Kumpulan Cerita Silat

07/01/2008

Duke of Mount Deer (05)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:46 pm

Duke of Mount Deer (05)
Oleh Jin Yong

“Coba lagi!” katanya.

Siau Po siap melemparkan dadunya kembali, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Dia tidak tahu sampai di mana kehebatan Siau Kui cu bermain dadu, tetapi kalau mendengar nada bicara Hay kongkong tadi, tampaknya si bocah cilik masih kurang mahir. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk berpura-pura, jangan sampai kedoknya terbuka. Dia melemparkan dadunya sembarangan, kali ini dia mendapat 2 angka 3, satu angka 4 dan satu lagi angka 5.

“Tidak apa-apa!” kata Hay kongkong. “Coba lagi!”

Sampai tujuh delapan kali Siau Po melemparkan dadunya namun gagal terus. Sampai lemparan ke sepuluh baru dia mendapatkan kembali empat angka 6.

“Nan, sudah ada kemajuan!” Hay kongkong senang sekali setelah memeriksa.

“Sekarang pergilah kau untuk mencoba peruntunganmu. Hari ini kau bawa lima puluh tail perak!”

Berjudi memang kegemaran Siau Po. Mendengar saja dia sudah senang, apalagi disuruh memainkannya. Tadi selagi membuka peti di kamar dia melihat ada beberapa potong uang Goan po senilai dua puluh lima tail. Dia memang sudah mengambil dua potong uang itu.

Tepat pada saat itu di luar kamar terdengar panggilan.

“Siau Kui cu! Siau Kui cu!”

“Ya!” sahut Siau Po.

“Siapa yang memanggil kau? Pergilah!” kata Hay kongkong.

Senang sekali Siau Po mendengar perintah thaykam tua itu. Baru saja dia berniat melangkah keluar, sekonyong-konyong sebuah ingatan melintas lagi di benaknya. ‘Ah… orang bisa mengenali bahwa aku bukan Siau Kui cu. Aku harus menutupi wajahku ini….’ Dia memang cerdik. Diambilnya sehelai saputangan yang kemudian ia gunakan untuk menutupi wajahnya sehingga yang terlihat hanya matanya saja.

“Kong kong, aku pergi!” katanya berpamitan kepada si orang tua. Lalu bergegas dia keluar dari kamar itu. Di luar kamar telah menunggu seorang thaykam cilik. Dia memperhatikan Siau Po dengan heran.

“Kemarin aku kalah, sehingga dihajar oleh Kongkong,” kata Siau Po memberikan alasan.

Thaykam kecil itu tertawa.

“Sekarang kau berani main lagi? Tentu kau ingin mendapat pulang modalmu, bukan!”

Siau Po menarik tangan thaykam cilik itu lalu mengajaknya menjauh dari pintu kamar.

“Hussh! Jangan berisik, nanti terdengar oleh kongkong!” kata Siau Po pura-pura takut.

“Tentu saja aku ingin modalku kembali!”

“Kalau begitu, kau memang benar-benar berani! Hayo kita ke sana!” Kedua anak itu jalan berdampingan.

“Kedua kakak beradik Un sudah datang. Biar bagaimana had ini kau harus menang!”

“Gawat kalau aku sampai kalah lagi.”

Mereka melintasi beberapa serambi dan koridor panjang. Kagum sekali Siau Po melihat tempaf itu. Dia berpikir dalam hati. ‘Sungguh hebat pemilik tempat ini. Dia sanggup membangun gedung yang luas dan demikian indah.’

Siau Po melihat tiang-tiang penglari yang terukir indah. Seumur hidupnya belum pernah dia melihat gedung seindah ini. Mereka melintasi sebuah taman kecil di mana di dalamnya ada sebuah paviliun. Setelah melewati dua buah kamar, si thaykam cilik mengetuk sebuah pintu. Pertama tiga kali, kemudian disusul dengan dua kali ketukan, terakhir tiga kali.

Sesaat kemudian pintu pun terbuka. Terdengar suara suatu benda yang bergerak di dalam mangkuk. Di situ terdapat enam orang yang dandanannya berseragam. Rupanya mereka sedang bermain dadu.

“Ada apa dengan Siau Kui cu?” tanya seseorang yang usianya kurang lebih dua puluh tahun.

“Dia kena dihajar oleh Hay kongkong karena kekalahan kemarin,” sahut si thaykam cilik yang menjemput Siau Po.

Orang itu pun tertawa. Siau Po berdiri di belakang mereka. Dia melihat ada yang memasang satu tail ada pula yang memasang lima Ci, tidak tentu jumlah taruhannya. la ikut, dia memasang lima ciam.

“Lihat Siau Kui cu!” kata seorang lainnya. “Entah berapa banyak uang yang dicurinya hari ini?”

“Kau mengatakan aku mencuri? Tidak enak didengar kata-katamu itu!” Hampir saja Siau Po mencaci maki kalau saja dia tidak ingat siapa statusnya sekarang dan di mana dia berada. Untung pula dia ingat bahwa suaranya sekarang sudah tidak sama seperti yang orang-orang itu ketahui. Sementara itu, dia memperhatikan aksen suara orang itu baik-baik dengan harapan dapat menirunya kelak.

“Eh, Lao Go, bandar lagi apes, berapa pasanganmu sekarang?” tanya seorang pada thaykam cilik yang mengajak Siau Po.

“Dua tail!” sahut Lao Gao, dia menolehkan kepalanya kepada Siau Po. “Siau Kui cu, bagaimana denganmu?”

Siau Po lantas berpikir: ‘Untuk sementara sebaiknya aku jangan menang banyak-banyak, mereka bisa curiga.’ Itulah sebabnya dia hanya memasang lima Ci. Orang lain tidak ada yang menggubrisnya. Setelah itu Siau Po berpikir kembali bahwa sebaiknya dia rela kalah dulu, nanti baru dia akan merebut kemenangan.

Perjudian pun berlangsung. Orang lainnya bertaruh semakin besar, hanya Siau Po yang tetap pada patokan semula. Akhirnya sang bandar berkata.

“Paling sedikit satu tail. Lima Ci tidak boleh ikut!”

Siau Po memang berat gengsinya, dia langsung menerima tantangan itu. Dia memasang dua tail. Baik kalah ataupun menang, sikapnya cuek saja. Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan orang lain.

“Ah, sialan. Apes benar aku hari ini!” gerutu Lao Go. Dia sudah kalah tiga puluh tail. Tampaknya dia kesal sekali.

“Pakailah uang ini untuk menebus kekalahanmu,” kata Siau Po kepada sahabat barunya. Dia menyodorkan uang senilai tiga puluh tail.

“Saudara, kau baik sekali!” kata Lao Go sambil menepuk bahu Siau Po.

Melihat keadaan itu, semua orang menjadi senang. Bahkan si bandar berkata: “Hebat, Siau Kui cu. Hari ini jiwamu besar sekali”

Permainan itu pun dilanjutkan. Ketika Siau Po sudah menang sepuluh tail, seseorang berkata: “Sudah waktunya bersantap. Besok kita sambung lagi.”

Permainan pun dihentikan. Semua lantas menukar Ciam dengan uang kontan.

Entah di mana tempat bersantap?’ tanya Siau Po dalam hati.

Sedang Lao Go kalah lagi dua puluh tail. “Saudara, besok saja kuganti uangmu itu’ katanya kepada Siau Po.

“Tidak perlu dipikirkan, urusan kecil,” sahut rekannya.

“Kau benar-benar baik sekali. Cepatlah kau pulang, sudah saatnya Hay kongkong bersantap!” kata Lao Go pula.

‘Oh, rupanya semua orang bersantap di tempat masing-masing,’ kata Siau Po dalam hatinya. la senang sekali. Dia memang berniat kembali ke kamar secepatnya. “Sampai besok!” katanya kepada Lao Go.

Mereka pun berpisah. Siau Po berniat meninggalkan tempat itu, tapi tidak tahu arah mana yang harus diambilnya untuk menuju kamar Hay kongkong.

“Wah, celaka!” pikirnya. Dia berputaran di tempat itu, tetapi ia malah kesasar. Tidak mudah menemukan kamar si thaykam tua. Akhirnya dia sampai di depan sebuah pintu model rembulan, di sebelah kiri ada sebuah kamar yang dari dalamnya terpancar bau makanan. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Mengendus makanan itu, perutnya langsung terasa lapar. Siau Po menghampiri pintu kamar dan mendorongnya sedikit. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam.

Di atas meja terdapat beberapa macam kue. Diambilnya kue itu lalu dimasukkannya ke dalam mulut. Kue itu rasanya enak sekali dan baunya harum. Dia makan lagi beberapa potong, tetapi jenisnya berlainan. Dan Siau Po sadar dia sedang mencuri. Tidak mau dia makan satu macam saja, agar tidak diketahui si empunya.

Tiba-tiba terdengar suara tindakan sepatu di luar kamar. Tampaknya ada seseorang yang sedang mendatangi. Siau Po menyambar sepotong kue kemudian menyusup ke kolong meja. Kamar itu kosong, tidak ada tempat lain yang dapat dijadikan tempat persembunyian.

Tak lama muncullah orang yang suara langkahnya terdengar itu. Siau Po melihat seorang bocah sebaya dengannya masuk ke dalam kamar. Dia mengambil sepotong kue ialu memakannya.

‘Ah, rupanya dia juga pencuri,’ pikir Siau Po dalam hati. ‘Seandainya aku berteriak, tentu dia akan terkejut dan lari ketakutan. Pada saat itu aku bisa makan kue sepuasnya,’ tapi Siau Po tidak melakukan hal itu. Sebaliknya, dia merasa menyesal mengapa tidak mengambil kue lebih banyak lalu membawanya ke taman. Kan di sana dia bisa makan dengan puas?

Tidak lama kemudian terdengar suara sesuatu yang dipukul. Dia merasa heran, cepat-cepat dia mengintai, rupanya bocah itu sedang memukuli sebuah boneka kulit. Kelakuannya aneh sekali. Sebentar dia memeluk, kemudian mendorong lalu dibantingnya. Tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas, sejenak saja dia sudah mengerti apa yang sedang dilakukan bocah itu. Ya, dia pasti sedang berlatih diri.

Siau Po menjadi tertarik, sembari tertawa dia keluar dari kolong meja.

“Boneka hanya barang mati. Mana menarik diajak berlatih. Mari aku temani kau!”

Berani sekali bocah ini. Begitu keluar dia langsung menantang!

Anak kecil itu terkejut sehingga dia terlonjak dan memperhatikan Siau Po dengan tertegun. Dia melihat wajah orang di hadapannya tertutup sehelai sapu tangan putih. Di saat lain, rasa terkejutnya sudah hilang, dia tersenyum sambil berkata:

“Baik, mari maju!”

Siau Po menyeruduk ke depan untuk mencekal tangan bocah itu. Namun lawannya segera menggeser tubuhnya ke samping, kedua tangannya digerakkan, kakinya mengait, tubuh Siau Po pun bergulingan jatuh. Terdengar bocah itu berkata:

“Ah, kau tidak mengerti ilmu gulat!”

“Siapa bilang aku tidak bisa?” teriak Siau Po yang langsung bangun kembali dan menerjang ke arah kaki lawan untuk dipeluknya. Dengan demikian bocah itu gagal menyambar punggungnya. Malah sebaliknya Siau Po yamg meluncur terus ke depan dan lalu meninju dagu bocah itu.

Anak itu terkejut sekali, tetapi dalam sekejap dia sudah pulih kembali. Dia menyerang lagi ke arah Siau Po. Kali ini mereka bergumul. Keduanya sama-sama jatuh di atas lantai. Sayangnya Siau Po kena ditindih oleh bocah itu. Dia terus memberontak dan berusaha mengadakan perlawanan. Akhirnya dia berhasil pula membalikkan tubuhnya sehingga posisinya berada di atas, namun keduanya sudah lelah sekali.

“Ha… ha… ha… ha…!” Keduanya tertawa terbahak-bahak. Pergumulan pun dihentikan. Namun rupanya bocah itu jail juga, mendadak dia menarik sapu tangan yang menutupi wajah Siau Po.

Siau Po terkejut, dia tidak sempat berkelit.

“Ah…. Rupanya kau yang mencuri makanan!” kata si bocah sambil tertawa lebar.

Siau Po memperhatikan dengan seksama. Sekarang dia dapat melihat bahwa bocah itu sangat tampan, wajahnya bersih serta menimbulkan kesan baik.

“Siapa namamu?” tanya bocah itu.

“Siau Kui cu. Kau sendiri?”

Anak itu bimbang sejenak, kemudian dia menjawab juga.

“Aku Siau Hian cu. Kau orangnya kongkong yang mana?”

‘A’ku melayani Hay kongkong….”

Siau Hian cu mengangguk-angguk. Dia menyeka keringat yang membasahi wajahnya dengan kain penutup wajah Siau Po lalu diambilnya sepotong kue untuk dimakan. Siau Po juga ikut makan.

“Kau belum belajar ilmu gulat, tapi gerakanmu cukup gesit sehingga tidak dapat ditindih lama-lama! Kalau kita bergumul lagi, akhirnya kau akan kalah!”

“Ah, belum tentu!” kata Siau Po alias Siau Kui cu palsu.

“Kau tidak percaya? Baik, mari kita coba lagi!”

Siau Po menerima tantangan itu dan mereka kembali bergumul. Benar seperti apa yang dikatakan anak itu, baru beberapa gebrakan saja Siau Po telah dirobohkan kemudian ditindihnya.

“Nah, menyerah atau tidak?” tanya Siau Hian cu.

“Tidak!” sahut Siau Po yang keras kepala.

Siau Hian cu bangun. Siau Po ingin menyerang kembali, tetapi bocah itu mencegahnya.

“Cukup dulu! Kau bukan tandinganku!”

“Tidak!” kata Siau Po penasaran. “Besok kita lanjutkan lagi!” la menunjukkan uangnya. “Besok kita bertaruh!”

Siau Hian cu tertawa.

“Baik! Besok aku akan membawa uang! Nah, sampai jumpa besok siang!”

“Baik, sampai besok! Ingat, seorang laki-laki sejati, bila sudah mengeluarkan ucapannya, kuda pun sukar mengejarnya!”

“Ya,” sahut bocah itu. “Kuda pun sukar mengejarnya!” Dia mengikuti ucapan Siau Po kemudian meninggalkan kamar itu.

Siau Kui cu alias Siau Po juga ikut keluar. Sebelumnya dia meraup beberapa potong kue kemudian memasukkannya ke dalam saku. Di tengah jalan dia mengingat kembali saat Mau Sip-pat yang memenuhi perjanjian untuk mengadu ilmu. Meskipun keadaannya sedang terluka saat itu, dia berpikir bahwa dia pun harus memenuhi janjinya. Kali ini dia berhasil kembali ke kamar Hay kongkong. Sebelumnya dia mengingat baik-baik jalannya agar besok-besok tidak lupa lagi.

Baru sampai di depan pintu, dia sudah mendengar suara batuknya Hay kongkong.

“Apakah keadaanmu sudah agak baik?” tanyanya.

“Baik, kentut busukmu! Cepat masuk!”

Siau Po masuk ke kamar. Dia melihat thaykara cilik tua itu duduk di kursi samping meja.

“Apakah kau menang hari ini”

“Menang tiga puluh tail, tapi….”

“Tapi apa?”

“Aku pinjamkan kepada Lao Go.”

“Apa gunanya kau meminjamkan uang kepada Lao Go? Dia bukan orang dari Gi Si Pong. Mengapa tidak kau pinjamkan saja kepada kedua saudara Un?”

Siau Po kebingungan. “Mereka tidak meminjam uang kepadaku.”

“Mereka tidak meminjam, tapi apakah kau tidak bisa mencari akal agar mereka meminjamnya?” bentak Hay kongkong.

“Apakah kau sudah lupa dengan pesanku?”

Siau Po tertegun.

“Kemarin aku baru membunuh orang, aku masih takut. Aku jadi lupa pada pesan Kong kong.”

“Bunuh satu jiwa adalah hal yang lumrah. Tetapi kau masih kecil sehingga dapat dimaklumi. Apalagi kau belum pernah membunuh orang sebelumnya. Sekarang ada satu hal yang akan kutanyakan, apa kau sudah lupa mengenai buku itu?”

“Aku… aku….”

“Ah! Kau pasti sudah lupa!”

“Kong kong, kepa… laku pu… sing, a… ku sampai me… lupakannya.”

“Baik, nah, kau kemarilah!” Siau Po maju ke depan beberapa langkah. “Aku akan menjelaskan sekali lagi. Kalau kau sampai lupa lagi, aku akan membunuhmu!”

“Ya… ya,” sahut Siau Po. Diam-diam dia berkata dalam hatinya. ‘Kau kira aku Siau Kui cu, kalau kau katakan sekali saja, sampai seratus tahun pun aku tidak akan lupa.’

“Begini. Kau harus mengalahkan kedua saudara Un, kemudian kau tawarkan pinjaman uang kepada mereka. Lebih banyak lebih bagus. Lalu lewat beberapa hari, kau minta mereka mengantar kau ke Gi Si Pong. Karena mereka ada hutang denganmu, tak mungkin mereka menolak. Seumpamanya mereka menolak, kau ancam akan mengadukannya kepada Ouw kongkong, congkoan dari Gi Si Pong. Kalau mereka tidak dapat membayar, otomatis mereka akan mengajak kau ke Gi Si Pong. Asal kebetulan Sri Baginda sedang tidak ada di dalam kamar tulisnya itu….”

“Sri Baginda Raja?” tanya Siau Po mengira telinganya salah dengar.

“Apa katamu?”

“Oh, tidak,” sahut Siau Po cepat.

“Mereka tentu akan menanyakan untuk apa kau ke Gi Si Pong. Kau katakan saja bahwa Sri Baginda adalah manusia agung, kau ingin melihatnya, dan kau berharap dapat bekerja di sana. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kedua saudara Un tidak akan mengijinkan kau melihat raja, Apabila mereka mengajakmu, tentu dipilihnya waktu ketika Sri Baginda sedang tidak ada di kamarnya. Kau harus menggunakan kesempatan baik itu untuk mencuri sebuah kitab.”

Mendengar disebutnya Sri Baginda, perasaan Siau Po menjadi heran. Dia tahu Sri Baginda itu raja, tapi dia tidak tahu apa artinya Gi Si Pong.

“Oh, kalau begitu ini pasti istana kerajaan. Kalau bukan istana, tentu tidak seindah dan semegah ini. Itulah sebabnya orang-orang di sini semuanya terdiri dari para thaykam yang biasa melayani di istana raja,” pikirnya dalam hati.

Tampang dan suara para thaykam biasanya berbeda dengan orang umum, sayangnya Siau Po kurang pengalaman sehingga tidak mengetahuinya. Dia pernah mendengar tentang raja, putera mahkota, pangeran ataupun puteri. Juga tentang thaykam dan para dayang, tetapi semua belum pernah dilihatnya dengan mata kepala sendiri. la telah bergaul dengan Hay kongkong, Lao Go, serta kedua saudara Un, tetapi dia baru menyadari bahwa mereka adalah para thaykam. Sekarang, mendengar kata-kata Hay kongkong, dia baru mengerti.

‘Celaka. Kalau begini, bukankah aku juga menjadi thaykam cilik?’ pikirnya dalam hati.

“Eh, kau mengerti apa tidak?” Hay kongkong segera menegur melihat Siau Po tidak menyahut dari tadi.

“Ya, ya… aku mengerti,” sahut Siau Po. “Aku harus ke kamar tulisnya raja!”

“Untuk apa kau ke kamar tulisnya raja?” uji Hay kongkong. “Apakah Untuk bermain-main?”

“Untuk mencuri sebuah kitab….”

“Kitab apa?” tanya Hay kongkong mendesak. “Aku… aku… entah kitab apa? aku… lupa….” “Akan kuulangi sekali lagi. Ingat baik-baik! Kitab itu kitab agama Budha yang judulnya Si Cap Ji cingkeng, jumlahnya beberapa jilid. Kitab itu sudah tua sekali. Mengerti? Nah, apa nama kitab itu?”

“Aku ingat! Namanya kitab Si Cap Ji cing-keng!” seru Siau Po girang.

Hay kongkong merasa heran mengapa nada suara Siau Po begitu gembira. “Kenapa kau begitu senang?” “Karena kongkong mengingatkan sekali lagi, sehingga aku tidak akan lupa lagi!” sahut Siau Po cepat.

Padahal bukan itu alasan mengapa hatinya merasa senang. Dia tidak pernah sekolah,jadi dia tidak bisa membaca, yang dikenalnya hanya huruf angka san dan kitab itu kebetulan berjudul Si Cap Ji cing-keng (Empat puluh dua kitab Buddha) Dengan demikian tidak ada kesulitan baginya untuk menemukan kitab itu.

“Mencuri kitab dalam istana Gi Si Pong harus cekatan. Kalau kau sampai kepergok, biarpun nyawamu ada seratus, kau pasti mati juga,” kata Hay kongkong mengingatkan.

“Aku mengerti. Asal kepergok, matilah aku!” “Kalau kau sudah berhasil, ajaklah kedua saudara Un kemari. Aku akan menghadiahkan mereka semacam barang permainan yang berharga sekali.”

“Baik, kongkong. Tapi bolehkah aku tahu barang mainan apakah itu?”

“Sampai waktunya kau akan tahu sendiri,” sahut thaykam tua itu. “Apakah dadumu sudah ada?”

“Ada!”

“Kalau begitu, jangan bermalas-malasan. Mulailah berlatih!”

Siau Po mengiakan dan kemudian masuk ke dalam. Di atas meja, hidangan masih utuh.

“Kong kong belum makan, nanti aku sendoki nasinya.”

“Tidak usah, aku belum lapar!” sahut orang tua itu. “Kau makanlah dulu!”

Siau Po mengiakan. Tanpa sungkan-sungkan lagi dia makan dengan lahap. Meskipun makanan itu sudah agak dingin. Siau Po tetap merasakan kelezatannya yang luar biasa. Sembari menikmati santapannya, dia berpikir: ‘Kalau ini istana, sudah dapat dipastikan kalau Lao Go, kedua saudara Un dan yang lainnya adalah para thaykam, entah bagaimana tampang Raja dan permaisurinya? Senang sekali kalau bisa melihat mereka! Aih… entah bagaimana nasib Mau toako? Berhasilkah dia meloloskan diri? Tetapi ketika berjudi, tidak ada seorang pun yang membicarakan tentangnya. Mungkin dia memang sudah berhasil membebaskan diri.’

Selesai makan, Siau Po mulai berlatih. Dia khawatir Hay kongkong curiga kepadanya kalau dia diam saja. Suara dadunya di dalam mangkuk berisik sekali. Padahal sejak dua tahun yang lalu, Siau Po sudah lihay bermain dadu, jadi dia tidak perlu berlatih lagi. Dia melakukannya hanya karena tidak ingin Hay kongkong curiga. Karena itu, tidak lama berlatih, rasa kantuk pun menyerangnya, maklumlah sepanjang malam dia tidak tidur. Sesaat kemudian dia sudah pulas.

Di waktu magrib, Siau Po terbangun. Dia melihat seorang thaykam cilik mengantarkan makanan. Tampangnya kebodoh-bodohan. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah menyajikan makanan, dia langsung pergi. Tentunya dengan membawa piring mangkuk kotor siangnya.

Siau Po melayani Hay kongkong bersantap, terus merapikan tempat tidurnya agar orang tua itu dapat beristirahat. Dia sendiri berbaring di tempat tidur. Pikirannya melayang-layang.

“Besok aku akan melawan Siau Hian cu. Biar bagaimana pun aku harus menang!” Dia memejamkan matanya sambil membayangkan cara Mau Sip-pat menghadapi lawannya di bukit Tek Seng San. ‘Lebih baik aku tiru saja gerakan mereka. Sayang sekali ketika itu Mau toako ingin menerima aku sebagai murid dan mengajarkan aku ilmu silat, tapi aku mengabaikannya. Kalau besok aku kena ditindih lagi oleh Siau Hian cu, sungguh memalukan. Mengapa aku tidak minta si kura-kura tua ini saja mengajarkan ilmu silat kepadaku, bukankah kepandaiannya tinggi sekali?’

Siau Po segera mengambil keputusan.

“Kong kong,” panggil Siau Po. “Besok aku harus ke Gi Si Pong untuk mencuri sebuah kitab, tapi aku mempunyai sedikit kesulitan….”

“Apa itu?” tanya Hay kongkong.

“Begini, kongkong. Tadi sepulang bermain dadu, aku dicegat oleh seorang thaykam cilik. Dia memaksa meminta uang meskipun aku tidak sudi memberikannya. Akhirnya kami berkelahi. Dia bilang, asal aku bisa mengalahkannya, dia akan mengijinkan aku lewat. Itulah sebabnya aku sampai tidak sempat makan karena melayani dia berkelahi….”

“Kau kalah, bukan?”

“Tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar. Dia menantang aku berkelahi setiap hari. Ketika aku kalah, dia membiarkan aku lewat….”

“Siapa nama bocah itu? Dia orang dari mana?”

“Namanya Siau Hian cu, entah dari kamar mana.”

“Mungkin karena kau menang judi sehingga lagakmu menjadi sombong dan orang-orang tidak menyukaimu….”

“Tapi aku tidak puas, pokoknya besok aku akan melawannya lagi, entah menang atau kalah….”

“Hm… rupanya kau minta aku mengajarkan ilmu silat kepadamu. Kalau aku mengatakan tidak, percuma biar kau merongrong sepanjang hari!”

“Dasar kura-kura tua, benar-benar tidak dapat diperdaya!’ gerutu Siau Po dalam hatinya. Tetapi di luar dia hanya berkata: “Siau Hian cu tidak mengerti ilmu silat, untuk mengalahkannya aku pun tidak perlu belajar ilmu silat. Siapa yang ingin diajari olehmu? Tadi aku berhasil menindihnya. Justru karena tenaganya kuat dan tubuhnya besar, dia berhasil membalikkan aku pula. Tapi besok aku akan menindihnya kembali. Aku yakin seperti seekor kura-kura, dia tidak bisa membalik lagi!”

Sebenarnya Siau Po sudah mencoba mengendalikan kata-katanya agar jangan berbicara kasar, tetapi dia kelepasan juga.

“Tidak sulit apabila kau ingin membuat dia tidak bisa membalik diri,” kata Hay kongkong.

“Aku juga berpikir demikian. Besok aku akan menekan bahunya sekuat tenaga!”

“Percuma kalau kau menekan bahunya. Untuk membalikkan tubuh, tenaga pinggang harus kuat. Karena itu kau harus menindih pinggangnya dengan lututmu. Mari aku ajarkan!”

Siau Po senang sekali. la melompat turun dari pembaringannya dan menghampiri Hay kongkong. Orang tua itu langsung menyambar pinggang Siau Po kemudian menekannya sehingga bocah itu merasa lemas.

“Ini dia jalan darahnya, ingat baik-baik!”

“Baik, besok akan kucoba. Entah berhasil atau tidak?”

“Berhasil atau tidak? Harus berhasil!” Hay kongkong menekan sedikit sisi leher Siau Po, sehingga bocah itu menjerit kesakitan. Dadanya terasa sesak. “Kalau kau menekan dia dua bagian itu, dia pasti akan lemas dan tidak dapat berkelahi lagi!”

Siau Po semakin senang.

“Bagus! Besok aku akan melawannya lagi dan pasti aku yang menang!” Dia kembali ke pembaringannya dan tidur pulas.

Keesokan paginya, Lao Go datang menjemput Siau Po untuk diajak berjudi. Hari itu bandarnya ialah kedua saudara Un, yakni Yu To dan Yu Hong.

Siau Po menghadapinya dengan cara licik. Dalam sekejapan saja dia sudah menang empat puluh tail. Setelah bermain agak lama, habislah uang kedua saudara Un yang menjadi bandar itu. Mereka kalah sebanyak seratus tail.

“Ini, pakai saja uangku!” kata Siau Po menawarkan. Mereka meminjam lima puluh tail darinya, namun akhirnya ludes juga.

Siau Po ingat janjinya dengan Siau Hian cu. Permainan pun dihentikan. Bergegas dia menuju kamar yang kemarin. Di atas meja kembali tersedia barang makanan. Tanpa berpikir panjang lagi Siau Po langsung meraihnya dan makan sampai kenyang. Ketika mendengar suara langkah kaki, cepat-cepat dia bersembunyi di bawah kolong meja untuk mengintai. Siau Po khawatir yang datang bukan Siau Hian cu.

“Siau Kui cu! Siau Kui cu!” Terdengar suara panggilan dari luar.

Siau Po mengenali suara itu, segera ia keluar dari kolong meja dan menghampiri orang yang memanggilnya. Bibirnya langsung tersenyum.

“Kita sudah berjanji kemarin, sebelum bertemu, aku pasti tidak akan pergi,” katanya.

Ketika sudah berhadapan, Siau Po dapat melihat pakaian Siau, Hian cu mentereng sekali. Siau Po merasa kagum. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

“Rupanya dia thaykam kesayangan Raja. Biar sebentar nanti aku sengaja merobek pakaiannya agar hatinya kecewa!”

Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po langsung mulai menyerang.

“Bagus!” kata Siau Hian cu yang menyambut serangannya.

Kedua tangan mereka pun saling mencekal. Ketika kaki Siau Hian cu maju ke depan mengait, robohlah tubuh lawannya, tapi Siau Po sempat menarik tubuh Siau Hian cu sehingga keduanya jatuh bersama-sama. Dengan gesit, Siau Po membalikkan tubuhnya menindih tubuh lawan. Dia berniat menotok tubuh lawannya menurut ajaran Hay kongkong. Sayangnya dia belum mengerti ilmu totokan, terlalu lambat baginya untuk mencari jalan darah mana yang dimaksudkan, sehingga dia kena didahului oleh Siau Hian cu yang dengan tangkas membalikkan tubuhnya. Sekejap mata mereka pun terpisah.

“Eh, kau pun mengerti ilmu Hui in-jiu (Tipu awan terbang)?” tanya Siau Hian cu heran.

Sebetulnya Siau Po sendiri tidak tahu apa nama tipu gerakan itu, tetapi otaknya cerdas sekali, dia langsung berkata.

“Hui In-jiu masih belum seberapa! Aku masih mengerti banyak tipu daya lainnya!”

Siau Hian cu tertawa.

“Tidak mungkin. Mari kita coba lagi!”

Siau Po tidak menolak. Kembali mereka berkelahi. Kali Siau Hian cu juga menggunakan tipu daya sehingga Siau Po roboh dan kena ditindihnya.

“Nah, menyerah tidak?” tanyanya.

“Tidak!” sahut Siau Po sambil meronta dengan penasaran. Tetapi tiba-tiba dia terdiam, rupanya dia telah ditotok terlebih dahulu oleh Siau Hian cu sehingga tenaganya lemas.

“Baik, kau menyerah kali ini!” katanya kemudian. Dia tahu yang digunakan oleh Siau Hian cu adalah totokan yang diajarkan Hay kongkong, tetapi dia sendiri tidak tahu cara memainkannya.

Siau Hian cu tertawa. Dia bangkit berdiri. Tiba-tiba kakinya dikait oleh Siau Po sehingga terjungkal jatuh dan terus dihantam sekali sehingga tidak dapat melakukan pembalasan.

“Nah, menyerah tidak?” tanya Siau Po.

“Hm!” Siau Hian cu mendengus dingin. Kedua tangannya langsung bergerak. Siau Po terkejut setengah mati. Dadanya terhajar. Dia merasa kesakitan sehingga menjerit kemudian roboh.

Dengan demikian mereka sudah saling merobohkan. Tapi seperti sebelumnya, Siau Po terpaksa mengakui keunggulan lawan. Ketika Siau Hian cu bangkit kembali, dia merasa tubuhnya sudah letih sekali. Demikian pula Siau Po, dia sampai terhuyung-huyung.

“Sampai besok. Kita akan melanjutkan kembali. Biar bagaimana pun kau harus ditaklukkan!”

Siau Hian cu tertawa.

“Biar sepuluh atau seratus kali, kau tetap kalah olehku. Kalau kau memang berani, besok kau datang lagi!”

“Asal kau juga mempunyai nyali! Janji sampai mati!” sahut Siau Po.

“Janji sampai mati!” Siau Hian cu mengikuti kata-katanya.

Mereka pun berpisah. Sampai di kamarnya, Siau Po langsung berkata kepada si thaykam tua.

“Kong kong, ilmu totokmu payah. Nyatanya tidak berhasil!”

“Dasar kau yang tidak becus! Pasti hari ini kau kalah lagi!” sahut Hay kongkong.

“Kalau aku pakai caraku sendiri, meskipun belum tentu menang, tapi mungkin tidak akan menderita kekalahan juga. Justru karena memakai cara yang kau ajarkan, aku jadi kalah. Ilmu itu terlalu sederhana, dia pun bisa!”

“Oh? Dia juga mengerti ilmu totokan? Coba kau tiru kasih aku lihat!”

“Matamu kan buta, bagaimana bisa melihat?’ pikir Siau Po dalam hatinya. Tapi dia menyerang orang tua itu dengan jurus yang digunakan Siau Hian cu. “Nah, begini caranya dia menyerang aku!”

“Akh! Itu tipu jurus I Te-tui (Menyikut ketiak).”

“Ada lagi…!” kata Siau Po sambil menirukan gerak lainnya.

“Itu tipu jurus Hui In-jiu!”

“Dan ini!” Sekali lagi Siau Po memberikan contoh.

“Itu tipu jurus To-ki Bwe (Merobohkan pohon Bwe)!”

‘Rupanya semua jurus itu ada namanya,” pikir Siau Po dalam hati.

“Kau tentu dikalahkan dengan cara seperti ini,” kata Hay kongkong sambil melakukan gerakan.

“Ya,” sahut Siau Po mengakui.

Hay kongkong menarik nafas panjang.

“Itulah jalan darah Ci Hiat-kong. Kalau begitu, guru bocah itu pasti lihay sekali!”

“Masa bodoh! Pokoknya besok aku harus mengalahkannya!” kata Siau Po ngotot.

“Bocah itu menggunakan ilmu partai Bu Tong pai.” Hay kongkong seperti menggumam seorang diri. “Siapa sangka di dalam istana ini, ada jago yang demikian lihay. Apa maksudnya? Sulit menebaknya…. Eh, berapa kira-kira usia Siau Hian cu itu?”

“Mungkin lebih tua sekitar dua tahun dariku. Kurang lebih lima enam belas tahun, tapi tubuhnya lebih tinggi….”

“Berapa lama kau berkelahi dengannya?”

“Kira-kira satu jam….”

“Jangan mengoceh sembarangan! Berapa lama sebenarnya?”

“Tidak ada satu jam, mungkin setengahnya….”

“Kalau aku bertanya, jangan kau jawab asal-asalan saja. Kau harus mengatakan yang sebenarnya. Dia belajar silat, kau tidak. Kalah pun tidak perlu malu. Apalagi usianya dan tubuhnya lebih besar dari kau. Tidak apa meskipun kau kalah seratus kali, yang penting akhirnya kau bisa menang! Dengan demikian lawan akan menyerah dan mengakui kau sebagai seorang enghiong!”

“Benar! Dulu Han Kho cou telah melabrak Cou Pa Ong sehingga Raja Cou itu menggantung diri di sungai Ouw Kang,…”

“Apa? Menggantung diri di sungai? Bukan, membunuh diri!”

“Menggantung diri atau membunuh diri di sungai Ouw Kang sama saja! Pokoknya dia kalah dan membunuh diri sendiri!”

“Baiklah, sekarang aku tanya lagi. Sebenarnya berapa kali kau kalah?”

“Paling-paling cuma dua atau iiga kali!”

“Pasti empat kali.”

“Yang benar-benar kalah cuma dua kali. Yang dua kali aku dikelabui olehnya, tidak masuk hitungan!”

Hay kongkong tersenyum.

“Anak ini keras kepala tapi jujur,” pikirnya dalam hati. “Otaknya juga cerdik sekali,” kemudian dia berkata, “Kau tidak mengerti sekolah ilmu silat, Siau Hian cu pasti akan mengganggumu terus sampai kau benar-benar takluk! Tapi aku percaya dia juga baru belajar. Kau jangan takut, nanti aku ajarkan kau ilmu Tay kim na-hoat. Asal kau mengingatnya baik-baik, besok kau pasti dapat melawannya!”

Siau Po kegirangan,

“Ya, aku akan belajar sungguh-sungguh. Akan kujatuhkan dia!”

“Masih belum tentu, Nak. Tergantung dari latihanmu. Ilmu itu terdiri dari delapan belas jurus. Dan setiap jurusnya ada tujuh delapan gerak perubahan. Tidak mungkin bisa kau pelajari dalam waktu satu hari. Sekarang kau perhatikan baik-baik, begini caranya!”

Hay kongkong berdiri. Sebelah kakinya diangkat ke atas sedikit untuk memasang kuda-kuda. Kemudian kedua tangannya mulai bergerak perlahan-lahan.

“Kau perhatikan, ingat baik-baik kemudian kau ikuti. Setelah kau bisa menjalankannya dengan baik, nanti aku beberkan setiap perubahannya.”

Siau Po menurut, dia langsung bersilat. Otaknya memang cerdas sekali, ingatannya kuat. Dia dapat menirukan gerakan orang tua itu. Setelah menjalankan tujuh delapan kali, dia langsung berteriak.

“Sekarang aku bisa!”

“Mari kita coba!” kata Hay kongkong yang langsung duduk di kursi. “Kau boleh mulai menyerang!”

Siau Po menurut. Baru tangannya bergerak, tahu-tahu bahunya telah terpegang.

“Kau belum bisa!” kata Hay kongkong. “Ayo latihan lagi!”

Siau Po tertegun, tapi dia mengerti. la meneruskan latihannya, tapi ketika dia mencobanya untuk kedua kali, kembali dia gagal.

“huh! Bocah tolol! Kau benar-benar kutu kecil yang bebal!”

‘Dasar kura-kura tua!’ maki Siau Po dalam hati, namun dia terus berlatih. Pikirannya dilanda kebingungan.

“Walaupun kau berlatih tiga tahun lagi, tetap saja kau tidak dapat menghindarkan diri dari seranganku. Seharusnya ketika aku menyambar, kau langsung menyambuti dengan menghajar tanganku. Sebab seranganku ini tidak dapat ditangkis. Itu namanya diserang namun menyerang!”

Senang hati Siau Po memperoleh keterangan dari si orang tua.

“Begitu rupanya, nah sekarang aku akan memulai!” Dia lantas menyerang. Dia disambar, tetapi tahu-tahu telinganya kena ditampar!

Dia menjadi terkejut dan panas hatinya dan bermaksud membalas menampar telinga si orang tua, tapi dia gagal. Tangannya malah kena dicengkeram kemudian disentakkan sehingga tubuhnya terpelanting.

Hay kongkong tertawa terbahak-bahak.

“Dasar kutu kecil bebal, otak lembu. Nah, sekarang kau ingat baik-baik!”

Siau Po terlempar ke sudut tembok dan jatuh terbanting. Hampir saja dia semaput. Hatinya semakin panas. Hampir saja dia mencaci. Untung saja dia masih bisa mengendalikan mulutnya, malah diam-diam dia berpikir. ‘Betul. Tipu gerakan ini bagus sekali. Aku akan mencobanya besok!’ Dia langsung merayap bangun dan terus latihan lagi.

Bocah ini memang keras kepala. Dia terus berlatih, berkali-kali dia gagal, namun dia terus mencoba. Hatinya merasa penasaran, bagaimana mungkin seorang yang sudah buta masih begitu lihay?

“Kong kong, bagaimana sebenarnya ini? Mengapa aku tidak menghindar dari seranganmu?”

Hay kongkong tersenyum.

“Beberapa kali aku menyerangmu dengan perlahan. Kalau aku mau, kapan saja aku bisa mencelakaimu. Biar pun belajar sepuluh tahun lagi, tetap saja kau tidak bisa menghindarkan diri dari seranganku. Sekarang kita kembalikan saja pada urusanmu sendiri!”

Siau Po menurut. Dalam hatinya dia ingin sekali mengalahkan Siau Hian cu, karenanya dia lalu berlatih sungguh-sungguh. Dia berlatih dari siang sampai sore, Hay kongkong juga melayaninya.

Malam itu Siau Po tidur dengan menahan rasa nyeri bekas pukulan dan jatuh. Tapi dia tidak menghiraukannya, sebab semua itu toh tidak membahayakan nyawanya.

Besok paginya, kembali dia pergi berjudi. Siang harinya dia mencari Siau Hian cu, yang dia temukan dengan pakaian baru. Hatinya sengit sekali. Lupa ia akan ajaran Hay kongkong, tanpa berpikir panjang dia menyerang bocah itu.

Sekali renggut dia berhasil mengoyak pakaian Siau Hian cu, tapi bocah itu tidak memperdulikannya. Tinjunya menghajar ke pinggang Siau Po sehingga thaykam gadungan itu menjerit-jerit kesakitan. Tangan Siau Hian cu juga menotok paha kirinya sehingga di lain saat dia telah ditunggangi seperti seekor kuda.

“Ya, aku menyerah!”

Siau Hian cu bangkit, memberi kesempatan kepada lawannya agar dapat berdiri. Siau Po memperhatikannya lekat-lekat. Dia sudah bersiap.

“Majulah!” tantangnya.

Siau Hian cu maju, tapi kali ini dia gagal. Sebab satu jurus dari Toa Kim na-hoat membuatnya menjerit-jerit kemudian terpaksa mengaku kalah.

Bukan kepalang girangnya hati Siau Po. Ini merupakan kemenangannya yang pertama. Dia menjadi lupa daratan dan sombong. Dan ketika mereka bergebrak kembali. Dia jadi kena dirobohkan.

‘Celaka!’ pikirnya dalam hati. Dia pun meningkatkan kewaspadaan dan berkelahi dengan penuh perhatian. Pada babak keempat, mereka seri. Mereka sudah bergumul cukup lama sehingga keduanya sama-sama merasa letih. Permainan pun dihentikan.

“Hari ini kau maju banyak sekali!” kata Siau Hian cu sambil tertawa. “Pertempuran ini sangat menarik hati. Siapakah yang mengajari kau?”

“Inilah kepandaianku sendiri,” sahut Siau Po berbohong. “Selama dua hari ini aku memang sengaja menyembunyikannya. Besok-besok masih banyak kejutan yang akan kuperlihatkan kepadamu. Kau man coba atau tidak?”

“Tentu aku suka mencobanya!” kata Siau Hian cu. “Awas, jangan sampai kau berkaok-kaok mengaku kalah dan takluk kepadaku!”

“Hal itu tidak akan terjadi. Besok kaulah yang akan mengaku kalah!”

Sampai di situ keduanya berpisah. Siau Po kembali ke kamaraya. Pekerjaannya sekarang rutin sekali, bermain judi dan melawan Siau Hian cu.

Tanpa terasa dua bulan sudah dia menetap di istana itu. Dia mendapat berbagai pengalaman baru dan pengetahuannya pun semakin bertambah. Sekarang dia tahu bahwa ilmu silat Hay kongkong berasal dari Siau lim pai. Sedangkan Siau Hian cu dari Bu Tong pai.

Sementara itu, hutang kedua saudara Un semakin bertumpuk. Siau Po sengaja menawarkan jasanya kepada mereka. Rasanya kesempatannya untuk masuk ke kamar tulis raja guna mencuri kitab yang dimaksudkan Hay kongkong tidak lama lagi akan datang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: