Kumpulan Cerita Silat

08/01/2008

Duke of Mount Deer (06)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:46 pm

Duke of Mount Deer (06)
Oleh Jin Yong

Jumlah hutang keduanya sudah mencapai dua ratus tail lebih. Belakangan mereka kalah habis-habisan. Keduanya saling lirik sekilas, kemudian Yu To berkata kepada Siau Po.

“Saudara Kui, kami ingin membicarakan sesuatu, sudikah saudara ikut derigan kami?”
(more…)

Perguruan Sejati (06)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:51 pm

Perguruan Sejati (06)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

In Tiong Giok menjadi merah padam dan jengah menghadapi perempuan semacam ini, tak terasa lagi mundur-mundur. Kesempatan ini tidak dilewatkan Hoo Su Kouw begitu saja, dengan cepat kakinya terangkat melakukan sabetan. Geraknya ini cepat dan kejam, jangankan Tiong Giok yang tidak berpengalaman andaikata seorang jago Bulim yang berpengalamanpun sukar menghindarinya. Tak heran pemuda kita yang menduga mendapat serangan mendadak menjadi jungkir balik terkena dupakan Hoo Su Kouw.

Setelah serangannya berhasil, Hoo Su Kouw melanjutkan lagi serangannya dengan keras, Tiong Giok menggulingkan badan dan menyambut serangan musuh dengan ilmu In liong sian jiau (naga terbang menunjukkan cakar). Hoo Su Kouw mengubah serangan, dan disambut lawannya dengan ilmu Cee siu sing liong (lengan kosong menangkap naga). Tak terasa lagi lengannya kena tangkap, tak putus asa baginya. Kakinya terangkat kearah selangkangan musuhnya. Tiong Giok menjadi gusar, ia mengengos lalu melemparkan perempuan itu sejauh beberapa depa. Hoo Su Kouw benar-benar habis mengerti kenapa pemuda lemah ini memiliki kepandaian luar biasa. Sekali ini ia tidak memperedulikan dapat tidaknya buku keng thian cit su pedangnya dihunus dan niatnya membunuh sudah mantap. Terlihat ia menyabetkan senjatanya dengan ganas, Tiong Giok melihat kekalapan orang menjadi gusar. Sambil mengengos ia membarengi dengan Hiat cie lengnya yang ampuh. “Sret” terdengar suara memecah udara, angin keras yang panas tak ubahnya seperti halilintar menyambar kearah musuhnya. Hoo Su Kouw merasakan hawa panas menerjang dirinya, dengan memutarkan pedang berusaha membendung serangan musuh. Sungguhpun begitu masih juga baju dan rambutnya bagian sebelah kiri kena dihanguskan.
(more…)

Pendekar Baja (02)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:18 am

Pendekar Baja (02)
Oleh Gu Long

Tapi ketujuh kuda dan penunggang yang lain tetap diam bergeming, seperti tidak mendengar atau melihat kejadian yang dialami rekannya. Sikap diam mereka sungguh mengejutkan, jika bukan orang yang terlatih baik dan selalu mematuhi disiplin, mana mereka bisa bersikap setenang ini?

Orang banyak terbeliak kaget. Habis menjatuhkan seekor kuda, Leng Sam bergerak pula hendak menyikat kuda kedua. Tubuhnya seperti robot saja, tidak punya rasa kasihan sama sekali, asal dia sudah menangani sesuatu pekerjaan, sebelum beres tugasnya tidak mau berhenti, peduli apa pun yang akan dihadapinya, tak pernah dia mundur.
(more…)

Misteri Kapal Layar Pancawarna (04)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:42 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (04)
Oleh Gu Long

Mestinya ia hendak bilang “aku ini utusan raja”, tapi ia tidak tahu istilah apa yang harus digunakan sehingga membuat orang lain yang mendengarkan merasa tidak sabar.

Pada saat itulah mendadak terdengar ribut-ribut di luar, tiba-tiba seorang berambut pirang dan berjubah putih menerobos masuk, orang ini pun berdandan sebagai bangsa Persi, gerak-geriknya juga sangat aneh. Begitu melompat masuk segera ia berteriak, “Aku Cirus, utusan Syah kami, memangnya kamu ini barang apa?”
(more…)

Golok Yanci Pedang Pelangi [08]

Filed under: +Golok Yanci Pedang Pelangi — ceritasilat @ 1:09 am

Golok Yanci Pedang Pelangi [08]
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada CloudRs)

Sedemikian gelisahnya Ho Leng-hong waktu itu, hampir saja ia merengek, memohon kepadanya agar jangan memberi jawaban negatif, sebab jawabannya itu berarti maut baginya.

“Mengapa kau tidak menjawab?” tanya gadis itu lagi, “sebenarnya dia benar-benar Nyo Cu-wi atau bukan?”
(more…)

Blog at WordPress.com.