Kumpulan Cerita Silat

09/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (01)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 9:50 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 01. Seorang Yang Tidak Menyandang Senjata
Oleh Gu Long

Golok yang merupakan sahabatnya tidak terlihat dipinggangnya.

Sesaat setelah dia memasuki ruangan, dia melihat salju merah!
Sesaat setelah dia memasuki ruangan, dia melihat Fu Hung Xue!

Beragam orang mendatangi tempat ini, semua orang dari berbagai kelas dan jenis. Namun, bagi seseorang seperti dia, sebetunya dia amat sangat tidak menyukai mendatangi tempat ini. Karena dia tidak diterima di tempat ini.

Tempat tersebut juga merupakan tempat yang aneh.

Saat itu telah dipenghujung musim gugur, namun kehangatan dan kegairahan susana di tempat ini membuat saat itu seperti saat musim semi.

Saat itu tengah malam telah datang, namun di dalam ruangan masih terlihat terang benderang, seterang sinar matahari disiang hari.

Tempat itu bukan toko arak, namun banyak terdapat minuman arak.

Tempat itu bukan tempat untuk berjudi, namun banyak orang berjudi.

Tempat itu tidak memiliki nama, namun tempat ini merupakan tempat paling terkenal disekitar daerah ratusan mil. Di ruangan utama terdapat delapan belas meja. Kamu dapat duduk pada salah satu meja tersebut dan menikmati sajian terbaik yang mereka tawarkan – namun bila kamu menginginkan kenikmatan yang lain, kamu harus membukan satu satu dari pintu.

Terdapat delapan belas pintu yang mengelilingi ruangan utama.

Tidak perduli pintu manapun yang kamu buka, kamu tidak akan menyesal, dan kamu tidak akan kecewa.

Di belakang ruangan utama terdapat tangga yang megah.

Namun, tidak seorangpun pernah mengetahui yang terdapat di atas, tidak ada seorangpun yang pernah ke atas sebelumnya.

Karena,………….Memang tidak perlu naik ke atas.

Semua hal yang kamu butuhkan terdapat di lantai bawah.

Tepat dibawah anak tangga, terdapat meja kecil. Dibelakang meja tersebut duduk seorang setengah baya.

Nampaknya, dia duduk sendiri disana sambil menghibur dirinya sendiri dengan setumpuk kartu.

Jarang sekali orang-orang melihat dia melakukan hal yang lain. Dan jarang sekali orang-orang melihat dia berdiri. Kursi tempat dia duduk merupakan kursi yang nampaknya nyaman dan besar.

Dua tongkat terbuat dari kayu berwarna merah tersender di sebelah kursinya.

Dia sedikit sekali memberikan perhatiannya pada orang-orang yang datang dan pergi. Bahkan dia pun jarang sekali mengangkat wajahnya untuk melihat sekitarnya.

Semua yang dilakukan oleh orang-orang nampaknya sama sekali tidak menarik perhatiannnya sama sekali.

Dia adalah pemilik dari tempat itu.

Tempat yang aneh dan misterius seringkali dimiliki oleh orang yang misterius dan aneh pula.

Fu Hong Xue menggenggam goloknya dengan tangannya.

Golok yang sangat menarik dan unik. Penutup golok berwarna hitam dan gagangnya juga berwarna gelap.

Dia sedang menikmati makanannya. Sesuap nasi, kemudian sesuap sayuran. Begitu seterusnya bergantian. Dia makan dengan perlahan.

Karena, dia hanya menggunakan satu lengan.

Tangan kirinya telah melekat pada goloknya. Tidak perduli apa yang dia lakukan, lengan tersebut tidak pernah lepas dari pangkal pedang.

Goloknya berwarna hitam, pakaiannya berwarna hitam, pupil matanya berwarna hitam, semuanya cukup hitam untuk menyerap setiap cahaya.

Meskipun dia duduk agak jauh dari tempat masuk, Fu Hong Xue masih merupakan orang pertama yang melihat dia masuk melewati pintu. Dia juga melihat pada golok di tangan Fu Hong Xue.
Tetapi – daun terbuka – tidak menyandang senjata.

Ye Kai adalah salah satu yang tidak pernah membawa senjata.

________________________________________

Di ujung musim gugur, malam telah larut.

Tempat ini merupakan satu-satunya gedung yang masih memiliki lampu yang bernyala di pintunya.

Pintunya cukup kecil. Cahaya lampu berkelap-kelip ditengah debu bertebaran seperti halnya angin musim gugur meniup debu ke langit. Bunga matahari bergoyang-goyang tertiup angin, sepertinya sudah tidak diketahui lagi dari mana berasala dan kearah mana angin bertiup.

Apakah hidup itu seperti bunga matahari? Siapa yang dapat mengatakan nasib kita?

Jadi apa yang harus kita khawatirkan dikemudian hari?

Bila bunga matahari mengetahui masa depannya, maka tidak perlu ada yang harus dibenci. Sudah sejak lama kita menikmati dan mengagumi keindahan bunga matahari.

Jadi, itu sudah lebih dari cukup.

Di salah satu ujung jalan merupakan hamparan tanah yang luas yang sepertinya tidak memiliki batas, begitu pula pada ujung yang satunya.

Satu-satunya lampu yang tergantung pada gedung tersebut seperti berlian. Langit bersatu dengan kuningnya pasir, sementara pasir yang kuning bersatu dengan langit. Seorang laki-laki berdiri di ujung dunia.

Ye Kai sepertinya baru saja tiba dari ujung dunia.

Dia berjalan menyusuri sepanjang jalan dari kegelapan malam menuju cahaya yang terpencil tersebut. Kemudian dia tiba-tiba duduk tepat di tengah jalan dan mengangkat kakinya.

Sepatu yang terpasang dikakinya terbuat dari kulit, semacam bahan kulit yang biasa digunakan oleh penggembala di padang pasir. Kedua sepatu tersebut persis seperti sepatu yang biasa digunakan oleh para penggembala, cukup ringan bahkan sangat ringan untuk diterbangkan angin, namun cukup kuat untuk digunakan untuk bekerja keras dan berjalan jauh.

Namun saat ini, pada bagian bawah sepatunya terdapat lubang besar, dan pada telapak kakinya mulai terlihat luka dan berdarah. Dia melihat pada lukanya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mimik muka yang sebal, sepertinya dia tidak kecewa pada sepatunya namun pada kedua kakinya.

“Bagaimana kedua kaki ku luka seperti kaki orang lain?”

Kemudian dia mengeruk segenggam tanah dan menaburinya pada lubang di kedua sepatunya.

“Karena engkau sangat tidak berguna, maka aku akan membuat kamu terasa sakit dan menderita.”

Kemudian dia berdiri dan menggesekan luka di telapak kakinya pada pasir tersebut.

Selanjutnya Ye Kai tersenyum. Senyumnya seperti cahaya matahari yang memasuki debu yang beterbangan memenuhi angkasa.

Lampu di gedung tetap bergoyang mengikuti tiupan angin.

Hembusan angin menerjang bunga matahari dan menghancurkan kelopak bunga tersebut ke udara. Dia menangkap kelopak bunga tersebut dan menggenggamnya.

Kelopak bunga matahari hampir hancur seluruhnya, hanya meninggalkan beberapa helai daun bunga.

Dia mengebutkan pakaiannya, yang semestinya sudah harus dibuang ketempat sampah. Kemudian, dengan hati-hati dia mencantumkan bunga tersebut pada salah satu lubang di pakaiannya.

Dia bersikap sepertin orang terhormat yang mengenakan baju yang bagus dan mewah yang dihiasi oleh sekuntum bunga.

Kemudian nampaknya dia sangat puas dengan dandanannya.

Dia tersenyum.

Pintu telah tertutup.

Dia mengangkat kepalanya dan membusungkan dadanya, berjalan dan membuka pintu. Dan, kemudian dia melihat kepada Fu Hong Xue.

Fu Hong Xue dan goloknya! Golok tersebut tergenggam di tanganya. Tangan yang puith pucat. Golok yang berwarna hitam pekat!

Ye Kai sekilas melihat ke golok di tangannya, kemudian dari tangan ke mukanya.

Muka yang putih pucat. Mata yang hitam pekat.

Senyum terpendar dari mata Ye Kai, sepertinya dia sangat menyukai dan puas dengan yang dilihatnya. Kemudian dia melangkah lebar, menarik kursi dan duduk tepat di depan Fu Hong Xue.

Sumpit ditangan Fu Hong Xue masih belum berhenti. Sesuap sayuran, sesupa nasi. Dia masih melanjutkan makanya dengan perlahan, dan tidak perduli dengan Ye Kai yang sedang menatapnya.

Ye Kai terus menatapnya dan berkata sambil tersenyum, “Engkau tidak minum arak?”

Fu Hong Xue tidak mengangkat kepalanya, dan tidak menghentikan apa yang sedang dilakukannya.
Setelah dia mengakhiri menyantap sesuap nasinya yang terakhir, perlahan-lahan dia meletakan sumpitnya kemudian memandang Ye Kai.

Senyum Ye Kai terlepas secerah matahari.

Sedikitpun tidak terlihat adanya senyuman di wajah putih dan pucat Fu Hong Xue. Setelah beberapa saat, dia menjawab’ “Aku tidak minum arak.”

“Karena engkau tidak minum arak, bagaiam kalau kamu mentraktir aku dua gelas arak?” Ye Kai berkata.

“Engkau mau aku mentraktir kamu arak? Kenapa harus begitu?” Fu Hong Xue berkata.

Dia berbicara dengan perlahan, sepertinya dia sangat berhati-hati dengan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. Karena dia harus menanggung setiap kata yang dia katakan. Oleh karena itu dia tidak pernah mau mengatakan satu katapun yang salah.

“Kenapa? Karena menurutku, engkau menyenangkan dimataku.”Ye Kai mendesah, dan menambahkan, “Selain itu, aku tidak melihat orang lain yang menyenangkan lagi di sini.”

Fu Hong Xue menurunkan pandangannya dan menatap kedua tangannya.

“Apakah kamu bersedia?”Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue tetap menatap kedua tangannya. Itu kebiasaannya saat dia tidak ingin membuka mulut.

“Apakah kamu bersedia menjamu aku?” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue tetap menatap pada kedua tangannya.

“Ini terakhir kalinya aku memberikan kesempatan. Pasti sangat disayangkan kalau melewati kesempatan ini, ” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue akhirnya mengangkat kepalanya dan berkata, “Tidak ada yang harus disayangkan.”

Ye Kai tertawa dan kembali berucap, “Engku betul-betul orang yang memiliki daya tarik itu. Berkata sejujurnya, bahkan bila ada siapapun yang lain disini yang berlutut dan memohon, aku tidak akan mengangkat barang segelaspun.”

Dia berbicara dengan suara yang keras seolah-olah dia menganggap semua orang ditempat ini tuli. Dan juga beranggapan tidak akan ada yang marah mendengar perkataan ini.

Beberapa orang mulai berderi. Seorang pemuda yang mengenakan bajuberwarna ungu berdiri paling cepat. Secepat perkataan Ye Kai selesai diucapkan.

Pemuda tersebut memiliki pinggang ramping dan bahu yang lebar. Pedangnya dihiasi dengan batu permata yang indah, sarung pedangnya berwarna merah keunguan sehingga serasi sekali dengan bajuyang kenakannya.

Dia memegang segelas arak ditangannya, gelas tersebut terisi sangat penuh, sehingga araknya yang terdapat di dalamnya seperti akan meluap keluar. Dengan gerakan yang tangkas, dia telah berdiri di hadapan Ye Kai, namun setetes arakpun yang meluap keluar.

Nampaknya, pemuda ini tidak hanya cermat memilih baju yang dikenakannya, namun juga menguasai ilmu silat yang terlatih dengan baik. Namun, sayangnya Ye Kai tidak melihatnya, juga Fu Hong Xue.

Pemuda dengan bajuungu tersebut memperlihatkan senyumnya dengan bangga karena dia mengetahui semua mata memandang dirinya.

Perlahan dia menepuk bahu Ye Kai dan berkata, “Bolehkah aku mentraktir anda segelas arak?”

“Tidak usah.” Ye Kai menjawab.

Pemuda tersebut kemudian tertawa dengan keras, setiap orang di ruangan tersebut mulai tertawa juga.

Ye kai juga tertawa dan tersenyum, kemudian berucap, “Walaupun kamu berlutut, aku tidak akan meminum arakmu.”

“Memangnya tahukah kau siapa aku?” pemuda tersebut berkata.

“Saya tidak tahu pasti. Bahkan, saya pun tidak yakin pula kalau engkau adalah seorang laki-laki.”Ye Kai berkata.

Senyum pemuda tersebut langsung membeku, jarinya langsung mengenggam pangkal pedangnya.
Criiing, pedang terlepas dari sarungnya.

Namun, hanya gagang pedang yang saat ini terdapat di tangannya. Mata pedang tetap tersimpang pada sarungnya.

Sesaat pemuda tersebut menarik pedangnya, Ye Kai menggerakan tangannya dan melemparkan sepotong besi, memotong mata pedang beberapa inci dari gagang pedangnya. Sehingga, ketika pemuda tersebut mencabut pedangnya, yang dipegang hanya gagangnya, sementara mata pedang masih tersimpan di sarungnya.

Muka pemuda tersebut langsung berubah jadi ungu, dan paras wajahnya memperlihatkan dia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.

Tidak ada satupun orang di ruangan itu berani tertawa lagi, bahkan yang tertawapun langsung menghentikan tawanya. Setiap orang hanya menahan napas.

Hanya ada satu suara. Suara kartu yang sedang sedang dikocok.

Tampaknya, dia merupakan satu-satunya orang yang tidak perduli dengan apa yang telah terjadi.
Meskipun Fu Hong Xue melihat apa yang terjadi, namun paras wajahnya masih kosong tanpa ekspresi.

Ye Kai menatapnya dan tersenyum, “Kau lihat? Saya tidak berbohong.”

“Jadi apakah kamu masih mau menraktir saya?” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue perlahan-lahan menggelengkan kepalanya dan menjawab, ” Tidak .”

Dia berdiri dan berbalik seperti tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Namun, dia menolah pada pemuda dengan bajuungu tersebut dan berkata, “Engkau harus menghabiskan banyak uang untuk membeli pedang lain yang lebih bagus. Sesungguhnya, kamu lebih baik tidak membawa pedang sama sekali. Memiliki pedang hanya untuk perhiasan merupakan suatu hal yang sangat berbahaya.”

Dia berbicara dengan perlahan namun bersungguh-sungguh, ucapannya merupakan kata-kata yang sangat bernilai.

Namun di telinga pemuda dengan bajuungu tersebut, ucapan tersebut terdengar sangat menyakitkan.
Dia menatap Fu Hung Xue, sekejap wajahnya berubah menjadi pucat pasi.

Fu Hong Xue mulai berjalan keluar. Dia bahkan berjalan lebih lambat dari pada dia berucap, dan gaya berjalannya bahkan terlihat lebih aneh.

Dia harus membuat satu langkah dengan kaki kirinya dan kemudian diikuti dengan menyeret kaki kanannya dari belakang.

“Jadi ……. dia seorang pincang.”

Ye Kai merasa terkejut dan menyesal.

Namun selain itu, dia tidak memikirkan hal lainnya.

Pemuda dengan baju ungu mengepalkan kedua telapak tangannya dengan amarah. Dia sangat marah dan juga kecewa-berharap Ye Kai akan menghentikan Fu Hong Xue.

Walaupun kemampuan Ye Kai sangat hebat, namun kepincangan tersebut nampaknya sedikit lebih menakutkan.

Pemuda dengan bajuungu memberikan tanda dan dua orang yang duduk bersamanya perlahan berdiru dan sepertinya mereka akan mengejarnya.

Sesaat, suara asing memenuhi segenap ruangan,”Engkau tidak ingin seseorang mentraktir mu, namun apakah kamu bersedia mentraktir orang lain?”

Suara tersebut terdengar lembut, namun setiap orang dapat mendengarnya dengan jelas.

Seseorang sepertinya berbisik langsung ketelinga, namun tidak ada yang melihat siapa yang berbisik.

Akhirnya mereka melihat seorang tengah baya dengan baju yang bagus dan rapi telah mengangkat kepalanya dan menatap Ye Kai.

“Orang lain mentraktir aku minum adalah satu hal, namun aku mentraktir orang lain untuk minum adalah hal yang berbeda.”Ye Kai menjawab sambil tersenyum.

“Betul, kedua hal adalah sesatu hal yang sangat berbeda.” Orang setengah baya berkata.

“Jadi bila itu aku, maka aku bersedia untuk mentraktir setiap orang di seluruh ruangan ini.”Ye Kai berkata.

Dia berkata seolah-olah dia adalah pemiliki tempat tersebut.

Pemuda dengan baju ungu menggertakan giginya dan melihat ke pintu.

“Tapi bila aku mentraktir, maka semua orang yang aku traktir harus minum hingga mabuk!”Ye Kai berkata dengan santai.

Pemuda dengan baju ungu tiba-tiba berbalik padanya dan berkata, “Apakah engkau tahu untuk mentraktir semua orang membutuhkan uang perak?”

“Uang perak? Apakah aku terlihat seperti orang yang membawa urang perak?” Ye Kai berkata.

Pemuda tersebut tertawa dan berkata, “Betul-betul tidak.”

“Namun kamu tidak perlu menggunakan uang perak kalau mau membeli arak. Kamu dapat pula menggunakan kacang, jelas?” Ye Kai berkata.

Pemuda tersebut terkejut dan berkata, “Kacang? Kacang yang seperti apa?”

“Kacang seperti ini.” Ye Kai berkata.

Kantung coklat tiba-tiba terlihat ditangannya. Dengan perlahan dia menggoyang kantung, kacang-kacang tiba-tiba keluar. Kejadian tersebut seperti sulap.

Kacang-kacang yang keluar tersebut terbuat dari emas.

Pemuda tersebut menatap tajam pada kacang emas yang terjatuh di lantai. Setelah dia merasa terkejut, kemudian tersenyum dan berkata,”Ini adalah satu-satunya hal yang tidak aku mengerti.”

Pemuda dengan baju ungu melanjutkan.”Engkau tidak ingin seorangpun mentraktir mu, namun engkau lebih suka mentraktir orang lain. Apanya yang berbeda?”

Sekejap Ye Kai berkata, “Bila seekor anjing datang padamu dan dan menawarkan kotorannya, apakah kamu akan memakannya?”

Wajah pemuda baju ungu langsung berubah warna dan dia menjawab,”Tentu tidak.”

“Aku juga tidak. Namun lebih enak memberi makan anjing.”Ye Kai berkata.
________________________________________

Ketika Fu Hong Xue berjalan keluar, sekonyong-konyong nampak lagi dua buah lentera di pintu.
Dua orang berbaju putih dengan lentera dimasing-masing tangan mereka berdiri ditengah jalan.
Sementara Fu Hong Xue berjalan keluar pintu dan bergerak setapak demi setapak, dia mengamati ada orang ketiga dibelakang keduar orang yang memegan lentera .

Lentera mereka bergoyang tertiup angin, namun orang ketiga tersebut berdir dengan tegak, tidak bergerak seincipun.

Cahaya lentera menerangi tubuh, rambut dan baju mereka. Pasir kuning terkumpul disekitar mereka bercampur dengan gelapnya malamnya, sehingga menghasilkan aura yang menyeramkan.

Namun Fu Hong Xue tidak mengambil perduli. Ketika berjalan, matanya menatap kekejauhan malan..

Apakah karena seseorang telah menunggunya ditempat yang sangat jauh?

Namun kenapa pandangannya nampak sangat kesepian dan terkucil? Bila ada perasaan yang keluar, itu pasti bukan kehangatan. Itu lebih terlihat sebagai hal yang menyakitkan, kebencian dan penderitaan.

Sementara da tetap berjalan, orang yang berdiri tegak dibelakang kedua orang yang memegang lentera tiba-tiba mengeluarkan suara,”Tuan, mohon tunggu.”

Fu Hong Xue berhenti di tempat. Pada saat sesorang memintanya untuk berhenti, maka ia berhenti. Tidak perduli siapapun, dan dia tidak menanyakan kenapa.

Orang tersebut nampaknya sangat sopan. Namun, saat dia membungkukkan badang, matanya menatap golok. Ototnya menegang sementara kesiagaan menyeliputi seluruh tubuhnya.

Fu Hong Xue tetap tidak bergerak. Golong ditangannya juga tidak bergerak. Bahkan matanya tetap menatap dikejauhan.

Hamparan yang luas dan gelap dikejauhan.

Setelah beberapa saat, orang dengan ekspresi yang putih tersebut tersebut mengendorkan tubuhnya. Dia tersenyum dan berkata”Mohon maaf untuk bertanya, apakah anda baru tiba hari ini?”

“Ya.” Fu Hong Xue berkata.

Responnya hanya jawaban tersebut, namun jawaban tersebut keluar setelah dia berpikir beberapa saat.

“Anda berasal dari mana?” orang dengan baju putih bertanya.

Fu Hong Xue menurunkan pandangannya dan menatap goloknya.

Setelah beberapa saat, laki-laki dengan baju putih tersebut tersenyum memaksa dan berkata, “Apakah kamu akan pergi secepatnya?”

“Mungkin.” Fu Hong Xue berkata

“Dan mungkin tidak?” laki-laki berbaju putih berkata.

“Mungkin.” Fu Hong Xue menjawab.

“Bila engkau berencana tidak pergi secepatnya, Majikan Ketiga kami bermaksud mengundang anda untuk bertemu besok malam.”Laki-laki baju putih berkata.

“Majikan Ketiga? “Fu Hong Xue berkata.

“Betul, saya mengundang atas nama Majikan Ketiga dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda. “laki-laki baju putih berkata sambil menyeringai.

Kali ini seringai betul-betul nyata.

Beberapa orang mungkin tidak bisa menebak siapa Majikan Ketiga, dan hal itu merupakan suatu hal yang lucu.

Namun bagi Fo Hung Xue, mungkin tidak ada satupun di dunia ini yang dapat ditertawai.

Laki-laki baju putih tiba-tiba tidak tertawa lagi. Dia pura-pura batuk dan berkata, “Majikan Ketiga memerintahkan agar kami berhasil mengundang anda, kalau tidak…..”

“Kenapa kalau tidak?” Fu Hong Xue berkata.

“Kalau tidak kami tidak boleh menghadap beliau. Kami harus berdiri disini dan tidak boleh pergi. ” laki-laki baju putih berkata.

“Tetap berdiri disini?” Fu Hong Xue berkata.

“Ya. Hingga anda bersedia menerima undangan saya…”laki-laki baju putih berkata.

Sesaat laki-laki baju putih menyambung perkataannya, Fu Hong Xue telah berbalik dan mulai berjalan.

Kaki kirinya setahap melangkah dan kemudian kaki kanannya diseret maju. Kaki kanannya nampaknya kaku total.

Air muka laki-laki baju putih berubah warna, seluruh tubuhnya mulai menegang kembali. Namun, hingga bayangan Fu Hong Xue menghilang dikegelapan, dia tetap berdiri di tempat, sama sekali tidak bergerak.

Angin berhembus ke tubuhnya sambil menerbangkan debu, namun bahkan dia tidak berkedip.
Salah seorang yang memegang lentera tidak tahan untuk bertanya, “Apakah kita harus membiarkan dia pergi begitu saja?”

Laki-laki baju putih hanya menutup mulunya dengan erat dan tidak mengucapkan satu katapun. Setitik darah merembes dari ujung mulutnya, namun dalam sekejap mata hilang diterbangkan angin.

Fu Hong Xue tidak pernah berbalik. Selama dia mulai berjalan kedepan, dia tidak pernah berbalik.
________________________________________

Angin berhembus dengan keras. Batang kayu di sebuah pondok yang terletak disebuah gang yang gelap bergoyang maju mundur sepertinya akan lepas diterbangkan oleh angin. Dia berjalan hingga ke pondok terakhir darn berdiri di depan pintu.

Tidak terdengar suarad dari dalam pondok. Juga tidak terlihat cahaya, nampaknya kegelapan di dalam lebih pekat dari pada diluar.

Fu Hong Xue tidak berkata sedikit pun sementara dia mulai masuk. Dia menutup dan mengunci pintu dari dalam. Nampaknya dia sangat terbiasa dalam kegelapan.

Sebuah lengan tiba-tiba mencul dari kegelapan dan meraih lengannya. Lengan tersebut hangat dan lembut.

Fu Hong Xue hanya berdiri di sana, membiarkan lengan tersebut mengelus tangannya-tangan yang tidak memegang golok.

Kemudian, terdengar suara dari kegelapan, “Aku telah menunggumu sejak lama. “Itu adalah suara yang lembut dan manis dari seorang muda.

Itu adalah suara seorang gadis.

Fu Hong Xue perlahan-lahan menganggukan kepalanya dan berkata, “Kamu telah menunggu sejak lama.”

“Kapan kamu tiba?” gadis itu berkata.

“Petang tadi.” Fu Hong Xue menjawab.

“Kamu tidak langsung kesini?” gadis itu bertanya.

“Tidak. ” Fu Hon Xue menjawab.

“Mengapa tidak langsung kemari?” gadis itu bertanya kembali.

“Sekarang aku sudah di sini.” Fu Hong Xue berkata.

“Kamu benar. Kamu di sini sekarang. Selama kamu kesini, menunggu hingga kapanpun pantas. ” Gadis itu berkata dengan lembut.

Berapa lama dia telah menunggu?

Siapakah gadis itu? Mengapa dia menunggu di sini?

Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Kecuali kedua orang itu, bahkan tidak ada seorang pun di dunia ini.

“Apakah segala sesuatunya telah disiapkan?” Fu Hong Xue bertanya.

“Semua telah disiapkan. Bila kamu membutuhkan apapun, minta saja. “gadis itu berkata.

Fu Hong Xue diam seribu bahasa.

Suara gadis tersebut semakin ramah, “Aku tahu apa yang kamu butuhkan, aku tahu …”

Tangan si gadis bergerak mencari sesuatu di kegelapan, dan mulai membuka kancing bajunya.

Tangannya yang halus dan sangat terampil…

Sekejap, Fu Hon Xue telah telanjang.

Tidak ada angin yang bertiup masuk namun gadis tersebut bergetar dan menggiggil.

Suara gadis itu seperti mimpi, yang secara perlahan berkata, “Selama ini kamu selalu menjadi seorang bocah lelaki, namun sekarang saya ingin kamu menjadi seorang pria. Karena ada beberapa hal yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pria.”

Bibir gadis itu sungguh hangat dan basah saat menyentuh dadanya.

Tangan gadis itu terus menggerayang mencari sesuatu…

Fu Hong Xue terjatuh ke atas tempat tidur, namun tangan kirinya masih memegang golok. Golok itu seperti sudah menjadi bagian tubuhnya, bagian dari hidupnya. Mereka tidak akan pernah dapat dipisahkan.
______________________________________

Matahari pagi telah masuk melewati jendela kecil. Dia masih tertidur, goloknya masih tergenggam.

Disana hanya terdapat dua ruangan, satu yang di belakang adalah dapur.

Aroma yang membangkitkan selera muncul dari ruangan tersebut.

Seorang wanita tua yang pucat dan telah beruban sedang menuangkan telur dengan hati-hati ke dalam masakan.

Postur tubuhnya sudah membongkok dan kulitnya sudah keriput.

Tangannya kasar dan buruk karena telah digunakan untuk bekerja keras sepanjang hidupnya.

Ruangan di luar nampak dilengkapi dengan kursi dan meja yang nyaman. Semua tertata dengan rapi dan bersih. Kasur di atas tempat tidur masih kasar dan kaku.

Fu Hong Xue kelihatannnya masih tertidur.

Namun, sesaat wanita tua melangkah keluar dari dapur, matanya segera terbuka.

Di sana hanya terdapa dua orang.

Di manakah gadis muda yang lembut dan bergairah? Apakah dia telah hilang ditelan kegelapan malam?

Atau dia merupakan jelmaan arwah gentayangan di tengah malam?

Ketika Fu Hong Xue melihat wanita tua tersebut, tidak terlihat ekspresi apapun di wajahnya. Dia tidak berkata sepatahpun dan tidak bertanya apapun.

Mengapa dia tidak tidak bertanya sesuatu?

Apakah dia telah menyadari bahwa yang baru saja terjadi tadi malam hanyalah mimpi?

Telur goreng telah masak. Disana juga tersedia tahu segar, daun selada, rebung dan kacang asin rebus.

Wanita tua hanya menyiapkan makanan di atas meja, dan dengan tersenyum berkata, “Makan pagi lima fen perak, bermalam empat qian dan tujuh fen. Untuk sebulan, seluruhnya 10 tael perak. Sangat murah untuk tempat seperti ini.”

Terlalu banyak kerut keriput di wajahnya. Saking banyaknya, sulit untuk membedakan apakah dia sedang tersenyum atau tidak.

Fu Hong Xue mengambil setumpuk perak dan meletakannya di atas meja. “Aku akan menetap selama 3 bulan. Ini lima puluh tael perak.

“Itu dua puluh tael lebih banyak………”wanita tua tersebut menegaskan.

“Aku membutuhkan peti mati setelah aku mati.”Fu Hong Xue berkata.

Wanita tua tersebut tertawa dan berkata, “Dan bila kamu tidak mati?”

“Kamu simpan kelebihannya untuk membeli peti mati kamu sendiri.” Fu Hong Xue menjawab.

________________________________________

Diluar gang sempit tersebut terdapat jalan raya yang panjang.

Angin telah melemah.

Cahaya matahari menyinari jalan, pasir kuning berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Orang-orang sudah berlalu-lalang di jalan. Orang pertama yang tertangkap oleh matanya adalah laki-laki baju putih.

Dia masih berdiri di tempat yang sama seperti saat dia bertemu tadi malam. Posisi tubuhnya bahkan tidak berubah sama sekali.

Bajunya yang putih salju mulai dikotori oleh pasir, bahkan rambut telah menguning. Namun, wajahnya masih pucat. Dia masih berusaha dengan gigih.

Banyak mata memandang ingin tahu kepadanya. Pandangan mata tersebut bahkan dapat menahan sinar matahari yang sangat terik.

Kegigihan sangat menyakitkan, namun kadang kala juga merupakan keahlian.

Seseorang yang telah mengusai keahlian ini biasanya dapat mencapai apa yang mereka inginkan.
Fu Hong Xue berjalan kearahnya namun tatapan matanya masih ke arah kejauhan.

Debu dan kotoran tiba-tiba beterbangan ke udara.

Terdengar derap suara kuda yang ramai. Tujuh ekor kuda berlari kencang dijalan dalam barisan.
Penunggang kuda-kuda tersebut merupakan orang yang sangat ahli. Secepatnya mereka tiba di hadapan laki-laki baju putih, tangan mereka meraih senjata di punggung, lalu memberikan penghormatan dalam satu gerakan yang seragam.

Hal ini merupakan salah satu dari kebiasaan penting yang mereka.

Dari penghormatan meraka, dapat dikatakan laki-laki baju putih tersebut memiliki posisi yang tidak rendah.

Tidak ada alasan yang tidak masuk akal bila seseorang harus bertahan seperti itu, dia tetap berdiri disana dengan tenang.

Apa maksud dari tindakannya?

Cahaya terpantul dari senjata mereka ke wajahnya. Dalam sekejap ke tujuh kuda telah berlari kencang ke unjung jalan.

Sekonyong-konyong, kuda terakhir meringkik kerah ketika penunggangnya menarik tali kekangnya. Kemudian kuda tersebut mencongklang balik.

Penunggang kuda tersebut tetap berada dipelananya, kemudian dia mengangkat sebilah tombak baja hitam yang terbungkur kain putih.

Sementara kuda berlari kencang, tombak tersebut meluncur dari tangannya menancap ke atas tanah disamping laki-laki baju putih.

Kain putih yang menutup ujung tombak kemudian terlepas oleh angin dan ternyata berubah menjadi bendera.

Keenam penunggkang yang lainnya melakukan hal yang sama dengan penunggang tadi sambil menimbulkan debu yang beterbangan.

Orang dan kuda silih berganti berdatangan dan pergi. Setelah mereka meninggalkan jalan yang terlihat adalah jalan yang dipenuhi oleh bendera yang besar.

Cahaya matahari yang cerah menyinyari bendera yang besar.

Banyak pasang mata di jalan terlihat membeku kaku, bahkan mereka juga tidak berbicara satu dengan yang lainnya.

Seseorang tiba-tiba tertawa dengan keras dan berseru, Gedung Sepuluh Ribu Kuda memang benar hebat! Gedung Sepuluh Ribu Kuda sungguh-sungguh hebat!”

ooOOOoo

Apakah Gedung Sepuluh Ribu Kuda, apa yang mereka inginkan terhadap Fu Hong Xue? Ikuti kisah selanjutnya…..

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: