Kumpulan Cerita Silat

09/01/2008

Duke of Mount Deer (07)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:50 am

Duke of Mount Deer (07)
Oleh Jin Yong

Sejak kecil kaisar Kong Hi dipingit. Namun sejak ayahnya meninggal dan dia diharuskan menggantikannya, dia sudah mendapat kebebasan. Namun kemana saja masih ada para thaykam ataupun dayang yang mengiringi. Kadang-kadang dia memerintahkan mereka meninggalkannya, itulah sebabnya dia bisa bertemu dengan Siau Po seorang diri.

Sambil menggenggam erat-erat tangan Siau Po, Kaisar Kong Hi bertutur.

“Di hadapan orang lain, kau harus memanggilku Sri Baginda, tetapi di tempat yang tidak ada orangnya, kau dapat memanggil aku sebagaimana biasanya. Kita dapat bergaul erat seperti yang sudah-sudah.”

“Baik,” sahut Siau Po sambil tersenyum. “Sebenarnya aku tidak menyangka akan menghadapi keadaan seperti ini. Mimpi pun aku tidak menduga bahwa kaulah sang raja. Tadinya aku mengira raja itu seorang thaykam tua yang seluruh janggutnya sudah memutih!”

Raja juga ikut tertawa.

“Apakah Hay kongkong pernah membicarakan urusanku denganmu?”

“Tidak. Dia cuma mengajarkan aku ilmu silat. Oh ya, Sri Baginda, siapa yang mengajari kau ilmu silat?”

Raja tertawa lagi.

“Aku sudah mengatakan di tempat yang sepi di mana hanya ada kita berdua, kau tidak perlu memanggil aku dengan sebutan itu. Baru beberapa menit kau sudah melupakannya kembali.”

Siau Po menjadi jengah, namun dia tertawa juga.

“Aku bingung.” Raja menarik nafas panjang. “Sudah aku bayangkan, asal kau sudah tahu siapa aku ini. Kau pasti tidak bisa berkelahi denganku lagi seperti yang sudah-sudah.”

“Akan kuusahakan, tetapi aku takut gagal,” kata Siau Po. “Eh, Siau Hian cu, siapa yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?”

“Bukannya aku tidak mau memberitahu, tetapi apa gunanya kau ketahui hal itu?” tanya Kaisar Kong Hi.

“Begini, Go Pay menganggap ilmunya luar biasa sehingga dia berani bersikap kurang ajar kepadamu. Malah tadi tampaknya dia hampir memukulmu. Apabila gurumu memang lihay sekali, mengapa kau tidak memintanya untuk melabrak Go Pay.” Kong Hi tersenyum.

“Tidak. Guruku tidak bisa melakukan hal itu.” Siau Po terdiam. Untuk beberapa saat dia menguras otaknya.

“Sayangnya guruku, Hay kongkong, sudah buta kedua matanya. Kalau tidak, aku dapat meminta bantuannya untuk menghajar Go Pay. Dia tentu akan menang. Tapi… ada jalan lainnya…. Kita berdua menghadapinya bersama. Bagaimana pendapatmu? Meskipun dia tokoh nomor satu di istana ini, kalau kita mengeroyoknya, mustahil kalau kita tidak bisa menang!”

Dasar masih bocah, Raja menyetujui pemikirannya itu.

“Bagus.” serunya, tetapi sekejap kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Ah…. Tidak dapat aku melakukan hal itu. Raja menempur menterinya sendiri, tidak lucu.”

Siau Po memperhatikan Kong Hi lekat-lekat.

“Coba kalau kau bukan raja….”

Kong Hi mengangguk, tidak sepatah kata pun sanggup diutarakannya. Dalam hati dia sangat menyukai Siau Po yang dianggapnya cerdas juga polos. Juga suka melakukan apa yang terpikirkan olehnya.

Di lain pihak, hatinya panas mengingat sikap Go Pay terhadapnya. Diam-diam dia mendumel dalam hati. “Benar-benar tidak tahu aturan? Mengapa dia begitu kurang ajar terhadapku? Sedikit pun dia tidak memandang mata kepadaku. Sebenarnya, dia atau akukah yang menjadi raja di istana ini? Apa kira-kira yang dapat aku lakukan terhadapnya? Dia adalah kepala pasukan pengawal di dalam istana. Dia juga memimpin pasukan tentara Pat Ki. Kalau aku mengeluarkan perintah untuk menawannya, dan menghukum mati padanya, mungkin dia akan memberontak. Dan apabila dia melakukan perlawanan, kemungkinan akulah orang pertama yang akan dibinasakannya. Biar bagaimana, aku harus mencari akal untuk melepaskan jabatannya dan mencari kesalahannya agar bajingan itu dapat dihukum mati. Dia harus diseret ke pingu Ngo-mui untuk ditebas batang lehernya di hadapan rakyat!”

Hanya sejenak kemudian pikiran raja berubah lagi. Dia menganggap keputusannya kurang tepat. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk tidak melakukan tindakan apa-apa dulu sekarang ini. Dia ingin mencari jalan yang paling sempurna.

Tentu saja pikirannya ini tidak diutarakannya kepada Siau Po.

“Sekarang kau kembali dulu kepada Hay kong-kong!” perintahnya kepada kacung yang sudah dijadikannya sahabat itu. “Belajarlah dengan giat, besok kita akan bertanding lagi!”

Siau Po menurut.

“Baik!”

“Ingat, urusanku dengan Go Pay ini jangan kau ceritakan kepada siapa pun juga!”

“Baik!”

“Di sini tidak ada orang lain, begitu aku mau pergi, aku langsung pergi. Aku tidak perlu menekuk lutut!” kata Siau Po terus terang.

Kong Hi tersenyum. “Ya, tidak usah bertekuk lutut. Pergilah!”

Siau Po tersenyum dan berlalu. Begitu bertemu dengan si thaykam tua, dia tidak mengatakan apa-apa. Keesokan harinya kembali dia berkelahi dengan Kong Hi. Dia mengira dirinya dapat berlaku wajar, tetapi ternyata tidak. Setelah mengetahui siapa adanya Siau Hian cu, hatinya menjadi tidak tenang apabila berhadapan langsung. Dia tidak seperti sebelumnya yang berani menjotos atau menghajar betulan. Tanpa terasa seperti yang lainnya, dia pun selalu mengalah.

Kaisar Kong Hi menghentikan pertempuran. Dia juga tidak bersemangat lagi untuk berkelahi terus. Diajaknya Siau Po ke sebuah ruangan khusus untuk berlatih gulat. Di sana dia menyuruh salah seorang bawahannya untuk menghadapi Siau Po. Demikianlah hari-hari terus berlalu.

Lama-lama Hay kongkong menjadi curiga. Sekarang Siau Po tidak banyak bercerita lagi bila kembali ke kamar. Karena itu dia berniat menyelidiki sebabnya.

“Bagaimana dengan Siau Hian cu?” tanyanya ketika mendengar suara langkah kaki Siau Po masuk ke dalam kamar.

“Biasa. Hanya kurang bersemangat.”

“Apakah dia sakit?” tanya Hay kongkong kembali.

“Tidak.”

“Coba kau jelaskan jalannya pertempuran!”

Siau Po kehabisan akal. Terpaksa dia menceritakan apa yang dilihatnya di ruang berlatih gulat.

Dan dia mengaku bahwa dia yang kalah.

“Kau sengaja mengalah?” tanya Hay kongkong.

“Tidak. Aku hanya merasa sungkan karena aku telah menjadi sahabatnya,” sahut Siau Po.

“Oh, kau telah menjadi sahabatnya. Aku tahu, sebenarnya kau tidak berani berkelahi lagi dengannya, karena kau sudah tahu….”

Siau Po terperanjat.

“Tahu apa?” tanyanya gugup.

“Coba katakan. Dia yang mengaku sendiri atau kau yang mengetahuinya?”

“Apa yang kau maksudkan, kongkong? Aku tidak mengerti!”

“Ayo, katakanlah terus terang. Cepat katakan, bagaimana kau bisa mengetahui perihal Siau Hian cu?”

Sembari berkata, thaykam tua itu langsung menyambar tangan kiri Siau Po kemudian menekannya sehingga bocah itu menjerit kesakitan.

“Aku menyerah!”

“Cepat katakan!” bentak Hay kongkong garang.

“Aku toh sudah menyerah, mengapa kau tidak melepaskan cekalanmu?”

“Aku bertanya kepadamu dan kau harus menjawabnya baik-baik!”

“Baik. Kalau kau memang sudah tahu siapa Siau Hian cu, aku akan menjelaskannya. Tapi jangan main paksa, kalau tidak, mati pun aku tidak akan mengatakan apa-apa!”

“Kau kira apanya yang mengherankan? Siau Hian cu adalah raja. Sejak semula aku memang sudah mengetahuinya.”

Senang hati Siau Po mendengar kata-kata thaykam tua itu.

“Rupanya sejak semula kau sudah mengetahuinya. Baiklah, aku akan bicara. Tidak apa-apa bukan?”

Siau Po langsung menceritakan semuanya. Termasuk sikap Go Pay terhadap raja. Hay kongkong mendengarkan dengan seksama. Beberapa kali dia bertanya kembali untuk mendapat penegasan.

“Tapi Sri Baginda telah berpesan bahwa aku tidak boleh membuka rahasianya, kalau tidak, dia akan menghukum mati aku,” kata Siau Po mengakhiri ceritanya.

“Kau toh sahabatnya, mana mungkin dia menghukum mati padamu? Seandainya akan dihukum mati, pasti akulah orangnya!”

“Syukurlah kalau kongkong sudah tahu.”

Hay kongkong berdiam diri sekian lama. Terdengar dia bergumam seorang diri.

“Buat apa raja melatih tiga puluh thaykam cilik? Apakah dia menyesal tidak dapat berkelahi lagi denganmu sehingga memerintahkan orang dari ruang berlatih untuk mendidik tiga puluh thaykam cilik yang kemudian akan dijadikan lawannya? Aih! Sungguh sukar ditebak kemauannya. Eh, Siau Kui cu, inginkah kau menjadi orang kesayangan raja?”

Siau Po heran. Dia menatap thaykam tua itu lekat-lekat.

“Dia adalah sahabatku, sudah sepatutnya aku membuatnya bahagia,” sahut Siau Po. “Bagaimana caranya aku bisa membuat diriku disukainya?”

“Sekarang kau dengar kata-kataku baik-baik! Selanjutnya kalau Sri Baginda menyebutmu sahabat, jangan mau. Coba bayangkan, sekarang usianya masih kecil, sikapnya masih kekanak-kanakan, kalau hatinya senang, apa pun dapat dikatakannya. Tetapi setelah dia dewasa nanti, asal kau salah bicara sedikit saja, dia akan membuat kepalamu pindah dari batang lehermu itu.”

Siau Po cerdas, dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Hay kongkong. “Ya, aku tahu. Selanjutnya aku akan ingat kata-kata kongkong baik-baik!”

“Hm!” Thaykam tua itu mendengus dingin. “Sekarang aku tanya lagi, apakah kau ingin mempelajari ilmu silat yang hebat?”

“Tentu saja aku mau. Apakah kongkong mau mengajarkan? Sesungguhnya aku merasa heran, kepandaian kongkong tinggi sekali, mengapa kongkong tidak menerima seorang murid saja?”

“Di dalam dunia ini banyak manusia licik dan jahat. Bagaimana kalau aku keliru memilih? Bukankah aku mencari penyakit untuk diriku sendiri?”

Siau Po terkesiap. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Apakah dia sudah tahu samaranku dan tahu aku yang menyebabkan kedua matanya buta?” Tapi Siau Po menekan perasaan curiganya. Cepat-cepat Jia berkata: “Tapi aku setia kepadamu. Kau sendiri toh tahu bagaimana aku berani menempuh bahaya pergi ke Gi Si Pong untuk mencuri sebuah kitab untukmu. Sayangnya jumlah buku di sana terlalu banyak dan aku tidak bisa membaca….”

“Kau tidak bisa membaca?” tanya Hay kongkong heran.

Sekali lagi jantung Siau Po berdenyut dengan kencang. Dia tidak tahu apakah Siau Kui cu pernah belajar ilmu surat atau tidak. Kalau Siau Kui cu bisa, celakalah dia.

Karena itu, cepat-cepat dia menambahkan. “Berulang kali aku mencari kitab itu, tapi sejauh ini aku belum berhasil menemukannya. Biarlah, waktu toh masih banyak. Apalagi sekarang aku sudah menjadi sahabat raja. Setiap waktu aku bisa menghadap ke kamar tuljsnya. Suatu hari aku pasti akan menemukan kitab itu.”

“Asal kau tidak melupakannya saja!”

“Mana mungkin aku melupakan bahwa Kongkong memperlakukan aku dengan baik. Budi besar itu belum sempat aku balas. Kalau aku sampai melupakannya, sungguh aku tidak patut disebut manusia!”

“Hm… kalau kau tidak tahu membalas budi, memang sungguh kau bukan seorang manusia!” kata Hay kongkong mengulangi ucapan Siau Po.

Hati Siau Po tercekat, namun sesaat dia sudah pulih kembali.

“Sekarang aku akan mengajarkan kau ilmu Tay Cu, Tay Pi, Cian Yap-jiu!”

Hati Siau Po masih was-was, dia takut Hay kongkong akan mencelakainya, tetapi ternyata orang tua itu sungguh-sungguh mengajarinya ilmu silat. Siau Po pun memperhatikan dengan seksama kemudian menirunya.

“Perlu kau ketahui bahwa jurus ilmu ini sangat banyak, jumlahnya seribu jurus sesuai dengan na-manya, tidak lebih tidak kurang. Maka kau jangan berharap dapat menguasainya dalam waktu singkat.”

“Baik, aku akan belajar sungguh-sungguh. Tidak perduli berapa lama waktunya!”

Hari itu Siau Po berlatih sampai jauh malam. Keesokan harinya dia menemui Kong Hi. Dite-muinya Kaisar itu sedang meninju bangku kulit dengan kesal. Setelah melihat kehadiran Siau Po, baru dia tersenyum.

“Hatiku sedang jengkel. Mari kau temani aku bermain-main!”

“Kongkong baru mengajari aku sebuah ilmu baru. Namanya Tay cu, Tay pi Cian Yap-jiu. Kata-nya ilmu ini lebih hebat dari Toa kim na-hoat. Kalau aku sudah berhasil menguasainya, kau tidak akan sanggup melawanku lagi!”

“Ilmu yang bagaimana?” tanya Kong Hi penasaran. “Coba kau tunjukkan kepadaku!”

“Baik!” Siau Po pun bergerak menuruti ajarkan Hay kongkong.

Kong Hi memperhatikan dengan seksama. Semua serangan Siau Po ditujukan kepadanya. Kong Hi tidak sempat berkelit. Dia kena diserang sebanyak lima kali, tapi karena serangannya perlahan, dia tidak merasa nyeri ataupun terjatuh karenanya.

“Aih! Sungguh bagus ilmu yang kau tunjukkan itu. Baik. Aku akan menemui guruku dan memintanya untuk mengajarkan ilmu lain yang dapat melawan ilmu barumu itu!”

Siau Po kembali ke kamarnya, dia menceritakan kepada Hay kongkong apa yang dialaminya bersama Kong Hi.

“Entah ilmu apa yang akan diajarkan gurunya? Sudahlah, sekarang kau harus berlatih jurus lainnya.”

Siau Po menurut. Hay kongkong langsung bergerak perlahan-lahan agar Siau Po dapat melihat-nya dengan teliti, mulutnya pun terus memberikan penjelasan mengenai tipu daya jurus itu. Tetapi ilmu itu memang terlalu rumit. Tidak seluruhnya dapat dimengerti oleh Siau Po. Dia hanya dapat meniru gerakannya saja.

Besoknya seperti dijanjikan, Siau Po langsung menuju Gi Si Pong. la heran sewaktu mendapatkan ada empat siwi yang menjaga di depan pintu. Satu di antaranya malah tersenyumn simpul sambil menyapa.

“Kau tentunya Kui kongkong, bukan? Sri Baginda Raja menitahkan agar kau masuk saja!”

Siau Po terkejut. Siapa itu Kui kongkong? Tetapi sesaat kemudian dia mengerti, tentu dia sendiri yang dimaksud dengan Kui kongkong. Mungkin siwi itu tahu bahwa dia sudah menjadi orang kepercayaan Kaisar sehingga bersikap sungkan terhadapnya.

“Selamat bertemu!” Dia segera menjura kepada para siwi itu.

Mereka membalasnya dengan hormat. Siau Po dipersilahkan masuk ke dalam kamar tulis. Melihat kehadirannya, kaisar Kong Hi langsung meloncat turun dari kursinya.

“Kelima tipu jurusmu kemarin sudah diajarkan pemecahannya oleh guruku. Mari kita coba sekarang!”

Siau Po hendak menolak, tapi dia tidak berani. Terpaksa dia mengiringi kemauan sang raja. Hari ini benar saja kelima tipuannya berhasil dipecahkan oleh Kong Hi.

“Kemarin aku mempelajari lagi enam jurus baru, mari kau coba!”

Siau Po langsung menyerang. Dia sempat membuat lawannya kerepotan.

“Baiklah. Aku akan mempelajari cara untuk memecahkannya!” Mereka berpisah pula. Demikianlah setiap hari Siau Po mempelajari jurus baru lalu dicobanya untuk menyerang kaisar Kong Hi, setelah kewalahan, raja itu akan mencari pemecahannya pula dari gurunya.

Sekarang bukan hal aneh lagi bila semua thaykam maupun siwi dan para dayang tahu bahwa thaykam cilik dari Siang sian tong ini adalah anak kesayangan raja. Sikap mereka juga jadi hormat.

Di pihak lain, Siau Po juga ingin memperoleh perhatian khusus dari Hay kongkong. Dia tidak lupa mencari kitab Si Cap Ji cing-keng, tapi sampai sejauh ini dia masih belum berhasil menemukannya. Sedikit-sedikit dia sudah mengerti ilmu surat karena Hay kongkong juga mengajarinya.

Pada suatu hari Kong Hi berkata kepada Siau Po.

“Siau Kui cu, besok kita akan melakukan satu pekerjaan besar. Pagi-pagi kau harus sudah datang dan tunggu aku di kamar tulis!”

“Baik!” sahut Siau Po singkat. Dia tahu Raja tidak suka banyak bicara. Karena kaisar Kong Hi tidak menjelaskan, dia juga tidak menanyakan.

Keesokan harinya, pagi-pagi Siau Po sudah muncul di kamar tulis raja. Begitu dia muncul Kong Hi segera berbisik kepadanya.

“Aku ingin kau melakukan sesuatu, entah kau berani atau tidak?”

“Kalau kau yang menyuruh, apa yang harus kutakutkan?” sahut Siau Po sok gagah.

“Tapi urusan ini hebat sekali. Kalau kau gagal, bukan hanya jiwamu saja yang terancam bahaya, jiwaku juga!”

Siau Po terkejut juga. Tetapi sesaat kemudian dia bertekad bulat.

“Paling juga aku kehilangan selembar nyawa, tapi kau adalah raja, siapa yang berani mencelakaimu?”

Melihat sikap Siau Po, Kong Hi pun berterus terang.

“Go Pay si menteri celaka itu sudah jelas berniat jahat. Hari ini aku ingin menawannya. Kita bekerja sama. Beranikah kau?”

Mendengar keterangan itu, bukan main senangnya hati Siau Po. Memang selama ini, kecuali menemani raja berlatih silat, dia tidak mempunyai kegiatan apa-apa yang menggairahkan. Sekarang pun dia tidak pernah berjudi lagi. Sedangkan hatinya memang membenci Go Pay yang dianggapnya congkak dan tidak tahu diri. Tentu dia senang diajak bekerja sama untuk menawannya.

“Bagus! Bagus! Aku toh pernah mengatakan bahwa kita berdua pasti bisa melawannya. Tidak perlu kita risaukan bahwa dialah tokoh nomor satu bangsa Boanciu. Bukankah kita berdua telah memperoleh banyak kemajuan. Tidak perlu kita takut kepadanya!”

Namun kaisar Kong Hi menggelengkan kepalanya.

“Bukan begitu maksudku. Kita memang bekerja sama, tapi bukan berarti kita turun tangan bersama menghadapinya. Kau harus tahu bahwa aku adalah seorang raja, aku tidak dapat turun tangan sendiri. Go Pay mempunyai pengaruh yang besar dalam istana. Dia juga pemimpin dari para pengawal dan pasukan tentara. Di dalam istana banyak siwi yang menjadi orang kepercayaannya. Bila ia sampai memberontak, pasti sebagian besar berpihak kepadanya. Jangan kata kita berdua, bahkan permaisuri dan ibu suri pun akan terancam bahaya….”

Siau Po benar-benar tidak takut, dia malah menepuk dada.

“Kalau begitu, sebaiknya aku tunggu dia di luar istana. Secara tidak terduga-duga di mana dia tidak bersiap sedia, aku akan menyerangnya. Dengan sebatang golok, aku akan menikamnya. Syukur kalau aku berhasil, tapi kalau gagal, dia toh tidak akan tahu bahwa aku disuruh olehmu!”

“Dia sangat gagah perkasa. Sedangkan kau masih terlalu kecil. Mungkin kau bukan tandingannya. Lagipula di luar istana juga banyak pengawal. Mana mungkin kau bisa mendekatinya? Taruh kata, kau bisa membunuhnya, tapi kau sendiri juga akan mati dikeroyok para siwi,” kata Kong Hi panjang lebar. “Aku mempunyai jalan lain yang lebih baik….”

“Baik, apa itu?” Siau Po pun penasaran. “Sebentar dia akan datang melaporkan sesuatu. Sebeium itu aku akan menitahkan para thaykam kecil berkumpul di sini. Kau harus memperhatikan aku. Asal cawan teh di tanganku terlepas jatuh, langsung saja kau maju menotok jalan darahnya. Dalam waktu yang bersamaan, seluruh thaykam cilik akan menyerangnya sehingga dia kerepotan. Kalau kau gagal juga, terpaksa aku turun tangan membantumu!”

“Bagus-akalmu itu!” kata Siau Po. “Apakah kau mempunyai golok? Usaha ini harus berhasil. Kalau rencana kita sampai gagal, terpaksa aku harus membunuhnya!”

Kong Hi menganggukkan kepalanya. Dari kaos kakinya dia mengeluarkan dua bilah pisau belati. Yang satu diserahkannya kepada Siau Po, sedangkan yang lainnya dia simpan sendiri.

“Tenangkan hatimu,” kata Siau Po.

“Sekarang kau pergilah dan panggillah kedua belas thaykam cilik kemari!” perintah kaisar”Kong

Hi.

Siau Po menurut. Tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan para thaykam cilik itu.

Kedua belas thaykam cilik itu sudah berlatih ilmu gulat seiama beberapa bulan atas titah kaisar Kong Hi. Mereka memang tidak mengerti ilmu silat, tapi untuk menerjang, cengkeram kaki tangan, mereka sudah cukup pandai.

Raja segera berkata kepada mereka.

“Kalian sudah belajar beberapa bulan, entah sampai di mana kemajuan kalian? Sebentar akan datang seorang jago gulat kami, aku menyuruh dia menguji kalian. Nanti kalau cawanku jatuh ke atas lantai, kalian harus menyerangnya serentak. Gunakan segenap kepandaian kalian. Siapa yang berhasil mencekalnya erat-erat, akan kuberikan hadiah besar.”

Selesai berkata, kaisar Kong Hi menarik lacinya dan mengeluarkan setumpuk uang Goan Po senilai lima puluh tail masing-masing lembarannya, dia menunjuk ke arah tumpukan uang itu kemudian berkata dengan nada berwibawa.

“Siapa yang menang, masing-masing akan mendapat selembar Goan Po ini. Kalau kalian kalah, dua belas orang akan dipenggal batang lehernya. Orang yang malas dan tidak berguna, tidak perlu dibiarkan hidup terus!”

Kedua belas thaykam itu langsung menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata serentak.

“Budak sekalian akan bekerja dengan sepenuh hati bagi Sri Baginda!”

“Sebetulnya ini bukan tugas apa-apa. Aku hanya ingin menguji kepandaian dan ingin mengetahui apakah selama ini kalian belajar dengan rajin atau hanya bermalas-malasan. Nah, bangunlah!”

Menyaksikan gerak-gerik raja dan kata-katanya, hati Siau Po kagum sekali.

‘Kaisar memang cerdik sekali. Dengan demikian orang tidak akan curiga bahwa dia memang berniat menghancurkan Go Pay,’ pikirnya dalam hati.

Para thaykam itu memberi hormat kemudian bangkit kembali. Raja membalik lembaran bukunya dan membaca dengan suara kurang jelas. Siau Po memperhatikan dengan seksama. Raja itu tabah dan tenang, suaranya tidak gemetar. Sedangkan dia sendiri merasa kaki dan tangannya mulai berke-ringat dingin.

‘Ah, Siau Kui cu,’ katanya kepada diri sendiri. ‘Kalau dibandingkan dengan Siau Hian cu, hari ini kau kalah semuanya. Kau kalah tenang dan kalah gagah!’

Namun sesaat kemudian dia berpikir lagi. Siau Hian cu adalah seorang raja, pantas dia mempunyai sikap demikian. Umpama dia sendiri yang menjadi raja, dia juga yakin akan mempunyai ketenangan seperti Siau Hian cu.

Tidak lama kemudian, di luar kamar terdengar suara tindakan sepatu, disusul dengan suara seorang pengawal.

“Go siau-po datang mengadap Sri Baginda! Dia memujikan agar Sri Baginda dalam keadaan sehat wal’afiat dan berbahagia!”

“Go siau-po, masuklah!” sahut Raja memberi ijinnya.

Tirai disingkapkan dan Go Pay melangkah masuk. Dia memberi hormat dengan menekuk lututnya.

Kong Hi tertawa.

“Go siau-po, kebetulan sekali kau datang,” katanya. “Di sini ada dua belas orang thaykamku, semuanya belajar ilmu gulat. Mereka ingin aku memberi petunjuk kepada mereka. Sedangkan kau adalah orang kuat nomor satu bangsa Boanciu. Entah bagaimana pendapatmu?”

“Apabila Sri Baginda mempunyai kegembiraan untuk menyaksikan, tentu hamba bersedia melayani,” sahut Go Pay sambil memberi hormat sekali lagi.

Kong Hi tertawa.

“Siau Kui cu, kau perintahkan semua siwi di luar sini untuk beristirahat, tanpa ada titah dariku, mereka tidak boleh datang kemari!” katanya kepada Siau Po.

“Baik!” sahut Siau Po yang langsung keluar menjalankan titahnya.

Kembali raja tertawa lebar. Kemudian dia ber-kata lagi kepada Go Pay.

“Go siau-po, pernah kau menganjurkan kepadaku agar jangan banyak membaca buku-buku bangsa Han. Sekarang aku pikir nasehatmu memang tepat sekali. Sekarang kita pergi ke kamar tulisku saja dan bermain-main di sana. Dengan demikian tidak ada orang yang mengetahuinya. Apabila hal ini sampai diketahui oleh Thay hou (ibu suri) tentu aku akan dipaksanya membaca buku pula.”

Senang sekali hati Go Pay mendengar kata-kata sang Raja kecil ini.

“Betul, betul. Segala buku bacaan bangsa Han memang tidak ada manfaatnya!”

Raja tertawa. Sementara itu Siau Po sudah kembali. Dia melaporkan.

“Semua siwi sudah mengundurkan diri. Mereka menghanturkan terima kasih buat kebaikan Sri Baginda.”

“Bagus!” seru kaisar Kong Hi sambil tersenyum. “Nah, sekarang kita mulai bermain-main. Para thaykam cilik, kalian memencarkan diri dan menjadikan kelompok yang terdiri dari dua orang.”

Kedua belas thaykam itu segera mengiakan. Kemudian mereka mengatur diri masing-masing.

Go Pay tertawa menyaksikan gerak-gerik para thaykam cilik itu. Terang dia tidak memandang mata pada mereka. Dia yakin kepandaian mereka masih belum berarti. Tampak dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: