Kumpulan Cerita Silat

08/01/2008

Golok Yanci Pedang Pelangi [08]

Filed under: +Golok Yanci Pedang Pelangi — ceritasilat @ 1:09 am

Golok Yanci Pedang Pelangi [08]
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada CloudRs)

Sedemikian gelisahnya Ho Leng-hong waktu itu, hampir saja ia merengek, memohon kepadanya agar jangan memberi jawaban negatif, sebab jawabannya itu berarti maut baginya.

“Mengapa kau tidak menjawab?” tanya gadis itu lagi, “sebenarnya dia benar-benar Nyo Cu-wi atau bukan?”

Sekali lagi Pang Wan-kun mendongakkan kepalanya menatap Ho Leng-hong, akhirnya ia menarik napas panjang, “Dia…dia memang benar…”

Baru empat patah kata itu diucapkan, matanya lantas berkaca-kaca, mendadak ia menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

Pengakuan ini sungguh di luar dugaan Ho Leng-hong, ia tak dapat mengatakan terkejut ataukah bergirang? Untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri mematung.

Ia tahu tak mungkin Pang Wan-kun salah mengenali suaminya, apalagi dalam dinding penjara tercantum pula kata-kata “kekasih masuk istana es, aku masuk penjara”, jelas Pang Wan-kun sudah mengetahui akan jejak Nyo Cu-wi, tapi mengapa mengakui seorang asing sebagai suaminya.

Cuma tak ada waktu lagi bagi Ho Leng-hong untuk memikirkan sebab musababnya, cepat-cepat ia berlagak sedih dan terharu, katanya dengan suara gemetar, “Wan-kun, terima kasih pada langit dan bumi, ternyata kau masih hidup, sudah lama amat menderita kucari dirimu.”

Si gadis memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, lalu memandang pula Pang Wan-kun, setelah itu sambil tertawa katanya, “Di dunia ini memang terlalu banyak kejadian aneh, tahun yang lalu seorang Nyo Cu-wi telah mati dan tahun ini muncul lagi seorang Nyo Cu-wi, ternyata kedua orang Nyo Cu-wi itu semuanya adalah asli!”

Pang Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Tahun yang lalu aku hanya mendengar beritanya saja dan tidak kusaksikan dengan mata kepala sendiri, setelah aku melihat sendiri sekarang, kuyakini dia inilah yang asli.”

“Mau yang asli juga boleh, yang palsu juga tak mengapa, asal kau bersedia mengakuinya, itu sudah cukup. Cuma setelah kau akui keasliannya, maka segala sesuatunya harus dilaksanakan menurut peraturan lembah ini, tentunya kau tak akan menyesal bukan?”

“Aku tak akan menyesal!”

“Baik,” kata nona itu kemudian sambil mengangguk, “kuberi waktu semalam untuk kalian, sebelum fajar menyingsing besok harus sudah ada keputusan.”

Diberinya tanda di atas selembar dokumen, lalu katanya lagi, “Oleh karena Nyo Cu-wi adalah suami Pang Wan-kun, untuk sementara waktu pelaksanaan hukuman Khek-sin ditangguhkan, pengawasan sementara waktu diserahkan kepada Pang Wan-kun dan harus memberi laporan sebelum fajar menyingsing besok. Sekarang bawa menghadap Pang Goan…”

“Lapor Kokcu,” cepat Pang Wan-kun berkata, “Pang Goan adalah saudara kandungku, tolong Kokcu bersedia menyerahkan tanggung jawab pengawasan atas dirinya kepadaku.”

Tapi gadis itu menggeleng, “Dia adalah orang yang telah divonis bersalah, menurut peraturan lembah, meski saudara juga tidak ada ampun sesuai peraturan kita…”

“Kokcu, mengingat jasaku yang melayani Kokcu selama setahun ini, sudilah kiranya meluluskan permintaanku ini?”

Dengan dahi berkerut gadis itu termenung sebentar, akhirnya ia berkata, “Baiklah, akan kuberi waktu sehari kepadamu, termasuk Hui Beng-cu kuserahkan semua pertanggungan jawabnya padamu, semoga kalian berunding baik dan memberi laporan kepadaku sebelum fajar besok.”

“Terima kasih Kokcu,” cepat Pang Wan-kun memberi hormat.

Gadis itu menutup dokumen-dokumennya dan menarik napas panjang seperti ada maksud tapi seperti tak sengaja melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong lalu tersenyum, kemudian bangkit dan mengundurkan diri.

“Jit-long, mari ikut aku,” bisik Pang Wan-kun kemudian.

“Perlukah kita menunggu Toako sekalian?”

“Tidak perlu, sebentar mereka akan datang sendiri ke tempatku.”

Sesudah mengundurkan diri dari ruang tengah mereka berbelok ke barat dan melewati beberapa halaman, akhirnya sampai di depan sebuah rumah tembok kecil yang indah.

Pang Wan-kun membuka pintu dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam, dalam ruang tengah tampak sebuah patung dewi Kwan-im, asap dupa memenuhi seluruh ruangan tapi tempatnya bersih dan teratur rapi.

Banyak persoalan yang mencurigakan memenuhi benak Leng-hong, tak tahan lagi ia tanya, “Wan-kun, di sinikah tempat kediamanmu? Leluasakah kita bercakap-cakap di sini?”

“Jangan gelisah dulu, duduklah, setelah memasang hio di depan Budha baru kita bicara lagi.”

Terpaksa Leng-hong harus menahan sabar dan mempersilakan Pang Wan-kun mencuci tangan, memasang hio menyembah Budha, semua gerak-geriknya sangat lamban tapi penuh sujud, untuk memasang hio dan berdoa di depan patung suci saja membutuhkan waktu sekian lama.

Leng-hong berusaha menenangkan hatinya, menurut pendapatnya selama setahun hidup di lembah Mi-kok, Pang Wan-kun tentu banyak mengalami suka-duka, pengakuannya kepada dirinya yang Nyo Cu-wi gadungan pun pasti ada alasan tertentu.

Betul juga, ketika selesai berdoa, ucapan pertama dari Pang Wan-kun adalah, “Aku tahu kau bukan Cu-wi, bahkan Kokcu juga tahu, maka sekarang kita tak perlu berbohong lagi.”

Sedikit banyak malu juga Ho Leng-hong, katanya sambil tertawa, “Leluasakah kita berbicara di sini nona?”

“Sangat leluasa, kecuali beberapa orang kepercayaan Kokcu, orang lain tak berani sembarangan masuk ke sini, jangan kuatir.”

Leng-hong manggut-manggut, katanya, “Nona Pang, pertama-tama hendak kuterangkan dulu kepadamu, meski aku bukan Nyo Cu-wi yang sesungguhnya, akan tetapi kakakmu betul-betul adalah majikan Cian-sui-hu.”

“Aku tahu!”

Maka secara ringkas Leng-hong menceritakan asal-usulnya dan bagaimana caranya ia dipergunakan untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi dan tinggal di Thian-po-hu.

Pang Wan-kun mendengarkan semua keterangan itu dengan tenang, seakan-akan kejadian tersebut telah berada dalam dugaannya.

Setelah Leng-hong selesai bercerita, Wan-kun berkata sambil menghela napas panjang, “Semua ini adalah permainan busuk Ci-moay-hwe, kita selangkah demi selangkah telah masuk ke dalam perangkap mereka.”

“Apakah kalian suami isteri juga tertipu oleh Ci-moay-hwe?” tanya Leng-hong tercengang.

Wan-kun tertawa getir, “Siapa bilang bukan, justru mereka yang memberitahukan alamat Mi-kok ini kepada Jit-long…”

Bicara sampai di sini, Pang Goan dan Hui Beng-cu secara beruntun telah di antar pula ke tempat Pang Wan-kun, ternyata yang mengantar mereka adalah Pui Hui-ji, gadis Bok-lan-pek-tui yang bertugas menjaga pintu itu.

Perjumpaan antara kakak beradik ini sedikit banyak menimbulkan kesedihan bagi kedua pihak, dalam penuturan pengalaman kemudian diketahuilah cara bagaimana Pang Wan-kun suami istri meninggalkan Thian-po-hu…

Ternyata ketika Pang Wan-kun menikah dengan Nyo Cu-wi, meski ia tahu kejadian yang menimpa Nyo-keh-hengte dalam Mi-kok, namun ia sendiri tak tahu di manakah letak lembah tersebut, setelah menikah iapun tak pernah menceritakan hal ini kepada Nyo Cu-wi.

Waktu ia mengetahui dirinya sedang mengandung dan hendak memberitahukan kabar gembira ini kepada suaminya, tiba-tiba Nyo Cu-wi meninggalkan surat dan pergi dari rumah.

Yang lebih mengherankan lagi, ternyata dalam surat Nyo Cu-wi mengetahui bahwa isterinya telah mengandung, bahkan memberi pesan baik lelaki atau perempuan yang bakal dilahirkan, pokoknya Thian-po-hu sudah mempunyai keturunan, sedang ia akan meneruskan perjuangan saudara-saudaranya untuk mencari ilmu golok peninggalan Ang-ih Hui-nio agar nama baik Thian-po-hu bisa dibangun kembali, seandainya dalam setahun ia tidak pulang, maka Pang Wan-kun dipersilakan menjadi majikan Thian-po-hu.

Pang Wan-kun segera putar otak memikirkan persoalan itu, ia merasa hanya pelayan Bwe-ji yang mengetahui dia sedang mengandung, ketika Bwe-ji ditanya baru diketahuinya bahwa pelayan itu mempunyai hubungan cinta gelap dengan Nyo Cu-wi, bahkan diketahui juga sebelum meninggalkan rumah, Nyo Cu-wi pernah berunding secara rahasia dengan Thian Pek-tat, sedang Thian Pek-tat juga sangat banyak mengetahui kejadian di Thian-po-hu, kemungkinan besar dia yang telah membocorkan alamat Mi-kok itu kepada Nyo Cu-wi.

Ketika Thian Pek-tat didesak kemudian, akhirnya diketahui lembah Mi-kok teretak di tengah pegunungan Tay-pa-san.

Tapi menurut pengakuan Thian Pek-tat, katanya Nyo Cu-wi sudah mengetahui tentang peristiwa Ang-ih Hui-nio, iapun tahu keenam saudaranya pergi tak kembali lantaran persoalan itu, cuma keluarga Nyo belum ada keturunan dan lagi ia merasa mempunyai tanggung jawab besar, maka rahasia tersebut selalu dipendam dalam hati saja.

Waktu itu Pang Wan-kun sendiri tak sempat menganalisa benar atau tidaknya persoalan itu, waktu itu juga ia berangkat ke Tay-pa-san.

Sepanjang jalan ia tidak berhasil menemukan jejak Nyo Cu-wi, tapi merasa seolah-olah ada orang yang secara diam-diam memberi petunjuk kepadanya, sehingga tanpa susah payah ia berhasil menemukan Mi-kok.

Setelah di lembah ini ia baru tahu Nyo Cu-wi telah tiba di situ sehari sebelumnya, bahkan telah memilih jalan “menerobos istana es” dan “menembus liang api”…karena itulah kedua suami isteri tak pernah berjumpa muka lagi.

Pang Wan-kun disekap dalam penjara, ia berpikir dengan cermat, demi janin dalam kandungannya sambil menahan rasa sedih terpaksa ia memilih untuk menetap dalam lembah sambil menunggu kesempatan…

Setelah mendengar kisah tersebut, Ho Leng-hong bertiga menghela napas terharu, di antaranya Hui Beng-cu yang sebenarnya tidak mengetahui tentang diri Ho Leng-hong, sekarang baru tahu bahwa dia bukan Nyo Cu-wi, sebab itu dalam kesedihan terselip juga beberapa bagian rasa kaget dan tercengang.

Dengan air mata bercucuran Pang Goan berkata, “Adikku, kau terlampau bodoh, setelah mengetahui kepergian Cu-wi waktu itu, sepantasnya kalau kaupulang dulu ke rumah untuk berunding denganku.”

“Sesungguhnya akupun berhasrat pulang ke rumah untuk minta petunjuk Toako, tapi berhubung waktu sangat mendesak dan tidak memungkinkan diriku pulang dulu ke Cian-sui-hu, dan lagi setibanya di Tay-pa-san akupun merasa mulai terikat oleh sesuatu, maka seperti sadar-tak-sadar akupun menerobos masuk ke dalam lembah ini.”

“Kalau demikian, kemungkinan besar Thian Pek-tat adalah orangnya Ci-moay-hwe,” kata Leng-hong, “Tapi mengapa ia menyerobot Yan-ci-po-to itu dan diantar ke Mi-kok sini?”

“Bajingan itu banyak tipu muslihatnya, delapan bagian dia adalah mata-mata bermuka dua, mulut untuk Ci-moay-hwe dan kemudian berpihak kepada lembah Mi-kok…”

Tiba-tiba hatinya tergerak, katanya lagi, “Ah, benar! Bukankah Mi-kok melarang anggotanya keluar dari tempat ini dan tak pernah berhubungan dengan dunia luar? Kenapa Thian Pek-tat beserta Hui-goan Taysu dari Siau-lim-pay dapat mengadakan kontak dengan pihak Mi-kok?”

Pang Wan-kun menghela napas, katanya, “Sungguhpun masalah ini merupakan suatu rahasia besar, kalau aku tidak berdiam selama setahun di sini, mungkin rahasia ini tak akan kita ketahui untuk selamanya.”

Tiga orang lainnya hanya diam saja dan mendengarkan kisah itu selanjutnya.

Dengan sedih Pang Wan-kun berkata pula, “Sejak Ang-ih Hui-nio mengasingkan diri dalam lembah Mi-kok, ia tak pernah berhubungan dengan dunia luar, iapun berharap lembah tersebut dapat menjadi surgaloka di luar keramaian manusia, sebab itu dibuatlah suatu peraturan yang melarang ahli warisnya meninggalkan Tay-pa-san, tapi orang lain juga dilarang memasuki lembah ini, barang siapa masuk ke lembah ini, bila orang itu tidak berdosa, hanya ada dua pilihan baginya, yakni menetap dalam lembah atau memasuki istana es dan menembusi liang api untuk mencari hidup…”

Ia tidak memberi penjelasan tentang apa yang dimaksudkan sebagai “memasuki istana es” dan “menembusi liang api” tersebut, sambungnya pula, “Tapi belakangan ini, berhubung tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu berturut-turut mendatangi lembah Mi-kok, rupanya kejadian ini menimbulkan perhatian Ci-moay-hwe, merekapun mengutus jago-jago lihainya untuk menyeludup ke lembah Mi-kok, mereka kebanyakan berpura-pura ingin menetap di situ, padahal sesungguhnya ingin menarik perhatian anggota Mi-kok agar bersedia bekerja sama dengan pihak mereka, lalu dengan ilmu golok yang tiada tandingannya dari Ang-ih Hui-nio mereka juga akan merajai dunia persilatan. Untunglah Kokcu lembah ini Tong Siau-sian, meski masih kecil namun kecerdasannya melebihi orang lain dan lagi sifatnya tawar terhadap segala macam keramaian. Maka begitu orang-orang Ci-moay-hwe mengetahui tak mungkin menarik perhatiannya, diam-diam merekapun membeli beberapa orang Popo dan tokoh berbenang biru untuk membantu mereka mendesak kepada Tong Siau-sian agar terjun kembali ke dunia persilatan, tapi Kokcu tak mau, secara diam-diam mereka lantas melakukan segala persiapan dan mengadakan kontak dengan dunia luar, kupikir dengan cara inilah Thian Pek-tat serta Hui-goan Taysu berhasil mengadakan kontak dengan pihak Mi-kok.”

“Apakah Kokcu Tong Siau-sian tidak mengetahui persoalan ini?” tanya Leng-hong.

“Ia telah mendapat kabar selentingan tentang itu, Cuma lantaran tak ada bukti, dan lagi tidak tahu berapa banyak orangnya yang telah berkomplot dengan orang luar, ia tidak mengambil tindakan untuk sementara waktu, dan lagi sekalipun kedudukannya sebagai Kokcu amat terhormat, hakikatnya ia berada dalam posisi terjepit, ia sangat membutuhkan bantuan orang lain, kalau tidak, tak mungkin dia mau menuruti permintaanku setelah diketahui bahwa kau adalah Nyo Cu-wi gadungan.”

“Adikku, bagaimana hubunganmu dengan Tong Siau-sian?” tanya Pang Goan.

“Dia sangat baik kepadaku, selama setahun ini ia selalu melindungi dan memperhatikan diriku, sekalipun sepintas lalu tampak bagaikan majikan dan bawahan, namun kenyataannya kami adalah sahabat karib.”

“Kalau begitu bagus sekali,” kata Pang Goan dengan gembira, “kita bersedia membantunya untuk menyelidiki siapa-siapa yang telah dibeli orang luar, bahkan membantunya juga untuk menangkap agen Ci-moay-hwe, tentu saja bila diapun bersedia menukar ilmu golok sakti Ang-ih Hui-nio kepada kita.”

Tapi Pang Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “Urusan ini tak segampang apa yang kaubayangkan, sebagai seorang Kokcu, mana mungkin dia meminjam kekuatan luar untuk menindak anggota perguruannya sendiri? Lagipula, jumlah anggota lembah yang berkomplot dengan Ci-moay-hwe tentu tidak sedikit jumlahnya, bila kita melakukan suatu tindakan, bukannya membantu, malah kemungkinan besar akan mencelakainya.”

“Kalau begitu, apa maksudnya menyerahkan kami kepadamu?” tanya Pang Goan.

“Oleh karena aku bersedia menetap di lembah ini, maka menurut peraturan lembah, kalian sebagai sanak keluargaku mendapat kesempatan juga untuk tinggal di sini, maksudnya tentu saja agar aku bisa mengajak kalian menetap di sini dan membantu dia.”

“Ah, mana mungkin?” kata Pang Goan, “kalau kami tinggal di sini, bukankah selama hidup tak mungkin keluar lagi? Bagaimanapun juga, tidak seharusnya kita meninggalkan hasil karya leluhur untuk hidup dalam lembah ini. Aku orang pertama yang tidak setuju dengan usul tersebut.”

“Bagaimana pula jika kami tidak bersedia menetap di sini?” tanya Leng-hong kemudian.

Pang Wan-kun tertawa getir, “Waktu itu karena memikirkan anakku, maka kupilih untuk tetap tinggal di sini, sungguhpun aku tak ingin menetap sampai tua di lembah ini, akan tetapi jika tidak bersedia menetap, kita hanya ada satu jalan, yakni menembus istana es dan menerobos liang api, padahal jelas jalan ini adalah jalan kematian.”

“Apa yang dimaksudkan dengan memasuki istana es dan menerobos liang api?”

“Lembah ini letaknya sangat istimewa, tempatnya persis di atas sumber air dan liang api yang berdekatan letaknya, di belakang lembah situ ada sebuah jalan tembus, separuh di antaranya berhawa sangat dingin dan sepanjang tahun diliputi oleh salju beku yang tebal dan tak pernah cair, tempat itu dinamakan ‘Peng-kiong’ (istana es), sukar bagi orang untuk hidup selama satu jam di sana, kemudian separuh jalan berikutnya orang akan melewati sebuah jalan yang panasnya bagaikan dalam neraka, dari bawah lembah tiada hentinya menyembur api dahsyat, jangankan tubuh manusia, besipun akan meleleh bila berada di situ, tempat itu disebut ‘liang api’, bila orang tak mau menetap di sini, kecuali menembusi istana es dan liang api, jangan harap bisa keluar dari Mi-kok ini!”

“Apakah tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu memilih jalan ini semua?” tanya Leng-hong.

“Benar!” Wan-kun mengangguk, “mereka semua tewas dalam istana es, tak seorangpun berbasil lolos dalam keadaan selamat.”

“Belum pernah ada orang bisa melewati jalan itu dengan selamat?”

“Belum pernah, semenjak Mi-kok ini ada, belum pernah ada seorang pun yang bisa melewati istana es dan liang api dengan selamat, sebab itu dalam lembah ini tersiar sebuah syair yang sangat populer, katanya, ‘Berlatih golok dalam istana es, melatih sukma dalam liang api’!”

“Apa pula arti dari ucapan tersebut?” tanya Leng-hong tercengang.

“Maksudnya semua jurus ilmu golok maha sakti peninggalan Ang-ih Hui-nio yang bernama Ang-siu-to-hoat (rahasia ilmu golok baju merah) berada dalam gua salju tersebut, barang siapa masuk ke istana itu maka dia pasti akan tertarik perhatiannya oleh kelihaian ilmu golok yang terdapat di situ, tapi bila ingin menguasai seluruh jurus serangan ilmu golok tersebut, paling sedikit seorang membutuhkan waktu selama satu jam, bila ilmu golok itu berhasil diingat semua, tentu orangnya akan mati kedinginan lebih dulu. Mengenai kata yang terakhir, tentu saja berarti kalau orang tidak mati kedinginan dia akan mati terbakar dalam liang api, sebab itu barang siapa memasuki istana es dan liang api, belum pernah ada yang berhasil keluar dalam keadaan selamat.”

Sesudah mendengar keterangan tersebut, perasaan mereka bertiga mulai menjadi murung dan berat.
Lama sekali Ho Leng-hong termenung, kemudian sambil menghela napas katanya, “Wah, dingin dan panas merupakan siksaan yang tak dapat ditahan oleh tubuh manusia, agaknya terpaksa kita harus memilih jalan menetap di lembah ini.”

Hui Beng-cu yang sejak tadi terus membungkam tiba-tiba menutupi wajahnya sambil menangis terisak, “Kalian tentu saja tak mengapa karena tak ada yang dipikirkan, tapi bagaimana dengan diriku? Ayahku berada dalam cengkeraman Ci-moay-hwe, kalau aku tak pulang, betapa akan gelisahnya beliau?”

Leng-hong mengangkat bahu, “Ya, urusan sudah menjadi begini, gelisahpun tak ada gunanya, lebih baik kita mengirim surat kepada ayahmu dan mengundang beliau agar menetap pula di Mi-kok ini, dengan demikian semua orang bisa hidup senang di tempat yang indah bagaikan surgaloka ini.”

“Hei, saat macam apakah sekarang ini? Tak nyana kau masih ada pikiran untuk bergurau?” tegur Pang Goan.

Ho Leng-hong tertawa, “Sekalipun sedih, apa pula manfaatnya? Lebih baik sebelum hujan sedia payung, kita membuat dulu perhitungan yang paling jelek.”

Tiba-tiba ia mengalihkan pokok pembicaraan sambil berpaling tanyanya, “Nyo-hujin, tadi kaubilang demi anakmu maka kau memilih tetap tinggal di sini, entah anakmu itu lelaki ataukah perempuan?”

“Laki-laki, baru berusia setengah tahun!”

“Mengapa tidak kau gendong keluar untuk menjumpai pamannya?”

“Tentang ini…” Pang Wan-kun ragu-ragu sejenak, lalu menambahkan, “bocah itu tak ada di rumah, ia dibawa Kokcu pergi bermain.”

Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Ya, Kokcu amat sayang kepada bocah itu, setiap hari ia pasti mengajak bocah itu bermain.”

“O, baikkah Kokcu itu kepadamu?” kembali Leng-hong bertanya.

“Sudah kukatakan tadi, meskipun kami tampak sebagai majikan dan bawahan, hakikatnya hubungan kami akrab seperti sahabat.”

Leng-hong manggut-manggut, “Ya, begitu sayangnya dia kepada anakmu, tentu saja kaupun tidak dianggapnya sebagai orang luar, buktinya kau diperbolehkan berdiam dalam gedung belakang, malahan tanpa sangsi dia serahkan kami kepadamu.”

“Memang begitulah keadaannya!”

“Menurut penglihatanku, Kokcu yang sekarang ini Tong Siau-sian seorang gadis yang amat cerdik, bukannya ia tak ingin membasmi mata-mata dari Ci-moay-hwe, soalnya kekuatannya sangat minim, maka terpaksa ia berlagak tuli dan pura-pura tidak tahu orang-orangnya telah mengadakan kontak rahasia dengan Ci-moay-hwe.”

“Ya, memang begitulah.”

“Ia begitu baik kepada Hujin, dengan kamipun boleh dibilang mempunyai musuh yang sama, berbicara menurut keadaan umumnya, sepantasnya kita bekerja sama menghadapi Ci-moay-hwe, cuma tidak diketahui bantuan apakah yang ia perlukan?”

“Apakah kau bicara dengan sungguh-sungguh!”

“Tentu saja sungguh-sungguh!” sahut Leng-hong.

Dengan gembira Wan-kun berkata, “Jika kalian bersedia tinggal di sini, sekarang juga kulaporkan soal ini kepada Kokcu, mengenai cara bagaimana kerja sama kita untuk menghadapi mata-mata Ci-moay-hwe, kita rundingkan lagi dikemudikan hari, setuju?”

“Tentu saja, kita sudah bertekad tetap tinggal di sini…” kata Leng-hong tanpa ragu-ragu.

“Tidak! Aku tidak setuju!” tiba-tiba Pang Goan menyela.

“Akupun tidak setuju!” sambung Beng-cu.

“Toako, kenapa kau berkeras kepala,” ujar Leng-hong, “Selama gunung tetap hijau, tak usah takut kekurangan kayu bakar, dalam istana es dan liang api kita hanya akan menemukan jalan kematian, apa gunanya…”

“Jangankan cuma istana es dan liang api, sekalipun gunung golok atau kuali minyak mendidih akupun tidak takut, kalau mau tinggal di sini boleh kau saja tinggal di sini sendirian, aku dan Siau-cu bertekad akan menerobos istana es dan liang api itu.”

“Toako, dengarkan dulu perkataanku…” pinta Wan-kun.

“Tidak usah banyak bicara, pokoknya sebagai seorang lelaki sejati aku lebih rela mati dalam istana es daripada hidup sampai tua di lembah terkurung ini.”

“Nyo-hujin, tak perlu kaubujuk dia lagi,” kata Leng-hong, “bila ia bertekad hendak menjadi lelaki sejati dan lebih suka menjadi seorang yang tidak bisa dipercaya dan tidak setia kawan, biarkanlah ia pergi.”

“Kau mengatakan siapa yang tak bisa dipercaya dan tidak setia kawan?” teriak Pang Goan marah.

“Tentu saja kau. Aku ingin tanya, sewaktu kau menerima pesan dari keluarga Nyo untuk bantu Thian-po-hu berdiri kembali dengan jaya, sudahkah tugas itu terselesaikan bila jiwamu kau korbankan dalam istana es liang api, bukanlah tindakanmu itu berati tidak memenuhi janjimu kepada keluarga Nyo?”

Pang Goan melenggong dan terdiam.

Leng-hong berkata pula, “Secara beruntun tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu tewas dalam Mi-kok, satu-satunya keturunan yang masih ada sekarang masih kecil, dengan menahan segala siksaan dan penderitaan adikmu menyambung hidup demi mempertahankan keturunan keluarga Nyo, sebaliknya kau tidak mempedulikan nasib adikmu dan anaknya, tapi demi kepuasan diri sendiri hendak memasuki istana es dan liang api. Kematianmu tak akan menjadi soal, tapi meninggalkan adikmu dan anaknya bukan suatu tindakan yang terpuji.”

Pang Goan terbelalak dan tak dapat mengucapkan sepatah katapun, akhirnya sambil menghela napas ia menundukkan kepalanya.

Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian katanya lagi, “Silakan memberi laporan kepada Kokcu, katakanlah bahwa kami bersedia menetap di lembah ini.”

Wan-kun sangat gembira, buru-buru ia mengundurkan diri.

Setelah Pang Wan-kun pergi, dengan suara rendah Leng-hong berbisik, “Lotoako, mengapa kau pintar sepanjang waktu tapi bodoh sesaat? Apakah tidak kaulihat bahwa adikmu tak bebas bergerak dan berada di bawah ancaman orang lain?”

“Sungguhkan perkataanmu?” tanya Pang Goan terperanjat.

Leng-hong segera berkata kepada Hui Beng-cu, “Duduklah dekat pintu sana, perhatikan adakah orang mencuri dengar, kita harus berunding secepatnya untuk menghadapi segala kemungkinan.”
Beng-cu manggut-manggut, ia lantas duduk di pinggir pintu dan bertugas mengawasi keadaan di sekitar sana.”

“Ho-lote, darimana kautahu kalau Wan-kun telah dikuasai orang lain?” tanya Pang Goan cemas.
“Dengan jelas ia tahu aku bukan Nyo Cu-wi, tapi ia mengakui diriku sebagai Nyo Cu-wi, kejadian ini sudah amat mencurigakan, seandainya ia ingin bertemu dengan kita karena ingin merundingkan cara meloloskan diri, semestinya hal itu sudah ia sampaikan, tapi bukan rencana kabur yang dirundingkan, ia malah menganjurkan kita untuk bergabung dengan pihak Mi-kok, di sinilah titik kelemahannya yang paling besar.”

Pang Goan mengangguk berulang kali.

Leng-hong berkata lebih lanjut, “Kokcu Tong Siau-sian adalah seorang nona yang cerdik, meski usianya masih muda namun tindak tanduknya cukup matang dan berpengalaman, kalau dibilang hubungannya dengan adikmu sangat akrab, sudah sepantasnya ia membiarkan anak Wan-kun menjumpai pamannya, anehlah kalau dalam keadaan begini dia malah membawanya dan diajak bermain ke tempat lain? Dari sini dapat diketahui bahwa mengajaknya bermain cuma alasan, yang benar adalah menjadikan bocah itu sebagai sandera, agar adikmu tunduk dan bersungguh-sungguh melaksanakan perintahnya.”

“Tapi kita sudah tertangkap, mau dibunuh atau dibiarkan hidup bergantung pada keputusannya, apa pula tujuannya berbuat begitu?” kata Pang Goan dengan terkesiap.

“Apa tujuannya? Tak berani kukatakan dengan pasti, mungkin saja Tong Siau-sian benar-benar ingin meminjam kekuatan kita untuk melawan para pengkhianat dalam lembah, mungkin juga ingin mempergunakan kekuatan kita untuk melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya, atau bahkan mungkin Mi-kok adalah sarang Ci-moay-hwe, sedan Tong Siau-sian adalah ketua Ci-moay-hwe tersebut… setiap kemungkinan bisa terjadi di sini.”

Baik Pang Goan maupun Hui Beng-cu merasa bulu romannya sama berdiri karena ngeri.

“Cuma, ada satu hal yang dapat dipastikan,” kata Leng-hong lagi, “baik tempat ini adalah Mi-kok atau sarang Ci-moay-hwe, yang pasti di antara mereka terdapat dua golongan kekuatan yang saling berebut kekuasaan dan saling depak mendepak. Lebih baik kita berlagak bodoh dan mendengarkan semua perintahnya, bila keadaan yang sesungguhnya telah jelas baru kita ambil tindakan.”

“Aku cuma merasa keadaan di sini mengerikan sekali,” kata Hui Beng-cu dengan suara gemetar, “kalau Pang toaci pun tidak bisa dipercaya, lalu kita harus percaya kepada siapa?”

“Ia bukannya tak bisa dipercaya, melainkan dewasa ini ia mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan, maka pertama-tama kita harus turuti kehendaknya kemudian baru menyelidiki latar belakang yang sebenarnya.”

Sementara mereka berbicara sampai di situ, Pang Wan-kun telah kembali.

Ia muncul bersama Pui Hui-ji serta dua orang perempuan lain yang berdandan seperti pelayan, masing-masing membawa sebuah kotak makanan.”

Dengan senyum di kulum Pang Wan-kun segera berkata, “Ketika Kokcu mengetahui kalian bersedia menetap di sini, betapa gembiranya hati beliau, arak dan makanan harap kalian cicipi dulu, nona Pui dari Bok-lan-pek-tui ini ditugaskan untuk menemani kalian.”

Kedua pelayan itu membuka kotak makanan yang dibawa, tertampaklah makanan dan arak.

Leng-hong bertiga memang sudah lapar, tanpa sungkan-sungkan mereka duduk dan mulai makan minum dengan lahapnya.

Ternyata takaran minum Pui Hui-ji amat besar, beruntun ia menenggak habis belasan cawan arak tanpa berubah air mukanya, gelagatnya seakan hendak meloloh Pang Goan sampai mabuk, sebab selama ini hanya dia saja yang diloloh terus dengan minuman.

Ho Leng-hong mempunyai perhitungan sendiri dalam hati, tapi iapun tidak membongkar rahasia tersebut, ketika arak sudah diminum hingga setengah mabuk, sambil tertawa ia berkata, “Setelah kami mengambil keputusan untuk tinggal di lembah ini berarti selanjutnya kita adalah orang sekeluarga, terhadap peraturan lembah kami kurang mengerti, harap nona suka memberi petunjuk.”

“Peraturan sih tidak ada,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “cuma, walaupun kalian sudah memohon untuk menetap di sini, sekarang kalian masih belum terhitung penduduk lembah, sebab bila kalian sudah menjadi penduduk di sini, maka kau dan Pang-toako tidak dapat lagi minum arak.”

“Masa untuk mohon menetap pun ada syarat lainnya?”

“Tentu saja ada. Misalnya saja kalian adalah orang yang dijatuhi hukuman mati, maka untuk bisa menetap di lembah ini pertama-tama harus membuat jasa dulu untuk menebus kesalahan, kemudian izin menetap baru akan diberikan.”

Leng-hong pura-pura kaget, “Kami tak dapat meninggalkan lembah ini lagi, jasa apa yang bisa kami lakukan?”

“O, kesempatan untuk membuat jasa banyak sekali, tidak harus melakukannya di luar lembah,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa.

“Apakah nona Pui bisa memberikan sebuah contoh?”

Pui Hui-ji menengok sekejap ke arah Pang Wan-kun, lalu katanya, “Misalnya saja di depan mata sekarang pun ada kesempatan untuk membuat jasa, cuma kalian bersedia untuk melakukannya atau tidak…”

“Kalau bisa membuat jasa untuk Mi-kok, itulah yang kami harapkan, siapa bilang kami tidak bersedia? Nona Pui, tolong beri tahukanlah kepada kami.”

Pui Hui-ji termenung dan berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Kukira lebih baik Pang-toaci saja yang menjelaskan.”

Seperti sudah tidak sabar lagi, buru-buru Leng-hong berseru, “Wan-kun, cepatlah katakan!”

Wan-kun tidak buru-buru bicara, pelahan dia mengangkat cawan untuk minum secegukan arak, rupanya ia sedang berpikir bagaimana caranya untuk mulai bicara.

“Sebetulnya kesempatan macam apakah yang dimaksudkan?” tanya Leng-hong lagi, “katakan saja terus terang, asal kami sanggup melakukannya, pasti akan kami laksanakan sedapatnya.”

Pang Wan-kun tertawa, dia memberi tanda kepada dua orang pelayan itu agar mengundurkan diri, “Berdirilah di luar sana, jangan izinkan siapapun masuk kemari.”

Sesudah kedua pelayan itu mengundurkan diri, senyuman di bibir Wan-kun mendadak lenyap, sebagai gantinya dengan wajah serius ia berbisik, “Nona Pui adalah orang kepercayaan Kokcu, semua orang yang hadir di sini juga tiada orang luar, aku akan bicara terus terang.”

Setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius ia berkata lebih jauh, “Kokcu memegang tampuk kekuasaan untuk mengatur semua kehidupan dalam lembah, tapi berhubung usianya masih muda, maka tata pemerintahan dibantu oleh para Popo, dan sekarang diketahui bahwa para Popo itu telah dibeli pihak luar, di mana setiap perbuatannya selalu bermusuhan dengan Kokcu, bahwa tampaknya mereka berencana hendak merebut tampuk pimpinan…”

Berbicara sampai di sini, sengaja ia berhenti dan menyapu pandang sekejap wajah Ho Leng-hong bertiga, rupanya ia sedang mengawasi reaksi mereka.

Leng-hong bertiga tetap tenang dan sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa.

Tampaknya Pang Wan-kun merasa agak kecewa, katanya pula, “Misalkan saja maksud kalian bertiga hendak menetap di sini, tentu saja Kokcu menyambut niat kalian dengan segala senang hati sebenarnya dia ingin mengabulkannya, tapi para Popo berkeras menolak, sampai kini mereka masih ngotot, inilah contoh nyata yang paling jelas…”

“Wan-kun!” tiba-tiba Leng-hong tertawa, “mengapa tidak kauterangkan saja secara langsung, sesungguhnya apa yang dikehendaki Kokcu?”

“Baik, akan kuterangkan sesingkatnya dan jelas, Kokcu tidak tahan melihat sepak terjang para Popo, ia bertekad membubarkan ‘Tian-lo-wan’ (lembaga para tertua) dan membasmi mereka dengan alasan bersekongkol dengan orang luar, maka Kokcu ingin minta bantuan kalian.”

“Cara bagaimana dia menghendaki kami membantunya?”

“Kokcu tidak berharap kalian ikut campur dalam persoalan ini secara langsung, dia cuma berharap kalian mengambilkan sebuah benda untuknya agar ia dapat menindas sendiri para pengkhianat tersebut!”

“Beda apakah yang diharapkan?”

“Golok mestika Yan-ci-po-to!”

Leng-hong saling pandang sekejap dengan Pang Goan dan tersenyum penuh berarti…agaknya ucapan tersebut sudah berada dalam dugaan mereka.

“Adikku, Kokcu belum pernah meninggalkan lembah Mi-kok, darimana ia tahu tentang Yan-ci-po-to segala?” tanya Pang Goan.

“Akulah yang memberitahukan kepadanya.”

“Ang-siu-to-hoat merupakan ilmu golok yang tiada tandingannya di kolong langit, apa pula gunanya golok mestika itu baginya?” sela Leng-hong.

“Bagi orang lain, Ang-siu-to-hoat memang ilmu golok yang tiada tandingannya, tapi setiap anggota lembah Mi-kok mempelajari ilmu tersebut, maka kepandaian itu bukan ilmu yang hebat lagi, sementara tenaga dalam Kokcu hanya seimbang dengan para Popo, hanya dengan golok mestika ini ia bisa mengalahkan mereka.”

“Kalau begitu Kokcu yang menitahkan Thian Pek-tat serta Goan-hui Taysu dari Siau-lim-si untuk mencuri golok mestika itu?” tanya Pang Goan.

“Tidak, mereka mendapat petunjuk dari Tong-popo serta kelompok Tiang-lo-wan, semula yang ditugaskan menyambut golok di luar lembah adalah Hoa Jin, tapi lantaran kabar ini diketahui Kokcu dan malam itu juga mengirim pasukan peronda yang berpuluh regu banyaknya untuk mengadang mereka, maka begitu Hoa Jin merasa gelagat tidak menguntungkan, ia segera turun tangan membinasakan mereka, perkara itu lantas dilimpahkan kepada kalian bertiga, oleh karena itulah begitu masuk ke lembah, Tong-popo langsung memimpin sidang dan menjatuhkan hukuman mati kepada kalian.”

“Tapi kedatangan kami ke Tay-pa-san ini adalah karena terpancing oleh siasat Ci-moay-hwe,” kata Leng-hong, “Tidak mungkin Hoa Jin mengetahui kami bakal datang ke sini.”

“Justru Tong-popo dan Hoa Jin sekalian mengadakan persekongkolan dengan Ci-moay-hwe.”

“Ah, hal ini lebih tak mungkin lagi,” sela Pang Goan, “orang yang mengatur siasat dalam Thian-po-hu untuk mencuri golok mestika itu adalah Ci-moay-hwe, Thian Pek-tat menggunakan kesempatan sewaktu Ci-moay-hwe bentrok dengan kami untuk merampas golok mestika itu, jika dia bersekongkol, kenapa ia malah menggigit rekan sekomplotan sendiri?”

“Hal ini adalah urusannya dengan Ci-moay-hwe, aku kurang begitu jelas, Kokcu cuma tahu bahwa golok mestika yang berhasil mereka dapatkan adalah benda bagus, maka ia berpesan kepadaku agar menyampaikan kepada kalian bahwa ia sangat berharap kalian suka menyerahkan Yan-ci-po-to yang asli kepadanya.”

“Jika Yan-ci-po-to berhasil kami peroleh, apa pula imbalannya untuk jasa tersebut?”

“Kokcu ada perintah, jika kalian bersedia membantu kami untuk menindas kaum pengkhianat, maka setelah urusan selesai kalian dipersilakan meninggalkan lembah ini dengan bebas, kitapun selamanya akan menjadi sahabat, janji ini pasti takkan dipungkiri.”

“Kami masih ada suatu permintaan lagi, yakni kuharap Yan-ci-po-to dapat ditukar dengan rahasia ilmu Ang-siu-to-hoat.”

Pui Hui-ji berpikir sebentar, lalu katanya, “Tentang ini maaf kalau aku tak berani memutuskan, akan kusampaikan kepada Kokcu dan kupercaya Kokcu pasti akan mengabulkannya.”

“Kalau begitu tolong laporkan kepada Kokcu bahwa Yan-ci-po-to tidak berada pada kami, untuk mendapatkannya dia harus melepaskan kami dulu meninggalkan lembah ini.”

“Tentang ini Kokcu sudah ada rencana,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “kalian cukup memberitahukan tempat golok itu saja, kami akan mengambilnya sendiri.”

“Tempat itu sangat rahasia letaknya, kecuali kupergi sendiri tak mungkin orang lain bisa menemukannya.”

“Silakan Pang-toako katakan, di manakah letak tempat itu?”

Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Tak mungkin bisa diterangkan dengan mulut, pokoknya tempat itu sulit dicari… begini saja, akan kubuatkan peta untuk kalian, bila pencarian dilakukan menurut keterangan dalam peta, tentu akan lebih gampang pencariannya.”

Pui Hui-ji sangat gembira, serunya, “Cara ini paling baik, silakan Pang-toako membuat peta itu, sementara kulaporkan dulu hal ini kepada Kokcu…”

“Tunggu sebentar,” cegah Ho Leng-hong, “kalian tak pernah meninggalkan Mi-kok, sekalipun ada peta, siapa yang akan pergi mencarinya?”

Kembali Pui Hui-ji tertawa, “Untuk melawan kekuasaan Tiang-lo-wan selama beberapa tahun ini kamipun sudah menyiapkan beberapa pos mata-mata di luar lembah, asal peta penyimpanan golok sudah siap, kami bisa mengutus orang untuk mencarinya sesuai dengan petunjuk peta.”

“Tapi ada satu hal tolong nona sampaikan juga kepada Kokcu, kami harap bisa menukar peta penyimpanan golok dengan Ang-siu-to-hoat, harap nona suka menyampaikan beberapa kata manis di depan Kokcu nanti.”

Pui Hui-ji manggut-manggut, “Aku pasti akan melakukannya, kalian jangan kuatir.”

Setelah mengantar kepergian Pui Hui-ji, Pang Wan-kun menarik napas panjang, ia lantas menyiapkan alat tulis dan kertas untuk Pang Goan membuat peta penyimpanan golok.
Pang Goan juga tidak menolak, dalam sekejap mata ia telah membuat dua buah lukisan, yang selembar adalah letak Cian-sui-hu, sedangkan yang selembar lagi adalah tempat golok itu disembunyikan.

Peta itu dilukis dengan terperinci dan sangat rahasia, terutama tempat golok itu disimpan, betul-betul dilukis dengan amat berhati-hati sehingga baik Ho Leng-hong maupun Pang Wan-kun juga tidak mengetahui.

Setelah peta selesai dibuat ia baru berkata kepada Wan-kun dengan serius, “Adikku, mumpung peta ini belum kuserahkan kepada Tong Siau-sian, kuharap kau bersedia memberitahukan suatu hal kepadaku, kita adalah saudara sekandung, bagaimanapun kau harus berterus terang.”

“Aku tidak bermaksud membohongi Toako?” kata Pang Wan-kun dengan tercengang.

“Yang sudah lewat aku tak ingin menyelidikinya, sekarang aku hanya ingin bertanya padamu, jika golok mestika Yan-ci-po-to telah kami serahkan, benarkah Tong Siau-sian akan membebaskan kami untuk meninggalkan Mi-kok ini.”

“Ia pasti akan memenuhi janji, dia adalah seorang yang bisa dipercaya,” jawab Wan-kun tanpa ragu.

“Apakah kau dan anakmu juga akan dilepaskan semua?” desak Pang Goan lebih jauh.

“Tentang ini…” agaknya perasaan Wan-kun bergetar keras, “Toako, kenapa secara tiba-tiba kau ajukan pertanyaan ini?”

“Sebab kami tahu Tong Siau-sian menggunakan anakmu sebagai sandera untuk memaksa kau melakukan semua petunjuknya, antara kau dengan dia pada hakikatnya bukan sahabat karib seperti yang kaulukiskan.”

Tiba-tiba sinar mata Pang Wan-kun memancarkan perasaan kuatir dan ngeri, dengan mulut membungkam ia tunduk kepala rendah-rendah.

“Nyo-hujin,” kata Leng-hong dengan suara tertahan, “kalian adalah saudara sekandung, sudah seharusnya semua rahasia hatimu diutarakan secara blak-blakan, tak perlu dirahasiakan lagi.”

“Benar,” sambung Hui Beng-cu, “kita berempat harus bersatu dan berusaha dengan segala kemampuan menghadapi apapun, Pang-toaci, cepatlah katakan secara terus terang!”

Pelahan Wan-kun mendongakkan kepalanya, bibirnya bergetar dan memperlihatkan senyuman getir, katanya, “Dari bagian yang manakah aku harus mulai dengan keteranganku? Ia bersikap sangat baik padaku, bukan terbatas sampai persahabatan saja, hakikatnya kami bagaikan kakak beradik, tetapi…”

“Tetapi ia telah menahan anakmu sebagai sandera, agar kau melaksanakan semua perintahnya tanpa berani membangkang, bukankah begitu?” sambung Pang Goan.

Wan-kun tidak mengaku pun tidak menyangkal, ia mengembuskan napas panjang.

“Aku amat menyayangi puteraku, ini kenyataan…” demikian katanya, “Kupikir, tujuannya menahan puteraku adalah agar aku tidak kabur dari Mi-kok, iapun kuatir aku menaruh dendam padanya karena kematian Jit-long dalam istana es…”

“Kalau begitu, mana mungkin ia mengizinkan kami meninggalkan Mi-kok?”

“Dewasa ini, untuk menghadapi pertentangannya dengan Tiang-lo-wan, ia betul membutuhkan bantuan orang, jika kita berhasil membantunya, kuyakini dia pasti akan mengizinkan kita untuk meninggalkan tempat ini.”

Tapi Ho Leng-hong segera menggeleng kepala, “Meski perempuan itu masih muda, tapi otaknya cerdas dan akalnya banyak, ku kuatiri sampai waktunya nanti…”

Belum habis perkataannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang dari luar, cepat semua orang mengakhiri pembicaraan dan kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Sambil tersenyum simpul Pui Hui-ji masuk ke dalam ruangan, kemudian tegurnya, “Pang-toako, sudah selesai petamu?”

Pang Goan tidak menjawab sebaliknya malah bertanya, “Bagaimana tanggapan Kokcu atas permintaan kami?”

“Telah kusampaikan kepada Kokcu dan beliau sangat gembira, permintaan kalian segera dikabulkan, bahkan suruh aku memberitahukan pula kepada kalian agar jangan kuatir, asal golok mestika telah didapatkan, rahasia Ang-siu-to-hoat pasti akan diajarkan kepada kalian, bahkan beliau akan berterima kasih pula kepada kalian semua.”

“Berterima kasih sih tak usah, sampai waktunya aku cuma memohon agar kami bisa membawa bocah itu meninggalkan lembah ini bersama-sama agar ada keturunan keluarga Nyo yang bisa melanjutkan perjuangan leluhurnya.”

“O, pasti, pasti, Kokcu tak akan menyia-siakan harapan kalian,” sahut Pui Hui-ji.

Pang Goan mengeluarkan peta dan berkata lagi, “Dari sini menuju ke gedung Cian-sui-hu di kota Liat-liu-shia ada ratusan li lebih, entah kalian membutuhkan beberapa lama untuk mengambil golok tersebut?”

“Tentu saja lebih cepat lebih baik, jika peta Pang-toako dibuat dengan cermat, maka paling banter sepuluh hari kemudian semuanya sudah beres.”

“Baik,” kata Pang Goan sambil menyerahkan peta itu kepada Pui Hui-ji, “semoga kalian cepat kembali, agar kami tak usah menunggu terlalu lama.”

Pui Hui-ji merentangkan peta itu dan memandang sekejap secara garis besarnya, kemudian dengan sangat berhati-hati menyimpannya dalam saku, setelah itu ia baru bertepuk tangan tiga kali.
Serombongan orang mengiakan sambil masuk ke dalam, ternyata mereka adalah Yu Ji-nio dan dua orang gadis berbenang putih.

“Nona Pui, apa maksudmu?” teriak Pang Goan dengan marah.

“harap kalian jangan salah paham,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “oleh karena ini adalah tempat tinggal kaum wanita, Kokcu merasa kurang leluasa untuk kalian tinggal di sini, selain itu demi keamanan kalian serta menghindari gangguan dari pihak Tiang-lo-wan, untuk sementara waktu kalian dipersilakan kembali ke ruang belakang untuk beristirahat, kalau golok mestika sudah ditemukan, kalian pasti akan dilepaskan.”

“Hm, jadi kami harus disekap selama belasan hari lagi?” seru Pang Goan sambil mendengus.

“Bukan, bukan disekap, berhubung pihak Tiang-lo-wan tetap tidak setuju dengan maksud kalian untuk bermukim di sini, terpaksa Kokcu harus mengambil tindakan begini.”

“Kalian jangan kuatir,” kata Yu Ji-nio sambil tertawa, “meskipun kurang bebas selama tinggal di gedung belakang, dalam soal penghidupan tak nanti kami telantarkan kalian.”

Pang Goan memandang sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian mendengus, “Hm, adikku, sekarang percaya tidak bahwa perkataanku bukan hanya dugaan belaka!”

Wan-kun menunduk kepala dan membungkam.

—–

Sekembalinya ke penjara, sikap Yu Ji-nio jadi lebih sungkan, “pelayanan” pun tambah baik.

Tapi kemarahan Pang Goan tak terbendung, dalam penjara dia membanting semua ini membuat beberapa gadis penjaga pintu tak berani mendekati pintu terali besi nomor satu.

Karena kehabisan akal, terpaksa Yu Ji-nio memindahkan Pang Goan ke ruang penjara nomor tiga, sedangkan Hui Beng-cu diberi kamar nomor satu.

Ternyata cara ini manjur juga, setelah pindah kamar sikap Pang Goan jauh lebih tenang. Bukan hanya tenang saja, malah tak lama kemudian ia tertidur dengan nyenyaknya.

Hanya Leng-hong yang tahu bahwa rekan itu tidak benar-benar tidur, tapi iapun tidak bicara apa-apa, sesudah Yu Ji-nio pergi, pelahan ia mengetuk dinding.

Betul juga, Pang Goan hanya pura-pura tertidur, segera ia berbisik, “Jangan mengetuk lagi, suruh Siau-cu jaga pintu, kalau ada orang suruh dia dehem.”

“Jangan kuatir, aku sudah memberitahukan kepadanya, sekarang marilah kita berbicara dengan hati lega, tak mungkin ada orang mendengarkan pembicaraan kita.”

Pang Goan merangkak bangun dari pembaringan lalu mendekati ujung dinding dan berkata, “mulai sekarang, kau harus memperhatikan dua hal.”

“Dua hal apa?” tanya Leng-hong.

“Pertama, berapa banyak pengawal dalam rumah penjara ini? Kedua, berapa lama mereka berganti penjaga? Terutama keadaan pada waktu malam, perhatikan secara khusus.”

“Lotoako, mau apa kau?”

“Kabur!”

“Kabur?” sekalipun Leng-hong telah menduga, terkejut juga demi mendengar perkataan itu, “kau bermaksud kabur dari Mi-kok ini?”

“Benar, tempat setan ini penuh dengan kejadian yang bikin orang tidak habis mengerti, Wan-kun dikuasai pula oleh mereka, maka kita harus mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk kabur dari sini.”

“Tapi kungfu orang-orang di lembah ini sangat lihai, tidaklah gampang untuk kabur dari sini.”

“Tentu saja tidak gampang, tapi bagaimanapun kita harus berusaha kabur, sebab paling banyak kita hanya tersedia waktu selama sepuluh hari, jika menunggu orang-orang yang mengambil golok telah kembali, kita tak ada kesempatan lagi untuk berbuat demikian.”

“Apakah peta rahasia tersebut palsu?”

“Hahaha, kaukira akan kuberikan peta yang benar kepada mereka?” Pang Goan balik bertanya sambil tertawa, “terus terang kuberitahukan kepadamu, letak tempat yang kulukis dalam peta adalah kubang tinja dalam Cian-sui-hu, kecuali kotoran manusia jangan harap bisa menemukan golok!”

Betapa bangga gelak tertawa itu, seakan-akan ia telah menyaksikan cara bagaimana orang-orang Mi-kok yang mencari golok mestika itu tercebur ke dalam lubang tinja dan kenyang minum air kotoran.

Ho Leng-hong juga ingin tertawa tapi tak mampu bersuara, sambil menggeleng katanya, “Lotoako, jangan terlampau menuruti emosi, sebab perbuatanmu ini bisa mencelakai Wan-kun, bila Tong Siau-sian merasa tertipu, ia pasti takkan melepaskan Wan-kun.”

“Kita bisa mengajak Wan-kun kabur bersama.”

“Persoalannya tidak segampang itu, sekalipun Wan-kun berhasil kita bawa kabur, anaknya belum tentu bisa sekaligus kita selamatkan, padahal anak itu adalah itu adalah satu-satunya tumpuan harapan Wan-kun, selama bocah itu tak bisa ikut, Wan-kun juga tidak akan ikut pergi.”

Pang Goan termenung sebentar, akhirnya dengan menyesal ia berseru, “Celaka, waktu itu kenapa aku tidak memikirkan masalah bocah tersebut? Wah, kalau begitu perbuatanku benar-benar amat sembrono.”

Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, sekarang urusan telah berkembang jadi begini, tak mungkin kita pasrah nasib kepada mereka, kita harus kabur bahkan bawa serta Wan-kun dan anaknya, dan satu-satunya cara untuk kita adalah menempuh bahaya…”

“Menempuh bahaya bagaimana maksudmu?”

“Kita berusaha membekuk Tong Siau-sian dan menyanderanya, asal dia dipaksa untuk mengantar kita keluar lembah, urusan kan beres.”

“Apakah kau ada akal bagus?”

“Sekarang belum, tapi kita bisa mendapatkannya dari seseorang.”

“Siapa?” cepat-cepat Pang Goan bertanya.

“Pui Hui-ji!”

——–

Ketika Pui Hui-ji muncul lagi dalam penjara sikapnya sudah jauh berbeda daripada sebelumnya.
Kalau dahulu ia selalu tersenyum simpul dan bersikap ramah tamah, maka kini meski senyuman masih menghiasi bibirnya, namun senyuman itu sangat dingin, membuat siapa pun yang melihatnya segera tahu bahwa senyuman itu diperlihatkan secara terpaksa dalam keadaan yang tidak dikehendakinya.

Begitu masuk ke dalam penjara, keningnya segera berkerut, senyuman pun lenyap, tegurnya dengan ketus, “Ada urusan apa kalian mencari aku?”

Buru-buru Leng-hong mendekati terali besi sambil berbisik, “Nona Pui, ada urusan penting hendak kubicarakan secara pribadi denganmu, dapatkah kau mencari suatu tempat yang agak rahasia…”

Kening Pui Hui-ji makin berkerut, dengan wajah tak sabar serunya, “Kalau ada urusan katakan sekarang saja, aku repot dan tak punya waktu…”

“Tempat ini terlalu banyak mata-matanya, ku kuatiri pembicaraan kita akan terdengar oleh pihak ketiga, tapi kalau nona Pui enggan mendengarkan juga tak apa-apa, cuma andaikata Yan-ci-po-to sampai terjadi sesuatu di luar dugaan, jangan salahkan kami sebelumnya tidak memberi kabar kepada nona.”

Pui Hui-ji terkejut, “Apa? Yan-ci-po-to akan mengalami kejadian apa?”

Leng-hong tidak menjawab, ia meninggalkan terali besi dan membaringkan diri.

Sikap Pui Hui-ji seketika berubah, dengan senyum manis cepat ia menitahkan Yu Ji-nio membuka pintu penjara, bahkan menghampiri sendiri ke tepi pembaringan dan berkata dengan lembut, “Ho-toako, akulah yang salah, aku memang sangat repot, aku tidak sengaja hendak menyinggung perasaanmu…sesungguhnya ada apa dengan golok mestika Yan-ci-po-to…”

“Sudah kukatakan, di sini terlalu banyak mata dan telinga, tidak leluasa untuk bercakap-cakap di sini,” tukas Leng-hong ketus.

“Ah, itu gampang, akan kutemani Ho-toako untuk bercakap-cakap dalam kamar Yu Ji-nio.”

“Kamarnya juga kurang leluasa.”

“Lantas menurut keinginan Ho-toako…”

“Tempat manapun boleh, asal tak ada orang yang mencuri dengar, terlebih jangan sampai diketahui oleh Hoa Jin.”

“Hoa Jin?” tiba-tiba air muka Pui Hui-ji berubah, setelah merenung sejenak, akhirnya berkata, “Baiklah? Mari ikut aku.”

Ternyata ia benar-benar orang kepercayaan Kokcu, cukup mengucapkan sesuatu kepada Yu Ji-nio, tanpa dikawal ia meninggalkan rumah penjara.

Setelah menelusuri kaki bukit dan belok ke kiri, sampailah mereka di muka sebuah rumah batu, di depan pintu duduk seorang nenek sedang menambal baju.

Pui Hui-ji memberi kode tangan kepada nenek itu, kemudian mengajak Leng-hong masuk ke dalam, katanya, “Nenek itu seorang tuli, dulu dia adalah inang pengasuh Kokcu, asal kita bercakap-cakap dalam rumahnya, tak nanti ada orang yang mencuri dengar.”

Leng-hong memperhatikan sekejap susunan perabot di dalam ruangan itu, setelah duduk, katanya, “Yang paling penting, apa yang kita bicarakan sekarang jangan sampai diketahui Hoa jin, kaupun harus berpesan secara khusus kepada Yu Ji-nio agar ia tidak membacakan rahasia kita ini.”

“Sebenarnya ada apa dengan Hoa Jin?” tanya Pui Hui-ji tidak sabar.

“Semalam ia datang ke penjara mencari diriku.”

“O, benarkah itu?” seru Pui Hui-ji kaget, “mau apa dia mencarimu?”

“Sebenarnya dia hendak bicara dengan Pang-toako, tapi kucegat dan akhirnya kami bicara hampir setengah jam lamanya…”

“Apa saja yang kalian bicarakan?” tanya gadis itu cemas.

“Setelah kukatakan, harap kau jangan kaget, ia datang ke penjara karena golok mestika Yan-ci-po-to itu.”

“Oya? Apa yang dia katakan kepadamu? cepat katakan!”

Sengaja Leng-hong tertawa, katanya, “Entah darimana ia dengar kabar tentang golok mestika Yan-ci-po-to yang disimpan dalam Cian-sui-hu, maka ia mencari kami untuk membicarakan syarat penukaran, merekapun menginginkan selembar peta.”

“Sudah kau kabulkan permintaannya?”

“Belum,” jawab Leng-hong sambil menggeleng, “cuma syarat yang ia ajukan ternyata lebih menyenangkan dari pada syarat Kokcu.”

“Dia bilang apa?”

“Katanya, asal kami bersedia melukiskan pula selembar peta untuk mereka, maka bukan saja kami akan segera dibebaskan menurut pilihan kami sendiri, bahkan ia jamin Wan-kun dan anaknya akan diserahkan pula kepada kami, katanya juga bila kami ingin tinggalkan tempat ini, pihak Tiang-lo-wan bersedia menghadiahkan Ang-siu-to-hoat kepada kami, serta membantu kami menumpas Ci-moay-hwe, kalau pilih tinggal di sini, maka setelah Kokcu naik tahta, Wan-kun dan Beng-cu boleh masuk Tiang-lo-wan, sedang aku dan Pang-toako akan diangkat sebagai pelindung Mi-kok dengan hak istimewa untuk masuk keluar lembah ini sesuaka hati…”

Ia masih ingin mengibul terus, tapi Pui Hui-ji sudah keburu jengkel sehingga mukanya berubah menjadi hijau membesi, tukasnya, “Ho-toako, jangan sekali-kali kau tertipu, Tiang-lo-wan hakikatnya tidak memiliki kekuasaan sebesar ini, mereka tidak berhak mengubah peraturan Mi-kok, Kokcu kami adalah jabatan turun temurun, kecuali melakukan pelanggaran besar, Tiang-lo-wan tidak berhak mengganti Kokcu baru, lebih-lebih tak berhak untuk mengangkat orang luar sebagai pejabat dalam lembah ini.”

“Tapi mereka menyatakan,” kata Leng-hong sambil tertawa, “bila Kokcu mencari bantuan orang luar untuk menentang Tiang-lo-wan, maka perbuatan ini adalah suatu pelanggaran besar.”

Dengan jengkel Pui Hui-ji mendengus, “Hm, jika Tiang-lo-wan mengandalkan kekuatan luar untuk melawan Kokcu, perbuatan inipun suatu pelanggaran besar, Tong-popo telah bersekongkol dengan Ci-moay-hwe untuk mengincar jabatan Kokcu, dosa ini jelas terbukti, Kokcu berhak membubarkan Tiang-lo-wan serta menjatuhi hukuman kepada mereka untuk memilih Tiang-lo baru…”

“Soal siapa berhak atau tidak merupakan urusan Mi-kok kalian sendiri, kami tak ingin mencampurinya, terus terang saja harapan kami hanya bagaimana caranya menukar golok mestika dengan rahasia Ang-siu-to-hoat dan meninggalkan lembah ini dengan selamat. Semula kami ingin membantu Kokcu, tapi hasilnya kami harus masuk penjara menjadi tawanan, bila dibandingkan satu sama lain tentu saja kami merasa syarat mereka jauh lebih menarik daripada syarat dari pihak Kokcu.”

“Ho-toako, jangan kau percaya pada mereka,” seru Pui Hui-ji dengan gelisah, “pasti Hoa Jin perempuan rendah itu sengaja membohongimu, jika kau menyerahkan peta tersebut, jangan harap kalian bisa tinggalkan Mi-kok dengan selamat.”

“Tapi setelah kami serahkan peta rahasia itu kepada Kokcu, apa pula jaminan buat kami untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat?”

“Tak usah kuatir, sekarang juga akan kulaporkan soal ini kepada Kokcu, tempat tinggal kalian pun harus diatur lagi dengan sebaiknya…”

Kemudian dengan penuh kebencian serunya lagi, “Yu Ji-nio juga kurang ajar sekali, tujuan Kokcu mempersilakan kalian tinggal dalam penjara adalah untuk mencegah agar pihak Tiang-lo-wan jangan mengacau, ternyata dia malah berani memasukkan Hoa Jin dalam penjara!”

“Dalam peristiwa ini jangan kau tegur Yu Ji-nio, sebab Hoa Jin menyusup masuk secara diam-diam di tengah malam buta, mungkin juga ia sudah atur orangnya dalam penjara, Yu Ji-nio sama sekali tidak tahu akan perbuatannya.”

“Akan kuperiksa, hmm, lihat saja akibatnya nanti,” dengus Pui Hui-ji.

“Bila nona ingin melakukan pemeriksaan, aku mempunyai suatu akal bagus,” kata Leng-hong sambil tertawa.

“Oya?! Akal apa?”

“Nona Pui, kejadian tanpa bukti ini sulit diperiksa, jika kauingin memeriksanya harus mempunyai bukti yang jelas, kalau tidak, memukul rumput mengejutkan ular, akibatnya mala kurang baik.”

“Maksudmu…”

“Sepulangnya dari sini nanti nona jangan bicara apa-apa, hari ini atau besok kukira Hoa Jin pasti akan kembali lagi ke sini, jika diam-diam nona bersembunyi dalam ruangan Hui Beng-cu, kan dapat memergokinya?”

“Ya, ini memang akal bagus!” seru Pui Hui-ji gembira.

“Cuma, nona mesti perhatikan dua hal, pertama harus datang secara diam-diam, jangan sampai ketahuan penjaga penjara, bila perlu Yu Ji-nio juga harus dikelabui.”

“Soal ini gampang!” Pui Hui-ji manggut-manggut.

“Kedua, kau harus membawa kunci kamar penjara, setelah bersembunyi dalam kamar Beng-cu pintu terali besi harus dalam keadaan terkunci, maka setelah Hoa Jin datang ia akan langsung menuju ke kamar nomor tiga di mana aku berada. Nah, tiba waktunya nanti nona boleh keluar dari kamar nomor satu secara tiba-tiba, adang dulu jalan mundurnya kemudian baru memergokinya, bukankah kau segera akan menangkap basah padanya?”

Pui Hui-ji manggut-manggut, “Baik, kita laksanakan menurut cara usulmu.”

“Menurut apa yang kuketahui,” kata Leng-hong lebih lanjut, “setiap petang para penjaga bergilir makan malam, penjagaan waktu itu agak mengendur, maka pergunakanlah kesempatan itu untuk menyusup ke sini, tengah malam nanti Hoa Jin tentu masuk perangkap.”

Pui Hui-ji mengangguk tanda setuju.

“Nona Pui, dengan rencana kita ini berarti aku telah memutuskan hubungan dengan Tiang-lo-wan, setelah urusan berhasil jangan kau ingkar janji, dan terus menerus menganggap kami sebagai tawanan…”

“Jangan kuatir, pasti akan kusampaikan hal ini kepada Kokcu, tanggung tak akan merugikan kalian.”

Selesai berunding, Pui Hui-ji mengantar Leng-hong pulang ke penjara, sementara ia sendiri pergi melakukan persiapan.

Sekembalinya ke kamar, Leng-hong menceritakan semua kejadian itu kepada Pang Goan dan Hui Beng-cu, diam-diam ketiga orang itupun melakukan persiapan.

—–

Malam itu Pui Hui-ji benar-benar telah menyusup ke dalam penjara secara diam-diam. Ia masih mengenakan baju merah bersulam benang putih, persis dandanan para gadis penjaga penjara, tidak ketinggalan iapun membawa golok panjang.

Cahaya lampu dalam penjara amat suram, ketika ia membuka pintu terali kamar nomor satu dan menyusup pintu, Hui Beng-cu sudah menanti di pinggir pintu sambil menegur, “Apa nona Pui di situ?”

Pui Hui-ji mengiakan, baru saja dia akan menutup pintu, Hui Beng-cu telah menarik tangannya sambil berseru, “Cepat bersembunyi di dalam!”

Pui Hui-ji merasa pergelangan tangannya mendadak menjadi kaku, menyusul kemudian jalan darah Ki-bun-hiat di bawah iganya disodok oleh sikut keras-keras, tak sempat mengeluh lagi ia roboh tak sadarkan diri.

Dengan tangan kiri Hui Beng-cu merampas anak kunci, tangan kanan menyambar tubuh Pui Hui-ji, dengan setengah memondong setengah menyeret ia membawanya ke tepi pembaringan, membungkusnya dengan selimut dan dimasukkan ke kolong ranjang, setelah itu disodorkan anak kunci itu lewat terali besi kepada Ho Leng-hong…

Dalam waktu singkat suasana dalam penjara pulih kembali dengan tenang, siapapun tidak menyangka dalam penjara telah bertambah dengan seorang, siapapun tidak mengetahui kalau kunci pintu penjara telah terbuka.

Selesai bersantap para penjaga masuk melakukan pemeriksaan, keadaannya tidak berbeda dengan keadaan biasa.

Mendekati tengah malam, Ho Leng-hong mengetuk dinding kiri dan kanannya, ketiga orang itu lantas bangun, membuka pintu terali besi dan tanpa membuang banyak tenaga menutuk jalan darah kedua gadis penjaga malam yang tertidur, kemudian menyeret mereka ke dalam kamar penjara.
Hui Beng-cu melucuti pakaian luar gadis-gadis itu, dua di antaranya diberikan kepada Ho Leng-hong dan Pang Goan, sedang ia sendiri mengenakan baju merah bersulam benang putih milik Pui Hui-ji, dengan memegang golok panjang berangkatlah mereka meninggalkan penjara.

Pui Hui-ji dan kedua gadis penjaga tersekap dalam penjara.

Sepanjang perjalanan dari penjara mereka tidak menjumpai alangan apa-apa, ketiga orang itu mempercepat langkahnya, tak lama kemudian sampailah di depan gedung Yu-tim-cing-sih.

“Tempat tinggal Tong Siau-sian tentu dijaga ketat,” bisik Pang Goan kemudian, “kita butuh Wan-kun sebagai penunjuk jalan. Tunggulah kalian di sini, akan kutemui Wan-kun lebih dulu.”

“Berhati-hatilah Lotoako, mungkin saja demi keselamatan anaknya, Wan-kun tak mau menempuh bahaya, bila perlu kita paksa dia untuk menyetujui pendapat kita!”

“Aku mengerti!” Pang Goan lantas maju mengetuk pintu.

Ketika ketukan diulangi sampai ketiga kalinya baru terdengar suara Pang Wan-kun tanya dari dalam, “Siapa?”

Pang Goan memberi tanda agar kedua rekannya bersembunyi, kemudian sahutnya lirih, “Wan-kun, cepat buka pintu, aku, Toako!”

Agaknya Wan-kun sangat terkejut, serunya, “Toako? Kenapa kau bisa…”

“Jangan banyak bertanya dulu, cepat buka pintu dan membiarkan aku masuk!”

Dalam ruangan terjadi sedikit kegaduhan, menyusul pintupun lantas terbuka.

Dengan cepat Pang Goan menyusup masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu, bisiknya, “Wan-kun, benahi barangmu, mari ikut Toako pergi mencari Tong Siau-sian untuk menolong anakmu!”

Rambut Wan-kun tampak kusut, agaknya baru bangun tidur, dengan melenggong ia awasi Pang Goan, lalu tanyanya dengan terperanjat, “Toako, kenapa kau bisa sampai di sini? Hanya kau seorang diri?”

“Kita tak dapat pasrah nasib, maka dengan menyerempet bahaya kami kabur dari penjara, sengaja kujemput dirimu agar kita bisa kabur bersama, Leng-hong dan Siau-cu sudah menunggu di luar, ayo cepat berganti pakaian.”

“Kalian ingin kabur dari Mi-kok ini?”

“Benar, kamipun bermaksud menangkap Tong Siau-sian, menolong anakmu, kemudian kita kabur bersama!”

“Tidak. Tidak mungkin!” Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “kalian tak mungkin bisa lolos dari cengkeraman mereka, sekalipun berhasil kabur dari lembah Mi-kok, tak mungkin bisa lolos dari Tay-pa-san. Toako, dengarkan baik-baik perkataanku, jangan kaulakukan perbuatan bodoh ini…”

“Asal Tong Siau-sian berhasil kita tangkap sebagai sandera, siapa yang berani mengalangi kita?”

“Jangan bermimpi di siang bolong, penjagaan di tempat kediaman Kokcu sangat ketat, ilmu silat Tong Siau-sian tiada tandingannya, jelas jalan yang kalian tempuh tak mungkin bisa tertembus.”

“Sekalipun tidak tembus juga harus dicoba, sekarang kita sudah lolos dari penjara, apakah mesti kembali lagi ke sana? Sekalipun kami bersedia kembali, tidak mungkin Tong Siau-sian akan melepaskan kami lagi, bagaimanapun hanya ada jalan kematian bagi kita, daripada pasrah nasib kenapa tidak menyerempet bahaya untuk mencari hidup?”

“Kalau ka ukembali ke penjara belum tentu mati, sebaliknya jika melarikan diri dari lembah ini hanya kematian saja yang bakar kalian terima.”

“Kami lebih suka terbunuh waktu kabur daripada duduk menanti kematian, Wan-kun, jangan banyak bicara lagi, cepat benahi barang-barangmu dan kita kabur bersama.”

“Tidak, aku tak dapat melarikan diri, sebab perbuatanku ini akan menyusahkan anakku sendiri, bila aku bisa kabur sudah semenjak dulu-dulu aku kabur, kenapa menunggu sampai sekarang?…” kata Wan-kun sambil geleng kepala berulang kali.

“Tapi keadaannya sekarang bagaikan anak panah di atas busur, sekalipun harus pertaruhkan jiwa raga akan kami selamatkan juga anakmu, apa lagi yang perlu disangsikan?”

Sementara itu pintu diketuk orang, menyusul suara Hui Beng-cu menegur, “Pang-toako, waktu sudah mendesak, cepat suruh Toaci berangkat.”

“Wan-kun, kau mau kabur tidak?” seru Pang Goan dengan suara tertahan.

“Aku bukannya tak mau kabur, oleh karena aku terlampau paham keadaan Mi-kok ini, maka kutahu bahwa harapan untuk kabur tak ada, sebab kita tak mungkin bisa lolos.”

“Baik!” kata Pang Goan sambil mencabut goloknya, “Thian-po-hu cuma mempunyai seorang anak, Cian-sui-hu juga, cuma kita berdua, bila kau tak mau kabur mengikuti aku, demi menyelamatkan putera dari keluarga Nyo, sekarang juga akan kugorok leherku agar semua orang tak perlu kabur lagi.”

Cepat-cepat Wan-kun memeluk tangan sang kakak yang memegang golok itu, kemudian berkata sambil menangis, “Toako, kenapa kau mengucapkan kata-kata semacam itu? Aku bukannya tak mau kabur, aku kuatir jika kita gagal.”

“Siapa tahu di tengah kegagalan akan kita jumpai jalan hidup? Kita sudah bertekad untuk berjuang mati-matian, darimana kautahu kita tak akan berhasil?”

“Soal ini bukan soal tekad, ilmu silat Tong Siau-sian sangat tinggi, kita semua bukan tandingannya.”

“Kita hadapi mereka dengan akal dan hindari kekerasan, sekalipun ilmu silatnya lebih tinggi juga tak perlu kuatir.”

Wan-kun termenung sejenak, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menarik napas panjang, “Ai, baiklah, kalian tunggulah sebentar di luar.”

Pang Goan menyahut dengan gembira, ia segera mengundurkan diri ke luar ruangan.

“Apakah ia bersedia?” Leng-hong segera menyongsong kedatangan Pang Goan sambil bertanya.

Pang Goan mengangguk, “Mula-mula ia tak mau, setelah kugunakan siasat menyiksa diriku sendiri, akhirnya dia mau juga.”

“Dalam perjalanan kita dari sini menuju kediaman Tong Siau-sian mungkin akan kita jumpai pengadangan, sebentar biar Beng-cu berjalan bersamanya, sedang kita mengikutinya secara diam-diam.”

“Kalau begitu kita buka pakaian penjara ini, seorang laki-laki sejati harus mengenakan pakaian perempuan, wah, betul-betul runyam.”

“Sekarang kita belum boleh melepaskannya, paling sedikit harus tunggu setelah berhasil kabur dari lembah ini…”

Dalam pada itu Wan-kun telah selesai berdandan dan keluar dari ruangan.

Yang dimaksud berdandan masih tetap memakai baju merah tanpa sulaman itu, bertangan kosong tanpa membawa apa-apa, bahkan senjata pun tidak membawa.

Ketika Ho Leng-hong menjelaskan siasatnya, Wan-kun menggeleng kepala, katanya, “Tidak perlu, kalian semua ikuti saja diriku, bila ada pengadangan aku yang akan menghadapinya, tapi semua orang tak boleh membawa senjata.”

“Andaikata terjadi hal-hal di luar dugaan dan pertarungan berkobar…”

Wan-kun tertawa getir, “Ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok adalah kepandaian yang tiada tandingannya di dunia ini, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, apa pula gunanya membawa golok? Bukan saja mudah menimbulkan kecurigaan orang, pun tak ada manfaat apa-apa, umpama memerlukan senjata, di manapun bisa kalian dapatkan, kenapa mesti membawanya dari sini?”

Ketiga orang itu merasa ucapan tersebut ada benarnya juga, terpaksa mereka lepaskan golok dan disembunyikan di Jut-tim-cing-sih.

Pang Wan-kun membawa ketiga orang itu menuju ke ruang tengah di mana Kokcu berdiam, setelah melewati serambi, ia masuk ke gedung tengah tanpa sembunyi-sembunyi, sekalipun di tengah jalan mereka bertemu dengan gadis-gadis peronda malam, karena semuanya kenal pada Pang Wan-kun, maka setelah saling menyapa dengan tertawa mereka berlalu dengan begitu saja, sama sekali tidak ada pemeriksaan apa-apa.

Tapi Ho Leng-hong dan Pang Goan yang menyaru sebagai perempuan merasa jantungnya berdebar karena tegang, sepanjang jalan mereka hanya menundukkan kepala dengan peluh dingin membasahi telapak tangan.

Setelah masuk ke ruang tengah, mendadak penjagaan di situ tambah ketat dan rapat.

Di pintu masuk tampak berdiri seorang gadis bergaun merah dengan sulaman benang putih memimpin empat orang gadis lainnya melakukan penjagaan, di bawah beranda dan di balik semak bunga sana tampak juga ada penjaga, seluruh halaman tersebut telah dijaga dengan ketatnya.

Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan baru percaya pada perkataan Wan-kun, bila ingin menangkap Tong Siau-sian dengan kekuatan mereka bertiga, sungguh perbuatan yang bodoh.

Tentu saja penjagaan semacam ini bukan khusus ditujukan untuk menghadapi mereka, tapi penjagaan terhadap serangan mendadak dari pihak Tiang-lo-wan.

Entah apa yang dibisikkan Wan-kun kepada gadis bersulam benang putih penjaga pintu itu, tiba-tiba anak dara itu memperhatikan Pang Goan bertiga, kemudian sambil tertawa katanya, “Baiklah, suruh mereka masuk ke serambi dan menunggu di situ, tapi tak boleh sembarangan lari.”

“Sudah kalian dengar?” kata Wan-kun, “istirahat dulu di serambi sana, jangan sembarangan pergi, aku akan segera lapor kepada Kokcu.”

Ho Leng-hong bertiga tak berani buka suara, dengan kepala tertunduk mereka masuk ke dalam.
Ketika melewati ruangan, beberapa orang gadis penjaga sama menutupi mulut dan tertawa cekikak-cekikik, dan sekalipun mereka sudah tiba di bawah serambi, gadis-gadis penjaga itu masih mengawasi dari kejauhan sambil berbisik-bisik dan tertawa geli.

Berdiri bulu roma Leng-hong menyaksikan tertawa mereka, bisiknya, “Lotoako, tampaknya keadaan kurang beres, agaknya dayang-dayang itu sudah mengetahui rahasia kita.”

“Akupun merasa gelagat kurang beres, jangan-jangan Wan-kun telah membocorkan rahasia kita,” kata Pang Goan.

“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” sambung Hui Beng-cu, “dia memang tidak setuju dengan rencana kita, sebelum datang iapun suruh kita jangan membawa senjata, entah apa yang direncanakannya.”

“Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin,” bisik Pang Goan segera, “dia adalah adikku, tak mungkin mengkhianati kita.”

Tiba-tiba Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, jika ia berkeras hendak mengkhianati kita, terpaksa kita harus menghadapi kenyataan…”

Pang Goan merasa ucapan tersebut aneh sekali nadanya, ketika mengikuti arah tatapannya, kontan hatinya tercekat…

Entah sejak kapan, dua orang telah berdiri di pintu, ternyata mereka adalah Pui Hui-ji dan Yu Ji-nio.

Suara langkah manusia berkumandang juga dari kiri-kanan serambi, menyusul kemudian muncul dua baris pasukan anak perempuan bersenjata lengkap.

Tak lama kemudian, pintu ruang tengah terbuka lebar dan muncul Tong Siau-sian diiringi oleh Pang Wan-kun.

Kontan Pang Goan naik darah, sambil melotot dengan penuh kebencian serunya, “Beginikah hubungan erat seorang adik dengan kakak kandungnya?”

Dengan perasaan malu Wan-kun menunduk kepala rendah-rendah, katanya lirih, “Toako, jangan salahkan aku, kalian tak akan berhasil melarikan diri dari sini…”

Pang Goan membentak gusar dan menerjang ke sana.

Tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, cahaya tajam berkilauan, menyusul dua bilah golok panjang telah mengadang di depannya, serentak gadis lain di bawah serambi pun melolos senjatanya.

Tong Siau-sian tersenyum, katanya, “Lebih baik kalian bertiga kembali saja, kami anggap peristiwa malam ini sebagai tak pernah terjadi, janji yang tempo hari masih tetap berlaku, aku tak akan bikin susah kalian bertiga.”

Tentu saja Pang Goan mengerti bahwa ucapan tersebut cuma basa-basi, justru lantaran golok mestika Yan-ci-po-to belum berhasil didapatkan, maka Tong Siau-sian harus bersikap sungkan, coba kalau tidak begitu, tak akan ramah begini sikapnya.

Tapi persoalan telah berkembang menjadi begini, dalam keadaan tanpa senjata jelas tak mungkin bagi mereka untuk menerobos keluar lembah Mi-kok.

Gusar dan gemes Pang Goan, ditatapnya Wan-kun dengan mata melotot, kalau mungkin dia hendak menelan adiknya bulat-bulat.

Ternyata Leng-hong jauh lebih berlapang dada, sambil angkat bahu dan tertawa katanya, “Lebih baik Kokcu perkuat penjagaan dalam penjara, kalau perlu terali basinya dipertebal beberapa kali lipat, sebab kalau tidak kami masih tetap akan berusaha untuk kabur.”

“Kau anggap masih ada kesempatan untuk kabur?” ejek Tong Siau-sian.

“Setiap kesempatan yang ada adalah hasil usaha manusia, kami sudah jemu terhadap pelayanan dalam penjara setiap saat mungkin kami akan mengubah suasananya.”

“Kalian tak akan melakukan perbuatan bodoh lagi, dan pihak kamipun tak akan memperkenankan kalian melanggar kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,” ucap Tong Siau-sian sambil tertawa.

Leng-hong tidak berkata lagi, setelah menjura ia berjalan keluar lebih dahulu.

Pang Goan masih melotot dengan penuh kegusaran, ia masih penasaran, Hui Beng-cu segera mendorongnya sambil berbisik, “Pang-toako, mari kita pergi! Mungkin Toaci mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan.”

Pang Goan menggeleng sambil mendengus, kemudian putar badan dan berlalu.

Yu Ji-nio dan Pui Hui-ji mengiringi ketiga orang itu, selain mereka ada lagi delapan orang gadis bersenjata yang mengiringi mereka dari kiri-kanan.

Rupanya amarah yang berkobar dalam dada Pang Goan belum reda, ia lupa Hui Beng-cu mengikut di belakang, dengan gemas ia berseru, “Hmm, perempuan tetap perempuan, tak bisa diajak berunding untuk urusan besar!”

Hui Beng-cu tahu orang sedang mendongkol, maka iapun cuma tertawa saja tanpa memberi komentar.
“Aku tidak setuju dengan perkataanmu,” kata Leng-hong sambil tertawa, “Sebetulnya perempuan adalah partner yang baik, bergantung berapa banyak kebaikan yang bisa kauberikan kepadanya, dan berapa besar keuntungan yang dapat ia raih? Yu Ji-nio betul tidak perkataanku ini?”

“Aku tidak tahu!” jawab Yu Ji-nio ketus tanpa berpaling.

“Tentu saja sekarang kaubilang tidak tahu, tapi kemarin mengapa kau kelihatan gembira sewaktu kuberitahukan kepadamu bahwa kau hendak diangkat menjadi Tianglo oleh pihak Tiang-lo-wan?”

Mendadak Yu Ji-nio berhenti, lalu menegur dengan suara dalam, “Hei, kau ngaco-belo apa?”

“Sekarang urusan sudah lewat,” kata Leng-hong sambil tertawa, “apa salahnya kalau disinggung lagi? Tentu saja ucapanku itu hanya membohongi kau, tapi waktu itu kau telah menganggapnya sebagai sungguh-sungguh.”

Yu Ji-nio marah sekali, katanya, “Selama kalian masih berada dalam penjara, aku selalu melayani kalian secara baik-baik, kenapa kau memfitnah diriku dengan kata-kata yang tak senonoh?”

“Baiklah, tidak kusinggung lagi, kenapa marah, kalau aku bermaksud memfitnahmu, ketika berada di hadapan Kokcu tadi tentu kuungkapkan masalah ini, buat apa menunggu sampai sekarang?”

Tak terlukiskan rasa gusar Yu Ji-nio, tapi pada dasarnya ia berlidah kaku dan tak pandai bicara, sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakan, terpaksa sambil menggertak gigi ia bungkam saja.

Pui Hui-ji yang berada di belakangnya segera berteriak, “Orang she Ho, kuharap kau bersikap lebih jujur, Yu Ji-nio selalu setia kepada Kokcu, jangan mimpi kau akan meretakkan hubungan kami.”

“Baik, anggap saja tanpa sengaja aku hendak meretakkan hubungan kalian!” kata Leng-hong sambil merentangkan tangan, “untung kata-kata yang terucapkan dari mulut bagaikan angin lalu, siapapun tak bisa membuktikannya. Cuma, sebagai orang pintar seharusnya bisa berpikir, andaikata tak ada permainan, mana bisa kau menyusup ke dalam penjara segampang itu…”

Belum habis kata-katanya, Yu Ji-nio tidak tahan lagi, segera ia mencabut goloknya.

“Hei, mau apa kau?” Leng-hong mundur beberapa langkah sambil menegur dengan serius, “apakah kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi?”

“Kau… kau binatang!” bentak Yu Ji-nio marah.

Pada dasarnya dia memang tidak pandai bicara, apalagi setelah gusar, ia semakin tak tahu makian apa yang pantas dilontarkan, maka begitu membentak, golok panjang secepat kilat menyambat tubuh bagian bawah Ho Leng-hong.

Tindakan tersebut mencerminkan bahwa ia masih jeri akan sesuatu kendatipun kesadarannya hampir terpengaruh oleh emosi, meskipun ia sangat benci pada Ho Leng-hong, namun tidak berani sungguh-sungguh membunuhnya, maka tabasan itu dituju pada bagian tubuh yang tidak berbahaya sebagai pelampiasan rasa gemasnya.

Ho Leng-hong pun telah menduga orang tak akan berani membunuh, maka sambil pura-pura takut ia menjerit lalu melarikan diri terbirit-birit…

Baru dia menyingkir, cahaya golok berkilauan dan… “trang!” tahu-tahu serangan Yu Ji-nio tertangkis.

“Ji-nio!” Pui Hui-ji membentak dengan menarik muka, “ketiga orang ini adalah tamu Kokcu kita, bila kaulukai mereka, siapa yang akan bertanggung jawab bila Kokcu menegur nanti?”

“Tapi dia…dia terlalu menjengkelkan…” seru Yu Ji-nio dengan marah

“Ia bicara sendiri. Asal kau tidak merasa berbuat, kenapa orang hendak kaubunuh untuk membungkam mulutnya?”

“Benar!” cepat Leng-hong menyambung, “aku tak akan memberitahukan hal ini kepada Kokcu, kenapa kau kuatir?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: