Kumpulan Cerita Silat

09/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:40 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Prolog
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Liok Siau-hong adalah nama seseorang, seorang yang tak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu. Dalam kehidupannya yang luar biasa dan ganjil, ia telah banyak melihat orang-orang luar biasa dan aneh serta peristiwa-peristiwa yang aneh dan luar biasa. Mungkin lebih aneh dan luar biasa dari apa yang pernah kamu dengar di mana pun. Maka, sekarang aku ingin memperkenalkan beberapa orang kepadamu, dan kemudian berlanjut ke cerita tentang mereka.

Him-lolo, si penjual kacang gula
Bulan tampak bundar; kabut pun tebal. Tertutup oleh kabut yang tebal, bulan purnama tampak kelam dan sunyi, cukup untuk membuat seorang manusia patah hati.

Tapi Thio Hong dan teman-temannya tidak berminat untuk menikmati pemandangan itu, mereka hanya ingin berjalan-jalan tanpa merisaukan apa-apa.

Mereka baru selesai mengantarkan barang dari tempat yang sangat jauh; mereka juga baru saja minum arak. Semua ketegangan dan kerja keras telah berakhir.

Mereka merasa santai, tanpa rasa cemas, dan bahagia. Saat itulah mereka melihat Him-lolo. Him-lolo tiba-tiba muncul dari balik kabut seperti hantu.

Dia seolah-olah membawa batu tak terlihat yang luar biasa besarnya di atas punggungnya, membebaninya sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya pun membungkuk. Pinggangnya seperti akan patah.

Di tangannya ada sebuah keranjang bambu yang amat tua; keranjang itu tertutup rapi oleh sehelai kain katun yang sangat tebal.

“Apa yang ada di dalam keranjang itu?” Seseorang pun bertanya.

Dengan suasana hati mereka seperti sekarang ini, mereka akan tertarik pada apa saja.

“Kacang gula.” Wajah Him-lolo yang penuh keriput tampak mengembangkan sebuah senyuman, “Kacang gula yang manis dan panas, hanya 10 picis sekatinya.” (Satu kati sama dengan 1/2 kg)

“Kami ambil 5 kati, masing-masing 1 kati.”

Kacang gula itu benar-benar panas, dan benar-benar manis. Tapi Thio Hong hanya makan satu. Ia tidak pernah suka makan kacang; di samping itu, ia pun sudah terlalu banyak minum. Ia baru makan sebutir kacang waktu perutnya mulai terasa amat sakit, seolah-olah dirinya akan terjungkal kapan saja.

Ia masih belum roboh waktu ia melihat teman-temannya tiba-tiba berjatuhan. Setelah bergelimpangan, tubuh mereka segera mengejang, sementara busa putih mulai muncul di sudut mulut mereka. Busa putih itu tiba-tiba berubah menjadi merah, menjadi darah!

Him-lolo masih berdiri di sana, memandangi mereka, senyum di wajahnya tiba-tiba tampak amat menakutkan.

“Ada racun di dalam kacang gula itu!” Thio Hong mengertakkan giginya dan ingin menghambur ke arah perempuan itu. Tapi saat itu ia merasa seolah-olah tidak ada kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya.

Ia ingin mematahkan leher nenek ini, tapi ia sendiri yang roboh di bawah kakinya.

Tiba-tiba ia melihat bahwa, tersembunyi di balik gaun panjang nenek itu, dia mengenakan sepasang sepatu merah bersulam. Merah seperti yang dipakai oleh pengantin perempuan di hari pernikahannya. Tapi sepatu itu bukan bersulamkan sepasang merpati, tapi seekor burung hantu.

Mata burung hantu itu berwarna hijau, ia seolah-olah sedang menatap Thio Hong, mengejek kedunguan dan ketololannya. Thio Hong pun tersentak.

Him-lolo tertawa dan berkata: “Rupanya kamu ini anak nakal yang suka melihat kaki perempuan ya.”

Thio Hong berusaha mengangkat kepalanya dan bertanya: “Kenapa kau bermusuhan dengan kami?”

Him-lolo tertawa dan menjawab: “Anak bodoh, aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya, bagaimana aku bisa bermusuhan dengan kalian?”

Thio Hong mengertakkan giginya dan bertanya: “Lalu mengapa kau membunuh kami?”

Him-lolo menjawab dengan santai: “Tidak ada alasan sebenarnya, aku hanya ingin membunuh.”

Ia memandang ke arah kabut yang tampak samar dan bulan yang sunyi dan menjawab dengan lambat: “Bila bulan sedang purnama, aku selalu ingin membunuh!”

Thio Hong memandangnya terbelalak, matanya penuh dengan rasa ketakutan dan amarah. Ia ingin sekali menggigit tenggorokan perempuan itu.

Tapi tiba-tiba, seperti roh halus, nenek itu telah menghilang dalam kabut yang tebal. Kabut tetap tebal dan samar-samar, dan bulan pun bertambah bundar.
Lau-sit Hwesio, si paderi alim

Matahari hampir tenggelam di barat, sementara angin musim gugur meniup buluh-buluh tumbuhan air di rawa-rawa itu. Tidak ada jejak-jejak manusia di tepi rawa. Hanya terlihat seekor burung gagak yang terbang mendekat dan semakin dekat, akhirnya mendarat di sebuah tiang kayu di tepi rawa yang biasanya digunakan untuk menambatkan perahu.

Tempat ini adalah sebuah dermaga yang sunyi, dan sekarang perahu itu telah mulai berangkat untuk penyeberangan terakhir kalinya. Orang yang mengemudikan perahu itu adalah seorang lelaki yang amat tua, bahkan jenggotnya pun telah berwarna putih.

Setiap hari selama 20 tahun ini, ia selalu bolak-balik di antara kedua tepi rawa di atas perahu miliknya itu.

Tidak banyak lagi dalam hidup ini yang bisa membuatnya bahagia, kecuali minum dan main judi.

Tapi malam ini ia bersumpah tidak akan berjudi. Karena sekarang ada seorang hwesio di atas perahunya.

Hwesio ini tampak sangat alim, sangat jujur, tapi hwesio tetaplah hwesio.

Setiap kali melihat hwesio, ia akan kehilangan semua uang yang dimilikinya.

Lau-sit Hwesio ini duduk dengan sangat khusyuk di sudut perahu, sambil menatap kakinya sendiri, kaki yang amat kotor. Di kakinya yang sangat kotor itu, ia memakai sepasang sandal jerami yang amat usang.

Penumpang lainnya duduk sejauh mungkin darinya, seolah-olah mereka takut kalau kutu-kutu di tubuhnya akan berpindah kepada mereka.

Lau-sit Hwesio tidak berani memandang yang lain, ia bukan hanya seorang yang jujur, ia juga sangat pemalu. Bahkan waktu penjahat-penjahat itu melompat ke atas perahu, ia tetap tidak menoleh, ia hanya mendengar suara teriakan kaget para penumpang, diikuti oleh suara 4 orang yang melompat ke haluan perahu. Lalu ia mendengar para penjahat mengancam dengan nada sengit: “Kami adalah pendekar-pendekar Cui-coa-pang (Gerombolan Ular Air), kami hanya ingin uang dan bukan nyawa, jadi kalian tidak perlu takut, serahkan saja semua uang dan barang-barang berharga kalian dan semuanya pun akan beres.”

Matahari terbenam menyinari golok-golok di tangan mereka, pantulan cahaya dari golok-golok itu tampak menerangi bagian dalam perahu.

Di dalam perahu, yang laki-laki gemetaran dan yang perempuan menangis, semakin banyak uang mereka, semakin keras pula getaran tubuh mereka, dan semakin sedih pula tangis mereka.

Lau-sit Hwesio masih duduk di sana dengan kepala tertunduk, sambil memandang kakinya sendiri.

Tiba-tiba ia melihat sepasang kaki lain, sepasang kaki yang memakai sepatu kulit yang bersih dan tebal, berdiri tepat di depannya: “Giliranmu, serahkan!”

Lau-sit Hwesio tampaknya tidak memahami apa yang ia katakan dan bergumam: “Apa yang kau ingin aku serahkan?”

“Asal ada nilainya, serahkan semua!”

“Tapi aku tidak punya apa-apa.” Kepala Lau-sit Hwesio semakin menunduk.

Ia melihat orang itu seperti akan menendang dirinya tapi keburu ditarik mundur oleh temannya: “Lupakan saja, hwesio kotor ini tampaknya bukan orang yang punya uang, mari kita keluar dari sini.”

Mereka datang dengan cepat, dan pergi dengan cepat pula, semua penjahat memang selalu kurang percaya pada diri mereka sendiri.

Dengan segera bagian dalam perahu itu menjadi kacau, ada yang berjingkrak-jingkrak, ada pula yang mencaci-maki, bukan hanya memaki para penjahat, tapi juga si hwesio: “Melihat hwesio benar-benar mendatangkan sial!”

Mereka tampaknya tidak perduli bahwa si hwesio bisa mendengar makian mereka, tapi Lau-sit Hwesio tampaknya tidak mendengarkan mereka.

Ia masih duduk di sana dengan kepala tertunduk, raut wajahnya tampak berubah-ubah, tiba-tiba ia melompat bangkit dan berlari ke haluan perahu.

Di haluan perahu ada sepotong papan, papan itu biasanya digunakan sebagai jembatan saat perahu berlabuh di dermaga.

Lau-sit Hwesio meraup papan itu dan memukulnya pelan, papan kayu setebal 3 inci itu pun terbelah menjadi 5 atau 6 potong. Semua orang di atas perahu itu merasa terkejut. Lau-sit Hwesio lalu melemparkan potongan pertama, potongan itu baru saja mendarat di air ketika ia melesat, ujung kakinya baru saja menotol dengan lembut di atas potongan kayu itu waktu potongan kedua pun dilemparkan pula.

Ia seperti capung yang bermain-main di permukaan air, setelah 4 atau 5 kali lompatan di air, ia telah berhasil mengejar perahu Cui-coa-pang yang menjauh.

Para pendekar Cui-coa-pang baru saja menghitung penghasilan mereka hari ini waktu mereka melihat seseorang melompat dengan enteng ke haluan perahu seperti seorang malaikat, dia adalah si hwesio kotor. Mereka bukan saja belum pernah melihat kungfu seperti ini sebelumnya, bahkan mendengarnya saja pun belum.

“Jadi hwesio ini sengaja menyembunyikan dirinya, menunggu sampai kami telah mendapatkan uang sebelum dia datang mengganggu kami.”

Telapak tangan mereka telah basah oleh keringat dingin dan mereka berharap bahwa hwesio ini hanya ingin uang mereka dan bukan nyawa mereka.

Tidak seorang pun dari mereka yang membayangkan kalau si hwesio tiba-tiba berlutut di hadapan mereka dan berkata dengan sopan: “Aku punya 4 tael perak, sebenarnya aku bermaksud untuk membeli satu stel pakaian dan sepasang sandal jerami, itu pun sebenarnya sudah terlalu tamak.”

Ia mengeluarkan uang perak itu dan meletakkannya di depan kaki mereka, dan kemudian meneruskan: “Di samping itu, hwesio seharusnya tidak berdusta, tapi aku telah berdusta kepada kalian, sekarang aku hanya memohon ampunan kalian. Bila pulang nanti, aku akan menghadap tembok dan merenungkan semua ini di hadapan sang Buddha selama paling sedikit 3 bulan untuk menghukum diriku sendiri.”

Semua penjahat itu terheran-heran, mereka tidak berani mengatakan apa-apa.

Kepala Lau-sit Hwesio tampak menunduk ketika ia berkata: “Jika para pendekar tidak mengampuniku, maka aku tidak punya pilihan lain kecuali berlutut di sini.”

Siapa yang menginginkan orang seperti ini di atas perahu mereka?

Akhirnya seseorang mengumpulkan keberaniannya dan berkata: “Baiklah, kami… kami… mengampunimu.”

Kalimat itu seharusnya diucapkan dengan keyakinan penuh, tapi waktu orang ini mengatakannya, suaranya seperti orang yang tercekik.

Kebahagiaan tiba-tiba muncul di wajah Lau-sit Hwesio, (Duk! Duk! Duk!) ia bersujud 3 kali di geladak perahu, bangkit dengan lambat, lalu tiba-tiba melompat sejauh 20 meter ke tepi rawa, dan menghilang.

Semua orang berdiri dengan kaget di haluan perahu, mereka hanya bisa saling berpandangan, lalu menatap uang perak tadi.

Entah sudah berapa lama, seseorang akhirnya menarik napas panjang dan berkata: “Kalian kira dia benar-benar seorang hwesio?”

“Lalu apa kalau dia bukan hwesio?”

“Buddha, Buddha yang hidup dan nyata.”

Keesokan paginya, seseorang menemukan 18 orang anggota ternama Cui-coa-pang mati di atas tempat tidur mereka. Semuanya tampak mati dengan damai, tidak ada luka maupun racun yang ditemukan, tidak seorang pun sanggup membayangkan bagaimana mereka bisa mati.

Sebun Jui-soat

Sebun Jui-soat tidak meniup salju, dia meniup darah. Darah yang ada di pedangnya.

(“Jui” berarti tiup, “soat” berarti salju, tapi lafalnya sama dengan darah. Ini permainan kata-kata yang sangat cerdas).

Air di bak mandi masih terasa hangat dan masih tersisa harumnya bunga melati.

Sebun Jui-soat baru saja mandi dan membasuh kepalanya, ia telah membasuh setiap bagian tubuhnya sampai bersih. Sekarang Siau Hong sedang menyisir rambutnya, sementara Siau Jui dan Siau Giok sedang memotong dan membersihkan kukunya.

Siau Soat telah menyiapkan seperangkat baju baru untuk dipakainya, semuanya berwarna putih, mulai dari pakaian dalam hingga kaus kaki, putih seperti salju.

Mereka semua adalah pelacur terkenal di kota itu, semuanya amat cantik, sangat muda, mereka semua pun tahu bagaimana caranya menghibur laki-laki – menghibur laki-laki dengan cara apa pun.

Tapi Sebun Jui-soat hanya memilih satu cara. Ia tidak pernah menyentuh mereka.

Ia telah berpuasa selama 3 hari.

Karena ia akan melakukan sesuatu yang ia percaya merupakan hal yang paling mulia di dunia ini. Ia akan membunuh seseorang! Namanya Ang To.

Sebun Jui-soat tidak kenal orang itu, ia juga belum pernah melihatnya. Sebun Jui-soat akan membunuhnya hanya karena dia telah membunuh Tio Kang.

Semua orang tahu bahwa Tio Kang adalah orang yang amat lurus pribadinya dan setia, laki-laki sejati di antara manusia.

Sebun Jui-soat juga tahu hal itu, tapi ia pun tidak kenal Tio Kang, melihatnya saja belum pernah. Ia telah menempuh jarak ribuan kilometer, berkuda selama 3 hari di bawah terik matahari, tiba di kota yang tidak ia kenal ini, mandi, berpuasa selama 3 hari, hanya untuk membalas dendam bagi seseorang yang tidak pernah ia temui sebelumnya dengan membunuh seorang lainnya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

***
Ang To memandang Sebun Jui-soat, ia tidak percaya kalau ada orang seperti ini di dunia ini yang akan berbuat begini.

Pakaian Sebun Jui-soat putih seperti salju sementara ia berdiri dengan tenang di bawah Pintu Gerbang Barat, menunggu Ang To menghunus goloknya.

(“Sebun” berarti Pintu Gerbang Barat, jadi kata ini juga permainan kata-kata dari nama Sebun Jui-soat.)

Sebagian besar orang di dunia persilatan tahu tentang Siam-tian-to Ang To, si Golok Kilat. Jika bukan karena goloknya benar-benar secepat kilat, “Satu Golok Yang Mengguncangkan 9 Propinsi” Tio Kang tidak akan mati di bawah goloknya.

Ang To membunuh Tio Kang karena 6 patah kata itu: “Satu Golok Yang Mengguncangkan 9 Propinsi”, 6 kata, 1 nyawa!

Sebun Jui-soat sendiri hanya mengucapkan total 4 kata!

Ang To bertanya mengapa ia datang, ia pun hanya menjawab: “Untuk membunuhmu!”

Ang To lalu bertanya “Kenapa”, ia menjawab: “Tio Kang!”

Ang To bertanya: “Apakah engkau teman Tio Kang?” Ia hanya menggelengkan kepalanya.

Ang To bertanya: “Jadi kau datang untuk membunuhku hanya karena seseorang yang tidak pernah kau temui?”

Ia hanya mengangguk.

Ia datang untuk membunuh, bukan untuk mengobrol.

Wajah Ang To berubah warna, ia sudah tahu siapa orang ini, ia telah mendengar tentang ilmu pedangnya dan sikapnya yang aneh.

Kelakuan Sebun Jui-soat memang aneh, ilmu pedangnya juga aneh.

Bila ia memutuskan untuk membunuh seseorang, ia telah mempersiapkan diri untuk menghadapi 2 kemungkinan, dan hanya 2!

“Kau yang mati, atau aku yang mati!”

Sekarang Ang To tahu bahwa ia pun hanya punya 2 kemungkinan pilihan ini, ia tidak punya pilihan lain.

Angin barat menghembus jalan raya, sementara daun-daun melayang dengan perlahan. Di halaman bagian dalam tembok tinggi itu, segerombolan burung gagak mendadak terbang ke arah matahari terbenam di barat. Ang To tiba-tiba menghunus goloknya dan dengan kecepatan kilat menyerang sebanyak 8 kali.

Tio Kang mati di bawah jurus “8 Gerakan Kilat Membelah Pualam” ini.

Sayangnya “Membelah Pualam” ini pun seperti ilmu pedang lainnya di dunia, dia punya celah. Hanya celah yang kecil.

Maka Sebun Jui-soat pun cuma menusuk sekali, satu tusukan saja sudah cukup untuk menembus tenggorokan Ang To.

Waktu ia menarik kembali pedangnya, tampak noda darah di pedang tersebut.

Sebun Jui-soat meniup pedangnya dengan perlahan, dan darah pun menitik setetes demi setetes, jatuh di atas sehelai daun kuning di atas tanah.

Waktu daun itu melayang terhembus angin barat, Sebun Jui-soat pun telah menghilang di keremangan senja, menghilang bersama angin barat….

Hoa Ban-lau, si buta melek

Bunga-bunga segar terlihat menghiasi bangunan itu. Hoa Ban-lau sangat menyukai bunga-bunga segar, persis sebagaimana ia mencintai kehidupan.

Pada waktu senja, ia suka duduk dekat jendela dengan sinar matahari terbenam yang membelai lembut kelopak bunga yang halus seperti bibir sang kekasih dan menikmati harum bunga yang wangi seperti napas kekasih.

Sekarang sedang senja, sinar matahari terbenam terasa hangat, angin semilir pun terasa lembut.

Bangunan itu tenang dan sepi, ia duduk di dekat jendela sana sendirian, hatinya penuh dengan rasa syukur, syukur kepada Thian karena memberinya kehidupan, mengijinkannya menikmati kehidupan manusia yang demikian indah.

Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki bergegas di atas tangga.

Seorang gadis berumur 17 atau 18 tahun bergegas menaiki tangga, raut wajahnya tampak panik, napasnya pun terengah-engah.

Walaupun ia tidak terlalu cantik, tapi ia memiliki sepasang mata yang besar dan cemerlang, sayangnya sorot mata itu sekarang penuh dengan perasaan ngeri dan panik yang luar biasa. Hoa Ban-lau berpaling dan menghadapinya.

Ia tidak kenal gadis ini, tapi ia tetap bersikap amat sopan dan penuh perhatian: “Ada apa, Nona?”

Gadis itu menarik napas dan menjawab: “Ada yang mengejarku, bolehkah aku bersembunyi di sini sebentar?”

“Ya!” Hoa Ban-lau seperti tidak memikirkan jawabannya sama sekali.

Tidak ada siapa-siapa di lantai bawah, pintu depan memang selalu terbuka, jelas gadis ini berlari masuk ke mari hanya karena perasaan paniknya saja.

Tapi, seandainya dia seekor serigala terluka yang lari dari seorang pemburu pun, Hoa Ban-lau akan tetap mengijinkannya masuk.

Pintunya selalu terbuka, karena, tidak perduli siapa pun yang datang kepadanya, ia akan menerimanya.

Mata gadis itu memandang ke sekeliling ruangan, tampaknya ia mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.

Hoa Ban-lau meyakinkan dirinya dengan lembut: “Kau tidak perlu sembunyi lagi, selama kau berada di sini, kau aman.”

“Benarkah?” Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya, seolah-olah tidak mempercayai dirinya. “Orang yang mengejarku itu bukan hanya jahat dan keji, dia juga membawa golok, dia bisa membunuh orang kapan saja!”

Hoa Ban-lau tersenyum dan menjawab: “Aku jamin dia tidak akan membunuh orang di sini.”

Masih merasa tidak yakin, gadis itu hendak bertanya: “Kenapa begitu?”

Tapi ia tidak sempat bertanya, laki-laki yang memburunya telah tiba di rumah itu dan berlari menaiki tangga.

Tubuhnya tinggi dan besar sekali, tapi gerakannya sangat cepat dan gesit saat menaiki tangga.

Ia benar-benar membawa sebatang golok, matanya juga memancarkan sinar yang kejam dan tajam seperti pisau. Ketika melihat gadis itu, ia segera berseru: “Sekarang kita lihat ke mana kau bisa lari.”

Gadis itu berlari ke belakang tubuh Hoa Ban-lau, Hoa Ban-lau pun tersenyum: “Sekarang ia berada di sini, ia tidak perlu lari lagi.”

Orang itu menatapnya, melihat bahwa ia tidak lebih dari seorang pemuda yang tampan dan halus, orang itu pun tertawa dan berkata: “Kau tahu siapa bapakmu ini? Berani-beraninya kau mengganggu urusan bapakmu!”

Hoa Ban-lau masih bersikap tenang dan sopan: “Siapa kamu?”

Orang itu mengangkat pundaknya dan menjawab: “Bapakmu ini adalah ‘Hoa-to-tayswe’ Cui It-tong, kuberi kau satu bacokan, tubuhmu pun akan punya it-tong (satu lubang) lagi.”

{Masih permainan kata-kata, ‘It-tong’ berarti satu lubang.}

Hoa Ban-lau menjawab: “Beribu-ribu maaf, aku tidak pernah mendengar namamu yang terhormat sebelumnya, tubuhku pun tidak perlu lubang tambahan, aku tidak ingin lubang lagi, baik yang kecil maupun yang besar.”

Gadis itu tidak bisa menahan suara tawanya yang nyaring.

Wajah Cui It-tong pun berubah warna, tiba-tiba dia menjerit: “Kau akan mendapatkannya biarpun kau tidak mau!”

Ia menggetarkan goloknya, sementara sinarnya masih berkeredep, goloknya telah menusuk ke perut Hoa Ban-lau.

Hoa Ban-lau tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali, kecuali 2 buah jarinya.

Ia tiba-tiba menggerakkan tangannya, dan kedua jari itu langsung menjepit golok tersebut.

Golok itu seolah-olah berakar di antara kedua jarinya.

Cui It-tong menarik dengan seluruh kekuatannya, tapi ia masih tidak mampu menarik kembali goloknya itu.

Hoa Ban-lau masih tersenyum: “Jika kamu ingin meninggalkan golokmu di sini, aku akan menjaganya, pintuku selalu terbuka, kamu bisa datang kapan saja untuk mengambilnya kembali.”

Tubuh Cui It-tong sudah penuh dengan keringat dingin, tiba-tiba ia menghentakkan kakinya ke lantai, melepaskan golok, dan lari menuruni tangga tanpa melihat ke belakang lagi. Larinya sekarang jauh lebih cepat daripada waktu naiknya tadi.

Seperti suara lonceng, gadis itu pun tertawa, ia memandang Hoa Ban-lau dengan kagum dan heran: “Aku tidak tahu kalau kau mempunyai kemampuan sehebat itu.”

Hoa Ban-lau tersenyum dan menjawab: “Bukan aku yang mempunyai kemampuan hebat, tapi dia sendiri yang tidak punya kemampuan sama sekali!”

Gadis itu menjawab: “Siapa bilang dia tidak punya kemampuan? Banyak orang di dunia persilatan yang tidak mampu mengalahkan dia, termasuk aku.”

Hoa Ban-lau bertanya: “Kamu?”

Gadis itu menjawab: “Walaupun aku tidak bisa mengalahkannya, tapi banyak juga orang yang tidak bisa mengalahkan aku, aku Siangkoan Hui-yan dari daerah selatan sungai besar.”

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri dan menarik napas: “Tentu kau tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya!”

Hoa Ban-lau berjalan dan meletakkan golok di tangannya itu dengan perlahan di atas sebuah meja dekat dinding, tiba-tiba ia berpaling dan bertanya: “Kenapa dia mengejarmu?”

Siangkoan Hui-yan menggigit bibirnya dan bimbang sebentar, akhirnya ia tersenyum dan berkata: “Karena aku mencuri sesuatu barang miliknya.”

Hoa Ban-lau tidak terkejut atau heran, ia hanya tertawa.

Siangkoan Hui-yan segera meneruskan: “Walaupun aku pencuri, tapi dia pun seorang bandit, aku tidak pernah mencuri dari orang baik-baik, hanya dari bandit.”

Ia menundukkan kepalanya dan melirik Hoa Ban-lau dari sudut matanya, lalu ia berkata: “Aku hanya berharap engkau tidak memandang rendah diriku, kau jangan membenciku.”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Aku menyukaimu, aku suka orang yang berkata jujur.”

Siangkoan Hui-yan mengedip-ngedipkan matanya: “Bisakah orang yang berkata jujur tinggal di sini lebih lama lagi?”

Hoa Ban-lau menjawab: “Tentu saja.”

Siangkoan Hui-yan yang tampaknya sudah agak lega lalu berujar dengan manis: “Aku merasa jauh lebih baik sekarang, tadi aku benar-benar takut kalau kau mengusirku keluar.”

Ia berjalan menghampiri jendela dan menarik nafas dalam-dalam, udara penuh dengan harum bunga. Di luar hari pun mulai gelap, tapi di dalam telah benar-benar gelap.

Siangkoan Hui-yan menarik nafas perlahan: “Hari ini berlalu begitu cepat, sekarang sudah gelap lagi.”

Hoa Ban-lau menjawab dengan sebuah ‘hmm’ sederhana.

Siangkoan Hui-yan bertanya: “Mengapa kau tidak menyalakan lampu?”

Hoa Ban-lau tersenyum dan menjawab: “Maaf, aku lupa kalau ada tamu.”

Siangkoan Hui-yan bertanya: “Kau hanya menyalakan lampu bila kau punya tamu?”

Hoa Ban-lau hanya menjawab dengan sebuah ‘hmm’ lagi.

Siangkoan Hui-yan bertanya: “Kau tidak menyalakan lampu jika kau sedang sendirian?”

Hoa Ban-lau menjawab: “Aku tidak perlu lampu.”

Siangkoan Hui-yan masih bertanya lagi: “Kenapa?”

Ia berpaling, memandang pada Hoa Ban-lau dengan tatapan tidak percaya.

Tapi ekspresi wajah Hoa Ban-lau masih tetap bahagia dan tenang ketika ia menjawab dengan lambat: “Karena aku buta.”

Senja bertambah gelap, udara masih penuh dengan semerbak wangi bunga.

Tapi Siangkoan Hui-yan tidak memperhatikan itu sama sekali, ia benar-benar terkejut.

“Karena aku buta.”

Walaupun hanya 3 patah kata yang sangat biasa, Siangkoan Hui-yan belum pernah mendengar kalimat yang lebih mengejutkan dirinya daripada 3 patah kata ini.

Ia menatap Hoa Ban-lau, lelaki ini, yang penuh dengan perasaan cinta terhadap kehidupan, yang penuh dengan harapan untuk masa depan, yang jarinya bisa menjepit golok yang dibacokkan orang dengan seluruh kekuatannya, yang hidup sendirian di gedung ini, bukan hanya dia tidak memerlukan bantuan orang lain, tapi dia pun selalu siap menawarkan pertolongannya pada orang lain.

Siangkoan Hui-yan tidak bisa percaya kalau orang ini buta. Tak tahan lagi ia pun bertanya: “Apakah kau benar-benar buta?”

Hoa Ban-lau mengangguk: “Aku buta sejak berumur 7 tahun.”

Siangkoan Hui-yan mengamati: “Tapi gerak-gerikmu tidak seperti orang buta.”

Hoa Ban-lau tersenyum lagi: “Bagaimana seharusnya gerak-gerik orang buta?”

Siangkoan Hui-yan tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Ia telah melihat banyak orang buta sebelumnya, ia selalu menganggap orang-orang itu selalu sedih dan murung, karena dunia yang indah dan penuh warna ini telah berubah menjadi bukan apa-apa selain kegelapan belaka bagi mereka.

Walaupun ia tidak mengatakan hal ini, Hoa Ban-lau jelas mengerti apa yang ia maksudkan.

Masih sambil tersenyum, ia pun berkata: “Aku tahu kalau kau membayangkan orang-orang buta itu seharusnya tidak sebahagia diriku.”

Siangkoan Hui-yan terpaksa mengakuinya.

Hoa Ban-lau berkata lagi: “Sebenarnya menjadi buta itu tidak buruk sama sekali, aku masih bisa mendengar dan merasa, kadang-kadang aku menikmati jauh lebih banyak kesenangan daripada orang lain.”

Wajahnya penuh dengan sinar kepuasan yang berasal dari kebahagiaan ketika ia meneruskan dengan lambat: “Pernahkah kau dengar bunyi salju yang jatuh di atap? Bisakah kau merasakan kekuatan kehidupan yang aneh tapi menakjubkan ketika kuncup bunga mekar dengan perlahan di musim semi? Apakah kau tahu bahwa angin musim gugur sering membawa wangi pepohonan dan hutan dari lereng bukit di kejauhan sana?”

Siangkoan Hui-yan mendengarkan dia bicara dalam diam, seolah-olah ia sedang mendengarkan sebuah lagu yang lembut dan indah.

Hoa Ban-lau berkata: “Jika kau ingin mencarinya, kau akan menemukan betapa cantik dan indahnya kehidupan ini, setiap musim memiliki banyak keunikan dan kesenangan yang bisa membuatmu melupakan semua masalah dan kecemasanmu.”

Siangkoan Hui-yan menutup matanya, tiba-tiba ia merasa angin menjadi lebih lembut dan bunga-bunga pun menjadi lebih harum.

Hoa Ban-lau meneruskan: “Apakah kau bahagia atau tidak, tidak ada hubungannya dengan apakah kau buta atau tidak, tapi semuanya berhubungan dengan apakah kau benar-benar mencintai kehidupanmu dan apakah kau benar-benar ingin hidup bahagia.”

Siangkoan Hui-yan memandang wajahnya yang damai dan bahagia, yang tampak gemerlapan dalam sinar senja.

Kali ini mata gadis itu tidak lagi penuh dengan perasaan terkejut dan heran, tapi dengan rasa hormat dan terima kasih.

Ia berterima-kasih kepada pemuda itu, bukan karena dia telah menyelamatkan hidupnya, tapi karena dia telah membuatnya sadar akan artinya hidup.

Ia menghormatinya bukan karena kungfunya, tapi karena sikap dan hatinya yang mengagumkan.

Tapi tak tahan ia pun bertanya lagi: “Kau tidak punya keluarga lagi?”

Hoa Ban-lau tersenyum: “Aku punya keluarga yang amat besar, ada banyak orang di keluargaku, semuanya sangat sehat dan bahagia.”

Siangkoan Hui-yan bertanya pula: “Lalu mengapa kau tinggal di sini sendirian?”

Hoa Ban-lau menjawab: “Karena aku ingin tahu apakah aku bisa hidup sendirian. Karena aku tidak ingin orang lain membantuku di setiap langkahku, aku tidak ingin orang lain memperlakukanku sebagai orang buta.”

Siangkoan Hui-yan bertanya lagi: “Kau…. apakah kau benar-benar suka tinggal sendirian di sini?”

Hoa Ban-lau menjawab: “Aku telah tinggal di sini selama 8 bulan, dan aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.”

Siangkoan Hui-yan menarik napas perlahan dan bertanya: “Tapi selain salju di musim dingin dan bunga-bunga di musim semi, apa lagi yang engkau punya?”

Hoa Ban-lau menjawab: “Aku bisa tidur nyenyak, punya selera makan yang baik, rumah yang sangat nyaman, dan sebuah sitar berdawai 7 yang suaranya sangat merdu, itu semua sudah cukup. Di samping itu, aku juga punya seorang teman yang sangat baik.”

Siangkoan Hui-yan bertanya: “Siapa temanmu itu?”

Wajah Hoa Ban-lau bersinar lagi: “Marganya Liok, panggil dia Liok Siau-hong.”

Ia tersenyum dan melanjutkan: “Tapi jangan kau kira dia adalah seorang gadis, walaupun namanya Siau-hong (burung hong kecil), dia itu seorang lelaki tulen.”

Siangkoan Hui-yan menjawab: “Liok Siau-hong? Kurasa aku pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi tidak tahu orang macam apa dia sebenarnya.”

Hoa Ban-lau tersenyum semakin lebar: “Ia orang yang benar-benar aneh, kau hanya perlu memandangnya sekali, lalu kau tak akan pernah melupakannya, ia bukan hanya punya 2 pasang mata dan telinga, 3 tangan, ia juga punya 4 alis.”

Dua pasang mata dan telinga, tentu saja berarti ia bisa melihat dan mendengar lebih banyak dan lebih baik daripada orang lain.

Tiga tangan mungkin berarti bahwa tangannya lebih cepat daripada siapa pun juga, sangat cekatan dan trampil.

Tapi apa arti “4 alis”? Siangkoan Hui-yan tidak bisa membayangkannya.

Ia memutuskan bahwa, tidak perduli apa pun juga, ia harus mencari cara untuk bertemu dengan Liok Siau-hong yang beralis 4 ini.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: