Kumpulan Cerita Silat

09/01/2008

Perguruan Sejati (07)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:57 pm

Perguruan Sejati (07)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Tak kusangka perbuatanku mendatangkan bencana bagi kaum nelayan,” pikir Tiong Giok. “Habis kau pikir bagaimana?”

“Kupikir sesudah malam baru berlayar lagi dengan begitu mungkin juga kita bisa melalui kota itu dengan selamat!”

“Begitupun baik, andaikata tidak bisa melalui juga, tidak apa-apa aku bisa mendarat dan tak merepotkan kalian!”

Saat inilah dengan tiba-tiba dari arah daratan terdengar orang berseru: “Hei ini perahu siapa dan mau kemana?”

Tukang perahu menoleh kearah suara, segera juga membuatnya gemetar tidak karuan, karena disitu berdiri dua orang: satu jangkung satu kurus. Usianya tujuh puluhan, pakaiannya putih, rambutnyapun putih, bahkan wajahnyapun putih tidak berdarah. Pokoknya serba putih.

“Hei apakah engkau tidak mendengar pertanyaanku?” kata yang katai dengan dingin dan menakutkan.

“Oh…mau…mau ke Siang yang…”

“Bawa barang atau penumpang?”

“Penumpang!”

“Berapa orang?”

“Ada…hanya seorang…”

“Hm!” sikatai mendengus dingin dan menoleh pada yang jangkung. “Lo toa, kita masih mujur Keng an sudah dikuasai kaum Pok Thian Pang, tak sangka bisa mendapat perahu disini!”

Sijangkung tak menjawab hanya menganggukkan kepala.

“Kuminta penumpang itu turun, karena kami mau memakai perahumu!” seru sikatai.

“Apakah jie wie mau ke Siang yang juga?”

“Tidak, kami mau ke Kim leng!” kata sikatai dan terus melompat keprahu dan disusul kawannya dari belakang.

“Maaf saja Jie wie karena perahuku sudah diborong orang. Bisa tidaknya harus kutanyakan dulu kepadanya…”

“Tidak bisa harus bisa, mau tak mau harus mau!” seru sikatai.

“Ini soal mudah asal saja penumpang itu mau mengalah…”

“Hm, ia pasti mau!” kata sikatai yang terus masuk kedalam lambung perahu.

In Tiong Giok yang sejak tadi mendengari pembicaraan mereka, kini menampilkan diri. “Jie wie mau memakai perahu ini, berani bayar berapa duit?”

“Engkau boleh menghargai berapa saja!” kata sikatai.

“Aku menyewa perahu ini dua ratus tail perak, jika Jie wie mau mengganti kerugian, aku bersedia mengalah!” jawab Tiong Giok.

“Tak kukira engkau mata duitan! Pokoknya kalau kami senang, bisa memberikan lima puluh tail emas!”

“Aku sudah membayar terlebih dahulu, kuharapkan engkau sepertiku!”

“Ya hitung-hitung engkau berjasa mengantarkan perahu untuk kami, aku Ouw Kun San mau juga membayar!” kata sikatai yang terus merogo saku mengeluarkan uang emas. “Uang ini menyilaukan mata, sukar diterimanya!”

“Kupikir menerima uang paling mudah!” jawab Tiong Giok.

“Nah terimalah!” seru Ouw Kun San yang terus melemparkan uang emas itu kearah pemuda kita. Begitu cepat dan keras uang itu menyambar, tapi dengan cepat pula pemuda kita mengeluarkan jarinya, serta terdengar suara nyaring angin yang keluar dari jerijinya, membuat mandek lajunya uang emas. Secara ringan uang itu ditangkapnya, dan dilemparkan ketukang perahu. “Terimalah persenan ini!”

“Terima kasih atas kebaikan Kongcu!”

“Jangan kepadaku, berterima kasih pada orang tua ini!”

“Terima kasih atas keroyalan Jie wie!”

“Aku heran kenapa didunia ini ada yang menghambur-hamburkan uang guna memperoleh sejilid buku tipis? Ah benar-benar tolol!” kata Tiong Giok yang terus meninggalkan perahu, sesampainya didarat ia mengeluarkan sejilid buku tipis, lalu membeset-besetnya sampai hancur. “Buku ini di Kim leng bertumpuk-tumpuk, tak ada harganya, anaeh disini bisa laku lima puluh tail emas!” Dilemparkannya sobekan buku keair.

Kedua orang tua serba putih memandang ke sungai, dan kebetulan sekali dari sobekan buku itu, mereka bisa melihat huruf yang berbunyi Keng thian cit su. Wajah mereka segera berubah, dan terus berteriak keras: “Hei bocah jangan pergi dulu!” berbareng dengan habisnya suara mereka, tubuhnyapun sudah mengapung dan tiba dihadapan Tiong Giok.

“Perahu sudah kuserahkan pada kalian, kini mau apa lagi?” tanya Tiong Giok dengan mengejek.

“Engkau jangan berlagak bodoh, ketahuilah kami ini siapa?” kata Ouw Kun San. “Berani mengejek dan mempermainkan kami, artinya bosan hidup tahu!”

“Tidak tahu!” jawab Tiong Giok seenaknya.

“Kamu belum pernah melihat kami, seharusnya sudah mendengar nama kami!” seru Ouw Kun San dengan gusar.

“Tidak kenal bagaimana harus kenal?”

“Apakah gurumu tidak memberi tahu?”

“Maaf gurukupun belum pernah menyinggung nama kalian!”

“Dasar bocah tak berpengetahuan, sampai Kui coa jie sau (dua orang tua menyerupai kura-kura dan ular) yang kesohor engkau tak kenal, mau bergelandangan didunia Kang Ouw…”

“Ha ha ha kiranya Kiu coa jie sau! Oh! Nama ini cocok benar dengan tampang kalian!”

“Mampus lu!” bentak Ouw Kun San yang terus menghajar dengan lengannya. Sijangkung ya ng bernama Sing Thian Beng sejak tadi diam saja, begitu melihat temannya naik darah dan melancarkan serangan, buru-buru mencegah. “Sabar dulu,” katanya. Bocah, Han Bun Siong itu apamu?”

“Itu guruku!”

“Engkau sendiri bernama apa?”

“In Tiong Giok!”

“Oh kiranya engkau bernama In Tiong Giok!” seru sikatai yang bernama Ouw Kun San dengan kaget bercampur girang. “Lo Toa bagaimanapun tak boleh dikasih lolos!”

“Benar! Tangkap hidup-hidup!” seru Sing Thian Beng yang terus berpangku tangan dan membiarkan kawannya turun tangan sendiri.

“In Tiong Giok engkau perlu tahu, kami turun gunung separuh buku pusaka itu separuh untuk menuntut balas pada gurumu. Kini kedua soal itu bergabung padamu sendiri, bocah terimalah kematianmu!” kata Ouw Kun San yang terus bergerak, lengannya mengebas kearah dada, cepatnya seperti kilat. Akan tetapi serangan ini dengan mudah kena diengoskan pemuda kita. Ouw Kun San tertegun sejenak, tak terpikir serangannya yang dilancarkan mendadak dan cepat itu tak membawa hasil. Api amarah seolah-olah membakar dirinya “Bocah, mampus kau!” bentaknya geregetan. Ia melompat keudara dan turun menyerang dengan tangannya kearah batok kepala.

Tanpa menoleh, Tiong Giok menggeser kakinya, serangan musuh kembali mengenai angin. “Hei, sebenarnya kalian mempunyai permusuhan apa dengan guruku? Dan jangan mengira aku berkelit melulu karena takut!”

“Kami tidak mempunyai waktu mengadu mulut,” jawab Ouw Kun San, yang jelas engkau tak bisa lolos dari tanganku!”

“Hm, baik!” kata Tiong Giok, dan terus membungkuk mengambil cabang kayu dari tanah, “kalian menghendaki ilmu Keng thian cit su, nanti kuturunkan pada kalian, lihat dengan baik-baik! Agar ilmu yang kalian idam-idamkan ini bisa dipelajari sebaik-baiknya.”

“Bangsat!” bentak Ouw Kun San dan terus menyerang dengan kedua tangannya.

Perlahan tapi cepat, Tiong Giok memutar kakinya, tubuhnya merapung beberapa meter dan terus membentak: “Jika mau mempelajari ilmu pedang, sebaiknya keluarkan senjatamu!”

Siang Thian Beng yang berpangku tangan sejak tadi, membuka mulut: “Bocah ini jangan kasih hati! Lo jie hunuslah senjatamu!”

Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Ouw Kun San melucuti ban pinggangnya yang terbuat dari benang pelatina. Dan terus diputar, sehingga cahaya putih berkelebatan, mencecar pada Tiong Giok.

Dengan tenang dan penuh perhitungan Tiong Giok membiarkan senjata musuh mendekat kearahnya, baru mengengos kesamping, dan batang kayu yang digunakan sebagai senjata ditotokan kepergelangan lawannya. Begitu cepat dan diluar dugaan siapapun, tepat mengenai sasaran, Ouw Kun San merasakan lengannya kaku senjatanya hampir terlepas, dengan kaget ia mundur meninggalkan gelanggang.

“Ingat baik-baik, ini jurus pertama yang bernama It cu keng thian (sebatang kayu menunjang langit).”

Ouw Kun San murka sekali, senjatanya dikeprakkan ketanah, debu beterbangan, tubuhnya mencelat kedepan dibawah lindungan senjatanya yang berputar-putar. Menerjang kepada musuhnya yang mendongkolkan hatinya.

In Tiong Giok tersenyum menyaksikan kekalapan musuh, batang kayunya disabetkan dan diputar, dalam sekejap batang kayu itu dari satu berubah dua, dan dari dua berubah empat, dan seterusnya semakin banyak. Sedangkan gerakan ban pinggang Ouw Kun San semakin sedikit dan akhirnya hilang, berbareng dengan ini tubuhnya terpental beberapa meter dan jatuh dengan menimbulkan suara yang cukup nyaring.

“Ini perubahan kedua dari jurus pertama yang bernama Cong geng diu siau (malang melintang diangkasa), jika ujung kayu ini berubah lagi, nyawamu pasti hilang!”

Ouw Kun San mengeluarkan keringat dingin, ia melihat bajunya penuh lubang terkena senjata musuhnya.

“Lo jie, apakah engkau terluka?” tanya Sing Thian Beng.

“Masih untung tidak sampai terluka,” jawabnya dengan meringis.

“Bocah itu tampaknya sudah memahami ilmu pedang itu!”

“Memang benar!”

“Jika begitu tidak ada harapan menag lagi bagi kita!”

“Ah, belum tentu,” jawab Sing Thian Beng. “sungguhpun ia bisa, tapi belum matang. Jika serangan dipencarkan, pasti membuatnya kikuk dan gugup!”

“Ya kenapa tak perpikir kesitu,” kata Ouw Kun San, “sampai beberapa kali seranganku mengalami angin terus.”

“Cek cek cek,” tiba-tiba terdengar suar seseorang, Ouw toako apa-apaan menghadapi anak kecilsaja samapai mendeprok? Seiring dengan habisnya suara berkelebat seseorang dihadapan mereka, dengan pakaian keemas-emasan yang mentereng. Pendatang itu usianya lebih kurang tiga puluh tahun, tubuhnya ramping, wajahnya putih karena bedak yang tebal. Bibirnya memakai gincu. Jalannya berlenggang lenggok penuh gaya. Bukan lelaki bukan perempuan. Dia banci!.

Kedua orang tua memandang penuh jijik. “Hm, kiranya Oey Tin Hong, sudah lama kita tak bertemu!” kata Ouw Kun San dengan nada dingin.

Tanpa memperdulikan sikap orang yang dingin, dengan bergoyang-goyang ia menghampiri dan berkata: “Saya mendengar Jie wie Toako turun gunung lagi untuk mencari buku Keng thian cit su, betulkah?”

“Kalau benar bagaimana? Dan jika tidak bagaimana?” kata Kouw Kun San.

“Menurut berita buku itu muncul di Kim leng dan banyak yang kesana,” kata Oey Tin Hong, kenapa Jie wie Toako tidak kesana?”

“Sebaiknya jangan ikut campur dalam urusan kami!”

“Cek, cek, cek, marah dek,” kata Oey Tin Hong dengan lagak bancinya.

“Maksudku baik! Buku itu merupakan pusaka Rimba Persilatan, jika sampai kehabisan sayang sekali!”

“Eh bencong, tahubegitu kenapa engkau sendiri tidak ke Kim leng?” kata Sing Thian Beng. “Dan apa gunanya ngeberengsek disini?”

“Oh Sing Toako jangan gitu dong, saya sih bo hok ki, mana bisa dapat buku itu!” jawab Oey Tin Hong. “Ya ketemu disinipun, kebetulan saja sedang lewat. Dan heran melihat Jie wie berkelahi dengan seorang bocah.”

“Apa herannya?” bentak Ouw Kun San.

“Sorry ya,” kata Oey Tin Hong. “Apakah perlu bantuanku?”

“Hm, kutahu engkau menaruh hati pada bocah itu! Ha ha ha , kata Ouw Kun San sampai tergelak-gelak. Tgapi ketahuilah siapa bocah ini?”

“Ketahuilah bocah ini adalah penulis buku Keng thian cit su yang diterbitkan di Kim leng namanya In Tiong Giok!”

“Oh, tak sangka kecil-kecil bisa menggemparkan rimba hijau, jika Jie wie tidak menerangkan, bagaimanapun saya tak percaya dia ini In Tiong Giok adanya!”

“Bagaimana ketarikkah?”

Dengan malu-malu Oey Tin Hong menutup mulutnya, tersenyum sambil melengos. “Saya sih tidak berani mengatakan apa-apa, asal Jie wie mengijinkan beres deh!”

“Hm, dari tadi saja engkau bilang!” kata Ouw Kun San “tapi jangan anggap enak saja, engkau belum tentu menang melawan bocah itu!”

Dengan menggoyang-goyangkan kipas Oey Tin Hong tersenyum dikulum. “Ah masa ia lihay!” Kipasnya dirapatkan dan diselipkan kepinggang, lalu dihampirinya In Tiong Giok. Begitu hampir dekat, baju luarnya dibuka, dan terlihat celana dalamnya yang merah. Berbareng dengan ini, bertebaran wewangian keras memenuhi udara.

Sing Thian Beng menyaksikan ini, menggoyangkan mulut pada saaudaranya, dan terus melompat jauh kebelakang dengan siap siaga.

In Tiong Giok tidak mengenal pada Oey Tin Hong, tapi kelakuannya itu mendatangkan kesan buruk baginya. Maka itu melihat bencong ini menghampirinya, iapun sudah siap sedia dengan batang kayunya.

Tiba-tiba saja Oey Tin Hong mencabut lagi kipasnya, dan terus digoyang-goyangkan: “Hei Kongcu betulkah engkau bernama In Tiong Giok?”

“Hm, mau berkelahi boleh, jangan banyak bicara!” jawab Tiong Giok.

“Hi hi hi, galak amat,” kata Oey Tin Hong, “baru kenal mau berkelahi?”

“Jangan banyak bicara mari…” belum seelesai suaranya diucapkan, ia merasakan sesuatu hawa buruk. Cepat ia gunakan hawa sejatinya untuk mengusir hawa buruk. Usahanya ini mendatangkan perasaan tidak enak dan sebal, matanya berkunang-kunang dan kabur. Tak alang kepalang kagetnya, cepat-cepat ia menahan napas dan mundur kebelakang. Oey Tin Hong membarengi menerjang kedepan, dan menotok dengan kipasnya. “Kalau sudah merasakan Dupa Lupa Daratan milikku, engkau jangan harap bisa melarikan diri lagi!”

Sungguhpun perasaannya mabuk, Tiong Giok masih bisa bertahan juga, serangan musuh diengoskan dan terus membarengi dengan sabetan mendadak. “Buk!” terdengar sekali, kayunya itu tepat mengenai pundak musuh. Sayang tenaga dalamnya sudah buyar, biarpun tepat, tidak mendatangkan hasil yang memuaskan. Oey Tin Hong hanya terhuyung-huyung beberapa langkah.

Berbareng dengan ini Tiong Giok mengebut dengan langkah seribu. Sang Banci jadi tertegun, dan baru mengejar setelah musuhnya kabur. Tapi perbuatannya ini dirintangi Kui coa jie sau. “Lo jie kejar bocah itu, dan serahkan banci ini kepadaku!” Sing Thian Beng, terus saja melancarkan pukulan pada Oey Tin Hong sedangkan Ouw Kun San memburu pada Tiong Giok.

“Apa artinya kelakuanmu ini?” tanya Oey Tin Hong.

“Bocah itu adalah musuhku, siapapun tidak boleh campur tangan!”

“Hm, ini namanya pinjam golok membunuh orang!” kata Oey Tin Hong.

“Benar!” jawab Sing Thian Beng dengan bangga.

Oey Tin Hong membungkuk dan menunjang tubuhnya dengan tangan, lalu berputar-putar seperti ular, dan melancarkan tendangan-tendangan berangkai yang bertubi-tubi. Orang jangkung seperti Sing Thian Beng ini bagian bawahnya adalah yang terlemah. Maka itu dengan kaget ia merapung keatas, sedangkan musuhnya menggunakan kesempatan ini molos dari selangkangannya dan terus mencelat kedepan. Kipasnya tampak bergerak, mengeluarkan sinar biru yang menyilaukan mata. Menghantam pada Ouw Kun San.

Sing Thian Beng tahu itulah senjata rahasia, maka ia berteriak nyaring memperingati saudaranya: “Lo jie awas senjata gelap!”

Saat ini Ouw Kun San sedang mengejar In Tiong Giok dan hampir berhasil, biarpun mendengar peringatan dari saudaranya, untuk melepaskan buruan merasa sayang, ia hanya menggesekan kakinya, sedangkan lengan kirinya tetap menjambrret kepundak Tiong Giok, lengan kanannya mengebas kebelakang. Tak kira sebelum kibasasnnya dilancarkan, pundak kanannya dirasakan seperti digigit semut dan sakitnya meliputi seluruh punggungnya. Membuatnya menggigil dan lemaas. In Tiong Giok tidak mau membuang kesempatan, dengan sekeras-kerasnya itu melancarkan Hiat cie leng. Kasihan Ouw Kun San yang kate itu segera terhuyung dan ambruk. Ia sendiripun cepat-cepat lari kedalam hutan. Agaknya obat mabuk bekerja hebat, dengan terhuyung-huyung, ia berlari terus. Samar-samar ia mendengar suara saling bentak antara Oey Tin Hong dan Sing Thian Beng akhirnya apapun ia tak mendengar lagi. Karena kakinya memijak Lumpur dan terus roboh tak sadarkan diri….entah sudah berapa lama waktu berlalu. Waktu ia siuman dari mabuknya mendapatkan dirinya berada disebuah kolam yang cetek. Sekujur badannya penuh Lumpur. Ia bangun cepat, dan terus menuju kesebuah sungai yang tak seberapa jauhnya dari kolam. Entah bagaimana rasa mabuk dan mual sudah hilang sendiri, pikirannya terasa terang, entah apa yang menyebabkan punahnya mabuk itu. Ia turun kesungai mencuci tangan, lalu membuka bajunya, dicuci sebersihnya. Setelah diperas pakaian itu dibeber diatas sebuah batu besar. Ia sendiri duduk dipinggir batu dengan pakaian dalam, menantikan pakaiannya kering tertiup angin malam.

Ia termenung-menung dimalam sunyi sambil mengawasi bintang-bintang dilangit. Saat inilah telinganya mendengar suara tertawa halus. Tak alang kepalang kagetnya, cepat disambarnya celana dalam, serta uang dan kumala ungu lalu dilibatkan kepinggangnya, pakaiannya segera diraup dan terus ia bersembunyi kedalam air sungai. Suara tertawa semakin lama semakin dekat, empat gadis manis, menuju kearah sungai dimana Tiong Giok bersembunyi. Gadis-gadis ini masih muda-muda dan berpakaian seba hijau. “Bagaimana? Aku bilang disini terdapat sebuah sungai masih tidak percaya,” kata salah seorang yang paling besar.”

“air sungai ini bening sekali, dingin apa tidak?” kata yang lain lagi. Dan terus berjongkok memegang air.

“Bagaimana? Dinginkah?” tanya yang disampingnya.

“Sejuk!”

“Hayo kita mandi!” kata yang paling besar dan terus mereka membuka baju.

“Eh, bagaimana kalau dilihat orang?” tanya yang paling kecil.

“Tak usah takut, malam –malam mana ada orang!” kata yang besar, “Sesudah mandi kit panggil Tutan, biar dia mandi juga!” Mereka berkecimpung diair, sedangkan bulan menerangi keadaan. Begitu romantis dan tidak ubahnya seperti jaka tarub jumpai tujuh bidadari. Tiong Giok menahan napas menyaksikan keadaan ini. Ia mencoba meram, tapi mata itu melek lagi…melek lagi. Ia berdoa agar gadis-gadis itu cepat-cepat berlalu!.

Sambil bergurau gadis-gadis itu mandi dengan riangnya.

“Eh kita jangan enak sendiri, Tutan mungkin kesal menantikan kita, mari kita pulang!” kata yang besaran.

“Sebentar lagi dah,” jawab yang lain. “Berapa hari ini kita mengikuti Siocia keberbagai tempat, capai lelah belum hilang, esok sudah berangkat lagi. Maka apalah salahnya kita bermainlamaan disini.”

“Ya akupun sama saja dengan kalian.” Jawab yang besaran. “Tapi sangat mengherankan berbagai tempat dipergi, orang yang dicari tidak ada jejaknnya, mungkin sudah mati.”

“Ya, kebanyakan sudah mati.” kata yang lain, “kalau tidak, kecuali terbuat dari besi!”

“Kupikir juga begitu, kecuali ia sudah mati!”

“Ah mau dikata apa, sebagai budak, kita harus puas menerima keadaan begini,” kata yang lain.

“Kalau aku jadi Siocia tak mau berbuat sebodoh itu! Melepaskan kebahagiaan untuk mencari sengsara…Ah, celaka ada yang datang, mari kita pergi!”

Keempat perempuan itu dulu mendahului berlompat keluar, lari kearah batu dimana mereka menaruh baju.

Tiong Giok membuka mata memandang sekeliling, dan benar saja melihat seorang sedang longak longok keempat penjuru. Dibawah penerangan rembulan tegas terlihat bahwa orang itu bukan lain dari Oey Tin Hong adanya.

Keempat perempuan itu baru sempat memakai pakaian bawah saja, sedangkan pakaian lainnya masih dipegangi. Mereka tidak berkutik diam dibalik batu datang kesitu, sehingga tidak menyaksikan pemandangan indah disungai itu.

Tiba-tiba dari balik hutan berkelebat dua bayangan menghampiri pada Oey Tin Hong. Mereka ini adalah Hek pek siang kuay adanya. “Eh, bencong mana orang itu?” kata Na Beng Sie.

“Orang she In itu sudah kena dupa mabuk biar bagaimana tidak bisa pergi jauh. Paling-paling ia bersembunyi disekitar sini!”

“Nyatanya bocah itu tidak ada, biar sudah dicari antero hutan ini! Hmm, engkau jangan memandang kami seempuk Kui coa jie sau itu!” bentak Na Beng Sie.

“Tidak! Jangan salah paham, mana berani saya menipu Lo Cianpwee!”

“Pokoknya jika bocah itu tidak ketemu, batok kepalamu pecah tujuh!” ancam Lauw Siu Kim.

“Nyonya jangan marah, saya pasti bisa menemukan bocah ini…”

“Ya…ya…ya” jawab Oey Tin Hong, “barusan saja mendengar suara orang didekat sini, tapi heran sekarang tidak terdengar lagi!”

“Bocah itu sendirian saja, mau ngomong dengan siapa?” bentak Na Beng Sie.

“Sayapun heran, mungkinkah ada lagi jago-jago Kang Ouw lainnya yang turut mengejar-ngejarnya?”

Na Beng Sie kaget juga mendengar ini, dengan berbisik ia berkata pada isterinya: ” Siu Kim, berlaku waspadalah!”

“Ha, nyalimu kemana? Biar siapapun tak perlu kita takuti!” jawab istrinya dengan suara keras-keras.

“Aku bukan takut hanya memperingati saja padamu! Bagaimana kalu seperti tempo hari kita berkelahi dengan Liok Lokoay? Hanya bercapai lelah tanpa memperoleh hasil.”

“Jangan terlalu percaya omongannya banci itu, mungkin iapun mengandung maksud buruk!”

“Ah…mungkin ia tak berani!”

“Lo Cianpwee coba lihat! Dikolam ini tertera jejak kaki orang,” teriak Oey Tin Hong.

Siang koay dengan cepat sampai ditempat yang ditunjuk. “Ah benar, telapak ini masih baru, pasti telapak kaki bocah itu!” kata Na Beng Sie.

“Bocah itu pasti kecebur disini, sehingga obat mabukku punah terkena air, dan pantas dicari kemana-mana tidak ketemu…”

“Dengan punahnya obat mabuk itu, pasti ia telah pergi jauh!” kata Na Beng Sie.

“Tidak, coba lihat jejak kaki ini!” kata Oey Tin Hong. “Sesudah kecebur, pasti badannya berlumpur, untuk ini ia harus membersihkan disungai ini. Nah lihatlah, bukankah jejak kaki ini menuju kesungai itu?”

“Ya, kita harus memeriksa kesungai itu!” kata Na Beng Sie, yang terus berjalan duluan. Dan benar saja mereka menemukan Lumpur-lumpur kotor didekat sungai itu.

“Celaka! Sekali ini habislah riwayatku,” piker Tiong Giok sambil mengawasi terus gerak-gerik musuhnya.

Supaya dapat melihat terlebih luas, Na Beng Sie melompat keatas batu dipinggir sungai. Tak kira begitu ia hinggap diatas batu itu, kakinya seperti memijak sarang tikus, “Auw! Auw! terdengar seruan kaget dari bawah kakinya dan disusul empat penjuru sambil meneriakkan tajam. Keruan saja Na Beng Sie menjadi kaget, tubuhnya mencelat gesit. Ia terlalu tergesa-gesa, dan waktu turun kebumi hampir-hampir bertubrukan dengan salah satu tikus putih,” dan terdengar lagi jeritan tajam saat itu juga. Na Beng Sie terhuyung-huyung menghindari diri, akhirnya terlebih parah lagi, karena lengannya yang terpentang, membentur semacam benda lunak nan halus.

“Auw mau mampus! Mau apa kau?” perempuan itu menjerit sambil menyumpah-nyumpah. Na Beng Sie baru sadar bahwa yang terpegangnya tadi adalah benda larangan, dengankaget ia menarik lengannya. Perempuan itu dengan menutupi tubuhnya lari terbirit-birit. Tahu-tahu Oey Tin Hong menghadangnya sambil membentak: “Diam, Siapa kalian ini? Dan apa-apaan sembunyi disini?”

“Kau sendiri apa-apaan mengintip seorang mandi? Tak tahu malu!” bentak perempuan itu dengan gusar.

“Nona jangan marah, saya hanya bertanya waktu mandi tadi, adakah melihat seorang muda disungai itu?”

“Cis!” pereempuan itu meludah dan tepat mengenai muka Oey Tin Hong: “Bangsat tak tahu malu! Kamu anggap kami ini sebagai apa? Kami tidak melihat pemuda lain kecuali kamu si bangsat gila! Minggir!”

Oey Tin Hong mengusap ludah dimukanya, kegusarannya tak alang kepalang: “Hm,kalian budaj tak tahu mati, tidak tahu siapa saya ini!” Kipasnya segera dibuka dan mau turun tangan.

“Hm, tiba-tiba Lauw Siu Kim mendengus dengan dingin: “Oey Tin Hong, engkau sudah bosan hidup?”

“Hujin budak ini…” kata Oey Tin Hong dengan kaget.

“Phui!” Lauw Siu Kim mambuang ludah dengan gusar; Nyalimu besar betul! Di depanku berani mempermainkan perempuan dan memaki mereka budak!”

Oey Tin Hong cukup mengenal tabiat perempuan ini, biarpun perasaan hatinya gusar,tak berani membantahnya, ia diam sambil menundukkan kepala. Ya maaf bahwa saya salah bicara!”

Perempuan tadi mendapat kesempatan lari dan tidak kelihatan baying-bayangannya lagi. Sedangkan Lauw Siu Kim masih gusar, dan kedongkolannya ini ditimpakan kepada suaminya. “Engkau tua bangka tidak tahu diri! Tidak boleh melihat perempuan muda! Engkau kira aku ini sebagai apamu?”

“Siu Kim,” kata Na Beng Sie sambil cengar cengir jengah. “Aku mana memikir bisa sampai ditempat perempuan-perempuan itu mandi!”

“Jika bakalan tahu begitu, mungkin engkau akan girang terlebih dahulu bukan?”

Na Beng Sie mengangkat-angkat pundak tak berani menjawab.

“Hm, bagaimana perasaanmu? Menyesal mengajak aku?” bentak Lauw Siu Kim.

“Sudahlah! Sudahlah! Anggap aku yang salah,” kata Na Beng Sie sambil menarik napas panjang.

“Untuk apa menghela napas? Menyesal tidak bisa melihat perempuan-perempuan itu terlebih lama?” ejek Lauw Siu Kim.

Na Beng Sie tidak bisa menjawab, ia hanya mendongkol, untuk menghilangkan gusar hatinya, Oey Tin Hong dijadikan bulan-bulanan. “Hm, bencong sial! Sudah tahu ada perempuan mandi, kenapa engkau membawa kami kesini? Enak ya melihatku didamprat bini?”

“Saya tidak bermaksud begitu,” kata Oey Tin Hong, “jika dipikir perempuan-perempuan itu dimalam hari mandi disini, sangat mencurigakan sekali! Tambahan merekapun memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, menyesal tidak bisa kucapai mereka!”

“Kenapa tidak dari tadi engkau terangkan begitu?” kata Na Beng Sie.

“Saya…” ia melirik pada Lauw Siu Kim, kata-kata yang sudah berada ditepian bibirnya ditelan kembali dengan terpaksa.

Melihat ini membuat Na Beng Sie semakin gusar. “Semua ini kerjaanmu bukan? Pokoknya jika bocah itu tidak kau temukan, berarti celaka bagimu! Lekas cari!”

Ketiga orang itu perlahan-lahan meninggalkan tepian sungai, makin lama makin menjauh. Tak selang lama cuacapun menjadi terang.

In Tiong Giok menarik napas lega, dan cepat bangun dari sungai sambil mengenakan pakaiannya yang basah. Dengan mengambil arah yang berlawanan, ia berlari meninggalkan tempat itu. Waktu matahari terang benderang ia telah tiba disebuah kota kecil. Sebagaikan anak burung yang masih ketakutan, segan untuknya masuk kedalam kota, untuk menangsel perutnya yang lapar, ia mampir disebuah warung nasi dipinggiran kota, setelah kenyang dan membeli beberapa kue kering, cepat-cepat ia melanjutkan perjalanan.

Tujuannya adalah rumah Lim Giok Bwee di Pek liong san, untuk ini ia selalu menempuh perjalanan gunung yang sepi. Dengan begini tak mudah dirinya diketemukan orang, dan bilamana ketemu musuh dapat meloloskan diri kedalam hutan. Disamping keuntungan itu, ada pula kesulitan baginya, yakni sukar mencari makanan. Hari pertama ia menempuh perjalanan sembilan puluh lie, sejauh ini tidak ada perumahan-perumahan penduduk yang ditemuinya, membuatnya menahan lapar sepanjang jalan. Waktu hari kedua, sepanjang perjalanan tidak juga dijumpai rumah orang, laparnya sudah sampai dipuncak. Ia mengaso dibawah pohon yang rindang. Tak jauh dari situ ia melihat sebuah perkebunan jeruk, sedang berbuah lebat sekali. Dengan cepat ia menghampiri jeruk-jeruk itu masih hijau selum manis bener. Dalam keadaan lapar ia tidak perduli matang atau tidak, dipetiknya bebrrapa buah lalu dimakan dengan lahap. Jeruk itu amat masam tidak saja menghilangkan lapar, bahkan membuat perutnya semakin perih dan lapar. Ia menekan perut sambil mengawasi buah jeruk yang hijauitu, saat inilah hidungnya menghirup hawa sedap! Dengan tergesa-gesa iapun mencari dari mana datangnya hawa itu. Tak seberapa jauh dari tempat ia memetik jeruk terlihat sebuah gubuk, dari sinilah terlihat asap membumbung tinggi dan menebarkan wewangian yang sedap tadi.

Gubuk itu terbuka pintunya, yerlihat seorang gadis yang sedang menundukkan kepala dan mengipas-ngipas api, memanggang ayam.

Dengan cepat Tiong Giok menghampiri.

“Siapa disitu?” tegur sigadis sambil menoleh.

In Tiong Giok menjadi kaget, bukan karena kedatangannya diketahui sigadis, melainkan wajah gadis itu luar biasa sekali. Kiranya separuh dari wajah gadis itu amat cantik, sebaiknya yang sebelah buruknya bukan b uatan. Jadilah antara cantik dan buruk itu pada datu wajah. Waktu Tiong Giok melihat adalah bagian yang cantik, dan waktu gadis itu menoleh memperlihatkan wajahnya yang buruk hampir dia sawan dibuatnya.

Gadis itu memandang tajam kepada Tiong Giok, yang gugup tak bisa menjawab. Entah kenapa ia menjadi gusar, dilempar kipas dan diambil toya, dengan cepat ia melompat keluar, nyatanya ia pandai bersilat.

“Karena nona kulihat sendirian saja maka membuatnku gugup bertanya jawab!”

“Apa keperluanmu kesini?”

“Terus terang perutku lapar! Satu hari satu malam belum makan, bisakah nona memberi pertolongan?”

“Sayang kau datang bukan pada waktunya, ayam panggang itu khusus ayah!”

“Tolonglah aku lapar sekali…..”

“Tak bisa! Ayahku tak dirumah, andaikata ia ada tak mungkin bisa menolongmu!”

“Aku tidak ingin ayam itu, pokoknya asal makan, sudah cukup!”

“Tak bisa!” kata gadis itu. “Kalau ayahku mengetahui, aku bisa didampratnya.”

“Aku lapar sekali…”

“Engkau harus tahu, ayahku bertabiat kasar, jika ia pulang melihatmu kukuatir…”

“Aku tak mau menyusahkanmu, asal diberi makan, aku lantas berlalu!”

“Parasmu yang kelaparan, memang harus dikasihani, baiklah kuberikan sedikit makanan, asal kau cepat-cepat pergi!” kata gadis itu dan terus menggapaikan tangan, mengajak Tiong Giok masuk.

Didalam rumah yang sederhana itu, hanya terdapat sebuah meja dan beberapa kursi, perabotannya kurang sekali. Didinding terlihat sebilah golok besar, gagangnya mengkilap, karena terbuat dari emas. Keadaan ini mendatangkan keheranan bagi pemuda kita, ia tahu kehidupan penghuni rumah ini amat miskin, tapi goloknya itu merupakan benda yang tidak ternilai harganya. Mungkinkah ayah beranak ini merupakan jago-jagonya Kang Ouw yang mengasingkan diri? Tengah ia berpikir, sigadis sudah keluar dari dapur, membawakan kuah ayam dan kueh kering. “Lekaslah makan dan cepat pergi!” desak sigadis.

Sambil menghaturkan terima kasih Tiong Giok menerima makanan itu dan terus memakannya dengan lahap sekali. Sigadis memandang si pemuda kita itu penuh dengan rasa kasihan. IA masuk lagi kedapur menambah kuah ayam dan sedikit makanan. “Kulihat engkau lapar sekali, ini ada sedikit tambahnya!”

“Terima kasih atas kebaikan nona,” kata Tiong Giok, “tapi makanan ini untuk ayahmu, bagaimana kalau tahu, aku kuatir.”

“Engkau ini aneh sekali, tadi meminta-minta sekarang timbul rasa kuatir, apa maksudmu?” kata gadis sambil tersenyum. “Semua manusia bisa merasa lapar, kenapa engkau merasa sungkan?”

Tiong Giok tersenyum dan terus menghampiri makanan yang diberikan padanya, setelah itu ia mengeluarkan sebutir mutiara dan memberikan pada sigadis. “Atas pertolonganmu ini seumur hidupku tak kulupakan, ini sekedar tanda terima kasihku!”

“Hm, dengan ini engkau membayar kuah ayam dan kueh kering itu?” kata sigadis sambil melirik sinis.

“Aku tidak bermaksud demikian! Pemberianku sekedar tanda terima kasihku! terimalah!”

“Oh kutahu, engkau sengaja memberikan mutiara ini agar ayahku tahu engkau datang, betulkah begitu?”

Tiong Giok tak berdaya, wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat menyimpan kembali mutiaranya kedalam saku. “Ah, maafkan nona dapatkah kutahu namamu? Agar kuingat-ingat!”

“Hm, maksudmu dengan mengenal namaku engkau mau datang lagi kesini?”

“Pertemuan ini adalah kebetulan, entah tahun kapan kita bisa bertemu lagi .”

“Hm, artinya belum tentu bisa ketemu lagi, untuk apa mengetahui namaku bukan?”

“Andaikata tidak bertemu lagi, budi yang kuterima ini tak bisa kulupakan. Nah terimalah terima kasihku dan permisi!” kata Tiong Giok yang terus merangkapkan tangannya memberi hormat sambil manggut-manggut dan terus keluar dari rumah gubuk itu.

Baru saja ia keluar rumah, gadis itu dengan kecepatan seperti kilat menarik baju Tiong Giok. “sabar sebentar!” serunya perlahan.

“Engkau tak boleh pergi dulu, ayahku sudah pulang!” kata si gadis dengan wajah khawatir.

Tiong Giok memasang kuping, dan benar saja ia mendengar suara tertawa dari perkebunan jeruk, dengan mengerutkan alis dia memandang pada si gadis sambil menghibur: ” Nona tak usah kuatir, jika yahmu bertanya akan kuakui semua, bahwa makanan ini aku yang memakannya!”

“Engkau tidak mengetahui tabiat ayahku sangat kasar sekali!” kata si gadis.

“Kebun jeruk ini merupakan daerah terlarang bagi orang luar, engkau bukan saja masuk ke kebun jeruk bahkan masuk kedalam gubuk ini, jika diketahuinya, hanya kematian bagimu!”

“Kenapa ayahmu begitu tidak tahu aturan?”

“Kini bukan saatnya mengadu aturan, kata sigadis, kuharap engkau bersembunyi dulu, baru berlalu!”

Suara dari kebun jeruk sudah semakin dekat, yang datang bukan hanya seorang tetapi banyakan. Sigadis dengan gugup menarik lengan Tiong Giok kedalam rumah. Gubuk itu hanya mempunyai dua kamar, tidak ada tempat bersembunyi lainnya. Setelah mengerutkan kening sejenak, gadis itu menarik si pemuda kedalam kamarnya dan mendorong keatas pembaringan, lalu menurunkan kelambu. “Karena terpaksa kulakukan semua ini, harap tenanglah diam disini” Ia tidak melanjutkan suaranya karena dari luar sudah terdengar suara paraunya memanggilnya: “Ciu kauw! Ciu kauw!”

“Ya Tia!” sahut Ciu kauw dan terus keluar kamar sambil menutup pintunya.

Sesaat didepan pintu rumah terlihat banyak orang, yang paling depan adalah seorang tua yang berusia enam puluhan, dibelakangnya terlihat dua orang tua berpakaian serba putih disusul seorang perempuan cantik yang genit. Paling akhir adalah lima laki-laki tinggi besar berbaju merah.

“Tia tia baru pulang?” tanya Ciu kouw.

“Hei budak mari kuperkenalkan dengan beberapa Lo Cianpwee ini!” kata orang tua yang berjalan paling depan.

Perempuan cantik yang genit itu menghampiri pada Ciu Kouw. “Cek, cek, cek, Cie Toako inikah puterimu itu?”

“Ya benar, Su kouw coba kau lihat sudah besar bukan?”

“Ah, benar saja!” kata perempuan itu yang bukan lain dari pada Hoo Su Kouw adanya. Lima belas tahun tidak melihatnya, sudah sebesar ini. Jika ketemu dijalanan pasti aku tidak mengenalnya lagi. Waktu rasanya cepat berlalu yang kecil telah menjadi besar, dan kita telah menjadi tua.”

“Ah, siapa bilang kau sudah tua? Kulihat Su Kouw masih muda seperti dulu, kata salah seorang laki-laki tinggi besar. Membuat yang mendengar bergelak-gelak.

“Ah, engkau bisa saja, kata? Hoo S Kouw yang terus memandang pada Ciu Kouw.

“Masih kenalkah denganku?”

“Ciu kouw menggelengkan kepala, sudah lupa!”

“Ah, masakan sampai bibi Hoo ini kau lupakan?” kata siorang tua she Cie, atau ayahnya Ciu kouw.

“Hoo A-ie,” kata Ciu kouw.

“Ah dasar anak pintar,” kata Hoo Su Kouw “lima belas tahun yang lalu engkau baru sebesar ini!”

Kini Ciu kouw berusia delapan belas tahun, berbadan lebih tinggi dari Hoo Su Kouw sendiri, kini masih dianggap sebagai bocah cilik terus, mendatangkan rasa pembangkang yang tidak sedap pada dirinya. Dengan mengerutkan alis ia membuang muka.

Orang tua she Cie menunjuk pada dua orang tua berbaju putih. “Ini adalah Kui coa jie sau dan yang lima ini terkenal sebagai Lo sie ngo houw (lima macan keluarga Lo) dari Toa pa san semuanya kawan baikku!”

Ciu kouw menghaturkan hormat pada merekas satu persatu.

Seangkan Tiong Giok mendengari ucapan mereka dari persembunyiannya dengan hati kebat-kebit. Semua yang berada diluar itu adalah musuhnya, untung ia bisa bersembunyi, jika tidak pasti lebih banyak celakanya daari selamatnya. Ia tidak mengetahui apa hubungannya antara tuan rumah dengan Hoo Su Kouw? Tapi dari percakapan mereka dapat diketahui mereka sebagai kawan lama, berarti tuan rumah itupun sebagai orang jahat juga. Kini ia berada didalam rumah itu, tak ubahnya seperti berada didalam mulut macan!

Setelah memperkenalkan semua kawannya pada anaknya, orang she Cie itu masuk kedalam rumah, tiba-tiba saja wajahnya menjadi berubah. “Siapa yang datang kerumah?” tegurnya pada Ciu kouw.

“Tidak ada yang datang!”

“Siapa yang habis makan ini?”

“Oh, ini bekasku makan, dan belum sempat dibenahi!” kata Ciu kouw.

“Makin besar makin malas, lekas beresi,” kata Cie Lo tua (orang tua she Cie).

“Dan potong lagi beberapa ekor ayam serta hangati arak, sehabis makan kami masih mempunyai urusan penting untuk dikerjakan!”

Ciu kouw segera keluar rumah sedangkan tamu-tamunya duduk mengelilingi tuan rumah. Mengadakan perundingan penting. “Cie Toako tak perlu repot-repot menyediakan ini itu, yang penting kita harus memburu waktu untuk menciduk budak she In itu,” kata Ouw Kun San.

“Tak usah kuatir,” kata Cie Lo toa. “asal saja dia jalan kemari, passti takkan lolos!”

“Waktu di Ko ho pou jalan Tian lo te bong sudah ditebar tak urung masih lolos juga!” kata Hoo Su Kouw.

“Waktu itu jika Ciauw Thian Siang berbuat curang, biar bersayap In Tiong Giok takkan lolos!” kata Lo Tian Wie salah seorang Lo sie ngo houw yang paling tua.

Cie Lo toa menganggukkan kepala dan berkata: “Ciau Thian Siang adalah bajak lama yang sejalan dengan kalian, kenapa bisa membantu pemuda itu mencetak buku Keng thian cit su di kota Kim leng, benar-benar membuatku tak habis mengerti!”

“Jika diceritakan urusan menjadi panjang, yang benar nasib kita belum beruntung,” kata Hoo Su Kouw.

“Memang kenapa?” tanya Cie Lo toa.

“Sungguhpun Ciau Thian Siang dapat dikatakan menghianati kami, dan eprbuatannya itu diluar dugaan. Tapi dasar nasib tidak beruntung mau dikata apa? Kami sempat menyusul kekota kim leng untuk mencegah buku itu dicetak, tapi usaha kami itu mendapat halangan.”

“Siapa yang menghalangi?” tanya Cie Lo toa tidak sabaran.

“Sampai kini siapa orang itu belum dapat kejelasan yang pasti,” kata Hoo Su Kouw, “pokoknya siapapun tidak akan menyangka seorang pembantu toko yang sederhana, berkelahi lihay sekali, hampir-hampir aku dan persaudaraan Lo ini menderita kerugian besar.”

“Yang bisa mengalahkan kalian itu tentu bukan manusia sembarangan, masakan sampai namanya tidak kalian ketahui?”

“Waktu terjadi perkelahian budak she In itu mungkin berada didalam percetakan itu, hal ini terbukti keesokan harinya Keng thian cit su tersebar luas dikota Kim leng! Waktu kami mendatangi lagi percetakan itu untuk mencari tahu siapa pemiliknya, nyatanya sudah tutup pintu, sekalian penghuninya sudah pindah semua!”

“Ah kalian nyatanya masih payah betul, masakan dengan tenaga yang begini banyak tidak bisa mengalahkan pemilik percetakan itu?”

“Hal ini masih tidak seberapa mendongkolkan perut, yang membuat kami mangkal dibuku yang dicetak itu ditulis kenangan untuk Ciau Thian Siang! Dan banyak kawan-kawan lain setelah mendapatkan buku itu pergi lagi, sedangkan kami biarpun mendapatkan buku itu, tetap akan mencari budak she In itu, untuk memaksanya membeerikan penjelasan bagian-bagian penting dari buku itu, dengan begitu kedongkolan kami baru mereda!”

“Apakah buku yang dicetak itu isinya tidak lengkap?” tanya Ouw Kun San.

“Sukar diterangkan….tapi kita dapat menduga bahwa budak itu pasti akan menguranginya bagian-bagian yang penting dari pelajaran itu, baru menyebar luaskan pada halayak ramai. Maka itu jika berhasil menangkapnya, besar faedahnya untuk kita,” kata Hoo Su Kouw.

Siang Thian Beng yang bersifat pendiam menganggukkan kepala. “Memang benar bahwa bocah itu agaknya telah menyelami ilmu Keng thian cit su!”

“Bagaimana engkau tahu?” tanya Cie Lo toa.

“Tiga hari yang lalu kami menemui ditepi sungai…” kata Ouw Kun San.

“Kenapa tidak ditangkap saat itu juga?” tanya Cie Lo toa.

“Justru itu waktu kami turun tangan menangkapnya, ia melawan dengan menggunakan ilmu Keng thian cit su, ilmu itu memang luar biasa sekali, tapi ia belum mahir menggunakannya. Dan masih ungkulan untuk menangkapnya…waktu usaha kami mau berhasil, datang Oey Tin Hong sibanci celaka itu menggerecok. Dan membuat usahaku gagal! Kepaksa kuhadapi sibanci itu untuk mengajar adat, dasar nasibnya masih mujur dalam keadaan terdesak ia ditolong Hek pek siang yau! “Ouw Kun San tidak menceritakan ia terluka dan hampir mati terkena serangan lawannya.

“Tapi sekarang keadaan lain,” kata Hoo Su Kouw, dengan adanya Cie Lo toa kita bisa bertambah kuat dan takperduli menakuti segala Hek pek siang yau.

Cie Lo toa tergelak-gelak mendengar pujian itu dan berkata: “Ya dengan kekuatan kita sekarang, aku Kui ciu kim to (lengan setan bergolok emas) bukan tekebur, segala Hek pek siang yau tidak kupandang sebelah mata, jika bertemu dengannya, ia baru tahu bahwa kui ciu kim to tidak boleh dipandang enteng.”

“Ya memang sudah kutahu bahwa Cie Toako seorang kawan yang dapat diandalkan, tidak seperti Tong teng cit kiam dan Cau ouw sam seng tiga orang she Ciu itu setelah mendapat buku segera pulang kemasing-masing tempatnya, tak mau membantu kami lagi!” kata Hoo Su Kouw.

Sementara mereka berbicara ke barat ke timur, Ciu kouw telah siap dengan makanan yang diperlukan. Dalam waktu singkat mereka telah selesai menangsel perut dan terus beristirahat sejenak, sebelum pergi Cie Lo toa mengambil goloknya dan menyoren dipinggang. “Kami akan pergi keluar mencari seseorang, makanan malam sebaiknya engkau siapkan dari sekarang, jika ada seorang yang tidak dikenal datang kemari, tangkap padanya, nanti aku akan memeriksanya.” Pesan Cie tua pada anaknya.

Ciu kouw mengangguk kepala.

“Andaikata orang yang harus ditangkap berkepandaian tinggi, engkau boleh bersiul panjang, aku bisa segera membantu!”

“Orang tiu adalah pelajar berusia sebaya denganmu putih bersih dan ganteng!” Hoo Su Kouw menjelaskan. “Mudah dikenal, engkaupun pasti kenal biarpun pertama kali melihatnya!”

“Perkataan A-ie ini seolah-olah memastikan bahwa pemuda itu akan datang kemari!”

“Eh siapa tahu kalau orang itu saat ini ada didalam rumah dan akan pergi keluar begitu kami berlalu?” kata Hoo Su Kouw sambil memandang tajam.

Ciu kouw terkejut tak alang kepalang, perubahan parasnya terlihat tegas oleh Hoo Su Kouw, tapi perempuan ulung itu tidak mendesak terus, melainkan terkekeh-kekeh dan terus berlalu.

Setelah orang-orang itu pergi jauh Ciu kouw mengunci pintu dan terus memburu kekamarnya. “Eh engkau she apa? Apakah engkau yang sedang dicari-cari mereka?” tanya Ciu kouw tergesa-gesa.

“Benar, orang yang sedang dicari mereka adalah aku, In Tiong Giok!” Sebenarnya dia berniat membohong guna meloloskan diri, tapi entah kenapa terhsdap gadis ini ia tidak merasa takut, biarpun sudah jelas baginya, bahwa gadis ini adalah putrinya seorang jahat.

Ciu kouw tampak semakin gugup dan cemas mendapat jawaban sipemuda, “Wah celaka, harus bagaimana sekarang…”

“Nona tak perlu kuatir, aku merasa berterima kasih atas pertolonganmu,” kata In Tiong Giok. “Aku bisa meloloskann diri dari bahaya ini, dan kuharapkan nona tak perlu mencampuri urusanku, nanti bisa kerembet-rembet!”

Ciu kouw menggelengkan kepala. “Engkau tidak bisa meloloskan diri, semua jalan keluar sudah ditangan mereka!”

“Diam sajapun tak ada gunanya, lebih baik mendengar perkataan Hoo Su Kouw barusan kemungkinan besar ia akan kembali lagi. Biar bagaimana aku tak bisa berdiam terus disini ”

“Sebaiknya nantikan malam baru pergi!” kata Ciu kouw.

“Menantikan malam sama saja menantikan mereka kembali bukan?”

“Selamanya ayahku tak pernah masuk kedalam kamarku!” kata Ciu kouw dengan tajammemandang pada sang pemuda, terus menarik napas panjang. “Aku tak mengerti pemuda semacammu ini kenapa bisa berkecimpung didunia Kang Ouw? dan kenapa mempunyai begitu banyak musuh? Kudengar engkau menterjemahkan buku untuk Pok Thian Pang, dan terus mencetak buku itu di kota kim leng, serta menyebar luaskan dijalan-jalan raya, benarkah terjadi peristiwa semacam itu?”

“Benar!” jawab In Tiong Giok, “buku itu buku milik Pok Thian Pang, juga dalam keadaan kedesak kulakukan cara itu!”

“In Kongcu bukan kusesalkan tindakanmu tapi dunia Kang Ouw ini penuh bahaya, sembarang waktu engkau bisa terjerumus kejurang derita, saat itu ingin mencuci tanganpun tak bisa lagi.” Kata Ciu Kouw. “Buku itu dan Pok Thian Pang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya denganmu, kenapa engkau mau mencari-cari urusan merepotkan diri sendiri?”

“Perkataanmu memang benar, tapi banyak kejadian disunia ini sukar diperkirakan kemampuan manusia, semua inii bukan kehendakku, tapi keadaan memaksaku harus mengalami kejadian-kejadian semacam ini!” kata In Tiong Giok seraya menuturkan dengan singkat apa yang dialaminya sejak keluar rumah sampai ia tiba dirumah Ciu kouw.

Ciu kouw mendengari penuturan itu dengan tekun, dan menarik napas panjang waktu Tiong Giok menyelesaikan ceritanya. “Apa yang kau katakana memang benar, bahwa kejadian yang akan datang itu sukar diperkirakan sebelumnya tak ubahnya seperti ayahku dua tahun mengasingkan diri dari dunia Kang Ouw, tak kira hari ini di datangi lagi kawan-kawan lamanya, entah bagaimana kesudahannya belum dapat kubayangkan dari sekarang.”

“Dulu ayahmu tentu seorang jago Kang Ouw yang kenamaan bukan?”

“Sungguhpun tidak kenamaan tapi cukup terkenal,” kata Ciu kouw. “Ayahku bernama Cie Peng Lam dengan gelar kui ciu kim to, tiga puluh tahun yang lalu merupakan pentolan dikalangan perbajakan.”

Sungguhpun ia belum pernah mendengar nama itu, tapi ia bisa menduga bahwa Cie Peng Lam pasti memiliki ilmu sejajar dengan Kui coa jie sau dan lain-lain. Sedangkan Ciu kouw biarpun putrid penjahat, tak ubahnya bagaikan teratai yang tumbuh dipencomberan, putih bersih tidak pernah keceretan Lumpur kotor.

“Ayahmu sebagai seorang kenamaan disunia Kang Ouw kenapa mau mengasingkan diri di tempat sunyi semacam ini selama dua tahun?”

“Karena aku dan ibuku!”

“Dimana ibumu kini?”

“Ia telah meninggal dunia tujuh belas tahun yang lalu!”

“Kalau begitu engkau masih kecil sudah ditinggal ibu?”

“Ya diwaktu usiaku setahun tiga hari, ibuku wafat!”

“Disebabkan sakitkah?”

“Bukan” jawab Ciu kouw, “Ia mati dianiaya orang!”

“Oh, siapa penjahatnya itu?”

“Penjahat itu bernama Ong Jiak Tong.”

“Ong Jiak Tong?” In Tiong Giok menegasi sambil membuka mata lebar-lebar. “Adakah kini orang itu berusia enam puluh lebih, anggota badannya kurus panjang dan tampaknya seperti cengcorang, jika bicara tersenyum sinis?”

“Benar-benar dia kenalkah dengannya?” kata Ciu kouw, “bertahun-tahun ayahku mencarinya tidak ketemu, dimana engkau menemuinya?”

“Tak heran ayahmu tidak menemuinya karena…” In Tiong Giok tidak melanjutkan.

“Katakan dimana ia berada…” kata Ciu kouw. Aku bisa menerangkan dimana orang itu berada,” kata In Tiong Giok,” tapi kuminta engkau menceritakan dulu persoalannya terlebih dahulu baru kusebutkan tempatnya is berada.”

“Ini kejadian yang sudah lama sekali,” kata Ciu kouw memulai penuturannya. “Saat itu sampai kini selang tiga puluh tahun lamanya, ayahku masih muda belia, tapi dalam usia itu sudah banyak kejahatan diperbuatnya. Ia bersama-sama Kui coa jie sau, Cau ouw sam seng, Siang kiang jie to bersama-sama terkenal sebagai Kang lam cit sat (tujuh manusia buas dari selatan) yang terkenal kejam dan buas dalam dunia perampokan.”

“Suatu saat didunia Kang Ouw muncul Sin kiam siang eng yang pandai Keng thian cit su, banyak penjahat-penjahat dibasminya, antaranya Siang kiang jin to pertama-tama bertempur dengan sepasang pendekar itu dan menderita kekalahan, sejak itu terus mengundurkan diri sampai sekarang, sedangkan Kui coa jie sau pada saat yang hampir bersamaan dipecundangi Han Bun Siang dan terus mengasingkan diri, baru sekarang muncul lagi, sedangkan Sam seng terhitung manusia yang kenal gelagat, sebelum kena digempur terlebih dahulu bersembunyi ditelaga Cau Ouw, dengan menempuh penghidupan seperti rakyat biasa, dan sejak itu Kang lam cit sat bubar dengan sendiri.”

“Ayahku terhitung mujur, selama menjalankan kejahatan belum pernah bertemu dengan pendekar-pendekar keadilan yang lihay. Waktu melihat kawan-kawannya satu persatu menghilang dari dunia Kang Ouw, menjadi insyaf sendiri, dan terus mengundurkan diri juga dari rimba hijau. Ia menikah dengan ibuku dalam usia empat puluh tahun, sedang ibuku baru berusia tujuh belas tahun, sungguhpun perbedaan umur antara mereka sangat besar, tapi bisa hidup rukun dan damai. Pernikahan mereka pada tahun kedua dikaruniai seorang putrid yakni aku, ayahku girang tidak alang kepalang, maka itu waktu ulang tahunku yang pertama ia mengadakan pesta besar-besaran. Diantara sekalian penduduk yang hadir terdapat seorang kawan lamanya, yakni Ong Jiak Tong. Pertemuan ini membuat ayahku bergirang hati, maka itu si orang she Ong ditahannya beberapa hari bermalam dirumah. Entah dikarenakan dulu-dulunya ayahku mempunyai dosa besar, dan mendapat hokum karma, entah nasibnya buruk. Sang kawan itu mengatakan telah memasuki senuah perserikatan baru yang kuat, dan mengajaknya ayahku terjun kembali kedunia Kang Ouw. Dengan tersenyum ayahku menolak ajakan kawannya itu, karena tekadnya mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw sudah mantap sekali. Ong Jiak Tong pun tidak memaksa, tapi dengan diam-diam mengalihkan perhatiannya pada ibuku. Tepat pada usiaku setahun dua hari ia menggunakan oabt mabuk membuat ayahku tak berdaya, lalu masuk kekamar ibuku dengan maksud jahat…, kusesalkan ayahku berkawan dengan orang tak baik, tapi Tuhan tak buta bangsat itu tak mengetahui bahwa ibukupun memiliki kepandaian ilmu silat juga. Bukan nafsu binatangnya saja yang tak kesampaian iapun kena dicakar luka, akibat malunya mendatangkan kegusarannya, dengan menggunakan sebuah pipa ia menyemburkan racun jahat pada ibuku. Seluruh wajah dan bagian dada ibuku terkena racun itu, sedangkan aku ditidurkan tak seberapa jauh dari tempat perkelahian itu, keceretan juga bagian pipi kiriku, dan terus menjerit kesakitan, suaraku inimembuat bangsat itu ketakutan dan terus merat dari rumah!”

“Bagaimana dengan keadaan ibumu seterusnya?”

Ciu kouw meneteskan air mata sebelum menjawab “Racun itu teramat jahat, ibuku tidak tertolong, tepat pada usiaku setahun tiga hari ia meninggal dunia, sedangkan wajahku yang terkena racun, berakibat seperti yang engkau lihat sekarang! Sedangkan ayahku setelah diguyur orang baru siuman dari mabuknya, sudah tentu tak bisa mengejar penjahat itu lagi!”

“Saat itu ayahmu kena dibuat mabuk, dan engkau masih kecil, ibumu setelah menderita luka terus meninggal bukan? Dari sebab apa mengetahui semua itu perbuatan Ong Jiak Tong?”

“Sudah tentu perbuatan dia, karena sebagai seorang kawan baik, kenapa setelah terjadi peristiwa itu tidak terlihat lagi batang hidungnya? Disamping itu waktu terjadi pergumulan dengannya, ibuku berhasil merampas sepucuk surat dari badan bangsat itu, sampai mati surat itu tidak dilepasnya.”

“Surat apa?”

“Ia pernah mengatakan pada ayahku akan mengirim surat ke Pok Liong San dan kebetulan yang kena dirampas ibu adalah surat itu!”

“Apa bunyi surat itu dapatkah kutahu?”

“Dalam garis besarnya surat itu mengatakan bahwa Tiat Gok Lin telah melakukan suatu kesalahan, dan dimaki habis-habisan.”

“Ah, kesalahan apa yang diperbuat Tiat Gok Lin? Kenapa surat itu diantar Ong Jiak Tong mungkinkah….”

“Sungguhpun surat itu tidak sampai pada Tiat Gok Lin, tapi sejak terjadi peristiwa yang menyedihkan dirumahku, tersiar kabar bahwa Tiat Gok Lin membunuh diri, jika dikaji secara tenang, apa yang terjadi itu tentu ada hubungannya dengan surat yang dibawa Ong Jiak Tong bukan?”

“Surat itu masih adakah?”

“Sudah tentu ada!” kata Ciu kouw, ini sebagai bukti dari kematian ibuku biar sudah belasan tahun masih tetap kusimpan rapi .”

“Bisakah kulihat surat itu?”

“Asal kubisa tahu dimana beradanya penjahat itu, surat itu dapat kau lihat,” kata Ciu kouw. “Disamping itu ayahkupun akan merasa berterima kasih padamu dan bisa melunakkan kawan-kawannya agar tak memusuhi dirimu. Sehabis berkata ia membuka sebuah peti, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain.

Kain pembungkus itu luntur warna aslinya karena kelewat lama disimpan. Ciu kouw membuka kain itu, didalamnya masih ada pembungkus lagi dibuka lagi dengan hati-hati, sampai pada pembungkus yang keempat lapis baru terlihat sepucuk surat yang telah lecek. Dengan hati-hati surat itu diserahkan pada In Tiong Giok.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: