Kumpulan Cerita Silat

07/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (03)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:41 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (03)
Oleh Gu Long

Setelah celingukan sejenak baru diketahui Po-ji bahwa tempat tidur ini sangat mewah, bahkan seluruh isi ruangan yang tidak terlalu besar ini semuanya serbaindah dan serasi.

Kakek luar Po-ji, yaitu Pek Sam-kong, merupakan pemimpin dunia persilatan wilayah Soatang dan terkenal kaya raya, sejak kecil Po-ji hidup di tengah keluarga terkemuka yang serbamewah.

Tapi bila kemewahan keluarga Pek dibandingkan tempat ini, rasanya sukar disebutkan berapa kali selisihnya. Po-ji memandang kian kemari dengan melongo dan terbelalak.

“Ayo katakan, di sini mirip tempat apa?” seru si gadis baju putih dengan tertawa.

Po-ji menghela napas, ucapnya, “Ai, dari mana kutahu tempat apa ini, rasanya aku berada di surga, berada di tengah kawanan bidadari serupa Cici sekalian!”

“Haha, masa kami secantik bidadari?” tanya kawanan gadis itu dengan tergelak.

“Meski aku tidak beruntung melihat bidadari dari kahyangan, tapi kutahu para Cici sangat cantik dan hidup bebas tanpa duka, jelas sukar dibandingi orang cantik di dunia ini.”

Melihat cara bicara Po-ji serupa orang dewasa, meski merasa geli, senang juga kawanan gadis itu. Berputar biji mata si nona baju putih, katanya dengan tertawa, “Eh, bagaimana bila kami dibandingkan binimu yang besar itu?”

Ia gunakan istilah “bini besar” untuk padanan “suami kecil”, ia sendiri tidak tahan rasa geli dan tertawa terpingkal-pingkal.

“Dari … dari mana kalian tahu?” tanya Po-ji dengan melenggong.

“Jika kami dewa dari kahyangan, tentu saja segala apa kami tahu,” kata si baju putih.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari luar berkumandang suara orang memanggil, “Hei kelening kecil, lekas gosokkan tinta bagiku, kalau tidak cepat bisa kumarah!”

Suaranya merdu dan renyah, serupa kicau burung.

Si gadis baju putih menggerundel, “Ai, Siaukongcu memang bikin repot melulu, setiap saat minta ditemani orang. Untung sekarang sudah kudapatkan tenaga serep, sedikitnya aku dapat istirahat.”

Dari suara keleningan kecil pada anting-anting si baju putih, Po-ji tahu nona inilah yang bernama “si kelening kecil”, diam-diam ia merasa geli juga.

Ling-ji atau si kelening kecil lantas memegang tangan Po-ji, katanya dengan lembut, “Akan kubawamu menemui seorang Siaukongcu yang mirip bidadari dan akan kuminta dia menemanimu, mau?”

Po-ji menggeleng kepala, katanya, “Biarpun benar di sini adalah Surgaloka juga aku akan pulang, aku tidak ingin bertemu dengan Siaukongcu apa segala, hendaknya Cici lekas mengantarku pulang saja.”

Ling-ji tertawa ngikik dan berseloroh, “Hihi, tentu kau ingin mencari bini besarmu bukan?”

Dengan muka merah Po-ji menjawab, “Sia … siapa yang ingin menemuinya? Aku ….”

“Jika tidak ingin menemui dia, maka tinggal saja di sini,” ucap Ling-ji dengan lembut. “Asal sekali kau lihat Siaukongcu kami, kuyakin biarpun diusir pun kau takkan mau pergi lagi.”

“Aku … aku ….”

Tanpa memberi kesempatan bicara lagi, beramai-ramai kawanan gadis itu lantas menariknya keluar ruangan itu.

Di luar adalah jalan serambi yang panjang, kedua tepi ada beberapa buah pintu.

Dengan perlahan si gadis baju hijau meraba kepala Po-ji dan berkata, “Temani saja Siaukongcu dengan baik, kalau tidak, bisa kami antar dirimu ke ujung langit yang jauh sana sehingga selamanya kau tak bisa pulang.”

Keruan Po-ji melonjak kaget, pikirnya, “Wah, kawanan gadis ini tampaknya cantik lagi lemah lembut, siapa tahu semuanya juga bukan manusia baik-baik, aku hendak dijadikan kacung Siaukongcu mereka, tapi mereka terus omong muluk-muluk seolah-olah aku tidak tahu.”

Waktu ia dibawa lari Cui Thian-ki, meski merasa kesal, tapi kemudian ada harapan untuk pulang, siapa tahu sekarang tanpa diketahui apa yang terjadi dan tahu-tahu sudah berada di tempat aneh dan misterius ini, jalan untuk pulang pun sukar ditemukan, apa lagi kapal layar pancawarna dan jago pedang nomor satu apa segala, semuanya tak terlihat.

Ia lantas teringat kepada kakek luar dan paman kepala besar, walaupun khawatir, namun urusan sudah kadung begini, terpaksa ia pasrah nasib.

Setelah berpikir, ia merasa geli malah, “Orang kuno baru pasrah nasib bila sudah berusia 50, umurku belum lagi 15, mengapa aku pun meniru pasrah nasib?”

Biarpun usianya masih muda belia, namun pikiran anak ini cukup terbuka, terhadap urusan apa pun ia bisa berpikir panjang, tidak mau mencari susah sendiri dan bersedih tanpa alasan.

Sementara itu kawanan anak gadis tadi telah membawanya ke depan pintu nomor satu di depan sana, si baju hijau membuka pintu, Ling-ji mendorong dari belakang, tanpa kuasa Po-ji menyelonong ke dalam.

Dilihatnya pepajangan di dalam rumah ini terlebih mewah lagi, sebuah meja marmer hijau terletak di tengah, di atas meja ada sebuah pot kemala putih dihiasi beberapa tangkai bunga kamelia.

Di samping botol kemala terbentang kertas tulis warna hijau muda dan ada alat tulis seperti mopit, tempat tinta, ada lagi sebuah mangkuk kemala berisi air, mungkin tempat mencuci mopit setelah terpakai.

Seorang anak perempuan berumur 12-13 tahun dengan baju putih bersih duduk menyanding meja dengan bertopang dagu dan sedang melamun memandangi bunga kamelia pada pot kemala itu.

Po-ji coba memandang juga bunga kamelia pada pot kemala, dirasakan rangkaian bunga itu agak kacau tanpa teratur, tapi setelah dipandang lagi sejenak, makin dilihat makin terasa cara merangkai bunga itu sungguh sangat menakjubkan, besar kecilnya, posisinya, jaraknya, semuanya terangkai dengan sangat indah dan serasi.

Sama sekali Po-ji tidak menyangka merangkai bunga juga begini menakjubkan, saking pesona tanpa terasa ia bergumam, “Setelah melihat bunga ini barulah kutahu kebanyakan perangkai bunga cuma orang tolol belaka.”

Meski lirih suaranya, membuat terkejut juga Siaukongcu atau putri kecil itu, mendadak ia menoleh dan melototi Po-ji sejenak, katanya kemudian dengan melengak, “Kau ini barang … barang apa?”

“Aku manusia, bukan barang,” jawab Po-ji dengan menahan rasa dongkol.

Kembali Siaukongcu itu memandangnya sejenak, “Jika kau manusia, mengapa kau tidak serupa diriku, juga berdandan tidak keruan begini?”

Dongkol dan geli juga Po-ji, katanya, “Aku lelaki dan kau perempuan, dengan sendirinya berbeda.”

Disangkanya putri kecil yang tampaknya pintar ini seorang idiot, karena itulah ia merasa kasihan padanya.

Putri cilik itu memandangnya lagi dengan terbelalak, katanya kemudian, “Ah, tidak benar, tidak cocok, jika kau lelaki, mengapa tidak berjenggot?”

Po-ji melenggong, jawabnya kemudian dengan tertawa, “Usiaku masih kecil, dengan sendirinya tidak berjenggot. Ai, masakah urusan begini saja kau tidak tahu?”

Siaukongcu itu melongo sejenak, lalu tertawa cerah dan berkata, “Oo, pahamlah aku. Kiranya lelaki yang berusia kecil tidak berjenggot, kalau sudah tua baru berjenggot, serupa halnya anak kecil yang tidak berambut, kalau sudah besar barulah rambut bertambah panjang.”

Ia bicara dengan serius, seperti mengenai sesuatu urusan yang rumit dan merasa senang, karena dirinya dapat berpikir sejauh itu.

Melihat kelakuan orang, Po-ji terpingkal-pingkal sehingga pot bunga hampir tersambar jatuh, ucapnya sambil menuding putri kecil itu, “Ka … kau ….”

“Kenapa geli?” omel putri kecil itu dengan mendelik. “Kulihat ayah berjenggot, dengan sendirinya kusangka setiap lelaki tentu berjenggot/”

Seketika Po-ji berhenti tertawa, tanyanya dengan heran, “Memangnya selama hidupmu ini tiada … tiada lelaki lain yang kau lihat kecuali ayahmu?”

“Ayahku adalah lelaki paling pintar, paling gagah, paling cakap, paling kaya di dunia ini, masakah kusudi melihat lelaki lain?” ucap putri kecil itu dengan sikap pongah, namun begitu sukar menutupi perasaan sunyi yang tertampil pada mata alisnya.

Po-ji menghela napas panjang, katanya, “Urusan … urusan begini, masa selama ini tidak ada yang bercerita padamu?”

“Ayah melarang orang bicara padaku, aku pun tidak mau mendengarnya,” ucap putri cilik itu.

Mendadak ia seperti ingat sesuatu, “Oya, selama ini tidak ada orang lelaki yang menerobos ke sini, kulupa tanya padamu, cara bagaimana kau masuk kemari?”

“Kau tanya padaku, lalu harus kutanya siapa?” jawab Po-ji sambil angkat pundak. “Ketika aku bangun tidur, tahu-tahu aku sudah berada di sini.”

Kedua mata Siaukongcu yang jeli itu berkedip-kedip, katanya pula, “Ah, tahulah aku, tentu waktu si kelening kecil dinas keluar, pulangnya kau dibawa kemari.”

Meski ia tidak paham sama sekali urusan lelaki dan perempuan, namun caranya menduga sesuatu urusan ternyata lebih cerdik daripada orang tua, cepat lagi tepat, sama sekali tidak mirip seorang anak perempuan berumur belasan tahun.

Biji mata Po-ji berputar, sekilas dilihatnya tangkai bunga dalam pot tersentuh kacau oleh tangannya waktu tertawa sehingga karangan bunga yang indah itu tidak teratur lagi dengan baik, tentu saja ia merasa tidak enak hati, ia coba membetulkan karangan bunga itu.

Tak terduga, mendadak Siaukongcu itu sangat gusar, dampratnya sambil mengentak kaki, “Siapa yang menyuruhmu menyentuh bungaku dengan tanganmu yang kotor?”

Seluruh tangkai bunga dalam pot itu mendadak diangkatnya dan dibuang ke dalam baskom di sampingnya, lalu digosok dan dicuci, wajahnya yang ayu mendadak berubah penuh gusar dan benci.

Sayang bunga kamelia itu, banyak kelopak bunga yang rontok sehingga kehilangan bentaknya yang indah tadi.

“He, ada apa,” seru Po-ji. “Bunga sebagus itu ….”

“Bunga yang tersentuh oleh tanganmu yang kotor harus kucuci bersih,” ucap putri cilik itu dengan gusar.

“Umpama betul tanganku kotor, setelah … setelah kau cuci, bukankah bunga yang segar dan indah itu akan rusak?”

“Sengaja kucuci bunga ini, peduli apa denganmu?” ucap putri kecil itu dengan ketus.

Po-ji melenggong, ucapnya, “Ai, tak tersangka engkau ini tidak pakai aturan ….”

Seketika putri kecil itu melompat bangun dan berdiri di depan Po-ji dengan bertolak pinggang, teriaknya dengan garang. “Siapa yang tidak pakai aturan? Coba jawab, kenapa kau sentuh bungaku?”

Siaukongcu dalam sikap seperti ini sungguh kelihatan galak, bawel dan judes, sama sekali berbeda dengan bentuknya yang lemah lembut dan menyenangkan tadi. Po-ji melenggong oleh perubahan sikap anak dara yang mendadak ini.

“Blang”, mendadak putri kecil itu membanting pot kemala itu ke lantai, menyusul kertas tulis di atas meja juga dirobek-robek, lalu mengomel pula sambil mengentak kaki, “Dengan susah payah selama seharian suntuk baru selesai kurangkai bunga ini, selama ini belum pernah sebagus ini rangkaian bungaku, tapi … tapi sekarang semuanya telah kau rusak, harus kau ganti … harus kau ganti ….”

“Baik, akan … akan kuganti,” kata Po-ji.

Meski pada dasarnya Po-ji sendiri juga jail, menghadapi orang yang lebih tua daripada dia, segala apa dapat diperbuatnya. Tapi sekarang terhadap anak perempuan yang lebih kecil ini, ia benar-benar mati kutu dan tak berdaya, terpaksa ia menahan rasa dongkol dan bicara baik-baik mengikuti kehendak si nona cilik.

Siapa tahu putri cilik itu masih terus berteriak-teriak, “Kau mau ganti? Apa yang dapat kau ganti?”

Po-ji berpikir sejenak, ia merasa dirinya memang tidak sanggup merangkai bunga sebagus itu, akhirnya ia menghela napas menyesal dan berucap, “Ya, memang tidak dapat kuganti, lantas … lantas bagaimana baiknya?”

Siaukongcu seperti mau menangis, matanya tambah basah merah, serunya, “Takkan kuampunimu, selamanya tidak dapat kuampunimu, kecuali … kecuali kau ….”

Mendengar masih ada jalan keluar lain, cepat Po-ji menukas, “Kecuali apa?”

“Jika kukatakan, apakah dapat kau terima?” tanya Siaukongcu.

“Untuk itu perlu lihat dulu urusan apa, jika ….”

Mendadak putri itu melonjak dan menangis sungguh-sungguh, teriaknya, “O, bangsat cilik, keparat cilik, jika tidak kau terima, akan kubeset kulitmu dan kubetot uratmu ….”

Selamanya Po-ji tidak pernah menghadapi anak perempuan yang ribut dan menangis seperti ini, keruan ia menjadi kelabakan, cepat katanya, “Baik, baik, kuterima.”

“Tapi sekarang tidak bisa lagi cuma kau terima satu urusan melainkan harus sepuluh urusan, kalau tidak, tetap tidak dapat kuampuni,” sambil bicara putri cilik itu masih terus menangis.

Tiada jalan lain terpaksa Po-ji menjawab, “Baik, sepuluh ya sepuluh.”

“Kalau sudah terima tidak boleh menyesal dan ingkar janji,” kata Siaukongcu.

“Tentu saja, seorang lelaki sejati tidak nanti ingkar janji,” jawab Po-ji tegas.

“Kalau ingkar janji, lantas kau ini apa?”

“Kalau ingkar janji, anggaplah aku bangsat cilik, binatang cilik.”

Mendadak Siaukongcu tertawa ngikik, “Ai, anak bodoh, urusan begini mana boleh kau terima begitu saja? Jika kuminta kau potong hidung sendiri, coba bagaimana?”

Ia mengusap air matanya sehingga kelihatan mukanya yang manis dan menarik, kalau tidak melihat sendiri, siapa pun takkan percaya Siaukongcu yang cantik manis dan lemah lembut ini adalah putri kecil yang bersikap galak dan judes tadi.

Po-ji melongo juga oleh ucapan orang, pikirnya, “Benar juga, mana boleh sembarangan kuterima permintaannya? Ai, aku memang … memang anak tolol.”

Waktu ia dipanggil “anak bodoh” oleh Cui Thian-ki, meski ia pun terima lahir batin seperti sekarang. Tapi Cui Thian-ki adalah iblis perempuan yang sudah terkenal, sedang Siaukongcu ini cuma anak perempuan kecil, bahwa anak dara sekecil ini juga dapat membuat orang lain tak berdaya dan pusing kepala serupa seorang iblis perempuan termasyhur, kelak bila sudah dewasa kan terlebih hebat.

Dan sekarang entah kesepuluh pekerjaan aneh apa yang dirancangnya agar dikerjakan Po-ji. Makin dipikir makin cemas juga Po-ji, seketika ia berdiri melongo dan tidak sanggup bicara.

“Haha,” anak dara itu tertawa, “dasar anak bodoh, masa dapat kusuruh kau potong hidung sendiri? Idih, darahnya mancur, betapa menakutkan, buat apa potong hidung?”

Bola matanya berputar beberapa kali, lalu katanya pula dengan perlahan, “Oya, belum pernah kulihat orang lelaki menangis. Nah, urusan pertama itu, boleh coba perlihatkan padaku cara bagaimana kau menangis.”

Po-ji tambah melongo. Meski dia bukannya tidak pernah menangis, tapi sekarang mendadak diharuskan menangis, mana dia sanggup?

Siaukongcu menarik muka, omelnya, “Bagaimana, urusan pertama saja sudah kau ingkar?”

“Aku … aku tidak dapat menangis,” kata Po-ji.

“Sungguh tidak becus,” ujar Siaukongcu. “Apa susahnya menangis? Kalau mau menangis segera aku menangis, ingin tertawa seketika aku tertawa. Ini kan pekerjaan teramat mudah?”

Dongkol dan juga geli Po-ji, tapi bila teringat anak dara ini memang dapat menangis dan tertawa sesukanya, diam-diam ia pun kagum. Terpaksa ia menghela napas dan mendekap mukanya serta menangis.

Namun apa pun juga sukar keluar air matanya, terpaksa ia colek sedikit air liur untuk membasahi pipi sendiri.

“Selama aku tidak bilang berhenti, kau harus terus menangis,” ucap Siaukongcu.

Gemas juga Po-ji, terpaksa ia menggerung sekian lamanya dengan kering, meski air mata tetap tidak menitik, namun sekujur badan bermandi peluh.

“Hihi, tangis orang lelaki rupanya tidak mencucurkan air mata melainkan air keringat?!” Siaukongcu berolok-olok dengan tertawa. “Tapi, meski tangismu tidak mirip, namun kau banyak mengeluarkan tenaga. Baiklah, boleh berhenti.”

Po-ji seperti mendapat pengampunan maharaja, ia duduk selonjor di kursi dengan napas terengah-engah.

Dengan mata berkedip-kedip Siaukongcu berkata pula, “Dan urusan kedua ….”

Begitulah anak dara itu terus memeras otak dan mengemukakan macam-macam soal agar dikerjakan Pui Po-ji. Sebentar ia suruh Po-ji berjumpalitan 50 kali, lain saat ia minta bocah itu merangkak kian kemari 30 kali, mendadak ia suruh Po-ji duduk selama dua jam dan dilarang bergerak sama sekali.

Po-ji benar-benar dikerjai hingga tenaga habis dan badan loyo, ia hanya dapat meringis belaka.

Ruangan itu tidak tembus sinar matahari sehingga tidak diketahui sudah berselang berapa lama, yang jelas sudah empat-lima kali orang mengantarkan nasi. Anak gadis yang mengantar santapan itu sama melirik Po-ji dengan tertawa geli.

Po-ji tidak dapat menerka sesungguhnya tempat apakah ini, terlebih tidak tahu ayah Siaukongcu ini tokoh macam apa, mengapa sejauh ini tidak datang menengok putri sendiri.

Untung juga akhirnya Siaukongcu itu juga bisa lelah, lalu ia merangkai bunga. Kesempatan itu juga digunakan Po-ji untuk mengaso sembari menyaksikan nona cilik itu merangkai bunga.

Ketika putri cilik itu merasa puas akan rangkaian bunganya, tanpa terasa Po-ji juga berkeplok memuji, ia menjadi tertarik dan bertanya siapa yang mengajarkan seni merangkai bunga itu kepada si putri cilik.

Dengan bangga Siaukongcu bertutur, “Ada seorang sahabat ayahku, konon seorang kosen yang luar biasa di dunia ini, beberapa tahun yang lalu beliau berkunjung kemari, dengan berbagai daya upaya ayah menahannya tinggal di sini dan minta dia mengajarkan sedikit kepandaian kepadaku. Meski lebih sebulan dia tinggal di sini, namun aku cuma diajari seni merangkai bunga melulu, pagi merangkai bunga, petang juga mengarang bunga, rangkai sini dan karang sana, sungguh aku kesal sekali. Akan tetapi ayah justru sangat senang, katanya dalam seni merangkai bunga ini terdapat teori ilmu silat yang mahatinggi.”

“Aku tidak percaya,” kata Po-ji sambil menggeleng.

“Aku juga tidak percaya,” tukas Siaukongcu dengan tertawa, “maka sengaja kutanya ayah. Siapa tahu ayah sendiri tidak dapat menjelaskan, sebaliknya aku dianjurkan lebih giat belajar merangkai bunga. Terpaksa setiap hari aku merangkai bunga pula. Meski sudah kurangkai sini dan karang sana, tetap sukar kupahami di mana dalil ilmu silat yang terkandung dalam seni mengarang bunga ini. Tapi lambat laun, tanpa terasa aku menjadi mencandu dan gemar merangkai bunga. Sebab pada akhirnya dapat kurasakan bahwa cara merangkai bunga ini tampaknya sangat sederhana, yang benar luas sekali pengetahuan yang terkandung di dalamnya.”

“Ya, hal ini tadi pun sudah kurasakan,” tukas Po-ji dengan gegetun. “Sama-sama beberapa tangkai bunga, karanganmu dan rangkaianku ternyata sangat berbeda, serupa ….”

Ia bermaksud memberi suatu perumpamaan, akan tetapi sukar teringat seketika.

“Serupa halnya sebatang pedang, bahkan sejenis ilmu pedang yang sama, bilamana dimainkan seorang tokoh kelas tinggi tentu sangat berbeda dengan jago kelas rendahan.”

“Ya, ya, betul, tepat,” seru Po-ji sambil berkeplok tertawa.

Ia pandang putri kecil itu sejenak, lalu berkata pula, “Terkadang aku merasa heran, sesuatu urusan yang sederhana tidak dapat kau pahami, sebaliknya urusan yang ruwet dan mendalam justru banyak yang kau pahami.”

“Apa betul?” ucap Siaukongcu dengan tertawa manis.

“Tampaknya ilmu silatmu pasti juga sangat mahir,” ujar Po-ji.

“Tentu saja,” kata si putri cilik seakan-akan paham ilmu silat adalah sesuatu yang biasa.

Selang sejenak, berkata pula, “Eh, mungkin kau ingin kuperlihatkan sejurus dua kepadamu.”

“Tidak, tidak mau,” sahut Po-ji dengan kening bekernyit.

Biasanya ia memang tidak suka ilmu silat, beberapa hari terakhir banyak dilihatnya pula bunuh-membunuh dan darah mengucur, tentu saja ia tambah jemu terhadap ilmu silat.

Mendadak Siaukongcu mendelik dan mengomel, “Kau tidak mau lihat, aku justru suruh kau lihat. Jika kau bilang ingin lihat, bisa jadi aku berbalik malas memperlihatkan padamu.”

“Baik, aku mau, aku mau ….”

“Hihi, kau mau lihat, tentu saja memang harus kau lihat,” ucap si nona cilik dengan terkikik.

Po-ji jadi melenggong sendiri, dengan apa boleh buat ia duduk sambil menghela napas tanpa berdaya.

Betapa pun ia bicara begini dan begitu, asalkan si nona cilik main putar sedikit dan ucapan Po-ji lantas terperangkap. Keruan ia tambah mendongkol, ia bersungut-sungut dengan mulut mencuat hingga cukup untuk dibuat gantungan botol.

“Hihi tampangmu waktu marah sangat lucu, selanjutnya pasti akan kucari akal untuk membuatmu marah setiap hari,” kata Siaukongcu dengan tertawa.

Tambah sedih Po-ji mendengar ucapan itu, dilihatnya tubuh Siaukongcu yang kecil mungil itu mendadak berputar cepat, dengan ringan tahu-tahu mengapung meninggalkan lantai.

Bajunya yang putih bagai salju itu berkibar di udara serupa sayap kupu-kupu, kakinya yang bersepatu hias mutiara mendepak perlahan di udara, mendadak tubuhnya menurun ke tengah baskom.

Keruan Po-ji terkejut, baru saja ia hendak memburu maju untuk memegangi si nona, siapa tahu kaki si putri kecil telah menginjak kelopak bunga yang menongol di permukaan air baskom, berdiri dengan tenang dan mantap tanpa goyang sedikit pun.

Baskom penuh terisi air jernih, di dalam terendam bunga kamelia merah muda, di atas kelopak bunga berdiri Siaukongcu berbaju seputih salju, sungguh pemandangan yang indah mirip lukisan bidadari yang sedang bermain air.

Meski tidak suka ilmu silat, demi melihat gaya indah si nona serupa lukisan, mau tak mau Po-ji merasa takjub dan tanpa terasa bersorak memuji.

Sekali melayang, dengan ringan Siaukongcu turun kembali ke lantai, katanya dengan tertawa, “AH, ini belum apa-apa, hanya kungfu kasaran saja, setiap orang di rumahku baik besar maupun kecil sama mahir gerak ringan tubuh ini.”

“Jika ku bilang kungfu kasaran, maka guru silat dunia kangouw yang biasanya sok anggap jagoan tentu harus malu diri,” ucap Po-ji dengan gegetun.

“Oo, kiranya kau pun paham ilmu silat,” kata Siaukongcu.

“Meski aku tidak paham ilmu silat, sedikitnya dapat kubedakan antara yang bagus dan jelek,” kata Po-ji. “Apa lagi Gwakong (kakek luar), ayah dan ibuku juga ….”

Mestinya ia hendak bilang “juga tokoh dunia persilatan”, tapi bila teringat usia si nona yang masih muda belia sudah memiliki kungfu setinggi ini, apa lagi ayahnya, entah betapa hebatnya, seketika Po-ji urung mengumpak kelihaian kakek dan orang tua sendiri.

Teringat ayah si nona entah tokoh lihai macam apa, Po-ji menjadi sedih akan nasib sendiri dan entah kapan baru dapat pulang ke rumah.

Melihat anak itu berdiri termenung, Siaukongcu lantas bertanya, “Ayah-ibumu bagaimana katamu tadi?”

Belum lagi Po-ji menjawab, sekonyong-konyong dirasakan seluruh rumah ini sama berguncang hebat sehingga Po-ji terjatuh, muka anak itu seketika berubah pucat.

“Jangan takut, anak bodoh,” ucap Siaukongcu dengan tertawa. “Mari, kutarik dirimu.”

Ia ulurkan tangannya yang putih halus dan menarik bangun Po-ji.

Tak terduga, begitu berdiri Po-ji terus merangkulnya dengan erat sambil berteriak, “Wah, celaka! Langit akan ambruk, lekas kita lari!”

Putri cilik itu tertawa ngikik, jawabnya, “Anak bodoh, siapa bilang langit mau ambruk? Ini tidak lain karena kapal yang kita tumpangi membentur tepian, masa kau takut?”

“Hah, kita … kita berada di atas kapal?” Po-ji menegas dengan melenggong.

“Memangnya di mana kalau tidak di atas kapal?” jawab si nona cilik.

“Aneh, jika di atas kapal, mengapa sama sekali tidak kurasakan?” ujar Po-ji. “Bila kunaik kapal lain, selalu terasa pusing dan mabuk.”

Siaukongcu tertawa, katanya, “Maklumlah, kapal ini teramat besar. Kapal kecil bisa goyang, kapal besar takkan goyang …. Eh, maukah lepaskan tanganmu?”

Baru sekarang Po-ji menyadari anak dara itu masih didekapnya erat-erat, cepat ia lepas tangan, namun masih dirasakan hangat dan enak sekali.

“Antara lelaki dan perempuan tidak boleh berpegangan, kenapa kau rangkul diriku barusan?” tanya Siaukongcu dengan melotot.

Teguran demikian belum lama baru saja diucapkan Po-ji, siapa tahu sekarang ia sendiri juga ditegur orang, keruan mukanya menjadi merah dan serbakikuk.

“Ayo bicara, sebab apa?” tanya Siaukongcu pula dengan suara parau.

Po-ji menunduk dan menjawab, “Aku … aku ….”

Ia merasa salah, namun sukar untuk menjawab, maka ia cuma gelisah, serbasusah dan hampir mencucurkan air mata.

Siapa tahu kembali Siaukongcu mengikik tawa, ucapnya dengan suara lembut, “Jangan sedih, aku cuma main-main saja. Padahal aku sangat suka dipeluk olehmu, sungguh nikmat.”

Mendadak ia merangkul leher Po-ji dengan kedua tangannya yang kecil dan putih halus, “ngok”, perlahan ia cium pipi anak itu, lalu berlari ke sana dengan terkikik.

Memandangi baju si nona yang putih dan melambai ringan itu, hati Po-ji terasa manis dan juga rada kecut … entah apa rasanya sesungguhnya, hanya dirasakan hal ini belum pernah dialaminya selama hidup ini, sungguh terasa lebih nikmat daripada apa pun.

Siaukongcu meliriknya sekejap, entah mengapa, mendadak mukanya berubah merah dan mengomel dengan mengentak kaki, “Kau jahat, aku … aku tidak gubris lagi padamu ….”

Hati kedua bocah ini sedemikian suci murni, terhadap urusan laki perempuan seperti tidak paham, ingin bicara tapi urung. Keadaan demikian dan perasaan ini sungguh sukar untuk dilukiskan.

Siaukongcu lantas menunduk di pojok sana sambil memain ujung baju sendiri, sedangkan Po-ji berdiri di pojok lain sambil mendongak terkesima.

Keduanya sama-sama tidak bersuara, sampai lama dan lama sekali ….

Mendadak Siaukongcu berpaling dan menegur, “Hai, apakah kau bisu?”

Agaknya Po-ji lagi melamun sehingga tidak menjawab.

“Eh, janjimu padaku masih berapa kali yang belum kau kerjakan?” omel anak dara itu.

“Empat kali,” sahut Po-ji.

Siaukongcu tertawa, “Kukira kau benar bisu, kiranya tidak. Eh, sesungguhnya apa yang lagi kau pikirkan?”

Po-ji menggeleng kepala, “Tidak … tidak dapat kukatakan.”

“Harus, harus kau katakan, aku justru suruh kau bicara,” desak Siaukongcu dengan muka merah.

“Kupikir … kupikir jika kapal ini sudah menepi, tentu banyak permainan menarik di daratan sana,” tutur Po-ji dengan tergegap. “Alangkah baiknya jika kau mau melihatnya.”

Siaukongcu melengak, mendadak ia membelakangi Po-ji dan tidak menggubrisnya lagi. Sejenak kemudian perlahan ia menunduk, seperti menitikkan air mata.

Tanpa terasa Po-ji mendekatinya dan bertanya, “Eh, ken … kenapa?”

Anak dara itu menggigit bibir dan mengentak kaki, serunya, “Enyah, lekas pergi!”

Po-ji merasa bingung, “Katakan padaku, sebab apa kau menangis?”

“Bangsat cilik, keparat busuk, tidak nanti kukatakan kepadamu,” damprat anak dara itu dengan gemas. “Hm, kiranya tadi kau bukan lagi memikirkan diriku, apa pun takkan kukatakan padamu.”

Ia bilang tidak mau mengatakan apa pun, padahal semuanya sudah ia katakan. Ia marah dan menangis, sebab tadi ia lagi memikirkan Pui Po-ji, sebaliknya Po-ji cuma memikirkan permainan di daratan.

Po-ji menghela napas, katanya, “Siapa bilang aku tidak memikirkan dirimu? Aku justru senantiasa memikirkan dirimu, hampir gila kupikirkan dirimu.”

“Betul?” dari menangis Siaukongcu berubah tertawa.

“Tentu saja betul,” jawab Po-ji. Namun dalam batin ia mencela diri sendiri sekarang pun mulai suka dusta. Pikirnya, “Tidak lama aku keluyuran di luar, sekarang aku pun pintar berdusta. Ai, meski berdusta bukan perbuatan baik, tapi agar dia mau mendarat bersamaku hingga aku ada kesempatan melarikan diri, terpaksa harus kudustai dia satu kali. Apa lagi caraku dusta ini juga untuk membuatnya gembira dan tidak bermaksud jahat padanya ….

Dilihatnya nona itu lagi berpikir dengan kepala miring, tiba-tiba ia tanya pula, “Eh, apa betul di daratan sana banyak permainan menarik? Aku … aku jadi ingin melihat ke sana?”

“Hah, bagus, boleh sekarang juga kita pergi,” seru Po-ji girang.

Tiba-tiba anak dara itu menghela napas, ucapnya dengan sayu, “Setiap tahun sebelum kapal menepi, ayah selalu mencari jalan untuk memberi hukuman kurungan 50 hari padaku dan dilarang keluar kamar selangkah pun. Sekarang baru 31 hari aku dikurung, mana boleh kukeluar?”

Diam-diam Po-ji gegetun bagi anak dara itu, pikirnya, “Kiranya selama hidupnya tinggal di atas kapal dan tidak pernah naik ke daratan. Ai, pantas dia tidak pernah melihat orang lelaki kecuali ayahnya saja. Sepanjang hari dia dikurung di dalam kamar, kalau tidak membaca hanya peras otak belaka, dengan sendirinya terhadap setiap urusan yang ruwet ia pandai berpikir dan memecahkannya, tapi terhadap urusan duniawi yang sederhana dia justru tidak paham sama sekali.”

Teringat kepada kehidupan yang sunyi itu, tanpa terasa timbul rasa kasihan Po-ji terhadap anak dara itu, katanya segera, “Mari kita mengeluyur keluar di luar tahu ayahmu.”

Siaukongcu terbelalak, katanya, “Wah, bukankah nanti ayah akan … akan marah sekali?”

Rupanya selama ini dia tidak pernah berbuat sesuatu yang berlawanan dengan kehendak sang ayah.

“Asalkan ayahmu memang tidak tahu, mana bisa dia marah?” ujar Po-ji.

Namun Siaukongcu hanya menggeleng kepala saja.

“Kita hanya keluar untuk melihat sebentar saja dan segera pulang kemari,” kata Po-ji. “Boleh kita lihat betapa merahnya buah Tho, betapa warna hijau kekuningan pisang, betapa indahnya jembatan dan pepohonan ….”

Ia sengaja putar lidah dan menggunakan berbagai istilah indah yang pernah dibacanya untuk melukiskan betapa permainya pemandangan di daratan, padahal di daratan sana mana ada buah Tho dan pisang segala?

Bola mata Siaukongcu yang hitam itu tampak berputar-putar, jelas hatinya tergelitik oleh ocehan Po-ji, sejenak kemudian ia berkata dengan tertawa, “Betul juga, asalkan ayah tidak tahu, mana bisa dia marah?”

“Nah, kan sudah kubilang kau ini anak pintar, sekali pikir lantas paham,” tukas Po-ji dengan tertawa.

Siaukongcu sangat senang karena Po-ji memujinya, tapi di mulut ia sengaja berkata, “Apa betul aku pintar? Hm, tentu kau dusta. Pada waktu berusia lima tahun aku baru bisa menguasai setengah ilmu pedang ajaran ayah, sering ayah memaki aku anak bodoh, dan pada waktu aku berumur enam ….”

Ia bicara macam-macam, tujuannya cuma ingin mendengar pujian Po-ji lagi.

Namun Po-ji khawatir anak dara itu menyimpangkan pokok persoalan, ia berlagak tidak mengerti dan berkata urusan lain, “Di luar pintu ini adakah penjaganya? Dapatkah kita mengeluyur keluar?”

Siaukongcu menghela napas kecewa, katanya kemudian, “Banyak sekali orang di luar pintu, tapi … tapi di sini ada sebuah jalan rahasia yang dapat menembus ke ruangan tamu di atas, setiba di sana tentu kita bisa mengeluyur keluar.”

“Aha, bagus,” seru Po-ji girang. “Tapi … tapi mungkinkah ayahmu berada di ruang tamu situ?”

Anak dara itu menggeleng, “Tidak, sepanjang hari ayah selalu berada di kamarnya, belum pernah kulihat beliau berada di ruang tamu ….”

Perlahan ia mendekati sebuah cermin perunggu untuk menyisir rambut.

“Ayo, kalau mau pergi lekas berangkat sekarang,” ajak Po-ji tidak sabar.

Siaukongcu berpaling dan melototinya sekejap, omelnya, “Kau ini, jika kita mau mendarat, kan aku perlu berdandan dulu, kalau tidak, apakah tidak malu dilihat orang?”

“Ai, anak perempuan semacam dirimu sudah merupakan tercantik daripada semua orang perempuan yang pernah kulihat, tanpa bersolek pun jauh lebih cantik daripada orang lain.”

“Apa betul?” tanya Siaukongcu dengan senang. “Aku ….”

“Tentu saja betul,” cepat Po-ji memotong. “Oya, di mana letak jalan rahasia itu?”

Siaukongcu menuding sehelai tirai sulam di sebelah sana.

Benar juga, di balik tirai sulam itu adalah sebuah pintu rahasia. Siaukongcu membukanya dan mendahului masuk ke situ, lalu menoleh dan berkata, “Aku merasa takut, jantungku berdebar keras.”

Cepat Po-ji menggunakan macam-macam ucapan untuk menghiburnya. Begitulah kedua anak itu satu di depan dan yang lain ikut dari belakang, keduanya menyusuri jalan rahasia itu, setelah membelok kian kemari, akhirnya mendaki sebuah tangga.

“Ssst, di atas tangga inilah ruang tamu pada anjungan,” desis Siaukongcu sambil menarik tangan Po-ji dan merambat ke atas selangkah demi selangkah.

Jantung Po-ji sendiri juga berdetak keras. Dilihatnya Siaukongcu menarik sebuah palang kayu dan mengangkat sepotong papan, lalu ada cahaya menyorot dari atas.

Dengan hati-hati kedua anak itu melangkah keluar, terlihat ruang anjungan kapal sangat luas dengan pepajangan sangat mewah, keadaan sunyi senyap tiada sesuatu suara.

Tidak ada minat Po-ji untuk memandangi ruangan indah itu, baru saja ia hendak melongok ke luar jendela untuk melihat suasana di luar, tiba-tiba terdengar suara langkah orang sudah dekat pintu.

Diam-diam Po-ji mengeluh, “Wah, celaka!”

Siaukongcu juga tampak pucat, desisnya, “Ssst, ada orang!”

Cepat ia menarik Po-ji dan bermaksud menyurut mundur ke lorong rahasia. Namun suara orang sudah makin dekat, ingin membuka lagi papan lubang tadi sudah tidak keburu lagi.

Tentu saja kedua anak itu sama kelabakan, mendadak terlihat di pojok ruangan sana juga ada tirai sulam yang panjang melambai ke lantai, tanpa disuruh lagi keduanya berlari ke sana dan bersembunyi di balik tirai.

“Jangan bergerak, tahu tidak?” desis Siaukongcu di tepi telinga Po-ji. “Jika diketahui ayah perbuatan kita ini, selain aku akan dihajar, kau pun takkan terhindar dari tanggung jawab.”

Po-ji merasa kuping gatal-gatal geli, ingin tertawa tapi tidak berani, ia cuma mengangguk saja.

Ia berdiri bersandar dinding, kebetulan dapat mengintip melalui celah-celah tirai dan dinding, tentu saja kesempatan mengintip itu tidak disia-siakan.

Terlihat enam-tujuh perempuan yang bertubuh tinggi besar dan kekar serupa orang lelaki sedang menyapu ruang anjungan kapal yang sebenarnya sudah cukup bersih.

Habis itu terdengarlah suara kelening nyaring dari jauh mendekat kemari.

Diam-diam Po-ji membatin, “Itu dia si kelening kecil.”

Benar juga, baru berpikir segera tertampak si gadis berbaju putih sudah melangkah masuk dengan gaya gemulai, tanyanya, “Sudah selesai dibersihkan belum?”

“Lapor nona, sudah selesai,” jawab salah seorang perempuan kekar.

“Kalau sudah selesai hendaknya lekas keluar, segera tamu akan datang,” kata Ling-ji alias si kelening.

Perempuan kekar tadi mengiakan, lalu berbenah peralatan pembersih sebangsa sapu, ember dan sebagainya, lalu mengundurkan diri.

“Sialan,” diam-diam Po-ji menggerutu. “kenapa tidak cepat atau lambat, justru pada waktu ada kesempatan untuk kabur bagiku tiba-tiba kedatangan tamu.”

Mendadak sesosok tubuh yang lunak bersandar pada bahunya, kiranya Siaukongcu juga tidak tahan oleh rasa ingin tahu, ia pun ikut berimpitan dan mengintip.

Terlihat Ling-ji berjalan sekeliling di ruang tamu, kedua tangan membentang gaun, lalu menyembah dengan lemah gemulai, katanya, “Ruang tamu sudah selesai dibersihkan, silakan Houya (paduka tuan) masuk!”

Menyusul lantas terdengar daun pintu dibuka disusul dengan suara keresek-keresek kain baju, 16 anak gadis bergaun panjang dan berdandan serupa dayang istana dengan tangan masing-masing membawa mistar kemala dan kipas bulu melangkah masuk, lalu berdiri menjadi dua baris di kedua sisi.

Kemudian empat gadis jelita dengan membawa mangkuk emas mengiringi seorang berbaju ungu muncul dengan langkah lebar setelah melangkahi permadani merah dan naik ke mimbar di balik pintu angin terus duduk di kursi berukir naga melingkar.

Betapa pun Po-ji menggeser kian kemari bola matanya tetap tidak dapat melihat jelas perawakan si baju ungu, hanya di antara gaun kawanan gadis itu terlihat unung baju berwarna ungu.

Perlahan Siaukongcu memegang tangan Po-ji dan menggores dua huruf pada telapak tangannya, huruf itu berbunyi “ayahku”.

Po-ji mengangguk, meski di dalam hati semakin ingin tahu bagaimana wajah orang kosen ini, namun ia tidak berani melongok keluar tirai. Apa lagi seumpama ia melongok keluar juga takkan melihatnya, sebab tubuh orang berbaju ungu ini sudah teraling lebih dulu oleh pintu angin.

Pintu angin itu tingginya delapan kaki, bagian bawah yang luang cuma setengah kaki di atas lantai. Po-ji penasaran, ia coba mendekam, dengan muka menempel lantai ia coba mengintip ke sana.

Akan tetapi yang terlihat hanya kedua kaki si baju ungu, ada lagi seekor kucing putih yang meringkuk di samping kaki si baju ungu, lebih ke atas lagi tetap tak terlihat olehnya.

Dalam pada itu terdengarlah suara alat musik dari kejauhan, merdu merayu suara musik itu, entah datang dari mana.

Ling-ji mendengarkan dengan mendekam di lantai, tanyanya kemudian, “Apakah sekarang juga kita membuka pintu menyambut tamu?”

Terdengar suara kemalas-malasan menjawab di balik pintu angin, “Kau adalah petugas penyambut tamu, segala urusan boleh terserah padamu.”

Suaranya lantang dan tenang, kedengarannya seperti orang yang bicara ini tidak pernah merisaukan apa pun, seperti juga tidak pernah ada sesuatu urusan di dunia ini yang dipikirkan olehnya.

Terdengar Ling-ji mengiakan sekali dan menyembah lagi, lalu berbangkit dan melangkah keluar.

Namun pandangan Po-ji masih tetap tertuju ke bagian bawah pintu angin, mendadak sebuah telapak tangan putih mulus bagai ukiran kemala putih terjulur ke bawah, kelima jarinya kelihatan panjang lentik dan halus, sedikit pun tidak kelihatan kotor atau cacat. Di antara ibu jari dan jari telunjuk tercomot seekor ikan emas kecil.

Si kucing putih yang sejak tadi meringkuk kemalasan di samping kaki mendadak mendongak dan ikan emas itu dicaploknya sekaligus, lalu mendekam lagi dengan kemalasan.

Tangan si baju ungu masih terus membelai badan kucing putih itu dengan perlahan, kelihatan sangat sayang.

Melihat itu, kejut dan girang Po-ji, kejutnya karena ikan emas dari jenis yang sukar dicari itu berharga sangat mahal, tapi sekarang orang menggunakannya untuk makanan kucing. Girangnya karena akhirnya sebelah tangan orang dapat dilihatnya.

Ling-ji melangkah keluar ruang anjungan, melintasi geladak kapal yang sudah dicuci bersih dan menuju ke haluan kapal. Dari situ ia memandang ke bawah, ternyata di depan haluan kapal, di permukaan air mengapung tiga buah rakit kayu, di atas rakit berdiri berpuluh orang dengan potongan tubuh yang berbeda.

Kiranya kapal ini terlampau besar, perairan di situ agak dangkal sehingga kapal tidak dapat merapat ke tepian, barang siapa hendak naik kapal harus menumpang rakit untuk mendekati kapal itu.

Ling-ji berbaju putih berdiri di haluan kapal dengan latar belakang langit yang biru dan gumpalan awan di angkasa, sungguh dia mirip bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Berpuluh orang penumpang rakit sama mendongak memandang ke atas, sebagian besar memandang dengan terkesima serupa orang linglung.

Ling-ji tertawa, katanya, “Kedatangan kalian hendak memandang diriku atau ingin mengunjungi Houya kami?”

Semua orang sama melengak, Ling-ji lantas menyambung dengan tertawa, “Jika kedatangan kalian hendak menyampaikan sembah bakti kepada Houya kami, sekarang juga silakan naik ke atas kapal.”

Seketika terjadi keributan di atas rakit, semua berebut naik dulu.

Mendadak Ling-ji membentak, “Nanti dulu! Houya memberikan juga sehelai kartu nama, hanya orang yang namanya tercantum dalam kartu nama baru boleh naik kemari, bila namanya tidak terdapat pada kartu ini dan kau sengaja naik kemari, maka … mungkin kau takkan pulang lagi untuk selamanya. Nah, jika terjadi demikian janganlah menyesal dan menyalahkan aku tidak memberitahukan di muka.”

Seketika timbul berisik orang banyak, mendadak seorang yang bersuara tajam melengking berteriak, “Houya baru saja pulang dari berlayar, dari mana beliau tahu siapa-siapa di antara kami yang hendak menghadap beliau?”

Ling-ji menjawab dengan tertawa, “Memangnya ada sesuatu urusan di dunia ini yang tidak diketahui Houya kami?”

Dari dalam lengan baju lantas dikeluarkannya sehelai kertas surat terus dilemparkan ke bawah.

Angin laut meniup kencang, kertas surat sangat ringan, dilemparkan lagi dari ketinggian kapal, semua orang menyangka kertas surat itu pasti akan kabur terbawa angin, siapa duga kertas surat yang enteng seperti ditolak orang dan perlahan melayang turun ke bawah.

“Sungguh hebat kungfu nona!” segera ada orang bersorak memuji.

Ling-ji tersenyum manis, katanya, “Silakan kalian baca, apakah ada kesalahan pada daftar nama ini?”

Waktu semua orang membaca daftar nama pada kertas surat itu, yang tertulis di situ memang betul tokoh-tokoh ternama yang menanti di daratan sana, hampir tidak ada salah seorang pun, hanya nama beberapa orang yang dikenal busuk saja dicoret.

Melihat air muka semua orang sama mengunjuk heran dan kejut, dengan tersenyum Ling-ji berkata pula, “Jika benar daftar nama itu, silakan yang bersangkutan naik kemari menurut nomor urutan masing-masing.”

Habis berkata ia lantas berputar dan masuk ke anjungan.

Terdengar di belakang suara kesiur angin, beramai belasan orang melompat ke atas kapal. Belasan orang ini semuanya memiliki ginkang tinggi, waktu hinggap di geladak sama sekali tidak menimbulkan suara.

Di atas rakit tersisa belasan orang, semuanya menunduk lesu serta sama bergumam, “Sungguh aneh, dari mana ia tahu siapa-siapa yang menunggunya di daratan sana?”

Apa lagi Pui Po-ji hadir di situ, tentu ia dapat menduga lebih dulu Ling-ji sudah mendarat dan menyelidiki seluk-beluk dan asal-usul orang-orang itu, lalu dicatat dalam sebuah daftar nama, pulangnya bertemu dengan Po-ji dan sekalian dibawanya pulang ke kapal.

Namun sekarang Po-ji sembunyi di belakang tirai dan sedang mengintip dengan menahan napas, sama sekali ia tidak tahu apa yang terjadi di luar. Selang agak lama barulah dilihatnya Ling-ji yang berbaju putih itu muncul dari pintu anjungan, menyusul belasan pasang kaki ikut di belakangnya, belasan pasang kaki itu memakai belasan pasang sepatu yang beraneka ragamnya dengan bentuk yang aneh-aneh. Malahan seorang di antaranya bertelanjang kaki.

Diam-diam Po-ji merasa heran, pikirnya, “Melihat wibawa Houya yang hebat ini, siapa tahu undangannya ternyata begini aneh.”

Terdengar Ling-ji berseru, “Lapor Houya, para tamu sudah tiba!”

“Silakan,” kata suara kalem tadi.

Po-ji mendekam di lantai, cuma kelihatan belasan pasang kaki itu masuk bersama Ling-ji, sesudah di dalam ruangan sebagian lantas berlutut dan menyembah, tapi lebih banyak cuma merandek sejenak, agaknya cuma menjura sekadarnya, lalu mengambil tempat duduk di kedua sisi.

Orang bertelanjang kaki itu malahan sama sekali tidak berhenti dan langsung duduk di pinggir sana.

Po-ji lantas sibuk pula berusaha memandang wajah para tamu itu, perlahan ia berdiri dan mengintip melalui celah-celah tirai, tapi para tamu aneh itu sudah keburu teraling oleh ke-16 dayang istana sehingga seorang pun tidak kelihatan.

“Kalian datang dari berbagai penjuru yang jauh, kukira pasti ada urusan penting yang perlu minta petunjuk Houya kami,” kata Ling-ji dengan tertawa. “Rasanya sukar bagiku untuk menyilakan siapa yang bicara lebih dulu ….”

Mendadak seorang memotong, “Kami datang dari tempat jauh, urusan yang perlu dibicarakan tentu juga urusan penting dan tidak dapat terburu-buru, maka boleh silakan orang yang datang dari dekat dengan urusan tidak begitu gawat untuk bicara lebih dulu.”

Orang ini bicara dengan kalimat-kalimat yang kaku, tapi lagaknya terpelajar, kedengarannya juga agak tersendat-sendat serupa burung kakaktua yang lagi belajar omong.

Dengan geli Ling-ji menjawab, “Jika demikian, bolehlah kalian bersabar dan menunggu giliran untuk bicara. Dan sekarang siapa kiranya yang datang dari dekat dengan urusan yang tidak begitu penting, dapatkah aku diberi tahu?”

Segera seorang berseru, “Jika hadirin sama sungkan, biarlah aku Hingciu Thi Kim-to yang minta petunjuk lebih dulu kepada Houya.”

Suara orang itu terdengar berat, tapi keras, menyusul suaranya seorang lelaki besar berbaju sulam tampil ke depan.

Sekali ini Po-ji dapat melihat dengan jelas, orang yang mengaku bernama Thi Kim-to atau si golok emas ini berwajah hitam, gagah dan kereng, rambut dan jenggotnya sudah putih sebagian besar namun semangatnya tidak kalah dibanding anak muda. Pada sebelah tangannya menjinjing sebuah peti kecil, golok panjang tergantung di pinggangnya, sarung golok penuh bertabur batu manikam, baju satin yang dipakainya sangat mencolok.

Meski Po-ji tidak kenal tapi ketenaran orang ini pasti di bawah kakeknya, yaitu Jing-peng-kiam-kek Pek Sam-kong, melihat kegagahan orang diam-diam ia bersorak memuji.

Ling-ji berkata pula, “Peraturan Houya sudah diketahui Thi-taihiap bukan?”

“Kutahu,” jawab Thi Kim-to dengan hormat. “Tentang sebutan nona padaku rasanya tidak berani kuterima.”

Ling-ji tersenyum, katanya, “Dahulu dengan golok emasmu kau pernah menyikat habis ke-17 bandit di daerah Kangsay, jika kusebut Taihiap padamu juga pantas. Akhir-akhir ini namamu cukup cemerlang, boleh dikata nama besar dan usaha sukses, entah ada urusan apa lagi yang perlu bantuan Houya kami untuk menyelesaikannya. Pula setelah kau tahu peraturan Houya kami selama 20 tahun ini, bolehlah kau perlihatkan barang yang kau bawa.”

Melihat gadis jelita ini tahu sejelas ini terhadap riwayat hidupnya, Thi Kim-to terkejut, katanya sambil menghormat, “Baik!”

Segera ia menyodorkan peti kayu cendana yang dibawanya. Semua orang menyangka isi peti itu pasti berbagai macam benda mestika, siapa tahu isi peti itu cuma beberapa jilid buku saja, warna kertasnya juga sudah kuning.

“Wanpwe mempersembahkan kitab Budha asli tulisan Ong Hi-ci, mohon Houya sudi menerimanya,” kata Thi Kim-to.

Po-ji terkejut, sebab ia tahu benar kitab Budha asli tulisan Ong Hi-ci boleh dikatakan semacam benda mestika yang sukar dinilai harganya.

Terdengar orang di balik pintu angin itu menghela napas gegetun, ucapnya, “Boleh juga maksud baikmu ini. Terima saja, Ling-ji.”

Suaranya tetap kemalasan seakan-akan benda mestika yang sukar dicari ini pun tidak menarik baginya.

Ling-ji menerima peti itu, katanya dengan tertawa, “Setelah Houya kami mau menerima kado yang kau bawa ini, maka apa kesulitanmu bolehlah kau ceritakan saja.”

Wajah Thi Kim-to terunjuk rasa girang, katanya dengan hormat, “Baik!”

Setelah berpikir dan berdehem, lalu ia bertutur, “Lebih 70 tahun yang lalu, Ho-hou-bun kami di Hingciu sama menonjolnya di dunia persilatan dengan Ban-liong-kau di Sinyang. Waktu itu terkenal sebagai ‘Ho-hou Ban-liong, To-kau-jing-hiong’. Sungguh nama kedua perguruan kami sangat gemilang dan tidak ada bandingannya pada waktu itu, namun ….”

“Hendaknya bicara singkat dan sederhana saja, jangan bertele-tele dan membual,” kata Ling-ji dengan tertawa.

Muka Thi Kim-to berubah merah, ia berdehem kikuk, lalu menyambung, “Selama berpuluh tahun kedua perguruan kami selalu berhubungan erat seperti saudara, siapa tahu sejak 17 tahun yang lalu setelah Han It-kau menjadi ketua Ban-liong-bun, keadaan mendadak berubah sama sekali. Han It-kau menyatakan urutan nama Ban-liong harus di atas Ho-hou, kami diharuskan mengubahnya dan minta maaf, kalau tidak kami ditantang untuk bertanding, biar segenap kawan dunia persilatan tahu jelas sesungguhnya Ho-hou atau Ban-liong yang harus menempati urutan di atas.”

“Hah, setelah urutan nama di atas, apakah lantas mendapat untung lebih banyak?” ujar Ling-ji dengan tertawa.

“Perkataan nona memang benar,” kata Thi Kim-to dengan menghela napas panjang. “Tapi rasa penasaran ini sungguh aku tidak tahan, maka terjadilah duel di luar kota Sinyang. Dengan sendirinya kawan Bu-lim mendapat kabar itu dan datang menonton. Siapa tahu dalam pertempuran itu, pada jurus ke-720 aku dilukai oleh gaetannya.”

“Dengan sendirinya kau penasaran atas kekalahan itu, maka pada tahun kedua kalian bertarung lagi,” tukas Ling-ji dengan tertawa.

“Memang betul terkaan nona,” sahut Thi Kim-to dengan menyesal. “Setelah sembuh lukaku, pada tahun kedua kembali kami bertarung di tempat yang sama. Pertarungan ini terlebih seru lagi, sampai sekian ratus jurus kami bergebrak, tampaknya aku sudah mulai unggul, siapa tahu setelah lewat jurus tujuh ratusan, mendadak Han It-kau menggunakan jurus ampuh yang dulu melukaiku itu, dan aku tetap tidak mampu menangkisnya dan dilukai lagi dengan gaetannya.”

“Dan kau pasti juga penasaran dan tahun ketiga akan menantangnya pula,” tukas Ling-ji.

Thi Kim-to menghela napas, “Ya, dan untuk ketiga kalinya aku terluka lebih parah, sehingga pada tahun kelima baru kutantang dia lagi, tapi setelah terjadi pertarungan sengit, akhirnya … ai ….”

“Kau kalah lagi?” Ling-ji menegas.

Air muka Thi Kim-to tampak malu dan sedih, ia menghela napas dan berkata, “Bukan saja kalah, bahkan tetap kalah pada jurusnya yang aneh itu.”

Mau tak mau terunjuk juga rasa heran pada Ling-ji, katanya, “Dengan ilmu silat dan pengalamannya ternyata berturut-turut kau kalah tiga kali pada satu jurus yang sama, sungguh mengherankan …. Ai, setelah kekalahanmu yang pertama kali, seharusnya kau perhatikan dan mempelajari jurus serangan musuh itu dan pada pertarungan kedua kali kau harus berjaga dengan baik.”

“Tentu saja kutahu dalil ini.” Ucap Thi Kim-to dengan muram, “sebelumnya sudah kupelajari dengan baik, malahan pada waktu duel yang ketiga kali itu sengaja kuajak belasan kawan Bu-lim untuk menyaksikan. Setelah kekalahanku pada ketiga kalinya, aku lantas bersama dengan belasan kawan itu, dengan daya pikir himpunan belasan orang tetap tidak mampu mengetahui di mana letak kelemahan jurus serangan musuh, juga tidak dapat menerka di mana letak perubahan susulan jurus serangannya, sebab itulah sekali musuh melancarkan serangan ini, seketika ditentukan kalah dan menang.”

Dan bagaimana pada pertarungan yang keempat?” tanya Ling-ji.

Dengan suara berat Thi Kim-to bertutur, “Pada waktu bertarung keempat kali senantiasa kujaga diri dengan mantap, sebelumnya sudah kulatih selama tujuh tahun baru kutantang dia lagi, tapi … ai ….”

Ia mengentak kaki dan tidak melanjutkan.

“Kutahu, pada keempat kali ini kau tetap dikalahkan jurusnya yang aneh itu,” tukas Ling-ji sambil menganggut-anggut. “Dan dengan sendirinya kau ingin mengalahkan dia pada pertarungan yang kelima kalinya, tapi sampai saat ini kau belum lagi mengerti di mana letak keajaiban jurus lawan, sebab itulah kau datang minta petunjuk kepada Houya kami, tapi … tapi jurus ampuh itu kan belum pernah dilihat Houya kami.”

“Sudah lama kuraba dengan jelas permainan jurus itu, kalau perlu biarlah sekarang juga kutirukan untuk diperlihatkan kepada Houya,” kata Thi Kim-to.

“Jika benar gerak jurus itu sudah dapat kau raba dengan jelas, dan nyatanya sampai sekarang kau tetap tidak mampu mematahkannya, ini menandakan jurus itu memang sangat lihai. Rasanya aku jadi ingin melihatnya juga,” kata Ling-ji.

“Kelihaian jurus ini adalah gerak susulan yang terkandung di dalamnya dan membuat orang sukar merabanya, sebab itulah meski kutahu cara bagaimana jurus itu akan menyerang, tapi tetap tidak dapat memecahkannya,” sembari berkata Thi Kim-to lantas melolos golok emasnya dan berkata pula, “Akan kugunakan golok sebagai gaetan, mohon petunjuk Houya.”

Segera goloknya berputar terus menebas ke depan, cahaya emas berkelebat dan menyilaukan mata.

Mendadak seorang di pojok ruangan sana berseru memuji, “Ba … bagus, jurus serangan bagus!”

Tergerak hati Po-ji, ia merasa suara orang ini sudah sangat dikenalnya, seperti suara Oh Put-jiu, si paman kepala besar.

Tapi belum lagi terpikir lain, tiba-tiba bergema pula suara tertawa tajam melengking, seorang berkat, “Hm, apakah ini juga terhitung jurus serangan bagus? Hehe, biarpun anak umur tiga di rumahku juga lebih hebat daripada jurus ini.”

Suaranya melengking menusuk telinga, kedengarannya lebih buruk suaranya daripada ringkik kuda atau kuak kerbau.

Seketika Thi Kim-to berhenti main golok, teriaknya dengan gusar, “Orang she Thi justru kalah empat kali di bawah jurus serangan ini, tapi sahabat justru menganggap jurus ini sebagai permainan anak kecil, orang she Thi menjadi ingin minta petunjuk ….”

Orang bersuara ringkik kuda itu tertawa aneh, katanya, “Baik, memang hendak kuberi petunjuk padamu!”

Sesosok bayangan terus meloncat dari pojok sana. Mendadak sesosok bayangan lain ikut melayang ke atas dan menarik turun bayangan pertama.

Kedua orang sama bergerak secepat hantu, Po-ji merasa pandangannya kabur sehingga warna apa baju kedua orang itu pun tidak terlihat jelas, hanya terdengar orang yang bersuara serupa kakaktua belajar omong tadi bicara pula, “Tempat kediaman Ci-ih-hou (paduka tuan baju ungu) yang suci ini mana boleh sembarangan kau kacau, bilamana Ci-ih-hou marah, tentu urusan yang akan kau mohon bantuannya akan gagal total?”

Suara orang serupa kuda meringkik itu terbahak, “Haha, betul, betul, aku tidak berani lagi sembarang omong!”

Makin mendengar makin geli Po-ji, ia tambah ingin tahu betapa banyak bentuk orang-orang aneh ini. Tapi sejauh ini dia tetap tidak dapat melihatnya.

Dengan menahan rasa gusar Thi Kim-to berpaling, lalu dari balik pintu angin berkumandang lagi suara Ci-ih-hou yang kemalasan itu, “Jurus ini disebut Kian-kue-boh-thian-sik, berasal dari ilmu pedang zaman kuno, meski sangat lihai, tapi tidak berarti tanpa titik kelemahan …. Cu-ji, pernah kau belajar permainan golok, juga pernah belajar permainan gaetan, boleh kau beri petunjuk padanya.”

Habis bicara sebanyak ini, agaknya dia seperti kelelahan dan perlu mengaso, maka ucapannya lantas berhenti.

Lalu terdengar suara merdu menjawab di balik pintu angin mengiakan, seorang gadis jelita berambut ikal melangkah keluar dengan lemah gemulai, di antara rambutnya yang hitam pekat itu penuh berhias mutiara yang bercahaya menyilaukan.

Kejut dan juga kagum sekali Thi Kim-to demi mendengar Ci-ih-hou dapat begitu saja menyebut nama dan asal-usul jurus sakti yang sukar dimengerti itu. Tapi sekarang orang hanya menyuruh seorang gadis lemah untuk mengajarnya, betapa pun ia merasa kecewa juga, pikirnya dengan sangsi, “Pernah kuminta petunjuk berbagai tokoh-tokoh persilatan terkemuka mengenai jurus serangan yang mengalahkanku beberapa kali ini, namun sejauh ini tiada seorang pun mampu mematahkan jurus ini, memangnya seorang gadis cilik ini justru memiliki kemahiran sehebat ini?”

Melihat perubahan air muka orang, agaknya gadis bernama Cu-ji itu tahu apa yang dipikirkan orang, dengan tersenyum ia menepuk perlahan bahu Thi Kim-to dan berkata lembut, “Mari ikut padaku!”

Dan tanpa kuasa Thi Kim-to ditarik keluar. Baru sekarang dirasakan gadis yang kelihatan lemah gemulai ini justru memiliki ilmu silat yang sukar diukur.

Seterusnya tampil lagi beberapa tokoh persilatan seperti Suto Jing, Jik Tiang-lim, Toan Giok, Ji Co-ki dan Bu It-peng berlima, semuanya mempersembahkan harta pusaka yang mereka bawa. Kelima orang ini mempunyai nama tenar dalam dunia persilatan dan datang dari tempat jauh, harta benda yang mereka persembahkan juga sukar dinilai, urusan yang mereka minta dengan sendirinya juga luar biasa.

Akan tetapi setiap urusan segera dapat diselesaikan oleh Ci-ih-hou dengan hanya dua-tiga kata saja, suaranya tetap kemalas-malasan, pada hakikatnya sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap harta benda dan juga perkara yang dikemukakan padanya.

Setelah kelima tokoh itu sama mengundurkan diri, kelihatan Thi Kim-to berlari masuk lagi dengan wajah gembira, ia berlutut dan bersujud beberapa kali kepada Ci-ih-hou.

“Bagaimana, cara pemecahan jurus itu sudah kau pahami?” tanya Ling-ji dengan tertawa.

“Hanya bicara sebentar dengan nona Cu-ji tadi, rasanya lebih berfaedah daripada belajar kungfu selama 30 tahun, sungguh tidak kusangka ….”

Belum lanjut ucapan Thi Kim-to, terdengar Ci-ih-hou berucap di balik pintu angin, “Ini bukan soal sulit, jika sudah kau kuasai kepandaian itu, boleh lekas kau pergi saja.”

Nyata kata-kata sanjung puji orang saja enggan didengarnya.

Maka Thi Kim-to memberi sembah lagi dan mengiakan, lalu bergegas mengundurkan diri.

“Dan giliran siapa berikutnya?” seru Ling-ji.

“Biarkan kuda ini saja bicara lebih dulu,” terdengar seorang berkata dengan suara dingin.

Suaranya yang kaku dingin itu seketika membuat Po-ji melonjak kaget, kiranya Bok-long-kun juga sudah datang.

Segera ia pun paham duduknya perkara, “Ah, kiranya ayah Siaukongcu bukan lain adalah nakhoda kapal layar pancawarna. Tak terduga tanpa sengaja kudatang juga ke sini. Suara orang tadi jelas suara paman kepala besar. Tapi biarpun dia berada di sini, cara bagaimana aku dapat menemui dia?”

Seketika hati terasa kejut dan girang serta sedih pula.

Mendadak suara yang serupa ringkik kuda tadi membentak dengan gusar, “Hai, manusia patung, apakah kau maksudkan diriku?”

“Kau makan rumput apa tidak?” suara Bok-long-kun berkata.

Ling-ji tertawa geli, serentak suara mirip ringkik kuda meraung murka, “Kau yang makan ….”

Selama hidup ia tidak mau rugi, sekarang ia pun ingin balas memaki dan mengejek, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakannya, terpaksa ia cuma berteriak murka, “Ayo keluar!”

Sesosok bayangan ikut muncul bersama suara itu.

Sekali ini Po-ji dapat melihat jelas orangnya, terlihat perawakan orang kurus kering dan jangkung dengan jubah satin berwarna-warni, namun punggungnya bungkuk sehingga setengah badan bagian atas mendoyong ke depan, mukanya juga sangat panjang, dalam keadaan murka sehingga hidungnya berkembang kempis, bentaknya itu memang sangat mirip seekor kuda.

Teringat kepada olok-olok Bok-long-kun tadi dan menyaksikan pula bentuk orang, hampir saja Po-ji tertawa geli.

Segera Bok-long-kun menjengek, “Hm, memangnya tempat ini boleh sembarangan kau main gila di sini?”

Kedua lengan si muka kuda terpentang, ruas tulang sekujur badan berbunyi keriang-keriut, teriaknya parau, “Jika tidak segera kau keluar, biar kucengkeram dan menyeretmu keluar.”

Dengan tangan terpentang selangkah demi selangkah ia mendekat ke sana.

Diam-diam Po-ji heran, apakah orang hendak berkelahi di sini dan Ci-ih-hou tetap tinggal diam saja? Padahal dalam hati ia pun ingin menyaksikan cara bagaimana si muka kuda akan bertempur melawan Bok-long-kun alias boneka kayu.

Tiba-tiba pandangannya terasa silau, tiba-tiba Po-ji melihat sesuatu benda bulat dan bercahaya emas mengadang di depan si muka kuda. Waktu ia mengawasi lebih cermat, kiranya benda bulat itu adalah seorang pendek gemuk, memakai kopiah emas dan berjubah emas pula.

Meski sekujur badan si buntek ini serbaemas yang mewah, namun sikapnya kelihatan muram durja dan sedih selalu.

Diam-diam Po-ji merasa geli, pikirnya, “Tampaknya sepanjang masa orang ini selalu dirundung rasa duka, entah mengapa dia bisa tumbuh segemuk ini?”

Si jubah emas pendek gemuk itu lantas berkata perlahan, “Hanya soal sepele, siapa bicara lebih dulu kan cuma urusan sebentar saja, kenapa Anda terburu nafsu?”

Dengan gemas si muka kuda menjawab, “Tapi patung ini ….”

“Ai, untuk menuntut balas kan belum terlambat menunggu sepuluh tahun lagi,” kata si buntek. “Jika Anda ingin menggergaji kayu buat apa terburu-buru, betul tidak?”

Tiba-tiba suara Ci-ih-hou bergema, “Ling-ji, jika kedua orang ini ribut-ribut lagi, boleh kau seret mereka dan masukkan ke sumur!”

Si jubah emas buntek tidak marah, jawabnya dengan serius, “Kami datang dari negeri Wan raya yang jauh, tidak Houya perlakukan dengan baik, mengapa kami hendak dimasukkan sumur malah?”

“Ya, sudahlah,” sela Ling-ji dengan tertawa. “Jika benar kalian datang dari negeri asing, kado apa yang kalian bawa, silakan keluarkan, dan ada urusan apa juga silakan bicara.”

Baru sekarang Po-ji tahu persoalannya, pikirnya, “Pantas cara bicara orang ini sangat aneh, bentuknya juga lucu, kiranya mereka bukan bangsa Han, dan entah apa permintaan mereka kepada Ci-ih-hou itu?”

Dengan tenang si jubah emas mengeluarkan sepotong saputangan putih, di atas saputangan yang putih itu berlepotan titik merah serupa bekas darah.

“Apa itu?” tanya Ling-ji dengan kening bekernyit.

“Sejak dinasti Han dulu, negeri Wan raya kami terkenal dengan kuda jenis pilihan yang sukar dicari, oleh kaisar Han-bu-te sendiri kuda keluaran negeri kami pernah diberi gelar Thian-ma (kuda langit), dan titik merah pa saputangan ini adalah air keringat Thian-ma kelahiran negeri Wan raya kami, dan sekarang Kokcu (kepala negara) kami sengaja mengirim tiga pasang Thian-ma pilihan untuk dipersembahkan kepada Houya.”

Pui Po-ji banyak membaca kitab kuno, ia tahu Han-bu-te pernah mencari kuda langit negeri Wan, pernah juga raja itu mengirim panglima perangnya Li Kong membawa palsukan besar menyerbu kerajaan Wan, tapi pulang dengan mengalami kekalahan.

Namun Han-bu-te tidak menjadi kapok, sebaliknya mengirim palsukan terlebih besar dan akhirnya meski mendapat kemenangan, tapi korban jiwa dan harta benda sudah sukar dihitung jumlahnya.

Dari sini tertampak betapa berharganya kuda pusaka berkeringat merah darah, dan sekarang raja Wan justru mengirim hadiah tiga pasang kuda berkeringat merah, tentu ada sesuatu permintaannya yang lain daripada yang lain.

Dengan tertawa Ling-ji lantas berkata, “Tak tersangka sampai kepala negara Wan juga ada keperluan yang ingin minta bantuan Houya kami. Tapi di manakah ketiga pasang kuda mestika yang kau katakan? Kalau cuma kau perlihatkan keringat kudanya kan tiada gunanya.”

Si jubah emas berkata, “Bahasa Han saudara lebih lancar, silakan bicara bagiku.”

Rupanya dia kurang fasih bahasa Han, apa yang dikatakan tadi sudah cukup memeras otak, maka sekarang ia minta si muka kuda yang menjadi juru bicara.

Ling-ji menjawab dengan tertawa, “Ya, sejak tadi seharusnya kau suruh dia bicara. Nah, boleh kau bicara saja.”

Si muka kuda berkata, “Ketiga pasang Thian-ma sudah diangkut sampai di pantai dan dijaga oleh ke-18 jago pengawal kami, setiap saat dapat dibawa kemari.”

Ia menuding si jubah emas dan menyambung lagi, “Dia ini Koksu (imam negara) kedua kerajaan kami, aku sendiri Kam Sun dan menjabat sebagai Koksu ketiga, kedatangan kami sekarang adalah karena kepala negara kami sudah lama dengar ilmu pedang Houya kalian terkenal sebagai nomor satu di dunia, sebab itulah raja kami ingin minta Houya kalian menjabat Koksu pertama kami untuk mengajarkan ilmu pedang kepada para jago pengawal di negeri kami. Koksu utama merupakan kedudukan yang diagungkan dan cuma di bawah raja seorang. Sungguh suatu kedudukan yang mahaagung dan bahagia, kuyakin Houya kalian tentu ….”

Belum habis ucapannya mendadak Ci-ih-hou membentak, “Melihat bentuk dan bicaramu, kau juga orang Han, betul tidak?”

Suaranya kereng dan bengis dan tidak kemalas-malasan seperti tadi lagi.

Si muka kuda alias Kam Sun bermaksud menjawab dengan membusungkan dada, namun apa daya punggungnya tetap bungkuk, katanya, “Meski dulu aku orang Han, tapi sekarang berkat budi kebaikan Kokcu kami, kini aku sudah ….”

Mendadak Ci-ih-hou membentak, “Tak tersangka bangsa Han seperti dirimu rela menjadi pengkhianat dan diperalat orang asing dan lupa kepada kakek moyang sendiri, sungguh rendah jiwamu dan pantas dibinasakan. Kalau tidak mengingat kedatanganmu ini adalah tamu, tentu kepalamu sudah kupenggal, tapi lain kali bila kepergok olehku, hm, jangan harap jiwamu bisa selamat!”

Si muka kuda alias Kam Sun semula tampak berseri-seri, sekarang mukanya berubah pucat karena dampratan Ci-ih-hou.

Sungguh gembira dan puas Po-ji menyaksikan apa yang terjadi, hampir saja ia berkeplok memuji, pikirnya, “Ci-ih-hou ini sungguh seorang pahlawan bangsa dan berjiwa kesatria, bilamana bangsa Han kita semuanya berjiwa pahlawan seperti dia, mustahil negara takkan kuat dan berjaya. Musuh dari luar pun jangan harap akan mampu mengganggu kita.”

Dahi si jubah emas tampak penuh keringat, katanya dengan tergegap, “Tapi … tapi kuda berkeringat darah ….”

“Hm, memangnya kau kira aku ini orang macam apa?” damprat Ci-ih-hou. “Pulang dan katakan kepada raja kalian, jangankan cuma tiga pasang Thian-ma, biarpun tiga ribu pasang atau tiga laksa pasang juga jangan harap akan dapat membeli diriku.”

“Ini … ini …,” muka si jubah emas tampak pucat serupa mayat.

Sekonyong-konyong seorang berjubah putih dan berambut pirang serta bermata biru melompat keluar, gerakan tubuhnya gesit dan aneh, tampaknya seperti loncatan kelinci dan binatang liar, terdengar suara tertawanya yang ngekek, katanya, “Selamanya Ci-ih-hou tinggal di atas lautan, untuk apa kuda baginya? Permohonanmu jelas tidak terkabul, kalau barangku pasti akan diterima dan permintaanku akan dikabulkan.”

Dia juga tidak fasih bicara bahasa Han, maka cara bicaranya kaku dan kalimatnya tidak tersusun baik, kedengaran sangat lucu dan sebagian tertawa geli.

Namun kebanyakan tokoh yang hadir itu orang cerdik, mereka dapat menangkap maksud ucapannya dengan baik.

Orang bermata siwer itu mengira orang sama memuji ucapannya, ia pun tertawa gembira dan berkata pula, “Aku Cirus datang dari Persi, banyak kubawa hadiah, kiriman raja kami, dan aku … aku ….”

Advertisements

1 Comment »

  1. Hello to every body, it’s my first go to see of this weblog; this blog contains
    amazing and in fact fine material in support of
    visitors.

    Comment by Jual Marmer dan Furniture Jepara — 07/04/2015 @ 3:38 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: