Kumpulan Cerita Silat

08/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (04)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:42 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (04)
Oleh Gu Long

Mestinya ia hendak bilang “aku ini utusan raja”, tapi ia tidak tahu istilah apa yang harus digunakan sehingga membuat orang lain yang mendengarkan merasa tidak sabar.

Pada saat itulah mendadak terdengar ribut-ribut di luar, tiba-tiba seorang berambut pirang dan berjubah putih menerobos masuk, orang ini pun berdandan sebagai bangsa Persi, gerak-geriknya juga sangat aneh. Begitu melompat masuk segera ia berteriak, “Aku Cirus, utusan Syah kami, memangnya kamu ini barang apa?”

Cara bicara orang ini pun kaku, namun dia fasih mengucapkan istilah “utusan”.

Cirus kelihatan kaget, tanyanya, “Ka … kamu datang dari mana?”

“Aku datang kemari atas suruhan raja Persi, kubawa hadiah,” jawab Cirus kedua, sekali ia tepuk tangan, segera empat orang berambut pirang dan berbaju putih muncul dengan menggotong dua buah peti besar.

Cirus pertama bercuat-cuit macam-macam bahasa Persi. Tapi Cirus kedua malah berkata, “Di tempat bangsa Han sini tidak boleh bicara bahasa yang tidak dipahami orang.”

Cirus pertama tampak gelisah dan mengentak kaki, ucapnya tergegap, “Aku … aku yang membawa hadiah ini, aku … aku utus, kamu bukan ….”

“Aku makan nasi, kamu makan najis,” tukas Cirus kedua.

Karena ribut mulut kedua orang ini, orang lain sama tertawa terpingkal-pingkal, tapi juga sama kejut dan heran, mengapa utusan kerajaan Persi bisa muncul dua orang yang berebut tulen dan palsu.

Segera Ling-ji berteriak, “Houya kami merasa kepala pusing karena keributan kalian. Jika kalian mau bertengkar, silakan minggir sana, kalau sudah jelas baru maju lagi.”

“Betul,” kata Cirus kedua, segera ia tarik rekannya ke samping, di situ kedua orang ribut lagi tanpa berhenti. Cirus pertama berulang mengentak kaki, mendadak iga terasa kesemutan, kontan kaku tak bisa berkutik.

Cirus kedua tergelak, “Hah, bagus, kamu sudah mengaku salah dan tidak ribut lagi, silakan duduk mengaso dulu.”

Sekali dorong, tanpa kuasa Cirus pertama jatuh terduduk di pojok sana dengan mata melotot tanpa bisa bersuara.

“Ah, ringkik kuda dan kicau burung sungguh berisik, coba ganti seorang yang bicara cara manusia saja,” kata Ci-ih-hou tak sabar.

Dengan kaku Bok-long-kun berdiri dan melangkah maju dengan membawa bungkusan besar, katanya, “Hari ini banyak tamu yang datang dari negeri Wan, Persi, Kochin dan negeri lain, semua ini menandakan nama Houya sungguh tersebar luas dan dikagumi bangsa asing sekalipun. Meski kado yang kubawa tidak dapat dibandingkan hadiah tamu dari negeri asing, namun kuharap akan diterima Houya dengan senang hati.”

“Haha, rasanya cara bicaramu bernada manusia,” seru Ling-ji dengan tertawa. “Nah, apa permintaanmu, katakan saja.”

Bok-long-kun membuka bungkusannya, seketika cahaya kemilau menyilaukan mata semua orang sehingga Bok-long-kun sendiri yang kaku serupa patung juga mengilat.

Po-ji benci padanya, ia mencibir ke arah orang. Dengan sendirinya perbuatan Po-ji tidak diketahui Bok-long-kun.

“Caihe Bok-long-kun adanya,” demikian ucap si patung, “datang dari Jing-bok-kiong sebelah timur, ayahku Bok-ong ….”

“Tidak perlu kau baca silsilah keturunanmu, asal-usulmu sudah kuketahui,” ucap Ci-ih-hou perlahan.

“Begini,” tutur Bok-long-kun, “belum lama ini ayahku dilukai oleh perempuan siluman dari Pek-cui-kiong, sekujur badan membusuk, tenaga sakti hampir buyar, di kolong langit ini hanya Tai-hong-ko (salep angin besar) simpanan Houya yang dapat menyembuhkan penyakit ayahku. Sebab itulah dari jauh kudatang kemari dengan membawa harta pusaka istana kami sekadar mohon Houya suka memberi obat mustajab itu.”

Ci-ih-hou tertawa kemalasan, katanya, “Pemilik Jing-bok-kiong pernah merajai dunia persilatan, harta benda yang kau bawa ini kukira bukan kau bawa dari rumah.”

Bok-long-kun menjawab, “Apa pun juga ini kan juga tanda kesungguhan hatiku.”

Air mukanya tidak berubah, sebab wajahnya kaku serupa kayu, biarpun merah mukanya juga tidak kentara.

“Beralasan juga ucapanmu,” ucap Ci-ih-hou perlahan. “Apa lagi urusan ini juga tidak sulit ….”

“Tidak, tidak bisa, sulit ….” mendadak seorang berteriak sambil melompat tiba serupa loncatan kelinci atau kijang. Kiranya Cirus kedua yang mengaku sebagai utusan syah Persi.

Dengan gusarnya Bok-long-kun memaki, “Kurang ajar, orang asing biadab juga berani cari perkara di sini?

Orang Persi itu tidak menggubrisnya, ia menjura kepada Ci-ih-hou dan berkata, “Kami mengajukan permohonan lebih dulu, maka Houya harus memeriksa dulu hadiah kami ini untuk menentukan apakah akan memenuhi permintaan kami atau tidak, habis itu baru giliran dia.”

Meski bicaranya juga kurang teratur kalimatnya, namun cukup lancar.

“Mengapa harus begitu?” bentak Bok-long-kun dengan gusar.

Karena sudah lama Ling-ji mendengar barang kerajinan tangan negeri Persi sangat bagus buatannya, maka ia ingin lihat benda mestika apa saja yang dibawa mereka, segera ia menyela dengan tertawa, “Mereka datang dari jauh, kukira boleh juga mereka diberi kesempatan untuk bicara lebih dulu, rasanya engkau kan juga tidak perlu terburu-buru.”

Bok-long-kun mendengus, dengan menahan rasa gusar ia menyingkir.

Segera orang Persi itu memberi tanda, sebuah peti lantas diusung ke depan, katanya dengan tertawa, “Tempat kediaman Houya di sini serupa istana, cuma sayang kurasakan masih kurang sesuatu.”

“Kurang apa?” tanya Ling-ji.

Cirus kedua itu lantas membuka peti, dikeluarkannya sepotong permadani, ia suruh anak buahnya membentang permadani, terlihatlah hamparan itu bercahaya mengilat, sukar diterka dibuat dari bahan apa.

Yang jelas permadani itu diberi gambar sulaman pemandangan istana raja Persi, beratus orang tersulam bagai manusia hidup dengan sikap yang berbeda-beda, ada lelaki yang kelihatan mabuk, ada yang sedang angkat gelas mengajak minum, ada pula yang berpelukan dengan perempuan cantik dan ada penari yang sedang menari di tengah pesta pora.

Terlukis seorang perempuan yang sangat cantik dengan garis tubuh yang menggiurkan, membuat siapa yang memandangnya pasti akan terpesona dan tergila-gila.

Semua orang yang hadir sama terkesima oleh keindahan hamparan itu, bahkan Ci-ih-hou juga menghela napas gegetun, katanya, “Kerajinan tangan orang Persia sungguh sukar dicari tandingannya.”

Dengan tenang Cirus berkata, “Permadani hasil kerajinan tangan negeri kami sudah turun-temurun sejak zaman dahulu, setiap keluarga rata-rata menguasai teknik rahasia masing-masing. Permadani yang kubawa ini adalah buah karya 100 ahli yang dikumpulkan dari seluruh negeri oleh Syah kami dengan biaya besar dan makan waktu tiga tahun lamanya, sehingga boleh dikatakan tidak ada bandingannya di dunia ini. Bilamana lantai di sini diberi hamparan ini, dibanding istana raja juga tidak lebih asor.”

“Kau bawa hadiah bernilai sebesar ini, apa yang kau minta?” tanya Ling-ji.

Cirus tertawa, “Hadiah ini sebenarnya tidak seberapa, masih ada yang lebih bagus yang belum kuperlihatkan.”

Segera ia tepuk tangan sehingga anak buahnya mengusung maju lagi peti kedua.

Semua orang sama tertarik oleh permadani yang bagus dan mewah ini, semuanya ingin melihat pula benda mestika apa dalam peti kedua ini.

Perlahan Ci-ih-hou berkata, “Katakan saja dulu apa permohonanmu padaku baru nanti melihat barang lain yang kau bawa.”

Cirus tertawa, katanya, “Apakah Houya khawatir yang kami minta akan sama serupa orang negeri Wan, maka Houya tidak mau melihat barang dulu supaya tidak terpikat.”

“Pintar juga kau ….” ucap Ci-ih-hou tak acuh.

“Houya mengutamakan kepentingan negara dan bangsa sendiri, sungguh kami merasa kagum dan salut,” kata Cirus. “Namun janganlah Houya sangsi, apa yang kami minta sangatlah sederhana yaitu agar dalam waktu tiga tahun, janganlah Houya memberikan Tay-hong-ko kepada siapa pun.”

Utusan negeri Persi yang datang dari jauh ini dan mempersembahkan harta benda sebesar ini, apa yang dimohon ternyata cuma soal sepele begini saja, keruan semua orang yang mendengarnya sama melongo.

Cirus pertama yang tertutuk Hiat-to kelumpuhan dan meringkuk di pojok sana terlebih gemas oleh ucapan Cirus kedua itu, matanya mendelik dan urat hijau sama menonjol memenuhi dahinya.

“Bangsat keparat, jadi kau sengaja hendak mengacau padaku?” bentak Bok-long-kun dengan gusar.

Ling-ji mencegahnya, katanya dengan tertawa, “Kan Houya kami juga belum pasti memenuhi permintaannya, apa salahnya melihat dulu isi peti kedua ini?”

“Tapi ….”

Belum lanjut ucapan Bok-long-kun segera dipotong Ling-ji, “Dan kalau Houya kami mau terima permintaannya, lantas kau bisa berbuat apa?”

Bok-long-kun tahu orang ingin tahu apa isi peti, terpaksa ia tidak dapat berbuat apa-apa dan menahan rasa gusar.

Ling-ji lantas memelototi Cirus kedua dan berkata, “Buka petimu, tunggu apa lagi?”

Orang Persi itu mengiakan.

Begitu tutup peti terbuka, seketika terdengar suara alat musik yang merdu, seorang kerdil dengan tubuh setinggi tiga kaki atau kurang lebih 80-90 sentimeter, membawa kecapi senar lima mendahului melompat keluar. Begitu hinggap di lantai terus berjumpalitan empat-lima kali sehingga tiba di depan Ci-ih-hou, setelah menyembah tiga kali, lalu melompat ke samping dan membunyikan alat musiknya membawakan lagu merdu.

Meski tubuh manusia mini ini sebesar anak kecil, namun wajahnya sudah serupa orang dewasa, ukuran anggota badannya juga serasi dengan perawakannya. Semua orang sama terheran-heran melihat kemunculannya, siapa pun tidak menyangka di dalam peti berisi manusia hidup.

Siapa tahu, setelah manusia mini ini melompat keluar, dari dalam peti perlahan terjulur keluar pula sebuah tangan seputih kemala dengan jari lentik halus, pergelangan tangan yang putih halus itu terikat serencengan keleningan emas kecil.

Begitu suara keleningan gemerencing dan tangan putih terjulur, menyusul lantas terlihat lengan yang indah, lalu seorang perempuan cantik berbaju sutera tipis putih, kepala penuh hiasan yang menimbulkan suara gemerencing, dengan gaya menggiurkan ia berdiri dan berlenggak-lenggok mengikuti irama musik.

Terlihat rambut perempuan cantik itu berwarna kuning laksana emas, kerlingan matanya yang memikat membawa warna hijau kebiruan, kulit badannya yang putih bersih laksana batu kemala yang mulus.

Wanita secantik itu, biarpun sesama kaum wanita juga akan tergiur, apalagi lelaki. Keruan semua orang sama melotot dan melongo.

Sampai anak kecil seperti Pui Po-ji juga terkesima, diam-diam ia membatin, “Tak tersangka negeri asing ada perempuan secantik ini, sungguh setiap senti setiap bagian pada sekujur badannya adalah perempuan tulen tanpa ….”

Belum habis berpikir, tiba-tiba sebuah tangan kecil mengalingi matanya, lalu dirasakan Siaukongcu lagi menggores tulisan di atas tangannya, “Dilarang pandang!”

Selang sejenak, kembali ditulisnya, “Perempuan ini tidak tahu malu.”

Meski merasa geli, tapi semakin Siaukongcu bilang perempuan itu tidak tahu malu, semakin merangsang keinginan Po-ji untuk melihatnya. Cuma sayang tangan Siaukongcu itu tidak mau lagi disingkirkan.

Terdengar bunyi musik tadi semakin nyaring, iramanya bertambah cepat, lalu si cantik pirang pun mulai menari dengan gaya yang memikat.

Padahal usia Po-ji masih kecil, biarpun benar disuruhnya melihat juga takkan menjadi soal. Tapi sekarang hanya telinga saja mendengar alunan musik, mata juga tidak melihat langsung, hatinya berbalik tergerak malah. Saking dongkolnya sungguh tangan putri kecil ingin digigitnya.

Maklumlah, memang begitulah jalan pikiran lelaki umumnya, sesuatu yang tak terpandang langsung biasanya jauh lebih memikat daripada melihat.

Begitulah baju sutera si cantik tampak berkibar, kulit badannya samar-samar terlihat, bau harum memabukkan tersiar mengikuti gaya tariannya yang eksotik, semua orang yang memandangnya sama terbelalak dan lupa daratan.

Mendadak suara musik berhenti, si cantik pirang menjulurkan kedua tangan ke depan dan menyembah dengan mendekam di lantai, pada kulit badannya yang putih mulus itu kelihatan menitik butiran keringat.

Tubuh yang padat itu tampak masih bergerak-gerak perlahan ….

Sampai sekian lama sekali baru semua orang mengembus napas lega.

Terdengar Cirus kedua tadi bergelak tertawa dan berucap. “Inilah wanita tercantik negeri kami, bukan saja kecantikannya tidak ada bandingan, bahkan tari dan nyanyi juga mahir, bahkan ….”

Ia terbahak dan tidak melanjutkan lagi.

Sudah tentu orang lelaki sama tahu apa yang dimaksudkannya sehingga hati semua orang tergelitik, sedang hadirin yang perempuan juga tahu maksudnya meski pura-pura tidak tahu. Kalau ada yang benar-benar tidak paham mungkin cuma Pui Po-ji dan Siaukongcu alias si putri cilik.

Tiba-tiba Ling-ji menjengek, “Hm, hanya perempuan begini saja kenapa mesti heran?”

“Ah, si kelening cilik tampaknya iri,” diam-diam Po-ji tertawa geli.

Padahal yang geli tidak cuma Po-ji seorang saja, bahkan Cirus kedua itu juga terkekeh dan berkata, “Aha, ucapan nona itu rasanya rada-rada kecut. Meski kecantikan wanita negeri kami ini tidak melebihi bidadari, akan tetapi boleh dikatakan mahacantik di dunia ini, apakah sekiranya cukup memenuhi selera Houya?”

Belum lagi Ci-ih-hou menanggapi, kembali Ling-ji mendengus, “Hm, jika dia juga terhitung perempuan cantik, bukankah perempuan cantik di jagat ini akan meluber? Coba kau lihat saudara-saudaraku ini, mana yang kalah cantik daripada dia? Apa lagi saudara-saudaraku ini semuanya serbamahir, baik syair, nyanyi, tari, menulis, melukis, memetik alat musik, segalanya serbabisa. Malahan setiap orang memiliki ilmu silat tinggi, semuanya pandai melayani orang dengan ramah tamah, apakah makan minum atau cuma mengobrol iseng, pasti memuaskan. Apakah semua ini dapat dilakukan oleh perempuan negeri kalian?”

Diam-diam Bok-long-kun bergirang, “Aha, tampaknya aku tidak perlu turun tangan dan apa yang diminta orang Persi ini pasti akan buyar juga.”

Namun Cirus kedua hanya mendengarkan dengan tertawa saja, katanya kemudian, “Ucapan nona memang betul, betapa pun cantiknya seorang perempuan, bilamana kurang pintar meladeni tentu tidak ada rasanya.”

“Asal kau tahu saja,” ucap Ling-ji.

“Tapi bilamana kutampilkan seorang perempuan cantik yang juga serbabisa serupa ucapan nona tadi, lalu bagaimana?” tanya Cirus kedua mendadak.

“Hm, gadis demikian mungkin sangat sulit dicari, bilakah baru akan kau dapatkan?” ejek Ling-ji.

“Tidak perlu cari dan tunggu lagi melainkan sekarang juga sudah ada,” kata Cirus kedua dengan tertawa.

Ling-ji melenggong, katanya kemudian dengan tertawa, “Sekarang juga katamu? Memangnya si cantik akan jatuh dari langit atau muncul dari bumi?”

Cirus tersenyum dan tidak menjawab, mendadak ia membuka pakaian sendiri, jubah putih ditanggalkan sehingga kelihatan garis tubuhnya yang sangat indah dengan baju warna jambon yang sangat singsat.

Semua orang terperanjat.

Waktu mereka mengawasi lebih jelas, terlihat “Cirus kedua” ini telah menarik rambutnya yang pirang sehingga kelihatan rambut aslinya yang hitam gelap, menyusul ia mengusap dan menarik lagi di sana-sini di sekitar wajahnya, mukanya yang semula sangat jelek mendadak berubah menjadi seraut wajah mahacantik.

Tertampak potongan tubuhnya yang serasi, tiada setitik pun daging lebih, tiada bagian tulang yang lebih besar atau kecil, semuanya seimbang, tidak ada lebih kurus sedikit, juga tidak lebih gemuk setitik. Kerlingan matanya sungguh membetot sukma, terlebih senyumnya yang menggiurkan itu, sungguh membuat orang lupa daratan.

Jika perempuan Persi tadi dikatakan mahacantik di dunia ini, maka si cantik sekarang pastilah bidadari yang turun dari kahyangan. Bilamana si cantik dari Persi dikatakan membetot sukma dengan tarian eksotiknya, maka kerlingan mata si cantik sekarang sudah ribuan kali lebih menggiurkan daripada segalanya.

Hadirin yang berjumlah puluhan orang dan terdiri dari laki-perempuan tua-muda serta datang dari berbagai penjuru itu sama melongo kesima oleh perempuan mahacantik ini, seketika semuanya tidak sanggup bersuara.

Si cantik dari Persi itu juga merasa rendah diri demi melihat kecantikan orang, diam-diam ia menyingkir dan sembunyi di pojok sana.

Yang paling terkejut tak lain tak bukan adalah Pui Po-ji, sungguh mimpi pun ia tidak menyangka orang yang menyaru sebagai “Cirus” dari Persi ini adalah Cui Thian-ki, saking kagetnya sampai ia menjerit.

Keruan Siaukongcu terkejut, untung pada saat yang sama ketika Po-ji bersuara, Ling-ji juga berteriak kaget, “Hei, bukankah engkau ini bi … bini besarnya?”

Bok-long-kun juga membentak dan melompat bangun, “Kukira siapa yang sengaja mengacau padaku, kiranya kembali kamu si perempuan hina dina lagi.”

Cui Thian-ki menoleh dan menegur dengan tertawa, “Apa kabar?”

“Apa kabar?!” teriak Bok-long-kun dengan gusar. “Aku ingin membinasakanmu!”

Kedua lengannya yang kurus kering serupa kayu serentak terpentang terus mencengkeram leher Cui Thian-ki.

Namun Cui Thian-ki tetap tersenyum saja tanpa bergerak, ucapnya dengan suara lembut, “Memangnya siapa yang berani main bunuh di sini?”

Tiba-tiba Ci-ih-hou juga membentak, “Siapa yang berani membunuh orang di sini?”

Selain itu ada suara lain lagi yang juga membentak, “Siapa yang berani main bunuh orang di sini?”

Suara tiga orang membentak bersama, suara yang seorang lemah lembut, seorang lagi bersuara kereng berwibawa dan yang ketiga tajam melengking aneh dan menusuk telinga.

Mau tak mau Bok-long-kun menarik kembali mentah-mentah tangannya. Terlihatlah muncul seorang tua berkepala gundul dan telanjang kaki, berjubah kain belacu, kulit badan hitam pekat, nyata seorang hwesio miskin pengembara yang di negeri Hindu terkenal sebagai padri fakir.

Tiba-tiba Ci-ih-hou menegur, “Apakah Taisu ini Kah-sing Hoat-ong dari Thian-tiok?”

Nada suaranya rada kejut, jelas asal-usul padri ini lain daripada yang lain.

Mendengar nama “Kah-sing Hoat-ong”, semua orang juga terperanjat. Maklumlah, meski Kah-sing Hoat-ong ini jauh tinggal di negeri Thian-tiok (India), tapi di dunia persilatan Tiongkok sudah lama tersiar berita tentang kesaktiannya. Konon selain memiliki lwekang yang mahatinggi, fakir ini juga menguasai semacam ilmu golongan Hindu yang aneh yang dikenal sebagai Yoga, dia tidak mati direndam air selama tujuh hari, ditanam di bawah tanah selama setengah bulan juga tidak binasa, makan warangan pun takkan keracunan, jalan di atas bara dengan kaki telanjang tidak terbakar dan macam-macam cerita lagi.

Bahwa fakir yang terkenal mahasakti itu sekarang mendadak muncul di sini, tentu saja semua orang terkejut.

Maklumlah, sejak Tong Sam-cong mengambil kitab ke wilayah barat, maka hubungan antara negeri Thian-tiok dengan Tiongkok bertambah ramai, sebab itulah Kah-sing Hoat-ong ini cukup fasih berbahasa Han.

Segera padri fakir itu berucap, “Omitohud! Tidak nyana Sicu (tuan dermawan) juga kenal Siauceng (padri kecil). Biarlah kuberi tontonan menarik dulu bagi Sicu, habis itu baru kita bicara lagi.”

Ia berputar dan mendekati Bok-long-kun, katanya, “Keluar sana!”

Ci-ih-hou memang ingin melihat betapa lihai padri asing ini, sebab itulah ia tidak bicara dan mencegah.

Semua orang juga ingin tahu cara bagaimana Bok-long-kun akan menghadapi fakir itu, maka semuanya diam saja menantikan tontonan menarik.

Biarpun diam-diam Bok-long-kun merasa jeri, tapi di bawah tatapan orang banyak, betapa pun ia tidak mau unjuk lemah, segera ia menjawab, “Hm, berdasarkan apa kau suruh kukeluar?”

“Tidak lekas keluar, jangan menyesal bila Siauceng bertindak kasar,” kata Kah-sing Hoat-ong.

Cui Thian-ki tertawa genit, katanya, “Hoat-ong suruh kamu keluar, jika kamu membangkang, jelas mencari susah sendiri.”

Ucapannya ini tiada ubahnya serupa api disiram minyak, tujuannya membakar.

Dengan gusar Bok-long-kun berteriak, “Siapa pun tidak dapat menyuruhku keluar!”

Mendadak tangan Kah-sing Hoat-ong berputar ke belakang, menampar muka Bok-long-kun sebelah kanan.

Tamparan ini menyambar tanpa suara, secepat kilat Bok-long-kun menangkis, reaksinya boleh dikatakan tidak kalah cepatnya. Siapa tahu ruas lengan Kah-sing Hoat-ong seakan-akan terpasang pegas dan dapat membengkok keluar, maka terdengarlah suara “plak” sekali, meski Bok-long-kun dapat menangkis lengan orang namun telapak tangan si fakir tetap mengenai mukanya dengan telak.

Meski tamparan itu serupa mengenai kayu lapuk dan kulit kering, sama sekali tidak mencederai Bok-long-kun, namun jelas sangat merugikan gengsinya.

Kejut dan murka Bok-long-kun, ia membentak kalap dan menerjang maju. Hanya sekejap saja ia melancarkan tujuh kali serangan, setiap jurus serangannya lihai dan aneh. Siapa tahu, ketujuh jurus serangannya tidak mengenai sasaran, sebaliknya “plok”, kembali mukanya tertampar sekali lagi.

Hendaklah maklum, di dunia kangouw terkenal ada Ngo-hing-mo-kiong, lima istana iblis pancaunsur, yaitu emas, kayu, air, api dan tanah. Penguasa setiap istana itu sama memiliki semacam kungfu khas yang aneh dan lihai sehingga sangat ditakuti orang kangouw umumnya. Jing-bok-kiong, istana kayu hijau, yang terletak di timur dengan penguasa Bok-long-kun dan ayahnya meyakinkan Koh-bok-kang atau ilmu kayu lapuk, selain jurus serangannya aneh dan lihai, yang paling hebat adalah bagus untuk menyerang dan juga kuat untuk diserang atau tahan pukul. Betapa pun hebat tenaga pukulan lawan dan berbisa sekalipun tetap sukar mencederai mereka.

Tapi sekarang ilmu silat Kah-sing Hoat-ong ternyata berpuluh kali terlebih aneh daripada Bok-long-kun, keruan si patung kayu sangat terkejut.

Padahal bilamana keduanya bertempur mati-matian, belum tentu Bok-long-kun akan dikalahkan begitu saja. Lucunya, Kah-sing Hoat-ong tampaknya tidak sungguh-sungguh hendak mencederai Bok-long-kun melainkan cuma ingin membuatnya malu saja. Dalam keadaan demikian Bok-long-kun benar-benar mati kutu.

Dengan kedudukan Bok-long-kun, di depan orang banyak ia kena ditampar dua kali, tentu saja ia kehilangan muka dan tidak dapat bertempur lagi. Mendadak ia melompat keluar anjungan, menyusul lantas terdengar suara debur air, nyata ia telah terjun ke laut.

“Hah. Tidak mampu melawan orang, rupanya dia lantas membunuh diri dengan terjun ke dalam air,” dengan tertawa Cui Thian-ki berolok-olok.

“Meski dia sudah pergi, kukira ia takkan menyudahi begini saja urusan ini,” kata Kah-sing Hoat-ong. “Maka selanjutnya kamu harus hati-hati.”

“Terima kasih atas petunjuk Hoat-ong,” jawab Cui Thian-ki dengan tertawa.

Diam-diam Pui Po-ji merasa geli, pikirnya, “Kalau bicara tipu-menipu, jelas Bok-long-kun jauh bukan tandingan Cui Thian-ki, ia sendiri entah sudah berapa kali dikibuli perempuan itu, sungguh lucu hwesio tua ini justru khawatir Bok-long-kun mengakali dia.”

Terpikir pula oleh Po-ji apa yang terjadi sekarang, tentu sebelumnya Cui Thian-ki sudah mengikuti setiap gerak-gerik utusan kerajaan Persi itu, maka ia sengaja menyamar dalam bentuk yang sama serta meminjam pakai hadiah yang dibawanya, semua ini selain di luar dugaan siapa pun, ia sendiri juga tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Betapa bagus akalnya ini, biarpun Bok-long-kun hidup lagi seratus tahun juga takkan mampu menggungguli dia.

Terlihat Kah-sing Hoat-ong sedang menghadapi Ci-ih-hou sambil mengeluarkan seuntai tasbih terbuat dari kayu cendana, katanya, “Siauceng orang beragama dan tidak mampu memberi hadiah besar, hanya sedikit oleh-oleh ini mohon Sicu suka menerimanya dengan senang hati.”

“Terima kasih Taisu,” jawab Ci-ih-hou. Lalu ia memberi perintah, “terimalah Ling-ji.”

Segera Ling-ji menerima tasbih itu, katanya dengan tertawa, “Hoat-ong adalah orang kosen zaman ini dan serbamahir, masakah engkau juga ada sesuatu urusan yang perlu minta dipecahkan oleh Houya kami?”

“Ya, ada,” sahut Kah-sing Hoat-ong.

“Silakan Hoat-ong bicara,” kata Ci-ih-hou.

“Begini,” tutur Kah-sing Hoat-ong. “Selama hidupku kalau bergebrak dengan orang selalu menang tanpa kalah. Kedatanganku sekarang justru ingin coba-coba mengukur kepandaian dengan jago pedang nomor satu zaman ini, ingin kucicipi bagaimana rasanya kalah.”

Mendengar maksud kedatangan padri Thian-tiok ini justru sengaja hendak menantang bertanding dengan Ci-ih-hou, tentu saja semua orang sangat tertarik, hanya Po-ji saja yang diam-diam merasa heran, “Tanpa sebab mengapa mau berkelahi lagi?”

Maka terdengar Ci-ih-hou menjawab dengan tertawa, “Sudah lama kutelantarkan kungfuku, mana sanggup kulawan Taisu. Jika tujuan Taisu ingin kalah, jelas engkau salah alamat dan keliru mencari diriku.”

“Ah, jangan Sicu merendah hati,” kata Kah-sing Taisu. “Ruangan ini tidak cukup luas, namun cukup untuk pertarungan kita. Bagaimana kalau kumohon petunjuk beberapa jurus kepada Sicu?”

Ci-ih-hou tetap menjawab dengan tertawa, “Sudah lebih 20 tahun aku tidak pernah bergebrak dengan orang, Taisu datang dari jauh sebagai tamu, tidak nanti kuterima tantangan Taisu.”

“Dari tempat jauh sengaja kudatang kemari, sikap Sicu ini sungguh membuatku kecewa,” kata Kah-sing Taisu.

“Maaf, sungguh aku tidak berani bergebrak denganmu,” ucap Ci-ih-hou.

Wajah Kah-sing yang kurus dan hitam itu tampak rada berubah, ucapnya, “Jangan-jangan Sicu memandang hina padaku. Memangnya aku tidak memenuhi syarat untuk bergebrak denganmu?”

“Bukan begitu maksudku, aku cuma minta janganlah Taisu memaksakan kehendakmu kepada orang lain,” kata Ci-ih-hou.

Kah-sing Taisu termenung sejenak, katanya kemudian, “Mana berani kupaksa Sicu ….”

Mendadak ia menanggalkan jubah belacunya sehingga kelihatan tubuhnya yang kurus dan hitam, lalu ia membuka ranselnya dan mengeluarkan sebatang palu dan beberapa buah paku sepanjang tiga inci, sembari memegang paku segera Kah-sing Taisu mengangkat palu, “tring”, paku dipalunya hingga amblas ke dalam dagingnya.

“Nah, jika Sicu tetap tidak terima permintaanku, terpaksa kulakukan hukum siksa ini untuk mencari pembebasan,” kata si padri fakir.

Sembari bicara ia terus memaku tanpa berhenti, hanya sebentar saja berpuluh paku telah menancap pada tubuhnya, paku sepanjang tiga inci itu amblas dua inci ke dalam daging. Namun padri itu seperti tidak merasakan apa-apa, darah pun tidak mengalir.

Semua orang sama terperanjat, Po-ji sampai melelet lidah hingga tak dapat mengkeret lagi.

“Kenapa Taisu bertindak demikian?” ujar Ci-ih-hou.

“Asalkan Sicu terima permintaanku, segera Siauceng berhenti,” kata Kah-sing Taisu.

Ci-ih-hou menghela napas, katanya, “Ai, jika Taisu berkeras ingin berbuat demikian, terpaksa aku tidak dapat omong lagi.”

Nyata, apa pun juga dia tetap menolak bergebrak dengan fakir itu.

Tiba-tiba suara musik bergema, pentolan bajak melangkah masuk dan memberi hormat, katanya, “Wanpwe sudah menyiapkan perjamuan buah-buahan segar, apakah sekarang juga Houya hendak dahar?”

“Syukur kau tahu sepanjang tahun sukar bagiku menikmati buah segar di lautan lepas, setiap tahun kamu selalu berpikir cermat bagiku,” kata Ci-ih-hou.

“Asalkan Houya sudi mampir, itu pun sudah kehormatan besar bagi hamba,” kata pentolan bajak laut itu.

“Jika begitu, boleh perintahkan anak buahmu membuka perjamuan sekarang juga,” ucap Ci-ih-hou.

Pemimpin bajak itu mengiakan dan mengundurkan diri.

Ci-ih-hou menguap kantuk, katanya, “Kebanyakan urusan penting hadirin sudah mendapatkan penyelesaian, aku sendiri juga sudah letih, acara hari ini biarlah berakhir sampai di sini. Bilamana hadirin berminat, boleh silakan tinggal untuk menikmati buah segar bersamaku, kalau tidak, boleh silakan ….”

“Nanti dulu!” mendadak seorang berteriak lantang sambil berlari masuk.

Tertampak orang ini bertubuh pendek dan kepala besar, kedua tangan panjang melebihi dengkul, kening lebar, mata besar dan alis tebal.

Tidak perlu memandang lagi segera Po-ji tahu pendatang ini adalah pamannya yang berkepala besar, yaitu Oh Put-jiu. Diam-diam ia heran entah ada urusan apa sang paman kepala besar ini hendak mohon bantuan kepada Ci-ih-hou, padahal dia sudah kehabisan uang, untuk makan saja sulit, memangnya sekarang ia membawa sesuatu hadiah berharga?

Ia lihat Oh Put-jiu datang dengan bertangan kosong, mana ada hadiah apa segala. Padahal orang lain sama membawa hadiah untuk membeli jasa Ci-ih-hou, itu pun belum pasti diterima. Sekarang Oh Put-jiu datang tanpa membawa sesuatu, jelas tidak ada harapan akan minta pertolongan kepada Ci-ih-hou.

Ling-ji tampak berkerut kening, katanya, “Jika kamu juga ingin minta pertolongan Houya, kenapa sejak tadi tidak tampil?”

Dengan hormat Oh Put-jiu menjawab, “Soalnya nama dan kedudukanku sangat rendah, mana berani kuberebut duluan dengan orang lain?”

Potongan tubuhnya lucu, tidak cakap, tidak gagah, namun sikapnya wajar dan selalu tersenyum cerah sehingga menyenangkan orang yang diajak bicara.

Ling-ji memandangnya dua kejap, lalu bertanya, “Apakah Houya memberi kesempatan bicara kepadanya?”

Lebih dulu Ci-ih-hou menghela napas, lalu berkata, “Baik, boleh dia bicara.”

“Kedatangan Wanpwe agak terburu-buru,” tutur Oh Put-jiu, “sebab itulah tidak membawa sesuatu hadiah apa pun …”

“Kamu tidak membawa sesuatu hadiah?” potong Ling-ji. “Masa kamu tidak tahu peraturan Houya?”

“Meski Wanpwe tidak membawa hadiah apa pun, namun urusan yang kuminta bukanlah untuk kepentinganku melainkan demi keselamatan para kawan Bu-lim dan mohon pertolongan Houya agar suka turun tangan,” tutur Oh Put-jiu. “Dan bila Houya menolak permintaanku, mungkin selanjutnya segenap tokoh dunia kangouw akan gugur semua di medan laga, dunia persilatan pasti juga akan kacau-balau.”

Oh Put-jiu memang pandai bicara, yang diucapkan juga bagian yang penting, maka cuma beberapa kalimat saja ucapannya sudah cukup menarik perhatian orang banyak.

Tak terduga Ci-ih-hou hanya menanggapi dengan dingin, “Mati-hidup segenap tokoh dunia persilatan ada sangkut paut apa denganku? Jika aku mati, mereka juga pasti takkan menitikkan setetes air mata pun.”

Oh Put-jiu melenggong, katanya, “Tapi ….”

“Sudah sejak 30 tahun yang lalu aku tidak mau turun tangan membela orang,” tukas Ci-ih-hou, “apa lagi sekarang, sudah lama aku malas bergerak. Nah, anak muda, kukira lebih baik kamu jangan suka ikut campur urusan orang lain.”

Seketika Oh Put-jiu tertegun, bola matanya berputar.

Po-ji tahu, bilamana bola mata sang paman kepala besar ini sudah berputar, segera akan terjadi hal-hal yang menarik. Tapi menghadapi Ci-ih-hou, rasanya akal apa pun yang digunakannya pasti takkan berhasil membujuknya.

Tengah berpikir, terdengar Oh Put-jiu berkata pula, “Namun urusan ini pun ada sangkut pautnya dengan Houya sendiri.”

“Ada sangkut paut apa denganku?” tanya Ci-ih-hou.

“Bencana yang menimpa dunia persilatan sekali ini disebabkan entah dari mana datangnya, seorang jago pedang aneh yang sengaja hendak menantang bertempur segenap tokoh Bu-lim,” tutur Oh Put-jiu.

“Hah, ada orang demikian? Tidak kecil suaranya,” kata Ci-ih-hou.

“Meski nada ucapan orang ini agak sombong tapi betapa tinggi ilmu pedangnya memang pantas disebut nomor satu di dunia,” tutur Oh Put-jiu. “Mungkin Houya sendiri ….”

Sampai di sini ia berhenti dan berdehem, lalu bungkam.

Meski ia cuma bicara setengah-setengah, namun di balik ucapannya jelas hendak menyatakan Houya juga takkan mampu menandingi orang itu.

“Kau bilang dia nomor satu di dunia, mungkin tidak begitu,” kaya Ci-ih-hou tenang.

Melihat orang sudah rada terpancing, diam-diam Oh Put-jiu bergirang, namun di mulut ia sengaja berkata dengan menyesal, “Meski tidak ada maksudku sengaja memuji kelihaian orang lain dan merendahkan kemampuan pihak sendiri, namun menurut pandanganku, ilmu pedang orang itu memang tidak ada yang mampu menandinginya.”

Ci-ih-hou termenung sejenak, mendadak ia terbahak-bahak, “Haha, anak muda, biarpun tinggi akalmu memancing emosi orang, namun jangan harap akan memancing diriku. Biarkan saja dia jago pedang nomor satu, apa sangkut pautnya denganku.”

Put-jiu tenang saja, katanya, “Jika demikian, baiklah Wanpwe mohon diri saja, cuma sayang … ai ….”

Segera ia memberi hormat dan hendak mengundurkan diri.

Tapi sebelum dia melangkah keluar pintu, mendadak Ci-ih-hou memanggilnya, “Kembali sini.”

Put-jiu menoleh dan bertanya, “Houya ada pesan apa?”

“Kau bilang sayang apa, coba katakan,” tanya Ci-ih-hou.

“Maksudku, setiap orang yang belajar ilmu pedang harus melihat betapa hebat ilmu pedang orang itu,” tutur Put-jiu. “Sebab ilmu pedangnya … ai, sungguh sayang bila tidak melihatnya sendiri.”

“Sesungguhnya ilmu pedang apa yang dikuasainya itu? Betapa pula hebatnya?” tanya Ci-ih-hou lagi.

Nyata timbul juga minatnya untuk mengetahui jelas betapa tinggi ilmu pedang orang karena cara bicara Oh Put-jiu yang setengah-setengah itu, tanpa terasa ia telah terjebak oleh pemuda kepala besar itu.

Dengan tenang Put-jiu bertutur, “Betapa hebat ilmu pedang orang itu, sungguh sukar bagiku untuk melukiskannya. Ai, pendek kata, ilmu pedangnya boleh dikatakan saat ini hanya ada di langit dan tidak ada di bumi. Sekarang juga kubawa suatu barang, asalkan Houya sudah melihatnya tentu segera akan tahu betapa lihai ilmu pedangnya.”

“Barang apa? Coba kulihat,” kata Ci-ih-hou tidak tahan lagi.

Oh Put-jiu benar-benar orang yang bisa menahan perasaan, sampai saat ini wajahnya tetap tidak memperlihatkan rasa girang sedikit pun, perlahan ia merogoh saku, tapi mendadak tangan ditarik kembali.

“Ada apa?” tanya Ci-ih-hou.

“Jika Houya toh pasti tidak mau turun tangan, kukira lebih baik barang ini jangan dilihat,” ujar Put-jiu.

“Siapa bilang aku pasti tidak mau turun tangan? Coba, lekas perlihatkan,” seru Ci-ih-hou.

Baru sekarang Oh Put-jiu merogoh saku, dengan perlahan dikeluarkannya potongan ranting kayu kering itu.

Kini bukan cuma Ci-ih-hou saja yang terangsang ingin tahu, bahkan semua orang juga sangat ingin lihat barang apa yang dimaksudkan Put-jiu.

Perhatian semua orang seketika terpusat pada tangan Oh Put-jiu sehingga tidak ada yang memandang paku yang menancap di tubuh Kah-sing Taisu. Tapi kemudian ketika mengetahui barang yang dikeluarkan Put-jiu cuma sepotong ranting kecil, semua orang merasa kecewa, bahkan banyak yang merasa bingung.

Namun Oh Put-jiu justru mengangsurkan ranting kayu itu ke hadapan Ci-ih-hou dengan prihatin.

Seketika suasana sunyi senyap, hanya terdengar palu memukul paku masih berbunyi “tring-ting” berulang, sedang Ci-ih-hou lagi mengamati potongan kayu itu dengan penuh perhatian.

Semua orang tidak tahu di mana letak kehebatan sepotong kayu itu, mengapa Ci-ih-hou begitu tertarik sehingga mengamatinya sekian lama. Akhirnya Ci-ih-hou menghela napas panjang dan berucap, “Ya, sungguh ilmu pedang mahalihai, ilmu pedang mahacepat, ilmu pedang mahabagus ….”

Ternyata jago pedang nomor satu yang selama ini tidak ada tandingannya berulang memuji tiga kali, hal ini menandakan ilmu pedang orang yang menebas ranting kayu itu memang lain daripada yang lain.

Oh Put-jiu merasa sedih juga, pikirnya, “Jika Ci-ih-hou juga bukan tandingan jago pedang berbaju putih itu, lalu bagaimana dan apa dayaku pula?”

Ling-ji tidak tahan, ia coba tanya, “Setelah melihat potongan kayu ini, segera Houya dapat menilai betapa tinggi ilmu pedang orang itu?”

“Betul,” jawab Ci-ih-hou.

“Dapatkah Houya menjelaskan tanda-tandanya untuk menambah pengalaman hamba,” pinta Ling-ji.

Ci-ih-hou menghela napas, katanya, “Bilamana ilmu pedangmu sudah mencapai setaraf diriku tentu akan kau lihat dari tempat potongan kayu ini. Kalau tidak, biar pun kuberi penjelasan tiga hari tiga malam juga takkan kau pahami.”

Ling-ji melengak, ucapnya sambil menyengir, “Wah, rasanya sampai tua pun hamba takkan paham.”

Apa yang ditanyakan Ling-ji sama juga ingin diketahui oleh orang banyak termasuk Oh Put-jiu dan Pui Po-ji. Jawaban Ci-ih-hou yang kurang jelas itu membuat semua orang merasa kecewa.

“Orang itu berada di mana sekarang?” tanya Ci-ih-hou mendadak.

“Apakah Houya mau turun tangan?” Put-jiu menegas.

“Jika aku tidak mau turun tangan, di mana ia berada kan tidak ada sangkut pautnya denganku?” jawab Ci-ih-hou. “Ai, dapat bertanding ilmu pedang dengan tokoh kelas wahid seperti ini, rasanya tidak sia-sia hidupku ini.”

Sama sekali semua orang tidak menduga bahwa Oh Put-jiu yang datang tanpa membawa sesuatu hadiah, apa yang diminta juga sangat sulit, namun Ci-ih-hou ternyata lantas menerimanya begitu saja, tentu saja mereka terkejut dan terheran-heran.

Maklumlah, bilamana ilmu silat seorang mahatinggi, dalam batin justru akan timbul semacam rasa sunyi dan menyendiri, apabila dapat menemukan seorang lawan yang sembabat, baginya akan lebih menggembirakan daripada mengikat seorang sahabat karib, soal kalah atau menang sama sekali tak terpikir olehnya.

Mendadak terdengar orang membentak dengan suara parau serupa kain robek, “Nanti dulu!”

Tahu-tahu Kah-sing Hoat-ong yang tubuhnya kini penuh paku itu menerobos ke depan.

Ngeri juga semua orang menyaksikan tubuh padri fakir yang serupa landak itu.

“Taisu ada petunjuk apa?” tanya Ci-ih-hou.

“Bila Sicu hendak bergebrak dengan orang, seharusnya Siauceng yang perlu kau lawan lebih dulu, biarpun Siauceng cuma kaum keroco, memangnya lebih rendah daripada pendekar pedang tak ternama itu?”

Ci-ih-hou menghela napas, katanya, “Silakan Taisu menilai sendiri ilmu pedang orang ini.”

Baru lenyap suaranya, serentak Po-ji melihat ranting kayu kering itu melayang dari balik pintu angin, begitu lambat gerak melayangnya sehingga serupa di bawahnya disanggah oleh tangan yang tak berwujud.

Tentu saja Po-ji sangat heran, “Aneh, mengapa ranting kayu itu tidak jatuh ke bawah, sungguh aneh bin ajaib ….”

Menyaksikan lwekang Ci-ih-hou yang tidak ada taranya, semua orang juga melengak.

Tapi Kah-sing Hoat-ong lantas menangkap ranting kayu itu dan diamat-amati dengan teliti, air mukanya tampak berubah beberapa kali, habis itu mendadak ranting kayu itu dibuangnya, tanpa bicara lagi ia terus melayang pergi.

Hanya sepotong kayu kecil saja ternyata dapat menggertak lari Kah-sing Hoat-ong yang termasyhur, kalau tidak disaksikan sendiri, siapa yang mau percaya akan cerita ini.

Oh Put-jiu lantas menjemput ranting kayu tadi, katanya dengan menyesal, “Wanpwe disuruh kemari oleh Suhu, sebenarnya masih ada satu permintaan lagi kepada Houya, tapi sekarang … sekarang ….”

“Siapa gurumu?” tanya Ci-ih-hou heran. “Dan ada permintaan apa lagi padaku?”

“Suhuku dikenal sebagai Jing-peng-kiam-kek ….”

“O, kiranya Pek Sam-kong,” kata Ci-ih-hou. “Ketika mengembara dunia kangouw waktu muda pernah aku dijamu olehnya …. Ai, kalau diceritakan kejadian ini sudah 30 tahun yang lalu.”

“Persoalan kedua yang diminta guruku adalah … adalah …,” mendadak Oh Put-jiu berpaling dan menuding Cui Thian-ki, sambungnya, “Mohon Houya menangkap perempuan ini.”

“Ai, ai, memangnya aku bersalah padamu?” seru Cui Thian-ki dengan tertawa genit. “Memangnya kau pun serupa si patung kayu, karena mempunyai seorang ayah yang suka menggoda orang perempuan dan telah kulukai?”

Setiap patah katanya selalu menusuk perasaan orang, bilamana ada orang yang berjingkrak gusar karena ucapannya, maka hatinya akan gembira sekali.

Siapa tahu watak Oh Put-jiu terlebih aneh daripada dia, ia dapat bersabar terhadap urusan apa pun, sesungguhnya sulit seperti hendak mendaki langit barang siapa bermaksud memancing kemarahannya.

Begitulah, betapa pun menusuk perasaan ucapan Cui Thian-ki dianggapnya seperti tidak mendengar saja, ia berkata pula dengan tenang, “Perempuan ini telah membawa lari cucu luar guruku ….”

“Hihi, jangan Houya percaya kepada ocehannya,” kata Cui Thian-ki dengan mengikik. “Anak yang nakal dan bandel itu siapa yang mau, diberi gratis juga akan kutolak, untuk apa kubawa lari dia?”

Makin mendengarkan makin gusar Po-ji, pikirnya, “Kiranya aku menghilang sama sekali tidak membuatnya khawatir. Rupanya hanya di depanku saja ia bilang sayang padaku, kenyataannya aku dianggapnya anak nakal dan menjemukan.”

Terlihat Oh Put-jiu tidak dapat menanggapi ucapan Cui Thian-ki. Sedang bola mata Ling-ji tampak berputar-putar dan juga tidak bersuara dan juga tidak bersuara, agaknya dia sengaja ingin melihat keributan apa yang akan terjadi lagi.

Maka Cui Thian-ki berucap pula, “Houya, coba lihat, si kepala besar ini berani sembarang mengoceh di depanmu dan memfitnah anak perempuan lemah semacam diriku ….”

“Jelas kamu yang ….”

Belum sempat Oh Put-jiu membela diri, segera Cui Thian-ki memotong sambil mengentak kaki, “Bagus, jadi kamu malah sembarangan menuduhku lagi. Mohon Houya suruh dia memberi buktinya, kalau tidak bisa, dia harus menyembah dan minta maaf padaku.”

Ia bicara dengan lagak seperti anak perempuan yang perlu dikasihani dan membuat siapa pun yang melihatnya akan iba.

Dengan menyesal Ci-ih-hou berucap, “Ya, jika kamu tidak dapat memberi bukti, memang tidak pantas kau nista dia.”

“Betul itu ….” Tukas Cui Thian-ki. Lalu ia tarik lengan baju Ling-ji dan berkata, “Cici yang baik, kumohon bantuanmu, coba, dia menista diriku sedemikian rupa, sungguh aku tidak … tidak ingin hidup lagi.”

Dengan lagak manja ia sandarkan kepala ke dada Ling-ji, mendadak ia cubit belakang pinggang Ling-ji dan berbisik, “Budak cilik, ke mana kau sembunyikan suami cilikku?”

Sebenarnya Ling-ji sedang tertawa ngikik, mendengar bisikan itu, tentu saja ia terkejut, namun ia tetap tertawa dan pada suatu kesempatan ia balas berbisik, “Siapa bilang?”

Dengan lagak menangis, Cui Thian-ki berbisik pula, “Jika bukan disembunyikan olehmu, dari mana kau tahu aku ini bini besarnya?”

Baru sekarang Ling-ji menyadari ucapannya tadi telah membocorkan rahasia perbuatannya membawa lari Pui Po-ji, diam-diam ia mengakui kelihaian orang.

Didengarnya Cui Thian-ki berbisik lagi padanya, “Jika tidak kau bantu mempermainkan si kepala besar ini, biar sebentar kubongkar perbuatanmu yang membawa lari anak lelaki orang.”

“Cara bagaimana mempermainkan dia?” tanya Ling-ji dengan lirih.

“Apa yang kukatakan harus kau dukung, si kepala besar itu harus digoda sehingga berjingkrak murka dan penuh rasa penasaran, begitu baru aku puas,” bisik Thian-ki.

Kedua anak perempuan itu saling berangkulan, yang satu menangis dan yang lain tertawa, semua orang merasa bingung, tapi tiada yang dengar percakapan mereka.

Segera Ling-ji berseru, “Hei, kepala besar, ayo keluarkan buktimu?”

“Wah, ini … ini ….” Oh Put-jiu agak kelabakan.

“Jika kamu tidak dapat memberi bukti, tidak pantas sembarangan kau tuduh orang,” omel Ling-ji. “Memangnya anak perempuan seperti kami ini boleh dicerca begitu saja? Ayo lekas kemari menyembah dan minta maaf padanya.”

Betapa pun sabarnya Oh Put-jiu terpancing juga sehingga muka merah padam, katanya, “Jika Houya tidak percaya, bolehlah Bok-long-kun dihadapkan ke sini, dia pasti tahu semua ini.”

Sambil mendekap dalam pelukan Ling-ji dan berlagak menangis, Cui Thian-ki berkata, “Ia benci padaku, dengan sendirinya ia bantu dirimu mencerca diriku.”

Semua orang merasa bantahannya cukup beralasan, ada yang tidak tahan dan segera berseru, “Betul, kepala besar itu harus menyembah dan minta maaf, agar selanjutnya dia tidak berani lagi menista kaum wanita.”

Yang bicara dengan sendirinya orang perempuan. Pada waktu menghadapi lelaki, orang perempuan terkadang memang dapat bersatu.

Oh Put-jiu merasakan berpuluh sorot mata sama terarah kepadanya, sorot mata yang mengandung permusuhan, sungguh gusar dan gemasnya tidak kepalang, sampai tangan pun terasa gemetar.

Sekilas melirik kepada pemuda kepala besar itu, sungguh gembira sekali Cui Thian-ki karena maksud tujuannya tercapai.

Ci-ih-hou berkata pula dengan menyesal, “Jika kamu memang tidak mempunyai bukti, tampaknya kamu terpaksa harus minta maaf padanya.”

Selagi Oh Put-jiu merasa tak berdaya dan mati kutu, sekonyong-konyong suara orang berteriak, “Siapa bilang tidak ada bukti. Ini dia buktinya.”

Suara itu datang dari belakang pintu angin sana, keruan semua orang sama terperanjat.

Maka tertampaklah seorang anak bermata besar, berhidung mancung, muka putih semu merah dan halus menyenangkan lari keluar dari balik pintu angin. Siapa lagi dia kalau bukan Pui Po-ji.

“Hei, Po-ji, kenapa kau pun berada di sini?” seru Oh Put-jiu, sungguh ia tidak mengerti bahwa Po-ji bisa berada di atas kapal ini.

Muka Po-ji tampak merah marah oleh urusan Cui Thian-ki, katanya, “Ceritanya agak panjang, biarlah kulampiaskan rasa dongkol paman dulu baru nanti kuceritakan.”

“Kamu hendak melampiaskan rasa dongkolku?” tanya Put-jiu heran.

“Betul,” sahut Po-ji, lalu ia berpaling menghadap Ci-ih-hou.

Akhirnya baru dapat dilihatnya dengan jelas wajah tokoh misterius ini. Terlihat orang berjubah satin ungu, memakai kopiah raja bertatah mutiara, mukanya putih bersih serupa ukiran batu kemala dan menampilkan semacam kekuatan yang membuat orang gentar. Dengan nyali Pui Po-ji ternyata juga tidak berani mengamati mata alis orang terlebih cermat.

Agaknya sudah sejak tadi Ci-ih-hou mengetahui di belakang tempat duduknya sana tersembunyi orang. Maka kemunculan Po-ji tidak membuatnya kaget atau heran, sikapnya tetap dingin dan tak acuh.

Po-ji memberi hormat, lalu berucap dengan kalimat bahasa sastra tinggi yang berarti, “Houya biasa hidup berkelana bebas di lautan lepas serupa malaikat dewata, apakah mungkin juga masih menghargai tata adat dunia ramai?”

Melihat seorang anak kecil bicaranya serupa seorang sastrawan, wajah Ci-ih-hou yang dingin menampilkan rasa heran, jawabnya perlahan, “Meski selama ini hidupku kian kemari di lautan lepas, namun aku bukan bangsa biadab, masa aku tidak menghargai tata adat?”

Nyata ucapannya cukup ramah dan memandang anak kecil itu serupa seorang tamu terhormat.

Po-ji menyembah pula dan berkata, “Pokok dasar tata adat kita sudah tercantum jelas dalam berbagai kitab, bilamana ada orang sengaja melanggar tata adat ini, menurut pendapat Houya apakah orang ini harus dijatuhi hukuman atau tidak?”

Bahwa seorang anak kecil seperti Pui Po-ji ternyata dapat bicara dengan lancar tanpa gentar serupa orang dewasa, semua orang sama kejut dan heran, juga merasa tertarik.

Siaukongcu sembunyi di belakang tirai dan tidak berani keluar, ia gelisah dan berulang mengentak kaki.

Terdengar Ci-ih-hou menjawab, “Jika ada orang berani melanggar tata adat, sepantasnya ia dihukum.”

“Kata pepatah, raja adalah Thian (Tuhan) hambanya, ayah adalah Thian anaknya, suami adalah Thian istrinya, jika ada istri tidak patuh pada kelakuan sebagai istri di depan suaminya, lalu apa yang harus dilakukan?” tanya Po-ji pula.

Tanpa terasa tersembunyi senyuman pada wajah Ci-ih-hou, katanya, “Anak sekecil dirimu masakah juga sudah punya istri?”

Semua orang ikut tertawa geli.

Siapa tahu Po-ji menjawab tegas, “Betul.”

“Oo, siapa istrimu, coba ceritakan,” ucap Ci-ih-hou dengan tertawa.

“Dia,” seru Po-ji sambil membalik tubuh dan menuding Cui Thian-ki.

Tudingan Po-ji ini seketika membuat heboh semua orang yang hadir di situ, ada yang terkejut, ada yang tertawa geli, ada yang tidak percaya.

Oh Put-jiu juga geleng-geleng kepala dan membatin, “Ai, mengapa anak ini bisa ngibul begini?”

Terdengar Ci-ih-hou menegas, “Dari mana kau tahu?”

Tiba-tiba Ling-ji menyela dengan tertawa ngikik, “Memang betul, pada waktu nona Cui ini menikah dengan anak ini, hamba dan Cu-ji melihatnya dengan jelas.”

“Sialan, budak mampus …,” omel Cui Thian-ki dengan tertawa.

“Memangnya kau berani menyangkal?” sahut Ling-ji dengan tertawa.

“Mengaku juga tidak menjadi soal, memangnya kenapa?” ujar Cui Thian-ki. “Ayo kemari, suami cilik, mari kita suami istri bermesraan sedikit.”

Dengan mendelik Po-ji mendamprat, “Jika kamu istriku, kenapa kau berani bersikap kasar terhadap pamanku, orang muda berani terhadap orang tua, ini namanya tidak sopan. Sekarang kamu sudah mengaku, tapi tadi menyangkal pernah menculik diriku, caramu bicara plinplan, itu namanya tidak dapat dipercaya. Setelah kamu menjadi istri orang, tapi masih berkeluyuran kian kemari, demi mencapai maksud tujuanmu, kamu tidak sayang menyerahkan diri sendiri kepada orang sebagai hadiah, ini namanya tidak tahu malu.”

“Aduhh, bengis amat caci makimu,” kata Cui Thian-ki dengan tertawa ngikik.

Po-ji tidak menggubrisnya, ia berpaling dan berkata pula terhadap Ci-ih-hou, “Nah, perempuan yang tidak sopan, tidak tahu malu dan tidak dapat dipercaya begini, apakah tidak pantas diberi hukuman seberatnya?!”

“Betul dan cara bagaimana akan kau hukum dia?” jawab Ci-ih-hou dengan tersenyum.

Po-ji berkedip-kedip, katanya, “Lebih dulu hukum dia menyembah dan minta maaf kepada pamanku, habis itu ….”

Tiba-tiba dari balik tabir sana seorang menyambung, “Habis itu menghukum pula dia kerja paksa tiga tahun di tempat kita ini, setiap hari dia harus membaca dan menulis.”

Suaranya terdengar kecil dan lembut, jelas suara Siaukongcu alis putri cilik.

Sejak kecil ia dimanjakan, selamanya tidak tahu apa artinya kerja paksa, yang diketahui cuma membaca dan menulis dan dirasakan sebagai pekerjaan yang paling susah di dunia ini.

Tentu saja semua orang tertawa geli mendengar anak dara itu memandang soal membaca menulis sebagai kerja paksa yang sukar.

Cui Thian-ki tertawa ngikik, katanya, “Kerja paksa begini apa alangannya kulakukan selama tiga tahun.”

“Baik,” kata Ci-ih-hou mendadak.

Cui Thian-ki jadi melengak, “Baik … baik apa?”

“Jika kau bilang tidak alangan, maka jadi kuhukum kau tinggal di sini untuk membaca dan menulis tiga tahun,” jawab Ci-ih-hou.

“Tapi … tapi aku cuma berkelakar saja,” bingung juga Cui Thian-ki.

“Di depanku mana boleh sembarangan berkelakar,” ucap Ci-ih-hou.

Sekali ini Cui Thian-ki tidak dapat tertawa lagi, ucapnya gelagapan, “Aku … aku ….”

Segera Ling-ji memberi tanda, serentak bersama Cu-ji dan dua gadis mengelilingi Cui Thian-ki dan berkata dengan tertawa, “Kenapa, apa kamu tidak terima?”

Bola mata Cui Thian-ki berputar, ia tahu ingin lari pun tidak bisa lagi, mendadak ia tertawa nyaring, katanya, “Baik juga. Sudah lama kulari kian kemari dan memang sudah merasa capek. Kalau dapat tetirah tiga tahun di sini justru sangat kuharapkan. Tapi suami istri harus berdampingan, maka suami cilikku juga harus tinggal bersamaku di sini.”

Siaukongcu berkeplok tertawa, serunya, “Hihi, tentu saja, dia harus tinggal bersamamu di sini.”

Tersentuh pikiran Oh Put-jiu, serunya girang, “Aha, memang betul, daripada dia keluyuran kian kemari tidak bekerja, suruh dia mendampingi Siaukongcu sekolah di sini memang sangat cocok.”

“Dan sekarang dia harus menyembah dulu kepadamu,” kata Po-ji.

“Wah, aku tidak berani disembah, bebaskan saja,” ujar Oh Put-jiu dengan tertawa.

Pada saat itulah mendadak Ci-ih-hou membentak perlahan, “Siapa itu?”

Serentak bergema suara dua orang, yang satu mendengus, “Tajam benar pendengaran Houya.”

Seorang lagi bergelak dan berkata, “Peristiwa aneh setiap tahun ada dan tahun ini bertambah banyak, ada bangku memanjat ke dinding, ada batu menggelinding ke atas bukit, ada anak kecil umur belasan menikahi nenek, haha, bisa copot gigiku Ong-loji menertawai.”

Suara kedua orang itu berbeda nada dan berseru sekaligus, namun suara mereka tidak sampai terbaur dan dapat didengar dengan jelas oleh setiap orang. Namun sebelum suara mereka bergema, tokoh dunia persilatan yang memenuhi anjungan kapal ini tiada seorang pun yang tahu kedatangan mereka, padahal cuma terpisah oleh dinding papan yang dekat.

Air muka Ci-ih-hou tampak berubah tenang ucapnya, “Kiranya kau ….”

Suara dingin tadi menjawab, “Ya, sengaja kudatang mengunjungi Houya.”

Seorang tampak muncul dengan langkah lebar, perawakannya tinggi kurus, muka pesat kehijauan. Meski bajunya penuh tambalan, baju biru ini tercuci bersih. Kedua tangannya juga seputih batu kemala, jari tengah kanan memakai sebentuk cincin permata yang aneh, sikapnya kelihatan tak acuh, langkahnya tidak menimbulkan suara.

Padahal tadi ada suara dua orang, tapi sekarang yang masuk cuma seorang. Tentu saja semua orang heran dan sama ingin tahu suara siapa yang bernada kocak tadi.

Si baju biru langsung menuju ke depan Ci-ih-hou, ia memberi hormat dengan merangkap kedua kepalan, sapanya, “Belasan tahun tidak berjumpa, daya pendengaran Houya ternyata belum mundur sedikit pun, selamat bahagia!”

“Ya, belasan tahun tidak bertemu, Ginkangmu ternyata tambah maju,” sahut Ci-ih-hou dengan tertawa. “Agaknya gelar jago Ginkang nomor satu selain dirimu sukar direbut orang lain.”

“Tahun yang lalu aku berlomba Ginkang selama sehari-semalam dengan Hong-tojin, akhirnya aku lari lebih cepat satu li lebih jauh,” tutur si baju biru. “Cuma biasanya aku tidak suka menonjolkan nama, tentang gelar Ginkang nomor satu tetap kuberikan kepadanya.”

Meski tak acuh caranya bicara, namun nadanya sangat bangga dan angkuh, seperti Ginkang orang lain sama sekali tidak terpandang olehnya.

Mendengar Ginkang si baju biru ini ternyata lebih unggul daripada Hong-tojin, semua orang terkejut, diam-diam sama meraba dan menduga-duga asal-usul tokoh aneh ini.

Hanya Siaukongcu saja yang merasa tidak senang terhadap sikapnya yang pongah, tiba-tiba ia mengomel, “Huh, sok membual!”

“Ya, meniup balon!” tukas Po-ji segera.

Mendadak si baju biru menoleh, sorot matanya menyapu sekejap pada wajah kedua anak kecil itu. Jelas terlihat oleh Po-ji dan Siaukongcu bahwa meski wajah orang pucat dingin, namun sorot matanya membawa rasa hangat serupa api membara.

“Hm, kedua anak kecil, apakah kalian maksudkan diriku?” jengek si baju biru.

Mendadak Cui Thian-ki memburu maju dan mengadang di depan Po-ji, katanya dengan tertawa, “Eh, orang tua jangan mengganas terhadap anak kecil. Sahabat yang datang bersamamu itu mengapa tidak ikut masuk?”

“Dia sudah masuk,” jawab si baju biru.

“Di mana?” tanya Cui Thian-ki sambil memandang sekelilingnya.

Tiba-tiba suara simpati tadi bergema dari depan, “Ini, di sini, di depanmu! Meski kau tidak melihatku, tapi kau dapat kulihat.”

Cui Thian-ki dan Pui Po-ji sama terperanjat, waktu mereka memandang ke depan, yang terlihat cuma si baju biru saja dan tiada orang lagi, wajah si baju biru tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, juga tidak mirip habis bicara. Namun jelas suara tertawa dan suara bicara tadi berkumandang dari depan, lantas siapa dia? Memangnya orang ini menguasai ilmu menghilang sehingga cuma terdengar suaranya dan tidak terlihat wujudnya?

Po-ji agak merinding sehingga tanpa terasa ia rapatkan tubuhnya dengan Cui Thian-ki.

Segera suara tertawa tadi berkumandang pula dari depan, “Haha, dua sejoli, cinta kasih, main ….”

Mendadak Po-ji berteriak, “Hei, dia … juga dia … kedua suara sama timbul dari dia …. Perut … perutnya dapat bicara.”

Suara tadi segera berhenti, sekilas sorot mata si baju biru menampilkan senyuman, namun sikap dan air mukanya tetap dingin.

Cui Thian-ki melengak, dipandangnya sejenak si baju biru, lalu berkeplok dan tertawa, “Aha, Ong Poan-hiap, luar dingin dalam hangat, setengah pendekar setengah latah. Sejak tadi seharusnya kuingat akan dirimu.”

“Teringat sekarang juga belum terlambat,” ucap si baju biru.

“Sudah lama terdengar Ong Poan-hiap adalah tokoh mahaajaib di dalam daftar orang kosen dunia persilatan, tak tersangka hari ini dapat berjumpa di sini, sungguh beruntung sekali,” kata Cui Thian-ki dengan tertawa.

“Dan kau sendiri bukankah juga satu di antara daftar tokoh ajaib dunia persilatan itu,” ujar si baju biru alias Ong Poan-hiap atau Ong setengah pendekar.

Po-ji memandangnya dengan mata terbelalak, tanyanya, “Ken … kenapa perutmu dapat bicara?”

Dengan geli Cui Thian-ki berkata, “Justru keahliannya bicara dengan perut inilah, dia berkeras menganggap dirinya sendiri ada dua orang, malahan memakai nama \’Hoa-sin-siang-hiap\’ (pendekar kembar) sehingga kawan Bu-lim sama bingung dan pusing dipermainkan olehnya, sebab siapa pun tidak tahu dengan jelas sesungguhnya dia ini satu orang atau dua orang?”

Dengan dingin Ong Poan-hiap menjawab, “Berhadapan dengan kesatria sejati aku ini Ong Poan-hiap, menghadapi manusia licik dan keji aku ini Ong Poan-ong (Ong setengah latah atau gila), dengan begini kan jauh lebih baik daripada caramu yang sebentar mengaku lelaki dan lain saat menjadi perempuan.”

“Dan kunjungan Ong-heng sekarang ini entah sebagai Ong Poan-hiap atau Ong Poan-ong?” tanya Ci-ih-hou dengan tersenyum.

“Jika Ong Poan-ong, tentu aku tidak datang kemari,” jawab Ong Poan-hiap. “Sebab urusan ini sebenarnya tidak ada sangkut paut apa pun denganku. Bila jauh-jauh aku mau kemari, tujuanku hanya ikut campur kepentingan orang saja.”

Sinar matanya berputar, mendadak ia tanya, “Siapa murid Pek Sam-kong?”

“Wanpwe adanya.” jawab Oh Put-jiu sambil menjura. “Entah Cianpwe ada petunjuk apa?”

“Apa sudah kau laksanakan pesan gurumu itu?” tanya Ong Poan-hiap.

“Sudah,” jawab Put-jiu. “Dan Houya pun sudah menerima dengan baik.”

“Bagus,” ucap Ong Poan-hiap. “Kalau sudah diterima, mengapa tidak lekas berangkat. Masa kau tidak tahu gawatnya urusan ini, terlambat satu hari pun berarti akan bertambah satu korban tokoh dunia persilatan kita?”

“Eh, kiranya kedatanganmu juga untuk urusan ini,” ucap Ci-ih-hou.

“Betul, kedatanganku memang juga untuk urusan ini,” sahut Ong Poan-hiap. “Maklum, saat ini yang mati di bawah tangan jago pedang berbaju putih itu seluruhnya sudah lebih 20 orang.”

“Masa begitu keji keparat itu?” Ci-ih-hou menegas dengan kening bekernyit.

“Dalam pertarungan pertama sejak keparat itu datang dari lautan timur, yang pertama terbunuh ialah Liu Siong, seterusnya dari Soatang ia terus menuju ke barat laut, dengan pedangnya yang berbentuk aneh hampir menyapu seluruh dunia persilatan Tionggoan, sampai Tiong-ciu-it-kiam Sau Bun-sing dan Jing-peng-kiam-kek Pek Sam-kong yang terkenal hebat ilmu pedangnya juga tidak dapat lolos di bawah pedangnya.”

“Hah, kakekku ….” jerit Po-ji dengan khawatir.

“Siapa kakekmu?” tanya Ong Poan-hiap dengan heran.

“Bocah inilah cucu guruku,” sela Oh Put-jiu dengan sedih.

Po-ji mencengkeram leher baju Oh Put-jiu dan bertanya, “Bagaimana keadaan kakek? Kau tahu bukan?”

Dengan menunduk Put-jiu menjawab, “Beliau mungkin sudah ….”

“Pek Sam-kong tidak mati,” potong Ong Poan-hiap.

Po-ji merasa lega, karena kejut dan girangnya, kaki pun terasa lemas dan hampir tidak sanggup berdiri lagi.

Oh Put-jiu juga kejut dan heran, tanyanya, “Jadi guruku tidak ….”

“Ya, meski Pek Sam-kong terkena pedang jago pedang baju putih, namun tidak tewas,” tutur Ong Poan-hiap. “Dia merupakan satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan nyawa di bawah pedang orang itu.”

Padahal Oh Put-jiu sendiri menyaksikan gurunya terkena tusukan pedang dan menggeletak, kini mendengar berita gurunya masih hidup, rasa kejut dan girangnya sungguh jauh melebihi Po-ji.

Tepi mendadak Ong Poan-hiap menghela napas, ucapnya perlahan, “Meski dia tidak mati, namun keadaannya lebih celaka daripada mati.”

“Sebab apa?” tanya Put-jiu cepat.

“Para kesatria Bu-lim saat ini sedang menunggui dia untuk tanya betapa ajaib ilmu pedang si jago baju putih itu,” kata Ong Poan-hiap. “Sebab hanya dia satu-satunya orang yang masih hidup setelah bertanding dengan jago pedang baju pulih sehingga di mana letak rahasia kelihaian ilmu pedang orang itu tentu tahu lebih banyak daripada siapa pun.”

“Dan apakah gu … guruku sudah bercerita?” tanya Put-jiu.

Ong Poan-hiap menggeleng kepala, ucapnya, “Justru lantaran si jago pedang baju putih itu bermurah hati padanya sehingga jiwa Pek Sam-kong dapat selamat, maka siapa pun yang mendesak dan bertanya padanya, sama sekali ia tidak mau membocorkan satu kata pun rahasia ilmu pedang lawan. Namun bilamana ia menyaksikan sesama kawan Bu-lim satu per satu menjadi korban keganasan pedang orang, sungguh hatinya sangat pedih sekali, maka aku diminta menyusul kemari …. Ai, jika Houya sudah menerima permintaannya, hendaknya selekasnya berangkat dan menghadapi dia.”

Untuk pertama kalinya Cui Thian-ki mendengar kisah kelihaian jago pedang berbaju putih itu, betapa pun ia ikut kebat-kebit, ucapnya, “Memangnya tokoh Bu-lim di Tionggoan tiada seorang pun mampu menahan dia?”

“Tidak ada,” kata Ong Poan-hiap.

“Satu orang tidak mampu, sepuluh orang atau seratus orang masakah tidak dapat membinasakan dia?” ujar Cui Thian-ki.

“Kemunculan orang ini konon justru ingin mempelajari intisari ilmu silat, orang yang dicarinya juga kaum kesatria yang terkenal gagah perkasa,” tutur Ong Poan-hiap dengan dingin. “Meski orang-orang ini sama mati di bawah pedangnya kan juga gugur demi kesucian ilmu silat. Jika membunuhnya dengan tenaga gabungan berpuluh orang, bukankah akan diejek oleh para kesatria di dunia ini?”

“Diejek atau disindir kan jauh lebih baik daripada mati konyol?” ujar Cui Thian-ki dengan gegetun.

Mendadak Po-ji berteriak, “Itu pun tidak seluruhnya benar. Ada sementara orang lebih suka mati daripada berbuat sesuatu yang memalukan, kematian begitu baru dapat dipuji sebagai kematian seorang kesatria sejati.”

“Ehm, anak baik,” Ong Poan-hiap manggut-manggut sambil membelai rambut anak itu.

“Ya, memang anak baik ….” Ci-ih-hou juga tersenyum.

“Huh, anak baik apa? Kukira dia cuma seorang anak bodoh,” kata Cui Thian-ki.

“Sudahlah, jangan omong iseng lagi,” sela Ong Poan-hiap. “Jika Houya mau turun tangan, sekarang juga silakan berangkat.”

Ci-ih-hou terdiam sejenak, dari tangan seorang gadis cantik di sebelahnya, diambilnya sebatang pedang.

Di ruangan ini hampir setiap bagian penuh benda mewah, sampai perhiasan yang dipakai anak gadis itu juga batu permata yang sukar dinilai, hanya pedang ini saja sarung pedangnya ternyata sangat jelek dan sederhana.

Dengan kedua tangan Ci-ih-hou memegang dan mengamati pedang itu, setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia memanggil Kin Ji, si muka kuda tadi, “Coba kemari!”

Si muka kuda ini lagi kebingungan oleh apa yang dilihatnya tadi, panggilan Ci-ih-hou membuatnya terkesiap, jawabnya, “Houya ada … ada pesan apa?”

Meski di dalam hati enggan maju, namun tanpa kuasa kaki sudah melangkah ke depan.

Perlahan Ci-ih-hou berucap pula, “Akan kuhitung tiga kali, habis itu segera akan kuserang padamu dengan pedang ini, jika kau darat mengelak, segera aku akan mendampingimu ke negerimu, tapi bila kau tidak mampu menghindar, seranganku juga takkan membahayakan jiwamu, aku cuma minta jasamu berangkat ke Tionggoan tutuk melaksanakan suatu urusan bagiku.”

“Hanya satu kali serangan?” Kin Ji menegas dengan kejut dan heran.

“Ya, hanya satu jurus serangan,” kata Ci-ih-hou. “Akan kuserang ketujuh Hiat-to yang terletak di antara Koh-cing-hiat dan Lu-coan-hiat, sama sekali tak ada serangan ikutan lain.”

Diam-diam Kin Ji bergirang, pikirnya, “Lebih dulu ia sudah memberitahukan bagian yang akan diserangnya, apalagi cuma satu jurus serangan saja. Aku bukan orang mampus, masa tidak mampu mengelak?”

Dengan suara lantang segera ia menjawab, “Baik!”

Perlahan Ci-ih-hou mulai menghitung, “Satu … dua ….”

Serentak Kin Ji alias si muka kuda mencurahkan segenap perhatiannya pada pedang yang dipegang Ci-ih-hou.

Dan begitu Ci-ih-hou mengucap “tiga”, tubuh tanpa bergerak, tapi pedang terus menusuk ke depan dengan perlahan.

Gerak pedang ini sangat lambat dan tanpa variasi, bahkan jelas takkan mencapai bagian yang diarah. Sekalipun Kin Ji tidak mengelak dan menghindar juga takkan tertusuk oleh pedang itu.

Keruan Kin Ji melenggong, “Memang terhitung jurus serangan apa ini?”

Belum habis berpikir, gerak pedang yang lugas dan lamban itu mendadak memancarkan cahaya kemilau, bagian yang menjadi sasaran yang jelas takkan tercapai itu mendadak berubah dapat dicapainya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: