Kumpulan Cerita Silat

06/01/2008

Perguruan Sejati (04)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 1:46 pm

Perguruan Sejati (04)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Pengawal itu menjalankan perintahnya. Tanpa bersuara, sedangkan In Tiong Giok mengikuti masuk kekamar, lalu ia berkata pada Wan Jie: “Sejak kecil Kongcu sering sakit perut, asal sudah berkeringat dan istirahat sebentar akan baik lagi, Kounio tak perlu kuatir!”

“Ah, semua salahku juga,” kata Wan Jie, jika tidak gara-gara siang kecebur didanau mungkin ia tidak akan sakit!”

“Sudah larut malam, Kounio mencapaikan hati datang kesini mengantar Kongcu, mari duduk dulu, kusediakan minuman hangat!”

“Tak usah kami segera kembali!” kata Wan Jie, ‘jagalah baik-baik Kongcumu, jika perlu kupanggilkan tabib!”

“Terima kasih atas pertolongan nona, ini penyakit biasa, tak lama lagi ia akan baik jika sudah berkeringat!”

Mereka berlalu, tanpi Wan Jie membalik badan dan memanggil “In Hok” Kutahu mungkin Kongcumu mungkin masih gusar padaku, maka tidak kuganggu lama-lama disini. Jika ia sudah baik, nasehatkan jangan mengambil dihati apa yang kukatakan hari ini…ah, tidak kusangka ia begitu bodoh!”

“Jangan kuatir nanti kuberi nasehat!”

“Barusan Pangcu sudah memberikannya obat!” kata Wan Jie, soal menterjemahkan buku tak usah tergesa-gesa, yang perlu kesehatannya terjaga baik. Untuk ini besok kusuruh Siau Hong datang menjaganya.

“Tak usah, dengan adanya aku sudah cukup!”

“Jangan lupa pesanku barusan, besok kudatang lagi menjenguknya!” Agaknya ia berat meninggalkan si pemuda, matanya masih terus memandang Tiong Giok yang meringkel dan merintih terus dipembaringan.

Begitu kereta pergi dan Tiong Giok masuk kedalam, segala penyakitnya Cu Litpun menjadi sembuh mendadak. Ia duduk dipembaringan sambil membengong.

“Locianpwee kenapa tiba-tiba berlagak sakit? Kukira rahasia ketahuan dan ketakutan setengah mati!”

“Ya hampir-hampir ketahuan, untung aku berlagak sakit, dan berhasil mengelabui mereka.”

“Kenapa bisa terjadi begitu?”

Cu Lit mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan menyerahkan pada kawannya. Surat itu bertulisan sebagai berikut:

Siang terkenang malam terbayang.
Makan tak enak tidur tak nyenyak.
Pikiran selalu tergoda.
Ingin hati ke Villa Tenang.

“Locianpwee, tentu Wan Jie yang menulis sajak ini bukan?”

“Sudah tentu dia, apa itu irama cinta? Aku tak mengerti sedikit juga, gara-gara dia urusan malam ini berantakan tak keruan!”

“Ada sangkutan apa sajak ini dengan urusan malam ini?”

“Malam ini?”

“Berjalan dengan lancar, kata Cu lit, Pangcu itu setelah menyerahkan helaian kertas yang harus diterjemahkan lantas berlalu. Kesempatan ini kugunakan dengan cepat untuk mengganti dengan helaian kertas yang sudah disiapkan. Apa celaka kekasihmu tiba-tiba datang membrrikan surat ini kepadaku dan berkata manis: Apakah engkau sudah memikirkan perkataanku tadi siang!”

“Aku bingung, apa maksud surat ini, apa maksud omongannya tidak mengerti sama sekali, maka itu dengan sejujurnya kujawab tidak mengeerti.

Akh celaka banyak perkataan lain kenapa dijawab tidak mengerti.

“Ya akupun merasa heran setelah mendengar jawabanku, gadis itu mengambang air matanya. Tak lain jawabanmu selalu tak mengerti: “Kutahu engkau pura-pura bodoh, dan memainkan api asmara untuk menipu diriku dan memperkacau!”

“Ini sih membuatku penasaran sja!” kata Tiong Giok.

“akupun berkata begitu padanya, tapi ia tak percaya. Sampaipun akan mengerti padanya, sia-sia saja aku mencapaikan hati, kembalikan surat itu, katanya dengan marah-marah.”

“Mati-matian tidak kuberikan, sehingga terjadi pergumulan untuk memperebutkan surat ini akhirnya ia berhasil juga mengambil dari dalam sakuku, tapi bukan surat ini melainkan surat untuk menukar itu. Ia rupanya sedang sengit tanpa banyakbicara disobek-sobeknya surat itu lalu dikantongi. Dalam gugupku aku pura-pura sakit perut!”

“Asal ia mau menyambung-nyambung lagi sobekan kertas itu, segala belang kita akan kelihatan, kata In Tiong Giok. Sudah kukiar jalan ini takkan berhasil, nyatanya benar gagal!”

“Jangan patah semangat, dari soal yang burukpun bisa menadtangkan keuntungan!”

“Aneh dimana ada keuntungan kalau sudah buruk?”

Cu Lit tidak banyak bicara ia hanya mengubah wajahnya menjadi “In Hok” dan Tiong Giok diwajah aslinya. Setelah itu tanpa banyak komentar ia mendorong jendela dan mencelat keluar. In Ting Giok tidak sempat bertanya mau kemana orang tua itu, ia hanya bisa mengusap dada dengan mendongkol.

Lebih setengah jam lamanya Cian Bin Sin Kay telah kembali lagi membawa bungkusan. Kelas bersiap, mari kita kabur.

Cian Bin Sin Kay membuka bungkusan, disini terdapat baju seragam kuning berbaju emas.

“Ah bukankah ini pakaian Lie Tongleng?” Tanya Tiong Giok.

“Siapa bilang bukan?” jawab Cu Lit dan terus menjembreng baju itu, tiba-tiba terdengar bunyi kelenting, sebuah tanda pengenal dari Pok Thian Pang yang mengkilap jatuh kelantai.

“Sampai tanda pengenalpun didapat, dengan cara apa Lo Cianpwee mendapatkannya?”

Cu Lit menepuk-nepuk dada, “Bukannya sombong segala manusia disini sedikitpun tidak menyulitkan diriku! Engkau tahu hanya sebatang Bie Hun Hio (dupa pemabuk sukma) cukup membuat Lie Tongleng menyerahkan semua brang-barangnya kepadaku!”

Cu Lit segera mengubah wajahnya menjadi Lie Tongleng, dengan seragam kuning yang sudah dipakai, siapapun sukar membedakannya, tak cuma-cuma ia memperoleh gelar Cian Bin Sin Kay. Eh ingat bila terjadi apa-apa jangan bersuara sepatahpun, semuanya serahkan padaku!”

Tiong Giok mengangguk, mereka tertawa dan mematikan lampu, diluar tahu siapapun mereka meninggalkan Villa Tenang dengan tenang. Tapi diluar dugaan mereka seorang bertopeng hitam yang berdiam diatas sebatang pohon sejak tadi mengawasi gerak-gerik mereka.

Keadaan malam sangat dingin dan penuh kabut sungguhpun demikian dua pengawal pantai yang bertugas masih mundar-mandir, dengan rajinnya. “Biasanya kalau malam berkabut, besok siang pasti cuaca cerah,” kata salah seorang pengawal.

“Ah cuaca ini buruk sekali, malam dingin sekali, siang panasnya gila-gilaan, dan tugas malam ini hanya orang-orang sial yang melakukan! Sedangkan atasan enak-enakan tidur!”

Tiba-tiba terdengar derapan sepatu, kedua pengawal itu menoleh kearah suara. Remang-remang ia melihat dua bayangan mendatangi.

“Hei, hati-hati bicara, lihat Lie Tongleng datang memeriksa!” kata pengawal yang bicara duluan. “lekas banguni teman-teman.”

Dengan cepat pengawal yang satunya berlarian dan memanggil temannya: “Hei lekas! Lekas! Lie Tongleng datang memeriksa, sialan lekas bangun!”

Suara ribut terdengar digardu jaga, tujuh delapan pengawal terbangun dari mimpinya, cepat-cepat menyoren pedang dan merapikan baju dengan kagetnya. Waktu mereka “beres” dan keluar gardu, “Lie Tongleng telah datang. Wajahnya ditekuk demikian masam, dengan sinar matanya tajam pengawal-pengawal dipelototi. “Hm” dengusnya tanpa membuka mulut. Pengawal-pengawal itu ketakutan tak seorangpun berani mengangkat kepala. Salah seorang pengawal maju kedepan dan berkata: “Kami termasuk regu ketujuh, dan yang rendah adalah komandan regu, harap Tongleng perriksa barisan.”

“Hm engkau masih ingat sebagai komandan regu? Tidakkah sedang bermimpi digardu itu?”

“Ya memang yang rendah harus mati, demikian juga dengan anak buahku ini, mereka terlampau letih mama…maka…”

“Maka kalian bergiliran tidur? Engkau terlampau berani melanggar kewajiban, ketahuilah, ini tempat terpenting bagi kita, jika sampai penjahat masuk, atau yang dikurung keluar siapa yang harus bertanggungjawab? Engkau atau aku?”

“Harap Tongleng memaafkan kami, lain kali tak berani lagi.”

“Jika bisa memperbaiki kesalahan terhitung baik, tapi disiplin tetap berlaku, dan engkau boleh menghadap besok untuk menerima ganjaran, sekarang lekas siapkan perahu, aku dan In Kongcu akan menyeberang!”

Komandan regu cepat-cepat memerintahkan anak buahnya menyiapkan perahu. “Hm, dungu betul, untuk apa perahu besar ini, aku minta yang kecil! Kalian tak usah mengawal tidur saja disini!”

Komandan regu semakin ketakutan, lekas menyuruh bawahannya menyediakan perahu kecil. Tongleng tetiron segera menuntun Tiong Giok naik, ia berdiri dan memaki lagi pada komandan regu ia sendiri belakangan, perahu tidak lantas dikayuh, dengan bengis: “Hm, sudah jaga seenaknya, kerjapun tak benar, engkau sembarangan memberikan perahu ini sebelum melihat ini?” kata Cu Lit sambil memperlihatkan tanda pengenal yang mengkilap.

“Tongleng pasti memiliki tanda pengenal, maka itu ditanya tak ditanya sama saja…”

“Hm dasar goblok, ini perahu tak peduli siapa harus diperiksa tanda pengenalnya, ingat sekali lagi berbuat begini, hukuman akan bertambah berat.”

Komandan regu itu menjadi merah padam, dicaci maki dan diperingati “Tongleng” itu. Hatinya berdoa agar atasan itu lekas berlalu, permintaannya terkabul, karenaperahu telah meluncur, ia menarik napas lega. Dan lantas mementang mulut keras-keras. “Gara-gara kalian enak-enakan tidur, yang kena maki adalah aku, besok semuanya menghadap ke Tongleng menerima ganjaran!”

XXXXX

Dari tengah-tengah danau In Tiong Giok memandang rumah dipulau, hatinya tiba-tiba saja mengingat pada Wan Jie. Saat ini gadis itu tentu sedang mimpi, pikirnya sudah pergi. Apakah peerpisahan ini bisa bertemu lagi.

“Hei, kenapa kau melamun?” kata Cu Lit, coba lihat kerjaanku, mudah bukan?”

“Lo Cianpwee jangan terlalu besar hati, perjalanan masih jauh kalau sudah keluar baru kita bicara!”

“Hm, penjaga pertama adalah To Kay Pong, sejak dulu kepandaiannya kuanggap tak berarti, seangkan Kim Tak Can itu, kurasa kepandaiannya tidak melebihi siorang she To!”

“Maksudmu bukan soal berkelahi,” kata In Tiong Giok, tapi dalam penyamaran ini bisakah menerobos semua pintu penjagaan itu atau tidak!”

“Dengan tanda pengenal ini semua pintu bisa dilewatkan, apa yang dikuatirkan lagi!”

“Sejujurnya Boanpwee merasa takut dan bagaimana kalau sampai rahasia ketahuan?”

“Apapun yang terjadi engkau harus berpegang pada satu, tidak boleh turun tangan. Dua engkau harus berdaya lari, sedangkan aku akan menjadi tameng, biar matipun jadilah asal kau berhasil lolos!”

Tiba-tiba saja terlihat sinar terang menyorot mereka disusul dengan teguran: “Siapa yang mengendarai perahu ditengah malam?”

“Aku Lie Kee Cie!” jawab Cu Lit sambil mengayuh perahunya kepantai. Disitu berdiri sepuluh pengawal memegang obor berdiri dikiri kanan seorang tua yang bukan lain dari To Kay Pong adanya.

In Tiong Giok bukan main takutnya, tapi tidak demikian dengan siorang tua dengan cepat dituntunnya Tiong Giok naik ke darat.

“Sudah begini malam Fut Hoat belum tidur?” Tanya Cu Lit sambil menjura.

“Oh, kata To Kay Pong dengan tertawa, sebaliknya malam-malam begini Tongleng akan kemana?”

“Aku menerima tugas rahasia dari Pangcu, untuk mengantar In Kongcu keluar, tak kira mengganggu Fut Hoat saja!”

“Soal apa yang begitu penting dan harus dilakukan malam-malam?” Tanya To Kay Pong dengan kaget dan hilang senyumnya untuk seketika lamanya.

“Yakni soal yang berhubungan dengan menterjemahkan buku itu,” kata Cu Lit, “tapi ini dirahasiakan benar, sebelum In Kongcu lagi tak bisa dibocorkan!”

“Tidajkah sebaiknya menunggu siang hari?

“Soal inipun aku tak jelas, hanya menjalankan! Yang kutahu In Kongcu menterjemahkan buku dimalam hari, entah ada kesulitan apa dalam kerjaannya itu. Aku terlalu banyak bicara untung Fut Hoat bukanlah orang lain, jika tidak bisa aku celaka tak karuan!”

“Aku sedang heran mengapa tergesa-gesa benar, kiranya Lo Cucong yang memerintahkan, ia memang tak sabaran sekali!”

“Ya …, sebenarnya akupun minta esok saja dilakukan, tapi dihardik sebagai pemalas, mau tak mau dimalam dingin ini keluar juga…”

“Jika begini harus cepat-cepat keluar,” kata To Kay Pong, “mana tanda pengenal unutk keluar?”

Cu Lit menyerahkan dengan kedua tangan. To Kay Pong memeriksa sejenak dengan cermat, wajahnya muram, tentu membuat In Tiong Giok kebat-kebit tak tentu rasa.

“Jika Fut Hoat tidak ada pesan lain lagi, kurasa mau…” kata Cu Lit.

“Biasanya Lie Tongleng sangat tertib dan hati-hati, kenapa hari ini kesusu sekali?” Tanya To Kay Pong.

“Mungkinkah begitu, tapi aku tak merasakan sedikit juga!”

“apakah engkau tak tahu di danau ini tidak boleh berlabuh perahu bentuk apapun, apakah lupa? Jika engkau pergi siapa yang harus membawa perahu ini kepangkalan?”

“Fut Hoat memang benar, tapi sudah kuperintahkan komandan jaga malam ini untuk mengambil perahu begitu fajar menyingsing!”

“Sungguhpun engkau sebagai Tongleng tapi tak boleh sembarangan melanggar peraturan lain kali kalau begini lagi jangan salahkan aku berlaku tegas!”

“Ya nasehat ini akan kuingat terus!” kata Cu Lit dengan mendongkol.

To Kay Pong mengembalikan tanda pengenal Cu Lit menerima dengan girang, dengan hormat ia permisi. Tapi baru saja jalan beberapa langkah terdengar To Kay Pong berseru:

“Stop dulu!”

“Masih ada pesan lagi Fut Hoat?”

“Jangan tergesa-gesa, apakah tak perlu kuda?”

“Benar!” jawab Cu Lit dengan kemalu-maluan, “terima kasih atas perhatian Fut Hoat!”

Dengan cepat mereka naik keatas kuda dan menerjang kabut dan melanjutkan perjalanan.

Jika terjadi segala perubahan tenang-tenang saja, sebaliknya jika engkau lolos lekaslah pergi kekota Ngo be siang, temui seorang yang bernama Lui Sin (dewa petir). Tong Cian Lie, katakana aku yang menyuruhmu mencarinya.

Dengan cepat mereka sampai didepan pintu keluar, “Buka pintu! Buka Pintu!” teriak Cu Lit berulang kali.

“Mau kemana malam begini Tongleng?” tanya penjaga.

“Apakah tidak melihat tanda pengenal ini? Lekas buka pintu!” bentak Cu Lit.

“Aku minta Tongleng tunggu sebentar, aku yang rendah akan lapor dulu pada Fut Hoat!”

“Jangan banyak pernik, lekas buka pintu!”

“Tongleng jangan gusar, bukan yang rendah tak mau buka pintu, tapi …kuncinya berada pada Kim Futhoat, setiap yang keluar harus seijin Futhoat!”

“Jika begitu, lekaslah beri tahu Kim Futhoat, lekas!”

Penjaga itu cepat pergi dan kembali lagi dengan Kim Tak Can. Ia memeriksa dulu tanda pengenal itu dan bertanya:

“Ada urusan apa membuatmu tergesa-gesa?”

“Atas perintah Pangcu tak dapat aku beritahu padamu, diharap Futhoat memberi jalan setelah melihat tanda pengenal ini!”

“Siapa yang menerima tugas engkau ataukah dia?” tunjuknya pada In Tiong Giok.

“Aku dan dia!”

“Tak bisa!” jawab Kim Futhoat. “Untukku hanya berlaku peraturan stu tanda pengenal untuk satu orang, bukankah sudah kau ketahui?”

“Tidakkah Kim Futhoat tahu, aku menjalankan atas perintah Lo Cucong?”

“Pokoknya sekali kubilang tidak ya tidak!”

“Kalau satu tanda pengenal berlaku seorang silahkan In Kongcu yang pergi, karena dialah yang memerlukan bahan guna pekerjaannya!”

Kim Tak Casn menganggukkan kepala, dan mengeluarkan kunci untuk buka pintu, tetapi dengan tiba-tiba dari balik gunung tedengar suara genta, dan terlihat di udara tiga pancaran sinar api.

Pengawal-pengawal disitupun segera mundur dan siap dengan senjata terhunus, karena tanda itu berarti, semua pintu keluar harus ditutup, ada penjahat didalam. Kim Tak Can tak sudi membuka pintu!.

Cian Bin Sin Kay tahu rahasianya dipecahkan maka dengan gusar ia menghajar jeruji besi berantakan, batu gunung meluruk bagaikan hujan. Obor yang dipegang para pengawalpun menjadi padam. Dengan cepat ia menerobos kedalam terowongan. Tetapi sesampai dimulut terowongan Kim Tak Can sudah menghadang dengan bertolak pinggang. Begitu kedua buronan tiba ia membarengi melompat sambil membentangkan kedua tangannya menangkap kaki depan kedua kuda. Cu Lit tak menduga Kim Tak Can itu berani gegabah semacam itu, tak sempat buatnya berpikir lama-lama, cepat-cepat melompat sambil menjambrat In Tiong Giok dan turun kebumi. Kim Tak Can kekuatannya luar biasa, kedua kuda ditangan kiri dan kanannya di angkat, lalu diputar sekali dan dilemparkannya didalam jurang, kuda-kuda itu meringkik dan hancur luluh termakan cadas tajam.

Kekuatan dan keberanian Kim Tak Can membuat Cu Lit kagum, dan iapun tahu musuh itu bukan saja kepandaiannya itu luar biasa juga tenaganya luar biasa. Sedangkan pengawal-pengawal menyerang serentak dengan pedang terhunus. “Hmm, kalian sudah bosan hidup!” bentak Cu Lit dan terus mengebutkan cambuk kuda yang masih dipegangi terus kearah pengawal. Senjata darurat itu kelihatannya tidak berarti, tapi berada ditangan Cu Lit menjadi ampuh. Pengawal itu seolah menjadi bingung dan mentah-mentah di lalap cambuk itu, merupakan korban empuk. Terjungkel tanpa berkutik lagi. Kehebatan dari cambuk ini membuat pengawal-pengawal lain gentar sendiri, seangan merekapun kendur sendiri. Cu Lit meraba-raba pinggang mencabut tongkat bamboo yang lunak. Tongkat ini sebesar jeriji tangan besarnya, warnanya hitam, merupakan hasil dari selatan setelah di olah dengan air obat bisa menjadi keras dan lunak ujungnya merupakan kaitan yang tajam yang khusus di gunakan untuk menghancurkan ilmu dalam.

Tongkat ini merupakan pusaka dari kaum pengemis yang bernama Kong Cu Juan Tio ( tongkat bamboo keras dan lunak), puluhan tahun tongkat ini tak pernah digunakan, tak kira malam ini, untuk menghadapi Kim Tak Can di pakainya juga. Dengan kecepatan luar biasa tongkat itu berputar untuk membuyarkan kurungan pengawal-pengawal. Dalam sekejap saja, terdengar bunyi jeritan seram disusul dengan bergelimpangan tujuh delapan pengawal antaranya ada yang mengenali juga senjata Kong Cu Juan Tio. Terus berseru keras. “Dia adalah Cian Bin Sin Kay!” Peringatan ini membuat sisa-sisa pengawal mundur teratur.

“Hm, kiranya engkau bukan Lie Kee Cie!” bentak Kim Tak Can.

“Lie Kee Cie biar mau menjadi anakku, aku tampik, karena keliwat bodoh,” jawab Cu Lit dan terus membuka kedoknya memperlihatkan wajah aslinya.

Kim Tak Can tak mengenali ilmu slain rupa, menggantikan Cu Lit ganti rupa menjadi kaget mundur beberapa langkah, “Engkau bisa berubah?”

“Bukan saja bisa berubah, tongkatkupun bisa membungkamkan mulutmu itu! Orang she Kim, ilmu pelajaran kamu diperoleh dengan susah payah, maka kunasehatkan berilah jalanku!”

Kim Tak Can seperti mengerti dan tidak, ia terpekur sejenak, lalu berpaling kebelakang dan memerintahkan kepada pengawalnya:

“Bawa kemari!”

Tidak selang lama terlihat empat pengawal menggotong dua kantong besar, Kim Tak Can membuka kantong itu dan mengeluarkan dua senjata aneh yang berbentuk patung berkaki satu. Patung ini tidak bedanya sebesar anak umur dua belas tahun, mengkilap terbuat dari tembaga. “Ya untuk memberi jalan mudah tempur aku dulu!” kata Kim Tak Can sambil mengangkat kedua senjatanya itu, dengan ringan, lalu satu sama lain dibenturkan, menerbitkan dentingan keras. Tubuhnya berbareng maju, serangannya dilancarkan saat itu juga.

Cu Lit dengan gagah melayani musuhnya, dalam sekejap dua bayangan merapat dan merenggang, dan terdengar tiga kali bentrokan senjata. Cu Lit merasakan pergelangan tangannya mengilu dan tongkatnya hampir-hampir terlepas dari tangan. Sedangkan musuhnya terhuyung-huyung tujuh delapan langkah dan jatuh terduduk.

Kesempatan ini dipergunakan Cu Lit sebaik-baiknya, kaitan tongkatnya akan di gunakan untuk menghancurkan kekuatan musuhnya. Tatkala ujung tongkat hampir mengenai sasaran, Kim Tak Can berseru keras dan melemparkan kedua senjatanya kearah lawan dengan kecepatan tongkat laksana kilat, demikian juga dengan kedua senjata beratnya, kedua-duanya tak sempat menarik serangan, hanya terdengar suara “buk-buk” dan “euh euh”…

Cian Bin Sin Kay berhasil membuat musuh jungkir balik dan pingsan ketika itu juga, sedangkan ia sendiri, terhuyung-huyung terkena senjata musuh, “waaak’memuntahkan darah segar. In Tiong Giok dan sekalian pengawal yang menyaksikan perkelahian ini, terpaku bengong tanpa bisa mengeluarkan sepatah suarapun. Cian Bin Sin Kay berdiri sambil menunjangkan tongkatnya, wajahnya pucat, janggut dan bajunya berlepotan darah yang dimuntahkannya.

Sesaat berlalu, keadaan sunyi sekali, baru terlihat Cu Lit mengangkat tongkatnya dan menyeka mulutnya, diajaknya In Tiong Giok ketempat tangga. Sekalian pengawal menyaksikan akan keahlian, atau juga kegagahan orang tua itu dengan kagum, maka tak merintangi mereka pergi.

Tapi tangga baja yang bisa diturun naikkan itu, saat ini berada ditengah-tengah jurang yang curam. “Dimana tempat menurun naikkan tangga?” Tanya Cu Lit sambil mendelik pada pengawal-pengawal disekitarnya. Tidak ada jawaban sepatahpun.

“Hm jangan dikia aku sudah menderita luka, tapi untuk mengirim kamu ke liang kubur mudahnya sebagai membalik telapak tangan sendiri!”

“Kami tahu merintangi Lo Cianpwee berarti kematian, tapi memberikan jalanpun mendapat hukuman mati! Sedangkan kunci menurunkan naikkan tangga berada ditangan Kim Futhoat. Untuk ini, kami memohon pengertian dari Lo Cianpwee akan kesulitan kami,” kata seorang pengawal yang paling tua.

“Kalau begitu kuminta kalian mundur sepuluh langkah kebelakang, jika tidak jangan salahkan aku berlaku kejam dan ganas …”

Pengawal-pengawal itu saling tatap antara kawannya sendiri,dan tanpa terasa mundur kebelakang seperti yang diperintahkan. Dengan menarik nafas panjang untuk mengumpulkan tenaga, Cu Lit menghampiri Kim Tak Can yang pingsan. Dengan tongkatnya ia membuka baju lalu mengambil kunci dari tubuh musuh. “Nampaknya kitaa masih mujur,” katanya pada In Tiong Giok.

“Tapi bagaimana denganmu?” Tanya In Tiong Giok.

“Tidak apa-apa lekas jalan!”

Mereka menuju ketempat alat-alat menurun naikkan tangga. Alat-alatnya sederhana sekali, terdiri dari dua kerekan yang bertulisan naik dan turun. Cu Lit menggerakkan kerekan turun, tapi tidak beraksi sedikitpun juga, dicobanya menggerakkan kerekan naik, sama juga hasilnya.

“Kalian bangsat-bangsat berani betul menipiku!” teriaknya dengan gusar.

“Mereka tidak berani menipu Cu-heng,” tiba-tiba terdengar jawaban dari seseorang, “dikarenakan tergesa-gesa Cu heng lupa bahwa kerekan itu harus digerakkan oleh puluhan orang, mana bisa oleh seorang? Tambahan caantelannya belum dibuka! Ha ha ha!”

“Engkau siapa?” bentak Cu Lit.

“Wah, bagaimana sih sampai kawan lama dilupakan ” Siaw tee To Kap Pong!”

Cu Lit menjadi gugup, dan kekecewaannya tampak diwajahnya. Biasa To Kay Pong itu tidak dipandang, tapi dalam keadaan luka parah, sukar untuknya memperoleh kemenangan. Dibisikinya In Tiong Giok “Keadaan sudah terlalu mendesak, engkau diam disini, aku akan keluar menempur mereka mati-matian!”

“Sejak tadi aku disuruh diam saja, kini saatnya aku bertarung juga!” kata Tiong Giok.

“Tidak! Engkau tidak boleh berlaku setolol itu!”

“Cu hrng kenapa engkau ragu-ragu? Kita sebagai kawan lama!” seru seseorang dari luar.

“Itu bukan suara To Kay Pong, siapa dia?” Tanya In Tiong Giok.

“Itu dia sibangsat yang engkau temukan di istana Sorga!” kata Cu Lit, “tak kukira perhitunganku bisa menjadi gagal begini!” Sehabis berkata matanya berkac-kaca, dan bertetesan turun air mata jagonya.

“Apa yang engkau bicarakan, bolehkah kami mendengar?” seru To Kay Pong.

Dengan tiba-tiba saja Cu Lit menotok kalan darah In Tiong Giok dan mengempitnya keluar dengan terhuyung-huyung.

Keadaan menjadi terang sebab obor-obor dari pengawal yang baru datang: Disitu terlihat empat orang berpakaian biru, merka adalah Thay Cin Tojin, To Kay Pong, Kam Kong dan Ciauw Cie Hiong.

“Tak kukira kalian mau menjadi binatang piaraan dari Pok Thian Pang,” kata Cu Lit mengejek, “enakan rasanya rasa-rasa makanan yang diberikan pada kalian?”

“Eh baru beertemu sudah nyindir-nhindir, tabiatmu itu tampaknya belum berubah juga seperti dulu!” kata Thay Cin Tojin.

“Engkau siapa, rasa-rasanya aku tak kenal!” ejek Cu Lit.

“Ah, bisa saja, aku Thay Cin masa tak kenal?”

“Oh kiranya engkau, enak ya jadi Fuhoat disini, sebelum mendapat bayaran berapa?”

“Engkau harus tahu Pok Thian Pang membutuhkan manusia-manusia berbakat, maka itu juka engkau mau, bisa menjadi Cong Fuhoat (ketua dari penasehat-penasehat)…

“Hm engkau sibusuk ini masih ada muka berkata denganku?” bentak Cu Lit.

“Hm engkau mencari susah saja, pikirlah bahwa Pok Thian Pang begini kuat bagaimanapun mana bisa engkau meloloskan diri?”

“Biarpun aku sebagai pengemis yang miskin, untuk bekerja dan menjadi anjing Pok Thian Pang, merasa haram dan jijik! Kini mati hidup tidak kupikirkan, terserah kalian mau apa, aku siap melayani!”

“engkau manusia tak bisa diangkat, kini tak perlu kukekang lagi persahabatan lama, mau coba kemarilah!”

Perkelahian hampir terjadi lagi, tapi To Kay Pong dengan tiba-tiba tergelak-gelak. “Semuanya adalah kawan lama, kenapa begitu ketemu saling mendelik dan mau berkelahi, bukankah damai lebih baik? Cu heng simpanlah tongkatmu itu!”

“Hm, didepan segala anjing-anjing piaraan Pok Thian Pang bagaimanapun tongkat harus disiapkan,” jawab Cu Lit.

To Kay Pong tidak gusar, ia tetap tertawa: “Cu heng antara kawan lama sukar mendapatkan kesempatan berkumpul seperti sekarang, mari kita baik-baik bicara?”

“Sudahlah jangan banyak bicara, lunak maupun keras tidak kuterima, jika masih mengingat persahabatan, berikan aku jalan keluar!” Jika tidak…ha…ha!”

“Jika tidak apa yang hendak engkau lakukan?” tanya Thay Cin Tojin.

“Sebelum mati terpaksa kubunuh dulu bocah ini agar Pok Thian Pang gagal menterjemahkan buku Keng Thian Cit Su!”

“Hm bocah ini mau mati atau hidup tidak kupikirkan, yang kusayangkan adalah Cu heng!” kata To Kay Pong. Dimulut ia berkata begitu, dihati merasa kuatir jika Cu Lit benar-benar membunuh In Tiong Giok. Maka itu mereka saling melirik memberikan kode, lalu menggeserkaki, membuat kedudukan Cu Lit terkurung.

“Hm, mau apa?” bentak Cu Lit dan terus memutarkan tongkatnya.

Kam Kong begitu melihat pergerakan lawan, cepat-cepat mengengos dan menjulurkan tangan mencakar muka musuhnya. Ciu Cie Hong dan To Kay Pong serentak bergerak melakukan serangan membantu saudaranya.

Cu Lit yang sudah menderita luka dalam, bertahan sekuatnya menghadapi pengepungan ini, tongkatnya menyabet kebelakang dan menotok kedepan dengan gencarnya. Akibatnya keluar tenaga paksaan tubuhnya hampir-hampir jatuh sendiri, hal ini rupanya diketahui Sam Kui. “Cu heng jika kutahu begini tak usah kita panjang lebar mengadu mulut!” kata To Kay Pong.

“Betapapun aku sanggup menghadapi kalian, mari kita coba lagi!”

“Sudah disepan pintu kematian, sombongpun tak berguna”, ejek Ciau Cie Hiong.

Dan terus ia menyergap dengan tangannya yang satu-satunya itu, Cu Lit menggertakkan gigi, matanya memancar tajam, begitu serangan tiba, menyapu dengan keras! Sekejap saja perkelahian berjalan tiga empat jurus. Cu Lit mengeluarkan tenaga terakhir dan memberikan serangan maut pada musuhnya, terlihat tongkatnya menyabet luar biasa, musuhnya kena terhajar dan terguling-guling beberapa depa jauhnya. To Kay Pong cepat-cepat menolong, dilihatnya saudaranya itu demikian pucat, dagingnya pecah dan berapa tulang punggungnya patah.

“Cu heng berkepandaian luar biasa, sayang terlalu telengas!” kata Kam Kong.

“Terhadap anjing-anjing Pok Thian Pang itu masih terlalu ringan!”

Dengan gusar Kam Kong mengeluarkan senjatanya yang bernama Cui hun jiau (gary maut). “Saudaraku bertangan kosong dan kena kau kalahkan, nah marilah senjata lawan senjata!” terus melancarkan serangan sambil berputar-putar.

Pandangan mata Cian bin sin kay sudah berkunang-kunang, maka dengan cepat ia meram dan hanya mengandalkan pendengarannya menghadapi musuh. Ia tahu tidak mempunyai kekuatan lagi seperti tadi, tapi dengan berdiam tenang begini, ia berniat melancarkan satu serangan terakhir.

Kam Kong masih berputar-putar dengan cermat, sedikitpun tak berani serampangan seperti saudaranya. Setelah melihat kesempatan baik, ia menerjang dari samping kanan.

“Hai, bentak Cu Lit dan dengan tenaga terakhirnya ia menyabetkan tongkat kearah kanan, matanya dibuka dan bagaimana girangnya ia melihat musuhnya itu telah terpukul dan terhuyung-huyung tujuh delapan langkah. “Ha ha ha hayo maju lagi… wak” Jago tua yang keras kepala ini, perlahan-lahan jatuh ke tanah yang penuh dengan muntahan darahnya sendiri.

Thay Cin Tojin menghampiri, membebaskan Tiong Giok dari totokan, dan memasukkan sebutir pil pada Cu Lit.

Keadaan Villa Tenang tetap seperti dulu. Dibawah pelita yang berkelap kelip terlihat bayangan orang. Itulah In Tiong Giok adanya. Sejak mengalami peristiwa tiga hari yang lalu membuatnya sedih dan kesal, untuk ini ia minum arak menghilangkan duka. Minuman itu hanya bisa menghilangkan duka dalam sejenak, setelah itu kembali lagi membuatnya terpekur. Bagaimanapun raaut wajah Cian bin sin kay terbayang dialam pikirannya, disaksikannya orang tua itu dengan gagah menghadapi musuh dan yang paling tak bisa dilupakan, tatkala Cu Lit luka parah, memuntahkan darah serta suara tertawanya yang menggoncangkan sukma….”

“Kongcu sudah jauh malam kenapa belum tidur sepanjang hari, jagalah kesehatanmu!”

“Oh, kata Tiong Giok, dan terus mengangkat cawan arak, mengeringkannya dan menambah lagi, Siau Hong mencekal lengan pemuda kita: “Tidak boleh minum lagi! Selama tiga hari engkau mabuk-mabukan! Pek Kounio sudah menyesalkan aku memberi arak, aku hanya sebagai pelayan, boleh didengar boleh tidak, tapi kebaikan Kounio harus diterima.!

“Engkau tahu betapa risau hatiku!”

“Kejadian sudah berlalu tak berguna dipikirkan lagi!” kata Siau Hong, “jangan engkau kena ditipu pengemis lihay itu, sampai Lie Tongleng kena ddiperdayakannya.”

“Pengemis itu dijatuhi hukuman apa?”

“Sebenarnya ia adalah salah seorang dari Bulim Capsahkie, untuk ini Lo Cucong mengaguminya, dan menempatkannya di Istana Sorga untuk mencuci otaknya dan membujuknya supaya mau menjadi anggota Pok Thian Pang.”

“Sebagai seorang terkemuka didunia Bulim apakah ia mau menjadi anggota Pok Thian Pang?”

“menurut hematku lambat laun ia akan menurut!”

“Mungkinkah?”

“Betapa tidak! Setiap yang masuk ke Istana Sorga, biar berhati sekeras baja akhirnya lumer juga!”

IN tiong Giok tidak bertanya lagi, dengan menarik napas panjang ia melangkah keluar rumah. “Kongcu hendak kemana?” Tanya Siau Hong.

“Jangan hiraukan diriku, tak lama lagi terang tanah, aku akan jalan-jalan menunggu fajar!” jawab Tiong Giok dan terus ke taman bunga. Pikirannya melayang ke Istana Sorga, dimana segala kemaksiatan dan kecabulan memenuhi seisi istana, Cian bin sin kay seorang keras kepala, tapi andaikata iapun tergoda, bukankah namanya akan rusak? Dan segalanya ini terjadi karena dirinya yang mengakibatkan bukan?

Lamunannya tiba-tiba terhenti, dilihatnya pengawal-pengawal membawa obor, dan sebuah kereta memasuki perkampungan awan putih. Waktu kereta berhenti, seorang muda turun dari dalamnya, ia bukan lain dari Pek Kiam Hong adanya. Pemuda itu melihat kearah Tiong Giok, ia mengurungkan pulang kerumah melainkan menghampiri sambil bertanya: ” In heng belum tidur?”

“Arak itu membuatku tak bisa tidur!”

“Jika begitu kebetulan,” kata Pek Kiam Hong, “ada sesuatu soal yang akan kubicarakan denganmu, bagaimana?”

Melihat sikap bersungguh-sungguh dirinya, timbul perasaan ingin tahu dari Tiong Giok, maka dipersilahkan Siau Pangcu kedalam rumah. Siau Hong cepat-cepat mengeluarkan the dan menyiapkan makanan lainnya.

“Soal ini membuatku tak habis piker,’ pek Kiam Hong memulai berkata. “In heng tentu sudah tahu orang yang menculikmu itu adalah Cian bin sin kay Cu Lit seorang jago Rimba Hijau yang terkenal.”

“Benar memang dia, lalu bagaimana?”

“Ibuku dan Lo Cucong menghormati dia sebagai jago bulim, mengandung pikiran untuk menjadikannya sebagai anggota perkumpulan kami, maka itu bukan saja tidak diapa-apakan, bahkan ditempatkan di istana Sorga…”

“Ini sudah kutahu dari Siau Hong, lalu bagaimana?”

Pek Kiam Hong menggeleng-gelengkan kepala. “In heng tidak menduga, kekepala batuan pengemis itu, begitu sakitnya agak sembuhan, kontan berbalik muka. Bukan saja tak mau menjadi anggota kami, juga mengacak-acak seisi Istana Sorga, perabotan dari benda-benda mahal dihancurkan, dara-dara pelayan dan pengawal dihantam dan luka-luka lebih dari seluruh orang, hampir-hampir tidak ada yang bisa menguasainya.”

“Hal itu ada sangkutnya apa denganmu?” Tanya Tiong Giok, dihati ia girang mendengar kebandelan Cian bin sin kay, tapi tidak diutarakan pada parasnya.

“Pengemis itu bandel sekali, untuk ini ibuku mengajakku kesana, entah apa yang dikatakan ibuku, mendadak saja pengemis itu menjadi lunak. Ia menatap padaku serta membelaiku sekian lama, air matanya mengembang. Sudahlah katanya dan menganggukkan kepala. Ia menerima anggota kami dan menjadi Fuhoat…”

Mendengar ini perasaan Tiong Giok tidak ubahnya seperti disambar geledek: “Katamu pengemis itu mau menjadi anggota Pok Thian Pang?”

“Ya benar!”

Kecuali menatap dan mengusap-usapmu, tidakkah ia bertanya ini itu padamu?

“Tidak!”

“Tidakkah saat itu ada orang lain kecuali kamu bertiga?”

“Ya”

“Ah, benar-benar mengherankan!”

“Ya memang membuatku tidak habis mengerti,” kata Pek Kiam Hong, sejak kecil aku tak pernah pergi dari sini, siapun belum pernah melihatku, kenapa gerak-geriknya aneh sekali!”

Mungkin ayahmu merupakan sahabat baiknya, dan wajahmu itu mengingatkannya pada ayahmu dan mendatangkan kenangan sedih baginya!

“Ya merupakan suatu keanehan yang mungkin di ketahui ibumu saja tidakkah engkau bertanya padanya?”

“Tentu saja tidak mendapat jawaban yang memuaskan, ia hanya mengatakan nanti engkau akan mengerti sendiri!”

Siau Hong sudah membawakan hidangan.

“Bawa araknya” minta Tiong Giok.

“Apa? Mau minum lagi?”

“Ya aku ingin minum sebagai tanda menghormat dan turut bergirang karena Pok Thian Pang mendapatkan seorang Futhoat baru, kata In Tiong Giok sambil tertawa. Ia tertawa, tapi wajahnya lebih jelek dari pada menangis….

Entah sudah berapa lama berlalu, waktu Tiong Giok bangun dari mabuknya, Pek Kiam Hong sudah tidak terlihat lagi. Ia merasakan sekujur badannya lesu, kepalanya pening. Dicobanya bangun, tak berhasil. Ia bengong dan membuka mata melihat kesana kemari. Bukan main kagetnya, sebab diluar tahunya, Wan Jie berada di dalam kamar sedang menyeka matanya yang basah sambil menatap kearahnya.

“Sudah lamakah?”

“Tidak, hanya satu hari satu malam!”

“Apa, aku mabuk satu hari satu malam?”

“Apa herannya, ada orang mabuk dan tidur terus sampai tubuhnya menjadi mayat. Itu baru enak!”

In Tiong Giok mencoba bangun, tapi tetap tak berhasil, matanya berkunang-kunang, napasnya memburu. Wan Jie dengan penuh perhatian menaruhkan kain basah di keningnya. Ini mendatangkan kesegaran bagi Tiong Giok.

“Untuk apa segala penderitaanmu itu diperlihatkan padaku? Jika merasa tidak senang dengan kehadiranku, aku bisa berlalu…ah…” Suaranya terputus karena datang isakan tangis dan air mata.

“engkau jangan berkata! Apa yang kurasakan padamu hanya Tuhan yang tahu, semakin engkau berlaku baik padaku, semakin risau hatiku. Orang semacamku tak ada harganya untuk di….”

Wan Jie menekap mulut Tiong Giok dan berkata: “Jangan berkata begitu, aku task menyalahkan engkau mabuk-mabukan, tapi segala kesalahanmu, kenapa kau tidak utarakan kepadaku? Mungkinkah segenap perasaanku kepadamu sedikitpun tidak dimengerti?”

“Wan Jie, banyak persoalanku yang tak bisa kujelaskan: misalkan sesudah menterjemahkan buku, jiwaku segera tamat! Ya kenapa mula-mula bertemu denganmu dan terjerat tali asmara yang tidak bisa dilepaskan? Kita dipermainkan nasib, betapa takkan pilu?”

“Siapa yang memberi tahu riwayatmu tamat berbareng dengan selesainya pekerjaanmu?”

“Aku sebagai orang luar yang mengetahui dan membaca Keng thian cit su, untuk menjaga rahasia sudah pasti Lo Cucong takkan memberi ampun kepadaku!”

“Orang luarpun bisa menjaadi anggota, apa susahnya?”

“Tapi engkau harus tahu tak ada yang minat bagiku menjadi anggota Pok Thian Pang bukan.”

“Kenapa? Kenapa? Beritahu kenapa…”

“Pendapat dan pendirian seseorang tidak bisa dipaksakan, soalnya kenapa belum bisa kuberi tahu!”

Wan Jie menangis. “Untukku juga tak bisa engkau beri tahu?”

“Wan Jie janganlah engkau mendesak…”

“Ya aku tak bisa mendesak, maka gunakanlah saat ini dengan gembira! Karena kukuatir dengan berlalunya hari ini, kita bisa main bersama untuk ….” Ia bersedu-sedu dengan sedihnya.

“Wan Jie jangan berkata sebodoh itu,” kata In Tiong Giok yang turut terisak-isak.

Mereka begitu mencintai satu sama lain dan enggan berpisah. Saat inilah pintu terbuka, Siau Hong masuk kedalam: “Kounio…” Ia tidak meneruskan buru-buru keluar lagi, karena melihat api asmara sedang membakar suasana kamar.

Wan Jie cepat-cepat melepaskan Tiong Giok dan bertanya dongkol “Ada urusan apa?”

“Pangcu dua kali mengirimkan utusan menanyakan Kongcu.”

“Ya, kutahu, katakana Kongcu masih mabuk dan belum bangun..”

“Pangcu mau apa denganku?” yanya Tiong Giok.

“Tidak apa-apa jangan pedulikan itu sebaliknya kita lewaatkan hari ini dengan gembira…”

“Mungkinkah ia mendesakku untuk bekerja …?”

“Ya Lo Cucong menginginkan buku itu cepat-cepat diterjemahkan, tapi jangan perdulikan. Terlambat saja!”

“Diperlambatpun akhirnya selesai juga. Sebaiknya lebih cepat beres lebih baik. Wan Jie sediakan kereta, sekarang juga kuberangkat.!” Ia bangun dengan memaksakan diri, terhuyung keluar pintu…

Pek Cin Nio duduk dikursinya tenang-tenang. Wan Jie duduk disamping In Tiong Giok yang sedang berpikir keras menghadapi kertas bertulisan Sangsekerta. Hampir setengah jam lamanya ia memeras otak, tak sehurufpun yang ditulisnya. Waktu ia dongak, sinar mata sang Pangcu sedang menatap kearahnya.

Suasana menjadi canggung. Wan Jie memandang juga kearah gurunya.

“Wan Jie engkau kenapa?” tanya sang guru.

“Kupikir….kupikir…”

“Mau bicara jangan begitu, seperti orang garap saja…”

“Kupikir pekerjaan ini bisakah ditunda dalam beberapa hari ini?” Tanya Wan Jie dengan sungguh-sungguh. Karena In Kongcu sejak terjadi peristiwa itu seolah-olah mengalami kekagetan dan pikirannya belum tenang, konsentrasi pikirannya belum pulih seperti dulu. Tambahnya dengan penjelasan kuat.

“Oh, kata Pek Cin Nio dengan tersenyum. Kiranya begitu, sebaiknya engkau harus tahu karena terjadinya peristiwa itu, Lo Cucong mendesak agar pekerjaan ini diselesaikan secepat-cepatnya. Tapi jika In Kongcu kurang enak badan, istirahatlah dua tiga hari tidak mengapa.”

“Tidak! Yang rendah tak perlu istirahat asal saja,” kata In Tiong Giok.

“Asal saja bagaimana?” Tanya Pek Cin Nio, terus terang saja apakah ada kata-kata Sangsekerta yang sukar dimengerti?”

Terhadap bahasa tidak menjadi soal, anehnya intisari dari pelajaran pedangnya membuat orang tak mengerti.

Dapatkah Kongcu memberikan contoh?

“Misalnya dalam buku ini, banyak jurus-jurus dari ilmu pedang, penusunannya tidak sempurna, terbalik-balik dan banyak kekurangannya. Mengakibatkan bahasanya terputus-putus dan sukar diterjemahkan. Entah si penulis ingatannya kurang kuat dan membuat kekurangan-kekurangan atau memang ilmu pedang ini tidak sempurna. Jika patah demi patah diterjemahkan, sukar mendapatkan arti yang sempurna, maka itu membuatku berpikir dan berpikir tanpa menulis!”

Sejak wajah tersenyum dari Pek Cin Nio pudar mengguram: “Pokoknya Kongcu boleh menterjemahkan patah demi patah, nanti kami bisa membereskan sendiri kekurangannya!”

In Tiong Giok mengangguk, mulailah ia menulis dengan cepat: memang sudah terkandung niatnya untuk mengganggu Pok Thian Pang, maka itu ia sengaja menjungkir balikkan kalimat dan membuat terjemahannya itu sukar dimengerti. Dalam sekejap lembar pertama selesai ditulisnya.

Pek Cin Nio membaca hasil terjemahan itu, keningnya mengkerut-kerut lalu bertanya “Wan Jie jam berapa sekarang?”

“Lebih kurang jam tiga!”

Pek Cin Nio mengantongi lembaran asli dan lembaran terjemahan. ” Dikamarku ada obat penyegar otak, ambillah sebutir untuk In Kongcu dan temaninya disini aku segera kembali lagi!” Dan terus ia cepat-cepat keluar pintu

“Tatkala engkau menulis, hatipun merasa hancur! Sehuruf tulisanmu sama dengan berkuangnya sedikit, pertemuan kita.”

“Pertemuan dan perpisahan adalah gelombang kehidupan, berpisah untuk berkumpul adalah gembira, sebaliknya berkumpul untuk berpisah mendatangkan duka! Semua ini tergantung nasib, maka tak perlu gembira tak perlu duka, terserah kepada yang maha kuasa!”

“Aku tak mau menerima nasib begitu saja! Pokoknya aku sudah bertekad untuk sehidup semati…”

“Hm, itu tak baik,” jawab In Tiong Giok, andaikan aku harus mati disini paling-paling menambah jumlah setan-setan penasaran lain tidak toh?”

“Suhu dan Lo Cucong bisa memanjaku, aku bisa memohon dengan ancaman bunuhnya diri mungkin persoalan tidak sebeat yang engkau pikirkan…”

Tiba-tiba terdengar langkah kaki diluar, nyata tergesa-gesa benar. Wan Jie menyeka air mata dengan cepat. “Siapa?” Tidak ada jawaban! Dijendela tiba-tiba nongol sebuah wajah tolol kebego-begoan dari seorang pelayan istana. Ditangannya memegang seekor burung pos, ia longok kedalam dan baru menjawab pertanyaan Wan Jie sambil ngengir-nyengir: “Pangcu ada tidak?”

“A Toh untuk apa mencari Pangcu?”

“Aku …menangkap…burung pos!” jawab A Toh agak gugup.

“Kembalikan kekandangnya, tak usah ribut-ribut!” bentak Wan Jie.

Mukanya pelayan tolol itu menjadi merah, “Burung ini membawa surat dikakinya!”

“Berikan padaku!” kata Wan Jie.

A Toh nyengir-nyengir tolol terus menerus dan memberikan burung itu papa Wan Jie sambil menjublek tak mau pergi. Wan Jie mengambil surat dari kaki burung, lalu memberikan burung kepada A Toh. “Disini seang dilakukan pekerjaan penting, tidak boleh sembarangan masuk, mengertikah?”

“Ya mengerti!” jawab A Toh sambil membungkuk dan terus berlalu.

“A Toh biarpun ketolol-tololan, kesetiaannya pada suhuku kuar biasa sekali. Maka itu ia ditugaskan merawat burung-burung pos, kalau bukan aku jangan harap boleh memegang burung-burung merpatinya.” Surat itu diluarnya tertera nama Ngo Liu Cung. Dengan cepat Wan Jie membuka dan membacanya, begitu selesai wajahnya menjadi berubah dengan mendadak….

“Apa yang tertulis disurat itu?”

Wan Jie mengantongi surat dan memaksakan diri tersenyum: “Tidak apa-apa,hanya saja…Ih lihat wajahmu begitu pucat, tunggu kuambilkan obat penyegar otak.”

Wan Jie berlalu. Pek Cin Nio datang. Lengannya memegang sebuah Kotak Kumala. Ia diam saja tanpa berkata, waktu Wan Jie datang baru membuka mulut. “Beritahu siapapun tidak boleh masuk kesini,” katanya.

Wan Jie mengangguk dan menjalankan perintah.

“Terjemahan Kongcu tadi telah kuperlihatkan kepada Lo Cucong, ” Pek Cin Nio menjelaskan, “memang banyak tempat yang hilang atau kurang, mak itu meminta Kongcu membaca habis dulu seluruhnya buku baru menterjemahkannya, dengan begitu memudahkan pekerjaan bagimu. Tapi sebelum itu perlu kuterangkan bahwasannya buku ini sangat dirahasiakan dan dipandang Lo Cucong sebagai pusaka yang tidak ternilai harganya. Kecuali dia engkaulah orang pertama membaca buku ini.”

“Suatu kebanggaan bagiku mendapat kepercayaan sebesar itu, dan akan kucurahkan seluruh kemampuanku untuk mengerjakannya mungkin!”

“Tapi ingat jika terjadi sesuatu kesalahan berarti bencana bagimu, untuk ini kuharap engkau berlaku waspada!”

“Oh sudah pasti kan kujaga rahasia ini!”

“Kamipun percaya engkau bisa menyimpan rahasia! ” katanya dan terus membuka kotak kumala dan menyerahkan buku pusaka itu.

Buku itu telah kurang hanya dua puluh halaman lebih, dengan tenang Tiong Giok membacanya. Sebagai orang yang cerdas dan berbakat, setelah mengulangi dua kali, seisi buku telah melekat dalam ingatannya! Dikembalikannya buku itu pada sang Pangcu.

“Bagaimana?” Tanya Pek Cin Nio.

“Sekuat kepandaianku kucurahkan, hanya bisa menterjemahkan sehuruf demi sehuruf. Terhadap kalimat-kalimat yang terputus-putus atau yang kurang benar membuatku tak berdaya!”

“Kalau begitu memang dasarnya ilmu pedang ini banyak kekurangannya?”

“Entahlah,” kata In Tiong Giok. “Tapi bolehkah aku bertanya dari mana Pangcu memperoleh buku ini?”

“Terus terang buku ini didapat dengan susah payah dari seorang Bulim yang lihay!”

“Apakah orang Tionghoa atau India jago Bulim itu?”

“Orang Tionghoa!”

“Masih hidupkah orangnya?”

Pek Cin Nio mengangguk kepala.

“Diakah yang bernama Hauw Sian?”

“Untuk apa Kongcu bertanya soal dia?”

“Dari mula kuduga Hauw Sian sebagai penulis buku ini, dan nama itu bukan nama asing, maka kuyakin dia bukan orang India. Tapi kuhean kenapa orang Tionghoa menulis buku dengan bahasa Sangsekerta? Disini soalnya…..!

“Benar apa yang engkau katakana, tapi apakah hubungannya dengan nama itu?”

“Soal dalam bahasa Sangsekerta banyak istilah-istilah yang sukar diartikan dalam bahasa Tionghoa secara tepat, lebih-lebih terhadap pelajaran ilmu pedang ini, salah sepatah berarti menyimpang sepuluh depa, untuk mempertahankan keasliannya maka ia menulis dalam bahasa Sangsekerta!”

“Mungkin apa yang engkau duga secara cermat betul adanya!”

“Maka itu ingin kutemui orang yang bernama Hauw Sian itu, segala kesulitan dibuku bisa kutanyai kepadanya!”

“Soalnya kami bisa menemukan orang itu apakah dia mau membantumu?”

“Memang kenapa?”

“Orang itu sedah kehilangan bukunya, sudah kesal dan pusing, mana mau lagi membantumu?”

“Tak usah kuatirkan, asal orang itu dapat kutemui, pasti dapat kupancing yang segala kuingini”

“Baiklah, soal ini akan kami pertimbangkan nah sekarang engkau boleh pulang beristirahat!” Dengan cepat sang Pangcu berlalu.

Sekembalinya ke Villa Tenang Wan Jie berwajah murung, seangkan In Tiong Giok juga terpekur tanpa membuka mulut. Pemuda ini pikirannya melayang-layang kebrbagai soal: Keng Thian Cit Su, Pang Hui… Cian bin sin Kay… tanda punggungnya…usia delapan belas tahun…Pek Kiam Hong yang aneh…Wan Jie yang menarik…kini ditambah Wan Jie yang masih tetap disampingnya.

“Wan Jie, tak usah payah berpikir di soal rumit saja, aku telah membuat Lo Cucong menghadapi kesukaran: mungkin dalam tiga empat bulan kita masih bisa bersama-sama…”

Wan Jie menangis: “Tidak bisa! Tidak usah mengulur waktu lagi, engkau harus segera meninggalkan tempat ini, semakin cepat semakin bagus.”

“Kenapa pendirianmu cepat berubah?” sukar kukatakan, lihatlah surat ini!”

Itulah surat yang didapat dari burung pos, diatas berbunyi: setelah diperiksa dengan cermat, In Hok telah kembali dan yang mengiringi In Tiong Giok adalah In Hok palsu. Sedang pemuda itu usianya selapan belas tahun, mengerti bahasa Sangsekerta. Dapat diketahui pada pemuda itu, bertanda bacokan dipundak kirinya. Entah apa pemuda itu maksudnya masuk kemarkas pusat Pok Thian Pang? Sebaiknya ditangkap dan dikompres untuk mendapat penjelasan dari Tan Toa Tiau.

Selesai membaca, sekujur badan In Tiong Giok basah dengan keringatnya dingin, gaya reflexnya memegang pundak kiri. Bajunya sudah terbuka yang dipegang tempat tanda bekas bacokan.

“Untung surat ini jatuh ditanganku, andaikata pada guruku, akibatnya tak bisa kubayngkan, kini jalan satunya, engkau harus secepatnya meloloskan diri dari sini. Malam ini dengan cara apapun aku harus mendapatkan tanda jalan untukmu …

Tiong Giok tahu rahasianya sudah diketahui Wan Jie, membuatnya bertambah tenang. “Tidakkah engkau mau menyelidiki juga soal diriku dan anda ini?”

“Tak usah kutanya lagi, engkaulah orang yang dicari-cari oleh Pok Thian Pang!”

“Karena ayahmu adalah pembunuh ayahnya Pek Suheng………..

“Yang bisa membunuh ayahnya Kiam Hong tentu jago Bulim juga, sedang ayahku bukan orang Kang Ouw, maka itu kupikir lucu?”

“Tapi usiamu dan tanda itu cocok dengan orang yang mau mereka tangkap……”

“Yang berusia delapan belas tahun dan ada tanda dipunggungnya ini bukan aku seorang mungkinkah semuanya harus ditangkap dan dibunuh?”

“Soalnya tidak jelas bagiku, yang kutahu jika sampai tertangkap adalah buruk akibatnya, lebih baik engkau kabur!”

“Kedatanganku kesini untuk mendapat penjelasan dalam soal itu, maka tak ada niat bagiku berlalu dengan begitu saja!”

“Ah, engkau mau cari mati, atau memaksaku mati….”

Pembicaraan terganggu dengan kedengarannya derapan kuda. Mereka melongok dari jendela tampak, Lie Tongleng dengan dua pengawal menuju ke villa Tenang. Lie Tongleng merasa kaget melihat kehadiran Wan Jie didalam kamar, dengan tersenyum ia memberi hormat:

“Pangcu menyuruhku kesini untuk menjemput Kongcu ke istana!”

“Nantikanlah sebentar, aku harus merapikan diri dulu.”

“Engkau belum makan, suruh Siau Hong menyediakan, nanti kita sama-sama kesana.”

“Silahkan Kongcu makan dan mandi dengan tenang, tapi Pangcu menghendaki agar Wan Kounio tidak turut serta!”

“Kenapa?”

“Tak tahu, menurut Pangcu soalnya penting dan harus di bicarakan dengan empat mata saja antara Pangcu dan In Kongcu!”

“Apakah Pangcu benar-benar berkata begitu?”

“Ya, masakan aku berbohong?”

Tak terasa lagi Wan Jie menjadi kaget dan parasnya berubah pucat. Cepat ia mendekat pada Tiong Giok. Kau piker baik tau buruk!”

“Serahkan pada nasib?”

“Bagaimanapun terjadi jangan engkau berkeras dengan Cucong dan guruku, aku bisa bekerja…”

“Wan Jie jangan ketakutan tak keruan, pokoknya beres!”

Sesudah beres makan dan mandi, Tiong Giok naik kereta menuju istana. Suasana dibelakang istana itu lain dari biasa, disitu terdapat kereta indah, pengawal-pengawal lebih banyak dari hari-hari biasa, penjagaan keras sekali. Yang mengherankan sampai sang Pangcupun berada diantara pengawal. Begitu Tiong Giok turun dari kereta, Pangcu segera memanggil. ” Jangan buang waktu, silahkan Kongcu naik kereta!”

Tiong Giok naik lagi ke kereta.

“Salah, naiklah kereta ini!” seru Pek Cin Nio.

In Tiong Giok jadi bingung, ia terpaksa pindah kereta, tak selang lama Pangcu itu masuk dan melihat pemuda kita yang sedang terpekur. Segera duduk disebelahnya dan terus siam juga seperti si pemuda. Tinggallah In Tiong Giok menjadi serba tak enak, untuk menghilangkan kecanggungan ia meram! Telinganya mendengar suara roda kereta, hidungnya mencium wewangian dari sang Pangcu, hatinya berdebar-debar, pikirannya kacau balau!

Waktu kereta berhenti, mereka telah tiba di suatu tempat sunyi. Disitu terdapat sebuah bangunan sederhana, Lie Kee Cie mengetuk pintu dan memanggil perlahan.

Tak selang lama pintu terbuka, Pek Cin Nio mengajak Tiong Giok turun dan masuk ke dalam rumah itu. Dari sini terdapat pintu rahasia yang langsung masuk ke dalam terowongan. Begitu gelap tampaknya dari luar. Waktu obor-obor menyala dari dalam terlihat seorang Futhoat berbaju biru menyambut kedatangan mereka dengan hormat sekali. “Yang rendah adalah Ong Jiok Tong, Congkoan (pengurus) penjara tanah, menghadap pada Pangcu!”

“Tak usah banyak peradatan,” kata Pek Cin Nio.

“ya, ya, ya,” kata Ong Jiok Tong dan terus mundur menyamping, lagak gayanya agak ketakutan, membuat Tiong Giok geli melihatnya. Dengan didampingi sang Pangcu iapun turut gagah-gagahan masuk kedalam ruangan bawah tanah. Setelah melewati beberapa langkah, meraka sampai disuatu ruangan, disitu penerangan mengandalkan obor. Pangcu mengambil tempat duduk yang sudah dirapikan. Kuminta kamar satu dibersihkan dan semua keperluan disiapkan.”

Ong Jiok Tong cepat-cepat memerintahkan anak buahnya bekerja. Tak selang lama datang laporan segala yang dikehendaki Pangcu sudah siap semua.

“In Kongcu terpaksa menyusahkanmu sebentar datang kemari, alat-alat perlengkapan disini dapat menangkap pembicaraan Kongcu dengan orang tawanan, maka itu berlakulah cerdik! Ong Congkoan antarkanlah In Kongcu.”

Tanpa bertanya ini itu lagi, Tiong Giok mwngikuti Ong Jiok Tong memasuki pintu berjeruji besi. Dari sini terdapat tangga batu, turun kebawah. Setiap seratus undakan tangga terdapat sebuah pelita, dibawahnya terdapat pintu jeruji yang rendah, samar-samar dari dalamnya terdengar suara berkerincingnya rantai besi. Juga setiap pintu itu bertulisan kamar nomor satu kamar nomor dua dan seterusnya. Inilah penjara didalam tanah yang serupa dengan neraka.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: