Kumpulan Cerita Silat

08/01/2008

Perguruan Sejati (06)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:51 pm

Perguruan Sejati (06)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

In Tiong Giok menjadi merah padam dan jengah menghadapi perempuan semacam ini, tak terasa lagi mundur-mundur. Kesempatan ini tidak dilewatkan Hoo Su Kouw begitu saja, dengan cepat kakinya terangkat melakukan sabetan. Geraknya ini cepat dan kejam, jangankan Tiong Giok yang tidak berpengalaman andaikata seorang jago Bulim yang berpengalamanpun sukar menghindarinya. Tak heran pemuda kita yang menduga mendapat serangan mendadak menjadi jungkir balik terkena dupakan Hoo Su Kouw.

Setelah serangannya berhasil, Hoo Su Kouw melanjutkan lagi serangannya dengan keras, Tiong Giok menggulingkan badan dan menyambut serangan musuh dengan ilmu In liong sian jiau (naga terbang menunjukkan cakar). Hoo Su Kouw mengubah serangan, dan disambut lawannya dengan ilmu Cee siu sing liong (lengan kosong menangkap naga). Tak terasa lagi lengannya kena tangkap, tak putus asa baginya. Kakinya terangkat kearah selangkangan musuhnya. Tiong Giok menjadi gusar, ia mengengos lalu melemparkan perempuan itu sejauh beberapa depa. Hoo Su Kouw benar-benar habis mengerti kenapa pemuda lemah ini memiliki kepandaian luar biasa. Sekali ini ia tidak memperedulikan dapat tidaknya buku keng thian cit su pedangnya dihunus dan niatnya membunuh sudah mantap. Terlihat ia menyabetkan senjatanya dengan ganas, Tiong Giok melihat kekalapan orang menjadi gusar. Sambil mengengos ia membarengi dengan Hiat cie lengnya yang ampuh. “Sret” terdengar suara memecah udara, angin keras yang panas tak ubahnya seperti halilintar menyambar kearah musuhnya. Hoo Su Kouw merasakan hawa panas menerjang dirinya, dengan memutarkan pedang berusaha membendung serangan musuh. Sungguhpun begitu masih juga baju dan rambutnya bagian sebelah kiri kena dihanguskan.

“Kongcu begini lihay, dapatkah kutahu nama gurumu?” katanya dengan wajah pucat.

“Penunggang Hiu dari Hong Lay pelajar miskin dari gunung salju!”

“Oh, kiranya Bulim Capsahkie yang tertua,” kata Hoo Su Kouw dengan melengak.

“Hitung-hitung aku bernasib sial, tidak bisa melihat orang.”

“Sifat dan kelakuanmu itu sebenarnya musti dihukum mati!” kata In Tiong Giok, “tapi aku tak mau membunuhmu, seangkan Hiat cie leng yang kulancarkan semata-mata untuk membela diri!” segera ia membalik badan dan berlalu.

“Jangan bergerak,” teriak Hoo Su Kouw.

“Apa lagi yang engkau kehendaki?”

“Ingin kutanya padamu, pantaskah seorang murid kenamaan didunia Bulim menyerahkan buku Keng thian cit su kepada Sian Ong? Hal ini sedikit banyak bisa-bisa merusak nama baik gurumu bukan?”

“Semua ini karena ditipu, apa salahnya?”

“Hm, ini engkau tulis sendiri bukan?” ejek Hoo Su Kouw, “bagaimana jika ilmu pedang Keng thian cit su digunakan sebagai alat kejahatan oleh Liok Sian Ong? Semua ini adalah tanggung jawabmu bukan?”

“Engkau…”

“Aku kenapa? semua ini kulihat dengan mata kepala sendiri dan akan kuutarkan didunia Bulim agar memberikan hukuman yang setimpal bagimu!”

“Hm, buku itu akan kurampas kembali!” kata In Tiong Giok.

“Dengan kepandaianmu ini ingin merampas kembali dari tangan Liok Sian Ong?”

“Ini urusanku, engkau tak perlu banyak bicara!”

“Ya memang urusanmu! Andaikan engkau berhasil mengambil kembali, berbagai orang Bulim pasti akan merampas dari tanganmu, apakah engkau sanggup melindunginya?” kata Hoo Su kouw dengan bersungguh-sungguh, “Engkau jangan menganggap omonganku tak berarti, lihat saja sejak hari ini, bahaya selalu mengancam dirimu. Kini engkau berhasil lolos dari tanganku, tapi belum tentu berhasil dari jago-jago lain!” Sehabis berkata ia berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok terkesiap mendengar perkataan Hoo Su Kouw itu, ia sadar didunia ini banyak manusia lebih kejam dan tamak dari Liok Jie Hui, jika mereka mengetahui dirinya bisa mengingat Keng thian cit su, sudah tentu takkan melepaskan begitu saja. Kepergian Hoo Su Kouw sudah pasti mendatangkan banyak kesulitan dibelakang hari, mengingat ini membuatnya menarik napas duka, seolah-olah ada batu besar menekan dadanya dengan berat. Setelah membengong sekian lamanya, baru ia melangkah dengan berat mencari jalan keluar dari tempat celaka itu.

Ia berjalan dan berjalan, tatkala surya senja kemerah-merahan menghiasi langit disebelah barat, ia telah tiba disuatu tempat bernama Ko ho pou. Suasana disini sangat ramai, kecuali took-toko besar banyak pula rumah makan dan penginapan. Untuk mengisi kekosongan perutnya ia mampir disebuah restoran yang bernama Tik sian lou. Seorang pelayan menyambut kedatangannya dengan ramah tamah. “Kongcu sendiri saja, atau mau pesan tempat untuk beramai-ramai?”

“Aku hanya sendirian saja!” jawab Tiong Giok.

“Silahkan saja keatas, dibawah sudah penuh!”

Ia naik keloteng, tempatnya agak sempit tapi tenang, terdapat beberapa meja dengan beberapa tamu. Antaranya ada dua orang tua berbaju abu-abu mengawasi dirinya. Ia tidak memperdulikan dan terus duduk. Tapi dengan tiba-tiba ia ingat seperti pernah bertemu muka dengansalah seorang kakek tua yang berbaju abu-abu itu. Maka itu ia menoleh untuk menegasi, bertepatan dengan ini orang tua itupun sedang mengawasi kearahnya. Membuatnya sukar membuang muka, dan terus mengangguk memberi hormat. Orang tua itu bukan saja tak membalas hormatnya, malahan membuang muka dan berbisik-bisik dengan kawannya. Tampak kawannya itupun berubah wajahnya, dan terus memanggil pelayan membayar rekening dan berlalu dengan cepat.

In Tiong Giok merasa heran, setelah mengingat-ingat sekian lamanya ia tetap tak dapat mengingat orang tua itu. Saat ini segala hidangan telah datang, ia tidak memperdulikan lagi yang lain dan terus makan dengan lahapnya. Belum pula perutnya kenyang, seorang pelayan datang kearahnya dan menyerahkan sepucuk surat.

“Apakah Kongcu she In?” tegur pelayan itu.

“Benar!”

“Ini surat untukmu!”

“Siapa yang memberi surat padamu?”

“Seorang tamu tak dikenal dengan memberi upah padaku menyuruh menyampaikan surat ini seorang tua bebaju abu-abu!”

“Tidak ia masih muda, paling banyak usianya tiga puluh tahun, dan mengenakan pakaian hijau! Lagi pula ia menyoren pedang kelihatan sebagai Piausu saja,” jawab sipelayan dan terus berlalu.

Tiong Giok membuka sampul surat, didalamnya hanya berisi sehelai kertas putih belaka. Ia menjadi heran dan hilang napsu makannya. Cepat-cepat ia membayar dan menanya kepada pelayan tadi:

“Disini ada hotel yang tenangkah?”

“Maksud Kongcu hotel yang baik bukan? Nah disebelah barat terdapat penginapan In hoo can katakanlah pelayan restoran Tik siang lou yang memperkenalkan, pasti dapat potongan, sepuluh persen!”

In Tiong Giok menghaturkan terima kasih dan memohon kepada pelayan itu, jika yang mengirim menanyakan dirinya, boleh menunjukkan kepenginapan In hoo can. Dengan langkah cepat ia turun dari loteng dan terus keluar ia berbalu tanpa menoleh kebelakang. Tapi setelah melewati beberapa took dan masuk kedalam sebuah gang, ia menghentikan langkah dengan cermat ia memandang kearah rumah makan tadi. Tak selang lama dari sebuah rumah obat yang berada disebelah restoran tadi keluar seorang muda berbaju hijau dengan tergesa-gesa. Iapun menyandang pedangnya dan persis seperti yang disebutkan pelayan tadi. Setelah memandang sekeliling pemuda itu masuk kerestoran Tik sian lou.

“Ah engkau datang tidak kebetulan, karena In Kongcu sudah pergi,” kata pelayan itu.

“Apakah suratku itu sudah diterimanya?”

“Oh sudah!”

“Ia mengatakan apa setelah melihat surat?”

“Ia memesan bila ada yang ingin menemuinya harap datang kehotel In hoo can!”

Laki-laki berbaju hijau itu mengangguk dan terus berlalu, tetapi ia tak menuju kebarat dimana terletak In hoo can, melainkan keutara. Dengan memberanikan diri Tiong Giok menguntit dari belakang.

Setelah melalui beberapa took dan gang, laki-laki berbaju hijau itu menuju kesebuah kelenteng tua yang berada diluar kota. Ia tak menoleh kekanan kiri, langsung masuk kedalam demikian juga dengan Tiong Giok terus membuntuti tanpa diketahui.

Di ruangan depan kelenteng tampak gelap tapi dibagian tengahnya ada sinar api, menerangi kamar. Tiong Giok yang berada ditempat gelap bisa melihat keadaan didalam yang terang itu, ia menjadi heran karena disatu ruangan terlihat tujuh orang tua berbaju abu-abu sedang duduk sila, pakaian mereka semua sama dan pedangnyapun serupa hanya digagangnya masing-masing ada ronce yang berbeda: terdiri dari warna merah, kuning, biru, putih, hitam, hijau dan ungu tujuh warna.

Dua di antaranya yang memakai ronce kuning dan ungu adalah yang bertemu dengan In Tiong gIok di rumah makan Tik sian lou. Saat ini laki-laki berbaju hijau telah selesai menuturkan soal memberi surat padanya.

Ketujuh orang tua berbaju abu-abu parasnya berubah berbareng.

Orang tua yang beronce putih dipedangnya membuka mulut paling dulu:

“Jikalau begitu apa yang dilihat cit sutee (adik ketujuh) tidak salah pemuda itu adalah yang dipakai Pok Thian Pang untuk menterjemahkan buku Keng thian cit su, tapi yang membuatku heran, pelajar lemah itu kenapa bisa lolos dari suatu tempat yang terjaga ketat dari jagonya pesilat-pesilat ternama.”

“Pok thian pang mungkin sengaja melepas pemuda itu sebagai umpan menumpas kita!” kata orang tua yang dipedangnya beronce biru.

“Bila ia dijadikan umjpan beracun, tujuannya bukan pada kita Tong teng cit kiam (tujuh pendekar pedang dari telaga Tong teng), juga pada golongan putih kaum Kang Ouw, atas ini kita harus berlaku waspada.”

Sipedang beronce putih mengangkat pundak, matanya menatap pada orang tua yang pedangnya beronce ungu; “Cit sutee bagaimana menurut hematmu?”

Sironce ungu ini adalah orang tua yang seperti di kenali Tiong Giok, begitu di tegur tampak ia berpikir dengan serius. “Dugaan Suheng memang benar, tapi pemuda itu adalah orang pertama yang telah membaca isi Keng thian cit su; atauini ia bersangkutan besar dengan Bulim ataupun Pok Thian Pang sendiri, suheng piker betulkah?”

Yang mendengar semua menganggukkan kepala tanda setuju.

“Jika begini kita tidak boleh berlaku sangsi-sangsi lagi!” kata sironce ungu.

“Maksud Cit sutee bagaimana?” tanya sironce putih.

“Biarpun ia merupakan umpan beracun kita harus menelannya juga!”

Perkataan ini agaknya di luar dugaan yang lain, mereka kaget dan terdiam, membuat keadaan hening sejenak.

Si ronce ungu sudah melanjutkan lagi ucapnya, “Keng thian cit su adalah ilmu pedang yang luar biasa, bilamana sampai dikuasai Pok Thian Pang sama dengan bahaya besar bagi kita dan golongan lain. Kini kita dapat kesempatan baik, biar matipun harus dilakoni!”

“Benar! Biarpun bagaimanapun jadinya,” kata laki-laki berbaju hijau. “Maka itu kuminta Supek-supek dan Susiok-susiok jangan berpikir terlalu lama, kita harus secepatnya membalas dendam sakit hati Yo Sutee dan Pang Hui!”

Mendengar nama Pang Hui, hati Tiong Giok menjadi kaget dan terus ia ingat bahwa orang tua yang dipedangnya beronce ungu yang bagai dikenalnya itu, tak lain orang yang pernah menyerang kereta waktu ia menuju kemarkas pusat Pok Thian Pang.

Karena kagetnya itu tempat yang dipijaknya menjadi goyang, dan kakinya segera bergerak pindah. Tiba-tiba “krak” entah apakah yang terinjaknya.

“Siapa?” bentak dari dalam kelenteng, sinar terangpun padam.

Tiong Giok berlari kearah pendupaan yang terdapat didepan kelenteng dan bersembunyi disitu. Tampak olehnya dengan berlompatan ketujuh orang tua dan laki-laki berbaju hijau keluar dari dalam kelenteng. Mereka memandang keadaan sekeliling dengan seksama.

“Mungkin orang-orang Pok Thian Pang sudah datang mencari kita,” kata sironce ungu.

“Jangan pedulikan untung rugi marikita berangkat ke In hoo can!” kata sironce putih.

Dalam sekejap mereka telah berlalu, hilang dalam kegelapan. Setelah menunggu mereka agak jauhan, In Tiong Giok baru keluar dari tempat persembunyian. Dan terus meninggalkan Ko ho pou malam itu juga. Baru pula ia jalan setengah malaman, sudah merasa letih. Ia beristirahat tatkala melihat sebuah batu besar ditepi jalan. Sambil duduk ia jadi berpikir.

“Haruskah aku pergi ke kiu hoa san mencari Liok Jie Hui? Jika kesana dan tidak menemuinya, sama dengan cuma-cuma saja perjalananku. Andaikata berhasil mendapatkan lagi Keng thian cit su dari Liok Jie Hui, buku itu akan merupakan barang rebutan yang tidak ada akhirnya. “Semua pikiran ini membuatnya pusing sendiri. Saat inilah dari kejauhan ia mendengar berderapnya langkah orang dan disusulnya dengan dua bayangan hitam. Seperti juga nak burung yang ketakutan ia bersembunyi dibalik batu.

Dua bayangan hitam itu datangnya teramat cepat, dalam sekejap telah tiba dekat batu dimana Tiong Giok sembunyi. Keduanya itu adalah orang tua berbaju seerba putih, satu jangkung satukatai, wajahnya pucat pasi. Melihat ini membuat Tiong Giok bergidik takut. Dan ia menahan napas sewaktu manusia aneh itu berhenti didekat batu dan celingukan kesana kemari seperti mencari sesuatu. Setelah melihat tak ada yang menimbulkan kecurigaan, merekapun segera berlalu lagi dengan cepatnya tanpa berkata barang sepatahpun.

In Tiong Giok menarik napas lega, baru bangun dari tempat sembunyinya, kembali ia mendengar menderunya angin, disusul dengan berkelebatnya tiga sosok bayangan. Semua mengenakan pakaian hitam yang gedombrongan usianya mereka rata-rata enam puluh tahun lebih. Wajahnya bengis dan jelas bukan manusia baik-baik.

Setibanya dibatu besar merekapun berhenti sejenak, memasang kuping.

“Ciu heng lebih baik kita mengambil jalan lain dan bakal apa membuntuti kedua orang lain!” kata seorang yang berada disebelah kiri.

“Jangan-jangan soal ini belum tentu kebenarannya,” jawab orang she Ciu. Pikir saja jika pelajar itu benar-benar berada dikota Ko hoo pou, mana mungkin sudah pergi sejauh ini. Sebaiknya kita kembali dan mencarinya didekat kota!”

“Kecurigaan Ciu heng memang betul jangan-jangan kita ditipu Hoo Su Kouw si erempuan jalang itu,” kata yang ditengah.

“Mana berani ia mempermainkan kita,” kata yang disebelah kanan.” Tambahan Tong teng cit kiampun melihatnya pelajar itu di dalam kota, maka itu Hoo Su Kouw pasti tidak membohong.”

“Jika tidak bohong, kemana larinya bocah itu, apakah ia bisa terbang?” kata si orang she Ciu.

“Andaikata ia bersayap tak mungkin lolos juga dari jala Thian lo te hong (jarring langit dan bumi) yang sudah disebar kemana-mana! Mari kita susul sijangkung dan si cebol jangan sampai keduluan!” kata yang disebelah kanan.

“Untung aku cepat-cepat bersembunyi, jika tidak bisa celaka,” piker Tiong Giok setelah mendengar percakapan mereka. Mengingat ini ia merasa benci dan menyesal tidak membereskan nyawanya perempuan jalang itu.

Setelah bersembunyi lagi beberapa saat, tak terlihat ada yang mengejar, ia baru bangun dari persembunyiannya, dan terus masuk kedalam pepohonan yang lebat. Begitu melewati pohon-pohon tibalah ia ditepi sebuah sungai. Dengan merasa tenang ia menyusuri gili-gili sungai.

Sebuah perahu tertambat ditepian sungai, diatasnya terlihat seorang nelayan tua sedang asiknya mengisap pipanya yang panjang. Hal ini membuat Tiong Giok girang, cepat-cepat ia menghampiri dan melompat kearah perahu “Lo tia! Lekaslah antarkan aku menyeberang, ongkosnya berapa saja akan kubayar!”

“Malam-malam begini engkau mau kemana?” tanya si orang tua.

“Kemana saja asal menyeberang!”

“Kongcu jangan salah, ini perahu ikan dan bukan perahu tambangan!”

“Ya aku minta tolong,” kata In Tiong Giok setengah memohon, sebab seang dikejar-kejar orang jahat. Asal bisa menyeberang aku bisa selamat.”

“Ikan-ikan mungkin sudah masuk dalam perangkap, jika dibiarkan sayang sekali, ah dasar nasib…” kata si orang tua setengah menggerutu. Dan ia tidak melanjutkan perkataannya sebab didaratan terlihat sesosok bayangan hitam yang menuju kearah perahunya.

Pendatang ini adalah Hoo Su Kouw adanya. Ia menanya kepada tukang perahu: “Ciau Loya apakah engkau melihat pelajar itu?”

“Tidak! Sesosok bayangan manusiapun tidak kulihat .”

“Ciau Loya engkau harus hati-hati, kuyakin ia ada disekitar sini,” kata Hoo Su Kouw yang terus berlalu lagi dengan cepat.

Perahu dengan cepat meluncur ketengah, Tiong Giok merasa lega, seolah-olah menganggap bahaya telah berlalu.

In Kongcu dengan cara bagaimana engkau harus menghaturkan terima kasih kepadaku?” tegur tukang perahu.

“Engkau…engkau siapa?”

“Aku Ciau Thian Siang seorang kecil yang mempunyai julukan Si cucut Perak. Dan pekerjaanku sebagai pengontrol perairan, dari gabungan dua puluh delapan bajak laut. Sejujurnya pekeerjaan ini kurang menarik perhatianku dan ingin melepaskan secepat-cepatnya, maka itu jika tidak demikian untuk apa malam ini aku menolongmu!”

“Jika begitu kau sebagai kambratnya Hoo Su Kouw juga?”

“Ya aku salah satu diantara konconya Hoo Su Kouw, seangkan yang lain banyak sekali. Untung engkau berada denganku, coba jika jatuh ditangan mereka, tak bisa enak-enakan mengonbrol seperti sekarang!”

“Ya aku harus bagaimana menghaturkan terima kasih padamu?” tanya Tiong Giok dengan terpaksa.

“Untuk apa Kongcu bertanya lagi, serahkan saja sejilid buku Keng thian cit su kepadaku sampai kemanapun akan kuantar!”

“Jika aku tak bersedia?”

“Aku sebagai penolongmu biar bagaimana kau harus melulusi,” kata orang tua itu.

“Terang-terang kutolak permintaanmu!”

“Benar-benar tidak mau?”

“Ya.”

“Sampai budi pertolonganku pada jiwamu, tidak dibalas?”

“Jika aku takut mati, siang-siang sudah membuatkan buku itu untuk Hoo Su Kouw! Segala pertolongan yang ingin mendapat balasan, tak dapat dinamakan dengan berhutang budi!”

Ciau Thian Siang tertegun sejenak, lalu tergelak-gelak dan berkata: “Kongcu sebagai orang pintar, bahwa buku itu berada ditangan Pok Thian Pang dan Liok Sian Ong, kini apa salahnya membuat kopy yang kedua untukku?”

“Sudah jangan banyak bicara, sekali kubilang tidak mau tetap tidak mau!”

“Hm, jika begitu engkau mencari penyakit sendiri!”

“Engkau tanyakan pada Hoo Su Kouw, apakah potongan semacamku ini mudah dihina?”

“Semua sudah aku tahu akan kelihayanmu, tapi diatas perahu ini engkau bisa apa?”

“Ya…engkau mau apa,…” belum pula ucapan Tiong Giok selesai, Ciau Thian Siang dengan mendadakan telah menterbalikkan itu perahunya. Mereka sama-sama terjatuh kedalam air. Sebagai seorang yang pandai berenang sedikit tidak memnuat Tiong Giok kaget.

Dengan tenang ia berenang kepinggir. Tiba-tiba saja Ciau Thian Siang memburu dari belakang. Tak cuma-cuma ia mempunyai gelar sebagai si cucut perak. Begitu gesit dan cepat geraknya dalam air. Ddalam sekejap ia sudah berada di belakang Tiong Giok dan menjulurkan tangan menciduk tengkuk pemuda kita.

Tiong Giok terkesiap sejenak, tetapi tidak tinggal diam. Lengannya berbalik begitu cepat mencekal lengan musuh, sedangkan lengannya yang kiri mendorong kedada musuh. Gerakannya yang tiba-tiba diluar perhitungan Ciau Thian Siang. Tak sempat untuknya mengengos dadanya terhajar keras, sakit sampai kehulu hati, terpaksa ia melepaskan Tiong Giok.

Begitu berpisah, masing-masing itu berlaku waspada. Ciau Thian Siang tak berpikir bahwa musuhnya itu pandai berenang, sehingga mengalami kerugian yang tidak kecil, kegusarannya tidak alang kepalang, seperti juga seekor ikan hiu yang terluka ia membalik badan lalu terus menyelam. Lengannya segera menyambar kaki pemuda kita, di cengkeram dengan keras-kerasnya sampai masuk kedalam bagian daging. Tiong Giok kesakitan dan berbalik mencekek leher musuhnya sekuat tenaga.

Air sungai amar deras, mereka bergumul dengan kerasnya, satu sama lain tidak mau melepaskan musuh, bergulingan terbawa arus air.

Beberapa tegukan air tertelan Tiong Giok tetap ia tak melepaskan musuhnya. Sedangkan Ciau Thian Siang lebih parah lagi, lehernya begitu keras, tak bisa bernapas. Matanya mendelik tak berkutik lagi. Mereka terus terhanyut tanpa sadarkan diri.

Akhirnya mereka terdampar disemak-semak, lengan Tiong Giok masih tetap mencekek Ciau Thian Siang. Entah sudah berapa lama pemuda kita baru sadar, dan mendapatkan bahwa musuhnya telah meninggal dunia. Dengan perut kembung dia merayap bangun dan lalu tengkurap disebuah batu, memuntahkan air kali dari perutnya, setelah itu ia mengaso sambil memandang mayat musuhnya. Seumur hidupnya pertama kali membunuh orang, ia merasa berbuat dosa dan sadar semua ini akibat Keng thian cit su.

Dengan perasaan menjejal ia menggali lubang ditepi sungai itu dan mengubur mayat Ciau Thian Siang secara sederhana. Lalu ia meninggalkan tempat itu dengan pikiran mantap kaena ia akan melakukan suatu hal yang besar, untuk menggegerkan dunia persilatan.

Kim Leng merupakan kota bersejarah dari abad ke abad. Letaknya dilingkungan pegunungan, tempat bersejarah dari kuil-kuil yang mengagungkan agama Buddha berdiri dengan megahnya dilereng-leeng gunung. Aliran sungai Hoay banyak menarik kaum sastrawan, dipuja-puji akan keagungannya. Sepanjang sungai banyak batu-batu cadas yang indah tempat para burung wallet bersarang, juga tempat yang biasa dikunjungi pelancong.

Disebelah barat sungai itu terdapat sebuah tempat yang bernama Bun Hoa Kau. Disini banyak terdapat tukang buku, dan juga perusahaan percetakkan. Yang berkunjung kesini kebanyakan adalah pelajar dan sastrawan serta kaum cerdik pandai.

Saat ini hari sudah senja, keadaan saat itu telah menjadi sepi dari para kaum pengunjung. Pegawai-pegawai perusahaan sudah beristirahat, took-tokopun hanya sebagian yang masih membuka pintu. Tiba-tiba dari mulut gang terlihat seorang muda berbaju biru, celingukan melihat merek toko-toko, ia berjalan dari ujung ke ujung lalu kembali lagi dan berhenti didepan sebuah percetakan yang bermerek Angin Menderu, percetakan ini terhitung paling besar disaat itu. Etalasenya penuh terhias lukisan antik, dan beraneka ragam buku-buku.

Didalam toko terlihat seorang lelaki hitam sedang asyiknya mengisap rokok sambil membaca buku. Begitu melihat pemuda berbaju biru masuk kedalam, ia melepaskan bukunya dan memandang pada tamunya sambil tersenyum manis. “Kongcu mau beli gambar atau buku-buku?” tegurnya sambil bangun dari tempat duduknya.

“Tidak, kedatanganku kesini mau mencetak buku!”

“Oh begitupun baik, buku apa yang mau dicetak?”

“Buku ini sangat penting dan kuminta bisa diselesaikan esok pagi!”

“Berapa halaman buku itu? Dan berapa oplasnya?”

“Hanya sepuluh halaman dan dicetak seribu jilid saja,” kata pemuda itu, “jika tidak keburu lima ratus saja.”

“Dalam semalam sulit menyelesaikan buku itu..,”

“Jadi tidak bisa?”

“Bisa sih bisa ongkosnya mahal sekali!”

Pemuda itu mengluarkan uang emas dan berkata sambil tersenyum: “Jangan kuatir, berapa saja kubayar, nah ini sebagai uang muka!”

“Kalau begini apa boleh buat, dan akan kucoba .”

Pemuda itu menjadi girang. “Dapatkah kutahu nama saudara?”

“Aku Yauw Kian Cee, dan siapa nama Kongcu?”

Pemuda itu tidak menyebutkan namanya, ia tersenyum dan berkata “Yauw Sacan (sebagai gelar pertukangan) sebelum engkau kerjakan perlu kujelaskan dulu sedikit, yakni disebabkan teramat pentingnya buku ini, sebaiknya engkau kerahkan lebih banyak tukang agar selesai pada waktunya. Disamping itu buku ini tidak boleh bocor sebelum terbit!”

“Adakah Kongcu membawa naskah buku itu?”

“Ya ada, tapi akan kuserahkan didalam saja!”

“Begitu juga baik,” kata Yauw Kian Cee dan terus menyimpan uang persekot, kedalam lacinya. Dan memerintahkan bawahannya menutup toko. Diajaknya Tiong Giok masuk ke dalam.

Di dalam percetakan itu terdapat sebuah taman bunga, dan satu ruangan yang nyaman. Dekorasinya indah dan menarik, agaknya sang penghuni mengenal betul seni-seni dekorasi.

Di kamar inilah sang pemuda menyerahkan naskahnya. Yauw Kian Cee begitu melihat naskah ini, wajahnya jadi berubah, cepat-cepat ia menutup lagi naskah itu.

“Kenapa Yauw Sacan tidak meneliti naskah ini?”

“Sejujurnya aku tak berapa mengenal huruf, membacapun tak ada artinya. Kuharap Kongcu meninggalkan alamat, besok boleh kukirim buku pesananmu kesana!”

“Tak usah,” kata sianak muda sambil menggelengkan kepala. “Aku ingin memandori sendiri waktu mencetak buku ini, dan membawanya begitu selesai!”

“Begitupun baik, duduk dululah sebentar, setelah kuatur beres segera kuberi tahu padamu.” Sehabis berkata ia membawa naskah masuk ke dalam.

Tak selang lama ia muncul lagi dengan seorang tua beruban. Melihat orang tua ini membuat si pemuda merasa takut tak keruan, karena seumur hidupnya pertama kali melihat orang yang berwajah demikian buruk.

“Kongcu, mari kukenalkan, inilah Pek Wangwee (hartawan) atau majikanku!” kata Yauw Kian Cee.

“Oh,” kata si pemuda dan segera merangkapkan tangannya memberi hormat. “Pek Wangwee harap maaf, kedatanganku hanya merepotkan saja!”

“Aku Pek Kiong Hong sebagai pedagang yang mengutamakan untung, maka itu Kongcu tak perlu berkata begitu!”

Wajah buruk dari Pek Kiong Hong dihias dengan sepasang mata yang satu besar satu kecil, sungguhpun demikian memancarkan sinar tajam. Melihat ini sang pemuda, merasakan berhadapan bukan dengan seorang saudagar biasa. Tambahan pula Yauw Kian Cee begitu hormat sekali, bukan seperti kuli biasa. Pek Kiong Hong membeber naskah yang akan dicetak diatas meja, dengan serius ia berkata. “Aku sebagai pengusaha, sebenarnya asal mendapat untung ya sudah, tak perlu bertanya ini itu pada Longcu. Tapi naskah ini menyebutkan, tulisan In Tiong Giok sebagai kenangan untuk Cian Thian Siang, dapatkah kutahu kedua orang itu mempunyai hubungan apa dengan Kongcu?”

“In Tiong Giok adalah aku sendiri, sedangkan Cian Thian Siang adalah salah seorang yang tidak bisa kulupakan selama hidupku ini!”

“Jika Kongcu sendiri yang menulis naskah ini, sudah tentu tahu isinya bukan?”

“Benar! Inilah naskah yang dianggap sebagai benda pusaka kaum Rimba Hijau!”

“Sudah tahu demikian kenapa Kongcu mau menerbitkannya dan mencetak sebanyak itu?”

“Untuk disebar luaskan, agar penggemar-penggemar silat memilikinya!”

“Tapi perbuatan ini kuanggap kurang wajar!”

“Memang begitu, tapi mau dikata apa, semua ini kulakukan dengan terpaksa!”

“Apa sebabnya engkau sampai terpaksa?”

“Pek Wangwee begitu melihat buku ini segera tahu kehebatannya, dari sini dapat kutarik kesimpulan, Wangwee bukan saudagar biasa, lagi pula tidak timbul keinginan memiliki buku ini. Semua ini membuatku kagum dan ingin tahu siapakah sebenarnya Wangwee ini!”

“Sejujurnya akupun bekas seorang Kang Ouw tapi sudah lama mengundurkan diri, dan hidup dengan membuka percetakan. Atas ini Kongcu tak usah ragu-ragu atau kuatir pada diriku. Dan juka engkau ingin tahu Yauw Kian Cee inipun bekas seorang Kang Ouw yang bergelar Tiat pie sian wan (kera sakti bertangan besi).”

In Tiong Giok setelah mendengar perkataan Pek Kiong Hong, segera menuturkan apa yang dialaminya sejak keluar rumah.

“Karena mendongkol dikejar-kejar mereka itulah, Kongcu mau mencetak buku ini?”

“Bukan! Sebab-sebabnya karena menyesal telah membuat sebuah kopy untuk Liok Jie Hui. Jika ilmu itu dipelajarinya, bisa mendatangkan bencana bagi dunia persilatan. Untuk menebus kesalahan itu, akan kusebar luaskan buku ini, agar setiap orang bisa mempelajarinya. Dengan begitu biar Pok Thian Pang atau Liok Jie Hui mahir menggunakan Keng thian cit su tidak akan berguna banyak lagi.”

“Kongcu seorang yang tidak mau mengangkangi pelajaran yang luar biasa ini, dan akan menyebar luaskan, tentu bisa menggoncangkan dunia Kang Ouw, atas tindakan Kongcu ini aku merasa kagum. “Dan terus ia menoleh kepada Yauw Kian Cee. “Kerjakan lekas seperti yang dipesan In Kongcu. Dan sekalian sediakan makanan.”

In Tiong Giok tidak menduga bahwa roman Pek Kiong Hong yang demikian buruk sangat ramah tamah dan senang membantu, tanpa terasa datang rasa simpatiknya.

Tak selang lama empat pembantu rumah tangga datang membawa hidangan semeja penuh, atas kebaikan tuan rumah Tiong Giok tidak menampik. Sambil makan mereka bercakap-cakap. “Aku sudah lama mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw, maka itu terhadap soal Pok Thian Pang hanya mengetahui sedikit sekali, tapi terhadap Liok Jie Hui yang termasuk diantara Bulim Capsahkie aku kenal sekali. Ia bertabiat licik dan jahat, maka itu jika sampai diketahuinya In Kongcu mencetak buku Keng thian cit su, pasti ia akan marah, dan berhati-hatilah terhadapnya.” Kata Pek Kiong Hong.

“Soal bagaimana ia akan mencelakakan diriku, sedikitpun tidak kukuatirkan, yang kutakut ilmu Keng thian cit su telah dikuasainya, sehingga golongan Bulim lainnya belum keburu mempelajarinya.”

“Hal ini tidak perlu dikhawatirkan, karena ilmu pedang ini luar biasa dlamnya, belum tentu ia bisa menyelami sampai keakar-akarnya!”

“Ya memang kutahu, jika bukan seorang berbakat dan cerdas sukar mempelajarinya seorang diri ilmu pedang ini.”

“Karenanya sejak kuingat belum pernah ada yang behasil menguasai ilmu seorang diri. Ada yang pandai menguasai Keng thian cit su, tapi berdua, yakni Sin kiam siang eng (sepasang pedang sakti).

“Dapatkah kutahu siapa Sin kiam siang eng itu?”

“Tiga puluh tahun yang lalu mereka adalah sepasang saudara angkat yang masih muda belia. Gagah ganteng ada pada mereka, ditambah dengan hatinya yang baik dan juga suka membantu orang. Dalam sepuluh tahun namanya telah tenar melebihi Bulim Capsahkie yang telah lebuh muncul didunia Kang Ouw. Untuk mereka ini, di dunia Bulim terkenal pameo yang berbunyi: tajam-tajamnya tusuk konde tak setajam jarum seaneh-anehnya Bulim Capsahkie, tidak segaib Sin kiam siang eng. Pameo ini mendatangkan ketidak puasan Lui sin Tong Cian Lie, maka ia mengundang seluruh Cap sah kie bertemu di gunung Busan, untuk bertempur dengan Sin kiam siang eng….” Pek Kiong Hong berhenti sejenak.

“Lalu bagaimana?” tanya Tiong Giok tidak sabaran.

“Pada waktu yang telah ditentukan Bulim Capsahkie hanya datang sebelas orang. Thay Kong Siansu dan Piau hiong kiam Liap In Eng tidak hadir. Sedangkan Sin kiam siang eng dengan gagah menerima undangan dan datang.

“Bulim Capsahkie sudah lama terkenal dan menjadi kebanggaan kaum Kang Ouw, kami sebagai golongan yang lebih muda ingin mengadakan hubungan dan kerukunan, guna kesejahteraan kaum Kang Ouw, maka itu datang kesini bukan niat untuk berkelahi dan meebutkan pepesan kosong,” kata Sin kiam siang eng. Tak kira Tong Cian Lie yang berangasan tak mau mendengar, ditambah dengan Kim Thay, Liang yauw, San koei menyokong untuk berkelahi. Melihat ini gurumu merasa tak enak hati dan menasehati mereka beberapa patah. Tak kira membuat Kim Thay menjadi gusar tak alang kepalang. Dan terjadilah perkelahian sengit antara gurumu dengan Kim Thay. Jarum Giam locit ciam Kim Thay tak dapat melukai gurumu sebaliknya ia terluka oleh Hiat cie leng…akibat ini Siang yauw menumplekkan kegusaran pada sin kiam siang eng perkelahian tak dapat dicegah lagi, tapi dalam waktu singkat Siang yauw menjadi pecundang. Sam Koei menyambung, dan terus bertarung, tapi dalam singkat merekapun harus menyerah. Liok Jie Hui juga turun gelanggang, hanya dalam waktu dua ratus jurus sudah dikalahkan. Tong Cian Lie baru sadar kelihayan lawan bukan kosong belaka. Agaknya sudah keterlanjuran baginya untuk turun tangan, perkelahian sekali ini hebat sekali… Sampai ilmu simpanan pel lek sin kum (lengan geledek) yang menjadi andalan Tong Cian Lie dikembangkan habis-habisan, tapi tetap hanya bisa bertahan lima ratus jurus!”

“Sin kiam siang eng lihay sekali!”

“Ya memang lihay! Tapi ilmu pedang mereka y ang bersatu padu itu, jika dimainkan seorang diri, tidak ada kekuatan!”

“Bagaimana kalau guruku atau Cian bin sin kay yang menghadapi mereka?”

“Kepandaian Cian bin sin kay tidak berjauh dengan Tong cian lie, mengenai gurumu yang pandai Hiat cie leng mungkin bisa bertahan seribu jurus lebih, dengan kesudahan dua-dua luka parah!”

“Oh…” Tiong Giok baru sadar. “Siapakah nama sebenarnya dari Sin kiam siang eng itu?”

“Satu bernama Ang Ek Fan satu lagi Thiat Giok Lin.”

“Kenapa nama mereka tidak terdengar lagi?”

“Ya mereka muncul dan tenar dalam waktu singkat, dan dalam waktu singkat berdua pula menghilang dari dunia Kang Ouw.”

“Mungkin ada sebab-sebabnya bukan?”

“Ya memang!” kata Pek Kiong Hong, tapi soal yang sebenarnya tiada yang tahu, hanya terdengar berita bahwa Thiat Giok Lin telah mati dan Ang Ek Fan menghilang! Sudah dua puluh tahun lebih mereka tak muncul lagi didunia Kang Ouw.”

“Pek Locianpwee kenalkah dengan seorang yang bernama Hauw Sian?”

“Hauw Sian? Darimanakah engkau mendengar nama ini?”

“Waktu di Pok Thian Pang melihat nama itu tertera dibuku Keng thian cit su yang berbahasa Sangsekerta,” kata Tiong Giok dan terus menceritakannya bagaimana ia menemui orang tua itu dipenjara tanah.

“Berapa usia orang tua itu, dan bagaimana potongan badannya dn raut wajahnya?”

“Usianya lima puluh tahun lebih, sedangkan wajahnya sukar dilukiskan karena sudah terlalu lama dikeram dalam penjara yang tak beersinar matahari. Tubuhnya sudah kurus sekali, hanya sinar matanya masih terlihat tajam.”

“Ah mengherankan sekali, apakah ia belum mati!” kata Pek Kiong Hong. “Tidak, bagaimanapun tak mungkin…”

“Tahukah Lo Cianpwee dengan Hauw Sian itu?”

“Jika tidak salah orang tua itu adalah salah seorang dari Sin kiam siang eng yang bernama Thiat Gok Lin!”

“Bukankah ia sudah mati …”

“Ya, benar, tapi Hauw Sian adalah nama samaran dari Thiat Gok Lin, lagi pula ia yang menulis Keng thian cit su,” baru perkataannya diucapkan sampai disini, didepan toko terdedngar suara ribut-ribut.

“Lo Yacu didepan banyak tamu yang mau beli gambar!” kata salah seorang pengawal sambil berlari-lari.

“Katakan sudah tutup dan besok lagi!”

“Sudah dikatakan tapi mereka tidak mau mengerti dan memaksa mau masuk!”

Pek Kiong Hong memanggil Yauw Kian Cee. “Coba engkau lihat siapa yang bikin ribut itu!”

Begitu Yauw Kian Cee keluar tak lama, terdengar suara ribut-ribut bentakan dan saling maki dengan keras sekali, disusul dengan keributan dari suara orang berkelahi.

In Tiong Giok bangun dari kursinya, tapi disuruh duduk lagi oleh tuan rumah. “Tak usah menghiraukan kejadian diluar, dengan adanya Yauw Kian Cee sudah cukup, mari minum araknya.”

Benar saja kira-kira lewat sepermakanan nasi, suara ribut-ribut sudah hilang dan pulih lagi ketenangan. Yauw Kian Ceepun sudah masuk lagi.

“Siapa mereka itu?” tanya Pek Kiong Hong.

“Hoo Su Kouw dan sekalian kambratnya.”

“Ah mereka selalu mengejar-ngejarkuo, kenapa bisa tahu aku ada disini?” kata Tiong Giok.

“Mereka mempunyai banyak kaki tangan, tak perlu engkau herankan!” kata Pek Kiong Hong dan terus berpaling kepada muridnya. “Bagaimana caranya engkau mengusir mereka?”

“Mula-mula dengan kata-kata, tapi tidak mempan, akhirnya dengan kepalan tangan baru beres!”

“Manusia-manusia kurcaci itu sangat tamak dan jahat, kini kena batunya! Tapi setelah kejadian ini jangan heran kita bisa berusaha lagi disini dengan tenang…!

“Gara-gara boanpwee kesini mendatangkan keributan, bagaimana kalau kucetak ditempat lain …?”

“Apakah engkau menganggap kami tak sanggup lagi melayani kurcaci-kurcaci itu? Atau menganggap aku kelewat sayang dengan perusahaan ini?”

“Oh tidak!”

“Aku sebagai orang kasar yang bicara dengan blak-blakan, bisa sudah sepuluh tahun meninggalkan dunia Kang Ouw tapi tak takut menghadapi apapun lebih-lebih pertemuan kita seperti berjodoh, jikalau engkau ini mau boleh kita berkawan, jika tidak mau kukembalikan naskah itu dan engkau boleh pergi mencetak dimana saja.”

“Boanpwee tidak bermaksud demikian …”

“Jika begitu baik sekali, sebagai orang Kang Ouw aku paling senang akan kepolosan dan cara secara terang-terangan! Engkau begini baik dan mau menyebarkan buku yang dianggap pusaka Bulim ini kepada mereka. Masak aku harus sayang dengan segala perusahaan ini!” kata Pek Kiong Hong dengan suara hatinya. “Yauw Kian Cee kuharap buku itu dapat diselesaikan sebelum terang tanah, dan selalu waspada dengan kurcaci-kurcaci itu agar kesenanganku mengobrol tidak terganggu.”

“Lo Yacu tenang saja, segala apa serahkan padaku!” jawab Yauw Kian Cee. Dan terus berlalu sambil membuang senyum kearah tamunya.

“Mari minum lagi,” kata Pek Kiong Hong, “sudah sampai dimana pembicaraan kita? Oh, soal meninggalnya Thiat Gok Lin diberitakan dari keluarga sendiri waktu hari pemakaman jenazah, berbagai golongan jago-jago Rimba Hikau turut menyaksikan. Kini timbul orang bernama Hauw Sian yang terkurung ditempat Pok Thian Pang benar-benar mengherankan! Jika mengingat waktunya ia ditahan dan meninggal, membuat hati curiga, karena bersamaan betul. Mungkinkah dibalik ini terdapat sesuatu rahasia?”

“Jika Thiat Gok Lin sudah meninggal, kenapa buku Keng thian cit su bisa berada di tangan Pok Thian Pang?”

“Engkau menyaksikan kematian Thiat Gok Lin?”

“Benar!” jawab Tiong Giok. “Kuyakin Thiat Gok Lin belum meninggal, tapi kena ditangkap oleh Pok Thian Pang dan dirampas bukunya. Sedangkan kabar kematiannya itu sengaja disebar luaskan untuk menutupi kejahatan kaum Pok Thian Pang.

“Kemungkinan ini kecil sekali, sebab yang memberitahukan kematiannya bukan dari Pok Thian Pang, tapi darai Lin Siok Bwee isterinya Thiat Gok Lin sendiri. Isterinya itu seorang cermat dan lihay ilmu silatnya, sehingga mendapat julukan pendekar jelita. Tak mungkin ia terpedaya orang-orang jahat.”

“Jika begitu ingin aku pergi ketempatnya Thiat Gok Lin untuk bertemu dengan isterinya, setelah urusan disini selesai,” kata In Tiong Giok.

“Tindakanmu cukup bijaksana, tapi tak mudah bisa menemuinya,” kata Pek Kiong Hong.

“Soalnya kenapa?”

“Lim Siok Bwee bertabiat keras,” kata Pek Kiong Hong, “sejak kematian suaminya ia menutup pintu rapat-rapat, tidak mau menerima tamu darimanapun, maka itu kupikir sulit untuk menemuinya.”

“Kedatanganku kesana membawa berita soal suaminya, mungkinkah tidak diterima?”

“Kematian Thiat Gok Lin sudah belasan tahun, sedangkan engkau seorang anak brusia muda begini, dan datang menerangkan bahwa dia belum mati, siapa yang mau percaya?”

“Jika aku mengatakan diutus Pek Locianpwee untuk menemuinya, bisakah diterimanya?”

“Ha ha ha, aku sudah lama mengundurkan diri, mungkin namaku yang tidak seberapa tenar sudah dilupakan orang!” kata Pek Kiong Hong. Tiba-tiba ia mengeluarkan batu kumala ungu dari sakunya. “Engkau dapat berpikir kesitu, melandaskan antara engkau dan aku benar-benar berjodoh. Kumala ini tak akan berpisah denganku. Dengan benda inilah satu-satunya jalan yang memungkinkan engkau bertemu dengan Lim Siok Bwee! Tapi jika sampai pendekar wanita itu menanyakan hubunganmu denganku, engkau harus mengaku sebagai ahli warisku, bila tidak, bisa membuatnya curiga.”

“Bagaimana…aku belum masuk perguruanmu..mana boleh mengaku sebagai ahli warismu…”

“Engkau benar-benar seorang berakhlak luhur dan berbudi baik.” kata Pek Kiong Hong. “Maksudku buat demikian semata-mata menudahkan engkau bertemunya. Tapi disebabkan watakmu yang polos, timbul niatku agar engkau benar-benar menjadi ahli warisku bagaimana?”

“Tapi…nama dari pintu perguruan Lo Cianpwee belum kuketahui, bagaimana harus kujawab?”

“Engkau lihat saja batu kumala ini,” kata Pek Kiong Hong.

In Tiong Giok menerima batu itu, dan memeriksa dengan teliti. Disitu terlihat ukiran seekor naga terbang diawan, dibawahnya tertera beberapa huruf yang berbunyi, Pusaka dari perguruan Thian Liong Bun (pintu naga langit) Atau dapat disebutkan kumala itu sebagai tanda seorang Ciang bun jin perguruan Thian Liong bun.

“Benda pusaka ini tak ternilai harganya denga harta, maka itu…”

“Kenapa? Tidak mau menerimanya?”

“Benda ini sebagai tanda Ciang bun jin daari Thian Liong pay bukan?”

“Ya benar, karena sampai saat ini belum ada ahli warisku untuk menggantikan kedudukanku sebagai Ciang bun jin. Jika engkau tak keberatan jabatan Ciang bun jin ini boleh engkau pegang dari saat ini juga!”

“Antara kita baru pertama kali bertemu, lagi pula aku sudah mempunyai seorang guru…”

“Masing-masing perguruan mempunyai peraturan yang berbeda,” kata Pek Kiong Hong, “untuk Thian Liong bun tak perduli siapa, asal orang itu berakhlak luhur dan berbudi tinggi, sudah cukup untuk diterima! Bahkan dapat diangkat menjadi Ciang bun jin perguruan Thian Liong bun. Maka itu jangan engkau berpikir dengan menerima benda ini menyuruhmu melupakan yang semula.”

In Tiong Giok masih ragu-ragu dan tidak bisa menerima.

“Perlu kujelaskan lagi, Thian Liong bun merupakan perguruan yang dimalui dunia Kang Ouw, tapi tidak mempunyai seorang ahli waris yang benar-benar bisa dijadikan pemimpin maka itu selama sepuluh tahun aku mengasingkan diri dari dunia persilatan. Jika hal ini terjadi dengan perguruan lain, mungkin sudah beku dan mati! Misalkan engkau keberatan menjadi Ciang bun jin, boleh engkau simpan batu kumala ini dan boleh engkau berikan kepada seseorang yang dapat dianggap pantas menjadi seorang Ciang bun jin!”

“Kini kuterima untuk sementara waktu batu kumala ini, setelah kembali dari rumah Lim Siok Bwee akan kukembalikan lagi pada Lo Cianpwee!” kata In Tiong Giok dan terus memasukkan kumala itu kedlam sakunya. Kelakukannya membuat orang tua itu menjadi terpekur dan meminum araknya berulang-ulang. Untuk mengalihkan soal ini Tiong Giok bertanya: “Lo Cianpwee sebagai seorang Ciang bun jin, kenapa hendak mengundurkan diri?”

Pek Kiong Hong tampak kaget sekali mendengar pertanyaan ini, tapi sekejap perubahan wajahnya kembali tenang. “Apa yang harus kurindukan alam yang fana ini? Lebih-lebih kini sudah tua dan bosan melihatnya!”

“Tapi tiga puluh tahun yang lalu bukankah masih muda?”

“Badan masih muda, tapi pikiran sudah tua!”

“Pikiran itu berubah menurut irama rasa, mungkinkah perasaan Lo Cianpwee terganggu,” kata Tiong Giok sok tahu.

“Kenapa engkaubisa menduga kearah itu?”

“Semua ini hanya dugaanku yang terlalu gegabah,” kata Tiong Giok. “Soalnya seorang Ciang bun jin yang berhati jantan, tak wajar menyerahkan jabatan begitu saja pada seseorang. Dari sini kutarik kesimpulan bahwa Lo Cianpwee terganggu perasaannya…”

Pek Kiong Hong mengawasi dengan sepasang matanya yang ganjil, diparasnya yang buruk terlihat senyuman haru. Matanyapun dari terang menjadi guram dan berkaca-kaca.

“Tak kukira apa yang terbenam dihatiku selama tiga puluh tahun dapat engkau terka dengan kitu. Sesungguhnya inilah yang mengakibatkan aku begini dan maukah engkau mendengar ceritaku?” Ia terdiam sejenak, sedangkan Tiong Giok menganggukkan kepala.

“Sejak kecil aku talah yatim piatu, ditambah tampang yang buruk, sehingga hilang harapan dalam soal “asmara”. Aku hanya berpikir kalau bisa mendapat seorang dusun sebagai istri, sudah mujur banget! Siapa tahu kehidupan seseorang bisa berubah. Boleh-boleh aku mendapatkan berkah dan bisa memiliki ilmu silat yang tinggi. Dan dapat menempatkan diri sebagai seorang terkemuka di dunia Kang Ouw. Akibat ini membuatku sombong dan angkuh. Segala perempuan-perempuan biasa kupandang sebelah mata. Dan syarat-syarat mencari istri bagiku semakin tinggi, dan lupa pada keburukan diri sendiri. Permintaanku semakin tinggi semakin sukar mendapat istri.

Tapi kehidupan memang aneh, karena type seorang istri yang kuidam-idamkan kutemukan secara kebetulan. Itu terjadi pada suatu malam waktu aku berjalan-jalan ditelaga So Ouw. Di sana terdapat sebuah bangunan yang indah dn bertingkat. Saat itu diloteng masih terang benderang, kulihat seorang gadis sedang terpekur di depan jendela. Aku bukan seorang yang ceriwis, waktu melihat kecantikan gadis itu, seolah-olah terpukau. Dan terus memandangnya tanpa berkedip-kedip. Sampai pelita-pelita dimatikan dan gadis itu menutup jendela aku baru berlalu. Malam kedua, seperti ada kekuatan gaib menyeretku ketempat semalam. Dan terus menongkrong mengagumi gadis itu seperti malam pertama. Malam ketiga kudatangi lagi dan terus menatapnya seperti malam-malam yang lalu begini sja membuatku asyik. Tiga hari ini membuatku gila tak keruan, siang kutidur malam kugadangi gadis itu. Dan kurasakan bukan saja cantik, tapi sangat agung dan menyamankan hati. Sedikitpun tidak terasa letih atau lapar asal melihat gadis itu. Tiba-tiba pada malam keempat, seperti biasa kunongkrong dari bawah seperti seekor kodok merindukan bulan. Entah bagaimana malam itu sinar lampu belum juga padam, akupun terus berdiri disitu dengan tak jemunya. Aku heran karena lain malam-malam yang lalu, tapi tak bisa berpikir lama, karena seorang pelayan perempuan menegurku:

“Pek Tayhiap, nonaku mengundang masuk! Kata nona engkau telah tiga malam berdiri di sini, maka mengundangnya kedalam!”

“Kenapa engkau tahu tiga malam aku disini, dan kenapa tahu aku she Pek?”

“Itu soal nonaku, bicaralah dengannya!”

Aku masuk kedalam dn dipersilahkan naik keloteng, disana lampu terang benderang, dimeja tersedia hidangan dan minuman, dengan kaget aku mendapat jamuan mendadak! Setelah mengobrol sejenak, kutahu bukan saja ia berwajah cantik, juga terkenal didunia Kang Ouw sebagai pendekar wanita yang mulia….

“Siapa namanya?” selak In Tiong Giok.

“Namanya tak perlu kusebutkan, pokoknya engkau asal tahu saja bahwa ia seorang pendekar, tok.”

“Sejak malam itu kami berkawan, semakin hari semakin intim, benih-benih cintapun sedalam. Ia pun tak sungkan menerima ajakanku yang pertama memain perahu di telaga dan jalan-jalan mencari angin. Kesan ini seumur hidupku tak bisa dilupakan, begitu manis dan romantis. Seumur hidupku hanya sekali itulah merasa bahagia….Akan tetapi jalan-jalan berdua dan main-main ditelaga itu adalah yang pertama dan terakhir pula, sejak itu kami berpisah dan tak pernah bertemu muka lagi…”

“Kenapa?”

“Tak usah heran, seorang lelaki terjelek di dunia berjalan-jalan dengan seorang gadis tercantik, dimuka umum. Mendapat tertawaan dan jadi tontonan…”

“Ya, memang dunia ini kejam, dan selalu mendatangkan duka!”

“Tapi ini kesalahan aku sendiri, kenapa aku tidak tahu diri mau menyintai seorang cantik dengan paras yang buruk!”

“Baik buruknya seseorang bukan dari wajah yang jadi ukuran!”

“Benar, tetapi wajahlah yang dilihat!”

“Kuyakin pendekar wanita itu tak berpikir begitu bukan?”

“Benar demikian! Bahkan jika kulamar pasti diterima, tetapi apa yang bisa aku berikan padanya? Seorang yang buruk? Buah tertawaan manusia jahil! Cintaku kepadanya segenap hati, tapi bisakah membawanya bahagia dengan tampang seburuk ini? Maka itu setelah kupikir matang-matang, membuatku tahu diri, dan diam-diam mengasingkan diri. Dengan begitu aku harap ia bisa mencari lelaki lain yang lebih ganteng dariku, tapi apa yang aku perbuat ini hanya mendatangkan penyesalan dan kecewa tentu!”

“Mungkinkah sampai sekarang ia tidak bersuamikan?”

“Tidak saja tak bersuami bahkan masih tetap mencariku kemana-mana!”

“Lalu apa yang membuatmu tak mau?”

“Kau piker pantaskah aku menjadi suaminya?”

“Kenapa tidak!”

“Hmm, lebih-lebih sekarang parasku sudah keriputan dan semakin buruk…”

“Ia pun sudah tua dan tak secantik dulu lagi ”

“Ia awet muda dan semakin cantik,” kata Pek Kiong Hong.

“Apakah Lo Cianpwee sudah melihat lagi?”

Pek Kiong Hong menjadi merah, kepalanya mengangguk. “Tiga tahun yang lalu aku melihatnya dikota, tapi ia sendiri tak melihatku!”

“Cinta itu tak memandang bulu, buruk jelek tua muda tidak menjamin ukuran. Kini ia menanggung rindu puluhan tahun, tidakkah Lo Cianpwee merasa kasihan terhadapnya maupun pada diri sendiri? Kukatakan demikian karena Cianpwee masih tetap mencintainya bukan? Untuk apa menanggung rindu seumur hidup kepada kekasih yang mencintai jua! Jika Lo Cianpwee bertepuk sebelah tangan atau cinta tak sampai boleh berlaku demikian, tapi ini soalnya saling mencintai. Dan dirusak sendiri oleh perasaan Cianpwee, ini bukan saja berdosa padanya juga pada diri sendiri.”

Pek Kiong Hong jadi bungkam mendapat nasehat seorang muda belia! Mungkin dalam soal asmara, tidak perduli orang tua, akan menjadi bodoh dan tak mali meminta saran pada yang mudaan! Ya dalam soal asmara ini adalah wajar!

“Sebenarnya perkataanku ini terlalu kurang ajar, tapi untuk cinta murni yang diabaikan begitu saja terpaksa kuciptakan juga. Dengan harapan perasaan jahanam itu hilang dan timbul perasaan yang adil! Kurasa sampai kini belum terlambat, untuk menjalin lagi jodoh yang terkatung-katung.

“Kau bicara terlalu jauh,” kata Pek Kiong Hong.

Pembicaraan mereka baru sampai disini Yauw Kian Cee sudah datang bersama seorang tua gemuk keduanya membawa tumpukan buku yang selesai dicetak. Kami telah mengerjakan sekuat tenaga, tapi hanya berhasil mencetak lima ratus lima puluh buku!” kata Yauw Kian Cee sambil tersenyum. Nah cobalah In Kongcu periksa!”

In Tiong Giok menoleh kearah jendela, baru merasa bahwa hari sudah remang-remang menjelang fajar. Cepat ia memeriksa buku-buku itu, dan menghaturkan terima kasih berulang-ulang.

“Apa yang engkau akan kerjakan dengan buku-buku itu?” tanya Pek Kiong Hong.

“Sebelum terang tanah, Boanpwee akan menyebarkan dua ratus lima puluh buku ini ditempat yang ramai, agar setiap yang menghendakinya mudah mendapatkannya, sisanya akan kutitip di penginapan-penginapan agar orang jauhpun bisa memperolehnya. Dengan demikian dalam waktu singkat buku ini bisa tersebar habis.”

“Apakah engkau benar-benar sudah mengambil keputusan demikian?”

“Ya, dengan cara itulah Boanpwee bisa menghilangkan monopoli Keng thian cit su dati tangan Pok Thian Pang dan Liok Jie Hui.”

“Jika begitu kuminta kau meninggalkan seratus buku disini, ” kata Pek Kiong Hong, akan kuberikan sendiri pada jago-jago bilim, atau mengecernya didepan, dengan begini perusahaanku akan mendapat kemajuan yang tidak sedikit!”

“Kuharap Lo Cianpwee berlaku waspada, jangan sampai buku ini mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan” kata In Tiong Giok sambil memberikan seratus buku.

“Hal ini tak perlu kita kuatirkan” kata Pek Kiong Hong, dan kudoakan agar kau bisa sampai dirumah Lim Siok Bwee secepatnya tanpa kurang suatu apa.”

“Boanpwee berdoa agar Lo Cianpwee bisa melanjutkan jodoh yang terkatung-katung secepat-cepatnya!”

Pek Kiong Hong terbahak-bahak, lalu mengantar pemuda kita keluar rumah, sampai Tiong Giok pergi jauh dan tidak terlihat lagi, ia baru masuk kedalam sambil berkemak-kemik. “Ia seorang pemuda yang dikaruniai keberanian dan kepintaran yang luar biasa, susah mencari orang semacam dia. Ia menoleh pada Yauw Kian Cee dan memesannya. Sejak hari ini perusahaan kita akan tutup untuk selamanya, maka kumpulkan para pegawai dan berikan mereka pesangon secukup-cukupnya.

“Apa? Lo Yacu San terjun lagi ke dunia Kang Ouw?”

“Keadaan dunia Kang Ouw seadng mengalami perubahan, siapa yang bisa tenang mengsingkan diri untuk melewati hari…”

Benar saja kejadian yang menggemparkan dalam waktu singkat telah terjadi. Buku pusaka yang bernama Keng thian cit su, dalam waktu sehari telah tersebar luas dikota Kim leng. Buku yang menjadiu rebutan dengan pertaruhan nyawa, kini dapat diperoleh dengan mudah. Mulut kemulut peristiwa ini diceritakan orang, dalam waktu tiga hari seisi kota menjadi geger! Bahkan jago-jago Bulim dari bebagai aliran, berduyun-duyun datang ke kota Kim leng untuk memperoleh buku pusaka itu. Nama In Tiong Giok dan Keng thian cit su menjadi buah bibir seluruh penduduk kota. Tambahan pula dengan terbitnya buku itu, In Tiong Giok tak terlihat lagi mata hidungnya, dan membuat orang menerka, siapa dia! Ada yang mengatakan bahwa ia orang India! Pelarian Pok Thian Pang, atau juga Ciu Thian Siang sendiri, dan ada juga yang menduga, sebagai ahli waris Sin kiam siang eng….banyak mulut banyak pembicaraan tapi semuanya merasa kagum dan memuja-mujanya.

XXXXX

In Tiong Giok….In Tiong Giok….dimana-mana terdengar nama ini diperbincangkan orang. Sedangkan ia sendiri diluar tahu siapapun telah berperahu menuju ke barat.

Perahu yang disewa sangat besar, dan setiap harinya ia mengunci pintu kamar seorang diri. Disini ia melatih ilmu Keng thian cit su dengan tekun. Tukang perahu merasa heran, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya memanggilnya diwaktu makan saja, seperti yang dipesan penyewanya itu.

Beberapa hari telah berlalu, perjalanan mereka hampir sampai dikota Keng an. Tukang perahu mengetuk pintu kamar sambil berteriak keras-keras. “Kongcu apakah engkau mau makan sekarang atau sesudah berlabuh dikota Keng an?”

In Tiong Giok keluar dari kamarnya dengan berkeringat, ia memandang kepantai, sejenak. “Kupikir jangan berlabuh ditempat ramai bagaimana?”

“Terserah pada Kongcu, aku menurut saja,” kata tukang perahu. Dan terus menuju kesebuah dusun kecil diseberang Keng an. Disini terdapat perkampungan nelayan. Mereka berlabuh disitu. Tukang perahu dengan dua pembantunya turun kedarat untuk membeli perbekalan.

“Isterinya tukang perahu menyediakan Tiong Giok makan. Tak selang lama yang mendarat telah kembali lagi dengan barang bawaannya. Terlihat mereka tergesa-gesa dan gugup.

“Kongcu celaka!” kata tukang perahu dengan wajah pucat. Kita tidak bisa melewati pelabuhan Keng an! Karena dalam beberapa hari ini, menurut kaum nelayan disitu berkumpul orang-orang Kang Ouw dari berbagai tempat, mereka memaksa semua perahu menuju ke Kim leng, yang tidak mau, perahunya dirampas, dan orangnya dibunuh.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: