Kumpulan Cerita Silat

09/01/2008

Pendekar Baja (03)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:19 am

Pendekar Baja (03)
Oleh Gu Long

Di tengah gelak tertawanya dia tarik Ji Yok-gi dan diajak lari ke utara.

Ji Yok-gi heran, tanyanya, “Kenapa Kim-heng hendak mengejar ke sana?”

“Di depan sudah ada Can Ing-siong dan Hong-lin-sam-niau, setelah ada pelopornya, kenapa kita takut? Biar kita kuntit mereka untuk menonton keramaian saja?”

Tiba-tiba di belakang pohon di tepi jalan ada seorang berkata dengan tertawa, “Mungkin juga masih dapat menggagap ikan di air keruh, bila ada kesempatan dapat pula menarik keuntungan, benar tidak?”

Lalu tampak Kiau-jin-lan-sim Li-cu-kat Hoa-sikoh melangkah keluar, Singa Jantan Kiau Ngo berada di belakangnya dengan mata mendelik menatap Kim Put-hoan.

Berubah air muka Kim Put-hoan, tapi dia lantas tergelak, katanya, “Siapa nyana Singa Jantan hari ini berubah jadi musang, makanya langkahnya ringan tidak kedengaran datangnya, Siaute sampai kaget setengah mati.” Jelas dia menyindir tindak tanduk Kiau Ngo yang main sembunyi, secara tidak langsung ia memaki tanpa menggunakan kata-kata kotor.

Kontan merah muka Kiau Ngo, serunya gusar, “Kau … kau ….” saking gusar, dia tak mampu bicara malah.

Kim Put-hoan makin senang, katanya tertawa, “Ada apa kalian menyusul kemari?”

Hoa-sikoh tersenyum, katanya, “Kami ingin memberi pesan kepada Ji-siauhiap ini agar jangan sampai terjebak oleh manusia yang rendah budi.”

Kim Put-hoan pura-pura tidak tahu bahwa dirinya yang dimaki, dia malah tertawa, katanya, “Hoa-sikoh sungguh baik hati, pantas dipuji ….” sekilas dia melirik Ji Yok-gi lalu menyambung, “Tapi Ji-heng sudah berpengalaman di dunia Kangouw, sejak kapan dia perlu diperhatikan dan diberi pesan segala, Siaute heran dan tidak mengerti.”

Merah jengah muka Ji Yok-gi, katanya, “Orang she Ji bisa menjaga diri dan bertindak hati-hati, tak perlu kalian memerlukan datang memberi tahu kepadaku.”

Hoa-sikoh geleng-geleng kepala sambil menghela napas, tapi dia tidak bicara lagi.

Kim Put-hoan berkata pula, “Ji-heng memang punya tujuan sendiri, buat apa kalian membuat keruh air jernih?”

Tangan Kiau Ngo sudah terkepal, namun diam-diam Hoa-sikoh menariknya.

Kim Put-hoan tertawa, katanya, “Sejak kapan kalian menjadi begini mesra, sungguh harus diberi selamat, kelak bila tiba saatnya mengadakan pesta, jangan lupa mengundangku untuk minum arak!” – Di tengah gelak tertawanya, dia tarik Ji Yok-gi terus pergi.

Kiau Ngo menggerung gusar dan hendak melabraknya, tapi Hoa-sikoh mencegahnya lagi, terdengar di kejauhan Ji Yok-gi berkata lantang, “Pasangan mereka memang setimpal ….”

“Keparat, sembarang mengoceh, Sikoh, jangan ambil pusing,” kata Kiau Ngo sambil menyengir.

Hoa-sikoh tersenyum, “Mana aku pikirkan mereka?”

Kiau Ngo menghela napas, katanya sembari menengadah, “Pendekar ternama di Bu-lim ternyata berjiwa rendah begitu ….”

Angin mengembus, dari kejauhan terdengar pula derap kuda mendatangi.

Hoa-sikoh menghela napas, gumamnya, “Siapa lagi yang akan mencari perkara kepada Jitkohnio itu ….”

*****

Saat itu Jitkohnio sedang membedal kudanya sekencang angin, sementara bocah merah tetap menarik si pemuda, mati pun tidak mau melepaskannya, maka seekor kuda tiga penunggang terus melanjutkan perjalanan, sebentar saja mereka sudah mencapai beberapa li.

Kejap lain tujuh orang anak buahnya juga sudah menyusul tiba, Jitkohnio memperlambat lari kudanya, katanya tertawa, “Setelah mendemonstrasikan kepandaianmu tadi, kuyakin mereka tak berani lagi mengejar kemari.”

Si pemuda menggeleng kepala, akhirnya menghela napas, katanya, “Cu Jit-jit, kau bikin susah saja padaku.”

Dengan lembut Cu Jit-jit menjawab, “Hari ini kau tolong dia, pasti takkan dia lupakan dirimu. Eh, coba katakan, apakah bisa kau lupakan Sim Long?”

“Tak bisa kulupakan,” bocah merah tadi tertawa. “Pasti takkan kulupakan.”

Lebar tertawa Cu Jit-jit, “Bukan saja dia tidak bisa lupa, aku pun takkan lupa.”

Pemuda itu bernama Sim Long, katanya, “Sebaliknya akulah yang berharap kalian melupakan diriku, jika kalian tidak melupakan diriku, sungguh aku bisa celaka.”

“Nonaku justru sangat suka padamu, mana mungkin mencelakai kau?” ucap si anak merah dengan cekikikan.

“Sudah, sudahlah,” kata Sim Long. “Ampunilah aku.”

Mendadak dia menarik muka dan berkata pula, “Coba jawab pertanyaanku, jelas kau bukan Hoa Lui-sian, kenapa kau sengaja membiarkan mereka menyangka dirimu Hoa Lui-sian?”

Berkedip mata Cu Jit-jit, katanya, “Siapa bilang dia bukan Hoa Lui-sian?”

Sim Long tertawa, “Kalau dia betul Ciang-tiong-thian-mo, apakah Ji Yok-gi masih bernyawa sekarang? Bila dia betul Sian-thian-jin-te, waktu lari apakah perlu aku menangkis pukulan mereka? Jitkohnio, sudah cukup banyak kau tipu orang, tapi akulah yang sudah tanpa sebab kau jadikan kambing hitam, Thian-hoat Taysu pasti membenciku setengah mati.”

Anak merah tadi cekikikan, katanya, “Sebelum kemari sudah kudengar Jitkohnio memujimu setinggi langit, kini setelah kubuktikan kenyataan Kongcu memang sangat hebat. Kakek yang dijuluki si cerdik nomor satu di dunia itu kalau dijadikan budak Sim-kongcu saja tidak setimpal.”

Sembari bicara dia lantas menanggalkan topengnya hingga kelihatan wajah yang mungil itu memang benar masih memakai kedok tipis pula.

Sekali raih si bocah kembali melepaskan kedok mukanya, sekarang terbukti memang benar adalah seraut wajah anak kecil, tapi sekali-kali bukan kedok kulit lagi, wajahnya putih bersemu merah, mirip buah apel yang mulai matang, siapa pun bila melihat pipinya, rasanya ingin mengeremuskan bulat-bulat, bola matanya bundar berputar, bila tertawa tertampak dekik pada kedua pipinya.

Dia menjura kepada Sim Long, katanya dengan tertawa, “Siaute Cu Pat, ayah memanggilku Hi-ji, Cici memanggilku si binal, tapi orang lain memanggilku Hwe-hay-ji (anak bara). Sim-toako, terserah padamu mau panggil apa padaku, yang terang sejak kini Cu Pat tunduk lahir batin kepadamu.”

Padahal Sim Long sudah menduga akan rahasia ini, tidak urung sekarang dia melongo juga, sesaat lamanya baru dia menarik napas panjang, katanya, “Jadi kau ini pun anak murid keluarga Cu.”

Cu Jit-jit tertawa geli, katanya, “Adik mestikaku ini memang nakal, Go-ko (kakak kelima) sendiri merasa pusing terhadapnya, sekarang dia mau tunduk padamu, sungguh luar biasa.”

Sim Long menghela napas, katanya, “Apakah ini juga kau anggap kenakalan saja? Lebih benar kalau dikatakan akal muslihat keji. Hoa Lui-sian entah sudah pergi ke mana, kenapa adikmu ini disuruh membikin onar agar orang beranggapan dia ini Hoa Lui-sian? …. Ai, jurus Thian-mo-hwi-liong-sik yang dilancarkannya tadi memang bagus, Ki Ti yang berpengalaman pun kena dikelabui.”

Anak merah alias Cu Pat tertawa, katanya, “Di antara Thian-mo-cap-sa-sik hanya jurus itu yang pernah kupelajari, serangan serabutan tak keruan tadi justru adalah pelajaran asli yang kuyakinkan.”

“Justru serangan tak keruan itulah yang telah bikin celaka orang, kalau bukan karena serangan serabutan tadi, masa Ki Ti bisa kau tipu …. Tapi aku ingin tanya padamu, dalam tipu pemalsuan kali ini, sebetulnya apa latar belakangnya? Di mana Hoa Lui-sian? Bahwa aku sudah kalian seret ke dalam persoalan ini, sedikit banyak aku harus tahu seluk-beluknya.”

“Soal ini tidak bisa kujelaskan, tanya saja kepada kakak Jit,” ujar si anak merah.

Cu Jit-jit menghela napas, katanya, “Betul, ini memang akal muslihat agar orang lain menyangka Cu Pat adalah Hoa Lui-sian, maka apa yang akan dilakukan Hoa Lui-sian di tempat lain tidak akan diduga oleh orang lain …. Tapi tidak perlu khawatir, apa yang dilakukan Hoa Lui-sian kali ini tanggung bukan urusan yang bakal merugikan orang lain, dia hanya mau mempermainkan Lian Thian-hun sekadar melampiaskan kedongkolannya masa lampau saja.”

Sim Long berkerut kening, katanya, “Lian Thian-hun berbudi luhur, suka membantu yang lemah, berjiwa kesatria. Di antara Jin-gi-sam-lo dia terhitung yang paling perkasa dan berjiwa pendekar, jika Hoa Lui-sian dendam kepadanya, aku yakin pasti Hoa Lui-sian sendiri adalah pihak yang salah.”

“Kali ini justru kau yang keliru,” ujar Cu Jit-jit.

“Agaknya kau bangga membela Hoa Lui-sian, tadi kau bilang sudah puluhan tahun tangannya tak pernah berlepotan darah, sampai aku pun percaya pada obrolanmu, siapa tahu, tujuh tahun yang lalu masih ada juga seratus empat puluh jiwa yang melayang di tangannya.”

“Kedua hal itu justru merupakan satu perkara.”

“Bisa kau jelaskan?”

“Sudah sebelas tahun Hoa Lui-sian tidak pernah meninggalkan rumah, adik Pat juga sudah berusia sebelas, kalau tidak percaya, boleh kau tanya dia, apakah aku dusta padamu.”

“Setiap hari aku minta digendong olehnya, mana dia bisa pergi?” tukas si anak merah.

Sim Long berkerut alis, “Kalau betul selama itu dia tidak pernah meninggalkan Cu-keh-po (Benteng Keluarga Cu), lalu siapa yang membunuh seratus empat puluh jiwa pada tujuh tahun yang lalu?”

“Itulah yang kuherankan. Lebih seratus orang itu semuanya memang musuh Hoa Lui-sian, cara membunuh mereka juga mirip ilmu pukulan yang dulu sering digunakan Hoa Lui-sian, sejak kematian seluruh anggota keluarga Kim Cin-ih dari Jiang-ciu dalam semalam, Lian Thian-hun dan Leng Sam segera datang memeriksa di tempat kejadian dan memastikan pembunuhnya adalah Hoa Lui-sian. Apa yang mereka ucapkan, kaum persilatan percaya sepenuhnya. Padahal pada malam kejadian itu, Hoa Lui-sian berada di rumah, bermain gundu dengan kami bertiga, jika dia bisa menyulap dirinya menjadi dua dan membunuh orang ke Jiang-ciu yang jauh sana, itu berarti kami telah bergaul dengan setan.”

“Kalau begitu, sepantasnya kalian berusaha mencuci bersih nama baiknya.”

“Nama Hoa Lui-sian sudah kadung busuk, terkenal jahat dan kejam, kalau aku yang bicara, bobotnya jelas tidak sama dengan Lian Thian-hun, kalau aku membela dia, apa orang mau percaya akan penjelasanku?”

“Alasanmu memang benar.”

“Padahal Lian Thian-hun tidak menyaksikan sendiri, tanpa bukti lagi, dia memastikan begitu saja perbuatan jahat seseorang. Bukan saja Hoa Lui-sian amat penasaran, kami kakak beradik juga ikut keki, sudah lama kami ingin memberi hajaran kepada Lian Thian-hun itu, sayang sejauh ini kami tidak mampu berbuat apa-apa, hingga kali ini ….”

Dia tertawa manis, katanya pula, “Baru ini kami mendapat akal, Hoa Lui-sian kusuruh memancing Lian Thian-hun di belakang, dengan Thian-mo-ih-ciong-sut, mempermainkan dia sampai puas, bahkan sengaja menampilkan diri sekejap supaya Lian Thian-hun mengenalinya. Bila Lian Thian-hun pulang dalam keadaan runyam, pasti dia akan menceritakan pengalamannya itu. Padahal Ki Ti dan Li Tiang-ceng menyaksikan dengan mata kepala sendiri di ruang pendopo, di mana Hoa Lui-sian telah membuat onar, sudah pasti mereka takkan percaya apa yang diceritakan oleh Lian Thian-hun? Biasanya Lian Thian-hun sangat tinggi hati, setiap patah perkataannya cukup berbobot, apa pun yang dikatakannya pasti dipercaya orang, bahwa kali ini saudara sendiri juga tidak mau percaya padanya, coba pikir apakah dada Lian Thian-hun tidak akan meledak?”

Kuda masih dilarikan, meski lambat tapi mereka terus menempuh perjalanan di tengah hujan salju yang makin lebat. Tak terasa dua li telah mereka tempuh pula.

Di atas pohon sebelah kiri jalan mendadak seorang tertawa cekikikan, katanya, “Bukan saja dadanya meledak saking dongkol, orangnya pun hampir mampus karena sesak napas.”

Waktu Sim Long angkat kepala, dilihatnya salju menyelimuti seluruh pohon gundul itu di pinggir jalan, mana ada bayangan orang, tapi setelah dia perhatikan, didapatinya di atas pohon ada tumpukan salju yang mulai bergerak-gerak dan berguguran ke bawah, lalu muncul seorang berpakaian merah, memakai topeng dengan dandanan dan bentuk tubuh yang sama dengan Cu Pat. Namun anak merah yang satu ini memakai mantel berbulu warna putih, maka waktu dia meringkal di atas pohon dan menutup tubuhnya dengan mantel orang sukar melihat jejaknya, umpama Lian Thian-hun lewat di bawah pohon juga takkan menemukan tempat sembunyinya.

Sim Long menghela napas, ujarnya, “Kukira itulah Ngo-sek-hou-sin-hoat (pancawarna pelindung badan) dari Thian-mo-ih-ciong-sut. Sudah lama kudengar, syukur hari ini dapat menyaksikan sendiri.”

Si baju merah Hoa Lui-sian tertawa, “Kepandaian yang tak berarti, Sim-kongcu sudi memujinya, nenek jadi rikuh malah.”

Cu Jit-jit tertawa, katanya, “Tak terduga engkau sudah menunggu kami di sini, bagaimana, berhasil tidak?”

“Lian Thian-hun sudah kupermainkan sampai payah, maka nenek ….”

Mendadak embusan angin lalu membawa suara derap kuda yang dilarikan dengan kencang ke arah sini.

Cu Jit-jit berkerut kening, katanya, “Siapa yang mengejar kemari?”

Hoa Lui-sian berkata, “Kalau bukan Can Ing-siong, pasti Pui Jian-li.”

Sim Long heran, katanya, “Can Ing-siong atau Pui Jian-li, kenapa mereka mengejarmu?”

Hoa Lui-sian cekikikan, katanya, “Semua ini gara-gara Jitkohnio kita, tidak hujan tanpa angin, dia bilang bendera Piaukiok itu amat jelek, lebih baik dicabut saja.”

Cu Jit-jit tertawa geli, katanya, “Tapi kan bukan aku yang mencabutnya?”

Melotot mata si anak merah, serunya, “Memangnya kenapa kalau aku yang mencabutnya, bila tua bangka itu mengudak ke sini, lihat saja kalau Cu Pat tidak melabrak mereka habis-habisan.”

“Sudah, sudah,” kata Hoa Lui-sian, “semula cuma ada satu siluman pembuat huru-hara, sekarang bertambah dua kakak beradik yang suka membuat onar, Sim-siangkong, bagaimana pendapatmu?”

Sim Long menjura, katanya, “Kalian siap bertempur, biar kumohon diri saja.”

Dia terus memberosot ke belakang dan melompat ke pinggir jalan.

“Jangan pergi Sim-toako,” teriak si anak merah.

Merah mata Cu Jit-jit, katanya dengan sedih, “Biarkan dia pergi, walau kita pernah menolong jiwanya, memangnya kita harus menuntut imbalan kepadanya?”

Kontan Sim Long menghentikan langkahnya, sekali melejit ia melayang balik, katanya sambil menghela napas, “Memangnya apa kehendakmu atas diriku, nona manis?”

Pecah tawa Cu Jit-jit, katanya perlahan, “Aku ingin … kau harus ….” bola matanya mengerling tajam, tiba-tiba dia gigit bibir dan melengos dengan malu.

Hujan salju makin lebat, angin juga tambah ribut, derap kaki kuda di kejauhan makin mendekat, tapi dia seperti tidak peduli. Hoa Lui-sian menjadi gelisah, teriaknya, “Nona manis, sekarang bukan saatnya manja, mau lari atau perang tanding, lekas ambil keputusan!”

“Kenapa takut, hadapi mereka,” seru si anak merah. “Sim-toako juga akan membantu kita.”

Sim Long melangkah perlahan, gumamnya, “Mau berkelahi? ….” setiba di samping bocah merah, mendadak tangannya bergerak secepat kilat, Jian-kin-hiat orang dikebutnya sekali.

Kontan anak merah itu merasa kaku. Sim Long lantas mengempitnya, sekali lompat dia cemplak ke atas kuda yang ditunggangi Cu Jit-jit, sebelah tangan menepuk pantat kuda, segera kuda itu berjingkrak sambil meringkik terus membedal ke depan.

Terpaksa Hoa Lui-sian lari di belakang mereka, demikian pula kedelapan pengawal berseragam hitam itu hanya mengikuti langkah Cu Jit-jit saja. Tanpa diperintah serempak mereka pun membedal kudanya.

Mendadak Hoa Lui-sian melambung ke atas terus hinggap di atas pantat salah seekor kuda, laki-laki penunggang kuda siap memberikan kudanya, tapi Hoa Lui-sian berkata, “Pegang kendalimu, tak perlu urus diriku.”

Dia berdiri di atas kuda dan kuda itu lari pesat seperti tidak membawa manusia tambahan, Hoa Lui-sian bertengger dengan enteng, sudah tentu kawanan pengawal itu amat kagum.

Karena dikempit di bawah ketiak Sim Long, anak merah itu berkaok-kaok, “Turunkan aku, turunkan aku! Kalau tidak turunkan aku segera akan mencaci maki.”

Sim Long tertawa, katanya, “Kalau kau berani membuat onar lagi, biar kucukur gundul rambutmu, akan kuantarmu ke Ngo-tay-san dan kuserahkan kepada Thian-hoat Taysu untuk dijadikan Hwesio cilik.”

Melotot mata si anak merah, teriaknya, “Kau berani … kau berani?”

“Kenapa tidak berani? Kalau tidak percaya boleh kau coba.”

Mengirik anak merah itu, dia kapok dan tidak berani bersuara lagi.

Cu Jit-jit tertawa geli, katanya, “Orang galak akhirnya ketemu batunya, sekali ini Pat-te benar-benar mati kutunya.”

Bocah merah itu berkata, “Dia kan bakal Cihu (suami kakak), jadi bukan orang luar, umpama aku takut kepadanya, memangnya perlu diperdebatkan. Betul tidak, Cihu?”

Sim Long menyengir.

“Cis,” Cu Jit-jit mendelik, “setan cilik, berani sembarang mengoceh lagi, awas kupotong lidahmu.”

Bocah merah itu mencibir, “Di mulut saja Cici memaki aku, padahal dalam hati alangkah senangnya.”

Cu Jit-jit tertawa dan mendadak membalik tubuh hendak memukul, tapi begitu dia membalik kebetulan dia menubruk ke dalam pelukan Sim Long malah.

Anak merah itu tertawa lebar, serunya, “Coba lihat, Cici cari kesempatan bermain.”

Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara seorang berteriak, “Tapak kuda ini masih baru, budak itu pasti belum lari jauh. Ayo kejar!”

Maklum angin mengembus kencang dari selatan, maka suara derap kuda di belakang terbawa angin, dan dapat didengar dengan jelas, tapi para pengejar itu tidak mendengar percakapan mereka. Sim Long keprak kudanya supaya lari terlebih kencang.

Cu Jit-jit berkata, “Sebetulnya mereka bukan tandingan kita, kenapa kita harus lari?”

“Bukankah kau pun bukan tandinganku, kenapa aku tidak melayanimu?”

“Huh, aku tanya betul-betul, kau menggoda malah.”

“Memangnya aku bergurau? Ketahuilah, umpama kepandaianmu sepuluh lebih tinggi daripada mereka, betapa pun jangan kau layani mereka.”

“Kenapa jangan melayani mereka?”

“Kan pihakmu yang salah, kalau sampai berkelahi benar, bukankah bakal ditertawakan orang. Apalagi Can Ing-siong dan Pui Jian-li bukan orang yang boleh dibuat permainan, bila sampai bermusuhan dengan mereka, kelak ayahmu yang akan menemui kesulitan.”

Tertawa Cu Jit-jit, katanya, “Kalau demikian, kau toh memikirkan diriku.”

Sim Long menghela napas, katanya, “Budi pertolonganmu masa tidak kubalas.”

Cu Jit-jit menghela napas, sekalian dia rapatkan tubuhnya ke pangkuan Sim Long, katanya, “Baiklah, lari juga boleh, terserah padamu mau lari sampai kapan.”

“Aduh, asyiknya! ….” tiba-tiba si anak merah menggoda.

*****

Mereka lari menyusur pinggir sungai terus menuju ke barat, setiba di kota Liong-seng, mereka menyeberang sungai terus menuju ke Pit-yang. Syukur para pengejar itu jauh tertinggal di belakang dan tak mungkin menyusul lagi. Namun kuda dan penunggangnya juga sudah payah, sukar melangkah lagi. Waktu itu sudah hari kedua menjelang tengah hari, hujan salju masih terus turun tak berhenti. Sebelum masuk kota Pit-yang, Cu Jit-jit mengeluh, “Tak tahan lagi, aku tak tahan lagi! Kalau tidak lekas mencari rumah penginapan yang bersih, aku bisa mampus di tengah jalan.”

“Sekarang belum tiba saatnya istirahat, apalagi di sini, celaka kalau pengejar itu menyusul tiba,” kata Sim Long.

“Pengejar menyusul tiba? Dalam keadaan seperti ini peduli apa dengan para pengejar itu, umpama mereka mengejar tiba dan membunuhku juga aku tetap ingin tidur.”

Sim Long kewalahan, katanya sambil geleng kepala, “Dasar gadis pingitan, rewel dan manja ….”

“Apa katamu?” omel Cu Jit-jit.

“Ya, ya, aku bilang memang perlu istirahat.”

Anak merah mencibir pula, katanya, “Bukan begitu katanya, dia bilang kau ini gadis pingitan yang manja ….” mendadak dia berhenti bicara dan memandang terkesima ke depan.

Waktu itu mereka mulai memasuki kota, deretan rumah penduduk di pinggir jalan sudah kelihatan, jalan raya dilapisi balok batu besar, dari pengkolan sana tiba-tiba muncul sebarisan orang. Setelah agak dekat baru terlihat jelas, puluhan orang berbaju kasar dengan dada terbuka sedang menggotong belasan buah peti mati, arahnya ke luar kota.

Para penggotong peti mati berlepotan debu dan hangus, namun peti yang mereka gotong semuanya masih baru, belum dipelitur lagi, agaknya dibuat secara tergesa-gesa karena perlu segera dipakai. Melihat gelagatnya, dalam kota Pit-yang tiba-tiba berjatuhan banyak korban yang mati sehingga persediaan peti mati tidak mencukupi.

Pejalan kaki semua minggir, namun tiada yang berani memerhatikan rombongan pemikul peti mati ini. Ada yang tunduk kepala, ada yang melengos ke arah lain, ada pula yang sengaja sembunyi ke dalam toko di sepanjang jalan, agaknya bila mereka berani mengawasi rombongan peti mati itu, bencana bakal menimpa mereka.

Tapi bocah merah memandangnya dengan mata melotot, heran dan kaget, sesaat kemudian baru dia menghela napas, katanya, “Banyak benar peti mati.”

“Memang tidak sedikit,” ucapnya Cu Jit-jit.

“Tidak sedikit apa, hakikatnya amat banyak. Peti mati sebanyak itu akan dikubur bersama, sebesar ini belum pernah kulihat atau mendengar. Hehe, kuyakin kau pun belum pernah melihat.”

“Orang sebanyak itu mati sekaligus memang jarang terjadi. Lihatlah orang-orang di tepi jalan seperti ingin menyingkir, mungkin di sini berjangkit penyakit menular.”

“Kalau berjangkit penyakit menular, mayat mereka tentu sudah dibakar.”

“Kalau bukan penyakit menular, pasti terjadi pertempuran kaum persilatan, maka jatuh korban sebanyak itu, tapi pemikul peti itu tiada satu pun yang mirip kaum persilatan.”

“Karena itulah kejadian ini dikatakan aneh.”

Hoa Lui-sian sudah menyusul tiba, dia mengenakan topeng, orang lain anggap dia bocah cilik yang suka bermain dengan topengnya, maka tidak menarik perhatian orang.

Cu Jit-jit berpaling dan tanya kepadanya, “Tahukah kau apa yang telah terjadi?”

“Peduli apa yang terjadi, kota Pit-Yang ini pasti tidak aman, lebih baik kita ….”

“Memangnya kenapa kalau tidak aman?” tukas Cu Jit-jit dengan melotot.

“Tidak apa-apa,” Hoa Lui-sian menghela napas, lalu bergumam, “Sudah tidak aman, kedatangan pula dua orang tukang mencari gara-gara …. Ai, mungkin akan ada tontonan yang lebih menarik lagi.”

Cu Jit-jit anggap tidak mendengar, asal Sim Long tidak bersuara, legalah hatinya.

Setelah rombongan pemikul peti mati lewat, segera dia melompat ke tengah jalan raya. Tampak jalan raya yang panjang ini ternyata sunyi sepi, setiap pejalan kaki sama bungkam sambil lalu dengan menunduk kepala, padahal rombongan peti mati itu sudah tak kelihatan lagi, namun suara berbisik pun tidak terdengar. Jelas hal ini amat janggal, tapi Cu Jit-jit tetap tidak peduli, setelah mendapatkan hotel segera dia masuk kamar dan istirahat.

Hotel ini amat besar, mungkin hotel satu-satunya yang terbesar di kota Pit-yang ini. Tapi hotel sebesar ini juga sepi-sepi saja, ruang makan di bagian depan juga tidak terdengar percakapan orang. Para pedagang, pelancong yang tiba di Pit-yang agaknya juga sudah pergi semua, yang belum datang agaknya juga putar haluan ke tempat lain. Kota Pit-yang seolah-olah sudah menjadi kota teror.

*****

Menjelang magrib baru Cu Jit-jit bangun tidur, meski sudah tidur setengah hari, dia masih belum puas juga. Maklum tidurnya tidak nyenyak, layap-layap dia seperti mendengar suara kuda lari mondar-mandir di jalan raya. Setelah mandi dan berdandan, dia keluar dan mengetuk jendela kamar sebelah, “Lo-pat, Lo ….”

Belum dia mengulangi seruannya, daun jendela terbuka, si anak merah tetap berpakaian serbamerah, cuma potongan bajunya yang berbeda, dia berdiri di atas ranjang yang letaknya dekat jendela, katanya dengan tertawa, “Sudah kuduga kau pasti sudah bangun.”

“Mana dia?” tanya Jit-jit dengan suara mendesis.

Si anak merah berkerut hidung, katanya, “Kau bisa dia pergi. Tengoklah sendiri, bukankah dia masih mendengkur seperti babi mati.”

“Jangan memaki orang,” desis Jit-jit, dilihatnya di ranjang seberang sana seorang rebah dalam selimut yang tebal, bantal guling pun terselubung di dalam. Cu Jit-jit tertawa riang, katanya, “Jangan biarkan dia tidur melulu, lekas bangunkan dia!”

“Baiklah,” ujar si bocah merah, mendadak ia jumpalitan ke belakang, turun di depan ranjang yang lain, serunya, “Hei, bangun, bangun! Ratu iblis datang, masa kau masih tidur juga?”

Seperti sudah mampus saja tidur Sim Long sungguh lelap, sedikit pun tidak bergerak.

Si anak merah bergumam, “Dia bukan lagi babi, tapi lebih mirip sapi ….” mendadak dia menarik selimut. Di dalam selimut hanya terbungkus seprai dan bantal guling, namun Sim Long entah ke mana perginya.

Cu Jit-jit menjerit kaget, segera dia menerobos masuk lewat jendela, selimut, bantal guling dia ubrak-abrik ke lantai, serunya sambil membanting kaki, “Kau bilang dia babi, justru kau sendiri babi. Kau bilang tidak tidur, memangnya dia menjadi lalat dan bisa terbang tanpa kau ketahui? Tolong … tolong ….”

Hoa Lui-sian dan para pengawal berseragam hitam itu langsung berlari datang. Cu Jit-jit lantas berseru, “Dia … dia sudah kabur…” belum habis bicaranya air mata lantas bercucuran.

Karena dimaki, anak merah penasaran dan memonyongkan mulutnya, sambil menyingkir dia mengomel, “Tidak malu, sudah sebesar ini, sedikit-sedikit menangis. Huh, apa-apaan ….”

“Apa katamu?” kontan Cu Jit-jit berjingkrak gusar.

“Aku bilang … maksudku, kalau orang sudah pergi, ya mau apa lagi, kan masih bisa dicari.”

“Lekas, ayo lekas cari, kalau tidak ketemu, awas kepalamu …. Lekas kalian cari, kenapa hanya melongo saja? Mungkin … mungkin kali ini sukar menemukan dia lagi.”

Mendadak dia menjatuhkan diri ke atas ranjang terus menangis tergerung-gerung.

“Ayolah cari ….” seru si anak merah kesal.

Tiba-tiba bayangan orang berkelebat masuk dari luar jendela, tahu-tahu Sim Long muncul kembali.

Kaget dan girang si anak merah, segera dia menubruk serta memegang lengannya, teriaknya, “Bagus, sejak kapan kau kabur? Celakalah aku dimaki-maki Cici.”

Sim Long tersenyum geli, katanya, “Waktu kau mencaci Kim Put-hoan dalam impianmu, diam-diam aku pergi ….”

*****

Melihat orang-orang berada di ruang makan sama berbisik-bisik tengah membicarakan Cu Jit-jit, si anak merah naik pitam, katanya sambil mendelik, “Jit-ci, coba lihat kawanan orang iseng itu, apakah perlu kuhajar mereka?”

“Kenapa kau marah?”

“Mereka membicarakan dirimu, masa kau tidak marah?”

Cu Jit-jit tertawa manis, katanya, “Cicimu kan cantik, maka orang mau memperbincangkannya, jika kakak jelek seperti babi, kau beri upah pun mereka tak mau membicarakannya, syukurlah bahwa orang-orang itu masih tahu membedakan cantik dan jelek, tidak seperti ….” matanya mengerling Sim Long, lalu menyambung, “tidak seperti laki-laki yang punya mata tapi seperti orang buta, ceweknya cantik atau jelek juga tidak tahu.”

Sim Long anggap tidak mendengar, Jit-jit kewalahan, saking jengkel dia angkat kaki dan injak kaki Sim Long sekeras-kerasnya, Sim Long hanya tersenyum saja, tidak memberi komentar, juga seperti tidak merasa sakit.

Anak merah itu geleng kepala, katanya gegetun, “Taci memang terhitung makhluk aneh, yang pantas marah tidak naik pitam, yang tidak perlu naik pitam, dia justru marah-marah.”

“Setan cilik, peduli kau, jangan turut campur!” omel Jit-jit.

Anak merah alias Cu Pat tertawa, “Ya, baik, aku memang jeri padamu. Kalau kau marah jangan kau tujukan kepadaku.”

Didengarnya pembicaraan orang-orang itu makin keras dan berani, gelak tawa mereka pun semakin ingar-bingar, tak segan-segan mereka menoleh kemari, malah main tuding lagi. Anak merah berkerut kening, mendadak dia lari keluar memanggil kedelapan pengawal itu masuk, seperti malaikat saja mereka disuruh berbaris di belakang Cu Jit-jit, wajah mereka kereng dan mendelik gusar, bila ada orang yang berani rewel rasanya mereka siap mengganyangnya, di mana ada suara ramai ke sana mereka melotot. Lambat laun suara percakapan dan kelakar orang-orang itu menjadi sirap, satu per satu mengeluyur pergi.

Tinggal seorang lagi yang duduk di pojok kiri sana, duduk tegak di atas kursi, sejak tadi diam saja tidak bergerak, juga tidak ganti posisi, kedua matanya menatap tanpa berkedip, seperti sedang menunggu seseorang, sorot matanya jalang memancarkan rasa dendam yang tak terlampias.

Dia memakai baju biru panjang, warnanya sudah luntur karena sering dicuci, wajahnya yang pucat seperti tidak berdarah, janggutnya kelimis, tidak memelihara kumis, usianya sekitar 25-26 tahun.

Pada saat itulah dari luar masuk seorang lagi, perawakan dan tampangnya mirip laki-laki berbaju biru itu, cuma pakaiannya jauh lebih perlente, kainnya dari bahan mahal, usianya juga lebih muda, wajahnya berseri tawa, jadi jauh berbeda dengan pemuda jubah biru yang merengut dingin. Beberapa kali sorot matanya mengerling ke arah Cu Jit-jit, tak lupa ia pun melirik Sim Long, lalu langsung dia mendekati pemuda berbaju biru itu, sapanya, “Toako, kau sudah datang lebih dulu?”

Sejak tadi sorot mata pemuda jubah biru tidak pernah berpindah dari pintu, pemuda perlente agaknya sudah tahu bahwa pertanyaannya tidak akan mendapat jawaban, setelah duduk dia lantas makan minum tanpa bicara, tapi sorot matanya juga selalu ditujukan keluar.

Di sampingnya lagi terdapat sebuah meja bundar, beberapa orang laki-laki duduk mengitari meja ini, diam-diam mereka sering melirik ke arah kedua pemuda ini, satu di antaranya kelihatan bersikap garang, kalau memandang orang selalu mendelik, sikapnya mengejek seperti meremehkan orang lain, dengan suara tertahan dia sedang berkata, “Apakah kedua orang ini adalah Ting-keh-hengte yang beberapa hari lalu pamer kepandaian itu?”

Seorang di sebelahnya juga berpakaian mewah tapi mukanya lancip dan matanya sipit, kepalanya panjang, dari tampangnya sudah dapat diraba orang ini jahat dan licik, dengan tertawa dia menjawab, “Pandangan Thi-toako memang tajam, sekali pandang lantas mengenalnya.”

Laki-laki temberang ini mengerutkan alisnya yang tebal, katanya, “Tak terduga kedua orang ini juga datang kemari. Konon kedua saudara ini pun cukup tangguh, kalau persoalan ini sampai mereka ikut campur, tentu urusan sukar diselesaikan.”

Laki-laki bermata sipit itu tertawa perlahan, sahutnya, “Ting bersaudara ini memang lawan tangguh, tapi di pihak kita ada si Tombak Sakti Thi Seng-liong, Thi-toako, soal apa yang tidak dapat dibereskan?”

Thi Seng-liong di sebelahnya tertawa, tapi begitu dia menoleh, seketika berhenti gelak tawanya, dia terlongong ke arah pintu, katanya kemudian dengan suara tertahan, “Itu dia, lawan yang benar-benar tangguh telah tiba.”

Hampir semua hadirin sama memandang ke luar pintu, tampak seorang lelaki dan seorang perempuan, menggandeng seorang anak perempuan lagi datang dengan langkah lebar. Kedua orang ini seperti suami-istri, yang lelaki berpundak lebar seperti beruang, pinggang kekar laksana orang hutan, otot tubuhnya kelihatan merongkol, kelihatannya memiliki tenaga yang luar biasa, tulang pipinya menonjol, mulutnya lebar hampir menjangkau kuping, tampangnya kereng menakutkan.

Yang perempuan justru bertubuh ramping dan berdada montok, rambutnya digelung tinggi, dipandang dari samping kelihatannya cantik molek laksana bidadari, sayang bila berhadapan dengan dia, maka tampak pada wajahnya yang molek itu ada jalur merah bekas bacokan senjata tajam sepanjang tujuh dim, dari pelipis miring ke bawah lewat tengah alis terus sampai ke ujung mulut. Mending kalau mukanya jelek, justru wajahnya secantik kembang mekar, tapi dihiasi bekas bacokan sehingga kelihatan seram dan membuat orang mengirik.

Kalau suami-istri bertampang mengejutkan, anak perempuan yang digandeng mereka itu ternyata mungil jenaka, mukanya bulat dengan pipi yang bersemu merah, montok dan bola matanya bundar berputar kian kemari, begitu melihat si anak merah segera dia melelet lidah membuat muka badut, lalu mencibir.

Anak merah berkerut kening, katanya, “Setan cilik ini nakal sekali.”

Cu Jit-jit tertawa, katanya, “Kau juga setan cilik, memangnya kau tidak lebih nakal?”

Seluruh hadirin sama memerhatikan kedua suami-istri ini, kedua suami-istri ini ternyata tenang-tenang saja, sedikit pun tidak peduli akan perhatian orang banyak atas diri mereka.

Mereka asyik momong putrinya, tanya mau makan apa dan mau minum apa. Seolah-oleh hanya putri mereka saja yang paling penting di seluruh jagat ini.

“Hah, sungguh menarik,” ucap Cu Jit-jit, “orang aneh semakin banyak, siapa nyana kota Pit-yang ini ternyata begini ramai.”

Tiba-tiba Sim Long mendesis, “Apakah kau tahu siapa kedua suami-istri ini?”

“Apakah mereka tahu aku ini siapa?” Jit-jit balas bertanya.

“Siocia, nama besar kedua orang ini kurasa sepuluh kali lebih tenar daripadamu.”

Cu Jit-jit tertawa, sahutnya, “Tujuh jago kosen Bu-lim masa kini juga cuma begitu saja, memangnya mereka terhitung apa?”

“Tahukah di kalangan Kangouw tidak sedikit ‘harimau mendekam dan naga sembunyi’, meski tokoh-tokoh lihai sangat jarang tapi para pendekar besar yang mengasingkan diri entah masih betapa banyak. Tujuh jago kosen itu hanya kebetulan saja pernah muncul dalam percaturan Kangouw dan belum terkalahkan, jadi hanya kebetulan saja, sehingga terciptalah kebesaran nama mereka. Memangnya kau yakin tiada jago lain yang lebih lihai daripada mereka?”

“Baiklah, aku memang selalu kalah berdebat denganmu, lantas siapa kedua orang ini?”

“Aku juga tidak tahu.”

Keruan Jit-jit mendongkol, dia berbisik, “Kalau di sini tiada orang sebanyak ini, ingin kugigit telingamu.”

Sekonyong-konyong terdengar seorang bergelak tertawa, suara tertawa latah itu berkumandang dari luar pintu, gelak tawa yang keras memekak telinga, kedengarannya seperti ada belasan orang tertawa bersama. Keruan hadirin berjingkat kaget, semua menoleh ke sana.

Tertampaklah delapan laki-laki sedang mengiring seorang Hwesio gede gemuk masuk ke restoran. Ketujuh laki-laki pengiring itu semua berpakaian bagus, langkahnya tegap, matanya tajam, jelas mereka pun orang persilatan, tapi sikapnya kepada si Hwesio ternyata munduk-munduk.

Sebaliknya tingkah laku Hwesio gede itu menyebalkan, walau cuaca buruk dan hawa dingin, dia hanya memakai jubah pendek di atas lutut dengan celana pendek pula, baju bagian dadanya tersingkap lebar, sehingga daging dadanya yang gembur kelihatan bergetar setiap kakinya melangkah. Kontan Cu Jit-jit mengerut kening.

“Jit-ci,” bisik si anak merah, “coba lihat, Hwesio itu mirip apa?”

Jit-jit cekikik geli, omelnya, “Setan cilik, ada orang sedang makan, jangan kau omong kotor, awas kalau sampai lenyap selera makanku.”

Anak merah itu berkata pula, “Kalau Hwesio gede ini juga pandai Kungfu, tentunya amat aneh. Padahal berjalan pun napasnya ngos-ngosan, mampukah dia berkelahi dengan orang?”

Tujuh-delapan lelaki yang mengiringi kedatangan Hwesio gede itu ternyata punya pergaulan luas, begitu mereka masuk seluruh hadirin segera berdiri dan menyapa dengan hormat. Hanya kedua suami-istri tadi seperti tidak peduli kehadiran orang, sementara kedua saudara Ting juga tetap menunduk saja, mereka sibuk makan-minum sendiri, tidak menoleh ke kanan-kiri.

Thi Seng-liong segera tarik lengan baju laki-laki bermata sipit, tanyanya perlahan, “Siapakah Hwesio gemuk ini, apa kau tahu?”

Lelaki sipit juga berkerut kening, katanya, “Setiap jago lihai yang punya sedikit nama di dunia Kangouw, boleh dikatakan aku Ban-su-thong (segala urusan tahu) pasti kenal, tapi Hwesio yang satu ini aku tidak tahu siapa dia.”

“Kalau demikian, dia pasti seorang keroco yang tidak punya nama dalam Bu-lim?” ucap Thi Seng-liong.

“Ya, ku … kukira demikian ….” sahut Ban-su-thong ragu-ragu.

“Kentutmu busuk,” tiba-tiba Thi Seng-liong menghardik gusar, “kalau dia seorang keroco, memangnya Cin-piauthau, Ong-piauthau, Song-cengcu dan lain-lain sudi bersikap hormat kepadanya. Ban-su-thong apa, sekali ini matamu agaknya lamur!”

Ruang itu sudah penuh sesak. Banyak orang berjubel tidak kebagian tempat duduk, maka tidak sedikit yang berdiri di pinggir sehingga delapan kacung restoran sibuk dan kerepotan. Dalam ruang makan besar dan dihadiri orang sebanyak ini, yang terdengar hanya gelak tertawa si Hwesio gede saja, percakapan orang lain seperti ditelan oleh gelak tertawanya.

Anak merah itu jadi uring-uringan, omelnya, “Huh, menyebalkan!”

“Memang sebal, lebih baik kita ….”

“Kau mau cari setori lagi?” cegah Sim Long.

“Memangnya kau tidak muak melihat tampang orang seperti itu?”

“Coba kau lihat, berapa orang di sini yang membencinya, dua orang bersaudara di pojok itu, setiap kali memandangnya terlihat sorot matanya penuh kebencian. Beberapa kali sang kakak mau berdiri, tapi selalu dicegah oleh adiknya. Demikian pula suami-istri itu, walau tidak pernah melirik sekalipun ke sana, tapi sikap mereka kelihatan rada ganjil. Apalagi laki-laki kekar seperti menara itu pun rasanya sudah gatal dan mau melabraknya, namun mereka toh segan dan ragu …. Cepat atau lambat orang-orang itu pasti akan turun tangan, toh bakal ada tontonan, buat apa kau sendiri harus turun tangan?”

“Baiklah, aku selalu kalah berdebat denganmu,” omel Jit-jit.

Tiba-tiba terdengar si Hwesio gede itu berseru, “Nah, itu dia sudah datang!”

Waktu hadirin menoleh, tertampak dua laki-laki berbaju hitam mengempit dua lelaki lain dengan topi miring beranjak masuk, sekali pandang orang akan tahu bahwa kedua tawanan itu adalah pencoleng kampungan, tampak mukanya pucat, kedua laki-laki berbaju hitam langsung menggusurnya ke depan Hwesio gede, sambil membungkuk badan mereka memberi laporan, “Bajingan ini she Wi, berjuluk Wi Be (kuda kuning), dia paling jelas tentang urusan itu, dalam kota Pit-yang ini, mungkin hanya dia yang paling jelas persoalannya.”

“Bagus, bagus,” puji si Hwesio gede, “boleh persen dia dulu seratus tahil perak, supaya hatinya senang dan tenteram.”

Salah seorang pengiringnya segera melemparkan sekeping perak ke depan kaki Wi Be.

Seketika melotot bola mata Wi Be.

Si Hwesio gede tertawa, katanya, “Kalau keteranganmu baik, nanti kupersen lagi.”

Wi Be menghela napas lega, katanya, “Hamba Wi Be, sudah belasan tahun berkecimpung dalam kota Pit-yang ….”

“Singkat saja, bicara yang penting,” tukas si Hwesio gede, matanya menyapu pandang sekelilingnya, lalu tertawa lebar, “suaramu juga harus keras, supaya seluruh hadirin mendengar dengan jelas.”

Wi Be berdehem beberapa kali, katanya lantang, “Di sebelah utara Pit-yang menghasilkan batu bara, tapi penduduk Pit-yang tiada yang berani menggali batu bara itu. Kira-kira setengah bulan yang lalu mendadak datang belasan pedagang, seluruh areal tanah di utara kota Pit-yang dibelinya semua, mereka menyewa ratusan orang untuk menggali batu bara. Mereka mulai bekerja pertengahan bulan yang lalu, tapi setelah bekerja susah payah selama setengah bulan, hasilnya nihil, tiada batu bara yang berhasil mereka gali.”

Orang ini bercerita tentang gali-menggali tambang batu bara, tapi Cu Jit-jit dan Sim Long melihat hadirin sama mengunjuk sikap yang serius, maka mereka menduga hal ini pasti ada sangkut pautnya dengan kejadian yang mengejutkan di sekitar kota Pit-yang, maka mereka pun mendengarkan dengan penuh perhatian.

Perlahan Wi Be ulur kakinya dan menginjak uang perak tadi, ujung mulutnya mengunjuk senyuman puas, lalu melanjutkan, “Tapi pada tanggal satu bulan ini, jadi empat hari yang lalu, batu bara tidak berhasil mereka keduk, sebaliknya di kaki bukit di luar dugaan tergali sebuah pilar batu, di atas pilar itu terukir beberapa huruf … delapan huruf ….”

Sampai di sini seri tawanya tiba-tiba sirna, mimik wajahnya berubah takut dan ngeri, suaranya pun gemetar, “Delapan huruf itu berbunyi: ‘ketemu batu maju terus, takdir tak terhindarkan’.”

Diam-diam hadirin saling pandang, sikap mereka kelihatan makin prihatin, Hwesio gede itu juga tidak tertawa lagi, katanya, “Kecuali kedelapan huruf itu, adakah ukiran atau gambar lain di atas pilar itu?”

Wi Be berpikir sejenak, sahutnya, “Tiada lagi. Konon setiap goresan huruf itu berbentuk panah, seluruhnya ada tujuh puluh goresan sehingga terciptalah delapan huruf itu.”

“Panah!?” tanpa sadar hadirin sama berseru kaget dan heran, mereka tidak paham ‘panah’ itu melambangkan apa.

Wi Be menghela napas, lalu menyambung, “Di antara kuli penggali batu bara itu ada juga yang melek huruf, melihat tulisan pada pilar itu, mereka mundur tak berani menggali lagi. Sebaliknya setelah melihat pilar batu itu, kawanan pedagang itu justru berjingkrak kegirangan, mereka mau membayar tiga kali lipat bagi siapa yang tetap mau bekerja. Malam itu juga ditemukan sebuah pintu batu di belakang pilar, di atas pintu batu ini juga terukir huruf yang berbunyi: ‘masuk pintu selangkah, jiwa melayang seketika’. Warna hurufnya merah, kelihatan amat mengerikan.”

Ruang makan itu jadi sunyi, hanya terdengar dengus napas orang banyak. Maka Wi Be melanjutkan, “Penggali itu juga melihat huruf itu, mereka tidak mau menggali lagi. Agaknya kawanan pedagang itu juga sudah menduga akan hal ini, siang-siang mereka sudah mempersiapkan hidangan, sayur-mayur dengan arak, tanpa basa-basi, semua hidangan diberikan kepada penggali itu, sudah tentu mereka melalap habis hidangan dan puluhan guci arak yang sengaja disediakan. Keruan orang-orang itu mabuk, maka kawanan pedagang itu lantas menyerukan bekerja pula, tanpa sadar para penggali itu mengambil pacul dan sekop dan mulai menggali lagi, mereka sudah mabuk, maka tidak peduli apa arti tulisan yang tertera di atas pintu, dengan cepat sekali pintu batu itu lantas terbuka dan semuanya masuk ke sana. Tapi hari kedua ….”

“Hari kedua kenapa?” bentak si Hwesio gede.

Jidat Wi Be basah oleh keringat dingin, suaranya gemetar, “Orang yang masuk itu sampai hari kedua tiada yang keluar, sampai tengah hari, ayah bunda dan anak bini mereka berbondong-bondong datang ke sana, mengharukan jerit tangis mereka, sampai terdengar mereka yang tinggal di dalam kota, sungguh mengenaskan, amat memilukan. Hamba ikut terharu dan mencucurkan air mata, hingga hari hampir sore, tetap tiada reaksi apa-apa dari lubang galian.”

Ia mengusap keringat di atas jidatnya, kelihatan jari-jari tangannya gemetar, setelah ganti napas lalu melanjutkan, “Kemudian ada beberapa orang yang bernyali besar memberanikan diri untuk masuk gua tambang itu secara berombongan. Akhirnya ditemukan orang-orang itu ternyata sudah mati di dalam sebuah kamar batu, tiada luka pada tubuh mereka, namun kematian mereka amat mengerikan, bola matanya melotot, terbayang betapa takut, ngeri dan seram mereka sebelum ajal. Sudah tentu orang-orang yang masuk itu tak berani melihat lagi, serempak mereka menjerit terus berlari keluar. Saking sedih keluarga para korban akhirnya menjadi nekat, mereka berlomba hendak menerjang masuk, untung orang banyak berhasil menahan dan membujuk mereka, akhirnya dipilih beberapa pemuda yang bertenaga besar untuk menggotong keluar mayat-mayat itu, langsung dikebumikan. Siapa tahu, orang-orang yang menggotong keluar mayat-mayat itu, pada hari ketiga juga mati secara mendadak dan aneh.”

Wi Be ternyata pandai bicara, cerita yang mengerikan dapat diuraikan secara hidup dan menarik sehingga hadirin seperti menyaksikan atau mengalami sendiri kejadian itu, namun tidak sedikit hadirin yang merasa kaki dan tangan menjadi dingin, jantung berdetak, sembilan di antara sepuluh orang tanpa sadar sama menenggak araknya.

Yang duduk di samping Hwesio gede adalah seorang laki-laki tua kurus kering, matanya bersinar tajam, setelah menghabiskan araknya, dia termenung sejenak, katanya kemudian, “Apakah kau tahu bagaimana kematian orang-orang yang menggotong keluar mayat itu setelah hari ketiga?”

Wi Be membuka mulut, tapi tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya dengan suara serak dia berkata, “Hari ketiga lewat tengah hari, di antara mereka ada yang sedang makan, ada yang sedang sembahyang, ada yang sedang menimba air, ada pula yang sedang menulis. Tapi setelah tengah hari, orang-orang itu seperti kesurupan setan saja, mendadak mereka melompat-lompat, mulutnya terbuka tapi tidak dapat mengeluarkan suara, lalu terbanting jatuh kelejatan, hanya sekejap jiwa mereka lantas melayang.”

Bergetar tubuh si kakek kurus, “trang”, cangkir yang dipegangnya jatuh di atas meja, matanya nanar mengawasi belandar, mulutnya bergumam, “Belum lewat tengah hari … sungguh lihai … sungguh lihai ….” sorot matanya menampilkan rasa kaget dan ngeri, “prak”, tahu-tahu cangkir teremas hancur.

Diam-diam Cu Jit-jit menggenggam kencang tangan Sim Long yang di atas meja, wajahnya juga berubah pucat, hanya si anak merah yang terbelalak matanya, katanya, “Mungkinkah orang-orang itu mati keracunan?”

“Betul,” desis si kakek kurus kering. “Racun … racun … setiap tempat di balik pintu batu itu pasti terdapat racun, siapa saja bila menyentuh pintu, dinding, atau menyentuh mayat-mayat yang mati keracunan, mereka pun tidak bisa hidup dalam dua belas jam lagi …. Racun seganas itu sudah dua puluh tahun lebih tidak pernah kulihat.”

Si Hwesio gede berkata, “Apakah racun itu lebih lihai daripada Cu-bu-cui-hun (lewat tengah hari merenggut nyawa) milik dirimu yang ahli racun ini?”

Bahwa orang tua kurus kering ini ada pemilik Cu-bu-cui-hun-sah, orang ketiga dari sembilan belas jenis senjata rahasia beracun di Bu-lim dan bernama Bok Hi, keruan seluruh hadirin sama melengak dan pucat mukanya.

Bok Hi tertawa pedih, katanya, “Racun yang pernah kugunakan, kalau dibandingkan orang hanya seperti permainan anak kecil belaka.”

Si Hwesio gede berkerut alis, mendadak dia tergelak, katanya, “Bila mau ikut padaku, tanggung tidak akan mati, racun yang paling jahat bagiku tak ubahnya seperti gula pasir belaka,” lenyap tertawanya mendadak dia berseru bengis, “Apakah mulut gua itu sekarang sudah tersumbat?”

Cepat Wi Be menjawab, “Gua iblis itu dalam sehari telah membunuh dua ratus jiwa, jangankan menyumbatnya, pergi ke sana pun tidak berani kecuali orang gila.”

Hwesio gede tertawa sambil mendongak, “Kalau begitu, semua orang yang ada di sini mungkin akan melihat ke sana, memangnya mereka juga orang gila semua?”

Wi Be melongo, seketika pucat air mukanya, cepat dia menyembah, ratapnya, “Siaujin (hamba) tidak berani, tidak … bukan begitu maksud hamba.”

“Lekas enyah!” bentak si Hwesio gede.

Seperti mendapat pengampunan, setelah menyembah beberapa kali dia merangkak mundur terus lari pergi, uang perak yang tadi diinjaknya pun lupa diambilnya.

Mendadak si anak merah melompat ke depan dan berjumpalitan dua kali, sekali raih dia ambil uang perak itu terus dilemparkan pula. “Tring”, uang itu jatuh di luar pintu, tepat di depan Wi Be, waktu Wi Be memungut uang itu, si anak merah juga sudah duduk kembali di kursinya, katanya dengan tertawa, “Uang hasil jerih payah, jangan lupa membawanya.”

Melihat usianya masih sekecil itu tapi sudah mendemonstrasikan Ginkang selihai itu, keruan hadirin sama terbeliak kaget. Si Hwesio gede bergelak tertawa sambil keplok, “Anak bagus! Ginkang hebat, dari siapa kau belajar?”

Berputar bola mata si anak merah, sahutnya, “Belajar sama Taci.”

“Bagus, anak bagus! Siapa namamu?” tanya pula si Hwesio gede.

“Aku bernama Cu Pat-ya, Hwesio gede, siapa namamu?”

“Cu Pat-ya, hahaha, bagus Cu Pat-ya, aku bergelar It-siau-hud (Buddha tertawa sekali), apa pernah kau dengar namaku?” di tengah gelak tertawanya mendadak, tubuhnya bergerak perlahan menghampiri si anak merah, daging gempal di tubuhnya bergetar turun naik, kelihatan lucu.

Tapi Cu Jit-jit dan Sim Long sedikit pun tidak merasa lucu, sebelum It-siau-hud maju mendekat mereka sudah siap siaga, telapak tangan kanan Sim Long diam-diam sudah memegang punggung si anak merah. Mendadak tubuh besar It-siau-hud berkelebat, melesat ke pinggir, bukan menubruk si anak merah, tapi menerjang ke arah Ting-keh-hengte yang duduk di pojok sana.

Aksinya memang di luar dugaan hadirin, terjangan It-siau-hud sungguh secepat kilat, tapi reaksi Ting-keh-hengte juga tidak kalah cepatnya.

Pemuda jubah biru Ting Lui menarik tubuh sedikit, kontan meja ditendangnya mencelat, berbareng tangannya mencabut pedang lemas terus diayun ke depan.

Sementara pemuda perlente Ting Hi tergelak latah, serunya, “Bagus, Hwesio keparat, kami bersaudara belum lagi mencari perkara kepadamu, tapi kau sudah mencari gara-gara lebih dulu.”

Cepat sekali kedua saudara Ting ini bergerak, tahu-tahu mereka sudah menyingkir beberapa kaki ke kanan dan kiri.

Waktu itu tubuh It-siau-hud yang besar sedang terapung di udara, melihat meja meluncur menumbuk dirinya, dia tidak berkelit atau menyingkir, dengan kepalanya dia tumbuk meja itu hingga pecah berantakan. Seketika pecahan kayu, mangkuk piring dan cangkir arak muncrat kocar-kacir, malah It-siau-hud masih sempat menyambar dua kaki meja, di tengah gerungan murkanya, kedua tangannya menyapu kakak beradik She Ting itu.

Perawakannya memang besar, kedua lengannya panjang lagi ditambah kedua kaki meja, bila dibentang panjangnya ada satu tombak.

Segera angin menderu, api lilin besar di dalam ruang makan sama bergoyang mau padam, sungguh dahsyat sekali serangan si Hwesio.

Tampaknya kedua Ting bersaudara sudah terkurung di bawah serangan dahsyat dan tak bisa lolos. Hadirin sama terbelalak kaget, ada yang menjerit ada yang bersorak memuji, tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan keselamatan kedua saudara Ting itu.

Tahu-tahu kedua Ting menyelinap lewat selicin belut dari bawah lengan baju si Hwesio, padahal kalau mereka melompat mundur, umpama luput dari serangan ini, pasti takkan bisa lolos dari serangan susulan selanjutnya.

Tapi pengalaman tempur kedua saudara ini ternyata amat luas, ketepatan tindakan mereka pada saat terdesak juga setingkat lebih unggul daripada orang lain.

Dalam detik-detik yang gawat itu, mereka melakukan keputusan yang tidak mungkin berani dilakukan oleh orang lain. Bukan berkelit atau menyingkir, mereka justru memapak maju dan menyelinap lewat di bawah It-siau-hud, maklum tenaga orang sukar dikerahkan ke bawah, jadi merupakan titik lemah dari gempuran yang dahsyat ini.

Tahu-tahu It-siau-hud merasa pandangannya kabur, bayangan kedua saudara Ting sudah lenyap. Segera terasa pula datangnya pukulan keras dari belakang, kiranya tanpa berpaling kedua saudara Ting itu mengayun balik tangannya balas menyerang. Padahal saat itu It-siau-hud tengah melancarkan serangan ke depan, untuk berputar dan menangkis jelas sangat sulit.

Tapi Kungfu Hwesio latah ini memang juga mengejutkan, sambil menarik sikut kiri, tangan kanan terayun ke kiri, lutut kiri setengah ditekuk dan kaki kanan menendang miring ke kiri atas, tubuhnya yang besar secepat kitiran berputar di tengah udara, kaki meja di tangan kiri tepat menangkis pedang Ting Lui yang menyambar tiba, sementara kaki kanan menendang pundak Ting Hi.

Serangan tadi sangat dahsyat, tapi serangan kali ini sekaligus bertahan sambil menendang dan menangkis, jarang ada tokoh silat yang mampu bertindak setangkas ini, sasarannya jitu, temponya cepat, gerakannya tangkas, siapa pun tidak menyangka tubuh yang besar itu mampu melakukan gerakan selincah ini.

Kedua Ting bersaudara menjengek, tanpa berpaling mereka terus melayang ke depan, ketika It-siau-hud turun ke bawah, kedua saudara itu sudah jauh berada di luar pintu. Terdengar Ting Lui mengejek, “Jika mau berkelahi, silakan keluar.”

Ting Hi juga mendengus, “Kalau dia sudah berani kemari, memangnya dia takut keluar?”

Serangan It-siau-hud itu dilancarkan dalam sekejap, gebrakan kedua pihak sama-sama di luar dugaan orang banyak, terjadinya secepat kilat, semuanya merupakan perpaduan antara pengalaman, Kungfu sejati dan kecerdikan, hadirin menyaksikan dengan melongo kagum, setelah suara kedua saudara Ting berkumandang di luar pintu baru hadirin serempak bersorak riuh rendah. Tertampak wajah It-siau-hud berubah merah padam, tapi dia tidak mengejar keluar.

Di tengah duduknya Cu-bu-cui-hun Bok Hi mendengus, “Lui-hi-siang-liong-kiam, masih muda dan gagah perkasa, di bawah ketenaran nama mereka tiada orang lemah, selanjutnya Taysu harus bertindak lebih hati-hati.”

It-siau-hud tertawa latah, katanya, “Kalau cuma kedua bocah ingusan ini masih belum kupandang sebelah mata, jika tidak ada urusan penting yang harus kita selesaikan, memangnya mampu mereka lolos dari genggamanku?”

Mendadak dia menarik muda dan menyapu pandang hadirin, katanya keras, “Tentunya kalian sudah mendengar jelas bila di antara kalian ada yang tidak ingin mengambil bagian, boleh silakan pergi dari sini. Asalkan punya tujuan yang sama, boleh tetap tinggal di sini, nanti berunding pula denganku.”

Tiba-tiba Cu Jit-jit menjengek, “Berdasarkan apa kau mengusir orang pergi dari sini?”

It-siau-hud menatap tajam ke arah Jit-jit, ia tertawa, “Nona berani bilang demikian, tentu kedatanganmu bukan untuk urusan ini?!”

Cu Jit-jit membatin, “Orang ini kelihatan kasar, tapi juga bisa menggunakan otak, ternyata seorang lihai.”

Walau dalam hati tahu Hwesio ini lawan lihai, tapi sedikit pun dia tidak takut, jengeknya, “Kau keliru, nonamu justru kemari karena soal itu.”

Pada akhir katanya sengaja dia melirik Sim Long, pandangan It-siau-hud juga beralih ke arah Sim Long. Dilihatnya Sim Long duduk bermalas-malasan sambil minum arak, padahal keributan sudah terjadi dalam ruang makan ini, dia sedikit pun seperti tidak tahu-menahu.

Selama hidup belum pernah It-siau-hud melihat orang setenang ini, dia melenggong, mendadak ia tertawa, serunya, “Bagus … bagus ….” dia terus berputar ke meja sebelah sana dan bertanya, “Dan bagaimana kalian?”

Meja itu dikitari lima laki-laki, serempak mereka berdiri, semua berubah air mukanya, satu di antaranya tertawa menyeringai dan menjawab, “Taysu bertanya, entah ada ….”

Belum habis dia bicara It-siau-hud sudah mencengkeramnya, orang itu dapat melihat tangan It-siau-hud mencengkeram dadanya, tapi dia tidak mampu berkelit, tahu-tahu tubuhnya sudah terangkat ke atas terus dibanding di atas meja. Meja hancur, mangkuk piring pun berantakan. Keempat temannya berjingkrak gusar, mereka membentak bersama, “Kau ….”

Belum lanjut ucapannya, terdengar serentetan suara “plak-plok”, ternyata keempat laki-laki itu telah dipersen beberapa kali tamparan, kontan muka mereka merah bengap.

“Budak yang tidak berguna ….” bentak It-siau-hud, “makin banyak orang ikut mengurus soal ini makin baik, tapi kalau orang-orang tak berguna seperti kalian ikut campur, bukan saja hasilnya tidak memuaskan, salah-salah urusan bisa gagal total …. Huh, lekas enyah!”

Cepat keempat orang itu menggotong temannya dan saling pandang, ada yang mendekap pipi, ada yang menghela napas, dengan menunduk lesu mereka berlari pergi.

Dalam pada itu It-siau-hud sudah berada di meja lain, meja ini diduduki empat orang, sejak tadi mata mereka sudah melotot padanya, tangan terkepal dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpa mereka. Melihat Hwesio gede itu menghampiri, serempak keempat laki-laki itu menggembor terus menubruk maju, delapan kepalan besar serentak menggenjot tubuh It-siau-hud.

It-siau-hud bertolak pinggang sambil bergelak, mendadak tangan kirinya mencengkeram dada seorang, berbareng tangan kanan terayun, seorang lain dipukulnya berputar dua kali baru terguling. Lalu lututnya menyodok, seorang lagi menungging sambil memegang perut. Laki-laki terakhir kena ditendangnya mencelat, tepat melayang ke meja di mana Cu Jit-jit dan Sim Long berduduk.

Tanpa berpaling tangan Sim Long menyampuk, hanya dengan gerakan enteng, laki-laki itu kena disengkelitnya hingga berdiri tegak jauh di sana tanpa kurang suatu apa. Keruan di samping kaget, ngeri, ia pun takut, sesaat dia awasi Sim Long dengan melongo, Sim Long tetap sibuk dengan araknya, segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya seperti tidak dihiraukannya.

It-siau-hud berkerut alis, sekali menghardik laki-laki yang dicengkeram oleh tangan kirinya dia lempar, deru angin menyebabkan penerangan dalam ruang makan itu menjadi guram, api lilin padam. Sekonyong-konyong seorang membentak di meja sebelah, begitu berdiri dia ulur kedua tangannya, laki-laki itu kena ditangkapnya. Laki-laki ini bukan lain adalah si Tombak Sakti Thi Seng-liong.

Ban-su-thong berkeplok dan bersorak, It-siau-hud tertawa lebar, katanya, “Orang bilang Thi Seng-liong adalah orang gagah nomor wahid di Hopak, kelihatannya memang tidak bernama kosong.”

Bercahaya wajah Thi Seng-liong, sikapnya tampak bangga, katanya sambil menjura, “Tak nyana Taysu juga tahu namaku, sungguh orang she Thi merasa malu.”

It-siau-hud berkata, “Tokoh seperti Thi-heng justru sangat kuperlukan, tapi yang lain ….” matanya lantas menyapu pandang seluruh hadirin, karena kepandaiannya memang cukup menggetar nyali orang, maka tujuh di antara sepuluh orang diam-diam berdiri terus mengeluyur pergi.

Ban-su-thong tertawa, katanya dengan berbisik, “Dua orang lagi yang duduk di meja sebelah sana yang berpakaian ungu adalah Wi Hoat-hou bergelar Thong-ciu-it-pa, yang berjubah kain kembang adalah putra angkatnya Siau-pa-ong Lo Kong, ke sebelah sana adalah Poat-swat-siang-to-ciang Beng Lip-jin, Tin-san-ciang Hongbu Siong, Hin-te-bu-hoan Li Pa, Yu-hoa-hong Siau Mo-in, yang mengisap pipa cangklong itu adalah Ong-jimoacu, ahli tutuk kenamaan di sekitar sungai besar.”

Satu per satu dia menyebut nama tokoh-tokoh Kangouw yang terkenal itu seperti menyebut nama-nama saudara sendiri, ternyata tiada satu pun yang tidak dia kenal.

“Bagus,” puji It-siau-hud. “Masih ada?”

Ban-su-thong menghela napas lega, sambungnya, “Dua orang di meja itu adalah Sun Thong, Sun-tayhiap dan Seng Ing, Seng-toakoanjin. Cayhe Ban Si-tong, orang salah baca jadi Ban-su-thong (segala urusan tahu). Sedangkan nona yang duduk di meja sana, kalau bukan putri Hoat-cay-sin keluarga Cu, pasti putri keluarga Hay di Kanglam, hanya … sepasang suami-istri itu, hamba tidak mengenalnya.”

It-siau-hud tertawa, katanya, “Itu sudah cukup, memang tidak malu kau dijuluki Ban-su-thong, kelak bila usahaku berhasil, tenaga macam dirimu ini memang sangat kuperlukan.”

Ban-su-thong kegirangan, katanya berseri, “Terima kasih.”

“Seng-toakoanjin, silakan minum arak,” mendadak It-siau-hud menepuk meja, cangkir arak di atas meja itu tiba-tiba mencelat dan terbang ke depan Seng Ing.

Seng Ing tersenyum kalem, katanya, “Terima kasih atas pemberianmu.”

Begitu tangan terulur, cangkir arak itu diterimanya terus ditenggak habis, arak dalam cangkir sedikit pun tidak tercecer.

Orang ini masih muda, berwajah putih halus dan cakap, sopan santun lagi, kelihatannya memang mirip pemuda bangsawan, tapi Kungfunya ternyata cukup tinggi, dari cara dia menyambut arak tadi terbukti bahwa dia memiliki Lwekang yang tinggi.

It-siau-hud tertawa lebar, serunya, “Bagus, bagus …. Sun-tayhiap, mari kusuguh kau secangkir juga.”

Kembali telapak tangannya menepuk meja, sebuah cangkir meluncur pula ke arah Sun Thong di depan sana.

Ternyata Sun Thong juga seorang pemuda ganteng, cuma mata alisnya kelihatan agak angkuh, melihat cangkir meluncur tiba, dia tidak ulur tangan untuk menyambut, tiba-tiba mulut terbuka dan gigi menggigit, cangkir kena dia gigit, kepala Sun Thong terus mendongak dan menenggak habis arak di dalamnya, tapi lantas terdengar, “krak” lirih, ternyata cangkir itu kena digigitnya pecah, jelas meski reaksinya cukup cekatan, pandangannya tajam, tapi latihan Lwekangnya belum sempurna.

Keruan merah padam muka Sun Thong. Untung It-siau-hud lantas tertawa dan berkata, “Pepatah bilang, belibis elok tidak mau terbang bersama burung jelek, empat orang yang duduk bersama di meja ini memang boleh ditonjolkan sebagai Enghiong (kesatria).”

Sun Thong kira orang tidak melihat kegagalannya, diam-diam dia bersyukur dalam hati, tak terduga It-siau-hud tiba-tiba merendahkan suaranya dan berkata padanya, “Kalau bibirmu pecah lekas kumur dengan arak, supaya tidak terlihat orang lain.”

Sun Thong menyengir, katanya dengan menunduk, “Terima kasih atas petunjukmu.”

Kembali It-siau-hud bergelak tertawa beberapa kali, tubuhnya yang gemuk itu mendadak membalik ke belakang, dua jalur angin kencang memecah udara. Entah kapan dia sudah meraih sepasang sumpit, dengan cara menyambitkan panah, dengan jurus Ji-liong-jiang-cu, kedua sumpit itu mengincar kedua kaki Siau-pa-ong Lu Kong.

Kelihatannya Lu Kong agak gugup, tak sempat melompat ke atas, kedua sumpit sudah hampir mengenai mata kakinya. Mendadak kedua kaki Lu Kong terangkat dan menendang bergantian, sepasang sumpit itu kena ditendangnya mencelat ke atas, sekali meraih, Lu Kong menangkap sepasang sumpit itu, dengan enteng dia melayang turun, langsung dia menyumpit daging ayam di atas meja terus dijejalkan ke dalam mulut, sambil mengunyah dia tertawa, katanya, “Terima kasih, sepasang sumpit ini kuterima.”

Mukanya tidak merah, napas tidak memburu, dia mendemonstrasikan Ginkangnya yang hebat, sekaligus juga memperlihatkan ketajaman matanya, tenaga pinggang dan kekuatan kaki.

Hadirin yang menyaksikan memuji di dalam hati. Thong-ciu-it-pa WI Hoat-hou tampak prihatin, dia tumplak seluruh perhatian, siap menunggu It-siau-hud menguji dirinya.

Tak nyana It-siau-hud hanya tertawa lebar saja, katanya, “Kalau anak sudah selihai ini, kuyakin bapaknya pasti boleh juga.”

Dengan langkah lebar dia berlalu, maka legalah hati Wi Hoat-hou, diam-diam dia menyeka keringat.

It-siau-hud menghampiri Beng Lip-jin yang bergelar Poay-swat-siang-to-cing (si Golok Menyibak Salju), dia awasi orang dari atas sampai ke kaki, mendadak ia berkata dengan suara tertahan, “Lik-pi-hoa-san (tangan membelah gunung Hoa).”

Sesaat Beng Lip-jin duduk melongo, kemudian baru sadar maksud orang, ternyata It-siau-hud menguji dia dengan teori ilmu golok. Sudah puluhan tahun dia mendalami ilmu golok, seperti murid yang diuji gurunya secara lisan, dengan tertawa lebar Beng Lip-jin berkata, “Kiri menghantam dengan Hong-hong-siang-ca-ji, kanan memukul dengan Swat-hoa-kay-ting-bun.”

Sejurus dua gerakan, di samping menyerang sekaligus juga mempertahankan diri, memang tidak malu dia dipuji sebagai ahli golok.

“Bagus, sekarang aku menyerang dengan Hoan-te-seng-hoa.”

Beng Lip-jin melongo, lama dia berpikir, baru saja dia menemukan cara mematahkan serangan itu, ternyata It-siau-hud telah memberondong pula dengan jurus-jurus serangan lain, tiga jurus kemudian Beng Lip-jin sudah mandi keringat dan gelagapan.

It-siau-hud berkata pula, “Baiklah, aku memukul dengan Lik-pi-hoa-san, tadi kau sudah telanjur menggunakan jurus Ko-jiu-ban-kin (akar membelit pohon kuno), jelas tidak sempat lagi menggunakan jurus Swat-hoa-kay-ting itu.”

Beng Lip-jin berkerut kening mengelus jenggot, otaknya bekerja keras, akhirnya dia menghela napas lega, katanya, “Kiri memukul dengan jurus Tio-thiah-it-su-ciang (sebatang dupa sembahyang kepada Thian), kanan menyerang dengan Kui-bun-sam-tiap-long (tiga gelombang menggempur pintu), semuanya menyerang tempat yang harus kau lindungi.”

It-siau-hud manggut-manggut, “Bagus …. Hwi-jiu-hong-au (membalik tangan mencekik leher).”

Beng Lip-jin menyeka keringat, katanya dengan tertawa, “Kalau aku menyerang lambung bawahmu, kau pasti akan mundur ke belakang, mana mungkin bisa melancarkan jurus Hwi-jiu-hong-au lagi?”

“Orang lain tidak bisa, tapi aku mampu …. Coba lihat,” mendadak It-siau-hud ulur tangan, golok panjang yang tergantung miring di pinggang Beng Lip-jin dilolosnya, lalu dia bergaya melancarkan jurus Lik-pi-hoa-san, tapi sebelum gerakan penuh mendadak dia mengkeret mundur, pundak tidak bergerak, kaki tidak tergeser, tapi bagian bawah tubuhnya dapat meliuk mundur satu kaki, golok di tangan It-siau-hud berputar balik, dia betul-betul melancarkan Hwi-jiu-hong-au, sinar golok menyambar menebas leher Beng Lip-jin, tapi begitu golok hampir menyentuh kulit orang, tahu-tahu golok pun berhenti.

“Bagaimana?” tanya It-siau-hud dengan tertawa.

Basah kuyup keringat Beng Lip-jin, suaranya gemetar, “Jika Taysu benar-benar melancarkan jurus itu, maka batok kepalaku sudah terpenggal.”

“Tapi tak perlu kau merasa sedih, bekal ilmu golokmu sudah termasuk kelas wahid, jika orang lain, waktu aku melancarkan jurus Hoan-te-seng-hoa tadi, jiwanya pasti sudah melayang.”

“Trek”, tahu-tahu golok sudah dia masukkan ke sarungnya, tanpa pedulikan Beng Lip-jin, It-siau-hud berputar ke arah Hongbu Siong.

Beng Lip-jin menghela napas lega, namun kedua lutut gemetar tak bertenaga, badan pun dingin, pakaian dalam basah oleh keringat dan lengket dengan tubuhnya, begitu angin mengembus, seketika dia bergidik kedinginan.

Maklum, sejak Poat-swat-siang-to angkat nama, entah sudah berapa ratus kali dia perang tanding, tapi dia yakin, adu kepandaian secara teori ilmu silat yang baru saja berlangsung terlebih tegang.

Tin-sang-ciang (Pukulan Menggetar Gunung) Hongbu Siong, Hin-te-bu-hoan (Tanah Gersang Tiada Akar) Li Pa dan Yu-hoa-hong (Kumbang Pengeliling) Siau Mo, ia bertiga agaknya sudah ada kata sepakat. Sebelum It-siau-hud menghampiri mereka, mendadak Li Pa putar badan dan lari keluar, sebuah baju hijau besar persegi di tengah pelataran diangkatnya, baju hijau ini sebesar meja, beratnya paling sedikit ada lima ratus kati, jika tidak punya tenaga raksasa, jangan harap bisa mengangkatnya.

Tapi Li Pa mampu mengangkatnya tinggi di atas kepala, lalu perlahan masuk pula, tampak otot dagingnya merongkol, kedua lengannya tampak sangat kuat, gayanya mirip raksasa yang menyanggah langit.

Tin-san-ciang Hongbu Siong berseru memuji, “Tenaga hebat!”

Tiba-tiba ia melompat bangun, berbareng telapak tangan kanan terayun, “blang”, seperti palu membentur batu, baju hijau besar itu kena dipukulnya pecah sebagian, di bawah taburan debu pasir, batu besar itu mencelat dengan deru angin keras melayang ke pekarangan.

Yu-hoa-hong Siau Mo-in sedikit mendak, tiba-tiba dia melesat keluar. Batu besar itu sedang melayang keluar, tapi luncuran tubuhnya ternyata lebih cepat lagi, sebelum batu itu jatuh sudah kena dia sanggah, sementara kakinya tidak berhenti, beberapa kali lompatan, batu besar itu, dilemparnya keluar pagar tembok, sesaat kemudian baru terdengar suara “blang”, lalu tertampak Siau Mo-in melayang balik pula, muka tidak merah napas tidak memburu, katanya dengan menjura, “Batu itu mengganggu pemandangan di dalam pekarangan, dengan meminjam tenaga pukulan Hongbu-toako tadi, aku membuangnya di tempat sampah di luar sana.”

Tempat sampah yang dimaksud jauhnya ada ratusan tombak, Yu-hoa-hong Siau Mo-in sekaligus telah membawanya lari dan membuangnya ke sana. Walau meminjam tenaga luncuran batu, tapi gerak tubuhnya memang enteng dan cepat, pandai memanfaatkan kesempatan, jelas kemampuannya tidak dapat ditiru orang lain.

It-siau-hud tersenyum, katanya, “Kungfu kalian memang berbeda, tapi satu dengan yang lain sama bagusnya, masing-masing punya kelebihannya, Li-heng keluar tenaga lebih banyak, demikian pula gerakan Siau-heng lebih cepat, tapi kalau dipergunakan untuk berhantam di medan tempur, Kungfu Hongbu-heng kurasa jauh lebih berguna.”

Merah muka Li Pa, dia melengos ke sana, agaknya dia kurang terima. Siau Mo-in menepuk pundak Hongbu Siong, seperti hendak mengatakan apa-apa, tapi tidak jadi.

Tiba-tiba Ong-jimoacu, ahli Tiam-hiat yang menggunakan pipa cangklong, bergelak tertawa, katanya, “Analisis Taysu memang tepat, tapi menurut pendapatku, bila bertempur dengan orang, pukulan Hongbu Siong juga belum tentu berguna.”

“Dari segi aman kau berani bilang demikian?” tanya It-siau-hud.

“Pukulannya keras dan kuat, tapi tidak murni, pukulannya tadi mengakibatkan batu muncrat dan debu berhamburan, pecahan batu-batu itu besar kecil tidak rata. Batu yang dipukulnya pun melayang berputar, ini membuktikan bahwa landasan tenaganya masih kurang kukuh, dari sini dapat dinilai bahwa latihan pukulannya paling-paling baru mencapai enam bagian saja.”

Berubah air muka Hongbu Siong, diam-diam dia terkejut akan analisis Ong-jimoacu yang tepat, ini membuktikan bahwa pandangannya tajam dan pengalamannya luas.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: