Kumpulan Cerita Silat

09/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (05)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:42 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (05)
Oleh Gu Long

Pandangan semua orang terasa silau, terdengarlah Kin Ji menjerit kaget, tahu-tahu pedang Ci-ih-hou sudah tersimpan kembali, meski Kin Ji tidak roboh, namun pada tubuhnya telah bertambah tujuh luka berdarah.

Siapa pun tidak tahu jelas cara bagaimana Ci-ih-hou melukai Kin Ji hingga tujuh tempat itu, bahkan tersebar di antara kedua bahu, dada perut dan iga.

Wajah Kin Ji yang lonjong serupa muka kuda itu tampak pucat pasi dan berdiri melongo tanpa bergerak. Si buntak pun terkesima dan ketakutan setengah mati, selagi orang lain tidak memerhatikan dia, diam-diam ia mengeluyur keluar.

Padahal Ci-ih-hou berkata, “Hiat-to Kin-heng ini telah kutusuk dengan ujung pedang ….”

Mendengar orang dapat menusuk Hiat-to dengan ujung pedang, saking kagumnya Oh Put-jiu menghela napas.

Terdengar Ci-ih-hou melanjutkan, “Kalian boleh membawa Kin-heng ini kepada jago pedang berbaju putih itu, suruh dia memeriksa lukanya, katakan orang yang melukai dia ini sedang menanti di pantai laut timur, diharap Pek-ih-kiam-kek (jago pedang berbaju putih) itu datang kemari untuk menempurnya.”

Ong Poan-hiap bekernyit kening, ucapnya, “Houya, jika engkau pergi sendiri ke sana kan lebih cepat beres?”

Ci-ih-hou tersenyum getir, katanya, “Sejak belasan tahun yang lampau pedangku dikalahkan seorang, aku bersumpah selama hidup ini takkan menginjak daratan lagi.”

“Hah, di zaman ini ilmu pedang siapa pula yang dapat mengalahkan Houya?” tanya Ong Poan-hiap dengan melengak.

Ci-ih-hou menghela napas perlahan tanpa menjawab.

“Dan bagaimana bila Pek-ih-kiam-kek itu tidak mau datang kemari?” tanya Ong Poan-hiap setelah terdiam sejenak.

“Jika dia datang demi ilmu silat, setelah melihat ketujuh tempat luka Kin Ji, apa pun juga dia pasti akan bertempur denganku,” ucap Ci-ih-hou. “Kalau tidak, maka dia hanya menggunakan ilmu silat sebagai alasan untuk membunuh orang, jika begitu, bolehlah kalian mengerubutnya beramai-ramai tanpa perkara.”

Ong Poan-hiap memandang Kin Ji sekejap, katanya kemudian dengan menyesal, “Untuk membawa kuda ini, kukira harus bikin repot padamu, Oh Put-jiu!”

Tanpa banyak omong mereka terus berangkat dengan membawa si muka kuda Kin Ji yang terluka itu.

******

Menjelang fajar, suasana sunyi dan remang-remang. Di atas benteng kota Lokyang, di suatu lekukan duduk seorang berbaju putih tanpa bergerak serupa patung, hanya rambutnya yang panjang terurai melambai tertiup angin.

Sebatang pedang panjang tersandang di punggungnya, sepotong kain belacu menjadi ikat kepala sebatas alis menaungi wajahnya yang kelam sehingga terlihat misterius menyeramkan.

Dengan sorot mata hambar ia memandang keremangan kota Lokyang dengan termenung, memandangi beribu atap rumah yang terhampar di depan dengan perasaan sunyi, di tengah beribu rumah penduduk sekian banyak itu ternyata tiada seorang pun mampu melawannya.

Ketika cahaya sang surya mulai menembus kabut pagi di ufuk timur, perlahan si baju putih berbangkit dan menuruni benteng kota menuju ke arah barat, setiap langkahnya berjarak sama, tegap dan mantap.

Di barat kota Lokyang, di tengah pepohonan yang rimbun menelusur sebuah jalan berbatu kerikil, suasana masih senyap, tapi kalau diperhatikan dapat terlihat di bawah setiap pohon yang tumbuh di tepi jalan sama berdiri seorang lelaki berbaju putih dengan sikap tegang dan siap siaga seakan-akan menanti kedatangan tamu agung dan juga siap menghadapi musuh.

Pada ujung jalan adalah sebuah kompleks perumahan yang cukup luas, keadaan sepi, segenap penghuni perkampungan itu seperti masih tidur lelap.

Tapi begitu memasuki pintu gerbang perkampungan segera terlihat keramaian orang berlalu-lalang, namun setiap orang tetap bungkam saja biarpun satu sama lain berpapasan.

Di depan kelihatan sebuah ruang besar, segala perabot di situ sudah disingkirkan sehingga suasana kelihatan lengang dan agak seram, mendadak sembilan orang berbaju putih muncul berturut-turut dan duduk menjadi satu baris di satu sisi dekat dinding.

Perawakan kesembilan orang ini berbeda-beda, gerak-gerik juga tidak sama, tapi sikap mereka kelihatan penuh semangat, gagah perkasa. Kesembilan orang sama membawa sebuah kantong hijau, pandangan mereka sama tertuju ke luar pintu.

Kabut di luar sudah mulai buyar dan sinar sang surya memancar dengan gemilangnya, seorang yang duduk di tengah berucap, “Sudah waktunya ….”

Belum lenyap suaranya mendadak seekor merpati pos terbang masuk, seketika kesembilan orang saling pandang dengan tegang dan tidak bersuara lagi.

Sementara itu si baju putih tadi sudah dekat ujung jalan batu tadi, mendadak terdengar teriakan menggelegar seorang, serentak ratusan orang yang berdiri di kedua sisi jalan membentak, “Sambut tamu!”

Ratusan golok seketika terangkat ke atas dan terpasang menjadi palang golok di bawah barisan pohon. Suasana tegang dan khidmat.

Si baju putih tetap memandang ke depan tanpa peduli ratusan orang bergolok itu, selangkah demi selangkah ia maju ke depan.

Tiba-tiba dari halaman seorang membentak pula, “Sambut tamu!”

Suaranya terlebih lantang daripada tadi, serentak dari pintu gerbang hingga undakan ruang pendopo beratus lelaki kekar sama mengangkat golok masing-masing dan dipalangkan di atas. Bilamana si baju putih berjalan menyusuri barisan golok, asalkan golok membacok ke bawah, biarpun tubuhnya terbuat dari baja juga akan tercencang menjadi perkedel.

Beratus lelaki bergolok itu sama membatin, “Coba lihat apakah dia berani melalui barisan golok ini?”

Ternyata tanpa pikir si baju putih langsung menerobos barisan golok itu, beratus golok mengilat itu dianggapnya seperti besi karatan saja, langkahnya tetap tegap dan mantap dengan jarak yang sama, tidak cepat juga tidak lambat.

Semua orang sama melongo dan kagum juga terhadap ketabahan orang.

Setelah menerobos barisan golok, si baju putih melangkah ke dalam ruangan pendopo, dengan sikap dingin ia berdiri di depan kesembilan orang tadi, sorot matanya yang tajam memandang orang pertama di sebelah kiri terus berpindah hingga orang paling akhir di ujung kanan.

Sorot matanya bergerak sangat cepat, tapi dirasakan orang lain sedemikian lambannya, suara gertakan dan barisan golok di luar ternyata tidak mengurangi sedikit pun ketabahan orang ini, keruan diam-diam kesembilan tokoh itu terkesiap, mereka heran apakah benar orang ini memang tidak takut mati?

Setelah memandang kesembilan orang itu, agaknya si baju putih dapat meraba isi hati mereka, dengan dingin ia berkata, “Orang persilatan memang pantas gugur demi ilmu silat, biarpun aku mati di bawah golok juga sesuai dengan kewajibanku, mati pun takkan menyesal.”

Orang yang duduk di tengah memandang kawan di ujung kiri dengan muka bersemu merah, katanya kemudian, “Hari ini selain kesembilan tokoh utama daerah Tiongciu sudah berkumpul di Lian-hun-ceng ini, segenap anak murid kesembilan perguruan juga berada di sini. Dalam pertempuran ini, bilamana Anda dapat menang, maka tidak perlu lagi berkunjung kian kemari mencari lawan.”

Orang ini bermuka tirus, mata cekung, jelas ilmu silatnya tinggi dan juga pandai menggunakan akal.

Si baju putih memandangnya sekejap dan berucap, “Ti-sing Pang Jing?”

“Betul, aku Pang Jing,” sahut orang itu.

“Baik, ayo mulai!” kata si baju putih.

Pang Jing mendengus, “Hari ini kami bersembilan sama hendak belajar kenal denganmu, soal siapa yang akan turun tangan lebih dulu tidak ditentukan olehmu. Sebab pertarungan hari ini sangat besar sangkut pautnya, kami sudah menimbang dengan masak, bahwa berkumpulnya kami di sini bukan sengaja memberi kelonggaran padamu melainkan hendak menempurmu secara bergiliran untuk menguras tenagamu, dengan begitu kawan yang turun tangan terakhir akan banyak menghemat tenaga hingga mudah menundukkanmu. Meski tindakan ini rada kurang gemilang, namun tidak sampai melanggar semangat pertandingan, sebab kalau tidak, bilamana beribu penghuni Lian-hun-ceng ini mau main kerubut, maka … hehe ….”

Sampai di sini ia hanya terkekeh beberapa kali dan tidak meneruskan.

“Apa salahnya jika kau coba dulu?” ujar si baju putih.

Tengah Pang Jing bicara, ada kawannya yang memberi kedipan mata agar dia tidak banyak bicara. Ada lagi yang kelihatan malu dan ada pula yang menunduk.

Mendadak lelaki berewok yang duduk di sebelah kanan berdiri dan berseru, “Apa yang dikatakan tadi menjadi tanggung jawab orang she Pang sendiri dan tidak ada hubungannya dengan aku Hui-thian-pa. Jika kau ingin bergebrak, biarlah Hui-thian-pa melayanimu dulu.”

“Baik, silakan!” jawab si baju putih.

Meski Hui-thian-pa atau si macan tutul terbang ini berwatak kasar dan lugas, tapi menghadapi lawan tangguh, tindak tanduknya tidak terburu nafsu. Ia angkat kantong hijau, lalu melangkah keluar dengan perlahan.

Sementara itu sang surya sudah terbit dan sedang memancarkan cahayanya yang keemasan sehingga beratus golok kawanan lelaki di halaman itu sama gemerlapan.

“Simpan kembali senjata masing-masing,” bentak Hui-thian-pa.

Seketika beberapa puluh orang menurunkan goloknya, tentunya mereka itu anak murid Hui-thian-pa. Selang sejenak, kedelapan tokoh lain juga sama memberi tanda sehingga kemilau golok di halaman tidak kelihatan lagi.

Si baju putih tahu perintah menyimpan kembali golok masing-masing itu adalah agar cahaya golok yang gemerlapan itu mungkin akan menyilaukan mata dan memengaruhi pertarungan mereka. Diam-diam ia menduga kesembilan tokoh ini pasti bukan jago sembarangan. Ia justru berharap kepandaian Hui-thian-pa ini cukup tinggi sehingga memenuhi syarat untuk menjadi lawannya.

Setelah memandang sekitarnya, Hui-thian-pa lantas menjura kepada orang yang duduk di tengah, lalu ia buang kantong hijau sehingga kelihatan senjata yang semula terbungkus oleh kantong itu, kiranya sepasang Liu-sing-lian-cu-tui, bola berantai panjang.

“Awas, bola berantai ini panjang seluruhnya hampir dua tombak, sudah beratus tokoh yang pernah kuhadapi, harap engkau waspada,” ucap Hui-thian-pa.

Habis berucap, perawakannya yang tinggi besar itu mulai berputar, langkahnya ringan tanpa mengeluarkan suara, hanya rantai menyentuh tanah menerbitkan suara gemerencing.

Suara gemerencing itu makin lama makin keras, langkahnya juga bertambah cepat. Namun jaraknya dengan si baju putih tetap lebih dari setombak, umpama mendadak pedang si baju putih bergerak juga takkan mencapai sasarannya.

Betapa tinggi kepandaian si baju putih, biarpun dapat menang, tapi bila ingin sekali tusuk merobohkan lawan rasanya tidaklah semudah itu.

Sekonyong-konyong Hui-thian-pa membentak, bola berantai itu melayang ke depan membawa suara mendesing dan menghantam leher si baju putih.

Mendadak si baju putih angkat kedua tangannya ke belakang pundak kiri, kedua tangan memegang tangkai pedang, “sret”, pedang terlolos sejengkal, semua orang mendengar suara “trang” sekali, pada detik berbahaya si baju putih telah membentur bola berantai Hui-thian-pa dengan tangkai pedang.

Padahal bola berantai itu merupakan senjata andalan Hui-thian-pa, tenaganya tidak lemah, sekali sendal ia tarik kembali bola sebelah kanan, menyusul bola sebelah kiri lantas menyambar lagi ke depan.

Begitulah kedua bola berantai sambar bergantian, pandangan semua orang sampai kabur, hanya terdengar deru angin disertai gemerencing nyaring, pedang si baju putih tetap belum dilolos dan 18 kali serangan bola berantai Hui-thian-pa sama tergetar mencelat oleh tangkai pedang.

Tiba-tiba dua larik cahaya perak menyambar, selarik sinar hijau menerobos di tengah cahaya perak, menyusul suara Hui-thian-pa menjerit dan roboh terkapar tanpa bernyawa lagi. Ternyata pedang si baju putih sudah terlolos, darah segar menitik dari ujung pedangnya.

Suasana sunyi senyap, tiada seorang pun berani bersuara. Kedelapan tokoh yang berada di tengah ruangan juga diam saja, apa yang terjadi ini seperti sudah terduga oleh mereka.

Serentak empat orang berlari masuk, mayat Hui-thian-pa dibungkus dengan kain kafan terus diangkut keluar sama cepatnya seperti datangnya tadi. Hanya dalam sekejap sama tokoh termasyhur serupa Hui-thian-pa sudah tamat untuk selamanya.

Dengan sorot mata tajam si baju putih memandang ujung pedangnya, darah sudah menitik habis, ucapnya, “Berikutnya!”

Orang yang duduk di sebelah Hui-thian-pa berdiri perlahan dan tampil ke depan.

Perawakan orang ini kurus kering, muka pucat kuning, namun sinar matanya tajam, ia pun membawa sebuah bungkusan besar yang lekak-lekuk, isinya seperti bukan senjata.

Si baju putih meliriknya sekejap, katanya, “Jit-jiu-tay-sing Kiau Hui?”

“Ya,” jawab si kurus kering alias Jit-jiu-tay-sing atau si monyet bertangan tujuh. Perlahan ia menuju ke pojok ruangan, dibukanya bungkusan dan isinya ternyata beberapa kantong senjata rahasia Piau yang berwarna-warni.

Kiau Hui mengikat setiap kantong senjata itu pada pinggangnya dengan teliti, seperti tempat kantong senjata itu sudah melalui perhitungan yang cermat dan jitu agar caranya mengambil dapat terlaksana dengan cepat dan bebas tanpa rintangan. Ia berbaju putih sehingga kantong senjata yang berwarna-warni itu menjadi hiasan yang menarik.

Pedang si baju putih terjulur ke bawah dan memandang Kiau Hui dengan dingin, setiap gerak-gerik hadirin yang berada di ruangan tiada seorang pun lolos dari sorot mata dingin si baju putih.

Setelah Kiau Hui berbenah, lalu ia berdiri tegak di pojok sana, serunya, “Orang she Kiau terkenal karena senjata rahasia yang kugunakan, selain ini tidak mempunyai keahlian lain. Untuk ini apakah Anda sudi memberi petunjuk seperlunya?”

“Boleh, silakan!” sahut si baju putih.

“Dalam ketujuh kantongku ini terisi senjata rahasia yang tak terhitung jumlahnya, pernah sekaligus kubinasakan 36 bandit Hok-gu-san,” tutur Kiau Hui. “Sekarang Anda hanya melayaniku dengan pedang, mungkin takkan menguntungkan dirimu.”

Ia bicara dengan suara datar, dalam keadaan bagaimana pun tidak memperlihatkan sesuatu emosi.

Si baju putih tidak bicara lagi, bahkan meliriknya saja tidak.

Padahal biasanya lawan yang berhadapan dengan Kiau Hui betapa pun tidak berani meremehkan dia dan kedua tangan Kiau Hui pasti akan diperhatikan, sebab dari tangan Kiau Hui itulah kemungkinan maut akan menyambar tiba. Tapi sekarang si baju putih ternyata tidak memedulikan tangannya, keruan ia heran dan mendongkol, tapi juga girang.

Dilihatnya semangat tempur si baju putih seakan-akan mengendur, pedang juga terjulur tak acuh ke depan, sama sekali tidak ada tanda siap tempur.

Pada saat itulah, mendadak kedua tangan Kiau Hui bergerak cepat, dua tangan seakan-akan berubah menjadi berpuluh tangan meraba kantong yang tergantung di pinggangnya. Inilah caranya menghamburkan senjata rahasia, kepandaian andalannya yang disegani, tidak ada orang tahu dari arah mana dan senjata rahasia apa yang akan dihamburkannya.

Apalagi jaraknya dengan si baju putih sekarang hampir dua tombak jauhnya, jika si baju putih ingin sekali tusuk membinasakan Kiau Hui jelas tidak mungkin.

Karena yakin dirinya sudah dalam posisi tak terkalahkan, barulah mendadak Kiau Hui membentak, berbareng berpuluh bintik sinar perak pun berhamburan.

Sekilas pandang hamburan berpuluh sinar perak ini seperti kacau tanpa perhitungan, tampaknya tidak ditujukan kepada si baju putih. Tapi setiap tokoh yang hadir di situ sama tahu bilamana berpuluh titik putih itu menyambar sampai di depan si baju putih, segera akan terjadi benturan dengan suara nyaring, ada yang terpental balik dan ada yang berputar untuk menyerang belakang si baju putih. Itulah cara menimpuk senjata rahasia yang amat mahir, dan sangat keji.

Siapa tahu, pada detik berbahaya itulah sekonyong-konyong si baju putih melompat ke atas, pandangan semua orang sama silau oleh berkelebatannya cahaya hijau menyelinap di tengah berhamburnya bintik perak. Menyusul lantas terdengar jeritan Kiau Hui, kontan ia roboh terjungkal, sebatang pedang telah menembus batok kepalanya dan memanteknya di lantai.

Pada saat yang sama, berpuluh bintik senjata rahasia itu baru membentur dinding, si baju putih tampak menempel di langit-langit rumah serupa cecak. Rupanya pedang digunakannya sebagai senjata rahasia untuk membunuh Kiau Hui.

Sama sekali Kiau Hui tidak menyangka pedang lawan akan disambitkan, ia cuma memerhatikan serangan sendiri dan lupa menjaga diri. Ketika diketahui cahaya hijau menyambar tiba secepat kilat, ingin menghindar pun sudah terlambat.

Sejak dia mulai turun tangan sampai roboh binasa, semua itu hanya berlangsung dalam sekejap saja, tatkala senjata rahasia membentur dinding dan rontok ke lantai, si baju putih juga lantas berdiri di depan Kiau Hui, pedang sudah dilolosnya kembali seperti tidak pernah terlepas.

Darah menyembur dari tubuh Kiau Hui sehingga baju putih penuh bintik merah darah.

Sisa ketujuh tokoh yang lain sama diam saja, semuanya memandang kematian seperti pulang ke rumah, tidak ada yang gelisah atau cemas.

Kembali empat lelaki kekar berlari masuk dan membungkus mayat Kiau Hui dengan kain putih dan diusung keluar.

“Dan siapa berikutnya?!” ucap si baju putih perlahan.

Orang yang duduk di sebelah Kiau Hui perlahan berdiri dan berkata, “Ji Bun-ti mohon petunjuk!”

Orang ini bertulang pelipis tinggi, pipi kempot, kaki dan tangan panjang besar, tubuh jangkung.

Dengan tak acuh si baju putih memandangnya sekejap dan berucap, “Tay-lik-sin-ciu, baik silakan mulai!”

Ji Bun-ti alias Tay-lik-sin-ciu atau si elang sakti bertenaga raksasa, ia pun membuka bungkusan senjata yang dibawanya, serentak sebatang toya tiga ruas terpegang di tangan dan mengeluarkan suara gemerantang.

*****

Sementara itu dua ratusan li di luar kota Lokyang, sebuah kereta besar ditarik dua ekor kuda sedang dilarikan secepat terbang. Penumpang dalam kereta adalah Ong Poan-hiap dan Oh Put-jiu.

Si muka kuda Kin Ji meringkuk di pojok karena Hiat-to tidur tertutuk. Kusir kereta adalah seorang lelaki kekar berbaju compang-camping, agaknya seorang anggota Kay-pang.

Sama sekali ia tidak kasihan kepada kedua ekor kuda itu, cambuknya tiada hentinya menghujani punggung kuda sehingga babak belur.

Berulang Ong Poan-hiap melihat cuaca dan bergumam, “Wah, terlambat … terlambat ….”

“Terlambat bagaimana?” tanya Oh Put-jiu.

“Hari ini kesembilan tokoh Tiongciu berjanji akan berhadapan dengan jago pedang berbaju putih itu, saat ini mungkin mereka telah mengalami nasib malang,” ujar Ong Poan-hiap.

Oh Put-jiu menghela napas, katanya, “Manusia berusaha, Thian yang menentukan. Jika benar ….”

Mendadak Ong Poan-hiap menggebrak kabin kereta dan berteriak, “Untuk apa kau bicara lagi? Kalau bukan gara-gara keponakanmu itu dan buang-buang waktu, saat ini tentu sudah sampai di sana.”

Oh Put-jiu tidak berani bicara lagi.

Ong Poan-hiap masih terus mengomel panjang-pendek, tidak cuma mulut saja mengomel, perutnya juga mencaci maki, jadi dua macam suara makian bercampur baur serupa dua orang yang sedang bertengkar. Oh Put-jiu merasa geli dan juga mendongkol karena menjadi sasaran makian orang.

Sekonyong-konyong kuda meringkik, kereta pun berguncang hebat, tahu-tahu kereta selip ke tepi jalan.

“Ada apa?” bentak Ong Poan-hiap.

Sembari bicara ia terus mendorong pintu kereta dan begitu lenyap suaranya ia sudah berada di luar, sungguh cepat luar biasa reaksinya.

Ternyata salah seekor kuda sudah menggeletak binasa, kuda yang lain juga sempoyongan hendak roboh, mulut tampak berbusa.

“Ai, kuda ini pun tidak berguna lagi,” ucap si kusir dengan menyesal.

Ong Poan-hiap tampak gelisah, katanya sambil mengentak kaki, “Sialan, pada saat genting justru selalu terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Cukat Tong bilang kau seorang kusir mahir, kenapa juga tidak becus begini?”

Si kusir menunduk, jawabnya, “Hamba sudah berusaha sekuat tenaga, namun kedua ekor kuda ini …. Ai, sebenarnya kedua ekor kuda ini pun kuda pilihan, tapi betapa hebat kuda ini juga tidak tahan dilarikan secara begini.”

Ong Poan-hiap tidak sabar lagi, ia melompat maju, katanya, “Bila terlihat ada kereta lalu hendaknya segera dicegat, siapa pun penumpangnya harus diturunkan dulu. Habis itu gunakan kudanya dan segera menyusul ke Lian-hun-ceng, tahu?”

Belum lagi si kusir menjawab, segera Oh Put-jiu bertanya, “Cianpwe hendak pergi ke mana?”

“Kuberangkat dulu ke sana, akan kucari akal untuk mengulur waktu ….” belum lanjut ucapannya segera Ong Poan-hiap berlari pergi.

Anggota Kay-pang yang menjadi kusir, Ma Liang, menghela napas, ucapnya, “Tak tersangka Ong-cianpwe sedemikian keras wataknya. Ai, kenapa beliau tidak pikir tiada kuda di dunia ini yang bisa lebih cepat daripada kakinya ….”

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dari kejauhan ada suara derap lari kuda, bayangan kereta pun kelihatan, betapa cepat datangnya kereta ini kalau tidak disaksikan sendiri sungguh sukar dipercaya ….

*****

Di ruang pendopo Lian-hun-ceng sekarang, kecuali jago pedang si baju putih, kesembilan tokoh utama Tiongciu kini tersisa lima orang saja.

Si baju putih tidak ada tanda kelelahan, hanya sikapnya tambah tak acuh, setelah memandang hadirin sekejap, lalu bergumam. “Masih ada empat ….”

“Lima!” tukas Ti-sing-jiu Pang Jing.

“Kau tidak setimpal bergebrak denganku,” jengek si baju putih tanpa meliriknya.

Air muka Pang Jing berubah, teriaknya gusar, “Kenapa ….”

“Yang ingin kutempur adalah jago silat dan bukan pengecut,” jengek si baju putih.

Muka Pang Jing sebentar merah sebentar pucat, sejenak kemudian ia tergelak, katanya, “Biarpun engkau tidak sudi bergebrak denganku, kukira engkau pun tidak dapat bertindak sesukamu.”

“Jika aku tidak mau turun tangan, siapa pun tidak dapat memaksaku,” ucap si baju putih dengan ketus.

Ti-sing-jiu Pang Jing terbahak-bahak, katanya, “Setiba di sini ….”

“Setiba di sini lantas kau mau apa?” bentak si baju putih, mendadak ia bergerak cepat menyelinap ke tengah-tengah gerombolan orang banyak di halaman sana, di mana ia lewat segera terdengar jerit kaget orang banyak.

Hanya sekejap saja si baju putih sudah putar balik ke tengah ruangan sambil mengempit berpuluh batang golok, sekali pentang tangan, berpuluh golok itu dibuangnya ke lantai hingga menerbitkan suara gemerantang keras.

Dengan pandangan mengejek ia hanya melirik Pang Jing tanpa bicara. Sikapnya yang angkuh itu seakan-akan hendak bilang. “Biarpun kau pandang tempat ini serupa tembok baja dan dinding besi, bagiku justru tidak lebih serupa daerah tak bertuan.”

Air muka Pang Jing kelihatan pucat, seperti ingin cari alasan untuk bicara lagi, namun si baju putih tidak menghiraukannya pula, jengeknya, “Masih ada empat orang, siapa berikutnya?”

Seorang lelaki bermata besar dan beralis tebal tampil ke muka. Di antara kesembilan tokoh Tiongciu, usia orang ini kelihatan paling muda, yaitu antara 26-27 tahun, tapi justru paling gagah perkasa, langkahnya kuat mantap. Begitu ia merobek bungkusan senjata, segera terlihat sepasang senjata aneh, serupa gaetan dan seperti gancu.

“Thi-un-hou?” ucap si baju putih sambil memandang senjata orang.

“Betul,” jawab si lelaki alis tebal.

“Sudah lama kudengar Jit-song-cian (tombak gugur tujuh) Thi-un-hou merupakan tokoh kedelapan di antara ke-13 jenis senjata aneh zaman ini, kuyakin pasti dapat belajar kenal dengan jurus seranganmu yang hebat!”

Sisa keempat tokoh yang lain saling pandang sekejap, semua merasa kejut dan heran dari mana jago pedang dari lautan sana bisa sedemikian hafal terhadap seluk-beluk dunia persilatan di daratan Tionggoan.

“Maaf, senjataku ini meliputi empat jurus dan tiga daya guna, terpaksa tidak dapat kujelaskan satu per satu,” kata Thi-un-hou sambil angkat senjata Jit-song-cian.

“Tidak soal, silakan!” kata si baju putih.

Tapi sebelum pertarungan sengit terjadi, tiba-tiba terdengar bentakan orang di luar sana, “Jangan bergebrak dulu!”

Baru terdengar suaranya serentak seorang melayang tiba secepat terbang.

Jit-song-cian diturunkan kembali oleh Thi-un-hou. Ti-sing-jiu Pang Jing berempat juga melengak, tapi sekilas pandang legalah perasaan mereka, kata Pang Jing, “Syukur akhirnya Ong-heng datang juga.”

Kiranya orang yang melayang tiba ini memang benar si tokoh aneh Ong Poan-hiap adanya, kelihatan bajunya basah kuyup, dengan napas agak terengah sampai sekian lama ia tidak sempat bicara.

Ternyata jarak perjalanan dua ratus li jauhnya telah ditempuhnya dalam waktu dua jam, betapa mengejutkan Ginkangnya sungguh sukar dilukiskan. Dan dengan sendirinya tenaga yang terkuras juga sukar dibayangkan.

Si baju putih memandangnya sekejap dengan dingin, ucapnya kemudian. “Memang Ginkang yang hebat!”

“Te … terima kasih,” kata Ong Poan-hiap dengan tersengal, sekilas pandang ia pun terkejut serunya, “He, Kiau-losam, Ji Bun-ti dan ….”

“Mereka sudah sama gugur,” tutur Pang Jing dengan suara berat.

Ong Poan-hiap duduk dengan lemas dan termangu-mangu sekian lama.

Pek-ih-kiam-kek berdiri di depan Ong Poan-hiap, ucapnya sekata demi sekata, “Boleh silakan kau turun tangan.”

“Kedatangan Ong-toako bukan untuk bertempur,” teriak Thi-un-hou.

“Jika tidak untuk bertanding, buat apa datang kemari?” jengek si baju putih.

Serentak Ong Poan-hiap melompat bangun dan berteriak, “Kedatanganku hanya membawakan surat tantangan bagi jago pedang nomor satu di dunia, engkau diharap pergi ke ….”

“Jago pedang nomor satu?” jengek si baju putih. “Hm, biarpun benar jago pedang nomor satu juga harus tunggu giliran sampai pertandingan di sini selesai. Apalagi siapa yang percaya dia benar jago pedang nomor satu?”

“Setelah kau periksa surat tantangannya tentu tidak ragu lagi bergebrak dengan orang lain,” tutur Ong Poan-hiap. “Malahan segera engkau akan percaya pengirim surat tantangan ini memang benar jago nomor satu.”

“Di mana surat tantangan itu?” tanya si baju putih.

“Tunggu sebentar dan segera akan diantar kemari,” jawab Ong Poan-hiap.

“Tunggu? Memangnya harus tunggu berapa lama?” tanya Pek-ih-kiam-kek.

“Paling lama dua jam lagi,” ujar Ong Poan-hiap.

Si baju putih berpikir sejenak, katanya kemudian, “Baik, akan kutunggu!”

Segera ia duduk di lantai tanpa bergerak lagi. Agaknya ia dapat duduk di mana pun, setiap tempat dapat dijadikan tempat tinggal, ia bahkan dapat tidak makan-minum berhari-hari, makanan busuk dan air kotor pun dapat ditelannya, sebab kecuali “ilmu silat”, rasanya tiada urusan lain yang terpikir olehnya.

*****

Ketika itu Oh Put-jiu dan Ma Liang menyaksikan dari kejauhan kereta itu datang secepat terbang, mereka terkejut dan heran juga gembira.

“Cepat amat kuda ini,” ucap Oh Put-jiu sambil mengusap keringat.

“Ya, sejak kecil aku sudah berkawan dengan kuda, sampai kini sudah 20 tahun dan belum pernah kulihat kuda secepat ini,” ujar Ma Liang dengan gegetun.

Belum lenyap suaranya kereta itu sudah mendekat.

Serentak Oh Put-jiu melompat ke tengah jalan sambil membentak, “Berhenti!”

Disangkanya kereta yang dilarikan secepat itu pasti sukar berhenti mendadak, maka sebelumnya ia sudah siap bila perlu akan mencemplak ke atas kereta itu.

Siapa tahu kusir kereta itu lantas bersuit, kedua ekor kuda serentak berjingkrak dan berhenti seketika.

Terlihat kusir itu memakai topi lebar sehingga menutupi mata alisnya, meski habis berlari cepat, kedua ekor kuda itu tetap kelihatan gagah perkasa dan menyenangkan.

Ma Liang seorang ahli kuda dan juga pencinta kuda, begitu melihat kedua ekor kuda bagus ini, seketika ia sangat tertarik, ia coba mendekatinya dan meraba bulu surinya.

Oh Put-jiu memberi hormat, ucapnya, “Kebetulan Cayhe ada urusan penting, mohon pinjam pakai kudamu sebentar ….”

“Hehe, apa kau gila?” sahut si kusir dengan terkekeh, suaranya ketus, logatnya aneh.

Selagi Oh Put-jiu melenggong, terdengar Ma Liang sedang berseru kaget, “Hah, Han-hiat-po-ma (kuda mestika berkeringat merah darah)!”

Kiranya tangannya yang mengusap tubuh kuda itu berlepotan dengan air keringat kuda yang berwarna merah serupa darah.

Keruan Oh Put-jiu tambah terkejut, katanya kemudian, “Sahabat di dalam kereta ….”

Tiba-tiba penumpang kereta terbahak-bahak dan berkata, “Hahaha, dicari-cari tidak ketemu, didapatkan tanpa susah payah … haha, bagus, bagus sekali!”

Cara bicara orang ini pun berlogat aneh dengan kalimat tidak teratur, tapi segera Oh Put-jiu berseru kaget, “Hah, Jian-kiam-kiu (bola seribu tahil emas)!”

Dan ketika penumpang kereta itu keluar, ternyata benar dia inilah si pendek buntak berbaju emas itu, Kam Sun adanya.

Kam Sun tersenyum misterius sambil memandang sekitarnya, lalu berkata, “Bagus, cuma kau sendirian di sini, bukankah Kin-heng juga berada dalam kereta?”

Oh Put-jiu saling mengedip dengan Ma Liang, tanyanya kemudian, “Apakah kau susul kemari hendak mencari si muka kuda? Haha, bagus ….”

Berbareng sebelah tangan Oh Put-jiu lantas menghantam.

Tak tersangka bentuk tubuh Kam Sun yang bundar buntak itu dapat bergerak dengan cepat dan lincah, sedikit mengegos dapatlah pukulan itu dihindarkan. Gerak tubuhnya yang aneh itu serupa bola menggelinding di tanah.

Dalam pada itu Ma Liang juga telah memegang kaki si kusir dan diseret turun.

“Kurang ajar ….” damprat si kusir dengan gusar.

Tapi sebelum orang berdiri, sekali angkat dan disengkelit, kontan kusir itu dibanting lagi hingga setengah kelengar.

Kusir itu sebenarnya terhitung jago kerajaan Wan yang tangguh tapi menghadapi Ma Liang sama sekali ia tidak bisa berkutik.

Di sebelah sana Oh Put-jiu tampak berulang menghadapi serangan berbahaya.

Kelihatan tubuh Kam Sun berguling kian kemari, Oh Put-jiu terkurung di tengah dan cuma diserang melulu tanpa bisa balas menyerang.

Dalam keadaan begitu, kepandaian gulat Ma Liang tidak dapat memberi bantuan apa-apa, apalagi Kungfu Kam Sun memang sangat aneh, setiap kali ia menyerang, kena atau tidak, juga tidak peduli lawan balas menyerang atau tidak, selalu ia menggelinding pergi lagi.

Kungfu seperti ini, memang sulit orang hendak melukainya, tapi begitu pula sama sulitnya dia hendak melukai lawan.

Sungguh Ma Liang tidak pernah melihat cara berkelahi pengecut semacam ini.

Selagi bingung, tiba-tiba Oh Put-jiu berteriak, “Aha, bagus, Ong-toasiok datang!”

“Di mana?!” tanya Kam Sun sambil melompat bangun.

Belum lenyap suaranya, kontan Oh Put-jiu menjotos dada orang, menyusul kaki pun mendepak, kontan Kam Sun terpental dan terguling-guling.

Oh Put-jiu merasa tubuh orang yang terpukul olehnya terasa lunak sekali, sedikit pun sukar melukainya. Keruan ia terkejut dan heran.

Siapa tahu, meski tidak terluka, tapi begitu melompat bangun lagi segera Kam Sun kabur secepat terbang.

Ma Liang geleng-geleng kepala, geli dan gemas, ucapnya, “Dasar pengecut!”

Oh Put-jiu tersenyum, katanya, “Kungfu orang ini sebenarnya di atasku, jika tahu dia takut mati, tentu sejak tadi kukerjai dia. Akhirnya cuma kugertak dia, waktu ia kaget dan melompat bangun, dapatlah kujotos dan depak dia hingga kabur ketakutan.”

Memandangi Oh Put-jiu yang berkepala besar itu dan selalu mengulum senyum, diam-diam ia kagum juga bahwa si kepala besar ini ternyata juga dapat menggunakan akal dan tetap berlaku tenang meski keadaan cukup mencemaskan.

Dengan tertawa Oh Put-jiu berkata pula, “Apa pun juga kita harus terima kasih atas bantuannya mengantarkan kedua ekor kuda pusaka ini. Ayo lekas memindahkan si muka kuda ke sini dan segera kita berangkat agar tidak membuat gelisah Ong-locianpwe.”

Keduanya lantas bekerja cepat, tapi ketika mereka membuka pintu kereta semula, tanpa berjanji keduanya menjerit berbareng dan berdiri melongo seperti patung.

Ternyata si muka kuda Kin Ji yang semula meringkuk di dalam kereta kini telah menghilang ….

*****

Sang surya sudah semakin tinggi di tengah cakrawala, perkampungan Lian-hun-ceng yang luas itu masih dalam keadaan sunyi senyap.

Sinar sang surya pada akhir musim rontok tidak terlampau terik, namun beberapa ratus lelaki kekar yang berkumpul di halaman itu sama mandi keringat dan baju sudah basah kuyup.

Ong Poan-hiap, Thi-un-hou dan Pang Jing berenam sama duduk bersandar dinding, semuanya sama menatap ke arah pintu dan kelihatan gelisah sekali.

Akan tetapi si baju putih tetap duduk tanpa bergerak serupa patung, baju putih tampak kekuning-kuningan tersorot sinar matahari sehingga menambah bentuknya yang misterius.

“Sialan, kenapa belum lagi muncul?” gumam Ong Poan-hiap.

Mendadak si baju putih berdiri, dengusnya, “Dua jam sudah lalu!”

“Oo, sudah dua jam? ….” tukas Ong Poan-hiap dengan kikuk.

“Di mana surat tantangan jago pedang nomor satu itu?” tanya si baju putih.

“Kukira satu … satu jam lagi pasti akan datang,” jawab Poan-hiap dengan ragu.

“Sudah kunyatakan menunggu dua jam, maka cuma dua jam saja kutunggu,” jengek si baju putih ketus. “Waktu hanya tersia-sia untuk menunggu sesuatu yang tidak jelas, hal ini tidak sesuai jiwa orang persilatan.”

“Memangnya yang kau tahu cuma Pi-bu (bertanding silat), Lian-bu (berlatih silat), dan jiwa persilatan segala sehingga urusan lain tidak kau peduli lagi?”

“Apakah engkau tidak tahu di dunia ini selain ilmu silat masih ada urusan lain yang menyenangkan, masih banyak kesenangan orang hidup, apakah semua itu tidak ingin kau nikmati lagi?” tukas Pang Jing.

Perlahan si baju putih menjawab, “Jiwaku sudah kupersembahkan kepada ilmu silat dan urusan lain tidak perlu kupikirkan.”

Suaranya perlahan, tapi tegas dan pasti tanpa ragu.

Ong Poan-hiap menghela napas. “Kau sungguh seorang keranjingan ilmu silat, seorang gila silat ….”

Si baju putih tidak bicara lagi, perlahan ia angkat pedangnya dan berucap, “Silakan!”

Serentak Thi-un-hou berdiri, katanya, “Jika demikian, biar aku ….”

Pada saat itulah mendadak terdengar suara ribut di luar, orang banyak sama berteriak, “Itu dia, sudah datang … sudah datang ….”

Di tengah suara sorak ramai itu terseling pula derap kaki kuda.

Hanya sekejap saja dua ekor kuda lari datang lantas serentak berhenti, dua penunggang kuda lantas berlari masuk dengan cepat.

“Hah, Put-jiu, kau datang tepat ….” belum lanjut ucapan Ong Poan-hiap, mendadak air mukanya berubah dan bertanya, “Hei, di … di mana Kin Ji itu?”

Dengan napas masih terengah Oh Put-jiu menjawab dengan menunduk, “Dia … dia hilang ….”

Kejut dan gusar Ong Poan-hiap, teriaknya beringas, “Hilang katamu? Dalam keadaan Hiat-to tertutuk, mengapa dia bisa hilang?”

Malu dan juga menyesal Oh Put-jiu, secara ringkas ia ceritakan apa yang terjadi.

Berulang Ong Poan-hiap mengentak kaki, teriaknya dengan gusar, “Wah, bagaimana … bagaimana baiknya sekarang? …. Kau tahu betapa banyak tokoh Bu-lim akan gugur karena kejadian ini?!”

Oh Put-jiu tidak berani menanggapi. Kening Ong Poan-hiap tampak penuh butiran keringat, dengan sedih ia berkata pula, “Siapa … siapa yang menculik Kin Ji? Siapakah yang tega bertindak sekeji itu? ….”

Meski Thi-un-hou dan lain-lain sudah bertekad akan berkorban bagi ilmu silat, tapi harapan hidup yang baru timbul sekarang terputus lagi, betapa pun tertampil juga perasaan kecewanya.

Dengan tergagap Oh Put-jiu bertutur, “Jika tidak keliru dugaanku, orang yang menculik Kin Ji itu dalam waktu singkat akan muncul di sini.”

“Mana mungkin, memangnya dia sengaja mengantar kematian ke sini?” ujar Ong Poan-hiap dengan gusar.

Semua orang juga merasakan dugaan Oh Put-jiu itu tidak masuk akal.

Hanya Pang Jing saja yang berucap dengan halus kepada Oh Put-jiu, “Coba ceritakan alasanmu?”

“Menurut pendapatku, jika tujuan orang itu bukan sengaja menyelamatkan si muka kuda Kin Ji, itu berarti tiada gunanya ia menculik Kin Ji kecuali hendak menggunakannya sebagai sandera.” kata Oh Put-jiu. “Jika begitu halnya, yang hendak diperas adalah kita sendiri, maka untuk itu dalam waktu sesingkatnya dan pada detik yang gawat dia pasti akan muncul di sini, sebab terlambat sedikit saja berarti nilai Kin Ji akan merosot keras.”

Semua orang terkesiap oleh cerita Put-jiu itu, mereka tidak mengira si kepala besar ini dapat mengemukakan dalil yang tak terpikir oleh orang lain ini. Mau tak mau Ong Poan-hiap manggut-manggut, “Ya, memang masuk di akal, mungkin ….”

Sekonyong-konyong pandangan semua orang terasa kabur, sesosok bayangan orang melayang masuk, orang ini berbaju cokelat, muka kaku tanpa emosi, ternyata Bok-long-kun adanya.

Tanpa pikir lagi segera Oh Put-jiu tahu yang menculik Kin Ji pastilah Bok-long-kun, segera ia memberi tanda kepada Ong Poan-hiap, desisnya, “Apa yang kuterka mungkin tidak keliru.”

Walaupun sebagian besar orang yang berada di situ tidak kenal Bok-long-kun, tapi melihat bentuknya segera mereka sama tahu dia pasti tokoh Jing-bok-kiong yang ditakuti itu.

Ong Poan-hiap lantas melangkah maju sambil membentak, “Di mana Kin Ji?!”

“Hehe, cerdik juga Anda,” jawab Bok-long-kun dengan terkekeh. “Memang betul, si muka kuda itu memang berada padaku. Tapi bila kalian ingin melihat dia, kurasa tidak begitu mudah.”

“Apa syaratmu, lekas katakan saja,” desak Ong Poan-hiap.

“Hehe, Anda memang orang yang suka terus terang,” ujar Bok-long-kun. “Syaratku kiranya tidak sulit. Pertama, kalian harus berusaha mendapatkan Tay-hong-ko bagiku dari tempat Ci-ih-hou.”

Tanpa pikir Ong Poan-hiap menjawab, “Itu tidak sulit.”

“Ah, janganlah terlalu cepat kau sanggupi, aku menjadi kurang percaya,” ucap Bok-long-kun.

“Asalkan lebih dulu kau bawa Kin Ji ke sini urusan apakah pasti akan kupenuhi,” teriak Ong Poan-hiap. “Tokoh Kangouw serupa kita selalu mengutamakan janji, sekali bicara tidak nanti dijilat kembali. Apalagi orang she Ong, masa kuingkar janji padamu?”

Bok-long-kun menatapnya sejenak, katanya kemudian, “Baik, setelah kau dapatkan Tay-hong-ko, tentu akan kusuruh orang untuk mengambilkan. Cuma syaratku tidak cuma satu itu, syarat lain juga bukan kutujukan padamu.”

“Siapa yang kau tuju?” tanya Ong Poan-hiap.

Pandangan Bok-long-kun beralih ke arah Oh Put-jiu, dikeluarkannya sebuah botol kecil, katanya, “Obat dalam botol ini tanpa warna dan tidak berbau, dicampur ke dalam air minum atau makanan tidak nanti diketahui orang.”

“Apakah maksudmu menyuruhku memberikan obat ini kepada Po-ji dan minta dia mencampurkannya ke dalam minuman atau makanan Cui Thian-ki?” tanya Oh Put-jiu.

“Hehe, memang betul begitulah ….” Bok-long-kun terkekeh-kekeh.

“Urusan ini pun mudah, biarpun pekerjaan berpuluh kali lebih sulit juga takkan kutolak,” kata Oh Put-jiu. “Apalagi sudah lama kami merasa benci terhadap perempuan she Cui itu.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung, “Meski diriku bukan tokoh ternama, paling tidak juga anak murid perguruan terhormat dan sama sekali takkan ingkar janji, untuk ini mohon Cianpwe jangan khawatir.”

Ia terus terima botol kecil itu dan disimpan baik-baik, sikapnya kelihatan sukarela tanpa paksaan sedikit pun.

Bok-long-kun tampak sangat senang, ia menengadah dan tertawa, katanya, “Tindakanku biasanya tidak suka memepetkan orang hingga habis-habisan, bila kalian suka bicara secara blak-blakan pasti kulayani secara terbuka pula.”

Belum lenyap suaranya ia terus melompat keluar, hanya sebentar saja ia sudah masuk lagi dengan membawa seorang, siapa lagi kalau bukan Kin Ji si muka kuda.

Rambut si muka kuda tampak semrawut, muka bengkak mata merah dan sedang melototi Bok-long-kun dengan penuh rasa benci, agaknya Bok-long-kun tidak lupa pada dendam kejadian yang lalu, sehingga telah menghajar si muka kuda.

“Blang”, begitu masuk segera Bok-long-kun membanting si muka kuda ke lantai.

Ong Poan-hiap merasa lega melihat orang yang diharapkan dalam keadaan baik-baik, cepat ia membangunkannya dan bertanya, “Ini dia surat tantangannya!”

“Ini terhitung surat tantangan apa?” jengek si baju putih.

Biasanya dia tidak pernah memperlihatkan sesuatu perasaan kejut atau heran meski melihat sesuatu yang luar biasa, tapi sekarang tidak urung nadanya terdengar mengunjuk rasa heran.

Segera Ong Poan-hiap merobek baju Kin Ji sehingga kelihatan ketujuh bekas luka yang kini sudah kering, sekilas pandang bekas luka itu tidak ada sesuatu yang janggal, hanya saja bagian luka itu terletak pada Hiat-to penting di tubuh manusia, bilamana tusukan itu lebih dalam satu senti, tentu jiwa sasarannya sudah melayang.

Sebelum Ong Poan-hiap memberi penjelasan, pandangan si baju putih sudah tertarik oleh bekas luka itu, tanpa terasa ia melangkah perlahan mendekati Kin Ji.

Suasana sunyi senyap, setiap orang sama menanti reaksi si baju putih setelah memeriksa bekas luka itu, perasaan semua orang tertekan seakan-akan tertindih barang berat.

Kelihatan wajah si baju putih yang pucat itu bersemu kemerahan yang penuh semangat, sorot matanya yang selalu dingin itu juga menampilkan emosi yang terbakar.

Sekonyong-konyong tangan si baju putih bergerak cepat, sekaligus ia tepuk tujuh kali di tubuh Kin Ji, setiap tepukan itu tepat pada bagian bekas luka itu.

Kin Ji menjerit, pernapasan yang sesak sejak terluka itu mendadak terembus dan terasa lega, sekuatnya meronta lepas dari pegangan Ong Poan-hiap dan lari keluar, tapi baru beberapa langkah dekat pintu lantas jatuh tersungkur.

Si baju putih tidak memandangnya lagi, ia angkat pedangnya dengan ujung ke atas dan kelihatan agak gemetar, dengan suara agak gemetar juga ia berseru, “Haha, akhirnya ada juga seorang yang dapat menjadi tandinganku ….”

Mendadak ia berlutut dan menunduk, rambutnya yang panjang terurai, ia seperti lagi mengheningkan cipta, seolah-olah sedang berterima kasih kepada Thian yang telah memberi seorang lawan, seperti juga lagi memuji kebesaran Tuhan yang dapat menciptakan seorang kesatria yang dapat menjadi tandingannya.

Semua orang sama melongo dan entah bagaimana perasaannya. Oh Put-jiu terharu juga oleh adegan yang aneh ini.

Tiba-tiba terdengar orang menjerit kaget disertai ringkik kuda, tahu-tahu Bok-long-kun melayang ke sana.

Kiranya pada saat semua orang meleng mendadak si muka kuda alias Kin Ji mencemplak ke atas kuda berkeringat darah yang ditunggangi Oh Put-jiu waktu datang tadi dan dilarikan secepat terbang.

Kin Ji memang orang kerajaan Wan, negeri yang terkenal menghasilkan kuda ternama, dengan sendirinya kepandaiannya naik kuda jarang ada bandingannya.

Begitu memburu keluar, serentak Bok-long-kun mencemplak kuda merah satunya lagi. Beberapa lelaki kekar segera menubruk maju hendak mencegah, tapi mereka tidak ada artinya bagi Bok-long-kun, hanya dengan sebelah tangan dan sebelah kaki saja, kontan beberapa orang itu dihantam dan didepak terjungkal.

“Jangan lupa apa yang telah kau sanggupi ….” sambil berseru kuda Bok-long-kun lantas membedal secepat terbang, hanya sebentar saja lantas menghilang.

“Sayang, sayang!” berulang Ma Liang mengentak kaki. “Kuda … kuda keringat darah itu ….”

“Memang bukan milik kita, kenapa mesti dibuat sayang?” ujar Oh Put-jiu dengan tertawa.

Walaupun terjadi keributan, namun si baju putih tetap diam saja tanpa bergerak. Setelah sekian lama barulah ia berdiri, katanya, “Orang yang menggunakan pedang sebagai surat tantangan sekarang berada di mana?”

“Di pantai laut timur.” tutur Ong Poan-hiap.

“Harap membawaku ke sana,” kata si baju putih.

“Cayhe siap untuk berangkat,” sahut Oh Put-jiu.

Si baju putih memandangnya sekejap dan berkata, “Baik, ayo berangkat!”

Ketika melangkah sampai di ambang pintu, mendadak ia membalik tubuh dan berkata, “Semangat ilmu silat laksana mendaki gunung, bilamana dapat mendaki puncak tertinggi, gunung lain tidak perlu didaki lagi.”

Sampai di sini, ia terus melangkah pergi tanpa berpaling pula.

Kawanan lelaki kekar yang berkerumun di luar sama memberi jalan baginya, tertampak rambutnya berkibar tertiup angin, wajah tetap dingin, setiap langkahnya tetap sama jaraknya, tegap dan mantap, seakan-akan segala urusan di dunia ini tidak mungkin dapat mengubah pendiriannya yang kukuh dan jangan harap pula akan merintangi tujuannya mendaki puncak tertinggi ilmu silat.

Oh Put-jiu lantas mohon diri juga kepada semua orang dan menyusul pergi bersama si baju putih.

Segera Thi-un-hou berteriak, “Pertarungan di pantai laut ini pasti lain daripada yang lain, betapa pun aku tidak mau kehilangan kesempatan baik ini, sekarang juga ingin kuberangkat ke sana.”

Pang Jing juga berseru, “Betul, setiap orang persilatan tentu tidak mau sia-siakan tontonan yang tidak pernah terjadi ini, untung di sini banyak tersedia kuda bagus, jika mau, hadirin silakan menggunakan kuda dan mari berangkat bersama.”

“Selama hidupku tidak biasa naik kuda,” sela Ong Poan-hiap dengan tersenyum. “Maka biarlah kuberangkat lebih dulu, sepanjang jalan juga sekalian kusiarkan berita besar ini agar kawan Kangouw sama berangkat ke sana untuk menyaksikan pertarungan menarik ini, sekaligus juga dapat memberi bantuan semangat kepada Ci-ih-hou.”

Selagi semua orang bermaksud mengantar keberangkatannya, siapa tahu sekali berkelebat bayangannya, tahu-tahu Ong Poan-hiap sudah pergi jauh.

*****

Jago pedang akan bertanding di pantai timur. Jago pedang nomor satu zaman ini, Ci-ih-hou, akan bertanding dengan tokoh misterius berbaju putih yang berulang membinasakan puluhan tokoh Kangouw, berita ini dalam waktu singkat telah tersiar ke mana-mana.

Tokoh Gak-keh-jiang Gak Hiong yang terkenal dengan tombaknya saat itu sedang minum arak, begitu menerima berita itu serentak ia taruh cangkir arak dan langsung berangkat ke pantai timur, sampai kawan yang asyik minum arak bersama dia juga tidak diberi tahu.

Hoyan Siu, si cambuk kilat, saat itu sibuk mencuci kudanya dengan telanjang badan, demi mendengar kabar itu, tanpa pamit pada keluarganya langsung ia memakai bajunya dan mencemplak ke atas kuda, terus berangkat.

Liong-hou-to Tu Cing, si golok naga dan harimau, ia habis makan dan sedang berjalan-jalan mencari angin, tiba-tiba dilihatnya Hoyan Siu membedal kudanya lewat secepat terbang, segera ia tanya kawan itu ada urusan apa, begitu tahu peristiwa yang akan terjadi di pantai timur itu, segera ia pun mencemplak dan membonceng kuda Hoyan Siu.

Di kota Buhoh, si tangan kilat Tau Ji-peng dan si golok terbang Nyo Se-gi, karena berebut pasar barang dagangan keduanya sama membawa anak muridnya dan bermaksud perang tanding. Tapi begitu mendapat kabar pertarungan yang akan berlangsung di pantai timur, serentak runtuh semangat tempur mereka, akhirnya kedua orang menumpang sebuah kereta dan berangkat bersama ke pantai timur, banjir darah yang hampir timbul antara kedua pihak seketika urung terjadi.

Ada orang lain lagi yang menerima berita melalui macam-macam cara, maka sebelum si baju putih bersama Oh Put-jiu melintasi wilayah Soatang, lebih dulu berita pertarungan itu sudah tersebar sampai di pantai.

Sepanjang jalan, di mana dan kapan saja, setiap orang persilatan, asalkan mendengar berita yang menggemparkan itu, yang asyik makan bisa segera meninggalkan santapannya, yang lagi berjudi bisa serentak bubar, semuanya ditinggalkan untuk segera berangkat menyaksikan pertarungan yang unik itu.

Gembong bajak laut Ci-si-liong Siu Thian-ce, si naga jenggot merah, sudah memperhitungkan kedatangan para pahlawan persilatan, maka beberapa hari ia perintahkan anak buahnya dengan kerja lembur memasang puluhan, bahkan ratusan rumah papan di sekitar pantai. Tamu yang datang terlambat sedikit tetap tidak mendapatkan pondokan. Tapi banyak orang yang biasa hidup mewah di rumah, demi menyaksikan pertarungan yang luar biasa ini mereka rela tidur di tempat terbuka beralaskan tikar.

Hanya dalam beberapa hari saja orang sama berjubel di pantai timur, kapal layar pancawarna yang berlabuh di tengah laut itu tampak gemerlapan di kejauhan.

Menjelang magrib, si baju putih dan Oh Put-jiu sudah menyeberangi sungai Lu.

Sepanjang jalan jago pedang misterius itu selalu memilih jalan kecil yang sepi, melalui hutan belukar dan tidak mau melalui jalan raya, jiwanya seakan-akan sudah dipersembahkan kepada ilmu silat, urusan lain tidak ada yang terpikir olehnya.

Jika sudah lelah dalam perjalanan, di mana pun mereka lantas menggeletak terus tidur, biarpun di tengah hutan belukar juga tidak peduli. Kalau lapar, dengan batu ia timpuk burung atau kelinci untuk dijadikan makanan secara mentah.

Hidup secara primitif serupa manusia purba ini, jika orang lain, sungguh satu hari saja tidak betah. Namun Oh Put-jiu memang aneh pembawaannya, ia dapat menyesuaikan diri dengan siapa pun.

Asalkan tempat yang dapat dibuat tidur tokoh berbaju putih itu, ia pun dapat ikut tidur dengan nyenyak. Bilamana si baju putih doyan, makanan mentah pun dapat diganyangnya.

Jika wajah si baju putih selalu dingin kaku, sebaliknya Oh Put-jiu selalu tersenyum simpul. Bila si baju putih jarang bicara, sama sekali Oh Put-jiu tidak ambil pusing.

Hari itu mereka sudah menyeberangi sungai Lu, keduanya melanjutkan perjalanan sejak pagi hingga magrib, meski si baju putih tetap tidak letih sedikit pun, namun Oh Put-jiu sudah kehabisan tenaga dan bertahan sekuatnya.

Walaupun langkahnya sudah berat, namun Put-jiu tetap tersenyum, sama sekali tidak mengeluh.

Tiba-tiba si baju putih memandangnya sekejap, lalu berhenti dan duduk.

Diam-diam Put-jiu menghela napas lega, cepat ia pun duduk dan berbaring, anggota badan terasa longgar seluruhnya, sukar diceritakan enaknya, biarpun disediakan hadiah sebesar gunung juga ia tidak mau melangkah lagi.

Mendadak terdengar si baju putih menengadah dan menarik napas panjang sambil bergumam, “Pek Sam-kong, sungguh lelaki sejati!”

Sudah sekian lama Oh Put-jiu menempuh perjalanan dengan dia, sekarang ucapan orang yang pertama adalah memuji gurunya, tentu saja ia terkejut dan juga senang, ia menjadi bingung dan entah apa yang dikatakan.

Selang sebentar lagi, kembali si baju putih berkata, “Kau pun boleh juga.”

Kalimat singkat ini tercetus dari mulut tokoh semacam si baju putih, sungguh jauh lebih berharga daripada ucapan beribu orang lain.

“Terima … terima kasih ….” ucap Oh Put-jiu dengan tergagap.

Si baju putih menengadah memandangi langit biru kelam dan tidak bicara lagi. Oh Put-jiu tidak berani mengganggunya.

Saat itu cuaca sudah mulai gelap, bumi raya ini terasa sunyi sepi, angin meniup sepoi-sepoi entah apa yang sedang dipikirkan tokoh misterius itu.

Memandangi profil orang yang serupa patung itu, timbul perasaan haru Oh Put-jiu, pikirnya dengan gegetun, “Apakah selama hidupnya selalu dirundung kesepian seperti ini? Memangnya dia tidak mempunyai seorang pun sanak keluarga atau sahabat? Apa saja yang dikerjakannya selama hidup ini? Apa yang dipikirkannya? Ai, dia dapat mencapai puncaknya ilmu silat, siapa pula yang dapat ikut menikmati puncak keberhasilannya? Siapa pula dapat ikut mengenyam kejayaannya? Mungkin semua itu hanya semakin menambah kesepiannya saja ….”

Seketika Oh Put-jiu merasa kehidupan si baju putih yang serupa teka-teki itu sungguh penuh mengandung kepedihan dan kemalangan, biarpun ilmu silatnya setinggi langit, namun kehidupannya justru guram kelabu.

Tiba-tiba si baju putih berdendang perlahan membawakan lagu yang memilukan, membayangkan duka nestapa kaum kesatria yang nelangsa.

Oh Put-jiu menghela napas, katanya tiba-tiba, “Anda selalu menyendiri dan mencari kesunyian, padahal dengan kesanggupan Anda, kiranya tidak perlu berduka.”

Si baju putih tidak menjawab, sampai sekian lama barulah ia berkata, “Inilah lagu kesukaan mendiang ayahku ….”

Dalam hatinya seperti banyak menyimpan kedukaan dan ingin dilampiaskannya, namun sampai di sini mendadak ia berhenti bicara.

Oh Put-jiu menghela napas, seperti dapat menemukan setitik jawaban dari asal usul orang yang seperti teka-teki itu, ia coba memancing lagi, “Ayah Anda pasti orang yang luar biasa, orang yang luar biasa pasti juga mempunyai pengalaman yang lain daripada yang lain.”

Kembali si baju putih terdiam agak lama, katanya kemudian, “Mendiang ayahku memang memiliki bakat luar biasa, beliau mahir berbagai kepandaian, tapi lantaran itu juga perhatiannya terpencar sehingga ilmu silatnya sukar mencapai puncak. Karena itulah setiap pertempuran beliau selalu kalah dan hidup nelangsa, kenyang dihina orang dan akhirnya berlayar jauh ke lautan sana sudah berpuluh tahun ….”

Ia merasa bicara terlampau banyak, maka mendadak berhenti dengan wajah muram.

Namun uraian singkat itu sudah cukup membuat pikiran Oh Put-jiu berpikir jauh, “Ayah orang ini tentu menyesali nasib sendiri, maka menyuruh putra kesayangan mengesampingkan segala urusan dan hanya mencurahkan segenap perhatian untuk berlatih ilmu silat. Dari nyanyiannya yang penuh rasa duka dan penasaran tadi, tentu mati pun orang tua itu tidak tenteram. Karena sejak kecil orang berbaju putih ini sudah dicekoki rasa penasaran, dengan sendirinya ia pun benci kepada sesamanya dan ingin mempersembahkan jiwa raganya demi ilmu silat.”

Dari uraian ringkas si baju putih dapatlah ia menarik kesimpulan asal usul orang, tapi hal ini entah membuatnya senang atau gegetun.

Tiba-tiba si baju putih berkata pula, “Tentang asal usulku, orang lain tidak berhak mengetahui, biarpun sudah kuceritakan sekadarnya, hendaknya semuanya kau lupakan saja.”

Ucapannya ketus dan dingin, sedikit pun tidak ada perasaan halus lagi.

Nyata, meski pintu kehidupannya yang kesepian selama ini baru terbuka sedikit saking tidak tahan, tapi baru saja tersingkap setitik segera dirapatkannya kembali.

*****

Pada saat itu di atas kapal layar pancawarna di tengah anjungan yang mewah, Siaukongcu atau si putri cilik lagi asyik merangkai bunga.

Lengan bajunya tersingkap tinggi sehingga kelihatan lengannya yang putih bersih serupa salju. Tangannya yang putih kecil itu memegang setangkai bunga kamelia yang mekar dengan indahnya, namun pot bunga masih kosong.

Pui Po-ji duduk di samping dan sedang memandang si nona cilik itu dengan kesima, ingin tahu cara bagaimana anak dara itu merangkai bunga.

Cui Thian-ki duduk di depan mereka dengan memegang sejilid kitab setengah tergulung, entah sedang membaca atau lagi melamun.

Mendadak Siaukongcu membuang bunga yang dipegangnya dan mengomel, “Ah, tidak mau lagi.”

“Hei kenapa?” tanya Po-ji dengan terbelalak.

“Ditonton olehmu, caraku merangkai selalu jelek,” ucap Siaukongcu.

Cui-Thian-ki mengulet kemalasan, katanya tiba-tiba dengan tertawa genit, “Eh suami cilik, lekas kemari menemaniku membaca daripada duduk di sana membuat jemu orang.”

Sembari bicara ia menjulur tangan dan menarik Po-ji ke sana, katanya pula dengan tertawa, “Sayang, duduklah di sini. Ehm, bagus!”

Kedua orang jadi duduk berjajar dan mulai membaca.

Siaukongcu memandang mereka, mendadak ia berdiri dan mondar-mandir beberapa kali, lalu duduk pula, gunting dipegangnya dan bunga tadi dipotong-potong hingga hancur.

Cui Thian-ki meliriknya sekejap, ucapnya dengan terkikik, “Hei, suami cilik sudah kusingkirkan ke sini, masa caramu merangkai bunga belum baik juga?”

Sambil memainkan gunting Siaukongcu menjawab dengan mengentak kaki, “Ai, sebal, dan kesal!”

Cui Thian-ki tertawa geli, katanya sambil menepuk bahu Po-ji, “Coba lihat, kau duduk di sana membuat orang sebal, setelah kau duduk di sini orang pun kau bikin kesal. Wah, lantas bagaimana baiknya?”

“Dia kukira paling baik mati saja,” ucap Siaukongcu dengan menggigit bibir.

“Aduh, kan aku bisa jadi janda,” seru Cui Thian-ki dengan tertawa. “O, suamiku cilik, janganlah kau mati.”

“Aku takkan mati, kalian jangan khawatir,” ucap Po-ji.

Mendadak Siaukongcu mendekati anak muda itu, ia pegang lengan Po-ji dan digigitnya sekali dengan gemas.

Keruan Po-ji menjerit kesakitan dan jatuh terperosot dari tempat duduknya.

Tiba-tiba terdengar suara gemerencing nyaring berkumandang dari sana, Ling-ji tampak menolak pintu dan melongok ke dalam, ucapnya dengan tertawa, “Wah, ketiga anak ini sungguh nakal, bisa terbalik kapal ini karena tingkah polah kalian.”

Cui Thian-ki tertawa dan mengomel, “Budak setan, coba katakan lagi, anak mana yang kau maksudkan?”

“Memangnya apa jika kau bukan anak?” ujar Ling-ji dengan terkikik.

“Apaan? Coba katakan lagi? ….” sembari mengomel Thian-ki memburu ke sana, segera ia hendak mengitik-ngitik ketiak Ling-ji.

Sebelum tangan orang menyentuh tubuhnya Ling-ji sudah tertawa terkial-kial dan setengah berjongkok, ucapnya, “Oo, Cici yang baik, ampunilah aku. Engkau bukan … bukan anak kecil, engkau ne … nenek …. Oo, Po-ji, lekas … tolong … bini nenekmu nakal ….”

Begitulah karena senda guraunya, terlihat Cu-ji juga menolak pintu dan melangkah masuk, melihat perbuatan mereka, ia pun geli, katanya, “Sudahlah, jangan ribut lagi. Semua orang sudah naik ke sana, hanya kalian yang sedang ditunggu.”

“Siapa yang menunggu kami?” tanya Cui Thian-ki sambil melepaskan Ling-ji.

Dengan terengah Ling-ji mengomel, “Coba, sampai lupa pada urusan penting, Houya menyuruh segenap penumpang kapal ini sama naik ke ruangan atas, ada pesan yang hendak dibicarakannya.”

*****

Di ruangan besar tercium bau harum semerbak. Lebih 20 anak gadis berbaju sutera sudah berkumpul di situ, meski lagi bicara perlahan dan bergurau, namun jelas sama ingin tahu entah pesan apa yang hendak diberikan oleh Houya atau junjungan mereka.

Ketika rombongan Po-ji masuk ruangan besar itu, ia pun ketularan oleh suasana yang kelihatan prihatin itu, tanpa terasa lenyap pula senyum yang menghiasi wajahnya.

Ci-ih-hou belum lagi muncul, Po-ji memandang jauh ke luar sana bersandar jendela, dilihatnya cahaya sang surya terang benderang, ombak bergemuruh di lautan, di daratan sana bayangan orang tampak berjubel-jubel entah berapa banyaknya, semuanya sedang memandang ke arah kapal layar ini.

Di tengah gemuruh ombak dan deru angin terkadang terseling pula suara tertawa orang dari kejauhan, agaknya orang-orang yang menunggu di daratan itu sedang berkelakar karena sudah kesal menunggu.

Tiba-tiba terdengar orang berdehem perlahan, suasana dalam anjungan seketika sunyi senyap. Waktu Po-ji berpaling, dilihatnya Ci-ih-hou sudah duduk di kursi besar di depan pintu angin.

Sinar mata Ci-ih-hou yang tajam menyapu pandang sekejap segenap hadirin. Po-ji merasakan sinar mata itu mengandung semacam wibawa yang sukar dijelaskan, tanpa terasa ia menunduk.

Meski Ci-ih-hou belum bersuara, namun dalam hati setiap orang lamat-lamat sudah merasakan semacam firasat yang tidak baik, suasana tambah hening.

Tiba-tiba berkumandang suara langkah orang banyak, masuklah puluhan orang perempuan kekar berbaju biru sama mengusung sebuah peti kayu cendana, pada tepian setiap peti itu dilingkari lapis tembaga, mereka berbaris khidmat dan tidak berani bersuara.

“Taruh dan buka,” kata Ci-ih-hou dengan suara berat.

Segera orang-orang perempuan itu menaruh peti masing-masing ke lantai dan membuka tutup peti. Serentak terlihat cahaya kemilau batu permata. Ternyata isi berpuluh peti itu adalah harta mestika yang tak terhitung jumlahnya.

Perlahan Ci-ih-hou berkata pula, “Harta benda milik keluargaku hampir seluruhnya berada di sini, kecuali Ling-ji dan Cu-ji, setiap orang mendapat bagian satu peti ….”

Kawanan gadis jelita sama terperanjat, seru mereka dengan suara gemetar, “Wah, kenapa … kenapa begini? Apakah … apakah hamba berbuat sesuatu kesalahan sehingga Houya hendak … hendak memecat kami ….”

Ci-ih-hou tertawa, katanya, “Sudah sekian tahun kalian menghamba padaku, bilamana mengalami sesuatu esok dan mati, kukhawatir kalian akan hidup kapiran tak terurus. Maka sengaja kuberikan bagian masing-masing satu peti harta benda ini, kiranya cukup untuk hidup senang selama hidup kalian. Semoga kalian akan mendapatkan jodoh yang cocok dan tidak sia-sia berkumpul sekian tahun denganku ….”

Belum habis ucapannya, banyak di antara anak dara itu mencucurkan air mata, banyak yang berseru, “Houya tampak sehat dan kuat, tanpa sebab kenapa bicara seperti ini?”

“Musuh tangguh berada di depan mata, pertarunganku ini sukar diramalkan akan mati atau hidup,” tutur Ci-ih-hou. “Jika sebelumnya tidak khawatir masa depan kalian, maka hatiku dapat tenteram menghadapi pertarungan maut nanti.”

Meski ia bicara dengan tenang dan tertawa, di balik tertawa itu terasa juga agak muram.

Kawanan gadis itu sambil berlutut, ingin bicara tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Tiba-tiba Siaukongcu menangis dan berteriak, “Ayah, jika engkau tidak yakin akan menang, buat apa mesti bertempur menghadapi dia?”

Mendadak Ci-ih-hou menarik muka, dampratnya, “Kau anak kecil tahu apa? Meski dalam pertarungan ini aku akan mati juga tidak dapat kuelakkan dan tiada pilihan lain. Apalagi kemungkinan kalah atau menang dalam pertarungan ini juga belum pasti, kesempatan di antara separuh-separuh …. Kau adalah anak kesayanganku, hendaknya ingat dengan baik bahwa ‘ada yang tidak boleh kau lakukan dan ada juga yang perlu kau lakukan’. Inilah petuah yang menjadi cermin kaum persilatan kita.”

Siaukongcu tidak berani bicara lagi, namun tangisnya juga tiada berhenti.

“Ada yang tidak boleh dilakukan dan ada yang harus dilakukan”, tiba-tiba darah dalam rongga dada Po-ji bergolak oleh ketegasan pesan ini.

Waktu ia berpaling ke sana, semua orang sama mencucurkan air mata, ada yang menggerung, bahkan Cui Thian-ki juga berlinang air mata dan tidak sampai hati menyaksikan adegan yang mengharukan ini.

Ci-ih-hou menengadah, memandang awan di luar jendela, setelah termenung sejenak, kemudian berkata, “Ling-ji, Cu-ji, seharusnya akan kukembalikan juga kebebasan kalian, cuma ….”

Ia menghela napas perlahan, lalu menyambung dengan menunjuk Siaukongcu, “Cuma dia sesungguhnya masih terlampau kecil dan perlu orang menjaganya. Kalian berdua sudah lama mendampingi dia, sekarang kuserahkan dia kepada kalian bersama kapal layar ini dan semua sisa barang yang berada di sini …. Ai, sungguh aku tidak tega membuat usia muda kalian tersia-sia di lautan ini, namun ….”

Air mata memenuhi muka Ling-ji dan Cu-ji, mereka berlutut dan meratap, “Oo, jangan Houya bicara demikian, sekalipun Houya menyuruh kami mati juga kami sukarela.”

Kawanan gadis yang lain juga sama menangis dan meratap, “Kami rela ikut mati bersama Enci Ling-ji dan Cu-ji daripada meninggalkan kapal ini.”

Dengan suara berat Ci-ih-hou berkata pula, “Ada sementara urusan bilamana sudah berhadapan sukar dipaksakan, apalagi usia kalian masih muda belia, mana boleh sembarangan bicara tentang mati?”

Meski air mukanya kelihatan prihatin, namun sikapnya tetap sangat tenang.

Po-ji termangu-mangu memandangi kawanan gadis yang menangis sedih itu, memandang Ci-ih-hou yang selalu bersikap tenang dan sabar itu, tanpa terasa timbul semacam perasaan yang aneh, pikirnya, “Seorang bila menghadapi saat antara mati dan hidup dan tetap dapat bersikap tenang serupa Ci-ih-hou ini, maka dia kalau bukan manusia yang memang berdarah dingin, tentu dia seorang pahlawan sejati yang berani berbuat dan berani bertanggung jawab menghadapi segala apa pun.”

Pada saat itulah, sayup-sayup terdengar suara ribut di daratan sana, terdengar orang lagi berteriak, “Itu dia sudah datang … sudah datang ….”

Tanpa terasa hati Po-ji juga tergetar, ia coba berpaling dan melongok ke luar jendela, terlihatlah sebuah sampan sedang meluncur kemari dari tepi daratan sana. Dua orang lelaki bertelanjang dada sedang mendayung dengan kuat. Seorang lelaki kekar lain berbaju hitam ringkas berdiri tegap di haluan sampan.

Dari jarak belasan tombak, orang itu lantas berteriak, “Lapor Houya, Pek-ih-kiam-kek itu sudah datang!”

Tentu saja segenap penumpang kapal layar pancawarna sama terkesiap, melulu nama “Pek-ih-kiam-kek” atau si jago pedang berbaju putih yang singkat itu entah sudah mengandung betapa besar daya tarik yang cukup mengguncangkan suasana dan membuat orang terkesiap.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: