anak muda ini sekitar 24-25 tahun, memakai ikat kepala warna biru, berbaju satin merah ringkas dan membawa ransel, memakai sepatu bersol tipis, sebatang pedang tergantung di pinggangnya, nyata seorang pemuda yang gagah dan cakap.

Ia membiarkan kudanya berjalan dengan santai sembari berdendang perlahan membawakan lagu yang memuji keindahan musim semi.

Tanpa terasa ia sampai di depan sebuah jembatan kecil.

Lebar jembatan kurang-lebih cuma tiga kaki saja, melintang di atas sebuah sungai yang lebarnya sekira dua tombak lebih.

Maksud pemuda itu hendak melintas jembatan, tapi terpaksa ia harus menunggu di ujung jembatan. Sebab, di atas jembatan ada orang.

Anehnya, kebetulan orang di atas jembatan itu juga membawa seekor kuda putih gagah perkasa, cuma dia tidak menunggang di atas kuda melainkan berdiri di atas jembatan dengan memegang tali kendali. Ia lagi berdiri bersandar di langkan jembatan dan asyik bercengkerama dengan seorang gadis pencuci pakaian di kolong jembatan.

Orang yang mengalangi jembatan ini juga pemuda berusia likuran saja, memakai ikat kepala sebangsa kaum pelajar, berbaju biru berlengan longgar dari bahan yang mahal, sepatunya bersol tebal, mukanya putih, bibirnya merah dan gigi rajin, kelihatan terpelajar dan lembut, cuma sayang sikapnya memperlihatkan gaya binal dan sok aksi.

Agaknya dia tidak tahu ada orang lain hendak melintas jembatan, ia masih terus bersandar di langkan jembatan sambil bergurau dengan anak gadis di bawah jembatan, katanya dengan tertawa, “Apakah nona tidak berdusta? Bila langsung lurus ke arah depan sana akan sampai di kota Kim-tan?”

Terdengar gadis di kolong jembatan menjawab dengan tertawa, “Memang betul jalan ini menuju ke Kim-tan. Ai, kau ini bagaimana, masa harus kuulangi lagi baru mau percaya?”

Nada si nona seperti kurang senang, namun wajahnya tidak mengunjuk sesuatu rasa tidak senang, nyata dia tidak jemu terhadap pemuda pelajar ini, bahkan boleh dikatakan rada kesengsem padanya.

Pemuda pelajar itu terbahak, “Haha, maaf! Soalnya aku khawatir kesasar, maka tanya lebih jelas. Eh, apakah nona penduduk di sini?”

Gadis itu mengiakan.

“Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu.

“Hoa-keh (sungai bunga).”

“Ah, nama yang indah! …. Eh, mohon tanya siapa nama nona yang harum?”

“Takkan kuberi tahukan!” jawab si gadis.

“He, sebab apa?”

“Sebab belum kukenal dirimu.”

“Aha, betul! Memang sepantasnya kuberi tahukan lebih dulu namaku. Nah, aku she Pang bernama Bun-hiong, harap nona suka sering-sering memberi petunjuk.”

“Hihi ….” si gadis tertawa.

“Apa yang kau tertawakan?”

“Engkau seperti pelajar linglung.”

“Ah, tidak, tidak … dan sekarang dapat kau katakan namamu bukan?”

“Aku bernama In Goat-kiau.”

“Ai, cocok benar dengan orangnya yang cantik. Eh, apakah setiap hari nona mencuci pakaian di sini?”

“Ehmm,” si gadis mengangguk.

“Wah, bagus!” ujar si pemuda. “Orang suka bilang pemandangan Kanglam indah permai, tampaknya pemeo ini memang tidak salah. Bukan cuma pemandangannya indah, bahkan gadisnya juga rata-rata sangat cantik, sungguh tempat indah melahirkan gadis molek.”

Mendengar celoteh mereka yang tak habis-habisnya, si pemuda berdandan ringkas tadi menjadi tidak sabar menunggu lagi, mendadak ia menegur, “Hai sahabat itu, harap suka memberi jalan?!”

Pemuda pelajar yang mengaku bernama Pang Bun-hiong itu anggap tidak mendengar saja dan masih terus menatap si gadis di kolong jembatan dengan tersenyum, katanya, “Tolong beri tahu, apakah di sekitar tempat ini ada tempat baik untuk pesiar?”

“Belasan li di sebelah sana ada sebuah biara Koan-im-ting, pemandangan di bukit sana sangat bagus,” jawab si nona.

“Pernah ke sana?” tanya si pemuda alias Pang Bun-hiong.

“Pernah satu kali,” jawab si nona.

“Pergi sendirian?”

“Bersama ibu.”

“Ai, tentu kurang leluasa ….”

Tampaknya si pemuda berdandan ringkas itu tidak sabar menunggu lagi, segera ia berteriak, “Hai, sahabat itu, jika mau mengobrol kenapa tidak kau bawa dia ke dalam rumah saja?”

Pang Bun-hiong mengayun sebelah tangannya sebagai tanda minta jangan diganggu, lalu menyambung obrolannya dengan si gadis, “Apakah engkau masih ingin pesiar ke Koan-im-ting sana?”

“Tentu saja ingin,” jawab si nona.

“Jika mau, bagaimana kalau kita pergi bersama?”

Muka si nona menjadi merah dan mengomel, “Cis, bicaramu melantur, aku tidak mau omong lagi.”

Habis ini ia lantas sibuk mencuci pakaian.

Pang Bun-hiong terbahak, “Haha, jangan marah, aku hanya berguyon saja denganmu. Eh, kau bilang jalan lurus ke depan sana akan sampai di kota Kim-tan bukan?”

Dengan mendongkol si pemuda berdandan ringkas tadi menukas, “He, kawan, aku justru akan menuju ke Kim-tan, jika engkau tidak kenal jalan, boleh ikut bersamaku.”

Karena tidak lagi digubris oleh gadis itu, Pang Bun-hiong menggaruk-garuk kepala dengan kikuk, perlahan ia menegak dan memberi tangan kepada si nona sambil berseru, “Selamat tinggal, semoga lain kali bila kulalu lagi di sini akan dapat berjumpa pula denganmu!”

Habis bicara ia lantas melompat ke atas kudanya, malah dengan lagak seperti kekasih yang mohon diri kepada gadisnya ia memberi tangan pula, lalu melarikan kudanya ke seberang jembatan.

Segera si pemuda berdandan ringkas juga melarikan kudanya ke atas jembatan, ia coba melongok sekejap ke kolong jembatan, tertampak si gadis berkulit putih bersih dan cantik manis. Ia tersenyum dan membatin, “Molek juga nona ini, pantas si bangor tadi terpikat ….”

Ia terus melarikan kudanya ke seberang jembatan dan menyusul Pang Bun-hiong yang di depan sehingga keduanya jalan berjajar, ia menuding ke depan dan pasang omong dengan dia, “Untuk menuju ke Kian-tan tidak ada jalan lain, pasti takkan kesasar.”

Pang Bun-hiong memelototinya sekejap, sahutnya dengan mendongkol, “Hm, apakah kau kira aku tidak kenal jalan di sini?”

Lalu dengan suara tertahan ia menyambung, “Supaya kau tahu, aku justru penduduk yang dilahirkan dan dibesarkan di kota itu.”

Si pemuda berbaju ringkas melenggong, lalu tertawa geli dan berkata, “Kiranya tadi Anda sengaja meledeknya ….”

Pang Bun-hiong mengangkat pundak tanpa menjawab.

Pemuda berbaju ringkas mengamati kuda orang, lalu berkata pula, “Kudamu ini boleh juga, cuma sayang warnanya tidak mulus, ada beberapa biji bulu warna lain.”

“Hm, meski tidak mulus, larinya justru jauh lebih cepat daripada yang mulus,” jengek Pang Bun-hiong.

Habis berucap, sekali kaki mengepit kencang perut kuda, sambil membentak perlahan serentak kudanya mencongklang cepat ke depan.

Kudanya memang luar biasa, hanya sekejap saja sudah membedal belasan tombak jauhnya, cepatnya memang sukar ditandingi.

Si pemuda berbaju ringkas merasa tertarik, diam-diam ia membatin, “Bagus, rupanya kamu sengaja menantang kudaku si naga putih ini? Baik, boleh kau lihat kehebatan kudaku ini!”

Begitu timbul pikiran demikian, serentak ia pun membentak sekali dan melarikan kudanya menyusul ke depan dengan cepat.

Benar juga, kudanya juga bukan sembarang kuda, sekali didesak, seketika keempat kaki bekerja dengan cepat dan menimbulkan suara detak yang riuh, hanya sejenak saja kuda Pang Bun-hiong sudah disusulnya dan kedua orang kembali berjajar lagi.

Hal ini agaknya juga di luar dugaan Pang Bun-hiong, tapi juga lantas menimbulkan hasratnya ingin menang, omelnya di dalam hati, “Hm, dasar orang lamur, makanya tidak kenal kudaku si pionir ini. Si pionir adalah satu di antara kelima kuda termasyhur di dunia, ini, memangnya kudamu macam apa, berani menantang balapan dengan kudaku?”

Tanpa bicara ia terus ayun cambuknya hingga menerbitkan suara gemeletar, kembali ia membedal kudanya ke depan sehingga si pemuda berbaju ringkas tertinggal lagi dua-tiga tombak jauhnya.

Si pemuda berbaju ringkas tersenyum, segera ia setengah berdiri dan membedal kudanya terlebih kencang, hanya sebentar saja sudah disusulnya, bahkan mendahului di depan.

Air muka Pang Bun-hiong berubah, ia juga beraksi di atas kudanya, berulang ia mendesak kudanya berlari lebih cepat sehingga akhirnya pemuda berbaju ringkas tersusul juga ….

Begitulah terjadi balapan kuda di tengah jalan raya itu oleh kedua anak muda yang sama tidak mau mengalah itu, saking kencangnya lari kuda mereka hingga debu mengepul, sebentar Pang Bun-hiong di depan, lain saat si pemuda berbaju ringkas melampauinya lagi, nyata keduanya sama hebatnya.

Hanya, sebentar saja belasan li sudah dilaluinya.

Pada saat itulah dari depan muncul sebuah tandu merah yang digotong dua orang.

Lebar jalan kurang lebih hanya lima kaki, separuh lebar jalan sudah dipakai oleh tandu itu, dalam keadaan demikian jelas sukar bagi kedua penunggang kuda lewat begitu saja secara berjajar.

Celakanya pada waktu itu mereka justru tidak mau saling mengalah dan tetap melarikan kuda masing-masing dengan sejajar. Dengan lain perkataan di antara mereka perlu salah seorang mengalah dulu, kalau tidak tentu mereka akan menubruk tandu itu.

Akan tetapi Pang Bun-hiong tidak mau mengalah sedikit pun. Juga si pemuda berbaju ringkas tetap ingin menang. Agaknya kedua anak muda itu tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dan harus berlomba hingga jelas ketahuan siapa unggul dan siapa asor.

Dalam pada itu kedua ekor kuda masih terus membedal ke depan secepat terbang. Keruan kedua kuli penggotong tandu ketakutan setengah mati demi melihat kedua penunggang kuda itu sama sekali tidak ada tanda akan menghentikan lari kudanya, cepat mereka berteriak, “Hei, hei! Berhenti, lekas berhenti! …. Wah, bisa tertubruk!”

Namun jarak kuda dengan tandu saat itu tinggal satu tombak lebih jauhnya, hendak berhenti pun tidak keburu lagi.

Justru pada detik yang gawat itu sekonyong-konyong terlihat kedua ekor kuda yang tetap berlari cepat itu mengangkat kaki depan terus mencongklang ke atas, terdengar deru angin “wut-wut” dua kali, kedua ekor kuda melayang lewat di atas tandu dan turun kembali lima-enam kaki di belakang tandu sana dan, tetap membedal ke depan dengan cepat.

Saking kaget dan takutnya kaki kedua kuli penggotong tandu terasa lemas, seketika mereka menaruh tandu di atas tanah dan tidak sanggup melangkah lagi.

Hendaknya maklum, si pemuda berbaju ringkas itu sama sekali tidak memikirkan keselamatan umum, soalnya dia yakin mampu mengendalikan kudanya dan melompat lewat tandu merah itu, maka dia tidak mau mengalah. Tapi ketika dilihatnya Pang Bun-hiong juga ikut melompati tandu itu dengan sama cepatnya, mau tak mau ia terkesiap dan membatin, “Wah, rupanya aku salah lihat. Bocah ini tampaknya lemah lembut, rupanya juga menguasai kepandaian yang sengaja tidak diperlihatkan.”

Pang Bun-hiong juga tidak menyangka orang menguasai ilmu menunggang kuda sehebat itu, mau tak mau pun berubah penilaiannya terhadap si pemuda berbaju ringkas, pikirnya, “Buset, ternyata boleh juga bocah ini!”

Namun kedua orang tetap tidak mau saling mengalah dan terus membedalkan kuda masing-masing ke depan, keduanya sama bertekad akan mengungguli lawan.

Tapi meski sudah dua-tiga li lagi jauhnya, keadaan tetap sama kuat.

Pada saat inilah suatu “ujian” kembali muncul.

Kembali di depan ada sebuah jembatan, luas jembatan juga tidak besar, hanya cukup untuk dilalui dua ekor kuda berjajar dengan berjalan perlahan, bila berjajar dengan lari cepat tentu akan saling tumbuk dan kecebur ke sungai.

Pang Bun-hiong tidak mau mengalah, langsung ia membedal kudanya ke atas jembatan. Pemuda berbaju ringkas itu pun ngotot. Maka dalam sekejap itu kedua ekor kuda sama melompat ke atas jembatan, seketika sukar terhindar lagi pergesekan dan berdesakan.

Karena keki, Pang Bun-hiong terus mendorong dengan sebelah tangannya dengan maksud menceburkan pemuda berbaju ringkas ke sungai.

Siapa tahu pemuda berbaju ringkas juga berpikir sama, sebelah tangannya pun menolak ke arah Pang Bun-hiong. “Plak”, tangan kedua orang kebentur.

Tanpa ampun Pang Bun-hiong berikut kudanya terus menerjang ke luar jembatan sebelah kiri. Sama halnya pemuda berbaju ringkas itu, ia pun menerjang ke sebelah kanan.

Keadaan mereka itu ibaratnya benturan dua arus yang mengamuk, lalu terdampar kembali ke dua sisi, keadaan tampak berbahaya dan mengkhawatirkan.

Namun kedua orang ternyata tidak jatuh ke dalam sungai, semula kedua orang kelihatan seperti tergetar oleh tenaga tolakan lawan, namun waktu kuda masing-masing menerjang ke luar jembatan, ternyata tidak ada yang kecebur ke bawah melainkan langsung melayang ke seberang sungai.

“Boleh juga kau!” seru si pemuda berbaju ringkas.

Pang Bun-hiong diam saja dan tetap memacu kudanya ke depan.

Dengan sendirinya pemuda berbaju ringkas tidak mau kalah, ia pun mendesak kudanya berlari terlebih cepat agar dapat melampaui lawan.

Akan tetapi seterusnya kedua orang masih tetap saling salip dan tiada seorang pun lebih cepat daripada yang lain.

Tidak lama kemudian kota Kim-tan sudah kelihatan di depan. Namun kedua orang tetap tidak mau saling mengalah, masih tetap melarikan kudanya ke dalam kota dengan berjajar, bahkan tetap berlomba di jalan raya di tengah kota.

Waktu lalu di suatu jalan, mendadak Pang Bun-hiong menahan kudanya dan berhenti di depan sebuah restoran.

Si pemuda berbaju ringkas tidak menyangka orang akan berhenti secara mendadak, seketika ia tidak sempat menahan kudanya sehingga menerjang beberapa tombak jauhnya baru dapat menghentikan kudanya, waktu ia berputar balik, dilihatnya dua pelayan menyongsong keluar dari dalam restoran dan sedang memberi hormat kepada Pang Bun-hiong dengan munduk-munduk, seperti sambutan terhadap langganan lama layaknya.

Setelah berpikir sejenak, pemuda berbaju ringkas juga mendekati restoran itu.

Salah seorang pelayan melihat kuda tunggangannya juga putih serupa kuda Pang Bun-hiong, dengan tertawa ia tanya, “Pang-siauya, tuan ini tentu sahabatmu, silakan!”

“Omong kosong,” kata Pang Bun-hiong. “Aku tidak membawa teman.”

Sembari bicara ia terus menyerahkan kudanya kepada pelayan dan melangkah ke atas loteng restoran dengan lagak angkuh.

Mendengar pemuda berbaju ringkas ini bukan kawan Pang-siauya, sikap pelayan yang lain seketika tidak terlalu hormat lagi, dengan sikap umum ia menyapa, “Tuan ini silakan ke atas loteng, di sini tersedia arak yang paling enak dan santapan paling lezat ….”

Merasa dirinya diperlakukan tidak sepadan dengan Pang Bun-hiong, tentu saja pemuda itu rada dongkol, tapi ia diam saja, ia serahkan kudanya kepada pelayan, lalu naik ke atas loteng.

Setiba di atas, dilihatnya Pang Bun-hiong sudah duduk menyanding sebuah meja besar, di depannya berkerumun tiga orang pelayan, yang satu sibuk menuangkan teh baginya, yang kedua mengatur mangkuk dan sumpit, yang ketiga membawa daftar menu dan menunggu sang tamu memilih santapan, semuanya berlaku sangat hormat, serupa kaum dayang meladeni pangeran.

Si pemuda berbaju ringkas memilih sebuah meja di depan, akan tetapi tidak ada seorang pelayan pun yang meladeninya, keruan ia tambah keki dan sengaja hendak menyaingi Pang Bun-hiong, segera ia menggebrak meja dan berteriak. “Hai, apaan ini, masa di sini tidak ada pelayan?”

“Ya, ya, segera datang!” cepat pelayan yang sibuk menuangkan teh bagi Pang Bun-hiong itu bersuara, lalu mendekat dan bertanya dengan tertawa, “Tuan tamu ini mau pesan apa?”

“Kuminta diberi handuk hangat dulu dan sepoci teh Siociong,” jengek si pemuda berbaju ringkas.

“Baik, baik, segera disediakan,” sahut si pelayan.

Saat itu Pang Bun-hiong lagi memilih menu, sembari menyeruput teh panas ia berkata, “Buatkan seporsi burung dara goreng, seporsi Pak-lay-cah, seporsi Ang-sio-hi, seporsi ayam cah jamur, ditambah seporsi sup tahu campur bibir ikan dan bawakan lagi setengah kati arak Li-ji-hong.”

Kiranya restoran ini terhitung rumah makan nomor satu di kota Kim-tan ini, meski menu yang dipilih Pang Bun-hiong tidak tergolong makanan ternama, tapi sudah cukup terpandang mahal oleh penduduk setempat.

Berulang pelayan mengiakan sambil mencatat menu yang dikehendaki, lalu bergilir menuju ke depan si pemuda berbaju ringkas dan bertanya, “Tuan tamu ini mau pesan makanan apa?”

“Kuminta satu porsi burung dara goreng, satu porsi Pak-lay-cah, satu porsi Ang-sio-hi, satu porsi ayam cah jamur, ditambah seporsi sup tahu campur bibir ikan dan bawakan lagi satu kati arak Li-ji-hong.”

Menu yang dipilih ternyata sama dengan pesanan Pang Bun-hiong, bedanya cuma dia minta arak setengah kati lebih banyak.

Seketika si pelayan melenggong, ia tahu tamu ini sedang mencari perkara kepada Pang-siauya, maka diam-diam ia merasa geli dari juga senang.

Maklumlah, orang berusaha restoran, tentu tidak beralasan menolak tamu makan banyak, maka dicatatnya pula setiap pesanan orang. Selagi pelayan itu hendak meneruskan pesanan itu ke bagian dapur, tiba-tiba Pang Bun-hiong memanggilnya, “Hai, pelayan, kemari!”

Sambil mengiakan pelayan itu berlari ke sana dan tanya dengan memberi hormat, “Pang-siauya ada pesan apa lagi?”

“Tambah lagi satu macam …. Otak kera!” kata Pang Bun-hiong dengan tertawa.

“Baik, Tuan!” sahut si pelayan.

Mendadak si pemuda berbaju ringkas juga memanggilnya, “Kemari, pelayan!”

Kembali si pelayan mengiakan dan mendekatinya sambil tanya, “Tuan tamu minta apa lagi?”

“Juga tambah satu macam … Otak kera!” kata pemuda itu.

Dengan tertawa si pelayan mengiakan dan buru-buru turun ke bawah.

“Hmk!” perlahan Pang Bun-hiong mendengus, ia mengeluarkan sebuah kipas dan dibentangnya lalu mengipas perlahan dengan santainya.

Pemuda berbaju ringkas itu tidak punya kipas, ia merasa kalah aksi, tanpa pikir ia berseru, “Hai, pelayan, kemari!”

Pelayan yang lain segera mendekat dan bertanya apa kehendak sang tamu.

Pemuda itu mengeluarkan uang perak seberat lima tahil dan disodorkan kepada si pelayan sambil berteriak, “Pergi ke toko dan belikan sebuah kipas lempit bertulang gading, sisanya untukmu!”

Si pelayan tidak tahu dia lagi bersaing dengan Pang Bun-hiong, tentu saja ia kegirangan akan mendapat persen cukup banyak, sambil mengiakan segera ia berlari pergi.

Diam-diam Pang Bun-hiong merasa gusar, dengan suara yang tak terdengar ia memaki, “Kurang ajar! Berani kau cari perkara padaku. Baik, sebentar baru kau tahu rasa!”

Tidak lama, si pelayan sudah kembali dengan membawa kipas lempit bertulang gading yang dikehendaki si pemuda berbaju ringkas.

Maka pemuda itu pun pasang aksi dengan membentang kipasnya dan mengipas dengan lagak santai.

Selang sebentar lagi, santapan yang mereka pesan pun dihidangkan.

Melihat salah satu porsi makanan itu adalah sebuah otak mentah, malahan kelihatan berdarah, diam-diam si pemuda berbaju ringkas terkejut, ia menarik pelayan yang membawakan makanan itu dan bertanya dengan suara lirih, “Hei, ini apa?”

“Inilah otak kera yang Tuan pesan tadi,” jawab si pelayan.

Kembali pemuda itu tanya dengan suara tertahan, “Betul, aku memang pesan semacam makanan, tapi sesungguhnya barang apa ini?”

“Otak kera,” tutur si pelayan.

Pemuda itu kelihatan tegang, tanyanya pula, “Masa otak kera benar-benar?”

“Dengan sendirinya otak kera benar-benar, restoran kami tidak menjual barang palsu,” ujar si pelayan.

Seketika pemuda itu merasa mual dan hampir saja tumpah, serunya, “Aduh, barang begini masa dapat dimakan?”

“Jika Tuan tamu tidak berani makan, untuk apa dipesan?” ujar si pelayan.

Mendadak teringat oleh pemuda itu betapa pun tidak boleh kelihatan lemah di depan Pang Bun-hiong, segera nadanya berubah, katanya sambil berdehem, “Ya, memang. Bukannya aku tidak berani makan, maksudku barang ini tidak pantas dimakan secara mentah melainkan mesti dimasak dahulu.”

“Tidak, dimakan secara mentah baru terasa enak,” tutur si pelayan.

Pemuda itu mulai menyesal tidak seharusnya ikut-ikutan memilih makanan itu, dengan bekernyit kening ia memberi tanda, “Bawa pergi, bawa pergi! Aku tidak doyan makanan ini!”

“Hahahaha!” mendadak Pang Bun-hiong bergelak tertawa. “Buset! Kukira orang gagah macam apa, tak tahunya cuma seorang ….”

Serentak si pemuda berbaju ringkas menjadi gusar, ia menggebrak meja dengan keras dan berdiri, bentaknya, “Kau maki siapa?!”

Pang Bun-hiong sengaja membungkuk tubuh ke arahnya dan berkata dengan tertawa, “Maaf, aku kan tidak menyebut nama siapa pun!”

Habis ini ia lantas menuang arak dan makan-minum.

Si pemuda berbaju ringkas mendengus, ia pun duduk dan menuang secawan arak, mendadak cawan arak yang dipegangnya dilemparkan ke arah Pang Bun-hiong, ucapnya dengan tertawa, “Kusuguh satu cawan padamu, kawan!”

Waktu terlempar cawan itu meluncur sangat lambat, serupa segumpal kapas saja yang melayang terbawa angin.

Tapi bagi orang yang berpengalaman, sekali pandang saja segera tahu lemparan ini membawa tenaga dalam yang kuat, jika Pang Bun-hiong tidak menguasai sedikit kepandaian, pada waktu menangkap cawan arak tentu akan ketahuan belangnya.

Tertampak Pang Bun-hiong tetap duduk diam saja, ia hanya mengangkat tangan dengan perlahan dan cawan arak yang melayang tiba itu kena ditangkapnya, seluruh tubuh tidak bergoyang sama sekali.

“Terima kasih!” ucapnya dengan tersenyum dan sekali tenggak isi cawan diminum habis.

Lalu ia pun menuang satu cawan arak, perlahan dilemparkan ke arah lawan dan berkata, “Setelah menerima harus balas memberi, itulah sopan santun namanya. Silakan minum juga!”

Gerak melayang cawan araknya juga sangat lambat.

Pemuda berbaju ringkas tertawa, ia angkat sumpit, dengan enteng cawan itu dicapitnya sambil berkata, “Terima kasih!”

Isi cawan itu pun ditenggaknya habis.

Pertandingan ini kembali seri alias sama kuat.

Namun perbuatan mereka yang luar biasa itu telah mengejutkan para tamu dan pelayan yang melayani mereka.

Si pemuda berbaju ringkas merasa penasaran karena tidak dapat mengatasi pihak lawan, dengan sumpit ia capit sepotong daging ayam terus disambitkan, katanya, “Kusuguh lagi sepotong kulit ayam padamu!”

Sekali ini daging ayam itu menyambar ke depan secepat kilat sehingga serupa sebilah pisau.

Pang Bun-hiong tidak mengelak, mendadak ia membuka mulut, daging ayam itu dicaploknya, lalu dimakan dengan nikmatnya, katanya dengan tertawa, “Ehm, empuk dan gurih, sungguh lezat!”

Habis mengunyah dan menelan daging ayam lalu ia menyumpit sepotong otak kera, katanya dengan tertawa, “Haha, kalau sudah menerima sepantasnya harus balas memberi, ini, aku pun menyuguh sepotong otak padamu!”

Sekali sumpit bergerak, secepat bintang meluncur sepotong otak kera itu terus menyambar ke muka si pemuda berbaju ringkas.

Anak muda itu tidak berani makan otak kera, keruan ia terkejut, cepat telapak tangan menolak ke depan sambil membentak, “Maaf, tuanmu tidak makan otak kera!”

Karena tenaga tolakan itu, otak kera yang menyambar ke depan itu lantas hancur di udara beberapa kaki sebelum mencapai sasarannya.

Nyata itulah Pi-kong-ciang atau pukulan jarak jauh yang lihai.

Bun-hiong menjadi gusar, teriaknya sambil berbangkit, “Kalau jantan sejati harus kau makan?”

Pemuda baju ringkas mengangkat pundak dan menjawab, “Sekali seorang jantan bilang tidak makan tetap tidak mau makan!”

Ucapannya seketika menimbulkan gelak tawa orang banyak.

Bun-hiong juga merasa geli, segera ia melangkah ke sana, katanya dengan tertawa, “Eh, saudara, kubilang sesungguhnya engkau belum memenuhi syarat untuk main gila di depan tuanmu!”

“Huh, di depan maharaja sekalipun berani kumain gila,” jawab pemuda baju ringkas.

“Hm, barangkali belum kau kenal nama julukanku,” kata Bun-hiong.

“Oo? Apa?” tanya si pemuda baju ringkas dengan lagak ingin tahu.

“Te-tau-coa (ular penguasa daerah) ialah julukanku, masa belum pernah kau dengar?”

“Bagus! Juga aku mempunyai nama julukan,” ujar si pemuda baju ringkas.

“Coba katakan, aku ingin tahu!”

“Julukanku adalah Ko-kang-liong (naga penjaga sungai), pernah kau dengar namaku?”

“Aha, bagus!” seru Bun-hiong sambil terbahak. “Bolehlah hari ini ular menempur naga, ingin kulihat apakah Ko-kang-liong yang lebih hebat atau Te-tau-coa yang lebih kuat?”

Baru habis bicara, mendadak sebelah kakinya menendang.

Si pemuda baju ringkas cuma berjaga-jaga kalau lawan memukul dan tidak mengira akan ditendang, seketika ia tidak sempat mengelak, kontan perutnya tertendang dengan telak, ia menjerit kesakitan dan roboh terjungkal.

Meja juga terguling tertumbuk pada waktu dia roboh terjengkang, dengan sendirinya semua hidangan di atas meja juga tumpah dan menerbitkan suara gemuruh.

Melihat lawan memegang perut sambil menjerit kesakitan, Pang Bun-hiong tidak menyerang lebih lanjut, ia tertawa senang dan berkata, “Nah, kubilang naga takkan mampu makan ular, sekarang kau percaya tidak?”

Pemuda berbaju ringkas itu merangkak bangun, pada saat tubuhnya hampir menegak mendadak ia menjotos.

Pang Bun-hiong tidak menyangka orang masih bertenaga untuk memukulnya, hendak berkelit pun tidak keburu lagi, kontan perutnya juga kena digenjot dengan keras, belum menjerit tahu-tahu ia pun jatuh terjengkang.

“Haha, bagaimana? Kubilang naga tetap lebih kuat daripada ular, sekarang tentu kau percaya bukan?” seru si pemuda baju ringkas dengan tertawa.

Sambil meringis kesakitan Pang Bun-hiong merangkak bangun, katanya, “Baik, tampaknya Kungfumu boleh juga, namun urusan belumlah selesai!”

Mendadak ia mendekam ke lantai, kaki terus menyapu lawan. Namun pemuda baju ringkas sempat melompat minggir, menyusul kedua kepalan balas menghantam kedua pelipis musuh.

Sekali ini Bun-hiong tidak dapat dikerjai lagi, secepat kitiran ia berputar, kedua tangan beradu, kontan si pemuda baju ringkas terpental mencelat, Pang Bun-hiong juga tergetar jatuh terjungkal.

“Wah, celaka!” teriak kuasa restoran yang baru naik ke atas loteng ketika mendengar suara keributan. “Sudah, sudahlah, bisa rusak semua!”

Namun kedua orang sudah kadung naik pitam, kembali mereka saling labrak lagi. Dalam sekejap itu belasan meja kursi di atas loteng sama terjungkir balik, mangkuk piring beterbangan dan hancur.

“Wah, celaka, tamat, habis seluruhnya!” kuasa restoran berkeluh pula dengan muka pucat. “Cara bagaimana perhitungan ini?”

Rupanya kedua anak muda itu sudah sama kalapnya, siapa pun tidak mau berhenti dulu, pukulan dan tendangan masih terus berlangsung dengan seru.

Tampaknya ratusan jurus sudah berlalu dan keduanya tetap setali tiga uang alias sama kuat, tiada seorang pun lebih unggul.

Pada saat itulah terdengar tangga berdetak, naiklah seorang tua yang berdandan sebagai Pothau (serupa polisi zaman kini).

Melihat ada orang berkelahi, Pothau tua itu membentak, “Berhenti!”

Suaranya keras menggelegar sehingga genting rumah serasa terguncang.

Segera Pang Bun-hiong menghentikan serangannya dan melompat mundur, katanya dengan tertawa, “Syukurlah Ciu-pothau datang, coba bocah ini akan lari ke mana?”

Pemuda berbaju ringkas juga berhenti perang tanding dan berucap, “Harus dua mata uang baru menerbitkan bunyi, kalau masuk penjara biarlah kita lakoni bersama.”

“Pang-siauya, apa-apaan ini?” tanya Ciu-pothau dengan menarik muka.

“Ah, tidak apa-apa, lagi iseng, maka main-main dengan sahabat ini,” jawab Bun-hiong dengan tertawa.

“Main-main?” omel Ciu-pothau. “Coba restoran orang telah kau bikin porak-poranda semacam ini, masa ini cuma main-main?”

“Jangan khawatir, semua perhitungkan atas rekeningku saja,” ujar Bun-hiong.

Si pemuda baju ringkas menjengek, “Hm, memangnya kau kira hanya kamu saja yang punya uang? Biar kukatakan, aku juga sanggup memberi ganti rugi!”

Sembari bicara ia terus mengeluarkan sepotong uang perak dan dilemparkan kepada kuasa restoran sambil berseru, “Ini, ambil! Tentu cukup untuk ganti rugi semua kerusakan ini.”

Cepat si kuasa restoran mengambil uang perak itu dan mengucapkan terima kasih.

Tapi Pang Bun-hiong merasa kehilangan muka, teriaknya dengan gusar, “Kurang ajar! Kan sudah kukatakan aku yang akan memberi ganti rugi, sekali kubilang begitu tetap aku yang akan memberi ganti rugi, kau berani berebut membayar denganku?”

“Memangnya mau apa? Jika tidak terima, mari kita berhantam lagi, cuma harus cari suatu tempat lain saja,” ujar si pemuda baju ringkas dengan tertawa.

“Baik, boleh kita bertarung lagi, barang siapa menang, dia yang wajib membayar ganti rugi,” kata Bun-hiong.

“Dan di mana tempatnya?”

Bun-hiong berpikir sejenak, lalu berkata dengan tertawa, “Haha, kita memang perlu mencari suatu tempat sepi yang tak terganggu. Begini saja, menjelang tengah malam nanti kita bertemu di ….”

Lalu ia mendekat dua langkah ke samping lawannya dan mengucapkan nama tempat yang dimaksud dengan suara lirih, lalu menegas dengan suara keras, “Nah, bagaimana? Setuju?”

“Baik, kupasti datang tepat pada waktunya,” jawab si pemuda baju ringkas.

Bun-hiong lantas berkata kepada kuasa restoran, “Kembalikan uang perak itu kepadanya.”

“Tidak perlu,” ujar pemuda baju ringkas. “Jika aku kalah baru kudatang mengambilnya kembali.”

Habis ini ia memberi hormat kepada Ciu-pothau dan berkata, “Maaf, sekarang aku boleh pergi bukan?”

Ciu-pothau memandang Pang Bun-hiong sekejap, dilihatnya pemuda itu mengangguk, maka ia lantas memberi tanda dan berkata, “Baik, boleh pergi!”

Dengan tersenyum pemuda baju ringkas lantas meninggalkan restoran itu.

Lalu Ciu-pothau berkata kepada Pang Bun-hiong, “Pang-siauya, engkau ini kok selalu mencari gara-gara saja? Lain kali jika mau berkelahi hendaknya pergi ke luar kota saja.”

Bun-hiong mengebas bajunya yang kotor sambil menjawab dengan tertawa, “Baik, malam nanti kami memang akan berkelahi di luar kota.”

“Di luar kota mana?” tanya Ciu-pothau.

“Maaf, tak dapat kuberi tahu,” kata Bun-hiong sambil memicingkan sebelah mata, lalu tinggal pergi.

*****

Ketika malam tiba, cahaya lampu gemerlapan di sana-sini.

Tempat yang paling ramai pada waktu malam di kota Kim-tan adalah sebuah gang yang disebut “Gang Bunga” di dekat gerbang utara. Sebab jalan ini memang sesuai dengan namanya, tempat hiburan, tegasnya tempat “lampu merah”.

Di antaranya yang paling terkenal adalah sebuah rumah hiburan yang bernama “Lau-jun-ih” atau Paviliun Semi Abadi.

Malam ini si pemuda berbaju ringkas itu sudah berganti baju preman, dengan menggoyang kipas lempit dikunjunginya tempat pelesir itu.

Setiba di depan Lau-jun-ih, ia merandek dan melongak-longok, segera seorang calo menyongsongnya dengan cengar-cengir dan menyapa, “Kongcu ini silakan duduk di dalam, apa ingin cari nona jelita?”

Anak muda itu mengangguk dan melangkah ke dalam.

Calo itu membawanya ke ruangan tamu dan duduk serta disuguh secangkir teh harum, lalu bertanya dengan tertawa, “Kongcu she apa?”

“Liong,” jawab pemuda itu.

“Oh, kiranya Liong-kongcu,” ujar si calo. “Numpang tanya, apakah Liong-kongcu sudah ada kenalan di sini?”

“Tidak ada,” jawab pemuda she Liong itu, “cuma berani kukatakan di Lau-jun-ih kalian ini ada seorang nona bernama Giok-nio, entah dia ada atau tidak?”

“Oo, Liong-kongcu mau panggil nona Giok-nio?” calo itu menegas dengan melengak.

“Ya,” pemuda she Liong mengangguk.

Si calo memperlihatkan rasa menyesal, katanya, “Ai, sungguh tidak kebetulan. Selama beberapa hari ini nona Giok-nio tidak di tempat, bagaimana kalau Liong-kongcu panggil nona yang lain?”

“Apa betul tidak ada?” pemuda she Liong menegas.

“Sungguh tidak ada, masa hamba berani berdusta,” ujar si calo. “Cuma, hihi, hendaknya Kongcu jangan kecewa, bagaimana kalau hamba memanggilkan nona lain yang lebih cantik daripada Giok-nio, tanggung Kongcu pasti puas.”

“Dia pergi ke mana?” tanya pemuda she Liong.

“Hamba sendiri tidak jelas.”

Pemuda itu berpikir sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Baiklah, boleh coba panggilkan satu.”

Dengan gembira si calo mengiakan, segera masuk ke dalam, tidak lama kemudian keluar lagi dengan membawa seorang nona, katanya dengan tertawa, “Coba Kongcu lihat, cantik bukan?”

Nona ini berusia antara 20-an, bertubuh ramping, raut muka potongan daun sirih dan cukup menarik, ditambah lagi alis lentik dan mata jeli, mulut mungil, tampaknya memang memikat.

Si nona berdiri di tepi pintu, lengan baju setengah menutupi mukanya dengan lagak malu-malu kucing.

Pemuda she Liong mengangguk, agaknya merasa puas, sapanya dengan tertawa, “Nona ini bernama siapa?”

“Dia bernama Jiu Yan, belum lama baru datang sehingga tidak begitu pintar meladeni tamu, hendaknya Kongcuya maklum,” ujar si calo dengar tertawa. Lalu ia berkata kepada si nona, “Nah, nona Jiu Yan, lekas mengundang Kongcuya ini ke dalam.”

Jiu Yan memandang pemuda she Liong dengan lirikan memikat, dengan likat ia membalik tubuh dan menyingkap tabir.

Pemuda itu tahu maksudnya, dengan tersenyum ia ikut masuk ke dalam.

Jiu Yan membawanya ke sebuah kamar yang terpajang cukup indah, lebih dulu ia memberi hormat dan berkata dengan suara renyah, “Silakan duduk, Liong-kongcu.”

“Maaf jika aku mengganggu,” ucap pemuda she Liong.

“Ah, janganlah Kongcu merasa sungkan,” ujar Jiu Yan dengan tertawa manis.

Pemuda itu lantas duduk di depan sebuah meja kecil yang indah, katanya pula, “Nona secantik bidadari, sungguh sangat beruntung dapat berkenalan denganmu.”

Jiu Yan menuang secangkir teh dan ditaruh di depan pemuda itu, lalu duduk di sampingnya, katanya dengan malu-malu, “Perempuan biasa seperti diri hamba ternyata beruntung ditaksir oleh Kongcu, sungguh hamba sangat berterima kasih, mohon Kongcu suka banyak memberi petunjuk.”

Melihat si nona dapat bicara dengan sopan, timbul kesan baik si pemuda she Liong, ia pegang tangannya yang putih dan berkata, “Ehm, pandai benar caramu bicara.”

Jiu Yan tertawa manis, “Terima kasih atas pujian Kongcu. Padahal di Lau-jun-ih kami ini, hamba terhitung paling bodoh.”

“Berapa usiamu tahun ini?”

“Dua puluh,” jawab Jiu Yan sambil menunduk malu.

“Berasal dari mana?”

“Di sini.”

“Haha,” si pemuda tertawa. “Di luar dugaan juga jawaban ini ….”

“Oo?” Jiu Yan ingin tahu lebih lanjut.

“Banyak juga nona yang pernah kulihat, setiap kutanya asal usul mereka, selalu mereka menceritakan kisah hidupnya yang memilukan.”

“Buat apa begitu?” ujar Jiu Yan tersenyum. “Selama ini tidak pernah kuceritakan kisah hidupku, sebab meski kuceritakan juga tidak ada gunanya.”

“Memang betul,” kata si pemuda.

“Apakah Kongcu perlu memanggil daharan?”

“Baik,” pemuda itu mengangguk.

Segera Jiu Yan keluar dan memberi pesan agar menyiapkan arak dan santapan, lalu kembali ke kamar, tanyanya dengan tertawa, “Kalau boleh mohon tanya nama Kongcu yang terhormat.”

“It-hiong,” jawab si anak muda.

“Di mana kediaman Kongcu?”

“Tidak punya kediaman pasti, berkelana kian kemari,” jawab si pemuda alias Liong It-hiong.

“Tampaknya watak Kongcu sangat jujur dan suka terus terang.”

“Masa?!”

“Kebanyakan orang lelaki yang datang ke sini, jelas mereka datang untuk mencari kesenangan, tapi mereka berlagak mengunjuk rasa simpatik atas nasib kami, hanya engkau yang tidak bersikap demikian.”

Liong It-hiong tertawa. “Di dunia ini sangat banyak orang yang bernasib malang, jika setiap orang harus solider kan runyam, cuma ….”

“Cuma apa?” tanya Jiu Yan.

“Caraku bersimpati kepada orang perempuan semacam kalian hanya dengan semacam barang.”

“Oo, barang apa?”

“Uang!”

Jiu Yan tertawa mengikik, “Lelaki yang datang ke sini masakan berani tidak memberi uang.”

“Namun yang kuberikan jauh lebih banyak daripada lelaki lain.”

Jiu Yan memperlihatkan rasa tidak percaya, “Apa betul?”

Liong It-hiong menyeruput tehnya, lalu berkata, “Ingin kutanya padamu, bukankah kau kenal seorang pemuda bernama Pang Bun-hiong?”

“Tentu saja kukenal,” jawab Jiu Yap. “Dia adalah pemuda tukang foya-foya terkenal di kota ini, tidak ada seorang nona penghuni Gang Bunga ini yang tidak kenal dia.”

“Bila datang, setiap kali dia membayar berapa kepada kalian?” tanya It-hiong.

“Tidak tentu,” tutur Jiu Yan. “Kalau lagi senang, terkadang sekali memberi 50 tahil perak.”

“Sekarang kuberi seratus tahil perak padamu,” kata Liong It-hiong sambil mengeluarkan sepotong uang emas dan diberikan kepada si nona, katanya pula dengan tertawa, “Emas ini kalau dinilai persis seratus tahil perak.”

Mata Jiu Yan terbelalak, katanya dengan sangsi, “Hei, Kongcu … apakah engkau bergurau?”

“Tidak,” jawab It-hiong.

Jiu Yan mengamati uang emas yang dipegangnya, terasa kejut dan girang, ucapnya, “Kongcu tentu kaya raya bukan?”

“Tidak aku sangat miskin, saking rudinnya terkadang aku tidak makan, namun bila pegang uang lantas kuhamburkan.”

“Cara ini tidak betul,” ujar Jiu Yan.

“Betul atau tidak sukar dikatakan, selama ini tidak pernah kupikirkan soal ini …. Ah, biarlah kita ganti pokok bicara. Konon di Lau-jun-ih kalian ini ada seorang nona bernama Giok-nio?”

“Betul, dia sangat laris,” jawab Jiu Yan.

“Sekarang dia ada atau tidak?”

“Tidak ada, sudah pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Kabarnya pindah ke Kim-leng (kota Nanking sekarang).”

“Tapi si calo tadi bilang Giok-nio selama beberapa hari ini tidak masuk, dia tidak bilang pindah ke Kim-leng segala.”

“Wajar jika dia bilang begitu, kalau dia katakan terus terang Giok-nio tidak berada di sini lagi, kan para tamu bisa angkat kaki semua,” ujar Jiu Yan, lalu ia tanya dengan tertawa, “Kongcu juga kenal Giok-nio.”

“Tidak,” jawab Liong It-hiong.

“Dan Kongcu ingin mencari dia?”

“Sebenarnya memang berniat demikian, sebab sering kudengar pujian orang akan kecantikan dan kepandaiannya, maka ingin belajar kenal.”

“Sudah delapan atau sembilan hari dia pergi,” tutur Jiu Yan.

“Sebab apa dia pergi dari sini?”

“Entah, mungkin dia pikir di Kim-leng akan mendapatkan uang lebih banyak.”

“Di mana dia tinggal di Kim-leng?”

“Kalau tidak salah dia bilang Boan-jun-wan.”

Selagi It-hiong hendak tanya lebih lanjut, dilihatnya pelayan membawakan arak dan hidangan, sesudah pelayan pergi barulah It-hiong tanya pula, “Sesungguhnya siapa nama aslinya?”

Sambil menuangkan arak Jiu Yan menjawab, “Tidak begitu jelas, meski cukup lama kami berkumpul, namun tidak pernah saling tanya nama asli masing-masing.”

Lalu dia menyodorkan arak yang dituangnya kepada anak muda itu, “Silakan minum Kongcu. Jika malam ini engkau penujui hamba, hendaknya jangan kau singgung-singgung Giok-nio lagi.”

It-hiong tertawa dan menenggak habis isi cawan itu, katanya, “Ya, betul, aku memang kurang sopan, masakah membicarakan seorang nona lain di depan nona.”

“Jika kau sebut dia lagi aku akan marah lho!”

“Baik, takkan kusebut dia pula,” kata It-hiong, dia mulai makan-minum di bawah ladenan Jiu Yan yang mesra itu.

Melihat anak, muda itu menenggak setiap cawan arak yang dituangkan, Jiu Yan rada khawatir, tanyanya, “Bagaimana takaran minummu?”

“Lumayan,” jawab It-hiong.

“Jangan mabuk lho.”

“Tidak, malam ini aku ada urusan, tidak boleh mabuk.”

Jiu Yan salah tampa akan ucapan anak muda itu, mukanya menjadi merah, ucapnya dengan tertawa malu, “Aku paling takut pada orang mabuk, jika kau pun mabuk, tentu takkan kuladenimu.”

It-hiong terus merangkulnya dan dicium, katanya dengan tertawa, “Jangan khawatir, aku takkan mabuk.”

Sembari bicara sambil meraba sini-sana ia tanya, “Eh, beri tahukan padaku, bagaimana pribadi bocah Pang Bun-hiong itu?”

“Oo, engkau tidak kenal dia?”

“Ya, aku cuma tahu dia kaya dan berpengaruh, juga memiliki Kungfu yang tidak lemah.”

“Konon ayahnya pernah menjadi pembesar tinggi di kota raja, sekarang sudah pensiun dan merupakan hartawan terkemuka di kota ini, jadi dia memang kaya dan berpengaruh.”

“Kungfunya belajar dari siapa?”

“Hal ini tidak kuketahui.”

“Bagaimana pribadinya?”

“Sangat royal.”

“Perilakunya?”

“Sangat romantis, cuma tidak serupa kaum pangeran dan putra bangsawan yang suka berbuat sewenang-wenang.”

“Apakah dia sangat suka main menang-menangan dan menganiaya orang dan sebagainya?”

“Tidak pernah terdengar.”

“Kau bilang dia sangat romantis, coba katakan bagaimana romantisnya?”

“Konon setiap perempuan cantik tentu diubernya dan takkan berhenti sebelum terkabul keinginannya.”

“Aku juga sangat romantis, kau percaya tidak?”

“Kenapa tidak percaya,” jawab Jiu Yan sambil mencolek pipi anak muda itu dengan tertawa. “Melihat bentukmu setiap orang tahu pasti perayu.”

It-hiong terbahak terus memondongnya menuju ke tempat tidur ….

Setengah jam kemudian baru Liong It-hiong meninggalkan rumah hiburan itu dengan badan segar dan wajah berseri, sambil menggoyang kipas dia menuju ke luar kota.

Kira-kira dua-tiga li di luar kota, ia memandang rembulan yang menghias di tengah cakrawala, gumamnya, “Sudah dekat tengah malam, aku harus cepat menuju ke sana.”

Serentak ia berlari cepat ke depan, hanya sebentar saja ia sudah sampai di kaki gunung yang sunyi dan jauh dari rumah penduduk.

Ia berhenti di situ dan memandang sekelilingnya, lalu menanjak ke atas mengikuti sebuah jalan setapak.

Setiba di pinggang gunung, tiba-tiba ia merasakan keadaan tidak enak, ia berhenti, dengan sinar mata mencorong ia memandang ke hutan sebelah kanan sambil menegur, “Pang Bun-hiong, apakah kau?”

Namun tiada jawaban apa pun dari dalam hutan.

“Hmk,” jengek It-hiong. “Orang gagah macam apa main sembunyi-sembunyi? Ayo menggelinding keluar!”

“Oouhh ….” terdengar suara rintihan lemah berkumandang dari sana.

It-hiong terkesiap, “Siapa itu?”

Tetap tidak ada jawaban.

Kening It-hiong bekernyit, jengeknya pula, “Keparat, kudatang untuk duel denganmu, jika sengaja kau main gila, terhitung orang gagah macam apa?”

“Auuhh ….” kembali berkumandang pula keluhan lemah itu.

Hati It-hiong mulai curiga, ia berpikir sejenak, lalu memutuskan akan menyelidiki keadaan sebenarnya di dalam hutan, diam-diam ia siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan, lalu beranjak ke dalam hutan.

Baru belasan langkah masuk ke dalam hutan, sekilas pandang, seketika berubah air mukanya.

Dilihatnya satu orang, seorang yang sudah kempas-kempis tinggal ajalnya.

Usia orang ini antara 40-an, dahi lebar mata besar, alis tebal seperti sikat, mukanya kereng, dia memakai baju ringkas warna hitam dengan deretan kancing di depan, memakai sepatu sol tipis, saat itu sedang bersandar di batang pohon dengan ujung mulut mengucurkan darah, tampaknya terluka sangat parah.

Di sampingnya tertaruh sebuah peti berwarna hitam, bentuknya serupa peti wasiat yang biasanya digunakan orang untuk menyimpan barang berharga, pada pegangan peti itu terikat seutas rantai besi.

Menghadapi orang terluka parah, cepat It-hiong mendekatinva dan bertanya, “Eh, saudara ini kenapa?”

Mata orang itu setengah terpejam dan buram, ia membuka mulutnya yang berdarah dan mengeluarkan suara terputus-putus, “Sia … siapa engkau?”

“Aku Liong It-hiong.”

“O, Tayhiap ….” semangat orang itu tampak terbangkit.

It-hiong mengangguk.

Tangan kanan orang itu sedikit terangkat, maksudnya seperti minta It-hiong mengangkatnya bangun, katanya lemah, “To … tolong ….”

It-hiong berjongkok untuk memapahnya sambil bertanya, “Saudara ini siapa, kenapa sampai terluka?”

Orang itu tidak menjawab, ia pegang tangan kiri It-hiong, lalu diambilnya rantai besi terus diikat pada pergelangan tangan, katanya dengan lemah, “Harap … harap sam … sampaikan barang ini ke … kepada Cap-pek-pan-nia ….”

Berucap sampai di sini, mendadak kepalanya terkulai miring ke samping, lalu tidak bergerak lagi, nyata dia sudah mati.

Keruan It-hiong terkejut, serunya, “Hei, hei! Kau bilang apa? Kau bilang sampaikan barang ini kepada siapa!”

Namun biarpun dia berteriak-teriak dan menggoyang-goyang tubuhnya, lelaki setengah baya itu sudah terkulai dan tidak bernapas lagi.

Dengan tercengang ia pandang tubuh yang sudah tak bernyawa itu hingga sekian lamanya, akhirnya bergumam sambil menggeleng kepala, “Buset, sesungguhnya bagaimana jadinya ini?”

Waktu ia periksa rantai yang mengikat pada pergelangan tangannya, seketika hati tenggelam, serunya, “Wah, celaka! Ini kan berarti membikin susah orang?”

Kiranya pada ujung rantai itu terpasang sebuah borgol baja dan sekarang borgol itu membelenggu erat pergelangan tangannya. Ini berarti kalau belenggu itu tidak dapat dibuka maka peti hitam itu pun akan senantiasa berdampingan dengan dia dan tak terpisahkan.

Ia coba membetot, terasa belenggu itu semakin kencang, tentu saja ia cemas, ia coba mengangkat peti hitam itu, diamati dan diperiksa, bobot peti terasa agak berat, ternyata terbuat dari baja.

“O, Thian, barang apakah ini?!” keluhnya pula.

Ia tidak menaruh minat terhadap isi peti hitam itu, yang dirasakan gawat adalah belenggu yang mengikat pergelangan tangannya sebab sebentar dia harus bertempur dengan Pang Bun-hiong di atas gunung, kalau belenggu ini tidak lekas disingkirkan akan berarti dia bertempur dengan membawa sebuah beban, dengan begini jelas dia pasti akan kalah.

Tapi apa daya?

Ia pandang mayat lelaki setengah umur itu, tiba-tiba teringat olehnya mungkin kunci borgol berada pada bajunya, cepat ia menggerayangi tubuh mayat itu.

Akan tetapi meski sekujur badan mayat itu sudah digagapi, hanya dapat dikeluarkan belasan tahil perak saja, selain itu tidak ada sesuatu benda lagi.

Ia kecewa dan juga gelisah, tanpa terasa ia menggerutu terhadap mayat itu, “Hm, engkau sungguh terlalu. Jika kau minta kusampaikan peti ini kepada seorang, cukup asalkan kuterima permintaanmu dan tentu akan kulaksanakan, kenapa kau belenggu peti ini di tanganku?” Ini kan sama dengan membikin susah padaku.”

Segera terpikir juga olehnya untuk menggunakan pedang. Ia lolos pedang yang tergantung di pinggang, tapi ia cuma menggeleng kepala saja sambil memandang pedangnya, sebab disadarinya pedang sendiri bukan pedang pusaka yang dapat memotong besi seperti merajang sayur, tidak mungkin dapat memotong rantai atau belenggu baja itu.

Ia menghela napas, pedang berbalik digunakannya untuk menggali tanah.

Tidak lama kemudian sebuah liang sedalam tiga-empat kaki telah digalinya, diseretnya mayat lelaki setengah umur itu ke dalam liang, lalu diuruk lagi dengan tanah, kemudian ia membersihkan pedangnya dan disimpan kembali ke dalam sarungnya, habis ini barulah ia naik ke atas gunung.

Ia gulung rantai besi itu pada pergelangan tangan, peti hitam itu dikepitnya terus berlari cepat ke atas. Tidak lama sampailah dia di puncak gunung yang tandus.

Waktu ia pandang posisi rembulan di langit, diduganya sudah lewat tengah malam.

Ia coba celingukan sekitarnya, lalu berseru, “Hai, bocah she Pang, engkau sudah datang belum?”

Segera dari balik batu besar beberapa kaki di depan sana menongol sebuah kepala manusia. Siapa lagi dia kalau bukan Pang Bun-hiong.

Dia tetap berdandan seperti siangnya, masih membawa kipas lempit, perlahan ia muncul dari belakang batu padas, katanya dengan tertawa, “Kusangka engkau tidak berani datang.”

“Maaf, karena mengalami suatu kejadian aneh sehingga perjalananku terganggu, maka datang terlambat,” kata It-hiong.

“Kejadian aneh apa?” tanya Bun-hiong.

It-hiong mengendurkan tangan kirinya sehingga peti hitam yang dikepitnya merosot ke bawah, ucapnya sambil menyengir, “Kejadian aneh inilah.”

“Barang apa itu?” tanya Bun-hiong dengan heran dan kejut.

“Siapa tahu?!” ujar It-hiong. “Baru saja kusampai di pinggang gunung, mendadak kudengar suara orang di dalam hutan, semula kusangka dirimu, tapi setelah kuperiksa, kiranya seorang lelaki setengah baya yang terluka parah ….”

Begitulah ia lantas menceritakan apa yang terjadi.

Bun-hiong merasa tertarik, ia coba mendekat dan memegang peti hitam itu dan diamat-amati, lalu bertanya, “Apakah dia tidak menerangkan apa isi peti ini.”

“Tidak,” jawab It-hiong.

“Dia minta kau serahkan barang ini kepada siapa?” tanya Bun-hiong pula.

“Aku tidak jelas mendengarnya, rasanya terdiri dari empat kata, dua kata bagian depan kalau tidak salah ‘Cap-pek’ (delapan belas) apa, dua kata yang belakang aku tidak jelas.”

“Belenggu itu tidak dapat dibuka?”

It-hiong mengiakan.

“Wah, lantas bagaimana?” kata Bun-hiong.

“Aku pun tidak tahu bagaimana baiknya,” ujar It-hiong dengan kesal. “Apakah engkau dapat menolong menghilangkan benda sialan ini.”

“Wah, untuk membuka belenggu ini mungkin tidak mudah ….”

“Potong dulu rantainya, adakah engkau membawa senjata tajam?”

“Tidak,” jawab Bun-hiong menggeleng.

“Ai, bisa celaka,” ujar It-hiong dengan lesu. “Jika barang sialan ini tidak dapat dibuang, bila makan, tidur, berak dan kencing harus selalu membawanya serta, kan repot.”

“Jangan khawatir, mungkin pandai besi dapat membuangnya,” ujar Bun-hiong tertawa.

“Ya, betul, pandai besi pasti dapat membuang barang ini,” seru It-hiong girang. “Apakah ada bengkel di dalam kota?”

“Ada, cuma sekarang sudah jauh malam, bengkel besi tentu sudah tutup pintu, harus tunggu sampai besok.”

“Baik, boleh bereskan besok saja. Sekarang marilah kita mulai.”

“Tidak, takkan kutarung denganmu lagi,” ucap Bun-hiong sambil menggeleng.

“Sebab apa?” tanya It-hiong heran.

“Pada tanganmu, diganduli barang itu, tentu tidak leluasa, kalau berkelahi engkau pasti kalah, aku tidak mau menarik keuntungan demikian darimu.”

“Tidak menjadi soal, dapat kugunakan barang ini sebagai bandulan untuk menghajarmu.”

“Ah, jangan membual,” kata Bun-hiong dengan tertawa. “Tanpa barang itu mungkin dapat kau tandingi diriku, dengan beban barang itu, jelas engkau bukan tandinganku. Andaikan aku menang juga tak terpuji.”

“Jika begitu, biarlah setelah besok kubuang barang ini baru kita menentukan kalah menang lagi.”

“Baik!” kata Bun-hiong.

“Ai, entah apa dosaku sehingga tertimpa urusan sebal ini ….”

“Mungkin lantaran semalam kau main perempuan sehingga sial.”

“Dari mana kau tahu aku main perempuan?” tanya It-hiong melengak.

Bun-hiong angkat pundak. “Aku kan Te-tau-coa, ular penguasa tempat ini, dengan sendirinya segala urusan kutahu.”

“Hah, jadi selalu kau buntuti aku?” tanya It-hiong dengan mendongkol.

“Tidak, cukup kukirim seorang anak buahku untuk mencari keterangan di Lau-jun-ih.”

“Huh, rendah!” jengek It-hiong.

Bun-hiong tidak marah, katanya dengan tertawa, “Apakah engkau memang betul Liong It-hiong yang berjuluk Liong-hiap (pendekar naga)?”

“Tanggung tulen, kalau palsu uang kembali,” jawab It-hiong.

“Maaf, sudah lama kudengar namamu yang termasyhur.”

“Ah, tidak perlu mengumpak.”

“Rasanya ada jodoh juga pertemuan kita antara naga dan harimau, bagaimana kalau kita rayakan dengan minum arak?”

“Boleh, cuma apa artinya kau bilang pertemuan antara naga dan harimau?”

“Sebab ada orang menyebut diriku sebagai Hou-hiap (pendekar harimau).”

“O, kiranya kau inilah Hou-hiap yang terkenal di daerah utara dan selatan sungai besar itu. Tapi mengapa engkau mengaku sebagai Te-tau-coa?”

“Hahaha, aku kan penduduk Kim-tan, bagimu bukankah aku memang Te-tau-coa yang menguasai tempat ini?”

“Sudah sering kudengar orang bercerita macam-macam tentang Pendekar Harimau, tak tersangka engkau inilah Hou-hiap.”

“Kita ini seorang naga dan yang lain harimau, malahan nama kita sama-sana pakai Hiong (jantan), sekali ini kita harus saling mengukur tenaga untuk menentukan siapa yang benar jantan.”

“Baik, kalau besok dapat kulepaskan barang sial ini, malamnya kita tetap bertemu lagi di sini.”

“Sekarang marilah kita turun gunung saja,” tata Bun-hiong.

Maka kedua orang lantas kembali ke kota dengan damai serupa sahabat karib saja.

“Kau tinggal di hotel?” tanya Bun-hiong.

It-hiong mengiakan.

“Kudamu itu boleh juga, jangan-jangan Pek-sin-liong (si naga putih sakti) yang termasuk satu di antara lima kuda terkenal di dunia itu?”

“Betul, sekarang aku juga tahu nama kudamu itu, dia juga salah satu di antara kelima ekor kuda ternama, yaitu Sian-hong-ki (kuda pionir) bukan?”

“Sompret, tampaknya dalam segala hal engkau selalu hendak menyaingiku,” omel It-hiong.

“Siapa bilang, yang tepat adalah engkau yang menyaingiku, sebab si pionir sudah lebih tiga tahun kumiliki,” kata Bun-hiong dengan tertawa.

“Aku lebih tua daripadamu, jelas engkau yang meniru diriku.”

“Sudahlah, tak perlu banyak omong. Sekarang ingin kutanya padamu, untuk keperluan apa kau cari Giok-nio?”

“Hanya ingin melihat kecantikannya saja.”

“Hm, jauh-jauh kau datang ke Kim-tan hanya ingin main-main dengan dia?”

“Betul,” It-hiong mengangguk.

“Jangan omong kosong,” jengek Bun-hiong. “Meski Giok-nio rada terkenal di kota ini toh belum terhitung perempuan hiburan yang mengguncangkan satu daerah, pasti ada maksud tujuanmu yang lain kau cari dia.”

“Katakan betul, lantas, ada sangkut paut apa denganmu?” kata It-hiong.

“Tentunya bukan lantaran dia telah menipu duitmu bukan?”

“Jika ada seorang nona menipu duitku pasti takkan kuusut lebih lanjut, sebab bukan urusan yang aneh bila perempuan hiburan suka pada duit.”

“Kalau bukan, habis urusan apa?”

“Ada orang minta kucari dia.”

“Siapa?” desak Bun-hiong.

“Ai, kenapa kau tanya terus-menerus, janganlah kau ikut campur urusan orang lain.”

Bun-hiong mengangkat pundak dengan tertawa, “Penyakitku yang sukar diobati justru paling suka ikut campur tetek bengek.”

“Tapi jika kau ikut campur urusanku, tentu kau bisa susah.”

“Masa?”

“Habis kalau naga dan harimau bertarung, naga kan lebih kuat daripada harimau, maka kau perlu hati-hati sedikit.”

“Huh, itu kan anggapanmu, boleh kita lihat saja nanti.”

Bicara sampai di sini, mendadak kedua orang berhenti melangkah.

Liong It-hiong menyapu pandang sekejap ke kanan-kiri hutan, lalu menegur, “Siapa itu yang bersembunyi di dalam hutan?”

Baru habis berucap lantas terlihat tetumbuhan di dalam hutan bergerak, dari kanan-kiri hutan muncul dua orang.

Satu di antara kedua orang ini berusia 50-an, bertubuh tinggi besar melebihi orang biasa, mukanya kuning, kening lebar dan tulang pipi menonjol, mata lebar dan hidung besar, jenggotnya pendek kasar serupa kawat, ikat kepala melingkar, berbaju hijau ringkas dan bersenjata toya tiga ruas.

Seorang lagi berusia lebih muda, kira-kira baru 35-36 tahun, mukanya juga buas, juga memakai baju hijau ringkas, cuma bersenjata golok.

Melihat tampang mereka, jelas keduanya bukan manusia baik-baik.

Terkesiap juga hati Liong It-hiong melihat kedua orang itu, segera ia tanya Pang Bun-hiong, “Te-tau-coa, apakah mereka anak buahmu?”

“Bukan,” jawab Bun-hiong sambil menggeleng. “Selamanya aku tidak piara tukang pukul.”

Segera It-hiong memberi salam kepada kedua orang dan menegur, “Eh, kedua sahabat ini bernama siapa? Ada urusan apa kalian merintangi jalan kami?”

Si kakek yang bertubuh tegap itu mungkin memang berwatak sombong atau memang tidak kenal sopan santun, ia tidak menjawab, sebaliknya menuding peti hitam yang bergantung di pergelangan tangan kiri It-hiong itu dan bertanya, “Eh, bocah berengsek, dari mana kau dapatkan barang itu?”

Liong It-hiong adalah anak muda kosen yang sudah lama berkecimpung di dunia Kangouw, begitu mendengar ucapan orang segera diketahuinya orang berniat jahat, juga disadari pihak lawan pasti ada sangkut paut dengan peti hitam ini. Tapi dia tidak gentar, sebaliknya merasa senang, sambil mengangkat peti hitam itu ia menjawab dengan terbahak, “Haha, apakah kau maksudkan barang ini? Wah, cukup panjang untuk diceritakan, apakah orang tua terburu-buru ingin tahu?”

Mendadak kakek itu mendelik dan membentak, “Ya, lekas katakan!”

“Eh, sabar, jangan terburu nafsu,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Hendaknya kau jawab dulu pertanyaanku baru nanti kuberi tahukan.”

Orang itu menyeringai, “Tidak ada sesuatu yang dapat kujawab.”

“Apa ini berarti orang tua dilahirkan batu? Atau dibesarkan oleh biang anjing? Masa nama saja tidak punya?” kata It-hiong.

Tentu saja kakek itu gusar, mendadak ia mendesak maju, toya tiga ruas dipuntir-puntir, bentaknya, “Keparat, barangkali kamu sudah bosan hidup?!”

It-hiong mengangguk, “Betul, selama ini aku memang sudah bosan hidup, cuma tiada seorang pun yang mampu mencabut nyawaku.”

Kakek tegap itu seperti tidak tahan lagi, wajahnya beringas dan segera bergaya hendak melabrak lawan.

Tampaknya lelaki bergolok itu lebih tahu urusan, tiba-tiba ia buka suara, “Nanti dulu, Lui-heng!”

Seketika si kakek menahan gerakan menerjangnya, teriaknya dengan gusar, “Bocah ini tidak kenal mati-hidup, binasakan dia saja kan beres!”

Lelaki bergolok memberi tanda “jangan”, lalu ia memberi hormat kepada Liong It-hiong dan berkata, “Sahabat ini, coba katakan apa yang ingin kau ketahui?”

“Nama kalian,” jawab It-hiong dengan tertawa.

Lelaki bergolok tertawa ramah, jawabnya, “Maaf, lantaran alasan tertentu, terpaksa tak dapat kami beri tahukan nama dan she kami.”

“Jika begitu, kalian mau bicara apa?” kata It-hiong pula.

Lelaki bergolok menuding peti hitam yang di pergelangan tangannya dan menjawab, “Peti itu kepunyaan kami, harap dikembalikan kepada kami!”

It-hiong mengguncang-guncang peti hitam itu, lalu bertanya dengan tertawa, “Kau tahu semula barang ini berada di tangan siapa?”

“Tahu,” si lelaki bergolok mengangguk.

“Dia bernama siapa?” tanya It-hiong pula.

Advertisements

2 Comments »

  1. apa maksud silat gayung ????????????????????????????????????

    Comment by shahira — 07/03/2008 @ 1:24 pm

  2. Gayung? Yang mana ya, Mas?

    Comment by ceritasilat — 10/03/2008 @ 1:29 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: