Kumpulan Cerita Silat

08/01/2008

Duke of Mount Deer (06)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:46 pm

Duke of Mount Deer (06)
Oleh Jin Yong

Jumlah hutang keduanya sudah mencapai dua ratus tail lebih. Belakangan mereka kalah habis-habisan. Keduanya saling lirik sekilas, kemudian Yu To berkata kepada Siau Po.

“Saudara Kui, kami ingin membicarakan sesuatu, sudikah saudara ikut derigan kami?”

“Baik,” sahut Siau Po santai. “Kalau kalian masih membutuhkan uang, katakan saja!”

“Terima kasih,” kata Yu To. Mereka terus berjalan mengikuti Siau Po, ketiganya menuju rumah sebelah.

“Saudara Kui, kau masih begitu muda, namun hatimu mulia sekali. Sukar mencari orang baik sepertimu di zaman ini,” kata Yu To memuji.

Tentu Siau Po senang dipuji, tetapi dia tetap merendah.

“Ah, saudara hanya memuji. Di antara orang sendiri tidak perlu sungkan-sungkan. Soal pinjam meminjam tidak menjadi masalah!” kata Siau Po sambil mengeluarkan uang sebanyak tiga puluh tail dan diserahkannya kepada kedua saudara itu. “Kalian butuh uang? Ambillah ini!”

“Kau baik sekali, saudara. Cuma hati kami jadi tidak enak,” kata Yu To. “Hutang kami sudah banyak….”

“Saudara, semakin lama kau semakin maju saja, sedangkan modal kami pun sudah amblas. Bahkan hutang kami menumpuk, entah sampai kapan baru kami bisa melunasinya? Perasaan kami jadi bingung….”

Siau Po tersenyum.

“Hutang tidak terbayar padahal hal yang biasa. Sudahlah, tak usah saudara menyebut-nyebutnya lagi.”

Yu To menarik nafas panjang.

“Saudara, kau sungguh baik. Jadi maksudmu, sampai kapan pun hutang kami itu tidak perlu dipikirkan?”

“Memang begitulah maksudku. Tidak apa-apa, meskipun sampai dua ratus tahun”

“Sampai dua ratus tahun? Mana ada manusia yang umurnya sepanjang itu?” tukas Yu Hong sam-bil menoleh kepada kakaknya dan Yu To pun menganggukkan kepalanya. “Saudara Kui, setahu kami, majikanmu itu hebat sekali!”

“Maksudmu, Hay kongkong?”

“Benar,” sahut Yu Hong. “Itulah yang mengkhawatirkan kami. Meskipun kau tidak menagih hutang itu, tapi bagaimana dengan majikanmu? Kami akan mencari akal untuk membayarnya.”

Otak Siau Po bergerak cepat, pikirnya dalam hati.

‘Hay kongkong memang cerdik. Kura-kura tua itu bisa memandang jauh. Entah apa yang dipikirkannya sekarang?’ Selama ini dia repot bertanding dengan Siau Hian Cu, sehingga lupa urusannya mencari kitab. ‘Baiklah, sekarang aku ingin men-dengar apa yang akan dikatakan kedua bersaudara ini.’ Karena itu pun, dia memperhatikan kedua orang di hadapannya.

“Saudara Kui, setelah berpikir sekian lama, kami rasa hanya ada satu jalan, yakni jangan kau beritahukan kepada Hay kongkong mengenai hutang kami. Kami berjanji, kalau nanti menang main, kami akan melunasi hutang itu.”

‘Kalian berdua memang kura-kura. Boleh saja kalian berjanji, tapi mana mungkin kalian bisa melunasi hutang kalian itu? Kalian toh tidak mungkin mengalahkan aku!’ makinya dalam hati.

Namun di luar dia berkata: “Sayang sekali…” Siau Po pura-pura menyesal. “Hal itu justru sudah diketahui oleh kongkong. Majikanku itu pernah mengatakan, bahwa hutang harus dilunasi, tetapi waktunya boleh diperpanjang sedikit.”

Mendengar kata-katanya, kedua saudara itu terkejut setengah mati. Mereka saling melirik sekilas. Tampaknya mereka memang takut terhadap Hay kongkong.

“Tapi, saudara muda, tidak dapatkah kau membantu kami? Begini, kalau kau menang lagi nanti, uang kemenangan itu kau serahkan kepada kongkong dan katakan sebagai cicilan hutang kami!”

‘Ah! Kalian memang licik!’ maki Siau Po dalam hati. ‘Apakah kalian mengira aku ini bocah usia tiga tahun?’ gerutunya lagi diam-diam.

“Caramu itu bisa juga dilakukan, tetapi apakah tidak akan menimbulkan kesulitan bagiku?” kata-nya kepada kedua saudara Un itu.

“Saudara Kui, kau memang baik sekali. Terima kasih untuk kebaikanmu itu,” kata kedua saudara Un dengan perasaan lapang.

“Kami tidak akan melupakan budimu untuk selamanya!” kata Yu Hong.

“Kalau kalian sudah mengambil keputusan seperti itu, baiklah. Cuma ada satu permintaanku. Dapatkah kalian memberikan bantuan kepadaku?”

“Mudah! Mudah!” sahut kedua orang itu serentak. “Bantuan apa yang dapat kami lakukan?”

“Begini, sudah banyak hari aku berdiam dalam istana. Tetapi selama ini aku belum pernah melihat wajah Sri Baginda. Berbeda dengan kalian, sebab di dalam Gi Si Pong, kalian senantiasa melayani junjungan kita itu. Aku bermaksud meminta kalian mengajak aku melihat Sri Baginda.”

Yu To dan Yu Hong terkejut sekali.

“Ini… ini….” Sikap mereka gugup sekali. Untuk sesaat mereka sampai tidak dapat mengatakan apa-apa.

“Jangan salah paham. Aku hanya ingin melihat wajah Sri Baginda. Aku bukan hendak mengajukan sesuatu. Kalau aku berada dalam Gi Si Pong, tentu aku bisa melihat beliau! Betapa puas hatiku nanti! Andaikata gagal, aku juga tidak akan menyalahkan kalian!”

Kedua saudara itu berdiam diri sejenak untuk berpikir. Kemudian terdengar Yu To berkata.

“Kalau tujuan Saudara hanya untuk melihat wajah Sri Baginda, siang nanti aku akan menjemput saudara dan mengajak saudara ke Gi Si Pong. Itulah saatnya Sri Baginda berada di kamar tulisnya untuk menulis sajak atau yang lainnya. Di saat itu lebih banyak kesempatan saudara untuk melihatnya.” Selesai berkata Yu To pun melirik ke arah saudaranya sekali lagi.

Siau Po melihat sikap kedua orang itu dan diam-diam ia berkata dalam hatinya.

‘Kura-kura, kalian memang banyak lagak! Mungkinkah di siang hari Sri Baginda justru tidak berada di kamar tulisnya? Tapi, apa perduliku? Tujuanku toh bukan untuk melihat Raja, tapi untuk mencuri kitab. Namun, bagaimana kalau aku bertemu dengan raja? Apa yang harus kukatakan? Kalau rahasiaku ketahuan, aku bisa dihukum mati sekeluarga…. Kalau aku berhasil mencuri kitab itu, mungkin kongkong akan mengajarkan aku ilmu silat yang sebenarnya. Selama ini aku masih sering dikalahkan oleh Siau Hian cu.’

Membawa pikiran demikian, Siau Po segera menjura kepada kedua saudara Un.

“Terima kasih, saudara sekalian. Pada dasarnya kita semua memang para budak, tetapi kalau seumur hidup kita tidak bisa melihat wajah Sri Baginda, tentu di akherat nanti kita akan dicaci maki Raja Akherat.”

Sampai di situ, mereka pun berpisah. Kedua saudara Un memenuhi janji. Baru lewat jam Bi si, mereka sudah menjemput Siau Po. Padahal waktu perjanjian masih kurang satu kentungan. Di luar kamar, Yu Hong bersiul perlahan sebagai tanda dan Siau Po pun segera menghampirinya. Kedua saudara itu memberi isyarat dengan gerakan tangan, kemudian mereka bertiga menuju ke arah barat.

Kali ini Siau Po mengingat-ingat setiap jalan yang dilaluinya. Dia terasa diajak cukup jauh berjalan. Tiba-tiba Yu To menghentikan langkah kakinya dan berkata perlahan.

“Sudah sampai. Inilah Gi Si Pong! Kau harus berhati-hati!”

“Aku mengerti,” sahut Siau Po.

Dua saudara Un mengajak Siau Po ke belakang. Jalannya memutar. Di situ ada sebuah pintu kecil yang kemudian mereka masuki. Setelah melintasi dua buah taman kecil mereka sampai di sebuah ruangan yang besar. Di dalamnya terdapat beberapa rak besar yang penuh dengan berbagai kitab, jum-lahnya mungkin mencapai ribuan jilid.

Melihat buku-buku itu, Siau Po diam-diam menarik nafas panjang. Dia merasa kagum juga bingung.

‘Kalau aku memiliki buku sebanyak ini dan diharuskan membacanya. Mana ada waktu lagi untuk berjudi? Kongkong menyuruh aku mencuri sebuah kitab, tetapi kitab yang mana? Bagaimana aku mencarinya?’ gerutunya dalam.

Siau Po hanya mengenal huruf angka seperti 123 dan seterusnya. Sekarang dia harus mencari sebuah kitab di antara ribuan jilid, bagaimana kepalanya tidak menjadi pusing? Rasanya dia ingin membalikkan tubuh untuk kabur dari tempat itu!

“Sebentar lagi Sri Baginda akan datang ke kamar tulisnya ini. Dia biasa duduk di belakang meja itu,” bisik Yu To sambil menunjuk.

Siau Po memperhatikan keadaan dalam ruangan. Di tengah-tengah ada sebuah meja besar, terbuat dari kayu mahoni dan pinggirannya dilapisi emas. Meja itu sangat indah, dan harganya pasti mahal sekali. Kecuali beberapa jilid buku, di atas meja juga terdapat beberapa macam peralatan tulis. Kursinya memakai alas dan sarung yang bersulamkan naga dari benang emas.

Meskipun nyalinya besar sekali, tetapi melihat perabotan dalam kamar itu, jantung Siau Po ber-debaran juga. Di dalam hati kembali dia memaki. “Raja kura-kura ini, bahagia sekali hidupnya!”

“Kau bersembunyi di belakang rak buku itu,” kata Yu To. “Nanti kau bisa melihat Sri Baginda raja. Selagi Sri Baginda menulis, kau jangan ber-suara sedikit pun. Juga jangan batuk-batuk atau berdehem. Kalau kau sampai kepergok dan Sri Baginda gusar, mungkin beliau akan memanggil para siwi (pengawal) dan kau pun akan diringkus untuk dipenggal batang lehermu!”

“Aku tahu!” sahut Siau Po. “Tak nanti aku bersuara ataupun terbatuk-batuk.”

Kedua saudara Un segera bekerja. Mereka membersihkan debu-debu dari meja dan kursi, juga menyapu lantai sehingga semuanya bertambah mengkilap. Cermin muka pun dilap sehingga menjadi terang.

“Saudara, kalau lohor ini Sri Baginda raja tidak datang, berarti hari ini beliau tidak akan datang lagi.

Sebentar lagi akan ada siwi yang meronda. Kalau kita sampai kepergok, habislah semuanya!” kata Yu To.

“Aku tahu,” sahut Siau Po. “Sekarang kalian boleh pergi dulu, aku akan menunggu sebentar lagi.”

“Tidak bisa. Kau tentu tahu peraturan di dalam istana, bukan? Baik para thaykam dan dayang-dayang tidak dapat sembarangan saja menghadap raja.”

“Betul, saudara Kui,” kata Yu Hong menambahkan. “Bukannya kami tidak suka membantumu, tapi berdiamnya kami di sini ada batas waktunya. Kami hanya boleh berada di sini selama setengah jam. Selesai menjalankan tugas, kami harus keluar lagi. Jikalau kami berayal, dan kena dipergoki para siwi, setidaknya kami bisa dirotani atau beratnya dihukum mati!”

“Itu toh tidak berarti?” kata Siau Po seenaknya.

Yu Hong membanting kaki.

“Saudara Kui, di sini kita tidak bisa main-main. Untuk melihat Sri Baginda, besok masih ada kesempatan, kita datang lagi saja besok.”

“Baiklah,” sahut Siau Po akhirnya. “Mari kita pergi!”

Bukan kepalang leganya hati kedua saudara Un. Mereka segera keluar dari ruangan itu sambil mendampingi Siau Po dari kanan kiri. Justru pada saat itu, tiba-tiba Siau Po berkata.

“Kalian juga belum pernah melihat Raja, bukan?”

Yu Hong tertegun.

“Kau… kau… bagaimana….” Sikapnya gugup. Sudah tentu dia ingin bertanya. ‘Bagaimana kau bisa tahu?’ Tetapi belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Yu To sudah menukas.

“Mana mungkin kami belum pernah melihatnya?” Yu To lebih pandai berpura-pura. “Sudah sering kami melihat beliau.”

Siau Po tidak mau memojokkan mereka. Dia berjanji kepada kedua saudara Un bahwa dia akan menggunakan uang kemenangannya sebagai pembayar hutang kepada Hay kongkong. Kedua saudara itu langsung mengucapkan terima kasih berulang-kali, serta mengatakan kelak mereka akan membalas budi kebaikan Siau Po.

Sekejap saja mereka sudah sampai kembali di pintu samping. Siau Po berkata.

“Lain kali kalian ajak lagi aku kemari, lihatlah peruntunganku!”

“Ya, ya!” sahut kedua saudara Un.

Mereka pun berpisah. Siau Po berjalan dengan cepat. Setelah melintasi dua buah lorong, dia menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepala untuk melihat kedua saudara Un itu. Dia bersembunyi sebentar. Begitu kedua orang itu pergi jauh, dia langsung kembali lagi. Tujuannya sudah pasti kamar tulis raja. Sempat dia merasa kecewa karena ternyata pintunya dikunci Untuk sesaat Siau Po tertegun.

“Pintu kamar tulis ini sudah dikunci, ternyata kedua saudara Un itu tidak berbohong. Pasti barusan ada siwi yang meronda kemari. Tetapi, kemana perginya mereka sekarang?’ pikirnya dalam hati.

Siau Po memasang telinganya di depan pintu. Dia tidak mendengar suara apa pun. Hatinya penasaran, dia mengintai dari lubang kunci, tidak terlihat seorang pun di dalam kamar tulis itu. Akhirnya dia mengeluarkan pisau belati yang digunakannya untuk membunuh Siau Kui cu. Kepalanya melongok ke kanan kiri. Setelah yakin tidak ada orang, dia congkelkan pisaunya ke dalam celah pintu sehingga palangnya terbuka. Dengan gesit dia membuka pintu itu dan kemudian menyelinap ke dalamnya, pintu itu pun lalu dipalang kembali.

Ternyata Gi Si Pong itu nama kamar tulis Raja dan di dalam tidak ada siapa-siapa. Melihat kursi yang bersulaman indah itu, Siau Po tidak dapat menahan keinginan hatinya. Dia berjalan menghampiri kursi itu kemudian duduk di atasnya.

“Gila. Raja dapat duduk di sini, mengapa aku tidak?” meskipun mulutnya berkata demikian, ketika dia menghenyakkan pantatnya di atas kursi itu, jantungnya berdegup dengan kencang.

“Ah, kursi ini tidak seberapa nyaman diduduki, kalau begitu jadi Raja juga belum tentu enak,” pikirnya kembali.

Tidak berani dia duduk lama-lama, cepat-cepat dia mendekati rak besar dan mencari kitab Si Cap Ji cin-keng. Namun dia menemui kesulitan. Jumlah bukunya terlalu banyak, sedangkan dia tidak bisa membaca. Dia mencari judul buku dengan huruf ‘Si’ sebagai permulaan. Dia menemukannya, tetapi huruf keduanya bukan Cap. Kemudian dia mencari buku yang huruf keduanya ‘Cap’, kembali dia menemui kegagalan sebab yang ada bukan Cap Ji tapi Cap Sha tiga belas.

Ah, dimanakah letaknya kitab itu, tanyanya berulang-ulang dalam hati. Tepat pada saat itulah dia mendengar suara langkah kaki di luar pintu.

“Celaka ada orang!” hatinya terkesiap. “Bagaimana baiknya?” Tidak dapat dia berlari keluar sebab pintunya hanya ada satu. Cepat-cepat dia berlari kemudian bersembunyi di balik rak buku.

Sekejap kemudian orang itu sudah masuk ke dalam kamar. Dia tidak langsung duduk, tetapi berjaian hilir mudik, seolah sedang gelisah menunggu sesuatu.

“Gawat! Tentu ada siwi yang lagi meronda!” pikir Siau Po dalam hatinya.” Apakah tadi ada orang yang melihat aku masuk ke ruangan ini?” Keringat dingin langsung membasahi kening Siau Po. Dia sadar, kalau sampai kepergok, tamatlah riwayatnya.

Selagi orang itu berjalan mondar mandir di dalam ruangan, tiba-tiba di luar ada seseorang yang berkata.

“Sri Baginda yang mulia, Gak siau-po datang karena ada urusan yang penting sekali. Sekarang Gak siau-po sedang menunggu di depan pintu!”

“Oh!” Terdengar seruan terkejut Sri Baginda.

Siau Po terkejut sekaligus senang. Dia ingat siapa Gak siau-po. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Jelas orang di dalam ruangan ini Raja dan yang di luar Gak siau-po. Dan Gak siau-po itu orang lihay nomor satu bangsa Boanciu yang hendak dicari oleh Mau toako. Entah bagaimana tampangnya, aku harus melihatnya!”

Siau Po langsung mengintai dari tempat persembunyiannya. Sementara itu, Sri Baginda sudah memberi ijin kepada Gak Siau-po untuk masuk ke dalam. Langsung terdengar suara langkah kaki yang masuk ke dalam. Orang itu lantas memberi hormat sambil berlutut.

“Go Pay menghadap Sri Baginda!”

Siau Po mengintip. Dia melihat seseorang bertubuh tinggi besar. Tidak berani dia memperhatikan lama-lama karena khawatir orang itu akan mengangkat wajahnya dan melihatnya.

“Kau menganggukkan kepala kepada Raja, sama saja kau memberi hormat kepadaku! Begini rupanya tampang tokoh nomor satu bangsa Boanciu, apanya yang hebat!” makinya dalam hati.

“Cukup!” Sementara itu terdengar suara sahutan Sri Baginda.

Go Pay langsung bangun dan berkata.

“Harap Sri Baginda ketahui bahwa Suke Shasia bermaksud mengkhianat, sarannya sungguh kurang ajar. Bagaimana pun dia harus mendapat hukuman yang berat!”

“Begitu?” sahut Raja datar.

“Ya, Sri Baginda. Dia juga mengusulkan agar hamba ditugaskan menjaga makam kerajaan!”

“Oh, begitu,” sahut Raja singkat, kembali tanpa emosi.

“Oleh karena itu hamba sudah merundingkannya bersama para raja muda, para pangeran dan menteri-menteri besar yang mana akhirnya ditarik kesimpulan bahwa Suke Shasia mempunyai dua puluh empat dosa besar, termasuk berhati licik serta berniat mengkhianati dan menghina Sri Baginda. Dia harus dihukum picis bersama putra bungsunya, Suke Tan, yang menjabat sebagai menteri besar urusan negara. Dan keenam orang anak angkatnya, seorang cucu, dua orang anak saudaranya harus dihukum mati. Sedangkan sanaknya Tongnia Pai-erl Hetu dan siwi Ngo Tu juga harus dihukum mati!” kata Go Pay kembali.

“Apakah hukuman demikian tidak terlalu berat?” tanya Raja.

Siau Po heran mendengar suara raja itu. Diam-diam dia berkata dalam hati: “Suara Raja seperti suara anak kecil dan mirip dengan suara Siau Hian cu, aneh sekali?”

Terdengar Go Pay berkata kembali. “Sri Baginda masih terlalu muda. Mungkin Sri Baginda masih kurang jelas mengenai urusan pemerintahan. Suke Shasia telah mendapat pesan terakhir dari almarhum Sri Baginda sebelumnya bahwa dia beserta hambamu yang lainnya harus membantu dalami urusan negara. Seharusnya dia merasa gembira mendengar Sri Baginda sendiri yang akan memegang tampuk pimpinan. Tetapi dia malah memberikan saran yang menghina. Hatinya jahat. Karena itu hamba mohon Sri Baginda menerima saran hamba ini agar dia segera ditawan dan dijatuhi hukuman berat. Sri Baginda baru mulai memerintah, sudah sepatutnya Sri Baginda menunjukkan kewibawaan agar semua menteri merasa segan! Jikalau Suke Shasia diampuni atas kesalahannya ini, kelak di kemudian hari sulit bagi Sri Baginda untuk mengendalikan pemerintahan di negara ini, apalagi yang berani meniru perbuatan Suke Shasia itu!” Kesal hati Siau Po mendengar suara Go Pay yang angkuh itu.

“Kura-kura tua ini sangat tidak tahu diri. Dia berani menghina Raja yang menurutnya masih muda sekali. Tetapi apakah benar Raja ini masih kecil? Tidak heran, suaranya mirip Siau Hian cu. Menarik sekali,” pikirnya.

Kemudian dia mendengar suara Raja.

“Mungkin perbuatan Suke Shasia memang kurang tepat. Tetapi dia adalah seorang menteri besar yang ditugaskan membantu kerajaan. Sama seperti kau dan menteri-menteri lainnya yang dihargai oleh mendiang Sri Baginda. Kalau baru mulai memerintah saja aku sudah menghukum mati seorang menteri besar, mungkin arwah mendiang Sri Baginda di dunia lain akan menjadi tidak senang.”

Go Pay tertawa. “Sri Baginda, ucapan Sri Baginda seperti kata-kata seorang anak kecil saja. Mendiang Sri Baginda menugaskan Suke Shasia membantu pemerintahan. Itu artinya, dia harus baik-baik memberikan bantuan kepada Sri Baginda, tetapi dia justru sebaliknya. Dia berhati serong juga menghina Sri Baginda! Hal ini membuktikan bahwa dia tidak menghormati mendiang. Sri Baginda, juga Sri Baginda sendiri!” Habis berkata, menteri itu tertawa lebar.

“Go siau-po, apakah yang lucu sehingga kau tertawa?” tanya Raja. Tawa Go siau-po seperti dibuat-buat. Sikapnya benar-benar tidak sopan. Lagipula memang tidak ada yang lucu.

Go Pay tertegun. Dia baru sadar bahwa sikapnya kurang pantas.

“Ya… ya…” katanya bingung, perasaannya mendadak jadi tidak enak.

“Lagi pula, kalau dia sampai dihukum mati, hilanglah kharisma serta kebijaksanaan Raja yang terdahulu. Apa kata rakyat nanti apabila aku keliru menghukum seorang menteri besar? Dia dianggap banyak dosanya, tetapi mengapa mendiang Sri Baginda mau menggunakan jasanya seperti halnya engkau yang bahkan bertugas bersamanya?”

“Sri Baginda hanya ketahui satu hal, tapi tidak tahu yang lainnya. Kalau rakyat mempunyai pemikiran tersendiri, biarkan saja. Hamba yakin tidak ada yang berani sembarangan berbicara. Sebenarnya, memang siapa yang berani mencela mendiang Sri Baginda? Orang yang berani berbuat demikian, memangnya punya batok kepala berapa buah?”

“Akan tetapi, kita harus ingat apa yang dicatat dalam kitab tua. yakni menjaga mulut rakyat seperti menjaga sungai yang mengalir. Kalau kita sembarangan menghukum mati saja, sedangkan rakyat dilarang bicara, aku rasa bukanlah hal yang bijaksana.”

Diam-diam Siau Po merasa kagum terhadap raja ini. ‘Memang benar apa yang dikatakannya!’ katanya dalam hati.

“Itulah tulisan dari kitab tua zaman Beng yang paling tidak bisa dipercaya,” kata Go Pay kembali. “Kalau orang Han itu benar, kenapa kerajaannya bisa jatuh ke tangan kita bangsa Boanciu. Hamba ingin menasehati Sri Baginda agar mengurangi bacaan tidak bermanfaat yang bahkan bisa membuat otak kita menjadi butek itu.”

“Hm!” Raja hanya berdehem.

“Begitu juga ketika hamba mengikuti mendiang Sri Baginda Thay Cong dan mendiang Sri Baginda menyerang ke timur serta barat. Ketika dari Kwan-gwa menerjang masuk ke Kwan-lai, berapa banyak jasa besar yang telah hamba bangun, semuanya menggunakan cara kita bangsa Boanciu,” kata Go Pay kembali.

“Ya, jasa Siau-Po memang besar sekali, kalau tidak, mana mungkin mendiang Sri Baginda bisa menghargaimu!”

“Hambamu hanya tahu bagaimana harus setia mengikuti Sri Baginda menjalankan pemerintahan. Hamba sudah mengabdi dari zaman Thay Cong sampai Si Cou malah sampai Sri Baginda sekarang! Kita bangsa Boanciu, kita biasa melakukan apa pun seadanya. Setiap perbuatan ada pahalanya dan ada hukumannya, tergantung dari apa yang kita lakukan. Suke Shasia tidak setia, karena itu dia harus mendapat hukuman berat!”

“Sungguh jahat. Dari suaramu saja, aku tahu bahwa kaulah sendiri yang pengkhianat!” maki Siau Po dalam hatinya.

“Sejak tadi kau berkeras agar Suke Shasia mendapat hukuman berat, sebetulnya apa alasan utamanya?” tanya Raja.

“Alasannya? Mungkin Sri Baginda menganggap aku mempunyai persoalan pribadi dengannya!” suara menteri itu semakin keras. Setelah itu dia malah berkata lagi: “Hamba bekerja untuk bangsa Boanciu. Usaha yang telah dibangun oleh Thay cou dan Thay cong tidak dapat disia-siakan oleh anak cucunya. Sungguh hamba tidak mengerti apa maksud pertanyaan Sri Baginda tadi?”

Siau Po terkejut setengah mati mendengar suaranya yang begitu sinis dan tajam. Dia mengintai lagi. Kali ini dia dapat melihat dengan tegas. Ternyata bukan hanya tubuhnya saja yang besar, Go Pay juga memiliki kulit wajah yang kasar. Alisnya menjungkit ke atas, tebal tapi mengesankan kebengisan. Dia berbicara dengan sepasang tangannya dikepal-kepalkan, bahkan dapat terdengar suara peletekan tulang belulangnya.

Tepat pada saat itu seorang bocah tanggung melompat turun dari kursi yang bersulaman indah itu. Ketika Siau Po menegaskan pandangan mata-nya, hatinya terkesiap. Mulutnya melongo dan tanpa sadar dia mengeluarkan seruan tertahan. Sebab sekarang dia dapat melihat tegas bahwa orang itu memang Siau Hian cu yang mengajaknya berkelahi setiap hari.

Setelah pulih kesadarannya, Siau Po bermaksud melarikan diri dari tempat itu. Tetapi sebuah ingatan melintas di benaknya.

“Siau Hian cu lebih hebat daripada aku. Apalagi saat ini ada Go Pay, si tokoh nomor satu dari bangsa Boanciu….’

Berpikir demikian, tiba-tiba Siau Po tahu apa yang harus dilakukannya. Dia mengurungkan niatnya untuk menyingkir atau bersembunyi kembali, dengan nekat dia malah melompat turun, kemudian menghambur ke depan Siau Hiaii cu dan menghadang Go Pay.

“Go Pay!” Dia langsung menegur Raja Muda itu. “Apa yang kau inginkan? Berani-beraninya kau bersikap kurang ajar terhadap Sri Baginda! Jikalau kau benar berniat memukul atau membunuh beliau, kau harus langkahi dulu aku sebagai penghalang pertama!”

Go Pay terkejut dan heran. Dia adalah seorang menteri besar. Dia juga panglima perang yang gagah. Terhadap kaisar Kong Hi (Siau Hian cu) yang masih muda, dia berani bicara keras. Tidak ada orang lain yang ia takutkan. Dia benci sekali kepada Suke Sashia, karena itu ia memfitnahnya sampai-sampai dia bersikap keras terhadap junjungannya itu.

Tidak terduga sama sekali olehnya bahwa tiba-tiba akan muncul seorang thaykam cilik yang tidak dikenalnya. Begitu terkejutnya sampai-sampai dia menyurut mundur dua langkah. Tidak jadi dia mendekati rajanya.

“Siapa kau?” bentaknya. “Mengapa kau mengoceh sembarangan? Aku sedang berbicara dengan Sri Baginda, mengapa kau berani mencela seenaknya?” Sepasang kepalan Go Pay sudah dibentang.

Sekarang kenyataan bahwa bocah cilik yang setiap hari mengadu ilmu dengan Siau Po memang Kaisar Kong Hi, raja Boan yang masih muda sekali. Nama aslinya Hian Yap. Dia melihat Siau Kui cu tidak mengenalinya sebagai raja, sengaja dia menggunakan nama Siau Hian cu. Dasar masih kecil, timbul gairahnya untuk bermain-main sebagaimana layaknya bocah-bocah seusianya. Dia juga tertarik sekali kepada Siau Po. Seperti halnya orang-orang bangsa Boanciu, kaisar Kong Hi juga senang bergulat. Dia juga telah mempelajarinya.

Sebetulnya dapat saja dia berlatih bersama para siwi. Tetapi dia tidak bersemangat sebab mereka semua takut kepadanya dan selalu mengalah untuknya. Memperoleh kemenangan dengan cara demikian tidak seru rasanya. Sarapai dia bertemu dengan Siau Kui cu yang dianggapnya lawan setimpal. Siapa sangka di dalam Gi Si Pong ini dia dapat bertemu dengan Siau Kui cu pula. Bahkan bocah itu berani menantang Go Pay demi membelanya.

Sebenarnya kaisar Kong Hi sudah tahu apa sebabnya Go Pay mendesaknya agar menghukum Suke Shasia. Sebab mereka memang bermusuhan. Pertentangan mereka disebabkan kedudukan mereka berdua sebagai orang-orang golongan bendera kuning dan bendera putih. Karena itu dengan enggan dia menerima usul Go Pay dan tidak disangka Raja Muda itu berani menunjukkan kegarangannya.

Sebenarnya perasaan Kaisar agak ngeri juga. Di sana tidak ada thaykam atau pengawal. Kalau terjadi apa-apa, tidak ada yang bisa menolongnya. Siapa nyana dalam keadaan terdesak, tahu-tahu Siau Po muncul di hadapannya.

Sementara itu, keberanian Siau Po semakin terbangkit melihat Go Pay menyurut mundur.

“Urusan menghukum Suke Shasia adalah haknya Sri Baginda. Mengapa kau justru bersikap kurang ajar terhadap junjunganmu? Kenapa kau hendak menyerang Sri Baginda? Apakah tidak takut seluruh keluargamu akan mendapat hukuman mati?”

Go Pay terperanjat. Kata-kata itu tepat menikam jantungnya. Keringat dingin sampai membasahi seluruh tubuhnya. Dia sadar perbuatannya tadi terlalu kasar. Tapi dia memang pandai mengikuti perkembangan, cepat dia berkata:

“Sri Baginda, harap Sri Baginda jangan mendengarkan ocehan thaykam cilik ini. Hambamu adalah seorang menteri yang sangat setia!”

Kaisar Kong Hi tahu apa yang harus dilakukannya. Dia merasa belum saatnya menelanjangi menterinya yang berkepandaian tinggi ini, lagipula menteri itu sudah mundur teratur.

“Siau Kui cu, kemarilah,” katanya kepada Siau Po.

Siau Po segera menjura sambil mengiakan. Dia pun menyurut mundur beberapa langkah.

“Go siau-po, aku tahu kau adalah seorang menteri yang setia dan telah banyak berjasa. Aku tidak akan menyalahkanmu dalam urusan kecil ini!”

Go Pay girang mendengar suaranya itu. “Ya… ya….”

“Mengenai urusan Suke Shasia. Aku setuju denganmu. Pokoknya kau tidak perlu khawatir. Hanya tinggal waktunya saja. Dalam hal menghukum ataupun memberikan hadiah, aku tahu kewajibanku sendiri.”

“Bagus!” sahut Go Pay senang. “Sekarang ternyata pandangan Sri Baginda sudah terbuka. Untuk selanjutnya hambamu akan mengabdi dengan setia demi negara dan Sri Baginda!”

“Bagus! Bagus! Akan kami laporkan kepada Thay hou supaya besok kau akan mendapat hadiah yang berarti!”

“Terima kasih, Sri Baginda,” kata Go Pay sembari menjura.

“Sekarang apa kau masih mempunyai urusan lain yang ingin dibicarakan?” tanya raja kemudian.

“Tidak.” sahut Go Pay. “Hamba mohon diri.” Kaisar mengangguk.

Dengan wajah berseri-seri, Go Pay meninggalkan kamar tulis Raja. Begitu orang itu keluar, Kong Hi langsung menghambur ke depan Siau Po.

“Siau Kui cu, sekarang kau sudah tahu rahasiaku!”

“Sri Baginda…. Waktu itu a… ku… hamba… tidak tahu. A… ku patut mendapat hukuman mati. Sampai sekian lama masih tidak tahu bahwa kaulah Sri Baginda Raja yang diperagungkan… malah aku melayani kau berkelahi….”

Mendengar kata-kata Siau Po, Kaisar Kong Hi menarik nafas panjang.

“Aih! Setelah tahu siapa aku, tentu kau tidak berani lagi berkelahi denganku. Hatiku jadi gundah karenanya….”

Siau Po tertawa lebar.

“Asal kau tidak keberatan, lain kali aku tetap akan melayanimu. Buatku tidak ada halangan apa-apa.”

Kaisar Kong Hi senang mendengar janji yang diucapkan Siau Po.

“Bagus! Kita akan berjanji. Siapa yang tidak sungguh-sungguh berkelahi, maka dia bukanlah seorang Ho han, laki-laki sejati!”

Selesai berkata, raja mengulurkan tangannya. Siau Po tidak tahu aturan dalam istana, dia juga tidak kenal takut. Karena itu dia juga mengulurkan tangannya dan keduanya pun berjabatan dengan erat. Kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak.

Merupakan kebiasaan bagi Kaisar Kong Hi untuk bersikap serius bila berhadapan dengan ibunya atau para bawahannya. Kadang-kadang dia sengaja menonjolkan kewibawaan dirinya. Namun bagaimana pun dia masih seorang bocah cilik yang belum hilang sifat kekanak-kanakannya. Begitu berhadapan dengan Siau Po, dia merasa dirinya tidak berbeda dengan yang lainnya, yakni rakyat jelata.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: