Kumpulan Cerita Silat

07/01/2008

Pendekar Baja (01)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:17 am

Pendekar Baja (01)
Oleh Gu Long

Cuaca buruk, salju bertebaran, bumi seakan akan dilapisi permadani putih, selepas mata memandang, ribuan li terbentang, hanya putih melulu tanpa warna lain setitik pun.

Jauh di luar kota Kay-hong, di bawah hujan salju yang lebat, tertampak dua ekor kuda dibedal kencang, penunggang kuda di depan mengenakan mantel berbulu tebal, kedua tangannya tersembunyi di dalam lengan baju. Kudanya gagah tapi penunggangnya kelihatan lesu dan ogah-ogahan, kepalanya mengenakan topi kulit rase yang sudah butut, topinya ditarik rendah hingga tidak jelas raut mukanya.

Kuda yang mengintil di belakangnya juga ditunggangi satu orang, tapi orang ini mendekam melintang di punggung kuda, kiranya sesosok mayat yang telah kaku. Karena hawa dingin, maka wajahnya masih segar dan kelihatan seperti masih hidup, pakaiannya perlente, warna dan coraknya segar dan baru, sekujur tubuhnya tidak kelihatan ada bekas luka, wajahnya masih mengulum senyum, agaknya dia mati dengan tenteram seolah-olah mati dengan enak.

Entah dari mana datangnya kedua penunggang kuda ini, tapi arah tujuannya adalah sebuah perkampungan besar yang terkenal di luar kota Kay-hong. Kini penunggang kuda di depan sudah dapat melihat perkampungan besar dan megah yang ditujunya.

Perkampungan ini terletak di sebelah barat parit pelindung kota, ada ratusan wuwungan yang memenuhi tanah seluas beberapa puluh hektare, perkampungan seluas ini ditandai dengan pintu gerbang yang tidak pernah tertutup sepanjang tahun.

Salju di depan pintu gerbang tampak penuh bekas tapal kuda, tapi tidak kelihatan bayangan seseorang pun, lewat pintu gerbang itu masuk ke halaman rumah, di bawah emper kiri terdapat sebuah papan yang penuh bertempelan maklumat besar-kecil dengan gaya tulisan yang berbeda, kertasnya ada yang sudah kuning dan tulisan pun luntur karena dimakan waktu.

Memasuki pintu kecil di sebelah kanan orang akan berada dalam pekarangan yang menghadap ruang kecil, ruangan yang kosong tanpa pajangan dan perabot kecuali deretan peti-peti mati, ada belasan peti mati, semuanya masih baru dan belum dipelitur, seakan-akan di sini memang tersedia peti mati entah untuk dijual atau persediaan untuk penduduk kampung. Padahal hawa amat dingin, tapi tidak kelihatan ada api di dalam ruangan, dua orang lelaki berpakaian hitam tampak nongkrong di atas peti mati di deretan paling depan, kedua orang ini duduk berhadapan sambil minum arak.

Tiga guci arak sudah menggeletak di lantai, tapi kedua orang ini tidak kelihatan mabuk, padahal perawakan mereka kurus kering, berwajah kaku dingin, selintas pandang tak ubahnya wajah patung, tampang kedua orang hampir mirip satu dengan yang lain, mereka terus minum seperti berlomba saja dan tanpa bicara. Orang di sebelah kiri buntung lengan kanannya sebatas siku, tangan yang buntung itu dipasangi sebuah gancu besar warna hitam legam, beratnya belasan kati, setiap kali gancunya bergerak seperti hendak menggantol bolong peti mati, tapi yang digantol hanyalah sebutir kacang yang kecil terus dilontarkan ke dalam mulut, lepek wadah kacang sedikit pun tidak tersentuh.

Laki-laki satunya lagi bertubuh utuh, tapi setiap kali habis meneguk secangkir arak tubuhnya lantas terbungkuk-bungkuk dan batuk, namun tetap tidak kapok, secangkir demi secangkir arak dituang lagi ke dalam perut, agaknya biar batuk sampai mampus juga tidak akan berhenti minum. Rupanya dia lebih rela mati daripada pantang minum arak.

Lewat serambi di sebelah kiri akan sampai ke ruang pendopo, api unggun tampak berkobar di dalam pendopo, di situ berderet delapan meja penuh hidangan, semuanya hidangan kelas satu, ada delapan meja, tapi hanya untuk tujuh orang.

Tujuh orang masing-masing menduduki sebuah meja, maklum, rupanya ketujuh orang ini tidak mau duduk di sebelah bawah yang lain, maka tidak ada yang duduk bersama satu meja.

Usia ketujuh orang ini paling-paling baru tiga puluhan, tapi sikap dan tingkah mereka kelihatan angkuh, seperti orang gede layaknya. Ketujuh orang ini ada lelaki dan juga ada perempuan, ada padri, ada preman, ada yang menyandang pedang, ada yang membawa kantong kulit, yang sama adalah sorot mata mereka berkilat tajam, jelas Lwekang mereka cukup tinggi, jelas mereka adalah jago-jago muda dunia persilatan. Kelihatannya ketujuh orang ini satu sama lain tidak saling kenal, tapi juga seperti sudah kenal, mereka pasti bukan datang dari satu tempat, tapi kini serentak berada di tempat ini, entah untuk apa mereka kemari?

Di belakang pendopo, melewati sebuah serambi pula dan belok ke kanan terdapat sebuah bangunan lain, suasana sepi, ruangan di sebelah kiri tertutup rapat namun tercium bau obat.

Sesaat kemudian tertampak seorang anak dengan rambut digelung kundai membuka pintu keluar dengan membawa kaleng obat. Kini daun pintu terbentang lebar, tertampak dalam ruang itu ada tiga orang tua beruban. Seorang bermuka kurus kuning, duduk di atas ranjang sambil memeluk selimut tebal, agaknya sudah lama dia rebah di tempat tidur karena mengidap sakit. Seorang lagi berperawakan tinggi besar, gagah dan tampan, alisnya tegak, matanya besar bercahaya, kedua tangannya putih bersih laksana batu kemala, walau usianya sudah lanjut, namun masih terbayang bekas ketampanan masa mudanya dulu.

Orang ketiga bertubuh kekar, pundaknya lebar, dadanya bidang berotot, jenggotnya kaku, matanya bundar laksana mata singa, hawa sedingin ini, tapi dia hanya mengenakan baju tipis, baju di depan dadanya terbuka lebar lagi. Kalau rambut dan jenggotnya tidak beruban, siapa percaya usianya sudah tua?

Tiga orang ini duduk di depan ranjang, di ujung ranjang sana ada sebuah meja pendek bertumpuk buku-buku catatan, di sampingnya adalah belasan ikat pinggang dari berbagai jenis kain dan warna yang berbeda. Waktu itu si kakek berjenggot pendek kaku itu sedang membuka ikat pinggang itu satu per satu, setiap ikat pinggang ditempeli kertas.

Sementara kakek bertubuh tinggi itu memegang pensil dan kertas, ia mencatat apa yang tertera di atas kertas tempelan itu, tiada yang tahu apa ini tulisan itu, namun kelihatan muka ketiga orang ini sangat prihatin dengan dahi berkerut.

Selang sekian lamanya, terdengar kakek tinggi itu menghela napas, katanya. “Bertahun-tahun berjerih payah, mengeluarkan biaya yang tidak terhitung banyaknya, namun yang berhasil kita kumpulkan juga cuma ini saja, semoga ….” tiba-tiba dia batuk perlahan dan menghentikan kata-katanya, jelas hatinya tertekan, entah apa yang dikhawatirkannya.

Tapi orang tua yang sakit malah tertawa, ujarnya, “Hasil yang kita peroleh ini tidak terhitung kecil, yang jelas kita sudah berusaha sekuat tenaga, kuyakin pada suatu hari usaha kita akan berhasil.”

“Plak”, tiba-tiba kakek berjenggot kaku berkeplok sekali, katanya lantang, “Ucapan Toako memang benar, bagaimanapun keparat itu hanya seorang saja, memangnya dia mampu mencaplok kita bertiga?”

Kakek tinggi tersenyum, ucapnya, “Sepuluh tahun terakhir ini, ketujuh jago paling top di Bu-lim kini sudah menunggu di ruang depan. Bila Kungfu ketujuh orang ini benar sama hebat seperti nama besar mereka, dengan gabungan kekuatan mereka bertujuh, kuyakin usaha kita ada harapan, yang kukhawatirkan adalah mereka masih berusia muda, masing-masing suka membawa kemauannya sendiri, satu sama lain tidak mau mengalah, jadi sukar bekerja sama.”

Sementara itu, kedua kuda sudah tiba di depan perkampungan, laki-laki bermantel tebal itu melompat turun dari kudanya lalu menghampiri kuda yang lain, memanggul mayat itu terus masuk ke halaman.

Langkahnya perlahan malas seperti tidak bertenaga, tapi tangan yang mengempit mayat itu seperti tidak mengeluarkan tenaga, dia mirip kaum gelandangan yang hidup miskin, tapi kedua ekor kuda yang jempolan itu ditinggalkan begitu saja, biar kuda itu dicuri orang juga tidak jadi soal.

Langsung dia mendekati dinding penahan angin, dengan kemalas-malasan dia mendorong topi bulunya hingga kelihatan raut mukanya, kiranya dia seorang pemuda tampan, mulutnya mengulum senyum walau sikapnya tidak acuh, seperti tidak peduli akan segala sesuatu di sekitarnya, tapi siapa pun bila melihat tampangnya pasti tertarik dan bersimpati kepadanya.

Hanya pedang panjang yang tergantung di pinggangnya dengan sarung pedangnya yang kelihatan kotor dan dekil, sehingga timbul kesan orang meski pedang itu senjata yang dapat membunuh orang, tapi berada di pemuda ini rasanya tidak perlu ditakuti lagi.

Kertas-kertas yang ditempel di dinding itu ternyata semuanya maklumat tentang orang-orang atau penjahat yang sedang dicari atau diuber, di mana tercantum nama, umur dan asal usulnya, kejahatan yang pernah dilakukan, dan berapa besar upah yang dapat diterima bagi siapa pun yang dapat membekuknya hidup atau mati, semua penjahat yang dicari adalah gembong-gembong yang kelewat batas kejahatannya.

Dari maklumat itu dapatlah disimpulkan bahwa akhir-akhir ini tidak sedikit jumlah penjahat yang mengganas di kalangan Kangouw, maklumat itu bukan ditandatangani oleh pihak penguasa yang berwenang, tapi adalah pemberitahuan dari pemilik atau majikan perkampungan besar ini, Jin-gi-ceng.

Ternyata Cengcu dari Jin-gi-ceng ini berani memberi upah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap penjahat yang tercantum dalam maklumat ini, ini memang sesuai dengan nama besar perkampungan itu, Jin-gi-ceng atau perkampungan yang mengutamakan keadilan dan cinta kasih.

Pemuda miskin ini langsung mendekati maklumat yang sudah luntur dan paling lama ditempel di situ, di mana tertulis:

Lay Jiu-hong, 37 tahun, dari aliran Kong-tong, bersenjata ruyung, tujuh puluh tiga Siang-bun-ting (paku pencabut nyawa) dalam kantong kulitnya adalah salah satu dari sembilan belas jenis senjata rahasia paling ganas di Bu-lim. Orang ini bukan saja licik dan licin, banyak akal muslihatnya, keji, jahat, merampok dan membunuh korban yang diperkosanya, segala macam kejahatan dilakukannya. Selama tujuh tahun, setiap bulan sedikitnya satu kali melakukan kejahatan besar, siapa saja bila dapat membekuknya mati atau hidup, akan mendapat upah lima ratus tahil perak, janji pasti ditepati.

Tertanda Jin-gi Cengcu

Pemuda miskin itu menyobek maklumat itu terus masuk ke pekarangan di sebelah kanan. Agaknya sudah sering dia kemari, maka hafal jalannya, kedua laki-laki kurus berbaju hitam yang bermuka kaku seperti patung itu menoleh waktu pemuda ini melangkah masuk, mereka saling pandang terus berdiri bersama.

Perlahan si pemuda turunkan mayat itu di atas lantai, lalu menggeliat, telapak tangan terulur, dia minta upah.

Laki-laki berbaju hitam yang bertangan buntung menggantol mayat itu serta mengamati mukanya sejenak, sorot matanya yang semula dingin tampak bercahaya, dia kempit mayat itu dan melangkah keluar dengan setengah berlari, laki-laki berbaju hitam yang lain menuang secangkir arak dan disodorkan. Tanpa bicara pemuda itu menerimanya dan ditenggak habis, sejak bertemu ketiga orang ini tidak pernah bicara, seolah-olah orang bisu.

Laki-laki lengan buntung membawa mayat itu ke belakang, baru dia tiba di pekarangan, kakek tinggi tegap di dalam kamar telah membuka pintu, melihat dia datang, tanyanya dengan tertawa, “Siapa pula orang ini?”

Laki-laki buntung melemparkan mayat itu ke tanah bersalju, lalu jari telunjuknya menuding.

Kakek itu memburu maju dan memeriksanya sejenak, segera dia berseru girang, “Hah, Lay Jiu-hong!”

Kakek berjenggot pendek berlari keluar, ia pun bersorak senang, “Apa? Sam-jiu-long (serigala tiga tangan) akhirnya terbunuh juga? Thian memang Mahaadil, siapa yang membunuhnya?”

“Manusia,” sahut lelaki buntung berbaju hitam.

Kakek berewok tertawa, makinya, “Keparat, memangnya bapakmu tidak tahu manusia yang membunuhnya? Kau kira tikus celurut mampu merenggut jiwanya? Dasar, bicara saja tidak becus ….”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba gancu di tangan kanan lelaki baju hitam terayun, angin menderu, belum serangan tiba, hawa dingin sudah menyambar. Dengan terkejut kakek berewok melompat mundur, walau perawakannya besar dan kekar, tapi gerak-geriknya juga tangkas, meski dia sudah berkelit dengan cepat, tak urung baju di depan dadanya tersambar oleh gancu orang.

Hanya menyerang sekali dan si baju hitam tidak melanjutkan serangan lagi.

Keruan kakek berewok naik pitam, makinya gusar, “Dirodok, main serang, kalau bapakmu sedikit lambat berkelit, apakah dadaku tidak sobek? Kau anjing ….”

“Samte, tutup mulut,” tiba-tiba kakek sakit membentak, “bukankah kau tahu watak Leng Sam, kau justru memaki dia, kan cari penyakit?”

Kakek berewok tergelak, katanya, “Aku hanya berkelakar, memangnya dia mampu memukul aku. Leng Sam, bila kau mampu memukulku, anggaplah kau memang lihai.”

Wajah dan sikap Leng Sam tetap kaku dan dingin, dia tidak menghiraukan ocehan si berewok, langsung dia mendekati pembaringan, katanya, “Lima ratus tahil perak!” Berbareng mendadak tangannya terayun balik memukul pundak si berewok, kali ini dia gunakan telapak tangan dan tidak memakai gancu, sebab serangan dengan telapak tangan tidak mengeluarkan suara.

Kontan si berewok kena dipukul terpental dan menumbuk dinding. Tapi sigap sekali si berewok berdiri lagi dengan bertolak pinggang, bukan dia yang menggelelok, tapi tembok itu yang retak, dengan mendelik dia memaki pula, “Bedebah, mau berkelahi ya?” sembari bicara dia terus menyingsing lengan baju.

Kakek tinggi cepat memburu ke tengah, katanya bengis, “Samte, adatmu kembali seperti anak kecil lagi?”

“Aku kan hanya tanya ….” omel si berewok.

“Tak perlu tanya lagi,” ujar kakek tinggi, “dari keadaan kematian Lay Jiu-hong, kan dapat kau duga dia pasti terbunuh oleh pemuda aneh itu?”

“Siapa dia?” tanya orang tua yang rebah di pembaringan.

“Tiada yang tahu siap she dan namanya,” ujar si kakek tinggi, “juga tiada yang tahu asal usul Kungfunya. Tapi dalam setahun ini dia sudah menyerahkan tujuh mayat orang yang sudah lama kita uber. Tujuh gembong penjahat yang sekian tahun tak bisa dibekuk dan upahnya pun tinggi, bukan saja kejahatan mereka kelewat batas, buas, licik dan berkepandaian tinggi pula, entah dengan cara bagaimana pemuda itu dapat membunuh mereka.”

Orang tua sakit berkerut kening, katanya, “Sudah tujuh kali dia kemari, ternyata kalian masih belum kenal siapa dia?”

“Setiap kali datang, tak pernah dia mengucap lebih dari sepuluh patah kata, kutanya siapa namanya, dia hanya tertawa dan menggeleng tanpa menjawab,” tutur si kakek jangkung.

Tiba-tiba kakek berewok tertawa geli, katanya, “Watak kerbaunya ternyata mirip Leng Sam, tapi mendingan dia, masih mau tertawa dan geleng kepala, kalau Leng Sam sungguh menyebalkan, mukanya kaku dingin seperti mayat saja.”

Melotot Leng Sam, cepat si berewok melompat mundur dengan tertawa, orang tua yang sakit ikut tertawa geli, katanya kemudian, “Hari ini dari mana kau tahu pemuda itu pula yang datang?”

Kakek tinggi memberi penjelasan, “Setiap korban yang dibunuhnya wajahnya pasti mengulum senyuman aneh. Setiap kali pasti kuperiksa dengan saksama, aku tidak habis mengerti dengan cara apa dia bunuh para korbannya.”

Orang tua sakit termenung, si berewok dan si jangkung berdiri diam dan tak berani bersuara pula.

Kembali Leng Sam ulurkan tangannya dan berkata, “Lima ratus tahil!”

Si berewok tertawa, katanya, “Kan bukan kau yang mau terima uang, kenapa buru-buru?”

Kedua orang ini perang mulut lagi, tapi orang tua sakit tetap tenggelam dalam lamunannya seperti tidak mendengar apa-apa, sesaat baru dia angkat kepala, katanya perlahan, “Kurasa pemuda ini pasti punya asal usul luar biasa. Kebetulan dia telah datang, tiada salahnya kita mengundangnya untuk membantu usaha kita … Leng Sam, pergilah dan undang dia makan minum di pendopo ….”

“Lima ratus tahil!” kembali Leng Sam berucap singkat.

Orang tua sakit tertawa, “Di sinilah kebaikan Leng Sam, tak peduli persoalan apa yang kau suruh kerjakan, tak peduli siapa kau, jangan harap akan minta kelonggarannya. Setiap patah katanya takkan berubah, aku sendiri pun jangan harap akan menggoyahkan keyakinan … Jite, lekas ambil uang, tapi setelah Leng Sam menyerahkan uang, anak muda itu jangan dibiarkan pergi.”

Setelah menerima uang, tanpa bicara Leng Sam putar badan terus keluar.

Si berewok tertawa pula, katanya, “Budak lebih galak dari majikannya, sungguh jarang ada di dunia ini.”

Orang tua sakit menarik muka, katanya dengan sungguh-sungguh, “Dengan Kungfu mereka berdua, jika tidak mengingat hubungan orang tuanya dengan aku pada masa dulu, mana mereka sudi menetap di sini dengan merendahkan derajat mereka? Samte, kenapa kau menganggapnya sebagai budak?”

“Ah, aku hanya bergurau saja,” ujar si berewok, “hanya anak kura-kura yang menganggapnya budak.”

Kakek tinggi tersenyum sambil mengawasi orang tua sakit, katanya, “Jika kau ingin Samte bicara dengan halus, kukira jauh lebih sukar daripada suruh Leng Sam berbicara.”

Selama itu pemuda miskin tadi dan lelaki berbaju hitam tetap tidak berbicara, namun mereka sudah duduk berhadapan, secangkir demi secangkir mereka seperti berlomba minum, setiap menghabiskan secangkir arak lelaki baju hitam lantas terbatuk-batuk, akhirnya pemuda rudin ini minum makin cepat dan banyak, dengan cepat guci kosong di lantai telah bertambah dua.

Sambil mengempit bungkusan uang di sebelah kanan, gancu Leng Sam menyeret mayat dengan langkah lebar datang kembali, langsung dia lemparkan buntalan uang ke atas peti mati, lalu menghampiri peti yang lain serta membuka tutupnya, sekali ayun gancunya, mayat itu dilemparkan ke dalam peti mati, lalu dia duduk di lantai yang dingin dan menenggak arak lagi.

Kembali si pemuda miskin menghabiskan tiga cangkir arak, lalu meraih buntalan uang, sambil tertawa dia memberi hormat terus berdiri. Tapi mendadak Leng Sam berkelebat mengadang di depannya. Keruan pemuda itu berkerut kening, sinar matanya seperti ingin bertanya, “Ada apa?”

Terpaksa Leng Sam buka suara, “Cengcu mengundangmu makan di pendopo.”

“Ah, mana aku berani,” ujar si pemuda.

Beruntun Leng Sam mengucapkan beberapa patah kata dan rasanya sudah terlalu banyak bicara maka dia tidak mau omong lagi, waktu pemuda itu menggeser ke kiri, segera ia pun mengadang ke kiri, bila pemuda itu menyingkir ke kanan, dia juga mengadang ke kanan.

Akhirnya si pemuda tersenyum lebar, entah cara bagaimana dia bergerak, sekali berkelebat, tahu-tahu ia sudah berada di belakangnya Leng Sam, ketika Leng Sam membalik tubuh hendak mengejar, pemuda itu sudah berada di kaki tembok luar sana, ia mengulap tangan kepada Leng Sam sambil tertawa.

Merasa tidak sanggup menyusul orang, tiba-tiba Leng Sam ayun gancu terus mengepruk ke batok kepala sendiri. Sudah tentu pemuda itu kaget, cepat ia melompat balik, belum tiba di tempat, angin pukulannya telah mendampar lebih dulu, kontan gancu Leng Sam tergetar miring, namun kulit kepalanya tetap tergores luka dan mengeluarkan darah, cukup parah juga goresan ujung gancunya itu, tulang kepalanya sampai kelihatan.

Kaget dan heran pula si pemuda, tanyanya, “Kenapa kau berbuat demikian?”

Darah mencucur membasahi pundak Leng Sam, sama sekali ia tidak mengerutkan kening, seperti tidak merasakan apa-apa dia berkata pendek, “Kau pergi, aku mati!”

Si pemuda melenggong, akhirnya menggeleng dan menghela napas, katanya, “Aku tidak pergi dan kau tidak mati!”

“Ikut aku!” kata Leng Sam, lalu dia mendahului putar badan dan masuk ke dalam. Dia bawa si pemuda ke pendopo.

“Duduk!” katanya, tanpa melirik kepada orang-orang yang sudah berada dalam pendopo, lalu tinggal pergi.

Si pemuda memandang orang menghilang di luar pintu, sesaat dia masih melenggong, akhirnya ia tertawa getir sendiri, sekenanya dia tarik sebuah kursi, lalu duduk di bagian samping. Dilihatnya di bagian atas duduk seorang Hwesio berusia tiga puluhan, mengenakan jubah warna hijau, tampangnya kereng, sikapnya serius, duduk dengan tegak dan membusungkan dada, kedua tangan ditaruh di atas paha, sejak mula tidak buka suara, matanya menatap jauh ke depan, ada orang duduk di sampingnya juga seperti tidak dilihatnya sama sekali.

Si pemuda tertawa padanya dan melihat orang tidak mengacuhkannya, dia juga tidak peduli, ia angkat poci dan menuang secangkir arak hendak diminumnya sendiri.

Tiba-tiba padri jubah hijau itu membentak dengan suara tertahan, “Jika mau minum arak, jangan duduk semeja denganku.”

Si pemuda melenggong, lalu tersenyum, katanya, “Baiklah.”

Ia batal minum arak, dan berpindah ke meja lain.

Yang duduk di meja kedua adalah seorang pemuda tampan berpakaian mewah, sebelum pemuda rudin ini duduk di depannya, segera dia berkata dengan ketus, “Aku pun tidak suka melihat orang minum arak!”

“O,” pemuda rudin itu pun tanpa banyak bicara dan langsung menuju ke meja ketiga.

Meja ketiga berduduk seorang gadis jelita berpakaian serbaputih, dengan tajam dingin dia awasi kedatangan si pemuda, ia berkerut kening dan cemberut, ternyata pemuda rudin ini cukup tahu diri, segera dia menuju meja keempat.

Seorang Tojin kurus kering mendadak berdiri, “Cuh, cuh ….” tiba-tiba dia meludahi setiap hidangan yang berada di depan mejanya, lalu dia duduk kembali dengan tenangnya.

Dengan tersenyum si pemuda mengawasi Tojin kurus ini, ia menuju meja kelima.

Yang duduk di meja kelima ini adalah seorang pemuda bertampang jelek, badan gembrot, dua uci-uci besar menonjol di kedua pipinya, rambutnya semrawut seperti rumput kering, seperti tidak ada orang lain di sekitarnya dia tengah melahap seluruh hidangan yang tersedia, sayur di atas meja hampir habis disikatnya seorang diri.

Kini si pemuda rudin yang berkerut kening, tengah ragu, tiba-tiba dari meja sebelah seorang tertawa dan berkata, “Saudara yang gemar minum arak, silakan duduk di sini!”

Si pemuda menoleh, dilihatnya yang bicara adalah seorang pengemis bermata satu, mukanya burik, pakaiannya penuh tambalan dan dekil, dengan tertawa lagi melambaikan tangan kepadanya, jarak masih jauh, tapi hidung si pemuda sudah mengendus bau apak dan kecut dari badan si pengemis, mungkin tidak pernah mandi dan ganti pakaian, tapi tanpa berkerut kening langsung pemuda itu duduk di kursi yang ditunjuk, katanya dengan tertawa, “Banyak terima kasih.”

Pengemis mata satu berkata, “Ada hasratku mengajak Anda minum sepuasnya, sayang arak dalam poci sudah kosong. Mari silakan lahap saja hidangan ini.”

Lalu dia angkat sumpit, giginya yang kuning tampak menjijikkan, lebih dulu dia kecup ujung sumpit, lalu dia jepit sepotong daging dan diangsurkan ke piring di depan si pemuda, tanpa periksa si pemuda makan daging itu.

Begitu lahap dia mengunyah daging itu, jangankan daging itu disumpit oleh si pengemis, umpama daging itu direbut dari mulut anjing juga akan dilahapnya.

Di sebelah lagi meja ketujuh, berduduk seorang laki-laki bermuka merah, lagi mengawasi si pemuda yang serbatak-acuh terhadap segala sesuatu itu, agaknya dia sangat tertarik sehingga duduk melongo dan lupa minum arak.

Seorang kacung cilik berbaju hijau tiba-tiba berlari masuk membawakan dua poci arak langsung mendekati meja si pengemis, katanya dengan tertawa, “Maaf, terlambat mengantar arak!”

Lalu dia isi penuh cangkir kedua orang yang duduk berhadapan ini.

Si pemuda tersenyum, “Terima kasih!” dia merogoh saku dan mengeluarkan seikat uang bernilai seratus tahil terus diangsurkan ke tangan si kacung cilik.

Kacung itu melongo, katanya tergagap, “Ini … apa ini?”

Si pemuda tertawa, katanya, “Uang ini kuberi untuk beli sepatu.”

Mengawasi uang perak di tangannya, kacung itu terkesima sekian lamanya, katanya kemudian, “Tapi … tapi ….” mendadak dia putar badan terus berlari pergi.

Tidak sedikit dia melihat pemuda hartawan yang royal, tapi belum ada yang sekali memberi persen sebanyak ini.

Pengemis bermata satu angkat cangkirnya, katanya, “Saudara memang royal, mari minum secangkir ini!”

Keduanya angkat cangkir dan menghabiskan arak masing-masing. Mendadak pengemis mata satu menahan suara, katanya, “Dalam beberapa hari ini Cayhe juga ada keperluan mendesak, entah saudara ….”

Belum habis orang bicara, si pemuda sudah merogoh keluar empat ikat uang perak dan ditaruh di atas meja, katanya sambil mendorongnya ke depan orang, “Jumlah sekadarnya ini silakan saudara terima dengan senang hati.”

Lima ratus tahil perak itu diperolehnya dengan tidak gampang, tapi semudah itu dia berikan uang jerih payahnya kepada orang yang baru dikenalnya.

Lekas pengemis mata satu meraih uang perak itu terus disimpan dalam baju, katanya sambil menghela napas, “Mestinya Cayhe perlu enam ratus tahil, masa saudara sekikir ini, hanya memberi empat ratus tahil?”

Si pemuda tersenyum, segera dia membuka mantel kulit berbulu, katanya, “Mantelku ini mesti sudah tua, kukira nilainya cukup dua ratus tahil, boleh saudara mengambilnya pula.”

Setelah menerima mantel itu, si pengemis mengelus-elusnya lalu meniup bulunya, katanya kemudian, “Bulunya masih baik, sayang sudah terlalu tua ….” lalu dibolak-balik beberapa kali mantel itu, “paling banyak dapat digadaikan untuk seratus lima puluh tahil, harus dipotong lagi rentenya lima belas tahil …. Ai, apa boleh buat!”

Padahal orang belum pernah kenal padanya, namun sudi memberi uang dan barang, tapi pengemis ini masih kurang puas, mengucap terima kasih pun tidak.

Ternyata si pemuda juga tidak peduli, kini hanya baju tipis saja yang melekat di badannya, ternyata dia seperti tidak merasa dingin, dengan tertawa dia minum arak pula.

Laki-laki bermuka merah di meja samping mendadak menggebrak meja, makinya dengan suara keras, “Bangsat yang tidak tahu malu. Kalau tidak berada di Jin-gi-ceng, orang she Kiau pasti menghajar adat padamu!”

Mendelik mata tunggal si pengemis, bentaknya, “Anak busuk, siapa yang kau maki?”

Sambil angkat cangkirnya laki-laki muka merah berdiri, serunya gusar, “Memaki kau, mau apa?”

Tampang si pengemis kelihatan garang dan bengis, tapi melihat orang lebih galak daripada dirinya, tiba-tiba dia malah tertawa, ujarnya, “O, kiranya memaki aku. Baik, aku memang pantas dimaki ….”

Keruan pemuda miskin tadi melenggong, juga merasa geli.

Laki-laki muka merah segera menghampirinya dan menepuk pundaknya, lalu menuding pengemis mata satu dan berkata, “Saudara, orang ini suka menindas yang lemah tapi takut pada yang kuat, di mana dan kapan saja dia suka merugikan orang lain, tanpa sebab kau memberi uang kepadanya, dia justru memaki kau kikir, manusia macam dia bukankah lebih rendah dari binatang?”

Pengemis mata satu anggap tidak mendengar dan melihat, dia angkat cangkir dan habiskan araknya sendiri, gumamnya, “Arak bagus, arak enak! Arak tanpa bayar, siapa yang tak mau minum sampai puas, kan tolol dia!”

Laki-laki muka merah naik pitam, dia melototi si pengemis.

Mendadak perempuan gembrot bertampang jelek tertawa, katanya dari tempat duduknya, “Kiau-ngoko, orang ini memang terlalu, tapi sudah kau maki dia habis-habisan, sungguh kasihan, boleh kau ampuni saja.”

Wajahnya jelek dan tubuhnya buntak, tapi suaranya ternyata merdu menggetar sukma.

Laki-laki bermuka merah, Kiau Ngo, mendengus, katanya, “Baik, mengingat Hoa-sikoh, hmm … sudahlah.”

Dengan penasaran dia kembali ke tempatnya dan duduk kembali di kursinya.

Hoa-sikoh tertawa, katanya, “Kiau-ngoko memang serbaadil, melihat orang dirugikan, dia lebih marah daripada orang yang tertipu ….”

Tojin kurus tiba-tiba menyela, “Yang bersangkutan diam saja, orang lain malah mencak-mencak. Haha, buat apa.”

Melihat tabiat orang-orang yang hadir ini serbaaneh, si pemuda jadi ketarik, wajahnya tetap mengulum senyum, dia tetap tidak banyak komentar.

Mendadak gelak tertawa ramai berkumandang di belakangnya, kata seseorang, “Maaf bikin kalian menunggu agak lama!” di tengah gelak tertawanya, kakek tinggi tegap keluar dengan langkah lebar.

Pengemis mata satu mendahului berdiri menyambut, katanya dengan tertawa, “Kalau menunggu orang lain, siapa mau. Tapi menunggu Cianpwe, umpama Cayhe harus menunggu setahun juga tidak menjadi soal.”

Kakek tinggi tergelak, Katanya, “Aha, Kim-tayhiap terlalu rendah hati.”

Ia memandang para hadirin, lalu menambahkan, “Hari ini dapat mengundang Thian-hoat Taysu dari Thian-liong-si di Ngo-tay-san, Toan-hong Totiang pimpinan Hian-toh-koan dari Cengsia, Hoa-san-giok-li nona Liu Giok-ji, Giok-bin-yau-khim Ji Yok-gi, Ji-tayhiap, Hiong-say (singa jantan) dari Tiang-pek-san, Kiau-ngohiap, Kiau-jiu-lan-sim Hoa-sikoh, Kian-gi-yong-wi dari Kay-pang, Kim Put-hoan, Kim-tayhiap bertujuh, sungguh Cayhe amat berbahagia dan bersyukur, apalagi masih ada saudara ….”sorot matanya tertuju kepada si pemuda miskin, lalu sambungnya dengan tertawa, “Saudara yang masih muda dan gagah perkasa ini, bolehkah memberi tahu she dan namamu?”

Toan-hong-cu, si Tojin kurus kering menjengek, “Hm, kaum keroco mana setimpal disejajarkan dengan kami?”

“Betul,” si pemuda segera menimpali dengan tertawa. “Cayhe memang kaum keroco.”

Kakek tinggi tertawa, katanya, “Kalau Anda tidak mau memperkenalkan diri, aku tidak memaksa, terus terang aku amat kagum pada Kungfumu.”

Mendengar tokoh Bu-lim kenamaan ini memuji Kungfu pemuda lusuh ini, para hadirin sama melirik kepadanya, namun mereka agak curiga dan tidak percaya. Walau si pemuda tidak unjuk rasa bangga atau senang, tapi di hadapan tujuh jago top dunia persilatan masa kini, sedikit pun dia tidak unjuk kerendahan dirinya, dia hanya tersenyum tak acuh, lalu tutup mulut lagi.

Tiba-tiba Hoa-san-giok-li Liu Giok-ji berkata, “Cianpwe mengundang kami kemari, entah ada petunjuk apa?”

Pakaiannya serbaputih laksana salju, lehernya dibalut selendang bulu rase warna putih juga sehingga kelihatan lebih anggun dan molek, membikin orang mabuk melihatnya.

“Pertanyaan nona Liu memang tepat,” ujarnya si kakek tinggi, “memang ada suatu urusan, maka kuundang kalian kemari, akan kuminta bantuan kalian untuk ikut menanggulanginya.”

Bola mata Liu Giok-ji mengerling tajam, katanya dengan tersenyum manis, “Kami tidak berani menerima permohonanmu, ada soal apa silakan Li-locianpwe jelaskan saja.”

“Asal mula persoalannya, kukira kalian juga sudah tahu,” demikian ucap si kakek tinggi. “Tapi supaya kalian maklum, terpaksa kujelaskan lagi ….” ia merandek sejenak, “Seolah-olah sudah menjadi tradisi sejak dulu, setiap tiga belas tahun pasti terjadi sekali huru-hara di dunia persilatan! Sembilan tahun yang lalu pernah terjadi pula huru-hara yang menggemparkan, dalam jangka waktu empat bulan ada enam belas perguruan silat baru muncul di kalangan Kangouw, dihitung rata-rata setiap bulan ada terjadi sembilan puluh empat pertandingan atau duel maut, seratus delapan puluh pertikaian berdarah dan rata-rata ada sebelas orang yang menjadi korban, entah berapa banyak pula yang gugur tanpa diketahui ….” sampai di sini dia menghela napas panjang, “Padahal kekacauan yang terjadi di Bu-lim itu satu dengan yang lain mempunyai alasan yang serupa, tapi sejak musim dingin tahun itu, kejadian justru tambah kacau, semakin porak-poranda.”

Karena membayangkan peristiwa masa lalu yang mengenaskan itu, sorot mata kakek tinggi ini tampak rawan dan guram, agak lama dia termangu lalu menyambung, “Karena sejak hari raya Tiongciu tahun itu, dalam Bu-lim mendadak tersiar berita yang amat mengejutkan, katanya Bu-te-po-kam, kitab yang berisi tujuh puluh dua pelajaran Kungfu luar dalam ciptaan Bu-te Hwesio yang pernah menggetarkan Bu-lim pada seratus tahun yang lalu, ternyata disembunyikan di puncak Hui-gan-hong di Heng-san.”

Dia minum arak seceguk untuk membasahi tenggorokannya, lalu menyambung, “Entah dari mana asal mula berita itu, namun Bu-te-po-kam memang teramat menarik setiap insan persilatan, maka kaum persilatan sama percaya akan kebenaran berita itu, siapa pun ingin memilikinya. Begitu berita itu tersiar, berbondong-bondong kaum persilatan datang ke Heng-san, menurut kabar yang tersiar di Kangouw, sepanjang jalan menuju Heng-san kuda yang mati di tengah perjalanan karena kelelahan ada ratusan ekor banyaknya. Demikian pula jago Bu-lim yang berhati tamak, bila bertemu dengan orang yang juga hendak pergi ke Heng-san lantas saling labrak, sebab mati seorang kan berarti kurang satu saingan dan bertambah kesempatan baginya untuk merebut Bu-te-po-kam itu. Dan yang paling mengenaskan adalah para pelancong atau peziarah yang tidak tahu apa-apa, banyak yang ikut menjadi korban teror orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”

Sampai di sini ceritanya, wajah Kiau Ngo dan Hoa-sikoh tampak sedih dan haru, sebaliknya sikap Kim Put-hoan dan Toan-hong-cu tetap tenang saja.

Dengan sedih si kakek tinggi menghela napas, katanya pula, “Akhir bulan sebelas, salju sudah bertebaran di angkasa, setiap orang berlomba supaya setindak lebih cepat sampai di Heng-san, meski di tengah jalan melihat mayat saudara, istri atau bapaknya sekalipun juga tidak dihiraukan, mayat bergelimpangan dibiarkan ditelan salju atau dibuat pesta pora kawanan serigala. Belakangan baru kutahu jago kosen Bu-lim yang mati dalam perjalanan ke Heng-san ada seratus delapan puluh lebih, tiga di antaranya adalah cikal bakal sesuatu aliran. Peristiwa itu telah membuat nama seorang jadi terkenal, sebab orang ini rela mengorbankan tenaga dan waktunya, sepanjang jalan ia mengumpulkan mayat serta menguburkannya.”

Mendadak Ji Yok-gi menyela, “Apakah orang itu yang dijuluki Ban-keh-seng-hud Ca Giok-koan?”

“Betul,” sahut si kakek jangkung, “pengetahuan Ji-siauhiap ternyata cukup luas ….”

Ji Yok-gi merasa bangga, katanya, “Pernah kudengar cerita guruku, katanya tindak tanduk Ca-tayhiap sangat jujur dan berbudi luhur, kaum persilatan sama menghormat dan mengaguminya, sayang sekali ia pun menemui ajalnya dalam peristiwa Heng-san itu, malah kematiannya amat mengenaskan, mukanya hancur oleh Thian-hun-ngo-bian, senjata rahasia paling jahat dan beracun, kepalanya menjadi sebesar ember …. Ai, agaknya Thian tidak mau melindungi mereka yang baik hati, sungguh sayang.”

Karena dipuji berpengetahuan luas, Ji Yok-gi tambah mencerocos dan apa yang diketahuinya segera dibeberkan seluruhnya, dia yakin si kakek tinggi akan memberi pujian pula kepadanya.

Tak tersangka si kakek hanya diam saja, entah berduka atau marah, sesaat kemudian dia baru berkata perlahan, “Bagi kaum persilatan yang punya sedikit pengetahuan, waktu itu tentu akan berpikir melulu kekuatan sendiri jelas tak mungkin bisa merebut Bu-te-po-kam itu, maka tidak sedikit yang berkomplot dan membentuk kelompok dan mendirikan serikat, orang-orang yang berhati culas dan licik lantas menghasut dan mengadu domba.

Sebetulnya banyak yang kurang berminat pada nama dan kedudukan, akhirnya terseret juga oleh kawan atau saudara seperguruan untuk membantu dan terpaksa terjun dalam pertikaian itu. Maklumlah ada golongan penjahat berhasrat merebut Bu-te-po-kam itu supaya dapat malang melintang di Kangouw. Demikian pula para pendekar menjadi khawatir, bila pusaka itu jatuh ke tangan orang jahat, dunia tentu tidak akan aman, maka mereka saling berlomba untuk merebut pusaka itu dengan cara masing-masing. Dalam jangka tiga hari, ada dua ratusan jago top dunia persilatan yang berkumpul di Hui-gan-hong, yang berkepandaian rendah sudah menemui ajal di bawah puncak, maka yang berhasil mencapai puncak itu jelas adalah pesilat kelas tinggi.”

Agaknya si kakek jangkung memang pandai pidato, rangkaian ceritanya pun menarik, suaranya mantap bertenaga, terdengar dia melanjutkan, “Jago top persilatan itu datang dari berbagai penjuru, di antara mereka termasuk Ciangbunjin tujuh aliran besar, gembong-gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri pun tidak sedikit jumlahnya. Dua ratusan orang yang terbagi dalam dua puluh tujuh kelompok itu mengadakan pertempuran atau duel sengit secara bergilir ….”

Sampai di sini dia menghela napas, “Dalam sembilan belas hari itu, puncak Hui-gan-hong diliputi hawa pedang melulu, tiada burung terbang ke sana atau binatang berkeliaran, siapa pun dia, betapa tinggi Kungfunya, asal sudah berada di Hui-gan-hong, maka jangan harap bisa tenteram sekejap pun, sebab setiap gerak langkah bisa jadi mengundang maut, umpamanya Tiong-ciu-kiam-kek mati pada saat dia makan, disergap orang. Ban-seng-to Ji-lopiauthau terpenggal kepalanya pada waktu tidur, maka siapa takkan kebat-kebit menjaga keselamatan sendiri dalam suasana yang menegangkan itu, sampai makan dan tidur pun menjadi persoalan bagi mereka.

Pertempuran sengit yang berlangsung beberapa hari, ditambah ketegangan yang mencekam, banyak menimbulkan tekanan jiwa bagi mereka, orang yang biasanya berjiwa luhur bukan mustahil bertindak keji dan buas, Giok-hian-cu, Ciangbunjin atau ketua Heng-san-pay selama lima hari lima malam tidak makan dan minum, setelah merobohkan enam lawan tangguh, tiba-tiba jadi gila, Ciok-ki Totiang yang menjadi sahabat kentalnya juga tiba-tiba dibunuhnya, lalu dia terjun ke dalam jurang mengakhiri hayatnya.”

“Prang”, tiba-tiba ada cangkir arak jatuh dan pecah, kiranya saking tegang mendengarkan, tangan Hoa-sikoh jadi gemetar dan cangkir yang dipegangnya terlepas. Hadirin juga terkesima mendengar cerita itu, suara cangkir pecah yang mendadak ini pun membikin kaget mereka.

Perlahan si kakek jangkung merapatkan pelupuk matanya, “Setelah bertempur mati-matian selama sembilan belas hari, dua ratus jago kosen di Hui-gan-hong tinggal sebelas orang saja yang masih hidup, nama sebelas orang ini pun terluka parah, Lwekang dan Kungfu mereka tidak lagi bertahan seperti semula. Jago inti seluruh Bu-lim boleh dikatakan telah gugur dalam peristiwa itu.

Selama lima ratusan tahun, tidak jarang terjadi pertempuran besar-kecil di kalangan Kangouw, tapi korban yang jatuh paling besar terjadi pada peristiwa Heng-san itu.”

Sampai di sini ceritanya, matanya yang terpejam tampak cucurkan dua baris air mata.

Perlu diketahui bahwa kakek tinggi ini dulu bergelar Put-pay-sin-kiam (pedang sakti tak terkalahkan) Li Tiang-ceng, sementara orang tua sakit itu adalah Thian-ki-te-ling (bumi sakti rahasia alam), Jin-tiong-ci-kiat (manusia genius di antara sesama) Ki Ti, dan si berewok Khi-tun-to-gu (kalau marah menelan kerbau) Lian Thian-hun, ketiga orang tua ini mengangkat saudara.

Mereka adalah tiga orang di antara kesebelas orang yang masih hidup dalam peristiwa Heng-san itu. Betapa seram dan mengerikan kejadian masa itu, sampai sekarang masih mengirik bila mengenang dan membicarakannya.

Agak lama keadaan pendopo itu menjadi sunyi, akhirnya Li Tiang-ceng bersuara pula, “Yang paling menyakiti hati adalah kejadian itu sendiri hakikatnya hanyalah suatu tipu muslihat belaka. Aku bersama Ki-toako, Lian-samte, Hong-hoat Taysu dari Siau-lim, Thian-hian Totiang dari Bu-tong, dan pendekar besar sakti Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun akhirnya tiba di gua tempat penyimpanan pusaka itu. Kala itu kami berenam sudah kehabisan tenaga, dengan kekuatan kami baru berhasil menggeser batu besar yang menyumbat mulut gua, ternyata gua itu kosong melompong, di atas dinding tertulis huruf besar warna merah darah yang berbunyi: ‘KALIAN TERTIPU’ ….”

Kejadian sudah beberapa tahun berselang, tatkala mengucap kedua patah kata itu, masih terasa betapa penasaran hatinya, suara pun gemetar.

Sambil mendongak dia menghela napas panjang, lalu meneruskan, “Melihat tulisan besar itu, kecuali Ki-toako, kami jatuh pingsan saking gusar dan penasaran. Waktu aku siuman kembali, kudapati Sim-tayhiap dan Hong-hoat Taysu ternyata sudah … sudah mati di dalam gua …. Ternyata kedua pendekar besar ini amat malu dan kecewa, mengingat korban yang jatuh sebanyak itu, mereka sedih bukan main, akhirnya menumbukkan kepala ke dinding dan mati seketika dengan kepala pecah, luka Thian-hian Totiang paling parah, sekuat tenaga dia meronta meninggalkan tempat itu kembali ke Bu-tong-san, sayang lukanya tak bisa disembuhkan akhirnya ia pun meninggal. Tinggal kami tiga bersaudara … kami masih tamak hidup sampai sekarang ….” suaranya tersendat tak mampu meneruskan ceritanya pula.

Dari berita yang tersiar di kalangan Kangouw, para hadirin sudah tahu akan kejadian itu, kini mendengar ulang cerita itu dari mulut orang yang langsung bersangkutan dengan peristiwa itu, tak urung mereka sama terbeliak, pemuda rudin itu pun tertunduk lesu sambil memejamkan mata.

Mendadak si Singa Jantan Kiau Ngo menggebrak meja, serunya, “Mati-hidup adalah suratan takdir, namun ada perbedaan enteng dan beratnya. Bahwa Li-locianpwe masih hidup, namun harus menanggung tugas kewajiban seberat gunung, mana boleh diartikan sebagai tamak hidup. Bila Li-locianpwe juga gugur dalam peristiwa Heng-san itu, sekarang Jin-gi-ceng mana bisa berdiri untuk membela dan menegakkan keadilan di dunia Kangouw.”

Li Tiang-ceng menghela napas, ujarnya, “Dalam tragedi di Heng-san itu, meski golongan putih dan aliran hitam banyak yang gugur namun jago-jago kelas dua dari aliran putih, sembilan di antara sepuluh juga ikut gugur, orang-orang golongan hitam kebanyakan licin dan licik, melihat situasi tidak menguntungkan, tidak sedikit yang mengundurkan diri dari pertarungan sengit itu, maka pihak mereka sedikit yang jatuh korban, hingga yang jahat lebih kuat dari kaum pendekar, bila situasi dunia persilatan berubah jadi begini, bukankah dosa kami bertiga akan bertambah besar? Karena itu, bersama Ki-toako kami gunakan upah besar untuk menghukum dan membekuk durjana-durjana besar itu, kuyakin usaha kami tadi bukan saja akan membakar semangat kaum pendekar, bagi kalangan hitam mereka, demi memperoleh upah besar itu, tentu mereka juga akan saling bunuh sendiri.”

Hoa-sikoh menghela napas, katanya, “Ki-locianpwe memang tidak malu dipandang sebagai orang pintar nomor satu dalam dunia persilatan.”

“Akan tetapi untuk menunjang usaha besar ini kami memerlukan dana yang besar, kami bertiga telah mondar-mandir ke sana kemari untuk mencari dana dan donatur, delapan belas keluarga besar yang kaya raya bersedia merogoh kantongnya, namun jumlahnya masih terbatas. Syukurlah keturunan Kiu-ciu-ong Sim-tayhiap suruh orang menjual seluruh harga peninggalan pendekar besar itu dan diantar kemari. Sim-tayhiap berasal dari keluarga bangsawan, punya kedudukan tinggi di kalangan pemerintahan, dapatlah dibayangkan betapa besar harta peninggalan keluarganya, kurasa sejak zaman dulu belum pernah ada orang yang berhati sosial sebesar ini kepada kepentingan kaum Bu-lim.”

Singa Jantan Kiau Ngo berkeplok sambil memuji, “Nama besar Sim-tayhiap tersohor di seluruh jagat, tak nyana anak didiknya ternyata juga berjiwa besar, di mana sekarang orang itu? Orang she Kiau ingin sekali bersahabat dengan dia.”

Li Tiang-ceng menghela napas, ucapnya, “Kami bertiga juga sudah tanya kepada pengantar harta keluarga Sim itu tentang jejak Sim-kongcu, supaya kami bisa langsung menyatakan terima kasih kepadanya, tapi orang itu bilang setelah Sim-kongcu menjual harta benda dan membubarkan keluarga, seorang diri lantas merantau entah ke mana. Dan yang patut dipuji adalah Sim-kongcu itu masih bocah berusia belasan tahun, namun sudah punya kesadaran dan berjiwa besar, siapa takkan kagum dan menaruh hormat kepadanya.”

Hoa-san-giok-li Liu Giok-ji menghela napas, katanya, “Entah gadis siapa dapat menikah dengan pemuda seperti dia, tidak sia-sialah hidupnya ….”

Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi menceletuk dengan nada dingin, “Pemuda gagah perkasa yang dermawan seperti ini, tidak cuma Sim-kongcu saja.”

Liu-Giok-ji melirik hina, jengeknya, “Apa kau pun termasuk di antaranya?”

Pemuda rudin tertawa dan menceletuk, “Sudah tentu Ji-heng ini termasuk satu di antaranya.”

Ji Yok-gi mendelik gusar, semprotnya, “Memangnya kau setimpal memanggilku Ji-heng?”

“Ya, ya, tidak setimpal, maaf, maaf ….” pemuda miskin itu tertawa geli.

Liu Giok-ji melirik si pemuda, jengeknya, “Lelaki tak berguna, sungguh memalukan kaum lelaki saja.”

Tapi pemuda itu anggap tidak mendengar. Sebaliknya alis Singa Jantan Kiau Ngo berkerut, agaknya dia ingin membela. Demikian pula Hoa-sikoh mengerling tajam ke arah si pemuda, sorot matanya tampak kagum dan memuji.

Sebelum orang lain bicara pula, Li Tiang-ceng berdehem sekali, lalu berkata, “Sudah sembilan tahun kami tiga bersaudara menguasai Jin-gi-ceng. Selama sembilan tahun ini, musuh yang menyerbu kemari ada ratusan kali, sembilan dari sepuluh bagian Kungfu kami bersaudara telah lenyap, kalau tidak dibantu oleh para sahabat dan pembantu setia terutama Leng-keh-heng-te (saudara keluarga Leng), Jin-gi-ceng mungkin sejak lama sudah bubar. Upah yang telah dikeluarkan oleh Jin-gi-ceng ada puluhan laksa tahil, tapi modal utama yang berhasil kami kumpulkan sejak mula belum pernah berkurang sepeser pun, semua ini berkat usaha Leng-jite yang pandai mengatur dan berdagang, setahun penuh dia mondar-mandir keluar, keuntungan sudah cukup untuk biaya pengeluaran sehari-hari.

Ketiga saudara ini bekerja keras, bukan saja mereka tidak mengejar nama dan pangkat, juga tidak memikirkan keuntungan pribadi, bahwa Jin-gi-ceng dapat tegak berdiri seperti sekarang juga berkat tunjangan mereka. Kami bertiga justru hanya membonceng keberhasilan mereka saja, kalau dibicarakan sungguh memalukan dan harus disesalkan.”

“Li-locianpwe terlalu merendah ….”ujar Liu Giok-ji. “Engkau malam ini mengundang Wanpwe kemari, entah ada petunjuk apa?”

“Bahwa pusaka terpendam di Heng-san dulu hanya merupakan muslihat, tapi setelah peristiwa Heng-san itu memang diketahui harta peninggalan yang tak ternilai banyaknya.”

Kim Put-hoan terbeliak, serunya, “Harta apa?”

“Dua ratus jago kosen yang mampu naik ke Hui-gan-hong semua adalah orang-orang ternama, Kungfu mereka berbeda, orang-orang itu tahu setelah mencapai tempat tujuan, harapan hidup kemungkinan sangat tipis, khawatir Kungfu sendiri putus turunan, maka tidak sedikit yang telah meninggalkan buku catatan tentang pelajaran silat dan harta benda yang mereka miliki, padahal di antara mereka banyak yang tidak punya murid atau keturunan, bila punya keturunan juga sudah gugur di tengah perjalanan, maka menjadi masalah bagi mereka kepada siapa harus menyerahkan warisannya itu, akhirnya mereka menyembunyikan peninggalan itu di suatu tempat rahasia, jika diri sendiri kelak tidak bisa mengambilnya, biarlah ditemukan oleh siapa saja yang berjodoh ….

Waktu itu nama Ban-keh-seng-hud Ca Giok-koan sedang tenar-tenarnya, kaum persilatan sama memuji tindakannya yang gagah dan bajik, apalagi biasanya Ca Giok-koan memang suka bersahabat dan tidak kikir mengeluarkan duit, para kesatria ternama di kalangan Kangouw tidak sedikit yang bersahabat dengan dia, maka pada waktu menyembunyikan barang peninggalan mereka, siapa pun tiada yang merahasiakan hal ini di hadapannya, malah banyak yang sengaja menunjukkan tempat penyimpanan peninggalan itu kepadanya, jika mereka mati mereka titip supaya peninggalannya itu diatur semestinya.”

Li Tiang-ceng menghela napas pula, lalu menyambung, “Setelah tragedi Heng-san itu, di antara sebelas orang yang masih hidup juga ada tujuh orang yang pasrahkan peninggalan mereka kepada Ca Giok-koan. Bahwa akhirnya mereka masih hidup sudah tentu akan mengambil pulang barang peninggalan mereka itu, tak nyana setiba mereka di tempat penyimpanan, barang mereka itu sudah hilang. Di tempat penyimpanan itu mereka hanya menemukan secarik kertas kecil dan tertulis dua huruf ‘kalian tertipu’.”

Rentetan peristiwa akibat tragedi di Heng-san itu ternyata merupakan rahasia yang belum diketahui orang banyak, maka hadirin sama tersirap darahnya, seru Ji Yok-gi dengan tergagap, “Tapi … bukankah Ca-cianpwe sudah mati keracunan ….”

“Tiada orang yang menyaksikan bahwa Ca Giok-koan benar-benar sudah mati, bukan mustahil dia sengaja mencopot baju sendiri dan dipakaikan pada mayat orang lain, apalagi, setelah Ki-toako memerhatikan gaya tulisannya, huruf ‘kalian tertipu’ itu ternyata mirip dengan tulisan tangan Ca Giok-koan, lalu kami menyelidiki lebih cermat tentang berita adanya pusaka terpendam di Hui-gan-hong di Heng-san itu, enam orang di antara sepuluh orang mendengar berita itu dari mulut Ca Giok-koan. Para jago kosen Bu-lim itu percaya kepada Ca Giok-koan, maka di luar sadar mereka berita itu tersiar semakin luas dan santer di luaran, makin luas juga makin terasa benar.”

Terunjuk rasa gemas pada wajahnya, katanya pula, “Agaknya dia sudah lama merencanakan siasat licik ini, bahwa dia berbuat demikian, bukan saja bisa menghancurkan kekuatan Bu-lim hingga dia dapat merajai dunia persilatan, sekaligus menjadikan berbagai ilmu silat kelas tinggi yang waktu itu menjagoi dunia persilatan selanjutnya putus turunan, sebaliknya dia yang memperoleh peninggalan ilmu silat dan harta tokoh-tokoh besar itu, mendapat rezeki nomplok dan malang melintang di jagat ini dan tiada yang mampu menandingi dia. Selama beberapa tahun ini, dia tidak pernah muncul, tentunya sedang memperdalam dan mempelajari berbagai Kungfu aliran-aliran besar itu. Kuyakin dalam waktu dekat ini bila latihannya sudah sempurna, pasti dia akan keluar kandang.”

Mencelus perasaan semua orang, siapa pun tak berani buka suara.

Akhirnya Thian-hoat Taysu dari Ngo-tay-san angkat bicara, “Kalau betul demikian kejadiannya, maka Ca Giok-koan sungguh terhitung manusia durjana dan laknat di kalangan Bu-lim. Namun semua ini tanpa bukti, jelas tidak mungkin menuduh biang keladi dari tragedi itu adalah Ca Giok-koan, entah Li-locianpwe sependapat tidak dengan pendapatku ini?” suaranya kalem tapi lantang, pendapatnya adil dan jujur, sejak Hong-hoat Taysu dari Siau-lim gugur, memang tidak malu dia dianggap sebagai padri agung nomor satu di Bu-lim masa kini, nama besarnya sekarang sudah lebih unggul daripada Ciangbunjin Siau-lim-pay Jin-sim Taysu.

“Bagus sekali uraian Taysu, bagus sekali. Itulah salah satu sebab kenapa kami mengundang kalian berkumpul di sini …. Tiga tahun kemudian kami mengetahui munculnya seorang aneh di luar perbatasan Giok-bun-koan, jejak orang ini tidak tentu, jahat atau baik tidak pasti. Yang menarik perhatian adalah orang ini membekal inti ilmu silat dari berbagai aliran terkemuka, setiap kali turun tangan selalu berbeda jurus serangannya, pernah orang menyaksikan, sekaligus dia melancarkan ilmu silat ajaran Bu-tong, Siau-lim, Go-bi, Kong-tong dan Kun-lun, lima aliran besar yang tidak pernah diwariskan kepada sembarangan orang, padahal Ciangbunjin kelima aliran besar sendiri juga belum pernah mempelajari ilmu yang dia mainkan itu.”

Hadirin saling pandang, perasaan tertekan, darah tersirap.

“Dan lagi sepak terjangnya teramat luar biasa, hidupnya mewah, suka berfoya-foya, setiap perjalanannya selalu diikuti ratusan pembantu, biaya yang dikeluarkan dengan sendirinya sangat besar, setiap hari mendekati sepuluh ribu tahil perak. Sejak muncul tiada orang tahu nama dan asal usulnya, jarang orang tahu di mana tempat tinggalnya yang pasti, hanya jelas bahwa dia datang dari luar perbatasan, di sana dia mengumpulkan manusia jahat sebagai komplotannya, sekarang kekuatannya makin melebar, kabarnya sudah merembes ke daerah Tionggoan, agaknya berambisi mencaplok dunia ini.”

“Mungkinkah orang itu Ca Giok-koan adanya?” tanya Ji Yok-gi.

“Begitu orang muncul, Ki-toako sudah curiga bahwa orang itu mungkin Giok-koan, orang segera kami sebarkan untuk menyelidiki jejaknya dan mencari tahu asal usulnya, tidak sedikit bahan yang kami terima tentang riwayat hidup Ca Giok-koan, semakin banyak bahan yang berhasil dikumpulkan, semakin besar keyakinan kami bahwa orang itu memang patut dicurigai, tapi juga menakutkan.”

“Betul,” ucap Thian-hoat Taysu setelah merenung sejenak, “orang-orang di seluruh jagat sama tahu jiwa pendekar Ban-keh-seng-hud Ca Giok-koan, tapi bagaimana sejarah riwayat hidupnya sebelum dia ternama, jarang ada yang tahu.”

“Mungkinkah ketenaran namanya itu juga merupakan muslihat keji?” cetus Ji Yok-gi pula.

Kata Li Tiang-ceng, “Kami telah menghabiskan lima puluh laksa tahil perak, mengerahkan ribuan orang, akhirnya berhasil juga membentuk suatu ikhtisar riwayat hidupnya. Baru saja kami selesai menurut catatan hasil penyelidikan kami itu, boleh silakan kalian memeriksanya dulu, lalu dirundingkan lagi bersama.”

Dia lantas menggantung segulung kertas di atas dinding dan membeberkan ke bawah, habis itu dia berpaling keluar jendela, agaknya dia berjaga-jaga bila ada orang yang tidak berkepentingan mendadak menerjang masuk.

Saat itu si kacung kecil berbaju hijau berjalan masuk membawa pensil dan kertas serta dibagikan kepada kedelapan tamu.

Gulungan kertas itu terdiri dari dua lembar, lebarnya lebih setombak, bentuknya mirip lukisan, pigura keluarga bangsawan yang sering menghiasi ruang tamu. Di atas kertas penuh tertulis huruf kecil. Yang sebelah kiri begini bunyinya:

Nama: Sebelum berumur dua puluh bernama Ca Liang, dua puluh sampai dua puluh enam bernama Ca Ing-bing, dua puluh enam sampai tiga puluh tujuh bernama Ca Lip, setelah tiga puluh tujuh bernama Ca Giok-koan.

Asal usul: Ayah bernama Ca It-ping, hartawan besar di Ok-tiong, ibunya bernama Li Siau-jui, gundik ketujuh Ca It-ping, punya enam belas saudara, Ca Giok-koan adalah yang termuda. Sejak kecil sudah kelihatan cerdas, suka menirukan suara orang maka dia fasih berbahasa banyak daerah, sejak ternama mengaku sebagai orang asal Tiongciu dan semua orang percaya. Waktu Ca Giok-koan berusia empat belas, tiga puluh orang anggota keluarganya mati secara misterius dalam sehari, Ca Giok-koan mewarisi harta kekayaan orang tuanya, maka dia bebas bergaul dan bersahabat dengan komplotan Wan-yang Oh-tiap-pay, komplotan penjahat yang sering merampok, membunuh dan memerkosa, tiga tahun kemudian warisan keluarganya ludes untuk foya-foya, sejak itu Ca Giok-koan mencukur rambut menjadi Hwesio.

Perguruan: Usia tujuh belas masuk biara Siau-lim menjadi padri pencari kayu bakar dan dipekerjakan di dapur, karena mencuri belajar Kungfu akhirnya diusir dari perguruan. Usia dua puluh karena kemahiran bicaranya dia mendapat kepercayaan Thian-lam-it-kiam Su Siong-siu, Pangcu dari Cap-ji-lian-hoan-oh (dua belas pelabuhan) dan diterima sebagai murid, selama enam tahun belajar, Ca Giok-koan mengadakan hubungan gelap dengan gundik gurunya, suatu ketika menyikat harta simpanan Su Siong-siu dan minggat bersama gundik gurunya. Saking gusar Su Siong-siu mengerahkan seluruh anggotanya untuk mengejar jejaknya, karena terdesak, terpaksa Ca Giok-koan lari keluar perbatasan, gundik gurunya, Kim-yan, diserahkan kepada Sek-mo (iblis cabul) Jit-sim-ang sebagai upeti untuk dapat diterima dalam perguruan baru ini, dalam waktu sepuluh tahun ternyata dia berhasil meyakinkan Kungfu Jit-sim-pay dengan sempurna. Waktu itu Jit-sim-ang juga mati mendadak, maka Ca Giok-koan kembali ke Tionggoan, kini dia muncul sebagai pendekar berbudi luhur yang rela berkorban demi membantu orang lain, pertama dia merangkul orang-orang gagah di daerah kedua sungai besar, Cap-ji-lian-hoan-oh berhasil disikatnya habis, Thian-lam-it-kiam terbunuh hingga namanya terkenal.”

Wajah: Mukanya putih bersih seperti batu giok (jade, kemala) ujung alisnya agak melambai ke bawah, hidungnya seperti paruh elang, bibir tebal, nafsu berahinya besar, dua ujung bibir terdapat tahi lalat kecil, tepat di tengah alisnya terdapat uci-uci, pandai berdandan, suka mengenakan pakaian mutakhir dengan potongan badan yang atletis, suka warna ungu. Kedua tangannya mulus terpelihara baik seperti tangan orang perempuan, jari tengah mengenakan cincin emas bermata zamrud, setiap bicara suka menggerakkan tangan untuk memamerkan kebersihan dan keindahan tangannya.

Hobi: suka minum arak, makan bakmi dengan iringan arak Mo-tay, Ko-liang dan Tik-yap-ceng yang keras. Hidangan yang digemari adalah panggang keong sawah, tiram goreng atau daging ular, daging babi pantang makan. Mahir menunggang kuda, sering seorang diri mencongklang kuda sekencang angin hingga kuda mati di bawah cambukan, suka berjudi, taruhannya besar. Suka berburu, terutama memburu wanita cantik, nafsunya terlalu besar, setiap malam takkan puas sebelum tidur dengan dua orang perempuan.

Ciri-ciri: Mahir bicara dan pidato, pandai menyelami perasaan orang, tokoh ternama akan merasa rugi bila tidak bersahabat dengan dia, bila bicara selalu tersenyum, habis membunuh orang pasti mencuci bersih kedua tangannya, senjata yang digunakan bisa ternoda darah terus dibuang, mahir menggambar dan ahli tulis-menulis.

Dalam gulungan kertas ini memuat riwayat singkat Ca Giok-koan, hidupnya memang banyak gaya ragamnya, para hadirin sama berubah air mukanya demi membaca riwayat hidupnya ini.

Sementara tulisan pada sebelah kanan berbunyi:

Nama: Penduduk di luar perbatasan Giok-bun-koan biasa memanggilnya “Hoan-hi-ong” (raja gembira), nama aslinya tidak jelas.

Asal usul: Tidak jelas.

Perguruan: Tidak jelas, namun mahir Kungfu berbagai aliran yang biasanya dirahasiakan.

Wajah: Alisnya melambai ke bawah, memelihara jenggot, hidungnya bengkok, suka berdandan, setiap hari ada juru rawat yang menyisir rambut dan jenggotnya, perawakan tinggi, pakaiannya pilihan, hidupnya mewah, kalau bicara suka mengelus jenggot-jenggotnya, mulus tangannya indah, jari tengah tangan kiri mengenakan tiga cincin emas bermata zamrud, cincin itu merupakan senjata kemahirannya.

Hobi: Ukuran minumnya cukup mengejutkan, suka hidangan yang aneh-aneh, pantang daging babi, setiap perjalanan selalu dikerumuni perempuan cantik. Sering berjudi dengan hartawan besar atau buaya darat yang berkuasa dengan taruhan besar.

Ciri-ciri: Pandai bicara, suka tertawa, royal dan suka menjamu tamu, biaya hidupnya sepuluhan ribu tahil setiap hari, suka menjaga kebersihan, tidak peduli siapa pun tamunya bila kelihatan kotor kontan diusirnya. Pengikutnya ada tiga puluh enam pasukan kilat, semua adalah pemuda-pemuda kekar yang mahir menunggang kuda, bersenjata pedang, jurus ilmu pedangnya hanya tiga belas permainan, tapi gerak tipunya teramat keji dan lihai, meski jago Bu-lim yang paling kosen juga jarang yang mampu melawan ketiga belas jurus ilmu pedangnya.

Di samping itu terdapat pula empat duta besar yang merupakan orang kepercayaan Hoan-hi-ong yang disebut duta arak, duta warna, duta harta, dan duta hawa. Mereka adalah anak buah Hoan-hi-ong yang paling dipercaya, jarang berada di sampingnya karena keempat duta ini masing-masing mengemban tugas istimewa.

Duta arak bertugas mencari arak bagus, arak mahal, arak yang jarang ada di dunia ini. Duta warna bertugas mengumpulkan perempuan cantik. Duta harta mengurus kekayaan dan mencari dana untuk biaya hidup sehari-hari. Hanya duta hawa saja yang selalu berada di kiri-kanan Hoan-hi-ong, bila orang berani kurang ajar di hadapan Hoan-hi-ong, duta hawa akan segera memenggal kepalanya. Keempat duta punya tabiat yang berlainan dan aneh, memiliki Kungfu tinggi yang tidak terukur lihainya.

Habis membaca data-data yang tercantum di atas kertas itu, para hadirin sama duduk terlongong, sampai sekian lama mereka mulai mencatat di atas kertas yang diterima masing-masing.

Akhirnya Li Tiang-ceng berkata pula dengan suara berat, “Apakah kalian sudah melihat titik terang persamaan antara kedua orang ini?”

Ji Yok-gi suka jual lagak, dia mendahului bicara, “Ada tiga belas titik persamaan dari kedua orang ini. Wajah putih, alis melambai, hidung bengkok, perawakan tinggi, tangan bagus, pakaian mewah, suka minum arak, gemar paras ayu, suka judi, senang hidangan aneh-aneh, pantang daging babi, jari tangan mengenakan cincin berbatu, bila bicara disertai gerakan tangan … mengelus jenggot juga termasuk gerak tangan bukan?” sekaligus dia sebutkan ketiga belas persamaan itu, maka wajahnya menampilkan rasa bangga.

Tak tersangka Hoa-san-giok-li Liu Giok-ji tiba-tiba menceletuk dengan dingin, “Masih ada dua hal yang belum kau sebut.”

“Dua hal apa?” tanya Ji Yok-gi sambil berkerut kening.

“Bibir Ca Giok-koan tebal dan ada tahi lalat di ujung bibirnya, Hoan-hi-ong justru memelihara jenggot. Di tengah alis Ca Giok-koan ada uci-uci, di tengah alis Hoan-hi-ong ternyata terdapat bekas luka. Kedua tanda ini kelihatannya tidak ada persamaannya, tapi bila mau diperhatikan orang akan tahu persamaannya. Dan lagi kedua orang sama-sama suka bicara dan tertawa, suka bersahabat dan bergaul, maka gampang sekali menemukan titik persamaannya, aku segan membicarakannya,” demikian tutur Liu Giok-ji.

Merah muka Ji Yok-gi, katanya, “O, apa betul begitu?” segera dia berpaling sambil angkat cangkirnya dan menenggak habis isinya, melirik pun dia tidak sudi kepada Liu Giok-ji.

“Apa yang dibeberkan Ji-siauhiap memang benar, nona Liu juga sangat cermat. Tapi kecuali semua itu, masih banyak persoalan lain yang perlu diperhatikan,” ujar Li Tiang-ceng.

Wajah Liu Giok-ji jadi merah, “O … apa iya?”

“Kalian boleh periksa, semua orang yang ada hubungan dekat dengan Ca Giok-koan, baik ayah bunda atau saudara kandung juga tidak terkecuali, kematian mereka selalu terjadi secara misterius, kuyakin pasti ada sangkut pautnya dengan perbuatan Ca Giok-koan, dari sini dapat kita menilai bahwa dia berjiwa kejam dan keji. Sejak terjadinya tragedi di Heng-san, tidak sedikit pelajaran silat dan harta benda yang diperoleh Ca Giok-koan, Hoan-hi-ong kaya raya dan mahir berbagai cabang ilmu silat. Bahwa Ca Giok-koan berani meracun mati orang tua dan sanak saudaranya sendiri, mengkhianati perguruan dan mendurhakai guru, sampai teman tidur juga dia rebut dari tangan orang lain, lalu diberikan pula kepada orang lain lagi, menjual teman adalah soal sepele baginya,” nada bicara Li Tiang-ceng masih keras, sorot matanya beringas, “dari berbagai persamaan yang meyakinkan ini, masuk di akal kalau kita berkesimpulan bahwa Ca Giok-koan adalah Hoan-hi-ong dan Hoan-hi-ong adalah Ca Giok-koan.”

Setelah para hadirin ikut menganalisis data-data itu, mereka pun sependapat, akhirnya Thian-hoat Taysu mengangguk, katanya sambil merangkap kedua tangan, “Orang ini suka foya-foya, nafsunya besar, kelak pasti akan mati terbakar oleh perbuatan sendiri.”

“Taysu memang betul,” ucap Li Tiang-ceng, “justru karena orang ini mengidap nafsu yang luar biasa, maka tidak segan-segan dia melakukan kejahatan yang mendirikan bulu roma. Kalau kita menunggu dan membiarkan dia mampus karena ganjaran perbuatannya sendiri, rasanya terlalu lama dan akan terlambat, entah berapa banyak jiwa manusia akan menjadi korban kekejamannya lagi.”

Thian-hoat Taysu manggut-manggut, ia menghela napas dan tidak bersuara lagi.

“Bahwa kami mengundang kalian kemari adalah karena ingin mohon bantuan kalian untuk membongkar rahasia orang itu. Orang itu memang terlampau jahat, kejam dan berbahaya, tapi kalian adalah jago top dunia persilatan, kalau kalian sudi bekerja sama dan bantu-membantu, kurasa tidak sukar melenyapkan bisul bencana di kemudian hari.” Setelah Li Tiang-ceng mengutarakan maksudnya, suasana pendopo tetap sunyi, wajah mereka kelihatan suram dan perasaan tertekan, ada yang tertunduk, ada yang menengadah, merenung atau terlongong, ada pula yang berkerut alis sambil ketuk-ketuk meja dengan jari tangannya.

Sesaat kemudian Kim Put-hoan buka suara, “Umpama kita berhasil menyikat Hoan-hi-ong, lalu harta kekayaannya itu akan jatuh ke tangan siapa?”

Sekilas Li Tiang-ceng meliriknya, katanya tersenyum, “Harta miliknya itu kebanyakan hasil tidak halal, setelah dia mati berarti tiada pemiliknya, adalah pantas kalau dibagikan kepada kalian sama rata.”

“Hanya itu saja? Tidak ada yang lain?” tanya Kim Put-hoan.

“Kecuali itu Jin-gi-ceng juga menyiapkan upah sebesar sepuluh laksa tahil perak.”

Kim Put-hoan tertawa, katanya sambil menggosok telapak tangan, “Kalau begini urusan ini dapat dipertimbangkan.”

Segera dia habiskan arak serta menelan sepotong daging.

Kiau Ngo menjengek hina, katanya, “Kiranya manusia tamak yang merah matanya bila melihat uang, mungkin setelah mampus juga masih minta uang.”

Kim Put-hoan tertawa lebar, mulutnya berkecap-kecap, serunya, “Ah, terima kasih atas pujianmu.”

Giok-bin-yau-khim Ji Yok-gi sejak tadi melamun dengan menengadah, pembicaraan orang seperti tidak diperhatikannya, tiba-tiba dia bergumam, “Soal ini memang serbasulit, tapi inilah kesempatan baik untuk angkat nama ….” mendadak dia gebrak meja dan berteriak, “Baiklah, siapa berhasil membunuh Hoan-hi-ong, sepantasnya dianugerahi gelar jago nomor satu.”

“Umpama benar demikian, gelar jago nomor satu juga tidak bakal kau rebut,” demikian ejek Liu Giok-ji.

“Apa iya? …. Hehehe!” Ji Yok-gi menyeringai, akhirnya dia termenung pula.

Suasana dalam pendopo kembali hening, akhirnya Toan-hong-cu, pimpinan Hian-toh-koan dari Cengsia bergelak tertawa sambil mendongak, “Lucu, lucu, menggelikan, sungguh menggelikan!”

Dia bergelak tertawa, tapi mukanya tetap kaku dingin, suara tertawanya juga bernada menggoda.

“Entah adakah hal yang kurang benar sehingga Totiang tertawa?” tanya Li Tiang-ceng.

“Apakah Anda menghendaki orang-orang ini bekerja sama dan bersatu padu?” tanya Toan-hong-cu.

“Begitulah maksud kami,” sahut Li Tiang-ceng.

Toan-hong-cu menyeringai, katanya, “Coba lihat para orang gagah ini, kalau bukan kemaruk harta tentu gila pangkat, adakah di antaranya pernah memikirkan kepentingan umum? Jika menginginkan orang-orang ini bekerja sama, hehehe, kurasa jauh lebih sukar daripada mencampur minyak dengan air.”

Li Tiang-ceng menghela napas sambil mengerut alis, lama dia bungkam.

Akhirnya Kiau-jiu-lan-sim Hoa-sikoh yang banyak akalnya buka suara dengan tersenyum, “Apa yang dikatakan Toan-hong Totiang memang beralasan, tapi kalau dikatakan di sini tiada orang yang memikirkan kepentingan umum, kurasa pendapatnya kurang objektif, jangankan orang lain, umpamanya Kiau-ngoko kita ini, biasanya suka membantu orang kecil dan menegakkan kebenaran, kapan dia pernah bekerja untuk kepentingan sendiri?”

“Hm, hmk ….” Toan-hong-cu hanya mendengus beberapa kali dengan mata mendelik.

“Apalagi ….” Hoa-sikoh meneruskan pidatonya, “umpama betul setiap orang hanya memikirkan kepentingan pribadinya, tapi bila urusan menyangkut untung-ruginya, bukan mustahil akan tiba saatnya mereka akan bersatu padu.”

“Pendapat Hoa-sikoh memang lain daripada yang lain,” puji Li Tiang-ceng.

Mendadak dilihatnya Thian-hoat Taysu berdiri, serunya bengis, “Manusia sejenis Ca Giok-koan memang pantas dibunuh, aku sendiri tidak akan mundur setapak pun dalam usaha mulia ini, tapi jika aku harus bekerja sama dengan orang-orang ini, tak usah saja. Maaf, kumohon diri!” sambil mengebas lengan baju dia siap tinggal pergi.

Pada saat itulah terdengar derap kaki kuda yang ramai dengan suara keleningan kuda, cepat sekali tiba di luar perkampungan, tapi tidak berhenti, agaknya kuda dan penunggangnya terus menerobos ke dalam pintu gerbang.

Serta-merta Thian-hoat Taysu menghentikan langkahnya, air muka para hadirin pun berubah, serempak mereka bergerak, seperti berlomba lari saja mereka berlari ke depan pintu.

Ilmu silat Li Tiang-ceng sudah surut karena luka-lukanya dulu, ternyata gerakannya masih cukup gesit dan tidak mau kalah dari yang lain, sambil mendorong pintu selangkah dia lebih cepat menerobos keluar. Serunya dengan suara kereng, “Orang dari mana yang berkunjung ke perkampungan kami?”

Belum habis dia bicara, tertampak delapan ekor kuda menerobos masuk ke pekarangan dalam, kedelapan ekor kuda semua tinggi dan gagah, berwarna cokelat gilap, mesti hawa amat dingin, kelihatannya kuda-kuda itu bergerak dengan tangkas, penunggangnya berseragam hitam ketat, mengenakan topi bambu dan berikat pinggang sutera kuning, mengenakan mantel berbulu warna hijau, kaki dibalut lapisan kulit, bersepatu kain. Alis tebal, kulit muka merah, meski turun salju, tapi sikap mereka kelihatan gagah dan membusung dada, sedikit pun tidak jeri terhadap apa pun.

Kesembilan orang yang keluar dari pendopo dapat menilai orang, selintas pandang mereka tahu bahwa kedelapan laki-laki penunggang kuda ini memiliki Kungfu yang tidak rendah, tentu tidak sembarangan asal usulnya.

Sebelum Li Tiang-ceng memperoleh jawabnya, tiba-tiba angin berkesiur, tahu-tahu Leng Sam telah mengadang di depan kuda. Perawakannya tidak besar, tapi dia mengadang di depan delapan kuda seolah-olah pandang sebelah mata kepada pihak lawan, dengan dingin dia membentak, “Tidak mau turun, enyah dari sini!”

Suaranya tegas, sikapnya garang, kalau kaget sepantasnya kedelapan orang menjadi gusar, tak nyana kedelapan orang itu tetap bercokol di atas kudanya tanpa bergerak, bukan saja tidak mengunjuk rasa kaget atau marah, mereka tetap duduk tegak seperti patung dengan pandangan lurus ke depan.

Ternyata Leng Sam juga tidak terkejut atau heran, wajahnya tetap kaku, tanpa bicara lagi, mendadak lengan kirinya terayun, gancunya dengan telak menggantol paha kuda paling depan. Meski kudanya terlatih baik, mana kuat menahan tarikan gancu, sambil meringkik kuda itu roboh ke samping, Leng Sam tidak berhenti, kontan kakinya menendang, tendangannya tampaknya sukar mengenai penunggang kuda itu, tapi entah bagaimana orang itu toh tertendang mencelat jauh, kuda roboh orangnya pun jatuh.

Kejadian ini terlalu mendadak, betapa cepat gerakan serangan yang dilancarkan Leng Sam, sungguh secepat kilat.

Advertisements

1 Comment »

  1. plese visit my blog in http://telinga-indonesia.co.nr

    Comment by ADI N — 05/06/2008 @ 12:52 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: